[DISCLAIMER]

The story belongs to it's ready author. I just remake it into ChanBaek version.

.

LOVE STORY OF BAEKHYUN

백휸의 사랑 이야기

Baekhyun X Chanyeol (GS)

.

Remake story by Shin Je Wo

.

WARNING ! Ff ini mengandung kata-kata yang tidak cocok untuk chinggudeul yang berusia dibawah 17 tahun

.

.

마지막 회

.

.

Baekhyun mengetuk pintu rumah. Selang beberapa saat Haeyoung membuka pintu dan terkejut dengan kedatangan Baekhyun yang tiba-tiba.

"Ommo!! Kau datang? Kenapa tidak mengubungiku dulu? Masuklah." Ucap Haeyoung mempersilahkan. Baekhyun masuk dan duduk di salah satu kursi di ruangan tersebut. Ia memandang mengelilingi ruangan.

"Baekhi, apa sedang disekolah?" Tanya Baekhyun.

Haeyoung menarik kursi dan duduk di hadapan Baekhyun. "Iya, dia berangkat pagi-pagi sekali. Ngomong-ngomong, kenapa kau datang tiba-tiba sayang? Apa kau sedang ada masalah?"

Baekhyun menghela napas dan menundukkan wajahnya. Sebenarnya Dia tidak diperbolehkan keluar oleh Chanyeol. Baekhyun sempat memohon pada Sungwoon yang sempat menghalangi saat hendak keluar. Baekhyun mengaku tiba-tiba saja sangat merindukan keluarganya dan ingin sedikit menjernihkan pikirannya. Baekhyun juga sudah berjanji pada Sungwoon bahwa ia tidak akan kabur dan akan segera kembali. Mendengar janji Baekhyun yang bersungguh-sungguh, Sungwoon akhirnya mengijinkan Baekhyun pergi meskipun tanpa sepengetahuan Chanyeol.

"Tidak. Aku datang untuk menemuimu sekaligus membicarakan tentang paman Jongdae" Ucap Baekhyun tersenyum, berusaha menyembunyikan perasaannya.

"Keparat itu!! Aku sangat bersyukur akhirnya dia dipenjara!" Ucap Haeyoung menahan emosi.

"Jangan berkata seperti itu bibi. Walau bagaimanapun juga paman Jongdae adalah suami bibi."

"Tidak Baekhyun, meskipun dia suamiku, dia sudah sangat keterlaluan pada kau dan juga adikmu. Dia pantas dipenjara!"

Baekhyun meraih tangan bibinya dan menggengamnya erat, kemudian tersenyum. "Aku mohon agar bibi jangan membencinya karena kami. Kami menyayangi bibi, dan kami tidak ingin bibi membencinya hanya karena kami. Sering-seringlah mengunjunginya di penjara. Seburuk apapun kelakuannya, bukan berarti dia tidak akan berubah. Dan aku yakin, dengan sikap pengertian dan kasih sayang yang bisa bibi berikan, perlahan-lahan sikap Paman pasti akan berubah."

"Baekhyun..." Haeyoung menitikan air mata dan menangis dalam pelukan Baekhyun. Dia tidak menyangka Baekhyun masih akan memikirkannya setelah semua hal buruk yanh dilakukan suaminya pada mereka. Baekhyun juga ikut menangis bersama bibinya.

Menangis karena memikirkan Ucapan Chanyeol tadi pagi. Ucapan yang menampar hatinya dan membuatnya sadar akan realita hidupnya.

.

.

.

"Dia keluar dari rumah?"

"Tidak tuan. Setelah anda keluar dari rumah, nona Byun tidak pergi kemanapun."

"Tetap berjaga di sana, Sungwoon." Perintah Chanyeol sebelum memutuskan panggilan dan melakukan panggilan lainnya. "Kyungsoo, Baekhyun ada dimana?"

"Di kamarnya, Tuan. Sejak anda pergi Byun Agasshi tidak pernah beranjak dari sana. "

"Lalu sarapannya?"

"Saya sudah menawarkan Agasshi untuk sarapan tapi Agasshi menolaknya. Sekarang saya sedang mencoba membujuknya untuk makan siang. "

Chanyeol menghembuskan napas kasar. "Pastikan dia makan. Aku menunggu jawabanmu lima menit lagi."

Sambungan terputus dan Chanyeol ingin sekali membanting ponselnya kalau saja sekarang dia tidak sedang berada di Apartemen Irene. Sikapnya pagi tadi memang keterlaluan, dia sedang lelah setelah menjaga Irene semalaman dan Baekhyun membuatnya jengkel dengan rentetan ocehannya. Lalu sekarang tidak sedetikpun Chanyeol merasakan ketenangan. Dia selalu mengira-ngira apa yang dilakuka Baekhyun. Apakah dia marah? Atau mungkin memutuskan pergi darinya?

"Chanyeol, kau sedang apa?"

Sebuah usapan di bahunya membuat Chanyeol tersentak dan memutar tubuhnya. Irene menatapnya penasaran. Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Aku sudah memesan makan siang untuk kita. Kau bilang malas keluar apartemen, jadi aku pesan dari restauran kesukaanmu."

"Terimakasih, Chanyeol." Irene tersenyum lembut, kemudian memeluk Chanyeol dan dibalas dengan pelukan yang sama olehnya. "Entah bagaimana nasibku sekarang kalau tidak ada kau."

"Bodoh, di belahan bumi ini masih banyak pria yang bisa kau dapatkan. Kenapa harus sefrustasi ini."

"Kalau saja dia tidak meniduri jalang itu tepat di kedua mataku, aku tidak akan seperti ini"

Chanyeol mengusap punggung Irene lembut ketika mendengar suara serak gadis itu. "Lupakan dia dan lanjutkan hidupmu. Kau terlalu berharga untuk pria berengsek sepertinya."

Irene menutup kedua matanya ketika merasa bahagia mendengar kalimat yang baru saja Chanyeol ungkapkan. Sejak tadi malam Chanyeol selalu bersamanya, menemaninya menangis dan juga menemaninya tidur. Ya, hanya tidur tanpa seks seperti yang sering mereka lakukan dulu ketika mereka masih menjalin cinta.

Cinta. Dulu Irene sangat mencintai Chanyeol. Menikmati semua perhatian yang Chanyeol berikan padanya. Meski Chanyeol tidak pernah mengaku mencintainya, tetapi Irene sudah merasa puas dengan semua kasih sayang yang Chanyeol berikan untuknya. Ya, semua itu sangat indah sebelum Irene mulai merasa muak dengan sifat Chanyeol yang suka bermain-main dengan banyak wanita.

"Kau tahu, terkadang aku menyesal."

Chanyeol menunduk kecil dan menatap Irene bingung. "Kenapa?"

"Karena tidak bisa bertahan disisimu di masa lalu."

Dan ketika Irene merasakan pelukan Chanyeol melonggar, ada senyum di wajahnya. Irene semakin mempererat pelukan mereka.

"Kenapa Chanyeol? kau tidak suka." tanya Irene.

"Aku tidak menganggapmu lebih dari sebagai sahabat, dan selamanya akan seperti itu" kali ini Chanyeol benar-benar melepaskan pelukannya.

"Kenapa? Apa jangan-jangan ada orang yang sedang kau cintai? Oh ya, Baekhyun... apa dia orangnya?" Irene menatap Chanyeol penuh selidik, lagi-lagi ada senyum di bibirnya.

Chanyeol hanya memalingkan wajahnya. Pertanyaan mengenai orang yang dicintainya merupakan hal pribadi yang tidak ingin Ia jawab.

"Tatap aku dan katakan Chanyeol, Apa kau mencintai Baekhyun?"

.

.

.

"Hei." Bisik Chanyeol setelah membuat Baekhyun bangun dari tidurnya karena Chanyeol memeluknya... atau bisa dibilang 'pura-pura' tidur. Baekhyun buru-buru pulang dari rumahnya saat menerima telepon dari Sungwoon. Kalau saja tadi Sungwoon tidak menelepon dan memberitahu Baekhyun bahwa Chanyeol akan segera pulang, pasti Chanyeol akan tiba di rumah tanpa ada Baekhyun di sana.

Tadinya Chanyeol pikir Baekhyun akan mendiaminya setelah kejadian pagi tadi, tapi ternyata wanita itu tersenyum manis padanya, lalu mengalungkan kedua lengannya diatas leher Chanyeol.

"Baru pulang?" tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk. Dan dalam sekejap Baekhyun sudah membungkam bibir pria itu dengan ciumannya yang terasa berbeda malam ini. Baekhyun menciumnya kasar tidak selembut biasanya.

Dia juga perlahan mendorong tubuh Chanyeol hingga bisa berada diatasnya. Baekhyun tidak memedulikan tatapan bingung Chanyeol, dia malah tersenyum nakal dan membuka baju Chanyeol dengan cara yang sangat menggoda, kemudian menciumi leher dan terus berlanjut hingga perut dengan enam kotak yang Chanyeol miliki.

Chanyeol melenguh nikmat saat tangan Baekhyun meremas miliknya dari luar celana jeansnya. Kemudian saat tangan mungil Baekhyun mulai membuka kancing celana jeans itu dan menarik tutun resletingnya, Chanyeol mencekal pergelangan tangannya.

Baekhyun mengangkat wajahnya, menatap wajah Chanyeol yang memerah dan terengah.

"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Chanyeol.

"Memuaskanmu." Jawab Baekhyun lugas.

Chanyeol mengernyit. Baekhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya, bersikap terang-terangan menggodanya. Jemari Chanyeol menarik tubuh Baekhyun, kemudian membungkus tubuh itu dengan lengannya. "Aku tidak memintamu memuaskanku malam ini." bisik Chanyeol, jemarinya membelai wajah Baekhyun yang terlihat berbeda dimatanya.

"Oh..." Baekhyun mendesah santai. "Kupikir kau membangunkanku karena aku harus bekerja malam ini."

"Bekerja?"

"Hm. Bukankah pekerjaanku memuaskanmu diatas ranjang ini?"

Chanyeol terdiam kaku. Seolah-olah apa yang baru saja Baekhyun katakan telah menamparnya.

"Tapi kalau kau sedang tidak membutuhkanku malam ini... baiklah." Baekhyun menarik dirinya. Beranjak turun dari ranjang dan bersiap meninggalkan kamar itu. Dia sudah hampir berhasil membuka pintu kamar ketika Chanyeol kembali bersuara.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Tadi pagi... maaf."

Baekhyun tersenyum tipis, memutar tubuhnya hingga kini mereka bisa saling bertatap mata. Chanyeol menatapnya menyesal tetapi Baekhyun tidak terpengaruh. Dia bahkan masih menyunggingkan senyuman manisnya yang nakal layakya seorang jalang.

"Tidak apa-apa. Setidaknya tadi pagi kau sudah memperjelas kedudukanku dirumahmu. Dan seterusnya tetaplah begitu. Agar aku selalu sadar diri siapa aku bagimu." Baekhyun terkekeh geli dengan cara yang dibuat-buat. "Aku hampir saja terlena dan merasa seolah-olah menjadi seorang ratu di kerajaanmu. Padahal sampai kapanpun... aku hanyalah seorang jalang dimatamu."

Chanyeol tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun ketika Baekhyun meninggalkannya disana sendirian.

Apakah sudah terlambat? batinnya Chanyeol.

.

.

.

[Flashback]

Irene POV-

Aku menetap lurus pada Chanyeol dan dia hanya terdiam disana. Aku benar-benar kesal padanya! Apakah sesulit itu untuk mengakui perasaannya?

Sudah sejak kecil kami bersama, aku mengetahui segala hal tentangnya, aku juga pernah menyukainya. Selama ini selain denganku, Chanyeol selalu melakukan hubungan satu malam dengan wanita-wanita yang ditemuinya di bar. Meskipun sudah tidak memendam rasa padanya, aku merasa sedih dan kesal karena tidak ingin Chanyeol merusak hidupnya seperti itu.

Tapi semuanya berubah sejak Chanyeol bertemu dengan Baekhyun. Aku merasa, perasaan Chanyeol pada wanita malam yang ditemuinya kali ini berbeda. Ada cinta dimata Chanyeol saat menatap Baekhyun. Dan yang membuatku sangat geram adalah, Chanyeol seperti tidak menyadari itu.

Aku akhirnya memutuskan untuk mencoba membuka matanya. Membuatnya menyadari perasaannya pada Baekhyun. Aku berbohong padanya soal hubunganku yang buruk dengan pacarku, memintanya menemaniku dan menggodanya.

"Dari eksperimu aku sudah tahu jawabannya. Jujurlah pada dirimu sendiri Chan! Kau mencintai Baekhyun!" Ucapku berusaha menyadarkannya.

Lama sekali Chanyeol terdiam, hingga akhirnya berbicara, "Ya... Kau benar. Aku mencintai Baekhyun. Dia adalah wanita pertama yang membuatku segila ini! Dia sangat egois karena tak sedetikpun mau keluar dari pikiranku. Membuatku selalu menahan rindu untuk bertemu dan menyentuhnya!"

Aku melangkah dan memeluknya pelan. "Syukurlah kau mau jujur pada dirimu sendiri.. Chanyeol" ucapku, melepaskan pelukanku.

-Irene POV End-

.

"Jangan khawatirkan aku. Kau pulanglah dan temui Baekhyun, akui perasaanmu padanya. Buatlah dia tahu betapa kau sangat mencintainya" ucap Irene.

Tiba-tiba saja Chanyeol memikirkan ucapan kasarnya pada Baekhyun pagi tadi. Pasti ucapanya itu telah menyinggung Baekhyun. Perasaan menyesal menghampiri dirinya. Aku harus meminta maaf padanya! batinnya Chanyeol.

Chanyeol mengambil Jasnya berlari keluar dari apartemen Irene. Sebelum semuanya terlambat dan jadi semakin rumit, dia harus segera menemui Baekhyun!

Tetapi sebelum itu, ada suatu tempat yang harus aku datangi!

[Flashback End]

.

.

.

.

"Aku bisa memasak makanan lain kalau Nona mau." Gumam Kyungsoo saat melihat Baekhyun hanya mengaduk-aduk makan malamnya tanpa minat. Tetapi Baekhyun hanya tersenyum kecil padanya dan menggelengkan kepala.

Beberapa menit setelah itu Chanyeol bergabung bersama mereka. Kyungsoo menyiapkan keperluan makan malam untuk Chanyeol sedangkan pria itu terus menerus menatap Baekhyun yang tidak mau memandangnya.

"Habiskan makan malammu, Baekhyun. Kyungsoo bilang kau tidak makan sejak pagi tadi." Ujar Chanyeol.

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Tetapi tangannya yang memegang sendok masih terus membuat pola-pola diatas piringnya. Mereka berdua makan ditengah keheningan. Kyungsoo yang sejak tadi memerhatikan keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah.

Sekalipun Chanyeol sudah memerintahnya, Baekhyun tetap enggan menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Membuat Chanyeol jengah kemudian membanting sendok dan garpunya keatas piring dengan kasar. Kyungsoo dan Baekhyun menatapnya terkejut, tetapi Chanyeol sudah terlanjur murka.

"Kau bisa pulang sekarang, Kyungsoo." Ujar Chanyeol dalam geramannya.

Kyungsoo mengangguk patuh dan segera berpamitan. Sepeninggalan Kyungsoo, baik Chanyeol maupun Baekhyun masih tidak saling bicara, hanya bertatapan sengit satu sama lain. Baekhyun orang pertama yang memutuskan tatapan mereka. Dia mendorong kursinya kebelakang, dan beranjak pergi tanpa mengatakan sepatah katapun.

Melihat Baekhyun beranjak pergi, Chanyeol bangkit dari kursinya dan mencekal lengan Baekhyun lalu menarik Baekhyun mendekat padanya. "Apa maumu sebenarnya?" ucap Chanyeol. "Kau marah. Aku tahu. Dan aku sudah minta maaf padamu."

"Lepaskan!" cetus Baekhyun dingin.

"Aku hanya menyuruhmu makan, Baekhyun, apa itu sangat sulit untukmu."

"Makan atas perintahmu bukanlah pekerjaanku disini, Chan. Memuaskanmu diatas ranjang, itulah pekerjaanku."

"Sampai kapan kau akan terus membahas masalah sialan ini?!"

"Sampai kontrak sialan ini berakhir!" Baekhyun menghempaskan lengannya sampai cekalan Chanyeol terlepas. Dia menatap nyalang kedua mata Chanyeol. "Jalang sepertiku memangnya punya pilihan apa saat kau sudah membayar seluruh tubuhku, huh? Kau sudah mengeluarkan banyak uang untuk membayarku. Bahkan mungkin separuh hidupku telah kau beli setelah dengan baik hatinya kau membantu masalah keuangan keluargaku. Karena itulah aku akan selalu patuh padamu setiap kali kau memintaku memuaskanmu diatas ranjangmu." Ucap Baekhyun dengan mata yang mulai berair.

Rahang Chanyeol mengeras mendengar ucapan Baekhyun.

"Tapi apa kau juga harus mengatur kehidupanku yang lain? Aku mau makan ataupun tidak biar saja menjadi urusanku! Kau sudah mengurungku dirumah ini, menjauhkanku dari jangkauan semua orang termasuk keluargaku sendiri. Aku akan mematuhinya Chan, demi Tuhan aku akan mematuhi semua perintah orang yang sudah membeliku!"

"Cukup Baekhyun!" bentak Chanyeol.

Baekhyun melangkah mundur, sorot matanya memancarkan kepedihan yang memilukan. "Aku juga tidak ingin seperti ini, Chan... tapi memangnya aku bisa apa? Kalau tidak kulakukan aku takut adikku akan menjadi wanita hina sepertiku. Cukup aku saja yang menjadi seorang jalang, cukup aku saja yang membuat kedua orangtuaku tidak tenang ditempat mereka sekarang. Tapi kenapa... kenapa seluruh dunia tidak ada yang mengerti dengan itu? Kenapa semuanya selalu saja menghinaku..."

Tubuh Baekhyun luruh keatas lantai. dia menangis tetapi merasakan kepuasan yang aneh didalam dirinya. Selama dia menjalani pekerjaan yang tidak pernah dia sukai, baru kali ini Baekhyun memuntahkan semua perasaan yang telah lama dia pendam. Bahkan didepan adiknya sendiripun tidak. Baekhyun tidak mengerti kenapa dia ingin sekali memberitahu Chanyeol bagaimana tersiksanya dia selama ini menanggung ketidakadilan dalam hidupnya.

Baekhyun masih terus menangis dengan kepala menunduk dalam sampai tiba-tiba ada sepasang lengan yang memeluknya. Bau tubuh Chanyeol sangat menenangkan bagi Baekhyun, dan membuat kedua tangan lancangnya membalas pelukan Chanyeol dengan erat. Baekhyun menyimpan wajahnya diatas dada Chanyeol yang memperdengarkan detak jantung pria itu dan entah mengapa terasa menenangkan.

"Apa kau sudah merasa lebih baik setelah mengeluarkan semua perasaanmu?" tanya Chanyeol lembut.

"Dengar, Lupakan semua hal tentang kontrak sialan itu! aku minta maaf atas ucapan pagi tadi. Aku sedang kacau saat itu sehingga mengatakan apapun yang sama sekali tidak ingin kukatakan. Mendengarmu menghina dirimu sendiri entah kenapa membuat hatiku sangat sakit." Satu kecupan lembut dan lama Olivia rasakan diatas kepalanya sebelum kedua telapak tangan gagah Richard merangkum wajahnya hingga mereka saling bertatapan. Richard memandangnya lembut, mengecup bibirnya dengan teramat pelan seolah-olah takut menghancurkan bibir rapuh itu.

"Apa kau tahu? Sejak pertama bertemu dan melihatmu di bar, entah kenapa aku langsung tertarik padamu. Perasaan aneh itu mulai bertambah setelah kita menghabiskan malam bersama. Awalnya aku bingung dengan perasaanku sendiri dan bertanya-tanya apa yang sedang kurasakan? Tapi kini seperti aku tahu jawabannya.." Ucap Chanyeol masih menatap Baekhyun, menghapus sisa air mata di mata Baekhyun.

"Cinta!" ucap Chanyeol pasti.

"Aku jatuh cinta padamu Baekhyun! Sangat-sangat mencintaimu hingga hanya memikirkan bagaimana cara agar memilikimu seutuhnya."

Chanyeol melepaskan pelukannya dan meraih saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam, kotak itu.. berisi sebuah cincin berlian!

"Menikahlah denganku Baek!"

Baekhyun tertegun. Ia terkejut mendengar ucapan Chanyeol barusan. Dan cincin ditangan Chanyeol, Apa ini sebuah lamaran untuknya?

"Chanyeol, kau..."

"Aku serius Baek! Menikahlah denganku agar aku bisa memilikimu seutuhnya dan mencintaimu tanpa khawatir akan kehilangan dirimu. Aku dapat memberitahumu setidaknya 100 alasan mengapa aku mencintaimu. Suaramu, jari-jarimu, aromamu, bayanganmu. Aku bahkan seperti orang yang amnesia. Aku suka segala sesuatu tentang dirimu. Itulah alasanku..."

"...Jadi, maukah kau memaafkanku dan bersedia menjadi Isteriku?" Tanya Chanyeol lagi. Baekhyun menghapus air matanya dan meraih cincin tersebut.

Chanyeol tersenyum sangat lebar ketika Baekhyun mengambil cincin di tangannya. Dengan sigap ia meraih tubuh Baekhyun dan kembali memeluknya.

"Terima kasih! Terima kasih Baekhyun, Kau membuatku sangat bahagia! Apakah ini artinya sekarang kau adalah milikku?" ucap Chanyeol.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak!! Kau harus meminta ijin pada Baekhi untuk menikahiku terlebih dahulu" Ucapnya bercanda.

"Tentu saja! aku akan segera mendapat ijinnya dan kau akan menjadi milikku secepatnya!" Chanyeol tertawa ringan kemudian mengecup bibir Baekhyun dengan lembut.

"Aku sangat bahagia Chanyeol! Terimakasih karena sudah menjadi klien terakhirku!" Ucap Baekhyun bahagia, memikirkan akan menghabiskan malam ini sebagai tunangan dari pria tampan bernama Park Chanyeol.

Baekhyun sadar, selamanya dia tidak akan bisa menolak permintaan Chanyeol. Meskipun sempat merasakan sakit, Baekhyun tidak menyesal sudah bertemu Chanyeol. Karena dia sangat mencintai Chanyeol!

Dan setelah melepaskan tugasnya untuk merawat Baekhi, sepertinya sekarang Baekhyun punya tugas baru.

Ya! Tugas untuk setia mencintai Chanyeol, tentunya.

"Ayo ke kamar!" Chanyeol mengedipkan sebelah matanya kemudian dibalas oleh senyuman nakal dari Baekhyun, "Gendong aku!!" Ia mengulurkan kedua tangannya. Chanyeol meraihnya dan kemudian menggendong tubuh Baekhyun.

"Malam ini tidak akan kubiarkan kau tidur.."

"Tidak, kaulah yang tidak akan aku biarkan tidur malam ini, Chanyeol!"

Dua insan yang sedang dimabuk asmara itu kemuadian tertawa bersama-sama dan kembali larut dalam ciuman yang sangat panjang.

Sungguh, suatu akhir yang bahagia untuk seorang gadis yang dulunya telah merasakan banyak rasa sakit. Ini merupakan balasan atas rasa sakitnya selama ini. Tuhan memberinya Seorang pria hebat untuk melengkapi dan membahagiakan hidupnya.

Tidak akan ada cinta tanpa rasa sakit. Karena terkadang, rasa sakit lah yang menyempurnakan cinta.

.

.

.

[End]

.

.

.

Author's Note :

Fanfic ini diremake dari cerbung berjudul Love Story Of Olivia yang aslinya masih bersambung dan hanya diupdate perchapter setahun.

Jadi jika Chingu merasa kurang puas dengan ending versi saya, chingu bisa membaca versi aslinya yang masih bersambung :)

Terima kasih karena sudah membaca dari Chapter awal. Mohon maaf jika terdapat banyak kekurangan dalam Chapter ini.

-ByunYeol-