ANOTHER ONE

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

Separuh Bintang By Evline Kartika

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: T

Warning: Genderswitch! Typos!

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

"Brengsek!" Hampir saja Jongin membanting HP-nya ke kolam renang kalau bukan Kyungsoo yang mencegahnya. Pikirannya benar-benar kacau.

Baekhyun kenapa sih? Kenapa setiap kali Jongin menghubunginya, teleponnya selalu di-rejeck?

"Hei..." Teguran Kyungsoo membuat pikiran Jongin yang menerawang ke mana-mana kembali berkumpul ke tempatnya semula. Dia menatap Kyungsoo tanpa senyuman. "Mereka itu kemana sebenarnya?"

Kyungsoo hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Jongin. Dia sendiri merasa lehernya hampir patah karena cowok itu terus-terusan mengajukan pertanyaan yang sama, yang membuatnya juga harus menggeleng terus-terusan.

Jongin membanting tubuhnya kesal. Sekarang pikiran bersalah mulai merasuki otaknya.

Seharusnya dia nggak bilang "iya" begitu saja waktu Chanyeol meneleponnya agar tidak usah menjemput. Seharusnya tidak...

"Jangan sepanik itu bisa nggak?" cetus Kyungsoo akhirnya. Jangan dikira dia tidak gelisah saat

Jongin tiba-tiba nongol di hadapannya dan bilang bahwa Baekhyun dan Chanyeol bolos sekolah.

Jangan dikira dia tidak memikirkan apa yang Baekhyun dan Chanyeol lakukan di luar sana. Hanya saja, tingkah Jongin yang lebih parah darinya malah membuat hatinya tambah kacau.

Jongin mendesah panjang. "Sori...," katanya akhirnya. Dia memandang wajah cewek di hadapannya lalu menjulurkan tangan kanannya. "Gue Kim Jongin. Panggil aja Jongin."

Jongin sudah pernah melihat cewek ini sebelumnya, waktu menjemput Baekhyun dua hari yang lalu. Tapi mereka memang belum berkenalan secara resmi. Dan hari ini dia malah tanpa ba-bi-bu lagi langsung datang ke hadapan cewek itu dengan tampang jutek plus ngomel-ngomel.

"Kyungsoo," jawab Kyungsoo singkat. Tapi senyum tipis muncul dari bibirnya. Ditatapnya Jongin yang masih gelisah. Tanpa perlu bertanya lagi pun dia tahu apa yang dirasakan cowok itu. Sama-sama merasa takut kehilangan.

"Mereka itu memang ada hubungan khusus ya?" tanya Kyungsoo. Jongin tidak menjawab.

Bibirnya ingin sekali mengatakan "tidak". Tapi sayangnya, sadar tidak sadar, percaya tidak percaya. Baekhyun dan Chanyeol pasti ada apa-apa. Terdengar desahan kecil. Jongin mengangkat kepalanya. Dilihatnya cewek itu. Detik itu Jongin menyadari bahwa ternyata Kyungsoo memiliki bola mata sebening kaca!

.

.

.

.

"Dasar goblok!" bentak Xiumin kesal.

"Ya ampun, Jongdae! Ngapain bilang sama Jongin kalo Baekhyun bolos bareng Chanyeol?"

Jongdae masih memandang Xiumin tidak mengerti. "Emang kenap..." Jongdae langsung menunduk tanpa melanjutkan ucapannya saat melihat Xiumin menatapnya sambil melotot.

"Jongdae..." Xiumin menggeleng-geleng. Sementara Kris yang duduk di sebelah Xiumin juga ikut menggeleng-geleng. Hanya saja, Kris menggeleng-geleng bukan karena menyesali perbuatan Jongdae itu tadi, melainkan karena kasihan temannya lagi dimaki-maki pacarnya sendiri.

Mereka bertiga duduk di depan gerbang SMA. Waktu sudah menunjukkan jam setengah lima.

Murid-murid yang lain sudah pulang, cuma sisa beberapa yang belum dijemput. Dan sisa yang belum dijemput itu cuma anak-anak kelas satu yang nggak tahu apa-apa. Jadi, Xiumin nggak peduli mau teriak-teriak sekeras apa pun. Jesse sedang karya wisata, jadi dia nggak ikut soal perdebatan ini.

"Jongin itu sangat-sangat overprotektif sama Baekhyun, Jon," kata Xiumin lemas lalu menjatuhkan pantatnya ke lantai. "Gue nggak ngerti deh gimana jadinya kalo Jongin tahu soal ini. Lagian..." Xiumin memandang kedua cowok di hadapannya itu, meminta dukungan kalau-kalau dia berkata salah. "Jongin itu kan suka sama Baekhyun. Masa sih dia nggak cemburu kalo Baekhyun bolos Chanyeol?"

"Udahlah...," Kris menengahi. "Biar waktu aja yang menyadarkan mereka semua tentang siapa yang paling berarti."

.

.

.

.

JADI... siapa yang bego sih sebenarnya? Baekhyun memandang malas ke arah rumput sekolah yang kini mulai menghijau. Kemarin semuanya kacau-balau. Saat dia dan Chanyeol pulang, Jongin sudah tidak ada di sana. Dia sempat melihat mobil Jongin keluar dari garansi rumah, tapi tetap saja tidak terkejar. Dan cowok itu marah besar. Baekhyun tahu itu. Karena tidak ada satu pun telepon yang diangkat dan tidak ada satu pun SMS yang dibalas. Tadi pagi pun, Jongin tidak menjemput Baekhyun tanpa memberi kabar terlebih dulu.

Kalau Chanyeol jangan ditanya. Dia sudah pasti bertengkar hebat dengan Kyungsoo. Memang sih, Baekhyun tidak mendengar secara jelas apa yang mereka perdebatkan. Hanya saja, saat mereka pulang, Kyungsoo sudah menunggu di depan pintu rumah sambil menangis. Lalu mereka malah bertengkar di kolam renang.

Kenapa sih dua bocah itu malah memilih berantem di samping kolam renang? Nggak ada tempat lain apa? Tapi, bagus juga sih. Kalau-kalau tidak terjadi kesepakatan kan lebih gampang menjadikan salah satunya basah. Walaupun sepertinya tidak akan pernah terjadi, karena Kyungsoo itu kan cewek kalem yang sama sekali bukan tipe yang suka menceburkan orang.

Dan Chanyeol... Hah! Berani taruhan, sifat playboy-nya itu pasti akan dijadikan tameng untuk tidak bersikap kasar pada cewek cantik. Bah!

Pagi harinya, Baekhyun akhirnya berangkat sekolah naik bus. Dia malas nebeng Chanyeol. Takut menimbulkan masalah yang aneh-aneh lagi. Lagian nggak lucu kan kalo tiba-tiba Kyungsoo nangis di depan Henry dan Amber cuma gara-gara ngeliat Baekhyun pergi bareng Chanyeol ke sekolah.

Bukan cuma itu...

Bisa dibilang hari ini adalah hari tersial buat Baekhyun. Udah pake acara kepentok pintu bus, ditambah kena omel sopirnya gara-gara waktu turun lupa bayar. Dan yang paling parah, dia harus berjalan lima puluh meter untuk mencapai gedung SMA. Mau nangis rasanya.

"Baek..." Xiumin duduk sambil menyerahkan satu piring kentang goreng yang baru saja dibelinya dari kantin. Dia memandang HP yang sedari tadi melintir-melintir di tangan Baekhyun. "Belom ada SMS?" tanyanya sambil memasukkan potongan kentang ku mulutnya.

Baekhyun menggeleng tanpa menggubris kentang yang disodorkan Xiumin. Dia malah ganti bertanya.

"Mana Jongdae? Tumben istirahat panjang dia nggak bareng lo?"

"Lagi di ruang band." Baekhyun mengernyitkan dahi.

"Ngapain? Latihan? Kan udah nggak ada acara apa-apa lagi? Masa buat penyambutan murid baru latihannya sekarang? Ujian akhir aja belom mulai."

Xiumin mengangkat bahu. Bukan karena dia tidak tahu kenapa Jongdae latihan, tapi justru karena dia sendiri tahu dengan jelas bahwa Jongdae di sana memang bukan buat latihan.

.

.

.

.

Jongdae hampir saja menyemburkan Pepsi yang baru saja diminumnya sambil melotot tak percaya. "Apa?! Tunangan?!"

"Gila lo!" sembur Kris kesal. "Lo liat! Jongdae aja nggak gue kasih tahu. Trus lo nuduh gue bilang soal pertunangan lo sama Baekhyun? Lo sinting apa?!"

Chanyeol membanting tubuhnya di lantai ruang band sambil meremas rambutnya dengan kesal.

Kalau mengingatkan kejadian kemarin, jantungnya benar-benar hampir berhenti berdenyut.

"Yeollie, udahlah... Jangan bikin kesalahpahaman lagi," Baekhyun memandang Chanyeol dari balik asap spageti yang baru saja diantarkan pelayan. "Jangan membuat semua orang serbasalah! Kai pasti khawatir sama gue sekarang. Dan Kyungie juga pasti khawatir sama lo." Chanyeol meletakkan pizza yang baru digigitnya sepotong. Ditatapnya mata Baekhyun. Dia bisa melihat kesungguhan di sana.

"Jadi Jongin sumber masalahnya?"

Baekhyun mengembuskan napas panjang. "Elo! Elo sumber masalahnya, Yeollie. Denger! Sekarang Kai pasti lagi nyariin gue, dan dia pasti nyari ke rumah. Dan kalo dia sampe ketemu sama Kyungie, apa lo nggak merasa bersalah sama tunangan lo itu?" bentak Baekhyun sambil memberi lafal keras pada "tunangan".

"Lagian, gue nggak mau bikin Kyungie mengira antara elo sama gue ada apa-apanya. Sekarang terserah kalo lo masih mau makan. Tapi gue mau pulang. Gue juga bisa kok naik bus sendiri."

Baekhyun mengambil tasnya yang tergeletak di meja. Tadinya Chanyeol hanya diam. Tapi begitu Baekhyun hampir mencapai pintu, Chanyeol sudah lebih dulu menarik tangan gadis itu ke tempat parkir.

Tiba di rumah, Chanyeol masih sempat melihat Bibi Lim sedang membujuk Kyungsoo agar berhenti menangis sebelum akhirnya wanita itu menyerah dan memilih masuk setelah melihat mobil Chanyeol sudah parkir di garansi.

"Kamu kenapa? Sebenarnya ada apa? Tadi ke mana?" Berbagai pertanyaan terlontar dari mulut Kyungsoo.

Chanyeol masih ingat, saat masih kecil Kyungsoo juga sering sekali merajuk seperti ini. Biasanya Chanyeol hanya tertawa sambil mencubit pipi Kyungsoo lalu mengumandangkan berbagai bujukan.

Hanya saja kali ini dia merasa sangat lelah. Bukan hanya lelah, dia tahu bahwa jauh di lubuk hatinya ada luka yang bergulir di sana. Luka yang diperoleh bukan karena air mata, bukan karena ucapan kasar, juga bukan karena pukulan. Tapi hanya karena kejadian semenit... satu menit yang lalu.

Baekhyun turun dari mobil, bahkan sebelum Chanyeol menginjak rem, lalu mengejar mobil Jongin yang baru saja keluar dari garasi rumahnya. Baekhyun pulang dengan tampang lusuh dan langsung masuk ke kamar tanpa melihat Chanyeol dengan sebelah mata sekalipun, padahal Chanyeol jelas-jelas ada di depannya

"Yeol..." Panggilan Kris membuat Chanyeol meninggalkan ingatannya. "Lo denger nggak sih gue bilang apa? Berhentilah main-main! Sejak kapan lo berubah jadi playboy aneh kayak begini?" Kris medengus kesal. "Asal lo tahu, penyakit 'pangeran' lo kalo ini udah bener-bener parah! Ibaratnya kalo..."

BRAKK! Xiumin menendang pintu ruang band dengan kasar. "HEH! COWOK GILA! Beneran lo tunangan?!"

Kris mendelik melihat kedatangan Xiumin di saat yang sangat-sangat tidak tepat. Bahkan dia juga belum sempat menyelesaikan ucapannya. Tapi emosi Xiumin sudah tidak mampu membuat cewek itu mengerti apa maksud pelototan Kris mau pun kedipan mata Jongdae. Dia malah memandang Chanyeol dengan tatapan tidak percaya saat cowok itu tidak membantah pernyataannya tadi. "Gila lo ya! Lo beneran udah tunangan?" Xiumin menggeleng-geleng.

"Min..." Jongdae menghampiri Xiumin lalu membujuknya untuk duduk. Dia tahu, kalau ceweknya ini sudah emosi, pasti tingkahnya bakal tidak terkendali.

"Sekarang kita juga lagi ngebahas itu. Mana Baekhyun?"

"Lagi dipanggil Pak Emon, disuruh bantuin buat persiapan praktikum," jawab Xiumin ketus dengan pandangan masih lurus ke arah Chanyeol. "Sekarang jelasin apa maksud lo? Kenapa? Nggak punya keberanian buat bilang soal pertunangan lo dari mulut lo sendiri?" Xiumin mencibir.

"Masa mesti Kyungie yang ngasih tahu Baekhyun soal pertunangan lo? Asal lo tahu ya, buat cewek, kemenangan yang dilaporkan oleh saingan sendiri jauh lebih menakutkan dibanding dipermainkan!"

Chanyeol terbelalak. "Apa?" Dia beringsut dari duduknya lalu menatap Xiumin lekat-lekat.

"Apa maksud lo tadi?"

"Maksud gue?" Xiumin menghela napas. "Udahlah. Gue capek ngomong sama orang yang otaknya di dengkul. Sekarang terserah lo aja deh."

Tepat di saat Xiumin menyentuh gagang pintu...

BRUK!

Sebuah tangan melayang menonjok tembok tepat di depan muka Xiumin.

"JELASIN KE GUE APA MAKSUD LO BARUSAN!" bentak Chanyeol kasar.

"Yeol!" Jongdae menarik sahabatnya itu agar menjauh dari Xiumin. Sedang Xiumin masih menatap Chanyeol, tak percaya karena Chanyeol bisa membentaknya seperti itu.

"Lo masih nggak ngerti maksud gue?" Xiumin membelalakkan matanya.

"Baekhyun itu suka sama lo, GOBLOK!" Chanyeol tertegun. Separuh hatinya masih merasa semua itu hanya tipuan. Tapi begitu dia melihat Xiumin, cewek itu masih tetap menatapnya lurus-lurus.

Dan Chanyeol tahu cewek itu memang tidak pura-pura.

Seperti tersadar dari lamunan panjang, Chanyeol hendak berlari mengejar cewek yang selama ini seperti ada dalam dunia maya.

Tapi...

Bruk...

Kaki Xiumin menjegalnya tepat ketika Chanyeol hendak mencapai pintu. "Mau apa?" tanya Xiumin ketus "Mau ngejar Baekhyun? Baru sekarang mau ngejar Baekhyun? TELAT! dia udah jadian sama Jongin!"

"Apa?!"

"Kenapa? Nggak percaya? Gue yang nyuruh Baekhyun buat nerima Jongin. Dan tadi gue juga denger sendiri waktu mereka ngomong di telepon." Xiumin menatap Chanyeol seakan-akan bertanya "Mau bilang apa lagi lo?".

Kalau saja Jongdae tidak berusaha menangkap lengan Chanyeol yang sudah hampir melayang, mungkin tangan itu sudah mendarat di pipi Xiumin.

"Lo jangan gila, Yeol!" seru Jongdae kaget. Tapi Xiumin tidak peduli.

"Kenapa? Mau nyalahin gue? Atau mau nyalahin Jongin?" Xiumin mendekatkan wajahnya ke wajah Chanyeol dan berbisik di sana, "Seenggaknya, DIA BUKAN COWOK PENGECUT KAYAK LO!"

.

.

.

.

KYUNGSOO memainkan jarinya di meja dapur sambil memandangi Bibi Jung yang sedang mengocok adonan kue. Beberapa loyang terletak di hadapannya dengan permukaan bertabur terigu. Sekilas tercium aroma manis dan hangat.

Entah kenapa hari ini menjadi begitu lengang. Kyungsoo baru menyadari bahwa ternyata rumah ini begitu besar. Hanya terdengar suara mesin pemotong rumput dan suara tak tuk dari tangai kain pel yang digunakan Bibi Im. Selebihnya hanya suara oven dan kocokan mixer.

"Non udah lama banget ya nggak ke sini? Dulu masih suka nangis, masih suka lari-larian sama si Minnie. Sekarang nggak kerasa udah gede ya. Udah cantik," ujar Bibi Im tanpa mengalihkan pandangannya dari adonan kue.

Kyungsoo tersenyum kecil. "Iya, Bibi kangen nggak?"

"Uuh... Pasti kangen atuh. Kan Non udah Bibi anggep kayak anak Bibi sendiri." Kyungie tertawa kecil.

"Mmm... Kalo Chanyeol, Bi? Suka kangen nggak sama saya?" Bibi Jung mendesah mendengar pertanyaan Kyungie.

"Non, kalo Chanyeol mah nggak usah ditanya. Waktu Non pergi, Chanyeol jadi pendiaam banget. Trus jadi males latihan piano. Padahal Bibi suka banget dengerin suara pianonya Chanyeol. Bapak sama Ibu juga makin jarang di rumah. Padahal kan kasian waktu itu Chanyeol masih kecil. Dia sering banget nanyain kapan Non bakal pulang. Dia jadi suka... apa tuh istilahnya, be... te... Iya, bete, Non. Udah gitu dia malah jadi keluyuran. Bawabawa cewek pula. Ganti-ganti lagi ceweknya. Bibi sebenarnya pengen nasehatin, tapi Chanyeol suka banget ngambek. Jadi, ya udah, Bibii nggak bisa bilang apa-apa." Bibi Jung mematikan mixer-nya lalu mulai menuang adonan kue ke dalam loyang-loyang kecil.

"Suka gonta-ganti cewek, Bi?"

"Iya, tapi nggak ada yang secantik Non kok," Bibi Jung tertawa.

"Makanya pas Non Baekhyun dateng, Bibi seneng banget. Sejak ada Non Baekhyun, rumah ini jadi nggak sepi. Tiap hari pasti adaaa aja obrolannya. Hari pertama ke sini aja, Non Baekhyun udah bantuin Bibi masak. Udah gitu, Chanyeol jadi sering ketawa, jadi jarang pergi-pergi keluyuran lagi. Malah jadi rajin belajar. Bibi aja sampe heran, kok Chanyeol bisa belajar juga?" Bibi Jung terkekeh.

"Tapi Non Baekhyun suka berantem sama Chanyeol. Kadang-kadang suka timpuk-timpukan, suka diem-dieman seharian, suka marah-marahan. Non Baekhyun galak lho, Non. Dia suka banget ngomelin Chanyeol. Bibi aja nggak berani ngomelin Chanyeol. Tapi herannya, Chanyeol nurut sama dia. Baguslah, Non. Soalnya sejak ada Non Baekhyun, Chanyeol jadi nggak pernah bete lagi. Waktu Chanyeol ulang tahun aja, Non Baekhyun yang bikin pesta. Rameee banget, padahal yang dateng nggak nyampe sepuluh orang." Bibi Jung tersenyum simpul.

"Tapi Non Baekhyun nggak bisa main piano kayak Non."

Kyungsoo berusaha bersikap biasa mendengar ocehan Bibi Jung. Berusaha melapisi setiap sudut perih yang terkuak di hatinya. Begitukan keadaannya? Begitukah yang terjadi selama ini? Sepanjang itukah makna waktu yang tertinggal?

"Bibi kasian deh sama Non Baekhyun," ujar Bibi Jung lagi dengan mimik wajah bersimpati.

"Yang Bibi tahu, sekarang Non Baekhyun udah nggak punya siapa-siapa. Kadang-kadang Bibi suka ngeliat Non Baekhyun ngelamun sediih banget. Kalo Bibi tanya kenapa, dia cuma senyum aja. Bibi jadi nggak berani nanya, takut tersinggung."

"Bi...," ujar Kyungsoo saat Bibi Jung mengeluarkan kue-kue yang sudah matang dari dalam loyang, dan memulai memasukkan loyang-loyang yang masih berisi adonan ke dalam oven. "Chanyeol sama Baekhyun deket ya, Bi?"

"Yah, namanya juga serumah, Non. Tiap hari serba bareng. Mau nggak mau pasti deket. Ini, cobain kuenya udah mateng." Bibi Jung memberikan satu cup muffin yang masih mengepul.

"Kyungie..." tiba-tiba seseorang menepuk bahunya. Kyungsoo terperanjat, sampai-sampai muffin yang ada di tangannya jatuh ke meja.

"Lho, Paman kok udah pulang?"

Henry tersenyum di belakangnya sambil melonggarkan dasi garis-garis hitam-putihnya. "Kan hari ini kita mau survei lokasi konser kamu bulan depan."

"Ya ampun," Kyungsoo menepuk dahinya pelan, "Maaf, Paman. Saya lupa. Tunggu ya, Paman, saya ganti baju dulu."

"Oh ya, Kyungsoo, sekalian nanti sore kita jemput mama-papa kamu di airport."

.

.

.

.

Jongin keluar dari ruang ujian dengan langkah gontai. Hari ini hari terakhir UAN. Bukan saja hatinya yang sakit, otaknya juga tidak dapat berfungsi dengan baik.

Dia meletakkan tasnya di tanah dan menyandarkan tubuh di dinding kelas. Pandangannya menyapu keseluruhan gedung sekolah. Masih teringat saat Baekhyun, Sehun, dan dirinya pertama kali memasuki sekolah ini dengan seraga, putih merah. Di telingapun masih terngiang canda tawa yang mereka lewati bersama. Begitu banyak kenangan, begitu banyak waktu yang telah terlewati. Dan setiap sudut sekolah ini begitu banyak menyimpan masa lalu.

Jongin memejamkan matanya. "Sehun...," dia berucap lirih. "Gue sayang sama dia. Apa salah kalo gue sayang sama dia?"

Dia mengambil HP dari dalam tasnya. Tertera sembilan SMS dan lima misscall. Jongin baru saja mau menghapus semua SMS itu ketika dia melihat salah satunya terdapat nomor tidak dikenal.

Jln. Telaga Biru IV no. 52, Griya Hijau, Bandung.

.

.

.

.

Kyungsoo memandang pohon-pohon yang seakan-akan bergerak mundur. Dia mendekap kedua lengannya di dada. AC mobil tiba-tiba saja terasa menjadi begitu dingin. Pikirannya melayang entah ke mana. Berusaha mencerna makna setiap kata yang terucap dan setiap tindakan yang terlihat. Tanpa sadar dia bergumam, "Apa iya semuanya bisa berjalan selancar itu?"

Henry memandang gadis yang sudah dianggap keponakannya itu dengan heran. Beberapa kali dia mendapati Kyungsoo bergumam sendiri. "Kenapa, Kyung?"

"Ah?" Kyungsoo menatap Henry sambil melebarkan matanya. "Nggak ada apa-apa, Paman."

Kyungie menggeleng-geleng ketika dia menyadari gumamannya tadi ternyata cukup keras untuk didengar.

Sejak tadi Henry sudah menerangkan dengan panjang-lebar seluruh rencana yang dibuat untuk konser dan pertunangan Kyungie. Tapi tidak ada satu kata pun yang menyangkut di otak Kyungie.

Selebihnya, hanya gelisah, gelisah, dan gelisah. Mungkin benar sebuah pertanyaan kuno... Jika semuanya berubah, itu pasti karena waktu. Tapi, apa iya harus berubah sedemikian jauh?

"Tenang saja," Henry mengelus rambut Kyungie dengan tangan kiri sementara tangan kanannya tetap memegang setir.

Kyungie tersenyum dipaksakan. "Paman kok nggak bilang soal pertunangan ini ke Chanyeol?"

Henry tersenyum. "Nggak ada bedanya kan kalaupun nggak bilang? Toh, Chanyeol pasti setuju. Lagi pula..." tiba-tiba saja senyum itu lenyap. Berganti dengan ekspresi yang tidak tertebak.

"Lagi pula... Paman nggak mau melakukan kesalahan untuk yang kedua kali." Kyungsoo mengerutkan dahinya, menatap Henry meminta penjelasan.

"Kyungie..." Henry menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali. "Cinta itu bukanlah sesuatu yang sempurna. Adakalanya cinta itu tidak pernah berubah, tapi tidak jarang cinta bisa berubah menjadi tidak seperti sediakala. Dan Paman ingin Chanyeol benar-benar mencari cinta yang membuat sesuatu yang terlepas itu kembali menjadi sempurna."

Hehh? Kyungsoo makin mengernyitkan dahinya. Tuh orang lagi ngomong apa? Sempurna? Tidak sempurna? Berubah? Tidak berubah? Cinta apaan tadi yang dia bilang?

"Paman..." Akhirnya Kyungie lebih memilih mengutarakan pertanyaan yang satu ini dibanding harus memikirkan filosofi Henry yang tergolong aneh itu. Lagian, Kyungie kan sekolah musik. Bukannya sekolah filsafat! "Kok Paman ngangkat Baekhyun jadi anak sih, Paman? Emangnya ada hubungan apa?"

Mendengar itu, wajah Henry menegang, walaupun hanya sepersekian detik. Selebihnya dia kembali memamerkan senyum tipis.

"Banyak hal yang sulit dimengerti, Kyung. Dan mungkin, di saat kamu menyadarinya sesuatu itu telah berubah menjadi penyesalan, sehingga akan sulit membuatnya kembali utuh." Henry menarik napas panjang.

"Untungnya, masih ada kesempatan. Biarpun tidak lagi utuh, asalkan bisa diperbaiki. Sedikit saja, pasti akan memberi arti."

Toeng!

Apaan lagi ini? Kyungie jadi tidak habis pikir. Sebenarnya Henry itu pengusaha atau ahli sastra?

Henry melirik Kyungie, yang mengernyitkan dahinya sekilas. Henry tersenyum. "Suatu saat semuanya pasti akan jelas, Kyung. Hanya saja, saat ini bukan waktu yang tepat."

.

.

.

.

Penat itu kembali datang... Kembali membuat hilang keseimbangan dan jatuh tak terarah...

CHANYEOL mengempaskan tubuhnya ke sofa. Benaknya kembali mengulang adegan di sekolah siang tadi.

"Yeollie... Ntar gue nginep di rumah Xiumin ya? Paling sampe ulangan umum selesai."

What?! Chanyeol melotot mendengar permintaan Baekhyun. Yang bener aja! Sampe ulangan umum selesai?! Itu kan dua minggu! Baru saja Chanyeol mau menolak, Xiumin sudah menarik tangan Baekhyun ke mobil Jongdae.

"Dah Chanyeol...," ujar Xiumin penuh kemenangan sambil mengedipkan sebelah matanya.

Kalau tidak ingat ancaman Jongdae saat di ruang band-"Kalo sampe cewek gue kenapa-kenapa, jangan salahin gue kalo lo bakal gue hajar!"-Chanyeol pasti sudah membanting Xiumin ke tanah.

"Tenang aja, Yeol. "Gue yang bakal ngajarin lo! Gue rela deh nginep di rumah lo cuma buat ngajarin lo doang. Baekhyun udah janji kok bakal ngajarin gue di rumah Xiumin. Jadi pulang sekolah, gue belajar di rumah Xiumin, malemnya gue ngajarin elo di rumah elo. Oke!"

Hah?! Kris yang ngajarin? Nggak salah?! Walaupun Chanyeol juga nggak pinter-pinter amat, tapi ya ampun... Kris itu kan ranking ke-20 dari 25 orang.

"Heh! Lo merendahkan gue amat sih?! Udah, si Jongdae juga bakal gue suruh nginep di rumah lo.

Tapi jangan pernah berniat ikut belajar di rumah Xiumin! Bisa abis lo dicincang sama dia. Lagian, maksud dia itu sebenernya baik kok. Manfaatin waktu dua minggu ini buat mikir!"

Dan bukan alasan itu saja yang membuat Chanyeol membanting tubuhnya tadi.

Sepulang sekolah... Baru saja menginjakkan kaki di rumah, Chanyeol sudah dikejutkan dengan kedatangan dua orang yang sangat tidak disangka. Mama dan papa Kyungsoo.

Ya tuhan... Benar-benar mau mati rasanya. Bukan karena pertunangan. Tapi mama dan papa Kyungsoo tergolong makhluk yang sangat perfeksionis. Dan sok romantis. Dan sangat cerewet.

Begitulah menurut Chanyeol setiap kali harus berhadapan dengan Paman Do (papa Kyungsoo) dan Tante Sungmin (mama Kyungie).

Mereka selalu berkomentar tentang masakan yang agak-agak lho, bukannya terlalu-asin, juga kalau menemukan sedikit-lebih tepatnya sangat sedikit-noda yang menempel di bajunya. Dan macem-macem lagi deh. Untung aja kedua orang tua itu memutuskan tinggal di hotel-hotel bintang lima tepatnya. Kalo nggak, Bibi Jung pasti selalu manyun. Pokoknya, Bibi Jung sangat tidak suka dengan mereka.

Mungkin salah satu hal yang patut di syukuri Chanyeol adalah mama dan papanya tidak banyak cincong seperti mereka. Seengaknya Henry dan Amber selalu menghargai apa yang telah dilakukan pembantu-pembantu mereka. Sepertinya faktor itu jugalah yang membuat Bibi Jung dan bibk lain-lainnya betah kerja di sini.

Satu lagi, Paman Do dan Sungmin sangat suka memamerkan kemesraan di seantero jagat.

Chanyeol nggak pernah menemukan mereka melepaskan rangkulan satu sama lain, selalu berpandangan dengan penuh cinta, dan saling memanggil dengan kata-kata seperti honey, darling, my love. "Bisa tolong ambilkan itu, honey?" "Tolong pegang tasku, my love."

Hiah... merinding. Se-playbot-playboy-nya Chanyeol aja, nggak pernah tuh dia sayang-sayangan sampe sebegitunya.

Dan untungnya lagi, Kyungsoo menuruni bakat terpendam kedua orangtuanya. Kalo nggak, mungkin Chanyeol bakalan lari tunggang-langgang.

Oh iya, walaupun Paman Do dan Sungmin tinggal di hotel, Kyungsoo tetap tinggal di rumah Chanyeol dengan alasan yang sangat-sangat standar: di hotel nggak ada piano buat latihan.

Terserahlah... Yang penting kedua orang itu nggak ada di rumahnya, Chanyeol sudah bersyukur beribu-ribu kali.

Chanyeol beranjak ke balkon dan menghirup udara malan sebanyak-banyaknya di sana. Dia memandang ke balkon sebelah. Aneh rasanya tidak menemukan Baekhyun di sana. Biasanya cewek itu pasti akan tersenyum sambil teriak, "Liat tuh! Bintang aja lebih cakep daripada lo." Dan hari ini, bintang pun seperti tidak mau mengalah untuk menemaninya.

Chanyeol menarik napas panjang lalu mengacungkan telunjuk dan ibu jarinya ke langit.

"Sehun!" teriaknya. "Gue nggak bakal kalah sama lo! Gue nggak bakal ngalah sama lo yang cuma bisa ngasih setengah dari bintang-bintang yang ada di dunia!" Dan di saat yang sama, sebuah SMS masuk.

Apa pun yang terjadi... Gue nggak bakal nyerahin Baekhyun ke lo...

.

.

TO BE CONTINUED

.

.