Warning: Genderswitch for K-Pop UKES. Universal. Unofficial Pairings before Official Pairings appearance.

Characters: Mainly EXO and other K-Pop Groups.

Main Pairing: HunHan


Chapter 10: Work It

Bagi orang-orang awam yang bisa dibilang hanyalah penikmat dari hasil industri fashion, menjadi model adalah hal yang mudah. Hanya bermodalkan wajah cantik atau terkadang aneh, tubuh tinggi nan langsing atau bahkan berisi. Sebenarnya semua orang bisa menjadi model dengan mudah, asalkan cantik dan photogenic saja. Bahkan di era ini, industri fashion menerima banyak model bertubuh mungil. Hanya tinggal memakaikan model itu high heels 15 senti saja, dan semuanya akan jadi sempurna. Para model hanya akan tidur di apartemen atau rumah mereka yang nyaman saat tidak ada pekerjaan, namun uang akan tetap mengalir karena iklan-iklan yang mereka kerjakan laku terjual di pasaran. Menjadi model itu gampang, santai, dan menyenangkan.

Sekali lagi, itu pandangan para orang-orang awam yang tidak tahu menahu mengenai industri fashion lebih dalam.

Tapi orang-orang yang bekerja di industri fashion lebih tahu banyak daripada mereka. Tentu saja, karena industri itu adalah dunia mereka yang pastinya sulit ditinggalkan. Sekali kau masuk ke dalam industri fashion, kau tidak akan bisa keluar dengan mudah. Dan percayalah, bekerja di sana tidaklah se-mudah, se-menyenangkan, dan se-santai yang orang-orang kira.

"Jadi, ini adalah Jung Taekwoon." Chanyeol memperkenalkan Luhan pada lelaki berwajah datar - yang hampir menyaingi Sehun - yang duduk di depannya. "Dan Taekwoon-ssi, ini adalah Xi Luhan."

Jung Taekwoon hanya menganggukkan kepalanya, namun ekspresi wajahnya tetap datar, dan Oh Sehun tidak suka bagaimana lelaki itu tidak memperlakukan gadis secantik dan semanis kekasihnya dengan sopan dan benar.

"Annyeong, Taekwoon-ssi. Aku telah mendengar banyak hal tentangmu, dan aku sangat senang bisa bekerja sama denganmu." Luhan tersenyum manis sambil mengulurkan tangan mungilnya ke hadapan Taekwoon. "Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik."

Lelaki ber-mata sipit itu memperhatikan tangan Luhan yang terulur tepat di depannya tanpa ada niatan untuk menjabatnya samasekali. Dia menolehkan kepalanya ke arah Jaehwan, lalu ke arah Luhan dan menatap wajah gadis China itu lekat-lekat sebelum menganggukkan kepalanya lagi.

"Ya. Semoga." kemudian dia membungkukkan kepalanya sedikit dan kembali duduk di sofa yang tadi telah ia duduki sebelum Luhan dan Sehun datang.

Oh Sehun sangat tidak menyukai lelaki itu.

"Paling tidak tunjukkan sedikit sopan santun pada kekasihku yang notabene sudah lebih lama dan berpengalaman menjadi model daripada dirimu." akhirnya lelaki muda itu tidak bisa menahan emosinya dan mengatakan kalimat itu dengan nada dingin.

Tatapannya tajam dan menusuk. Bila saja tatapan bisa membunuh, mungkin Taekwoon sudah mati secara mengenaskan akibat tatapan tajam Sehun.

"Hey, tidak apa-apa, Sehun-ah." Luhan menenangkan kekasihnya itu dengan cara mengelus lembut dadanya dan mengajaknya untuk duduk di sofa yang terletak tepat di hadapan sofa yang kini tengah diduduki oleh Taekwoon dan Jaehwan.

Chanyeol menatapi Taekwoon dengan tatapan kaku, bingung apa yang harus ia lakukan dengan lelaki ini apabila lelaki ini terus bersikap seperti ini. Padahal kolaborasi mereka harus berjalan mulus demi nama baik kedua model ini dan dua agensi yang menaungi masing-masing dari mereka. Namun, kemudian mata besarnya menatap sosok Jaehwan yang tersenyum ke arahnya, memberitahunya bahwa semuanya akan baik-baik saja lewat senyum dan tatapan matanya yang teduh dan hangat. Lelaki itu pun menganggukkan kepalanya mantap sebelum melempar senyuman kembali ke arah Jaehwan.

"Baiklah, sekarang karena kalian sudah saling mengenal, aku akan memberitahu kalian lebih detail mengenai projek kolaborasi kalian."

Sehun masih menatap lelaki di hadapannya dengan sinis sebelum kemudian menatap Chanyeol yang kini tengah berbicara mengenai projek kolaborasi antara Luhan dan Taekwoon. Tangannya menggenggam tangan Luhan dengan lembut dan jari keduanya bertautan. Jaehwan memperhatikan kedua sejoli itu dengan tatapan iri. Tentu saja, meskipun secara fisik Sehun terlihat seperti Taekwoon - yaitu berwajah datar, tinggi, dan putih, namun sifat keduanya sangat bertolak belakang. Okay, Sehun memang dingin, terlihat dari caranya memperlakukan Taekwoon, bahkan dirinya, tapi lelaki itu sangat mencintai Luhan dengan sepenuh hati, dan dia menghargai Chanyeol yang notabene adalah manager dari kekasihnya. Jaehwan sangat iri. Seandainya Taekwoon bisa menjadi lelaki seperti itu. Sehun bisa tersenyum untuk Luhan, tapi Taekwoon tak bisa tersenyum untuk dirinya.

"Baiklah itu saja. Aku ingatkan kalian untuk beristirahat yang cukup dan makan dengan teratur karena dua minggu itu kalian akan sangat sibuk. Jangan lupa, kolaborasi kalian ini bisa menarik beberapa perusahaan terutama internasional untuk menggunakan kalian sebagai maskot produk mereka. Ini sangat menguntungkan." Chanyeol menutup pembicaraannya sambil menekan tombol lock iPad nya. "Terutama bagi model baru sepertimu, Taekwoon-ssi."

Taekwoon menatap Chanyeol dengan tatapan datar, kemudian terkekeh pelan.

"Jangan khawatir Chanyeol-ssi, aku bisa terlihat lebih professional daripada dia." dia mengendikkan dagunya mengarah kepada Luhan kemudian memasang tampang datarnya kembali, membuat Chanyeol membulatkan matanya, dan Sehun mengepalkan tinjunya dengan erat sambil menggeram.

"Yah! Dimana sopan santunmu, huh?!" Sehun bangkit dari duduknya dan mencengkeram kerah Taekwoon dengan kasar, sementara model tampan itu hanya menatapnya dengan tatapan datarnya seperti biasa.

Jaehwan yang panik segera bangkit dan melerai keduanya, begitupula Chanyeol dan Luhan.

"Yah yah! Sehun-ah, sudah tenang!" Chanyeol dan Luhan menahan tubuh Sehun yang sedikit memberontak.

"Lepaskan aku! Akan kuberi dia pelajaran atas ketidaksopanannya!" Sehun menendang lutut Taekwoon sembari memberontak dari kungkungan Chanyeol dan Luhan, membuat celana mahal milik lelaki itu terlihat kotor.

Kini balas Taekwoon yang menatap Sehun tajam. Jaehwan sangat tahu bahwa celana yang dikenakan oleh tunangannya ini adalah celana kesayangannya, pemberian ibunya. Dengan kotornya celana itu, dia tahu bagaimana perasaan lelaki yang sebenarnya sensitif ini. Maka, gadis itu segera menarik lengan Taekwoon agar berdiri dan membungkukkan badannya dalam sebagai bentuk permintaan maafnya atas perilaku Taekwoon.

"Maafkan Taekwoon, kami akan pamit saja." lalu dia pun menarik tubuh Taekwoon dan membawanya keluar dari sana, meninggalkan ketiga orang yang tersisa di dalamnya terdiam dengan raut wajah yang berbeda-beda.

Sehun menghentakkan lengannya kasar, Chanyeol dan Luhan pun melepaskan lengan Sehun dan membiarkan lelaki muda itu mengatur nafasnya. Dia menatap Chanyeol dengan sedikit kilatan emosi di matanya.

"Hyung, aku tidak suka orang itu."

Dia menggenggam tangan mungil Luhan sambil tetap menatapi Chanyeol.

"Batalkan saja kerjasamanya." Luhan pun membulatkan matanya mendengar permintaan Sehun. Dia melepaskan genggaman tangan Sehun, membuat lelaki itu sedikit terkejut. Kemudian, dia menatapi wajah Sehun,

"Tidak, Sehun-ah. Kau memang kekasihku dan kau pasti tahu apa yang terbaik bagiku, tapi kumohon... Jangan ikut campur mengenai pekerjaanku."

Dan Oh Sehun hanya bisa diam membisu mendengar perkataan kekasihnya.

W & D

Pukul 17.30 KST dan gedung Glance masih saja ramai. Beberapa model memang memiliki jadwal pemotretan, dan banyak pula beberapa trainee yang berlalu lalang dan keluar-masuk dari beberapa studio yang terdapat di sana. Baekhyun baru saja membeli kopi sore harinya dan tengah berjalan melewati ruangan Chanyeol saat kemudian pintu itu terbuka, dan lelaki pemilik ruangan itu keluar dari dalam dengan wajah yang muram. Melihat kondisi lelaki itu, Baekhyun hanya bisa mengerjapkan matanya lucu sambil menatapi Park muda itu.

"Kopi sore?" Lelaki itu bertanya sambil memaksakan sebuah senyuman terpampang di wajah tampannya.

Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan lucu sambil terus menatapi lelaki bertubuh tinggi layaknya model itu. Namun damn, dia hanyalah seorang manager.

"Kamu terlihat tidak baik, Yeol." gadis itu akhirnya berucap. Chanyeol hanya terkekeh pelan sebelum mengusak rambut coklatnya sedikit dan menganggukkan kepalanya pelan.

"Mau berbicara sambil minum kopi di dalam?" tawar lelaki itu sambil membuka pintunya lebih lebar lagi, memperlihatkan isi ruang kerjanya yang rapih seperti biasanya. Baekhyun pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

"Tentu saja!" dan dia pun berjalan mendekati lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Di dorongnya tubuh jangkung itu ke dalam ruangan dan dia pun menapakkan kakinya memasuki ruangan itu.

Chanyeol terkekeh pelan menerima perlakuan lucu dari model mungil itu. Dia menutup pintu ruangannya sebelum menuntun Baekhyun untuk duduk di salah satu sofa tamu yang terletak di dekat jendela besarnya. Jendela yang menyuguhkan keindahan pemandangan kota Seoul. Gadis ber-marga Byun itu meletakkan kopi sorenya di atas meja setelah mendudukkan dirinya di sofa. Dia memperhatikan bagaimana Chanyeol melonggarkan dasi yang dikenakannya lalu duduk di sebelahnya dan menyandarkan kepalanya di bahu sempit Baekhyun, membuat gadis itu sedikit terkesiap.

Malu. Byun Baekhyun malu, takut, namun dia sangat menyukainya.

"Chanyeol-ah..."

Dan hal selanjutnya yang membuat wajah Baekhyun memerah adalah bagaimana lengan kekar Chanyeol melingkar dengan sempurna di sekitar pinggangnya. Gadis itu baru menyadari bagaimana dia merindukan hal-hal kecil yang sering dilakukan lelaki ber-marga Park itu padanya. Bagaimana dia selalu merengkuhnya lembut seperti sekarang ini saat dia sedang lelah dan memiliki banyak masalah, atau bagaimana dia suka mengecupi pipi dan pelipisnya saat dia sedang gembira dan merindukannya.

"Biarkan aku seperti ini, Baek... Sebentar saja." gumamnya sambil mengecupi bahu Baekhyun yang ter-ekspos dikarenakan pakaian yang dikenakan oleh gadis itu memang dirancang untuk menunjukkan bahu mulusnya. Gadis ber-marga Byun itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil.

Lengan mungil Baekhyun melingkar sempurna di sekitar tubuh Chanyeol, dan lelaki itu menyukai belaian lembut gadis yang pernah menjadi miliknya itu. Tubuhnya serasa lebih tenang, dan permasalahan antara kolaborasi Luhan dan Taekwoon, serta sikap tidak sopan Taekwoon tadi siang seakan menguap begitu saja dari pemikirannya. Kini, hanya ada sesosok gadis cantik yang ada di otaknya. Gadis yang saat ini tengah membelai punggungnya dengan lembut, dan membiarkan dirinya menghirup aroma citrus yang menguar dari tubuh mungil gadis itu.

"Sudah siap untuk bercerita?" tanya Baekhyun sambil tersenyum ke arahnya. Tangannya yang bebas meraih kopi sorenya yang tadi ia letakkan di meja. Dia membuka tutupnya dan membiarkan uap mengepul keluar dari gelas kertas itu.

Chanyeol mendongakkan kepalanya dan menatapi paras manis nan cantik gadis ber-marga Byun itu. Kemudian, pandangannya menjadi terpusat pada uap-uap yang masih sibuk berlomba-lomba keluar dari gelas kertas milik Baekhyun.

"Ini masalah kolaborasi Luhan yang baru, kamu sudah tahu kan?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya. Tangannya masih setia membelai punggung tegap Chanyeol dengan lembut, bahkan terkadang memijatnya perlahan.

"Dengan Jung Taekwoon itu kan?" pertanyaan itu direspon dengan anggukan kepala oleh Chanyeol.

"Perilaku lelaki itu tidak sopan, dan dia benar-benar tidak banyak bicara." Dia menarik nafas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. Aroma parfum citrus Baekhyun membuatnya merasa lebih rileks dan tenang.

"Sehun tidak menyukai lelaki itu, Baek. Dia memintaku untuk membatalkan kontrak kolaborasi mereka meskipun Luhan melarangnya."

Baekhyun menatap manager muda itu. Tatapannya dipenuhi oleh rasa bingung dan penasaran yang bergabung menjadi satu. Gadis itu memperhatikan bagaimana lelaki dengan tubuh jangkung nan proporsional itu memandangi pemandangan Seoul sambil menggigit bibirnya, pertanda bahwa dia sedang gundah. Kini Baekhyun tahu, menjadi manager memang sulit, lain kali dia tidak boleh meremehkan Soonkyu lagi, apalagi membentak dan memarahinya.

"Lalu bagaimana keputusan akhirnya?" akhirnya gadis itu memberanikan diri bertanya. Paling tidak dia mendengarkan dan responnya bagus bukan?

Chanyeol mengendikkan bahunya. Dia meraih kopi sore milik Baekhyun dan meneguknya tanpa meminta izin kepada pemiliknya. Namun Baekhyun tidak keberatan, dia tahu caffein bisa membantu menenangkan pikiran, dan Chanyeol butuh beberapa caffein sekarang, dan dia juga telah sukses mendapatkannya.

"Mereka berdua sedikit bertengkar...mungkin? Entahlah, Sehun memaksa dan Luhan membentak." Chanyeol tampak memutar-mutar sedikit gelas kertas berisi kopi milik Baekhyun sebelum menatap kedua mata indah milik gadis itu. "Kemudian Luhan berlari keluar ruanganku, dan Sehun mengikutinya. Kemudian aku menerima pesan dari Sehun untuk benar-benar membatalkan kontraknya, dan Sehun yang akan menangani Luhan."

"Kalau begitu, lakukanlah."

"Hey." Chanyeol terkekeh pelan sebelum mengusak rambut halus Baekhyun dengan lembut. "Apakah kamu tahu apa yang sedang aku bicarakan di sini?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan lucu.

"Tinggal turuti kemauan Sehun, dan kamu tidak akan se-frustasi sekarang ini, bukan? Semuanya akan menjadi lebih mudah." gadis itu berkata.

"Tapi tidakkah kamu memikirkan perasaan Luhan?" lelaki itu meletakkan kopi sore Baekhyun di meja sebelum merangkul pinggang ramping milik gadis itu dan menarik tubuhnya mendekat ke dalam rengkuhannya.

"Apakah ini mengenai penghasilan, nama baik dirinya, dan nama baik Glance?" kemudian gadis itu berdehem saat melihat lawan bicaranya menganggukkan kepalanya. "Well, aku sangat mengerti. Tapi sekarang ada Sehun yang bertingkah layaknya suami bagi Luhan. Ingat dengan Kim Jongwoon?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Semoga Sehun tidak akan menjadi pria pengekang seperti dia."

Baekhyun hanya mengendikkan bahunya. Dielusnya rambut Chanyeol dengan lembut, bermaksud menenangkan lelaki itu dan tentu saja berhasil. Chanyeol terbuai oleh belaian Baekhyun.

"Kalau begitu, yang harus kamu lakukan adalah membicarakan hal ini dengan Joonmyun-eonnie besok, okay?"

Chanyeol menganggukkan kepalanya, lalu menatap wajah cantik nan mungil milik Baekhyun sambil tersenyum lebar. Meskipun gurat kelelahan masih terlihat di wajahnya, namun Baekhyun tahu lelaki itu telah merasa lebih baik sekarang, dan dia senang akan hal itu.

"Ide yang bagus! Sungguh, kamu memang yang terbaik, nona Byun."

Baekhyun terkekeh pelan sambil mengacak rambut ikal Chanyeol dengan lembut.

"Bukankah itu adalah hal pertama yang seharusnya kamu lakukan?"

Lelaki yang lebih muda beberapa bulan daripada gadis di hadapannya itu hanya tersenyum lembut sambil tetap menatapi paras cantik nan manis gadis itu. Perlahan, didekatkannya wajahnya pada wajah mungil milik gadis itu, membuat si empunya membulatkan matanya kaget saat dia menyadari bahwa hidung bangir mereka telah saling bersentuhan.

"C-Chanyeol...?" bisiknya ragu. Dia dapat merasakan degup jantungnya yang berdetak semakin kencang, dan perasaan hangat yang melingkupi dirinya. Nafas Chanyeol dapat ia rasakan, dan dia menyadari betapa mantan kekasihnya ini semakin bertambah tampan dan menggairahkan.

Chanyeol meletakkan tangan besarnya di pipi kanan Baekhyun dan mengelus pipi kenyal milik gadis itu dengan lembut. Bibir penuhnya mengulum sebuah senyuman simpul tatkala memperhatikan bagaimana wajah cantik mantan kekasihnya itu bertambah merah, dan mata yang dihiasi eyeliner serta softlens ber-warna biru terang itu membelalak sambil terus menatapi mata besar miliknya sendiri. Baekhyun terlihat sangat cantik, dan Chanyeol menyesal baru menyadari itu lagi sekarang.

"Kamu sangat cantik, Baek..." bisiknya tepat di hadapan bibir tipis nan pink milik gadis itu, membuat wajah Baekhyun bertambah hangat dan merah, dan bibirnya otomatis membentuk sebuah senyuman malu-malu.

Tak butuh hitungan detik, kini lelaki ber-marga Park itu telah mencium dan melumat lembut bibir tipis nan ranum milik Baekhyun. Lengan kekarnya masih merengkuh tubuh mungil gadis itu, bahkan menariknya mendekat saat dia menyadari bahwa gadis itu telah memberikan akses dengan cara membuka sedikit dua belah bibir manisnya. Tanpa pikir panjang, Chanyeol pun melesakkan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Baekhyun dan mengabsen gigi-gigi putih nan mungilnya satu persatu dengan lembut. Senyumannya mengembang tatkala lidahnya dibelai lembut oleh lidah milik gadis mungil itu, dan dia bersumpah dapat merasakan jantungnya berdegup lebih kencang saat Baekhyun menarik kepalanya mendekat ke arahnya dan mulai menciumnya dengan beringas. Bagaimana pun juga, Chanyeol adalah lelaki normal yang masih mempunya nafsu birahi yang cukup tinggi, dan dia pernah mencintai Baekhyun.

Lelaki itu mendorong tubuh gadis itu hingga dia berbaring di bawahnya, dan mulai menyesapi bibir manisnya secara kasar. Tangan-tangan mungil gadis itu telah bergerilya di rambutnya dan menjambaknya kasar tiap kali Chanyeol menggigit dan melumat secara kasar bibir ranum itu. Lidahnya terjulur keluar, menyenggol lidah Baekhyun dan menantangnya untuk bertarung. Pertarungan antar lidah tidak dapat dihindari lagi, mereka berciuman sangat dalam. Kini ruangan kerja Chanyeol dipenuhi dengan suara kecipak ciuman mereka. Saliva yang entah milik siapa mengalir dari kedua belah bibir mereka, dan suasana mendadak menjadi panas. Baekhyun menyesapi lidah Chanyeol lalu mulai menjelajahi rongga mulut lelaki itu. Chanyeol tersenyum miring. Nafsunya sudah tidak dapat terbendung lagi. Dia merindukan gadis ini. Otaknya sudah tidak bisa berpikir jernih, dan tubuhnya merinding saat tiba-tiba tangannya telah bergerak menuju kedua bongkahan kenyal milik gadis di bawahnya, dan meremasnya dengan lembut. Baekhyun mendorong tubuhnya pelan dan sebuah lenguhan lembut keluar dari bibirnya,

"C-chan...apa yang kau..." gadis itu melenguh lagi saat kedua tangan besar Chanyeol kembali meremas payudaranya yang masih tertutupi sweater rajut ber-warna cream. "Chanyeol...mmhh~"

Mata Chanyeol telah ditutupi oleh kabut nafsu. Mendengar lenguhan nikmat dari gadis itu, telah membuat otaknya panas dan dia bersumpah dia bisa gila karenanya.

Gila akan nafsu birahi.

"Aku merindukanmu, Baek..." lelaki itu mendekatkan bibirnya pada telinga milik gadis ber-marga Byun itu dan mengecup sebuah tindikan permata yang menghiasi cupingnya. "Tidakkah kau merindukanku?" bisiknya dengan suara berat.

Lelehan air mata lolos dari kedua mata indah Baekhyun saat ia mendengar bisikan Chanyeol. Jika dia harus jujur, ya. Ya, dia sangat merindukan Chanyeol dan segala hal kecil tentang dirinya. Dia merindukan seorang Park Chanyeol.

Chanyeol menyadari gadis kecil itu menangis saat tubuhnya mulai bergetar. Ditatapnya wajah gadis itu dengan sedikit panik. Air mata berlomba-lomba mengaliri pipi tembamnya dan eyeliner-nya mulai sedikit luntur. Gadis itu menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan sebuah isakan lolos dari bibirnya. Hati Chanyeol melunak, dan dengan segera, direngkuhnya tubuh mungil itu dengan erat.

"Baek... Astaga, maafkan aku... Aku tidak bermaksud, astaga apa yang aku laku-"

"Aku lebih merindukanmu, Park Chanyeol." akhirnya gadis itu berucap dengan sura lirih.

Mata Chanyeol membelalak kaget saat mendengar ucapan lirih yang terdengar lulus dari bibir tipis itu. Hatinya senang bukan main, dan dia merasakannya tengah berdansa dengan riang di dalam dadanya. Senyuman lebar terpampang di wajahnya, dan dia pun mencium bibir Baekhyun dengan lembut dan penuh rasa sayang. Baekhyun merasa meleleh dibuatnya.

"Sungguh, Baekhyun... Oh Tuhan, kau tidak tahu sudah berapa lama aku menunggumu mengatakan hal itu, nona Byun!" dia pun terkekeh riang, membuat Baekhyun tersenyum.

Chanyeol memperhatikan bagaimana Baekhyun mengusap matanya dengan lembut menggunakan jari jemari lentiknya sambil tetap tersenyum padanya. Eyeliner-nya yang luntur justru membuat Chanyeol semakin suka. Baekhyun terlihat sangat cantik dan manis, dan dia sangat menyukainya.

"Kau tidak ingin melanjutkan?" lamunan Chanyeol akan wajah cantik Baekhyun buyar saat mendengar pertanyaan dari gadis itu. Bibirnya membuka dan wajahnya terlihat seperti orang bodoh saat melihat Baekhyun yang tengah melepas sweater rajutnya kemudian membuka kancing kemeja-nya satu persatu dengan perlahan.

Dan Chanyeol menyukai bagaimana gadis itu melakukan hal-hal sexy itu sambil terus menatapinya.

Baekhyun mendudukkan dirinya di pangkuan Chanyeol sambil melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke sembarang arah. Lengan mungilnya merengkuh kepala Chanyeol dan menempelkan kepala lelaki itu ke belahan dadanya. Dia terkikik geli saat rambut tebal Chanyeol bergesekkan dengan permukaan atas payudaranya.

Seketika, Chanyeol merasakan otaknya kosong. Aroma Baekhyun begitu memabukkan dan fakta bahwa saat ini kepalanya tengah diapit oleh dua gundukan besar nan kenyal milik mantan kekasihnya itu membuatnya pusing. Chanyeol telah mabuk. Dengan kasar, dilepasnya pengait bra milik Baekhyun lalu dalam hitungan detik, bra itu telah tergeletak di lantai ruang kerjanya. Matanya menatap lapar gunung kembar nan besar milik model mungil itu, kemudian tangan besarnya meremas kedua payudara Baekhyun dengan sedikit kasar, membuat gadis itu melenguh kenikmatan,

"C-chanhh..." dengan reflek, tangan-tangan mungil Baekhyun meremas surai coklat milik Chanyeol dengan sedikit kasar, dan itu bagaikan pemberi semangat bagi Chanyeol.

Lelaki itu mengecup puting pink milik mantan kekasihnya itu dengan lembut sebelum meraupnya ke dalam mulutnya dan menghisapinya layaknya bayi yang tengah menghisap puting ibunya karena kelaparan. Salah satu tangannya memainkan puting milik Baekhyun yang lain dan tangan lainnya yang bebas tengah berusaha membuka hotpants yang dikenakan oleh gadis itu dengan sedikit terburu-buru. Menyadari hal itu, Baekhyun pun mengangkat pinggulnya sedikit, memberikan kemudahan bagi lelaki itu untuk menelanjanginya.

"C-chanyeol... Cepathh, aku ingin langsung ke intinya..." Ya, baik Kris maupun Chanyeol tahu bahwa gadis ber-marga Byun ini suka langsung ke intinya apabila menyangkut bercinta. Maka, lelaki itu pun melepaskan kulumannya dari puting Baekhyun dan melepaskan celananya dengan terburu-buru. Kalau tidak, mood bercinta Baekhyun bisa segera menghilang.

Baekhyun tersenyum miring saat melihat gundukan besar yang tercetak jelas dibalik celana dalam Chanyeol. Jelas laki-laki itu telah terangsang. Gadis itu pun meremas gundukan itu dengan sedikit kasar sebelum menarik celana dalam milik lelaki itu dengan sekali sentak, dan benar saja - penis Chanyeol benar-benar telah menegang dengan sedikit cairan putih yang keluar dari lubang kencingnya.

"Ummhh... Bagaimana kalau dia kujepit dengan lubangku, yeollie~?" gadis itu bertanya dengan nada seduktif yang kentara.

Chanyeol tersenyum miring.

"Lakukan sesukamu, sayang." bisiknya tepat di samping telinga gadis yang lebih tua beberapa bulan darinya itu dengan suara berat dan nada yang seduktif.

Baekhyun terkekeh pelan mendengar bisikan Chanyeol yang benar-benar bisa membuat nafsu birahinya meningkat. Ditariknya lelaki itu lebih dekat kepadanya dan tubuhnya bergetar saat penis besar milik mantan kekasihnya itu menempel dengan vaginanya yang baru dia sadari sudah basah.

"Ah, benar-benar sudah tidak sabar hmm?" Chanyeol memegang pinggang Baekhyun dan mengelusnya dengan lembut, bermaksud untuk membuatnya lebih terangsang. "Kau suka bila aku memasukannya dengan sekali hentak, bukan?"

Byun Baekhyun sudah merasa terlalu panas untuk memikirkan pertanyaan Chanyeol. Jadi, gadis itu hanya bisa menganggukkan pasrah sambil menggerakkan pinggulnya dengan depresi, meminta Chanyeol untuk segera memasukkan kejantanannya ke dalam lubangnya yang benar-benar telah gatal minta diisi. Chanyeol tertawa dengan suaranya yang berat dan dengan sekali sentak, dia memasukkan seluruh penisnya ke dalam lubang vagina Baekhyun yang ketat, sukses membuat gadis itu menjerit antara kenikmatan dan kesakitan.

"Kyaaahh~! C-Chanyeol... Ahh... J-jangan bergerak dulu!" perintahnya setengah mendesah. Chanyeol hanya terkekeh dan menuruti kemauan gadis itu. Tangan besarnya mengelus surai panjang milik model cantik itu dengan lembut. Dikecupinya wajah gadis itu dengan lembut, membuatnya terkikik geli sambil memeluk leher lelaki itu dengan erat. Kemudian, bibir mereka saling menempel dan melumat satu sama lain dengan lembut, tanpa ada rasa nafsu sama sekali. Baekhyun merasakan cinta dan kehangatan dari lumatan-lumatan yang Chanyeol berikan. Mirip dengan milik Kris, namun entah mengapa Baekhyun lebih menyukai lumatan yang dilakukan oleh lelaki ber-marga Park ini.

Oh tidak, Baekhyun apa yang kau pikirkan?

"Baek, mengapa kau diam saja?" pertanyaan lelaki itu menyadarkan Baekhyun dari lamunan semu-nya. Dia mengerjapkan matanya dan menatap mata besar milik lelaki di hadapannya, lalau tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

"Boleh aku menggerakkan pinggulku?"

Baekhyun menganggukkan kepalanya sambil menggoyangkan pinggulnya dengan lembut, bermaksud menggoda Chanyeol. Lelaki muda itu terkekeh pelan sebelum kemudian menghentakkan pinggulnya dan menyodok lubang kewanitaan Baekhyun lebih dalam, membuat sang empunya mendesah dengan keras.

"A-ahh Chanyeol~ lebih c-cepathh... Cepathh!" jeritnya frustasi. Chanyeol menjilat bibirnya dan menuruti kemauan gadis itu. Digerakkannya pinggulnya dengan gerakan lebih cepat dan dia memejamkan matanya sambil menikmati sensasi lubang ketat milik mantan kekasihnya yang seolah menghisap penisnya lebih dalam.

Suhu ruangan terasa semakin panas, padahal mereka tahu suhu di luar sana sangat lah dingin dan Chanyeol telah mematikan heater ruangan itu sesaat sebelum dia keluar dari ruangannya dan tidak sengaja bertemu dengan Baekhyun. Tubuh mereka bermandikan peluh, sangat konyol mengingat ini adalah musim gugur dan nyaris mendekati musim dingin. Suara desahan, dan deru nafas mereka memenuhi seluruh ruangan, dan jangan lupakan juga suara kulit bertemu kulit. Suara decakan saat mereka berciuman turut meramaikan suasana ruangan yang memang pada dasarnya telah berbau sex ini.

"C-chanyeol, aku...hampir sam-" Baekhyun menjerit penuh kenikmatan saat Chanyeol terus menerus menumbuk satu titik yang membuatnya melayang di dalam sana. Dengan sengaja, Baekhyun merapatkan lubang kewanitaannya, membuat Chanyeol menggeram penuh kenikmatan.

"Ahh...sayang... Sengaja menggodaku hmm?" senyuman miring yang tampak di wajah tampan lelaki itu sukses membuat wajah Baekhyun merona dan perutnya terasa semakin bergejolak. Chanyeol bergerak semakin cepat, meskipun beberapa kali gerakannya melambat karena Baekhyun terus menerus menyempitkan lubang kewanitaannya dan meremas penisnya dengan kasar di dalam sana.

"A-aku serius, yeolhh! Aku..." Baekhyun terengah-engah. "Aku sampaaiihhh~!" suaranya melengking dan kuku-kuku panjangnya menancap di punggung Chanyeol. Cairan hangat berlomba-lomba keluar dari dalam lubang vagina Baekhyun, membuat lubangnya lebih licin.

Menyadari hal itu, Chanyeol pun semakin bergerak cepat, apalagi saat dirasakannya kejantanannya semakin membesar. Baekhyun yang sadar bahwa lelaki itu akan sampai pada puncaknya sebentar lagi pun segera mengetatkan lubangnya lagi sambil tersenyum nakal. Pemandangan Byun Baekhyun yang terengah-engah, berkeringat, dan tersenyum nakal nan menggoda sungguh membuat Chanyeol merinding, dan cairan sperma pun menyembur keluar dari kejantanannya dan memenuhi lubang kewanitaan Baekhyun, bahkan mungkin menembus hingga ke rahim gadis itu. Tubuh kekar Chanyeol ambruk di atas tubuh Baekhyun yang bahkan belum selesai mengatur nafasnya. Mereka berdua terengah-engah bersama-sama.

"Baek...hyun..."

Baekhyun hanya menggumam sebagai respon. Chanyeol mendorong tubuhnya sedikit agar tidak meniban tubuh mungil gadis ber-marga Byun itu. Ditatapinya paras cantik nan indah milik gadis itu dengan tatapan teduh dan memuja. Wajah model cantik itu pun memerah saat menyadari tatapan memuja dari mantan kekasihnya itu, dan bibir tipisnya mengulum senyuman malu. Chanyeol terkekeh pelan sebelum mengecup bibir tipis yang terasa sangat manis itu dan mengulumnya lembut sebelum kemudian melepaskannya.

"Terima kasih..." bisiknya lembut, yang tentu saja masih dapat didengar oleh Baekhyun. Bagaimana tidak? Hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Baekhyun baru akan membalas bisikan lembut lelaki itu saat kemudian, lelaki ber-marga Park itu melanjutkan ucapannya,

"Aku masih sangat mencintaimu."

Dan kedua mata indah Baekhyun membulat secara reflek karena terkejut. Dia bersumpah jantungnya berdegup lebih kencang dan perasaan hangat menjalar ke seluruh dada hingga perutnya. Dia terus menatap mata bulat Chanyeol, mencari kebohongan yang tersirat di dalamnya, namun hanya ada ketulusan dan pancaran penuh cinta yang keluar dari sana.

"Bagaimana denganmu, Byun?" tanya lelaki itu dengan lembut. Tangan besarnya mengusap pipi kenyal nan merah merona milik gadis itu, sementara gadis itu masih tertegun.

"C-chanyeol... Aku... A-aku..."

"Aku tahu kamu juga masih mencintaiku." mulut Baekhyun mengatup rapat. Dia tidak bisa mengatakan apalagi saat mendengar tebakan Chanyeol.

Apa-apaan. Bagaimana lelaki itu tahu?

"Yah! Park Chan-"

"Akhiri saja hubunganmu dengan Yifan, dan jadilah milikku lagi." pintanya dengan tatapan memohon. Bibirnya kembali bertemu dengan bibir tipis milik Baekhyun dan melumatnya dengan lembut lagi secara singkat. "Aku tahu kamu sudah memaafkanku sejak lama. Kamu tidak pandai berbohong, Baek."

Dan lagi-lagi, Baekhyun terdiam dibuatnya.

W & D

Pukul 17.06 KST. Kim Jongin tengah menyesapi Orange Float-nya di sebuah cafe bersama dengan sahabat satu klubnya yang belum lama ini meminta bantuannya untuk membantu permasalahannya dengan kekasihnya. Lee Taemin yang tengah memiliki masalah dengan Lee Minho. Jongin menatapi gadis yang lebih tua setahun darinya itu dengan jengah. Pasalnya, gadis itu nampak tidak tenang sedaritadi. Bahkan dia belum menyesap teh hangatnya barang satu teguk pun, dan itu benar-benar membuat Jongin jengah.

"Ya Tuhan, Taeminnie. Bisakah kau bersikap sedikit lebih tenang?"

Taemin menatapnya dengan tatapan gelisah. Dia memainkan jari jemarinya sendiri sambil menggigiti bibir pink-nya.

"Mengapa kau mengundangnya kesini untuk menemuiku? Bagaimana kalau dia tidak ingin bertemu dengan-"

"Kalau dia tidak ingin bertemu denganmu, dia tidak akan menyanggupi undanganku, okay?" Jongin mendesah sambil mengusap wajahnya. Ini lah hal yang tidak dia sukai dari sahabatnya, dia terlalu bersikap paranoid.

Akhirnya, Taemin meraih cangkir berisi teh hangatnya dan meneguknya dengan perlahan. Sesekali dia menatap keluar jendela cafe untuk memastikan apakah kekasihnya itu sudah datang atau belum, sementara Jongin kini tengah sibuk dengan handphone-nya, membalas beberapa pesan dari temannya. Sebuah senyuman terpampang di wajah tampannya saat sebuah pesan dari seseorang yang sedaritadi telah ditunggunya tampak.

.

.

From: Minho-hyung

To: Awesome Jongin

Jongin-ah, kalian dimana? Aku sudah berada di depan cafe.

.

.

Jongin melirik Taemin yang tampaknya tengah melamun sambil melihat ke arah luar. Bagaimana mungkin gadis itu tidak menyadari bahwa kekasihnya telah sampai jika di luar sana banyak gadis-gadis yang berteriak dengan semangat, sepertinya karena melihat Minho.

Taemin benar-benar hanyut dalam lamunannya.

.

.

From: Awesome Jongin

To: Minho-hyung

Kami di dalam, hyung. Masuk saja. Meja kami berada tepat di samping jendela besar.

.

.

Tidak lama setelah Jongin mengirimkan pesan itu pada Minho, pintu cafe terbuka dan seorang lelaki dengan tubuh tinggi nan proporsionalnya masuk ke dalam cafe. Di belakang lelaki itu, tampak gadis-gadis yang masih berteriak penuh semangat, bahkan beberapa dari mereka ada yang mengikutinya masuk ke dalam cafe. Lelaki itu berjalan menghampiri Jongin dan Taemin, lalu melemparkan senyuman tampannya kepada mereka berdua.

"Hey, Jongin-ah. Lama tak berjumpa?" sapanya ramah. Jongin segera bangkit dari posisi duduknya dan memeluk lelaki itu sambil menganggukkan kepalanya.

Setelahnya, Jongin mempersilahkan lelaki itu untuk duduk tepat di sebuah bangku kosong yang terletak di sebelah Taemin. Meskipun Minho telah duduk di sebelah Taemin, namun gadis itu masih sibuk memandang ke arah luar, membuat Minho kebingungan dan berpikir bahwa gadis itu benar-benar marah padanya. Jongin menarik nafas panjang melihat pemandangan di hadapannya. Lelaki itu ingin cepat-cepat pulang dan bercerita pada Kyungsoo mengenai hal ini, jadi dia segera menepuk bahu sempit Taemin, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Gadis itu mengerjapkan mata besarnya lalu menatap Jongin dengan tatapan bingung. Namun, kebingungannya tidak bertahan lama saat suara yang familiar di telinganya menyapanya,

"Taeminnie...?"

Reflek, tubuh gadis itu menegang dan matanya membulat. Jongin tahu, sahabatnya itu pasti sedang mengalami fase dimana jantungnya berdegup lebih kencang. Bahkan, gadis itu tidak berani menolehkan kepalanya menghadap ke arah kekasihnya, padahal jelas dia sudah tahu bahwa kekasihnya kini berada tepat di sampingnya. Benar-benar sulit. Jongin bingung dengan pola pikir para gadis.

"Noona, Minho-hyung sudah datang." tegurnya pada akhirnya. Dia kembali menyesapi Orange Float-nya sambil memperhatikan bagaimana Lee Taemin akhirnya menolehkan kepalanya. Pertama menghadap ke arahnya.

Kedua, menghadap ke arah Minho, dan tatapan mereka segera bertemu dan terkunci.

"Taemin-ah..." Taemin segera bangkit dari posisi duduknya dan menenteng tas tangannya.

"Jongin-ah, sepertinya aku ada urusan..." gadis itu tanpa sadar berbicara dengan nada yang terburu-buru sementar Jongin hanya menatapnya dengan bingung. Apakah dia sedang berbohong? Urusan apanya, sedaritadi kan Taemin hanya melamun?

Jongin baru saja membuka mulutnya untuk menanyakan urusan apakah yang dimiliki gadis itu saat matanya menangkap pemandangan dimana Minho tengah menggenggam pergelangan tangan gadis itu dengan erat sambil berusaha menatapi kembali mata besar milik gadis itu,

"Taemin-ah, tunggu." suara berat itu berhasil membuat Taemin merasa semakin tertekan. Apa sih maunya lelaki ini? Dihempaskannya tangan lelaki itu dengan sedikit kasar. Minho bisa saja tetap menggenggam tangan gadis itu, namun dia memutuskan untuk mengalah dan melepaskan tangan mungil milik Taemin.

"Oppa tuh maunya apa sih?!" gadis itu bertanya setengah menjerit, mengundang perhatian dari beberapa pengunjung cafe yang lain.

Jongin menyadari hal itu dan lagi-lagi dia hanya bisa menarik nafas panjang sambil mengusap wajahnya kasar dengan tangannya. Astaga, apakah kesalahannya di masa lalu sehingga dia bisa berada di tengah-tengah kedua sahabatnya - yang merupakan sepasang kekasih - yang tengah bertengkar?

Minho hanya diam membiarkan kekasihnya terus berbicara. Dia sangat memahami sikap Taemin yang ingin dia diam apabila gadis itu sedang marah.

"Kemarin oppa marah sendiri karena aku terlihat seperti lebih peduli dengan Minhyun." gadis itu mulai terisak. Minho hanya bisa tersenyum tipis memperhatikan bagaimana kekasihnya itu mengusap matanya menggunakan lengan sweaternya dengan sangat menggemaskan. "Oppa membentakku lalu bilang lebih baik aku pacaran dengan dia saja!"

Jongin pun mendengarkan gerutuan dan tangisan sahabatnya itu meskipun tatapannya terlihat bosan dan tidak tertarik sama sekali. Namun, entah mengapa permasalahan mereka terdengar familiar.

"Lalu oppa menghubungi Minhyun dan marah-marah, eoh?! Oppa menyuruhnya menjauhiku! Apa oppa tidak tahu bahwa dia kebingungan?" Dengan lembut, Minho menarik Taemin untuk duduk kembali di sampingnya dan mengelus surai panjang nan pirang milik gadis itu. "Dia merasa bersalah, oppa... Oppa tidak bisa seenaknya seperti itu."

Jongin tertegun mendengar tangisan Taemin. Ya, benar-benar familiar. Minho seperti berada di posisinya yang tengah mendiamkan Minseok dan Sehun. Permasalahannya pun sama, rasa cemburu. Cemburu karena Minseok terlihat lebih menyayangi Sehun, dan cemburu karena Luhan kini telah menjadi kekasih Sehun. Taemin berada di posisi Minseok dan Luhan, dan lelaki bernama Minhyun itu seperti berada di posisi Sehun. Melihat Taemin yang menangis mengingatkannya pada wajah Minseok yang tengah menangis, dan senyuman hangat Luhan. Raut wajah sahabatnya yang menunjukkan bahwa dia merasa bersalah juga memenuhi pikirannya saat ini. Lelaki itu menggigit bibir tebalnya sambil memperhatikan Minho yang merengkuh Taemin dengan lembut dan penuh kasih sayang, membiarkan gadis itu untuk terus menangis di pundaknya.

"Oppa minta maaf, sayang... Oppa sedang banyak pikiran saat itu, dan memikirkanmu diambil orang lain membuat oppa hilang kendali."

Skakmat, Kim Jongin.

"Oppa janji tidak akan mengulanginya lagi..." Minho berbisik, namun Jongin masih bisa mendengar ucapan lelaki itu.

Dengan segera, Jongin bangkit dari posisi duduknya, menghabiskan Orange Float-nya dengan terburu-buru, dan mengambil handphone-nya yang tergeletak di meja, membuat sepasang kekasih yang kini tengah saling berpelukan itu menatapnya bingung.

"Jongin, kau mau kemana?" Minho bertanya dengan raut wajah yang kebingungan. Mungkinkah temannya ini tidak bisa menahan aura sepasang kekasih yang menguar dari dirinya dan Taemin?

Raut wajah Jongin menampakkan kepanikan tersendiri yang ia rasakan saat ini. Jantungnya berdebar-debar dan dia masih bingung kemanakah dia harus berlari pertama. Sehun kah? Atau Minseok? Namun dengan mantap, ditatapnya wajah Minho dan Taemin.

"Hyung, Noona... Aku ada urusan." kemudian dia tersenyum tipis sebelum melesat keluar dari cafe itu.

B.A.P Cafe.

Kini dia tahu kemana dia harus berlari.

W & D

Sehun memperhatikan bagaimana kekasihnya tengah mengikat rambutnya menjadi cepolan tinggi dan tampak sibuk berlatih bergaya di depan cermin. Cantik sekali. Sehun menyukai bagaimana lenturnya tubuh gadis itu. Tiap pose yang dia lakukan, bagaimana gadis itu meletakkan tangannya di pinggang dan berjinjit seolah-olah dia sedang memakai high heels. Bagaimana dia menampakkan raut wajah yang sexy namun tetap terkesan anggun dan cantik. Sehun tersenyum kecil ke arah refleksi Luhan di cermin, dan tampaknya gadis itu menyadari kekasihnya yang tengah tersenyum sambil memperhatikannya.

"Apakah ada sesuatu yang lucu, Sehun-ah?" gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu lalu memutar badannya menghadap ke arah Sehun yang masih tersenyum ke arahnya.

Mata bulat milik Luhan memperhatikan bagaimana kekasihnya itu menggelengkan kepalanya dengan perlahan namun bibir tipisnya tetap mengulum sebuah senyuman. Dia pun melangkahkan kaki-kaki jenjangnya dan membawa tubuhnya mendekat ke arah lelaki yang lebih muda 4 tahun darinya itu. Dipeluknya kepala milik kekasihnya itu dan lengan mungilnya menarik kepala itu mendekat ke arah perut ratanya. Dengan senang hati, Sehun melesakkan wajahnya ke perut rata Luhan dan mengecupinya seolah ada bayi di dalam sana yang perlu dikasihi. Luhan terkikik geli. Tangannya membelai surai Sehun dengan lembut dan penuh kasih sayang.

"Sayang, aku benar-benar tidak menyukai Jung Taekwoon." Oh Sehun merajuk, diiringi dengan bibirnya yang mengerucut, sukses membuat model cantik di hadapannya terkekeh gemas.

"Aku juga tidak suka dengannya."

Sehun mendongakkan kepalanya dan menatap wajah mungil nan cantik milik kekasihnya itu dengan tatapan serius, namun masih terpancar sinar jenaka dari kedua matanya.

"Kalau begitu batalkan saja kerjasama kalian." Luhan baru saja membuka mulutnya untuk memberikan komentar saat Sehun menyela-nya. "Kumohon, Xiao Lu."

Luhan menarik nafas panjang. Ditangkupnya wajah kekasih mudanya itu dengan lembut dan kedua mata mereka saling bertemu pandang. Gadis itu menggelengkan kepalanya lemah, membuat Sehun menarik nafas panjang saat melihat respon dari gadisnya itu.

"Bagaimana dengan Joonmyun?"

"Mari bicara dengannya untuk membatalkan kerjasama kalian."

"Sehun!"

Sinar jenaka Sehun pun sekejap menghilang dari mata Sehun, membuat Luhan menelan saliva-nya sendiri dengan gugup. Lelaki ini memang terkadang terlihat mengintimidasi meskipun umurnya lebih muda 4 tahun darinya.

"Demi dirimu, sayang. Kamu pasti akan bekerja jauh lebih keras dari biasanya karena kepribadiannya menyusahkan, dan kamu akan kelelahan."

Luhan mengerti, Sehun mengkhawatirkan dirinya. Tapi sudah sekian tahun Luhan terjun ke dunia fashion, dan sebelum itu dia belum bertemu Sehun dan meskipun jadwalnya padat, namun dia baik-baik saja. Bagaimana pun juga, dia harus meyakinkan Sehun.

"My baby Wolf, you're worrying too much about me." bibirnya mengulum sebuah senyum. Dia mendudukkan dirinya di pangkuan lelaki muda itu dan lengannya memeluk kepala lelaki itu ke arah dadanya. Otomatis, Sehun melesakkan wajahnya di antara kedua bongkahan payudara kenyal milik kekasihnya.

"It's because I love you, noona... Please."

Namun, model cantik itu tetap tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan lemah. Dia tahu bahwa Sehun menyadari pergerakannya barusan, namun sepertinya lelaki itu sudah lelah berdebat dengannya. Dikecupinya kepala lelaki itu dengan penuh kasih sayang, dan tangan mungilnya sibuk bermain dengan surai putih milik kekasihnya itu.

Sehun baru akan melepas kaitan bra Luhan saat tiba-tiba bel apartemennya berbunyi, menandakan ada seseorang yang datang. Dia menggerutu pelan,

"Ya Tuhan... Kukira tidak ada lagi yang tahu tempatku tinggal."

Luhan hanya terkekeh pelan menanggapi gerutuan kekasihnya itu. Dia pun bangun dari pangkuan Sehun sebelum kemudian mengecup bibir tipis milik lelaki itu dengan lembut.

"Biar aku yang buka pintunya." gadis itu mengambil salah satu kemeja Sehun yang tergeletak di kasur lalu berjalan keluar dari kamar kekasihnya itu.

Sehun semakin menggerutu dibuatnya.

Bel apartemen Sehun terus menerus dibunyikan, membuat Luhan mempercepat langkahnya. Tanpa sadar, gadis itu telah berlari kecil menuju pintu apartemen Sehun. Dilepaskannya pengait pintu ber-warna putih itu sebelum kemudian dia membuka pintunya dengan perlahan.

"Sia-" mata rusanya membulat sebelum kemudian mengerjap lucu saat menyadari sosok yang kini tengah berdiri sambil terengah-engah di hadapannya. "Jongin?"

Lelaki berkulit tan itu tampak mengatur nafasnya yang semakin memburu saat melihat sosok cinta pertamanya yang kini tengah mengenakan kemeja kesayangan 'sahabat'nya. Dia memejamkan matanya dan berusaha meyakinkan hatinya bahwa dia memang benar-benar harus meminta maaf kepada Sehun.

Dan dia memang benar-benar harus merelakan Luhan untuk pergi dari hatinya.

"N-noona... Sehun?"

Model itu membuka pintu kayu ber-warna putih itu semakin lebar, memberi akses bagi lelaki itu untuk masuk ke dalam apartemen hangat milik Sehun.

"Masuk dulu, Jongin-ah. Di luar dingin." dan Jongin hanya bisa menurut karena udara di luar memang benar-benar sedang dingin.

Luhan menuntun lelaki se-usia kekasihnya itu untuk duduk di salah satu sofa yang terletak di hadapan televisi flat-screen milik Sehun sebelum kemudian dia berlari kecil ke arah dapur. Jongin tahu betul bahwa gadis itu pasti akan membuatkannya cokelat hangat. Selalu seperti itu saat dirinya dan Minseok berkunjung ke apartemennya di musim gugur yang dingin, atau bahkan saat musim dingin.

Ah, Minseok.

"Sehun-ah! Keluar dari kamarmu, ada Jongin!"

Jongin sibuk memainkan tali yang menghiasi jaketnya sambil menatapi sepatu kets-nya. Terlalu gugup untuk menatapi sekeliling apartemen milik sahabatnya itu. Dia mengerjapkan matanya saat dirasakannya seseorang duduk di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang saat dia menebak bahwa itu adalah Oh Sehun. Maka, dia menolehkan kepalanya ke arah samping dan detak jantungnya kembali normal saat menyadari bahwa itu adalah Luhan. Sebuah senyuman muncul di wajah tampannya, reflek membuat Luhan tersenyum juga.

"Aku membuatkanmu cokelat hangat." ucap gadis itu sambil menyodorkan secangkir coklat hangat dengan uap yang mengepul dari dalamnya ke arah Jongin.

"Aku tahu. Terima kasih, noona." balas lelaki itu singkat sambil meraih cangkir itu dari genggaman Luhan dan mulai menyesap cokelat hangat buatan model cantik itu.

Cokelat hangat buatan Luhan memang yang terbaik.

"Jongin...?" suara lelaki yang familiar di telinganya sukses membuat jantungnya berdegup dengan kencang lagi. Diletakkannya cangkir berisi cokelat hangat itu di meja kaca yang terletak tepat di hadapannya, kemudian dia memutar tubuhnya menghadap ke arah datangnya suara familiar tadi.

Di sana, berdiri seorang Oh Sehun. Sahabatnya semenjak SMA. Sahabat yang semestinya tidak boleh dia biarkan pergi begitu saja dari kehidupannya. Apalagi bila penyebab kepergiannya adalah kesalahan dari dirinya sendiri. Dari diri seorang Kim Jongin. Oh Sehun, seorang lelaki yang paling mengerti seluk beluk perjuangan hidupnya. Yang paling mengerti segala kekurangan dan kelebihannya. Mereka bermimpi bersama sejak dulu, dan mereka telah berjanji untuk meraih mimpi mereka bersama-sama pula.

Jongin bangkit dari posisi duduknya dan melangkahkan kaki-kaki jenjangnya ke arah Sehun. Luhan memperhatikan bagaimana kedua lelaki itu akhirnya saling berhadapan. Kemudian, sebuah senyuman terpampang di wajah cantiknya saat adik dari sahabatnya itu memeluk kekasihnya dengan erat.

"Sehun-ah... Maafkan aku..."

Karena aku tidak bisa kehilangan sahabatku yang paling berharga. Apalagi bila penyebabnya adalah diriku sendiri.


Hai. /ngumpet dibalik tembok/ do u all still remember me? no? what a shame for meh kwkw. So... I'm sorry guys, this is a very very late update, huh? Well, i've told u bfr dat my prev. housemaid stole my laptop, aight? Then i got no mood to continue this story and MBIJF. But, hey! I'm back with some brand new plots and ideas. But again, the barrier of some quick updates...again, is this 12th graders shitty period. Tau lah kls 12, tugas numpuk iya, belajar ngebut iya, pm iya, to iya, ujian jd ngebut iya, 12 grades is a world's hell. ga juga sih, katanya kuliah lebih wkwk tp ya... itu emang penghalang terbesar buat gue nulis sama update cepet sih, jd sorry ya. Oh anyway, it's near christmas so i decided to update this fic bfr christmas, and since i must go to Jogja on wednesday too...and the connection will be sucks there haha. Anggep lah ini ur christmas gift.

Oh, btw gue mau nyerocos dikit. Gue gasuka bertele-tele ya jd gue jujur aja. Maaf, gue menghargai bgt review dan request kalian tp gue nulis chapter 9, chapter yg banyak kalian protesin itu, demi kemudahan kalian dalam ngerti ceritanya. Gue gamau jd author yg nulis plot kecepetan, terus tiba2 udah happy ending ato tiba2 charanya udah metong, sori gue bukan author yg kea gt. No harm, okay? Gue ga nyindir siapa2, tp gue baru sadar ternyata readers lebih suka author2 yg kea gt. Yang ngambil jalan pintas asal jadi tanpa ada prosesnya. Gue tau ini fic HunHan, orang gue sendiri yg bikin... tapi gue punya selingan couple kan? Gue bertanggung jawab atas couple2 itu, gue bakal tuntasin semua meskipun lebih utama HunHan. Jadi gue punya pikiran "oh, readers bener, ini mainnya harus HunHan, jd gmn kalo gue tuntasin couple yg lain dulu, baru ntar HunHan melesat." ternyata gue salah haha. Tapi yaudah, terserah kalian aja, gue ga butuh dihargain kok. Gue nulis krn gue pingin, ini ide gue, otak gue, demi kalian, iya kan? Cuman ya... yaudah, okay. Semoga kalian ngerti ya, demi kalian juga kok. I love all of you guys, okay? Kalian penyemangat gue but please...don't do this kind of thing again?

Karena sebagian besar pertanyaan kalian yaitu: "Ini chap gaada HunHan nya. Mana? Katanya main pair HunHan?" udah gue jawab di atas, jd I guess we don't need the review replies time, aight?

SPECIAL THANKS FOR: Byunkkaeb, doremifaseul, HunHanCherry1220, ShinJiWoo920202, Haru3173, Odulteui4120

Nih, HunHan gue pol2in di chap ini. NC pula hahaha. Sorry gue kasar, kaget aja gue kasih kemudahan malah pada gamau. Sorry ye. Oh, buat yang kepo karakter2 di ff ini gimana sih nampaknya? Bisa follow ig gue: azsalwh. Natal ini mau gue post beberapa. Bisa lewat juga: azsals.


Demi kepuasan kalian, gue betul2in ni ff, gue edit se edit2nya, gue periksa ulang se ulang2nya, dll. I love you guys so much; siders, reviewers, etcs.

So, mind to RnR again, guys?