Two Hurt
Genre : Angst, Romance, OOC, abal, Typo n Misstypo, menerjang EYD seenak jidat dan gajeness
Fandom : the GazettE
Pair : ReitaXRyuki (ajang author narsess XDD), dan sedikit *ehem* YAOI AOIXURUHA *huahahahahahahaha Author laknat*
Rate : T untuk sekarang ini XP rating bisa berubah seenak jidat author U,U
Disclaimer : the GazettE punya PSC, tapi cerita angst nan abal ini punya Saia.
Spesial fic untuk ulangtahun hubby saia Reita tanggal 27 Mei Taon kemaren U,U ga tau endingnya kapan, Aishiteru Hunny :* (di keroyok Reita Fc)
Theme song kali ini : I kissed a girl – Glee Cover Katy Perry
Apa yaa ? I have no Idea U,U #slap, silahkan di tebak-tebak dengan themesong-nya U,U, I kissed the girl and I like it tasted her cherry chapstick, I kissed the girl just to try it, I hope my boyfriend don't mind it, it feel so wrong it feel so right don't mean I'm in love tonight, I kissed the girl and I like it... I like it~~
WARNING : siapapun yang ngebaca fic ini tiba2 merasa mual dan pengen muntah, pengen mencacimaki gue, ato mau pingsan silahkan close tab yang mengandung fic super abal ini, karena saia tidak mau menanggung jika kalian nantinya terserang ayan setelah baca fic ini *kabur*
Ryuki yang tadinya histeris kini sudah tenang kembali setelah suster yang berjaga malam ini menyuntikkan obat tidur ke infusnya, tangannya masih tidak mau melepaskan tangan Reita, Uruha yang ada di dalam hanya memandangi sang adik dengan mata sayu-nya yang lelah, di wajah adiknya tidak ada kesan damai sama sekali, raut ketakutan masih tergambar jelas di wajahnya, selain itu wajah lelah dan kusut adiknya membuatnya semakin sakit.
"Ryuki..., kenapa kau jadi begini..., bukannya kau bilang mau sembuh dari semua trauma mu ?"
"Uruha-san..., Ryuki-chan akan baik-baik saja, percayalah..." Reita berusaha menenangkan Uruha
"benar, Uru-san, besok, dia akan kembali seperti semula, dia akan baik-baik saja, adikmu ini gadis yang kuat" Aoi menepuk pundak Uruha penuh simpati
Dan benar saja apa yang dikatakan Aoi, besok pagi adiknya bangun sudah seperti biasa, ceria, riang, cerewet dan oh sepertinya sikap pervert-nya juga tidak hanyut tenggelam di danau, buktinya begitu dia bangun dia langsung mencolek sang kakak dan menggodanya habis-habisan, pasalnya kakaknya tidur bersebelahan dengan Aoi di sofa sedangkan yang tertelungkup di samping ranjangnya adalah Reita, dan Ryuki tidak menyadari itu
"ne... ne nii-chan kau ternyata yaa... diam – diam bermain serong dengan Aoi-san waktu adikmu yang imut-imut dan ringkih ini terbaring tak berdaya" Ryuki mengucapkan dengan nada yang di buat-buat memelas, Uruha yang medengarnya seakan ingin memuntahkan makan malamnya.
"Kau membuat ku ingin muntah" gerutu Uruha terang-terangan "mungkin lebih baik kalau kau koma saja hari ini" Uruha makin kesal, urat di jidatnya semakin jelas saja.
"nii-chan kau kenapa jahat padaku... hu hu hu huuuu TT^TT" Ryuki mulai mewek, Reita yang tertidur di samping ranjangnya terbangun. Kaget. Dia mengira Ryuki kembali histeris, ternyata yang ada di wajah gadisnya itu hanya cengiran menyebalkan saja. Reita sweatdrop sendiri melihat kelakuan menyebalkan Ryuki, lihat saja waktu dia sudah sembuh sekarang ini, kembali lagi kelakuan tengilnya, tapi lihat waja waktu sakit, bikin semua orang kelabakan khawatir karena tingkahnya yang mudah histeris, sungguh sangat berlawanan dengan Ryuki yang sehari-sehari, Reita curiga, jangan-jangan adik Uruha ini memiliki kepribadian ganda. Tapi Reita segera menepis pikiran ngawurnya ini jauh-jauh. Dalam hatinya terbersit rasa lega melihat gadis yang ada di hadapannya sudah seperti biasa lagi.
"eh Rei-nyan kenapa ada di sini" tanya Ryuki polos
"tidak boleh ?" jawab Reita dingin seperti biasa "dan, jangan panggil aku dengan tambahan nyan, aku bukan kucing" gerutunya, ia sebal setengah mati jika sikap tengil adik Uruha ini kembali, dan hal ini juga yang membuatnya selalu tidak bisa akur dengan adik Uruha ini.
"heee... Rei-nyan kan bagus untukmu" Ryuki tersenyum jahil
"ah terserah apa katamu" Reita jengkel
"ne... Rei-nyan kau marah ?" gadis ini bertanya dengan sok polos, padahal dalam hati dia tersenyum penuh kemenangan ah lebih tepatnya seringai mungkin,
"aku mau pulang dulu, sudah semalaman aku disini" Reita pamit pulang dengan rasa jengkel yang masih menempel di kepalanya
"heee ? kenapa secepat itu ?" Ryuki merajuk
"tidakkah kau tau aku sudah dua hari tidak pulang ke rumah, yang ada para maid yang ada di rumahku akan melaporkan ke polisi bahwa aku ini hilang" Reita makin dongkol saja dengan reaksi Ryuki yang sok polos
"nyuuuuuuu, nii-chan, Rei-nyan jahat" Ryuki memonyongkan bibirnya seperti bebek dan merajuk kepada Uruha
"ck, kau ini padahal yang sakit di sini kau, tapi kelakuanmu sekarang ini tidak seperti orang sakit" Uruha mengurut jidat kesal, sedangkan Aoi cuman cekikikan gak jelas di belakangnya
"hmm... tapi apa yang dikatakan Reita benar, Ryuki-chan. Aku dan Reita sudah 2 hari tidak pulang dan tidak ada kabar, bisa bisa kami sudah masuk berita menjadi korban penculikan" canda Aoi
"humph..., baiklah, kalau begitu, hati-hati di jalan Aoi-san, jaaa Rei-nyan" sambil melambai-lambai ke Reita
"haaaaahhhh..." Reita hanya bisa mendesah sebal kepada diri sendiri bagaimana dia bisa menyukai gadis tengil nan menyebalkan macam Ryuki, dirinya sendiri tidak membayangkan bagaimana jika mereka nanti benar-benar pacaran lalu menikah ? Reita bisa-bisa mati muda karena tekanan darah tinggi menghadapi kelakuan istrinya yang usil dan tengil itu. EH ! tunggu sebentar, apa yang di bayangkan Reita barusan ? dia, menikah dengan Ryuki ? Reita hanya tersenyum konyol kepada dirinya. 'Apa yang barusan aku fikirkan' batinnya sambil tersenyum gaje sendiri.
"Kau kenapa Rei ?" Aoi menepuk pundak Reita dan membuyarkan semua lamunan ngawurnya barusan
"eh ?"
"haaahh, sudah kuduga, ini masih pagi Rei, jika ingin day dreaming nanti saja kalau sudah malam" Aoi kembali menepuk-nepuk pundak Reita, lalu segera melenggang menuju SLR McLaren Putih yang sudah menganggur dua hari di basement rumah sakit.
Sedangkan Reita dengan santai melengggang menuju Hummer HX yang beberapa hari ini dia pakai kemana-mana. Langsung Reita memacu mobilnya keluar basement rumah sakit menuju rumahnya, tapi ada yang aneh dengan halaman rumahnya, biasanya di sana berjajar mobil-mobil koleksi favoritnya, kini hanya ada Nissan Skyline, dan Porsche Carerra GT dan oh kemanakah perginya BMW M3 GTR, Mitsubishi Eclipse dan Lancer Evolution X miliknya dan kenapa justru ada Skyper C8 Aileron, Corvette C6 dan Ferrari Aurea ? hey kemana mobil-mobil mahal kesayangannya hasil dari membantu bisnis ayahnya dan bermusik ?, Reita yang kaget dengan keadaan di rumahnya segera saja turun dari mobil dan melempar kuncinya kepada salah seorang penjaga yang sedang bertugas di sana untuk memarkirkan mobilnya
"what's going on here ?" hal yang pertama kali diucapkan Reita ketika memasukin rumahnya sendiri
"hmm... kau sudah pulang, Rei ?" ayah Reita, seorang bussinesman sukses –yang merangkap seorang mafia- sedang membaca koran pagi sambil menikmati kopi robusta pekatnya
"ayah, apa-apaan ini ? kemana mobil ku ? kenapa hanya bersisa dua ?" Reita langsung menyembur ayahnya dengan pertanyaan dengan nada geram
"duduklah dulu, bicarakan baik-baik Rei, kenapa belakangan ini kau jadi temperamen sekali" J panggilan sang ayah yang memiliki nama asli Onose Jun, menggeser duduknya dan menyuruh anak laki-laki semata wayangnya untuk duduk di sampingnya. *pssst, psst kalo nggak jelas J ini siapa, ini adalah J bassist-nya LUNA SEA X3 sebenernya pengen Teru vokalis GLAY yang dijadiin bapaknya Reitong, tapi aku melihat tampang om J lebih sangar dan sama-sama bassist dan sepertnya match jadi ya itu aja #slap* (kembali ke cerita)
"ck" Reita yang makin kesal hanya membanting tubuhnya saja di sebelah sang ayah dengan wajah dingin
"ne... begitu kan bagus" tanpa di duga-duga J mengeluarkan kamera saku dan memotret anaknya yang sedang kesal itu. Reita yang sedari tadi urat di jidatnya belum menghilang betul karena kesal terhadap Ryuki, kini harus meladeni kelakuan ayah-nya yang super gaje ini, dibalik tampangnya yang sangar, siapa yang menyangka bahwa J, ayah Reita memiliki kelakuan tengil nan menyebalkan sama dengan Ryuki, mungkin akan lebih tepat jika Ryuki yang menjadi anak J dari pada Reita.
Mungkin jika sedang berbisnis ayahnya bisa berubah 180 derajat, tapi jika sudah berada di rumah dan bertemu dengan anaknya, nafsunya untuk menjahili sang anak semakin menjadi-jadi saja. Yaaa... mengingat Reita adalah satu-satunya peninggalan istrinya yang sudah meninggal 20 tahun lalu, sifat Reita yang mirip sekali dengan ibu-nya membuat J sangat menyayangi anak laki-lakinya yang satu ini, bahkan J pernah berkata bahwa kehadiran Reita sudah cukup mengobati rasa sakitnya kehilangan istrinya saat melahirkan anak laki-lakinya ini. Dan menurut J, Reita adalah hartanya yang paling berharga dari apapun yang dimikilinya saat ini. Bahkan pernah saat Reita ngambek tidak mau berangkat sekolah, J rela membatalkan keberangkatannya ke luar negeri untuk urusan bisnis demi membujuknya berangkat sekolah dan mengantarnya berjalan kaki sambil menggendong Reita. Tapi Reita meski selalu di sayang oleh sang ayah, dia tidak pernah ingin menjadi anak yang manja, sifatnya yang keras kepala dan selalu ingin mandiri membuatnya tumbuh sebagai pribadi yang ulet sama denga ibunya, waktu kecil dia jarang sekali rewel atau merajuk meminta sesuatu, dia selalu mengambil makanannya sendiri tanpa harus merepotkan maid-nya meskipun di mansion J yang luar biasa besar ini banyak sekali maid, tapi Reita selalu saja bertingkah seolah-olah dia hidup sendiri dengan ayahnya dan Reita bukan tipikal orang yang suka merepotkan orang lain, bahkan pernah waktu dulu ia terjatuh di kolam penuh lumpur dia sendiri yang mencuci baju dan membersihkan noda lumpur yang ada di lantai rumahnya, meskipun para maid-nya sudah memohon kepada Reita agar mereka yang membersihkannya, tapi Reita tetap saja Reita, keras kepala.
"ayah ini apa-apan sih" Reita yang kesal langsung meninju sang ayah
"ow ow ow ow Rei-chan, tidak bisakah kau lebih lembut kepada ayahmu yang sudah tua ini" J pura-pura memelas
"ayah, berhentilah membuatku bertambah kesal atau aku akan melempar ayah ke kolam ikan di belakang"
"ne..., ayah kan hanya mengungkapkan rasa rindu kepada anak ayah" kilah J
"ayah..., aku ini bukan anak perempuan yang akan menangis bombai melihat ayah pulang"
"jadi, kau tidak ingin melihat ayah pulang, ahhh hati ayah sakit sekali" wajah J pura-pura memelas dan sedih, Reita yang melihatnya hanya sweatdrop sendiri.
"ayah, berhentilah berkelakuan sok manis di hadapanku, itu membuatku semakin muak saja, lama lama kelakuan ayah sama dengan Ryuki-chan" Reita pasrah melihat keadaan sang ayah yang penyakit melankolisnya makin parah
"nee... siapa itu Ryuki-chan ?" sontak telinga J berdiri dan seolah menuntut penjelasan dari sang anak, wajahnya berbinar penasaran
"em... ano... itu..." Reita jadi gelagapan sendiri
"ahhh... akhirnya..., anak ayah benar-benar punya pacar, bukan teman kencan atau teman tidur saja" J mem-bear hug Reita sekencang-kencangnya, sehingga Reita dan kena serangan bear hug mendadak dari sang ayah mejadi seperti ikan yang dipaksa menghirup udara
"a...yah...lephas..." sekuat tenaga Reita menendang sang ayah menjauh darinya "ayah ini apa-apaan sih, niat untuk membunuhku ya ?" bentak Reita keki
J yang terlempar sejauh 10 meter (?) dengan cepat berdiri dan merapihkan penampilannya dan segera kembali ke tempatnya semula.
"ups, maafkan ayah Rei-kun, tapi bagaimanapun ayah bahagia mengetahui kau sudah punya pacar dan akan menikah" J mulai lagi penyakit gaje-nya =w=''
"apa ? menikah dengan Ryuki-chan ? gadis tengil macam dia ? ahhh sepertinya ada yang salah dengan hormonku" Reita mengumpat-umpat sendiri
"ne ne ne, Rei-kun, tidak boleh begitu, kau akan terkena karma loh" J menggerak-gerakkan jari telunjuknya, bergaya seperti ibu yang sedang menasehati anaknya.
"haaaahhhhh, terserah apa kata ayah, yang jelas aku sebentar lagi ada kuliah, sebaiknya aku bersiap-siap" Reita hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi di tahan oleh J
"tunggu dulu"
"ada apa lagi" Reita sudah tidak tertarik untuk membicarakan pacar atau segala macamnya dengan ayahnya
"ini" J melemparkan beberapa kunci mobil kepada Reita
"apa ini ?" tanya Reita bingung
"kunci mobil" jawab J datar, kini giliran dia yang di buat keki dengan kelakuan Reita kalo sedang tidak nyambung di ajak bicara itu
"iya, tau kunci mobil, terus mau di apakan" Reita sweatdrop sendiri
"dimakan" J jadi bertambah Keki
"ayah..., jangan mulai lagi" Reita ikut-ikutan keki
"sudah tentu itu hadiah untukmu" J kembali duduk dan menuangkan segelas robusta pekat ke cangkir yang baru
"hadiah untukku ? sebanyak ini ? dalam rangka apa ?" Reita bingung
"hey, anak bodoh, apa kau lupa, kemarin itu hari ulang tahunmu, aku menunggumu semalaman sampai kue yang aku sediakan tidak bisa dimakan karena terlalu banyak lelehan lilin di atasnya, kemana saja semalam kau tidak pulang, naaahh jangan bilang kau juga lupa ulang tahunmu" cerocos J panjang lebar
"eh ?" Reita entah ekspresi apa yang tergambar di wajahnya tidak terbaca jelas
"hey, mana terima kasihnya, kenapa hanya bilang 'eh' saja" J makin keki
"um..., terima kasih" gumam Reita pelan "tapi kenapa sebanyak ini ?"
"oh, Corvette biru itu dari relasiku, Takashima Hisashi, Ferrari putih itu dari Sugizo, ayah Aoi-kun, dan Skyper C8 Aileron itu dariku, aku bawa langsung dari Belanda" jawab J ringan *catetan author, author agak ragu-ragu ama skyper itu pabrikan mana, tapi setau author sih pabrikan Belanda*
"ah iya masih ada lagi" J segera memanggil kepala butler "ahhh, ini dia, ada lifebook dari Teru, ayah Kai-kun, lalu Ruki-kun mengirimi sebuah bass, dan ohh ada seekor anak kucing himalaya dan sebuah surat kaleng dari Ryuki-chan, anak perempuan Hisashi" J menunjukkan seekor anak kucing imut berwarna abu-abu terang yang lincah bermain dalam kandangnya
"hmm, mana surat kalengnya ?" Reita segera menyambar surat dari Ryuki
'hey, Rei-nyan, mungkin kau akan kesepian, jadi aku berikan anak kucing lucu itu padamu, kalau sampai kenapa-napa dan tidak kau rawat dengan baik, aku bersumpah, kau tidak akan melihat matahari besok pagi. From hell with love, Ryuki-chan
"bagaimana ?" tanya J penuh harap "jangan bilang kau lupa hari lahirmu sendiri"
"un, sejujurnya aku lupa" jawab Reita datar "tapi, terima kasih untuk semua ini, dan terima kasih ayah mau pulang kemari dan memberiku kejutan seperti ini" Reita menyunggingkan sebuah senyum yang jarang sekali di lihat oleh banyak orang, dan ohhh lihatlah betapa tampannya anak laki-laki J ini jika sedang tersenyum, hanya saja Reita ini terkenal pelit senyum dan wajahnya yang dingin seperti balok es. J yang kembali lagi penyakit gajenya segera saja memotret momen langka ketika anak laki-lakinya ini tersenyum
"ahhhhh Rei, kau begitu tampan saat tersenyum, pantas saja gadis-gadis itu mau kau ajak kencan atau kau tiduri, hey, beritahu ayah apa rahasiamu ?" J kembali menggoda Reita dengan pertanyaan-pertanyaan usil
"sudahlah ayah…, aku mau berangkat kuliah" Reita segera ngacir kekamarnya sambil menenteng kandang kucingnya
"oh iya Rei" J berbalik dari sofa-nya
"ck, ada apa lagi ayah ?" Reita keki
"sepulang kuliah datanglah ke tempat ini" J memberikan Reita secarik kertas
"hn ? untuk apa ?" Reita bingung
"sudahlah, yang penting datang saja"
"hm, baiklah" Reita kembali berlalu
Kini J kembali membolak-balik koran yang sempat dia tinggalkan karena sedang berdiskusi dengan Reita, sebenarnya malam hari nanti dia berencana membuatkan pesta ulangtahun untuk anaknya tentu saja undangan sudah di sebar tanpa sepengetahuan Reita, gedung, dekorasi, katering dan sebagainya sudah di persiapkan dengan sempurna, bahkan J sudah menyiapkan beberapa pilihan jas untuk anaknya, dari yang formal hingga casual, bahkan dia juga sudah mengubungi hair stylist yang biasa mengurusi Reita untuk menata rambutnya. Mungkin semua orang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh J ini terkesan berlebihan, semua orang tau bahwa anaknya adalah seorang laki-laki, tapi kadang J memperlakukan hartanya yang paling berharga itu lebih dari perlakuannya terhadap seorang putri, baginya Reita terlalu berharga, dan J sebisa mungkin untuk bisa menuruti semua keinginan anaknya itu, tapi J tidak mau memanjakkannya, J tetap mendidiknya dengan keras, sebagaimana anak laki-laki yang akan memimpin keluarga selanjutnya, dan sepertinya apa yang di lakukan oleh J berhasil, karena sekarang ini anaknya berhasil menjadi pribadi yang di inginkan oleh J, seorang yang mandiri dan penuh tanggung jawab.
-skip-skip-skip-
Malam menjelang, Reita kali ini sedang duduk di depan meja rias besar yang biasa dia gunakan sebelum naik panggung. Dan seorang hairstylist sedang merapikan rambut panjangnya yang biasanya di buat jabrik itu menjadi lebih formal agar sesuai dengan potongan jas casual miliknya, tapi tetap saja, noseban yang menempel di hidungnya tetap tidak mau ia tanggalkan, entah kenapa dia merasa pede dengan noseban-nya tersebut dan sepertinya orang-orang memahami itu.
Para tamu undangan sudah memenuhi sebuah gedung dengan dekorasi simple yang terkesan mewah, musik jazz mengalun lembut dari sebuah orkestra di sudut ruangan, para petinggi dunia bisnis rekan kerja ayah Reita, banyak hadir disana, teman kuliah, dan tidak ketinggalan para personel the GazettE dan tentu saja Ryuki hadir disana, kali ini Ryuki sedang tidak bersama Kai, dia datang bersama kakaknya Uruha, gadis itu mengenakan dress ungu panjang, setengah backless dan offshoulder tentunya, rambutnya ditata kesamping semua, dan di kepalanya tersemat mahkota kecil yang membuatnya semakin cantik, dia memasuki ruangan bersama Uruha yang mengenakan tuxedo hitam, sebuah kacamata, rambut coklat madunya tampak ditata lebih rapi dari biasanya. Ruki yang melihat kedatangan mereka segera saja melambaikan tangan kepada Takashima bersaudara, di lingkaran Ruki sudah ada Aoi, dan Kai yang sudah datang duluan, sama seperti Uruha, mereka bertiga dalam balutan jas semi formal, warna hitam, tapi sepertinya hanya Ruki yang memakai warna silver.
Jujur saja, ketiga orang tersebut tampak terpesona dengan Ryuki yang biasanya berdandan seenaknya sendiri kini berubah menjadi orang yang berbeda, musik yang awalnya jazz berubah menjadi lembut. Fur Elise milik Beethoven yang kini dimainkan, bersamaan dengan turunnya sang pangeran, orang yang paling di tunggu dalam pesta ini, Reita
Entah kenapa pandangan Reita tidak bisa beralih dari gadis dengan gaun ungu yang kini berdiri disamping Kai. 'harusnya dia sekarang ini yang ada di sampingku' gerutu Reita kesal dalam hatinya, tapi ia berusaha untuk menyembunyikan rasa kesalnya tadi, kembali dia memasang tampang dingin yang bisa membuat gadis-gadis dari fans klub di universitasnya berteriak kegirangan melihat senpainya begitu tampan.
Berbeda dengan gadis-gadis tadi Ryuki malah cuek dan sekarang ini dia sedang berdansa dengan Kai, melihat kejadian tersebut membuat Reita semakin bertambah dongkol saja, untungnya disana banyak gadis cantik anak relasi ayahnya yang bisa dia rayu dan bodohi agar mau berdansa dengannya.
Puncak acara pun tiba, Reita memotong kue ulang tahun yang tingginya hampir 1 meter itu dan memberikan potongan pertama pada ayahnya. Kembali setelah itu musik mengalun lembut dan lampu agak diredupkan kini giliran Claire de Lune dari Debussy yang bermain, kali ini Ryuki sedang sendirian dan ini adalah kesempatan Reita untuk mengajaknya berdansa, tinggal mengerahkan semua aura ketampanannya dan senyum terbaiknya, dan yak. Sesuai perhitungan, gadisnya takluk dengan senyum ala gentleman milik Reita
Kini Ryuki tidak lagi berada di pelukan Kai, tapi berpindah kepada sang pangeran pada pesta kali ini.
"ah aku lupa memakaikan ini" Reita mengeluarkan pita mawar berwarna hitam dan sedikit corak ungu. "mungkin agak tidak sesuai dengan bajumu tapi aku ingin kau memakainya"
"hn ? ke...kenapa kau yang memberikan ku sesuatu Rei-nyan ! hari ini kau yang berulang tahun" Ryuki jadi salah tingkah sendiri
"tidak, aku memang sengaja ingin memberikan ini untukmu, sebagai ucapan terima kasih, atas 'surat ancaman' yang kau kirimkan kepadaku" Reita menyunggingkan senyum termanisnya dan Ryuki kembali meleleh dalam pelukannya. Suasana ruangan yang redup membuat orang tidak bisa melihat terlalu jelas apa yang dilakukan orang lain. Reita dan Ryuki yang tengah terhanyut dalan alunan lembut Claire de Lune seolah melupakan segala yang ada di sekitarnya, hanya ada mereka berdua. Melupakan segala permusuhan yang pernah terjadi, melupakan status mereka masing-masing yang mereka inginkan hanyalah semakin dekat dengan satu sama lain, menyuarakan apa yang selama ini mereka simpan di lubuk hati terdalamnya melalui pancaran mata, seolah kau bisa membaca semua itu di mata keduanya, seolah di tuntun oleh perasaan keduanya, mereka saling berpagutan, merasakan manisnya kedua bibir yang saling berpagut, ciuman lembut dan penuh cinta yang Reita daratkan di bibir Ryuki merupakan bukti yang nyata bahwa mereka saling mencintai dalam permusuhan yang mereka jalin setiap hari, mereka berdua sama-sama kuat dan tidak mau mengakui, padahal mereka ingin menyampaikan perasan yang sebenarnya ke satu sama lain, tapi mereka selalu menolak fakta yang ada dan terus membohongi diri mereka sendiri. Dengan saling menyakiti mereka paham, bahwa sebenarnya ada cinta yang sangat besar tersembunyi di baliknya. Reita melepaskan ciumannya dan mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi chubby Ryuki. Gadis yang ada di hadapanya kini wajahnya berubah menjadi semerah tomat. Tapi pekukan hangat Reita berusaha membuatnya nyaman kembali dan kembali terhanyut dalam dunia-nya yang lain, dunia dimana ia ingin jujur, bahwa di dalam lubuk hatinya, dia sangat mencintai laki-laki yang sedang memeluknya kini. Tapi di sudut ruangan tersebut, sepasang mata penuh kebencian dan rasa kesal terus memandangi mereka, tatapannya tajam dan menusuk.
Ripiu ?
