I know what you did last night
Sumarry: Tsuna tidak tahu, bahwa rencananya membawa teman-temannya liburan berujung petaka. Mansion ditengah hutan, orang-orang yang rupawan dan segala kegelapan dibalik semua keindahan.
Pairing: All x G, 69, Dae, 100, B, 00, Lal. Mengandung rare crack pairing yang takkan pernah ditemukan di fic lainnya :)
Disclaimer: KHR punya tante amano akira
Rating: M, untuk adegan berdarah, bacok-bacokan, penyiksaan, dan adegan thrilling lainnya.
Warning: mutlak OOC, abal, alay, gaje, tidak akan lulus sensor karena terlalu sadis, penuh adegan anarkisme, chara death, ada-adegan-orang-makan-orang, rape, typo yang bertebaran dimana-mana seperti ranjau (?), alur ngebosenin. Don't like don't read! Tambahan, di chapter ini mungkin tidak akan menyenangkan!
.
.
.
.
.
.
.
.
Squalo: VOOOOOIIII! APA-APAAN GUA MATI DULUAAAAAN?
Author: biar seru laaah ^^
Squalo: VOOOI! DASAR AUTHOR…
Giotto: *ngegebuk Squalo pake CPU dari belakang* silakan dilanjutkan author-san *senyum sekseh*
Author: absen dulu yaaaa…..Enma-kun?
Enma: HARDIIII! *angkat tangan orang lain. Entah tangan siapa*
Author: Byakkun?
Byakuran: ada! *sambil ngunyah marshmallow*
Author: Mukupon?
Mukuro: kufufufufu~~~
Author: Xanxus-san?
Xanxus: *angkat tangan tanpa banyak bacot*
Author: Lal, Ryohei, Gokudera, Kyoko, Tsuna?
All: hadir…. =,=/
Author: abang Cozart?
Cozart: SAYA! HADIR! SIAP! SEDIA, EKSYEEEEEN! *nyelos ke TKP*
All: *sweatdrop*
I Know What You Did Last Night Chapter 9, check this out.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tugas Byakuran dalam perang antar vrykolakas gerilya ini adalah mencari dan mengamankan Sawada Tsunayoshi. Kenapa? Karena Byakuran-lah yang paling tidak dicurigai oleh Daemon maupun Mukuro, apalagi Lal dan Bel. Tapi aneh juga, Byakuran tak melihat seorangpun disini—para vrykolakas itu. Byakuran berlari, berlomba dengan waktu dan Daemon Spade untuk mencari anak yang menyebabkan semua ini.
"jangan, Lal-san….ja…ja…..KYAAAAA!"
"kau kejam EXTREME!"
Byakuran mengikuti arah suara. Dari kamar tamu bernomor 119, Byakuran membuka pintu. Ia menemukan pemandangan yang tidak diharapkannya. Gokudera menggeliat dilantai dengan mulut tersumpal dan terikat pada sebuah bangku. Darah mengalir dari pangkal pahanya, sementara potongan kakinya ada ditangan kanan Lal Mirch. Sasagawa bersaudara diikat dikursi kuat-kuat. Ada sepotong besi yang menancap dipaha Ryohei, memakunya dikursi dimana dia diikat. Ditangan lain dari Lal ada sebilah pedang yang pastinya sangat tajam, yang diketahui Byakuran adalah pedang pajangan ruangan itu.
"halo, Byakkun. Maaf, aku lapar." Katanya sambil mengoyak tungkai Gokudera dengan gigi dan mengunyah dagingnya.
"jadi kau memihak Spade, Lal?" tanya Byakuran tajam.
Lal menggeleng. "aku memihakmu. Memihak Giotto."
Tanpa pikir panjang Byakuran menerjang Lal dan mencekiknya, memojokkannya ditembok. Bunyi benturan terdengar keras sekali hingga Kyoko menjerit kaget. Wallpaper putih dengan motif matahari kuning muda yang sedang tersenyum itu sekarang dihiasi cipratan darah dari kepala Lal. Darah menetes dari hidung dan mulutnya. Kalau manusia biasa, mungkin kepalanya sudah pecah.
"LANTAS KENAPA KAU MEMOTONG KAKI GOKUDERA-SAN?" teriak Byakuran frustasi. "lindungi, bukan makan!"
Lal tertawa nyinyir. Ia memuncratkan darah dari mulutnya ke wajah Byakuran.
"kadang rasa lapar mengundang seseorang menuju pengkhianatan." Kata Lal. "dan yang terpenting adalah Sawada, kan?"
Byakuran meremas leher Lal. Mulai terdengar suara keretakan tulang yang patah.
"JANGAN BERCANDAAA!" Byakuran berteriak. "beraninya kau mengaku sekutu kami!"
"Byakkun….." kata Lal. "aku bersumpah, akan memihak Giotto sampai aku mati. Tapi setidaknya, biarkan aku membunuh Gokudera-san duluu…kasihan dia, kan?"
Byakuran melirik Gokudera yang masih menggeliut. Ia menghujamkan tinjunya ke perut Lal kuat-kuat dan wanita itu muntah darah, dan tak sadarkan diri. Ia memungut pedang yang jatuh tadi dan menghunusnya. Wajahnya kelihatan tidak tega, namun pegangannya mantap.
"maafkan aku, Gokudera-san. Tapi ini demi kebaikanmu juga."
BUK!
Byakuran menghantam kepala Gokudera dengan pegangan pedang. Cowok berambut silver itu tidak sadarkan diri. Byakuran melepas kausnya dan mengikat kaki Gokudera bersama bagian yang tadi terputus. Meskipun secara teoritis tidak mungkin disambungkan kembali, Byakuran tahu apa yang bisa dia lakukan untuk pria malang ini. Byakuran menyeret Gokudera menuju kamar mandi. Menaruhnya di bathtub, mengisinya dengan air dan melarutkan satu balok benda berwarna kuning muda seperti sabun namun dengan bau yang mirip ikan busuk. Ia merendam hampir sebagian tubuh Gokudera (termasuk kakinya yang disambungkan dengan kaus Byakuran) kedalam cairan warna kuning muda itu.
Setelah itu, si pria kurus berambut putih itu melepaskan ikatan Kyoko lebih dulu, baru ikatan Ryohei.
"kau apakan si kepala gurita itu, Byakuran-san?" tanya Ryohei.
"Kyoko sayang, bisa minta tolong ambilkan air dari bathub?" kata Byakuran. Kyoko menurut dan kemudian kekamar mandi. Sempat terdengar suara Kyoko yang muntah, lalu ia kembali dengan setangkup cairan kuning muda itu ditangannya.
"tumpahkan ke luka kakakmu."
Kyoko menurutinya. Ia melihat luka Ryohei yang kronis itu sembuh hanya dengat hitungan menit.
"sebenarnya itu benda apa?" tanya Ryohei.
"anggap saja itu cairan ajaib." Jawab Byakuran praktis. "kau takkan suka memakainya sering-sering. Percaya padaku."
Byakuran menelaah kesegala arah. Ia mengambil dua buah revolver yang terletak di lemari pajangan dengan memecahkan kacanya. Byakuran memberikan keduanya pada Sasagawa bersaudara dan memberikan mereka berdua pula masing-masing sebotol spirtus dan pematik api.
"lari sejauh mungkin dari sini. Kalau kalian menemukan ada lagi orang yang mencoba memakan kalian, tembak, lalu bakar." Jawab Byakuran sambil pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hibari berada di lantai atas. Ia menoleh ke segala arah, mencari dimana sosok mungil berambut merah yang menggemaskan itu. Bukan untuk mencabulinya, tetapi untuk balas dendam atas secabik daging pipinya yang terlepas akibat pukulan terakhirnya tadi. Orang-orang disini kelihatan tidak begitu curiga padanya. Ia berhenti pada kamar yang pintunya terbuka. Disana, ada kamar yang besar. Hibari tanpa disuruh langsung masuk, dan merebahkan tubuhnya di kasur.
"Akhirnya…." Hibari mendesah lega.
Hibari meraba pipinya. Ia merasakan deretan gigi dan gusinya disalah satu bagian yang tadi kena pukulan batangan besi. Tidak sakit, sebab ia merasa setengah mukanya mati rasa. Segala keanehan ini...adegan thrilling ghaib yang mirip dengan horror ini...
Sang remaja pria berambut raven terbelalak. Ia teringat dengan orang yang mengajaknya kesini. Sawada Tsunayoshi, Gokudera Hayato, Yamamoto Takeshi, Sasagawa Bersaudara, dan si Haneuma. Dino sudah mati, meskipun percaya atau tidak, itu membuat Hibari kepikiran. Bagaimana dengan yang lain? Apakah yang lainnya mati juga? atau lari pontang-panting seperti padre yang tadi dengan mudahnya dia bunuh? Dan apa yang harus dilakukan Hibari setelah jadi makhluk bernama vrykolakas...
"che! Siapa yang menyuruhmu masuk, tolol!"
Hibari melirik malas dan melihat seorang remaja berambut pirang yang memakai kaus lengan pendek, jeans dan sepatu sneaker yang muncul dari pintu didekat lemari. Rambutnya pirang kusam sampai menutupi matanya. Yang ada dipikiran Hibari, anak itu mirip salah satu personel Super Junior.
"siapa kau?" tanya Hibari santai.
"Giotto bedebah. Padahal memakanmu dengan saus asam manis itu pasti lezat." Bel mendecak kesal.
"sayangnya bukan kodrat alam seorang herbivore memangsa karnivore, herbivore." Hibari tertawa sinis.
"betulkah? Jadi kau merasa sombong karena sudah sama seperti kami?"
"anggap saja begitu." Hibari tersenyum bangga. "haruskah aku menjadi bagian dari keluargamu?"
"semua orang punya pilihan." Bel mencabut sebuah pena dari sandarannya di meja. "dalam keluarga ini, pilihanmu hanya bergabung atau mati."
"kenapa hanya dua?" Hibari menggaruk kepalanya. "tidak adakah pilihan ketiga, yaitu membunuhmu?"
Bel menerjang. Tiba-tiba ujung pena yang Hibari tahu harganya bisa ribuan yen itu sudah ada tingga beberapa milimeter dari hidungnya. Ia refleks menahan tangan Bel. Namun remaja pirang itu menyeringai dan menjambak Hibari, melemparnya kesudut ruangan dengan mudah. Hibari terlempar menabrak meja didekat ranjang sampai mejanya hancur. Ia mengambil satu potongan paling besar dan menyerang Bel balik. Ia hendak menghantamkan kayu itu ke kepala Bel, namun ditahan dengan mudahnya. Hibari memberengut kesal dan membalik posisi mereka. Ia mengunci Bel dengan cekatan. Tinggal sekali gerakan lagi dan dia bisa tenang. Namun Bel memang tidak bisa diremehkan. Ia menyikut perut Hibari, dan membantingnya. Diputirnya lengan Hibari yang tadi ditangkapnya. Sang karnivore menjerit kesakitan. Matanya nyalang menatap Bel yang hanya memandangnya dengan tatapan bengis yang kelaparan.
Hibari menggeliat dan dia bisa lepas dari cengkraman Bel. Ia menendang remaja pirang itu menjauh dan menghujamkan tinjunya keras-keras diwajahnya. Terdengar bunyi keretakan keras. Hidung Bel mengeluarkan darah deras, ada memar ditulang hidungnya. Selagi Bel masih terhuyung, Hibari kembali meninju dan menendanginya. Pada serangan terakhir, Hibari menjambak Bel dan menggigit telinganya sampai putus. Bel mendorongnya menjauh, dan ia melihat telinga kirinya dikunyah Hibari.
"mata dibayar telinga." Kata Hibari. "lumayan juga."
"shishi...kau tahu kata keadilan kan?" Bel memegangi lubang telinganya yang berdarah.
"dunia ini tak pernah adil pada siapapun. Padaku, padamu dan siapapun." Hibari berkata bijak. "tetapi alangkah adilnya kalau salah satu diantara kita semua ada yang mati."
"semua?" Bel mengerutkan dahinya.
"kau, kepala semangka itu, Sawada. Pria pirang idiot itu."
"akankah itu kau?" Bel mengelap hidungnya. "atau aku?"
"kau bersedia bertarung jantan? Manis sekali." Hibari menyeringai.
Menit berikutnya, mereka yang awalnya terpisah sekarang bergumul seperti dua ekor serigala. Hibari menggigit leher Bel hingga dagingnya tercabik. Bel mengoyak kaki Hibari dan berhasil menyarangkan pukulan keras diperutnya. Hibari mengejangkan kelima jarinya dari tangan yang masih sehat dan menghujamkannya bak belati didada Bel. Ada raungan kesakitan yang membuat telinganya berdenging. Darah muncrat dari mulut Bel, dan dengan tenaganya ia memutir tangan Hibari yang digunakannya untuk menembus dadanya. Kali ini Hibari tersudut. Ia hanya bisa menggunakan satu kakinya dan menendang Bel tepat dilehernya. Ada bunyi patah yang kedengarannya menyakitkan. Saat mereka sama-sama menjauhkan diri, kondisinya sangat tidak imbang. Bel dengan dada terkoyak, hidung patah dan dada berlubang sementara Hibari dengan dua tangan dan satu kaki yang patah terputir.
"che...shishishishishi..." Bel terhuyung memegangi dadanya.
"lumayan, Herbivore." Hibari tertawa senang. "apa aku akan tambah kuat kalau memakanmu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"ukh...adu...wu...WAAAAAAAA!"
BRUUUUUKKK!
Giotto berhasil sadar dan menghancurkan tong tempatnya dijejalkan. Sekarang serakan kayu dan tumpahan anggur mengotorinya. Dengan tetesan anggur merah berbau harum yang membasahi rambutnya, ia berusaha mengingat apa yang terjadi.
Ya...ya...
Spade memukul kepalanya. Misi gagal. Bagus, Giotto! Kau bisa membuat semua orang terbunuh. Giotto berusaha berdiri, mungkin ia takkan menemukan Spade. Ia sudah hilang harapan. Berdoa saja, Spade masih sudi menerimanya.
Namun saat keluar dari gudang anggur, ada noda merah yang membasahi lantai putih dapur ini. Bukan, bukan anggur. Noda ini sudah mengering dan kelihatannya sedikit lebih kental dari anggur.
Bau tembaga...
Dan Giotto menemukan sosok Tsunayoshi disana. Terlentang. Dengan kubangan merah tua, dan pisau yang menancap dikepalanya.
Giotto merasa tubuhnya ringan. Dan matanya basah. Habis sudah, setelah ini mau apa lagi? Tsuna sudah mati. Dan tidak ada alasan lagi bagi Giotto untuk bertahan dan melawan.
Pria pirang tampan itu berjalan lunglai. Ia mencabut perlahan pisau yang menancap dikepala Tsuna. Setelah itu, terdengar bunyi kelontangan. Tubuhnya merosot. Giotto menangis sambil memeluk lututnya seperti seorang anak kecil yang sedang dibully. Ya, dia memang dibully dalam segala aspek oleh makhluk bernama Daemon Spade itu. Dirabanya rambut halus Tsuna dan ia tersenyum dalam tangisnya. Empat hari, hanya dalam waktu sesingkat itu Giotto bisa mempertaruhkan seluruh hidupnya (dan hidup Enma juga Byakuran) untuk Tsuna.
Tsuna...Tsuna...
Kenapa mencintai seseorang setelah sekian lama disakiti rasanya malah jauh lebih menyakitkan?
"...san..."
Giotto tercenung. Suara dari mana itu?
"...to...san..."
Giotto menghapus airmatanya. Oh, halusinasi. Oke, ia mulai gila sekarang.
"Gi...o...tt...o...ss...sa...n"
Kali ini ia merasa tangannya dingin. Giotto menoleh, menatap Tsunayoshi yang membuka matanya dengan susah payah. Wajahnya pucat.
Giotto menampar wajahnya berkali-kali.
Tsuna masih hidup?
"Gi...o...tto...ss...saan..."
Giotto mendekatkan telinganya ke dada Tsuna, dan dia tersenyum penuh kebahagiaan. Buru-buru, Giotto mengambil pisau dan menghujamkannya ke tangannya sendiri. Darahnya berubah menjadi benang-benang kemerahan ketika sampai dikulit Tsuna, dan merayap masuk ke luka-luka Tsuna.
"Well...ternyata apa yang dikatakan Enma betul."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Cozart!"
Reborn dan Adel benar-benar terengah-engah mengejar Cozart yang berlari mengikuti instingnya. Ia benar-benar lepas kendali. Reborn merasa rumah ini sangat aneh. Belokan-belokan yang menghubungkan mereka ketempat yang aneh. Tadi galeri seni, sekarang dapur utama. Saat mereka membuka sebuah pintu lagi, mereka sampai di ruang bawah tanah.
Tempat ini seperti rumah potong hewan. Banyak darah dimana-mana. Banyak mayat yang digantung terbalik. Tabung-tabung berisi potongan tubuh yang terendam cairan hijau kental terjajar rapi. Reborn menaikkan alisnya. Ini seperti setting ruang kerja Hannibal Lecter di film Hannibal Rising.
Mereka bertiga berjalan menelusuri rak-rak tabung berisi potongan tubuh dan tulang-tulang manusia. Ada mesin penggiling dan gerinda besar pemotong daging juga. Dan saat mereka berbelok ke penjuru lain, seorang pria berbaju butler dengan rambut bergaya nanas muncul sambil memindahkan satu jerigen cairan hijau tua. Cozart kelihatan sengit.
"selamat siang, Cozart Shimon." Mukuro tersenyum. "sungguh reuni tak terduga."
"dimana adikku?" tanyanya geram.
"tidak tahu." Kata Mukuro pendek.
Reborn melihat rambut Cozart tiba-tiba mencuat seperti terkena listrik statis. Hawa sekitar mendadak dingin dan tabung-tabung kaca berisi potongan tubuh itu retak, dan pecah seakan-akan seperti meledak. Hawa itu berhembus keras dari dalam tubuh Cozart. Begitu kuat hingga menimbulkan luka sayat kecil disekujur tubuh baik Reborn dan Adel. Ia berlari menerjang Mukuro dan menghujamkan banyak pukulan. Cozart mendengking ketika Mukuro menggigit tenggorokannya hingga tersobek. Mereka bergumul seakan-akan keduanya adalah binatang buas yang sedang berebut wilayah.
Adel menarik Reborn, menginstruksikannya mencari adik Cozart. Mereka mencari diantara tumpukan mayat dan serakan tabung-tabung berisi cairan hijau kental dan potongan tubuh. Reborn mengerutkan dahi kebingungan ketika melihat tabung besar yang menempel pada tembok, lebih mirip sebuah akuarium. Didalam sana, ada seorang anak berambut merah yang menggeliat-geliat dengan mata terbelalak lebar. Ekspresinya seperti sedang tercekik. Rongga dada dan perutnya terbelah, kosong tanpa organ. Ia kelihatan masih hidup.
"kkkh...!" Cozart terpojok. Mukuro menghantamkan kepalanya ke tembok belasan kali. Ia merasa sangat pusing.
"kufufu...adikmu kumutilasi hidup-hidup, Cozart sayang." Mukuro tertawa nyinyir.
"kalaupun kau bisa menemukannya, kau harus mencari seluruh organ tubuhnya diantara ruangan ini..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Giotto: gitu doang? Gaseru
Author: yang penting si dame idup lagi kan?
Tsuna: i...iya sih. Aku gajadi mati toh
Yamamoto: makanannya enak gak?
Enma: yama-kun, Tsuna kan gak makan di scene-nya.
Wawawawa...apdet yang sangat maksa. Bagaimanakah? Bagus, jelek? Just review so i can repair it ^^b
