Disclaimer © Masashi Kishimoto
Sasuke Uchiha X Sakura Haruno X Itachi Uchiha X Sai
(SasuSaku x SakuItha x SakuSai dan beberapa pairing lainnya)
Rate: T – M
Genre: Drama, Friendship, Family, Romance maybe, Hurt/Comfort and Angst.
Summary: Apa yang ada di pikiran kalian jika dihadapkan dengan angka 18? Apakah percintaan? Pemberontakan? Kenakalan? Perselingkuhan? Mimpi yang besar? Menyakiti diri sendiri? Atau kah persahabatan? Ini kisah mereka! Kisah para Ahli Waris.
Warning: OOC, pembashingan seluruh chara yang ada di fic ini maybe, beberapa scene saya ambil dari beberapa drama baik itu drama Korea, drama Mandarin, Thailand, novel, teenlit, komik ataupun anime yang cocok untuk diletakkan dalam fic ini, tidak bermaksud menyinggung para sosialita maupun kalangan kelas atas, fic ini hanya fiksi mohon jangan dianggap serius.
Dominan Naruto POV
18
Mansion Uchiha terlihat legang hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang, kulangkahkan kaki memasuki sebuah kamar yang berada di lantai 2, kamarku tepatnya.
Kubuka gagang pintu kamarku, hal pertama yang kulihat bukan kasur king size milikku melainkan seseorang yang duduk manis diatasnya, berlagak tak perduli aku melangkahkan kaki memasuki kamarku.
Mengganti seragam sekolah dengan pakaian santai.
"Apa itu yang tadi kalian lakukan sampai tidak masuk kelas ekstrakulikuler?"
Kualihkan tatapan mataku kearah suara itu, tanpa menyahut ku lihat dia mengedikkan dagunya kearah punggungku, melalui cermin aku melihat beberapa luka goresan dipunggungku hasil karya dari seorang Haruno Sakura.
Aku tak perlu ataupun repot menjelaskan apa yang terjadi kepada dia yang duduk di kasurku, karena luka seperti ini pernah kulihat di punggungnya dan saudaraku yang lain.
"Aku tak perlu menjelaskan apapun kepadamu Sai" Jawabku.
"Aku juga tidak mengharapkan penjelasanmu" Katanya dan berlalu dari hadapanku menuju pintu keluar kamar
"Tapi ... Setidaknya ada hal", berbalik menghadapku "Diantara kita bertiga tidak ada yang mendapatkan keperawanan Sakura, itu melegakan dan terdengar adil bukan" Katanya menyunggingkan senyum kemudian keluar dari kamarku.
"Cih ..."
Keperawanan Sakura adalah misteri buatku dan mungkin buat dua saudaraku yang lain dan aku benci mengetahui sebuah fakta bahwa ada lelaki lain yang berada diantara para pria Uchiha dan lelaki itu berhasil mengambil yang seharusnya menjadi hak kami tepatnya hak salah satu dari kami setelah Sakura memutuskan dengan siapa dia akan menjalani hidupnya.
18
Mansion Hyuga
Tempat tinggal salah satu Klan bangsawan murni, kental akan nuansa tradisional Jepang bahkan para pelayan yang bekerja di sana diwajibkan menggunakan yukata, di halaman belakang rumah terdapat teras yang menghadap kolam ikan dengan beberapa pohon, sejuk dan rindang suasana yang tercipta di sana.
Aku jarang sekali berkunjung kesini bukan karena mansion ini tidak nyaman justru sangat nyaman hanya saja perasaanku yang tidak pernah nyaman untuk berada di sini, kali inipun aku ke sini bukan tanpa alasan tapi karena sang pemilik rumah ingin bertemu denganku, Hyuga Hiashi ayah dari tunanganku menginginkan aku untuk mengawasi salah satu cabang perusahaan Hyuga yang berada di Kirigakure.
"Kau pasti tahu kenapa tousanku mengirimmu ke Kirigakure."
"Ya ... Hiashi jisan ingin aku melihat prosfek kedepannya dari perusahaan itu." Jawabku
"Salah satunya tapi yang paling utama tousan ingin kau membantu Hinata dalam memimpin sebuah perusahaan, tousan berencana perusahan di Kirigakure akan di berikan kepada Hinata."
"Aku tahu itu Neji, kau keberatan Hinata akan menganbil alih perusahaan itu?"
"Tidak ... Karena mau berusaha seperti apapun Hinata tidak akan pernah bisa mengalahkanku"
"Kau harus tahu Neji, justru kejeniusanmu itulah titik kelemahanmu, usaha dan kerja keras tidak pernah berkhianat."
Tawa Neji meledak
"Jangan bilang kau mulai peduli dengan Hinata, Naruto! Aku tahu kau tidak mencintai adikku."
"Apa harus dengan alasan cinta dulu baru boleh peduli? Alasan sebagai tunangannya sudah cukup bukan, lagipula kapan aku tidak pernah peduli dengan adikmu?"
"Jangan membuatku kembali tertawa, kita bukan lagi bocah 8 tahun."
"Oke-oke aku akui aku memang jarang peduli tapi kenapa itu sekarang menjadi masalah? Bukankah kau sendiri sebagai kakaknya tidak pernah menghiraukan adikmu yang lemah itu, jangan bilang sekarang kau mulai resfec dengannya."
"Aku memang bukan kakak yang baik tapi aku tidak bisa memungkiri bahwa aku tetaplah saudaranya, kekhawatiran itu ada walaupun sedikit."
Aku menghela napas
"Kadang aku berpikir andai hidup ini bisa diflashback aku ingin kembali saat kita masih berumur 8 tahun, dimana saat itu adalah saat emas kita saat dimana kita tak perlu memikirkan apapun, cukup bermain saja layaknya seorang bocah." Lanjut Neji.
"Hm ... " Jawabku mengiyakan. "Aku harus pulang" Jawabku lagi sambil beranjak dari tempat duduk kami.
"Sekarang? Kau tidak menunggu Hinata? Sebentar lagi dia pulang dari les pianonya." Tanya Neji.
"Tidak perlu aku harus pulang karena semua akan berkumpul di rumah malam ini."
"Oh ... Dia kembali? Itukah alasannya?"
"Ya ..." Jawabku dan pergi.
18
Perasaanku hari ini sangat tidak nyaman, tak perlu menerka-nerka untuk tahu sebabnya karena hanya menghitung jam sesuatu atau tepatnya seseorang yang kubenci sekaligus kusayangi akan kembali, kembali ketengah-tengah keluarga Namikaze setelah hampir 3 tahun lamanya pergi meninggalkan kota Konoha, keadaan ini juga yang membuatku sangat malas mengendarai mobil sendiri. Berada di kursi belakang, ku edarkan pandanganku keluar jendela melihat pemandangan kota Konoha, sepeninggal dari Mansion Hyuga harusnya aku kembali ke Mansion Namikaze tapi tempat itu justru menjadi tempat yang saat ini tak ingin ku datangi.
"Yamato-san ... Bisa kita putar arah? Ada tempat yang harus kudatangi terlebih dahulu."
"Baik Naruto-sama." Jawab Yamato salah satu sopir pribadi Klan Namikaze.
Setelah Yamato menepikan mobil, ku langkahkan kakiku memasuki sebuah tempat yang ingin kutuju, hawa dingin mulai menjalari tubuhku, selalu seperti ini setiap aku mengunjunginya, perasaan marah, sedih, kesal, kecewa dan yang paling besar perasaan menyesal.
Terpampang jelas di tengah gerbang bertuliskan 'Pemakaman Klan Bangsawan' ya di sinilah tujuanku, kesebuah pemakaman atau tepatnya kesalah satu makam dari Klan Bangsawan.
Langkahku berhenti, tanpa membawa apapun aku berdiri di salah satu makam, makam yang sangat terurus.
"Maaf ... Karena baru datang, akhir-akhir ini aku di sibukkan dengan kegiatan sekolah, sebentar lagi USC akan mengirim beberapa siswa untuk mengikuti lomba dan aku salah satu siswa tersebut." Ku hela napas sebelum akhirnya kembali berbicara, "Tapi sepertinya aku harus mengundurkan diri, kau tahu Hiashi jisan memintaku untuk mengurus perusahaannya yang ada di Kirigakure, tujuannya tak lain agar aku bisa membantu Hinata, kau tidakkan marah atau cemburukan? 1 minggu kedepan aku akan ke Kirigakure bersama Hinata." Jelasku.
"Kau berbicara seolah-olah dia bisa mendengarmu saja."
Tak perlu menolehkan kepala untuk tahu siapa oknum yang menyela pembicaraanku. Perlahan dia berjalan mendekatiku tepatnya berdiri di sampingku, menghidupkan dupa dan kemudian meletakkan setangkai bunga mawar merah.
Sama halnya denganku seseorang yang terbaring di dalam tanah ini merupakan orang yang penting dan di sayangi olehnya, semenjak kepulangannya ke Konoha justru di tempat inilah kami berdua sering bertemu bukan di USC.
"Nee-chan ... Semoga kau tenang dan bahagia di sana dan aku masih sangat membencimu." Katanya terhadap pusaran tersebut.
In Memoriam
Haruno Sara
2012
18
Pemakamman Klan Bangsawan merupakan pemakaman yang sangat asri dan indah, dimana pemakaman ini justru terlihat seperti taman, terdapat beberapa kolam air mancur dan gazebo juga ada beberapa paviliun yang di tempati para pekerja makam dari masing-masing Klan Bangsawan.
Di salah satu gazebo dekat dengan sebuah paviliun dari Klan Bangsawan Murni Haruno, aku dan Sakura mengistirahatkan diri, duduk ditemani teh dan kue dengan pemandangan makam para Klan Bangsawan, terdengar menyeramkan namun tidak dengan pemakaman ini.
"Apa mengatakan hal seperti itu berulang-ulang perlu?" Tanyaku.
"Lalu bagaimana dengan kau sendiri Naruto? Bukankah berbicara dengan orang yang sudah meninggal adalah hal yang sia-sia, kalau kau sendiri melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan maka kau tidak berhak untuk menanyakan hal itu." Jawabnya sinis.
"Kau hanya tidak suka aku berbicara tidak sopan terhadap Sara-nee. Kenapa? Apa karena kau dan dia punya story yang akhirnya membuatku harus menanggung semua akibat dari hasil story kalian." Lanjutnya lagi.
"Sakura-sama ... kau tahu dengan jelas apa yang terjadi, dan apa yang salah dari kami berdua? Apa dengan saling mencintai sebuah dosa?"
"Kau yakin kalau kalian berdua saling mencintai? Karena aku tidak yakin itu, kau dan Sara-nee hanya saling membutuhkan. Hidup sebagai para pewaris Klan Bangsawan membuat kita harus bersaing bahkan dengan saudara kita sendiri, kau dan Menma, Itachi, Sasuke dan Sai, Neji dan Hinata." Kulihat ia menghela napas sambil memejamkan mata sebelum akhirnya kembali berbicara. "Aku selalu tidak mmenyukai keadaan yang seperti ini, tapi yang paling tak bisa ku maafkan adalah kisah cinta kamu dan Sara-nee, aku membenci story kalian, kalian berdua membuatku harus menanggung beban Klan Bangsawan Murni."
"Kau membencinya karena kau sendiri tidak bisa bersama Menma."
"Takdir Klan Haruno sudah sangat jelas Naruto, kami memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada Klanmu dan aku menyadari itu."
"Itu bukan takdir, itu namanya pemaksaan."
"Takdir itu bukan tanpa alasan dan kau tahu alasan itu, tapi lihat apa yang kalian berdua lakukan? Kalian benar-benar berencana untuk melarikan diri, lari dari tanggung jawab kalian terhadap masa depan Klan."
"Memang apa yang kau harapkan Sakura-sama, dia mengandung anakku? Dan lihat akibatnya, malam itu harusnya Menma lah yang bertunangan dengan Hinata tapi dia malah kabur dan membuatku menggantikan posisinya, dia melarikan diri, lari dari tanggung jawab Klan pergi menemuimu, dan Sara tanpa memberiku kesempatan menjelaskan pergi begitu saja." Aku bisa mendengar jelas suaraku yang lirih bukti kesakitan dan penyesalanku yang dalam.
"Kau mau bilang harusnya kau tidak menggantikan posisinya Menma, dengan begitu Sara-nee tidak akan hilang kendali dengan mengendarai mobilnya yang akhirnya membuatnya kecelakaan. Kau tahu Naruto dengan kejadian itu pun aku tetap tidak mempercayai cinta kalian. Kau mungkin buta tapi aku bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan kecelakaan Sara-nee." Katanya dan mulai beranjak dari duduknya.
"Dan ... Malam dimana Menma pergi dia tidak datang untuk menemuiku" Katanya lagi dan pergi meninggalkan aku sendiri.
TBC
"Kadang bukan air mata yang menunjukkan seseorang terluka, tapi juga sebuah senyuman yang seakan menunjukkan bahwa kita baik-baik saja."
Trims buat para reader yang udah ngefollow n yang ngefav fic ini juga buat yang meninggalkan jejak di kotak review, beberapa pertanyaan dari kalian akan aku jawab.
BaekhyunSaranghaeHeni; Pairing utamanya jelas SasuSakuItaSai (Aku belum menentukan akhirnya Sakura akan dengan siapa tapi yang jelas bukan Sakura X Sai).
; Belum tahu juga Menma akan melakukan apa atau mungkin malah tidak melakukan apa-apa hehehe.
Luca Marvel; 1. Dichapter ini sedikit menjelaskan hubungan Sakura dan Menma, 2. Itachi ntar muncul lagi kok kan Itachi salah satu pairing utamanya jadi apa yang akan terjadi dengan Itachi ya ditunggu aja, 3. Karin bakal bikin masalah tapi tenang aja permasalahan tidak terletak dari Karin, 4. Udah terjawab dengan jelas dichapter 7.
Rosmiyati413; Nanti ada kok tapi mungkin masih lama alx fic ini masih sangat panjang semoga gak bakal bosan yak.
Okey kembali reviewnya ditunggu dan beberapa pertanyaan yang ditinggalkan dikotak review jika sekiranya pertanyaan tersebut berkenan buatku dengan senang hati akan aku jawab.
See U Next Chap ^_^
Note: Mohon maaf buat para reader yang udah ngefollow n ngefav 2 fic aku yang berjudul "Waktu" dan "The Fantom of the Opera" dengan sangat berat hati fic tersebut aku delete, karena laptopku yang terdapat dua file fic itu hilang terserang virus.
Aku udah berusaha untuk memulai dari awal untuk melanjutkan fic tersebut tapi aku tidak mendapatkan feelnya jadi daripada fic itu hasil akhirnya tidak memuaskan khususnya buatku pribadi jadi sekali lagi aku sampaikan dengan berat hati dua fic tersebut aku delete.
