Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto

Inspirated by :

49 — a J-Drama by Shinji Nojima (writer)

Soraoto — a manga by Takamiya Satoru

.

Tittle : A Story Of 49 Days

Genre : Supernatural, Drama, Angst

Rating : T

Pairing: NaruSaku, MenmaIno, NaruSara, slight NaruIno, MenmaSaku

Summary: Mereka berdua bersahabat namun kepribadian keduanya sangat bertolak belakang. Keduanya memiliki pendapat yang berbeda tentang arti kehidupan. Sakura yang angkuh dan memandang semua hal dengan logika. Ino yang ramah dan sangat mempercayai hal-hal yang berbau supernatural. Akankah kisah dalam 49 hari mengubah sikap dan takdir keduanya?

Warning! : AU, OOC, typo, miss typo dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page.

Enjoy and Hope You Like It!

.

Chapter 9 : Naruto's death Part- One

.

Setiap kali aku bermimpi aku sering dipanggil oleh seorang wanita yang tidak ku kenal. Wanita itu memiliki rambut panjang sepunggung dan mengenakan pakaian serba putih.

Aku menghampirinya. Dan ketika aku mendekat padanya aku tersadar kalau wanita itu adalah Ibuku yang sudah meninggal.

"Okaa-san?"

Ibuku hanya tersenyum dan mengulurkan tangannya padaku. Aku membalas senyumannya dan aku ingin sekali menyambut uluran tangannya.

Jarak diantara kami semakin dekat. Aku hampir memegang tangannya ketika aku mendengar suara lain memanggilku.

"Naruto! Jangan pergi ke sana!"

Aku tidak jadi memegang tangan Ibuku dan menoleh ke belakang. Ternyata seseorang yang berdiri di sana adalah Menma.

"Naruto kau adalah diriku yang lain karena itulah kumohon jangan pergi!"

Aku belum bisa meninggalkan Menma sendirian jadi aku tersenyum dan menghampirinya.

.

Aku pertama kali bermimpi seperti itu satu bulan yang lalu. Aku akan menerima takdirku dan aku sudah siap jika Tuhan memanggilku. Namun di dalam lubuk hatiku yang paling dalam, sebenarnya aku sangat takut akan kematian. Saat itulah aku menyadari betapa serakahnya manusia itu.

Mungkin saja ketakutan yang kurasakan saat itu hanyalah imajinasi tetapi aku memang sudah mempunyai firasat sebelumnya dan firasat itu bahkan semakin kuat setelah aku bertemu dengan gadis aneh yang selalu membicarakan Thanatos.

.

25 Maret 2016

Naruto memerhatikan bunga sakura yang sedang bermekaran. Beberapa hari yang lalu penyakitnya kambuh setelah bertanding one on one dengan Sasuke. Menma bahkan sampai memarahinya karena hari itu dia menyamar menjadi Menma untuk meminta maaf pada Mikoto, tetapi ujungnya malah bermain basket bersama Sasuke. Dan saat ini dia sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah sakit dengan ditemani seorang perawat.

"Yappari, musim semi memang indah!"

"Hm! Bunga sakura-nya cantik sekali!" komentar Suster Yoshino.

Naruto memerhatikan sekeliling taman dan mendapati seorang gadis berambut cokelat panjang sedang duduk di salah satu kursi taman sambil melukis.

"Yoshino-san, siapa kakak itu?"

"Itu adalah pasien yang mencoba bunuh diri satu minggu yang lalu?"

"Eh? Bunuh diri?"

Naruto benar-benar menyayangkan sikap anak-anak muda zaman sekarang yang sering sekali melakukan percobaan bunuh diri. Ia merasa heran mengapa di dunia ini masih banyak orang yang tidak menghargai hidup, padahal kehidupan itu penuh dengan warna.

"Sebenarnya itu bukanlah yang pertama kalinya. Pernah saat aku memeriksa kondisinya, aku melihat lengan kirinya penuh dengan bekas luka sayatan. Anak itu sama sekali tidak memiliki ekspresi. Aku tidak pernah melihatnya tersenyum, tertawa, marah, ataupun menangis. Dia juga mempunyai dokter psikiater tetapi sepertinya dokter psikiaternya itu tidak bisa berbuat apa-apa."

"Dia sepertinya seumuran dengan Karin-Nee. Kenapa dia ingin bunuh diri?"

"Entahlah, menurutku dia itu abnormal. Dia juga sering sekali mengatakan hal-hal yang aneh, jadi Naruto-kun kau jangan mendekatinya ya?"

"…tapi sepertinya dia sedang melukisku."

"Masa?"

"Dia sering melihat padaku."

Suster Yoshino mengalihkan pandangannya pada gadis itu dan berseru. "Ah, benar juga!"

"Aku haus. Aku mau membeli minuman dulu."

"Dame!" tegas Suster Yoshino.

Yoshino merasa khawatir jika itu hanyalah alasan Naruto untuk melarikan diri. Pasiennya yang satu ini memang cukup sering kabur dari rumah sakit sehingga dia lah yang kena marah dr. Kabuto. Kali ini dia bertekad untuk tidak membiarkan hal tersebut terulang lagi.

"Doushite?"

"Biar aku yang belikan, Naruto-kun tunggu saja di sini. Awas ya, jangan mencoba untuk kabur!"

"Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

"Baguslah kalau begitu! Aku pergi dulu! Kau mau minum apa Naruto-kun?

"Aku ingin jus buah!"

"Baiklah, tunggu sebentar ya?"

"Hm!"

Yoshino sudah pergi dan Naruto tampak senang karena berhasil menjauhkan Suster muda itu darinya. "Yoshino-san kalau kau bilang untuk menjauhi kakak itu, aku malah ingin mendekatinya."

Naruto tersenyum lalu menghampiri gadis berambut cokelat tersebut. Ia duduk di samping kiri si gadis yang masih sibuk menggambar. Merasa penasaran, Naruto pun mengintip buku sketsa yang sedang dipegang gadis itu. Naruto mengerutkan kening, rupanya gadis itu sedang menggambar pohon sakura sebagai backround dan juga sosok pria tampan dan gagah. Pria itu memiliki ekspresi dingin dan tatapan mata yang tajam.

"Eh? Kupikir Kakak sedang menggambarku?"

"…" Gadis itu hanya menoleh sekilas pada Naruto kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada pohon sakura yang belum selesai digambarnya.

"Apa kakak hanya menggambar latar belakang lalu melengkapi gambar tersebut dengan sosok yang ada dalam imajinasi?"

"Imajinasi?" tanya si gadis yang kemudian menggeleng. "Sejak tadi dia berada di belakangmu."

"Eh? Siapa maksudmu?"

"Thanatos."

"Hah?"

"Thanatos selalu mengikutiku dan juga kau."

"Thanatos? Maksudmu Dewa Kematian dalam Mitologi Yunani? Jadi karena itu kau juga menggambar sayap?"

"Thanatos memang punya sayap. Aku tidak asal menggambar."

"Maksudmu kau bisa melihatnya? Thanatos maksudku!"

Gadis itu hanya mengangguk. "Aku sudah berjanji pada Guren-sensei untuk tidak mati sebelum umur 20, tetapi setiap saat aku ingin mati."

"Kenapa kau ingin mati?" tanya Naruto.

Gadis itu malah balik tanya. "Kenapa kau ingin hidup?"

"Eh?"

"Kau tidak akan bisa lari dari Thanatos."

Naruto mulai merasa tidak nyaman. Gadis ini mulai bicara ngelantur, tetapi sejak tadi tidak ada sedikitpun perubahan ekspresi darinya. Dia tetap berwajah datar sehingga Naruto tidak tahu apakah gadis ini hanya becanda atau memang sakit mental.

"Yoshino-san benar, ternyata kau memang aneh."

"Jangan khawatir! Thanatos selalu membawa kematian yang tenang dan damai, berkebalikan dengan salah satu saudaranya Ker— pembawa kematian yang menyakitkan."

"Aku tidak mengerti mengapa kakak ingin mati? Kakak mungkin juga sudah tidak peduli pada diri sendiri, tetapi coba pikirkan orang-orang yang menyayangi kakak! Orang tua mu, saudara-saudaramu, bahkan kekasihmu. Pikirkanlah bagaimana perasaan mereka jika kau tiada. Kalau kakak meninggal karena suatu penyakit atau kecelakan mereka mungkin bisa merelakan kakak tetapi kalau kakak bunuh diri, itu hanya akan membuat mereka menderita."

"Aku tidak punya saudara ataupun seorang kekasih. Ibuku juga sudah lama meninggal dan aku tidak peduli pada Ayahku."

"Berapa umur kakak?"

"19 tahun."

"Kalau begitu, tepati janjimu pada dokter psikiater mu. Jangan mati sebelum umur 20. Sebelum ulang tahunmu nanti kau mungkin akan bertemu dengan seorang pria yang kau cintai. Saat itu kau akan mengerti apa yang aku katakan."

Naruto tersenyum. Ia kemudian undur diri. Tiba-tiba saja gadis itu mencengkram tangannya.

"Ada apa?"

"Apa kau suka gambar ku?"

"Ya, lukisanmu bagus sekali! Apa kau Mahasiswi Jurusan Seni?"

"Mm!"

"Mendiang Ibuku juga seorang Artist!"

"Begitu, jadi Ibumu juga seorang seniman sepertiku? Apa dia juga suka melukis?"

"Ibuku pembuat keramik, tetapi gambarnya memang bagus. Dia pernah membuat sebuah vas bunga yang sangat indah. Itu adalah karyanya yang paling aku sukai."

"Kuberikan padamu!" Gadis itu merobek satu lembar kertas sketsanya lalu menyerahkan gambar itu pada Naruto.

"Yang benar? Aku boleh memilikinya?"

"Ya!"

"Arigatou."

"Berhati-hatilah karena kau akan mati sebelum aku."

Naruto hanya tertawa. "Apa kau seorang peramal?"

"Orang normal juga bisa mengetahuinya. Kau sekarat."

"Mm… jadi aku memang terlihat seperti orang sakit, ya?"

"Kenapa kau masih bisa tersenyum? Aku tidak mengerti, padahal aku baru saja mengatakan hal yang kejam kepadamu."

Tiba-tiba saja Suster Yoshino muncul di hadapan mereka dan langsung melepas pegangan tangan gadis itu dari Naruto. Ia kemudian menunjukkan ekspresi tegas pada Naruto.

"Naruto-kun, apa yang kau lakukan?"

"Iie. Ore wa—"

"Ayo kembali ke kamarmu!" potong Yoshino sambil menarik tangan Naruto.

"Sampai jumpa lagi onee-san!" seru Naruto pada gadis itu.

Gadis itu memerhatikan Naruto yang sedang ditarik paksa oleh Yoshino dengan pandangan kosong— lebih tepatnya dia melihat ruang kosong di belakang punggung Naruto.

Begitu sampai di kamar rawat Naruto, Suster Yoshino langsung menceramahi pasiennya itu.

"Naruto-kun, sudah kubilang untuk tidak mendekati gadis aneh itu 'kan?"

"Kakak itu bukan orang jahat kok!"

"Aku tidak bilang kalau dia orang jahat. Jangan bicara dengan orang asing, apalagi orang aneh sepertinya."

"Hai!"

Suster Yoshino hanya mendesah memerhatikan Naruto yang seolah tidak peduli dengan perkataannya dan malah sibuk memerhatikan kertas sketsa bergambar pohon sakura dan seorang pria bersayap yang dia dapatkan dari gadis itu. Gadis itu memang cantik mungkin karena itulah Naruto tertarik padanya. Namun Yoshino tidak bisa membiarkan pasien kesayangannya berinteraksi dengan gadis aneh itu.

"Oh iya, Naruto-kun! Ini jus yang kau minta. Aku meminta ibu penjaga kantin untuk membuatnya karena kau tidak diperbolehkan untuk meminum jus kalengan."

"Oh, pantas kau perginya agak lama Yoshino-san!" ujar Naruto yang kemudian meletakkan kertas sketsa yang sejak tadi dipegangnya di atas meja nakas, lalu menerima gelas plastik berisi jus apel itu dari Suster Yoshino dan meminumnya dengan menggunakan sedotan.

"Kenapa tidak ditambahkan es batu?"

"Tidak boleh!" tegas Yoshino pula.

"Dasar pelit! Yah, tapi terimakasih."

"Dari mana saja kau? Sejak tadi aku mencarimu kemana-mana tahu!" ujar seseorang yang baru saja datang.

"Menma-kun? Sudah pulang dari sekolah?" tanya suster Yoshino sambil tersenyum.

"Hai. Yoshino-san maaf, aku ingin berbicara berdua saja dengan Naruto."

"Ya, silakan!" ucap suster Yoshino yang kemudian lekas pergi meninggalkan ruangan.

"Kau dari mana saja?" tanya Menma pula.

"Hanya pergi jalan-jalan sebentar," jawab Naruto yang kemudian meletakkan minumannya di atas meja lalu kembali mengambil kertas sketsa dan mengamati gambar itu sekali lagi.

"Oh, jadi namanya Yakumo Kurama?"

"Siapa?"

"Kakak yang melukis ini."

Menma pun ikut memerhatikan lukisan yang sedang di pegang Naruto. "Apa itu Malaikat?"

Naruto menggeleng. "Shinigami."

"Imajinasinya liar sekali! Masa iya Shinigami setampan ini?"

"Seorang Artist 'kan memang seperti itu Menma-Nii."

"Ibu kita tidak seperti itu! Ne, seperti apa wajah orang yang melukis itu? Dia laki-laki atau perempuan?"

"Perempuan. Cantik sih tapi agak aneh."

"Jangan bicara dengan orang asing! Harus berapa kali aku bilang?!"

"Dia bukan orang jahat Menma-Nii. Aku tak menyangka kalau dia memiliki marga yang sama dengan Bibi Kurama."

"Kalau tidak salah, Kurama-san memang pernah bercerita kalau dia mempunyai seorang keponakan perempuan."

"Jangan-jangan Kakak itu memang keponakannya!"

"Mungkin. Seingatku Kurama-san pernah bilang bahwa keponakannya itu seorang anak indigo. Dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat."

"Begitu ya? Kelihatannya Kakak itu memang keponakannya!"

"Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu?"

"Yeah!"

"Apa yang dia katakan?"

"Thanatos selalu mengikutinya, begitu katanya."

"Thanatos? Maksudmu Dewa Kematian dalam mitologi Yunani? Saudara kembarnya Hipnos?"

"Hn."

"Hii! Dia membuatku merinding! Apa gambar itu—"

"Thanatos."

"Bukannya Thanatos itu sering digambarkan sebagai pria tua bersayap?"

"Itu Charon."

"Charon itu sering digambarkan sebagai pria tua bertudung, bukan pria tua bersayap!"

"Menma-Nii memang tau banyak tentang Mitologi Yunani, ya?"

"Aku kan pernah membaca buku tentang Mitologi Yunani. Naruto jauhi gadis itu! Aku tak peduli meskipun dia adalah keponakannya Kurama-san!"

"Kalau begitu biarkan aku pulang ke rumah, ya?"

"Eh?"

"Kau bilang aku tidak boleh menemuinya lagi!"

"Jangan gunakan itu sebagai alasan! Kau itu masih butuh perawatan intensif!"

"Pokoknya aku mau pulang! Katakan itu pada Kabuto-sensei!"

Menma hanya menghela nafas panjang. Ia jadi menyesal karena sudah menyuruh Naruto untuk menjauhi Yakumo Kurama.

oOOo

.

.

01 April 2016

Pada tanggal 28 Maret 2016, aku bertemu dengan seorang gadis cantik yang mengaku sebagai Malaikat Penjemput Roh. Sejak saat itu semua hari yang kulalui jadi lebih menyenangkan. Sara-Nee, begitulah aku memangginya. Dia memandangku dengan tatapan penuh cinta. Dia sangat baik dan selalu mengabulkaan permintaanku. Sara-Nee selalu berada di sisiku selama satu minggu ini. Dan hari ini aku melihatnya menangis tetapi aku tidak tahu apa alasannya menangis. Pikiranku kosong. Menma dan semua orang terlihat panik. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

Ranjang dorong itu didorong dengan tergesa-gesa oleh beberapa orang perawat. Menma mengikuti mereka dengan ekspresi yang terlihat begitu khawatir.

"Naruto! Naruto!"

Ia terus memanggil nama itu sambil memperhatikan ekspresi kesakitan Adiknya yang tengah berbaring di atas ranjang tersebut. Naruto terlihat sangat sulit untuk bernafas meskipun di ambulance tadi para medis sudah melakukan tindakan medis dasar dan memberikannya oksigen portable. Mata biru itu terpejam. Dadanya naik turun. Sementara tangannya mencengkram erat dada kirinya.

Akhirnya mereka tiba di ruang emergency. Para petugas ambulance tadi sudah bersiap memindahkan tubuh Naruto dengan hai-hati.

"Ayo pindahkan! 1, 2, 3!" intruksi seorang dokter wanita.

"Gunting bajunya dan tolong siapkan tabung oksigen!"

Seorang perawat bergegas menggunting kaos yang dikenakan Naruto. Perawat lainnya lekas menyiapkan tabung oksigen dan mulai mengganti masker oksigen portable yang tadi dipasangkan petugas ambulance dengan masker oksigen baru yang sudah disiapkan tadi.

"Bernapaslah perlahan," kata dokter umum tersebut sambil memasangkan alat-alat medis di dada Naruto.

"Apa kalian tahu anak ini pasien siapa?"

"Kabuto-sensei," jawab seorang perawat.

"Kabuto-san? Cepat panggilkan dia!"

"Hai!"

Perawat yang menjawab tadi lekas pergi untuk mencari dokter Kabuto. Sementara dokter umum wanita yang barusan memerintahnya kembali memeriksa kondisi Naruto dengan seksama.

"Isaribi?"

"Ya, Haruno-sensei?"

"Cepatlah cek apakah masih ada ruang ICU yang kosong!"

"Hai!"

"Bertahanlah, nak!"

Mebuki Haruno memejamkan mata ketika menyadari kalau pasien yang sedang ditanganinya baru saja kehilangan kesadaran.

.

.

Ketika aku membuka mata orang yang pertama kulihat adalah Menma. Dia menangis seperti yang sering dilakukannya selama ini setiap kali penyakitku kambuh. Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi sebelumnya. Kalau tidak salah aku terserang demam dan flu saat aku baru pulang bersama Sasuke setelah kami bermain street basket.

Saat itu sebelum kami tiba di stasiun, hujan turun dengan deras. Sasuke lupa membawa payung dan aku sendiri tidak membawa payung. Sasuke menyarankan untuk berteduh dulu hingga hujan reda tetapi aku tidak peduli dan tetap menerobos hujan. Sasuke memarahiku tetapi aku tetap tidak peduli karena aku tidak suka diperlakukan seperti itu meskipun aku tahu kalau Sasuke hanya khawatir.

Begitu kami sampai rumah, Sasuke menceritakan semua yang terjadi pada Menma. Sasuke kemudian pamit pulang dan Menma langsung memanggil Kabuto-sensei karena aku tidak mau pergi ke rumah sakit. Malam harinya aku kemudian bertengkar dengan Menma. Lalu…

"Dokter akan datang sebentar lagi," kata Menma padaku.

Aku hanya mengangguk karena rasanya dadaku masih terlalu sakit jika dipaksakan untuk berbicara.

"Naruto aku minta maaf atas sikapku beberapa hari ini."

Aku hanya menggeleng dan tersenyum padanya. Itu bukanlah kesalahan Menma. Akulah yang lebih dulu memulai pertengkaran itu.

"Tidak. Aku yang salah bukan kau."

Terkadang Menma memang bisa membaca pikiranku seperti ini.

"Gadis yang bernama Akazawa itu juga bilang kalau kemarin penyakitmu sampai kambuh gara-gara para anak berandalan itu mengejar-ngejar kalian karena mereka pikir kau adalah aku. Maafkan aku, gara-gara aku kau jadi harus dirawat di ruang ICU."

Ruang ICU? Benar, sepertinya ini ruang ICU. Aku juga bisa merasakan masker oksigen masih terpasang menutupi hidung dan mulutku. Sudah berapa lama aku di sini? Tapi kejadian itu sama sekali bukan kesalahannya. Menma selalu saja menyalahkan diri sendiri padahal itu salahku sendiri. Aku pun mencoba mengeluarkan suaraku.

"Tidak… aku *pant*… menantang mereka berkelahi makanya mereka *pant* mengejar kami… Itu bukan—"

"Cukup Naruto, tidak usah dipaksakan! Kondisimu masih sangat lemah. Kau juga baru siuman setelah tidak sadarkan diri selama 22 jam.

'22 jam?'

Ketika aku hendak berbicara lagi, pintu itu terbuka. Kabuto-sensei memasuki ruangan dengan seorang asistennya dan dia langsung memeriksa kondisiku.

"Hasilnya baik-baik saja. Besok kau sudah boleh meninggalkan ruang ICU, tapi aku ingin kau dirawat di Rumah Sakit untuk 10 hari ke depan."

Lucu sekali, kalau hasilnya memang baik-baik saja mengapa aku harus dirawat inap selama 10 hari? Aku tahu kalau aku tidak baik-baik saja.

"Sekarang istirahatlah Naruto-kun!"

Aku mengangguk kemudian memejamkan kedua mataku, mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu.

.

.

Naruto mengalihkan pandangannya pada Menma sekilas, kemudian kembali menoleh pada dr. Kabuto yang mulai menyuntiknya. Menma menggenggam sebelah tangannya ketika jarum suntik tersebut memasuki kulitnya. Naruto meringis tetapi kemudian menghela nafas ketika Kabuto selesai menyuntiknya.

"Entah sudah berapa banyak bekas suntikan di tanganku," protes Naruto.

"Jadi kau lebih suka bila aku menyeretmu ke Rumah Sakit?" sahut Menma.

"Tentu saja tidak."

"Kalau begitu jangan banyak protes!"

Kabuto hanya tersenyum sambil membersihkan setetes darah dari luka kecil Naruto. "Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak bermain basket lagi?"

"Aku hanya bermain sebentar."

"Tapi lawan tanding street basket mu itu hebat-hebat tau! Bukankah kebanyakan dari mereka itu adalah mahasiswa? Siapa suruh kau ikut bermain? Meskipun kau satu tim dengan Sasuke tetap saja orang-orang itu bukanlah tandingan kalian!" sambung Menma.

"Awalnya aku hanya ingin menonton tetapi tiba-tiba ada Kagami Taiga yang ikut bergabung dengan mereka, jadi aku ingin melawannya."

"Kalau memang itu tujuan awalmu, harusnya kau jangan terpancing untuk bertanding one on one dengan Kagami!"

"Mau bagaimana lagi? Aku suka basket!"

"Kau memang suka sekali bersikap seenaknya. Apa kau tidak tahu betapa khawatirnya aku?"

"Kau memang bro-com, ya, Menma?" kata Naruto memutar bola matanya.

"Berhenti memanggilku brother complex!"

Kabuto hanya tertawa mendengar keributan kedua bersaudara itu. "Anyway, Naruto-kun dalam waktu tiga hari kau harus bedrest!"

"Hah?" protes Naruto.

"Aku tahu kau tidak menyukainya tapi ini perintah dokter!" tegas Kabuto.

Naruto menghela nafas mendengar perintah dokternya tersebut. Tiga hari? Ia harus tetap di tempat tidur selama tiga hari?

Naruto menyembunyikan kesedihannya dengan sebuah senyuman. "Thanks."

Kabuto tersenyum kemudian membereskan alat-alat kedokterannya. "Menma-kun kalau ada apa-apa cepat hubungi aku dan pastikan Adikmu ini mematuhi perintahku!"

"Hai. Arigatou Kabuto-sensei."

Kabuto menepuk pundak Menma kemudian undur diri.

Menma mengalihkan pandangannya pada Naruto. "See? Kau harus banyak istirahat!"

"Mou, tsumaranai desu ne. Aku ingin jalan-jalan dengan Sara-Neesan lagi."

"Tidak akan pernah kubiarkan! Aku akan selalu mengawasimu!"

Naruto memutar bola matanya. "Kau memang tidak pernah mengerti perasaanku."

Menma menghela nafas panjang. "Tentu saja aku memahami perasaanmu. But I hate waching you suffer…"

"Jalan-jalan itu menyenangkan, tahu! Aku sama sekali tidak menderita. Aku merindukan Sara-Nee."

Sara yang sejak tadi sudah berada di dalam ruangan hanya menghela nafas mendengar perkataan Naruto. Naruto selalu keras kepala seperti biasanya. Sebenarnya Sara ingin sekali menampakkan diri. Namun tentu saja dia tidak mungkin melakukan hal tersebut di depan Menma Namikaze.

.

Menma memerhatikan jam dinding. Ini sudah lewat tengah malam, tetapi ia tidak bisa tidur. Ia benar-benar kesal pada Minato yang lagi-lagi malah memutuskan untuk pergi ke luar negeri dengan alasan ada urusan bisnis.

"Nii-san!" Naruto memanggil.

Menma menoleh pada Adik kembarnya dan sedikit terkejut. Naruto seharusnya tetap di tempat tidur. Ia harus banyak istirahat jika ingin lebih baik.

"You should be resting brother…" balas Menma. Ia mengambil nafas sejenak, kemudian melanjutkan. "You are sick."

"I know, it's just that…"

Menma berfikir mungkin alasan Naruto bangun adalah karena dia bermimpi buruk. Biasanya Naruto sering bermimpi buruk kalau sedang demam dan flu, jadi dia bertanya "Having nightmares?"

Naruto menggelengkan kepala seraya berjalan dan kemudian berhenti beberapa ratus meter dari sofa yang sedang diduduki Menma. Dia memilki kantung mata di bawah matanya dan kulitnya terlihat lebih pucat karena tidak menerima cahaya matahari. Caranya berjalan nampak tertatih-tatih dan ngomong-ngomong caranya berbicara membuat Menma tersadar kalau keadaan Naruto semakin memburuk.

"You getting worse. It's late and don't you need to rest?"

Naruto menggelengkan kepalanya lagi. "Can't sleep…"

"Why?"

"Menma tidak bisakah kau suruh Otou-san untuk tidak pergi?"

Menma tertawa kecil. "Mengapa? Kau ingin bermanja-manja padanya?"

Naruto kembali melangkah kemudian duduk di samping Menma. "Berapa lama Otou-san akan tinggal di London? Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi?"

"Kau ini kenapa? Tiba-tiba berbicara seperti itu!"

"Aku tidak mau dia pergi. Tolong suruh dia tetap tinggal!" ujar Naruto dengan nada tinggi.

Menma menempelkan tangannya di dahi Naruto. "Yappari… lebih panas daripada sebelumnya. Pantas saja kau tiba-tiba bersikap manja seperti ini."

"Nii-san onegai! Cepat minta Otou-san untuk membatalkan kepergiannya ke London!"

"Naruto aku sendiri bisa merawatmu. Kau tidak usah pedulikan Otou-san. Biarkan saja dia berbuat sesukanya."

"…tapi Otou-san jarang sekali berada di rumah. Seharusnya dia jangan terlalu banyak bekerja dan lebih banyak istirahat. Memangnya dia pikir ia itu ro—"

Menma mengangkat sebelah tangan, memberi aba-aba agar Naruto berhenti berbicara. "Kau satu-satunya yang butuh istirahat di sini! Cepat kembali ke kamarmu dan tidurlah!"

"KAU MEMANG TIDAK PERNAH MEMAHAMI PERASAANKU!"

"Naruto!"

"You know, fine! Do whatever you want. I don't care!"

"Naruto…."

Naruto terbatuk tapi ia tidak peduli. Saat ini ia benar-benar marah. Terlihat sekali kalau Menma tidak peduli tentang apa yang ia pikirkan. Ia hanya merasa takut kalau ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ayahnya lagi. Ia sudah punya firasat kalau ia sudah tidak punya banyak waktu yang tersisa tetapi penolakkan Menma menunjukan bahwa dia tidak bisa menerima kenyataan itu. Menma seolah menolak untuk percaya bahwa ia mungkin akan segera pergi. Sedangkan Minato, dia bahkan tidak mencoba untuk tetap berada di sisinya, membuatnya berpikir bahwa Ayahnya itu hanya peduli pada urusan bisnis.

"Naruto go back to bed now! What's wrong with you? Why you getting irritated so easily?"

Naruto tersentak ketika mendengar Kakak kembarnya berteriak, ini adalah pertama kalinya Menma meninggikan suara terhadapnya. Naruto merasa beberapa airmata menetes dari mata birunya tetapi ia menghapusnya dengan cepat. Ia tidak suka menunjukan kelemahannya di depan orang lain, bahkan jika orang itu adalah Menma.

"Maaf, aku sendiri tidak tahu mengapa aku bertingkah seperti ini?" ucap Naruto yang kemudian beranjak dari sofa lalu lekas keluar untuk kembali ke kamarnya.

Sara yang sejak tadi menyaksikan adegan itu hanya menggigit bibir. Sara melirik Naruto sekilas dan setelah Naruto menutup pintu kamar Menma, dia kembali menoleh pada Menma dan mendapati pemuda itu kini tengah berbaring di kasur sambil menutupi matanya dengan sebelah lengan. Dia bisa mendengar suara isak tangis Menma.

'Dia menangis?'

"Bodoh! Jangan berbicara seolah-olah kau tidak akan pernah bisa melihat wajah Otou-san lagi!"

'Menma-kun?' bersamaan dengan gumaman Sara tersebut, tiba-tiba saja Sara merasakan kehadiran seseorang di sampingnya.

Sara menoleh dan mendapati sesosok wanita berambut merah panjang menatap Menma yang tengah menangis dengan mata violetnya yang berkaca-kaca.

"Anda?"

"Minato benar-benar harus menikah dengan Mikoto-chan. Aku tidak bisa tenang melihat anakku menangis seperti ini. Orang yang paling dia butuhkan saat ini adalah Naruto. Namun jika Naruto—" Wanita itu menggantungkan kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan. "Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Menma."

"Mungkinkah anda arwah Kushina-san?" tanya Sara.

Kushina hanya tersenyum dan mengangguk.

Sara melirik Menma lagi. Suara isak tangis pemuda itu semakin kencang. Sara bahkan bisa melihat lengan dan wajah Menma sudah basah dengan air mata.

Arwah Kushina melangkah menghampiri Menma. Ia kemudian berbaring di samping Menma, lalu mencoba membelainya. Namun tangan transparannya menembus tubuh itu. Kushina tersenyum miris. Dia lantas melirik pada Sara sekilas "Tolong perhatikan anakku yang satu lagi!"

Sara tersentak dan langsung menganggukkan kepala. "Saya mengerti."

.

Ketika Naruto kembali ke tempat tidurnya, ia mulai batuk lebih dari sebelumnya dan hal itu membuatnya sakit kepala. Ia mulai merasa pusing dan segalanya mulai berputar. Merasa mual, ia mencoba untuk berdiri karena ingin ke kamar mandi tetapi rasa pening di kepalanya tidak membiarkannya. Kakinya tidak mampu menopang berat tubuhnya dan dia jatuh dengan pantat lebih dulu.

"Ugh, my head…" mengeluh sakit ia menutup mata— mencoba menetralisir rasa sakitnya. Ia ingin sekali muntah tetapi itu bukanlah ide yang bagus. Saat ini ia bahkan tidak bisa berdiri.

Menghela nafas berat, Naruto memutuskan untuk tidur. Namun baru saja ia hendak berbaring, tiba-tiba saja ia merasakan nyeri di dadanya dan dia mulai terbatuk-batuk lagi. Tenggorokannya serasa terbakar seolah ia memakan lava. Ia memiliki perasaan bahwa dadanya akan meledak karena batuk yang menyakitkan. Dan benar saja, rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi, serangan batuk yang sangat menyakitkan itu tidak juga berhenti. Punggungnya melengkung karena batuknya seolah tidak mau berhenti. Naruto memejamkan mata, mencoba menetralisir rasa sakit di dadanya. Bulir-bulir air mata menetes dari mata birunya seiring dengan serangan batuk yang terus berlanjut. Sekali serangan itu berhenti, Naruto memerhatikan sekeliling ruangan memastikan tidak ada seorang pun yang menyadari rasa sakit yang sedang dirasakannya. Ia bersyukur kepada Tuhan karena tidak ada seorang pun di kamarnya. Ia lega Menma tidak menyusulnya ke sini.

"Stupid cold…" gumam Naruto. Kini ia merasa pandangan matanya semakin kabur dan dia berteriak ketika rasa nyeri kembali menyerang dadanya. "Arghhh…!"

Naruto masih memejamkan mata sambil mencengkram dada kirinya dengan tangan kanan ketika ia merasakan seseorang menyentuh pipinya lembut. Naruto membuka mata dan mendapati Sara tengah tersenyum tipis kepadanya. Tangan Sara yang lain memegang beberapa butir obat.

"Harusnya kau jangan bertengkar dengan Menma-kun!"

Naruto mengambil semua pil itu dan memasukannya ke dalam mulut. Sara kemudian menyodorkan segelas air putih pada Naruto. Setelah memastikan Naruto sudah menelan semua obatnya, Sara memegang kedua pundak Naruto lalu membaringkan pemuda itu di atas kasur.

"Please lie down!"

"Sejak kapan…*cough* kau ada di sini…*cough* Sara-Nee?" tanya Naruto dengan suara serak.

Sara mengusap rambut Naruto yang menutupi sebelah matanya. "Sejak kau menutup kedua matamu yang indah itu. Ow, you are burning up!"

"Sara-Neesan bisa *cough* bisakah kau cek Nii-san di kamarnya *cough*… apakah dia sedang menangis? Rasanya *cough* dadaku sesak."

"Dadamu sesak karena kau batuk terus dari tadi padahal kau baru saja bertengkar dengan Menma-kun. Menma-kun pasti baik-baik saja. Aku yakin dia tidak menangis," bohong Sara.

Naruto dengan segera meraih selimutnya dan bernafas dengan berat. "Kau… *cough* yakin? Nii-san… *cough* dia itu cengeng."

Sara menggelengkan kepala, orang ini malah lebih mengkhawatirkan Menma daripada kesehatannya sendiri. Sara menempelkan telapak tangannya di wajah Naruto. Sebuah cahaya kecil berpendar dan beberapa detik kemudian Naruto pun tertidur dengan pulas.

"Istirahatlah! Itu adalah hal yang paling kau butuhkan saat ini."

.

.

"Sara-Neesan?" Naruto memanggil nama Sara. Ia tidak bisa melihat gadis itu di sekitar kamarnya dan ia mulai merasa kesepian.

Naruto memerhatikan sekeliling ruangan dan ia semakin gelisah. Selimut yang menutupi tubuhnya mulai terasa lebih dingin dari biasanya dan rasa pening di kepalanya masih mengganggunya.

"Ugh… Sara-Neesan dokko?"

Naruto menggigil. "Please come back…"

Naruto sungguh merasa seperti anak kecil, tetapi ini bukan kesalahannya bahwa ia ingin ada seseorang yang menemaninya saat ini. Seseorang yang bisa meringankan rasa sakitnya walaupun hanya sedikit.

Pintu itu terbuka perlahan dan Sara masuk dengan sebuah piring di tangan dan segelas teh hangat. Sara memandang Naruto penuh tanya ketika melihat pemuda itu tidak berbaring di kasur melainkan duduk bersandar sambil memegang selimut yang membungkus tubuhnya dengan erat.

"Aku membawakanmu makanan untuk sarapan. Nampaknya Kurama-san sedang pergi ke supermarket dan Fuu-san— aku belum melihatnya. Mungkin dia sedang menyiram tanaman."

"Menma-Nii?"

"Dia belum keluar dari kamarnya."

"Mengurung diri lagi?"

Sara menggeleng. "Mungkin masih tidur."

Rupanya Sara membawa sandwich. Naruto menerima makanan tersebut dan dia mulai makan dengan gigitan lembut, menikmati setiap potongan kecil dari sandwich itu.

"Itu tidak terlalu banyak tapi setidaknya dapat menghilangkan rasa laparmu."

"Daijoubu, lagipula aku tidak begitu lapar."

"Meskipun kau tidak berselara makan, kau harus tetap makan Naruto-kun."

Sara mulai menyiapkan obat Naruto. Ketika Naruto selesai makan dia menyerahkan piring tersebut pada Sara yang langsung meletakkannya di atas meja.

"Nah, waktunya minum obat. Ini akan membuatmu merasa lebih baik."

"Arigatou." Naruto bergumam dan meminum obatnya.

Setelah Naruto selesai minum obat Sara mendorong Naruto pelan, membaringkannya di atas kasur kemudian membelai kepalanya. Naruto tersenyum menikmati perhatian Sara. Menghela nafas pelan, ia memejamkan mata.

"Sara-Neesan?"

"Ya?"

"Kenapa Nee-san begitu baik padaku?"

Sara tersenyum— masih membelai kepala Naruto lembut. "Aku sangat menyayangimu, itu saja."

"Arigatou."

"Ne, aku harus pergi hari ini. Ada pekerjaan yang harus aku tuntaskan."

"Pekerjaan?"

"Ya, menjemput seseorang dan mengantarkannya ke 'pintu' adalah pekerjaanku."

"Dare?"

"Seorang Kakek."

"Kapan kembali?"

"Entah, mungkin besok atau lusa. Itu karena setelah menjemput Kakek itu aku harus menjemput yang lainnya."

"Oh."

"Tidak apa-apa kan kutinggal sebentar?"

"Hn. Tapi setelah kau kembali aku ingin kau menemaniku jalan-jalan."

"Mm, akan kulakukan kalau keadaanmu sudah jauh lebih baik."

Naruto merasakan Sara mencium dahinya. Beberapa detik kemudian ia tidak bisa merasakan kecupan itu lagi. Begitu Naruto membuka mata, Sara menghilang. Naruto bahkan tidak merasakan keberadaannya lagi.

.

.

Menma ditanyai Kurama karena kemarin ia mengurung diri di kamarnya. Kemarin Menma sama sekali tidak menyentuh makanan yang disiapkan oleh Kurama dan diletakkan di depan pintu kamarnya, padahal Kurama benar-benar khawatir karena Menma bukan hanya tidak mau sarapan tetapi juga tidak mau makan siang dan makan malam. Namun hari ini Kurama sampai menangis karena Menma tidak juga keluar dari dalam kamarnya. Akhirnya Menma berhenti mengurung diri dan tentu saja itu membuat Kurama senang.

Sejak tadi pagi Menma hanya makan sedikit. Naruto sudah mengabaikannya sejak kemarin. Dia tidak datang untuk sarapan. Menma membiarkannya bersikap dingin karena ia fikir Naruto mungkin masih marah kepadanya tetapi ketika dia tidak datang untuk makan siang, Menma menjadi khawatir.

'Mungkinkah dia roboh karena demam?' Menma berpikir pesimis. 'Atau mungkin dia sedang tidur?'

"Kurama-san?"

"Ya, Tuan muda?"

"Apa Naruto sudah makan?"

"Saya sudah mengantarkan sarapan untuk Naruto-bocchan, tetapi ketika tadi saya kembali untuk mengantarkan makan siang… makanan yang saya antarkan untuk sarapan sama sekali tidak disentuhnya. Saya juga tadi sudah membujuknya untuk makan tapi Naruto-bocchan malah meminta saya untuk meninggalkannya sendirian. Mungkin Naruto-bocchan ingin tidur."

"Naruto adalah tipe orang yang tidak bisa diam. Mungkin dia masih marah padaku."

"Sebaiknya anda tanyakan sendiri padanya," saran Kurama.

Menma tertegun. Namun ia kemudian bergegas pergi menuju kamar Naruto. Khawatir sakit, ia mengetuk pintu kamar Naruto tetapi tidak ada respon.

"Naruto?" panggil Menma.

"Yappari… dia pasti masih marah padaku," gumam Menma.

Naruto punya banyak alasan untuk marah padanya. Pertama, dia tidak mengabulkan permintaan Naruto untuk menyuruh Minato membatalkan kepergiannya ke London. Kedua, dia membentak Naruto. Ketiga, dia mengurung diri di kamar selama seharian tanpa makan. Dia menyesal karena tempo hari sudah bersikap labil dan kekanakkan.

"Naruto!" ketukkan di pintu semakin keras. "Naruto buka pintunya, ini sama sekali tidak lucu!"

Masih tidak ada jawaban.

Menma menghela nafas. "Kau tidak memberiku pilihan."

Menma kemudian langsung membuka pintu dan memasuki ruangan. Apa yang ia lihat membuatnya lebih khawatir dari sebelumnya.

Di tempat tidur, Naruto bernafas dengan berat. Dia meringkuk dengan selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Ketika Menma mendekat ia menyadari bahwa saudara kembarnya tidak hanya mencoba untuk bernafas tetapi tubuhnya juga gemetaran.

Menma menaiki tempat tidur dengan hati-hati. Ia duduk di kasur dan meletakkan tangannya di dahi Naruto. Menma terkejut ketika dia merasakan kening Naruto terlalu panas untuk disentuh. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Adiknya dan kenapa ia terlihat begitu sakit? Menma berfikir bahwa mungkin saja tadi malam penyakit Naruto kambuh lagi, ditambah kemarin dia juga terkena flu. Menma membelai pipi Naruto untuk menenangkannya.

Menma tidak tahu apakah kembarannya tersebut tahu bahwa ia di sini atau tidak, kedua matanya tertutup. Mungkin Naruto sedang tidur atau pingsan? Menma tidak begitu yakin, tetapi yang paling membuatnya khawatir adalah demam Naruto jadi dia lekas pergi ke kamar mandi dan mengambil sebuah handuk basah ukuran kecil yang kemudian ia letakkan di dahi Naruto supaya suhu panasnya berkurang.

Menonton saudara kembarnya begitu rapuh dan sakit mematahkan hatinya. Ia mencoba yang terbaik untuk membuat Naruto baikkan tetapi nampaknya tidak ada yang bekerja dan hal itu membuatnya frustasi.

Naruto bergerak saat merasakan sesuatu yang dingin di dahinya, sambil merintih Naruto membuka kelopak matanya. Mata birunya bertemu dengan mata biru lain yang persis seperti miliknya. Ia langsung menjauhkan diri ketika melihat Menma duduk tepat di sampingnya, membuat handuk basah di dahinya terjatuh.

"Apa yang kau *cough* inginkan?" desis Naruto.

Menma tersentak, ucapan Naruto terdengar begitu sinis. Menma menutup mata, berpikir untuk keluar dari ruangan dan meninggalkan Naruto sampai akhirnya ia memutuskan untuk berbicara pada Naruto. Bukan sebuah ide bagus, tidak dengan kondisinya yang seperti ini. Mungkin Naruto akan membentaknya, menghinanya, mengabaikannya atau apapun yang diinginkannya dan mengatakan sesuatu yang melukai perasaannya seperti tempo hari, atau mungkin bahkan lebih buruk dari itu.

"Aku hanya ingin memeriksa kondisimu dan aku sangat khawatir karena kau tidak membuka pintu." Menma menjawab sambil tersenyum pahit seraya mengompres dahi Naruto lagi.

Naruto tidak mengatakan apapun dan malah memunggungi Menma, memalingkan muka dan mengabaikan sentuhan lembutnya. Dia masih kesal, merasa kacau, dan tidak mau bicara lagi dengan Menma.

"Aku tahu kau kecewa padaku, itu sebabnya kau bereaksi seperti itu. Aku benar-benar minta maaf karena malah memancing kemarahanmu hingga akhirnya kita bertengkar." Menma memohon maaf.

"Aku hanya merasa takut. Aku tidak mau mendengar perkataanmu yang seolah kau tidak akan bisa melihat Otou-san lagi. Aku belum siap kehilanganmu Naruto, tolong mengertilah!"

Naruto kembali bergerak dan menghadap saudara kembarnya. "Kau harus menghadapi hal itu Menma. Kau tahu sendiri seberapa sakit diriku. Aku tidak mungkin bisa bertahan lebih lama lagi."

Menma menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan. "Aku tidak dengar!"

"Terimalah kenyatan, Menma! Kau pikir berapa lama lagi aku bisa bertahan untuk tetap hidup? 5 tahun? 1 tahun? Aku mungkin bahkan tidak punya waktu 1 bulan."

"URUSAI!"

"Aku sudah mencapai batasku. Tidak ada gunanya kau terus menyangkalnya."

"Tutup mulutmu! Aku tidak mau dengar!" teriak Menma yang kini langsung berlari keluar kamar.

Naruto menghela nafas. "Aku benar-benar belum *cough*… bisa meninggalkannya sendirian. Menma *cough*… masih membutuhkanku. Tapi *cough*… sampai kapan aku bisa bertahan?"

.

Tadi malam mungkin adalah tidur terbaiknya di bulan ini, tidak ada mimpi buruk, tidak ada rasa takut akan kematian. Well, pengecualian dengan tenggorokannya yang terasa kering, rasa sakit di dadanya, dan rasa pening di kepalanya.

Naruto ingin sekali turun dari tempat tidurnya dan berjemur di beranda tetapi tubuhnya masih terasa lemas. Hari ini seharusnya ia merasa baikan tapi ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya, seperti benar-benar salah. Naruto menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menyingkirkan pikiran negatif yang terus berkelebat di otaknya.

"Well really… I might as enjoy my comfy bed than thinking of my sickness, right?"

Terbatuk-batuk beberapa kali, Naruto menggeliat mencoba untuk menghangatkan tubuhnya. Ada rasa dingin yang aneh di tempat tidurnya. Sebanyak apapun dia menutupi badannya sendiri dengan selimut-selimut tebal, itu sama sekali tidak bekerja. Tubuhnya menggigil seolah ia sedang berada di kutub utara.

Naruto memutuskan untuk turun dari tempat tidur. Ia harus mandi karena tubuhnya terasa lengket oleh keringat. Sebelum Naruto berdiri dari tempat tidurnya, Sara tiba-tiba saja muncul di hadapannya. Naruto reflek memegang dadanya karena kaget.

"Jangan tiba-tiba muncul seperti hantu begitu!"

"Ah, gomennasai. Kupikir ketika aku teleportasi ke sini kau sedang tidur. Apakah aku membuat dada mu sakit?"

"Tentu saja!"

"Hontou ni gomennasai," sahut Sara sambil membungkukkan badan berkali-kali.

"Sudahlah Sara-Nee, kau tidak perlu berlebihan begitu. Aku baik-baik saja." Naruto kemudian lekas turun dari tempat tidurnya.

"Are? Kau mau ke mana?"

"Aku mau mandi."

"Sebentar, biar kusiapkan dulu air hangat untukmu."

Naruto mengangguk. Ketika Sara sudah masuk ke dalam kamar mandi, Naruto mengocorkan air dari dalam dispenser. Setelah gelasnya terisi penuh, Naruto mengambil semua obat dari dalam laci meja nakas kemudian meminum pil-pil tersebut sesuai dosis.

"Air hangatnya sudah siap!" seru Sara. Dia kemudian keluar dari kamar mandi dan menghampiri Naruto.

Naruto tersenyum. "Arigatou. Kau masih ingat dengan janjimu 'kan Sara-Nee?"

"Janji?"

"Hn. Kau bilang akan menemaniku jalan-jalan. Aku sudah merasa baikan. Ayo kita jalan-jalan!"

"Apa kau yakin? Lihat, wajahmu sangat pucat!"

"Memang biasanya juga begitu, kan?"

Sara mengerutkan kening. "Menurutku mukamu terlihat lebih pucat daripada dua hari yang lalu."

"Aku sudah tidak demam."

"—tapi kau masih batuk-batuk."

"Batuk ku sudah reda dan pasti akan segera sembuh!"

"—tapi kepalamu pasti masih pusing, kan?"

"Kalau nanti aku merasa sakit, aku berjanji akan cerita padamu dan Nee-san juga boleh membawaku ke rumah sakit. Aku ingin sekalian berjemur menikmati hangatnya sinar matahari. Di sini dingin."

"Dingin? Kalau begitu—"

"Jangan crewet! Pokoknya aku mau keluar rumah!"

Sara nampak ragu tetapi kemudian dia menghela nafas pelan. "Baiklah! Aku akan menemanimu!"

"Arigatou," kata Naruto yang kemudian lekas memasuki kamar mandi.

Sara pun mulai menyiapkan pakaian ganti untuk Naruto. Tak lupa ia juga membawa obat Naruto dan memunculkan sebuah tas selempang dari tangannya, kemudian memasukan obat-obatan tersebut ke dalam tasnya. Sara menjentikan jari dan saat itu juga pakaian yang dikenakannya berubah. Kini ia memakai pakaian yang matching dengan tasnya.

.

Sara dan Naruto tengah berjalan beriringan melewati beberapa pertokoan dan Café-Café saat tiga orang tak dikenal menghadang mereka berdua.

"Wow! Sudah kuduga dia Namikaze," kata salah seorang dari mereka.

"Dia bahkan sedang berkencan dengan gadis cantik. Aku iri!" sambung yang lain.

"Oi, Menma! Kemarin kau belum setor uang pada kami! Berani-beraninya kau lari dari kami! Cepat berikan dompetmu padaku!"

"Apa kalian adalah orang-orang yang suka mem-bully Menma di sekolah?" tanya Naruto sambil tersenyum sinis.

"Naruto-kun sebaiknya kita pergi dari sini!" bisik Sara yang tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.

"Cih, jangan berpura-pura bodoh kau Namikaze Menma!"

"Yamette! Dia bukan Menma-kun!" tegas Sara.

"Hah?"

"Ha?"

"Apa kau bilang? Memangnya dia punya saudara kembar? Jangan membodohiku gadis kecil!"

"Naruto aku akan menggunakan kekuatanku untuk melawan mereka," bisik Sara pula.

"Jangan! Jangan kau gunakan kekuatanmu untuk sampah seperti mereka. Lagipula, memangnya Malaikat diperbolehkan untuk melukai manusia?"

"Membunuh semut saja aku akan kena hukum. Tapi, kalau demi Naruto-kun dihukum seberat apapun aku tidak peduli!"

"Tidak! Jangan berbuat bodoh!"

"Oi, apa-apaan kalian? Malah bisik-bisik seperti itu. Cepat serahkan dompetmu, Menma!"

"Aku akan menghajarmu," desis Naruto. Namun Sara malah menarik tangan Naruto dan mengajaknya berlari.

"Hey, pengecut! Dasar pecundang, jangan lari kalian!"

"Sara-Nee lepaskan aku! Biarkan aku membuat mereka babak belur!"

"Jangan! Kau itu sedang sakit, sebaiknya kita lari saja!"

Sara mendesis saat lengannya ditarik salah satu anak-anak nakal itu. "Lepaskan aku!"

"Lepaskan dia teme!" teriak Naruto. Namun kedua orang yang tersisa malah memisahkannya dari Sara dan memukul perutnya dengan keras.

"Ow!" Naruto mengerang karena pukulan itu begitu keras. Ia bahkan merasa yakin kalau pukulan barusan juga mengenai ulu hatinya.

"OHOK!" dan benar saja, Naruto sampai memuntahkan darah dari dalam mulutnya akibat pukulan tersebut.

"Kuso! Kubunuh kalian!" ancam Naruto yang langsung melayangkan pukulan dan tendangan pada dua orang anak nakal tersebut.

'Buukk!'

'Duak!'

"Jangan meremehkanku, tadi itu aku hanya sedang lengah sampai kena pukul!" ujar Naruto sambil memasang kuda-kuda bersiap untuk melayangkan tendangan berikutya.

Sara lelah. Cukup. Ia tidak ingin melihat Naruto bertarung dengan sampah-sampah itu. "Lepas!"

Sara meronta dari cengkeraman yang semakin erat itu. Tak habis akal, Sara mengigit tangan anak nakal yang sejak tadi menahannya, membuat cengkeraman itu melonggar. "Lepaskan aku!"

Sara akhirnya terbebas dan cepat-cepat mendekati Naruto yang sudah bersiap melancarkan serangan berikutnya. Sara meraih tangan Naruto sebelum menariknya pergi.

Lari

Lari

Lari

Naruto memacu langkahnya. Ia berlari secepat yang ia bisa. Ia tidak ingin Sara mendapat masalah karena mungkin Sara akan menggunakan kekuatan istemewanya untuk melukai orang-orang itu. Naruto tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak ingin Sara dihukum oleh Kami-sama karena melukai manusia. Ia sendiri juga merasa tidak akan bisa mengatasi ketiga orang itu sendirian. Kalau mereka hanya berdua mungkin ia masih bisa melawan dan menang tetapi kalau mereka sampai main keroyokan bertiga, ia tidak yakin apa yang akan terjadi padanya dan juga Sara.

Sara masih menarik tangan Naruto. Mereka harus lari secepat mungkin sebelum dia kehilangan kesabaran dan membuat semuanya menjadi rumit. Dia hanya menuruti apa kata hatinya tanpa tahu kemana langkah kan membawanya.

"Sara-Neesan…"

Perlahan langkah Naruto terhenti tergantikan dengan jantungnya yang berdegup cepat, sangat cepat seiring dengan bahunya yang naik turun mencoba memasok udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya.

"Naruto-kun!" Dengan sigap Sara menangkap tubuh Naruto yang limbung.

Sara dapat melihat kaki Naruto gemetar. Dia kemudian memapah Naruto dan membawanya memasuki gang sempit yang menjadi celah antara dua gedung tinggi.

"Naruto-kun bertahanlah, bernafaslah perlahan!" Sara mengomando Naruto yang kini tengah bersandar lemas pada tembok. Ketika Naruto terlihat dapat mengatur nafasnya, Sara membelai wajah itu lembut.

"Aku lelah Sara-Nee."

Sara berjinjit menyamai tinggi badannya dengan tinggi Naruto dan mengecup puncak kepala pemuda itu. "Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membawamu berlari. Kau akan baik-baik saja, bertahanlah!"

Saat mereka mengira bahwa mereka sudah tak berada dalam jangkauan kejaran orang-orang itu, mereka kembali dikejutkan dengan teriakan nyaring—

"Namikaze Menma!"

"Sudah kubilang dia bukan Menma!" teriak Sara.

Naruto menggeleng. Menurutnya percuma saja Sara berteriak kalau dia bukanlah Menma. Orang-orang itu tidak akan mempercayainya. Mereka bertiga mungkin tidak pernah tahu kalau Namikaze Menma mempunyai saudara kembar. Sekali lagi, Naruto memaksa menarik tubuh lemahnya bergerak. Tanpa pikir panjang, ia menarik lengan Sara dan menyeretnya untuk kembali berlari.

Mereka masih berlari menerobos kerumunan para pejalan kaki yang berlalu lalang. Tautan jemari mereka terlepas saat Sara menabrak seseorang dan beralih menunduk sopan mengucap maaf.

"Gomennasai!"

Sara kaget bukan main saat menyadari siapa orang yang baru saja ditabraknya. "Menma-kun?"

"Siapa kau? Kenapa bisa tahu namaku?"

"Ano… Etto…"

Sara mulai gelisah. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba saja dia tersadar kalau barusan dia terpisah dari Naruto karena kerumunan orang-orang hari ini terlalu ramai. Sara panik begitu menyadari kalau Naruto sudah tidak ada di dekatnya.

"Kau baik-baik saja, nak?" tanya seorang wanita gemuk yang sedang menggendong anak perempuanya yang sepertinya baru berusia tiga tahun.

Sara menoleh ke arah sumber suara tersebut dan terkejut ketika dia tahu bahwa wanita itu tengah bertanya pada Naruto yang sedang ambruk sambil mencengkram erat dada kirinya dengan napas pendek dan cepat.

"NARUTOO!" teriak Menma yang langsung berlari menghampiri saudara kembarnya itu. "Baka, kenapa kau bisa ada di sini?"

"Nii-san?" Naruto nampak terkejut, tak menyangka ia bisa bertemu dengan Menma di tempat ini. Nafasnya masih tersengal-sengal.

Sara menghampiri mereka dan menyerahkan obat-obatan Naruto pada Menma. Meskipun Menma tidak mengerti kenapa obat Naruto bisa dipegang oleh gadis berambut scarlet tersebut ia tidak banyak bertanya. Ia lekas mengeluarkan beberapa pil dan menyuruh Naruto meminumnya.

Sara kemudian menyodorkan air mineral yang langsung disambar oleh Menma. Dia membukakan tutup botolnya sebelum menyerahkan botol tersebut pada Naruto. Sementara itu Sara bergegas menghubungi ambulance.

Wanita gemuk tadi nampak heran dan bingung melihat Menma dan Naruto yang bagai pinang dibelah dua.

"Apa kalian saudara kembar?" tanyanya.

"Benar!" jawab Menma yang kemudian kembali melanjutkan, "Nyonya saya benar-benar berterimakasih."

"Eh? Untuk apa?"

"Diantara semua keruman orang-orang ini cuma anda yang memberi perhatian pada Adik saya. Saya lihat tadi ada beberapa orang yang menoleh tetapi kembali bersikap acuh."

"Oh, sama-sama. Tapi apakah saudaramu itu baik-baik saja? Wajahnya pucat sekali!" tanya wanita itu sambil memerhatikan Naruto yang baru saja selesai meminum obatnya.

"Menma-kun, ambulance akan segera datang dan sebaiknya kita pindah ke tempat yang lebih sepi."

"Sayap! Kakak itu punya sayap!" kata anak perempuan yang tengah digendong wanita tadi sambil menunjuk Sara.

"Eh? Kau ini bicara apa Reina-chan?"

"Indah. Sangat putih dan terlihat lembut. Reina ingin pegang." Anak perempuan itu mengulurkan tangan-tangan mungilnya, mencoba untuk menggapai Sara.

"Maaf, anak saya memang sering berbicara ngelantur."

"Tidak apa-apa. Itu hal yang wajar karena puteri anda sepertinya penuh imajinasi."

"Kalau begitu saya permisi dulu," pamit wanita tersebut sambil tersenyum.

"Terimakasih banyak!" kata Menma dan Sara serentak.

Wanita itu tersenyum dan undur diri dari sana.

"Kakak itu benar-benar punya sayap, Mama."

"Iya, sayang!" kata wanita itu pula memaklumi puterinya yang memang sering sekali berbicara hal-hal yang aneh-aneh.

'Kenapa anak itu bisa melihat sayapku? Apa dia seorang indigo atau—'

Sara memerhatikan Ibu dan anak itu sekali lagi. Di dunia ini hanya ada dua kelompok manusia yang bisa melihat sayapnya. Pertama, adalah orang-orang yang mempunyai kemampuan istimewa. Kedua, adalah seseorang yang akan segera meninggal. Sara hanya bisa berharap semoga anak yang bernama Reina itu bukan termasuk dalam kelompok yang kedua. Sara kemudian kembali mengalihkan pandangannya pada Naruto.

Menma membantu Naruto berdiri dan memapahnya menuju sebuah kursi taman. Setelah mendudukkan Naruto di kursi tersebut, Menma menatap Naruto tajam. "Apa yang kau lakukan? Seharusnya kau tetap di tempat tidur!"

"Tenang dulu Menma-kun!" pinta Sara. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Naruto yang masih memegang dadanya. "Kau baik-baik saja?"

"Tidak berguna. Obatnya tidak bekerja. Dadaku masih sakit."

"Apa? Memangnya sudah berapa lama serangan itu? Kenapa obatnya belum bereaksi?" tanya Menma semakin panik.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Menma. Ia masih meringis kesakitan dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Bertahanlah Naruto-kun!" ujar Sara sambil menghapus keringat dingin di wajah Naruto dengan sapu tangannya.

Tidak lama kemudian suara sirene ambulance terdengar. Menma dan Sara nampak lega. Sementara Naruto sudah hampir pingsan tetapi ia terus berusaha untuk mempertahankan kesadarannya.

.

.

Aku bisa merasakan Menma mengenggam erat tanganku. Aku pun kembali membuka mataku. Wajah Memna dekat sekali denganku.

"Naruto kau baik-baik saja, kan?"

Bisa kulihat Menma tersenyum dan kembali melanjutkan perkataanya. "Kau pasti akan baik-baik saja!"

Aku membalas senyuman Menma dan mengangguk. "Jangan khawatir! Aku hanya teringat kejadian sebelum kau dan Sara-Neesan membawaku kemari."

Salah satu tangan Menma membelai rambutku dan ia kemudian berbisik kepadaku. "Cepat pulih, ya! Kalau kau sudah keluar dari RS, aku akan mengajakmu ke tempat-tempat yang ingin kau kunjungi!"

"Aku tidak ingin jalan-jalan bersamamu."

"Eh?"

"Lagipula, bukankah lusa adalah upacara penerimaan murid baru di Konoha Gakuen? Kau harus datang! Lalu setelah itu kau tidak boleh membolos hanya untuk menemaniku jalan-jalan! Membolos di minggu pertama kau menjadi murid SMA itu tidak baik!"

"Aneh sekali, biasanya kau paling semangat kalau diajak jalan-jalan?!"

"Aku akan jalan-jalan bersama Sara-Nee saja."

"Sebenarnya kau ada hubungan apa dengan Akazawa? Nampaknya kalian akrab sekali!"

"Dia seorang teman yang sudah seperti kakak ku sendiri."

"Ha?"

"Jangan cemburu!"

"Siapa yang cemburu?" sewot Menma.

Aku kemudian tertawa karena tidak tahan melihat ekspresi Menma, tapi tidak lama karena dadaku kembali terasa sakit.

"Naruto?" Menma menatapku cemas.

Aku tersenyum dan meyakinkan Menma kalau semuanya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa."

"Sebaiknya kau kembali tidur! Kau harus banyak istirahat!"

Aku hanya mengangguk dan kemudian menuruti perkataan Menma karena aku sendiri sudah merasa sangat lelah. Selain itu, entah kenapa hari ini aku ingin sekali bertemu dengan Ayahku. Aku ingin sekali dia segera pulang dari London dan langsung menemuiku. Ketika aku berpikir demikian, aku mendengar suara Menma lagi.

"Aku keluar dulu Naruto. Aku akan menghubungi Otou-san dan menyuruhnya pulang hari ini juga!"

"Arigatou Menma-Niisan."

"Hn."

Ketika Menma sudah hampir membuka pintu aku memanggilnya lagi. "Nii-san!"

Menma menoleh padaku dan tersenyum. "Hm?"

"Jangan menangis lagi! Aku bersyukur aku yang mengalami ini dan bukan kau."

Aku melihat Menma mengepalkan kedua tangannya. Kupikir dia akan membentakku tetapi ternyata dia hanya menggumamkan kata 'Hn' sebelum meninggalkan ruangan. Aku sama sekali tidak asal bicara. Itulah perasaan yang kurasakan sekarang. Aku benar-benar bersyukur karena bukan Menma yang mengidap penyakit ini.

"Akazawa-san ada di ruang tunggu. Dia sepertinya sangat mengkhawatirkanmu. Dia bahkan tidak mau pulang ke rumahnya. Dia bilang, dia tidak akan pergi sebelum dia menemuimu."

"Kalau begitu suruh dia masuk. Aku ingin berbicara dengannya."

"Hn."

.

To be continued

.

A/n: Chapter kali ini sengaja saya bagi dua karena jika disatukan akan sangat panjang dan saya akan usahakan update bagian keduanya minggu depan.

Mind to review minna? Arigatou! ^^