FFN. CODE 3 黒子のバスケ。

"PERSEMBAHAN SETAN"

PART 9 : 幸せ(HAPPINESS)
最後の夢 – The Last dream—

"幸せは何?あの悪い夢が終わりますたか?たぶん。違います。これは新しいの悪い夢がはじめていた。今、なぜ、僕の日常は静かにしたいんだ?"
" Shiawase wa nani? Ano warui yume ga owarimashitaka? Tabun, chigaimasu. Kore wa atarashii no warui yume ga hajimeteita. Ima, naze, boku no nichijou wa shizukanishitainda?"

—KISE RYOUTA—

"SMA KAIJOU"

...

...


KUROKO TETSUYA
3 bulan setelah kejadian—SMA SEIRIN—08.00 a.m

Hari ini kelas sepi lebih dari biasanya.

Tiga bulan semenjak kejadian mengerikan itu, hari-hariku—ralat—hari-hari kami kembali seperti biasa. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sebenarnya, dalang akan kejadian mengenaskan di malam itu, atau korban-korban lainnya. Semua terlihat normal dan tanpa cacat..., seperti hari-hari yang 'diciptakan' oleh anak-anak itu. Ngomong-ngomong aku ada janji dengan Kagami-kun hari ini, para senior sudah kami ceritakan sampai sedetail-detailnya dan respon yang mereka tunjukkan adalah; penyesalan(apalagi Kantoku sempat menangis membuat keadaan sedikit tegang).

Bagiku kejadian di malam mengerikan itu nyaris membuatku kehilangan akal sehat. Kinako yang menyentak adik kembarnya sesaat sebelum Shinkansen melintas atau lebih tepatnya melindas Kinako beserta Azumi. Sementara kata-katanya terakhir yang kudengar masih meninggalkan tanda tanya untukku, mengapa, kenapa dia mengatakan hal seperti itu pada Kise-kun? Padahal jelas sekali, mereka memiliki ikatan dan hubungan yang lebih dalam daripada siapapun juga, dan dia mengucapkan serentetan kata penuh misteri sebelum akhirnya deru kereta menulikan telingaku lalu menghantam gadis mungil itu hingga... ah, apa semua ini mimpi atau kenyataan?

Apa pemandangan dimana rekan tim sekaligus sahabat lamaku itu terkulai tak berdaya seperti mayat di tengah rel kereta dengan darah di seluruh badannya itu nyata? Tapi darah yang kurasakan nyata, nyaris tak bisa kubedakan apakah aku sedang berhalusinasi atau tidak.

"Oi, Kuroko!" aku langsung tersentak kaget setelah partner terbaikku menimpuk kepala depanku dengan sesuatu yang empuk.

"Sampai kapan kau mau di sini, kita ada latihan jadi bersiaplah. Jangan lupa kita kena giliran. Siapkan barang-barangnya, nanti Kagetora-san yang mengantar kita ke rumah sakit" Kagami-kun mengunyah seporsi besar burger yang dibelinya di kantin, aku melirik benda yang dilemparkannya tadi, sandwich isi tuna. "Aku kan pesan isi ayam" protesku perlahan.

"Jangan merengek, ini hari terakhir sebelum libur panjang jadi tidak banyak makanan di kantin, makan saja seadanya!" aku merutuki jajanan itu lalu berkata, "sampai kapan?" cicitku.
"Apanya?"

"Sampai kapan kita harus seperti ini?" diam, aku dan Kagami-kun hanya diam.
"Anggap saja ini sebagai penebusan dosa atas kejadian beberapa bulan lalu" jawabnya, emosiku terpancing. "Dan hanya mondar-mandir layaknya orang tidak berguna dan terus bermain basket tanpa bisa apa-apa?!" Kagami-kun agak terkejut dengan nada suaraku yang meninggi lalu detik berikutnya aku mulai sadar bahwa tingkahku kekanak-kanakan sekali.

"Maaf, aku—". "Tak perlu. Semua orang sekarang sama sepertimu, jadi kumohon jangan singgung masalah itu atau kita tak akan mendapat perubahan apapun. Kuroko..."

"Kohane?" tanyaku lagi.

"Sudah ada Momoi dan Aomine yang mengurusnya kan, apalagi Sakurai sudah sehat dari depersinya jadi kurasa tak ada masalah. Meski mereka begitu, Kohane punya Touou, tak ada yang tak akan bersimpati padanya. Dia punya orang-orang yang hebat" jawab Kagami-kun kemudian bertopang dagu menatap hampa.

"Kagami-kun..., aku...". "Hei, kalian masih santai-santai di sini!? Cepat bersiap-siap untuk latihan dan jangan seperti siput! Kita masih ada beberapa pertandingan, dasar anak-anak kelas satu lembek!" mendadak Kapten sudah menggebrak pintu kelas dan menyeret kami yang masih dalam keadaan keruh keluar dari kelas, astaga padahal ada hal yang ingin kukatan pada Kagami-kun malah jadi begini.

"Tu, Kapten! Sesak, jangan seret kami, kami bisa jalan sendiri!" seru Kagami-kun sambil meronta. "Diam! Kalau kalian tetap pada muka seperti itu aku akan suruh kalian lari lima kali lipat dari biasanya" Uh-oh, Kapten serius.

"Kami tahu! Jadi tolong lepaskan kerah baju kami, kami bisa jalan sendiri!" sekali lagi rengekan itu dari Kagami-kun.

"Kurasa ada baiknya kalian tetap pada keseharian kalian" Izuki-senpai menyapa kami dari ruang perpus bersama Koganei-senpai dan Kiyoshi-senpai.

"Kalau kalian tetap berwajah begitu yang ada anak-anak lain juga bakal patah semangat, sudah hampir 3 bulan dan aku rasa kalau kalian menjenguk nona kecil kita dengan wajah suram, dia tidak akan mau melihat kalian" hibur Koganei-senpai.

"Nha, benar. Kalian kebanggaan kami, kalian yang jadi pelindung sekolah karena berkat kalian sebagai saksi kasus ini sudah ditutup oleh kepolisian" tukas Kiyoshi-senpai.

"Ya, benar. Kalian harusnya lebih ceria, sekarang kita kan sudah kembali ke hari-hari biasa. Bukankah kita harusnya lebih bersyukur untuk itu, Kuroko dan Kagami juga luka kalian sendiri masih harus banyak di periksa. Seperti kata—".

"Damare Izuki, jangan mulai lagi atau kuhantamkan bola basket di mulutmu! Ralat soal luka, luka Kagami lebih parah. Aku sampai tak percaya kau kena lima belas jahitan di punggung dan delapan di tanganmu…, untung karier basketmu tidak hancur" cecar Kapten Hyuuga.
"Tatsuya …". "Oh, ya Himuro-san bagaimana?" Tanya Koganei-senpai.

"Ah, ya. Dia sempat opname sehari di rumah sakit, lukanya memang dalam tapi kurasa tidak perlu sampai dioperasi dan semacamnya. Aku dengar dari Alex, Yosen sampai rIbut karena itu dan mau tidak mau Alex harus 'sedikit' berbohong pada mereka semua" jelas Kagami-kun. Yah, aku juga dengar Himuro-san sempat opname dan pingsan selama hampIr 4 jam di rumah sakit, Murasakibara-kun tidak banyak mengalami luka tapi tetap saja harus diberi perawatan karena ternyata tangannya terluka cukup dalam.

"Kapan perbanmu mulai dibuka, Kagami?" Tanya Izuki-senpai.

"Mungkin dua minggu. Kalau belum ada perkembangan, bakal ditambah antiseptic dan harus rawat jalan".

"Tapi hebat,ya biasanya orang biasa bakal langsung mati kalau punya banyak luka seperti itu! Yaa, itulah Ace kita, di lapangan dan di manapun tetap bisa menjadi jagoan!" puji Kiyoshi-senpai tak lupa menepuk-nepuk Kagami-kun yang risih.

Aku sedikit lega, karena luka Kagami-kun sembuh lebih cepat. Sayangnya, ada alasan di balik kesembuhan luka Kagami-kun yang menganggumkan dan aku tak akan membicarakannya pada siapapun. Cukup menjadi rahasia kami berdua.

"Oi, kalian! Di sini!" Tsuchida-senpai sudah menyapa kami bersama Mitobe-senpai dan anak-anak kelas satu lainnya, Furihata, Kawahara, dan Fukuda. Kudengar dari Kagami-kun kalau Furihata-kun juga sempat 'dirasuki' Saika tapi entahlah karena kebenarannya masih sangat diragukan, meski kadang aku juga sering merasa Furihata-kun bertingkah tidak seperti dia yang biasanya.

"Senang melihat kalian pagi-pagi" sapa Kiyoshi-senpai.

"Ahaha, kami hanya ingin bersemangat lebih dari biasanya. Ngomong-ngomong Kagami, bagaimana dengan lukamu? Kalau kau masih merasa nyeri lebih baik tidak perlu latihan dulu" jelas Tsuchida-senpai dengan wajah lembut, aku hanya melirik Kagami-kun dan menangkap ekspresi tenang seperti dia biasanya. Aku bersyukur para senpai sangat baik dan perhatian pada kami meski mereka melewatkan adegan kejar-kejaran maut di malam naas itu, yah, aku pikir itulah yang terbaik. Cukup untuk kami untuk tidak menambah kesedihan orang-orang yang kami sayangi, peran kami hanya sebatas anak SMA tanpa kemampuan special, itulah kenyataannya sekarang.

"Aku dengar, Akashi menghubungimu ya, Kuroko?" aku berjengit, mendengar pertanyaan Kapten membuatku bagai ditampar hingga aku ingat kalau Akashi menghubungiku kemarin. Dia memintaku untuk bertemu di lapangan kota pagi hari ini tentu saja dengan membawa serta Kagami-kun (lebih tepatnya lagi, membawa orang-orang yang terlibat dalam kasus ini).

"A,ah. Iya, sepertinya aku lupa soalnya pikiranku agak kacau belakangan ini" jawabku jujur. "Kalau begitu kalian pergi saja, urusan di sini biar kami yang urus. Jangan lupa mengirim pesan kalau ada apa-apa" ucap Izuki-senpai.

"Serius tidak apa-apa?" Tanya Kagami-kun yang sedari tadi diam saja.

"Yaah, kami memang khawatir, tapi… aku rasa kalian lebih berhak untuk menyelesaikan masalah ini dan kami tak perlu ikut campur terlalu jauh, kan? Kami selalu berada di belakang kalian karena kalian rekan kami yang sangat penting" jawab Kiyoshi-senpai yakin. "Kalian juga masih punya kami,kok! Serahkan pada kami" sahut Kawahara-kun.

Aku tertegun, antara kagum dan merasa sedih atau mungkin terharu, mereka sangat menyentuh baik para senior maupun teman seangkatan kami, semuanya tampak terlihat lebih terang. Seperti Kagami-kun, cahaya yang hangat di tim basket Seirin.

"Sudah saatnya kalian pergi ke tempat janjian, sana cepat, kalau tidak nanti Akashi bisa mengamuk" akhirnya mau tak mau kami bergegas pergi ke tempat janjian(meski aku rasa masih terlalu pagi tapi jarak dari tempat janjian dengan sekolah kami agak jauh, kudengar Akashi bahkan rela-rela saja membuat teman-teman setimnya harus terlantar sementara dia di Tokyo).

Di jalan kami berdua tidak banyak berbicara, kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing tanpa tahu apa yang berada di dalamnya. Setelah kejadian itu, aku bahkan kehilangan kontak dengan teman-temanku(kecuali Aomine-kun, Momoi-san, Akashi-kun, dan Murasakibara-kun) selebihnya, Midorima-kun dan Kise-kun, aku tak tahu bagaimana keadaan mereka bahkan Takao-kun terang-terangan mengatakan bahwa Midorima-kun sudah hampir tiga bulan tidak ikut kegiatan klub dan sebagainya. Dia bilang, Midorima-kun sekolah tapi dia keliahatan menjauh dari teman-temannya, entah apa yang terjadi sepertinya kejadian itu memberi efek besar pada Midorima-kun.

"Kise…bagaimana keadaannya,ya?" Kagami-kun bercuap spontan, aku terkejut sebentar lalu… aku hanya bisa diam. "Kita tidak boleh menjenguknya?" Tanya Kagami-kun lagi, entah pada siapa.

"Kurasa…, kejadian tiga bulan lalu itu memberi dampak besar bagi Kise-kun"

Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi pada Kise-kun. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika dia harus terpaksa di larikan ke rumah sakit akibat pendarahan hebat serta luka-luka lainnya. Sepertinya Kise-kun juga terkena luka mental yang parah, sudah hampir tiga bulan Kise-kun tak kunjung memberi respon apapun. Aku berharap mesin elektrodraf tidak memberikan pertanda buruk pada kondisinya.

"Dia sudah koma tiga bulan, Kinako juga, sepertinya Kise jauh lebih beruntung dari Kinako. Dia tak kehilangan anggota badannya yang lain, hanya saja sepertinya bakal sulit membangun kembali mentalnya yang sudah hancur seperti itu"
"Saa..na… aku tak tahu…"

"Cepat sekali kalian datang, kalau kalian bengong kalian bisa tersesat"

Untuk pertama kalinya aku bersyukur pada suara gentlemen yang angkuh menyapa kami dari kejauhan. Pria

berambut merah amber itu…


...

AOMINE DAIKI
—Touou Gakuen—08.45. a. m

Sedari tadi aku hanya mematung memandang langit.
Entah kenapa suasana di atas atap tempat aku biasa malas-malasan malah terasa tidak senyaman sebelumnya. Sudah tiga bulan semenjak insiden mengerikan itu, aku mendapat perasaan bahwa ini belum sepenuhnya berakhir. Aaah—menyebalkan, aku jadi tidak bisa konsen dengan semua kegiatan rutinku meski sepertinya hari-hariku yang biasa sudah kembali.
"Dai-chan! Imayoshi-san memanggilmu!" kudengar suara menyebalkan teman kecilku yang berkoar-koar—tetap seperti biasa—dari bawah tingkat. "Berisik, Satsuki! Aku sedang tidak mood!" gerutuku. "Kau mau dimarahi pelatih lagi? Kau ingat apa janjimu kan, kau mau melanggarnya?" Ukh, ini yang kubenci, aku seharusnya tidak mengatakan janji konyol seperti itu.

"Baik-baik, aku mengalah! Dimana anak itu, sekarang aku harus apa?"
"Akashi-kun memintamu untuk bertemu dengannya,kan? Jangan malah malas-malasan kau bisa dimarahi nanti! Ajak

Kohane-chan untuk menyelesaikan masalah ini"
"Apa aku memang sepenting itu untuk dilibatkan?" cecarku. "Dai-chan!". "Oke, oke, aku mengerti. Aku paham situasinya. Untuk tiga bulan kedepan aku akan bersabar" Ck, harusnya aku tidak perlu sampai seperti itu,kan? Janji bahwa akulah yang akan menjadi menemani Kohane selama enam bulan kedepan sampai kondisi Kinako membaik, yah salahku juga kenapa aku harus terlibat, tapi tetap saja aku tidak bisa melepaskan Kohane begitu saja. Kohane sudah cukup menerima banyak cobaan dan kejadian malam itu adalah puncaknya sehingga entah kenapa alam bawah sadarku melakukan hal seenak jidat dan inilah aku sekarang.

"Pastikan kau bertemu dengan Tetsu-kun dan Midorin…"

"Aku pasti bertemu Tetsu dan si bodoh Kagami tapi, kalau Midorima, jangan terlalu banyak berharap" jujur, sekarang aku ingin sekali memukul si kacamata jelek itu karena perbuatannya yang kelewat sinting. Memang belum semuanya diceritakan oleh Kohane tapi aku sudah punya garis besar bahwa si bodoh berambut hijau itulah yang harusnya menyelesaikan semua kesalah pahaman di sini sebelum akulah yang menuntaskannya(dengan menonjok wajahnya barang satu dua kali).

"Dai-chan".

"Hm?". "Apa kau pikir semua akan kembali seperti semula? Kita bisa bersenang-senang seperti dulu?". Aku diam, apa yang harus kujawab, kenyataan sudah ada di depan mata dan untuk merubah semuanya tidak bisa semudah itu. Aku tak bisa menyatakan kalau sekarang aku benar-benar marah karena kawan lamaku sendiri berbuat seperti itu tapi di satu sisi aku juga merasa bersalah karena selama ini hanya menjadi orang bodoh yang mau-mau saja menjalani hidup yang kupikir sudah digelar tanpa ada apa-apa di baliknya. Ini berat sebelah, memaafkan atau dimaafkan, itulah permasalahan besar kami sekarang.

"Berdoa saja. Sekarang, yang kita bisa lakukan hanyalah menerima keadaan dan berusaha sekuat tenaga untuk membengkokkan takdir…" aku berlalu meninggalkan Satsuki yang masih termangu di atas atap sementara aku, berdiam diri di balik pintu dan hanya merutuki anak-anak tangga di depan mata.

"Sial, kenapa jadi serumit ini?" ponselku bordering, pesan dari Tetsu.

"Kami menunggumu di lapangan basket jalanan pinggir kota. Segera"—Tetsu—08.35. ah, gawat aku telat membuka pesan aku harus bergegas. Tepat sebelum melanjutkan perjalananku, Ryou terlihat memunggungi di anak tangga paling bawah. Masih ada perban melilit di bagian lengan kirinya yang menyembul dari seragam sekolah Ryou.

"Ah, Aomine-san" kalau dipikir-pikir anak ini juga nyaris menjadi tersangka—dan malah beralih menjadi korban yang akhirnya terpaksa di rehab akibat depresi(aku bersyukur anak ini masih diberi kesehatan kalau tidak aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi padanya juga karier basketnya).

"Yo, Ryou? Apa yang kau lakukan di sini?" sapaku basa-basi.

"Ahaha, tidak. Aku hanya ingin menyapamu karena sepertinya kita hampir tiga bulan tidak bertemu" Oh. "Bagaimana kondisimu?". "Tumben Aomine-san bertanya. Ya, itu tidak penting, sekarang aku hanya ingin menyampaikan kalau Kohane-chan sudah ada di bawah dan menunggumu. Kau ada perlu dengan Akashi-san?" Hmm… aku agak curiga.

"Yah, dia memanggilku dan aku harus bergegas. Terima kasih" aku menepuk pundaknya dan berlalu.

"Aomine-san. Kohane-chan berpesan padaku…" ekspresi wajah Ryou terlihat cemas dan enggan mengatakannya, lalu dia melanjutkan dengan nada perlahan. " Berhati-hatilah. Ini belum berakhir" aku berjengit, entah kenapa serentetan kata itu membuat bulu kudukku berdiri dan tengkukku terasa dingin. "A,ah,ya…". "Momoi-san masih di atas,kan? Aku duluan,ya Aomine-san" tak perlu menunggu lama sosok Ryou sudah menghilang di balik pintu menuju atap. Suasana di lantai ini terasa dingin, dingin yang tidak biasa. Astaga! Kenapa aku merasa separno ini?! Aku merasa seperti diikuti sesuatu.

Aku langsung buru-buru menuruni anak tangga, tanpa ada yang menyadari ada sebuah siluet di balik ceruk yang tak jauh dariku. Dan aku tak menyadarinya.

"Ao-chan" kini aku sudah bersama dengan gadis kecil yang menyapaku dengan panggilan –chan. Panggilan yang sangat kurang ajar mengingat dia itu lebih muda dariku tapi tak apalah—toh aku sudah biasa dan tidak mau mempermasalahkannya—dia hanya tersenyum kecut melihat ekspresiku yang angin-anginan. "Berangkat sekarang? Sebelum aku berubah pikiran".
"Kalau kau berubah pikiran kau akan mendapat akibatnya,lho Aomine" seorang cowok bermata tajam dengan iris aqua melongok dari balik pintu keluar sekolah. "Tch, kenapa si mata rajawali itu ke sini?" Takao cengar-cengir sambil menjinjing tasnya. "Dia menungguku. Kami sudah janjian" sejak kapan mereka berdua jadi akrab?

"Ya sudah sekarang kita kemana?"
"Konyol, jelas kita bertemu dengan Aka-chan,kan?" ya, memang konyol dan idiot.
"Sekolahmu sepi sekali, apa karena hari libur akan tiba?" Tanya Takao.
"Kelas hanya ada Homeroom dan pembinaan, tidak ada kegiatan KBM(Kegiatan belajar mengajar) karena sebentar lagi libur, ekskul juga libur jadi tidak ada latihan" jawab Kohane mewakiliku. "Begitulah, jadi kita berangkat?"

Di perjalanan ternyata suasananya sangat menyesakkan, aku agak berterima kasih karena Takao datang dan berterima kasih juga dengan kelakuan bodohnya itu tapi tetap saja ketika kami bertiga diam atau membahas topik-topik yang agak menyerempet soal kejadian tiga bulan lalu, semuanya mendadak jadi orang bisu.

"Bagaimana kondisi kakak kembarmu?" Takao dengan enteng membuka kebisuan kami dengan pertanyaan wow. "Uh? Eh, yah, dia memang koma tapi tidak ada kondisi yang menunjukkan sesuatu yang ganjil atau apa. Dia baik-baik saja, dia hanya belum bangun. Soal tangan kirinya.., mungkin tidak ada jaminan untuk kembali atau membuat tangan palsu karena biayanya mahal. Aku tidak mau merepotkan Chihiro-chan(Mayuzumi) karena sudah mengeluarkan uang banyak".

"Kalian masih ada hubungan keluarga?". "Ya. Saudara jauh" hening lagi.
"Oi, kemana si Megane itu?" aku dengan cablaknya menanyakan hal yang lebih wow lagi.
"Maksudmu Shin-chan? Dia masuk sekolah, tapi setiap di pelajaran ke lima dia selalu izin pulang. Terakhir kali aku melihatnya adalah di saat seminggu lalu, ketika dia meminta izin pada Miyaji-san untuk cuti sementara". Dahiku berkerut. "Cuti? Untuk apa?" tanyaku sanksi.

"Shin-chan tidak cerita, dia hanya bilang 'kalau ada apa-apa hubungi saja nomorku. Tapi maaf sementara ini aku tidak bisa bersama kalian. Ada hal penting yang harus aku lakukan"

Baik, keadaan ini semakin membuatku sakit kepala. Kalau si kacamata itu menghilang bagaimana caranya kami menyelesaikan masalah ini? Tanpa Kise, tanpa Kinako, tanpa Midorima, dan satu-satunya yang masih mungkin untuk meluruskan masalah ini adalah; Kohane. "Kemana si bodoh berkacamata itu, dia punya otak tidak sih kalau kondisi kita seperti apa?!" gerutuku, sementara Kohane dan Takao hanya bisa bungkam. Aku benar- benar akan membogemnya kalau bertemu.

"Akan kupukul mukanya nanti"
"Aku berharap begitu" jawab Takao lurus-lurus saja, tidak mencemaskan partnernya itu sama sekali. "Ah. Sepertinya kita sebentar lagi sampai, tinggal naik kereta dari sini" Kohane menunjuk setasiun di depan kami bertiga tapi ketika kami melangkahkan kaki ke sana tiba-tiba ada sekumpulan petugas berseragam menjaga di depan peron.

"Um.. ano, ada apa ya?" Tanya Kohane.
"Oh, maaf nona tadi kereta untuk keberangkatan selanjutnya terkena sedikit kecelakaan, anjlok rel, tidak ada yang terluka tapi sempat terjadi keributan…" petugas itu seperti sungkan menjelaskan, "Ada apa sebenarnya?" tanyaku agak nyolot.

"Mm, maaf begini tolong jangan membuat berita heboh, uhuk, sebenarnya kereta memang ada masalah tapi bukan itu, sesungguhnya ada seorang warga yang terlindas kereta tadi pagi dan sekarang jadwal kereta bakal terganggu. Yah, nanti sore mungkin kami bisa kembali membuka peron di sini" aku ternganga, seorang warga terlindas kereta?
"Bunuh diri?" Tanya Takao, "Entahlah, belum ada kepastian itu di sengaja atau tidak yang jelas kalian berhati-hatilan"

Kami hanya termangu sejenak lalu memutuskan untuk berjalan sedikit jauh untuk naik bus saja. "Aku jadi agak was-was" celetuk Takao sementara Kohane dengan wajah pucat hanya menunduk.

"Berhati-hatilah..ini belum berakhir"

ukh, aku mencoba menyakinkan diri bahwa kami akan baik-baik saja sebelum ada yang terjadi atau mimpi buruk tiga bulan sebelumnya akan terjadi lagi?
Akhirnya kami sampai setelah 20 menit berada di bus dengan perasaan kacau, aku langsung turun dan melihat teman-temanku sudah berada di lapangan di seberang halte bus. "Aka-chan, Kuro-chan, Kagami-chan! Ah, itu Himu-chan dan Murasaki-chan" Kohane dengan semangat berjalan mendahului kami. "Hei, Kohane lihat kanan-kiri dulu!" seru Takao lalu berlari mendahuluiku juga, sekarang aku yang malah ketinggalan.

"Aominecchi…."

DEG!

Suara Kise, aku refleks menengok ke belakang tapi hanya ada bangku halte, kutengok ke segala arah tapi tidak kutemukan apapun atau sosok Kise. Cih, sekarang apalagi yang harus kutemui? Apa sekarang Kise sudah bergentayangan dan menghantui alam bawah sadarku!? Yang benar saja, jangan bercanda Daiki, kau tidak boleh bicara begitu, Kise harus hidup karena masih banyak hutang yang harus dia bayar padaku—dia belum bertanding denganku—masa dia mau mati seenaknya!?

"Aominecchi….. Berhati-hatilah… festival AKAGOSAI…gagak.. ritual persembahan.. persembahan setan.. BELUM BERAKHIR.."
aku hanya termangu, seperti ada yang berdenging di telingaku begitu jelas, AKAGOSAI? Apa itu? Aku tak pernah mendengar nama festival semacam itu…

Tapi sebelum aku berhasil mencerna maksud dari suara-suara (yang kudengar seperti suara Kise itu) tiba-tiba aku mendengar suara jeritan Kohane dari lapangan.
"KOHANE..!" tiba aku di sana, yang kudapati pertama kali adalah bau menyengat anyir dan… cairan kental berada di tengah-tengah teman-temanku yang wajahnya sudah memucat seperti boneka.

"…Ini…!"

Sekarang aku percaya, seratus persen percaya bahwa..,

INI SEMUA BELUM BERAKHIR!


AKASHI SEIJUUROU

RAKUZAN—07.00(sebelumnya) a.m
Lapangan Basket Kota(08.30-09.00 a.m)

Pagi ini sebenarnya banyak sekali yang harus kulakukan.

Tapi entah mengapa tiga bulan terakhir setelah kejadian naas itu yang ada di dalam pikiranku hanyalah ; "Apa yang terjadi di balik semua ini" aku bahkan sempat tidak tidur tiga hari beberapa minggu lalu untuk mencari siapa sebenarnya AZUMI KAMITSUKA—aku bahkan rela pergi ke Teikou dan seenaknya meminta data sekitar tiga atau empat tahun lalu—aku tidak menemukan kejanggalan di dalam data Azumi, dia hanya seorang gadis yang tumbuh di lingkungan biasa, ayahnya bekerja sebagai seorang manager di perusahaan kelas menengah, ibunya membuka warung ramen kecil di pinggir jalan satu blok dari rumah mereka, Azumi tidak punya saudara dan dia hidup cukup makmur tanpa kekurangan

Aku hampir menyerah pada risetku selama hampir 1 setengah bulan terakhir sampai aku menemukan data yang terlewat kala aku mencari di berkas riwayat hidupnya di Teikou.

"Azumi Kamitsuka, korban Festival Akagosai. Depresi selama hampir 3 bulan sebelum masuk SMP. Dicurigai mengidap gangguan mental akibat perlakuan di lingkungan pergaulan saat sekolah dasar. Sampai sekarang 10 orang murid yang diduga melakukan Akagosai diberi bimbingan. Orang tua Azumi tak berkomentar" Apa ini?

"Festival Akagosai?" tiba-tiba Mayuzumi-san sudah berada di belakangku.
"Ah, yah, aku tak begitu mengerti. Memang apa itu festival Akagosai?" tanyaku.

"Sepertinya aku pernah dengar, waktu aku SMP di sekitar rumahku suka membicarakan Akagosai. Tapi maksudku dalam konotasi buruk, para ibu rumah tangga kadang was-was kalau anak-anaknya terlibat. Aku bahkan heran kenapa bisa begitu" Hayama-san melipat tangan sembari mengerucutkan bibir, tunggu dulu, ini dia!

"Bisa Hayama -san jelaskan tentang festival itu?" pintaku, dia menutup matanya sejenak lalu dengan pose berpikir dia lalu menerangkan perlahan-lahan, "Uhhhm.. apa,ya. Aku tak banyak tahu, waktu SMP aku jarang bergaul tapi itu sebenarnya hanya festival biasa. Festival yang dilakukan di daerah Tokyo juga tapi di pinggir kota. Apa,ya. Oh! RITUAL PERSEMBAHAN!" ritual persembahan?

"Apa maksudmu? Bisa kau jelaskan lebih detail?" sahut Mayuzumi-san.

"Aku tahu kenapa festival itu memiliki sisi gelap, itu karena RITUAL PERSEMBAHAN. Akagosai sendiri itu ditulis dengan kanji Aka-(merah) dan 'Ko' (anak) kalau kalian cermati, festival Anak merah yang memiliki arti Anak yang harus di persembahkan seutuhnya untuk pengorbanan, dengan menyiramnya dengan satu liter darah—boleh darah apapun—darah hewan atau darah manusia" aku terdiam, entah kenapa bulu kudukku meremang.
"Lalu, apa manfaat dari pengorbanan itu, itu terdengar konyol" cibir Mayuzumi-san.

"Konon, dalam ritual itu kita mampu 'menghapus' keberadaan seseorang tanpa harus membunuhnya. Terdengar kejam,ya? Orang jaman dulu sih bilang itu sebatas untuk menyelamatkan diri dari kesialan terutama bagi anak-anak, tapi entahlah. Oh, siapapun yang menghentikan ritual itu di tengah jalan akan mendapat kesialan selama hidupnya" Hayama-san membuatku tergelak,

"kesialan selamanya" cerita itu mirip cerita Kohane, tentang Persembahan Setan yang Azumi lakukan.

Aku paham! Aku mendapatkannya, KUNCI dari semua misteri ini. "Lho, Akashi? Kau mau kemana?" Tanya Mayuzumi-san.

"MENYELESAIKAN MASALAH INI…" aku bergegas melesat ke kelas. Dengan kecepatan kilat kukirim e-mail dan menyebarkannya ke semua teman-temanku.

"Midorima.. dimana kau sekarang?" batinku ketika hendak mengirim pesanku ke pada salah satu sahabat lama itu. "Aku percaya padanya, setidaknya aku ingin dia menerima pesanku. Terserah dia datang atau tidak. Aku harus cepat" kuambil berkas-berkas setebal novel lalu meluncur menaiki kereta shinkasen menuju Tokyo, untunglah aku punya rumah tinggal sementara di Tokyo(kalau tidak ada aku bisa kehabisan uang untuk naik kereta mahal bolak-balik).

"Masih pagi. Jam 08.30. astaga, aku lupa kalau sekarang bukan hari libur mana mungkin aku menyuruh mereka datang pagi-pagi begini?" tanyaku selepas aku menghabiskan waktu di perjalanan hingga tepat pukul 08.30 sudah menginjakkan kaki di lapangan jalanan ini. Burung-burung berciap, udara tetap dingin seperti biasa, kunaikkan jerseyku lalu mencari posisi yang nyaman untuk menunggu. Tapi sebelum sempat menyandarkan diri di tembok, dua orang muncul dengan wajah penuh kelegaan terpancar dari mata mereka. Terutama dia,

"Cepat sekali kalian datang, kalau kalian bengong kalian bisa tersesat"

"Akashi-kun!" senyum Kuroko merekah, dia tampak lebih santai ketimbang beberapa bulan lalu kala aku menjenguknya.

"Aku nyaris mengira kau terkena depresi. Kau tidak mengabariku, telepon tak kau angkat, bahkan wajahmu lebih kusut dari biasanya, yah tapi itu nyaris. Aku lega kau baik-baik saja" kami berjabat tangan sebentar lalu Kagami menyapaku, "Yo, Akashi. Kau terlihat segar".

"Aku beda denganmu, ah maaf, sayangnya aku tak menderita luka serius".

"Kau bahkan tak tergores apapun.., sudahlah, sebenarnya ada apa kau memanggil kami pagi-pagi begini? Untung pelajaran hanya ada Homeroom" cibirnya tak sabar.

"Hanya Homeroom? Tidak ada pelajaran?" aku agak terkejut mendengarnya.
"Ah gomen,yah, itu juga karena empat hari lalu kami kembali ke kantor polisi untuk memberikan keterangan meski kami tak banyak ditanyai. Aku agak takut kalau sudah menyangkut kepolisian" ujar Kuroko. "Tch, polisi. Aku tak menyukai mereka" Kagami bersungut-sungut.

"Apa kau dapat kabar dari Midorima -kun?" Kuroko menatapku penuh harap.

"Sayangnya tidak, tidak ada satu pesanpun darinya. Tiga bulan terakhir" jawabku, wajah keduanya kembali muram.

"Lho, kalian sudah di sini. Taiga?" aku melihat sosok Himuro-san bersama Murasakibara mendekati kami. Ternyata mereka baru sampai, aku bisa melihat perban di tangan Himuro-san dan terlihat sakit. "Tatsuya, Murasakibara kalian datang?" Tanya Kagami. "Kalau Akacchin yang meminta kami pasti datang" jawab Murasakibara masih dengan sebuah kripik kentang di tangannya.

"Aku bersyukur kalian berdua baik-baik saja" sapaku sehangat mungkin, Himuro-san menerima uluran tanganku, "Ahn, kami sempat kena masalah di Yosen tapi untunglah tidak sampai seseirus yang kuperkirakan" jelas Himuro-san.

"Jadi Akashi-kun, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Kuroko to the point.
"Aku ingin memberitahu kalian, semua yang sudah kutemukan" kuacungkan berkas-berkas di tanganku(yang hampir setebal 300 halaman) sudah kuduga semua orang menahan napas setelah kutunjukkan setumpuk kertas ini. Ya, mereka sudah bisa memprediksi apa yang ada di dalamnya; sesuatu yang mengerikan akan terungkap.

"Jangan bilang kalau itu adalah—"

"Aka-chan, Kuro-chan, Kagami-chan! Ah, itu Himu-chan dan Murasaki-chan" sebelum sempat ku berikan penjelasan suara melengking yang terkesan imut itu terdengar dari seberang lapangan. "Kohane?" Kagami mencoba mendekat, sampai Kohane sampai di lapangan tempat kami berdiri.
"Kohane-chan, syukurlah kau baik-baik saja" sambut Himuro-san. Namun detik berikutnya sebuah kengerian seketika merenggut kebahagiaan kami, sebuah benda jatuh dari langit! Kohane menjerit seketika, lalu Aomine datang dan aku mendekati benda itu.

"..Ini!.." suara Aomine tertahan.

" GAGAK?" Aku menyahut. Bau anyir merebak cepat sekali seperti virus, aku terpaksa mundur selangkah karena cairan kental dari gagak itu merembes kemana-mana. "Siapa orang gila yang melemparkan mayat gagak ke sini!?" hardik Kagami.

"Tunggu, gagak ini baru saja mati, lihat bekas lukanya masih sangat baru" ujar Kuroko. Aku terdiam, darimana asal gagak ini?

"Festival Akagosai…."

Hah! Itu, suara Kise kan? Suara itu terngiang begitu jelas di kepalaku tapi aku tak menemukan sosoknya dimanapun. "Kirisaki(slasher)…Saika.. Akagosai.. Akashicchi, Persembahan Anak Merah…" kupertajam pendengaranku sayup-sayup keheningan menyelimuti, "KINAKOCCHI…" ya, aku yakin sekarang apa yang kudengar tidak salah itu suara Kise. Suara yang berisi suatu pesan.

"Ada apa ini, setelah orang bunuh diri sekarang kita diteror sesuatu?" ucap Takao.
"Hei," panggilku, semua mata tertuju seketika "Apa kalian tahu soal Festival Akagosai?" tanyaku pada semuanya. "Akagosai? Apa itu?" Tanya Murasakibara balik.
"Oi, Akashi. Darimana kau tahu soal festival itu?" sahut Aomine. Aku tertegun sejenak.
"Kau tahu?". "Soalnya, tadi suara Ki—". Mendadak ponsel Kagami berdering, dia buru-buru mengangkatnya.
"Moshi-moshi, Kagami di sini. Uh, Senpai? Ada apa, Kasamatsu-san, hee? Apa? Ba, baiklah kami ke sana" hening. "Siapa, Kagami-kun?" Tanya Kuroko lalu dengan terbata Kagami mengucapkan serentetan kata yang bagaikan petir di siang bolong.

"Kise sudah sadar".

Eh. Apa?

"Huh? Kise-kun…sadar?" ulang Kuroko.
"Ya, dia sadar" jawab Kagami sekarang lebih yakin.

"Apa boleh buat, aku akan jelaskan di rumah sakit! Aku mohon pada kalian untuk mendengarkanku baik-baik dan Kohane, aku minta bantuanmu" pintaku pada gadis kecil yang sama sekali tak bersuara dari tadi.

Ini pertanda.., ya, Pertanda!


KOHANE YUKIHIRA
Lapangan Basket—09.45 a.m

Aku shock, aku sangat shock.

Bagaimana tidak, seekor gagak mati jatuh tepat di depanku dan darahnya bertebaran kemana-mana seperti di film horror. Ngomong-ngomong, sudah tiga bulan aku harus mengurus kakak kembarku yang masih koma di rumah sakit, selain Kinako juga ada Kise-chan yang tetap pada fase tidurnya.
"Kise sudah sadar" kata-kata Kagami-chan bagai menyambarku seketika. Kise-chan selamat! Syukurlah! Kini aku bisa sedikit bernapas lega, sekarang tugasku adalah menanti kakakku yang masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang rumah sakit. Oh,ya sebenarnya yang membuatku kaget itu bukan masalah gagak, tapi siapa yang menjadi pelaku pembunuh gagak itu.

"Salah satu korban dari meledaknya ruang PKK, selain Azumi, Kitahara Ayano. Kitahara si nona muda, siswi paling berpengaruh yang ikut mem-bully Kinako sekitar 3 tahun"

"Kohane?" Kuro-chan menepuk pundakku pelan, membuyarkan semua lamunanku. "A, ah ya, maaf aku kepikiran sesuatu" jawabku sekenannya. Kenapa Kitahara-san? Aku tahu dia tidak ikut meninggal, dia hanya terkena luka bakar serius hampir 80% tubuhnya hangus dan terpaska di operasi.

"Katanya dia sekarang bersekolah di SMA XX di Shibuya" jelas kepala sekolah Teikou ketika aku mencoba mencari tahu informasi lebih detail. Dia masih hidup! Aku percaya itu, apakah ini juga ulahnya?

"Ayo bergegas, kita perlu Kise" komando Aka-chan lalu Ao-chan menggandengku seraya menuntunku dengan mantap. Dia tak bicara apapun, dadaku sesak perasaanku campur aduk antara marah dan sebagainya, aku tak mengerti kenapa harus jadi seperti ini. Onee-chan, apa ini adalah peringatan darimu? Sebenarnya ada apa?!

Kami naik kereta lalu meluncur ke rumah sakit, kami tidak banyak berbincang-bincang di sepanjang perjalanan. Tujuanku hanyalah melihat kondisi Kise-chan dan memastikan dia baik-baik saja. Sampai di rumah sakit, aku melihat Kasamatsu-chan dengan wajah kuyu menyambut kami, aku yakin dia tidak tidur beberapa hari ini.

"Kasamatsu-san, bagaimana dengan kondisi Kise?" Tanya Kagami-chan yang paling pertama bertanya. Kasamatsu-chan diam sebentar, dia mengambil napas berat dan menghelanya perlahan,

"Aku tak tahu. Aku tidak bisa bilang ini berita baik atau buruk, aku senang Kise sudah mulai membuka matanya, tapi…" kata 'tapi' ini adalah pertanda bahwa kecemasan kami bakal jadi kenyataan.

"Tapi kurasa menaruh harapan besar padanya bakal sulit. Kalian nisa lihat sendiri, aku yakin keberadaan kalian bisa membantu" dengan senyum kecut, Kasamatsu-chan memersilakan kami masuk.

Di sana, yang kulihat hanyalah Kise-chan masih dibebat oleh banyak perban, bau antiseptic menyebar kemana-mana, alat pacu jantung masih menempel di badannya, matanya memang terbuka tapi…. "Kise tidak merespon apapun, dia memang membuka mata, tapi dia seperti kehilangan jiwanya. Seperti wadah kosong, aku tidak mengerti kenapa begitu. Tubuhnya tidak sedingin sebelumnya tapi—begitulah, dia tidak bicara" Kasamatsu-chan dari arah pintu menjelaskan tanpa memandang kami.

"Kise-kun… kenapa?". "Aku rasa ini efek dari koma berkepanjangan dan tanpa sadar dia menderita depresi berat akibat kejadian yang mungkin sangat memukul habis mentalnya. Dia mencoba bangun, tapi kasarnya dia tidak mampu. Jiwanya sudah hancur berantakan, sulit untuk kembali, mentalnya habis, dia tak bisa membangun kembali itu semua sehingga kejiwaannya terganggu" jelas Aka-chan.

"Bagaimana dengan kakakku? Dia tidak berniat jahat" selakku parau.
"Kenapa Kinacchin berkata dia membenci Kisecchin?" Tanya Murasaki-chan.
"Bagi Kise, Kinako sangat penting, Kise yang hendak memperbaiki hubungan mereka dihadapkan oleh kenyataan seperti itu. Tidak mungkin tidak ada yang tidak shock karenannya" Aka-chan sekali lagi memberikan penjelasan amat logis di otakku.

"Mau benci atau tidak" Ao-chan menyela dengan keras, "Si bodoh—Kise—dan si bodoh yang satu lagi—Midorima—adalah kunci dari permasalahan ini, aku sendiri tidak mau banyak mencari kemungkinan, itu bakal menghancurkan rencanamu,kan? Akashi" semua mata tertuju pada Aka-chan sementara kakak berambut merah amber itu hanya diam dengan sorot mata tajam.

"Aku menemukan penjelasan lebih logis soal itu" Aka-chan mengacungkan berkas yang tadi di perlihatkannya. "Apa itu Akashi-kun?" Tanya Kuro-chan.

"Soal Azumi Kamitsuka. Dia punya latar keluarga yang biasa saja, hidupnya normal dan bisa dibilang tidak ada masalah apapun. Tapi…, satu artikel menjelaskan dia pernah mengalami tragedi buruk ketika SD" Aka-chan berhenti sejenak, atmosfer di sekeliling kami mendadak berat, aku merasa bulu kudukku meremang dan mual apalagi mengingat kejadian gagak tadi. "Kamitsuka-san pernah menjadi salah satu korban teman-temannya di festival 'AKAGOSAI', dia depresi berat hingga kejiwaannya terganggu"

Hening.

"Akagosai?" kudengar Kagami-chan bertanya-tanya.
"Aku baru dengar" sahut Taka-chan.

"Akagosai, kata seniorku itu adalah festival kebudayaan yang diselenggarakan di beberapa distrik, karena masih banyak yang mempertahankan hal tersebut. Akagosai sebenarnya memili arti 'Anak merah', berkedok festival namun sebenarnya acara itu memiliki sisi gelap sendiri" terang Aka-chan. Aku diam, Akagosai? Jangan-jangan…

"Aka-chan… apa yang kau maksud ritual untuk 'menghilangkan' salah seorang anak untuk dijadikan korban persembahan agar warga di sana hidup tenang? Dan anak itu akan dilempari oleh seliter darah lalu…." Astaga lidahku kelu, aku pernah dengar festival ini dari Kinako, dulu dia pernah memintaku untuk tidak pernah keluar rumah selama sebulan. Sayangnya aku masih terlalu kecil untuk mengerti. "Lalu, lalu.. anak yang dijadikan persembahan akan di bunuh dan di kubur begitu saja!?"

"Bo, bohong…." Decak Kagami-kun.

"A, aku tahu. Maksud dari ga—"

BRAAAAKK!

Aku spontan menghadap ke jendela, seekor GAGAK!

Gagak itu mati menubruk kaca ruang kamar ini. Leger gagak itu menganga, darahnya menyembur kemana-mana! "Kali ini apalagi!?" seru Ao-chan.

"Oi! Kalian, lihat di depan sini!" aku tak percaya dengan pemandangan di depan mataku. Seekor bangkai gagak tergeletak begitu saja di depan kamar, sepertinya baru dan darahnya! Ini mengerikan, aku tak tahan melihatnya sampai aku baru menyadari mataku berlinang menahan tangis.

"Panggil suster! Kita harus memberitahu semua klub, jangan ada yang terlewat! Keadaan darurat! Pastikan semuanya berkumpul di SEIRIN. Aku membutuhkan kekuatan kalian, Kuroko, Kagami" komando Akashi sementara Himu-chan membimbingku ke dekat ranjang Kise-chan.

"Semua akan baik-baik saja" senyumnya. Aku hanya mengangguk, tapi di tengah keributan itu, telingaku menangkap erangan berat dari samping kiri.

"Kise-chan?" demi para roh di surga, Kise-chan napasnya tersengal-sengal, keringatnya membanjir, kondisinya mendadak drop dia harus segera di larikan ke UGD!"Kise-kun! Bertahanlah, aku panggil perawat!" Himu-chan pun menghambur keluar.

"KISE-CHAN!"

Tuhan, apa yang terjadi? Kumohon siapa saja tolong Kise-chanOnee chan

...

TO BE CONTINUED

...

Theres a Sinner Between Us...

Who?

...

Mind to R^R?