Seorang gadis berambut ombre hitam-pirang berlari dengan sejumlah barang bawaan di tangan dengan terburu-buru. Wajahnya tampak panik dan berkali-kali melihat pada jam di layar ponsel yang sejak tadi ia genggam sembari memeluk dua papperbag berisi belanja bulanan.
"Mama!" panggilnya dari luar karena ia mengalami kesulitan untuk menekan tombol bel.
Tak berapa lama, seorang perempuan berumur lebih dari setengah abad membuka pintu. Gadis itu langsung tersenyum penuh syukur. Ia masuk dan meletakkan belanjaannya di atas meja makan lalu berlari menuju kamarnya dan menemukan sang kakak sedang menggendong seorang bayi yang tertidur pulas dalam pelukannya.
"Sudah pulang, Tao?" tanya Tiffany setengah berbisik.
"Jie, temani aku," pinta Tao. Wajahnya memelas.
"Ke mana?"
"Tempat show-nya Wu Fan Ge! Dia menyuruhku ke sana sebelum acaranya berakhir. Please… temani aku. Titipkan saja Mark pada Mama," kata Tao sambil terus memohon-mohon—setengah memaksa—pada Tiffany.
Tiffany manyun. Ia masih menunggu suaminya pulang kantor selama di apartemen ibunya sambil menjaga, Mark, putra pertamanya. Tapi adiknya, Tao, malah mengajaknya untuk menonton EXO. Memang sih Tiffany masih menyukai EXO, tapi tetap saja ia tidak bisa meninggalkan Mark apalagi putra tunggalnya baru berumur tujuh bulan. "Kau sudah besar, Tao."
"Ayolah, Jie…" kata Tao semakin memelas. "Bbuing-bbuing…"
Tiffany mendengus sambil memutar mata. Dia benci aegyo adiknya.
.
.
.
Kazuma House Production
Proudly present…
.
.
.
Me Prometa 2 : Years After
® 2013
.
.
.
Sehun membiarkan sapu tangannya basah karena air mata Baekhyun. Ia tak tega melihat gadis yang sudah seperti kakaknya itu menangis akibat seorang lelaki seperti Chanyeol. Ia tidak tahu masalah di antara keduanya dan tidak mau mencoba ikut campur. Apapun keputusan yang diambil keduanya, pasti bukan karena hal yang sepele.
Sehun kembali memandang pada TV. Giliran Luhan yang diwawancara. Entah bagaimana, perasaannya ikut tak tenang. Pertanyaan apa yang akan diberikan? Jawaban apa yang akan Luhan lontarkan?
Tujuh tahun sudah berlalu sejak ia debut. Debutnya dimulai dengan menjadi model MV terbaru EXO. Saat itu dia harus beradu akting dengan Yoon So Hee juga dengan Luhan dan Chanyeol. Sehun tidak mungkin melupakan saat-saat dimana sebutan "trainee" akan dia lepas.
Ia tidak mungkin lupa juga bahwa sejak saat itu ia berusaha mendekati Luhan. Dengan sedikit faktor luck, ia hampir selalu dipasangkan bersama Luhan dalam pemotretan-pemotretan di awal debutnya. Kata sang fotografer, wajah mereka memiliki charm tersendiri. Sehun tidak tahu charm macam apa yang dimaksud.
"Luhan-sshi, sekarang Anda lebih banyak menerima tawaran iklan daripada drama. Kenapa?" tanya sang pembawa acara.
"Kurasa aku jadi lebih senang mendesign pakaian daripada shooting," jawab Luhan sambil tertawa. "Hahaha… aku hanya bercanda. Bukannya aku lebih memilih iklan daripada drama, kadang aku tidak sreg dengan jalan ceritanya, jadi kutolak. Lagipula umurku sudah tidak muda lagi seperti dulu, aku butuh banyak tidur."
"Sepertinya kau memang tidur tujuh jam sehari dan tidak ada yang bisa mengganggu-gugat, Noona," celetuk Kai.
Sehun tersenyum simpul. Luhan memang takkan bangun sebelum tidurnya benar-benar tujuh jam. Kalaupun dibangunkan, dia akan mengamuk dulu barulah bangun kemudian melanjutkan tidur di tempat lain. Tingkah gadis itu ajaib.
"Terima kasih sapu tangannya. Akan kukembalikan besok," kata Baekhyun setelah benar-benar berhenti menangis. Gadis itu memandang pada layar TV yang sedang menyorot Luhan. "Dia semakin cantik ya dari hari ke hari," gumam Baekhyun tanpa sadar.
Penampilan Luhan masih seperti dulu. Baby face dan terlihat sangat polos. Berbeda sekali kalau kau sudah mendengarnya tertawa atau menyeletuk. Celetukannya kadang terdengar frontal dan langsung keluar tanpa disaring.
"Kau pasti jadi pria paling beruntung yang mendapatkannya," kata Baekhyun sambil menepuk punggung Sehun.
"Aku tidak seberuntung itu," kata Sehun sambil meminum susunya. "Aku masih digantung. Dia belum memberikan jawaban apa-apa."
Mendekati seorang Xi Luhan tentu bukanlah perkara mudah. Ia mungkin terlihat ramah dan mudah didekati. Ya, dia mudah didekati sebagai teman. Namun tidak sebagai teman spesial. Hatinya bagai logam mulia. Berharga, mahal, dan sulit dilelehkan.
Sehun membutuhkan waktu sangat lama hingga akhirnya Luhan mau menerima ajakan kencannya. Itupun mungkin karena gadis itu kasihan melihat Sehun yang memelas berkali-kali di depannya.
Terdengar menggelikan? Sehun tidak peduli.
.
.
.
.
.
Untuk yang kesekian kalinya, Luhan kembali bertemu dengan lelaki yang lebih muda empat tahun darinya ini di depan pintu unit apartemennya. Dia Oh Sehun, lawan mainnya di drama yang shootingnya baru selesai kemarin malam. Mau apa lagi lelaki itu hari ini muncul di depannya?
"Noona, apa kau sibuk hari ini?" tanya Sehun dengan wajah penuh harap yang terlihat jelas di mata Luhan.
Luhan memperhatikan pakaian yang dirinya kenakan. Hanya kaos putih lusuh, hot pants, dan sepasang sandal jepit. Menurutmu bagaimana? Apakah ia terlihat sebagai artis papan atas yang namanya sudah dikenal di mata internasional?
"Kau mau mengajakku kencan lagi?" tebak Luhan. "Well, seperti yang kau lihat. Aku artis dan punya segudang kegiatan," jawab Luhan asal. Gadis itu hendak menuju mini market untuk membeli camilan sebagai teman menonton film yang baru ia beli dan belum sempat ia tonton seminggu lalu.
Wajah Sehun terlihat terkejut dan putus asa, membuat Luhan ingin tertawa sekencang yang ia bisa saat ini juga. "Kau percaya saat aku bilang begitu?" Luhan benar-benar tertawa saat ini. Ia menonjok pundak Sehun main-main. "Ayolah, aku hanya bercanda. Jangan ditanggapi serius, oke? Kecuali kalau kau menganggap menonton film itu salah satu kegiatan penting."
Luhan berjalan melewati Sehun menuju lift. Harusnya ia lihat bagaimana bahagiannya Sehun ketika ia mengatakan hal itu. Lelaki itu menghembuskan napas lega bahkan sampai berseru kecil dengan kedua tangan terangkat ke udara seperti anak kecil yang baru memenangkan lomba lari.
Sehun berlari menuju lift sebelum pintunya benar-benar tertutup. Luhan memandanginya. "Kau mau apa?"
"Noona, hari ini ulang tahunku," kata Sehun dengan kedua tangan di depan wajah. "Kumohon, sekali saja. Berkencanlah denganku."
Bagaimanapun juga, sosok Oh Sehun di mata Luhan saat ini hanyalah sosok bocah baru lulus kuliah yang terlihat seperti fans biasa dengan sedikit keberuntungan bisa sedekat ini dengannya. Haruskah ia menghancurkan impiannya?
Disertai dengan helaan napas, Luhan menangguk, membiarkan Sehun mengekor di belakang ketika ia memilih-milih camilan dan minuman. Lelaki itu bahkan menawarkan diri untuk membayar semua cemilan yang dibeli Luhan—tentu saja tidak sedikit—bahkan sekarang membawakannya sampai ke apartemennya.
"Aku lebih tua darimu, seharusnya aku yang membayar semua ini. Lagipula ini belanjaanku," kata Luhan sambil membuka pintu apartemennya agar mereka bisa masuk.
Bisa Sehun lihat, apartemen itu di dominasi oleh warna putih dan motif kayu di beberapa bagian. Ia meletakkan semua belanjaan itu di meja ruang TV. "Tapi aku laki-laki. Lagipula aku yang ulang tahun hari ini," kata Sehun membalas perkataan Luhan.
Mereka hanya kencan di apartemen Luhan sesuai kesepakatan yang mereka buat selama di lift. Memang sih rating drama mereka akan naik—juga banyak fans yang berharap mereka menjadi pasangan nyata—tapi terlalu beresiko kalau mereka berkencan di luar. Lagipula tidak ada yang membayar mereka untuk promosi drama.
Luhan meletakkan empat kaleng soda dari kulkas di meja depan TV. Sehun pun mengeluarkan semua makanan yang ada dalam kantung ke atas meja. Sekarang mereka tidak jauh berbeda dengan penjaga-penjaga stands yang ada di bazaar.
"Kau mau film apa?" tanya Luhan sambil menunjukkan beberapa kota DVD yang masih terlapis plastik.
"Terserahmu saja," jawab Sehun.
Luhan menangguk. Lalu ia membelakangi Sehun untuk memasukkan DVD tersebut ke dalam player. Sehun sama sekali tidak menyangka kalau Luhan akan memilih film horror dari semua film yang ada. Ia menyesal. Harusnya ia memilih saja ketika ditawarkan.
Sesekali Sehun melirik Luhan yang terlihat terpaku dengan layar TV sambil tangannya terus bekerja menyuplai makanan ke dalam mulutnya. Luhan bahkan tidak tampak berkedip sedikitpun. Berbeda sekali dengannya yang sudah menggeliat gelisah sambil menoleh ke arah lain saat sang hantu muncul.
"Filmnya membosankan. Endingnya ketebak sekali," komentar Luhan setelah film berakhir dengan sang pemeran utama terselamatkan. Ia menoleh ke samping kirinya. "Kau kenapa?" tanyanya ketika melihat Sehun bersandar pada sofa di belakang mereka sambil memegangi dahi. Bisa Luhan lihat wajah lelaki itu pucat pasi.
"Tidak apa-apa," jawab Sehun.
"Takut, ya?" goda Luhan sambil tertawa.
Rona malu di wajah Sehun terlihat sekali di kedua pipi putihnya. "Tidak," jawab Sehun gengsi. "Aku sudah menonton filmnya sebelum ini."
Alis Luhan naik satu. "Oh ya? Aku ragu. Memangnya kau berani? Bukannya sejak tadi kau bahkan tidak melihat ke TV? Bagaimana kau menontonnya?" Tawa Luhan menjadi-jadi. "Harusnya kau bilang saja kalau tidak suka horror."
Luhan bangkit berdiri. Tangannya bergerak untuk mengacak rambut Sehun yang masih duduk di alas karpet. Kemudian ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil ponsel yang sejak tadi ia charge. Sayang, dia tidak melihat seberapa lebar mata sipit Sehun yang membulat saking kagetnya mendapat skinship dari Luhan tanpa skrip. Kalau ia melihatnya, dia pasti akan tertawa lagi.
"Aku lapar. Pesan pizza, ya?" tanya Luhan sambil menekan nomor delivery pizza.
Sehun menurut saja. Mata lelaki yang hari ini tepat dua puluh dua tahun itu berpendar di ruang tamu. Dia bisa melihat pemandangan Seoul dari kaca besar yang menjadi pengganti dinding di sebelah kirinya. Luhan memilih lantai tujuh belas, tentu saja ia mendapat view yang bagus.
Yang Sehun bingungkan sejak tadi, ada beberapa barang yang seharusnya ada tapi tidak ada. Apartemen ini jadi terkesan polos. Sehun tidak melihat jam ataupun pigura foto menggantung di dinding. Ia juga tidak melihat properti-properti yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah member EXO. Sejauh yang ia lihat, ternyata dindingnya berlapis wallpaper bermotif rusa samar.
Tak lama Luhan datang dengan membawa satu loyang pizza dan sepiring spaghetti. Sehun membantunya membawa satu botol besar cola dan dua gelas ke atas meja. Sampah-sampah bekas bungkus cemilan sudah mereka singkirkan sejak tadi.
"Kenapa kau ingin sekali berkencan denganku?" tanya Luhan sambil menggigit pizza-nya.
"Mm…" Sehun menelan pizzanya. "Bukannya semua fans berharap seperti itu pada idolanya?" tanya Sehun. Luhan hanya diam. "Oke, oke. Kan waktu itu aku bilang aku akan menjadi tempat pelampiasanmu, kan? Hanya membuktikan padamu kalau aku benar-benar serius tentang hal itu."
Luhan menatap pizza di tangannya. "Pelampiasan? Bukannya itu menyakitkan?"
Sehun memasukkan semua pizza ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya hingga tertelan semua. Ia membersihkan telapak tangannya lalu memutar tubuh menghadap Luhan. Tangannya ia gunakan untuk meraih dagu Luhan agar gadis dua puluh enam tahun itu menoleh padanya. Mata mereka bertemu. Mata eboni Sehun dengan mata karamel Luhan.
"Karena aku mencintaimu, Noona."
.
.
.
.
.
"Luhan-sshi, sampai hari ini apakah Anda tidak berniat mengikuti jejak Xiumin-sshi ke pelaminan? Umur kalian sepantar, kan?" tanya Sojung.
Luhan tersenyum simpul. "Sebagai perempuan, tentu saja aku ingin. Tapi pangerannya belum menjemput. Pangerannya masih sibuk melang-lang buana menelusuri dunia," candanya kemudian kembali mengontrol emosinya untuk serius. "Kami masih menikmati hubungan jarak jauh kami."
"Oh, benarkah? Memangnya di mana dia sekarang? Di China?" tanya Sojung.
"Bukan. Dia di masa depan," canda Luhan. "Aku serius. Dia masih di masa depan."
"Memangnya susah ya mengatakan kalau kau masih sendiri? Kau kan memang tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun," ledek Chanyeol, "atau jangan-jangan kau pecinta sesama jenis?"
"Iya, aku cinta dengan Kyungsoo," canda Luhan sambil memeluk Kyungsoo dari samping. "Bercanda. Aku masih straight."
"Bohong sekali kalau tidak ada pria yang mendekatimu. Pasti ada, kan? Apa mereka tidak sesuai dengan kriteriamu?" tanya Sojung. "Kudengar baru-baru ini kau dekat dengan putra presiden dan terlihat menghadiri sebuah acara makan malam dengannya."
Luhan mengingat-ingat. "Ah… makan malam itu? Minggu lalu memang aku sempat diundang makan malam dengan pihak kepresidenan karena aku adalah icon persahabatan China dan Korea Selatan. Aku dan putra presiden banyak bicara karena kami seumuran," jelas Luhan. "Jangan membuat gossip. Tidak ada hubungan spesial di antara kami."
"Lalu kau dekat dengan siapa saat ini? Apakah keluargamu tidak khawatir melihatmu belum menikah sampai saat ini?" tanya Sojung. "Mereka tentu menginkan Anda untuk segera menikah, bukan?"
"Khawatir? Tentu saja. Aku bahkan sudah dikenalkan dengan lima laki-laki oleh bibiku selama sebulan berada di China," ungkap Luhan. "Tapi aku sedang menunggu seseorang–"
"Pangeranmu dari masa depan lagi maksudmu?" celetuk Kai.
"Bukan. Dia laki-laki paling keras kepala yang pernah kutahu," jawab Luhan mulai serius. "Laki-laki paling nekat dan idiot. Kurasa dia terlalu muda untuk kuajak bicara tentang hal seserius menikah, terlebih hubungan kami yang sampai hari ini masih abu-abu."
"Abu-abu? Maksudnya hubungan tanpa status?"
Luhan mengangguk. "Seperti itulah."
"Bagi sebagian besar perempuan, mereka sangat menghindari hubungan tanpa status karena dinilai merugikan. Lalu, bagaimana dengan Anda? Tidakkah Anda berpikir hal yang demikian? Kita tidak berharap seperti ini, tapi dari banyak pengalaman perempuan, mereka berakhir sebagai teman saja di usia mereka yang sudah terbilang matang. Hal itu mungkin saja terjadi, kan?"
Luhan mengangguk lagi. "Tapi kalau dia memang tidak siap, untuk apa dipaksa? Aku hanya mau menikah sekali seumur hidup dan tidak ingin menyesal setelah mengambil satu keputusan."
"Dia pasti pria yang sangat beruntuk karena mendapatkanmu," puji Sojung.
"Aniya. Harusnya aku yang beruntung, karena dia yang berkorban sangat banyak untukku."
.
.
.
.
.
"Noona."
"Hm?"
"Kau pernah berpikir hubungan kita sangat membingungkan?"
Luhan menoleh pada Sehun di sampingnya. Ini adalah malam kesekian Sehun menginap di apartemennya. Jangan berpikiran macam-macam. Yang mereka lakukan hanya menonton DVD bersama. Lalu Sehun akan tidur di sofa dan Luhan tidur di kamarnya sendiri.
Kebiasaan mereka setelah menonton DVD sampai tengah malam yaitu duduk bersandar pada kaki sofa sambil menatap pemandangan malam Seoul yang begitu indah. Luhan meletakkan kepalanya di pundak kanan Sehun, sementara lelaki dua puluh empat tahun itu menunduk, memandangi tangannya yang menyala setelah dicoret-coret Luhan dengan cat fosfor—katanya tattoo.
"Aku hanya berpikir, kau selalu mengatakan 'terima kasih' setiap kali aku bilang aku mencintaimu. Padahal kau tahu sendiri, kita sudah beberapa kali berciuman." Sehun melirik Luhan yang masih menyamankan diri di pundaknya. "Bukannya ini… aneh?"
"Kau maunya kita berpacaran?" tanya Luhan.
"Mm…" Sehun bingung sendiri. Ia memperhatikan Luhan yang sudah membenarkan posisi duduknya yang kini tegak di samping Sehun.
"Kau tahu peraturan perusahaan seperti apa," kata Luhan.
"Kita bisa backstreet," sanggah Sehun.
Luhan memeluk lututnya sendiri. "Aku siap-siap saja. Tapi kalau kau tidak, jangan dipaksa. Urusannya bisa panjang. Kau juga harus tahu, aku tidak suka dengan istilah putus-sambung. Itu terdengar seperti mempermainkan komitmen yang awalnya sudah dibuat serius." Ia menoleh pada Sehun sambil tersenyum kemudian bangkit berdiri. "Kau masih kecil. Jangan terlalu dipikirkan." Luhan kembali mengacak rambut Sehun. "Jangan dipaksakan kalau memang belum siap."
"Noona," panggil Sehun sambil memegang pergelangan tangan Luhan yang ia yakin sudah siap ingin tidur. "Saranghae."
Luhan hanya tersenyum. "Gomawo."
.
.
.
.
.
"Kalau yang kudengar dari apa yang dia katakan, dia pasti sangat mencintaimu," kata Baekhyun menggoda Sehun.
"Tahu dari mana?" tanya Sehun.
"Ya ampun…" Baekhyun menepuk dahinya sendiri sambil memutar kursinya menghadap Sehun. "Kau tidak peka sekali, sih? Jelas-jelas dia sebenarnya berkata dia mencintaimu meski tidak secara langsung. Mana ada sih perempuan yang ingin menunggui seorang lelaki kalau dia tidak mencintainya? Sadarlah, Oh-Pabbo-Hun!"
"Aku tidak bodoh," keluh Sehun membuat Baekhyun memutar mata. "Dia sama sekali tidak mengatakannya padaku, Noona."
"Kalau dia mengatakannya secara frontal, karir kalian akan selesai sekarang!" bentak Baekhyun. "Kau tidak pernah tahu, ya? Perempuan inginnya laki-laki menebak isi hatinya! Argh… Luhan Eonnie salah bicara. Dia benar-benar sial bertemu bocah sepertimu!"
Sehun manyun dikatai seperti itu.
"Kau harus cepat menyadarinya sebelum Luhan berubah menjadi perempuan paling sial karena bertemu denganmu." Baekhyun memepuk pundak Sehun kuat-kuat. "Berjuang, Oh Mi Ja!"
"Ya! Kau tetap saja menyebalkan, Bacon! Berhenti memanggilku Oh Mi Ja!"
"Berhenti juga memanggilku Bacon!"
"Kau yang mulai!"
.
.
.
.
.
To Be Continue…
2.480 words
Mian, saya telat sehari. Abisnya kemaren saya seharian ke Dufan sama temen-temen dari jam 7 pagi sampe jam 9 malem #curcol. Ada juga yang ke sana?
Bagi yang minta Tao, sekarang Tao udah muncul, kan~ Tapi KrisTao moment nanti ya^^
Thanks to : XoUnicornXing, KIMJUNMONEY, meyy-chaan, Milky Andromeda, lanarava6223, onkey shipper04, raul .sungsoo12, Kirei Thelittlethieves, aninkyuelf, coffe latte, luhan8045, Reezuu Kim, chenma, bubblechanbaek, chindrella cindy, EXOST Panda, Mekkyyy, dan semua yang baca, fave, alert. Gomawoyo~
Sign,
Uchiha Kazuma Big Tomat
Finished at :
June 29, 2013
10.49 P.M.
Published at :
March 13, 2014
04.36 P.M.
Me Prometa 2 : Years After © Kazuma House Production ® 2013
