Tittle : Playful Love chapter 9

Pairing : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kim Jongin, Do Kyungsoo, Kim Jongdae, Kim Minseok, Xi Luhan, Oh Sehun, Lee Hyorin, and others.

Genre : Yaoi ( Boy x boy ), Mature scene, Romance.


Haloooo semua~ gimana puasanya hari ini lancar? hehehe... walaupun aku gak merayakan tapi tetep ngucapin selamat berjuang yang teman-teman.

Nah sesuai janji , ini chapter 9 dari Playful Love. Seperti biasa ada adegan dewasanya itu kenapa aku updatenya agak malem menghormati yang sedang berjuang melawan nafsu dan hasrat . Hehehehe..

Buat review yang masuk terima kasih banyaaaaakkkkk... Maaf tapi gak bisa bales satu-satu, tapi aku udah baca guys, dan aku suka. terhibur malah..

Yo wes~ selamet membaca ajah ya~

….

….

….

Playful Love

Chapter 9

By : ParkShita

Kyungsoo mendongak, dan tatapannya masih menyiratkan kesedihan.

"Ayo minumlah!" Kyungsoo masih enggan bergerak, bahkan ketika sebuah kaleng terulur di depan wajahnya.

"Maafkan aku." Ucapan itu membuat Kyungsoo geram, ia menatap Jongin dalam diam.

"Aku telah menyakitimu."

"Kenapa kau kembali? Seharusnya kau biarkan saja aku tergeletak seperti pelacur jalanan." Ucapan Kyungsoo terdengar tegas namun tersirat luka yang mendalam. Jongin merasa iba, ia duduk lalu mengeluarkan sebuah bungkusan.

Ia membersihkan wajah Kyungsoo dengan tisu basah secara perlahan. Kyungsoo masih diam, ia memilih menatap ke depan setidaknya matanya tidak bertemu dengan Jongin.

"Awalnya aku hanya ingin memberimu sedikit pelajaran, tapi aku malah tidak bisa mengendalikan hasratku. Maaf." Jongin berucap tulus, ia meraih tangan Kyungsoo dan mengelap telapak tangannya. Jongin membersihkan beberapa bagian lain, setidaknya Kyungsoo tidak terlihat seperti seseorang yang habis diperkosa.

"Ayo." Jongin mengelurkan tangannya, tapi Kyungsoo melempar pandangannya.

"JAngan marah. Ayo ikut aku!" tapi Kyungsoo masih enggan. Di menit berikutnya Kyungsoo merasakan tubuhnya terangkat ke udara, Jongin menggendongnya dengan lembut.

"Tidak ingin melayangkan protes?" Goda Jongin ketika Kyungsoo masih bungkam, walau wajahnya menyiratkan kekesalan dan keterkejutan. Jongin merasa benar-benar bersalah, ia tidak bermaksud membuat Kyungsoo menjadi berubah seperti ini.

Sekolah sudah sepi, jadi Jongin leluasa berjalan menuju keluar sekolah. Mereka tiba di depan sebuah mobil hitam yang terparkir cukup jauh dari sekolah, itu adalah mobil milik Jongin.

Dan di detik berikutnya, mobil hitam itu melaju dengan kecepatan sedang memecah ramainya jalanan kota Seoul. Kyungsoo memilih bungkam selama perjalanan, bahkan ketika mereka tiba di sebuah apartemen cukup mewah milik Jongin.

"Tidakkah kau merasa terkejut?" Tanya Jongin ketika melihat mata Kyungsoo membulat melihat bangunan apartemen itu.

"Aku tinggal dua lantai di bawahmu. Kau pasti tak menyadarinya." Ucap Jongin lagi dan Kyungsoo tetap bungkam, walau dalam hati ia mulai berpikir.

"Masuklah!" Kyungsoo masih terdiam di depan pintu apartemen Jongin ketika lelaki tan itu mempersilahkannya masuk. Kyungsoo menatap Jongin tajam, lalu ia membalik tubuhnya, berjalan kembali kearah elevator.

Jongin meraih tangan Kyungsoo dan menggendong tubuh itu, lalu membawanya masuk ke dalam apartemennya.

"Kau tidak aku izinkan pulang."

"Brengsek." Kyungsoo mengumpat ketika tubuhnya di dudukkan di atas sofa.

"Aku berharap bukan kata itu yang keluar, tapi yah, aku senang setidaknya kau mengeluarkan sepatah kata pada akhirnya."

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Kyungsoo tajam.

"Sebuah pertemanan."

"Jangan bercanda!"

"Baiklah. Aku menginginkan sebuah hubungan yang serius denganmu."

"Kau gila."

"Benar, aku gila. Itu semua karenamu, Kyungsoo."

"Berhenti bicara sembarangan! Sekarang biarkan aku pulang!"

"Tidak. Tinggalah lebih lama disini, aku mohon." Entah mengapa Kyungsoo mendadak tersentak ketika melihat raut wajah sedih Jongin. Kyungsoo melempar wajahnya kesamping, ia tidak ingin terjebak oleh wajah memelas pria brengsek di depannya.

"Aku ingin mandi."

"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu."

Kyungsoo menyandarkan tubuhnya pada pinggiran bath-up. Ia suka aroma yang muncul dari sabun yang Jongin tuangkan. Campuran antara lavender dengan green tea. Mata Kyungsoo terbuka cepat ketika merasakan kepalanya disentuh oleh tangan.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Diamlah!" Jongin mulai menuangkan shampoo ke atas kepala Kyungsoo.

"Aku yakin Yi Fan mu itu pernah melakukan ini padamu." Ucap Jongin. Benar, Kyungsoo membenarkan itu tapi kejadian itu sudah cukup lama ketika mereka masih kecil, ketika diawal pertemanan mereka. Tidak setelah Kyungsoo menyerahkan tubuhnya, Yi Fan hanya akan bercinta lalu pergi.

Melihat Kyungsoo tak menjawab dan memejamkan matanya, Jongin menambah pijatannya. Jongin menatap wajah teduh Kyungsoo dari atas, sesekali ia memajukan kursi yang ia duduki agar mempermudah gerakannya.

Jongin membilas rambut hitam Kyungsoo dengan sangat pelan, bahkan ketika mata Kyungsoo terkena busa shampoo Jongin akan mengelapkan dengan lembut. Lalu dengan kurang ajarnya, Jongin malah menyabuni seluruh permukaan tubuh Kyungsoo. Awalnya lelaki bermata bulat hitam itu menolak tapi karena Jongin bersih keras akhirnya ia pasrah. Lagipula seluruh bagian tubuhnya sudah dilihat, jadi ia pikir tidak ada gunanya menyembunyikan tubuh kotornya.

Mereka selesai dengan baik, dan saat ini Kyungsoo sedang duduk dihadapan Jongin sambil memeluk kedua kakinya sedangkan Jongin mengeringkan kepala Kyungsoo dengan handuk.

Entah mengapa Kyungsoo merasa nyaman dengan perlakuan Jongin, oleh karena itu ia memilih untuk diam dan pasrah. Jongin tersenyum ketika melihat wajah polos Kyungsoo, ia semakin mencintai lelaki mungil dihadapannya.

"selesai." Jongin berseru senang, dan Kyungsoo tersadar dari lamunannya.

"Apa kau lapar?" Tanya Jongin dan Kyungsoo tidak menjawab.

"Aku bertanya padamu."

"Biarkan aku pulang!"

"Baik, tapi setelah makan. Okay?" Jongin bangkit lalu berjalan keluar kamar dengan senang. Kyungsoo menatap Jongin lalu menatap kearah langit melalui jendela kamar Jongin.

"Ayah, ibu. Apa aku akan mendapatkan kebahagiaanku sekarang? Atau aku akan terjatuh dalam lubang yang sama?" gumamnya, lalu ia segera bangkit untuk menyusul Jongin. Sebelum keluar kamar, Kyungsoo melihat pantulan dirinya di cermin.

Ia benar-benar merasa dirinya terlihat menggelikan. Kemeja putih milik Jongin sangat kebesaran ditubuhnya, lalu celana pendek dan ketat yang Jongin berikan padanya tertutup oleh kemeja kebesaran bahkan jari tangan Kyungsoo termakan oleh kemeja itu.

Kyungsoo menatap Jongin yang berkutat di dapur dengan wajah bahagia. Kyungsoo berdecih, ia tahu Jongin bukan orang yang terbiasa memasak, terlihat dari cara Jongin memegang pisau. Tapi Kyungsoo memilih diam dan menunggu hasilnya saja.

"Duduklah disana!" Jongin menunjuk kursi dimeja makan dekat dapur, jadi dari sana Kyungsoo bisa melihat dengan jelas Jongin memasak.

Kyungsoo menggeleng ketika melihat Jongin berperang dengan letupan dari minyak diatas penggorengan. Kyungsoo memilih acuh jadi ia menenggelamkan wajahnya dibalik lipatan tangannya. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya, hatinya, semuanya. Jadi ia memilih memejamkan matanya sejenak sambil menunggu makanan mereka selesai.

"Ayo makan." Kyungsoo terbangun dari tidur singkatnya ketika Jongin menyentuh pundaknya dan Kyungsoo terkejut melihat beberapa makanan yang tersedia diatas meja.

Kyungsoo menatap Jongin dengan satu alis terangkat.

"Apa? Ayo makan! Aku sudah memasakkannya untukmu." Kyungsoo mengangkat kembali alisnya sambil menatap beberapa piring makanan yang tersedia diatas meja.

"Heuh. Restourant MyungPyeong." Ucap Kyungsoo ketika menyecap kuah sup dari sendoknya.

"Bagaimana kau bisa_"

"Restourant MyungPyeong memiliki ciri khas dari bumbu yang ia gunakan pada setiap masakanya, jika kau menguasai cara memasak kau akan tahu letak perbedaannya."

"Ckckckckck.. aku rasa sulit untuk membohongimu. Aku akui kau mata-mata yang hebat."

"Tidak. Kau saja yang kurang peka. Jadi? Mereka berakhir di tong sampah atau di kucing tetangga?" Jongin kembali tertawa dan dia menggaruk tengkuknya.

"Tong sampah. Hehehe.. maafkan aku, ternyata memasak tidak semudah yang aku bayangkan. Tapi kau harus tetap memakannya. Selamat makan." Jongin berucap riang lalu mulai menyendok makanan itu.

"Setelah ini aku harus pulang."

"Kerumahmu atau ke apartemenmu?" Tanya Jongin.

"Apartemenku."

"Baiklah."

Chanyeol berlutut sejak tiga jam yang lalu dihadapan Jinki dan Kibum. Ketika Baekhyun ingin dibawa kerumah neneknya, Chanyeol segera berlutut dan memohon. Awalnya Jinki mencoba acuh, tapi kemudian ia memutuskan untuk menunda kepergian Baekhyun.

"Chanyeol. Bangkitlah! Jangan permalukan dirimu." Ucap Baekhyun yang kini berada di pegangan Kibum.

"Ibu,ayah aku mohon!"

"Maafkan aku!" Chanyeol berucap, wajahnya benar-benar putus asa. Ia tidak peduli dinginnya udara yang berhembus semenjak dua jam tadi, ia bahkan hanya mengenakan seragam tipisnya.

"Maafkan aku telah mempermalukan keluarga kalian. Maaf karena telah membuat putra semata wayangmu menjadi kelainan." Chanyeol berucap serius.

"Maaf saja tidak cukup Chanyeol."

"Paman. Siapapun tidak ingin berada diposisi kami, tapi mengertilah kami saling mencintai."

"Kami mencoba mengerti untuk itu kami harus memisahkan kalian. Kami mengerti jika kalian dalam masa peralihan. Kalian masih harus mencari jati diri kalian, dan kalian nampaknya tersesat."

"Tidak! Tidak paman, aku tersesat sebelum bertemu Baekhyun dan sekarang aku merasa telah menemukan rumahku, dia adalah Baekhyun-ku, anak kalian."
"Chanyeol, aku menganggapmu sudah seperti anakku. Tapi maaf, kami tidak bias membiarkan anak kami menjadi menyimpang. Kami ingin memiliki anak yang normal." Ucap Jinki.

"Ibu..hiks.." Baekhyun menangis, ia menatap ibunya dengan wajah terluka berharap ibunya akan menolongnya, tapi sepertinya Kibum mencoba tegas saat ini.

"Kami normal, kami bukan orang cacat Paman. Aku tahu cinta kami datang ditempat yang salah, tapi bukankah tidak pernah ada larangan untuk mencintai sesamanya? Bahkan Tuhan tidak pernah mengatakan itu, hanya manusia yang membuat peraturan itu."

"Cintaku pada puteramu tulus Paman. Aku sejak kecil tidak pernah mencintai seseorang dengan tulus kecuali mendiang ibuku, tapi kali ini aku benar-benar mencintai Baekhyun."

"Cukup! Jangan menjadi keras kepala Chanyeol." JInki membentak.

"Ayah~" Baekhyun merengek, memeluk lengan ayahnya. Cara yang biasa ia lakukan ketika menginginkan sesuatu dan biasanya Jinki akan langsung mengabulkannya, tapi tidak kali ini ia malah mendapat penolakan. Dan tubuhnya terdorong hingga ia terjatuh ke tanah.

"Ayah jahat!"

"Siapa yang lebih jahat?" Jinki membentak Baekhyun yang menangis.

"Ayah! Ayah jauh lebih jahat. Aku sudah menjadi anak seperti yang ayah dan ibu inginkan selama ini, jadi sekarang biarkan aku menentukan pilihanku. Aku mencintai Chanyeol, sangat mencintainya jadi kalian tidak bias memisahkan kami."

"Bawa Baekhyun masuk, sayang." Ucap Jinki tajam, dan Kibum segera mengangkat tubuh Baekhyun lalu menariknya paksa, sebelum pergi Kibum sempat melirik Chanyeol yang terluka.

"Paman."

"Bangunlah Chanyeol, dan pulanglah, ayahmu pasti mencemaskanmu."

"Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum paman merestui kami."

"Maaf Chanyeol, tapi sampai kapanpun hal itu tidak akan terjadi." Ucap Jinki lalu melenggang masuk ke dalam rumah.

"Paman. Mencintai dan dicintai adalah hal yang pasti, hal yang akan dirasakan oleh semua orang di dunia. Hanya karena kami memiliki jenis kelamin yang sama, kami tidak bisa merasakannya? Tidakkah paman terlihat egois, memikirkan tanggapan orang tapi tidak memikirkan seberapa terlukanya hati putra kecil paman?" Chanyeol terisak.

"Baekhyun adalah cahaya untukku Paman, dia sama berharganya dimataku dan dimata Paman. Aku tahu paman sangat menyayanginya seperti sebuah mutiara, dimataku Baekhyun lebih berharga dari mutiara. Tidakkah itu cukup paman? Tidakkah cintaku cukup untuk membuktikan jika aku sangat mencintai putramu? Apapun..apapun akan aku lakukan untuk membahagiakannya." Jinki terdiam ditempat.

"Kebahagiaanmu bukankah ketika melihat Baekhyun bahagia? Aku akan memberikan itu padanya, aku menjanjikan itu pada paman. Tidakkah itu cukup? Tidakkah itu cukup untuk mendapat restu dari kalian? Apakah paman lebih bahagia melihat putra kesayangan paman hidup terpaksa dengan orang lain dan bersedih sepanjang hidupnya?"

"Percakapan ini kita akhiri." JInki berucap lalu menutup pintu rumah. Chanyeol masih berlutut dihalaman, dan ia menatap kearah pintu tertutup itu. Berharap Baekhyun akan keluar darisana dan berlari untuk memeluknya.

….

Kyungsoo terdiam, ia melirik tangan yang melingkar dipinggangnya sejak sejam yang lalu. Jongin mencegahnya untuk pulang lagi dan memohon agar Kyungsoo bermalam disana.

Dengan sedikit pertengkaran akhirnya Kyungsoo setuju, kini mereka tertidur diatas ranjang Jongin dengan Jongin yang memeluk Kyungsoo dari arah belakang.

"Apa aku membuatmu tidak bisa tidur?" Tanya Jongin dan Kyungsoo sedikit terkejut.

"Tidak. Tidurlah!"

"Kyungsoo?"

"hm."

"Apa kau begitu mencintai lelaki itu?"

"Itu bukan urusanmu."

"Katakanlah. Aku mohon!"

"Kau terlalu banyak memohon hari ini. Aku muak mendengarnya." Ucap Kyungsoo dan Jongin membalik tubuh Kyungsoo sedikit menindihnya.

"Apa disini…" Jongin menunjuk dada Kyungsoo.

"Tidak ada ruang kosong untukku?" Kyungsoo menatap Jongin sambil mengernyit.

"Maafkan aku."

"Untuk?" Tanya Jongin.

"Dia sudah mengambil seluruh hatiku."

"Tidak. Dia hanya mengambil alih pikiranmu bukan hatimu."

"Tidak. AKu mencintainya."

"Tidak. Kau hanya membutuhkannya, sama seperti dirinya yang hanya membutuhkanmu sebagai alat balas dendam dan pemuas nafsunya."

"Yi Fan tidak mungkin seperti itu."

"Kau terlalu polos Kyungsoo. Apa Yi Fan pernah mengucapkan cinta padamu? Apa dia pernah memintamu untuk menjadi kekasihnya?" Tanya Jongin dan Kyungsoo terdiam.

"sudah kuduga." Ucap Jongin.

"Minggir!" Kyungsoo mendorong tubuh Jongin dan memilih berjalan ke balkon kamar Jongin. Ia menatap langit malam, dan membiarkan angin menyapa tubuhnya.

"Pakailah! Kau akan kedinginan nanti." Sebuah selimut membungkus tubuh Kyungsoo.

"Hentikan Jongin! Jangan lakukan ini padaku. Kau hanya akan menyiksaku. Aku sangat mencintai Kris, sampai kapanpun jadi berhenti berlaku baik padaku, mari kembali menjadi musuh."

"Tidak. Aku tidak akan bisa melakukannya. Aku sudah terjebak dalam pesonamu Kyungsoo."

"Jika kau menyukai tubuhku, datanglah padaku jika kau menginginkannya. Aku akan_"

"Tidak! Aku bukan hanya menginginkan tubuhmu, tapi aku menginginkan dirimu seutuhnya."

"Maaf aku tidak bisa."

"Tidak apa." Jongin memeluk Kyungsoo, menenggelamkan wajah Kyungsoo pada dada bidangnya.

"Tidak apa untuk saat ini, kau hanya sedang bingung. Aku salah karena tiba-tiba muncul. Kau hanya perlu mengetahui sebuah kenyataan jika lelaki itu bukan orang baik, dan ketika kau terluka saat itu datanglah padaku, aku akan dengan senang hati menerimamu."

"Jongin_"

"ssstt.." Jongin meletakkan telunjuknya dibibir Kyungsoo lalu mendekatkan wajahnya. Ia mencium bibir itu dalam dan melumatnya lembut. Kyungsoo tidak berontak, ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Entah mengapa ia merasa dirinya tak berdaya saat ini.

"Arrggghhh…" Luhan mencoret sketsa gambarnya asal. Sejak tadi ia sama sekali tak focus untuk membuat rancangan baru.

"Brengsek! Brengsek! Dasar orang mesum brengsek!" ucap Luhan lalu mengacak rambutnya. Tiba-tiba ponselnya bordering dan ia melihat si pemanggil.

"Miseokkie~" ucap Luhan manja.

"Aku merindukanmu. Iya aku tinggal di Korea sekarang, maaf tidak mengabarimu. Baiklah, aku akan ke caffemu sekarang." Ucap Luhan lalu segera meraih ponsel dan jaketnya.

Luhan memarkirkan mobilnya di parkiran caffe, lalu melenggang dengan santai ke dalam caffe.

"Minseokkie~" Luhan membentangkan tangannya ketika melihat Minseok yang sedang berdiri di dekat dapur.

"Luhannie~" Minseok berseru tak kalah heboh sambil berlari kecil kearah Luhan mereka berpelukan riang sambil sedikit melompat-lompat, hal tersebut sempat menjadi sasaran tatap dari pengunjung café. Tapi mereka seolah memakluminya, Luhan dan Minseok memang sudah tidak bertemu untuk waktu yang lama itu mengapa mereka bersikap seperti anak kecil yang bertemu teman sekolahnya di jalan.

"aah aku merindukanmu rusaku."

"Aku juga merindukanmu pipi bakpaoku."

"Yak! Aku tidak memilikinya lagi sekarang."

"Hahaha… benar. Kau membuang mereka. Kau tidak terlihat imut lagi dimataku." Luhan berdecih sambil tersenyum.

"Ayo duduk!" Minseok membawa Luhan ke salah satu sofa di sudut ruangan dan meminta MInwoo melayani pesanan Luhan.

Mereka berbincang cukup lama, membicarakan tentang kehidupan Luhan ketika di China. Luhan pernah tinggal di Korea beberapa tahun ketika ayahnya sedang membentangkan sayap perusahaannya, dan saat itu ia bertemu Minseok lalu menjadi akrab.

MInseok bertanya ketika melihat Luhan membalas pesan, dan Luhan berkata jika adiknya cemas karena tidak menemukan dirinya di kantor.

Mereka kembali bercakap sampai ketika sosok tinggi dengan kemeja coklat dan celana hitam masuk ke dalam café. Luhan menatap sosok itu lama, dan melotot ketika melihat sosok Sehun sedang bersama seorang perempuan berpakaian minim.

"Ada apa?"

"Tidak. Ayo lanjutkan ceritamu!" ucap Luhan. Minseok kembali bercerita tapi sayang Luhan tidak focus, ia masih sesekali mencuri pandang ke Sehun dan wanita yang kini duduk cukup jauh darinya.

Dan Luhan geram ketika Sehun mengecup punggung tangan wanita itu, tidak, Luhan tidak bisa tinggal diam. Ia bangkit, ketika tangan Sehun meraih dagu si wanita, langkah Luhan semakin cepat, lalu ketika Minwoo lewat membawa sebuah minuman dingin Luhan merampasnya lalu menyiramkan minuman berkafein itu tepat diatas kepala Sehun.

"Yak! Brengsek!" Sehun memekik dan ketika ia menoleh ia mendapati Luhan yang menutup mulutnya dengan tangan.

"Maaf..maafkan aku." Luhan panic dan ia segera mengelap wajah basah Sehun dengan tisu. Entah mengapa Luhan tak sadar ketika menyiramkan kopi itu kea rah Sehun.

Sehun mencengkram pergelangan tangan Luhan dengan keras, hingga Luhan meringis kesakitan. Mata tajam itu semakin terlihat menakutkan ketika pandanganya tepat menusuk ke dalam pupil mata Luhan.

"Kau! Apa yang kau lakukan?" Sehun membentak.

"A..aku. Kau dasar brengsek! Dasar pria mata keranjang, dasar pria mesum, dasar pria tidak tahu diri. Kau pria brengsek dan hidung belang." Bentak Luhan.

"Lalu apa pedulimu?"

"Kau_" Luhan kehabisan kata-kata.

"Jangan kau pikir setelah aku menidurimu kau bisa seenaknya mencampuri urusanku?"

"Kau!" Luhan merasa malu dan terhina air matanya sudah terbendung tapi ia menahannya.

"Jangan salah paham dengan kejadian itu. Aku bukan lelaki yang suka terikat oleh hubungan. Jangan kau pikir setelah aku menidurimu aku akan membuat sebuah komitmen denganmu. Aku, bukan pria seperti itu. Jadi jangan berharap."

"Kau!" Mata Luhan berkaca-kaca. Ia dipermalukan di depan umum, dan ini pertama kalinya seseorang menghina harga dirinya.

"Salahkan dirimu yang menjadi murahan karena mau kutiduri. Lagipula diawal sudah kukatakan, kau itu laki-laki jadi tak mungkin hamil dan tak ada alasan untuk meminta pertanggung jawabanku."

"Cukup!" Luhan menangis, ia sudah tidak kuat menahan air matanya.

"Heuh. Selain gampangan kau juga cengeng."

"Brengsek!" Sehun merasakan nyeri di pipinya akibat hantaman yang kuat.

"Kau tak apa-apa?" Yi Fan menggetarkan pundak Luhan, tapi Luhan masih terluka. Sehun menatap nyalang ke Yi Fan lalu bergantian ke Luhan. Ia merasa familiar dengan Yi Fan, tapi ia memfokuskan pada bibirnya yang berdarah.

"Kau brengsek! Mulutmu benar-benar perlu kuberi pelajaran lebih dari ini. Walaupun dia laki-laki, dia adalah orang terlemah yang pernah ku kenal. Kau seenaknya saja menyakiti hatinya. Aku akan_"

"Hentikan!" Yi Fan mengurungkan niatnya untuk menghajar wajah Sehun lagi.

"Kita pulang!" ucap Luhan lirih. Yi Fan menarik tangan Luhan, tapi Luhan tiba-tiba berhenti. Ia berbalik, berjalan kearah Sehun lalu menampar pipi itu cukup keras.

"Sakitnya tidak sesakit yang aku rasakan sekarang. Bajingan." Ucap Luhan ketus, dan Sehun memegang pipinya yang baru saja ditampar sambil menatap kepergian Luhan.

"Jangan menangis lagi!" itu ucapan Yi Fan yang kini berhenti di depan mobilnya, ia mengusap wajah Luhan.

"Kau kakakku seharusnya kau lebih kuat dariku!" Ucap Yi Fan dengan suara lembutnya menggetarkan tubuh Luhan dan berusaha membuat kakak termanjanya tersenyum.

"Maafkan aku karena selalu lemah." Luhan menundukan wajahnya.

"Jangan meminta maaf. Ayo sekarang kita pulang!"

"Tidak aku membawa mobilku sendiri."

"Aku akan meminta orang untuk mengantarnya pulang. Ikut denganku!"

" .." Tangisan Luhan pecah, Yi Fan yang akan masuk ke mobil menoleh dan ia menghela nafas, lalu ia membawa Luhan dalam pelukannya.

"Hentikan tangisanmu. Orang lain akan salah sangka melihat kita." Ucap Yi Fan tapi Luhan tetap menangis, terisak. Dan benar, Sehun disana melihat kontak fisik yang Luhan dan Yi Fan lakukan dari kejauhan ketika ia akan berjalan kearah mobilnya seorang diri, meninggalkan gadis seksi itu di dalam.

"Ayo pulang!" Yi Fan berbisik lembut, tapi Luhan menggeleng.

"Es Kris rasa coklat dengan porsi besar gratis untukmu." Luhan masih menggeleng.

" porsi besar sepuasnya." Masih tetap menggeleng.

"Es krim porsi besar ditambah hari Mingguku semuanya untukmu." Luhan tersenyum tapi masih menggeleng. Yi Fan memang selalu bisa memperbaiki moodnya.

"Astaga! Ayolah ge! Hanya itu hal berharga yang aku miliki." Luhan tersenyum.

"Gendong~" Dan Yi Fan akhirnya tersenyum. Kakaknya tetap menjadi kakak termanja yang pernah ia kenal. Yi Fan merangkul pundak kakaknya sambil sedikit mendorongnya dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu memakaikan sabuk pengaman.

Sehun terkejut bukan main melihat itu. Ia tidak tahu jika lelaki yang ia tiduri ternyata memiliki kekasih yang begitu romantic. Dan mata Sehun makin terbelalak ketika melihat Luhan menunjuk keningnya dan setelahnya Yi Fan mengecup kening Luhan.

Bukan hanya Sehun, siapapun pasti akan salah sangka melihat interaksi antara Luhan dan Yi Fan, tapi mau bagaimana lagi. Sejak kecil Luhan memang sudah menempel seperti perangko dengan Yi Fan.

Sehun menggeram, entah mengapa ia tidak suka melihat pemandangan yang baru saja ia lihat. Sehun memang egois, suka semaunya sendiri, keras kepala, dan brengsek. Semua tahu sifat Sehun, termasuk membenci orang yang menyentuh mainannya.

Baekhyun terisak sambil menatap Chanyeol dari jendela kamarnya. Sejak semalam Chanyeol bersimpuh disana, tanpa makanan dan minuman. Baekhyun merasakan hatinya benar-benar sakit. Ia ingin sekali berlari kesana dan memberikan payung pada Chanyeol karena cuaca siang ini sangat panas.

Pintu kamarnya terbuka dan menampakan Kibum yang masuk sambil membawa makanan.

"Makanlah!"

"Ibu~ aku mohon! Jangan siksa kami seperti ini." Baekhyun menangis, ia berlutut dihadapan ibunya. Kibum menatap Baekhyun tanpa arti. Ia juga sedih melihat anaknya seperti ini.

"Jangan siksa Chanyeol ibu. Aku hanya mencintainya, dia hidupku. Jika dia sakit, aku jauh lebih sakit ibu. Aku mohon~ hiks..hiks.." Baekhyun terisak sambil memeluk kaki ibunya. Kibum merasa iba, tapi kali ini ia pikir ia harus sedikit keras.

"Makanlah!" Kibum berucap dingin lalu melepaskan paksa tangan Baekhyun dan meninggalkan kamar itu lalu menguncinya. Baekhyun menangis kencang, ia memeluk kedua lututnya sambil terus menangis.

Hari berlalu dengan cepat, dan sekarang sudah larut malam. Jinki berdiri di depan Chanyeol.

"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanya Jinki.

"Sampai kalian merestui kami."

"Tidak akan Chanyeol. Aku mohon mengertilah, sekarang aku mohon kau untuk pulang." Ucap Jinki. Tapi Chanyeol tetap diam. Kibum datang dan membawa nampan berisi makanan dan minuman, ia berjongkok untuk mengganti makanan tadi siang yang bahkan tak tersentuh oleh Chanyeol.

"Aku mohon paman." Ucap Chanyeol lirih. Wajahnya terlihat pucat dan bibirnya juga mengering.

"Chanyeol. Pulanglah! Bibi mohon." Kibum berucap, sambil mengelus kepala Chanyeol.

"Tidak bi."

"Sayang. Masuklah! Biarkan dia bertahan sampai batasnya." Ucap Jinki lalu membawa Kibum masuk. Baekhyun melempar tubuhnya keatas kasur dan menangis lagi. Ia terus seperti itu sampai tubuhnya merasa lelah dan air matanya mengering.

Jinki dan Kibum masuk ke kamar Baekhyun untuk mengecek keadaan putranya. Baekhyun tertidur dengan mata dan hidung yang memerah. Kibum mengelus rambut Baekhyun sayang, ia menangis melihat keadaan putranya yang berantakan, tapi kali ini biarkan ia menjadi ibu egois yang memikirkan tentang masa depan putranya.

"Sayang. Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kibum.

"Entahlah, aku juga tak tahu. Mereka sangat mencintai satu sama lain dan perasaan mereka kuat, apalagi mereka berdua sama-sama keras kepala."

"Lalu? Kita harus bagaimana? Aku tak tega melihat mereka seperti ini."

"Aku juga."

"Ini salah kita yang tidak bisa mengawasi putra kita dengan baik." Ucap Kibum.

"Besok, aku akan mengurus surat perpindahan sekolah Baekhyun."

"Kau akan benar-benar mengirimnya tinggal bersama ibu?"

"Tak ada pilihan lain sayang. Ayo kita keluar biarkan dia istirahat. Dan apakah kau sudah memberikan Chanyeol selimut?"

"Sudah. Tapi ia tak mau memakainya, bahkan ketika aku memakaikannya ia melepasnya." Kibum berucap dan Jinki hanya menghela nafas. Ketika pintu tertutup ketika itu pula Baekhyun membuka matanya, ia kembali terisak di tengah malam.

Pagi menjemput dan hari ini hari senin, tapi Baekhyun masih belum boleh untuk keluar rumah, dan Chanyeol? Ini tepat hari ketiga ia bersimpuh dihalaman Baekhyun.

Chanyeol merasakanya pandangannya memudar, Jinki keluar dari rumah.

"Aku mohon hentikan. Kau bisa mati Chanyeol." Ucap Jinki.

PRANG!

"BAEKHYUN!" suara itu mengalihkan pandangan Jinki ia segera berlari ke dalam rumah, dan tepat setelah itu Chanyeol ambruk ke tanah, ia tak sadarkan diri.

Jongin memikirkan dimana keberadaan Chanyeol saat ini, ia sudah mencoba beberapa koneksi yang ia kenal tapi tak seorangpun yang tahu. Jadi Jongin mulai mengorek informasi. Dan dari semua informasi yang ia dapat, ia terkejut ketika mendengar Chanyeol dirawat dirumah sakit.

Ia telah melalaikan tugasnya karena memikirkan Kyungsoo. Ia merasa telah gagal, tapi saat ini ia tidak memikirkan hal itu ia lebih memfokuskan pada Chanyeol dan ia harus tahu penyebabnya. Tadi ketika Jongdae berkata ia dan Hyorin akan kerumah sakit, Jongin meminta ikut.

"Paman, bibi!" Jongdae berteriak ketika sampai dikoridor. Kibum dan Jinki segera bangkit dan wajah mereka terlihat panic.

"Ada apa?" Tanya Jongdae.

"Baekhyun mencoba bunuh diri."

"Apa?"

"Kami menemukannya sudah tergeletak bersimbah darah dikamarnya."

"Kenapa bisa bi?"

"Karena..karena..karena kami tidak merestui hubungannya dengan Chanyeol."

"APA!?" Jongdae merasa Shock mendengar itu. Sedangkan Jongin maju selangkah dengan wajah khawatir.

"Lalu dimana Chanyeol sekarang nyonya?"

"Chanyeol sedang berada di ruang ICU bersama Baekhyun. Chanyeol tak sadarkan diri setelah tiga hari berlutut di halaman rumah kami."
"APA!?" Hyorin dan Jongin sama-sama kagetnya.

"Bibi, bibi tidak menghubungi keluarga Chanyeol kan?" Hyorin bertanya dengan wajah cemas.

"Tidak. Kami melakukannya, kami terlalu panik tadi. Lagipula kami tidak tahu nomernya, untuk itu kami meminta Jongdae membawamu kemari." Ucap Kibum.

"Huh. Syukurlah." Ucap Hyorin. Jongin Nampak terpukul, wajahnya terlihat kesal. Ia telah melalaikan tugasnya hinga Chanyeol nyaris meregang nyawa karenanya.

Pintu terbuka dan beberapa tenaga medis keluar lalu disusul dengan dokter yang menangani Baekhyun dan Chanyeol. Dua dokter yang berbeda yang berdiri dihadapan mereka.

Dokter yang lebih tinggi mendekat dan memberi salam.

"Siapa penanggung jawab atas kedua pasien di dalam?"

"Aku. Aku orangtua mereka." Jinki berucap dengan wajah panic.

"Kalian beruntung. Sepertinya Tuhan masih menginginkan mereka lebih lama bersama kalian. Pasien Byun Baekhyun kehilangan cukup banyak darah. Saya rasa dia cukup takut dan ragu ketika melukai pergelangan tangannya. Jika terlambat sedikit saja, mungkin pasien tidak bisa diselamatkan." Kibum memeluk suaminya dengan terisak, dan Jinki mengelus pundak istrinya agar tenang.

"Perkenalkan. Saya yang bertanggung jawab atas pasien Park Chanyeol. Pasien mengalami dehidrasi berat. Umumnya manusia hanya bisa bertahan hidup 3 hari tanpa minum, dan kalian beruntung pasien belum melewati batas itu. Tapi tetap saja cairan di dalam tubuhnya berkurang drastis. Pasien juga mengalami kekurangan nutrisi, tidak ada asupan yang masuk sehingga kondisi tubuhnya melemah dan memburuk. Tapi jika mendapat perawatan yang intensif pasien akan sembuh total." Ucap dokter yang lebih pendek.

"Lakukan! Lakukan apapun untuk membuat mereka sembuh dokter."

"Tentu saja Tuan. Kami akan mengurus perpindahan kamar pasien, tolong bagi yang bertanggung jawab untuk mengurus administrasinya."

"Baik. Aku akan segera mengurusnya. Terima kasih dokter." Jinki membungkuk seiring berlalunya dokter-dokter itu begitu juga yang lain, sedangkan Jongdae masih sedikit terkejut mendengar hubungan Chanyeol dan Baekhyun, tapi ia masih diam, menunggu waktu yang tepat.

Jinki dan Kibum duduk disamping ranjang Baekhyun. Putra kesayangan mereka masih belum sadarkan diri. Kibum sudah tidak menangis lagi, tapi ia terus menggenggam tangan putranya. Sedangkan Jinki menatap wajah damai Baekhyun dengan raut bersalah.

"Kita terlalu egois." Jinki mengeluarkan suaranya.

"Kau benar. Aku nyaris kehilangan cahayaku. Putra satu-satunya yang aku miliki."

"Aku..aku mungkin tak akan pernah memaafkan diriku jika sampai aku kehilangan Baekhyun." Jinki mengecup pucuk kepala Baekhyun dan menangis pelan.

"Maafkan ayah sayang. Maaf. Ayah terlalu egois." Jinki berbisik ditelinga putranya.

Hyorin menatap wajah pucat Chanyeol dengan wajah gelisah, sedangkan Jongin duduk dihadapannya, di sisi lain dari tubuh Chanyeol.

"Jongin, pulanglah! Aku yang akan menjaga Chanyeol. Ini sudah malam."

"Tidak Hyorin. Sebaiknya kau yang pulang, orangtuamu pasti mengkhawatirkanmu dan jangan sampai mereka mengetahui jika Chanyeol di rumah sakit."

"Kau benar. Tapi aku tak mungkin meninggalkannya."

"Tak apa. Ada aku disini. Aku tinggal sendiri jadi tak akan ada yang menunggu kepulanganku." Jongin tersenyum, Hyorin menatap Jongin lalu mengangguk.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Terima kasih Jongin."

"Sama-sama. Kau berhati-hatilah. Ini sudah larut."

"Tenang. Aku akan meminta seseorang untuk menjemputku."

"Hm."

Ketika pintu tertutup ketika itu Jongin kembali mengarahkan pandangannya pada Chanyeol.

"Tuan muda, maafkan aku." Bisik Jongin sambil menggenggam tangan Chanyeol.

Luhan duduk di atas ranjang sambil menatap kosong ke arah ujung kakinya. Entah mengapa ia masih mengingat jelas kejadian kemarin dan hatinya masih merasakan sakit.

"Kau tak mau makan lagi?" suara itu membuat Luhan menoleh. Yi Fan berdiri disana dengan pakaian rapi.

"Aku tidak lapar."

"Mustahil. Kau belum makan sejak semalam. Apa kau ingin aku meminta paman Han untuk memasakkan sup rumput laut kesukaanmu?"

"Tidak. Aku benar-benar tidak lapar." Sahut Luhan lagi. Yi Fan mendekat dan segera menempelkan punggung tangannya di kening Luhan.

"Aku fikir kau demam."

"Hei. Berhenti mengkhawatirkanku berlebihan seperti itu."

"Bagaimana mungkin aku tidak khawatir padamu. Kau selalu saja mogok makan jika ada masalah. Apa kau ingin aku menemui pria itu dan menghajarnya lagi?"

"Hahaha.. tidak perlu adikku sayang." Ucap Luhan mencoba tersenyum. Luhan mengibaskan tangannya agar Yi Fan mendekat. Lelaki tinggi itu memilih duduk disamping kakaknya, dan ikut merentangkan kakinya ke depan dengan punggung bersandar pada kepala ranjang.

"Lihat! Kakimu bertambah panjang saja. Hahaha."

"Itu karena kau yang tidak tumbuh-tumbuh." Sahut Yi Fan.

"Yak! Berhenti menghina tubuh pendekku. Salahkan ibu yang selalu memberimu susu lebih banyak."

"Tidak. Ibu selalu memberi kita porsi yang sama." Sahut Yi Fan.

"Kau benar. Tapi kau selalu meminum milikku karena aku membenci susu, dan kau melakukannya agar ibu tidak marah padaku. Aku benar?" Luhan menatap Yi Fan.

"Tidak juga. Itu karena aku suka susu."

"Ck! Kau berbohong. Kau tahu alasan aku tidak suka susu? Itu karena susu buatan ibu adalah yang terpayah. Ibu selalu saja salah memasukkan garam ke dalamnya dan ketika aku protes ia akan menceramahiku panjang lebar. Dan kau satu-satunya yang tetap minum tanpa protes."

"Itu karena aku kasihan melihat ibu yang sudah susah payah membuatkan kita susu. Kita tidak terlalu suka susu dingin, dan susu kemasan, jadi ibu akan menyeduhkan susu untuk kita, terkadang ibu memekik karena tangannya terkena air panas."

"Ck! Itu Karena ibu payah."

"Sepayah apapun ibu, aku bahagia bisa memilikinya, setidaknya dia tidak membuangku. Dia membesarkanku sama sepertimu." Ucap Yi Fan, Luhan menatap wajah bersedih adiknya.

"Yi Fan."

"Hm."

"Jangan ungkit lagi. Kau adalah adikku, satu-satunya adikku. Walaupun kita tidak ada hubungan darah, tapi aku sangat menyayangimu."

"Aku juga Luhan sayang." Yi Fan memeluk tubuh kakaknya dan tersenyum.

"Kau ingat ketika pertama kali kau datang kerumah?" Tanya Luhan.

"Kau berkata jangan mengungkit, tapi kenapa sekarang kau melakukannya?"
"Aku hanya mengenang masa indah, bukan masa kelam."

"Baiklah. Aku ingat. Kau berlari ke arahku lalu mencubit pipiku dengan keras. Kau tahu? Bekasnya memerah hingga besoknya." ucap Yi Fan dengan suara yang terkesan kesal dan sesekali merinding membayangkan itu.

"Hahaha. Benarkah?"

"Untuk apa aku berbohong,karena itu setiap aku bertemu denganmu aku akan memegang pipiku."

"Luhan sayang? Ayo kemari. Ayah punya hadiah untukmu."

"Apa?"

"Kau selalu meminta adik kan pada kami. Kami mengabulkannya. Kenalkan namanya Yi Fan. Wu Yi Fan."

"Benarkah? Wah dia lucu sekali. Astaga benar-benar menggemaskan."

"Yi Fan. Mulai sekarang kau akan tinggal bersama kami. Panggil aku ayah bukan paman Jeonmyeon lagi, dan panggil bibi Yixing dengan ibu lalu panggil dia gege, Luhan gege. Kalian hanya berbeda 5 tahun, Luhan berusia 15 tahun dan kau 10 tahun benar? Tubuhnya memang kecil untuk anak seusianya, tapi dia lebih tua darimu."

"Ayah~ berhenti mengejek tubuhku."

"Hahaah.. maafkan ayah. Luhan kau ajak adikmu ke kamar. Ayah dan ibu sedang memanggil tukang dekorasi untuk mengubah kamar tamu menjadi kamar untuk Yi Fan."

"Baik ayah. Yi Fan-Fan. Ayo ikut aku! Aku akan menunjukan kamarku padamu. Aku punya banyak mainan."

Luhan tersenyum ketika mengingat kejadian itu, itu sudah berlalu cukup lama. Yi Fan yang menyadarinya, mengecup pucuk kepala kakaknya.

"Aku terkadang tertawa mengingat hubungan kita. Banyak orang yang akan salah sangka dan mengira kita sepasang kekasih."

"Itu karena kau yang selalu menempel dan bersikap manja padaku."

"Tapi kau tidak menolak."

"Aku lebih baik terlihat memalukan dengan kau yang menempel seperti koala di tubuhku ketimbang melihatmu diganggu."

"Jauhi dia!"

"Siapa kau berani menggangu kesenangan kami?"

"Kenalkan aku Yi Fan, kekasihnya." Yi Fan menarik Luhan dari kerumunan berandalan yang ingin melecehkan Luhan.

/

"Brengsek! Jauhi dia. Kalian dasar wanita tidak tahu diri."

"Hei tampan jangan ikut campur. Kami ingin memberi pelajaran pada gay ini."

"Langkahi dulu mayatku jalang, sebelum kalian menyentuh kekasihku."

"Apa? Kau.. lelaki setampan ini adalah kekasih gay dari dia? dari Luhan?" Yi Fan menarik tangan Luhan menjauh dari kerumunan siswi-siswi yang menanggu Luhan.

"Berhenti berkata jika kau kekasihku!"

"JIka aku tak seperti itu, mereka akan terus menganggumu. Setidaknya mereka akan tercengang ketika tahu bahwa kekasih gaymu jauh lebih tampan dari kekasih mereka."

"Dasar Tuan terlalu percaya diri. Tapi mereka akan berpikir jika aku benar-benar gay."

"Kau terlalu cantik menjadi laki-laki itu sebabnya mereka berpikir kau gay. Jadi sekarang biarkan saja! Mereka pasti akan iri padamu."

/

"Jangan menangis! Aku ada disini untukmu ge."

"Mereka..mereka..hiks.."

"Aku berjanji akan melakukan apapun untukmu, asalkan kau jangan menangis lagi. Jika kelemahanmu adalah tidak bisa menjadi kuat, maka biarkan aku yang menjadi kekuatanmu dan akan melindungimu."

"Terima kasih Yi Fan."

"Tentu kakakku sayang."

Luhan menatap mata Yi Fan dalam dengan mata berkaca-kaca.

"Kau pasti mengingat kenangan buruk itu kan?"

"Hehehehe.."

"Tinggal di Korea ternyata meninggalkan bekas yang memburuk untukku."

"HAhaha.. walau hanya dua tahun, tapi sepertinya itu berbekas."

"Tentu. Yi Fan?"

"Hm?"

"Apa kau akan terus berada disisiku?"

"Hm. Tergantung."

"Tergantung apa?"

"Jika kau telah memiliki kekasih aku tak akan melakukannya. Tapi semasih kau menyendiri aku akan siap ada untukmu. Jadi sekarang jangan menangisi pria brengsek itu, kau dengar?"

"Hm. Tapi kami sudah…"

"Itu wajar. Kau kehilangan keperjakaanmu di tangan orang yang salah. Tapi, itu bukan masalah, bagaimana pun kau harus melakukannya. Kau sudah dewasa ge."

"Aku mengerti." Luhan bersemu merah.

"Jadi sekarang makanlah."

"Dan kau?"

"Aku akan menemui ayahku. Sudah lama aku tidak menjenguknya di penjara."

"Hm, baiklah. Hati-hati." Luhan melambaikan tangan pada adikknya, dan Yi Fan mengusak rambut kakaknya pelan.

Jongin dan Hyorin duduk di sofa di dalam kamar rawat Chanyeol. Jongin memakan bekal makan siang yang Hyorin bawa.

"Aku sudah memberi tahu pihak sekolah bawa Chanyeol sedang tidak enak badan, dan kau cedera otot sehabis bermain basket."

"Terima kasih Hyorin."

"Sama-sama."

"Oh iya, Kyungsoo tadi sempat bertanya tentang kalian. Tapi aku tidak menceritakannya."

"Tak apa ceritakan saja padanya."

"Hm. Aku takut tadi, aku takut dia akan membocorkannya."

"Tidak, dia bukan tipe seperti itu."

"Tapi sepertinya dia terlihat berbeda belakangan ini."

"Berbeda bagaimana?" Tanya Jongin.

"Hm. Entahlah. Dia sering merona ketika aku membicarakan tentang kekasih di depannya. Apa menurutmu dia sudah memiliki kekasih?"

"Hm entahlah, mungkin iya."

"Apa itu laki-laki atau perempuan?"

"Menurutmu?" tanya Jongin asal.

"Laki-laki. Dia terlalu manis untuk berpacaran dengan perempuan. Hahahaha.." Tawa Hyorin memecah kesunyian sedangkan Jongin hanya tersenyum pahit.

Kyungsoo duduk di depan meja belajarnya. Saat ini ia sedang berada di rumahnya bukan apartemennya, ia lebih suka tinggal di rumah kecil ini ketimbang apartemen mewah yang Yi Fan berikan padanya. Apalagi jika ia ingin menenangkan pikirannya, ia akan memilih untuk diam berlama-lama di dalam rumah kayu itu.

Ketika akan membalik halaman terakhir dari buku kedelapan yang ia baca hari ini, pintu rumahnya diketuk oleh seseorang dari luar. Kyungsoo bangkit dan merasa terusik. Dia mengernyit, siapa yang berkunjung kerumahnya selarut ini, dan lagipula tidak banyak yang tahu perihal rumahnya.

"K..Kris?"

"Aku merindukanmu." Yi Fan menyerang bibir Kyungsoo begitu saja. Melumatnya dalam dan tergesa, Kyungsoo hanya pasrah dan membalas ciuman lelaki yang jauh lebih tinggi darinya itu. Mereka berciuman sambil berjalan, sesekali menabrak properti yang berdiri dengan benar.

"K..Kris? bagaimana kau_"

"Aku mengetahui apapun tentangmu Kyungie sayang." Yi Fan kembali menyerang bibir Kyungsoo, tapi kemudian KYungsoo menahannya.

"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Kyungsoo. Yi Fan terdiam, raut wajahnya berubah dan seketika ia berlutut ke tanah sambil terisak pelan. Kyungsoo merasa bersalah, ia segera mengelus pundak Yi Fan dan memeluknya erat.

"Ada apa? Katakan?"

"Ayah..ayah masih tidak mengenaliku, kemarin aku mencoba menemuinya, tapi aku mengurungkan niatku. Lalu sore tadi aku kembali menemuinya dan dia tetap menolak kehadiranku." Yi Fan menangis, dan melihat itu membuat Kyungsoo turut bersedih.

"Jangan menangis. Mungkin karena kau berubah terlalu jauh."

"Aku merindukan ayahku yang dulu, yang memanggil namaku ketika aku berkunjung kerumahnya,yang mengajariku memancing, yang memarahiku ketika aku berbuat nakal, aku merindukan ayahku Kyungsoo."

"Kris. Jangan seperti ini! Kemarilah." Kyungsoo memeluk Yi Fan dengan erat, mengelus pucuk kepala lelaki itu, hingga Yi Fan memilih untuk berbaring di paha Kyungsoo.

Kyungsoo menyanyikan sebuah lagu, lagu yang biasa ia nyanyikan untuk Yi Fan ketika mereka masih kecil dulu. Lagu yang akan membuat Yi Fan tenang dan tertidur diatas paha Kyungsoo dengan lelap.

Mata Kyungsoo berkaca-kaca, kenangan beberapa tahun silam kembali. Sudah lama ia tidak berhadapan dengan sisi lemah seorang Wu Yi Fan. Sisi yang sangat ia rindukan, sisi yang membuatnya rela melakukan apapun demi membuat Yi Fan bahagia.

"Aku ingin membalaskan dendam ayahku suatu saat nanti, Kyungie apa kau akan membantuku?"

"Tentu." Kyungsoo mengangguk. Kini keduanya tengah duduk di dalam kamar loteng milik Kyungsoo. Yi Fan bahkan masih mengenakan pakaian JHS nya, dan berbaring diatas ranjang Kyungsoo.

/

"Kyungsoo, aku ingin memberi pelajaran pada bajingan itu. Kau mau kan berpura-pura menjadi orang yang terluka? Lalu aku akan datang dan memukulnya dengan tongkat dari belakang."

"Apa kau bahagia jika aku mau melakukan itu?"

"Tentu."

"Ba-Baiklah aku mau."

/

"Kyungsoo temanku berkata jika melakukan seks itu nikmat."

"Apa?" Kyungsoo menoleh, menghentikan kegiatan membaca bukunya.

"Benar. Dia sudah mencobanya dengan kekasihnya, aku jadi penasaran."

"Tidak Kris, kita masih terlalu muda. Kau masih 14 tahun dan aku baru saja merayakan ulang tahunku yang ke-13. Jangan bertindak bodoh!"

"Tapi aku penasaran."

"Simpan saja rasa penasaranmu sampai kita dewasa nanti dan mencari wanita yang cocok."

"Hm. Tapi itu akan lama. Apa aku harus mencari kekasih saja ya?"

"Apa? Jangan! Sudah aku katakana kita masih terlalu kecil."

"Tapi temanku bilang rasanya nikmat. Kyungsoo?"

"Apa?"

"Boleh aku meminta satu permintaan?"

"Apa?"

"Lakukan itu denganku."

"Apa?"

"Aku terlalu takut untuk melakukannya dengan wanita, kata temanku tidak masalah dengan siapapun yang terpenting ada lubang yang bisa dimasuki."

"Aku tidak memilikinya."

"Kau punya. Anusmu."

"Apa? Tidak." Kyungsoo kembali mencoba konsentrasi pada buku yang ia baca, namun ketika mendengar suara pintu yang terkunci Kyungsoo menoleh dan melihat Yi Fan yang berjalan kearahnya sambil tersenyum.

"Kakek Bong sepertinya sudah tidur."

"Jangan bercanda Kris."

"Ayolah sekali saja. Aku mohon." Kyungsoo hanya lelaki lemah yang dengan mudahnya akan setuju dengan rayuan Yi Fan.

Yi Fan mendekat kearah Kyungsoo, memeluk tubuh Kyungsoo dengan lembut.

"Kau berjanji akan membantu apapun masalahku, sekarang bantu aku menghilangkan rasa penasaranku." Yi Fan berbisik, lalu mengecup leher Kyungsoo. Kyungsoo menggelinjang, jujur ia merasa jijik dan geli.

Yi Fan membawa tubuh Kyungsoo ke atas ranjang dan membaringkannya, Kyungsoo menatap kilatan nafsu dimata Yi Fan.

"Sebenarnya sudah lama, aku mengagumi tubuhmu. Kau begitu putih dan mulus, terkadang aku penasaran kau ini sebenarnya perempuan atau laki-laki."

"K..Kris?" Kyungsoo bergetar ketika Yi Fan membuka satu persatu kancing bajunya lalu mengecup dada Kyungsoo. Tangan Yi Fan bergerak pelan dan menurunkan celana rumah milik Kyungsoo. Mengelus batang kemaluan milik Kyungsoo yang masih terbungkus celana dalamnya.

"Eum.." Kyungsoo menggeliat, ketika jemari Yi Fan mengeluarkan penisnya, lalu menggerakkan tangannya naik turun. Kyungsoo merasa aneh, ia tidak pernah membayangkan penisnya dipermainkan oleh laki-laki terlebih itu Yi Fan.

Yi Fan terus menggerakan jemarinya semakin cepat, tubuh Kyungsoo terus menggeliat dan ia menutup matanya, dahinya berkeringat dan bibirnya digigit kuat. Yi Fan tersenyum ketika tangannya terbasahi oleh sperma Kyungsoo dan ia segera meraup bibir ranum milik Kyungsoo.

Mereka berciuman cukup lama, Kyungsoo kewalahan menyaingi ciuman Yi Fan yang handal, entah belajar darimana Kyungsoo sendiri tak ambil pusing.

Yi Fan membuka pakaiannya, lalu ia menyodorkan penisnya di depan wajah Kyungsoo. Kyungsoo menggeleng, ia tak mungkin memasukkan benda itu ke dalam bibirnya, tapi ketika Yi Fan memberinya pandangan memohon Kyungsoo luluh kembali.

Yi Fan menggerakan pingganggnya maju mundur, melecehkan mulut Kyungsoo hingga lelaki mungil itu nyaris tersedak.

"Ooohh….ahhh..terus Kyung..ahh.."

"Hmmpt…aoompptt..aoomppt..aoompptt.." Kyungsoo merasa mulutnya penuh, pegal dan sedikit jijik apalagi ketika cairan Yi Fan melesak ke dalam tenggorokannya hingga ia terbatuk dan nyaris muntah.

Yi Fan mengeluarkan sebuah botol dari dalam tasnya.

"Apa itu?"

"Pelumas."

"Bagaimana kau bisa memilikinya?"

"Temanku yang memberinya, katanya ini untuk mempermudah memasukkan penis ke dalam lubang anus." Kyungsoo terbelalak, jadi Yi Fan sudah merencanakan ini, pembicaraan mereka tadi hanya rekayasa, Yi Fan memang sudah berniat untuk menyetubuhinya sejak awal.

Yi Fan melebarkan paha Kyungsoo, lalu mengoleskan cairan itu perlahan hingga tubuh Kyungsoo menggelinjang hebat. Yi Fan memasukkan jarinya, lalu menggerakkan di dalam lubang Kyungsoo,seperti seorang ahli.

"Apa kau sudah mempelajari ini sebelum memintaku melakukannya?"

"Kau memang pintar Kyungsoo."

"Kau menipuku?"

"Tidak. Aku hanya menginginkan melakukannya bersamamu, aku hanya ingin kau menjadi orang yang pertama untukku Kyungsoo." Dan entah mengapa jantung Kyungsoo berdebar mendengar itu.

Semua berlalu dengan cepat, entah sejak kapan Yi Fan sudah memasukkan penisnya ke dalam lubang Kyungsoo hingga lelaki mungil itu menutup wajahnya dengan bantal, walau kakek Bong tuli tapi ia tetap takut ketahuan.

"Aaahh…ahhh…nikmat..oooohh.."

"Aakkh..aakkhh..sa..sakit."

"OOohh…oohhh..kau…sempithh dan ketaathh aaahh."

"Eung..eung…eung..Sa..kit.."

Yi Fan terus bergerak dengan liar, menggenjot lubang perawan Kyungsoo dengan ganas. Terkadang ia mengecup bibir Kyungsoo dan memperlembut permainannya, ia hanya kasihan melihat Kyungsoo yang menjadi pelampiasan hasratnya.

Mereka mencapai klimaks ketiga setelah dua jam bermain. Kyungsoo lemas, dan Yi Fan ambruk diatas tubuh Kyungsoo. Nafas mereka terengah dan ciuman lembut menjadi pengiring tidur mereka.

Kyungsoo mengingat seks pertamanya dengan jelas, setelah malam itu Yi Fan selalu mencari-cari waktu kosong untuk menyetubuhi Kyungsoo, dan sayangnya lelaki polos itu tidak bisa menolak, ia hanya takut kehilangan Yi Fan.

Kyungsoo menatap Yi Fan yang tertidur di pangkuannya, lalu tiba-tiba ponselnya bordering, ia melihat sebuah nomer yang tak ia kenal.

"Halo."

"Kyungsoo, ini aku." Kyungsoo membeku, ketika mendengar suara itu, suara yang membuatnya susah tidur semalaman.

"Ada apa?"

"Aku berada di_"

"Maaf, sepertinya anda salah sambung." Kyungsoo menjawab cepat lalu mematikan ponselnya ketika melihat pergerakan dari Yi Fan. Ia tahu Yi Fan belum tidur sepenuhnya, dan ia takut jika Yi Fan mengetahui siapa Jongin.

"Siapa?" Tanya Yi Fan tiba-tiba bangkit dari pangkuan Kyungsoo, ia memang belum tidur dan mencuri dengar percakapan Kyungsoo, tapi Kyungsoo terlalu pintar untuk dibodohi.

"Entahlah, sepertinya orang salah sambung."

"Oh begitukah."Yi Fan mengangguk paham, tapi Kyungsoo tahu Yi Fan telah mencurigainya. Ketika ponselnya kembali bordering Kyungsoo langsung gugup, tapi ketika melihat itu Hyorin ia bernafas lega dan segera menganggkatnya.

"Siapa?" Tanya Yi Fan ketika Kyungso mengakhiri percakapanny dengan Hyorin di telepon.

"Hyorin, kekasih palsu Chanyeol."

"Ada apa?"

"Dia mengatakan, jika..jika Chanyeol dirawat di rumah sakit."

"Apa? Bagaimana bisa?" Yi Fan sedikit tertawa.

"Ini berhubungan dengan Baekhyun. Yi Fan bolehkah aku bertanya?"

"Apa?"

"Apa kau yang memberikan foto-foto itu pada orangtua Baekhyun?" Tanya Kyungsoo.

"Benar."

"Kenapa Kris?"

"Seharusnya aku yang bertanya Kyungsoo, kenapa kau malah menyimpannya?"

"Aku..aku.. Kris mari kita hentikan!"

"CUKUP!" Yi Fan geram dan bangkit. Kyungsoo terkejut ketika Yi Fan membentaknya seperti itu.

"Bersiaplah, dan kita menuju rumah sakit sekarang."

Jongin dan Hyorin masih menemani Chanyeol yang belum sadarkan diri. Ketika tiba-tiba ponsel Jongin berbunyi, lalu ia izin untuk mengangkat telpon diluar.

Jongin mengangkat telepon itu ketika sudah menemukan tempat yang aman.

"Selamat malam tuan."

"Kim. Bagaimana kabar putraku?"

"Hm..Tuan muda, Tuan muda baik-baik saja."

"Oh bagus, kerjamu bagus Kim. Aku sedang berada di Amerika menghadiri acara perusahaan. Untuk saat ini ada yang ingin kau laporkan?"

"Ti..tidak tuan."

"Kenapa kau terdengar gemetar, apa kau baik-baik saja?"

"Oh, maaf aku sedikit kurang enak badan, maaf Tuan."

"Oh, kau harus menjaga kesehatanmu. Dan kau juga harus menjaga putraku."

"Baik Tuan, aku akan menjaga Tuan muda Chanyeol seperti perintah anda."

"Baiklah aku tutup dulu, aku harus pergi."

"Baik tuan, semoga hari anda menyenangkan." Jongin terkejut bukan main ketika melihat Hyorin berdiri dihadapannya ketika ia berbalik.

"Aku butuh penjelasan."

Kibum dan Jinki masih setia menemani Baekhyun yang belum juga sadarkan diri, tadi dia sempat mengingau tapi matanya tak kunjung terbuka. Jinki baru saja menemui Chanyeol dan ia semakin menyesal ketika melihat keadaan Chanyeol sama parahnya.

"Maafkan ibu sayang." Kibum berucap sambil terisak.

"Setelah kau bangun, ibu akan mengabulkan apapun keinginanmu, jangan seperti ini, jangan tinggalkan ibu."

"Tidak, Baekhyun adalah anak yang kuat. Dia pasti akan segera sadar." JInki menenangkan.

Seorang laki-laki dengan kemeja putih dan jeans biru sedang duduk di dalam diskotik. Ia benar-benar terlihat tampan, dan menarik perhatian beberapa pengunjung disana. Ia meminum minuman beralkohol itu dengan santai sambil memperhatikan sekeliling, mencari mangsa baru yang bisa ia gunakan.

Tapi aktifitasnya terganggu ketika ponselnya bergetar.

"Halo ada apa?"

"Yak! Dimana sopan santunmu? Dan apa itu? Kau berada di diskotik lagi? Astaga Sehun! Cepat pulang sekarang!"

"Tidak. Aku malas."

"Aku akan melaporkan ini pada ayahmu agar kartu kreditmu ditahan."

"Apa? Tidak Bu! Hentikan mengacamku dengan candaan murahan seperti itu."

"Candaan murahan katamu? Baik akan ibu tunjukan seberapa murahannya ucapan ibu. Jika kau tidak pulang dalam 30 menit, namamu akan ibu coret dari daftar keluarga."

"IBU!"

Tuut..tuut..tut

Sehun melempar ponselnya kasar, lalu beberapa menit kemudian ia meraihnya lagi dan segera berjalan keluar dari tempat bising itu dengan wajah kesal.

Luhan menghentak-hentakkan kakinya kesal, ia sudah ratusan kali menghubungi adiknya, tapi tidak tersambung. Ia menggerutu kesal, jika saja Yi Fan tidak melarangnya untuk membawa mobil, maka ia tak perlu menunggu jemputan lelaki tinggi itu.

"Ah terpaksa aku harus naik taksi." Ucap Luhan. Ia berjalan meninggalkan butiknya, lalu berjalan santai untuk mencari taksi. Luhan beruntung melihat taksi yang berhenti di seberang jalan, jadi ia menungu lampu hijau untuk pejalan kaki menyala.

Luhan sedikit bersiul ketika akan menyebrang, dan tiba-tiba sebuah sorotan lampu membuatnya menoleh, sebuah mobil melaju cukup kencang dan setelahnya hanya terdengar sebuah teriakkan warga dan tubuh Luhan yang ambruk.

Luhan mengerjap dan kepalanya terasa pusing ketika melihat cahaya lampu di ruangan yang serba putih itu. Luhan bangkit dan mengecek keutuhan tubuhnya, ia bersyukur semuanya utuh walau dahinya diperban dan kakinya terasanya sakit.

"Ibu, aku baru saja menabrak seseorang. Aku mohon kesini sekarang, aku ada dirumah sakit dan beberapa polisi bersamaku." Luhan mendengar sebuah suara di luar ruangannya.

Luhan memilih berbaring lagi, tidak memperdulikan kekacauan diluar. Dan matanya kembali terbuka beberapa menit setelah mendengar suara seorang wanita juga.

"Ibu sudah katakan padamu berulang kali, jangan mengebut ketika membawa mobil. Ibu memberikanmu fasilitas dan seharusnya kau bisa menjaganya dengan baik. Bahkan kau belum memiliki surat izin mengemudi."

"Jangan ceramahi aku sekarang! Yang penting ibu urusi petugas ini, aku tidak mau ditahan."

"Astaga kau ini! Selalu membentak ibumu. Oh polisi, begini." Luhan tak mendengar dengan jelas lagi, karena sepertinya mereka menjauh. Luhan berdecih pasti kedua orang itu telah melakukan penyuapan. Dan apa tadi, pelaku penabraknya adalah anak dibawah umur. Luhan semakin berdecih kesal.

"Astaga, kau benar-benar merepotkan, kalau sampai ayahmu tahu habislah kau." Luhan kembali mendengar suara kegaduhan itu.

"Makanya jangan sampai ayah tahu."

"Astaga! Kau membentak ibu lagi."

"Salah ibu sih, kenapa cerewet sekali."

"Jika ibu tak cerewet kau tak akan mau mendengarkan ibu. Sekarang masuk ke dalam dan minta maaf pada orang yang telah kau tabrak."

"Aku tidak mau."

"Astaga! Kau benar-benar keras kepala."

"Masuk sekarang atau kau benar-benar ibu coret dari daftar keluarga."

"IBU~" Luhan terkikik mendengar keributan diluar, dan pertengkaran antara ibu dan anak yang lucu.

Pintu kamar terbuka dan Luhan membulat ketika melihat seorang wanita masuk dengan jaket berbulu yang terlihat mahal, lalu tas jinjing dengan merk terkenal. Bahkan gaun yang dikenakan wanita itu, Luhan bisa mengenalinya itu adalah gaun rancangannya yang hanya ada terbatas, jadi Luhan bisa tahu jika wanita ini bukanlah wanita sembarang, lebih tepatnya wanita kalangan atas.

"Oh selamat malam. Perkenalkan aku adalah ibu dari orang yang telah menabrakmu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap wanita itu ramah. Luhan tertawa sungkan, rencana awalnya hendak marah pun hilang.

"Apa kau baik-baik saja? Aku harap kau tidak menuntut kami, aku yang salah karena memanjakannya."

"Hm. Tidak apa-apa aku rasa aku hanya mengalami luka kecil. Tidak masalah Nyonya."

"Ah kau benar-benar baik. Siapa namamu cantik?"

"Ma..maaf?"

"Siapa namamu nona?"

"Maaf tapi aku laki-laki." Luhan menjawab dengan kikuk, bagaimana bisa ia disangka perempuan untuk yang kesekian kalinya, Luhan muak tapi ia tidak mungkin marah di depan orang yang lebih tua darinya, Luhan juga memiliki sopan santun.

"Astaga, aku sempat ragu tadi, aku pikir kau adalah gadis tomboy. Maaf."

"Ti..tidak apa-apa."

"Dimana orangtuamu?"

"Me..mereka di Cina." Luhan menyahut ragu.

"Lalu kau tinggal dengan siapa disini?"

"Adikku."

"Tanpa pengawasan orangtua?"

"Ma..maaf. Aku sudah berusia 24 tahun Nyonya."

"Apa? Astaga, aku salah lagi. Maaf kau terlihat muda dimataku, aku pikir kau masih belasan tahun. Maafkan aku sekali lagi."

"Ti..tidak apa-apa."

"Lalu siapa namamu, kau belum menjawabku."

"Aku Xi Luhan."

"Pekerjaanmu?" Luhan tersenyum. Lalu menunjuk gaun wanita di depannya, membuat wanita itu bingung.

"Gaun itu adalah salah satu rancanganku."

"APA!?" wanita itu berteriak histeris, membuat Luhan tersenyum kikuk.

"Oh astaga. Aku bertemu dengan designer dari merk langgananku. Astaga, aku benar-benar beruntung. Maafkan putraku yang telah mencelakaimu."

"Hahaha… tidak apa-apa nyonya."

"Ah, kemana perginya anak itu? Tunggu aku akan memanggilnya." Ucap wanita itu lalu segera keluar. Luhan hanya tersenyum, ia mendapat hiburan tersendiri.

"Cepat masuk! Ibu tidak main-main dengan ucapan ibu." Luhan sedikit merinding mendengar ancaman itu, lalu setelahnya ia melihat pintu itu terbuka kembali.

"Hehehe.. maaf menunggu." Luhan membalas senyuman itu.

"Cepat masuk!"

Luhan nyaris tersedak ludahnya sendiri ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya sambil tertunduk.

"Kau!"

"Dia putraku. Oh Sehun."

"Apa?"

"A..aku." Sehun masih gugup, ia sama sekali tak berani menatap kearah Luhan.

"Bajingan!" Baik Sehun maupun ibunya terkejut bukan main melihat kemarahan Luhan.

"Ma..maaf?" ibu sehun ambil bicara.

"Putramu ini bajingan dan brengsek nyonya. Dia meniduri banyak orang dan membuangnya begitu saja, dia juga telah mempermalukanku di depan umum, dia menghinaku di depan banyak orang."

"APA!" Sehun hanya pasrah ketika melihat kemarahan ibunya.

"Dengan tidak mengurangi rasa hormatku, sebaiknya kalian pergi dari sini!" ucap Luhan akhir sambil menatap Sehun penuh amarah, sedangkan Sehun menatap Luhan bersalah.

Sehun duduk di dalam mobil bersama ibunya, mobilnya ditahan oleh ibunya beberapa menit yang lalu dan sekarang ia harus pasrah untuk satu mobil dengan ibu cerewetnya.

"Kau benar-benar mempermalukan ibu."

"Tapi_"

"Bagaimana bisa kau menghina orang penting seperti Xi Luhan di depan umum hah?"

"Tapi dia yang menyiram_"

"Jangan banyak alasan! Ibu yakin Xi Luhan adalah orang yang baik, pasti kau yang berulah duluan padanya."

"Aku tidak_"

"Jangan membantah! Astaga, ibu benar-benar malu. Kau benar-benar keras kepala, kau menuruni sifat itu dari keluarga Park."

"Berarti dari ibu."

"Diam!"

"Tidakkah kau bisa menjadi anak seperti Chanyeol? Walaupun keras kepala tetapi dia tidak pernah membuat masalah?"

"Jangan membandingkanku dengan Chanyeol."

"Panggil dia hyung, bagaimana pun dia lebih tua beberapa bulan darimu. Kalian ini sepupu, tapi kenapa kau sangat nakal hah? Ibu membawamu balik ke Korea atas perintah kakekmu. Tapi baru saja disini kau sudah membuat masalah. Beberapa lagi surat kepindahanmu akan selesai dan kau sudah bisa mulai sekolah."

"Baik."

"Disekolah yang sama dengan Chanyeol."

"Apa?"

"Jangan membantah!"

"Ibu~"

"Jangan merengek!Sekarang hadapi ayahmu! Ibu sudah memberitahunya."

"Apa? Kenapa ibu mengatakannya?"

"Karena kau sudah mempermalukan ibu. Dan kau tidak boleh tidur diapartemenmu malam ini."

"Apa?"

"Apa!Apa!Apa! sejak tadi kau selalu mengulang kata itu. Tidak ada bantahan jika masih ingin menjadi anak ibu."

Hyorin menatap tak percaya ke arah Jongin. Ia tak menyangka jika Jongin adalah mata-mata yang dikirim Yunho untuk mengawasi Chanyeol.

"Maafkan aku. Aku membohongimu."

"Kau membohongi Chanyeol."

"Maaf. Aku telah berjanji akan menjaganya bagaimanapun caranya. Tolong jangan katakan ini padanya Hyorin. Aku begitu bahagia bisa berada di dekatnya seperti saat ini, dan aku tak ingin hanya melihatnya dari jauh seperti dulu."

"Aku mengerti."

"Terima kasih."

"Jongin." Jongin menoleh ketika melihat Kyungsoo yang berdiri di depan pintu.

"Kyungsoo kau datang?"

"Hyorin yang memberitahuku. Dan, dan aku membawa seorang teman." Kyungsoo membuka pintu itu sedikit lebar, wajah Kyungsoo terlihat terpaksa dan pasrah.

Jongin dan Hyorin tercekat.

"Kau! Apa yang kau lakukan disini?" Hyorin kesal dan mendekat kearah Yi Fan.

"Aku hanya ingin melihat keadaan Chanyeol, kebetulan aku dan Kyungsoo adalah teman lama. Dan ketika mendengar Chanyeol masuk rumah sakit aku meminta ikut. Aku menyesal tentang pertandingan itu, dan untuk itu aku menebusnya." Yi Fan memulai aktingnya.

Jongin menatap Kyungsoo tak percaya, dan Kyungsoo kembali menunduk ketika melihat raut kecewa Jongin.

"Chanyeol butuh istirahat, jadi sebaiknya kalian pulang." Jongin berucap dingin.

"Hei! Slow teman. Aku hanya ingin menjenguknya_"

"AKU BILANG_"

"Jongin." Hyorin memegang pundak Jongin, dan memberi isyrat untuk membiarkan Yi Fan berada di kamar itu. Sedangkan Jongin hanya mendesah pasrah, pasalnya Hyorin belum tahu jika Yi Fan adalah orang yang selalu mencelakai Chanyeol selama ini.

Jongin menatap nyalang kearah Kyungsoo yang hanya berdiri mematung di sisi kiri Chanyeol. Lalu menatap waspada ke arah Yi Fan yang sejak tadi selalu menatap Chanyeol dengan seringaian.

"Baek..baekhyun.." tiba-tiba suara itu mengalihkan pandangan mereka. Chanyeol mengeluarkan suara yang pelan, dan jemarinya mulai bergerak.

Jongin segera menekan tombol pemanggil diatas ranjang Chanyeol dan Hyorin tersenyum senang.

"Baek..baekhyun.." kembali Chanyeol berucap.

Sehun duduk di dalam kamarnya yang berantakan, dia baru saja selesai mengamuk ketika ayahnya membuat keputusan jika 4 dari 5 kartu kreditnya ditarik. Dan mobilnya ditahan selama 1 minggu.

"Brengsek! Brengsek!" Sehun menggerutu kesal,lalu melempar tubuhnya keatas kasur.

"Siapa yang kau katai brengsek?" betapa terkejutnya Sehun ketika melihat ibunya sudah berada di pintu kamarnya, ia terlalu ceroboh untuk tidak menutupnya.

"Ibu akan meringankan hukumanmu."

"Benarkah?"

"Tapi dengan sebuah syarat?"

"Astaga! Ibu benar-benar keterlaluan, apapun yang ibu berikan padaku selalu dengan syarat."

"Baiklah jika kau tak ingin dengan syarat, maka ibu akan membuat ini menjadi sebuah taruhan."

"Apa?"

"Jika kau bisa melakukannya, ibu akan mengembalikan mobilmu, juga semua kartu kreditmu, ditambah_" Eunhyuk menjeda kalimatnya.

"Kau boleh mengganti mobilmu dengan mobil keluaran terbaru seperti milik Chanyeol."

"Ibu serius?" Tanya Sehun sumringah dan Eunhyuk mengangguk.

"Tapi jika kau gagal, maka semua fasilitasmu ibu tarik selamanya dan juga kau harus tinggal di rumah ini bersama ibu dan ayah."

"Apa? Kenapa ibu kejam sekali?"

"Terserah padamu, itu adalah taruhan yang menarik. Jika ibu jadi kau ibu akan menerimanya, lagipula itu tidak sulit."

"Katakan apa!" Sehun berucap ketus.

"Dapatkan maaf dari Xi Luhan dan buat ia menyukaimu, lalu bawa dia kerumah ini karena ibu ingin mengenalkannya pada teman-teman ibu."

"Apa?"

"Ooh astaga ibu tak membayangkan betapa irinya teman-teman ibu nanti ketika mengetahui aku memiliki kenalan seorang designer dengan brand terkenal." Eunhyuk mulai berkhayal dan sesekali terkikik.

"IBU!"

"APA!" Eunhyuk membentak balik ketika khayalannya dirusak.

"Jangan lakukan ini padaku. Berikan aku taruhan yang lain."

" .tidak. Ini sudah harga mati."

"Ibu~"

"Jangan merengek!"

"Aku akan memberitahu ayah soal ini. Jika istrinya telah bertindak diluar batas, ini adalah bentuk penyiksaan mental terhadap anak dibawah umur, aku bisa saja menuntut ibu."

"Silahkan saja! Ibu tidak masalah. Yang perlu ibu lakukan hanya mengambil pulpen dan mencoret namamu dari anggota keluarga."

"Ibu~"

"Diam! Dan sekarang makanlah! Masakan sudah siap."

"Aku tidak lapar."

"Terserah padamu. Hohoho..astaga aku tidak membayangkan betapa irinya mereka nanti. Hihihihi." Eunhyuk masih melanjutkan khayalannya sambil menutup pintu Sehun.

Sehun mengacak rambutnya asal, dia benar-benar kesal. Meminta maaf pada Luhan sama saja dengan menjilat ludahnya sendiri. Astaga, Sehun benar-benar gila sekarang.

Luhan duduk di dalam mobil dan terdiam, sedangkan Yi Fan sibuk memasang sabuk pengaman.

"Bagaimana bisa gege kecelakaan?"

"Seorang pengendara bodoh menabrakku."

"Heuh. Untung lukamu kecil."

"Hm. Ini semua salahmu karena tidak mengangkat telponku."

"Maaf, aku ada sedikit urusan kemarin dan ponselku tertinggal di dalam mobil."

"Dan bagaimana bisa kau berada di rumah sakit juga?"

"Aku menjenguk temanku yang sakit. Dia tidak sadarkan diri, dan sekarang dia sudah siuman."

"Siapa?"

"Hanya seorang kenalan. Dan sekarang ayo pulang, atau kau mau makan dulu? Aku lihat perasaanmu kurang bagus hari ini. Ada apa?"

"Aku bertemu pria brengsek lagi, dan aku tertipu. Dia hanya anak sekolahan yang bodoh, astaga bisa-bisanya aku mengira dia berusia 30 tahun."

"Apa pria yang sama dengan yang di caffe itu?"

"Hm."

"Sepertinya takdir mengikat kalian, kalian selalu bertemu diberbagai situasi." Luhan menatap tajam kearah Yi Fan dan Yi Fan hanya tersenyum sambil mengusak rambut kakaknya.

"Yak! Aku bilang lepaskan..ugh..ugh.." Luhan mendorong tubuh Sehun yang hendak melepaskan celananya, wajah Luhan memerah dan ia terus cekukan sejak tadi.

Sehun tak tinggal diam, ia segera menarik kaki Luhan hingga tubuh Luhan benar-benar dekat di sisi ranjang. Luhan menatap Sehun dengan raut wajah kesal, mabuk, pasrah dan sedikit menggoda.

"Ugh..ugh..Aku mau ." Luhan mencoba bangkit tapi Sehun kembali mendorong tubuhnya hingga Luhan terlentang, lalu ia membuka satu persatu pakaian Luhan dan melemparnya asal.

"Diam. Astaga kau merepotkan sekali." Sehun berseru sambil tetap menggagahi pakaian Luhan.

"Ugh..ugh.. apa yang ingin kau..ugh lakukan?" Tanya Luhan teler sambil menatap Sehun dan itu membuat Sehun semakin terangsang.

"Memperkosamu."

"Ap..ugh..pa? Kau ingin memperkosaku? Tidak." Luhan menutup dadanya dengan tangan.

"Kau laki-laki, dan ugh..aku juga laki-laki, jadi..mmpphhtt." Sehun langsung meraup bibir Luhan dengan ganas, lalu melepas paksa celana Luhan dengan satu tangannya. Luhan menerima ciuman Sehun tanpa menolak, walau ia bergerak gelisah dan terkadang nyaris ambruk.

"Kau benar-benar berisik." Ucap Sehun lalu melepaskan celananya juga. Sehun bangkit dari atas ranjang dan mengeluarkan sebuah botol dari dalam almarinya. Ketika Sehun akan kembali berjalan ke ranjang Luhan terduduk dan menatap junior Sehun.

"Owaahh.. Punyamu kenapa besar? Ugh.. sedangkan punyaku .. tak adil ugh…sejak dulu aku selalu mendapat hal-hal kecil ugh.." Luhan menunjuk penis Sehun yang tergantung bebas dengan wajah tersenyum dan memerah, bahkan matanya terlihat nyaris tertutup.

"Kau ingin sesuatu yang besar?" Luhan mengangguk imut, Sehun tersenyum dan berjalan kearah ranjang.

"Maka menunginglah, sesuatu yang besar itu akan masuk ke dalammu." Luhan yang setengah sadar membalik tubuhnya dan menungging kearah Sehun.

"Seperti ini?" Sehun meneguk ludahnya melihat lubang kecil berwarna merah muda dan sedikit berkerut itu terpampang jelas di depan matanya.

"Benar. Goyangkan seperti anak anjing." Perintah Sehun lagi, dan benar Luhan menggoyangkannya, benar-benar membuat Sehun terangsang tingkat atas.

Tanpa basa-basa Sehun lalu mendekat kearah ranjang dan memasukan jarinya yang telah diberi pelumas.

"Aakh..sakit." Luhan berseru sambil menoleh kebelakang.

"Tidak ini nikmat, kau akan menyukainya nanti."

"Aakkh..aakkhh…sakit." Luhan terus meringis ketika Sehun mempermainkan lubang ketat Luhan.

"Tidak sayang ini nikmat. Mendesahlah untukku!" Sehun mengocok penisnya agar semakin menegang, dan ketika jarinya ia tarik keluar dari lubang Luhan giliran penisnya yang mengambil alih. Luhan meringis menahan sakit.

"Aaahh..ooohh..aaahh…oohh…ternyata bermain dengan laki-laki lebih nikmat. Jika tahu akan senikmat ini aku tak akan memasukkan penisku ke dalam vagina yang melar itu." Ucap Sehun sambil menggerakan tubuh bagian bawahnya dengan tempo pelan.

"Aaahhh…hentikan…aaaahh..sakit." Luhan meringis dan tubuhnya tersentak sesuai irama. Sehun mengecup punggung mulus Luhan dan meninggalkan beberapa tanda disana, lalu menarik wajah Luhan kebelakang dan mencium bibir itu dengan penuh nafsu.

"Ooohh..ahhh…aaahh…"

"Hhmm..eeungg…eungg.." Luhan menutup matanya ketika gerakan Sehun ditubuh bagian bawahnya semakin menggila.

"Teruss..oohh..lebih dalam..aaahh.."

"BAgus…kau mulai menyukainya cantik?"

"Hmm..enak..aah..terus..aaah..ahh."' Sehun menuruti Luhan dan dia berbangga karena Luhan akhirnya menyukai permainannya.

"Ooh..oohh..disanahh…aahhhh.."

"Disini? Aahh..aahh..aku mendapatkanmuuhh.. oohh yeaahh…aaahh."

"Aaahh.." Luhan menjemput orgasmenya hingga membasahi sprei Sehun, lalu disusul Sehun yang mendesah nikmat di delapan tusukan terakhir.

Nafas mereka berbalapan, dan tubuh mereka berkeringat. Luhan membaringkan tubuhnya diatas kasur, ia merasa lelah dan mengantuk, tapi Sehun menahannya dan membalik paksa tubuh Luhan hingga terlentang.

Luhan meringis, tapi Sehun mengerang nikmat. Ia merasakan ada sensasi berbeda ketika penisnya diperas oleh lubang Luhan.

"Karena aku rasa kau masih perjaka, baik kali ini dua ronde saja." Ucap Sehun lalu mengecup bibir Luhan lalu menyedot kuat putting menegang milik Luhan. Luhan mendesah dengan mata tertutup ia lelah dan sepertinya rasa kantuk nyaris menjemputnya.

"HHmm..hhmm.." Luhan tersentak ketika Sehun bergerak liar, Luhan masih setengah sadar tapi matanya sudah tertutup.

"Aaahh..aahh..kenapa nikmat begini? Aaahh…oohh.."

"Eug…eung…terusshh..hmm..nyammm..nyamm.." Luhan seperti mengigau, tapi Sehun tetap menggila dibawah sana. Ia mengangkat kedua paha Luhan dan meletakkanya diatas pundaknya, agar penisnya semakin tertancap dalam.

"Ooohh…ooohh..kau nikmat jalang..ahhh.." Sehun membuka dan menutup matanya, tapi tetap setia menggenjot lubang Luhan yang baru saja ia perawani.

"Brengsek..aahh..nikmat..aahhh..ahhh.."

"Eeung..eungg..hmm.." Luhan mendesah dalam tidurnya, dahinya berkerut dan tubuhnya bergerak naik turun.

"Sedikit lagi..ooohh..oohh..Haaah.." Sehun mengerang nikmat ketika spermanya kembali menyembur ke dalam lubang Luhan.

"Hah." Ia berbaring disamping Luhan, lalu mengecup pipi itu sekilas, dan kemudian menyelimuti diri mereka berdua.

Sehun mengacak rambutnya ketika mengingat peristiwa malam itu. Ia adalah tipe orang yang sangat menyukai seks semalam, tapi untuk pertama kalinya ia mengingat dengan jelas potongan demi potongan persetubuhannya dengan lelaki cantik bernama Luhan itu.

"Sial! Kenapa aku malah membayangkannya?" Sehun frustasi.

"Dia benar-benar seperti virus dalam hidupku, dia telah merusak segalanya." Gerutu Sehun lagi, lalu menutup wajahnya dengan bantal.

Baekhyun menerima suapan bubur yang ibunya berikan. Tubuhnya masih lemah, ia baru membuka mata beberapa jam yang lalu. Ia terus merengek ingin bertemu Chanyeol, tapi ketika ibunya berkata ia boleh bertemu setelah menghabiskan makanannya Baekhyun menurut dan memaksakan makanan itu masuk ke dalam mulutnya.

"Ibu, maafkan aku." Ucap Baekhyun sambil menundukan wajahnya dengan kunyahan pelan. Kibum diam, jujur sebenarnya dia masih sensitive dengan hal ini, bagaimanapun dia masih belum rela anaknya menjadi menyimpang.

"Maaf tidak bisa menjadi anak seperti yang ibu dan ayah inginkan."

"Makanlah." Kibum mengalihkan perhatiannya dengan menyuapkan bubur itu kemulut Baekhyun lagi.

"Aku kenyang."

"Kau lupa dengan perjanjian kita?" dan akhirnya Baekhyun membiarkan benda kenyal itu masuk ke dalam mulutnya lagi.

"Aku begitu mencintainya bu. Aku juga tidak ingin menjadi menyimpang, aku juga ingin menjadi anak normal lainnya. Tapi ketika itu, ketika jantungku berdetak melihat Chanyeol, ketika setiap malam aku memimpikan dia sejak itu aku tahu bahwa aku tidak seperti anak laki-laki pada umumnya." Baekhyun menatap ibunya yang masih tidak mau beradu pandang, mengaduk-ngaduk bubur Baekhyun rasa lebih menarik untuk ibunya ketimbang menatap matanya.

"Jantungku selalu berdebar ketika melihatnya. Kami berada dikelas yang sama untuk dua tahun tapi aku tidak pernah sama sekali menyapanya, karena aku takut dia akan tahu bahwa aku memiliki perasaan padanya." Baekhyun mulai terbawa suasana.

"Lalu siang itu, dia merenggut keperjakaanku." Kibum melotot kearah Baekhyun.

"Jangan kaget bu, aku dan Chanyeol sudah melakukan itu jauh sebelum kami menjadi kekasih. Tapi_" Baekhyun menjeda, ia menghela nafas.

"Tapi ketika aku menyatakan perasaanku dia berkata bahwa dia normal, dan meniduriku hanya karena penasaran. Aku malu bu, aku benar-benar terlihat murahan. Tapi aku tahu, mengakui penyimpangan orientasi seks yang kita miliki adalah hal tersulit, jauh lebih sulit daripada menyembunyikan sebuah masalah dari ibu." Baekhyun tersenyum kearah Kibum, Kibum menatap putranya iba.

"Tapi Tuhan menyayangiku. Chanyeol membalas perasaanku dan kami menjadi sepasang kekasih tapi tidak ada yang mengetahui itu, kecuali Hyorin."

"Hyorin? Tapi bukankah?"

"Tidak. Hyorin hanyalah tunangan palsu Chanyeol. Gadis baik itu memiliki kekasih lain, ia dan Chanyeol terlibat perjanjian. Hyorin dan Chanyeol sama-sama terpaksa menjalani itu demi kedua orangtua mereka. Dan karena itu Chanyeol sangat tersiksa."

"Lanjutkan!"

"Ibu tahu? Ayah Chanyeol sangat keras, aku pernah mendengar pertengkaran mereka dan Chanyeol menangis setelah itu. Ibu tahu wajahnya sangat lucu ketika menangis, sangat manja. Hahaha.." Baekhyun tertawa dan itu membuat Kibum menyunggikan senyumnya.

"Jadi seberapa besar kau mencintai Chanyeol?" Tanya Kibum.

"Ibu bisa lihat luka ditanganku. Bahkan hidupku belum cukup untuk mengungkapkan itu." Kibum menghela nafas.

"Ibu jadi_" Baekhyun menjeda ucapannya masih takut-takut melihat raut wajah ibunya.

"Baekhyun." Suara itu mengalihkan perhatian mereka berdua. Baekhyun tersenyum senang melihat sosok Chanyeol berada di depan mereka dengan sebuah kursi roda dan Jinki mendorongnya dari belakang.

"Chanyeol." Baekhyun berseru senang, rasanya ia ingin sekali melompat dan memeluk Chanyeol jika saja jarum infus itu tidak menghalanginya.

"Chanyeol berkata ingin bertemu denganmu." Jinki berucap lalu mendorong Chanyeol lebih mendekat, lalu ia berpindah ke sisi kaki Baekhyun. Kibum bangkit dan berdiri disamping suaminya.

Chanyeol mulai berkaca-kaca, ia menjulurkan tangan bebasnya, lalu menyentuh pipi Baekhyun, mengelus pipi iu sayang sedangkan Baekhyun menutup matanya sambil tersenyum.

"Anak nakal." Chanyeol berucap dengan suara yang dalam. Baekhyun membuka matanya dan menatap Chanyeol.

"Untung saja Tuhan tidak mengambilmu dariku, jika kau benar-benar kehabisan darah aku tidak akan bisa bertemu denganmu." Chanyeol berucap serius, Baekhyun memajukan bibirnya sambil menunduk.

"Maaf." Ucapnya menyesal. Dan betapa Chanyeol, Jinki dan Kibum juga terkejut ketika melihat pundak Baekhyun bergetar.

"Sayang? Kau menangis? Hei! Aku hanya bercanda, aku tidak benar-benar marah padamu." Chanyeol meraih dagu Baekhyun dan mengangkatnya. Mata Baekhyun memerah, hidungnya juga dan bibir mungil itu melengkung kebawah.

"Maafkan aku sayang. Jangan menangis!"

"Aku..aku..tak tahu harus berbuat apa. Aku hanya tak mau dipisahkan darimu. Aku… .." Baekhyun menangis kembali, Chanyeol mendekatkan wajah Baekhyun kearahnya, lalu mengecup bibir itu lama. Dan beberapa detik kemudian kecupannya berubah menjadi lumatan.

Chanyeol melakukannya dengan perlahan, melumat bibir mungil itu dengan perlahan dan dalam. Mata mereka tertutup dalam, Baekhyun masih terisak tapi ia membalas lumatan Chanyeol dengan sungguh-sungguh.

"Ekhem." Tautan mereka terlepas, dan mereka menjauh dengan wajah malu. Mereka melupakan kehadiran Kibum dan Jinki, dan dehaman dari Jinki barusan menyadarkan kesenangan mereka.

"Aku belum berkata jika aku merestui kalian." Baekhyun dan Chanyeol melotot kearah Jinki.

"Ayah~" Baekhyun merengek.

"Aku hanya berkata kau boleh menemui putraku, Chanyeol dan kau Baekhyun! Kau juga boleh menemui Chanyeol setelah makan. Hanya menemui bukan memberikan restu." Baekhyun dan Chanyeol sama-sama bungkam.

Lalu Baekhyun meraih tangan Chanyeol, dan menggenggamnya erat sambil menatap kearah ayahnya dengan tatapan tajam.

"Ayo Chanyeol kita pergi darisini." Ucap Baekhyun,dan Chanyeol menatap terkejut.

"Mau kemana?" Tanya Jinki.

"Aku akan melompat dari atap gedung bersama Chanyeol." Baekhyun sudah menyampingkan selimutnya. Chanyeol menatap Jinki, dan Jinki menatap Chanyeol.

"Ayo Chanyeol!"

"Tidak. Aku tidak mau." Baekhyun terkejut mendengar penolakan Chanyeol, bahkan tangannya dihempaskan pelan.

"Chan..Chanyeol."

"Benar yang dikatakan ayahmu."

"Chan..hiks..hiks.." Baekhyun menangis lagi, ia menangis tersedu. Wajahnya tertunduk dan memerah, belum lagi air matanya yang turun dengan deras membasahi pipi putihnya.

"Hahaahahaha…" Tawa itu membuat tangisannya pecah, itu suara ayahnya dan Chanyeol.

"Astaga, anak ayah cengeng sekali. Ayah hanya bercanda."

"AYAH!" Baekhyun membentak kasar dan Jinki tetap tertawa, bahkan Kibum juga.

"Kau sungguh manis Baek, hahahaha… kami hanya berakting.. hahaha.. ayahmu yang memintanya tadi ketika kami berjalan di koridor.. kau lucu sekali.. hahaha.." Baekhyun menatap Chanyeol tajam, dan tawa Chanyeol tiba-tiba tertelan.

Kibum menyenggol perut Jinki, dan Jinki langsung berhenti ketika melihat Baekhyun menatap Chanyeol kesal.

"Ekhem.. se..sepertinya urusan kami sudah selesai. Ayah dan ibu mau mencari udara segar diluar dulu." Jinki berucap kikuk sambil menarik istrinya untuk keluar.

Chanyeol menelan ludahnya kasar, Baekhyun benar-benar menyeramkan saat ini.

"A..aku hanya..aakkhh.." Chanyeol memekik ketika Baekhyun menjambak rambutnya.

"Sakit baek.. aww..aww.."

"Biarkan saja! Siapa suruh mengerjaiku, jantungku rasanya berhenti berdetak tadi. Rasakan ini Chanyeol idiot."

"Aawww..Baek..hentikan. Aaahh." Tiba-tiba Chanyeol memegang perutnya. Baekhyun menghentikan acara menjambaknya dan menatap wajah meringis Chanyeol yang memegang perutnya.

"Chan..Chanyeol? astaga maafkan aku. Apa itu sakit? Mana yang sakit?" Tanya Baekhyun panic.

"Ini." Chanyeol menunjukan kearah selangkangannya sambil tertawa, lalu ia segera memundurkan kursi rodanya sebelum Baekhyun menjambaknya lagi.

"Dia sakit karena merindukanmu Baek."

"Dasar mesum. Mana sini biar kukebiri dia." Bentak Baekhyun, dan Chanyeol hanya menjulurkan lidahnya karena Baekhyun tidak bisa meraihnya.

Hari semakin sore, Chanyeol dan Baekhyun masih setia menatap matahari terbenam dari taman rumah sakit. Chanyeol duduk diatas kursi rodanya, sedangkan Baekhyun duduk dipangkuan Chanyeol dengan posisi menyamping.

Perawat sudah menawari kursi roda lain tapi Baekhyun berkata dia hanya mau diatas pangkuan Chanyeol, dan Kibum maupun Jinki hanya menuruti kemauan anaknya itu.

Baekhyun menyenderkan kepalanya didada Chanyeol sambil menatap kearah matahari sore itu. Tangan berinfusnya menunjuk kearah matahari.

"Indah ya Chanyeol."

"Hm. Tapi jauh lebih indah dirimu."

"Berhenti membuatku mual. Kau tidak pandai merayu."

"Benarkah? Sepertinya aku harus belajar lagi."

"Tidak. Nanti kau akan merayu orang lain selain aku."

"Hahaha.. kau benar-benar manis sayang." Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun dan mengecup rambutnya.

"Chanyeol?"

"Hm."

"Aku tak menyangka akhirnya kita mendapatkan restu mereka."

"Aku juga sama. Tuhan menyayangi kita sepertinya."

"Hanya tinggal restu dari ayahmu." Ucap Baekhyun sambil memainkan jemari Chanyeol.

"Huh. Baekhyun?"

"Hm?"

"Berjanjilah padaku, bahwa apapun yang terjadi kau akan selalu berada disisiku dan tak akan meninggalkanku."

"Aku sudah melakukannya, lagipula aku sudah berjanji pada ibumu."

"Ibuku?" Chanyeol mengernyit, Baekhyun menolehkan wajahnya untuk menatap Chanyeol. Chanyeol menunduk untuk menatap Baekhyun.

"Hm. Beliau datang ke dalam mimpiku. Benar-benar cantik Chanyeol, pantas saja kau tampan." Chanyeol tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun.

"Jangan disini! Orang-orang akan mengira yang macam-macam."

"Siapapun akan tahu jika kita adalah sepasang kekasih, melihat posisi kita sekarang." Ucap Chanyeol lalu kembali mengecup bibir Baekhyun. Baekhyun menarik tengkuk Chanyeol, dan menciumnya dalam.

Mereka membagi kerinduan dan cinta mereka dalam ciuman lembut dan hangat itu. Chanyeol memainkan lidah Baekhyun dan terkadang menyedotnya. Sedangkan Baekhyun mengimbangi permainan Chanyeol, dia sudah cukup ahli sekarang.

"Baekhyun, sepertinya ada tamu tak diundang berpartisipasi disini." Ucap Chanyeol, Baekhyun memukul lengan Chanyeol.

"Tidak. Tidurkan dia!" bentak Baekhyun.

"Bagaimana bisa? Kau terus bergerak diatasku, itu memberikan stimulasi untuknya."

"Tidurkan! Atau aku potong jadi dua bagian." Ucap Baekhyun sedikit mengancam.

"Mau mencoba diatas kursi roda? Kita belum pernah melakukannya bukan? Sensasi aaakkkhh.." Chanyeol memekik ketika Baekhyun menjambak rambutnya lagi.

"Kau benar-benar mesum, kita bahkan baru saja selamat dari kematian dan kau dengan mudah berkata ingin melakukan seks? Jangan gila Chanyeol!"

"Astaga Baek, rambutku bisa rontok jika begini, saakit.."

"Biarkan saja! Siapa suruh mesum!"

Hyorin dan Jongin melihat dari lantai atas, dari kamar Chanyeol, mereka berdua tersenyum.

"Aku harap Chanyeol mendapatkan kebahagiannya secara utuh." Ucap Hyorin.

"Tidak. Masih ada ujian yang harus mereka lewati terlebih dulu." Jongin tersenyum kearah Hyorin yang menatap dirinya.

"Paman Yunho?"

"Benar." Jongin kembali memberikan perhatiannya pada dua orang yang sedang berada di taman rumah sakit dengan pertengkaran kecil.

"Hyorin, Kim Jongin." Keduanya tersentak ketika melihat Jongdae berjalan Kearah mereka.

"Kalian berhutang satu penjelasan padaku, Chanyeol dan Baekhyun sudah sadar jadi sekarang cepat katakan kenapa mereka_ Yak kau mau kemana?" Jongdae berteriak pada Jongin yang melenggang pergi.

"Aku ada sedikit urusan, Hyorin yang akan menceritakannya padamu."

"Yak! Jongin! Jongin!" Hyorin memanggil Jongin tetapi lelaki tan itu tetap berjalan kearah luar dan menghilang dibalik pintu.

Kyungsoo sedang berada dihalaman rumah kecilnya, ia sedang menyiram beberapa bunga-bunga yang ia tanam sendiri. Selain membaca dan memasak, Kyungsoo juga suka berkebun terlihat dari banyaknya bunga-bunga yang tumbuh rapi dihalamannya.

"Keluar! Aku tahu itu kau." Kyungsoo berucap tanpa menoleh, ia tetap melanjutkan acara menyiramnya. Jongin keluar dari persembunyiannya dan dia masuk ke dalam halaman Kyungsoo.

"Apa maumu?" Tanya Kyungsoo ketus, Jongin berdiri dibelakang Kyungsoo dan memeluknya dari belakang. Kyungsoo terkejut tapi dia memilih diam.

"Aku lelah." Ucap Jongin sambil menyembunyikan wajahnya diceruk leher Kyungsoo.

"Lalu? Kenapa mencariku?"

"Karena kau adalah rumahku sekarang, kau adalah tempat berlabuhku."

"Heuh. Jangan bermimpi, aku sepenuhnya milik Kris." Kyungsoo tercekat ketika Jongin membalik tubuhnya dengan paksa, dan Kyungsoo terkejut melihat wajah kelelahan Jongin. Ia yakin Jongin pasti kurang tidur belakangan ini.

"Bisakah kita tidak membicarakannya ketika kita berdua?" Tanya Jongin halus, walau wajahnya menyiratkan kekesalan.

"Bukahkah seharusnya kau menjauhiku dan membenciku karena aku telah memberitahu Kris tentang keadaan Chanyeol." Ucap Kyungsoo, dan Jongin menyeringai.

"Heuh. Aku tahu kau terpaksa. Aku belajar cukup lama bersama ayah Kim, beliau adalah salah satu yang terahli membaca mimic seseorang." Ucap Jongin.

"Jangan bertindak seperti ini. Aku bisa saja memanfaatkanmu, kau tahu ini adalah sebuah kelemahan, kau lemah didepanku, dan apa kau ingat kau menyebutku apa? Ular. Jadi berhati-hatilah!"

"Aku tidak takut. Karena tak ada seorang musuh yang memberitahu kelemahan lawannya. Aku akui, aku memang lemah bila berhadapan denganmu, tapi aku yakin kau bukan orang sejahat itu."

"Jangan terlalu yakin, hati manusia siapa yang tahu."

"Aku memang bukan Tuhan. Tapi aku tahu kau adalah orang yang baik. Kyungsoo." Ucap Jongin lalu mengecup bibir Kyungsoo singkat.

"Ah, aku lapar. Ayo ke dalam dan masakkan sesuatu untukku." Ucap Jongin sambil mendorong tubuh Kyungsoo masuk.

Jongin memperhatikan Kyungsoo yang sangat lihat bermain dengan peralatan dapur. Ia terkadang bertanya dalam hati, bagaimana bisa orang seperti Kyungsoo dimanfaatkan dengan begitu kejam oleh orang brengsek seperti Yi Fan.

Jongin berjalan mendekat kearah Kyungsoo yang memunggunginya, lalu memeluknya dari belakang.

"Diam! Jangan menolak aku mohon. Hanya sebentar." Ucap Jongin, Kyungsoo menurutinya dia hanya diam, bahkan ia meletakkan pisau yang sedang ia pegang.

"Seumur hidup aku tidak pernah mencintai seseorang seperti aku mencintaimu sekarang." Jongin berbisik.

"Aku terlahir tanpa tahu siapa kedua orangtuaku, lalu aku tumbuh dengan kedisiplinan hingga sekarang, aku tidak mengenal cinta sama sekali, tapi ketika bertemu denganmu jantungku berdetak sangat cepat." Jongin menarik nafas dalam mencium aroma tubuh Kyungsoo yang memabukkan.

"Aku..aku benar-benar mencintaimu Kyungsoo. Sebesar apa usahaku untuk membencimu, mengingat kau adalah musuhku, sebanyak apa aku mencoba melupakanmu pada akhirnya kau akan tetap menjadi satu-satunya yang menguasai hati dan pikiranku."

"Jong..Jongin."

"Maaf, maaf karena membuatmu berada disituasi sulit. Aku tahu kau sangat mencintai Kris, aku tahu itu. Tapi aku mohon berikan aku kesempatan untuk merebut posisi itu, walau hanya seperempatnya aku tak masalah. Aku hanya_" Kyungsoo membalik tubuhnya, lelaki bermata bulat itu menatap wajah Jongin lalu tersenyum lembut.

"Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa seberharga ini. Ketika orangtuaku meninggal aku merasa dunia begitu kejam padaku, ketika Kris menjadikanku bonekanya aku merasa tak jauh berbeda dengan pelacur diluaran sana, tapi kau, kata-katamu membuatku merasa sedikit terangkat. Tapi, maaf."

"Kyungsoo?" Jongin mengangkat wajah tertunduk Kyungsoo.

"Tidak apa-apa. Cinta tidak datang secara instant, mereka butuh proses. Biarkan aku mengambil alih perasaanmu secara perlahan, sampai kau sadar bahwa aku telah menguasai semuanya, saat itu balaslah perasaanku." Ucap Jongin sambil mengelus pipi Kyungsoo.

Di detik berikutnya, entah siapa yang memulai bibir mereka telah bertautan sangat lembut dan dalam. Jongin mendekatkan tubuh Kyungsoo agar semakin merapat padanya

Ciuman mereka, dalam, lembut, penuh hasrat dan sedikit menuntut. Mereka adalah dua orang yang ahli dalam berciuman, jadi ciuman mereka terlihat sangat romantic dan liar.

Jongin membuka pakaian Kyungsoo, dan Kyungsoo membantu Jongin melepas bajunya juga. Dada mereka sudah bertelanjang, dan ciuman mereka masih tetap berlanjut. Jongin mengangkat Kyungsoo keatas meja yang bersih, lalu melanjutkan untuk mencium lelaki manis itu.

Jongin menyerang leher Kyungsoo, lalu ke bagian dada dan meninggalkan beberapa jejak kemerahan disana.

"Jongin, jangan sampai Kris tahu." Ucap Kyungsoo menjauhkan wajah Jongin dan Jongin menurut, jadi dia hanya menyesap putting Kyungsoo dengan rakus tanpa meninggalkan bercak lain disana.

Tubuh mereka sudah sama-sama polos, Jongin merebahkan tubuh Kyungsoo dilantai dapur beralaskan pakaian mereka. Jongin menindih tubuh Kyungsoo dan mencium bibirnya kembali.

Kyungsoo melebarkan kedua pahanya dan hal itu membuat penis mereka bergesekan, Jongin mengocok penisnya lalu bersiap memasukkannya ke dalam lubang Kyungsoo. Kyungsoo meringis tapi dia masih bisa menahannya, Jongin sudah membasahinya dengan air liur, jadi tidak sekering ketika mereka pertama kali melakukannya diatas atap.

"Ooohh..sssshh.." Jongin mendesah nikmat pada genjotan awalnya. Ia bergerak pelan, sambil sesekali mengecup bibir Kyungsoo.

"Terus..aaahh..teruss..Jongin..lebihhh ." Kyungsoo mendesah dan ikut menggerakan tubuhnya berlawanan dengan Jongin.

"Hhmm… aaaahh… aaahh…. Nikmat..Kyungsoohhh.."

"Iya…terusshh..hhhmmppptt.." Jongin melumat bibir Kyungsoo tanpa melupakan genjotannya dibawah sana.

Jongin menatap Kyungsoo sambil tersenyum ,begitu juga Kyungsoo lelaki itu tersenyum bahagia. Ini adalah seks pertamanya yang benar-benar ia lakukan dengan penuh perasaan, tanpa paksaan. Kyungsoo merasa dirinya bukan pelacur lagi, dia sedikit merasa terangkat.

"Jong..aaahh..in…disanahhhh.."

"Aaahh…yeaaah…oohh aaasshh.." Jongin mempercepat gerakannya hingga tubuh Kyungsoo tersentak-sentak, Kyungsoo mencengkram rambut Jongin menyalurkan rasa nikmat yang ia rasakan.

Jongin bergerak liar namun tidak kasar, ia masih bersikap lembut, walau terlihat liar tapi Kyungsoo bisa merasakan Jongin melakukannya dengan cinta.

"Jongin..akuuhh..aaahh." Kyungsoo mendapat orgasme pertamanya, Jongin mempercepat gerakannya lalu ia mencapai orgasmenya di Sembilan tusukan terakhir.

Jongin ambruk dengan nafas menderu, begitu juga Kyungsoo pundaknya bergerak naik turun.

"Kau ingin melakukannya lagi?" Tanya Kyungsoo sambil menghapus keringat di dahi Jongin dengan tangannya.

"Sebenarnya aku ingin, tapi aku rasa hari ini cukup, kau nampak lelah." Kyungsoo tersenyum.

"Kyungsoo?"

"Hm?"

"Aku mencintaimu." Ucap Jongin.

"Aku.."

"Tidak apa-apa, jangan dijawab sekarang kau butuh waktu."

"Maafkan aku Jongin."

"Tidak apa. Kenapa kau terus minta maaf. Hahaha, ayo berkemas." Jongin hendak bangun, tapi Kyungsoo mengeratkan kakinya pada pinggul Jongin bahkan jemarinya memeluk tubuh diatasnya itu dengan erat.

"Ada apa?"

"Setubuhi aku lagi! Aku menginginkanmu hari ini." Ucap Kyungsoo. Jongin menatap Kyungsoo tidak percaya.

" Kyungsoo? Aku bukan dirinya yang akan memaksamu untuk melakukannya tanpa cinta."

"Kau lupa? Kau juga melakukannya ketika diatap sekolah waktu itu."

"Soal itu aku minta maaf." Jongin memasang raut wajah menyesal dan Kyungsoo tersenyum.

"Taka pa aku sudah biasa dilakukan seperti itu. Jadi sekarang mau melanjutkannya lagi? Tapi tidak disini, punggungku sakit." ucap Kyungsoo sambil sedikit meraba daerah punggungnya.

"Lalu? Kau mau dimana?"

"Di kamarku. Disana." Kyungsoo berucap sambil menunjuk kamarnya. Jongin bangkit dengan susah payah karena Kyungsoo menempel seperti koala ditubuhnya.

Kyungsoo memejamkan matanya merasakan kenikmatan ketika penis Jongin menusuk prostat ketika mereka berjalan.

"Biarkan aku diatas." Ucap Kyungsoo ketika mereka terbaring diatas ranjang. Kyungsoo merubah posisinya menjadi duduk diatas pangkuan Jongin.

"Bergeraklah!" ucap Jongin dan Kyungsoo mulai bergerak, dia sangat ahli dalam hal memuaskan lawan mainnya, Yi Fan mengajarkan banyak padanya. Bahkan bertindak menjadi jalang sekalipun.

Kyungsoo bergerak diatas tubuh Jongin dan Jongin membantu Kyungsoo bergerak dengan memegang pinggang yang lebih kecil.

"Aaahh..baguss..sayang..aaaahh…oohh terusshhh.."

"Eumhh..eeummhh.."Kyungsoo menutup matanya merasakan kenikmatan duniawi.

"Ooohh…aaahh…aahhh…oohh.."

"Yeaaahhh…eeummhh.."

"Cepat sayang..aaahhh…aahhh.."

"Jonginhhh..eeummhh.."

"Kyungsoo?"

"Eeummhh…hm?"

"Kau mau berjanji padaku?" Kyungsoo membuka matanya menatap Jongin.

"Jika nanti kau telah menyadari bahwa kau ternyata mencintaiku maukah kau jujur dan tidak mengkhianati hatimu?"

"Akuuhhh…aaahhh.." Kyungsoo mencapai klimaksnya, lalu disusul oleh Jongin yang menyembur hebat, hingga keluar dari lubangnya.

"Kau mauh? Haah..haahh.." Jongin mengatur nafasnya.

"Hm." Kyungsoo mengangguk lalu Jongin mengecup pucuk kepala Kyungsoo dan membaringkan tubuh itu disampingnya.

"Brengsek!" seseorang jauh disana melepaskan alat pendengarnya. Ia menatap geram kearah monitor computer yang berada di depannya. Dia adalah Yi Fan, lelaki tinggi dan tampan yang kini sedang berada dikamarnya, sambil menyaksikan persetubuhan antara Kyungsoo dan laki-laki yang ia kenal bernama Jongin.

"Kau mau bermain denganku Kyungsoo? Maka aku pastikan kau menjadi pihak yang kalah. Jangan sekali-kali mempermainkanku jalang."

TBC

Hi! gimana? suka sama chapter ini? maaf kalo Chanbaek gak ada adeganya disini. Soalnya kondisi mereka gak memungkinkan, awalnya maunya diatas kursi roda tapi takut entar dibilang imajinasiku terlalu liar dan ngawur, jdi tunggu mereka sembuh dulu deh.

Mohon maaf dengan selingan Krisoo yang melakukan adengan NC , soalnya demi kelangsungan cerita, hehehe.. dan untuk NC nya maaf kalo gak hot-hot amat. Banyak yg bilang adegan NC dilapangan basket yang paling panas, tapi udah aku coba bikin gak bisa kayak itu lagi gak tahu waktu kesurupan apa. Hehehehe..

Oh iya, buat yang nannya kenapa selalu ada misteri dan orang baru, dan selalu penuh teka-teki dan rumit, maaf ya , aku memang lebih suka kalau cerita itu ada bumbu2 penasarannya gitu, jadi gak flat, hehehe.. Dan untuk pemain baru sudah pasti akan terus bertambah demi kelangsungan cerita. Hehehehe..

dan untuk Review yang udah masuk dan selalu masuk selama ini makasi banget ya, itu bener-bener vitamin untuk aku. Makin cinta deh sama kalian, hehehe.. Maaf aku gak bales review kalian tapi aku sumpah, kalo aku baca semua review kalian yang selalu bikin aku ketawa.

Chapter depan menyusul ya mohon kesabarannya, dan mungkin ff ini bakal update selalu tengah malem demi menjaga yang sedang menjalankan ibadah puasa. Buat yang sedang puasa, mangat ya. Hehehehe...

Udah segitu ajah, mohon kritik dan sarannya di kotak reveiew ya. Salam hangat buat kalian, salam Exo-L