Princess Destiny

.

.

.

.

.

Chapter X

.

.

.

.

.

Baekhyun menghela nafas dan terduduk di tepi ranjang Chanyeol. Pria itu mengikuti langkahnya dan menutup pintu di belakang tubuhnya, menimbulkan debum pelan.

"Aku tidak kufikir seseorang akan membongkar soal kontrak kita." ucap Baekhyun. Paras khawatir begitu nyata dalam mimiknya.

Chanyeol mengusap wajahnya. "Kurasa juga begitu. Itu berarti ada seseorang yang mulai mengendus ketidakberesan."

Baekhyun kembali menghela nafas. Pesta sudah selesai, meninggalkan kekhawatiran diantara keduanya. Terlebih Baekhyun. Posisinya akan sangat merugi jika perihal kontrak berhasil tercium orang luar istana dalam.

"Tok Tok."

Baekhyun hampir melonjak. Matanya dan Chanyeol bersitubruk. Hening sekian detik hingga si pria berbalik dan membuka pintu kamar.

"Ya?" Air muka Chanyeol berubah tenang saat melihat wajah Jeonghan. Pelayan Baekhyun itu membungkuk hormat padanya.

"Yang Mulia. Tuan Sehun mencari Anda dan Putri Mahkota, haruskah hamba memintanya kemari?"

Chanyeol langsung menggeleng. Matanya melirik Baekhyun. "Tidak, dimana mereka? Kami yang akan kesana."

Baekhyun mengangguk menyetujui. Gadis itu berdiri dan merapikan gaunnya. Dengan senyum lebar yang luar biasa cantik, Ia berjalan anggun menuju tempat Chanyeol berdiri dan mengamit lengannya.

"Kami sedang senggang. Jangan biarkan mereka menunggu. Iya kan, Sayang?" ucapnya manis, lengkap dengan netra indah yang memerangkap Chanyeol.

Sempurna. Park Chanyeol mengakui kekalahannya. Sembilan puluh persen terpikat pada si gadis.

"Ya, benar." Pria itu menelan ludah dan tersenyum. "...sayang."

Kau kalah, Yang Mulia.

.

.

.

Luhan menghela nafas. Rambut pirang berwarna coklat madunya berkibar seiring sepoi angin yang berhembus di balkon yang di pijaknya. Sehun berada disampingnya, bertumpu pada lengannya dan menikmati langit malam yang kian larut.

"Sehun.." cicit Luhan, pelan. Pria itu menoleh.

"Ya,?"

"Bagaimana Baekhyun bisa menjadi Putri? Maksudku—Aku tidak mengerti."

Sehun tersenyum. Pria itu tahu cepat atau lambat Luhan akan bertanya. Namun, tidak menyangka juga akan secepat ini. Ia menegakkan badannya, menghela nafas sesaat dan menatap si gadis.

"Aku khawatir jika Aku bukan orang yang tepat untuk menjelaskan." Ia maju selangkah, hingga berhadapan dengan Luhan. "Kau bisa menanyakannya pada Baekhyun."

"Hmm.." Mata rusa si gadis memicing. "Jangan-jangan, kalian menculiknya!"

Tawa Sehun tersembur keluar, walau tidak begitu kencang. Mengingat masa-masa awal ketika Putra Mahkota memberi perintah untuk membawa Baekhyun, tuduhan menculik Luhan serasa menggelitik hatinya. Mau tidak mau, insiden konyol yang membuat hidungnya patah kembali diingatnya.

"Tidak, tidak." Tawa Sehun mereda. "Kami tidak mungkin senaif itu bukan?"

Luhan cemberut. "Benar, sih."

Derit pintu ruangan tempat Sehun dan Luhan bercengkrama terdengar. Sepersekian detik setelahnya, Jeonghan masuk dan membungkuk hormat.

"Yang Mulia datang."

Sehun menegakkan tubuhnya, bersikap sempurna. Luhan menegang, gadis itu menjilat bibir bawahnya dengan jantung yang terus berdetak cepat. Derap langkah terdengar memasuki ruangan. Sehun dan Luhan membungkuk hormat saat junjungan mereka tiba di ruangan.

"Yang Mulia."

Chanyeol memandang Sehun heran. Pria itu melirik Luhan, yang masih dengan sikap membungkuknya. Sehun tersenyum kikuk. Ia menyentuh lengan Luhan sebagai kode.

"Dia.." Sehun belum menyelesaikan kalimatnya saat Luhan akhirnya berdiri tegak. Baekhyun yang sedari tadi diam, menganga lucu. Luhan tersenyum kecil dan melambai padanya.

"Luhan!"

Baekhyun berlari dari sisi Chanyeol dan menubruk untuk memeluk Luhan. Sehun menjauh sedikit, memberi waktu keduanya untuk melepas rindu. Dua gadis itu mulai menangis.

"Kau hilang tanpa kabar, Baekhyun! Kau jahat sekali! Aku takut jika kau dibawa kabur paman itu!" Luhan sesunggukan. Ia melepas pelukan Baekhyun dan mengusap matanya yang sudah memerah.

Baekhyun tak kalah sembab. "Maafkan Aku. Aku ingin sekali menemuimu. Tapi..tapi.."

"Sudahlah." Luhan akhirnya tersenyum dalam tangisnya. "Yang penting kau baik-baik saja. Aku senang melihatmu sehat."

Dua gadis itu kembali berpelukan. Sehun tersenyum, merasa usahanya berhasil. Di lain sisi, Chanyeol terpaku bingung. Putra Mahkota itu merasa diabaikan.

"Sehun." Dan saat Sehun menoleh, gerak bibir Chanyeol terlihat jelas, membentuk kata,"Ikut Aku."

.

.

.

Kaki Chanyeol dan Sehun bersahutan dalam irama taktis sepanjang lorong istana yang mereka lewati. Chanyeol melangkah ke arah ruang kerjanya, membukanya perlahan tanpa menutupnya—membiarkan pria pucat di belakangnya masuk dan merapatkan pintu.

"Sebenarnya siapa itu Luhan?" tanya Chanyeol seraya menggerakkan pelan lehernya dan melonggarkan dasi. Putra Mahkota itu duduk di kursi kebesarannya.

"Dia teman Putri Mahkota." Debum pelan pintu yang tertutup mengakhiri kalimat Sehun. "Teman yang sangat dekat dalam hidup beliau."

Chanyeol mengangguk paham. Mata bulatnya menerawang kearah luar jendela, menatap bulan yang semakin cerah dalam gelap malam.

"Sehun.." Ia kembali menatap pengawal setianya. "Soal kontrak pernikahan—Aku dan Baekhyun merasa, seseorang telah mengendus hal itu."

Dahi Sehun berkerut. "Apa maksud Anda?"

Chanyeol menggeleng. "Aku tidak tahu pasti." Hela nafas terdengar. "Sehun, Kau menyimpan kontraknya, bukan?"

"Yang Mulia." Deru nafas Sehun memberat. "Di malam itu, Aku menaruh kontrak itu di meja diantara Anda dan Putri Mahkota. Itu terakhir kali Aku melihatnya—kontrak itu."

Kali ini, Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Ia menumpukan kepalanya diatas kepalan tangan. "Kontrak itu hilang. Aku meninggalkannya di malam itu, malam dimana Renternir Go menculiknya."

"Bagaimana dengan Putri Mahkota? Mungkin beliau menyimpannya?"

Chanyeol kembali menggeleng dan berdiri. Langkahnya Ia bawa pada mini bar. "Jika Ia menyimpannya, Ia tak akan panik seperti tadi." Bunyi klik botol brandy yang dibuka Chanyeol menggema. "Bukankah kau kerumah Baekhyun setelahnya?"

"Ya, benar." Sehun mengakui. "Hanya saja saat itu, Luhan sudah disana. Rumah Baekhyun sudah bersih."

"Berarti, Luhan..."

"Kupikir tidak juga, Yang Mulia." Sehun memotong kalimat Chanyeol. "Luhan sempat bertanya bagaimana Baekhyun bisa disini. Jika Ia memegang kontrak itu, seharusnya Ia tak pernah bertanya hal itu."

Bunyi brandy yang dituang ke gelas menjadi musik dalam ruangan itu. "Bagaimana jika Ia berakting?"

"Luhan terlalu polos untuk itu. Dia akan berkata sejujurnya, tipe orang yang sulit menyembunyikan sesuatu. Dia—"

Chanyeol menaruh botol brandynya agak keras. Helaan nafas keras terdengar dari mulutnya. "Aku melihat sebuah ketimpangan disini. Kata-katamu sama sekali tidak netral."

Sehun menelan ludah dan menunduk. "Itu yang Aku lihat, Yang Mulia."

"Apapun itu, Sehun." Chanyeol meneguk pelan brandynya. "Kontrak itu adalah kelangsungan hidup kerajaan. Temukan. Itu menjadi tanggung jawabmu mulai hari ini."

Sehun mengangguk. "Boleh Aku pergi sekarang, Yang Mulia?."

"Pergilah." sengau Chanyeol. "Dan tolong, panggil Baekhyun ke kamarku."

.

.

.

Kim Yejin melempar tasnya keatas sofa beludru di dalam kamarnya. Gadis itu mendengus kesal, semua rencananya malam ini gagal. Chanyeol dan Baekhyun tetap baik-baik saja. Dukungan untuk mereka pun semakin membanjir. Yejin merasa dikalahkan.

"Ada apa dengan wajah itu?" Youngmin berjalan pelan dengan seorang pelayan yang membawa nampan dibelakangnya. Yejin menatap kesal ayahnya.

"Apa Ayah masih harus bertanya?!" pekiknya.

Kekehan meluncur dari bibir Youngmin. "Kau merasa kalah, Putriku?"

"Bagaimana tidak?!" Yejin semakin histeris. "Mereka akan menikah minggu ini! Aku akan gagal menjadi Putri Mahkota!"

Youngmin berdecak. "Apa yang kau risaukan? Biarkan mereka menikah."

Yejin menggeleng frustasi. "Dan melepaskan kesempatanku menjadi Ratu? Tidak akan, Ayah!"

"Siapa bilang Kau akan kehilangan kesempatan?" Youngmin menyeringai, membuat Yejin terpaku bingung. "Lihatlah, kita mempunyai arena bermain."

Pelayan yang sejak tadi berada di belakang Youngmin melangkah maju dan menaruh nampan yang dibawanya diatas meja. Sebuah map merah dengan lambang kerajaan membuat Yejin bereaksi.

"Apa ini?"

Youngmin menyalakan cerutunya. "Bacalah."

Yejin ragu-ragu berderap maju. Tangannya terjulur mengambil map itu. Lirikan bingung dari ekor matanya membuat Youngmin terkekeh, tidak sabar dengan ekspresi lanjutan putrinya.

"I-ini..." Hening sesaat. Bola mata Yejin hampir keluar saat membaca huruf per huruf dalam map tersebut. Tenggorokannya tercekik. "..kontrak pernikahan?"

Youngmin menghembuskan asap cerutunya. "Bravo."

"Tapi bagaimana bisa?" ucap Yejin. Ia menatap tak percaya kontrak ditangannya.

"Satu hal yang kupahami, Chanyeol sama gilanya. Dia berambisi dengan tahtanya."

"Lalu? Tunggu apalagi? Sebarkan kontrak ini dan segalanya selesai!"

"Tidak." Youngmin mengerakkan jari telunjuknya. "Tidak bisa seceroboh itu, Putriku. Simpati masyarakat sedang mengarah pada istana. Kita akan menghancurkan diri sendiri jika melakukan itu."

Yejin mendengus. "Jadi, Ayah akan membiarkan mereka menikah?"

Youngmin mengangguk.

Yejin menjadi gusar. "Lalu setelahnya?"

Youngmin berdiri dan kembali menghembuskan asap cerutunya. "Kita akan kembali mengulang sejarah."

.

.

.

Lain Yejin, lain pula Kris Wu. Pria berdarah Kanada itu juga gusar, walau tidak se-menyedihkan Kim Yejin. Segelas Martini disesapnya, perlahan mencoba membasahi tenggorokan. Rintik hujan diluar sana membuat pikirannya kembali melayang.

Melayang ke sebuah figur semampai dengan rambut legam yang sempurna.

"Sial."

Kris melempar gelas yang digenggamnya hingga pecah berkeping di lantai. Pria itu mengusap kasar wajahnya. Huang Zi Tao benar-benar mengalihkan pikirannya.

Gadis itu masih sama seperti terakhir mereka bertemu. Hidung bangir, bibir tipis, mata kecil, dan tinggi semampai, dan rambut indah yang membuat Kris begitu tergila-gila—di usianya yang baru lima belas tahun.

Dia masih gadis yang sama, yang menyebut dirinya akan dijodohkan dengan Putra tunggal Panglima Kekaisaran China, alih-alih menatap Kris yang akan menyatakan cintanya.

Dan, dia masih gadis yang sama, yang menangis di pagi hari, meminta ampun saat Kris menghancurkan masa depannya, tiga tahun yang lalu, di hari seharusnya dia dilamar.

Dia masih sama. Kris tak akan melupakan wajah tersiksanya, saat meminta Kris untuk tinggal, dan membawanya pulang dengan keadaannya yang begitu menyedihkan.

Kris masih ingat, saat itu, sakit hati menggelapkan nuraninya. Ia ingat teramat jelas, bagaimana Ia meninggalkan si gadis tanpa berkata, mengabaikan tangisan mirisnya.

Kris masih ingat, hatinya hanya terpaku pada Huang Zi Tao, sampai kapanpun.

Rintik hujan berubah menjadi guyuran deras. Menimbulkan musik teratur pada tiap sentuhannya dengan genting, mengiringi Kris yang mulai terlelap, berlayar pada mimpi.

"Tao.."

.

.

.

"Iya, Aku tahu, Ma."

Tao mengeringkan rambutnya sambil mendekap telepon genggam dengan sebelah pipinya. Suara penuh kasih sayang dari seberang sana menuntut untuk didengarkan.

"Ya, pestanya lumayan. Chanyeol terlihat bahagia."

Kali ini, rambut basahnya sudah digelung rapi dengan handuk. Tao sesekali mengangguk, tangannya menjulur mengambil krim malam dan membawanya duduk ke pinggir ranjang.

"Mama harus tahu." Ia mengoleskan krim malam ke wajahnya. "Baekhyun jauh lebih cantik jika dilihat langsung." lanjutnya terkekeh.

Dengan satu tangan, Ia kembali menutup krim malamnya. "Sudahlah. Apa Zifan rewel?"

Sudut hatinya berdenyut rindu. Ini baru dua hari berpisah dengan Putranya yang belum genap tiga tahun. Bagaimana dengan minggu-minggu kedepannya, Tao bahkan tak berani memikirkan.

"Baguslah." Tao kembali berdiri, menaruh krim malam di atas meja riasnya yang penuh dengan foto berbingkai figur bocah menggemaskan. "Sudah Malam, Ma. Tidurlah, Aku mencintaimu."

Bunyi pip pelan menjadi akhir dari pembicaraan lintas negara antara Ibu dan Anak tersebut. Tao menghela nafas. Tangan kurusnya meraih satu bingkai terdekat. Figur bocah tampan dengan senyuman polos yang tercetak disana membuatnya tersenyum.

"Dia semakin mirip denganmu." Senyuman itu berganti dengan isakan miris. "Gege..."

.

.

.

Baekhyun memeluk erat Luhan di muka pintu utama Istana. Ini saatnya Luhan pulang dan Baekhyun memulai aksi merajuknya. Mencegah sahabat rusanya pergi.

"Aku tidak bisa menginap, Baekhyun. Sejak kapan Kau menjadi manja begini."

Baekhyun berdecih dan memukul lengan Luhan. "Baik! Sana pergilah, dasar Rusa gila!"

Luhan terkekeh. "Kita akan main jika Kau ada waktu. Aku juga akan datang ke pernikahanmu."

"Itu harus!"

Gantian Luhan yang mendecih. "Baiklah, kalau begitu izinkan Aku pulang! Hujan semakin deras!"

"Kau akan pulang sendiri?"

Si gadis rusa mengangkat bahunya. "Sepertinya begitu."

"Putri Mahkota."

Baekhyun dan Luhan menoleh. Sosok semampai dan kaku Sehun sudah berdiri di belakang mereka. Pria itu membungkuk hormat kearah Baekhyun.

"Putra Mahkota—"

"Ah, kebetulan!" Baekhyun berteriak, memotong ucapan Sehun dan membuat Luhan berjengit. "Sehun, antarkan Luhan."

"Apa?" Sehun dan Luhan membeo bersamaan. Membuat Baekhyun berdecak.

"Kubilang antarkan Luhan pulang. Hujan semakin deras. "

Baik Sehun maupun Luhan tak berkomentar. Kejadian memalukan diantara keduanya membuat mereka sedikit kaku, walau tidak menyedihkan. Baekhyun memicing.

"Sehun, Kau menolak perintah?"

Sehun terkesiap. "Tidak, Yang Mulia. Baik, Saya akan mengantarnya."

Baekhyun tersenyum puas. "Bagus! Ah, Kau tadi ingin berkata apa, Sehun?"

"Putra Mahkota mencari Anda, Yang Mulia."

"Ah, baiklah." Ia mengecek jam dinding. "Luhan, Aku harus ke dalam. Kau pulanglah, sampaikan salamku untuk Paman dan Bibi."

Luhan tersenyum. "Tentu. Mereka akan senang."

Baekhyun balas tersenyum dan memeluk Luhan. Dua gadis itu saling melambai sampai Baekhyun yang langsung berlari, menghilang di lorong dalam. Keheningan kembali terjadi.

"Kalian terlihat sangat dekat." Sehun berkomentar. Pria itu mengisi posisi Baekhyun sebelumnya, berdiri di sisi Luhan.

"Ya. Dia sudah seperti adikku. Dia bisa begitu manja tapi lebih sering menyebalkan. Mentang-mentang Juara Hapkido."

Sehun terkekeh. Tangannya meraih sebuah payung di sisi pintu, dan membukanya kearah luar. Pria itu berjalan terlebih dahulu, dan berbalik menatap Luhan.

"Mobilnya ada di halaman." ucapnya dengan sebuah senyum. Tangannya terjulur, mengundang Luhan untuk menggenggamnya. "Shall we?"

Luhan tersenyum malu—entah sudah berapa kali sejak Sehun hadir dalam hidupnya. Gadis itupun melangkah, menyambut uluran tangan Sehun. Kali ini, Hujan kembali menjadi saksi, dua anak manusia yang berbagi payung dan genggaman tangan.

.

.

.

Hujan diluar membuat Baekhyun yang hanya memakai piyama tidur bergidik kedinginan. Gadis cantik itu baru saja selesai mandi, setidaknya membuatnya segar agar tak tegang saat menghadapi Chanyeol.

Bunyi klik pada pintu kamar Chanyeol menjadi satu-satunya suara yang didengarnya. Baekhyun melangkah masuk. Dan, figur Chanyeol pun terlihat. Sedang bersandar rapi pada ranjangnya sambil membaca buku. Baekhyun melirik segelas brandy yang belum habis di meja nakas.

"Aku tidak tahu Kau bisa fokus membaca setelah mabuk."

Chanyeol menoleh dan terkekeh. Pria itu menaruh bukunya dan memberi isyarat agar Baekhyun duduk di sampingnya. Gadis itu pun menurut dan merangkak menaiki ranjang, untuk berbagi selimut.

"Sudah puas bertemu Luhan?" Bisik Chanyeol saat Baekhyun menyamankan diri dalam pelukannya. Baekhyun mengangguk.

"Lumayan. Aku merindukannya."

"Kau boleh bertemu dengannya sesekali. Minta saja Sehun antarkan." Ucap Chanyeol diiringi usapan sayang pada pucuk kepala Baekhyun.

"Benarkah?" binar Baekhyun.

"Tentu."

Baekhyun memeluk leher Chanyeol. "Terima kasih."

Dahi Chanyeol mengerut, pura-pura kesal. "Hanya itu?"

Dan, tanpa diduga, bibir tipis Baekhyun membekap bibir tebalnya. Chanyeol terkesiap, walau akhirnya Ia menikmati, mengambil alih dan semakin menekan gadisnya.

"C-Chan..."

Baekhyun tak lagi mudah bernafas. Chanyeol telah mendominasi, menindih tubuh mungilnya dan mengeksplor bibir pinknya. Ciuman mereka berubah panas, tubuh mereka saling menempel, mencari kenikmatan. Chanyeol melepas ciumannya, mata keduanya bertatapan.

"Baekhyun..." nafas Chanyeol memberat. "Tolong hentikan Aku."

"Tidak." Wajah Baekhyun memerah. Ia memeluk leher Chanyeol. "Jangan hentikan, Yang Mulia. Milikku adalah Milikmu."

Sebut saja Baekhyun gila, tapi tubuhnya sudah luar biasa panas. Ia menginginkan Chanyeol.

Hujan kembali menjadi saksi, saat ciuman selanjutnya menjadi panas bercampur gairah, dengan pakaian yang mulai terlepas satu demi satu.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Udah berapa lama dianggurin, dek? /nyengir/

Duh aku busy sangaaaaat ini. Ini chap selanjutnya, sengaja aku potong karena—you know—selanjutnya itu adegan 18+ /nyengir lagi/

Dilanjut abis lebaran ya! Puasa dulu jangan baca NC! hihi.

Tuh ada KrisTao~

Udah ah, sahur dulu.

Selamat berpuasa.!

Regards,

Purf.