Eye-witness
Himkyu's Present
SVT Fiction_Mingyu x Wonwoo (Meanie)
Genre : Romance Hurt/Comfort
Disclaimer : SVT cast are owned by Pledis Entertaiment , this fic n plot by me (himkyu a.k.a Miyu)
.
.
.
.
.
Warning!
Typo(s), Yaoi
I have warned you. If you dont like it, dont continue. Thank you^^
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 9
Dua mata menyipit itu membidik si tubuh teman dari samping. Bukannya menyipit, memang matanya seperti itu. Namun, tetap sudut pandangnya kali ini berbeda.
Penuh pertanyaan.
"Jadi kau gay?"
Mingyu entah dari kapan akan menyudahi keterlenaannya menatapi sisi jauh di bawah sana, memandangi satu pemuda pendiam yang begitu tenang di bangku, yang menatapi sekitar dengan rasa tak tertarik. Tidak ada yang menemani ia mengobrol, bahkan untuk ukuran pelajaran olahraga yang begitu bebas, tidak ada yang mengajakanya main bola bersama. Atau sekedar mengajaknya mengobrol membahas sesuatu.
Laki-laki itu selalu terbuang. dan Mingyu merasa kasihan, sekaligus terpukau dengan kepolosan wajahnya yang terkena pancaran sinar mentari siang itu. Apa ia bahkan sadar dengan peluh yang basah di kening dan lehernya?
Mingyu ingin mengelapnya, yang dengan setengah sadar menjadi sebuah gerakan tangannya yang bergantung di udara, ke luar jendela.
"Woy! Mingyu! Ini anak menggigau apa lagi?!"Hoshi gemas, dia menendang kaki meja hingga tempat bertenggernya Mingyu berhalusinasi jadi bergerak kasar. Menghapus angan-angan laki-laki tampan itu.
"Apa sih?!" protesnya. Hoshi memutar mata, kenapa jadi dia yang dimarahin?
"Aku tanya padamu. Apa kau bahkan jadi gay karena suka anak mengerikan itu?" mata Hoshi melirik acuh. "Sepertinya aku tahu jawabannya."
"Enak saja. Aku tidak seperti itu. Memangnya aku tertarik denganmu? Tidak!"
"Ya udah biasa aja bilang 'Tidak' nya!"
Mingyu tertawa melihat ekspresi sebal Hoshi yang sejak kemarin begitu annoying tiap kali berada di sampingnya.
Sejak kejadian pemberian gelang pada waktu itu, Hoshi selalu mencium kecurigaan di sekitar Mingyu. Dari sebuah intuisi 'Mingyu adalah penyuka sesama', atau 'ia diancam jadi pembantu nya Wonwoo'.
Baru kali ini lelaki berambut pirang itu dengan latah mempertanyakannya. Dari selang beberapa hari terlewati.
Mingyu kembali menatapi sosok laki-laki itu yang tampak mengantuk, tapi masih belum pergi. Apa mungkin ditugasi jadi pengawas lapangan? Mingyu tersenyum.
"Aku hanya menyukainya. Entah kenapa di mataku, hanya dia yang membuatku jatuh cinta. Perempuan manapun sepertinya sudah tidak menarik. Apalagi laki-laki. Aku tidak merasa suka laki-laki sejak awal, pengecualian untuknya." Penjelasan Mingyu, membuat Hoshi mengatup mulut dengan gelagat ketakutan. Ia benar-benar terkejut dengan semacam pengakuan sahabatnya itu.
"La-lu, apa yang kau suka darinya? Pasti ada alasan. Apalagi dia anak bermasalah, dan kau tidak suka terlibat dengan orang bermasalah, kan?"
Mingyu cekikikan sendiri. Bagaimana ya? Darimana ia harus mengungkapkannya?
Begitu banyak ingin ia tunjukkan pada Hoshi , apa saja kesempurnaan pemuda itu di dalam hatinya.
"Eum, kurasa.." Mingyu menerka-nerka. Ia sedang pilah pilih kata di 'kamus Korea' otaknya untuk maksud yang paling jelas dan mudah.
"Dia itu baik, pintar, murah senyum.." Mingyu menjeda, sungging-sungging senyum sudah bikin Hoshi mual. "Ia menggemaskan."
"OMG!" Hoshi berjengit takut. "kau lihat! Bulu kudukku langsung merinding." dan Hoshi tidak bohong setelah menunjukkan tangannya.
Gemetaran yang dirasakan sang sahabat tidak digubris Mingyu. Ia sangat puas mengungkapkan. Kenyataannya memang seperti itu. Namun tidak ada temannya yang akan tahu , tidak ada satupun. Ia berniat untuk menyimpannya. Jauh untuk di lubuk hatinya.
Sisi menggemaskan yang dimaksud , bisa saja membuat beberapa dari mereka minat untuk menculik Wonwoo. Tidak, jangan sampai.
Kalau Hoshi yang tahu,
ceritanya beda lagi...
.
.
.
.
.
.
Sore itu sudah tidak terasa panas. Musim panas sudah berlalu, dan sebentar lagi musim gugur. Tentu saja cuaca akan langsung cepat berubah-ubah, dan suhu sudah mulai turun untuk penantian panjang sebuah musim dingin. Daun-daun pohon saja sudah mulai rapuh dari ranting-ranting.
Wonwoo berjalan menyusuri pekarangan sekolahnya, dangan mata tertuju lurus ke depan. Tidak ada penantian apapun, selain pekerjaan menunggu.
Namun dalam hati, ia terbersit rasa rindu dengan langkah-langkah kaki yang sama dari seorang Mingyu di sampingnya. Kemana anak itu?
Wonwoo tidak berani mencari. Ia juga tidak berani mengajak. Ia masih malu untuk menjadi seorang yang pelancang. Lancang melewati garis kepribadiannya sebagai seorang Wonwoo yang 'dijauhi'.
Jadi sore itu, begitu bel berbunyi, ia tidak akan menunggu. Ia akan langsung pulang.
Walaupun langkah kakinya sengaja dilambat-lambatkan. Mungkin ia tidak sadar hatinya masih mengontrol keras otot kakinya untuk menunggu sesuatu beberapa waktu dahulu.
"WONWOO!"
Mata Wonwoo langsung membulat kaget ketika pendengarannya menangkap suara itu yang menyebut 1 nama terus menerus hingga semakin mendekat. Hati pemuda itu cukup berdegup, ia ingin lari.
Tapi kaki bodohnya tidak bisa memaafkan. Malah langsung berhenti.
"Fiuh~ Syukurlah kau menungguku." nafas Mingyu tersengal-sengal kelelahan. Wonwoo tidak tega, tapi rautnya tidak berubah.
"Siapa yang menunggumu, Bodoh!" Syukurlah kau datang juga..
"Oh begitu ya? Kau ingin kabur meninggalkanku begitu?"
"Ya , tentu saja!" Tidak sama sekali..
Mingyu berkerucut bibir. "Padahal aku rela loh menggagalkan ajakan kencan buta nya Hoshi."
"Hah? Kau kencan buta?"
"Ya. Kencan bareng gitu. Karena wajahku tampan, katanya laku kalau dikenalin cewek-cewek disana."
Wonwoo tidak paham kenapa ia harus kesal. Ada rasa yang berat, yang tidak bisa ia kuasai saat mendengarnya. Kemarahan yang alasannya begitu ambigu.
Rautan Wonwoo yang berubah semakin penat, membuat Mingyu menduga dirinya berhasil mengerjai pemuda itu sehingga terlihat cemburu.
"Kau cemburu, ya?" Alis Mingyu sudah naik-turun, senang menggoda.
"Hah?! Siapa juga! Aku tidak peduli. Sana saja kau pergi!" Brengsek, kau benar-benar menyebalkan..
"Oh ayolah, kan sudah kugagali. Dia memang suka kehabiskan stok teman cowok untuk acara kencannya, jadi suka maksa aku ikut, padahal berkali-kali kutolak." Mingyu dengan tenang melingkarkan tangannya ke pundak Wonwoo. "Yang kusuka itu kalau bisa jalan-jalan bersamamu."
Wonwoo memukul lingkaran tangan itu yang tidak santun sudah menggapai tubuhnya saja. Ia langsung menderap langkah besar-besar. "Aku bilang, aku tidak peduli!"
Mingyu pandangi punggung tirus itu dengan bersemangat. Ia memang selalu senang melihat setiap perbuatannya, dan tentu saja selalu terlihat menggemaskan.
Apalagi tampang kesalnya tadi.
Oh baguslah, Mingyu jadi semangat semakin mengejar pemuda itu untuk menjadi miliknya.
Hanya perlu beberapa 'langkah' lagi...
.
.
.
.
.
Tidak disangka bahwa keduanya yang ribut sepanjang perjalanan (Wonwoo selalu berlagak marah karena godaan-godaan yang Mingyu lakukan) diakhiri dengan kunjungan ke sebuah cafe untuk makan sore. Sekaligus menunaikan privat seperti biasanya.
Tunggu. Mingyu bahkan tidak ingat kemarin privat tentang apa. Matanya hanya terpana pada wajah Wonwoo, itu saja.
"Kali ini benar kau yang mentraktir?" Mingyu bertanya, tidak lupa dengan alis berlalu naik turun genit.
"Tidak usah berharap banyak. Hanya segelas matcha teh (author : Oh my fav3)." Wonwoo langsung memanggil si pelayan. Gadis berapron hitam itu sebelumnya rada ragu-ragu mendekat karena Wonwoo punya perawakan yang menakutkan. (tatapan Wonwoo memang selalu serius seperti habis ngamuk).
Tapi langsung terobati saat melihat pemuda lain yang bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Mingyu, yang pada saat itu sibuk lirik-lirik buku menu dan Wonwoo sendiri.
"Matcha teh dan Es Kopi masing-masing satu. Juga sepiring Japchae (bihunnya Korea)."
Si Pelayan kali ini menurut, dengan tatapan harus terpaksa lepas dari sosok Mingyu. Ia pergi menjauh, menuju dapur.
"Uang yang kau kumpulkan berarti kau tabung? Sudah berapa banyak? Cukup untuk membayar hutang panti?"
Wonwoo yang pada saat itu serius untuk mencari halaman buku, menjeda sebentar. "Mungkin tinggal setengah lagi, seingatku."
"Huft, Wonwoo~ Seharusnya kau berhutang saja dulu padaku. Soal bayar kan gampang kalau denganku."
Wonwoo mendelik. Mingyu langsung beku di tempat, dan tersenyum cengegesan. Sebersit isyarat 'Oke, aku tidak akan mengatakannya lagi..' pun terlihat dari gelengan kepalanya.
"Ini tanggung jawabku, karena aku yang dibesarkan di panti, bukan kau."
Mingyu mengulum senyumnya. Ia seperti menelan batu ke dalam kerongkongannya mendengar tanggapan tersebut. Wonwoo sangat sensitif kalau sudah diajak membicarakan hal itu.
Tak butuh waktu lama, seorang pelayan terlihat akan mengantarkan dua gelas minuman, yang terlihat seperti pesanan mereka.
Saat Wonwoo mencuri pandang,
di saat itulah ia melihat seseorang berjaket hitam dan kacamatanya yang gelap, menatap ke arahnya. Ia duduk berseberangan yang tidak jauh, lebih tepatnya tidak jauh dari pintu masuk. Yang membuat pertemuan pandang semenit itu, berubah menjadi pelarian lelaki itu keluar dari cafe.
Wonwoo tersentak, ia langsung bangun dari dudukannya dan mencoba mengejar, keluar pintu. Mingyu yang melihatnya tergesa-gesa, tidak luput langsung menyusul. Hampir saja langkahnya membuat tabrakan dengan si pelayan yang mengantar pesanan mereka. "Maaf~" Mingyu hanya sanggup mengatakannya semenit, dan langsung berlalu. Ia tidak mau kehilangan Wonwoo.
Saat Mingyu keluar pintu, ia mendapati Wonwoo berdiri tepat di depan cafe dengan pandangan mengacu kemana-mana seperti mencari.
Apa yang dicari?
"Kau kenapa?"
"Aku melihatnya!"
Wonwoo panik, wajahnya tergerus suram karena rasa was-was.
"Tenang-tenang," Mingyu menguatkan pegangannya pada kedua bahu laki-laki di hadapannya itu. "Dia itu siapa? Katakan padaku."
Wonwoo menarik napasnya. Perintah itu membantunya untuk bersikap lebih tenang.
"Kita masuk dulu, ok." Mingyu menuntun, mengantarkan kembali Wonwoo untuk kembali pada tempat duduknya yang nyaman. Untung saja, tidak ada yang berani mencuri barang berharga mereka yang tertinggal begitu saja sedari tadi.
"Minumlah dulu."
Wonwoo mengambil minumannya, yang air-air beku nya sudah banyak menetes. Seruputan demi seruputan menjadi kelegaan sempurna.
"Beberapa minggu aku merasa diikuti seseorang."
Mingyu meneleng kepala. Ia semakin penasaran. "Kau tahu siapa yang mengikutimu?"
"Wajahnya.." Wonwoo menaut tangan, matanya serius sekali memandangi barang-barang di depannya, namun pikirannya melalang kemana-mana. Ia sibuk menggambarkan apa yang ia tatap waktu itu. Ia hubung-hubungkan dengan berbagai perkiraannya.
"Mirip seseorang di masa lalu."
Mingyu antusias.
Ia mengenggam tangan Wonwoo saat itu. Ia 'menawarkan' perlindungan yang begitu berharga. Wonwoo bisa merasakan itu dari caranya Mingyu memandanginya dan hangat sentuhannya.
Membuat Wonwoo tidak tega untuk berbicara sesuatu, yang ia kunci rapat dalam mulutnya.
Mungkin, Mingyu bisa dipercaya...
.
.
.
.
.
.
"Nah, Jagoan Ayah sudah siap?"
Anak laki-laki menggemaskan itu tersenyum lebar. Gigi putihnya merapat, seakan mau menunjukkan ayahnya, bahwa kesiapannya sudah 100% hingga giginya saja tidak lagi terselip si cabai merah.
"Oke, kita siap berangkat!" tangan anak itu bertaut dengan genggaman besar pria gagah itu. Mereka berlalu keluar apartemen sederhana, dan menikmati mentari sore yang akan tenggelam sebentar lagi.
Sebuah mobil hitam metalik sudah terparkir di depan pekarangan apartemen murah itu. Tidak cukup sebanding. Namun bukanlah sesuatu yang memberatkan. Malah si Anak melompat kegirangan, akan diantar sebuah mobil mewah. Anak kecil itu belum pernah merasakan sejuk mobil ber-AC.
"Sudah siap?" wajah ramah muncul setelah kaca jendela turun.
"Bos?" Pria itu langsung membungkuk, memberikan kehormatan.
"Ini puteramu?"
"Ya. Dia putera saya satu-satunya." ucapnya percaya diri sambil mengeratkan genggaman si anak kecil. Anak menggemaskan itu tertawa, entah apa yang lucu.
"Mirip sekali denganmu. Siapa namanya?"
Pria gagah itu, berjongkok, menyejajarkan posisi berdirinya dengan si Anak. "Siapa namamu, Nak? Om baik ini ingin tahu."
Si mahluk mungil itu memberikan dadahan untuk pria berkenaan baju rapih di dalam mobil mewah tersebut, ia lalu berseru dengan suara melengking cerianya. "Aku Jeon Wonwoo, Om!"
"Wah, Wonwoo yang sangat imut! Kemarilah masuk. Kita akan mulai jalan-jalan."
Pria sopan itu menginstruksi sang Ayah untuk masuk ke tempat duduk belakang, sambil membantu anaknya yang begitu polos tidak tahu bagaimana cara membuka pintu mobil. Tangannya hanya menggaruk-garuk besi mobil. Mengira, ada tombol otomatis bersembunyi seperti robot yang sering dimainkannya.
Rupanya tak ada. Hanya sebuah kenop yang sulit tergapai.
Ayahnya langsung menarik kenop seperti yang diharapkan si Anak. Pintu terbuka, dan ia menyambut riang.
"Masuklah" suruh sang Ayah yang tidak ditolak sama sekali. Si Mungil Wonwoo itu kegirangan , sambil melompat ke dalam mobil.
.
.
.
.
.
Perjalanan yang cukup memakan waktu. Gedung-gedung banyak dilewati, pohon demi pohon sama berjumpa setiap waktu di sekitar trotoar. Mata Wonwoo mungil akan berbinar-binar melihatnya.
Mereka tiba di sebuah taman , banyak permainan dibangun disana.
Sebuah jungkat-jungkit, perosotan dengan mulut memberang lebar sebuah Dinosaurus (terbuat dari semen, berdiri utuh sekira menjulur lidah).
Wonwoo melompat senang dan menyerbu arena 'peperangan'. Bergabung dengan anak-anak lainnya, sampai malam tiba.
"Kau sangat beruntung memiliki anak seperti Wonwoo." ucap pria berjas itu. Larut dengan tontonan si Anak yang berlari dengan kaki-kaki kecilnya kesana kemari.
"Hanya dia yang saya punya setelah Istri tiada. Dia adalah harta paling berharga di dunia ini." sang Ayah membalas, matanya teduh dan cemerlang memuji-muji sang mahluk kecil yang kini suka meluncurkan tubuhnya di perosotan.
"Walaupun aku belum memiliki istri dan anak, melihatnya saja seperti aku memiliki putera sematawayang sendiri." Pria paruh baya itu tersenyum. "Aku terlalu sibuk, hingga kebahagiaanmu harus kau bagi padaku."
"Haha, Bos. Tenang saja. Putera saya, bisa Anda anggap Putera Bos sendiri. Wonwoo akan sangat senang."
"Ya. Aku menghargainya."
Sang Ayah memberikan dadahan untuk puteranya yang tiba-tiba memanggil di kejauhan.
"Terima kasih, Bos. Ini adalah hadiah ulang tahun paling berharga untuk Wonwoo. Ia selalu berharap bisa kemari, tapi kami selalu tak punya waktu. Saya tidak tahu harus membalasnya bagaimana."
"Haha.. jangan sungkan. Kau mengijinkanku menganggap Wonwoo anak sendiri saja, saya sudah senang. Anggap saja balasan impas."
Kedua pria itu tertawa ramah membalas sepoian angin yang semakin dingin.
Kegelapan malam mulai datang..
.
.
.
.
.
.
"Aku senang! Aku senang!"
Wonwoo melompat ke dalam pelukan sang Ayah.
"Waktu cepat sekali berlalu. Tapi, Wonwoo mengaku sangat menyukainya, Bos." sang Ayah menepuk-nepuk pantat anaknya. Rupanya puteranya itu suka bertengger di pundak beliau.
"Haha.. anak ini lucu sekali. Saya bersyukur." Tangan pria itu mengasak puncak kepala Wonwoo yang sudah bertengger kepalanya di pundak Ayah.
"Kau harus sehat Wonhee , kau justru adalah harta paling berharga untuk Wonwoo."
"Pasti, Bos. Pasti."
Mata Wonwoo yang sedikit mengantuk tiba-tiba terjaga cepat ketika melihat bulat bulan yang jelas sekali terlihat di arah pertepian sungai.
"AYAH! BULAN!"
Kedua pria itu pandangi, dan bulan memang terlihat jelas di telusuran jalan pertepian sungai yang sepi penduduk itu. Aliran yang tenang, membuat bayangan bulan yang terpantul semakin indah. Mereka pandangi lama, sambil mensyukuri nikmat.
"Aku berharap aku bisa kemari lagi sama Ayah, dan Om!" Wonwoo memperbesar cengirannya yang lucu. Kedua pria yang melihat kearahnya dengan pandangan kaget, kemudian mulai tertawa.
Sangat polos sekali...
.
.
.
.
.
SETTT
.
.
.
Tawa menjadi bayangan kelam.
Untaian harapan besar menguap seperti asap.. yang kemudian menghilang.
Tawa pria terhormat dan lelaki yang merasa sangat beruntung di dunia ,
luruh disapu waktu yang begitu tenang...
.
.
.
.
.
.
"AYAH!"
Wonwoo memeluk ayahnya.
Ayahnya yang telah membeku di tempatnya, dengan muram pucat di seluruh wajahnya.
Tangan terangkat, tangan yang ia gunakan mengendong sang Anak tadi.
Ia seakan berdoa, padahal ia sedang berpandang dengan sekujuran darah merah pekat yang masih basah kental di telapaknya.
"AYAH! OM, AYAHH!"
Wonwoo menangis histeris, air matanya meluap seperti air terjun.
Matanya bergetar panik lihat ayahnya penuh darah di tangannya.
Ia takut,
takut dengan si merah pekat yang ia sering temui di warna si Cabai.
"AYAHHH *hiks*" Wonwoo menangis, melihat sekelilingnya, memohon ada yang membantu. Sekaligus mencari-cari orang jahat yang tega melakukan sesuatu hal yang tidak bisa diampuni di tengah-tengah kebahagiaan yang mereka cari beberapa waktu lalu.
Orang itu sudah menghilang.. seperti hantu, tidak ada sosoknya sama sekali.
"ANGKAT TANGAN!"
sang Ayah mendadak angkat tangan. Ya, tangan yang penuh bercakan merah dari manusia yang sudah tak bernyawa.
Wonwoo bingung kenapa orang-orang berseragam itu, mengacungkan senjata pada mereka, dan ayahnya kenapa mengangkat tangan.
Ada apa?! Wonwoo sampai menjerit panik dalam benaknya.
Wonwoo tiba-tiba diangkat seseorang. Badan mungilnya dibawa jauh, menjauhi sang Ayah yang tak berdaya diborgoli oleh para Polisi.
"AYAH!"
Tangan Wonwoo mengais-ngais udara, berusaha meraih kembali ayahnya yang menjauh. Ia berontak ingin lepas. Tapi tak dilepaskan.
"Ayah bukan orang jahat!" ia menangis tersedu-sedu, hingga memejam mata untuk mencurahkan air mata asinnya.
Setelah terbuka matanya,
ia tidak pernah melihat ayahnya lagi...
.
.
.
.
.
.
.
"Setelah itu aku dirawat Bibi yang telah tahu kondisiku. Aku sulit bersosialisasi karena aku berusaha menjauh dari orang-orang yang memandangku sebagai anak pelaku penjahat. Tidak ada yang percaya denganku, sejak umurku 5 tahun. Tidak ada gunanya aku bicara dengan mereka juga. Makanya orang-orang membenciku."
Air mata Wonwoo terbendung.
Es kopinya tidak disentuh sejak seruput pertama.
Ia menenggelamkan diri dengan masa lalunya, sudah membuatnya patah semangat. Mingyu segera mencari sapu tangan, dan mengelap butiran-butiran berharga itu hingga tak terlepas dari pelupuk matanya. Ia tulus membantu, karena orang paling berharga di hadapannya, hatinya sedang terbuka sedikit oleh luka lamanya.
"Kau sama sekali tidak tahu kabar ayahmu?"
"Ia meninggal karena sakit di penjara. Aku baru tahu kabarnya setelah ia tiada. Jahat sekali, bukan?"
Mingyu terdiam. Ia tidak tahu bagaimana merespon, karena Wonwoo bahkan hanya bisa tertawa remeh melucui masa lalunya yang terasa miris, sekaligus menahan air mata. Perasaannya sangat campur aduk.
"Demi bibiku, dan keluargaku di Panti, aku berusaha bangkit kembali. Aku tidak peduli berapa banyak orang membenciku. Yang penting, aku masih punya mereka. Ya, itulah kenapa aku berusaha menyelamatkan panti itu."
Wonwoo menghela nafas. Mengosongkan lembaran-lembaran kusut yang sudah dimakan waktu dalam pikirannya. Ia ingin bercerita hal baru.
"Laki-laki yang tadi menguntitku, terasa mirip dengan pelaku penusukan 13 tahun lalu. Itulah kenapa aku mengejarnya."
"Apa?! Astaga seharusnya tadi aku lari saja mengejarnya!"
Wonwoo menggeleng. "Percuma. Ia sudah menghilang sebelum kau menemuiku ke luar. Sekarang aku berharap saja aku masih punya kesempatan bertemu dengannya lagi."
"Apa perlu kita lapor polisi?"
Wonwoo menggeleng untuk yang kedua kalinya.
"Belum. Jangan. Sampai aku bisa tahu lebih jelas dirinya adalah pelaku waktu itu. Polisi hanya akan menggagalkan rencanaku."
"Rencana?"
"Aku akan membiarkanku diikutinya lagi. Pasti aku bisa memancingnya untuk ditangkap."
"Tapi, Wonwoo! Itu berbahaya!"
Wonwoo tersenyum. "Tidak apa. Jangan khawatir. Kau percaya saja padaku."
Mingyu mengigit bibir tidak tenang. Dalam lubuk hatinya, sungguh sulit mempercayakan ucapan itu, apalagi Wonwoo melakukannya seorang diri.
Mingyu mendekap tangan Wonwoo dan menempelkannya ke dahinya. Ia bersenandung doa. Wonwoo cukup kaget dengan gelagak Mingyu terhadapnya.
"Aku bersumpah akan melindungi Wonwoo dengan nyawaku. Tuhan tolong selamatkan Wonwoo dari segala kejahatan." senandung doanya terdengar jelas. Semburat merah sampai bersemi di pipi Wonwoo.
"Kau ini apa-apaan sih?!" ucapnya kasar, mencoba melepas dekapan tangan Mingyu, namun tidak semudah itu terlepas. Wonwoo jadi salah tingkah.
"Oh ya, aku punya sesuatu!" Mingyu segera merogoh sesuatu di kantung celananya.
"Ini batu jimat dari mendiang nenekku. Aku selalu merasa beruntung dengan keberadaan batu ini." ia taruh batu hitam mengkilap itu di dalam genggaman Wonwoo.
"A-aku tak percaya Takhayul!"
"Berjanjilah kau akan menjaganya." Mingyu agak memaksa (atau kebawa cemas), hingga ia tak mendengar keluhan apapun dari Wonwoo. Batu itu harus benar-benar disimpannya.
"Eunghh.." jengit Wonwoo. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menyanggupi saja. "Te-terserah kau saja~"
Apalagi batu di tangannya itu, memang tidak terlihat seperti batu biasa.
dan entah kenapa, rasanya lebih aman jika memiliki dua barang spesial yang diberi Mingyu untuknya.
Gelang dan batu ajaib itu.
.
.
.
.
.
.
Apartemen tua itu dipandangnya lama oleh Mingyu, seakan ia tidak pernah datang kemari. Padahal ia sudah pernah mengunjungi.
Hanya saja, setelah mendengar cerita Wonwoo, ia jadi tidak menyangka apartemen ini menyimpan sisi terkelamnya. Hawanya jadi terasa berbeda.
"Terima kasih sudah mengantarku." sambutan Wonwoo menyegarkan pikiran Mingyu yang kelu. Ia tersenyum pias. Ia berharap rasa sedihnya itu tidak terlalu terbaca oleh Wonwoo.
"Aku tidak percaya aku merasa lega menceritakannya padamu. Aku berusaha menjaga rahasia ini selain Bibiku yang tahu."
Mingyu mengerjab mata. "Kau percaya padaku sekarang?"
"Well..." Wonwoo buang pandang. Ia malu mengakui, tapi ia tidak bisa melarikan diri dari kenyataan bahwa Mingyu adalah teman terpercaya untuknya. "Mungkin. Karena kau sudah berjanji akan melindungiku.."
"SUNGGUH!" Mingyu kembali mendekap dua tangan Wonwoo, kali ini lebih kuat. Ia peluk genggaman itu ke dadanya. "aku bersumpah aku akan selalu melindungimu, jika aku sampai berbohong, kau buang saja gelang dan batu keberuntungan itu sejauh mungkin biar aku ketimpa sial!"
"A-apa?! HA HA" Wonwoo tergelak tawa. Ia tak menyangka ucapan kekanakan itu muncul dari mulut Mingyu yang sedari tadi sok bijak padanya. Ternyata masih saja seorang Mingyu biasa.
Mingyu terkesan. Ia selalu ingat bahwa hal terindah dalam hidupnya adalah, buaian tawa dan senyum Mingyu kepadanya. Ia tak sanggup menahan dengan kesan yang terpancar.
Hingga Mingyu tak sadar, ia melepas rem terkuatnya untuk mengucapkan, "A-aku mencintaimu..."
DEG
Wonwoo berhenti tertawa.
Waktu seakan berhenti, meninggalkan keduanya bertatapan lebih lama. Saling mempertanyakan banyak hal dari siratan pandangannya.
Apa yang kau lakukan?
Apa yang aku lakukan?!
"A-aku...A.." Mingyu gagap. 'Kamus Korea' dalam otaknya langsung terbakar, tidak menyisakan kata-kata yang bagus untuk melontarkan alasan.
Wonwoo seketika tersenyum simpul memandangi kesalahtingkahan Mingyu.
Dan bibirnya pun dengan ikhlas mendarat di kening lelaki itu. Yang secara ampuh, membuat Mingyu langsung tenang seakan tak bernyawa.
"A-aku pegang janjimu! Kalau kau bohong, aku pasti akan membuang barang-barangmu ini ke laut terdalam!" Wonwoo langsung melarikan diri ke dalam Apartemennya. Meninggalkan keterdiaman lelaki itu hingga berlalu sendiri. Ia malu. Ia mau bersembunyi saja.
Mingyu kedip-kedip mata, untuk kembali pada kesadaran awalnya. Dan berharap juga ciuman tadi bukanlah mimpi belaka. Apartemen yang sama masih berada di depan matanya.
Berarti benar-benar nyata...
"A-
AKU INGIN MENIKAHI WONWOO, YA TUHANNN!"
PRANGGG
"HEI, BERISIK SEKALI!" teriakan menggelegar seketika menakutkan Mingyu, entah darimana asalnya. Dan membuat lelaki itu mau tak mau harus segera pergi sebelum tidak hanya dikejutkan dengan suara piring saja. Tapi lemparan ke kepalanya juga.
Sementara itu Wonwoo yang tidak jauh berada, hanya tertawa geli. Ia rupanya belum masuk ke ruang kamarnya di lantai kedua. Ia masih senang menikmati keterlenaan Mingyu dari balik dinding pagar, yang membatasi dunia luar dan dalam apartemen tua itu.
Lucu sekali.
"Wonwoo?"
Seorang nenek tiba-tiba mendatanginya. "Kenapa di luar?
"A-aku hanya sedang menikmati udara segar dulu." Mingyu pasti sudah pulang, ya?
"Nek? A-ada apa ya?" sapa pemuda itu ramah seperti biasa pada wanita renta, sekaligus pemilik Apartemennya. Beliau kelihat ragu-ragu mengulurkan sebuah telepon genggam padanya.
"Ada telepon dari panti asuhan."
Air muka Wonwoo berubah serius, sesaat ia menerimanya.
Tumben sekali pihak panti menghubunginya langsung lewat telepon.
Jika ada sesuatu, Wonwoo akan tahu sendiri jika ia sedang berkunjung.
Wonwoo pun segera mengangkat telepon itu,
dan mendapat kabar mencengangkan...
.
.
.
.
.
.
.
"Ya tuhan!"
Wonwoo melesap masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa. Menghindari sekumpulan anak-anak panti yang mengelilingi sebuah sofa.
Seorang wanita berkujur di atasnya, dengan luka lebam di sudut bibirnya. Ia memekik memanggil nama Bibi Ahyeol, sambil mata lekas menelusuri keadaan beliau dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ia terlihat sangat menyedihkan, di umurnya yang sudah menua.
"Apa yang terjadi?!"
bentakan membuat 5-6 anak panti yang sama khawatirnya, malah bergetar ketakutan. Mereka tak terbiasa disentak marah oleh pemuda di hadapannya.
"Penagih hutang itu datang lagi untuk mengusir kami." anak laki-laki yang selalu setia bertanggung jawab di sekitar panti, juga yang tertua itu, memberikan jawaban dengan suasana yang agak tenang. "Bibi Ahyeol memohon untuk pemberian waktu, namun beliau malah ditendangnya."
"Brengsek!" Wonwoo bangkit. Matanya menguar-nguar api murka. Siap bertempur. "Dimana alamat rumah mereka!? Aku akan memberi pelajaran!"
"Ja-jangan Wonwoo~" Bibi Ahyeol, akhirnya sadar. Ia mengenggam kuat lengan Wonwoo agar tidak sempat pergi. "Itu sangat berbahaya."
"Aku tidak mungkin membiarkan kalian diperlakukan semena-mena!" Wonwoo lantang, namun tidak bisa meruntuhkan harapan Bibi Ahyeol agar putera angkatnya itu tak terlibat. Ia tak akan melepas genggaman itu jika Wonwoo kebawa emosi terus. Karena, ia tahu emosi Wonwoo yang meledak hanya akan memperpanjang masalah.
Wonwoo sadar sedang dituntut oleh Bibinya. Ia pun menghela nafas, serta menenangkan tabiatnya. Ia berjongkok kembali. Kali ini dengan tatapan teduh, menyalurkan perlindungan yang ramah untuk Bibinya.
"Aku akan melunasi hutang-hutang panti ini."
"Apa?! Bagaimana?"
Wonwoo tersenyum. "Aku menabung. Cukup untuk panti. Aku ingin bertemu mereka, dan membayar setengahnya dulu. Besok, Bibi tidak akan perlu khawatir lagi soal masalah hutang."
"Astaga, Nak." Bibi Ahyeol yang sedikit kerepotan bangun, sembari mendekap wajah Wonwoo dengan pandangan sulit percaya. "Kau tidak melakukan sejauh itu. Ini tanggung jawab, Bibi."
"Anggap saja sebagai bayaranku telah dirawat selama 13 tahun oleh Bibi." Wonwoo menepuk sambil mencium telapak tangan Bibinya. Curahan kasih sayang serupa kasih pada seorang Ibu. "Aku janji aku tidak akan membuat masalah dengan mereka. Ijinkan aku bertemu dengan mereka dan bernegosiasi."
Bibi Ahyeol hanya bisa merenung. Ia merasa kasian sekaligus tak sanggup melepas. Dapatkah ia mempercayai ucapan anak itu?
Tapi Wonwoo sangat sulit berbohong padanya... Dua manik cemerlang di hadapannya, bahkan terisi berbagai kejujuran.
"Baiklah."
Wonwoo seketika mencium kening Bibinya, dan kembali membetulkan letak tidur wanita paruh baya itu.
.
.
.
.
.
Dengan alamat yang ia dapatkan, ia lekas pergi.
Dengan buku-buku jari timbul saking lamanya ia mengepal tangan selama perjalanannya.
Bukti kebenciannya kembali muncul...
.
.
.
.
.
TBC
Review,Fav,Follow kalian , memberikan semangat buat saya untuk melanjutkan! ;)
