The Watched

Author: xxBubbleandTroublexx

Translator: meongmungee

Characters: Baekhyun, Kai, EXO


Into the Woods (2)
(Ke Dalam Hutan (2))

.

.

.

Kai selalu mampu membuat Baekhyun tertarik padanya. Bukan hanya ia seorang tapi juga semua orang di Desa. Sejak Kai mulai berjalan semua orang mulai memandangnya. Kai bertubuh tinggi, tampan, cerdas, dan pemberani. Saat ia berusia 15 tahun ia menjadi seorang prajurit yang sangat populer. Ia prajurit yang handal, pemimpin yang luar biasa, seorang legenda di zamannya. Kai terlahir untuk dipilih.

Dipilih, adalah sebuah kata yang menakutkan. The Watchers memilih orang-orang untuk menjadi jagoan mereka, untuk menjaga Desa, untuk menjadi berbeda, untuk menjadi istimewa. Mereka bisa menjadi siapapun selama mereka lebih baik daripada yang lainnya. Dan biasanya ini berarti para prajurit. Dipilih berarti kau telah ditandai untuk bertahan hidup, menjadi tenar, dan mendapatkan hidup yang lebih baik. Bahkan The Brotherhood sudah tahu sejak awal kalau Kai ditakdirkan untuk dipilih.

Baekhyun juga tahu hal ini, ia tahu lebih dari siapapun. Ia tumbuh bersama Kai dan ia sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Ia bahkan tidak tahu bagaimana menjelaskannya dalam kata-kata. Ia tidak bisa menjelaskannya dalam kata-kata. Perasaannya terlalu besar, terlalu menakutkan, terlalu liar untuk dimengerti. Kemudian orangtua Kyungsoo terinfeksi, sehingga Baekhyun harus bertanggung jawab atas Kyungsoo. Baekhyun tidak punya waktu untuk mencintai seseorang yang selalu sibuk. Ia terluka, ia menangis, lalu ia melanjutkan hidupnya. Kehidupan terus berlanjut. Baekhyun tidak pernah menatap ke belakang, ia melewati Kai seakan-akan ia bukan siapa-siapa. Lebih baik seperti ini.

Ia sudah menyerah mencintai Kai sejak lama, lama sekali.

.

.

.

Baekhyun terengah-engah, berlari di antara pepohonan. Kemana ia pergi? Kemana pria itu pergi? Aku harus- Baekhyun berhenti mendadak. Ia membeku, baru saja menyadari apa yang sedang ia lakukan. Ia sedang berada di hutan penuh The Infected dan ia sedang mencari seorang manusia. Penduduk Desa tidak pergi sejauh ini, tidak juga dengan para prajurit. Baekhyun sendiri berada di sini karena Kyungsoo dan karena sebuah peta yang tidak bisa ia baca.

Manusia macam apa yang bisa bertahan hidup di luar sini sendirian?

Seseorang yang mengerikan. Tiba-tiba mengejar sosok ini sepertinya merupakan ide yang buruk, buruk sekali. Baekhyun mulai berjalan mundur, mencoba mengingat kembali dari mana ia berlari. Aku harus bersembunyi, aku harus menemukan Desa sebelum aku mati di luar sini. Ia hampir saja berbalik, namun kemudian ia merasakan sebuah rasa penyesalan yang mengganggu. Seandainya aku kembali sekarang, aku mungkin tidak akan berhasil berada di sini lagi. Sebuah keajaiban aku bisa berada sejauh ini…..Mereka akan segera sadar kalau aku meninggalkan Desa, dan aku tidak mungkin bisa kembali kesini.

Antara ia harus menemukan jalan kembali ke Desa, atau melanjutkan perjalanannya.

Desanya aman.

Namun jalan di hadapannya bisa menyelamatkan Kyungsoo.

Baekhyun melihat ke sekelilingnya, kemudian mulai mengejar sosok itu lagi. Ia akan menyelamatkan Kyungsoo apapun yang terjadi. Jika orang itu tahu dimana Desanya, ia harus menemukannya. Kumohon The Watchers, biarkanlah aku melakukan hal yang tepat.

Mata Baekhyun menangkap sesuatu bergerak. Baekhyun berputar, mendapati sosok itu berlari ke puncak bukit. Tanpa pikir panjang Baekhyun mengejarnya. "Tunggu!" Baekhyun berseru, melupakan bahaya yang mengancam. "Tunggu!" Pria itu terus berlari, hingga sosoknya hilang dari puncak bukit. Baekhyun mengabaikan rasa sakit di pergelangan kakinya dan susah payah mengejarnya hingga ia sampai di puncak.

Dimana di- Aduh!

Kaki Baekhyun tersandung akar pohon. Ia menjerit lalu jatuh terguling-guling. Ia bergerak dengan panik, berusaha meraih sesuatu untuk menahannya atau setidaknya memperlambat jatuhnya. Kepalanya membentur sesuatu, dan ia menjerit lagi. Cahaya menari-nari di pandangannya, pandangannya berputar, kabur, dan kacau.

BRUK

Baekhyun berhenti terguling. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menghentikan pandangannya yang berputar-putar. Dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia susah payah bersimpuh. Dimana ini? Dasar dari bukit ini berbeda dari hutan biasanya. Tempat ini bersih dari semak belukar, permukaan tanahnya tertutupi dedaunan dan sama sekali tidak terdapat bebatuan ataupun ranting pohon. Sebuah tenda berdiri di hadapannya, lengkap dengan api unggun kecil menyala di depan tenda. Baekhyun berkedip. Ini tempat berkemah. Seseorang TINGGAL di hutan.

Ia kemudian melihat senjata. Sebuah tempat penyimpanan senjata dibangun di dekat tenda. Senjata-senjatanya berkilat tajam. Senjata itu tidak seperti pedang yang Kai gunakan. Senjata-senjata ini lebih halus, kecil, dan gelap dengan tepian tidak rata yang sepertinya digunakan untuk mencabik-cabik. Jantung Baekhyun berdebar keras melihatnya. Siapapun yang membuat senjata itu pastilah tidak ramah.

Sebuah tangan membekap mulutnya. Baekhyun mengeluarkan sebuah jeritan yang tertahan saat tangan lainnya menangkap pinggangnya. Baekhyun berusaha membebaskan dirinya. Kemudian tangan-tangan itu semakin kuat menahannya, menyeretnya ke arah pepohonan. Baekhyun meronta-ronta, menendang dengan liar. TIDAK! Aku tidak bisa mati SEKARANG!

Baekhyun dihempaskan ke tanah. Penyerangnya tetap membekap mulutnya. Baekhyun merasakan pria itu menindih tubuhnya, menahannya sehingga ia tidak bisa bergerak. Sial dia jauh lebih besar dariku. Baekhyun berusaha membebaskan dirinya, namun sama sekali tidak bisa bergerak.

"Shhh…." Pria itu berbisik di dekat telinganya dengan suaranya yang berat dan rendah. "Diamlah, si gila datang."

Baekhyun berhenti meronta. Ia menatap ke balik rerumputan, kearah perkemahan. Sosok lain muncul, kali ini berbeda dengan sosok yang ia kejar hingga kemari. Siapa itu? Ada dua orang?

Sosok itu mengenakan jubah. Tidak seperti jubah The Brotherhood yang berwarna coklat, jubahnya berwarna hitam. Pria itu berjalan di sekitar area perkemahan, mencari-cari sesuatu. Ia sedikit pincang, jika diperhatikan baik-baik. Baekhyun menahan napasnya saat pandangan pria itu melewati mereka.

Aku tidak bisa mati di sini, aku sudah berjanji pada Kyungsoo kalau aku akan kembali.

Baekhyun menyadari pria yang menindihnya telah melonggarkan tangannya. Ia lebih terfokus pada pria berjubah itu, bukan padanya. Melihat kesempatan ini, Baekhyun menarik tubuhnya ke depan sekuat tenaga. Kepalanya beradu dengan dagu pria itu. Pria itu mengutuk sambil terjatuh ke belakang. Tanpa meliriknya, Baekhyun lalu bangkit dan berlari.

Pria berjubah itu terlonjak saat Baekhyun muncul kearah perkemahan. Baekhyun berlari melewatinya dan berlari kearah pepohonan. Kedua pria itu mengejarnya.

"TIDAK!" Pria berjubah itu berteriak. "Tidak Luhan, ini aku! INI AKU! The Watchers mencarimu, mereka akan membunuhmu LUHAN!"

Baekhyun menoleh, ia melihat kedua pria itu jatuh ke tanah, bergulat satu sama lain. Baekhyun tanpa ragu terus berlari. Jantungnya berdebar dengan keras seakan-akan bisa lepas dari dadanya kapan saja. Jangan menoleh.

"Sialan kau!" Salah satu dari mereka berteriak. Baekhyun mendengar mereka berhenti bertarung, dan seseorang berlari mengejarnya. Baekhyun sadar ia akan segera menyusulnya, lalu ia menoleh untuk melihat pria yang tadi menyerangnya. Belum sempat ia menoleh, pria itu menggendongnya dan ia hanya mampu berteriak. Tak disangka, Baekhyun yang yakin ia akan mati, tidak memikirkan Kyungsoo kali ini. Sebuah pikiran muncul dari dalam benaknya, yang mana ia telah bersumpah untuk tidak memikirkannya lagi.

Kai, pikirnya. Kai apakah aku berharga untukmu?

Pikiran ini membuatnya sangat terkejut dan lelah hingga ia berhenti meronta. Tubuhnya melemas lalu semuanya berubah gelap.

.

.

.

Kai sedang menuju rumah Suho. Saat ia meninggalkan tempat pengakuan, ia sudah memutuskan. Tidak ada seorangpun yang akan merebut Baekhyun darinya. Apalagi si Jae Sun sialan. Ia berjalan menyusuri Desa dengan tergesa-gesa, mengabaikan sapaan dari penduduk Desa. Biasanya setidaknya ia akan melambai untuk membalas sapaan mereka, namun kali ini ia tidak punya waktu. Masa pendekatan atau pacaran, secara tradisi, bisa memakan waktu setahun. Ia dan Baekhyun harus siap untuk menikah supaya Dewan Tinggi bisa menolak lamaran Jae Sun.

Kai hampir berhenti. Dewan Tinggi jarang sekali mengubah keputusan mereka. Jika mereka tidak langsung menolak Jae Sun, maka besar kemungkinannya mereka akan menyetujuinya. Hal ini hampir bisa dipastikan….itu artinya Kai harus bergerak sekarang. Jika seluruh Desa mengetahui dan mendukung hubungannya dengan Baekhyun, The Brotherhood mungkin akan mundur.

Mungkin.

Kai hampir tiba di rumah Suho saat Jae Sun tiba-tiba muncul. Ia muncul dari salah satu rumah, matanya berubah saat melihat Kai. Rumah itu bukanlah rumah Jae Sun, ia tinggal di salah satu rumah yang berada di atas tanah, berada jauh dari rumah-rumah lainnya. Namun Kai tahu rumah siapa itu. Rumah itu adalah rumah gadis yang terkenal sebagai pelacur Desa, Yoo-min. Kai memasang wajah tak ramah padanya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha keras tidak meninju wajah pria brengsek itu. Jae Sun tersenyum, sama sekali tidak merasa malu meski baru saja didapati keluar dari tempat semacam itu.

"Halo Kai," katanya. "Mau pergi kemana?"

"Diamlah," Kai menggeram. Aku harus tahan.

Jae Sun berhenti tersenyum. Matanya menyipit, terfokus seluruhnya pada Kai. "Oh, aku tahu apa yang ingin kau lakukan," ia berkata dengan kasar. "Kau ingin menemui Baekhyun, kan? Kau ingin menemui si pelacur mungil. Baekhyun, Baekhyun, Baekhy.u…u….n," ia mengucapkan nama Baekhyun perlahan, seakan-akan ia menikmatinya. "Ia akan segera menjadi milikku. Milikku seorang…"

Tangan Kai bergetar dan pandangannya berubah gelap. Amarahnya mendidih dan ia berjalan mendekati Jae Sun. Namun kemudian, entah bagaimana, ia menjauh. Ia memutuskan untuk mengabaikan Jae Sun dan melanjutkan perjalannya ke rumah Suho. Berjalan mendekati Baekhyun. Temui Baekhyun, lalu mengubah keputusan Dewan Tinggi. Masih ada waktu, keputusan mereka belum pasti. Aku bisa menyelamatkan mereka. Hal itu lah yang penting, bukannya berbalik lalu menghajar Jae Sun. Baekhyun yang penting, Kyungsoo yang penting. Bukan Jae Sun, Baekhyun yang penting.

Jae Sun tetap mengoceh, matanya tertutup. "Kulit putih pucatnya, begitu lembut saat dicium. Bibirnya, rambutnya, matanya, pergelangan kakinya, kedua pahanya…." Jae Sun tersenyum. "Aku akan merobek pakaiannya, lalu aku akan menciumi sekujur tubuhnya, menggigitnya hingga ia berteriak. Matanya akan terbuka lebar, ia akan terengah-engah, ketakutan. Kemudian aku akan melebarkan kedua kakinya lalu-"

Kai menghajar Jae Sun habis-habisan.

Ia merasa lebih baik.

.

.

.

.

.

Setelah cukup lama, Jae Sun berhasil bangkit dari tanah. Ia begitu kotor, berlumuran lumpur dan juga darahnya sendiri. Ia meludahkan kotoran dari mulutnya, kemudian mengelap mulutnya dengan lengan bajunya. Ia belum pernah melihat Kai seperti itu sebelumnya. Ketika Kai menghadapi The Infected, ia bersikap tenang, berbahaya, dan ia akan memburu mereka seakan mereka adalah mangsanya. Ketika ia sedang berada di tempat latihan, ia selalu terkendali. Namun ini adalah AMARAH, Kai melemparnya ke tanah dan menghajarnya. Bukan karena Kai akan mendapatkan sesuatu dengan menghajarnya, namun karena Kai ingin melukainya.

Jae Sun tertawa. Ia telah membuat Kai lepas kendali, sesuatu yang telah ia coba namun tidak pernah berhasil. Kai yang tanpa emosi, Kai yang selalu dalam kendali, Kai yang sempurna, Kai yang paling diistimewakan. Baginya ini adalah sebuah kemenangan.

Ia bangkit, lalu berjalan menuju rumahnya. Menikahi Baekhyun bukan hanya untuk menyakiti Kai. Hal itu hanya sekedar bonus. Menikahi Baekhyun lebih penting dari sekedar persaingan dan rasa benci.

Semua ini dimulai saat musim panas, saat di mana Jae Sun kehilangan akalnya.

Ia sedang mengabaikan pekerjaannya dan berkeliaran di ujung Desa, tidak melakukan apapun. Ia sedang dalam suasana hati yang buruk. Kai mendapatinya sedang merayu salah seorang prajurit yang baru saja direkrut. "Yang benar saja, Jae Sun." Ia berkata dengan nada menyebalkan seakan ia tidak peduli sama sekali. "Lakukanlah sesuatu yang lebih berguna jika kau memang punya banyak waktu."

Jae Sun marah. Namun Kai adalah yang dipilih, seorang pemimpin, dan lebih kuat darinya. Jadi ia hanya bisa meludahi kaki Kai dengan marah lalu kabur ke ujung Desa.

Saat itu lah ia melihat dia.

Jae Sun berhenti, menatapnya. Seorang lelaki, langsing dan berkulit pucat, sedang berbaring di atas rerumputan. Awalnya, ia pikir ia sudah mati. Tidak ada siapapun yang punya waktu untuk berbaring dan tidur-tiduran. Namun kemudian ia melihat dadanya bergerak naik turun. Ia melihatnya lebih dekat, baju pemuda itu sedikit terangkat, menunjukkan kulit lembut dibaliknya. Jae Sun terpana, tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ia hanya bisa menyaksikan cahaya matahari yang mengenai rambutnya. Menyaksikan dadanya bergerak naik turun.

Jae Sun tidak bisa bernapas. Ia bergetar, bergetar sangat hebat. Ia membutuhkannya, menginginkannya lebih dari siapapun. Apapun yang Jae Sun inginkan, ia selalu mendapatkannya. Jadi ia mencoba mendekatinya. Namun pemuda itu berbeda dari yang lainnya. Yang lainnya jatuh pada pesonanya, beberapa bertahan, kemudian menyerah, sisanya menerimanya dengan senang hati. Namun pemuda ini tidak melakukan semua itu. Ia menghinanya lalu menendangnya seakan-akan ia sedang mengusir seekor anjing. "Kau seorang bajingan," katanya, suaranya hanya membuat Jae Sun semakin menginginkannya. "Bajingan busuk, menjauhlah."

Kemudian pemuda itu pergi meninggalkannya.

Hari itu Jae Sun telah kehilangan akalnya. Ia jatuh pada seorang lelaki bermata gelap dan berjari lentik. Ia sangat menginginkannya, perasaannya membara untuknya, ia meniduri orang lain sambil memikirkannya. Ia hanya bisa memuaskan nafsunya sambil memikirkan kulit pucatnya. Namun ia sadar Baekhyun tidak akan pernah datang padanya. Ia melihatnya, menatap Kai. Dan matanya tidak hanya penuh dengan rasa kagum, ataupun rasa berterima kasih, itu adalah cinta.

Jae Sun tidak bisa menahan cintanya. Baekhyun tidak akan menyerah. Pemuda itu bahkan tidak menganggapnya, hanya memasang wajah masam padanya. Baekhyun terlalu cepat dan terlalu galak untuk dimilikinya secara paksa. Jae Sun butuh cara lain. Dan satu-satunya cara mendapatkannya adalah melalui Dewan Tinggi.

Ia hampir terkejut saat ia tahu betapa mudahnya ia meminta. Betapa mudahnya mereka menerima permintaannya. Mereka mengatakan akan memikirkan hal itu, dan keputusannya akan diumumkan segera saat Baekhyun berusia 18 tahun. Mereka bilang mereka punya 'hal-hal' yang harus dipertimbangkan terlebih dahulu. Ia menanyakan hal-hal apa itu. "Diamlah," kata mereka. Jae Sun tidak pernah mendengar The Brotherhood menyuruh seseorang untuk diam. Namun ia tidak terlalu memikirkannya, karena Baekhyun akan segera menjadi miliknya.

Bahkan Kai pun tidak akan bisa merebutnya dariku sekarang.

.

.

.

.

.


T/N: Halo, makasih sudah ninggalin review di cerita ini. Tetep sabar nunggu chapter berikutnya ya. Annyeong!