Jikalau saya adalah yang bertanggung jawab atas Persona 4, akan saya buat sequelnya langsung ketika IT di masa-masa kuliah mereka. And nope, Persona 4/Golden/Ultimate is still ATLUS to be bitched out for us. TILL NOW!

Fic by: Crow Inaba

Minggu-minggu sibuk: Ujian tengah semester, tugas yang udah numpuk, bahan bacaan yang numpuk, juga skripsi yang makin dikejer deadline. Mohon pengertiannya jikalau update akan sedikit terlambat. Tetaplah me-review, saya begitu meghargai itu semua. Masukan mengenai pairing juga akan dengan senang saya dengar. Khususnya KanjiNaoto atau KanjiRise :) Oh ya, Persona 4 The Animaton CD ost vol.3 dah keluar loh. Lagu favorit saya Time for True Revelation: Kanji banget. Dan Ain't Nobody Can Hold Me: bener-bener asik banget walau cuma semenit. Fic ini saya tulis sambil dengerin mini album itu dan juga satu album full Persona 4 PS2.

On to the story and enjoy your ride, everyone.


Apa yang kulihat dari mereka tidak lebih dari sebatas semangat manusia ketika menemukan sesuatu yang menarik hati. Untuk sesaat sangatlah berharga, namun ke depannya…mereka berlaku seperti tidak tahu saja. Sekarang adalah sekarang. Besok biarlah besok saja. – Izanami


Persona 4: Ultimum Repressio

9: The Another Self of the Another Self

"Kau bilang masuk ke dalam Midnight Channel kembali?" tanya Yosuke, dengan sedikit intonasi memberang menyadari keadaan ibunya yang dibuat tertidur secara paksa. Tidak lain dan tidak bukan oleh seorang entitas maha daya di hadapan mereka semua.

"Anak manusia," mulai sang dewi. "Aku sangat tidak menyukai omong kosong—berbeda dengan kalian. Aku datang kemari bukan dengan niatan lain kecuali membantu dan memonitor situasi."

Kata-kata itu menarik perhatian beberapa orang yang hadir di kamar Teddie, terutama Yu sendiri. Dia menyela. "Apa maksudmu dengan…'memonitor'?"

"'Izanagi', aku yakin kau seharusnya sudah paham sekarang," jawab Izanami. "Aku tida tahu menahu dengan semua ini. Karena itu aku ingin mencaritahunya dengan mendatangi kalian, anak-anak manusia yang memiliki hubungan dekat denganku."

"Tunggu sebentar…" senggah Yukiko, masih dari atas bangkunya di sebelah kasur Teddie. "Aku tidak ingin mencurigaimu lebih jauh lagi, Izanami, tapi…hanya saja aku sedikit bingung…"

Izanami tersenyum, melipat kacamata hitam sebelum menyelipkannya di dalam saku jaket jeans ternama miliknya. "Katakan saja, Amaterasu. Tidak perlu sungkan."

"A-Amaterasu? M-maksudku, bukankah kau adalah seorang dewi, tapi mengapa kau sampai harus mendatangi kami hanya untuk mencari tahunya?"

"Hm, pertanyaan langsung yang seperti menguji kadar keaslianku sebagai seorang dewi. Bagus sekali." jawab Izanami, tak tampak tersinggung sedikitpun ketimbang Yukiko yang malahan menampilkan raut yang merasa tidak enak. "Pertama, kenyataan yang harus kalian ketahui adalah aku—tanpa keraguan sedikitpun adalah suatu keberadaan yang 'lebih tinggi' daripada kalian, manusia. Saat aku tidak yakin dengan apa yang akan kulakukan—atau dalam kasus kali ini, aku tidak tahu apa yang terjadi di bumi, tidakkah kalian bisa menebaknya sendiri?"

"Keberadaan kuat lainnya 'lah yang bertanggung jawab atas ini?" potong pertanyaan balik dari Yu.

"Pintar, Izanagi." respon sang dewi. "Kurang lebih lima – enam tahun yang lalu, seorang dewi malam bernamakan Nyx mengontrol penuh atas daerah yang disebut pulau pelabuhan Tatsumi. Di bawah kendalinya, ia menyebar teror kematian ke seluruh penduduknya. Jika tidak karena satu 'tim'—seperti kalian yang ada di sini, mungkin tidak hanya daerah tersebut, seluruh Jepang dan dunia mungkin akan terus bermandikan cahaya bulan hijau 'itu'."

"Pulau pelabuhan Tatsumi. Namai tu sudah tidak asing, bukan?" tanya Chie. Yukiko mengangguk.

"Tempat itu 'kan tujuan karyawisata kita tiga tahun yang lalu." Kanji melanjutkan.

"Sama ketika saat-saat 'ujian' bagi kalian. Saat itu aku 'lah yang memiliki wewenang untuk sekali lagi menguji batas manusia. Bedanya diriku dengan Nyx—walau kami adalah sama-sama seorang dewi, aku secara murni dan jujur hanya berharap memenuhi keinginan manusia. Yakni, melupakan apapun dan terus tersesat di dalam 'kabut'. Aku artikan sebagai: manusia hanya menginginkan kebahagiaan sesaatnya. Dia tidak peduli dengan masa lalu dan masa depan. Kalian hanya ingin terus memalsukan teriakan batin—Shadow kalian, yang tujuan mereka murni sebenarnya hanya untuk diterima oleh diri kalian sendiri. Untuk mendapati keberadaan mereka itu diakui oleh kalian, para manusia."

"Diterima oleh kami sendiri?" Yosuke bertanya. "Jadi kau ingin bilang kalau Shadow itu tidak bersalah sama sekali atas kematian manusia yang sempat terjebak di dalamnya!"

Izanami menunjukkan jari-jemari lentiknya ke tubuh lemah 'tak bernyawa' Teddie. "Kau ingin menyalahkannya juga?" Yosuke terdiam. "Adachi sudah menekankan kepada kalian bahwa dunia di balik televisi itu adalah dunia bawah sadar manusia. Dan Shadow liar yang menhuninnya adalah entitas negatif dari perasaan manusia. Mereka adalah 'manusia' dari berbagai sisi kalian berusaha mengingkarinya. Yang membunuh dua korban di Inaba dulu—dan tiga korban yang baru saja diberitakan tadi pagi adalah kalian sendiri, manusia."

Yosuke terdiam, menggeramkan kedua tangannya. "Sudah cukup. Tolong hentikan." suara Chie, mengalihkan perhatian Izanami. "Tidak semua hal bisa diterima semudah itu, Izanami-san. Yosuke-"

"Tidak apa-apa, Chie," sergah si pemuda berambut coklat. "Izanami, jadi kau ingin bilang kalau apa yang dilakukan Adachi itu adalah Kebenaran?"

"Oh, Susano-O, aku suka manusia kritis sepertimu." Izanami tersenyum tipis. "Saat itu, aku menyediakan 'pilihan' kepada tiga orang. 'Hasrat' kepada Adachi, 'Kedamaian' kepada Namatame, dan 'Kebebasan' kepada Yu Narukami. Hasrat Adachi adalah menghentikan dunia dari kemunafikan; tapi dia dimakan mentah-mentah oleh sisi gelap hatinya, dan menjadikan dirinya terjerembab ke dalam kegelapan sana. Begitu pula Namatame yang menginginkan kedamaian di dalam hidupnya. Ketika ia menyaksikan siaran tersebut, jiwa kebenarannya tergugah dan itu membawanya menuju kehancuran. Tapi, anak manusia, jika kalian menginginkan sesuatu uang lebih berbahaya, itu ada pada diri Yu Narukami."

"Yu?" tanya Yukiko. "T-tapi mengapa?"

"Yang membuat manusia rusak adalah kebebasan; bukan hasrat ataupun harapan perdamaian."

"Maksudmu, senpai 'lah yang berpotensi melakukan itu semua—pembunuhan terhadap kami?" Kanji, nampak memberang, bertanya kepadanya.

"Benar sekali, Rokuten." jawabnya. "Tapi, ia tidak bisa. Ia tidak bisa mengkhianati ikatan yang telah diukirnya dengan semua yang dikenalnya di Inaba. Aku tahu 'penyebab' dari Izanagi yang begitu menyayangi kalian semua, tapi biarlah itu menjadi rahasiaku. Dan perasaannya yang begitu kuat tertuju hanya pada kalian semua yang berada di sini. Kepada sahabat-sahabatnya; kepada Nanako-chan; dan juga kepada pamannya."

Semuanya terdiam. Siapa yang menyangka kalau pemimpin mereka memiliki tanggung jawab dan juga rahasia yang cukup intens. Semuanya kecuali Yosuke masih terus menggerayangi pikiran masing-masing.

"Izanami, boleh aku bertanya?"

"Silahkan, Kanzeon."

"Tadi kau bilang ingin mencaritahunya dengan mendatangi kami, 'kan?" Izanami mengangguk kecil. "Tapi, kami bahkan tidak tahu apa-apa. Kami bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada Teddie." Rise menggenggam satu tangan Teddie dengan kuat. Nanako menatap Rise, dan memeluk lengan jenjang sang idol tersebut. Walau hanya sedikit—dan walau ia juga sangat sedih dengan kondisi Teddie, ia ingin menguatkan kak Rise.

"Itu karena…bagaimana mengatakannya, ya…? Oh, ya. Kalian adalah anak-anakku."

"Apa?" tanya Kanji, terheran-heran. Aku adalah anak ibuku sendiri, tahu, dasar perempuan mabuk.

"'Secara tidak langsung', tepatnya. Kalau kalian mempelajari sejarah kuno, kalian pasti mengerti." tambah Izanami. Dia kemudian membalikkan tubuhnya ke arah Aigis yang sedari tadi berdiri di gerbang pintu kamar Teddie. "Nagisa-wame, kemarilah."

"Nama saya Aigis." sela si gadis android, tanpa ekspresi. Tanpa perdebatan apapun, ia menuruti perintah Izanami.

"Gadis ini juga sudah menjadi salah satu dari 'anakku'—walau aku tidak kenal padanya, 'sih. Tepatnya belum berkenalan."

"Yu?"

Pria yang dimaksud meringankan bahunya. Suara lembut Yukiko (tanpa tawa maniaknya) menyejukkan relung bara akan ketidak pastian hati Yu. Ia menghela satu napas, sebelum menjelaskan ini semua. "Kenalkan, ia adalah Aigis—seorang android."

"A-android? Maksudnya robot? Serius, senpai?" tanya Kanji. Wajah tidak percayanya juga terlukis pada rekan-rekan lainnya. Yu mengangguk saja untuk menjawabnya.

"Aigis sudah menjadi rekan kita sekarang." jelas Yu. Ia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Semuanya, kecuali Yu, Yosuke, Aigis, dan Izanami mengeluarkan napas keterkejutan.

Melayang dan berputar, di atas kedua telapak Yu melayang tarot Aeon dan Judgment yang diliputi oleh kilauan api biru yang sudah tidak asing di mata mereka semua. "Kartu tarot apa yang satu lagi itu Yu?" tanya Yosuke. Benar juga, ia belum melihat yang satu ini sebelumnya. "Nomor yang tertera juga sama di sana: XX."

Kilauan cahaya api biru menghilang dari kedua tangan Yu. "Seperti yang kalian lihat, Aigis berada pada nomor yang sama dengan the Judgment 'kita'. Aku bisa menjelaskannya lebih lanjut pada kalian nanti…atau besok. Tapi kita harus memprioritaskan keselamatan Teddie terlebih dahulu saat ini."

Dimulai dari anggukan setuju Yukiko, dan dilanjutkan kepada Chie, mereka semua 'pun setuju dengan banchou mereka.

"Untuk mempersingkat ini semua," mulai Izanami. "Beri jalan kepadaku menuju televisi terlebar yang kalian punya."

Yu melihat ke arah Yosuke yang sedang mengecek jam tangannya. Pukul enam sore hari. Waktu-waktu sibuk Junes. "Aku yakin tidak salah. Bagian Elektronik pasti sedang ramai-ramainya saat ini." Yosuke beralasan. "Tidak mungkin kita tiba-tiba mengusir para pengunjung…"

"Tidak perlu ke sana." balas cepat Izanami. "Aku yakin kau memiliki televisi lain di rumahmu ini."

Rise menyela. "T-tapi kita tidak bisa mengambil resiko jika nanti tersesat di tempat yang berbahaya dan tidak kita kenal. Kita tidak akan bisa keluar nantinya…"

"Kau lupa, Kanzeon? Kalian bersama denganku—bukan siapa-siapa, melainkan Izanami sendiri."

"M-masuk akal…" jawab Yosuke, ragu-ragu. Izanami adalah orang yang bertanggung jawab atas terbentuknya dunia televisi… Secara harfiah. "Kalau televisi lebar, aku punya di kamar…"

"Untuk saat ini, kita hanya bisa mempercayakan nyawa Teddie pada Izanami, teman-teman." jelas Yu. "…Mohon bantuannya."

"Hm, kau jadi sopan sekali? Aku suka itu, Izanagi."

"Tunggu sebentar." sela Yu. Ia berbalik ke arah Nanako, Kanji dan Rise. "Nanako, kami akan-"

"Memangnya kenapa dengan Nanako-chan?" suara dewasa Izanami menghentikan Yu. Izanami lantas berjalan ke arah Nanako, dan menyerahkan kacamata yang bentuknya seperti mainan dengan bingkai berwarna putih keperakan. Kacamata itu berbingkai begitu tipis, hampir tidak kentara malahan. Nanako, ragu-ragu menerimanya dengan kedua tangan yang menadah.

"Kacamata apa ini, Izanami-san?" tanya si gadis kecil dengan polos. "Tapi, maaf, mata Nanako masih baik-baik saja, 'kok." mendengar hal itu, Izanami masih mempertahankan senyuman tulusnya. Yu yang melihat hal itu malah sedikit aneh merasakannya…

"Tidak apa. Kalau Nanako-chan ingin menyelamatkan Teddie-san, Nanako-chan harus memakai ini. Kakakmu dan yang lainnya juga akan menggunakannya nanti." jelasnya. "Mau?"

Nanako melirik ke arah Yu; pemuda itu terkejut. "Kau yakin ini tidak apa-apa, Izanami?"

"Bagi Nanako-chan, 'beruang ini' adalah salah satu sosok penting yang telah berperan dalam mengembalikan nyawanya sendiri." setelah Nanako menerimanya, Izanami berdiri. "Kau akan menjadi suami yang buruk jika tidak mengajari anakmu rasa hutang budi terhadap orang lain, Izanagi."

Nanako kembali menatap onii-chan-nya. "Boleh, Onii-chan?"

Yu menatapnya balik adiknya, dan tersenyum lembut membalas Nanako. "Aa."

"Rokuten, gendong si beruang." perintah sang dewi, membalikkan tubuhnya.

"Main perintah saja, dasar nenek tua."

"Aku mendengarnya, anak muda."

Kedua bahu Yosuke melemas. "Entah aku harus merasa senang atau tidak karena sang 'dewi' sendiri membantu kita. Tapi berada bersama dengan makhluk seperti dia membuatku serasa ditelanjangi…"

"Setuju…" balas Kanji. "Dia bisa tahu semua yang kita pikirkan."

"Jangan berpikiran yang jorok-jorok, Yosuke." ketus Chie, sarkas.

"Siapa yang berpikiran jorok!"

Mereka semua kini berdiri di muka pintu kamar Yosuke. Tepatnya di belakang Izanami yang berdiri paling depan. Teddie kini sudah berada di atas gendongan punggung Kanji. Dari yang mereka lihat, keadaan Teddie menjadi semakin parah dari menit ke menit. Mereka harus bertindak cepat. Tapi tak seorang 'pun tahu apa yang ada dibalik televisi nantinya. Mereka sudah menyelamatkan dunia 'itu' tiga tahun yang lalu. Semuanya sudah berubah menjadi jauh lebih baik. Jauh lebih baik. Bukannya begitu?

"'Yosuke-sama no kuni'…?" ujar Izanami, membaca apa yang tertulis di sana. "Hm, kau pandai melucu, Susano-O. Negara yang dipimpin olehmu pasti akan hancur nantinya."

"K-kau… Sudah membuat malu, sekarang malah meledekku…" Yosuke, tidak memperdulikan lanjutan tawa teman-temannya, merogoh sisi almari yang berisikan piagam dan piala milik keluarga Hanamura. "…Tunggu. Kurasa aku menaru kunci kamarku di…sini."

Izanami mengacuhkan tawaran kunci dari Yosuke sembari ia membuka pintu kamar dengan bantuan kenop gagangnya. Tanpa aba-aba apapun, ia melangkahkan kakinya, seolah kamar itu adalah kamar miliknya sendiri. Tanpa ijin, tanpa perasaan bersalah sedikitpun, Izanami menatapi sekeliling kamar Yosuke. Si pemuda berambut coklat sendiri hanya sanggup terdiam seribu bahasa tanpa keberanian lebih untuk mengeluarkan suara. Kunci di kepitan jarinya terjatuh ke karpet rumah.

Kamar Yosuke sama seperti layaknya cowok pada seumurannya. Be-ran-ta-kan. Kapal pecah. Seperti dilanda putting beliung; terserah apalah itu. Hanya saja, kamar Yosuke ini mungkin bisa dikatakan cukup komplit. DVD/Blu-ray player, console PS3, PSP dan PS Vita yang tergeletak di atas kasur begitu saja, lalu ada gitar tradisional juga yang mungkin sesekali ia gunakan untuk berlatih. Tapi perhatian mereka semua tidak bisa dibuat lebih terkejut lagi ketika mereka mendapati poster raksasa 'Risette' dengan pakaian serupa dengan suster-kelinci (?) untuk album kedua-nya: Love Love Usagi!

"…Hentai," ujar Chie, menepuk wajahnya, merasa tidak habis pikir dengan wajah lelahnya.

"…Yosuke-senpai, ecchi!" Rise 'pun begitu. Sudah berapa kali dia mengatai Yosuke seperti demikian.

"A-a-apa yang kalian katakan! I-ini 'kan wajar saja karena aku adalah fans-nya Rise-chan!" bela si rambut coklat.

Izanami menghampiri televisi LED milik Yosuke, dan menyentuhkan jari telunjuknya secara sekilas di sana. Dari sana, gelombang permukaan air menampakkan pemandangan yang sudah tidak aneh lagi kepada mereka. Kecuali Nanako yang tampak terpukau, kelompok investigasi tampaknya sudah siap dan tidak terkejut lagi melihat ini. "Aku tahu ini tidak membuat kalian kaget lagi," ujar Izanami. "Tapi, tunggu sampai kalian melihatnya dalam nanti."

Tidak hanya Yu, rekan anggota grup lainnya menelan gumpalan pada tenggorokan mereka. "T-tunggu sebentar!" Kanji menyela mereka. Ia kemudian mengarahkan dirinya yang masih menggendong Teddie ke arah Yu. "Senpai, Naoto masih dalam perjalanan kemari. Apa kita akan meninggalkannya begitu saja?"

Yu terdiam sejenak untuk berpikir. "…Aku tahu, Kanji. Aku mengerti bahwa Naoto harus ke sini jauh-jauh dari Kyoto. Tapi, kita tidak bisa membiarkan Teddie menderita terlalu lama. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi bila kita menunda-nunda."

"…Aku mengerti," ucap Kanji, kelihatan sedikit tidak nyaman.

"Kanji bodoh." Rise melirik mantan teman sekelasnya. "Kau telpon sekarang saja. Katakan kalau Naoto bisa menyusul kita lewat televisi di kamar Yosuke-senpai nantinya."

Mereka mendengar deguman tawa kecil Izanami. "Sepertinya Kanzeon bisa dengan cepat menangkap kata-kataku tadi. Aku bisa mengubah jalur kedatangan dengan kekuatanku sebagai pencipta dunia dalam televisi ini. Aku akan membuat jalur yang langsung bisa dimasukinya ke tempat teman-temannya berada nanti. Menurut dugaanku saja, Yamato-Takeru pasti bisa menyadarinya dengan mudah."

Mereka semua lalu menunggui Kanji (dengan semburat pipi yang seperti api membara) selesai menghubungi Naoto dan mengkonfirmasi kondisinya di kereta saat ini maupun kondisi mereka yang berada di Inaba. Menutup teleponnya, Kanji menghela napas panjang. "Hm, kalau kau mau, pasti bisa, Kanji." ujar Yu, menepuk pundak Kanji. Kanji yang semakin malu, menyembunyikan wajahnya.

"Hei, sepertinya Izanami sudah masuk ke dalam TV?" tanya Yosuke, yang menyadari pertama kali bahwa keberadaan dewi tersebut telah absen dari sekitar mereka.

"Nanako?" Yu memperhatikan sekelilingnya. "N-Nanako mana?"

"Sepertinya Izanami sudah membawanya terlebih dahulu…" Yukiko berargumen. "Aku tidak melihat Nanako-chan keluar kamar tadi…"

"Aku tidak tahu apa mau si Izanami itu pada Nanako-chan, tapi kita harus segera menyusulnya, senpai!" Kanji bersorak, kesal. Yu mengangguk kepada yang lainnya.

Sang banchou mengambil kacamata berbingkai hitam khas miliknya, dan melihat kalau rekan-rekannya juga sudah bersiap dengan kacamata mereka masing-masing.

-o0o-

Midnight Channel, Rendezvous Point, 20 September 2015. 18.15

Perut mereka semua serasa mual.

Lingkaran patah-patah berwarna merah – hitam itu lagi setelah sekian lama sangat membuat perut mereka melonjak ke sana dan kemari. Memang itu terkesan berlebihan, tapi tunggu sampai yang satu ini. Tidak hanya itu saja rupanya. Pemandangan indah yang sejauh mata memandang adalah rerumputan hijau, pepohonan rindang, dan juga sungai yang mengalir jauh dari balik gunung ke tempat yang tak terlihat jauh di sana.

Semuanya tak ada lagi.

Tapi bangunan seperti ini sepertinya sudah tidak asing lagi. Dengan cepat mereka menyadarinya.

Ini adalah food court terbuka Junes. Tempat di mana mereka biasa berdiskusi mengenai perkembangan kasus pembunuhan di Inaba tiga tahun yang lalu.

"I-ini?" Yosuke memutar-mutar pandangannya. "Tidak salah lagi… Ini di Junes."

"Ini dunia yang diciptakan Teddie…? S-seperti kita dul?" Yukiko melirik ke arah Izanami yang juga berada di antara mereka. Izanami berdiri dengan diam meliaht ke depan sana, dengan Nanako-chan dalam genggaman tangannya.

"Hoi, Izanami! Jangan sembarangan membawa Nanako-chan!" protes Kanji.

Izanami tidak mengacuhkan omelan Kanji, menatap balik kelompok yang abru sampai. Ia menggerakkan kepalanya ke arah depan sana, seolah membimbing tatapan kelompok. "'Itu' 'kan yang kalian cari?"

Ada seorang pria di sana. Ia mengenakan kemeja blouse berwarna putih dan celana biru tua gelap cutbray dan sepasang sepatu ebrwarna hitam. Sosok berambut pirang itu membelakangi mereka semua dan menatap langit berawan putih yang tertutup putaran zig-zag merah – hitam di atas sana.

"Teddie!" seru Yu, yang berfirasat kalau tubuh Teddie berniat melompat dari ujung pagar pembatas yang dipijaknya.

Figur itu mendengar suara Yu, dan membalikkan sedikit wajahnya. "Sensei?"

"Teddie, jangan!" lanjut seru Yu. Ia menjulurkan tangannya ketika berada kurang lebih lima meter untuk menjaga jarak aman. Yu paham ketika seseorang bertindak seperti demikian, segala macam bentuk pendekatan yang berlebihan malah akan membuatnya bertindak nekat lebih jauh lagi.

"Kau datang, sensei?"

Teman-teman yang lain menyusul Yu dari belakang dengan perlahan. "Sensei, kau datang…? Teman-teman yang lain juga?" ia belum memperlihatkan wajahnya, namun suara itu benar-benar milik Teddie tak salah lagi.

"Teddie, turunlah! Kumohon!" Rise mengapit kedua tangannya menajdi satu di depan dada dan memohon. Ia merasakan genggaman ringan pada pundaknya. Itu milik Kanji. Rise menatap pria tinggi besar itu.

"…Serahkan ini pada senpai, Rise…" si idola remaja menuruti kata-kata Kanji dan menarik dirinya sedikit ke belakang bersebelah dengan si mantan preman.

"Ya, kami datang. Kami datang untukmu." Yu secara perlahan mendekati Teddie. "Ada apa, Teddie…?" tanya si pemuda, dengan pelan. "Kau bisa mengatakannya pada kami. Tidak perlu merasa takut, Teddie."

"Sensei…"

Yu yang masih menjulurkan tangannya melihat Teddie yang dengan hati-hati menurunkan tubuhnya dari pagar pembatas. Tidak hanya Yu, tapi semuanya termasuk Nanako (minus Izanami yang secara aneh terus saja berdiam diri sedari tadi) menghembuskan napas leganya. "…Mundur, Sensei."

"Teddie?"

"…Kubilang mundur, Sensei."

Dari tubuh kecil Teddie, gumpalan-gumpalan asap hitam membubul tinggi. Semakin lama semakin pekat. Sama seperti Namatam ataupun Adachi yang dirasuki kekuatan Shadow tiga tahun yang lalu. Asap hitam itu ditemani dengan gelombang panas berwarna merah pekat yang membaut perasaanmu tidak nyaman hanya dengan melihatnya.

"Teddie apa yang terjadi denganmu?" seru Rise, semakin cemas. Kanji menahan tubuh si idola remaja dengan lengan kuatnya. Namun Kanji meringis kesakitan, memicingkan sebelah matanya dan menggemertakkan giginya. Ia merintih perih. "K-Kanji, a-ada apa?"

Rekan-rekan yang lainnya nampak terkejut dengan sosok Kanji yang nampak merasa perih. "T-Tedd… Tubuh Tedd serasa terbakar…" balas si mantan preman.

"C-cepat, Kanji! Turunkan Teddie untuk saat ini!" perintah Yosuke, merasa tidak mengerti. "Kau bisa melukai dirimu sendiri jika begitu."

Izanami menghalangi tubuh Nanako ketika berniat menyusul 'kakak-kakak-nya'. "Jangan. Nanako-chan. Izanami-san mau kamu tetap di sini, ya." dengan ragu, si gadis kecil mengangguk. Ia merasa ketakutan pastinya, tapi Nanako sudah terlatih untuk menahan air matanya hanya bisa menahan rasa sakitnya mleihat tubuh 'dua' Teddie yang nampak terbakar.

Nanako tidak mengerti. Tapi, sekali lagi, sedari kecil ia sudah belajar—secara otodidak untuk mengerti akan berbagai situasi dengan sendirinya. Tidak ada yang bisa Nanako lakukan, tapi ia bisa berdoa. Ia mengapit kedua lengannya di depan dada, melihat Onii-chan dan kakak-kakak lainnya berkumpul dan melindungi tubuh lemah Teddie di atas lantai food court.

Teddie yang terbaring mengeluarkan rintihan kesakitannya. Sementara Teddie yang satu lagi terus terbakar dengan api merah dan asap hitam yang sama.

"T-Teddie ada apa ini?"

"Sensei…" jawab Teddie yang masih merunduk dan berdiri di depannya. "…Sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan, Sensei. Sebagai Shadow, Teddie… Nyawa Teddie akan habis di sini."

"A-apa? Jangan bercanda, Teddie!" seru Yosuke, yang masih berjongkok di sebelah Teddie yang terbaring dan nampak semakin berkeriput.

"Teddie tidak bercanda, Yosuke." jawabnya. "'Dia'… bilang begitu…"

"'Dia'?" tanya Yu. Izanami 'pun ikut mengheran. "Dia siapa?" lanjut tanya dari Izanami.

Teddie tidak menjawab semuanya. Ia melayangkan tangannya ke atas, dan dari sana sebilah tombak menampakkan diri. "I-itu…!" Izanami terkejut. "Itu tombakmu, Izanagi!"

Yu 'pun terkejut. Tombak yang begitu mirip dengan yang digunakan Izanagi-no-Okami kini berada di tangan Teddie yang satu lagi. Kini, lambat laun Teddie mengangkat wajahnya yang sudah sedari tadi merunduk. Sepasang mata kuning terang maniacal yang sudah lama tidak mereka lihat menyambut mereka. Teddie yang lain. Benar juga. Sosok yang lain adalah sosok yang berdiam di dalam diri—sisi terdalam dari diri seseorang. Tapi, bukankah Teddie sudah menghadapi dirinya yang lain dulu?

"Teddie sudah bukan Teddie lagi. Aku sudah membuang semuanya, dan sekarang 'Shadow' akan binasa. Itu kata'nya'."

"Teddie, tidak… Kau salah." ujar Yu. "Itu tidak benar."

"Aku juga tidak ingin mempercayainya, Sensei… Tapi…" Shadow Teddie mengalirkan air matanya. Bibirnya nampak bergetar. "Teddie hanyalah Shadow. Teddie bukan siapa-siapa. Tapi karena kalian, Teddie merasa seperti manusia. Teddie merasa ada dan hidup. Teddie tidak ingin kehilangan kalian semua, teman-teman, tapi Teddie sudah tidak bisa mengendalikan tubuh ini. Karena itu Teddie ingin melompat turun tadi. Tapi…"

"Teddie-san, kita akan melakuakn sesuatu," imbau suara Yukiko, Teddie manatapnya. "Sensei juag ada di sini. Kita bisa melakukan segala cara untuk menolongmu."

"Yuki-chan…"

"Aku tidak ingat kau selemah ini, Teddie!" susul Chie. "Jangan menangis lagi! Kita teman, 'kan? Teman akan selalu ada untuk saling mmebantu."

"Chie-chan…"

"Karena itu kami datang. Kami akan membantumu, Teddie." lanjut Rise. "Kita akan berbagi rasa sakit yang sama."

"Rise-chan…" Teddie membanjiri wajahnya dengan semakin deras. Bibirnya semakin menggulung tidak karuan. Teddie kembali menundukkan kepalanya.

"Tedd, kau bodoh!" seru Kanji. "Untuk itulah kami ke sini, kau tahu!"

"Ou!" lanjut Yosuke, mengacungkan tinjunya. "Kita akan berjuang bersama. Seperti dulu lagi, 'kan, Teddie!"

"Kanji… Yosuke…" Teddie kini mengarahkan kedua tangannya ke hadapan wajahnya. Ia kembali meledakkan tangisannya di sana. "Oiyo yo yoyo, Teddie sungguh beruang yang beruntung…"

Yu tersenyum. "Benar, Teddie. Lihat, Nanako juga datang untuk menjemputmu."

Teddie mengangkat kepalanya. Dengan mata kuning sembabnya, ia menatap sosok Nanako. "Nana-chan…?"

Nanako tersenyum penuh haru kepada si pria berambut pirang. "Teddie-san, Nanako sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Itu karena Nanako juga tidak ingin melihat Teddie-san yang menangis juga. Kita pulang bersama ya, Teddie-san."

Teddie mengangguk; ia mengangguk dan merasa begitu bersyukur. Tapi energi di dalam tubuhnya semakin tidak bisa dikendalikan. Tubuhnya semakin membara akan panas, dan akal sehatnya seakan menghilang. "…Tapi, tubuhku sudah tidak bisa dikendalikan lagi…" Teddie mengangkat tombak Izanagi di tangannya. "Katanya shadow sudah tidak dibutuhkan lagi… Jadi, dia memberikan kekuatan ini pada Teddie untuk mengamuk sekuat yang Teddie bisa di dunia ini. 'Dia' akan meleaypakn dunia ini dan menciptakan 'Undying' di dunia nyata."

Semuanya terkejut, kini Izanami juga begitu. "Makanya, 'Dia' ini siapa?"

"Teddie…tidak tahu. Teddie hanya mendengar mereka berbicara, karena itu Teddie dikendalikan dari sini dan membuat tubuh Teddie di luar sana menderita. Ini terjadi sekitar dua hari yang lalu…ketika Teddie mengunjungi dunia ini untuk sekedar bersantai dan melihat-lihat. Tapi sosok orang-orang itu… Urgh, Arrrgh!"

"Teddie-san!" Nanako terkejut melihat tubuh Teddie yang terbakar semakin membara. Tubuhnya sedikit demi sedikit membesar, dan berubah wujud.

Wajah lembut pemuda pirang bermata kuning itu berubah menjadi sekumpulan Shadow berwarna hitam dan berbentuk seperti naga dengan kedua kakinya yang menapak tanah. Tapi tubuh itu tidak solid. Cairan seperti tinta menetes-netes di atas tanah, selagi tangan kanannya masih memegang tombak Izanagi. "Ini saatnya kita berpisah, teman-teman. Teddie…Teddie bersyukur memiliki kalian di saat-saat terakhir Teddie."

"Teddie, tidak!" teriak Yosuke yang melihat sosok besar itu.

"Teddie-san!" lanjut Nanako.

"…Ini yang terakhir dari Teddie dan aku—sebagai sosok 'Teddie yang lain'," lanjut monster raksasa itu. Tubuhnya yang setinggi hampir empat meter, nampak mengalirkan air mata terakhirnya. "Walau kami bukan manusia; walau kami hanyalah Shadow, tapi kami sudah menemukan diri kami yang sebenarnya. Kami bukan lagi sesuatu yang 'nihil'. Kami—Teddie adalah teman kalian, dan kalian adalah sahabat kami. Karena itu, terima kasih teman-teman karena sudah mengakui kami. Selamat tinggal, Sensei… Selamat tinggal, semuanya."

"Teddie-san, tidak!" teriak Yukiko, merasakan tubuh Teddie yang masih dipegangnya dan terbaring lambat laun melenyap.

"Tidak… Tidak! Teddie, jangan! Teddie!" Rise tidak bisa menahan histerianya. Air matanya mengalir semakin deras dan tak terhentikan.

"…Perasaan sebenarnya dari diri Shadow," ujar Izanami, mendengar raungan penuh amarah makhluk besar di hadapannya. Angin yang kuat meniup kedua sisi wajahnya. "Aku tidak ingat pernah menciptakan makhluk seperti itu… Ini-ini terlalu menyedihkan…"

"Teddie! Teddie!" Yu juga melihat sosok Teddie menghilang dan memudar dari pandangannya. Ia memukul lantai food court sekuat yang ia bisa ketika melihat tak ada sisa serpihan dari Teddie. Kepalan bagian luar Yu mengalirkan darah tipis akibat hantaman. "…Tidak…"

Izanami melangkah sedikit ke depan. "Siapa 'Dia' itu…?" tanyanya. "Beraninya dia melakukan ini pada Shadow-ku."

Aigis menyadari serangan dari raksasa hitam itu sudah dimulai. Monster itu bersiap mengayunkan tombaknya dengan kuat. Aigis dapat menilainya hanya dnegan melihat gerakan tangan yang mengambi ancang-ancang ke belakang itu. Gawat! Batin Aigis. Mereka semua tidak menyadarinya.

Tarot Aeon menampakkan diri dari langit yang hampa. Kilauan api biru itu melayang dan berputar di hadapan Aigis. Si android perempuan itu melayangkan jari-jemari berlarasnya ke arah kartu. Aigis sedikit menajamkan kedua matanya sekuat yang ia bisa. "Nagisa-wame!"

Tarot tersebut pecah berhamburan dan dari dalamnya, sosok Persona baru Aigis merealisasikan diri. Ia mengayunkan kendinya ke arah asal serangan, dan mengubah kendi tersebut menjadi sosok tameng bundar raksasa dnegan kepala gorgon di depannya: tameng aegis milik Pallas Athena sebelumnya. KLAAANK!

Bunyi besi beradu yang sangat nyaring mementalkan Nagisa-wame, sosok android berbalut selendang sutra transparan jauh ke balik kedai penjualan snack. Aigis terpukul mundur, merasakan rasa sakit yang nyata, namun masih bisa menahan kesadarannya untuk terus bersiaga. "Yu-san!" seru Aigis, mengeluarkan emosinya. "Dia menyerang ke arahmu!"

"Orrraargh!" Rokuten Maoh meninju pipi monster naga hitam itu dengan kuat, membuatnya sedikit terdorong ke belakang.

Kanji menguatkan kepalannya. Ia diantara merasa tidak kuat dan sedih memukul sahabatnya sendiri. Dengan tangannya yang lain, Kanji melap sisa air mata pada kedua pelipis bawah matanya. "Aku…aku tidak tahu harus melakukan apa, senpai. Aku…"

Kini Nanako tersungkur di atas kedua kakinya, ia menangisi kepergian Teddie, Dia sudah berusaha kuat untuk menahan ledakan air matanya, tapi ia tidak kuat. Nanako kemudian berdiri, dan meraih jaket Izanami. Ia menangis di sana. "Tolong, Izanami-san… Tolong bawa kembali Teddie-san kemari. Izanami-san adalah sang dewi, 'kan? K-kalau begitu… Nanako… Nanako…"

Tangisan mereka membuat Izanami merasa ikut tersakiti. Tidak hanya makhluk ciptaannya dipermainkan, tapi ia membuat Nanako yang merupakan manusia favoritnya juga ikut menangis. Dia ingin mengamuk sehabis-habisnya, tapi…ada yang aneh di sini. Dia belum tahu apa itu, tapi Izanami lantas memeluk kepala Nanako dan membiarkan si gadis kecil menangis si sana.

Yukiko mengayunkan kipasnya ke tarot High Priestess miliknya yang diselimuti api biru. Amaterasu kini menampakkan diri dan memberikan perawatan kepada Nagisa-wame yang masih tersungkur dengan Diarahan. "Aigis-san tidak apa-apa?" android yang dimaksud mengangguk dan berterima kasih selagi masih memegang satu lengannya.

"Ini pilihan berat…" ujar Yu, mengepalkan kedua tangan denga kuat. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan…"

"Yu-kun…" Chie mengerti apa yang dirasakan Yu saat ini. "Kita… Kurasa kita harus mengalahkan monster ini. M-maksudku…bukankah itu akan menyakiti Teddie lebih jauh jika dia tahu bahwa dirinya sendiri melukai kita semua. Terutama Nanako-chan."

"…Benar, Chie." jawab Yu. Dia mengerti. Hal yang paling membuat Teddie tersakiti adalah melihat sahabatnya terluka ataupun menderita. "Teddie…"

Rokuten Maoh kini juga terpental ke udara sebelum mendarat di kedai makanan. Sosok dewa iblis Kanji itu terdiam di sana. "Kanji!" Rise melihat sosok terbaring Kanji yang tidak berdaya di atas lantai food court. "Ia segera berlari ke sisi Kanji. "Ya tuhan, Kanji kau terluka… A-aku tidak bisa… Yu-Yukiko-senpai, t-tolong!"

Yukiko kembali memerintahkan Amaterasu untuk menggunakan Diarahan terhadap Kanji. Pilar cahaya terang keemasan menyelimuti tubuh juniornya dan menghilangkan luka memar pada sisi pipi Kanji. "Itu bukan apa-apa. Hanya luka kecil; kau terlalu berlebihan, Rise!"

"T-tapi…!" bela sang idola remaja.

Raksasa itu kembali mengayunkan tombak Izanagi kembali ke arah mereka. Yosuke memecahkan tarot Arcana-nya dan memanggil Susano-O ke hadapan mereka semua. Dengan pedang yang melingkari tubuhnya, Susano-O menahan tombak Izanagi si monster dengan bantuan dorongan kaki pada bagian punggung pedang unik tersebut. Yosuke berusaha bertahan sekuat mungkin, tapi dia semakin terdorong.

kali ini sosok Suzuka Gongen yang datang; Chie baru saja kembali berdiri dengan biasa setelah menendang tarot Chariot miliknya. Suzuka Gongen menghalau tombak putih itu dengan senjatanya sendiri. Memukulnya ke atas, Suzuka Gongen menendang perut monster tersebut. Susano-O kini dapat berdiri dengan sempurna, sambil mempertahankan kekuatannya.

Yukiko melepaskan Agidyne milik Amaterasu dan menghempaskan si monster raksasa sedikit ke belakang. "Yu," Yukiko mengguncang satu bahu pemimpin mereka. "Kita…kita…!" Yukiko kembali membumbungkan air matanya. Dari kesemuanya pastilah Yu yang merasa begitu perih, gadis itu tahu hal tersebut. Yukiko tak dapat melanjutkan kata-katanya. Namun kemudian ia menyadari satu telapak Yu menghimpit punggung tangan Yukiko yan gebrada pada pundak Yu.

"Aku tahu. Aku tahu, Yukiko." Yu menatap gadis itu. Ia tersenyum dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Maafkan aku,"

Yu mengarahkan telapaknya di hadapan wajahnya, tarot The World menampakkan dirinya. Yu memecahkannya, namun tidak terjadi apa-apa. "A-apa?" Izanagi-no-Okami tidak menampakkan dirinya. "I-Izanagi?"

"Ada apa?" tanya Izanami.

Sekali lagi Yu memanggil tarot terkuatnya, tapi tak terjadi apa-apa ketika ia memecahkanya. "I-Izanagi-no-Okami tidak menjawab panggilanku…"

Semuanya terkejut. "B-bagaimana bisa?" tanya Yosuke, ikut terheran-heran.

Sosok monster raksasa yang menyerupai naga dan dan beridiri di atas kedua kaki tersebut kembali mengayunkan tombaknya. Susano-O menahan dengan pedang melingkarnya lagi, begitupula Suzuka Gongen yang menahan dengan tombaknya. Satu ayunan yang sangat kuat. Mereka berdua terpental ke udara, diikuti dengan rintihan kesakitan dari Yosuke dan Chie.

Amaterasu menarik dirinya ke belakang dan merawat Susano-O dan Suzuka Gongen menggunakan Mediarahan.

Kali ini, Yu mencoba memanggil tarot Fool miliknya. Dia memecahkannya dan dari dalam sosok Loki menampakkan wujudnya. Berhasil? Pikir Yu, tidak percaya. Apakah hanya Izanagi yang tidak meresponnya?

Loki melipat tangannya di hadapan dada, melihat wujud besar hitam di hadapannya sambil menunggu komando dari Yu. Si pemilik mengarahkan satu tangannya ke depan. Menyadari hal itu, Loki menepuk kedua telapak tangannya menjadi satu.

Niflheim!

Pilar es raksasa beserta hawa dan uap dingin yang membekukan tersebut menutupi wujud raksasa berlendir hitam itu dari kaki hingga ke langit, sejauh mata mereka dapat melihat. Aigis terpaku melihatnya serangan itu bisa mendiamkan si monster.

"…Namun, aku masih bisa memanggil Persona yang lainnya…" ujar Yu, masih bingung.

"…Tapi, apa yang akan kau lakukan sekarang, Izanagi?" tanya Izanami yang masih dengan Nanako yang memeluknya dari depan pada lingkaran perutnya.

Monster hitam itu berhasil memecahkan balok es, namun merintih kesakitan dari bekas hawa dingin tersebut. Dia meraung ke langit merah di atasnya. Sekali lagi, dia mengayunkan tombaknya ke arah Loki. Melihat itu, dengan cepat Yu memanggil kembali Loki, dan menukarnya dengan tarot Emperor sebelum ia pecahkan. "Odin!"

Butuh sekelebat waktu saja, kini Odin dapat menangkis tombak lawannya dengan otmbak miliknya sendiri. mementahkannya, Odin memutar-mutarkan tombak kebanggaannya dan mengeluarkan hantaman angin yang maha dahsyat, meniup segala hal yang ada di depannya.

Phanta Rei!

Monster itu tertohok dan berdiri di atas satu kaki dan dengkulnya. "Serangan itu melemahkannya, senpai…" ujar Rise, dengan visor dari Kanzeon melingkari matanya. Ini berat. Dari kesemuanya, mengapa mereka harus melawan Teddie. Rise memicingkan kedua matanya dengan kuat. "…Lawan jatuh. Saatnya serangan balik, senpai, semuanya…"

Ini berat bagi Rise. Yu sendiri juga tahu itu. Ketika dia mencoba melihat ekspresi sahabat-sahabatnya yang lain, mereka juga nampak tidak tega. "…Ayo." perintahnya.

Dengan kekuatan Nagisa-wame, Aigis memberikan efek Matarukaja yang menguatkan daya serang rekan-rekannya. Sekali lagi Yukiko melancarkan Agidyne, serangan api terkuat yang saat ini dimilikinya. Monster itu terpukul sedikit ke belakang. Dengan Brave Blade dari Susano-O, sosok monster itu tampak semakin merintih kesakitan di atas dengkul dan kakinya.

Rokuten Maoh kini menembakkan bola energi ber-intensitas dan berkekuatan maha tinggi. Primal Force mengenai raksasa hitam itu dengan telak, membuatnya terjatuh ke tanah. Serangan terakhir dari Suzuka Gongen, God Hand, membuat raksasa itu tak berdaya di atas tanah.

Yu menggemertakkan gigi-giginya. Ia kembali mengangkat satu tangannya dengan berat dan setengah hati. "Odin, Phanta Rei…"

"…Jadi kau akan menghabisinya, Izanagi?" pertanyaan lamat dari Izanami mendiamkan Yu, dan melambatkan Odin di tengah-tengah pemanggilan sihirnya.

"Tidak!" Nanako beralri ke arah raksasa hitam itu dan merentangkan tangannya di sana. "Jangan bunuh Teddie, Onii-chan!"

"N-Nanako!" terlambat. Phanta Rei sudah dilepaskan Odin. Yu berlari sekuat tenaganya ke depan, menjulurkan tangannya dengan penuh horor. "Tidak! NANAKO!"

|To the Next|

AN: The Another Self of the Another Self. Hehe, judulnya asik ya? *plak!* Maaf karena update-nya begitu lama. Maaf juga jika banyak typo; saya ga ngecek yan gsatu ini karena sibuk. Seperti yang sudah saya katakan, saya akan berusaha untuk tidak menelantarkan fic ini terlalu lama. Jadi tetap berikan masukan melalui review.

Semoga semua puas dengan chapter ini. Saya ikut sedih dengan Teddie. Bagaimana menurut pembaca? Bagaimana battle-nya? Saya bukan orang yang doyan ngeliat karakter neriakin nama jurus, kecuali satu dua kali. Melainkan hanya dengan melalui diksi. Begitulah. Apa yang akan terjadi di chapter berikutnya? Lalu siapa 'Dia' yang diucapkan Teddie sebenarnya?

Untuk yang sudah menawarkan diri menjadi admin Magatsu Indonesia, saya berterima kasih. Karena saya sedang sibuk seklai belakangan ini, nanti akan saya balas bila sempat. Terima kasih partisipasinya. Saya begitu menghargainya.

Terima kasih untuk reviewnya, baik yang udah ngikutin sampai titik ini, dan yang baru ngikutin baru-baru ini. Terima kasih semuanya. Teruslah mereview :D

Tombol Review di bawah itu tombol Plot Bunny saya sebenarnya. Semua review yang masuk selalu saya jadikan acuan dalam menulis fic ini. Thanks.

Tunggu chapter berikutnya, ya :)