PRANG!

Suara pecahan benda-benda itu terdengar begitu keras di malam yang sunyi. Kegelapan total turut mendukung suasana di salah satu rumah di kompleks perumahan itu menjadi lebih mencekam dan mengerikan.

PRANG!

Sungmin masih bertahan di posisinya di depan pintu putih bertuliskan 'Kyu's Room' itu. Namja yang masih mengenakan setelan lengkap kerjanya itu masih meringkuk dengan punggung yang bersandar di pintu di belakangnya. Kedua tangannya masih setia menutupi kedua telinganya, sementara tubuhnya masih bergetar hebat.

Gelap. Semuanya masih gelap total. Bahkan bulan yang biasanya bersinar terang itu, kini tidak ada. Dan kegelapan hitam ini, selalu seperti ini.

PRAANG! BRAK!

"Kyu~"

Sungmin bangkit dari posisinya lalu bergerak cepat memutar kunci pintu di depannya, dan dengan perlahan dibukanya pintu itu. Mata kelincinya hafal benar letak dan tata kamar dongsaeng-nya itu, hingga dalam kegelapan seperti saat ini pun, Sungmin bisa dengan cepat mencapai ranjang di tengah ruangan. Namja itu sempat meringis saat pecahan-pecahan kaca menggores telapak kakinya yang tidak beralaskan apapun.

"Kyunnie, tenanglah~ Hyung disini~"

Suara lembut itu bergetar dan butir-butir air mata masih senantiasa turun dari kedua matanya yang masih berusaha mencari sosok pemilik kamar.

PRANG!

Sungmin kembali memejamkan matanya saat merasa ada sesuatu melayang ke sisinya dan jatuh ke lantai dengan berkeping-keping.

"Kyuhyunnie~ Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja. Ada Hyung disini, kau tidak perlu takut." Ucap Sungmin lagi, masih dengan nada bergetar. Ia masih melangkahkan kakinya ke samping ranjang saat melihat siluet sang adik yang sedang meringkuk disana.

Sungmin menundukkan tubuhnya ketika mencapai beberapa langkah dari tubuh Kyuhyun yang terduduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya sendiri. Wajahnya menunduk dan bersembunyi di sela-sela lipatan tangannya.

"Kami sendirian di tengah kegelapan. Bahkan saat kami berteriak, semua hanya diam menatap kami yang ketakutan. Dan saat semua diakhiri, mereka malah tertawa~"

Sungmin menggeleng keras sambil berusaha merengkuh tubuh yang masih bergeming di depannya. Namun begitu tangannya sudah akan menyentuh lengan pucat itu, sesuatu menepis tangannya dengan keras.

"K-Kyu~"

"Semuanya gelap dan hitam~ Kami hanya berharap setitik cahaya putih yang terang~ Namun yang ada hanya hitam~"

Alunan lemah itu masih terdengar dari bibir Kyuhyun yang masih menundukkan wajahnya. Sungmin hanya menatap kalut dongsaeng -nya. Ia tahu dan sangat hafal lirik lagu ini.

"Sebentar lagi lampu akan menyala. Kau tidak boleh takut, Kyu! Hyung akan selalu di sisi―"

Grep

Sungmin tidak sempat melanjutkan kata-katanya saat jemari putih pucat itu mencengkeram lengannya dengan erat. Namja manis di depannya itu masih menunduk.

"Kyu―"

"Cahaya itu pergi~ yang ada hanya kegelapan~"

Suara berat itu terdengar lirih namun mengerikan. Sangat berbeda dengan suara galak dan lugu yang biasanya mengalun dari bibir seorang Cho Kyuhyun. Sungmin hanya bisa menatap takut dongsaengnya yang masih menunduk itu, tubuhnya gemetar hebat ketika kepala yang masih menunduk di depannya, kini mulai bergerak mengangkat.

Dan sebelum wajah Kyuhyun sempat terlihat, Sungmin segera menutup mata kedua dongsaengnya itu dengan kedua tangannya yang kini semakin bergetar hebat. Apapun asal kedua mata itu tidak menatapnya walau dalam keadaan gelap sekalipun.

"Semuanya baik-baik saja, Kyu. Kau harus tenang. Tidak ada siapapun disini, hanya kita berdua. Kau aman disini." Ucap Sungmin masih bertahan menutup mata Kyuhyun yang masih tenang di depannya. Justru Sungmin yang sangat ketakutan saat ini, apalagi jika―

Srak

Sret

Sungmin membeku saat lengan pucat di depannya itu melepaskan diri dari cekalannya dan mengambil salah satu satu kepingan kaca disana, dan matanya semakin melebar saat Kyuhyun sudah akan menggoreskannya ke lengannya sendiri.

TRANG!

Sungmin seketika menepis gerakan itu hingga pecahan kaca itu terlempar tak jauh di depan mereka berdua. Namun, Sungmin lupa dengan akibat tindakannya sangatlah fatal.

Srak

Dan Sungmin kembali gemetar saat telapak tangan pucat Kyuhyun meraih telapak tangannya dan meletakkan kepingan kaca itu disana.

"Aku mau melihat mainanku sekarang."

Dan Sungmin hanya bisa mengangguk sambil mulai mengarahkan kepingan kaca itu ke lengannya sendiri setelah mendengar kalimat pendek lirih itu. Begitu cairan merah kental itu mulai mengalir dari lengannya, sepasang iris di depannya itu berkilat terang, sementara air mata kembali membasahi wajah Sungmin.

"Apapun asal kau bahagia, Kyu~" ucap Sungmin lirih sambil menatap kedua iris Kyuhyun. Mata bulat besar dongsaengnya itu berubah. Sebuah kesalahan karena telah melepaskan tangannya untuk tidak menutupi kedua mata itu.

Walau dalam kegelapan, Sungmin dapat melihat dengan sangat jelas iris coklat caramel Kyuhyun yang kini sepekat warna merah darah yang mengalir dari lengannya.

Merah gelap yang mengerikan.

"Mainan kesukaanku~"

.

.

THE POWER OF HIGH POLAR

Chapter 8: SOLARIUM

Genre: Romance, Friendship, Fantasy, Supranatural, School-life

Rating: T

Main Pair: WONKYU

Other Pair: YUNJAE, HANCHUL, HAEHYUK, YEWOOK

Warning: YAOI, BOYSLOVE, OOC, TYPOS

Summary:

Kekuatan matahari ada di tangan mereka. Namun persahabatan dan cinta sejatilah yang menjadi kekuatan terbesar yang mereka miliki nantinya.

DON'T LIKE DON'T READ

BabyWonKyu proudly presents

.

.

_Wonkyu_

Suasana pagi yang dingin itu sangat hening. Bangunan besar berlantai lima milik Spamcos High School itu terlihat berdiri kokoh di tengah-tengah kesibukan kota Seoul yang terus berjalan walau udara dingin musim gugur kini mulai mendominasi Negara itu.

Pemandangan di sekolah itu tidak ada yang istimewa. Beberapa siswa tampak sedang berusaha memanjat pagar tinggi di bagian belakang sekolah elit itu, namun sepertinya aksi mereka yang ternyata merupakan murid yang terlambat itu akan gagal. Sekelompok siswa yang lain tampak sedang melaksanakan kegiatan olahraga di halaman depan. Beberapa lagi sedang berkerumun di depan rumah kaca besar di sebelah barat gedung sekolah untuk melakukan pengamatan biologi. Beberapa guru tampak sedang berkeliling memeriksa keadaan kelas dan sekolah.

Sebagian besar siswa yang lain kini sedang belajar di dalam kelas-kelas mereka yang hening.

Termasuk kelas istimewa yang berisi siswa-siswa istimewa itu.

"Kim Jongwoon, kerjakan soalmu sendiri dan jangan terus-terusan menoleh kesana-kemari."

Rupanya kelas istimewa itu sedang melakukan kegiatan yang paling ditakuti dan dihindari semua kalangan siswa di seluruh dunia. Ulangan.

Yesung mendecih pelan sambil menyembunyikan wajahnya diantara lipatan kedua tangannya di atas meja. Dua lembar kertas di depannya masih bersih dari coretan tinta. Sedangkan sang guru bernama Park Yoochun kini mulai mengedarkan matanya ke arah muridnya yang lain yang tampak serius mengerjakan soal ulangannya.

'Soal sialan! Mana mungkin aku bisa mengaransemen lagu kuno ini! Aish!'

Lee Donghae menyeringai tipis mendengar gerutuan Yesung yang duduk di belakangnya. 'Sudahlah, Hyung kepala besar. Tulis saja partitur lagu selamat ulang tahun di lembar jawabanmu, seperti milikku. Daripada tidak diisi sama sekali~'

'Kau gila, ya! Itu sama saja dapat nilai 0, Pabbo! Kubuat jadi ikan goreng kau mau?!'

'DIAMLAH! Obrolan kalian membuat kepalaku semakin pusing!'

Kali ini suara Yunho yang terdengar di kepala mereka. Sang penguasa kekuatan utara itu sedikit menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal dengan frustasi. Lembar jawaban di depannya itu masih terisi beberapa baris sejak beberapa menit yang lalu.

Ulangan 'dadakan' itu sudah berlangsung sejak satu jam yang lalu, dan waktu pengerjaan hanya tersisa setengah jam pelajaran lagi. Salahkan saja guru Park yang mengadakan ulangan dadakan seperti saat ini. Guru muda itu mengatakan bahwa ulangan ini merupakan tes untuk mengecek apakah mereka mengerjakan aransemen Fur Elise tempo hari dengan pikiran sendiri atau tidak. Jika saja mereka mengerjakan sendiri, pasti tes ini hanya terasa seperti menyalin jawaban, tapi… tentu saja mereka tidak mengerjakan aransemen lagu kuno itu sendiri. Apakah para guru jaman sekarang tidak mengenal istilah Copy-Paste?!

'Dasar tidak berguna.'

Jaejoong hanya menghela nafas jengah saat beberapa pasang mata menatapnya tajam akibat ucapan 'abstrak'nya. Namja cantik itu hanya mengangkat bahu tak peduli dan lebih memilih berkonsentrasi menulis not-not balok di kertas jawabannya.

Yesung dan Donghae hanya mengumpat pelan saat Yunho memberikan death glare gratisnya dengan tatapan tajamnya yang mengisyaratkan 'Biarkan saja, dan jangan coba-coba mengganggu Ordinal-ku!'. Namja bermata musang itu kemudian melirik dua Hoobae yang duduk berdampingan di bangku sebelahnya. Ryeowook masih serius menulis not-not Fur Elise di kertas jawabannya yang hampir penuh, sementara Kyuhyun disampingnya juga terlihat masih serius menulis di kertas jawabannya sendiri. Hyukjae yang duduk di samping Donghae juga terlihat serius, sementara Donghae mulai mencuri pandang ke jawaban namja bergummy smile itu.

Semua Ordinal di kelas itu terlihat tenang dengan pekerjaannya masing-masing, bahkan Heechul yang biasanya menggerutu dan bertingkah aneh, kini serius dengan kertas jawabannya. Hankyung? Jangan tanya! Tentu saja namja cina itu―

Sret

Tap tap tap

"Aku sudah selesai, Sonsaengnim."

Semua perhatian sempat teralih ke depan kelas saat Hankyung berdiri dan berjalan pelan menuju meja guru lalu menyerahkan lembar jawabannya dengan sopan. Yoochun mengangguk sambil tersenyum sebelum mempersilahkan Hankyung duduk kembali.

'Ya! Mengapa kau tidak membagi jawaban soal sialan ini kepada kami, Hankyung-ah!'

Hankyung tersenyum miring menanggapi seruan Yesung di dalam kepalanya. Ia kemudian kembali duduk di kursinya dan mulai membaca buku tebal yang bahkan siapapun tidak berminat membacanya.

'Apa dia tidak muntah-muntah membaca buku-buku tebal itu?!'

'Aku tidak akan muntah jika kau tidak muncul di depanku, Yesung-ah~'

Yesung kembali merengut mendengar balasan Hankyung di dalam kepalanya. Donghae dan Hyukjae terlihat sedikit terkikik melihat Yesung di belakangnya.

"Waktu kurang 15 menit lagi."

Ucapan santai Yoochun membuat semua yang ada di ruangan itu mulai panik dan fokus ke kertas jawaban masing-masing. Yesung mulai menuliskan beberapa not balok lagu 'Ulang Tahun' di kertasnya menuruti saran Donghae. Hyukjae hanya tersenyum saat Donghae menatapnya dengan tatapan memohon lalu memperbolehkan teman sebangkunya itu menyalin jawabannya.

'Ya, Choi Siwon! Mengapa kau tenang sekali? Bahkan kertasmu masih bersih sekali!'

Choi Siwon. Namja tampan itu sejak tadi diam di tempatnya tanpa sedikitpun menyentuh kertas jawabannya. Bahkan untuk menanggapi pertanyaan Yunho pun namja itu hanya membentuk sebuah seringaian di wajahnya.

'Tunggu saja.' Ucap Siwon pendek sambil menatap Yoochun yang kini mulai membaca hasil jawaban Hankyung. Guru itu sedikit bergumam membaca bagian judul yang tertulis di kertas di tangannya.

Selagi Yoochun membaca dan mengoreksi jawaban Hankyung di dalam hati, saat itu pula seringaian menang tergambar jelas di wajah Siwon.

"SIALAN! DIA MEMANG LICIK!"

Semua perhatian kelas tertuju kepada Yesung yang kini berdiri dari kursinya dan menunjuk ke arah Siwon yang masih tenang di tempatnya. Heechul menatap aneh namja berkepala besar yang terlihat kesal dan terkejut itu. Jaejoong dan Yunho hanya menggelengkan kepalanya. Hyukjae menghela nafas malas melihat senyum miring Siwon yang kini mulai memasang wajah pura-pura tidak mengerti, sementara Donghae memilih tidak peduli dan terus menyalin jawaban Hyukjae.

"Siapa yang licik, Yesung-ah?" tanya Yoochun yang kini meletakkan kertas yang tadi dibacanya lalu menatap aneh kepada Yesung yang masih terdiam menunjuk Siwon.

"Jangan membuat keributan dan mengganggu Sonsaengnim yang sedang mengoreksi jawaban ulangan milik Hankyung-ssi, Yesung-ssi~" ucap Siwon santai sambil menampilkan smirk terbaiknya, hingga membuat Yesung mendengus kesal dan kembali duduk sambil membungkuk minta maaf kepada Yoochun yang masih menatapnya tak mengerti.

'Brengsek kau, Choi Siwon!'

'Karena kau sudah mengganggu acara ulanganku, aku tidak akan memberimu contekan, Yesung Hyung~' ucap Siwon melanjutkan kegiatan menulisnya saat apa yang dibaca Yoochun di dalam pikirannya, terdengar jelas di pikirannya juga. 'Kuberitahu, ya. Yang sedang dibaca itu milik Hankyung yang tidak mungkin salah~'

'Kau memang licik, Siwon.'

'Seharusnya aku tidak mengumpulkannya dulu, Ck!'

Siwon hanya mengangkat bahunya tak peduli saat kata-kata Yunho dan Hankyung bergantian terdengar dalam kepalanya. Ryeowook di depannya menatapnya sekilas lalu kembali berbalik saat melihat seringai mengerikannya.

"Nona Cho, kau sudah selesai dengan pekerjaanmu? Jika ada kesulitan, kau boleh bertanya kepadaku~"

Kyuhyun yang mendengar ucapan lirih SIwon di belakangnya hany membalas dengan tatapan tidak bersahabatnya lalu kembali melanjutkan kegiatannya menulis jawaban.

"Sial~" umpat Yesung sambil mengacak rambutnya frustasi saat otaknya benar-benar tidak berisi apapun untuk memenuhi kertas jawaban yang masih bersih di depannya.

'C minor, tulis notasinya dalam C minor. Terus hingga bridge, lalu ganti dengan mayor.'

Yesung tersentak saat suara pelan itu terdengar dalam kepalanya. Walau tidak terlihat kalau sedang berbicara, tapi sang pemegang kekuatan Barat itu tahu betul pemilik suara yang memberinya jawaban itu.

'Cepat tulis! Kau mau mendapat nilai nol di tes ini, Yesung-ssi? Aku akan memandumu hingga lirik berakhir.' Ucap Ryeowook dari dalam hatinya saat merasa Yesung masih bergeming di belakangnya, terlihat dari ekor matanya.

'Gomawo, Ryeowook-ssi.'

Dan ucapan lembut Yesung itu sukses membuat Ryeowook menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan semburat merah di sekitar pipinya.

"Wookie, kau sakit? Wajahmu memerah." Ucap Kyuhyun saat merasa ada yang berubah dengan warna muka teman sebangkunya itu.

"Se-sepertinya aku mengala-mi sa-sakit jantung, Kyu~" jawab Ryeowook sambil mendekap dada kirinya sendiri yang berdetak kencang.

"Kau tidak seperti sakit jantung! Aku tahu kau berbohong~"

Ryeowook hanya menanggapi ucapan Kyuhyun dengan senyum kikuk. Sementara itu, Yunho disamping mereka mulai menulis apapun yang ada di otaknya untuk memenuhi kertas jawabannya. Yang penting bisa dapat nilai, begitu pikir namja bersorot musang itu.

Sret

Sebuah kertas mendarat di atas meja Yunho tepat sesaat setelah Jaejoong melewatinya untuk maju menyerahkan jawabannya yang sudah selesai. Dan begitu terkejutnya ia saat begitu membuka lembaran kertas itu yang ternyata berisi salinan jawaban aransemen Fur Elise dengan tulisan tangan Jaejoong.

'Itu sebagai ucapan terima kasih karena menolong Guard kita kemarin.' Ucap Jaejoong saat sudah duduk di kursinya lagi. Kyuhyun dan Rteowook mulai mengumpulkan lembar jawaban mereka juga. 'Tenang saja, tulisannya sudah kubuat tidak sama.'

Yunho hanya terdiam mendengar kalimat abstrak Ordinal-nya, namun pada akhirnya namja tampan itu tersenyum lembut.

"Baiklah! Semua lembar jawaban telah terkumpul. Dan terima kasih kepada Yesung karena telah tenang di menit-menit terakhir." Semua mata teralih kepada Yesung yang terlihat salah tingkah di tempat duduknya. Beberapa terkikik melihatnya, bahkan Yoochun. "Sekarang tunggu disini, dan jangan keluar kelas atau ribut. Aku akan menaruh lembar jawaban ini di kantor."

Sepeninggal Yoochun, suasana menjadi ricuh. Memang anak-anak jaman sekarang, selalu saja bertindak melanggar perintah guru mereka.

"Nona Cho, kau bisa mengerjakan dengan lancar tadi?"

Kyuhyun menghentikan obrolannya dengan Ryeowook saat suara berat itu terdengar dari arah belakangnya. Namja manis itu menghela nafas jengah dan berusaha untuk tidak menggubris namja yang masih menatapnya menjengkelkan itu.

Siwon yang merasa diabaikan hanya merengut dan mulai mencari ide untuk mendapatkan perhatian Ordinal-nya itu.

"Hey, Ryeowook-ah! Sepertinya namja aneh yang disana itu kelihatan ingin sekali bicara padamu. Cepat bicaralah padanya!" ucap Siwon dengan sedikit senyum 'ramah' kepada Ryeowook yangmasih sibuk bicara dengan Kyuhyun. Ryeowook awalnya ingin menolak, namun melihat alarm berbahaya di mata Siwon, namja mungil itu segera menyingkir dari tempat duduknya sambil bergidik ngeri dan mulai berjalan menuju bangku kosong di depan kursi Yesung.

"Wookie~ Kau mau kemana DAN JANGAN TINGGALKAN AKU SENDIRI!"

Kyuhyun hanya bisa berseru saat Ryeowook mulai mengobrol ringan dengan Yesung di bangku deretan belakang. Namja manis itu sengaja berbicara dengan Ryeowook memang untuk menghindari namja menjengkelkan yang saat ini sedang menatapnya sambil bertopang dagu di belakangnya.

Sret

"Eh! Apa yang kau lakukan disini, Wonnie Hyung?! Kembali ke tempatmu sendiri~"

"Mulai sekarang aku akan pindah duduk disini, Kau suka?"

"Mwo?! Tidak, aku tidak sukaaa! Lalu dimana Wookie akan duduk?"

"Itu urusannya, yang penting kita bersama seperti sekarang, Nona Cho."

Kyuhyun hanya menatap Siwon yang saat ini sudah duduk di sampingnya dengan pandangan was-was. Sedangkan Siwon kini mulai menyamankan diri di bangkunya sambil meregangkan otot-ototnya.

"Nona Cho, aku merasa kurang sehat hari ini~" ucap Siwon sambil mendekatkan dirinya ke arah Kyuhyun yang juga reflex memundurkan tubuhnya.

"W-wae?"

"Entahlah. Kurasa aku kurang asupan vitamin harianku."

"Kalau begitu mengapa kau tidak meminum vitaminmu? Mudah 'kan?!" sahut Kyuhyun yang kini mulai berusaha mendorong tubuh Siwon yang semakin mendekat ke arahnya.

"Ah, kau benar. Aku harus minum vitamin harianku secepatnya."

"Ya. Kurasa itu yang terbaik, sebelum kau jatuh saki―"

Sret

Cup

"Astaga~ mereka―"

"Sssst! Jangan ikut campur urusan mereka, Hyukkie. Biarkan saja."

Hyukjae hanya menatap Donghae yang tersenyum maklum ke arahnya. Namun pada akhirnya namja bergummy smile itu mengangguk dan mulai terkikik melihat wajah Kyuhyun yang terlihat memerah dan shock di tempatnya, tepat setelah Siwon mendaratkan ciuman singkat di bibirnya.

"Dasar Siwon! Dia selalu saja menggoda anak itu." ucap Yesung kepada Ryeowook yang duduk di depannya. Mereka berdua sempat tertawa melihat Kyuhyun yang masih terdiam di tempatnya semantara Siwon tersenyum puas di depannya.

Ryeowook mengangguk dengan sedikit terkikik, "Kurasa sebentar lagi Kyuhyun akan―"

"CHOI SIWON PERVERT! APA YANG KAU LAKUKAN BARUSAN, HAH?! DASAR TIDAK TAHU MALU! PABBO! KAU KIRA KAU SIAPA BISA TERUS MENCIUMKU SETIAP HARI, HAH? AKU―Oops!"

Kyuhyun menghentikan ucapannya tiba-tiba lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat merasa suasana di sekelilingnya menjadi hening. Siwon masih tersenyum geli di tempatnya, sementara delapan pasang mata menatapnya terkejut tanpa berkedip.

"Se-setiap hari?" ucap Hyukjae sambil menatap Kyuhyun tidak percaya.

"Kalian berciuman SETIAP HARI?! Astagaaa~" tambah Heechul dengan muka yang tak kalah terkejut.

"Ternyata adik kecil Kyuhyunnie sudah besar, ya? Kekekeke~" kali ini suara Yunho yang terdengar. Namja itu mengedipkan sebelah mata musangnya sambil tersenyum geli melihat wajah Kyuhyun yang semakin memerah. Jaejoong di belakangnya hanya menggelengsambil menghela nafas.

"A-aku―kami―ti-tidak―"

"Ya! Apa itu salah? Semua pasangan juga melakukan itu, bukan? Kalian ini norak sekali, sih? Coba saja dengan pasangan kalian masing-masing~" sahut Siwon santai sambil menatap kedelapan temannya.

"Choi Siwon!"

"HAHAHAHAHA!"

Semuanya kembali tertawa melihat wajah malu dan jengkel Kyuhyun. Siwon juga tertawa geli lalu menarik lengan namja manis itu agar kembali duduk di tempatnya. Apapun yang dilakukan atau diekspresikan Kyuhyun, semuanya terasa lucu dan membahagiakan bagi mereka semua.

Pasangan?

Sebenarnya kata-kata Siwon tadi sempat membuat beberapa siswa disana terhenyak. Bukankah gelar yang sedang mereka sandang sekarang juga merupakan gelar yang diciptakan untuk sebuah pasangan? Lalu…

Semuanya hanya lewat begitu saja di kepala mereka. Biarlah waktu yang mempertemukan mereka nantinya, begitu batin kedelapan namja yang lain.

"Nona Cho~ Jangan cemberut seperti itu, atau aku akan memakanmu sekarang juga."

"MAKAN SAJA SEPATUKU INI, CHOI PABBO!"

Perdebatan menggelikan antara Siwon dan Kyuhyun itu terus berlangsung sebelum pintu kelas istimewa itu terbuka dan masuk Yoochun dan dua orang siswa yang kini berdiri di depan kelas. Semua murid yang tadinya ribut itu kini kembali tenang di tempat mereka masing-masing.

"Nah, anak-anak. Ini adalah dua siswa dari kelas 1-B yang akan bergabung di kelas kita karena mereka tertinggal pelajaran musik sama seperti kalian." Ucap Yoochun sambil menepuk bahu kedua siswa yang tersenyum lebar di samping kanan-kirinya. Yang satu bertubuh tinggi dan yang satu bertubuh lumayan mungil. "Silahkan perkenalkan diri kalian."

"Kau yang perkenalkan diri dulu." Ucap yang bertubuh pendek kepada temannya yang berdiri tak jauh di sampingnya.

Namja yang bertubuh tinggi itu menggeleng, "Tidak, kau duluan."

"Kau duluan!"

"Kau yang duluan, pendek!"

"Jangan mengejekku, tiang jemuran."

"Kau bilang aku apa?! Dasar kerdil!"

"Kau yang terlalu tinggi, Tiang listrik!"

"CUKUP!" Seru Yoochun sambil mengambil tempat diantara kedua siswa yang masih asyik berdebat di depannya. "Mengapa kalian bertengkar disini, hah?! Kau yang perkenalkan dirimu dulu!" lanjut Yoochun sambil menunjuk namja yang berbadan tinggi.

"Sudah kubilang kau duluan, Menara Eiffel~"

"Diam kau, Kurcaci." Desis siswa bertubuh tinggi itu lalu mengalihkan pandangannya ke depan kelas dimana kesepuluh pasang mata menatapnya aneh. "Annyeonghaseyo, Choi Minho imnida. Aku dari kelas 1-B dan akan bergabung bersama kalian hingga konser musim gugur. Mohon bantuannya~"

"Annyeonghaseyo, Lee Taemin imnida. Aku juga berasal dari kelas yang sama dengan si tiang jemuran―maksudku dengan Minho-ssi. Kuharap kita bisa bekerja sama di kelas ini. Kamsahamnida~"

'Siapa mereka, Siwon?'

'Apa mereka Guard yang lain?'

Siwon menatap dua siswa yang masih saling berdebat kecil itu dengan intens. Yunho dan Hankyung juga melakukan hal yang sama sesaat setelah bertanya di dalam kepala mereka kepada Siwon. Siwon mengernyitkan dahinya saat yang tergambar di dalam pikiran kedua namja itu hanya pikiran-pikiran tidak penting.

'Entahlah. Aku belum menemukan hal yang berarti dalam pikiran mereka.'

"Minho dan Taemin akan bergabung dengan kita karena mereka tertinggal pelajaran musik sama seperti kalian. Jadi kuharap kalian bisa bekerja sama dengan baik, ne?"

"Ne, Sonsaengnim."

_Wonkyu_

Suasana koridor lantai 3 Spamcos High School terlihat ramai. Bel pergantian pelajaran baru saja bordering beberapa menit yang lalu. Para siswa yang terlihat bosan dan stress di dalam kelas, kini mulai berhamburan keluar kelas masing-masing untuk melepas penat mereka sembari menunggu guru selanjutnya masuk ke kelas mereka.

"Err… Kyuhyun-ssi, boleh aku meminjam catatan buku musikmu? Aku tertinggal materi cukup jauh sepertinya. Hehehe."

Kyuhyun yang sedang memasukkan bukunya ke dalam ranselnya kini mengalihkan perhatiannya kepada namja tinggi yang berdiri disamping bangkunya dengan senyum kikuk dan malu-malu. Namja manis itu kemudian tersenyum lalu mengambil buku musik yang baru saja akan dimasukkan ke dalam ranselnya.

"Tentu, Minho-ssi. Kau boleh membawa catatanku sampai besok." Ucap Kyuhyun ramah sambil tersenyum, membuat namja tinggi di depannya itu terperangah melihat senyumnya.

"Go-gomawo, Kyuhyun-ssi! Kau baik sekali~"

"Panggil Kyuhyun atau Kyu saja."

"Arra, Kyu. Gomawo. Kau boleh memanggilku Minho atau Mino saja. Tapi jangan panggil aku tiang listrik atau semacamnya seperti si pendek itu memanggilku." Ucap Minho sambil menatap malas ke arah Taemin yang kini sibuk mengobrol dengan Hyukjae dan Donghae masalah Dance.

"Cukup acara pengakraban dirinya! Kau tahu, Nona Cho ini sangat sibuk. Jadi tinggalkan dia sendiri!" sahut sebuah suara di belakang tubuh Kyuhyun yang ternyata adalah Siwon. minho membungkuk sopan kepadanya sementara Kyuhyun hanya memutar bola matanya malas saat Siwon meanrik lengannya untuk mendekat ke arahnya.

"Ah! Mianhae, Siwon Sunbae. Dan Gomawo, Kyu."

"Ya! Jangan memanggilnya sembarangan! Panggil dengan nama normal saja, dasar!" sahut Siwon begitu Minho sudah beranjak pergi dengan takut. Namja tinggi itu sempat terlihat menarik lengan Taemin untuk keluar kelas hingga membuat namja berwajah mirip yeoja itu mengomel dan berdebat kecil lagi dengannya.

"Apa yang kau lakukan, Wonnie Hyung? Kau membuat Minho ketakutan, Pabbo!" ucap Kyuhyun sambil menarik lengannya yang masih berada di dalam cekalan Siwon.

"Kau tidak boleh dekat-dekat dengan namja lain, Nona Cho~ Atau aku akan marah dan menghukummu." Jawab Siwon santai masih mempertahankan genggaman tangannnya di lengan Kyuhyun yang terus berontak.

"Arrasseo! Arrasseo! Sekarang cepat lepaskan aku, aku harus kembali ke kelas!"

"Berikan aku kecupan di pipi lalu aku akan melepasmu, bagaimana?"

"Tidak mau!"

"Kalau begitu tidak akan kulepas hingga pulang sekolah~"

Kyuhyun hanya menatap makhluk tampan namun luar biasa menjengkelkan di sampingnya dengan alis berkedut menahan kesal. Beberapa tawa dan kikikan terdengar di sekelilingnya. Oh, rasanya ia ingin di telan bumi saja saat ini karena sangat malu. Tapi, Kyuhyun tahu bahwa Siwon tidakpernah main-main dengan kata-katanya. Mana mungkin ia membiarkan namja pengganggu ini menempel seharian dengannya. Maka dengan satu helaan nafas panjang, Kyuhyun bergerak menghadap Siwon dan sedikit berjinjit untuk memberikan kecupan singkat di pipi namja itu.

"Awwwww~ So sweet overload~" seru Hyukjae dan Ryeowook bersamaan lalu melesat pergi sebelum menerima death glare gratis dari Kyuhyun. Yunho dan Donghae hanya terkekeh pelan melihat adegan Lovey-dovey itu.

"Sekarang lepaskan! Aku sudah terlambat masuk kelas!"

Siwon mengangkat bahunya lalu mulai berjalan keluar kelas dengan tangan masih mengamit lengan Kyuhyun.

"Wonnie Hyung, kau bilang akan melepaskanku, kan?!"

"Aku berbohong~ Kajja! Kuantar ke kelasmu, Nona Cho."

"Choi Siwon sialan!"

Yunho tersenyum kecil saat suara-suara umpatan Kyuhyun masih terdengar di kelas itu. Sikap Siwon yang sangat protektif pada Kyuhyun membuatnya iri. Seharusnya begitu juga sikapnya kepada Ordinal-nya. Belum selesai lamunan masalah Ordinal, Jaejoong sudah melintas di sampingnya begitu saja, membuat Yunho menarik lengan rapuh itu dan menahannya di samping tubuhnya.

"Ck, lepaskan aku." Ujar Jaejoong singkat tanpa menatapnya sama sekali.

"Apa kau tahu sesuatu tentang dua murid itu? Jika kau tahu, katakanlah kepadaku, Jae." Sahut Yunho sambal melepaskan lengan Jaejoong dari genggamannya. Ordinal-nya itu hanya melengos menatap keluar jendela.

"Aku… tidak tahu apa-apa." Jawab Jaejoong singkat dengan sedikit terbata. Yunho di depannya hanya menghela nafas, ia tahu, Jaejoong berbohong.

Yunho memejamkan matanya sesaat. Ia tahu, tidak ada acara lain, "Katakan padaku semua yang kau ketahui, Jae." Ucapnya bersamaan dengan kilatan putih terang di mata musangnya.

Jaejoong terdiam menatapnya, lalu tersenyum kecil. "Kau tidak bisa menggunakan kekuatanmu sembarangan, Yunho. Tidak selama ada dia."

Yunho menatap doe-eyes Jaejoong dengan tatapan tidak mengerti, sedangkan Jaejoong kini mulai berbalik menuju pintu kelas dimana seseorang sedang berdiri disana dengan senyum miringnya.

"Annyeong, Jaejoong-ah. Annyeong Yunho-ssi."

"Changmin?"

_Wonkyu_

Hankyung memperhatikan punggung kecil namja yang berjalan di depannya. Teman se-angkatannya itu tidak terlihat seperti biasanya. Biasanya, namja berwajah cantik yang masih berjalan di depannya itu akan mengomel dan bertingkah tidak jelas hanya untuk mencari perhatiannya atau hanya sekedar menatapnya. Namun, hari ini Kim Heechul nampak lain.

"Aku sependapat denganmu, Hankyung Sunbae. Dia agak aneh hari ini." ucap sebuah suara di belakang tubuh Hankyung. "Sebaiknya kau bawa dia ke suatu tempat dan bertanyalah padanya. Itu ide yang bagus, kan?"

"Taemin?" ucap Hankyung setelah menolehkan kepalanya ke belakang dan mendapati Hoobaenya itu sedang bersandar di dinding korisor dengan senyumannya yang kekanakan. "Untuk apa aku―"

"Kau belum menemukan Ordinal-mu, kan?"

Deg

Hankyung membeku mendengar kalimat Taemin. Namja berkebangsaan Cina itu menatap iris gelap di depannya sekilas, lalu berbalik dan sedikit berlarimengejar Heechul yang sudah mencapai bibir tangga.

Grep

"Eh, Hankyung-ssi. Ada apa?"

Heechul menghentikan langkahnya tiba-tiba saat lengannya ditarik hingga langkahnya terhenti. Sepasang mata kecil menatapnya serius.

"Kau sakit? Kau lebih pendiam hari ini." ucap Hankyung datar namun kentara sekali ada nada khawatir dalam kalimatnya, membuat semburat merah muda terukir diwajah Heechul.

"A-aku―"

Sret

Tap tap tap

"Ya! Apa yang kau lakukan, kita akan terlambat ke kelas, Hankyung-ssi." Seru Heechul saat tiba-tiba Hankyung menarik tangannya dan membawanya menuruni tangga dengan langkah cepat.

"Kita membolos."

"MWO?!" seru Heechul mendengar kalimat pendek yang tidak ia percaya keluar dari mulut siswa sepintar dan serajin Tan Hankyung.

Tap tap tap

"Kemana kau akan membawaku?"

"Diamlah dan jangan banyak tanya."

Heechul hanya mengangkat bahunya pasrah saat namja cina di depannya itu mulai memandunya menyusuri halaman Spamcos yang luas. Cuaca masih mendung dan berawan tebal. Sang surya masih belum mau menampakkan diri di pagi hari itu, membuat angin dingin lebih mendominasi musim gugur yang masih awal.

Hankyung melepaskan genggaman tangannya tepat saat mereka berdua tiba di taman barat Spamcos. Taman itu luas dan hanya terdiri atas padang rumpur yang ditumbuhi satu puhon maple besar yang daun kecoklatannya mulai berguguran. Bukit-bukit kecil buatan tampak memperindah suasana disana.

"Disini lebih tenang, bukan? Aku biasa membaca dan mengerjakan soal-soal disini saat senggang."

Heechul menatap tak mengerti namja di depannya. Namun namja cantik itu lebih memilih tak peduli dan mulai membaringkan tubuhnya di bawah pohon maple besar.

"Ya~ kau benar. Disini memang indah."sahut Heechul sambil menyamankan posisi berbaringnya lalu mengangkat tangan kanannya untuk kenggapai udara kosong diatasnya dan memperhatikan kelima jari tangannya dengan latar belakang langit abu-abu. "Tapi disini dingin."

Hankyung masih bertahan di posisinya. Berdiri tak jauh dari tempat Heechul berbaring dan memperhatikan namja di depannya dengan diam.

"Akan lebih indah jika ada Matahari disini~" tambah Heechul lagi masih mengangkat tangan kanannya ke udara seakan mengukir langit kelabu diatasnya dengan jemarinya, "Kau suka Matahari, Hankyung-ssi?"

"Hmm. Matahari mengandung vitamin D unt―"

Hankyung menghentikan kalimatnya saat sinar hangat itu terasa di tubuhnya, menggantikan angin dingin musim gugur yang sejak beberapa hari lalu berhembus kencang. Sinar keemasan mulai memenuhi tempatnya berdiri saat ini.

"Aku juga suka matahari. Sinarnya membuat duniaku menjadi lebih hangat." Ucap Heechul dengan mata berbinar saat bola besar kuning itu mulai muncul di langit, tepat diatas tangannya yang masih terulur ke atas. "Dan saat aku memanggilnya, Matahari selalu muncul dan ada untukku. Tapi sayang, akhir-akhir ini dia sering bersembunyi dan―"

Grep

Heechul tersentak saat tangannya yang masih menggapai udara ke atas, kini digenggam erat oleh Hankyung yang sudah berdiri di sampingnya, menutupi bias sinar hangat di atasnya.

"A-apa yang―"

Craassshh

Dan Heechul sukses melebarkan matanya saat rintik-rintik hujan itu menjatuhi wajahnya. Hankyung kini duduk di sampingnya masih menggenggam jemari tangan kanannya. Heechul beranjak dari posisi berbaringnya dan duduk. Menatap Hankyung yang masih menengadahkan kepalanya ke atas menikmati rintik-rintik air hujan yang baru saja dibuatnya. Mata sipitnya berkilat ternag sekilas.

"Hei, ayo masuk! Disini mulai gerimis!" seru Heechul sambil mencoba menarik tangannya dari genggaman Hankyung, namun namja di sampingnya itu tetapbertahan.

"Aku suka Matahari saat ada hujan." ucap hankyung sambil membuat gerakan dengan tangannya yang lain, membuat rintik-rintik hujan itu berbalik menjauh saat akan mengenai tubuhnya dan heechul yang masih menatapnya tak mengerti.

"Me-mengapa air hujannya ti-tidak mem-basahi―"

"Itu karena aku yang mengendalikannya." Sahut Hankyung sambil membuat satu gerakan lagi dengan tangannya yang masih bertautan dengan tangan Heechul. Gerakan parabola melengkung yang menghasilkan sesuatu yang indah dan berwarna-warni.

"Pelangi~ Lihat itu! Kau juga bisa membuat pelangi, Hankyung-ssi! Apa kau alien? Atau penyihir? Wah kereeen! Aku suka pelangi!"

Hankyung tersenyum simpul sambil menatap wajah Heechul yang terlihat bahagia melihat benda yang telah ia buat dengan perpaduan air dan sinar matahari itu.

"Tidak, Heechul-ssi. Aku hanyalah Cardinal-mu."

_Wonkyu_

"Eh, hujan?"

Donghae menatap keluar jendela besar yang ada disampingnya. Rintik-rintik hujan membasahi kaca bening disampingnya. Beberapa siswa di kelas 2-D itu juga sedikit terheran melihat hujan yang tiba-tiba turun.

Dan gumaman heran di kelas itu semakin bertambah saat sebuah pelangi muncul di cakrawala berlatar belakang rintik-rintik hujan.

'Apa ini kebetulan?' tanya Donghae kepada tiga temannya yang lain.

Yunho hanya menggeleng sambil masih menatap rintik hujan di luar jendela di sampingnya. Jaejoong tetap diam seperti biasa. Sedangkan Siwon hanya menatap telapak tangannya sendiri dengan sorot yang tidak bisa diartikan.

'Sesuatu membuatku merasa kuat. Energy ini begitu besar.'

Yunho, Donghae dan Jaejoong sontak menatap Siwon yang masih sibuk melihat telapak tangannya sendiri. Kilatan putih terang tergambar jelas di iris kelamnya. Sebenarnya mereka berempat merasakan hal yang sama. Sesuatu yang abstrak merasuk ke dalam diri mereka dan membuat mereka seakan telah tidur selama beberapa hari dan bagun dalam keadaan segar bugar.

'Energi apa ini?' tanya Yunho yang lebih tepatnya ditujukan kepada Jaejoong yang masih menatap pelangi di luar jendela.

'I-ini―'

Ceklek

"Permisi, panggilan kepada Choi Siwon, Jung Yunho, Lee Donghae dan Kim Jaejoong untuk segera menuju ruang BK sekarang."

Seorang siswa masuk dan berdiri di depan pintu kelas sambil membawa catatan kecildi tangannya. Keempat namja itu bangkit dan mulai berjalan menuju ruang BK di lantai dasar. Siwon masih terheran-heran dengan energy besar yang seakan baru saja disuntikkan ke dalam tubuhnya, sementara Yunho, Donghae, dan Jaejoong hanya berjalan dengan diam. Hyukjae, Yesung dan Ryeowook terlihat menyusul di pertengahan koridor menuju ruang BK.

"Dimana Hankyung? Kupikir panggilan ini pasti masalah data mutasi pindah atau semacamnya." Tanya Yesung yang hanya dibalas gelengan yang lain.

"Ryeowook-ah, dimana Kyuhyun? Dia tidak dipanggil juga?"

Ryeowook menanggapi pertanyaan Yunho dengan anggukan oleh Ryeowook, "Dia menitipkan semuanya kepadaku, karena dia harus mewakili kelompok kami di praktikum Biologi."

Siwon seketika berekasi saat nama Kyuhyun disebut. Namun setelah mendengar penjelasan Ryeowook, ia hanya menghela nafas pelan. Padahal ia sudah sangat merindukan namja manis itu, namun sepertinya ia akan menemuinya saat istirahat makan siang nanti, begitu batinnya.

Tap

Siwon menghentikan langkahnya tepat di depan pintu besar berwarna coklat bertuliskan "BK" di depannya. Semua yang ada dibelakangnya hanya terdiam dan menatapnya tak mengerti. Namun pada akhirnya, namja tampan itu mengetuk lalu membuka pintu besar itu lebar-lebar.

"Selamat datang~"

Dan semuanya sukses membelalakkan matanya saat melihat siapa yang telah menyambut mereka.

_Wonkyu_

Srak

Srak

Park Yoochun membolak-balik kertas di hadapannya dengan teliti. Guru muda itu sedikit mengernyit melihat salah satu kertas yang menarik perhatiannya dari sekian banyak lembar jawaban aransemen melodi Fur Elise yang ia suruh.

Yoochun kemudian mengambil secarik kertas yang sama dari dalam lacinya dan menempatkannya di samping kertas yang telah ia pilah tadi, lalu membandingkannya.

"Sama saja." Ucapnya sambil melepas kacamata bacanya lalu meletakkannya di atas meja. "Mengapa kau menulis hal yang sama?"

Guru muda itu kembali meneliti kedua kertas jawaban di depannya. Sebenarnya bukan dengan iseng ia melakukan tes untuk kelas paginya tadi pagi. Setelah menerima tugas berupa aransemen Fur Elise kemarin, ia begitu terkejut saat tahu salah satu tugas muridnya itu berbeda dari yang lain. Ia bukan merupakan tipe guru yang kejam, yang dengan mudah memberi nilai nol untuk tugas yang tidak sesuai dengan keinginannya, maka dari itu, untuk memastikan kesalahan salah satu muridnya itu, ia melakukan tes tadi pagi.

Kembali diambilnya kertas jawaban di depannya. Tulisan not balok yang rapi terlihat jelas di atas kertas itu. Partitur yang pendek namun berbeda dari yang lain.

Jika yang lain menulis partitur Fur Elise di kertas mereka, kertas yang ini tidak. Bukan Fur Elise.

"Symphony of Destruction. Kau menulisnya lagi di lembar jawabanmu, Cho Kyuhyun." Ucapnya sambil beranjak dari kursinya dan memutuskan keluar menuju tempat yang sejak tadi tergambar di pikirannya. Kelas 1-D.

"Siapa yang begitu ingin kau hancurkan?"

_Wonkyu_

"Apa-apa'an ini? Dimana guru BK yang memanggil kami?" ucap Siwon sambil menatap ketiga namja yang tidak asing di depannya.

Kibum, Changmin, dan Henry tersenyum sekilas melihat ekspresi bertanya para namja di depannya. Henry turun dari atas meja yang biasanya digunakan guru BK, sementara Kibum duduk di kursi besar di belakang meja itu dan Changmin berdiri disampingnya.

"Guru BK itu dengan senang hati meminjamkan ruangan ini untuk pertemuan kita, Sunbaenim." Sahut Henry dengan senyum menjengkelkannya.

"Siapa mereka?"

"Bukankah mereka siswa-siswa yang bersama kalian di atap tempo hari?"

Pertanyaan Ryeowook dan Hyukjae membuat ketiga namja yang menjuluki diri mereka 'Guard' itu tertawa lebar. Kibum segera berdiri di samping Henry lalu bergerak menuju Hyukjae dan membawa namja itu ke dalam rangkulannya.

"Hyukjae-ssi, tunjukkan padaku cara menghentikan waktu. Agar aku tidak perlu terlambat ke sekolah lagi." Ucap Kibum yang sukses membuat Hyukjae membeku di tempatnya.

"K-kau―"

"Aku adalah Guardmu dan Donghae-ssi."

Deg

Donghae sontak maju ke depan lalu menatap Kibum tak percaya. Sedangkan Kibum hanya tersenyum penuh arti sambil melepas rangkulannya di bahu Hyukjae.

"Kalian adalah pasangan Cardinal-Ordinal yang lain." Ucap Kibum sambil tersenyum.

"Begitu juga Yesung-ssi dan Ryeowook-ssi~ Chukkae~" sahut Henry sambil bertepuk tangan heboh.

Yesung dan Ryeowook hanya saling menatap tidak percaya. Sama halnya dengan Donghae dan Hyukjae. Kempat namja itu masih terlalu terkejut. Namun, mereka akhirnya bisa tersenyum dengan pasangan masing-masing, karena jauh sebelum para Guard mengatakannya, mereka sudah bisa merasakannya.

"Dan ucapkan selamat kepada sang Selatan dan Ordinalnya!" seru sebuah suara yang lagi-lagi taka sing di telinga mereka. Dan benar saja, Hankyung bergerak dari sudut ruangan bersama Heechul di sampingnya. Taemin berdiri di depan mereka berdua.

"Wah wah. Ternyata nenek sihir ini Ordinal-mu, Hankyung Hyung?" ejek Siwon sambil tertawa geli melihat ekspresi jengkel Heechul di depannya. Beberapa tawa terdengar lagi kemudian. "Dan kau adalah Guard mereka berdua?"

Taemin mengangguk kemudian sambil tersenyum.

"Ternyata benar, hujan dan pelangi itu pasti ulah kalian berdua. Dasar!" sambung Yunho dengan seringaiannya.

"Berhenti basa-basi dan katakan apa mau kalian!" ucap Siwon sambil melonggarkan ikatan dasinya yang sudah awut-awutan.

"Kami ingin menunjukkan sesuatu yang baru kepada kalian, Axis."

"KAU!"

"Ya. Perkenalkan, aku adalah Guard untuk Poros. Choi Minho imnida~"

Semua yang ada disana sukses melebarkan matanya, termasuk Siwon.

"Mengapa para Guard harus anak ingusan seperti kalian?" tanya Yesung sambil menatap jengkel kepada Henry yang terus tersenyum tidak jelas kepadanya.

"Kalian mau kami berpenampilan seperti kakek-kakek? Bisa saja." Sahut Changmin sambil tersenyum miring menatap Jaejoong yang sejak tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun. "Tapi kami sedang menikmati wujud kami sebagai anak muda."

"Sudahlah! Kalau kalian hanya ingin membahas ini, lebih baik aku kembali ke kelas." Ucap Hankyung sambil berjalan menuju pintu keluar, namun langkahnya dihentikan oleh Yunho.

"Oke. Ayo para Guard letakkan mereka di posisinya masing-masing."

Kibum, Henry, Changmin, dan Taemin mengangguk mendengar perintah Minho. Dan dalam beberapa detik, kesembilan Axis itu sudah berdiri membentuk lingkaran dengan letak sesuai arah mata angin utama bagi Cardinal dan arah mata angin pendukung untuk Ordinal.

"Siwon Sunbae, kau berdiri di tengah-tengah." Lanjut Minho sambil menunjuk tempat kosong di tengah lingkaran mata angin.

"Kalian memerintah kami seperti anak kecil. Jika saja kalian bukan Guard atau semacamnya, aku tidak segan-segan menghabisimu." Ucap Siwon sambil berjalan menuju tengah lingkaran. Minho hanya tersenyum lucu mendengar gerutuan Siwon.

Semuanya sudah berdiri di posisi masing-masing, namun tidak ada yang terjadi.

"Kalian mempermainkan kami?" seru Donghae sambil keluar dari posisinya. "Tidak ada yang akan terjadi jika Kyuhyun tidak ada!"

Kelima Guard itu tersenyum penuh arti.

"Tidak pernah ada tempat untuk Kyuhyun disini. Formasi ini disebut Solarium, namun Solarium sudah rusak dari dulu. Maka dari itu tidak pernah ada Poros Ordinal dalam system mata angin."

"Omong kosong!"seru Siwon sambil beranjak dari tempatnya lalu berjalan dan menghampiri Minho yang masih berdiri di tempatnya. "Kau pasti berbohong! Mengapa kalian tidak menganggapnya sebagai Poros Ordinal? Padahal aku bisa merasakannya tanda-tanda yang sama seperti Cardinal yang lain!"

"Ketahuilah satu hal, Axis. Dialah yang merusak Solarium! Cho Kyuhyun yang kalian kenal itu, dialah yang menghancurkan ikatan Solarium."

Deg

"Akan sangat berbahaya jika kalian menunjukkan kekuatan kalian dihadapannya. Karena sesuatu di dalam tubuhnya sangatlah berbahaya."

Semuanya terdiam mendengar kata-kata Minho. Suasana di dalam ruang BK itukini sedingin es.

"Sesuatu apa yang ada di dalam tubuhnya?" desis Siwon sambil mgusap wajahnya kasar saat membayangkan wajah manis dan polos Kyuhyun yang ternyata memnyimpan sesuatu mengerikan.

"Kalian harus mencari tahu sendiri. Dan mungkin salah satu dari kalian sudah mengetahuinya." Lanjut Kibum sambil menatap penuh arti kepada Jaejoong yang mulai genetar di tempatnya. "Salahsatu dari ka―"

"DIAAAM!" semuanya sontak mengalihkan perhatiannya ke arah Jaejoong yang tiba-tiba menunduk sambil memegangi kepalanya erat-erat. Yunho disampingnya segera menangkap Ordinalnya yang hampir limbung itu. rasa sakit memenuhi kepalanya juga. "Kalian tidak tahu apapun tentangnya. Kalian tidak mengalaminya. Kalian tidak ada disana!"

Siwon mengeram frustasi saat tidak menemukan apapun di pikiran Jaejoong maupun semua orang yang ada di ruangan itu. Semuanya kosong.

"Tapi kami akan memberi satu lagi informasi." Sahut Minho lagi, dan sukses membuat jaejoong menggeelengkan kepalanya keras. "Jauhkan segala sesuatu yang berhubungan dengan darah dan kegelapan dari Kyuhyun, bagaimanapun itu. Jika tidak, akan terjadi hal yang mengerikan padanya."

"Darah?" ucap Siwon sambil menatap Minho tidak mengerti.

"Kegelapan?" sambung Yunho yang masih menopang tubuh Jaejoong di depannya.

Tap

Tap

"Tidak." Semua perhatian kini teralih kepada Ryeowook yang berjalan mundur perlahan sambil menatap takut semua orang di depannya.

"Ryeowook-ah, ada apa?" tanya Yesung sambil menghampiri Ordinal-nya yang terlihat gemetar itu.

"Ka-kami sedang praktikum t-tentang go-golongan d-darah saat ini."

"APA?!"

_Wonkyu_

Suasana laboratorium Biologi Sapmcos terlihat sibuk saat itu. Dua puluh siswa yang kini sudah mengenakan jas laboratorium putih itu kini sedang mendengarkan petunjuk sang guru dengan seksama. Beberapa peralatan seperti botol-botol kecil dan pinset-pinset serta jarum-jarum sudah siap di hadapan mereka masing-masing.

"Setelah meneteskan satu tetes darah, segera tetesi dengan cairan yang ada di dalam kedua botol kecil ini dan perhatikan perubahannya. Setelah itu catat pengamatan kalian di jurnal kalian masing-masing. Mengerti?"

"Mengerti, Sonsaengnim."

Guru yang sudah terlihat tua itu tersenyum sekilas melihat siswa-siswanya yang menjawab dengan semangat. "Sekarang laksanakan dan berhati-hatilah saat mengambil darah partner kerja kalian."

"Kemarikan tanganmu, Doojoon-ah. Aku berjanji akan melakukannya dengan hati-hati." Ucap Kyuhyun sambil meraih telapak tangan siswa yang menjadi partner-nya. Doojoon tampak sedikit was-was saat Kyuhyun sudah bersiap dengan jarum steril kecil di tangannya.

"Lakukan dengan perlahan, Kyu. Aku sedikit takut dengan jarum seperti itu."

"Hahaha. Tenang saja. Kau tidak akan merasakan apapun saat aku menusuknya."

Tes

Satu tetes darah berhasil menetes keluar dari ujung jari Doojoon, sementara namja itu memekjamkan matanya menahan sensasi perih di ujung jarinya.

"Satu tetes saja, lalu letakkan di atas kaca arlogi. Jangan mengambil darah terlalu banyak."

Doojoon membuka matanya saat kalimat sang guru berakhir dan merasa Kyuhyun belum melakukan apapun ada darah yang mulai menetes agak banyak dari ujung jarinya.

"Kyu? Mengapa kau gemetar dan kau terlihat pucat?" tanya Doojoon masih memperhatikan raut muka Kyuhyun yang memucat dan tubuhnya mulai gemetar.

"Da-darah~ Hahaha… darah yang indah~" suara lirih namun bergetar itu masih terdengar di telinga Doojoon. Kyuhyun kini mulai menekan jarinya yang berdarah hingga membuat darah yang keluar semakin banyak.

"Kyu! Kau mengeluarkan darahku terlalu banyak!"

Kyuhyun menatap Doojoon yang mulai gelisah di depannya. Dan kilatan putih tergambar jelas di iris coklat karamelnya yang mulai berubah warna menjadi semerah darah di depannya.

"Mainan kesukaanku~"

.

Ikatan itu telah lengkap

Namun sesuatu yang indah yang seharusnya tercipta, tidak bisa dikembalikan

Solarium itu telah rusak

Mereka yang tahu sebabnya lebih memilih diam

Mereka yang tidak tahu lebih memilih melupakan

Saat tiba rahasia masa lalu itu terungkap

Saat itulah hal yang mereka nantikan akan muncul

Solarium dan simfoni kehancuran

Ada di depan mata mereka

.

.

.

Annyeong, my dear Readers

Sorry for very late update. There's a problem with my health, but it's okay ^^

.

Solarium? Apa itu? Akankah semuanya bisa menyelamatkan Kyuhyun?

Sabar, semua misteri akan dijawab satu-satu. Jadi ikuti saja alur ceritanya dan pasti ada jawaban yang tidak terduga disana.

HanChul done. Other Pair coming soon.

.

Wait next Chapter ;)

.

Ask me more on ask . fm by username: BabyWonKyu1013

We'll share together there ^^

Saya sudah berusaha update kilat, tapi FF ini jujur lebih membutuhkan pemerasan otak yang lebih. Hehehe

Tunggu FF saya yang lain, my dear readers #kiss

Setiap review readers adalah sumber perbaikan bagi saya. Jadi jangan sungkan bila ada yang tidak berkenan. XOXO for you all ^3^

Fic ini murni BOYSLOVE/YAOI bukan GENDERSWITCH, dan main pair disini adalah WONKYU ^^

FEEL FREE TO REVIEW ^^

Wonkyu is Love,

BabyWonKyu