Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
.
Naruto baru saja sampai di Konoha setelah menyelesaikan misi. Bukannya pulang ke apatonya, Naruto justru datang ke kompleks perumahan Uchiha, menyelinap masuk ke rumah Sasuke lewat jendela dan mendapati pemuda raven itu tengah berkutat di dapur. Memang Sasuke sedang libur setelah kemarin ia menyelesaikan misi rangking A.
"Apa yang pernah ku katakan soal datang lewat pintu? Berhentilah berkelakuan seperti Kakashi-Sensei, Dobe."
Naruto hanya nyengir dan mendudukkan diri di meja dapur, memandangi Sasuke yang masih berkutat dengan masakan entah apa itu di depan kompor.
Sasuke yang memakai setelan santai -baju hitam panjang dan celana bahan senada- dengan apron biru bermotif lambang clan Uchiha terlihat sangan manis di mata Naruto, tentu Naruto memuji penampilan Sasuke itu hanya dalam hati. Sasuke tidak suka di katai manis atau cantik, bisa-bisa Naruto langsung di aniaya dan tidak boleh datang ke rumah Sasuke untuk minta 'jatah'. Beda cerita kalau Sasuke mau di ajak tinggal satu rumah, sayangnya pemuda raven itu selalu menolak dengan alasan demi keselamatan bokongnya. Membuat Naruto mendengus, memangnya ia semesum itu apa?
Padahal Naruto punya alasan sendiri kenapa ia selalu mengajak Sasuke tinggal satu rumah. Yah, selain jadi bisa sering menghabiskan waktu senggang bersama dan melakukan yang 'iya-iya', Naruto hanya ingin ada seseorang selain dirinya yang tinggal di apatonya, seseorang yang akan menyambutnya saat ia pulang dari misi, seseorang yang akan menjawab 'Okaeri' saat ia membuka pintu dan berteriak 'Tadaima'. Dan bagi Naruto, Sasukelah orangnya. Sesederhana itu.
"Kau tahu, Sasuke? Aku begitu bersyukur kau mau pulang ke Desa."
Sasuke diam saja, tetap membelakangi Naruto dan melanjutkan masaknya.
"Apa kau tetap tidak mau pindah dan tinggal bersamaku, Teme?"
"Untuk apa? Tanpa tinggal disanapun aku masih tetap jadi tukang masak dan tukang bersih-bersih rumahmu, kan?."
"Bukan begitu..."
Naruto bangkit, berjalan menghampiri Sasuke dan memeluk pria itu dari belakang.
Suasana berubah hening. Naruto memilih untuk diam dan menyusupkan wajahnya di perpotongan leher Sasuke. Sasuke sendiri merasakannya, perasaan berkecamuk yang sedang melanda si pirang.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanyanya. Naruto hanya menggeleng dan semakin menyerudukkan wajahnya sambil mempererat pelukannya di pinggang Sasuke.
Sasuke mendesah. Mematikan kompor dan mengelus pelan lengan Naruto yang melingkar di pinggangnya, "Naruto..." bujuknya.
"Tadi saat dalam perjalanan, aku melihat sebuah keluarga di toko mainan. Seorang Ayah, ibu, dan anak laki-laki. Si ibu tertawa melihat anak lelakinya merengek minta mainan, lalu Ayahnya mengelus kepala anak itu sambil berkata 'ambillah, itu hadiah karena kau sudah menjadi anak yang hebat untuk Ayah dan ibu'. Mereka lalu tertawa bersama, terlihat begitu bahagia. Aku... Aku tiba-tiba jadi ingat Kaa-san dan Tou-san... Aku rindu..."
Sasuke terdiam. Ia mengerti bagaimana perasaan Naruto saat ini. Mereka berdua sama, sama-sama sebatang kara karena kehilangan kedua orang tua. Sasuke lebih beruntung, ia masih bisa merasakan kasih sayang Ayah dan ibunya meski hanya sebentar, sedangkan Naruto...
"Lalu, aku juga melihat seorang Paman yang baru saja selesai bekerja dan pulang ke rumahnya. Saat ia berteriak 'Aku pulang', anak-anak dan istrinya serempak menjawab 'selamat datang' dengan ceria dan menyambutnya. Aku... Aku juga ingin seperti itu..."
"Naruto..."
"Aku mengajakmu tinggal bersama bukan karena aku ingin lebih leluasa melakukan hal yang macam-macam padamu. Aku hanya ingin merasakan bagaimana rasanya punya keluarga. Seseorang yang tinggal satu atap denganku. Seseorang yang selalu aku lihat wajahnya saat aku bangun dan sebelum aku tidur. Seseorang yang berkata 'Hati-hati' saat aku keluar rumah untuk misi dan seseorang yang menyambutku sambil berkata 'selamat datang' saat aku pulang. Dan orang itu... Adalah kau, Sasuke. Aku cuma mau kau, hanya kau."
Sasuke memejamkan matanya erat dan menghembuskan napas perlahan. Dadanya tiba-tiba terasa sesak, antara sedih, terharu dan bahagia. Sedih karena ia tahu, lelaki pirang yang sedang memeluknya itu selama ini kesepian, terharu karena kata-kata Naruto yang mendambakan sebuah keluarga. Dan bahagia karena Naruto memilihnya untuk menjalani semua impiannya itu bersama-sama.
Sasuke berbalik, meski dengan susah payah karena Naruto tetap tak mau melepaskan rengkuhannya. Ia menatap wajah lelaki itu yang kini terlihat begitu menyedihkan. Bibirnya melengkung ke bawah, mata birunya sembab dan merah serta ada ingus yang meleleh di hidungnya. Jorok, tapi Sasuke mencintai pemuda yang saat ini lebih mirip anak kecil yang merengek karena keinginannya tak di turuti.
"Kau tahu, Dobe?" Sasuke menangkup kedua pipi Naruto, menghapus air matanya kemudian melingkarkan lengannya ke leher Naruto, sementara Naruto kembali memeluk pinggangnya.
"Apatomu itu sempit, kotor dan berantakan. Aku tidak mau tinggal di tempat seperti itu."
Naruto manyun mendengar penuturan Sasuke.
"Jadi, daripada aku yang pindah ke sana, bagaimana kalau kau saja yang pindah ke sini?"
Naruto mengerjap bingung, mencoba mencerna kata-kata Sasuke, "Maksudmu? Kita... "
"Iya. Kau pindah ke sini. Tinggal bersamaku."
Senyuman langsung mengembang di bibir Naruto. Ia melompat, menerjang Sasuke dan memeluknya erat.
"Aahh... Sasuke, aku mencintaimuuuu~~~"
Sasuke hanya terkekeh mendengarnya.
"Hei, Dobe."
"Eum?"
"Apa tadi... Kau baru saja... Melamarku?"
"Eh? Ahaha... Terserah Sasu-chan saja ingin mengartikannya seperti apa."
"Tsk, Dasar idiot!"
"Ehehe.. "
"..."
"Sasuke..."
"Hn?"
"Tadaima..."
Sasuke tersenyum dan balas memeluk Naruto semakin erat.
"Hn. Okaeri, Naruto."
.
.
.
.
.
End
A/N : kok malah jd baper lagi ya? Huwee~~
ini terinspirasi dari Naruto the movie Road To Ninja... Oh, thats sooo touchy... #Baper lagi #plak
Makasih kunjungannya Readers-san... ^^
Oh iya, buat eL Donghae klarifikasinya udah saya kirim lewat PM ya Say #kedipkedip #plak.
