COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 10
No one told me I was going to find you
Unexpected what you did to my heart
When I lost hope were there to remind me
This is the start
-"At the Begining", Richard Marx-
.
.
Dan aku mulai mengulurkan tangan, menerimamu sebagai tamu yang singgah di teras duniaku.
Hyukjae menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah berhalaman luas. Mendadak ia ragu dengan langkah yang diambilnya. Ragu apakah ini jalan yang tepat untuk mengobati kegelisahannya. Tapi, sekarang ia sudah berada disana, menghitung-hitung kemungkinan berbalik, dan membatalkan niatnya.
Sebentuk harapan muncul di hati Hyukjae melihat sedan silver di halaman, memantapkannya untuk melanjutkan langkah. Hyukjae melihat selot pagar tidak terkunci. Digerakkannya perlahan seraya menuntun sepedanya masuk, melintas batu-batu kecil.
Dulu, Hyukjae suka memandangi halaman rumah ini. Sangat asri, penuh berbagai tumbuhan. Di sudut depan terdapat kolam ikan yang kini kering. Kandang merpati berjejer di samping rumah terlihat kosong. Biasanya, lelaki paruh baya, Ayah Donghae menerbangkan sore hari dan menunggu burung-burung pulang ke kandang dengan gerakan menukik yang begitu elok. Kini halaman ini terasa sepi. Tidak ada siulan-siulan lelaki paruh baya itu.
Sampai di teras, Hyukjae mengerutkan kening melihat peralatan cat berantakan. Donghae mengecat sendiri? Bukankah keluarganya punya tukang langganan? Hyukjae semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki itu. Saat menginjakkan kaki lebih jauh, kerutan keningnya semakin dalam melihat lantai teras keabuan yang dulu selalu mengilap, berdebu tebal dan meninggalkan jejak kaki. Dua kursi jati juga terlihat tidak terawat. Tidak adakah yang membantu lelaki itu mengurus rumah? Bukankah Donghae bisa dengan mudah membayar jasa pembantu?
Masih dengan perasaan tak percaya, Hyukjae menekan bel di samping pintu. Dadanya berdebar tak menentu. Lama ia tidak melihat Donghae sejak lelaki itu menolongnya. Bermalam-malam ia dibayangi wajah lelaki itu, tidak tahu kenapa, yang membuatnya gelisah. Dan kegelisahan membuatnya tak nyaman.
Terdengar suara gaduh di dalam, seperti benda berjatuhan. Hyukjae mengintip lewat jendela, tetapi sayangnya tertutup tirai. Ia kembali menunggu di depan pintu seraya menebak-nebak, apa yang sedang dilakukan Donghae, lalu menarik napas dalam mendengar kunci pintu diputar.
Daun pintu dibuka, dan Donghae muncul di sana. Lelaki itu tampak terkejut mendapati siapa tamunya. Ekspresinya kosong. Beku. Jarak mereka begitu dekat, namun terasa berkilo-kilo kilometer.
Hyukjae tidak kalah terkejut. Tubuhnya seakan merekat kuat pada lantai yang dipijaknya, tidak bisa bergerak. Penampilan lelaki itu sangat berantakan. Wajah dan lengannya penuh dengan serpihan tepung. Sedang membuat apa Donghae di dapur? Rasanya baru tahu lelaki ini suka bergelut di dapur, tempat yang paling tidak disukainya.
"Annyeong." sapa Hyukjae dengan suara setenang mungkin.
"Annyeong." balas Donghae dengan sikap canggung.
"Maaf langsung masuk. Pagarnya tidak dikunci." Hyukjae menunjuk pintu gerbang dengan ibu jarinya.
Donghae melihat ke arah yang ditunjuk lelaki manis itu dan teringat. " Ah, ya! Aku lupa kunci pas pulang dari supermarket." Lalu ditatapnya Hyukjae dari atas sampai bawah. "Kakimu masih sakit?"
"Sudah tidak apa-apa." Hyukjae menarik sebuah senyum tipis.
"Appa!" Haru berlari menghampiri lelaki itu. Wajahnya tidak kalah kotor dengan Donghae. Mata mungilnya langsung melebar senang melihat kehadiran Hyukjae disana. "Sonsengnim!"
"Annyeong, Haru." Hyukjae mengusap sekilas rambut anak itu.
Kehadiran Haru menembus kesadaran Hyukjae. Ia memberikan kantong plastik putih pada Donghae. "Sebagai ucapan terima kasih."
Donghae menerimanya dan membuka sedikit kantong itu. "Apa isinya?"
"Chiken doritang. Masih suka?" Hyukjae menguatkan lutut agar tidak gemetaran.
"Dengan kimchi?" Donghae seakan tak percaya. Ada nada senang dalam suaranya.
Hyukjae mengangguk. "Dan pedas." Kemudian ia memberikan kantong plastik satu lagi ke Haru. "Untuk Haru. Sonsengnim buatin ayam goreng. Suka?"
"Suka!" Haru menyahut riang.
"Mau masuk, Hyuk? Makan bersama? Kebetulan kami sedang membuat donat." Donghae melebarkan pintu agar lelaki itu masuk.
Donat? Hyukjae tercengang. Sejak kapan Donghae bisa membuat donat? Ia mengikuti langkah Haru ke dalam rumah. Ruang depan gelap dan pengap. Tirai jendela seperti tidak pernah dibuka. Lantai di dalam berdebu tidak kalah tebal dengan diteras. Ruang tengah terlihat berantakan. Boneka, buku, majalah, dan koran berserakan di lantai. Rumah ini benar-benar tidak terurus.
Ketika berada didapur, Hyukjae merasa berada di lokasi pasca perang. Kulit telur, tepung terigu, toples gula, bungkus ragi, tak beraturan. Tumpahan tepung terigu memenuhi sudut lantai. Piring dan gelas kotor menumpuk. Sampah menggunung di tempat sampah. Hyukjae melihat adonan donat dalam baskom kecil, membuatnya hampir tergelak. Benar saja dugaannya, Donghae tidak akan bersahabat dengan masak-memasak. Adonan terlalu banyak margarin seperti itu tidak akan mengembang.
"Buruk?" tanya Donghae tak yakin melihat raut wajah Hyukjae.
"Tiga dari sepuluh, Hae." Hyukjae tertawa.
"Seburuk itu?" Donghae membelalakan matanya. Ia menunjukkan buku resep ke depan Hyukjae. "Aku mengikuti langkah-langkah disini."
Dilihatnya buku resep itu, lalu kembali menatap lelaki yang masih tampak penasaran itu. "Bagaimana kalau aku buatkan adonan baru?"
Donghae terdiam sejenak. Ia menatap adonan buatannya dan mengangkat bahu. "Kalau kau tidak keberatan."
"Oke!" Hyukjae mengusap rambut Haru di sampingnya. "Haru mau bantu Sonsengnim buat donat?"
"Mau!" Haru tersenyum penuh semangat.
"Kau mau ikut membantu?" Hyukjae berpaling pada Donghae.
"Sebaiknya, aku beres-beres ruang makan," tukas Donghae seraya melangkah ke luar dapur.
Hyukjae tertawa kecil melihat lelaki itu berlalu. Mereka tidak pernah tertawa bersama di tahun terakhir pernikahan. Tidak pernah melakukan hal menyenangkan. Tidak pernah lagi lelaki itu datang ke dapur, mengejutkannya dengan ciuman lembut. Tidak pernah lagi ia mengomel karena lelaki itu menumpuk sampah berhari-hari. Juga tidak pernah ada lagi sesuatu yang mereka bagi. Kehidupan milik mereka masing-masing. Dua orang asing.
Sebuah perasaan hangat menjalari dadanya, nyaman. Tetapi ia juga merasakan sesak meningat bagaimana Donghae meninggalkannya sendiri di dalam kamar setelah mengatakan akan mengurus perceraian mereka. Lelaki itu meninggalkannya dan tidak menyediakan pilihan untuknya.
Mendengar suara nyaring Haru memanggilnya, perhatian Hyukjae teralihkan. Ditatapnya mata pekat anak itu. Ia tidak tahu mengapa harus berada di sini. Mengapa begitu ingin melihat lelaki itu dan putrinya itu. Mengapa kegelisahannya hilang saat bersama keduanya. Hyukjae menghela napas panjang. Mungkin ini hanya satu dari sekian banyak pemahaman.
.
.
.
Donghae meletakkan piring-piring kotor bekas makan di tempat cuci piring. Ditariknya napas dalam-dalam, berharap menormalkan nadinya yang berdenyut cepat. Kegilaan apa lagi sekarang dengan menghadirkan Hyukjae di rumahnya? Pikir Donghae bingung. Ia masih setengah percaya, lelaki manis itu yang berada di depan pintu rumahnya. Apa memang ini kesempatan itu?
Dengan gelisah, Donghae mengusap wajahnya. Di luar kehendaknya, ia seakan dibawa masuk dalam binar keakraban Hyukjae dan Haru di ruang makan ke dalam suasana berbeda denagn lima tahun belakangan. Mendengarkan celoteh panjang Haru, mendengar tawa, dan merasakan detak jantungnya sendiri.
Satu-satunya aroma yang tercium setiap hari dirumah ini adalah aroma pengap rumah yang lama tak ditinggali. Namun, hari ini, aroma manis Hyukjae ikut membaur, membuat segalanya menjadi lain. Ia mengingat hangat senyum lelaki manis itu, sikap lembutnya, sorot penuh perhatiannya.
Benar-benar sinting! Pasti semua hanya tipuan imajinasinya. Ia mungkin kelelahan mengecat rumah sehingga otaknya tidak bekerja sempurna. Diambilnya satu piring dan dibukanya keran.
"Mau dengar pendapat Eomma, Hae?" Ibu menatap lekat Donghae setelah acara pemberkatan dengan Sohyun. "Jujur, Eomma tidak begitu suka dengan Sohyun."
"Sudahlah, Eomma." tukas Donghae tak sabar. "Eomma jangan banyak berharap aku akan bersatu lagi dengan Hyukjae."
"Eomma cuma tidak mau kau menyesal, Hae." Sang Ibu mengusap lengan putra bungsunya itu. "Apa yang benar di mata kita, belum tentu benar dimata Tuhan."
Gerakan tangan Donghae berhenti ketika pintu dapur dibuka. Ia menoleh, melihat Hyukjae berjalan mendekat, membawa piring-piring kotor yang tersisa diruang makan. Dengan sigap, Donghae meraih piring-piring itu. Mata mereka bertemu. Nadinya kembali berdetak cepat.
"Mau kopi?" Donghae mengalihkan pandangan sambil menumpuk piring-piring itu.
"Biar aku yang buat." Hyukjae mengambil dua gelas, juga toples berisi kopi dan gula. "Haru sedang menggambar di dalam." Katanya sambil menyendokkan kopi kedalam kedua gelas itu.
Donghae menanggapi dengan senyum tipis. Ia mengusapkan sabun ke piring yang sudah dibasuh air. Otaknya bekerja keras mencerna keadaan. Rasa gelisah dan cemas mengaduk-aduk hatinya, membuatnya tidak dapat memusatkan perhatian pada piring di tangannya. Ia berusaha menghindari Hyukjae, tetapi benaknya menikmati keberadaan lelaki manis itu. Seperti waktu berputar kembali, ke beberapa tahun lalu.
"Terima kasih sudah membantuku membersihkan dapur, Hyuk. Seharusnya, kau tidak usah repot-repot." Kata Donghae.
"Tidak masalah! Aku heran saja, kau betah melihat rumah seperti kapal pecah begini, Hae." Hyukjae menatapnya singkat.
Donghae hanya menanggapi dengan senyum tawar.
Selesai mengaduk kopi, Hyukjae menaruh dua gelas itu di tengah meja, lalu ia bersandar di meja dan mengaitkan jemarinya di tepi permukaan. "Mmmm... boleh aku tanya sesuatu?" tanyanya ragu.
"Silahkan." Donghae menoleh sekilas, sementara tangannya masih berkutat dengan piring dan sabun.
"Kenapa pindah ke kota ini?" Hyukjae menggigit bibir bawahnya, khawtir pertanyaannya menyinggung.
"Mencari suasana baru. Bosan, kan, di Seoul terus." Ujar Donghae santai. Ia menyelesaikan piring terakhir, kemudian mengambil salah satu gelas kopi yang ditaruh Hyukjae. Menikmati aroma hangat yang menguar dan perlahan menyerputnya. Kopi yang kental dan manis. Ternyata, Hyukjae masih ingat kopi kesukaannya.
"Pindah kerja?" tanya Hyukjae lagi.
Tubuh Donghae tidak dapat digerakkan mendengar pertanyaan itu. "Begitulah." Ia meneguk kopinya. Terasa ada gumpalan di tenggorokannya. Ia terperangkap dalam kesalahan masa lalunya. Kesalahan yang dikiranya sudah menghilang dalam putaran waktu, ternyata kembali dalam kentalnya kopi ini.
Begitulah. Jawaban Donghae yang sering di dengar Hyukjae untuk pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya atau tidak ingin menjelaskan lebih detail. Hyukjae tahu diri untuk tidak membahas hal itu lebih lanjut dan mengalihkan ke hal lain. "Oh, ya, kau mengerjakan pekerjaan rumah sendiri?" Pandangan Hyukjae menyelidik.
Donghae mengangguk, menghindari tatapan lelaki manis itu. "Siapa lagi? Kita tidak bisa selalu mengandalkan orang lain, kan?"
"Tidak berniat memakai pembantu?" Hyukjae miris melihat lelaki itu terlihat sangat kacau. Matanya letih. Tubuhnya lebih kurus daripada kali pertama ia melihatnya di Kindergaten. Ia ingin bisa menyuruh Donghae istirahat saat ini juga, membuatkan susu cokelat hangat, lalu memijat pelan kepalanya hingga tertidur. Seperti dulu.Tapi, mereka bukan siapa-siapa lagi sekarang.
"Santai saja, Hyuk. Aku bisa mengurus semuanya." Donghae meneguk kopinya.
Hyukjae terdiam. Bagaimana bisa ia santai, sementara semua memang tidak terurus? Bahkan, Donghae tidak bisa mengurus dirinya sendiri. Melihat rambut lelaki itu acak-acakan, Hyukjae gemas ingin menyisiri dengan jarinya. Juga cambang samar yang belum sempat dicukur di sepanjang pipi hingga ke dagunya.
"Kau dan Haru makan ramen terus setiap hari?" Hyukjae menunjuk dua kardus ramen di sudut ruangan.
"Aku yang sering makan ramen. Kalau Haru aku belikan nasi di restoran cepat saji."
Hyukjae menghela napas panjang, menekan emosinya. Pantas lelaki itu seperti orang kekurangan gizi. "Kalau meeting sampai malam, Haru dengan siapa dirumah?"
"Tidak ada meeting sampai malam lagi, Hyuk." Donghae meletakan gelas kopinya yang sudah kosong.
.
.
.
Lagu Josh Groban mengalun dari musisi jalan, berpadu dengan dengung percakapan, suara langkah-langkah, dan ramainya kendaraan. Hyukjae duduk gelisah menatap Donghae di depannya yang begitu lahap menyantap samgyeopsal. Ia tidak ingat pasti kapan kali terakhir melihat lelaki itu dari jarak sedekat ini. Memang sulit mendeskripsikan bagaimana rasanya berdekatan, berbagi banyak hal dengannya, dan pernah begitu dicintainya. Ia mengenal betul cara makan lelaki itu.
Hyukjae pernah memperhatikan seseorang yang sedang makan dan mengingat Donghae. Ketika tersadar, ia mengutuk diri karena memori yang seharusnya tak pernah hadir dan membuatnya merasa sendirian.
Perlahan-lahan, Hyukjae menyuap makanannya begitu merasakan Donghae tengah menatapnya. Tatapan yang ingin dilihatnya, tetapi harus ia hindari. Dengan merasakannya saja, bisa membuat getaran halusn sepanjang tubuhnya. Lalu, ketika mengangkat wajah, ia mengira tatapan itu sudah beralih, ternyata lelaki itu sedang tersenyum padanya.
"Aku jadi ingat waktu kita terpaksa makan di sini karena hujan. Padahal, kita baru makan Ramen." Ujar Donghae dengan pandangan menerawang.
Cahaya lampu di dalam tenda memancarkan pesona gelap lelaki itu. Donghae masih dengan ketampanannya. Alis tebalnya. Tulang rahangnya yang samar. Bentuk bibir tipis yang seimbang. Hyukjae berusaha mengendalikan resahnya. "Hmm... itu waktu kita ke sini mendadak, kan? Kau datang ke tempat bimbingan belajarku ketika aku sedang mengajar, lalu kau bilang ke atasanku kalau keluargaku ada yang sakit."
Donghae tertawa mengingatnya. Matanya menatap jauh, seakan-akan kejadian berada di depan rumahnya. "Atasanmu itu percaya sekali padaku, asal kau tahu."
"Kau mempunyai ekspresi yang meyakinkan, Hae." Hyukjae ikut tertawa. Lelaki ini memang selalu membuatnya terkejut. Selalu menunjukkan perasaannya dengan hal-hal yang tidak bisa diduganya.
"Aku itu Cuma bilang sedikit kok, Hyuk. Tapi, matanya langsung berair." Donghae menggelengkan kepala. "Aneh-aneh saja."
Tawa mereka mereda dan kembali larut dalam keheningan. Donghae meneguk minumnya dan menatap Hyukjae. Ada keintiman dari sorot mata keduanya. Hyukjae terus meningatkan dirinya pada kenyataan siapa mereka saat ini. Ia mengalihkan pandangannya, menyelamatkan diri.
Haru yang duduk di samping Donghae tampak mengantuk. Kepalanya disandarkan di lengan ayahanya. Donghae mengangkat tubuh anak itu kepangkuannya. Ia membisiki sesuatu dan anak itu menggeleng, memilih menekuk diri dalam lipatan lengan Donghae.
Hyukjae tersenyum seraya mengusap rambut depan anak itu. Ia ingat pernah mempunyai mimpi tentang sebuah keluarga yang bahagia. Mendengar suara nyaring anak-anak, melihat suaminya bermain dengan mereka, tertawa bersama. Mimpi yang tidak pernah ada. Seseorang tempatnya menyimpan mimpi itu, pergi untuk mengejar mimpinya sendiri.
"Aku merasa lucu, Hyuk." Donghae memeluk tubuh mungil yang tertidur itu. "Terkadang, kita menginginkan sesuatu yang kita miliki untuk tidak pernah hilang. Tetapi, kita lebih sering lengah dan tidak menyadari seusatu itu sebenarnya sudah hilang." Suaranya terdengar lirih.
Hyukjae tidak begitu yakin menangkap apa yang dimaksud Donghae di balik kata-katanya. Ia hanya menerka-nerka dan menanggapi. "Mungkin, tidak benar-benar hilang, Hae. Hanya kita perlu lebih jauh."
Kembali tidak ada suara antara mereka. Membiarkan hiruk-pikuk sekitar melingkupi. Malam terasa hangat. Bukan oleh kepadatan tenda, bukan oleh suara-suara, bukan oleh orang-orang yang melintas memenuhi jalan, tetapi oleh keberadaan diri mereka satu sama lain—tanpa pernah mereka sadari. Ada kekuatan yang tak kentara, seperti pergolakan dalam air sungai yang tenang.
.
.
.
TBC
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey
