Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto. I don't take any material profit from it.

Pairing : SasuFemNaru

Rated : T

Genre : Drama, romance

Warning : Gender switch, OOC, OC, typo (s)

Note : Dilarang copy paste sebagian ataupun keseluruhan isi fic ini maupun fic milik saya lainnya!

Selamat membaca!

Mr. Arrogant

Chapter 9 : Temptation

By : Fuyutsuki Hikari

Naruto menghembuskan napas keras, bersiap memulai kegiatan hariannya seperti biasa. Sekali lagi ia menatap pantulan dirinya pada cermin besar yang ada di dalam kamarnya. Ya ampun, entah kenapa ia merasa sangat bersemangat hari ini. Anggap saja dia gila. Ya, gila, karena misi untuk membuat Sasuke cemburu berhasil membuatnya sangat bersemangat.

"Aku terdengar seperti wanita penggoda," bisiknya pada dirinya sendiri. Naruto menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum kecil sembari memutar tubuhnya pelan, memastikan jika penampilannya terlihat sempurna hari ini. "Aku memang berniat untuk menggoda dan melihat reaksinya." Ia terkekeh pelan setelahnya, menyambar coat panjang serta tas tangannya yang tergeletak di atas ranjangnya lalu turun ke lantai satu untuk sarapan.

Tatapan heran Kurama menyambutnya saat wanita muda itu memasukki ruang dapur. "Apa?" tanyanya sembari menarik sebuah kursi kosong dan duduk di atasnya dengan nyaman. "Apa aku terlihat aneh?" tanyanya lagi saat Kurama tak kunjung menjawab, dan malah asyik mengoleskan selai kacang ke atas roti panggangnya.

Kurama mengangkat bahu ringan dan menjawab, "Entahlah, kau terlihat berbeda."

Naruto tersenyum di dalam hati. Bahkan seorang Kurama yang terkenal sangat cuek pun bisa melihat perbedaan pada penampilannya pagi ini. "Mungkin karena aku mengikat rambutku," jawab Naruto terdengar biasa. Sesuai dengan arahan Koyuki tadi malam, Naruto sengaja mengikat ekor kuda rambut pirangnya hari ini.

Kurama menatapnya lekat. "Bisa jadi," balasnya singkat.

Keduanya terdiam beberapa saat.

"Ngomong-ngomong jam berapa Koyuki pulang?" tanya Kurama kemudian, memutus keheningan di dalam ruangan itu.

Naruto mengunyah pelan, menelannya cepat dan menjawab, "Koyuki pulang jam empat pagi," katanya. "Dia ada pemotretan pagi ini. Jadwalnya sangat padat."

"Kau harus berlaku baik padanya," kata Kurama kemudian, membuat Naruto menatapnya dengan mulut terbuka. Ia lalu mengorek kupingnya, berpikir jika ada yang salah dengan pendengarannya saat ini. "Koyuki tidak memiliki teman dan keluarga yang bisa dijadikannya tempat berbagi. Tragis sekali," lanjut Kurama, mengabaikan keterkejutan adiknya.

Namun akhirnya Naruto tersenyum. Merasa bersyukur karena Kurama akhirnya bisa menerima Koyuki. Yeah, walau Naruto berani bertaruh jika kakaknya itu tidak akan memperlihatkan kepeduliannya di depan Koyuki.

Setelah percakapan singkat itu Naruto segera menghabiskan sarapannya dengan cepat. Lalu pamit dan bergegas untuk pergi ke kantor. Ia memasang ekspresi biasa saat beberapa pria mulai yang berpapasan dengannya serta beberapa pria yang berada di dalam satu gerbong yang sama dengannya melirik ke arahnya dengan tatapan tertarik.

Oh, Naruto sungguh tidak menginginkan perhatian dari pria lain, dia hanya ingin tahu reaksi Sasuke terhadap perubahan fisiknya hari ini. Namun Koyuki menegaskan padanya, jika ia harus memulainya pada beberapa pria lain terlebih dahulu, dan lihat apa pria-pria itu menunjukkan reaksi yang tidak biasa terhadapnya?

Jika pria-pria lain bereaksi terhadap perubahanmu sementara Sasuke tidak, maka ada sesuatu yang salah dalam otak atasanmu itu.

Itu yang dikatakan Koyuki tadi malam padanya.

Seperti hari-hari biasanya, perhentian pertamanya setelah keluar dari stasiun kereta api adalah kedai kopi di sebelah hotel tempatnya bekerja. Ia mengantri dengan sabar demi mendapatkan segelas Americano kesukaan Sasuke serta segelas kopi latte untuk dirinya sendiri.

"Selamat pagi!" sapa Naruto pada seorang pria tampan berusia awal tiga puluh tahunan yang berdiri di balik konter. "Aku memesan yang biasa," tambahnya dengan senyum yang memikat.

Pria itu tidak langsung menjawab, ia malah menunduk dan bertelekan pada satu siku-menatap Naruto dengan pandangan menilai dan tertarik yang sama sekali tidak ditutupinya, sesuatu hal yang tidak pernah didapatkan Naruto darinya sejak ia menjadi langganan tetap di kedai kopi ini. "Boleh aku tahu pesanan yang biasa itu?" tanyanya dengan suara menggoda.

Naruto memaksakan diri untuk tersenyum hangat pada pria itu, sementara di dalam hati ia tertawa puas, bagaimana seorang pria bereaksi lain pada seorang wanita hanya karena riasan wajah serta tatanan rambut yang berbeda. Koyuki benar-benar ahli, pikirnya kagum. "Aku biasa membeli satu Americano porsi sedang serta satu kopi latte dengan tambahan karamel," jawabnya merdu.

Pria di balik konter itu menautkan kedua alisnya. "Bagaimana bisa aku tidak mengingat seorang wanita cantik sepertimu? Kukira baru kali ini kau datang ke kedai kopiku."

Naruto tertawa renyah, sembari mengibaskan sebelah tangannya dengan anggun di depan wajahnya. "Kau terlalu memuji. Asal kau tahu, sudah beberapa minggu ini aku menjadi pelanggan tetap kedai kopimu."

Wanita muda itu bisa mendengar desahan napas keras dari pria di depannya. Pria itu menatapnya dengan tatapan menyesal. "Salahku yang tidak bisa mengenalimu," ujarnya dengan ekspresi berlebihan. "Sebagai permintaan maaf, aku akan memberimu flat white ukuran sedang serta tambahan karamel untuk latte-mu dengan cuma-cuma."

Naruto terkesiap, terlihat terkejut. "Benarkah? Semua itu gratis?"

Pria itu mengangguk, dan menjawab dengan nada menggoda, "Anything for you, Babe!" katanya membuat Naruto merasa yakin jika perubahannya pagi ini sukses besar. Well, setidaknya untuk beberapa pria tertentu.

Sepuluh menit kemudian Naruto kembali menyusuri jalan menuju hotel tempatnya bekerja.

Hal yang sama kembali didapatnya saat ia berjalan sepanjang lorong panjang menuju lift. Beberapa pegawai pria menyapanya dengan nada yang terlampau ramah. Setidaknya untuk pendengaran Naruto. Lagi-lagi ucapan Koyuki tadi malam terbukti, seorang pria akan bereaksi terhadap penampilan wanita. Menyedihkan, namun ternyata memang begitu kenyataannya.

Naruto segera masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka. Lalu melangkah keluar dengan langkah lebar-lebar saat pintu lift kembali terbuka saat ia sudah sampai di lantai yang ditujunya. Naruto melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Masih jam tujuh lebih tiga puluh pagi, tapi Sasuke serta Kakashi sudah berdiri di depan pintu ruang kerja Sasuke dan terlihat tengah terlibat pembicaraan serius.

Ekspresi Sasuke terlihat lebih kecut daripada hari-hari biasanya. Apa pria itu sedang marah? Tanyanya di dalam hati. Namun Naruto tidak mengatakan apapun, ia mempercepat langkahnya, membuat dua orang pria itu menoleh ke arahnya datang. "Selamat pagi!" sapanya sopan. Ia meletakkan barang bawaannya di atas meja kerjanya, lalu membuka coat panjang yang dikenakannya lalu menggantungnya di sebuah gantungan baju yang ada di samping lemari arsipnya.

Naruto tersenyum lembut saat menyerahkan gelas Americano pada Sasuke. Pria bermata gelap itu tidak mengatakan apapun, dan hanya menatapnya dengan tatapan datarnya yang biasa. Ayolah. Dia berharap jika Sasuke akan memperhatikan perubahannya atau sedikit saja bereaksi akan perubahannya ini. Namun pria itu seolah tidak melihat perubahan pada penampilan Naruto dan tetap memasang ekspresi datarnya yang biasa.

"Selamat pagi!" jawab Kakashi. Ia terdiam sejenak, alisnya terangkat saat berkata, "kau terlihat berbeda." Pria itu menilai penampilan Naruto dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu tersenyum hingga kedua matanya membentuk seperti bulan sabit. "Apa karena kau mengikat rambutmu?"

Naruto tersenyum ramah, sembari melirik ke arah Sasuke yang sama sekali tidak bereaksi dengan ujung matanya. "Sepertinya begitu, Pak," jawabnya. Naruto kembali mencuri pandang ke arah Sasuke. Apa aku gagal? Tanya Naruto di dalam hati. Kenapa atasannya itu terlihat tidak tertarik sama sekali?

"Kau membeli dua gelas kopi untukmu sendiri?" tanya Kakashi, memutus lamunan pendek Naruto. Kedua mata Kakashi kini tertuju pada dua gelas kopi yang diletakkan di atas meja Naruto, sementara Sasuke menyesap Americano-nya pelan.

"Tidak," jawab Naruto. "Saya hanya membeli satu untuk Pak Sasuke, satu latte untuk diri saya sendiri, sementara satu cangkir lagi diberikan gratis," terang Naruto panjang lebar. "Apa Anda mau, Pak Kakashi?" tanyanya. "Ada kopi latte dan flate white. Anda mau yang mana?" tawarnya dengan suara senormal mungkin, mengabaikan tatapan tajam Sasuke yang sekilas diterimanya. Ayolah, kenapa Sasuke harus marah saat ia memberikan satu gelas kopi pada Kakashi? Apa jangan-jangan atasannya itu menginginkan dua gelas kopi pagi ini? Tanyanya di dalam hati.

Kakashi tersenyum lebar, terlihat senang. "Aku mau kopi latte."

"Ah, tentu saja," kata Naruto sembari menyerahkan gelas kopi yang diinginkan Kakashi pada pria itu.

"Terima kasih!" kata Kakashi saat gelas itu berpindah tangan padanya. Ia meniupnya pelan, lalu menyeruputnya nikmat. "Enak sekali, mungkin karena gratis," katanya bercanda.

Ia masih memasang senyum ramah, dan menekan rasa terkejutnya saat Sasuke menyimpan gelas Americano miliknya yang baru diminum sedikit ke atas meja kerja Naruto. "Apa kopinya tidak enak?" tanya Naruto heran. Tidak biasanya Sasuke memulai hari tanpa segelas kopi.

"Aku sudah minum kopi di rumah," jawab Sasuke tanpa emosi. Pria itu merapikan jas biru tua yang dikenakannya, menepuk jas Kakashi dan kembali berkata, "Sebaiknya kita memeriksa masalahnya sekarang juga!"

Kakashi mengangguk pelan, melirik sekilas kea rah Naruto untuk mengucapkan 'terima kasih' sekali lagi, lalu membalikkan badan untuk mengekori langkah Sasuke.

.

.

.

Sasuke kembali ke kantornya pada pukul sebelas siang. Waktu yang cukup lama untuk sekedar inspeksi. Wanita itu menegakkan tubuh di atas kursi kerjanya, mengumpulkan keberaniannya. Ia mengingatkan pada dirinya sendiri jika perubahannya saat ini dilakukannya untuk menarik perhatian Sasuke, dan hal itu menguatkannya.

Naruto memfokuskan pandangannya pada layar komputer di depannya. Berpura-pura sibuk dan mengabaikan keberadaan Sasuke yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.

"Bawa dokumen yang terakhir kita bahas ke ruanganku!" ujar datar Sasuke saat ia melewati meja Naruto.

Naruto membawa apa yang diminta oleh Sasuke dengan cepat. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan pria itu hingga tiba di depan meja kerja Sasuke. "Saya membawakan dokumen yang Anda minta." Naruto secara sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya saat meletakkan dokumen itu pelan di atas meja, membuat rambut ekor kudanya menjuntai ke depan, dan hal itu tidak luput dari penglihatan Sasuke. "Apa ada hal lain yang ingin Anda bahas, Pak?" tanyanya sangat sopan.

Atasannya itu mengangguk pelan, sementara matanya tertuju pada dokumen yang tengah dibacanya. "Duduk!" ia menunjuk ke arah kursi dengan dagunya, meminta Naruto untuk duduk. Dengan patuh Naruto mendudukkan diri, lalu menunggu dengan sabar.

Sasuke memeriksa dokumen itu dan bergumam sendiri, mengabaikan keberadaan Naruto yang duduk di seberang mejanya. "Besok jangan membelikanku Americano lagi," katanya tiba-tiba, membuat Naruto mengerjap bingung lalu memiringkan kepala dan membalas, "kenapa? Apa kopi Anda tidak enak hari ini, Pak? Bukankah Anda selalu menginginkan segelas kopi sebelum bekerja?" tanyanya beruntun.

"Mulai hari ini aku membuat kopiku sendiri di rumah," jelas Sasuke tanpa menatap Naruto. "Dan lagi, kenapa riasan wajahmu sangat tebal hari ini?"

Naruto kembali mengerjap. Kenapa Sasuke malah mengkritik penampilannya? Jujur saja hal itu membuat Naruto sedikit terguncang. Kepercayaan dirinya mendadak menguap saat Sasuke mengatakannya. Mungkin apa yang dikatakan Koyuki mengenai Sasuke benar-ada yang salah di dalam otak pria itu.

Wanita berambut pirang itu menghitung sampai lima, menjaga agar nada suaranya terdengar biasa dan sopan saat ia berkata, "Saya hanya mengganti warna lipstick saya, Pak. Pekerja wanita lain juga banyak yang memakainya. Dan saya rasa penampilan saya tidak heboh, hanya sedikit lebih tebal saja," terangnya.

Dan itu masalahnya, maki Sasuke di dalam hati. Ya Tuhan, apa Naruto tidak sadar jika penampilannya saat ini terlihat sangat menggoda? Pria lainpun pasti berpikiran sama. Tidak mungkin pria di kedai kopi itu memberikan kopi secara gratis jika ia tidak merasa tertarik pada Naruto. Sialan! Dasar pria dan hormonnya, bentak Sasuke di dalam hati.

Ia juga memperhatikan lagi penampilan Naruto lewat ujung matanya. Bagaimana bisa wanita itu membiarkan satu kancing kemejanya tidak dikancingkan? Bukankah Naruto selalu mengancingkannya selama ini? Selama ini wanita itu juga selalu menyanggul rambutnya. Penampilannya selama ini membuatnya terlihat sangat kaku. Namun hal itu justru sangat disukai oleh Sasuke. Setidaknya ia tidak perlu memusingkan tatapan pria lain terhadap Naruto.

"Apa Anda tidak menyukai penampilan saya?" Naruto kembali bertanya saat Sasuke terdiam lama, menyisakan keheningan yang meraja.

Sasuke tidak langsung menjawab. "Bukan itu maksudku." Dirinya tidak mau jika Naruto berpikir ia merasa terganggu dengan penampilan wanita itu. Naruto tidak boleh tahu jika perubahan dirinya mempengaruhi pria itu dengan sangat kuat. "Setiap orang yang bekerja di hotel ini tentu saja harus terlihat menarik," tambahnya. "Hanya saja aku lebih menyukai penampilanmu yang sebelumnya."

Naruto mengatupkan mulut. Giginya gemertuk. "Apa Anda sedang mengejek saya. Pak?" tanyanya. "Bagaimana bisa Anda menyukai penampilan saya yang terdahulu, sementara sebagian besar pegawai yang bertemu dengan saya hari ini mengatakan jika penampilan saya jauh lebih baik saat ini?"

Sasuke bersandar di kursinya. Terdiam, dan memberi kesempatan pada Naruto untuk menyelesaikan ucapannya.

"Bukankah Anda sendiri pernah mengatakan jika penampilan pegawai sangat penting dalam bisnis ini?" tanyanya berapi-api. "Dan saya melakukan perubahan kecil ini untuk kepentingan hotel juga. Saya tidak mau tamu serta rekanan kerja Anda mengatakan jika sekretaris manager hotel ini sama sekali tidak menarik dan tidak sesuai dengan posisi yang diisinya," katanya beralasan. Jauh di dalam hatinya ia meringis, berharap jika Sasuke mempercayai alasan klise yang diberikannya.

"Kau yakin perubahanmu saat ini demi kepentingan hotel?" ia balik menyerang dengan telak.

Naruto ingin menelan air liurnya, namun mulutnya terasa kering.

"Atau kau melakukannya untuk menarik perhatian lawan jenis?"

Aku melakukan ini untuk menarik perhatianmu! Teriak Naruto di dalam hati. Kenapa dia malah memprotes penampilanku? Ratapnya kesal, tanpa sadar ia menghembuskan napas yang ditahannya sedari tadi. "Jadi, Anda memanggil saya hanya untuk membahas hal ini?" tanya Naruto kemudian.

Sasuke menggelengkan kepala. "Tidak," katanya cepat. "Aku memerlukan bantuanmu untuk menghadiri sebuah pesta malam ini."

Naruto terbelalak. Mulutnya terbuka lebar. "Saya?"

Sasuke mengangguk.

"Anda serius?"

Sasuke mengernyit. "Tentu saja aku serius," jawabnya datar. "Sekretaris lamaku biasa ikut menemaniku untuk menghadiri pesta-pesta yang diadakan rekan bisnis kita."

"Tapi saya tidak membawa persiapan," jawab Naruto.

"Aku akan menjemputmu pukul tujuh malam," kata Sasuke kemudian. "Bersiaplah dan jangan membuatku menunggu."

Hening.

"Itu saja?"

"Hn…"

"Apa ada hal lain yang ingin Anda bahas, Pak?" tanya Naruto lagi.

"Tidak ada. Kembali ke mejamu!" perintahnya datar.

Ruangan itu kembali hening saat Naruto menutup pintu di belakangnya pelan.

"Sialan!" maki Sasuke kemudian. Wanita itu benar-benar menggodanya dengan dasyat. Pria itu menyusurkan jemari tangan ke dalam rambutnya, mengerang frustasi. Pada awalnya dia hanya ingin membahas masalah pekerjaan dengan Naruto. Namun penampilan wanita itu benar-benar mengganggunya. Mulutnya gatal ingin mengutarakan keberatannya atas perubahan penampilan yang dilakukan wanita itu.

Dia sadar jika dia tidak memiliki hak untuk melarang Naruto berpenampilan menarik. Bahkan tempat mereka bekerja saat ini memang mengutamakan kecerdasan otak, serta penampilan yang menarik. Dan Naruto memiliki keduanya.

Sasuke bahkan harus menahan diri saat melihat Kakashi menatap Naruto dengan pandangan tertarik. Ia juga tetap menahan diri saat Kakashi mengatakan jika Naruto akan menjadi primadona baru di Hotel Zeus.

"Brengsek!" makinya lagi, kesal. Selintas ia mendengar beberapa pegawai pria saat inspeksi tadi, mereka dengan terang-terangan menyukai penampilan Naruto yang baru. Sasuke menghela napas kasar, mengetuk-ngetukkan jari ke atas meja kerjanya, terlihat tidak sabar. Dan kenapa sekarang ia malah mengajak wanita itu ke pesta nanti malam? "Kau sudah gila, Sasuke!" katanya pelan sembari mengusap wajahnya.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang, Naruto sengaja mampir ke sebuah salon yang berada dekat dengan rumahnya untuk menata rambutnya dan memanikur kukunya. Setelahnya ia bergegas melanjutkan perjalannya, benar-benar terkejut saat melihat sebuah kotak besar yang tergeletak di depan teras rumahnya sore ini. Siang tadi ia menceritakan apa yang dialaminya hari ini, tidak lupa ia menceritakan jika Sasuke mengajaknya ke sebuah pesta formal malam ini. Koyuki memekik senang mendengarnya, dan berbaik hati untuk menyiapkan gaun, tas serta sepasang sepatu yang akan dikenakan oleh Naruto untuk ke pesta nanti, serta mengatakan padanya jika ia menginginkan laporan secara detail apa yang terjadi setelah pesta nanti.

"Tidak akan terjadi apapun," kata Naruto, siang tadi lewat sambungan telepon. Ia sengaja masuk ke dalam bilik kamar mandi di dalam satu toilet wanita di lantai dua saat jam makan siang berlangsung untuk menghubungi Koyuki. Ia tidak bisa meminta bantuan Ino, karena teman seperjuangannya itu memiliki jam makan siang yang berbeda dengannya hari ini.

Ia bisa mendengar tawa puas dari ujung sambungan telepon. Naruto hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat dengan yakin Koyuki mengatakan jika Sasuke tengah cemburu melihat perubahan penampilan Naruto saat ini.

Naruto mendesah panjang. Entah kenapa dia merasa kembali tidak yakin. Apalagi saat Sasuke mengatakan jika pria itu menyukai penampilan lamanya.

"Dia mengatakannya karena cemburu!" Koyuki kembali mengatakannya. "Dia tidak mau pria lain melihat kecantikanmu."

"Kau yakin?" tanya Naruto lagi, membuat Koyuki mendengus kasar.

"Sangat yakin," balas Koyuki. "Aku akan mengirim gaun dan perlengkapan untuk kau kenakan pada pesta malam ini." Koyuki terdiam sejenak. "Gunakan pesonamu. Aku sudah mengajarimu bukan? Pesta malam ini akan menjadi kesempatan bagus agar kau mengetahui isi hati bosmu yang sebenarnya. Gunakan sedikit cara licik, Naruto dan kau akan terkejut melihat hasilnya."

Naruto menggelengkan kepalanya cepat. Mencoba untuk fokus dan mengingat semua pembicaraannya dengan Koyuki tadi malam. Dengan hati-hati ia membawa kardus berukuran besar itu ke dalam rumah. Malam ini Kurama akan pulang sangat terlambat, karena ada pelatihan di luar kota, jadi tidak akan ada masalah jika ia pulang tengah malam nanti.

Kedua matanya terbelalak saat melihat isi dari kotak itu. Koyuki benar-benar serius dengan ucapannya, saat mengatakan jika Sasuke tidak bisa melepaskan mata dari Naruto.

Naruto mengangkat sebuah dress dengan model rok skater di atas lutut tanpa lengan dengan tali yang diikatkan di leher-berwarna merah terang, lalu meletakan dress itu di depan tubuhnya. Bahan dress itu terbuat dari sutra terbaik yang terasa lembut dan dingin di tangannya. Ia menatap dress itu lama, dan tersenyum saat menyadari jika tatanan rambutnya saat ini sangat sesuai dengan dress merah yang dikirim oleh Koyuki-rambut pirangnya ditata dengan gaya updo saat ini.

Wanita itu terpekik keras saat melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia hanya memiliki waktu tiga puluh menit untuk bersiap. Naruto segera berlari ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat, dan berhati-hati agar tatanan rambutnya tidak rusak terkena air.

Naruto berdandan dengan cepat setelahnya namun memastikan jika penampilannya terlihat sempurna.

Ia segera berlari ke bawah saat bel pintunya berbunyi nyaring. Ia berlari sembari menenteng tas tangan berwarna champagne serta sepatu berhak tinggi yang senada dengan gaunnya. Di balik pintu, Naruto mengatur napas, lalu mengenakan sepatunya sebelum membuka pintu itu untuk Sasuke. "Anda datang tepat waktu," katanya dengan senyum memikat.

"Lumayan," kata Sasuke tanpa menjawab ucapan Naruto. "Penampilanmu lumayan," katanya lagi saat Naruto memasang ekspresi terkejutnya yang menggemaskan.

"Hanya lumayan?"Naruto terdengar kesal mendengarnya. Sasuke menaikkan satu alisnya, membuat wanita itu berdeham dan memaki mulutnya yang terlalu jujur.

Sasuke menyeringai sembari membantu Naruto masuk ke dalam mobil Mercedes-nya. Ia berjalan memutari bagian depan kendaraannya lalu masuk dan duduk di balik kemudi.

.

.

.

Naruto benar-benar bersyukur karena Koyuki memberinya pinjaman dress merah yang kini dikenakannya. Sasuke benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa ia mengatakan jika pesta ini hanya makan malam biasa? Pesta ini sangat mewah dan formal, bahkan nyaris membuat kedua kaki Naruto gemetar karena serangan rasa tidak percaya diri yang menyerbunya cepat.

"Apa yang kautakutkan?" bisik Sasuke di telinga kanan Naruto. "Penampilanmu hebat," tambahnya membuat Naruto tersenyum manis kearahnya.

Untuk beberapa waktu kekhawatiran Naruto sirna, digantikan oleh debaran jantung yang mulai menggila. Sepanjang makan malam pria itu terus berada di sampingnya. Melibatkannya di setiap pembicaraan dan memperkenalkannya secara formal kepada setiap tamu yang menyapa keduanya sebagai teman kencannya malam ini.

Sasuke mengenalkannya sebagai teman kencannya? Bagaimana jika hal ini terdengar oleh pihak hotel? Tapi jika dipikir-pikir, tentu saja ia berperan sebagai teman kencan pria itu saat ini, bukan sebagai sekretarisnya. Pasti Sasuke mengatakan hal yang sama saat menghadiri pesta-pesta sebelumnya dengan sekretaris lamanya.

Sial. Kenapa dia harus memikirkan hal itu saat ini? Hal yang mampu membuat kegembiraan kecilnya kembali menguap. Naruto mendesah panjang, ia membutuhkan udara segar saat ini, jauh dari meriahnya pesta di seluruh ruangan di dalam kediaman tuan rumah yang sangat besar. Wanita itu tidak menyukai perasaan ini, perasaan dimana ia merasa kecil.

"Ada apa?" tanya Sasuke saat melihat perubahan pada ekspresi Naruto. Pria itu bisa tahu dengan cepat saat teman kencannya menyunggingkan senyum yang dipaksakan. "Kau mau menghirup udara segar?" tanyanya lagi yang langsung diangguki setuju oleh Naruto.

Keduanya segera menyelinap keluar. Mencari tempat sepi di teras belakang rumah. Samar-samar suara obrolan, gelak tawa serta alunan musik terdengar dari dalam rumah, membuat Naruto menengok ke belakang lalu kembali menatap pemandangan taman bunga luas di hadapannya. Keduanya terdiam, menikmati kesejukan malam.

"Kau tidak suka pesta?" Sasuke membuka suara, memutus keheningan diantara keduanya. "Atau kau tidak suka aku yang menjadi teman kencanmu?"

Naruto tersenyum kecil, dan menjawab, "Saya menyukai pesta, tapi bukan pesta seperti ini," akunya polos. "Dan saya sangat menyukai anda sebagai teman kencan saya." Wanita itu menggigit bibir bawahnya, memejamkan mata, mengutuk kepolosannya, tanpa menyadari jika Sasuke menatapnya penuh arti padanya saat ini. Naruto berdeham, dan kembali bicara dengan nada lebih tenang, "ngomong-ngomong, kenapa Anda mengenalkan saya sebagai teman kencan? Bukankah saya sekretaris anda, Pak?" tanyanya ingin memastikan kebenaran pikirannya tadi.

Sasuke mengangkat sebelah bahunya, tidak langsung menjawab. "Aku selalu mengenalkan wanita yang menemaniku ke pesta sebagai teman kencan. Begitu pun dengan sekretaris-sekretarisku yang sebelumnya." Ia menyeringai. "Kenapa kau terlihat kecewa?"

"Saya?" Naruto menunjuk dirinya sendiri.

Sasuke menyeringai lambat-lambat, matanya menatap lurus ke dalam mata Naruto. "Ya. Kau terlihat kecewa," ulangnya. "Kenapa? Karena aku menyamakan posisimu dengan sekretaris-sekretarisku sebelumnya."

Untuk kedua kalinya Naruto menelan kering saat berhadapan dengan Sasuke hari ini.

"Ah, aku lupa. Bukankah kau memiliki satu hutang yang belum dibayar padaku?"

Naruto mengernyit, terlihat bingung. "Hutang? Saya?" Wanita itu sejenak berpikir, mencoba mengingat hutang apa yang dimilikinya pada Sasuke, dan hal itu menyentaknya, membuat jantungnya berdebar semakin cepat. Apa Sasuke berniat untuk menciumnya? Ya Tuhan, semoga apa yang kupikirkan benar, teriaknya di dalam hati. Sasuke tidak perlu tahu seberapa besar ia merindukan rasa bibir pria itu, dan hal itu membuat wajahnya merah padam karena perasaan malu.

Sasuke menarik sudut mulutnya, terlihat senang melihat perubahan ekspresi sekretarisnya. Naruto pasti sudah paham apa yang menjadi maksudnya saat ini. Ia mengangkat ibu jarinya, lalu menggosokkan ibu jarinya pada bibir merah Naruto. Bibir yang sedari awal terlihat menantang dan mengundang dirinya untuk segera mengklaimnya. Pria itu menangkup wajah Naruto, mendekatkannya dengan wajahnya sendiri. "Ya, kau masih berhutang padaku," katanya dengan suara serak. Bibir Sasuke bersentuhan dengan bibir Naruto saat ia mengatakannya. "Kau masih berhutang satu ciuman padaku, Naruto," tambahnya sebelum menyatukan mulut mereka, menyusuri bibir Naruto dengan lidahnya, membuat Naruto tanpa sadar mengerang karenanya.

.

.

.

TBC

Hai… masih dalam rangka merayakan SafOnyxDay2016 yah, Teman-teman.

Dichap ini ada bagian yang kalian suka nggak? Atau bikin kalian tersenyum nggak jelas saat membacanya? Seperti halnya saya saat menulis chapter ini? #Kepo XD

Btw, ada yang menanyakan ; apa akan ada pair Kurama x Koyuki? Jawabannya tidak ada. Hubunga mereka disini hanya sebatas teman. Lebih seperti kakak dan adik. Itu saja. ^^

Ah, semoga kalian cukup terhibur saat membaca chap terbaru fic ini yah. Sampai jumpa dichap selanjutnya! ^^

#SafOnyxDay2016

#SasuFemNaruIndonesia

#WeDoCareAboutSFN