Title : King's husband part 10

Cast : Park Chanyeol , Byun Baekhyun , Oh Sehun , Do Kyungsoo , Xi Luhan , Kim Jongin and Others.


PERHATIAN!

Ff ini mengandung unsur dewasa, berisi adegan seks, hubungan sesama jenis yang menyebabkan beberapa orang mungkin mual, Bahasa yang berantakan, dan typo yang walau sudah berusaha dihilangkan tapi tetap muncul. Tidak untuk area bermain anak-anak, anak polos, antigay/ homophobic, AntiChanbaek dan segala yang tidak ada sangkut pautnya dengan dunia yaoi.

NO CO-PAST

NO-REPOST

NO-PLAGIAT

Okay?


There always be a place for the good person. So, don't steal people's effort , be honest dear..

Mulailah dengan sebuah kata, susunlah menjadi kalimat dan kembangkan dalam sebuah paragraph.

Cerita yang hebat bukan tentang siapa, tapi tentang apa dan bagaimana.

..

.

Park Shita

Present

..

.

Tuan Lee mendesah lelah, tubuh rentanya hanya bisa bersandar pada daun pintu sambil menatap Sang Ratu yang hanya terdiam dan tidak mau memakan apapun yang disiapkan pelayan.

Sepanjang hari lelaki mungil itu hanya menangis dan terus menangis, bahkan terkadang menolak untuk menyusui putranya, membuat penasehat istana itu harus membujuk Sang Ratu berulang kali.

Sejak Raja mereka yang terbaring diatas ranjang dan sedang mendapatkan perawatan dari para tabib istana, Baekhyun benar-benar seperti kehilangan jiwanya. Tak hanya Baekhyun, seluruh penghuni istana merasakan duka itu, melihat Sang Raja terbaring tak sadarkan diri.

"Pa..Paduka…hiks..bangun…bangun…" Tangis Baekhyun lagi-lagi membuat seluruh penghuni istana merasa pilu.

"Paduka Ratu?" Tuan Lee mencoba menyentuh pundak sempit itu, namun yang lebih muda menepisnya.

"Tuan Lee? Kapan Paduka akan bangun?" Tuan Lee menunduk, seluruh usaha sedang dilaksanakan namun sejak semalam, tak ada pergerakan dari Sang Raja kecuali dadanya yang mengembang dan mengempis.

"Paduka Ratu, sebaiknya Paduka beristirahat, biar aku yang_"

"Tidak! Aku mau disini, menemani Paduka." Bentak Baekhyun.

Malam ini adalah malam kedua tersuram yang pernah Baekhyun lewati. Ia hanya menatap wajah tertidur itu dengan raut wajah sedih. Ia menginginkan Raja-nya membuka mata dan tersenyum kearahnya.

"Paduka? Apa Paduka tidak sayang lagi padaku?" bisik Baekhyun dengan air mata mengaliri pipinya. Tubuh mungilnya terselip diantara lengan Chanyeol, dimana yang lebih kecil memeluk tubuh itu begitu erat.

"Jika Paduka masih sayang, bangunlah. Aku dan Chanhyunie, merindukan Paduka." Ucapnya lagi dan mulai memejamkan mata lelahnya.

Pagi harinya, ketika membuka mata Baekhyun kembali mendesah kecewa, Sang Raja tak kunjung membuka mata. Baekhyun lagi-lagi terisak, menangis sambil memukul pelan dada Sang Raja.

Ia bangkit dan berlari ke kamar mandi, menangis keras atas hal yang ia alami. Para pelayan dan Tabib Shin yang baru saja memasuki kamar, hanya bisa mendesah iba mendengar tangisan memilukan Ratu mereka.

Saat keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, ia hanya menemukan kerumunan orang yang melingkari tempat tidurnya dengan Sang Raja. Baekhyun menggigit bibir bawahnya, lalu berjalan keluar dengan kekesalan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu.

Ia berlari di koridor istana sambil mengusap air matanya. Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Rajanya. Ketika langkahnya terhenti di halaman istana, ia mendekati sebuah pohon besar, lalu memutuskan untuk memanjat batang pohon itu.

Ia mengambil duduk disana, dan menyembunyikan wajahnya dalam. Menemukan tempat baru untuk melarikan diri. Ia menangis, menyalahkan dirinya berkali-kali hingga ia merasa puas, memukul dan menyakiti dirinya atas semua yang terjadi.

Seandainya ia memilih pulang sejak awal, maka hal mengerikan itu tak akan menimpa Chanyeol, seandainya ia tak ikut ke jamuan makan malam itu, maka Chanyeol tak akan berbaring diatas ranjang seperti sekarang.

Baekhyun semakin menyembunyikan tubuhnya ketika mendengar beberapa pelayan dan bahkan Jongin yang mencari keberadaannya, ia sedang tak ingin diganggu, ia sedang tak ingin melihat siapapun selain Chanyeolnya.

"Demi Tuhan, Chanhyunie menangis sejak tadi." Suara Jongin yang frustasi tak membuat Baekhyun memutuskan untuk turun, ia tetap bertahan di tempatnya.

"Dimana kau bocah? Jangan menyiksa Chanhyun-ku dengan sikap kekanakanmu, wahai Ratuku!" ucapan sarkas Jongin tak juga membuat Baekhyun bergerak dari tempatnya, hingga langit mulai senja dan beberapa pelayan mulai kelelahan.

Tangisan Chanhyun tak lagi terdengar dan Baekhyun yakin para pelayan telah menemukan cara yang tepat untuk mendiamkan putranya. Ia kembali menangis, mengabaikan rasa lapar dan lelahnya karena terus berada diatas pohon selama berjam-jam.

"Paduka Ratu? Apa kau tak ingin melihat Paduka Raja? Paduka telah siuman." Wajah Baekhyun terangkat, senyumnya mengembang, namun ketika ia hendak turun gerakannya terhenti.

"Kebohonganmu hanya akan membuatnya semakin menghilang." Ucapan Sehun membuat kekecewaan untuknya. Dibawah sana, dua Jendral yang kebingungan itu sedang menyusun rencana untuk membuat Baekhyun keluar, namun Baekhyun tak akan turun sebelum ia menginginkannya. Kembali wajahnya ia bawa merunduk dan bersembunyi dibalik lipatan kakinya.

"RATU! Paduka telah siuman." Baekhyun mengangkat wajahnya ketika dalam kegelapan Jongin berlari dengan wajah senang, namun Baekhyun tak ingin mudah percaya. Jadi ia kembali menyimpan wajahnya dalam lekuk kakinya.

Suara jangkrik terdengar, bahkan bersahutan dengan suara burung hantu. Baekhyun masih disana, dengan mata yang mulai memberat, tapi keegoisannya tak membuatnya berniat untuk turun.

"Baekhyun?" kali ini Baekhyun mendongak, mencari asal suara yang terdengar dibawah sana. Matanya menyipit mencoba mengamati sosok yang hanya diterangi oleh lampu lentera. Empat sosok terlihat dan satu sosok yang dipapah di depan, membuat Baekhyun memekik.

Kali ini senyumannya mengembang, ia menegakan tubuhnya.

"Paduka?" panggilnya dan membuat seluruh orang mencari keberadaannya. Cahaya lentera yang dijinjing tinggi oleh Jongin membuat tubuh Baekhyun yang tertutup rindangnya daun pohon terlihat.

"Baekhyun? Apa yang kau lakukan disana?" tanya Chanyeol dengan suara seraknya. Jongin berdecih kesal ketika tak menyadari bahwa sejak tadi Baekhyun berada diatas pohon yang selalu ia curigai.

"Paduka!" Baekhyun memanjat turun dan segera berlari kencang kearah Chanyeol, sedikit melompat hingga Chanyeol terhuyung dan terjatuh diatas tanah. Baekhyun memeluk tubuh itu erat, mengecup wajah Chanyeol berulang kali sambil menangis.

"Aku…hiks..aku pikir…aku tak akan melihat Paduka…hiks.." Chanyeol membiarkan tubuhnya dipeluk erat oleh Baekhyun dan ia bahagia karena sosok itu begitu menginginkan keberadaannya.

Ketika ia siuman dan tidak menemukan Baekhyun disampingnya membuat ia mendesah kecewa, dan ketika begitu banyak laporan tentang Baekhyun yang bersikap cengeng dan juga Sang Ratu yang menghilang membuat Chanyeol begitu cemas dan memutuskan untuk memaksakan bangkit dan mencari sosok mungil itu.

"Aku akan selalu disampingmu Baekhyun, jangan cemas!"

"Jangan lakukan itu lagi, Paduka, jangan!"

"Ya, sayang. Ya." Chanyeol mengecup pipi Baekhyun sayang dan tersenyum lebar.

..

.

Terhitung seminggu sejak Chanyeol sadarkan diri dari koma singkatnya, terhitung telah seminggu pula sosok itu terbaring diatas ranjangnya. Tabib Shin menyarankan Raja tampan tersebut untuk beristirahat lebih lama dan meninggalkan pekerjaan beratnya demi kesembuhan yang cepat.

Chanyeol sedang bersandar dikepala ranjangnya ketika Chanhyun menggeliat dalam tidurnya. Mata Sang Raja teralihkan dari buku yang sedang ia baca pada sosok putih montok itu.

Bibirnya mengulas senyum, melihat bagaimana menggemaskan rupa bayinya, dengan pipi tembam dan bibir yang bergerak seperti menyedot puting. Perlahan, ia mengelus pipi Chanhyun, bergerak sedikit membaringkan tubuhnya dan terus menarikan jemarinya diatas wajah putranya.

"Sampai sekarang, aku masih tak menyangka bahwa kau sungguh terlahir dari benihku." Bisiknya sambil masih mengagumi ketampanan putra mahkota-nya.

Di lain tempat, Baekhyun sedang berenang dengan senang di danau kesayangannya, namun kali ini ia tak sendiri, ada sosok cantik lain yang juga berenang bebas disebelahnya.

"Aku tak menyangka, berenang di tempat terbuka seperti ini sungguh menyenangkan." Ucap Luhan sambil menggerakan kakinya dan sesekali menyipratkannya ke arah Baekhyun.

"Banyak hal menyenangkan di dunia ini, jika kau mau berbaur bersama alam."

"Ya, aku ingin. Sayangnya, penghuni istana bukan salah satu yang dekat dengan alam. Bagi kami para bangsawan, alam dan kebebasan adalah hal yang melanggar tata krama." Baekhyun tersenyum pelan sambil menyemburkan air dari bibirnya, membuat Luhan menyiram sosok itu dengan keras.

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana kalian bisa tumbuh di dalam istana ini. Yak, pangeran! Ayo kita berlomba untuk sampai ke sana!" tunjuk Baekhyun pada suatu titik di dekat pohon diseberang tempat mereka berada.

"Kau tahu aku tak pandai berenang, Byun."

"Menyerah?" Luhan menatap Baekhyun sengit, dagu runcingnya ia naikan sambil mencibir kearah Sang Ratu.

"Kalian berdua? Sampai kapan kalian akan merendam diri di dalam sana? Aku memiliki tugas yang jauh lebih penting daripada ini."ucap Jongin kesal dari sisi dermaga. Dua sosok cantik itu mencibir, sambil menyiram-nyiramkan air kea rah Sang Jendral membuat yang lebih tua berdecak sambil segera menghindar.

"Kalau begitu kemari! Ikut bermain bersama kami!"

"Tidak terima kasih, Ratu-ku." Ucap Jongin dengan nada sindiran sebelum akhirnya kembali menuju ke tempatnya yang semula, dibawah pohon rindang di pinggir danau.

Luhan dan Baekhyun sudah berdiri dalam satu garis linier yang mereka buat, sementara Jongin yang sedang mengasah pedangnya hanya sesekali melirik tanpa beban.

"Satu! Dua! Tiga! Mulai!" Baekhyun segera menyelam ketika aba-aba ia ucapkan, sementara Luhan yang memang tidak bisa berenang hanya mencoba mendorong-dorong kakinya di dalam air seperti seekor anjing yang berenang.

Baekhyun tersenyum sambil sesekali menoleh kebelakang meski pandangannya terhalang oleh air danau. Sementara Luhan yang tidak mau kalah, terus menggerakan kaki dan tangannya untuk mendorong. Awalnya semua berjalan lancar, hingga tiba-tiba Luhan merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.

"Akh!" Luhan merasakan kakinya tak bisa digerakan, kram menjalari kedua kakinya dan keseimbangannya hilang di dalam air. Ia mencoba berteriak namun, tubuhnya sudah tenggelam lebih dulu.

Baekhyun yang telah mencapai garis akhir memekik senang, ia berteriak kencang sambil memukul air, namun keningnya mengernyit ketika tak menemukan sosok Luhan disekitarnya.

"Pangeran? Yak! Luhan! Jangan bercanda!"

Jongin yang masih berfokus pada pedangnya, kembali melirik kearah danau dan hanya menemukan Baekhyun yang muncul dan tenggelam di dalam air tak menaruh curiga sama sekali, pada kebingungan yang sedang Baekhyun alami.

Sehun datang, menepuk pundak Jongin dan sang sahabat hanya mengedikan kepalanya.

"Dimana duo merepotkan itu?" tanya Sehun. Jongin tak menjawab, hanya menunjuk menggunakan dagunya. Mata Sehun beralih menyapu seluruh danau dan hanya mendapati Baekhyun yang berenang seorang diri dengan wajah cemas.

Kening Sehun mengernyit dalam, matanya memicing hingga ia menyadari sesuatu. Ia segera berlari menuju dermaga, membuat Jongin seketika terkejut.

Belum sempat Jongin bertanya, Sehun telah melepas beberapa atributnya lalu segera menceburkan diri ke dalam danau. Sementara, Baekhyun nampak kelelahan setelah berulang kali menyelam ke dalam danau.

..

.

Chanyeol sedang tertidur sambil memeluk putranya, ketika mendengar suara isakan yang sayub-sayub terdengar. Ia membuka matanya, menoleh pada bayinya dan ternyata suara itu bukan berasal dari si kecil.

Ia mengangkat tubuhnya, mencoba melihat seisi ruangan dan menemukan suara itu berasal dari dalam kamar mandi mereka. Perlahan, Chanyeol bangkit dan menuruni ranjang.

Keningnya mengernyit ketika mendapati pakaian basah yang tergeletak di lantai dengan air yang merembes dan banyak lumpur yang menempel disana.

"Baekhyun?" panggilnya namun hanya isakan yang terdengar.

Ketika akan membuka pintu, sosok mungil telah lebih dulu muncul dengan rambut basah berantakan, wajah memerah dan pundak yang bergetar. Tangan si lelaki mungil masih mencoba mengancingkan kemejanya, namun wajahnya terlihat begitu sedih.

"Ada apa?" tanya Chanyeol terkejut. Baekhyun masih terisak bahkan sesekali tersedak air liurnya.

"Lu…Lu….hiks…han…teng…ge…hiks…teng…ge…"

"Bicara yang benar, Baekhyun-ah!"

"Ma-maafkan ...ma-maafkan hiks... aku, Paduka." Baekhyun segera memeluk tubuh tinggi itu dan makin terisak. Chanyeol mengelus pundak Baekhyun, mencoba membawa tubuh itu keatas ranjang mereka, namun kaki Baekhyun masih setia menapak dan ia tetap terisak.

Lengan kokoh itu mengangkat tubuh yang lebih kecil, menggendongnya seperti anak kecil yang tertidur dalam pelukan sang ayah. Baekhyun menguatkan pelukannya, dan masih tetap terisak, hingga ia merasakan kelembutan kasur yang ia duduki.

"Cerikan dengan pelan, sayang!"

"Luhan…hiks…Lu…han…teng…ge..hiks…lam." Mata Chanyeol membulat, tidak menyangka dengan ucapan Baekhyun.

"Ma…maafkan aku…hiks..Pa...Paduka…ini…sa..sa..hiks..lahku." Chanyeol tak menjawab, ia hanya memeluk tubuh itu erat untuk menenangkan tangis lelakinya.

..

.

Otot diwajah Sehun tercetak jelas, tubuhnya berdiri kaku di dekat ranjang sementara matanya bergulir mengikuti gerakan tabib Shin. Di atas ranjang, tubuh Luhan memucat, helaian rambutnya basah dan terlihat berantakan.

"Hei, dia akan baik-baik saja." Ucap Jongin mencoba menenangkan sahabatnya dengan menepuk pundak tegap itu, namun Sehun menepisnya pelan membuat Jongin menunduk penuh penyesalan.

Jongin merasa menyesal karena telah lalai akan tugasnya untuk menjaga Luhan dan Baekhyun, hingga membuat salah satu diantaranya terbaring tak sadarkan diri.

"Seharusnya aku lebih memperhatikan mereka." ucap Jongin pelan dengan penuh rasa penyesalan, namun Sehun nampak enggan untuk merespon.

"Bagaimana keadaannya?" suara Chanyeol diambang pintu mengalihkan seluruh perhatian orang-orang di dalam kamar Sehun. Seluruh tubuh membungkuk memberi hormat, dan beberapa pelayan menghampiri Sang Raja untuk memintanya duduk.

Chanyeol menggeleng pelan dan memilih berjalan mendekati ranjang, matanya terlihat penuh kesedihan melihat tubuh Luhan yang memucat dan kaku.

"Tabib Shin, lakukan apapun untuk menyelamatkannya." Ucap Chanyeol penuh penekanan. Sehun masih menatap penuh arti kearah Luhan, dalam hati berdoa untuk keselamatan sosok itu.

"Paduka, ini salahku yang telah lalai. Hukum aku dengan pantas, Paduka!" Chanyeol memutar tubuhnya ketika Jongin berucap, menatap wajah penuh penyesalan itu dengan kening mengernyit, lalu melirik Sehun yang seolah tak peduli dengan raut wajah Jongin.

"Bukan masalah, Jendral Kim. Ini tidak_" ucapan Chanyeol terpotong ketika Sehun memilih beranjak dari tempatnya tanpa sepatah kata pun, berjalan meninggalkan ruangan tanpa suara.

Sehun yang hendak meninggalkan ruangan menghentikan langkahnya ketika berpapasan dengan sosok mungil bermata basah. Tidak seperti yang lainnya yang segera memberi hormat, Sehun hanya menatap sosok itu datar.

"Jen…Jendral Oh…ma…maafkan…" lagi-lagi Sehun memotong ucapan orang lain, ia tak memperdulikan Baekhyun yang langsung terisak mendapat sikap tak acuh dari Sang Jendral, yang langsung meninggalkan ruangannya.

Baekhyun mengusap air matanya, lalu berjalan ke arah Luhan yang terbaring. Chanyeol mengelus pundak itu pelan, meminta yang lebih muda untuk tenang.

"Lu…Luhan..ma…maafkan aku…" Lagi Baekhyun terisak, bahkan Ratu muda itu sampai berlutut dan memegang erat tangan yang tertidur.

..

.

Jongin berdiri di sisi koridor istana, matanya menatap kearah sosok yang tengah berlatih pedang di halaman belakang istana. Rasa penyesalan itu muncul lagi, melihat Sehun yang melampiaskan kemarahannya pada sasaran pedang yang tak bersalah.

"Biarkan dia sendiri." Suara Chanyeol menyapa indera pendengaran Jongin, membuat yang lebih muda membungkuk pelan.

"Aku merasa menyesal."

"Tidak sepenuhnya salahmu, Baekhyun pun terlihat sama bersalahnya denganmu padahal tidak sepenuhnya ini salah kalian."

"Seharusnya aku lebih teliti menjaga mereka, aku ceroboh, Paduka." Chanyeol menoleh dan menepuk pundak Jongin pelan.

"Anggap ini sebagai takdir, Jongin." Dan Jongin hanya mengangguk pelan sebelum kedua pasang mata itu kembali menatap kearah sosok Sehun yang terlihat begitu bernafsu menyerang sasarannya.

..

.

Baekhyun menatap kearah Luhan yang terbaring, sesekali mengelus tangan putih lentik itu dengan pelan. Air matanya tak henti-hentinya keluar, menangisi sosok Luhan yang tanpa ia sadari telah membuatnya nyaman.

Meski Luhan itu sangat tajam dalam bicara, selalu membuatnya menangis dan tidak pernah sekalipun menganggapnya sebagai pendamping Chanyeol, tapi Baekhyun tahu bahwa Luhan begitu menyayanginya.

"Luhan…bangunlah…" rengek Baekhyun sambil meletakan kepala lelahnya di sisi ranjang.

Tak lama, sebuah pergerakan terjadi. Baekhyun mengangkat wajahnya dan kelopak matanya membesar melihat mata Luhan bergerak-gerak.

"Pelayan! Panggilkan tabib Shin!" teriak Baekhyun dan seorang pelayan segera melenggang pergi.

..

.

Sehun terengah-engah ditengah lapangan, nafasnya memburu dengan keringat membasahi wajahnya, mengalir menuruni kening putihnya.

Setiap tebasan yang ia berikan pada gumpalan jerami menyerupai manusia itu mengingatkannya akan sosok Luhan yang terbaring tak berdaya diatas ranjangnya. Sehun marah, bukan marah pada siapapun yang menyebabkan kondisi Luhan seperti itu, namun ia marah pada dirinya sendiri, karena tak sekalipun bisa menjaga Luhan, kekasihnya.

"Berhenti menambahkan poinku, Jendral sinting!" Luhan berucap ketika Sehun mengeluarkan pena dan menuliskan angka di buku kecilnya.

"Yak! Kau tak dengar? Lagipula siapa yang peduli, jika aku tak bisa masuk kesana, aku akan menerobos menggunakan pasukan perangku." Ucap yang lebih kecil lagi, sambil melenggang pergi. Namun , Sehun menarik tangan itu kuat membuat tubuh yang lebih kecil terbalik, tubuh mereka berdempetan dengan mata saling mengunci satu sama lain.

"Coba saja!"

"Kau_"

"Luhan? Sampai kapan?" kening Luhan menyernyit dalam.

"Sam..sampai kapan apanya?"

"Sampai kapan kau akan memungkiri semua ini?"

"Me…memungkiri apa?"

"Jika, kau menyukaiku." Mata Luhan melebar dan ia segera mendorong tubuh Sehun menjauh.

"Jangan besar kepala, aku_" lagi, Sehun mengunci tubuh mungil itu.

"Sehun, kau_" bibir itu pun terkunci oleh bibir yang lain. Luhan tak mendorong lagi, namun kali ini ia menarik tengkuk yang lebih tinggi, memperdalam ciuman mereka. Beberapa menit, hingga akhirnya tautan itu terlepas.

"Itu jawaban untuk pertanyaanmu." Ucap Luhan sambil mencoba menjauhkan tubuhnya dari Sehun.

"Jawaban apa itu?" Sehun menyeringai sambil menatap tubuh Luhan yang bergerak menjauh.

"Ya."

"Ya untuk apa?"

"Ya, aku akan menjadi kekasihmu." Ucap Luhan sambil berbalik dan menatap kearah Sehun, Sehun kembali menyeringai.

"Tapi aku tak pernah memintamu menjadi kekasihku." Wajah Luhan memerah, ia mengepalkan tangannya erat sambil mengumpat kearah Sehun.

"Jendral sialan! Mata saja sana!" ucapnya sebelum akhirnya berlari meninggalkan Sang Jendral yang masih terdiam dengan wajah penuh kemenangan.

"Sehun-ah! Luhan sudah sadar." Gerakan pedang itu terhenti, ia segera berbalik untuk mendapati Jongin yang berteriak dari pinggir lapangan.

Tanpa aba-aba, tubuh tinggi itu melesat meninggalkan lapangan dan berlari mendahului Jongin yang memekik kesal karena pedang yang dibawa oleh Sehun nyaris mengenai tubuhnya.

Ketika memasuki ruangan, ia mendengar suara cekikikan dari Sang Ratu dan begitu orang-orang menyingkir ia menemukan Luhan yang telah terduduk diatas ranjangnya, tersenyum dengan wajah pucatnya.

Semua orang membulatkan mata mereka, melihat Sehun yang berlari kencang dan langsung menyergap tubuh mungil itu. Luhan pun sama, ia terdiam bagai patung ketika tubuhnya telah dipeluk erat.

"Jangan membuatku khawatir seperti ini lagi!" ancam Sehun yang lagi-lagi membuat seluruh ruangan menjadi terkejut.

"A..a..apa-apaan kau ini." Luhan mendorong tubuh Sehun, sedikit malu melihat reaksi orang-orang disekitarnya, terutama Chanyeol yang mengulum senyumnya.

"Jika kau melakukannya lagi, aku akan membunuhmu dengan tanganku." Lagi Sehun memeluk Luhan erat dan mengancam sosok itu. Luhan melirik seluruh orang dan ia benar-benar merasa malu.

Untuk itu ia kembali mendorong tubuh Sehun cukup keras, dan segera bangkit untuk menarik tangan Chanyeol hingga Raja itu terjatuh diatas ranjang dan Luhan segera memeluknya.

"Ketika aku tertidur tadi, aku berharap ketika aku bangun, Chanyeol-lah yang memelukku bukan Jendral dingin sepertimu." Ucap Luhan sambil mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. Chanyeol mencoba bangkit, melihat bagaimana wajah cemburu Baekhyun, namun Luhan semakin mengeratkan pelukannya sambil berbisik pelan.

"Aku mohon Chanyeol, selamatkan aku dari situasi aneh ini. Aku bisa mati karena tatapan mereka." Ucap Luhan. Chanyeol terdiam sambil menahan senyumannya.

"Kau berhutang sebuah cerita."

"Aku berjanji akan menceritakan semuanya, setelah ini. Aku mohon." Chanyeol mengangguk pelan, sementara Luhan masih menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sang Raja.

Baekhyun mengerutkan bibirnya, ia mendekati Chanyeol dan menarik tangan panjang itu.

"Paduka~" rengeknya lagi dan Chanyeol memutuskan untuk bangkit, meski Luhan masih menahan lehernya. Chanyeol sungguh merasa kesulitan untuk bergerak, satu tangannya ditarik Baekhyun dan lehernya masih di lingkari oleh tangan Luhan.

"Baiklah, mari kita biarkan Pangeran Luhan beristirahat! Dan Jendral Oh, sebaiknya kau juga." Sehun menatap Chanyeol sejenak, lalu beralih kearah Luhan dengan wajah penuh kekesalan.

"Oh aku lupa, bukankah ini kamarmu? Luhan, apa kau mau pindah? Aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk_"

"Aku ingin tidur dikamarmu_"

"Tidak bisa!" bentak Baekhyun cepat, Luhan mencibir lalu melipat kedua tangannya.

"Jika tidak dikamar Paduka Raja, maka aku tak akan pindah." Sehun menyeringai pelan. Luhan itu terlalu berbelit-belit dan sering membuat orang salah paham, terlihat dari wajah Baekhyun yang menahan kesal, padahal sebenarnya Pangeran itu ingin tidur di kamar Sehun.

"Baiklah." Chanyeol masih menahan senyumannya, lalu melirik kearah Sehun dan memberikan satu kedutan disalah satu alisnya.

"Mereka bisa saja." Ucap Jongin ketika dirinya, Chanyeol dan Baekhyun berjalan beriringan di koridor istana.

"Akhirnya minyak dan air bersatu." Ucap Chanyeol, membuat Baekhyun mendongak tidak mengerti dengan ucapan dua orang dewasa disebelahnya.

"Aku sudah menaruh curiga."

"Curiga karena apa? Dan apa hubungannya minyak dan air?" tanya Baekhyun. Chanyeol yang gemas, hanya menyentuh hidung Baekhyun dan menariknya pelan.

"Kau akan mengerti nanti, sekarang ayo kita beristirahat. Aku sungguh lelah."

"Baik, Paduka." Ucap Baekhyun sambil melingkarkan tangannya dilengan Chanyeol.

"Dan Jongin, jangan iri dengan kami! Seharusnya kau memikirkan tentang dirimu juga!" Jongin menggeleng pelan sambil tersenyum geli.

"Aku? Aku tak mengenal hal-hal semacam itu, Paduka." Chanyeol kembali menahan senyumnya, lalu memeluk Baekhyun.

"Baekhyun, bagaimana kabar sahabatmu yang tinggal di desa itu? Ah, siapa namanya?"

"Kyungsoo?" Seketika tubuh Jongin menegang, membuat Chanyeol lagi-lagi terkekeh pelan.

"Ya, Kyungsoo. Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa seseorang menaruh hati padanya." Baekhyun mengernyit sejenak lalu memilih mengangguk.

"Paduka Raja, Paduka Ratu. Selamat malam." Ucap Jongin yang segera memberi hormat dan memilih jalur lain untuk menuju kamarnya.

"Selamat malam, Jendral Kim. Mimpi yang indah!" goda Chanyeol membuat Jongin menghentakan kakinya kesal.

..

.

Tiga hari setelah peristiwa menghebohkan itu, Baekhyun berniat untuk menjenguk sekaligus mengajak Luhan bermain, namun ketika sampai di depan pintu Baekhyun menghentikan langkahnya. Samar-samar ia mendengar suara pekikan Luhan dari dalam sana.

Ratu muda yang berniat ingin mengajak Luhan bermain itu mendekatkan telinganya, menguping melalui pintu kayu Sang Jendral.

"Bagaimana ini, Sehun? Itu adalah warisan dari ibuku."

"Mungkin terjatuh."

"Bagaimana bila terjatuh di danau? Huweee… itu barang yang sangat penting untukku."

"Aku tahu."

"Kau tahu? Kau tahu, tapi kau bersikap biasa-biasa saja, hah? Kau tahu bahwa benda itu sangat penting untukku." Baekhyun mengernyit mendengar teriakan Luhan yang sarat akan kemarahan, namun tak mendengar lagi suara Sehun.

"Lalu siapa yang memilih bermain ke danau, jika sudah tahu bahwa dirinya tak pandai berenang? Nyawamu jauh lebih berharga, asal kau tahu." Baekhyun tercekat ditempatnya, ia kembali merasakan sebuah rasa bersalah.

"I…itu…hadiah…dari ibuku." Isakan Luhan membuat hati Baekhyun bergemuruh, ia melangkah mundur dengan wajah penuh rasa bersalah. Jika saja ia tak mengajak Luhan bermain dan memaksanya untuk berenang, maka semua itu tak akan terjadi.

..

.

Siang harinya, ketika makan siang, tidak hanya Baekhyun, Chanyeol dan Jongin pun merasakan aura perang yang kembali muncul antara Luhan dan Sehun. Chanyeol melirik Sehun yang nampak serius dengan makanannya, sementara Luhan yang nampak tak bersemangat.

"Luhan? Kau baik-baik saja?" tanya Chanyeol. Luhan melirik Chanyeol sebentar, lalu mengangguk pelan.

"Makanlah!" ucap Chanyeol lagi, namun Luhan hanya menatap piringnya. Baekhyun terdiam, merasa kasihan akan hubungan Luhan dan Sehun yang semalam sempat membaik dan kini malah memburuk.

"Sebenarnya, ada apa dengan kalian berdua hah? Aku mencoba maklum, tapi ini sungguh keterlaluan. Semalam, kalian terlihat seperti pasangan sehidup semati yang tak terpisahkan namun saat ini kalian terlihat seperti dua orang musuh yang duduk dalam satu areal. Aku_"

"Aku pamit lebih dulu, maaf." Ucapan Jongin terpotong ketika Sehun memilih bangkit dan segera melenggang pergi.

TRANG

Kali ini seluruh mata menatap kearah Luhan yang membanting garpu dan sendoknya diatas piring dengan kasar.

"Lu_"

"Aku selesai." Ucap Luhan lalu segera berjalan dengan wajah angkuhnya. Chanyeol menghela nafas panjang, satu tangannya memegang bagian kepalanya yang berdenyut dan Baekhyun yang melihat itu semakin merasa bersalah.

Baekhyun sedang menidurkan Chanhyun ketika matahari bergerak perlahan kearah barat. Ia melepaskan puting susunya dengan pelan, lalu merapikan pakaiannya dan bergegas berjalan keluar.

Ia memegang sebuah kantung kain di tangannya sambil berjalan mengendap-endap di koridor istana. Ia sudah memikirkan hal ini secara matang, bahwa ia akan bertanggung jawab untuk masalah yang telah ia ciptakan.

"Hup!" Baekhyun tersentak ketika berpapasan di tikungan koridor dengan Sehun. Baekhyun berusaha menormalkan perilakunya, namun Sehun hanya meliriknya sekilas dan menghiraukannya, seolah Baekhyun adalah sosok tembus pandang.

Bibir tipis itu mengelupas, sorot matanya menyiratkan akan kesedihan.

"Aku akan bertanggung jawab, Jendral Oh." Bisiknya sambil menatap punggung Sehun yang menjauh.

..

.

Sudah hampir sejam Baekhyun berada di dalam air, menyelam dan kemudian muncul lagi ke permukaan untuk mendapatkan udara. Langit sudah berwarna kemerahan, namun tak juga membuat niat Baekhyun luntur.

Berkali-kali ia menyelam untuk menemukan liontin kalung milik Luhan, hal yang menyebabkan Luhan dan Sehun bertengkar. Baekhyun merasa itu adalah salahnya, seandainya ia tak mengajak Luhan bermain ke danau semua tak akan terjadi.

Baekhyun telah mendengar percakapan Jongin dan Chanyeol yang mengatakan bahwa Luhan dan Sehun akhirnya menjalin sebuah hubungan, meski keduanya masih mengelak. Untuk itu Baekhyun tak ingin, hubungan yang baru saja dibangun itu rusak hanya karena dirinya.

..

.

Chanyeol berjalan tergesa menuju kamarnya ketika mendengar tangisan sang putra yang begitu keras. Niat awalnya ingin kembali ke kamar setelah hari melelahkannya dan bermain bersama Baekhyun dan putranya harus kandas karena yang ia temukan di dalam kamarnya adalah sang putra yang menangis keras di tangan para pengasuhnya tanpa adanya sosok Baekhyun disana.

"Dimana Baekhyun?"

"Pa…Paduka..Ra…Ratu… meng…menghilang.."

"Apa?" kening Chanyeol mengernyit dalam. Ia segera melangkah ke arah Chanhyun dan memeluk tubuh putranya dengan sayang, namun tangisan itu tak juga berhenti.

"Suruh para pengawal untuk mencari keberadaan Baekhyun, sekarang!" perintah Chanyeol sedikit memekik membuat para pelayan yang ada disana sedikit ketakutan.

..

.

Baekhyun merebahkan tubuh basah kuyupnya diatas tanah dengan nafas terengah-engah. Langit sudah gelap, angin malam begitu menusuk hingga ke dalam tulang rusuknya.

"Kau pikir itu akan berhasil?" Baekhyun menoleh dan menemukan Sehun berdiri tepat dihadapannya. Ia sedikit bangkit dan tersenyum bodoh kearah sosok itu.

"Jendral Oh, kau tak perlu khawatir aku akan_"

"Kau pikir kau akan menemukan benda kecil itu di tempat yang luas ini?" Tubuh Baekhyun tercekat, ia menatap Sehun nanar. Wajah Jendral itu terlihat begitu malas.

"A..Aku_"

"Seharusnya kau berpikir dulu sebelum bertindak!" ucap Sehun lagi, dan lagi-lagi itu menusuk hati Baekhyun.

"A..aku…"

"Hentikanlah! Seluruh istana kerepotan mencarimu, kembalilah! Jangan melakukan hal yang sia-sia!" Baekhyun meremas tangannya erat, ia segera bangkit sambil menghapus air matanya dengan cepat.

"Akan aku buktikan padamu, Jendral Oh!" Bentak Baekhyun. Sehun yang telah membalikan tubuhnya kembali menoleh dan hanya berdecih pelan.

"Jangan melakukan hal yang merepotkan orang lain, Paduka Ratu." Sindir Sehun. Baekhyun mengeraskan rahangnya. Ia berbalik, dan dengan cepat masuk ke dalam danau. Sehun menatap tubuh yang telah menghilang di dalam danau itu, lalu ia memutuskan untuk berbalik dan meninggalkan danau tersebut.

Baekhyun menggerakan tubuhnya di dalam air, mengedipkan matanya berulang kali di dalam air, hingga tiba-tiba kakinya terasa kram. Ia berbalik, melihat kearah kakinya, dan karena panik tubuhnya tenggelam semakin dalam.

Ia meronta, mencoba keluar dari dalam air, namun air langsung memasuki tenggorokannya. Perlahan tubuhnya semakin tenggelam ke dalam air, perlahan semuanya menjadi gelap, perlahan dadanya semakin sesak, dan perlahan oksigen di dalam paru-parunya lenyap.

Ketika antara hidup dan mati, Baekhyun melihat sebuah sosok berenang kearahnya. Ketika tangan itu mencapai tubuhnya, ketika itu kesadarannya mulai menghilang.

Chanyeol menarik tubuh itu keatas permukaan, menggendongnya ketika mereka telah mencapai tepi.

"Baekhyun! Baekhyun!" teriak Chanyeol sambil menggetarkan tubuh pucat dan dingin itu. Para pengawal memundurkan langkah mereka untuk memberi Chanyeol ruang. Chanyeol meletakkan tubuh itu diatas tanah, menekan diafragma yang lebih muda, sambil berulang kali memberikan nafas buatan.

"Baekhyun, sadarlah! Baekhyun!" Baekhyun masih tergeletak tak berdaya membuat Chanyeol semakin panik, tak lama dua orang pengawal yang ahli dalam pertolongan pertama segera memberikan bantuan.

Chanyeol bangkit, matanya menatap tajam kearah Sehun yang berdiri di depan barisan para pengawal.

BUGH

"Chanyeol!"

Teriakan Luhan tak membuat Chanyeol berhenti untuk menyerang Sehun.

"Aku selalu menganggapmu sebagai saudaraku, Sehun. Aku selalu memaklumi sikap angkuhmu, aku membiarkan kau menjejali Baekhyun dengan ucapan-ucapan dinginmu, aku melakukannya karena aku menghargaimu. Tapi kau? Kenapa kau tega membuat sosok anak-anak sepertinya mengalami tekanan ini?" Sehun terdiam sambil memegang pipinya yang berdenyut nyeri, bahkan darah mengalir dari sudut bibirnya.

"Chanyeol, hentikan!" Luhan menangis sambil memegang tangan Chanyeol, sementara Jongin membantu Sehun berdiri.

"Aku selalu bersabar, aku selalu bersabar untuk kalian semua. Berulang kali Baekhyun nyaris kehilangan nyawanya, berulang kali pula aku harus bersabar untuk itu. Kalian mengenalku sejak dulu, kalian tahu sesulit apa aku untuk jatuh cinta, tapi kini ketika aku sangat mencintainya, kalian melakukan ini padaku." Chanyeol berteriak putus asa sambil menangis.

Luhan memeluk tubuh Chanyeol, dan tubuh tinggi itu langsung berlutut membuat semua orang disana terkejut.

"Aku, aku sebagai Rajamu memohon. Berhentilah bersikap seolah-olah Baekhyun adalah orang asing. Jika kau tak bisa menghargai dirinya, setidaknya hargai aku sebagai teman kecilmu, Sehun. Aku mohon." Sehun terdiam. Ia menepis tangan Jongin dan bangkit.

"Aku tak pernah tidak menghargaimu, Paduka. Aku menerima Baekhyun sebagai Ratuku, aku hanya tak bisa menerima sikap turut campurnya. Ini masalahku dan Luhan, ini urusan kami, dia tak seharusnya ikut campur dan membuat semuanya semakin berantakan."

"Sehun!" bentak Luhan, Sehun melirik sosok Luhan tajam.

"Kau pikir kau tak bersalah disini? Sikap kekanakanmu yang membuat semua menjadi runyam, Luhan." Luhan tercekat, ia terkejut dengan ucapan Sehun.

"Jika kau tak ceroboh dan menghilangkan liontin itu, jika kau tak termakan oleh rayuan Baekhyun, jika kau bisa bersikap lebih dewasa lagi, jika kau_"

PLAK

Sehun membulatkan matanya, ia berdecih lalu mengangkatnya lagi, menatap tepat kearah mata Luhan yang kini telah berkaca-kaca.

"Kau selalu saja menyalahkan orang lain, kenapa tidak kau saja yang melihat ke dalam dirimu, apakah dengan diam dan bersikap dingin ke orang lain, mereka akan mengerti? Aku tak sepertimu, Sehun. Aku adalah orang yang mengeluhkan segala sesuatunya pada orang yang aku percaya, aku hanya merasa aku perlu untuk mendapatkan respon, tapi kau, kau malah menganggap semuanya remeh, kau selalu menyalahkan sikap kekanakanku. Jika kau tak suka dengan sifatku, maka berhenti mencintaiku!" Sehun membulatkan matanya terkejut, Luhan berlalu begitu saja melewatinya sambil berurai air mata.

"Luhan!" Panggil Jongin ketika Sehun sama sekali tak bergerak dari tempatnya.

Uhuk..uhukk..

Chanyeol menoleh dan segera berlari kearah Baekhyun yang terbatuk. Air keluar dari mulut Baekhyun, dan Chanyeol segera memeluk sosok itu dengan sayang.

"Baekhyun?"

"Paduka?" Chanyeol menjauhkan tubuhnya dan bola matanya membulat melihat benda yang Baekhyun genggam ditangannya.

"Aku berhasil menemukannya." Ucap sosok itu sambil memperlihatkan senyumannya.

..

.

Esok harinya Luhan telah kembali ke istanya, beberapa hari lebih cepat dari yang ia rencakan. Baekhyun memeluk tubuh itu erat ketika mereka akan berpisah, Luhan bahkan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas pengorbanan Baekhyun.

Sekali lagi Luhan melihat orang-orang yang mengantar kepergiannya, dan tak ada satupun diantara mereka yang merupakan Sehun. Membuat pangeran cantik menatap nanar kearah tanah sebelum akhirnya masuk ke dalam kereta kudanya.

..

.

Baekhyun menoleh ketika merasakan pelukan erat dari Chanyeol. Ia tersenyum sambil membalik tubuhnya. Pelukan Chanyeol semakin erat dan Baekhyun menyukai aroma yang menguar dari tubuh Raja itu.

"Baekhyun, dua minggu ke depan kau mungkin akan disibukkan, jadi jangan melakukan hal-hal yang akan membuat dirimu dalam bahaya, mengerti?"

"Memangnya akan ada apa, Paduka?" Chanyeol tersenyum lalu mengecup bibir mungil Baekhyun.

"Kau lupa? Upacara pernikahan kita." Pipi Baekhyun bersemu merah yang mana hal itu membuat Chanyeol semakin gemas.

"Kau lupa?" tanya Chanyeol lagi menyakinkan. Baekhyun menggeleng pelan lalu menyembunyikan wajahnya di dada yang lebih tua.

"A..aku hanya malu setiap memikirkannya."

"Kenapa?"

"Apa aku pantas menjadi seorang pengantin?" Tawa Chanyeol memenuhi ruangan dan Baekhyun segera membekap mulut Chanyeol agar tak membangunkan putra mereka yang sedang tertidur.

"Semua pantas untukmu, sayang." Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, hingga keduanya larut dalam ciuman panjang.

"Hmmm.. aku jadi tak sabar."

"Tak sabar untuk?"

"Untuk malam pertama kita_aaawww" Baekhyun memukul dada Chanyeol sambil menahan malu.

"Malam pertama kita sudah lewat sejak lama, Paduka, bahkan sebelum Chanhyunie lahir." Chanyeol mengecup kening Baekhyun dengan penuh kasih sayang.

"Malam pertama kita sebagai sepasang suami-istri. Dimana kau, resmi menjadi Ratuku, Istriku, dan Ibu dari anakku." Baekhyun membuang wajahnya, entah mengapa ucapan Chanyeol seperti membakar wajahnya.

"Paduka~"

"Kenapa? Kau malu?"

"Hentikan! Lagipula, Paduka. Aku kan masih belum boleh bercinta dengan Paduka sampai beberapa bulan ke depan." Seketika senyuman Chanyeol luntur.

"Seharusnya kau tak mengingatkanku akan itu." Baekhyun tertawa melihat perubahaan raut wajah Chanyeol.

..

.

Northwest lagi-lagi disibukan dengan upacara pernikahan Sang Raja dan Ratu yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu dekat. Banyak hadiah yang dikirimkan oleh Kerajaan lain sebagai bentuk bantuan. Meski Northwest tak memerlukannya, namun Chanyeol menerimanya dengan senang hati.

Tidak hanya para penghuni istana, Chanyeol dan Baekhyun pun disibukkan dengan latihan-latihan yang harus mereka ikuti sebelum upacara pernikahan. Meski Chanyeol sudah pernah menikah, namun ia melupakan beberapa bagian dan untuk itu ia harus berlatih lagi.

Sebenarnya, latihan upacara pernikahan dilakukan sebulan atau dua bulan sebelum upacara dilaksanakan, dan larangan yang paling keras adalah kedua belah pengantin tidak boleh melakukan kontak fisik sebelum terikat janji suci, ataupun bertemu diluar pertemuan resmi yang diadakan Kerajaan.

Namun, pengecualian untuk kali ini. Apapun yang berhubungan dengan si lelaki mungil akan selalu menjadi hal yang istimewa.

"Bukan seperti itu, Ratu-ku." Kibum mengeraskan rahangnya kuat sambil menghela nafas lelah melihat bagaimana Baekhyun berjalan.

"Rapatkan kakimu lagi! Ah~ tolong Paduka Ratu." Kibum nyaris memekik kesal jika saja tidak mengingat sosok yang berdiri di depannya dengan wajah jengkel itu telah menjadi seorang Ratu kini.

"Aku kan laki-laki, bagaimana bisa aku berjalan seperti yang kau tunjukan tadi, Tuan Kim?" Kibum menghela nafas untuk kesekian kalinya.

"Sedikit mengingatkan Paduka Ratuku Yang Mulia, bahwa aku pun laki-laki." Baekhyun terdiam, merasa malu dengan ucapanya.

"Tapi kan…"

"Sudah…sudah.. mari kita lanjutkan lagi!" Kibum tersenyum palsu untuk kesekian kalinya juga.

..

.

Chanyeol menoleh ketika melihat Tuan Lee mendekat, sosok pria itu membungkuk memberikan hormat dan Chanyeol mengangguk sekali sebagai jawaban.

"Bagaimana dengan latihannya?" tanya Chanyeol, Tuan Lee menghela nafas dan Chanyeol bisa menebak dengan pasti apa yang telah terjadi.

..

.

"Aku bilang aku tidak mau! Kenapa memaksaku?" pekik Baekhyun sambil bersembunyi di bawah kolong meja membuat Kibum menjambak rambutnya frustasi.

"Ayolah, Paduka. Waktu kita tak banyak, aku harus menyiapkanmu dalam waktu kurang dari seminggu. Aku mohon!"

"Tapi aku lelah, aku mau kembali ke kamar. Aku mau bertemu dengan Paduka, bertemu dengan Chanhyun. Ah~ aku hampir lupa, aku harus menyusui Chanhyun." Ucap Baekhyun sambil mengintip dari bawah meja. Kibum memutar bola matanya.

"Anda sudah menyusui Putra Mahkota, sejam yang lalu."

"Dia pasti haus, dia itu cepat lapar." Kibum memutar bola matanya lagi dan Baekhyun menatap tajam sosok itu.

..

.

"Chanhyunie…Chanhyunnie, merindukanku?" ucap Baekhyun sambil memainkan jemari terkepal putranya yang sedang asyik menyusu.

"Wah, sepertinya kau kelaparan ya? Minum yang banyak anak pintar!" elusan-elusan lembut ia berikan di sekitar rambut Chanhyun dan sesekali mengecup pipi gemuk itu. Seluruh mata pelayan yang berjaga nampak terharu melihat betapa manisnya momen antara ibu dan anak itu.

Bayi itu terus menyedot dengan keras, membuat Baekhyun sesekali memekik karena jepitan kuat putranya dan tak jarang memarahinya yang membuat wajah putranya akan memerah sementara Baekhyun terkikik menahan tawa.

"Selamat siang, Paduka." Baekhyun menoleh ketika mendengar salah satu kepala pelayannya memberikan hormat, dan disana, diambang pintu ia menemukan sosok Chanyeol yang sedang berjalan kearahnya.

"Ah, bagaimana kabar kesayangan ayah?" Chanyeol mendudukan dirinya disamping ranjang dan mengecup pipi putih Chanhyun, lalu mengecup pipi Baekhyun.

"Sangat lapar, ayah." Sahut Baekhyun dengan aksen bayinya.

"Kenapa bisa sangat kelaparan? Apakah Ibu tidak memberikan susu?" Baekhyun menggerakan kepala Chanhyun seolah menggeleng.

"Ibu ingin, tapi Tuan Kim melarang karena katanya Ibu harus mengikuti pelatihan yang melelahkan dan membosankan itu." Chanyeol menoleh kearah Baekhyun dan Baekhyun ikut menoleh dengan wajah terkejut.

"Benarkah?" tanya Chanyeol. Baekhyun kembali menatap putranya, dan ingin membuat gerakan seolah putranya yang berbicara namun Chanyeol menahan tangan yang lebih kecil.

"Apa benar pelatihan itu membuatmu lelah?" Baekhyun mengelupas bibirnya keluar dan mengangguk pelan.

"Apa…apa tak boleh aku tak mengikuti pelatihan itu? Bukankah saat menikah nanti kita hanya akan duduk, bertukar cincin, dan tada~ selesai?" Chanyeol menarik dagu Baekhyun, agar mata sipit indah itu menatapnya.

"Darimana kau tahu tentang itu?"

"Hmm… ketika Sooyeon noona menikah, aku berdiri paling depan." Ucap Baekhyun bangga, Chanyeol menggeleng sambil tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun.

"Tidak sesederhana itu jika yang kau nikahi adalah seorang Raja." Baekhyun tersentak, dan detik berikutnya merengutkan bibirnya lagi.

"Seharusnya Paduka tak menjadi Raja saja." Chanyeol tertawa keras membuat Chanhyun menghentikan acara meminum susunya.

"Jika aku tak menjadi Raja, aku tak akan pernah bertemu denganmu." Baekhyun mendorong tubuh Chanyeol, ketika Sang Raja ingin memangut bibirnya.

"Jika takdir, siapa yang tahu."

"Uh~ kau benar-benar menggemaskan, Baek." Baekhyun memalingkan wajahnya, lalu melirik kearah putranya yang sejak tadi terus menatap lekat kedua orangtuanya.

"Jika kau besar nanti, jangan jadi Raja penggombal seperti Paduka, kau mengerti?" Lagi Chanyeol terkekeh dan memutuskan memeluk erat tubuh Ratunya.

..

.

Sejak kejadian beberapa hari lalu, hubungan antara Baekhyun dan Sehun menjadi lebih canggung daripada biasanya. Sehun yang merasa malu pada dirinya dan Baekhyun yang menyesal atas perbuatannya.

Selain diacara resmi, Sehun akan menghindari untuk bertemu secara empat mata dengan Baekhyun baik disengaja maupun tak disengaja, dan hubungannya dengan Chanyeol pun sama, Sehun terlihat lebih banyak menghindar daripada sebelumnya.

Jongin pun merasakan hal yang sama, sejak kejadian itu Sehun tak pernah benar-benar terbuka dengannya. Interaksi mereka hanya sebatas pekerjaan, selebihnya Sehun akan memilih untuk mengurung diri di dalam kamarnya.

Chanyeol dan Jongin tak sehari dua hari mengenal sosok itu, namun sikap Sehun kali ini sungguh membuat keduanya merasa perihatin. Luhan, belahan hidupnya pergi mendadak dengan salah paham diantara mereka, yang sampai saat ini belum terselesaikan.

Bahkan ketika Chanyeol memintanya untuk menemui Luhan dan menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi, Sehun menolak dengan alasan bahwa ia tak terlalu mementingkan urusan pribadinya kini, dan tentu Chanyeol tahu itu adalah sebuah kemunafikan.

Chanyeol membiarkan hal tersebut, lagipula ia berpikir nanti ketika upacara pernikahannya, Luhan pasti akan datang dan tentunya akan bertemu dengan Sehun, saat itu mereka bisa meluruskan kesalah pahaman mereka, namun sekali lagi, takdir siapa yang tahu.

"Paduka, sebuah surat datang. Surat undangan." Chanyeol mengernyit begitu juga dengan Tuan Lee, Jongin dan Sehun yang sedang berada dalam ruang kerjanya untuk membahas sesuatu.

"Undangan?"

"Ya, ini dari dari Raja Kris." Chanyeol mengernyitkan keningnya lebih dalam.

"Apa Raja Kris akan menikah lagi?" pelayan itu menggeleng dan Chanyeol meminta surat undangan itu. Sosok Raja itu membuka pelan, membaca kata demi kata dan bola matanya membulat.

"Apa benar, Paduka?" tanya Tuan Lee. Chanyeol menutup kertasnya lalu melirik Sehun dan kemudian Jongin.

"Bukan Raja Kris."

"Lalu?"

"Luhan. Pangeran Luhan….. akan bertunangan dengan putri dari Zoolan."

"Apa?" Jongin memekik keras, dan perubahan raut wajah Sehun yang sangat jelas membuat ketiga orang lainnya merasa sungkan.

"Kapan acara tunangan itu?" tanya Jongin.

"Delapan hari dari sekarang."

"APA?" pekikan Jongin berhasil membuat Sehun tersadar dari keterdiamannya.

"Paduka, izinkan aku permisi sebentar." Ucap Sehun dan segera meninggalkan ruangan. Ketiganya menatap kepergian Sehun dengan wajah perihatin.

"Sehunnie yang malang." Ucap Jongin sambil menggeleng pelan.

..

.

Baekhyun menjatuhkan tubuhnya keatas ranjang dengan tatapan kosong ketika Chanyeol memberitahukan perihal tunangan Luhan, dalam hatinya sosok kecil itu merasa amat sangat menyesal.

Ia mulai menyalahkan dirinya sendiri, dan tanpa ia sadari air matanya mengalir.

"Ini salahku, Paduka."

"Tidak. Ini bukan salahmu." Ucap Chanyeol sambil mengelus rambut Baekhyun dan membiarkan lelaki itu bersandar pada dadanya dan menangis.

"Jika…jika…saat itu aku tak mengajak Pangeran Luhan bermain di danau, hal ini tak akan terjadi."

"Tidak, ini bukan salahmu, Baekhyun-ah. Ini adalah keputusan Luhan."

"Tidak Paduka, ini semua karenaku."

"Tanpa kau pun, cepat atau lambat Luhan memang harus segera menikah. Dia sudah terlalu lama bermain-main dengan kehidupannya."

"Ya, tapi seharusnya itu dengan Sehun."

"Itu akan sulit terjadi, Pernikahan sesama jenis masih tabu."

"Lalu kita?" tanya Baekhyun.

"Kita pengecualian, karena kau memang bertakdir denganku." Baekhyun terisak dan Chanyeol memeluknya lebih erat.

..

.

Baekhyun menatap pantulan dirinya di cermin, pakaian mewah yang begitu indah melekat ditubuh mungilnya. Namun wajah cantik itu tak menunjukan sebuah rasa antusias seperti bagaimana ia pertama kali mendapat undangan sebagai seorang Ratu untuk menghadiri suatu acara.

"Paduka Ratu? Kereta telah siap." Baekhyun menoleh kearah seorang pelayan yang memberikan hormat, lalu ia mengangguk pelan.

"Dimana Paduka?" tanya Baekhyun ketika mereka berjalan di koridor meninggalkan kamar mereka.

"Paduka sedang bersama Tuan Lee, mungkin Paduka Raja akan menyusul." Baekhyun mengangguk sambil memeluk lebih erat tubuh Chanhyun yang semakin erat. Ketika akan menaiki kereta, Chanyeol muncul bersama pengawal, Jongin dan Tuan Lee, tidak ada Sehun diantara mereka.

"Sudah siap?" tanya Chanyeol sambil membantu Baekhyun menaiki keretanya. Baekhyun mengangguk dan segera mengambil duduk. Ketika Baekhyun telah duduk di dalam kereta, matanya memperhatikan seluruh orang yang masih berdiri di luar kereta menunggu Sang Raja untuk naik.

"Paduka?"

"Hm?"

"Dimana Jendral Oh?" Chanyeol menundukan wajahnya. Setelah pintu kereta tertutup barulah ia menatap Baekhyun lamat.

"Dia memutuskan untuk tak menghadiri acara itu." Baekhyun menjatuhkan arah pandangnya pada alas kereta dan rasa penyesalan itu semakin kuat menggerogoti hatinya.

..

.

Mereka tiba sore harinya dan disambut dengan sangat baik oleh para penghuni istana. Chanyeol dan Baekhyun melangkah memasuki ruangan mengikuti Raja Kris dan Ratu Junmyeon.

"Ini diluar dugaan." Ucap Chanyeol ketika mereka mengambil duduk. Kris menghela nafas dan meminta pelayan yang sedang menghidangkan minuman dan makanan kecil untuk keluar.

"Maaf harus membuat kalian datang secara mendadak di hari persiapan pernikahan kalian." Ucap Kris lagi, Chanyeol mengangguk sementara Baekhyun menunduk malu. Junmyeon yang melihat itu tersenyum lembut kearah Baekhyun.

"Ketika pulang dari Northwest dia dalam keadaan menangis, dua hari mengurung diri di dalam kamar dan mengamuk seperti orang gila. Keesokannya dia keluar dari dalam sana, mendatangiku dan memintaku untuk menjodohkannya. Bisa kau bayangkan betapa aku terkejut akan hal itu?" Kris berdecak sambil meminum anggurnya.

"Ini…" Junmyeon membuka suara membuat yang lainnya menoleh.

"Ini hanya suatu titik dimana ia merasa jenuh dengan hubungan dan dirinya sendiri. Kesalahpahaman ini akan segera berakhir, aku yakin. Untuk itu aku meminta Kris mengikuti kemauannya dulu, namun hanya membuat mereka bertunangan tidak langsung menikahkan keduanya. Luhan, bagaimana pun aku mengenalnya sejak lama, dia adalah tipikal yang mudah berubah pikiran." Ucap sang Ratu sambil tersenyum dengan lembut.

Baekhyun masih terdiam, ia mengarahkan matanya pada bayi ditangannya yang nampak terlelap.

"Ini.. Ini semua karena salahku. Aku yang membuat kesalahpahaman ini." Semua mata terkejut akan pengakuan Baekhyun. Kris melirik Chanyeol mencoba meminta penjelasan dan Chanyeol hanya menggeleng seolah berkata untuk tidak memasukan ke dalam hati ucapan Baekhyun.

"Baekhyun?" Junmyeon berkata membuat yang lebih kecil mengangkat wajah sendunya.

"Ini bukan tentang salah siapa. Ini tentang mereka yang mampu mempertahankan hubungan mereka sebesar apapun cobaanya. Ini bukan salahmu, bukan salah siapa-siapa, ini hanya sebuah keadaan."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Junmyeon kembali tersenyum.

"Tak ada. Hanya biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." Baekhyun mengangguk lalu menatap Chanyeol yang tersenyum kearahnya.

Si kecil kemudian merapatkan tubuhnya pada Chanyeol, mendekatkan bibirnya ke telinga yang lebih besar.

"Bolehkah aku menemui Luhan?" tanyanya. Chanyeol menatap Baekhyun lalu mengangguk pelan.

"Mintalah pelayan untuk mengantarmu."

"Baik Paduka. Raja, Ratu. Aku mohon pamit!" ucap Baekhyun setelah memberi hormat dan berjalan meninggalkan ruangan.

Kris terkekeh melihat kepergian Baekhyun, lalu menoleh kearah Chanyeol.

"Dia begitu menggemaskan. Dia sangat manja padamu. Aku sempat terkejut melihat bagaimana ia berbisik seperti seorang anak kecil yang ingin buang air kecil ke ayahnya." Chanyeol terkekeh pelan.

"Dia memang sangat manja, dan aku menyukainya."

"Tapi kau telah merusaknya, Chanyeol." Junmyeon segera menyenggol lengan suaminya ketika pria itu berbicara tak sopan. Chanyeol terkekeh lagi sama sekali tak merasa tersinggung.

"Aku menghamilinya untuk menjadikannya pendamping hidupku, aku bukan merusaknya." Kris kembali terkekeh dan mengangkat gelas anggurnya.

Baekhyun berdiri di depan sebuah pintu kamar yang megah, ia memberi hormat dan mengucapkan terima kasih pada empat pelayan yang mengantarnya dan meminta pada pelayan pribadinya untuk menunggu di luar.

Ia mengetuk pintu dengan sedikit kesusahan lalu masuk setelah dipersilahkan. Luhan yang duduk di depan meja riasnya menatap melalui pantulan cermin, lalu meminta seluruh pelayannya untuk keluar.

Baekhyun melangkah masuk sambil memperlihatkan senyumannya dan menggendong Chanhyun ditangannya.

"Selamat sore, Pangeran." Ucap Baekhyun. Luhan mengangguk pelan sambil mencoba tersenyum.

"Selamat sore, Paduka Ratu. Sebuah kehormatan untukku." Baekhyun mendekat dan dengan pelan meletakkan Chanhyun diatas ranjang, sebelum akhirnya mendekat kearah Luhan dan memegang kedua pundak itu.

"Apa ini sudah menjadi keputusanmu?" tanya Baekhyun. Keduanya saling menatap melalui pantulan di cermin dan Baekhyun mencoba tersenyum melihat bagaimana wajah Luhan mendadak memucat.

"Ya. Tentu. Aku telah memikirkan ini matang-matang." Ucap Luhan sambil mencoba tersenyum dan memperbaiki letak rambutnya dengan sisir.

"Tapi, bukankah pernikahan tanpa cinta itu tidak baik." Gerakan Luhan terdiam, ia kemudian menatap tajam Baekhyun.

"Lalu kau sendiri? Bukankah kau melakukannya tanpa cinta pula?" Baekhyun tercekat mendengar ucapan Luhan. Ia menundukan arah pandangnya, lalu kemudian kembali menatap Luhan.

"Ya, tapi ketika itu aku bahkan tak mengenal apa itu cinta, selain keluargaku aku tak memiliki seseorang yang benar-benar penting dihatiku, begitu pula Paduka. Tapi kau, kau berbeda Luhan. Kau memilikinya, dia pun memilikimu. Kenapa kalian harus_"

"Jangan menceramahiku. Ingatlah bahwa usiamu jauh dibawahku, kau hanya seorang anak kecil, kau tak tahu apa-apa." Baekhyun merasakan hatinya berdenyut, dan Luhan pun merasakan itu melalui cengkraman tangan Baekhyun yang menguat di kedua pundaknya.

"Jadi, Ratuku. Jangan mencampuri urusan orang lain, bukankah kau dan Chanyeol akan segera menikah? Jadi lebih baik fokus pada pernikahan kalian, dan…" Luhan bangkit membuat tangan Baekhyun terhempas.

"…aku ucapkan selamat untuk kebahagiaan kalian." Luhan tersenyum sambil menatap Baekhyun dan hendak melangkah keluar namun langkahnya terhenti ketika Baekhyun memanggilnya.

"Bukankah perbuatan yang buruk untuk mengkhianati perasaanmu sendiri? Aku mungkin memang anak kecil, mungkin juga banyak hal yang tak aku ketahui, tapi Pangeran… aku tahu sesakit apa ketika kau harus mengkhianati perasaanmu. Di usiaku yang masih belia, aku bahkan di hadapkan pada sebuah keputusan yang sulit, namun aku bersyukur karena aku memilih mengikuti kata hatiku." Luhan terdiam, sorot pandangnya melemah.

"Jika kau memang tahu sesakit apa itu, aku harap kau mengerti kenapa aku lebih memilih rasa sakit ini ketimbang melepaskannya."

"Luhan!"

"Diamlah!"

"Dengarkan aku! Ini hanya sebuah kesalahpahaman." Pekik Baekhyun untuk mencegah Luhan meninggalkannya.

"Tidak, inilah kebenaran. Aku lebih baik menikah dengan orang yang tidak kucintai, daripada orang yang selalu memberiku kesakitan. Baekhyun-ah, aku harap kau mengerti, bahwa inilah hidup. Aku harus memilih." Ucap Luhan untuk terakhir kalinya dan meninggalkan ruangan kamarnya.

Baekhyun masih disana menatap kepergian Luhan dengan nanar. Ia merasa turut perihatin dengan itu, bagaimana Luhan berbalik dan pergi meninggalkannya.

..

.

Pesta baru dimulai ketika matahari terbenam. Seluruh istana menjadi ramai oleh kedatangan para undangan dari Kerajaan yang berbeda, tak sedikit yang merasa terkejut atas keputusan Luhan yang pada akhirnya memilih untuk menikah.

Luhan duduk bersebelahan dengan sosok putri yang akan segera menjadi tunangannya. Putri itu terlihat cantik dengan rambut panjangnya dan juga anggun dengan gaun merah mudanya, namun Luhan sama sekali tak melihat itu, ia hanya menatap nanar kearah lantai.

Baekhyun duduk disamping Chanyeol sambil memperhatikan Luhan dan sesekali Chanyeol akan memintanya berfokus pada tarian di depannya.

"Chanhyun akan baik-baik saja, ada para pelayan dan pengawal yang menjaganya." Ucap Chanyeol. Baekhyun mengangguk seolah itu adalah masalah utama dirinya tak berfokus pada apa yang ada di depanya, namun nyatanya masalah Luhan lah yang membuatnya merasa tak fokus ketika para penari meliuk dengan indahnya di depan sana.

Ketika mencoba berfokus pada suguhan di depannya, Baekhyun meringis merasakan sakit pada kedua dadanya. Chanhyun sejak tadi tertidur dengan nyenyak, bayinya itu pastilah merasa kelelahan setelah perjalanan yang cukup panjang dan belum sempat meminum susunya, membuat Baekhyun merengek kesal karena dadanya sakit disaat yang tidak tepat.

Chanyeol menoleh merasakan pergerakan Baekhyun yang terlihat tidak beraturan dan terkejut saat melihat wajah Baekhyun yang seperti menahan sakit.

Chanyeol melirik lelakinya dan matanya tertuju pada bagian dada Baekhyun yang nampak basah, meski tak terlalu terlihat.

"Apa sakit lagi?" Baekhyun mengangguk pelan.

"Kalau begitu ayo_"

"Tidak, aku tak ingin meninggalkan tempat ini."

"Baekhyun, jangan bodoh! Ayo biar kita selesaikan, Chanhyun sepertinya masih tertidur pulas." Baekhyun hendak menolak namun Chanyeol segera berbisik pada Kris dan membawa sosok itu pergi.

Mereka berjalan melewati lorong istana, dan sama sekali tak menemukan dimana kamar putranya diletakkan. Sepanjang lorong istana pun tak ada satupun pelayan ataupun pengawal yang melintas maupun berjaga.

"Paduka~" Baekhyun terus merengek merasakan dadanya sakit. Chanyeol mendorong sebuah pintu namun pintu itu terkunci, ia mencoba pintu yang lain dan semua tetap terkunci, Chanyeol rasa ia telah salah memilih lorong.

Melihat Baekhyun yang menahan sakit, Chanyeol segera menarik tangan itu dan mendudukannya diatas sebuah meja kayu yang bersandar pada dinding. Dengan gerakan cepat Chanyeol membuka pakaian Baekhyun hingga terlihat kemeja putih yang lebih muda, Chanyeol membuka kancingnya dan menurunkan bagian pundaknya hingga terlihat jelas.

Dada itu membengkak, tak hanya satu bagian namun kedua bagian itu.

"Kenapa bisa seperti ini?" tanya Chanyeol. Baekhyun merengutkan bibirnya kebawah.

"Aku lupa mengoleskan ramuan yang Tabib Shin berikan selama dua hari ini." Chanyeol melototkan matanya.

"Bagaimana bisa Baekhyun?" Baekhyun menundukan kepalanya, merasa takut dengan bentakan Chanyeol, namun tak mau berkata jika ia melupakan kewajibannya karena memikirkan hubungan Luhan dan Sehun.

"Paduka~ sakitthh~" Baekhyun merintih lagi.

Chanyeol menghela nafas, melihat kesekeliling lalu mendekatkan bibirnya ke dada Baekhyun. Air itu memuncrat dengan deras, seperti sebuah kanal yang tertahan lama dan tiba-tiba penahannya dibuka.

Baekhyun mendongak, merasakan lega pada bagian dada kirinya, tangannya dengan tak sopan menekan kepala Chanyeol agar menghisap lebih kuat. Tentu saja hisapan Chanyeol lebih kuat dari Chanhyun dan itu membuat Baekhyun merasa lega dengan cepat.

"Paduka,yang satunya~" rengek Baekhyun lagi dan Chanyeol seperti kehilangan akal sehatnya. Ia meraup puting itu dengan mulut lebarnya dan menghisapnya seperti tak ada hari esok.

Cairan itu masuk ke dalam kerongkongan Chanyeol dan memunculkan sensasi tersendiri. Ketika Baekhyun tak lagi meringis, Chanyeol mengangkat wajahnya dan tersenyum melihat penampilan Baekhyun.

"Sudah merasa lebih baik?" tanya Chanyeol sambil mengelap titik-titik keringat di kening Baekhyun. Baekhyun mengangguk dan tersenyum di sela wajah sendunya. Hisapan Chanyeol begitu kuat membuat ia merasa kewalahan.

Chanyeol mendekatkan bibirnya dan memangut bibir yang lebih kecil, membuat Baekhyun mengernyit sejenak lalu mendorong tubuh Chanyeol.

"Iyak, aku tidak mengerti mengapa Paduka dan Chanyunnie, sangat menyukai susuku padahal rasanya aneh." Ucapnya. Chanyeol tersenyum dan mengelus pipi putih itu pelan.

"Kau salah, rasanya benar-benar enak."

"Aku lebih suka susu sapi." Ucapnya lagi.

"Tapi sapi tidak ada yang secantik dirimu." Baekhyun menarik leher Chanyeol dan kembali memangut bibir masing-masing hingga keduanya sama-sama terengah.

"Aku ingin bercinta dengan Paduka segera." Rengeknya lagi membuat Chanyeol sungguh-sungguh kehilangan akal sehatnya, namun ia harus bertahan demi kesehatan Baekhyun.

"Kita tunggu saja, sayang. Sekarang biarkan aku menyelesaikan tugasku dulu." Baekhyun mengangguk dan dengan pasrah membiarkan Chanyeol menghisap putingnya lagi.

"Padukahh~ jangan dihabiskan.. kasihan Chanhyunie." Rengek Baekhyun ketika Chanyeol tak kunjung menyelesaikan tugasnya.

Tak ada sahutan dari Chanyeol, selain suara hisapan yang terdengar disepanjang lorong yang sepi.

"Padukahhh~"

"Padukaahh~"

"Ayo kembali, Padukahh~"

Rengek yang lebih mungil lagi, namun Chanyeol bukannya berhenti malah menggesekan giginya pada permukaan kulit Baekhyun membuat yang lebih kecil meringis.

"Padukahh~"

"Paduka!"

Chanyeol tersentak , pergerakannya berhenti ketika suara yang memanggil namanya berbeda. Perlahan ia menoleh dan terkejut melihat Jongin, Tuan Lee dan beberapa pengawal berdiri tak jauh darinya sambil menutup mata mereka.

SIAL!

Chanyeol segera berdiri, merapikan penampilan Baekhyun cepat, menurunkan sosok kecil itu dan memintanya merapikan pakaiannya dibelakang tubuhnya.

"Ada…ekhem…apa?" suara Chanyeol seolah bergetar, namun ia mencoba tetap tegas.

"Pertunangan Pangeran akan segera dimulai, Raja Kris meminta kami mencari Paduka." Chanyeol berdeham lagi, sambil melirik Baekhyun yang masih memperbaiki letak pakaiannya.

"Aku…akan menyusul." Ucap Chanyeol masih sedikit gugup. Jongin dan Tuan Lee yang telah membuka tutup tangannya saling melirik.

"Akan menyusul dengan segera kan? Tidak melanjutkan….yang tadi." Ucap Jongin sambil melirik sang Raja dan Sang Ratu yang masih bersembunyi dibalik Rajanya.

"Jendral Kim." Peringat Chanyeol dan sosok Jendral itu terkekeh pelan, mereka memberi hormat dan segera pergi. Baekhyun membalik tubuhnya dan terkejut saat tak mendapati siapa-siapa di sekitar mereka.

"Mereka sudah pergi?"

"Hm."

"Ini memalukan." Ucap Baekhyun menahan rona pipinya.

Chanyeol tersenyum, ia mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukannya di atas meja kembali membuat yang lebih kecil hendak protes. Namun Chanyeol telah lebih dulu mengecup bibir kecil itu dan tersenyum.

"Paduka, ayo kembali~ nanti Paduka kelepasan lagi." Ucapnya. Chanyeol kembali tersenyum dan mengecup bibir itu.

"Baekhyun, kenapa kau begitu menggemaskan?" tanya Chanyeol pelan.

"Karena aku masih kecil? " Jawaban Baekhyun tidak membantu banyak, karena nyatanya ia tetap menjadi sasaran cium oleh Sang Raja.

Ketika mereka kembali ke ruangan dimana pesta diadakan, beberapa pasang mata menatap kearah mereka namun Chanyeol hanya memberi hormat dan menggandeng tangan Baekhyun untuk kembali duduk di singgasana mereka.

Baekhyun menatap kecewa pada sosok Luhan yang kini berdiri di tengah ruangan sambil menggenggam tangan seorang putri cantik dan siap menyematkan sebuah cincin kecil disana.

Chanyeol pun sama, ia merasa tidak percaya dengan keputusan gegabah Luhan dan memikirkan nasib Sehun saat ini. Tepuk tangan para undangan membuat keduanya tersadar dan Baekhyun hanya bisa meremas tangan Chanyeol untuk menguatkan dirinya.

..

.

Di tempat lain, Sehun duduk di depan sebuah kursi bar dengan beberapa gelas minuman di tangannya. Pakaiannya terlihat biasa seperti para warga lainnya, ia melakukannya agar tak seorang pun di dalam bar itu tahu bahwa dirinya adalah anggota istana.

Seumur hidup Sehun tak pernah membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi atau pun mengakhiri hidupnya di bar dan meminum alcohol bersama para pemabuk lainnya, namun kini ia melakukannya.

Wajahnya sudah memerah entah karena mabuk atau menahan amarah, namun ia tak henti-hentinya terus memesan minuman membuat sang penjaga mengernyit. Ketika akan memesan lagi dengan gerakan tubuhnya yang sudah sepenuhnya mabuk, tangannya ditahan.

"Kau sudah minum terlalu banyak tuan, aku tak akan memberimu lagi. Aku tak ingin mengetahui bahwa kau adalah bajingan yang tidak memiliki uang." Sehun berdecih, ia memasukan tangannya ke dalam saku celananya, dan seketika terkejut saat tak menemukan kantung uangnya disana.

Ia melihat sekitar dan matanya tertuju pada sosok pria di dekat pintu masuk yang sedang melempar-lempar kantung uangnya diudara.

"Hei, tunggu!" ucap Sehun hendak mengejar sosok itu, namun tubuhnya oleng dan berakhir terjatuh diatas lantai.

"Hei, jangan kabur!" pundak Sehun dicengkram kuat dan ketika menoleh ia mendapati dua orang pria bertubuh besar menatapnya dengan tajam.

BUGH

Sehun tersungkur diatas tanah di luar bar, dengan tubuh kesakitan karena mendapat tendangan dan pukulan yang kuat.

"Dasar bajingan! Ingin minum gratis rupanya, rasakan Cuih!" salah satu dari pria itu meludahi Sehun dan Sehun hanya bisa memegang perutnya yang kesakitan.

Perlahan ia bangkit, sambil memegangi perutnya, lalu dengan tertatih-tatih ia berjalan. Ia tak tahu dimana ia meletakkan kudanya, ia pikir mungkin kudanya pun telah dicuri.

Dengan langkah terhuyung dan tubuh kesakitan ia menelusuri jalan tanah itu untuk kembali ke istana, namun dalam perjalanan sakit ditubuhnya semakin menjadi-jadi, dan tak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah kereta kuda melintas.

Sehun ingin meminta tumpangan, namun ketika akan mengangkat tangan tubuhnya telah terjatuh diatas tanah.

Ringkihan kuda terdengar dan sang kusir menarik tali kemudinya dengan gerakan cepat. Ia membulatkan matanya melihat sosok tergelatak ditanah. Perlahan sosok itu turun, dan ketika membalikan tubuh tersungkur itu ia mendelikkan mata bulatnya.

"Kau?"

"Luhan?" ucap Sehun sambil tersenyum.

"Kau kembali?" Sehun menarik tengkuk sosok itu dan mencium bibirnya dengan paksa, membuat sosok itu terkejut dan segera mendorong dan menendang tubuh Sehun. Ia bangkit dan segera menaikki keretanya, sambil menatap remeh pada sosok yang telah mencium bibirnya dengan kurang ajar.

"Bajingan!" makinya.

..

.

Ketukan pintu dipagi hari membuat kening Chanyeol mengernyit, Baekhyun menggeliat dan memeluk tubuh Chanyeol lebih erat. Chanyeol membalasnya dan semakin merapatkan tubuh keduanya, namun lagi-lagi ketukan itu mengusik tidurnya.

Chanyeol membuka mata dan menatap Baekhyun yang masih tertidur pulas di lengannya. Ia bangkit dengan perlahan dan mendesah kesal atas gangguan di pagi harinya.

Ketika pintu terbuka yang ia dapati adalah sosok Jongin yang menundukan wajahnya.

"Ada apa Jongin?"

"Sehun…Sehun menghilang." Mata Chanyeol membesar.

"Bagaimana bisa?" tanya Chanyeol tak percaya.

"Kemarin malam pengawal melihatnya keluar dalam keadaan emosi dari istana, lalu pagi tadi kuda Sehun kembali seorang diri ke istana." Lagi Chanyeol terkejut, ia menatap Jongin dalam , Sehun tidak biasanya seperti itu.

"Paduka, bagaimana bila Sehun…bila terjadi sesuatu yang buruk padanya?" Chanyeol menepuk pundak Jongin mencoba memberi kekuatan.

"Tidak akan. Sehun sudah dewasa dan dia bukan orang yang bodoh." Jongin mengangguk pelan dan Chanyeol mengerti bagaimana khawatirnya sosok Jongin karena dirinya pun sam khawatirnya.

"Jika sampai malam ini dia tak kembali, kita akan kerahkan pengawal untuk mencarinya." Jongin mengangguk sambil memberi hormat.

Chanyeol memasuki kamarnya dan menatap Baekhyun yang masih tertidur pulas. Ia mendudukan dirinya di sisi ranjang sambil mencoba menerka dimana kiranya Sehun berada.

Chanyeol mengenal Sehun dengan baik, dia bukanlah sosok yang dengan mudah meninggalkan istana seburuk apapun suasana hatinya. Sehun adalah sosok paling dewasa yang pernah Chanyeol kenal, namun kini hanya karena masalah percintaan semua berubah. Cinta memang mampu mengubah seseorang.

Baekhyun terbangun dan menatap punggung tegap Chanyeol yang membelakanginya. Ia tersenyum jahil lalu bangkit dan memeluk Chanyeol dari belakang dan mengecup pipi yang lebih tua.

"Selamat pagi, Paduka." Chanyeol menoleh dan tersenyum lalu mengelus rambut Baekhyun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya ketika merasakan senyuman Sang Raja berbeda, ia bangkit dan mengubah posisinya untuk duduk diatas pangkuan Chanyeol.

"Apa ada masalah?" Chanyeol menatap mata Baekhyun, tidak tahu harus memberitahu yang lebih kecil atau tidak. Disisi lain tak ingin Baekhyun terbebani namun disisi lain Baekhyun harus tahu karena ia adalah seorang Ratu kini.

"Paduka?"

"Baekhyun, Sehun… Sehun menghilang." Baekhyun tersentak. Ia menatap Chanyeol tak percaya.

"Bagaimana bisa?" Chanyeol menggeleng lalu mengelus rambut Baekhyun pelan.

..

.

Chanyeol, Jongin dan Tuan Lee berkumpul di dalam ruang kerja Chanyeol untuk membicarakan perihal Sehun dan mereka hampir tak percaya atas beberapa kesaksian dari si pencuri kuda yang berkata bahwa ia mencuri kuda itu dari sebuah bar dan tak tahu jika itu milik seorang Jendral.

Dari laporan yang Jongin terima, ada beberapa saksi yang berkata bahwa dua orang penjaga menghajar orang yang sama dengan ciri-ciri yang pihak istana sebutkan. Hal itu semakin menambah kecemasan mereka, Chanyeol meremas penanya.

"Kerahkan orang-orang untuk mencari Sehun, namun jangan sampai ada yang mengetahui hal ini!" Jongin mengangguk dan segera bangkit untuk meninggalkan ruangan Chanyeol.

..

.

Sehun menggeliatkan tubuhnya, perlahan matanya terbuka dan mengerjap beberapa kali karena cahaya matahari yang menyeruak masuk. Bola matanya bergerak pelan mencoba menyesuaikan dengan bias cahaya, hingga samar-samar ia menangkap sosok wanita berdiri membelakanginya dan nampak sibuk dengan kegiatannya di depan sebuah meja.

Sehun mengernyit dan memperhatikan sekitar, sebuah rumah sederhana namun cukup luas untuk ukuran seorang rakyat biasa. Rumah itu terkesan hangat dan nyaman oleh sentuhan-sentuhan dekorasi dan juga interiornya.

"Oh, kau sudah siuman." Wanita itu tersenyum dengan wajah sedikit terkejut melihat sosok Sehun yang masih mengerjap sambil memegang kepalanya.

"Kau pasti pusing kan? Hhm… ini aku membuatkanmu ramuan untuk mengurangi rasa pusingmu." Sehun menatap dengan kernyitan kearah mangkuk putih di atas meja. Ia sekali lagi memperhatikan sosok wanita di depannya.

Wanita itu terlihat cantik dan bertubuh mungil dengan senyuman yang terlihat amat sangat ramah, namun Sehun merasa asing dengan sosok wanita di depannya.

"Ah, tunggu! Aku harus menyiapkan sarapan." Ucap wanita itu lalu meninggalkan Sehun seorang diri. Sehun melirik ramuan pekat disampingnya dan memutuskan untuk kembali membaringkan kepalanya yang terasa sakit, ia rasa kembali tidur jauh lebih baik, sehingga setelahnya dia bisa pergi meninggalkan rumah itu.

Ketika membuka mata untuk kedua kalinya, ia kembali mendapati sosok yang berdiri memunggunginya sambil sibuk menyiapkan piring-piring diatas meja. Kernyitan Sehun semakin dalam ketika menyadari bahwa sosok itu bukan sosok yang tadi, tapi sosok lelaki bertubuh mungil dengan rambut hitam kelam.

Sehun tak mau memikirkannya, kepalanya masih berdenyut dan ia ingin kembali tertidur lagi.

"Jika kau terus tidur sakit kepalamu tak akan hilang, minumlah itu! Kami tak meletakkan racun di dalamnya." Suara tak bersahabat itu membuat Sehun mengernyit dan membuka matanya sambil menatap sosok yang masih membelakanginya.

Sungguh tak sopan, pikirnya.

Sehun ingin kembali memejamkan matanya, sebelum sosok itu mendekat dan mendekap kedua tangannya di depan tubuhnya dengan tatapan menuntut. Sehun menatap sosok taka sing di depannya itu, lalu menatap mangkuk disampingnya.

"Minumlah!"

"Bagaimana aku yakin jika kau tak meracuniku?" tanya Sehun dengan suara paraunya namun masih tetap terdengar dingin.

"Aku tak akan repot-repot melakukannya jika aku memang ingin membunuhmu sejak awal, dan tak repot-repot membawa tubuh beratmu pulang, pemabuk!" Sehun tersentak dan mulai mencoba mengingat kejadian semalam namun yang ia ingat hanya sebatas ia yang mabuk dan dibuang keluar bar, ia tak mengingat apapun tentang pertemuannya dengan sosok bermata bulat di depannya.

"Kyungsoo?" lelaki itu menoleh ketika seseorang memanggilnya. Wanita tadi masuk sambil membawa setumpuk kain di tangannya.

"Ada apa, bu?"

"Bisakah kau masukan ini ke dalam gudang dan ambilkan ibu kain berwarna coklat muda?" Kyungsoo mengangguk dan segera berjalan kea rah ibunya. Sehun masih mengernyit, merasa tak asing dengan sosok lelaki di depannya, namun semakin mengingat kepalanya semakin sakit.

"Oh ya anak muda, minumlah dulu ramuan itu! Lalu kita makan siang bersama? bagaimana? Kau melewatkan sarapan tadi." Sehun terdiam dan tak menanggapi wanita yang terlihat ramah itu.

..

.

Siang harinya ketika tiba waktunya untuk makan, Sehun duduk berhadapan dengan sosok yang terlihat tidak ramah itu. Sosok itu nampak serius dengan makanannya dan sesekali memberikan bagiannya kepada sang ibu.

"Oh iya, kalau aku boleh tahu siapa namamu, nak?" Sehun tersadar dari acara mengamati sosok lelaki di depannya, lalu menoleh kearah wanita yang setia tersenyum kearahnya. Sehun melirik makanannya sejenak lalu kembali menatap wanita itu.

"Namaku….Jong Sehan." Ucapnya, ia harus menutupi siapa dirinya yang sebenarnya dan ucapan itu membuat Kyungsoo menoleh dan menatap sekilas sosok tamu tak diundang di rumahnya sebelum akhirnya melempar pandangannya ketika kedua pasang mata itu bertemu.

"Kau istirahatlah dulu disini_"

"Ibu!" Kyungsoo memekik pelan dan ibunya mengelus punggung tangan sang anak.

"Tidak apa-apa. Sehan, kau bisa tinggal disini sementara sampai tubuhmu membaik. Oh iya, kalau aku boleh tahu dimana kau tinggal?" Sehun terdiam. Ia melirik Kyungsoo sesekali dan sosok itu hanya balas menatapnya penuh tuntutan.

"Aku…aku tak memiliki rumah. Aku…aku seorang gelandangan." Bola mata Nyonya Do membulat, kembali memperhatikan pakaian dan wajah Sehun.

"Wow, kau cukup tampan untuk ukuran gelandangan." Pujinya dan Kyungsoo menyiku lengan ibunya pelan.

"Baiklah… tinggalah disini selama yang kau mau, aku_"

"Tidak. Aku akan pergi setelah matahari terbenam. Terima kasih_"

"Tidak-tidak. Kau bisa tinggal disini_"

"Ibu!"

"Tidak Kyungsoo, bukankah ibu selalu mengajarkanmu untuk berbuat baik?" Kyungsoo terdiam sambil kembali menatap piringnya lalu ia bangkit.

"Aku selesai." Sehun melirik Kyungsoo yang berjalan sambil membawa piring kosongnya menuju tempat pencucian.

"Nyonya terima kasih atas kebaikan anda, tapi lebih baik jika aku_"

"Oh, anak muda. Jangan diambil pusing ucapan anakku! Dia memang terlihat dingin dan tak bersahabat seperti itu, namun dia sebenarnya anak yang baik. Kau jangan khawatir, tinggalah disini sampai kau merasa lebih baik." Sehun terdiam menatap wanita itu lalu mengangguk pelan.

"Aku akan meminta Kyungsoo untuk mengobati lukamu lagi."

"Ah tidak perlu, Nyonya ini tidak sakit." Nyonya Do tersenyum lagi, lalu menoleh pada Kyungsoo yang sedang membersihkan perabotan kotor.

"Soo, setelah ini tolong obati luka Tuan Jong seperti semalam ya?" Tak ada jawaban namun hal itu tidak terasa aneh untuk keduanya mengingat sikap tak bersahabat lelaki bernama Do Kyungsoo itu.

Sehun berbaring diruang tamu keluarga Do, menatap langit-langit rumah itu sambil memikirkan tentang seseorang yang telah membuat hatinya buruk. Sosok yang sebentar lagi akan menikahi seorang putri dari Kerajaan lain.

Mengingat hal itu hanya membuat rasa sakit dihatinya semakin perih, ia menutup matanya sambil meringis sesekali dan mencengkram perutnya yang terasa sakit dan memar.

BRUK

Sehun membuka matanya dan mendapati sebuah kotak obat terlempar diatas meja dan si pelaku hanya berdiri tanpa minat di depannya.

"Aku harus mengobatimu!"

"Tidak perlu." Sahut Sehun ketus.

"Jangan membantah, aku tak sedang memohon, ini perintah." Ucap Kyungsoo yang segera mengambil duduk disamping Sehun.

"Kau tidak perlu melakukannya dengan terpaksa_"

"Hanya diam dan turuti! Kau hanya tamu disini jadi jangan bertingkah seolah kau raja atau apapun itu." Sehun tercekat mendengar ucapan tak bersahabat sosok di depannya.

"Kenapa mulutnya begitu tajam?" Kyungsoo yang sedang menyiapkan peralatannya menoleh sejenak lalu kembali berfokus pada kegiatannya.

"Aku terlahir dengan itu. Jika keberatan hanya tutup telingamu." Lagi Sehun tercekat oleh ucapan menusuk Kyungsoo yang terdengar amat sangat tak bersahabat.

"Kemari!" Kyungsoo mengangkat pakaian Sehun dan sebuah memar besar terlihat disana. Sehun bahkan terkejut karena tak menyangka kulit putihnya ternodai oleh warna keunguan yang memerah.

"Ssshhh…" Sehun meringis dan Kyungsoo menghentikan sejenak. Sesekali ia meniupnya, dan Sehun hanya memperhatikan sosok yang sedang membungkuk di depannya itu, sambil memikirkan dimana pernah menemui sosok tak asing itu.

Setelah usai dengan pekerjaannya, Kyungsoo menuju kebagian wajah Sehun yang juga terluka dan terdapat memar. Ia mengobati bagian mata kiri Sehun, dan kembali meniup bagian itu ketika Sehun meringis.

Sehun memperhatikan bagaimana sosok tak bersahabat itu ternyata begitu rapi dan pelan pada pekerjaannya. Ketika akan menuju bagian sudut bibir Sehun yang robek, Kyungsoo terdiam.

Jantungnya berdetak tak karuan mengingat bagaimana kejadian semalam ketika bibir tipis itu mencium bibirnya. Gerakan terhenti Kyungsoo membuat kernyitan di kening Sehun.

"Ada_"

"Sisanya obati sendiri, aku mengantuk!" ucap Kyungsoo lalu bangkit dan berjalan menuju kamarnya. Sehun menatap sosok itu dengan kernyitan dan melirik sisa-sisa kapas yang digunakan untuk membersihkan lukanya di atas meja.

..

.

Jongin nampak tak bersemangat ketika belum ada kabar tentang Sehun. Para pengawal telah berpencar disekitar daerah dimana bar itu berada, namun tak ada satupun laporan mengenai keberadaan Sehun.

Chanyeol pun mengalami hal yang sama, pernikahannya sebentar lagi namun sahabat setianya menghilang dan membuatnya cemas. Suasana hatinya memburuk dan hal itu berdampak pada Baekhyun yang merasa jika Chanyeol menjadi pendiam.

"Paduka?" Chanyeol menoleh kearah pintu melihat Baekhyun berdiri disana. Ia tersenyum dan meminta sosok itu untuk mendekat.

"Dimana Chanyunie?" tanya Chanyeol sambil mencoba tersenyum lebih lebar.

"Dia tertidur setelah bermain dengan para pelayan. Sepertinya dia sangat kelelahan." Baekhyun mendekat kearah Chanyeol lalu duduk diatas pangkuan sosok yang lebih tua. Chanyeol menerimanya dengan senang hati dan melingkarkan tangannya disekitar pinggang Baekhyun.

"Lalu kau? Kenapa tidak tidur siang juga?" Baekhyun menatap Chanyeol dengan wajah bersedih dan menangkup wajah itu.

"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang, jika Rajaku sendiri tak bisa tidur. Semalam, Paduka tidak tidur dengan baik kan?" Chanyeol menggeleng pelan mencoba membohongi Baekhyun, namun sosok itu semakin memajukan bibirnya.

"Paduka sudah mulai berbohong. Aku melihat Paduka menyelinap keluar dari kamar semalam."

"Itu karena ada perkerjaan yang harus aku selesaikan Baekhyunie." Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol erat dan membiarkan wajahnya berada disana.

"Pasti karena Jendral Oh kan? Paduka mencemaskannya? Paduka marah padaku?" Chanyeol mendorong tubuh Baekhyun pelan menatap mata bersedih itu.

"Kenapa aku harus marah padamu?"

"Karena aku menjadi penyebab Jendral Oh hilang, karena aku terlalu ikut campur urusan mereka dan_"

"Hei, tidak ada yang pernah menyalahkanmu dan tidak ada seorang pun yang boleh menyalahkanmu akan hal ini. Kau mengerti?"

"Tapi_"

"Tak ada tapi-tapian, sekarang sebaiknya kau tidur siang!" Baekhyun menggeleng pelan membuat mata Chanyeol membulat, mencoba berpura-pura marah.

"Jika Paduka tak tidur, aku tak akan tidur." Chanyeol tersenyum lalu mengecup bibir Baekhyun lama. Baekhyun melingkarkan kedua tangannya dileher Chanyeol dan membiarkan kecupan itu berubah menjadi lumatan.

Akhirnya mereka memutuskan untuk tidur siang, Chanyeol akhirnya menyerah karena tak mampu untuk menolak ratunya. Mereka tidur dengan saling berpelukan dimana Baekhyun memeluknya seperti bantal dan dengkuran halus mereka terdengar saling bersahutan.

..

.

Sehun memperhatikan dari jendela bagaimana Kyungsoo menaburi pupuk-pupuk pada seluruh tanamannya di halaman. Setelah berada disana selama beberapa hari, Sehun tahu sedikit banyak tentang sosok yang masih menjadi misteri untuknya itu.

Kyungsoo akan bangun pagi-pagi sekali untuk memberikan makanan ternak-ternak unggasnya dihalaman belakang, lalu ia akan membantu sang ibu yang baru datang dari berbelanja untuk memasak, kemudian sosok itu akan menyapu halaman dan setelahnya berkebun.

Sehun tersenyum kecil melihat bagaimana Kyungsoo mengelap wajahnya namun malah meninggalkan noda tanah disana. Lelaki itu sangat dingin dan tidak ramah, namun beberapa tingkah naturalnya mampu membuat Sehun tersenyum kadang-kadang.

Mendengar suara ribut-ribut di dapur Sehun segera beranjak dari duduknya, ia terdiam menemukan sosok Nyonya Do sedang mencoba meraih sesuatu diatas rak. Sehun mendekat dan membantu Nyonya Do membuat wanita itu memekik terkejut lalu kemudian tersenyum.

"Oh, terima kasih Sehan. Tubuh tinggimu sungguh sangat membantu. Selain mendiang ayah Kyungsoo, diantara kami bertiga tidak ada yang tinggi." Sehun tersenyum dan seketika matanya melirik sosok Kyungsoo yang baru saja memasuki rumah dan terkejut melihat dirinya bersama sang ibu.

Namun Kyungsoo memilih tak peduli dan segera berjalan menuju rak disamping dapur untuk meletakkan sarung tangannya.

"Bu, apa ada pakaian yang harus aku antar hari ini?" tanya Kyungsoo.

"Tidak, Soo. Lusa kemarin kau sudah mengantarkan semua pakaian-pakaian pesanan hingga ke tempat yang jauh. Sekarang ibu sedang membuat pesanan yang lain."

"Baiklah!" Kyungsoo mengangguk dan berjalan kearah keduanya. Ia hendak mencuci tangan, namun posisi ibu dan Sehun yang menutupi jalannya membuat ia mendorong pelan sosok Sehun hingga yang lebih tinggi meringis.

Nyonya Do memilih pergi dan Kyungsoo masih setia mencuci tangannya.

"Kau sangat kejam!"

"Aku memang bukan orang yang ramah. Terutama untuk orang sepertimu." Ucap Kyungsoo sambil menatap Sehun tajam. Sehun menyeringai sejenak, lalu mengulurkan tangannya untuk membersihkan noda tanah di pipi Kyungsoo yang membuat pipi Kyungsoo merona memerah, respon itu membuat Sehun terkejut dan Kyungsoo dengan cepat menarik tangan itu, dan memukul perut Sehun dengan keras.

"Aaah." Sehun tersungkur diatas lantai, sementara Kyungsoo memilih pergi. Saat akan melangkah lebih jauh ia kembali melirik Sehun yang tersungkur sambil memegang perutnya. Kyungsoo berdecak lalu segera mendekati Sehun.

"Makanya jangan suka menyentuh orang sembarangan!" ucapnya sambil membantu Sehun berdiri.

"Aku hanya mencoba membantu membersihkan noda diwajahmu, kau yang terlalu kasar."

"Aku tidak butuh bantuanmu, jangan bersikap seperti pahlawan." Sehun melirik Kyungsoo yang nampak kesusahan membopong tubuhnya menuju keruang tengah.

..

.

Malam harinya, ketika Kyungsoo ingin tertidur usai membaca bukunya ia menggigil karena tiba-tiba angina malam berhembus dari jendela kamarnya. Ia menutup jendela itu pelan dan mencoba berbaring, namun masih merasakan dingin. Ia menoleh kearah pintu kamarnya dan kembali menatap ranjangnya.

Kyungsoo berjalan dengan sebuah selimut tebal ditangannya ke arah ruang tengah dan menemukan Sehun terduduk diatas lantai dengan kepala yang tergelatak diatas meja. Kyungsoo segera mendekati sosok itu dan ia mengernyit mencium aroma alcohol dari si lelaki yang lebih tinggi.

"Hei? Apa yang kau lakukan? Mengapa kau tidak tahu diri mabuk di rumah orang hah?" gerutunya sambil menggetarkan pundak Sehun.

"Lu? Kaukah itu?" Kyungsoo mencoba membantu sosok itu untuk kembali berbaring di sofa, namun Sehun begitu sulit untuk diangkat.

"Yak, bagunlah! Ini aku, si pemilik rumah ini." Mata Sehun mengerjap, ia membukanya pelan dan menatap kearah Kyungsoo dalam. Tanpa sadar air mata lelaki itu menetes membuat Sehun terkejut.

"Kenapa sesakit ini?" ucapnya. Kyungsoo yang berusaha mendudukan Sehun terdiam, ia menatap Sehun balik dan terkejut melihat mata basah sosok dingin itu.

"Tidurlah! Ini sudah_"

"Kenapa dia tega melakukan ini padaku?" Kyungsoo seolah tuli, ia tetap berusaha menyelimuti Sehun.

"Aku tahu tak tahu, ini bukan urusanku. Tidurlah, siapa tahu besok kau sudah sehat dan bisa pergi dari rumahku." Ketika akan pergi, tangan Kyungsoo ditahan.

"Kenapa semua orang membenciku? Apa aku begitu menjijikan? Apa aku pantas dibenci dan ditinggalkan?" Kyungsoo menghela nafas pelan, melirik tangannya dan mencoba melepaskannya, namun tarikan tangan Sehun membuat tubuhnya terduduk diatas sofa.

"Kau memiliki sifat yang hampir sama denganku, tidakkah kau merasakan hal yang sama?"

"Tidak, karena aku tak bodoh untuk peduli dengan perkataan orang." Sehun terdiam, masih menatap Kyungsoo.

"Jika kau pikir hidupmu hanya untuk mendengar penilaian orang maka kau tak akan pernah berbahagia. Aku lebih suka dengan sikapku yang asli daripada harus berpura-pura menjadi orang lain. Jika mereka menyayangiku maka mereka akan menerimaku seburuk apapun sifatku." Sehun terdiam mencoba mencerna ucapan Kyungsoo.

"Jika kau pikir hidupmu ini menjijikan dan semua orang membencimu, kenapa kau tidak mati saja?" Sehun tercekat, dan setelahnya ia terkekeh pelan.

"Aku tahu seperti apa rasanya orang-orang ketika mendengar perkataanku." Kyungsoo menyeringai pelan.

"Kau harus melihat kearah cermin untuk tahu seperti apa rupamu." Sehun lagi-lagi terdiam, baginya Kyungsoo adalah sosok yang kejam, tajam sekaligus pintar.

"Aku tak pernah menemukan cermin yang tepat, tapi saat ini aku melihatnya. Dia tepat berada di depanku." Kyungsoo tersentak, dan ia mencoba melepaskan diri dari Sehun kini kedua pundaknya yang di tahan.

"Kyungsoo?"

"Lepaskan!" Kyungsoo membulatkan matanya, namun belum sempat menolak bibir Sehun telah mencoba melumat bibirnya. Ia meronta, mendorong tubuh itu sekuat tenaga, hingga akhirnya ia berhasil.

PLAK

"Bajingan!" gerutu Kyungsoo. Ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya, membuka pintu kamarnya dan tiba-tiba sebuah tangan panjang berada diatas tangannya. Mendorong pintu itu untuk terbuka dan mendorong si pemilik untuk masuk ke dalam.

Kyungsoo membulatkan matanya, terkejut melihat sosok Sehun yang menatap dirinya dengan mata memerah.

"Kau bahkan menolakku. Kau bahkan membenciku."

"Aku bahkan tak mengenalmu, jadi sekarang sebaiknya kau_aaahhh.."

BRUK
Kyungsoo terkejut ketika tubuhnya di dorong keatas ranjang dan ditindih, ia meronta ketika merasakan wajah Sehun berada diperpotongan lehernya.

"Yak, pergi bajingan!"

"Kenapa semua orang membenciku? Bahkan kau? Hiks.." Kyungsoo tercekat ketika mendengar isakan Sehun, dan lebih terkejut ketika merasakan lehernya basah. Tubuh diatasnya bergetar, dan perlahan tangan Kyungsoo yang terkepal terbuka untuk mengelusnya.

"Jangan pergi! Jangan benci aku!" Kyungsoo mengelus punggung lebar itu lagi, lalu mengelus rambut yang lebih tinggi.

"Aku tidak akan pergi, sekarang tidurlah!" dan perlahan mata sipit itu tertutup, isakannya mereda dan deru nafasnya terdengar begitu halus menyisakan si mata bulat yang menatap langit-langit kamarnya sambil terdiam dengan tangan masih mengelus rambut yang lebih tinggi.

"Tidak ada yang membencimu, Kyungsoo-ah. Aku berjanji akan selalu berada disisimu meskipun mereka berkata bahwa kau itu menakutan. Aku Byun Baekhyun berjanji tak akan pernah meninggalkanmu."

Kata –kata itu masih terngiang di telinga Kyungsoo. Kata-kata sederhana yang mampu membuat sosok sepertinya yang nyaris mengakhiri hidupnya karena tak memiliki teman kembali melanjutkan hidup. Ketika menghadapi orang-orang yang berhati dingin dan keras, kekerasan tak akan berguna, yang bisa menakhlukannya hanyalah ketulusan.

..

.

Ketika membuka mata, Sehun terkejut mendapati dirinya berada di dalam kamar, diatas ranjang asing. Ia pikir ia bermimpi, namun ketika melihat sosok yang terduduk di depan meja belajarnya membuat ia merasa sedikit lega.

"Bagaimana bisa aku berada disini?"

"Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, jika kau sudah bangun sana bersihkan dirimu dan segera makan siang." Sehun terdiam dan kembali berbaring lalu menatap langit-langit kamar.

"Apa yang terjadi semalam?" tanya Sehun. Gerakan Kyungsoo terhenti dan lagi pipinya memerah tanpa ia sadari. Sehun melirik sosok yang nampak aneh itu, lalu menatapnya dalam.

"Tidak ada."

"Benarkah?" tanya Sehun sambil tersenyum kecil. Ia kemudian menatap langit-langit kamar Kyungsoo dan ketika semua peristiwa itu terekam ulang, ia tersentak sejenak lalu tersenyum.

"Bangun dan pergilah! Aku akan mengobati lukamu lagi."

"Kau begitu perhatian."

"Ini bukan bentuk perhatian, tapi ini kewajiban untuk membuatmu segera pergi dari rumahku." Sehun tersenyum lalu bangkit.

"Kyungsoo?" Kyungsoo menoleh kearah pintu dimana Sehun berdiri.

"Aku tidak tahu bibir setajam itu memiliki rasa yang manis." Seketika Kyungsoo mematung dan Sehun si pelaku hanya terkekeh sambil meninggalkan kamar.

..

.

Hari itu pun tiba, hari dimana dua insan akan terikat dalam sebuah janji suci. Baekhyun nampak gugup berdiri di depan cermin. Ia terlihat begitu cantik dengan pakaian yang ia kenakan.

Chanyeol berdiri dibelakangnya dan mengecup pipi itu lembut.

"Semua akan baik-baik saja, jangan cemas Baekhyun-ah!"

"Tapi aku tidak bisa untuk tak cemas, Paduka."

"Memangnya apa yang kau cemaskan?" tanya Chanyeol lagi sambil menatap ke dalam mata Baekhyun melalui cermin.

"Semua."

"Semua?"

"Ya, semua. Aku takut bila acara ini tak berjalan lancar." Chanyeol tersenyum lalu membalik tubuh Baekhyun dan mengecup bibir itu sayang sebelum akhirnya Tuan Lee datang dan meminta keduanya untuk segera menuju ruang pernikahan.

Chanyeol berjalan lebih dulu untuk menuju ruang pernikahan, sementara Baekhyun menunggu untuk panggilan berikutnya.

"Semua akan berjalan dengan lancar." Baekhyun menoleh dan menemukan Luhan berdiri diambang pintu sambil melipat kedua tangannya.

"Kau tidak tahu karena kau tak merasakannya."

"Aku akan segera merasakanya." Baekhyun terdiam lalu kemudian mencoba mengalihkan perhatian.

"Baekhyun?"

"Ibu?" Baekhyun tersenyum ketika melihat kedua pelayannya membawa sang ibu dan keempat kakaknya.

"Wah, kau cantik sekali." Ucap Bora.

"Aku gugup."

"Itu wajar sayang. Ini pernikahan pertamamu." Baekhyun mencoba tersenyum. Ia melirik Luhan yang ternyata sudah meninggalkan ruangan.

Sungmin memeluk Baekhyun dan mencoba memberikan kekuatan.

"Paduka meminta kami kemari, untuk menenangkanmu, jadi ibu harap kau tidak gugup lagi. Semua akan baik-baik saja." Baekhyun tersenyum dan mengangguk pelan.

"Dimana Kyungsoo?"

"Dia akan menyusul katanya." Sahut Sungmin sambil mengelus pundak bergetar Baekhyun.

"Paduka Ratu? Sudah saatnya." Seorang pelayan menginterupsi dan Baekhyun mengangguk pelan.

Ketika pintu dibuka Baekhyun semakin gugup, tatapan orang-orang membuat kakinya mendadak lemas. Disana, Chanyeol tengah duduk sambil tersenyum kearahnya. Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan segera duduk disamping sang Raja.

"Hari yang berbahagia telah tiba, dimana kita semua yang ada disini menjadi saksi akan penyatuan dua insan dalam ikatan suci. Selamat kepada Raja Chanyeol dan Ratu Baekhyun, Tuanku kami persilahkan kalian berdua." Ucap Tuan Lee.

Chanyeol mengadahkan tangannya dan Baekhyun meletakkan jemari lentiknya diatas tangan besar itu. Chanyeol menggenggamnya dan membawa tubuh keduanya untuk saling berhadapan.

Seorang pendeta berdiri diantara keduanya, dimana Baekhyun dan Chanyeol saling pandang. Alunan musik berganti menjadi alunan biola yang begitu lembut.

"Hari ini, dihadapan para saksi dan Tuhan, kalian akan menjadi pasangan suami istri yang akan melalui bahtera rumah tangga bersama. Tuanku, Paduka Raja Chanyeol. Apakah Paduka Raja bersedia untuk selalu mencintai dan berada disamping Ratu Baekhyun baik dalam keadaan sehat, sakit, baik, buruk, suka maupun duka?"

"Ya, aku bersedia." Sang pendeta beralih kearah Baekhyun.

"Tuanku, Paduka Ratu Baekhyun. Apakah Paduka Ratu bersedia untuk selalu mencintai dan berada disamping Raja Chanyeol baik dalam keadaan sehat, sakit, baik, buruk, suka maupun duka?" Baekhyun menatap Chanyeol lalu tersenyum.

"Ya-Ya. Aku bersedia."

Seluruh tepuk tangan memenuhi ruangan itu, Baekhyun tersenyum kearah Chanyeol dan Chanyeol membalasnya.

"Silahkan lakukan pertukaran cincin!" Chanyeol menyelipkan sebuah cincin pernikahan yang begitu indah ditangan Baekhyun dan yang lebih kecil melakukan hal yang sama pada sang Raja.

"Dengan ini kalian resmi dinyatakan sebagai suami istri." Baekhyun terharu dan air matanya tanpa sengaja mengalir. Chanyeol mengusapnya dan membawa tubuh Baekhyun sedikit terangkat untuk bisa menciumnya.

"Aku mencintaimu, Baekhyun."

"Aku juga mencintai Paduka. Sangat." Chanyeol terkekeh dan memeluk tubuh itu erat. Suara terompet berbunyi. Keduanya menegapkan tubuh mereka, Chanyeol kembali mengadahkan tangannya dan Baekhyun menyambutnya dengan lembut.

Keduanya berjalan berdampingan sambil menghadap ke depan, suara musik terdengar dengan irama yang lebih cepat. Keduanya berdansa di tengah-tengah ruangan, dimana semua mata terpusat pada mereka.

Kaki-kaki pendek Baekhyun mencoba mengimbangi langkah Chanyeol, dan lelaki itu tersenyum menyambutnya. Ketika musik berganti beberapa pasangan lain mulai berbaur, bahkan Raja dan Ratu dari Kerajaan lain melakukan hal yang sama.

Baekhyun nampak begitu bahagia, menari di dalam pelukan Chanyeol. Sementara Jongin meminta dengan sopan pada Soyou untuk bisa menari bersama wanita cantik itu. Hanya Luhan yang nampak melihat sekeliling mencoba mencari sosok Sehun.

KREEEK

Pintu terbuka, semua mata menoleh kearah undangan yang baru datang ketika upacara pernikahan sudah usai. Dan betapa terkejutnya saat melihat sosok itu adalah sosok Sang Jendral yang telah lama menghilang.

Berdiri disana dengan pakaian kebesarannya dan terlihat begitu tampan. Semua nampak tersenyum lebar, dan mata Baekhyun tertuju pada sosok mungil disamping sang Jendral.

Jongin yang terkejut melihat sosok Kyungsoo yang berada disamping Sehun dan lebih terkejut lagi ketika Sehun menggandeng tangan itu untuk menuju kearah Sang Raja dan Ratu yang sedang berdiri ditengah ruangan.

"Paduka, maafkan karena aku menghilang untuk beberapa hari. Aku mengalami hal yang buruk dan aku tak bisa kembali begitu saja, tapi hari ini aku kembali. Selamat untuk kalian berdua." Chanyeol tersenyum canggung sambil melirik Kyungsoo yang hanya menatap Baekhyun sambil menggigit bibirnya.

"Tidak apa-apa, Jendral Oh. Selamat kembali." Chanyeol memeluk Sehun dan menepuk pundak itu pelan.

"Kyungsoo. Aku tak percaya kau datang." Kyungsoo tersenyum lalu menjabat tangan Baekhyun.

"Selamat untukmu, Ba…Ratuku." Baekhyun menarik pundak Kyungsoo dan memeluknya erat.

Jongin berjalan mendekat hendak menyapa Sehun, namun sebelum itu terjadi Luhan sudah melintas dengan cepat mendahuluinya, menarik pundak Sehun keras.

PLAK

Tamparan itu begitu keras hingga membuat Sehun menolehkan kepalanya kesamping. Semua dibuat terkejut oleh tindakan Luhan, namun Sehun hanya terkekeh pelan.

"Apa-apaan ini Pangeran?" tanya Sehun pelan sambil menatap Luhan dalam.

"Ini adalah ganjaran yang tepat untuk orang tak tahu diri sepertimu. Pergi dan menghilang bagai ditelan bumi, lalu kembali dengan seenaknya." Bentak Luhan. Chanyeol mencoba menenangkan Luhan, namun sosok itu menampiknya.

"Lalu, apa masalah anda Pangeran?" Luhan membuka bibirnya tak percaya.

"Heuh, kau bertanya akan itu? Dasar bajingan, seharusnya kau tak usah kembali, lebih baik kau mati saja sana." Ucap Luhan kesal sambil membalik tubuhnya hendak pergi. Sehun tersenyum.

"Ya, aku nyaris mati. Tapi aku bersyukur Tuhan tidak membuatku mati, karena berkat itu aku bertemu dengan takdirku." Langkah Luhan terhenti.

"Aku ingin memperkenalkan pada kalian semua, dia adalah Do Kyungsoo. Calon istriku." Luhan membalik tubuhnya dan terkejut melihat Sehun yang melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo, dan mengecup pipi itu dengan sayang.

Sementara beberapa meter dari mereka, Jongin membulatkan matanya tak percaya, ada rasa lain yang menyelip di dalam hatinya. Ia memegang dadanya dan keningnya mengernyit dalam.

"Kyungsoo?" Tanya Baekhyun pelan. Kyungsoo mengangkat wajahnya, mencoba menatap mata Baekhyun dan sosok itu mengangguk pelan. Baekhyun menutup mulutnya dan menatap Luhan yang berdiri mematung dengan mata berkaca-kaca.

Chanyeol menatap Sehun, Luhan dan Kyungsoo bergantian lalu meminta musik untuk dimainkan kembali. Ketika musik kembali mengalun, Chanyeol menatap Sehun sekali lagi.

"Sehun kau yakin?" tanya Chanyeol. Sehun menarik tangan Kyungsoo dan mengecupnya pelan membuat yang lebih muda merona.

"Tentu. Setelah sekian lama, akhirnya aku menemukannya. Dia adalah cerminku, kekasihku dan akan menjadi istriku." Chanyeol kehilangan kata-katanya dan ia melirik Luhan yang membalikan tubuhnya.

"Sehun, tapi_"

"Paduka, seperti halnya perasaan anda. Perasaanku pun bisa berubah. Semua hanya masalah waktu." Ucap Sehun sambil menatap ke dalam mata Kyungsoo, dan Kyungsoo hanya menatap balik mata Sehun.

Jongin masih disana terdiam sambil memegang dadanya yang terasa semakin nyeri. Ia menatap gelang merpati ditanganya dan entah mengapa rasa sakit itu semakin terasa.

"Aku tak mungkin jatuh cinta kan, ibu?"

..

.

TBC

..

.

Yang mau gabung sama #teamsayangJongin dipersilahkan, wkwkwkwk...

Apa pendapat kalian?

aneh?

Kecepetan?

Bertele-tele?

Kebanyakan konflik?

Apapun itu, aku hanya bisa tersenyum guys. Chapter ini aku buat ngebut tanpa baca ulang chapter sebelumnya secara teliti tanpa baca ulang juga sebelum di publish. Biasanya aku bakal re-read 3-4 x tapi kali ini cuma 1 x, itu bukan hal yang patut dibanggain sih karena aku merasa hal itu mengecewakan banget, seharusnya aku bisa lebih baik dari ini tapi yah, sekali lagi aku gak punya waktu sebanyak dulu, yang tahu aku pasti bakal ngerti sepadet apa jadwalku sekarang T.T.

.

Okay, aku mau ucapin makasih banyak ya guys. Makasi yang sebesar-besarnya untuk kesetian kalian menantikan FF ini, kalian emang semangat buat aku. FYI, tiap aku ngerasa aku gak bisa lanjut nulis lagi, aku selalu baca ulang review kalian dan entah darimana itu seperti kekuatan buat aku. Dan untuk doa-doa kalian aku ucapin banyak-banyak terima kasih ya. Mulai dari skripsi aku yang berjalan lancar, nilainya yang amat sangat memuaskan sampai lulus test akademik dan psikotest untuk Prodi Profesi Apoteker, aku ucapin makasih sekali lagi. Aku terharu baca komentar kalian yang bener-bener dukung apapun langkah yang aku ambil.

.

Dan aku mau jujur sama kalian, jika nanti aku memutuskan untuk berhenti nulis aku harap itu gak jadi alasan buat kalian berhenti mencintai Chanbaek. Meski aku sama sekali gak berniat untuk berhenti, tapi aku gak bisa tahu keadaan / kondisi di masa depan nanti. Seperti sekarang, aku bener-bener kesulitan bagi waktu yang berdampak cerita aku yang molornya keterlaluan.

Asal kalian tahu, aku sedih tiap baca pesan kalian yang tanya tentang kelanjutan setiap ff ku, dan tanya apakah aku mengakhiri cerita ini atau berhenti nulis. Aku merasa telah mengecewakan kalian karena gak bisa kayak author lainnya, aku sekali lagi minta maaf ya. Dan sempet terlintas dikepala aku untuk berhenti nulis jadi gak ada hal yang buat kalian nunggu sampai berbulan-bulan, tapi sayangnya nulis udah bagian dari hidup aku. Jadi, aku cuma mohon untuk lebih bersabar lagi ya, aku bakal usahain seminim apapun waktu kosongku, aku bakal pake buat ngetik ff ku yang nunggak.

.

Okay, maaf udah ngomong panjang lebar, aku cuma mau bilang. Selalu jaga kesehatan kalian, jangan pernah memberikan kesempatan penyakit berkembang ya guys, cintai tubuh kalian, dan jangan lupa jaga pola hidup. Akhir kata aku ucapin SALAM CHANBAEK IS REAL ~ ( Entah gak tahu kenapa, motto Salam Chanbaek is real jadi ciri khas tersendiri buat ff ku, wkwkwkw ) See you as soon as possible.