Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto
Akatsuki in Humor
Humor, Parody, Friendship
Rate : K+/T/M
Main cast : Akatsuki and friends
Place : Peta Shinobi di Naruto Ultimate ninja 5
Warning! : OOC, typo(s), No EYD, suka-suka authornya, hanya untuk hiburan guys..
Author tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
.
Chapter 9 Hujan
.
.
Suasana desa sangat dingin. Hujan yang turun tanpa henti, membuat orang malas keluar rumah. Di tambah bunyi petir yang menyambar-nyambar, membuat semua orang ketakutan.
"Duh, enaknya yang jadi Pain bisa kelonan terus ama Konan," gumam Hidan sambil memeluk bantalnya di sofa TV.
Hidan sedang menonton berita di hari itu. Kakuzu pun datang membawakan dua cangkir kopi untuk Hidan dan juga dirinya.
"Lo kelonan aja ama gue, Dan. Sama aja rasanya, kok." Kakuzu meledek.
"Ciihhh! Paan kelonan ama lo mah, yang ada badan gue digigitin ama topeng-topeng lo." Hidan menolak tawaran Kakuzu.
Kakuzu kemudian menaruh kopinya di atas meja depan sofa. Ia pun duduk di samping Hidan.
"Yee, digigit enak kan gak apa-apa lah, Dan." Kakuzu meyakinkan.
"Enak? Eneq malah iya!" sahut Hidan dengan tegas.
Kakuzu pun tertawa melaga temannya. "Dah, minum nih kopi." Ia menawarkan kopi kepada Hidan.
Mereka berdua akhirnya melanjutkan menonton berita di TV.
.
.
.
Sementara itu di kamar Sasori, Deidara dan Tobi…
Sasori sedang asik merakit boneka-bonekanya di kasur atas. Di kasur bawah terlihat tidak ada orang. Deidara pun masuk ke dalam kamarnya.
"Weh, Dei. Lo bolak-balik aja kaya setrika!" tegur Sasori.
"Iya, nih. Hujan begini bikin pengen pepsi aja gue," sahut Deidara.
"Makanya lo ganjel pake pampers, jadi gak repot-repot bolak-balik terus." Sasori melanjuti sambil tetap merakit bonekanya di kasur atas.
Petir pun terus menyambar, terdengar suara yang menakutkan. Deidara menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Buset dah petir, ngagetin banget, yak!" Deidara pun berkata memakai logat Betawi.
Sasori tertawa mendengarnya.
"Kenapa lo tawa-tawa, Sor?" tanya Deidara yang heran.
"Haha, lo mah aneh, Dei. Lo buat bom, apa enggak ngagetin juga?" Sasori balik bertanya.
"Ya beda geh, gimana-gimana yang namanya ciptaan Tuhan itu lebih perfect. Bom kan buatan manusia, pasti masih ada kurangnya." Deidara menjelaskan.
"Ya asal lo jangan ledakin diri sendiri kaya di Shippuden ya, Dei. Itu kurang banget. Kurang waras maksudnya. Hahaha," lanjut Sasori.
"Ya namanya juga tuntutan scenario, Sor. Kan dari situ gue jadi terkenal. Hehe." Deidara terkekeh geli.
Percakapan mereka itu tanpa disadari didengarkan oleh Tobi sedari tadi.
"Eh, si Tobi kemana?" tanya Deidara tiba-tiba.
"Tuh di bawah," jawab Sasori singkat.
Deidara bingung dia tidak melihat Tobi di kasur bawah.
"Mana, gak ada tuh makhluk?" tanya Deidara lagi.
"Di bawah!" Sasori mulai kesal karena Deidara terus bertanya.
"Ya di bawah mana, Sasori?!" Deidara juga ikut kesal.
"Di bawah kolong!" seru Sasori.
"Hah?!"
Deidara kemudian melihat ke bawah kolong kasur. Ia kaget saat melihat Tobi sedang bersembunyi dengan posisi tiarap. Diseretnya Tobi dari kolong kasur itu, sementara Sasori tetap asik merakit boneka-bonekanya.
"Oii, Teme! Ngapain lo di kolong kasur?" tanya Deidara terheran-heran.
Tobi pun bangkit dari tidurnya yang tiarap.
"An, anno, Senpai Dei, mmm." Tobi bingung menjelaskannya, ia terlihat menggaruk topengnya sendiri.
Alis Deidara pun ikut naik, tanda dia heran. "Lo kenapa nyumput di kolong kasur, Tob? Kan lo udah punya kasur?" Deidara bertanya lagi.
"Dia takut petir, Dei," sela Sasori.
Deidara sweatdrop ketika, ia kemudian tertawa. "Hahahaha." Deidara tertawa sambil memegang perutnya.
"Senpai, Senpai kenapa tertawa?" tanya Tobi yang heran.
Deidara kemudian menghentikan tawanya. "Oii, muka bertopeng! Bisa-bisa gue nyanyi juga, nih," ucap Deidara yang terus tertawa sendiri.
"Nyanyi apa, Senpai?" tanya Tobi dengan polosnya.
Deidara pun bernyanyi, "Tapi buka dulu topengmu, buka dulu topengmu. Biar kulihat wajahmu, kan kulihat wajahmu." Deidara bernyanyi sambil bergoyang ke kiri dan ke kanan.
"Oii, Dei. Lo keliatan seneng amat?" tanya Sasori sambil melirik ke arah Deidara yang sedang berjoget.
"Gak tau nih, Senpai, kenapalah?" Tobi menjadi bingung dibuatnya.
Deidara tidak menjawab, ia malah merangkul Tobi. "Sini Tobi anak baik, tiba-tiba gue pengen ngejilat itu topeng," ucap Deidara tiba-tiba
Tobi terkejut, ia pun segera lari. "Tidaaak, Senpai. Geli …!" ucap Tobi sambil berlari.
Deidara dan Sasori pun saling melihat setelah Tobi kabur dari kamarnya.
"Tuh kelakuan lo, Dei!"
"Biarin aja dah"
"Hahahaha."
.
.
.
Lain halnya dengan Pain. Pain turun dari kamarnya menuju ruang makan. Ia menyantap makanan yang ada di meja. Tapi Pain salah kostum, sehingga ia diledek oleh Hidan.
"Oii, Ketua. Lo ngajarin anggota gak bener, ya!" tanya Hidan tiba-tiba.
Pain tetap menyantap makanannya, pikir dia, Bodok amat lah, gue lagi laper, batinnya.
Karena tidak dihiraukan, Hidan kembali mengejek Pain. "Abis ngapain, ya? Ujan-ujan kok pake sarung?" ledek Hidan lagi.
Pain pun tersadar setelah mendengar ejekan Hidan, ternyata ia salah kostum. Pain saat itu hanya memakai sarung, yang akhirnya ia berhenti makan dan membawa makanannya itu ke dalam kamar.
Saat Pain berjalan menaiki anak tangga, Hidan kembali berceloteh. "Oiiii, bisa bengkak perutnya Konan itu," sindir Hidan lagi.
Kakuzu yang berada di samping Hidan hanya tertawa-tawa sendiri. Pain pun tidak memperdulikan, ia tetap melaju ke kamarnya dan menaiki anak tangga.
Kemudian tak lama, Itachi dan Kisame pulang. Mereka pulang sehabis memancing di lembah akhir. Mereka membawa alat pancingnya beserta beberapa ekor ikan berukuran besar. Nagato pun kebetulan turun dari kamarnya dan melihat kedatangan Itachi.
"Heh, bawa banyak gak, Chi?" sapa Nagato ke Itachi.
"Seharusnya si banyak dapetnya, tapi ama si Itachi di ameterasu. Jadi gue pulang cuma bawa segini," sahut Kisame sambil menunjukkan ikan yang dibawa pulang.
Kakuzu pun ikut menimbrung obrolan mereka. "Sejak kapan lo suka ikut mancing bantuin Kisame, Chi?" tanya Kakuzu.
"Itachi mah enggak ngebantuin mincing, Zu. Tapi bantuin ngerecokin Kisame," ucap Hidan sambil tertawa.
Itachi hanya diam. Tapi dalam diam ternyata sharingannya sudah berubah menjadi Mangekyo Sharingan karena mendengar perkataan Hidan. Sepertinya Itachi sudah siap meng-ameterasu Hidan.
Hidan yang menyadari perubahan mata Itachi segera mendekat dan…
"Muach." Hidan mencium Itachi.
Mereka semua kaget termasuk Itachi yang merasa pipinya ada yang mencium. Itachi menjadi malu dan Hidan pun segera kabur ke kamarnya.
"Kaabuuuurrrr!" teriak Hidan sambil berlari.
"Hah, ada-ada aja si Hidan, nolak Mangekyo sama kecupan. Geli gue ngeliatnya." Kakuzu menghela napasnya karena tidak habis pikir dengan ulah Hidan, teman sekamarnya itu.
Entah apa yang dirasakan Itachi saat pipinya dikecup oleh Hidan. Tapi Itachi terus-menerus memegang pipinya itu.
.
.
.
Bersambung…
