.

.

"Kau marah kepadaku sejak kemarin, ada apa?" tanya Petra kepadaku. aku tidak mengerti mengapa ia tiba-tiba datang kepadaku? Darimana ia datang-pun aku tidak tahu pula. Aku melirik ke kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa di ruangan kelas, hanya ada aku dan Petra. Aku meliriknya dari atas kepala hingga ke ujung kaki, kakinya masih utuh, dan terlihat menapak pada lantai, dia bukan hantu!

.

.

"Tidak, hanya saja aku tahu alasannya mengapa Pak Guru Erwin sampai menolakku dulu!" ujarku sinis,

.

.

"Oh ya... ceritakan?" Petra sangat antusias sampai-sampai matanya, yang memang bulat, membulat lebar.

.

.

"Dia mencintaimu bukan?" tanyaku dingin,

.

.

"Eh... kau bercanda!" seru Petra dengan pipi yang memerah.

.

.

"Ya... aku baru sadar itu semua setelah melihat foto hasil karyamu ada ditangannya,"

.

.

"Foto...?" Petra berusaha mengingat, "Kau tahu aku menghasilkan banyak sekali karya, bantu aku untuk mengingatnya!"

.

.

"Fotomu yang jadi juara pertama dalam Pameran Fotografi di Universitas Kota Stohess, kau ingat?"

.

.

"Ahh... foto yang kuambil diam-diam ketika kau membantu korban bencana alam bukan?" ujar Petra sambil menjentikkan jarinya, "Kurasa dia memang mengagumi karyaku itu!" lanjutnya bangga,

.

.

"Kurasa dia memang mengagumi-mu!" sindirku, "Kau lebih cantik dan feminim dari ku!"

.

.

"Ah... kau cemburu ya..." ledek Petra,

.

.

"Aku memang cemburu Pet! Kau tahu Pak Guru Erwin itu cinta pertamaku!" aku meneriakkinya kesal,

.

.

"Begini saja deh... kau kenal Pak Guru Mike, guru Fisika yang suka mengendus-endus itu?" tanyanya padaku, aku mengangguk sebagai jawabannya, "Aku memang pernah bertemu dengan keduanya, Pak Guru Mike dan Pak Guru Erwin di Universitas Kota Stohess!"

.

.

"Tuh kan... kau ini..." belum sempat aku memaki Petra, ia keburu meletakkan jarinya di mulutku,

.

.

"Mereka berdua mengagumi hasil karyaku, terutama Pak Guru Erwin," sambungnya,

.

.

"Bahkan Pak Guru Mike bersumpah kalau Pak Guru Erwin jatuh cinta pada model karyaku itu!" ujarnya kemudian yang mengagetkan diriku, benarkah itu?

.

"Awalnya memang aku tidak tahu sih... Pak Guru Mike memberitahukannya padaku waktu kita kelas satu dulu..."

.

.

"Jadi... itu..." aku sungguh tidak percaya!

.

.

"Dan aku meminta maaf padamu Levi, sebetulnya ada alasan mengapa aku memaksamu untuk menembak Pak Guru Erwin, itu hanya akal-akalan aku dengan Pak Guru Mike, agar kalian saling bertemu," Petra mengaku padaku, "Pak Guru Mike sendiri yang kasihan melihat sahabatnya hanya bisa mengagumi-mu dari gambarku saja. Kami pikir apa salahnya membuat kalian saling jatuh cinta?" jelasnya lagi padaku.

.

.

"Dan... a... aku..."

.

.

"Ya, kau adalah satu-satunya orang yang paling dicintai Pak Guru Erwin!" ujar Petra sambil menepuk bahuku lembut. Senyuman lembutnya menuntun angin yang datang tiba-tiba ke dalam ruang kelas. Seketika semuanya menjadi serba putih, bangku, meja, papan tulis, meja guru, dan sebagainya menghilang tanpa jejak. Petra yang tadinya mengenakan seragam sekolah, kini mengengakan gaun serba putih. Aku tidak bisa memastikan apakah kakinya masih menapak di lantai atau tidak, karena aku sendiri melayang di ruang serba putih ini.

.

"Sebagai permohonan maafku, aku selipkan sesuatu di buku harian yang ku beri padamu Levi, kau pasti suka itu!" ujarnya sebelum ia menghilang bagai asap! Tunggu Petra... Petra... tunggu dulu jangan pergi!


.

"Petra!" teriakku tiba-tiba.

.

.

.

Sesaat kemudian aku baru menyadari kehardiran Hanji di dekatku. Aku berada di ruangan yang serba putih kini. Ya... gordennya putih, meja dan kursinya putih, sprei-nya pun putih. Ternyata aku berada di ruang kesehatan.

.

.

"Kau jangan mengagetkan kami Levi!" keluhnya padaku. "Sudah cukup hanya Pak Guru Erwin yang pingsan kemarin, kau tidak usah ikut-ikutan seperti itu! Aku tidak peduli seberapa besar rasa sukamu pada guru blonde itu!" Hanji memarahiku. Sungguh aku sendiri tidak mengerti, kenapa bisa aku ada di ruang kesehatan?

.

.

"Kau sudah sadar nona Ackerman?" tanya perawat sekolah, "Kau pingsan di kelas dua jam yang lalu!" jelasnya padaku.

.

.

"Tidak usah khawatir nona Ackerman, kau hanya terkena anemia ringan, pasti semalaman kau tidak tidur ya!" Perawat sekolah itu menerka apa yang terjadi sebelumnya. Dia memang

.

.

benar! Aku tidak tidur semalaman karena terus memikirkan keadaan Pak Guru Erwin.

.

.

"Bagaimana bisa kau tidak tidur?" tanya Hanji kesal,

.

.

"Wow... sabar nona Zoe, dia baru sadar! Sebaiknya kau beristirahat dulu nona Ackerman," saran Perawat sekolah yang baik itu padaku. Kemudian ia pamit meninggalkan kami berdua di ruang kesehatan.

.

.

"Lev, dengarkan aku... kami semua khawatir akan kejadian kemarin, tapi kalau kau ikut-ikutan tidak sehat, kami akan lebih khawatir lagi!" ujar Hanji, ia memelankan suaranya. Aku tidak begitu menghiraukannya, aku sibuk dengan pikiranku tentang Pak Guru Erwin kini.

.

.

"Kalau kau butuh waktu untuk memikirkan Pak Guru Erwin, aku akan kembali ke kelas sekarang juga!" lanjut Hanji sambil berdiri dan berlalu.

.

.

Dan sekarang hanya ada aku di ruangan serba putih ini. Dia, mungkin sama sepertiku sekarang, terbaring di ruangan yang serba putih. Apakah dia baik-baik saja? Aku agak sangsi jadinya! Dan mimpi itu... apakah itu benar?

.

.


.

Sesuai janjiku, aku datang untuk menjenguk Pak Guru Erwin. Aku menjenguknya dengan membawa sedikit makanan, dan juga seikat bunga penyemangat. Terdengar romantis memang, sebelum kau tahu aku datang ke rumah sakit dengan ditemani teman-teman kelas Scouting 3 dan juga Pak Guru Mike, sebagai wakil walikelas kami. Kami datang membawa piala serta piagam yang kami raih kemarin.

Pak Guru Erwin sudah sadar ternyata! Tapi tetap saja ia masih terlihat pucat. Sambil duduk di tepat tidurnya, ia menyambut kami dengan hangat.

.

.

"Lihat, piala ini pak! Kita berhasil mendapatkannya!" ujar Reiner bersemangat,

.

.

"Aku tidak menyangka kita bisa menang! Untung saja di pertandingan terakhir Bapak menggendong Chantal!" celetuk si jenius.

.

.

"Kami khawatir anda pingsan karena terlalu berat menggendong Chantal" Aluo meledekku. Sontak kami semua tertawa, terutama Pak Guru Mike, dia tertawa sambil berjalan mendekati Pak Guru Erwin dan duduk di tempat tidurnya.

.

.

"Bapak bangga dengan kalian, kalian hebat!" serunya sambil tersenyum. Kami yang mendengarnya otomatis merasa bangga juga.

.

.

Mendadak suasana menjadi hening, Pak Guru Erwin kembali angkat suara,

.

"Sebetulnya ada yang harus bapak sampaikan kepada kalian," ujarnya serius. Suaranya masih lemah, memaksa kami untuk diam dan sejenak mendengarkan kata-katanya dengan serius,

.

"Bapak akan keluar dari St Sina Academy," ujarnya mengagetkan kami!

.

.

Ini becanda bukan?

.

"Dan mulai bulan Januari, Pak Guru Mike akan resmi menjadi wali kelas kalian yang baru," umumnya kepada kami.

.

Suasana kembali hening, tidak ada satupun dari kami yang berani saling memandang, apalagi berkomentar. Kami kembali larut dalam kesedihan, terutama aku, aku sangat tidak terima ini terjadi!

.

.

"Emhh... tentu ada alasan mengapa anda memutuskan hal itu bukan?" Hanji penasaran,

.

.

Pak Guru Erwin hanya mengangguk, kemudian ia menatap kami semua. Dan aku... aku tepat berada selurusan dengannya!

.

"Ada satu hal yang bapak sembunyikan dari kalian, ini mengenai penyebab bapak pingsan kemarin," ujarnya.

.

.

Tidak... ku mohon jangan lanjutkan! Aku bisa menerima perasaanmu yang mencintai Petra itu, tapi aku tidak sanggup mendengar tentang kondisimu yang sebenarnya.

Aku sudah curiga sebelumnya, mengapa kau sakit perut tiba-tiba itu. Mengapa kau terlihat pucat akhir-akhir ini. Mengapa berat badanmu menurun, dan mengapa ayahku yang harus menanganimu. Sejak semalaman aku sudah berdo'a mudah-mudahan dugaanku ini salah. Kalau hanya sembelit biasa, tidak mungkin sampai ditangani oleh seorang ahli seperti ayahku bukan?

.

.

"Sebetulnya bapak, menderita suatu penyakit dan bapak tidak tahu sampai kapan akan bertahan seperti ini," ujarnya sedih, namun ia tetap berusaha tersenyum.

.

.

"Apa... penyakit bapak bisa disembuhkan?" Armin kembali bersuara.

.

.

"Tentu saja sembuh!" ujarku dengan suara tinggi, "Kalau yang menanganinya ayahku tentu saja akan kembali sehat seperti semula!" ujarku dengan air mata yang hampir tumpah.

.

Sontak semua orang yang ada di ruangan tertuju padaku, terutama Armin dan tentunya Pak Guru Erwin.

.

."Ayah berjanji padaku akan menyembuhkanmu Pak Guru Erwin!" ujarku lantang, "Dan kau akan kembali mengajar, kau akan kembali menjadi walikelas kami. Kau... kau akan kembali menjadi..." ucapanku mendadak terhenti. Dan aku mulai menangis. Secepat kilat aku keluar dari ruangan itu, sambil berusaha menyembunyikan wajahku. Entah kemana kakiku ini menuntunku, yang jelas aku ingin menjauh dari semua, dari Pak Guru Mike, dari kelas Scouting 3, dan dari Pak Guru Erwin sendiri!


.

Langkahku terhenti di sebuah area yang mulai gelap karena matahari yang semakin merendah. Tepat di depan sebuah batu, batu nisan milikmu sahabatku!

.

.

"Petra, aku kembali," ujarku lirih,

.

"Maafkan aku tentang peristiwa kemarin, aku terlalu cemburu padamu! Maafkan aku..." aku berlutut di depan nisanmu Petra!

.

"Aku rela kalau benar Pak Guru Erwin ternyata mencintaimu, tapi bolehkah aku bertanya satu hal padamu?" aku memohon padamu Petra! Airmataku sudah tidak bisa dibendung lagi. Aku menumpahkan semuanya, semuanya ke atas pusaramu. Tidak peduli baju seragamku yang sudah mulai kotor karena tanah. Dengan lembut aku meraih nisanmu dan memeluknya.

.

"Dari awal Pak Guru Erwin pingsan kemarin aku sudah curiga, mengapa ia langsung ditangani oleh ayahku. Kenapa ia tidak ditangani dokter lain, ini pasti penyakit serius Pet... jadi ku mohon..." ujarku sambil menatap nisannmu, seolah aku menatap langsung dirimu sahabatku.

.

"Beritahu aku di mana letak surga! Aku ingin bertemu Tuhan... aku ingin memohon pada-Nya, agar Ia mau mengembalikan kesehatan Pak Guru Erwin, agar Ia mau menyelamatkan nyawa Pak Guru Erwin, agar Ia mau mengembalikan Pak Guru Erwin ke sekolah, Agar Pak Guru Erwin tahu... aku akan selalu mencintainya, meskipun hatinya hanya untukmu Petra!" ujarku sambil terisak...

.

"Ku mohon Petra..." ujarku lirih.

.

.

Kenapa aku sampai lupa! Aku meninggalkan buku Diary pemberian darimu di sini. Tanganku mulai mencari-cari, meraba-raba, dan memasuki setiap sudut yang bisa ku jangkau. Tapi tetap saja, buku itu tidak ada di manapun! Petra... maafkan kebodohanku ini!

.

.

~Dan teriakkanku... lebih memilukan dari lolongan serigala di malam hari.~