Chapter 9 : Beyond the Boundaries
Ohayou/Konnichiwa/Konbanwa, Minna-san! Ohisashiburi ne~~
O genkidesuka, Minna?
Saya baru tahu, kalau ada yang menganggap fict ini termasuk kategori Sci-Fi, padahal saya gak berpikir ke sana, yah mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.
Saya sudah ada rencana untuk fict setelah yang ini tamat nanti, kalau tidak salah, ada yang bertanya apa nanti akan ada fict Yuuma X IA lagi? Saya jawab 'ada' dan temanya Sci-Fi ^^
Shall we begin?
A Fantasy Fict from me
~Heart and Soul~
Main pair : Kagamine Len & Kagamine Rin, maybe a little bit of slight pair and crack pair content
Disclaimer : Vocaloid © Yamaha, and other companies
Story © Me
UTAUloid © Owner creator
Fanloid © Creator
Special thanks to : Square-Enix and Tecmo
Summary :
"Aku melihat dunia baru, sebuah masa depan yang baru. Aku masuk ke dalam dunia ini hanya untuk satu hal, sebuah kenangan, sebuah kenangan yang pernah aku buang, aku akan mengembalikannya walau aku akan menjadi abu sekalipun."
Warning : OOC (maybe), typo(s), gaje, pendeskripsian kurang, kesalahan eja 'EYD' dan teman-temannya.
'Abc' (italic) : Flashback, kata asing, atau percakapan secara tidak langsung (telepon, email, sms, dll)
"Abc" : Percakapan normal
'Abc' (kutip satu) : Hayalan, angan, atau (monolog) pikiran karakter.
'Abc'/ 'ABC' (bold atau kapital) : Kata atau kalimat yang diberi penekanan, kata atau kalimat penting.
HAPPY READING & RELEASE YOUR MIND!
Chapter 9 : Beyond the Boundaries
XOXOX
"Bagaimana ini?! Kita harus bilang apa kepada Exo nanti?!" Meiko atau Kasumi berteriak bingung di tengah hiruk pikuk arena yang sangat bising. Bagaimanapun, dialah yang pertama melihat Rin menghilang di sana, sama seperti waktu kejadian di Dalastre, dimana Rin juga menghilang, Meiko mulai merasa jika Rin menghilang karena kehadirannya.
"Tenanglah Kasumi, kita tidak tahu apakah dia di log out paksa atau tidak, kita tidah bisa langsung menarik kesimpulan." Jawab Oliver.
"Dan jangan salahkan dirimu sendiri." Lanjutnya.
"Apa aku harus kembali ke dunia nyata?" Tanya Yukari pada Oliver.
Oliver mengotak-atik window di depannya, mencari informasi tentang Rin, sejenak terlihat secercah harapan di wajah Oliver, Yukari bertanya-tanya apa yang membuat Oliver berhenti panik.
"Ada apa?" Tanya Yukari.
"Coba kau buka daftar temanmu, apa nama Rin masih ada di sana?" Tanya Oliver balik.
Yukari melakukan apa yang disuruh Oliver, dan setelahnya wajah Yukari juga mulai tidak menegang lagi. Rin masih ada di dalam game, tapi letaknya tidak diketahui karena entah kenapa bar atau kotak yang memuat nama Rin hanya menunjukan kalau Rin masih online, tapi tidak menunjukan letak dimana Rin berada.
"Apa yang kita lakukan setelah ini?" Tanya Yukari.
"Kau dan Kasumi berjagalah di sini, jangan katakan apapun pada Exo, buat dia sibuk jika sampai pertandingan selesai aku belum datang. Aku akan mencari Rin." Oliver berlari keluar arena, meninggalkan Meiko dan Yukari sendiri.
.
.
.
"AARGHH!" Len berteriak ganas, dia menyerang semua yang ada di depannya, termasuk Mikuo sendiri.
Mikuo hanya bisa terus melompat dan menghindar, semua player yang bertanding sudah mencapai tingkat HP yang sama, di bawah 100%.
"Tidak kusangka, dia bisa seperti ini." Gumam Kaito.
"Apa yang bisa kita lakukan setelah ini?" Tanya Anon.
"Tunggulah, hingga dia mengeluarkan Necromancy, sepertinya dia masih punya trik lain, si pencundang Ark itu." Jawab Mikuo.
Len terus menyerang semuanya, mulai dari musuh, teman, bahkan dia menghancurkan semua pepohonan yang ada di sekitarnya, ia menebas rumput liar berlumut yang tinggi di sekelilingnya.
Mikuo melompat dari pohon satu ke pohon lain, mencoba memancing Len ke suatu tempat, Anon dan Kaito terus mengikuti dari belakang walaupun lambat. Kaito mulai mengeluarkan sihir penyembuh untuk mengembalikan tingkat HP dirinya dan Anon, dan saat itulah, Mikuo telah sampai pada rencananya.
Dziing...
Tubuh Len langsung melemas, aura merah ditubuhnya hilang, digantikan aura hitam yang sangat pekat.
"Kau... Kau menggunakan tubuhku untuk bisa menangkan? Ya kan?!" Len berteriak di tengah tubuhnya yang sedang terinjeksi oleh aura-aura yang begitu gelap, dirinya sudah tahu, bahwa setelah setelah Psychedealism, jika dia belum mati, maka Necromancy akan langsung aktif.
"Kita, tidak... Aku bertujuan untuk menang, aku tidak akan membatas segala cara jika memang itu mungkin. Sekarang lihatlah, apa yang akan dibangkitkan olehmu di Dragonaur Tundra!"
Tepat ketika Mikuo berteriak, tulang belulang mulai muncul, tulang itu tersusun rapi dan tinggi menjulang ke atas, ada sesuatu yang empuk mengelilingi tulang itu, sisik mulai mencuat, sayap mulai membentang, dan auman mulai datang.
"GROOAAAAR!"
Inilah alasan kenapa daerah ini dinamakan 'Dragonaur', tempat para naga atau elder bertarung sebelum memiliki daerah kekuasaan masing-masing, dulunya diceritakan jika tempat ini merupakan tempat pertempuran hingga mati para naga hingga sekarang hanya tersisa delapan di penjuru Nova.
"A-ap-apa itu?" Kaito terkejut melihat apa yang bangkit dari sihir pemanggil mayat Len.
"Ini merupakan naga mati terkuat, Necromancia." Titah Len, Len sendiri baru melihat bentuknya dan itu langsung membuatnya takjub, para Necromancer termasuk Len sudah tahu jika mereka menggunakan Necromancy, mereka juga bisa memanggil makhluk legendaris yang sudah mati di tempat tertentu, salah satunya Necromancia.
Anon yang sudah mengisi kembali HP nya hingga 50% kembali menggunakan kombo Soul Etude dan Angle Song dari Kaito.
Anon memutar cakramnya di atas kepala, membuat sebuah sayap yang sangat lebar, membuat sayap yang ada di tubuh Anon seakan ada dua pasang. Anon memutar tubuhnya di udara, mengeluarkan udara berputar di sekitarnya. Dalam satu kedipan mata, di belakang tubuhnya terlihat sosok besar memegang Naginata atau tombak ala Jepang,
Anon turun dari udara dengan makhluk tersebut di belakangnya, tubuh Anon meliuk indah, ciri khas seorang Idol dengan Halo di atas kepalanya dan dua pasang Talesma di punggungnya sebagai bukti kalau dia adalah ras Ancient.
"Aku tidak tahu itu makhluk apa, tapi tidak ada yang tidak bisa dilakukan Idol jika sudah memasuki mode Hybrid." Ucapk Anon, mode Hybrid, mode yang bisa dilakukan oleh semua player yang telah masuk ke kelas ketiga, mode yang bisa aktif pada keadaan tertentun, dalam kasus Anon, dia bisa mengaktifkannya karena kebencian terhadap Mikuo yang memanggil Len sampah. Pada dasarnya ini merupakan hasil dari mental dan perasaan, yang bahkan tidak bisa dijelaskan olhe pihak developer. Pada mode ini, player memiliki stamina yang luar biasa kuat.
Makhluk di belakang Anon melepas sebuah tebasa kencang dari jauh, semua pohon yang menghalangi terbelah, Len dan Mikuo harus sampai menunduk untuk menghindari serangan itu. Necromancia terbelah menjadi dua.
"Apa hanya segini yang bisa dilakukan makhluk legendaris?" Ejek Anon.
Tubuh Necromancia yang tadinya hancur kembali beregenerasi, dan parahnya, kecepatan regenerasinya luar biasa cepat.
"Jadi benar, yang sudah mati tidak bisa dibunuh lagi ya?" Titah Anon.
Anon kembali menyerang dengan iringan auman dari Necromancia.
XOXOX
Oliver berpindah dari satu kota ke kota lain, mencari keberadaan Rin yang tidak jelas. Bahkan Oliver sempat melintasi Meiji, pulau yang menonjolkan ke-khasan Jepang yang ada di sebelah utara-timur daerah Elf karena bingung mencari kemana.
"Kemana lagi aku harus mencari." Gumam Oliver.
Telinga Oliver bergetar kecil, menandakan ada sambungan masuk dari luar untuk dirinya, dengan lemas, Oliver memegang telinganya, menjawab panggilan itu.
"Ada apa?"
Sejenak Oliver terkejut melihat nama Rin ketika dia mengecek siapa yang memanggil.
"Rin? Ini kau Rin?! Hei!" Oliver tidak mendengar ada suara apapun dari panggilan tersebut, membuat khawatir dirinya kepada Rin makin bertambah. Oliver melihat daftar status Rin di window, di sana terlihat kalau Rin ada di ibukota Elf. Tanpa basa-basi Oliver langsung pergi ke sana.
.
.
.
Sesampainya di sana Oliver masih bingung kemana dia mencari Rin hingga ada seseorang yang menepuk pundaknya.
"Kain?"
Oliver menoleh, dia melihat Rin di sana, masih utuh, Oliver langsung memeluk Rin erat.
"Syukurlah, kau tidak apa-apa.."
"Memang apa yang terjadi?" Tanya Rin.
Oliver bingung, Rin tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri?
"Kau menghilang dari arena tiba-tiba, kau tidak ingat?" Tanya Oliver.
"Loh? Bukannya tadi kita bertiga, aku, kau dan Melody log in dan sampai disini, lalu ketika kita bertiga ingin pergi Spee untuk melihat pertandingan Exo, aku terpisah dan kalian?"
Oliver langsung tersentak mendengar penjelasan Rin, ada yang aneh, pikir Oliver. Oliver berpikir kalau Rin yang ada dihadapannya bisa saja bukan Rin, dan anehnya, Rin langsung memanggil Oliver dengan nama gamenya, tidak seperti biasanya dengan nama asli.
"Rin, kau tau nama asliku kan?"
"Oliver, ada yang salah? Kau yang menyuruhku untuk tidak sering menggunakan nama asli untuk memanggil bukan?" Jawab Rin memang benar, tapi Rin terasa aneh untuk Oliver, akhirnya Oliver menyingkirkan perasaan itu dan mengajak Rin kembali.
"Lupakan, ayo kita kembali."
.
.
.
Anon terus menyerang walau sia-sia, dia tahu kalau serangan biasa tidak akan berpengaruh pada Necromancia, waktu pertarungan kurang dari 10 menit lagi, jika begini Anon dan Kaito bisa kalah karena setiap Anon menyerang Necromancia, HP Anon mengurang, dan MP Kaito sudah terlalu sedikit untuk mengeluarkan sihir lagi.
Anon mengeluarkan serangan terakhirnya, tubuh Anon terangkat lagi ke udara, ia menari di udara, di atas pijakan seperti pelangi yang muncul dari nyanyiannya, Kaito, Len dan Mikuo masih terdiam, walau mereka semua musuh, mereka masih punya kehormatan untuk tidak mengganggu pertarungan orang lain, terlebih lagi mereka semua kagum dengan kekuatan Anon yang dianggap memiliki kelas yang hanya bisa mensupport, tapi dugaan mereka salah.
Di tangan kanan dan kaki kanan Anon muncul borgol yang besar walau hanya satu bagiannya saja, borgol itu perlahan berubah bentuk menjadi sebuah panah yang besar, sangat besar, bahkan melebihi besarnya Necromancia.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi, tapi jika serangan ini tidak berhasil, aku akan mengaku kalah." Ucap Anon, Kaito pasrah saja, apa yang ditunjukan Anon sudah sangat bagus untuk menjadi hiburan. Semua petarung dan penonton tidak melihat lagi siapa yang menang dan siapa yang kalah, yang mereka lihat sekarang hanyalah pertarungan langka yang mungkin akan menjadi tonggak revolusi dimana kelas Bard tidak akan lagi diremehkan sebagai kelas yang tidak mempunyai seni menyerang.
"HEAVEN'S WRATH!"
Panah yang melebihi besar badan lawannya itupun melesat pergi, menghancurkan tubuh Necromancia hingga habis tidak bersisa, pada waktu yang bersamaan HP Anon menunjukan angka 0, resiko karena menyerang Necromancia, menyerang mayat, apalagi monster legendaris seperti Necromancia, sama saja terkena status Sap yang terus mengurangi HP si penyerang.
Tubuh Anon menghilang dari arena, pada saat itu waktu pertandingan habis, membuat semua penonton di arena bersorak, tiga player yang tersisa kembali ke arena Spee disambut dengan sorakan kencang dan gemuruh yang seperti gempa.
"Seperti yang kita lihat, pertandingan dimenangkan secara tipis oleh pasangan Exo-Ark! Dengan ini, mereka otomatis masuk ke semifinal!"
Len berlutut dengan kaki yang lemas, ia tidak menyangkan akan menang dengan cara memalukan seperti ini.
"Cara menang apa ini?" Wajah Len sangat pucat, pupil matanya mengecil ketika ia melihat ke arah Mikuo.
"Kau.. Kau bajingan! Pecundang! Apa kau tidak tahu kehormatan seorang kesatria?!" Len menarik kerah Mikuo di atas arena, membuat para penonton berbisik-bisik tentang apa yang dilakukan Len.
'Memang benar ya, pemain itu.'
'Iya, Exo, itu, dia memang yang terburuk.'
'Lihat dia, dia menyalahkan rekannya sendiri.'
Len yang mendengar desas desus itu menurunkan tangannya, reputasi Len yang memang sudah terlanjur buruk membuat seperti Len yang salah di sini. Mikuo melihat Len dengan tatapan meremehkan.
"Kau, pembual, seharusnya kau berterimakasih karena aku telah membuat kita menang." Ucapnya.
Tepat saat Len sudah kehilangan kesabarannya, ada yang memeluk Len dari belakang.
"Hentikan..."
"Rin?"
Rin berlari dari luar arena hanya untuk menghentikan Len, kembali desas-desus tercipta di bangku penonton, membuat Len makin muak dan menarik Rin pergi.
.
.
.
Waktu istirahat sedang berlanjut, sekarang pertarungan Kanon-Danzel melawan Reno-Rose. Len dan yang lain sedang berada di basement arena, mendinginkan kepala.
"Aku tidak percaya ini..." Ucap Len.
"Bagaimana nanti aku bisa menghadapi Anon dan Kanon?" Lanjutnya.
"Tenanglah.." Ucap Oliver.
"Kami bisa membantumu." Lanjutnya.
Len melepas kompresan di kepalanya, ia mencari topik lain untuk dibicarakan.
"Ah iya, apa kau baik-baik saja? Rin? Tidak ada yang terjadi kan?"
Rin tidak menjawab, Oliver langsung menyelanya dengan cepat.
"Tenang saja, semuanya aman."
"Baguslah."
Tap... Tap... Tap...
Langkah kaki terdengan mendekat ruangan Len dan yang lain, pintu berderit dan terbuka, menunjukan sosok Anon di sana.
"Ah, Anon..."
"Exo, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja."
Len berdiri dari tempat ia duduk dan menghampiri Anon, mereka kemudian berjalan menjauh sambil dilihat oleh Rin dan yang lain.
Sesampainya di ruangan lain, Len membuka pembicaraan.
"Maaf, tidak seharusnya aku membuatmu marah."
"A-ah! Tidak apa-apa! Salahku juga terlalu sentimen."
Sejenak keadaan hening di antara mereka hingga Anon membicarakan sesuatu.
"Len."
"Apa?"
"Su-suki.. (Suka)"
"Eh? Tsuki (Bulan)?"
Len salah mendengar ketika Anon mengatakan suka, dengan kata bulan. Wajah Anon langsung memerah hebat, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Lu-lupakan!"
"Eh?"
Anon memalingkan wajahnya, ia menarik nafas berkali-kali dengan teratur dan cepat untuk menenangkan dirinya lagi. Anon berbalik dan menarik nafas sekali lagi.
"Len, bagaimana jika di semifinal nanti kau melawan kakak?"
"Aku tidak peduli siapapun yang aku lawan nanti. Pokoknya aku harus bisa menang!" Teriak Len.
"... Dan ini semua demi Miku.." Gumam Len pelan.
"Apa?" Tanya Anon.
"Pokoknya, aku yang menciptakan peluang, aku yang mengkreasikan peluang aku pula yang akan menyelesaikan peluang!"
Len berdiri keluar dari ruangan, diikuti oleh Anon. Walau sebenarnya wajah Anon masih sangat merah ketika mengikuti Len. Ini rahasia kecil...
.
.
.
'Anon sebenarnya menyimpan rasa terhadapa Len.'
XOXOX
Chapter 8 selesai~~
Sekarang langsung saja sesi etimologi ^^
Leviathan : Makhluk lain dari mitologi, dalam bahasa hebrew, Leviathan simpelnya adalah paus. Makhluk air yang pada abad pertengahan paling ditakuti karena menenggelamkan berbagai kapal di laut, termasuk kapal Flying Dutcmah milik Kapten Bernard Fokke dari Belanda menuju Jawa yang dikabarkan hilang dengan isu ditenggelamkan oleh Leviathan, merupakan pasangan wanita Bahamut dan disimbolkan berbentuk seperti ular. Dalam fict ini, Leviathan adalah makhluk alami penjaga daerah Undine, seluruh kota Undine ada di bawah laut, begitu juga ibukotanya, di fict ini juga saya menjelaskan, kalau Leviathan menjadi dewa penjaga dengan kaki tangannya, Kraken.
Hydra : Merupakan makhluk dari mitos Yunani, berperawakan seperti roh air yang memiliki banyak kepala ular yang jika ditebas satu, makah akan tumbuh lebih banyak lagi. Setiap kepalanya memiliki racun yang bisa mematikan manusia hanya dengan menyentuhnya. Salah satu palawah Yunani, Heracles, mengalahkan Hydra dengan kemampuan yang disebut sebagai 'The God's Hand' yang menurut mitos, membuat Heracles memiliki dua belas nyawa dalam perang. Hydra juga merupakan salah satu keturunan dari Typhoon dan Echidna, Typhoon dan Echidna itu sendiri adalah keturunan yang dianggap buruk dari Dewi Bumi, Gaia. Di fict ini, Hydra merupakan dewa alami daerah Sylph, bentuknya juga seperti naga, tapi memiliki tiga kepala.
Omega : Sebenarnya, Omega adalah lambang terakhir dari alpfabet Yunani, dan dalam angka numerik Yunani, Omega memiliki angka berkisar 800. Ini merupakan salah satu monster yang lagi yang saya ambil langsung dari Final Fantasy series, dikenal sebagai mesin yang selalu berevolusi setiap dikalahkan, Omega berpindah dimensi demi bisa mengejar Shin-Ryuu dan membunuhnya. Mesin ini merupakan dewa alami di daerah manusia atua Human, bentuknya seperti naga, memiliki empat kaki dan sayap, hanya pada bagian yang seharusnya leher dan kepala naga, diganti dengan bagian tubuh seperti manusia dari mulai pusar sampai kepala dengan dua tangan. Termasuk dalam kategori monster Mimic atau peniru, di dalam fict, Omega adalah salah satu mesin buatan manusia saat perang para naga di Dragonar Tundra yang kemudian membangkan dan memiliki kekuatan sendiri.
Segitu dulu kali ini, untuk chapter depan, saya akan menyertakan dua elder sisanya ^^
Akhir kata, maaf jika ada kata yang kurang berkenan, saya mau tahu komentar kalian soal chapter kali ini, apapun itu, karena bentuk apresiasi dari kalian adalah kebahagiaan untuk saya.
Jaa~~ Matta ne~~ ^^
Best Regards,
Aprian
