BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita

.


.

.

Hoseok tak pernah cukup paham dengan Jimin.

Selama tujuh tahun tinggal bersama (dan akhirnya menjadi teman sekamar) atau katakanlah menjadi pelaku dari proses simbiosis mutualisme yang akhir-akhir ini berubah sepihak, Hoseok hanya mampu membaca sepersekian persen dari tingkah dan mimik pemuda itu. Jimin bukanlah seseorang yang bisa ditebak hanya dari raut muka maupun sikap yang tidak biasa. Yang dimaksud sikap tidak biasa dalam kamusnya adalah perilaku berlawanan dari rutinitas, dan Jung Hoseok—dua puluh tiga tahun, sudah kenyang makan asam garam tentang kasus sejenis. Tak perlu jauh-jauh, ambil contoh anggota termuda mereka yang gemar menggagahi kasurnya usai menghancurkan sofa jika Taehyung urung pulang karena harus bermalam di studio. Hanya saja, untuk Jimin, Hoseok tak pernah berani meyakinkan diri bahwa apa yang ada di pikirannya adalah kebenaran yang mendekati seratus persen. Jimin memang jarang bertingkah aneh, namun isi kepala pemuda itu jauh lebih sulit ditebak daripada buku percakapan Bahasa Inggris darurat buatan Namjoon yang membuat Hoseok nyaris botak. Bila diumpamakan, volume otak Jimin bak porsi daun bawang di atas tteokbokki kaki lima, kadang banyak, kadang sedikit. Berbeda menit sedikit saja, taburan daun bawangnya bisa berkurang, bisa bertambah. Bukannya Hoseok ingin menyamakan kepala Jimin dengan makanan, tapi intinya ucapan pemuda itu benar-benar tak bisa dipegang. Satu detik mengatakan sesuatu, detik berikutnya dia pasti sudah lupa.

Seperti yang sedang dihadapinya sekarang. Lupakan rencana menyusun melodi di studionya yang nyaman. Jimin mendadak menghadangnya selesai latihan serta langsung menyeret Hoseok ke kamar mereka tanpa banyak bicara. Duduk di kasur Hoseok, tentu. Sejak kapan Jimin akan kabur ke anggota lain tiap ada masalah? Terakhir kali mengadu pada Namjoon, Jimin dipaksa bersila selama satu setengah jam di hadapan pemuda itu demi mendengarkan kisah membosankan tentang sejarah hidup para pujangga dan filsafat sastra kuno. Pada Jin? Tidak, terima kasih. Jimin kapok disodori mi goreng bermangkuk-mangkuk. Menemui Hoseok, apalagi diminta mengikuti kemana Jimin melangkah adalah sinyal bahwa vokalis bertubuh tanggung itu sedang berniat melampiaskan sesuatu.

"Min Yoongi sialan!" didengarnya lengking Jimin dari belakang, terbayang bibir tebal mencibir meski Hoseok tak melihatnya sendiri. Jari-jarinya masih sibuk mengaduk campuran susu cokelat dan air hangat dari teko otomatis. Beruntung ada sisa minuman bubuk kemasan oleh-oleh tur dari Jepang. Toh walau dipunggungi begitu, napsu berkoar Jimin tetap menyala-nyala, "Katanya mau libur menulis lagu dan mengajakku makan siang ke restoran sambil jalan-jalan. Tidak tahunya batal karena harus membantu Jungkookie memperbaiki komputer. KOMPUTER! Kenapa sih urusan sepele begitu tidak diserahkan ke orang lain saja? Atau panggil tukang reparasi! Aku sudah rela tidak makan sampai jam dua belas. Cuaca dingin begini, pasti enak kalau makan yang panas-panas. Seenaknya bilang tidak jadi. Dikira aku akan langsung memaafkan? Lapar nih!"

"Iya, iya, ini susunya."

Gelas panjang itu langsung disambar dan diteguk dalam satu tarikan napas. Hoseok memilih selonjor di tepi ranjang, menyilangkan kaki dengan santai, kemudian membuka-buka majalah sambil menggaruk telinga yang disiapkan untuk mendengar keluh kesah.

Tiga.

Dua.

Satu.

"Yang namanya pacar itu harusnya didahulukan daripada adik!" gelas diletakkan tak sopan di atas meja. Dibanting, tepatnya. Hoseok sengaja menggunakan gelas dari plastik karena dia hapal jika benda malang itu akan diperlakukan tidak manusiawi oleh Jimin yang tenaganya bisa berlipat ganda jika sedang marah, "Apa pentingnya komputer makhluk garang itudibanding makan siang denganku? Benda mati kan tidak bisa protes walau harus menunggu perbaikan. Suruh saja Jungkookie pergi ke tempat Taehyungie kalau tangannya sudah gatal ingin bermain, kenapa harus mengandalkan Yoongi-hyung cuma gara-gara tidak mau ketinggalan skor? Mulai dari pengeras suara, tetikus, ukuran lemari baju, kursi untuk balapan, sampai jenis sabun. Iya. Untuk urusan sabun pun dia selalu bertanya pada Yoongi-hyung! Aku mana pernah tanya-tanya soal peralatan mandi! Iya kan? Iya kan? Kalau bingung kenapa tidak langsung minta saran ke para penjaga etalase di supermarket? Mereka pasti meladeni dengan senang hati!"

Jelas dong, namanya juga promosi, batin Hoseok, membalik halaman berisi jajaran mantel.

"Hyung, kau mendengar tidak sih?"

"Dengar kok."

"AKU KESAL!" satu tegukan, dua, lalu gelasnya dibanting lagi. Untung sudah hampir habis atau sebagian isinya akan memercik ke lantai. Hoseok sedang malas berurusan dengan kain pel atau kerumunan semut, "Sudah lama tidak berdua dengan Yoongi-hyung! Terakhir kali waktu kalian pergi berlima merayakan ulang tahun siput peliharaan Taehyungie. Itu juga isinya ngaso di kamar Yoongi-hyung, makan nasi goreng buatan sendiri lalu tidur-tiduran. Jarang sekali bisa keluar, mana mobilnya sering dipinjam. Nah ini! Ini! Apa aku sudah bilang kalau Jungkookie suka meminjam mobil Yoongi-hyung? Sungguh tidak bermodal! Aku tak pernah mengkritik orang lho, tapi ini pengecualian."

Tidak pernah mengkritik orang katanya, cengir Hoseok sembari mengamati gadget terbaru di halaman tujuh. Baiklah. Daripada benjol.

"Ini bukan sekali-dua kali! Rasanya seperti pacaran dengan dua orang! Ah, tidak, rasanya aku jadi seperti orang ketiga diantara Jungkookie dan Yoongi-hyung."

Masa sih?

"Yoongi-hyung tampak lebih memperhatikan adiknya daripada aku!"

Wah, sedih deh.

"Dia betul-betul suka padaku atau tidak sih?"

Entah ya.

"Kalau ditelepon Jungkookie juga pasti langsung permisi pulang, padaku saja tidak begitu!"

Hoseok masih membolak-balik majalah.

"Aku paham kalau anak itu masih butuh perhatian, tapi tidak begini juga kan? Masa dia harus selalu bergantung pada Yoongi-hyung? Kalau nanti Yoongi-hyung menikah bagaimana? Hayo? Apa Jungkookie akan ikut tinggal bersamaku dan Yoongi-hyung?"

Mengerjap, jari-jari Hoseok reflek tertahan di halaman dua belas. Matanya terpaku pada pintu beberapa saat sebelum menoleh pada Jimin yang sibuk menghabiskan susu cokelatnya hingga tetes terakhir, "Bilang apa barusan?"

"Ng?" Jimin balas mengedip bodoh, "Tentang apa?"

"Barusan."

"Apa? Yang mana?" pemuda bermata minimalis itu memiringkan kepala tanpa dosa seraya menjilat sisa susu di tepi gelas. Hoseok menutup majalahnya, menghela napas, lalu perlahan berbalik mengarahkan lututnya menghadap Jimin.

"Pertanyaanmu tentang bagaimana jika Jungkook ikut tinggal bersamamu dan Yoongi."

Jimin bergeming, sudut bibirnya terangkat imut, "Ou! Hyung juga merasa itu aneh kan? Apa dia akan terus mengekor Yoongi-hyung kemana-mana?"

"Yang aneh bukan itu lho?" ralat Hoseok bingung, "Memangnya kau sudah memutuskan akan tinggal bersama Yoongi?"

Telapak tangan mungil milik rekannya yang berwajah manis itu terkatup di depan bibir diiringi kikik riang, "Ada yang salah?"

Selalu bicara tanpa berpikir dulu, lengos Hoseok, "Dengar, aku tidak melarang jika kau punya rencana untuk masa depan atau hari tua sekalipun. Tapi apa kau yakin akan tetap langgeng dengan Yoongi selama itu?"

Mendadak Jimin merengut, "Hyung mendoakan kami putus?"

"Bukan, tolol," ditoyornya pelipis Jimin gemas, "Maksudku, kau benar-benar tidak mau melirik orang lain? Anggap saja aku terlalu pemilih, tapi Yoongi itu maniak bekerja. Tak ada yang benar-benar menarik perhatiannya selain piano dan not balok. Oh, baiklah. Mungkin Kumamon, atau anjing peliharaannya. Mengatasi persoalan psikisnya saja masih kalang kabut, apalagi harus mengurusmu sekaligus. Aku tak mau kau merasa kecewa karena dinomorduakan."

"Jahat! Hyung mau bilang aku tak bisa menyelesaikan masalahku sendiri?"

Tanpa ragu, Hoseok mengangguk.

"Aku pasti akan belajar menjadi lebih dewasa!"

"Pasti lama."

"Tidak apa-apa! Yoongi-hyung pasti menunggu!"

"Iya, iya, aku percaya. Tapi yang kucemaskan justru dirimu, tahu. Kau kan suka terburu-buru mengambil kesimpulan dan bergerak tanpa menimbang-nimbang. Memangnya ayah dan ibumu akan memberi ijin? Lalu adikmu? Kau yakin mereka akan menerima Yoongi dengan begitu mudah? Berani jamin kalau tak ada halangan lain sampai kau terlalu optimis? Dijahili Jungkook sedikit saja langsung tersinggung, merajuk, terus kabur. Mengajakku pula. Masih labil begini, bisa-bisanya bicara panjang lebar soal hubungan. Sebetulnya kau sudah mengerti konsep tinggal bersama atau tidak, sih? Sekali menjejakkan kaki, akan susah mundurnya."

Jimin makin merengut, bibirnya dimajukan maksimal.

"Paham?"

"Cih."

"Lihat kan? Kau selalu seperti ini tiap Yoongi membatalkan janji atau ada permintaanmu yang tidak dipenuhi. Terbayang tidak kalau dia harus meladeni rengekanmu setiap hari? Aku bersyukur kita masih tinggal di asrama dengan kamar berlainan atau Yoongi akan terserang darah tinggi karena kau terlalu menuntut. Oi, dengarkan aku! Park Jimin!" disambarnya ponsel dari tangan Jimin yang hendak menerima panggilan, "Kau harus belajar membaca suasana dan menguasai diri sebelum mengungkit topik ini lagi! Aku tak mau diseret-seret keluar studio hanya karena persoalan anak muda yang..."

"Ish! Hyung, ah! Kembalikan!" decak Jimin, merebut ponselnya yang masih dalam keadaan tersambung, "Halo? Iya, aku baru selesai latihan menari. Mm, mm, Kebetulan manajer-hyung sedang mengantar Taehyungie ke butik yang biasa. MI PEDAS? MAU! MAU!"

Alis Hoseok terangkat.

"Tadi suara Hoseok-hyung kok. Biasalah, dia selalu berkata yang tidak-tidak tiap aku berhasil menari lebih baik. Eh? Jadi begitu? Ou, ou! Tidak apa-apa! Aku sudah ganti baju! Kutunggu di pintu asrama! Sampai nanti, hyung!" dan sambungan terputus seiring cengir Jimin yang mengembang dari pipi ke telinga. Sudut bibir Hoseok berkedut tak terima, memangnya gara-gara siapa dia jadi meracau begitu banyak?

Keningnya pun terlipat tujuh saat mendapati Jimin menyambar mantel dan memanggul ransel kecil seolah bersiap pergi. Tanpa pamit, tanpa ucapan terima kasih, serta langsung berjingkat menuju pintu. Penasaran, Hoseok buru-buru berlari menyusul seraya menahan gagang agar tak berputar.

"Mau kemana?"

"MAKAN MI!" teriak Jimin senang, "Yoongi-hyung bilang dia sudah memanggil teknisi, jadinya dia bisa keluar dari kamar Jungkookie dan mengajakku makan di tempat lain. Yoongi-hyung itu keren ya! Tidak pernah membuatku kesal terlalu lama!"

Tangan Hoseok tergelincir jatuh, "Apa? Bagaimana bi—"

"Aku mau pergi!"

"Tapi tadi kau bilang tidak akan mudah memaafkan Yoongi, kenapa sekarang langsung mau berangkat?"

"Ah, hyung ini lho, tadi ya tadi, sekarang ya sekarang," dicubitnya kedua pipi Hoseok dengan ceria kemudian menarik kuat celah daun pintu yang tak lagi ditahan, deretan giginya terpampang rapi saat tertawa, "Sudah ya Hoseok-hyung! Susu cokelatnya enak deh! Lain kali aku mau dibikinkan lagi! Dadah!"

Wujud bulatnya menghilang di anak tangga sementara Hoseok dibiarkan menganga di depan pintu. Mata mengerjap dan lengan bergeming, sejurus kemudian ditatapnya permukaan bufet beserta kasur tempatnya dan Jimin duduk belum lama tadi.

"Belum lima belas menit," desahnya, berkacak pinggang seraya mengamati gelas susu yang berdiri kosong usai dibanting berkali-kali, "Ya sudahlah."

Ditutupnya pintu sambil menggeleng pasrah, mungkin dia butuh menendang pantat Jimin lain waktu.

.


.

.