MONSTER

by

Achan Jeevas

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Chapter 9

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seminggu setelah itu JR dan Minhyun –bersama keluarga masing-masing berada di Pengadilan Atlantis karena Minhyun melaporkan JR pada para petinggi Atlantis.

"Jadi benar anda menyerang Minhyun Blackthorn, Alpha JR?"

"Karena dia lebih dulu menyerang putraku."

"Aku tidak menyerangnya."

"Kau mendorongnya hingga dia terjatuh di meja kaca."

"Aku tidak sengaja melakukannya."

"Tidak sengaja kau bilang!" JR langsung berdiri dari duduknya dan siap menyerang Minhyun namun para Guard langsung menahannya.

"Alpha JR. Saya rasa itu bukan tindakan terpuji yang dilakukan seorang Alpha. Maafkan saya tapi sebagai hukumannya,anda saya fonis masuk ke Atlantis Prison selama 3 tahun. Semoga dengan itu anda bisa menjadi Alpha yang lebih baik."

"Hanya 3 Tahun!" Minhyun menatap tidak percaya sang ketua hakim.

"Tiga tahun saya rasa sudah cukup."

Minhyun mencengkeram tangannya menahan amarah. JR harus lebih lama mendekam di penjara. Harus.

"Dia memperkosaku lima tahun yang lalu."

Seluruh orang yang ada disana menahan nafas mendengar ucapan Minhyun.

"Lima tahun yang lalu di Prancis ia memaksaku untuk menjadi pemuas nafsunya, kita terlambat pulang ke Atlantis karena dia menyetubuhiku bahkan ketika aku hamil dia tanpa perasaan menyuruhku untuk menggugurkan bayi yang aku kandung mangka dari itu aku keluar dari Atlantis dan melahirkan bayiku disana, aku ingin sekali membawa bayiku ke Atlantis namun aku takut dia akan membunuhnya jadi aku menaruh bayiku di panti asuhan."

"Apa benar begitu, Alpha JR?"

Mata JR memancarkan kemarahan yang luar biasa. "KAU!"

'Mendekamlah lebih lama di penjara jika kau tidak mau melihat bocah itu mati ditanganku.' Minhyun mengirim pesan tersebut pada JR melalui pikiran mereka. 'Katakan Ya dan semuanya akan selesai.'

JR menatap tepat pada mata Minhyun. Matanya yang berwarna grey tampak begitu dingin. "Ya, aku melakukannya."

Mendengar jawaban JR tanpa ragu Hakim memberikan fonis 10 tahun penjara untuk JR namun belum selesai sampai disitu Hakim-pun menuntut Minhyun agar menjaga Killian.

"A-apa?"

'Minhyun, jika kau menolaknya maka hakim juga akan memberimu hukuman, kau ibunya dia adalah tanggungjawabmu setelah kau mejebloskan ayahnya ke penjara.'

Minhyun menatap sang kakak. 'Tapi aku tidak sudih.'

'Biar aku yang merawatnya, Killian hanya perlu tinggal dirumahmu saja.'

"Anda keberatan Minhyun Blackthorn? Bukankah anda adalah Ibunya?"

"Te-tentu saja tidak, Hakim. Dia adalah putraku tentu saja aku akan menjaganya."Ucap Minhyun dengan penuh keterpaksaan.

.

.

.

"Hiks, Hiks, Daddy, Daddy." Killian yang kini berada dalam gendongan JR memeluk erat leher sang Ayah.

JR menciumi kepala putranya dan mencoba menenangkannya. "Jangan menangis, Killian. Jika kau menangis maka Daddy juga akan menangis."

Mendengar ucapan sang Ayah membuat Killian mencoba menahan tangisannya namun ia sesunggukan. "Daddy."

Alpha tampan itu menurunkan Killian dari gendongannya ketika para Guard mendatanginya. Ia menatap wajah tampan putranya itu. "Bertahanlah, Killian. Daddy tidak akan lama. setelah Daddy keluar kita akan tinggal di dunia manusia. Hanya kau dan Daddy. Kita akan berbahagia bersama."

Selesai mengatakan hal tersebut para Guard menarik tubuh JR menjauh dari Killian yang kini ditahan oleh Kai agar tidak berlari ke JR.

Setelah itu tidak ada lagi hari-hari bahagia untuk Killian karena sumber kebahagiaannya tidak akan ia temui lagi. Ia harus menunggu sepuluh tahun.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun berlutut didepan Killian yang tengah duduk di sofa Mansion milik Clan Blackthorn yang baru –Kris Blackthorn menyediakan Mansion tersebut untuk anak-anaknya. "Mulai sekarang kau akan tinggal disini."

"Sampai kapan, Uncle?" tanya Killian dengan pelan.

Sehun tersenyum pedih mendengar pertanyaan keponakannya. Ia tidak yakin Killian mengerti dengan situasi sekarang ini.

"Sampai Daddy keluar dari penjara?" Killian menatap tangga didepannya, ia bisa mencium aroma Minhyun. "Apakah dia akan menerimaku?"

"Pasti, Minhyun pasti akan menerimamu. Tapi semuanya butuh waktu, Killian."

"Daddy mengatakan 'jangan berharap tinggi padanya'." Killian menatap tepat pada mata Sehun.

Sehun tersenyum tipis. "Killian, apa kau tahu kisah tentang kotak pandora?"

"Kotak yang berisikan teror, bencana, keburukan dan malapetaka didunia?"

"Yah tapi diantara itu semua ada satu cahaya dalam kotak itu. Dan itu adalah Harapan."

Mendengar ucapan Sehun membuat satu harapan kecil dihati Killian tumbuh. Harapan bahwa suatu hari Minhyun akan tersenyum manis padanya. Namun harapan bocah kecil berusia 5th itu hanya angan belaka karena hingga bertahun-tahun ia tinggal satu atap dengan sosok yang sudah melahirkannya, Minhyun tidak pernah bersikap lembut padanya.

Killian ingat ketika usianya 6th, Minhyun dengan tidak berperasaan menyuruh Killian untuk meminum ramuan mentah yang ia buat dan setelah meminum itu Killian pingsan dan tidak bangun hingga seminggu.

Sehun langsung memarahi Minhyun bahkan Kai hampir memukul Minhyun namun Minhyun mengatakan bahwa Killian adalah putranya dan ia adalah Ibu Killian, sudah sepantasnya seorang anak menuruti perintah Ibunya.

Tidak sampai disitu saja seluruh penyiksaan yang Killian dapatkan dari Minhyun, saat usinya 7th, tangannya pernah disiram air panas oleh Minhyun karena ia tanpa sengaja masuk kedalam kamar Minhyun.

Lalu ketika ia berusia 8th Minhyun menyuruhnya untuk mengambilkan sapu tangan Minhyun yang tertinggal di kandang Naga liar milik Kris, Killian berhasil mengambil sapu tangan itu dengan bantuan Silver Ace –peliharaan Ayahnya, JR memberikan cincin platinum hitamnya pada Killian namun tetap saja Killian mendapatkan luka karena Naga-naga liar itu jumlahnya puluhan.

Ketika Killian memberikan sapu tangan itu pada Minhyun, Minhyun malah marah pada Killian. Tujuan Minhyun menyuruh Killian kesana adalah agar Killian mati diserang naga-naga liar Ayahnya. Ia bahkan membuang sapu tangan tersebut dan meninggalkan Killian yang memiliki beberapa luka bakar pada tubuhnya, tanpa sepengetahuan Minhyun, Killian mengambil sapu tangan tersebut dan menyimpannya.

Kai sebenarnya ingin membawa Killian ke Mansion Pack-nya namun para suruhan hakim akan selalu datang setiap setengah tahun sekali untuk memastikan apakah Minhyun membesarkan Killian dengan layak atau tidak dan Killian selalu memiliki banyak alasan ketika para suruhan hakim itu bertanya tentang luka-luka yang ia miliki. Killian –serta seluruh Clan Kim dan Clan Blackthorn menyembunyikan fakta bahwa Minhyun selalu menyiksa Killian.

Penyiksaan-penyiksaan yang Minhyun lakukan padanya tidak hanya pada fisik Killian tapi juga pada mental bocah tampan itu. Setiap hari Minhyun selalu menyuruh Killian untuk mati dan memanggil Killian dengan sebutan Monster.

Puncaknya pada ulang tahun Killian yang ke-10, Minhyun mengatakan bahwa ia memiliki hadiah untuk Killian, mendengar itu Killian begitu bahagia karena ini adalah pertamakalinya Minhyun memberikan sesuatu padanya namun Minhyun mengatakan bahwa hadiahnya terjatuh di Laut Merah dan Killian harus mengambil sendiri hadiah itu jika Killian memang menginginkannya.

Kai, Sehun dan Kiella melarang Killian namun bocah tampan itu tetap kesana. Setelah kepergian Killian ke Laut Merah, Sehun langsung menampar adiknya.

Laut Merah adalah Laut yang terkenal akan marabahayanya setelah Segitiga Bermuda.

Killian pergi ke Laut Merah dengan Ace –Panggilan Silver Ace, disana ia bertemu dengan para Sirens.

"Aku kemari untuk mengambil sesuatu yang terjatuh di Laut Merah."

"Tidak ada yang datang kemari selama ratusan tahun ini, anak manis." Ucap Sirens yang paling depan, ia begitu cantik hingga tampak tidak nyata dan memakai sebuah tiara. Namun dibalik wajah cantiknya, matanya memancarkan sebuah kelicikan.

"Ta-tapi..."

"Minhyun Blackthorn membohongimu, Killian." Ucap Sirens yang lain.

Mata Killian terbelalak mendengarnya. Ia terkejut karena Sirens cantik didepannya mengetahui namanya bahkan tahu tentang Minhyun juga karena Minhyun membohonginya.

"Kalau begitu aku akan pergi."

"Kenapa terburu-buru, Killian." Sirens yang pertama tersenyum manis padanya. "Kemarilah, berbicaralah dengan kami sebentar, sudah ratusan tahun kami tidak kedatangan orang dari luar."

"Aku tidak bisa melakukan itu."

"Jika kau menolak aku akan memberithukan pada para petinggi Atlantis kau meninggalkan pulau Atlantis secara illegal. Kau bisa dipenjara selama setengah tahun karena itu dan aku yakin Ayahmu itu akan kecewa bila mengetahuinya."

Killian tahu jika Sirens itu bisa mengetahui segalanya dan dia benci itu. "Baiklah."

"Anak pintar, Sekarang karena kau sudah jauh-jauh datang kemari, aku akan memberikanmu hadiah." Sirens pertama tadi mengulurkan tangannya dan terdapat sebuah cincin berwarna merah, semerah air laut disekitar pulau itu.

Killian ingin menolaknya, siapa yang mau mendapatkan hadiah dari makhluk selicik Sirens tapi tidak mungkin ia menolaknya, bisa-bisa mereka langsung membunuhnya ditempat. "Anda begitu dermawan sekali."

"Tapi kau harus mendengarkan nyanyian kita dulu."

Nafas Killian tercekat selama beberapa saat mendengarnya. Inilah akhir dari kewarasannya.

"Bagaimana Killian?"

"Tentu, sebuah kehormatan mendengarkan nyanyian kalian."

Namun walaupun begitu ia ingat sebuah kisah jika nyanyian para Siren itu menyampaikan hasrat yang tersimpan dalam lubuk hati terdalam. Mereka memberitahukan tentang dirimu yang kau sendiri tidak tahu. Itulah arti dibalik dari nyanyian para Sirens.

Ketika para Sirens itu memulai bernyanyi saat itu juga mata Killian membelalak lebar. Ia mulai gusar dan mencakar-cakar kulit tubuhnya sendiri.

"Daddy, Daddy. Hiks." Bocah yang baru menginjak usia 10th itu mulai menangis dan memanggil-manggil nama Ayahnya. "Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!"

Killian mulai berteriak-teriak sambil menangis dan meracau layaknya seseorang yang tengah kesetanan. Kini pulau para Sirens di Laut Merah di dominasi dengan suara ombak, nyanyian merdu para Sirens dan tangisan Killian.

Satu lagu namun bagaikan satu milenium untuk Alpha kecil itu.

"Alpha kecil yang tangguh." Komentar salah satu Sirens ketika melihat Killian masih sadar. "Dia bahkan tidak memohon pada kita untuk membunuhnya."

"Kemarilah, Killian. Terimalah hadiah ini."

Killian menatap kosong cincin titanium berwarna merah ditelapak tangannya.

"Cincin itu bisa berubah menjadi pedang dan pedang itu adalah mimpi buruk untuk semua orang. Siapapun yang terkena bilah dari pedang itu maka ia akan koma dengan halusinasi paling mengerikan yang pernah ia dapatkan."

Sepulang Killian dari Laut Merah, tidak ada yang sama lagi dengan matanya. Matanya yang dulu memancarkan ketangguhan kini terlihat seperti kaca pecah.

Minhyun menatap Killian yang menundukan kepalanya. "Setidaknya aku membuat mentalmu lebih tangguh."

"Yah, dan aku berterimakasih untuk itu." Ucap Killian dengan nada begitu pelan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Minhyun terjatuh di lantai Atlantis Hospital. Wajahnya begitu pucat dan matanya bergerak liar. "A-apa yang telah aku lakukan? Apa yang–astaga."

Killian menatap dingin sosok ketua asrama siang didepannya. "Itulah yang kau lakukan padaku sepanjang hidupku."

Kiella langsung berlari dan memeluk Minhyun. "Uncle Minhyun bisa mengubah semua itu. Mangka dari itu kita kemari, Uncle. Semuanya kini berada ditangan Uncle."

"Jangan berharap tinggi padanya, Kiella."

"Tapi harapan adalah apa yang aku miliki sekarang ini, Killian."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

19 April 18

.

A/N :

-Pasti banyak typo nih coz Achan gk ngecek ulang sih coz ini mata udah berat banget

-Tinggalkan review ya biar Achan tahu kalau ff ini ada yang nunggu kelanjutannya.

-Thank you for review : Daedan, Suzuki Sora, verenakiem, juhyeon, Guest, Ryu, Readers, Nurul1707, hoshikun. sipit, voldemortnyel, Aeris, 2hyunie, MiOS, Shyoon17, dark casper, choco, Guest, Michiyo Park dan semua yang udah follow sama favorite ff ini.

-Achan pengen segera namatin ini story karena mau bikin kisah tentang Killian yg dewasa kkkkkk

-Mungkin next chapter bakal lebih panjang-panjang lagi, ini juga sebenarnya pengen lebih panjang tapi sumpah mata udah gk kuat ini.

.

.

.

Thank You

Bye Bye Bye

L.O.V.E Ya