Disclaimer: Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
.
-Lie With You-
(Berbohong Dengan Mu)
.
.
10
Sakura POV
-Senin-
Sasuke menghubungiku tadi siang. Ayahnya dan ibu tirinya akan datang berkunjung ke rumah kami nanti malam.
Ia memintaku untuk pulang lebih awal. Kami harus memindahkan semua barang Sasuke ke kamarku untuk menghindari kecurigaan mereka.
Kamar Sasuke yang awalnya menjadi kamar utama kini berganti menjadi kamar tamu. Sasuke tentu saja keberatan pada awalnya. Namun ia mempertimbangkan keenganan ku, untuk berada di kamarnya. Sasuke tahu aku hanya merasa nyaman apabila berada di kamarku yang sekarang.
Sasuke juga akan menyusul setelah tugasnya di kantor kepolisian selesai.
Aku akan membersihkan rumah dan begitu Sasuke sampai, Sasuke bisa memindahkan barang. Kami harus bekerja sama dengan baik dalam menghadapi situasi seperti ini.
Aku dapat merasakan kehadiran Ino di belakangku. Langkah high heels Ino sangat khas, anggun dan pelan. Aku tidak memuji, tapi itu kenyataannya. "Sakura?"
"hmm?" Mataku masih berfokus pada layar komputerku. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat, agar aku bisa pulang lebih awal.
Ino meletakkan kopi diatas mejaku. "Ini untukmu." Oh tuhan, Ino ku yang manis sungguh pengertian.
"Terimakasih Ino." Aku menoleh sebentar lalu tersenyum singkat.
Ino ikut duduk disampingku. Lagi pula itu meja kerjanya. Takkan ada yang menghalanginya untuk duduk. "Bagaimana dengan Sasuke? Apa keputusan kalian?"
Jariku berhenti bergerak beberapa saat lalu kembali lagi bekerja. Aku tahu Ino akan membahas ini lagi. Aku tahu, Ino bukannya ingin ikut campur. Tapi ia perduli, tidak seperti orang kebanyakkan yang hanya penasaran. "Kami baik-baik saja. Hanya sedikit salah paham kemarin. Kami memutuskan untuk memperbaiki hubungan kami."
"Kau lebih dewasa dari yang ku pikirkan Sakura. Perceraian bukan jalan satu-satunya. Pernikahan tidak sama dengan permainan. Bila kau tak suka kau bisa menghentikannya sesuka hati. Pernikahan tak sesederhana itu. Kalian masih punya harapan. Aku senang mendengar bahwa kalian akan memperbaiki hubungan kalian."
Ino memang suka bicara panjang lebar. Dan itu bukan omong kosong. Karena Ino pernah mengalami kejadian serupa walaupun dalam kasus yang berbeda. "Ya, aku juga merasa, uhmm sedikit.. senang, mungkin. Tapi hari ini Ibu akan datang ke rumah kami."
Ino menaikkan sebelah alisnya, "ibu?" ia terkekeh. "Maksudmu Karin? Oh tuhan kau akan baik-baik saja Sakura. Itu takkan menjadi masalah besar, jika kau bisa tetap bersikap normal. Layaknya menantunya."
Aku mengangkat bahu ragu, "ku harap juga begitu. Tapi hanya saja, aku kurang senang mengetahui Karin juga ikut berkunjung. Apa Sasuke akan senang melihat kehadirannya? Ahh tentu saja pria itu senang." Pikirku pesimis.
Ino menghela nafas kasar, "semua orang pasti akan merasakan hal yang sama bila berada di posisi mu Sakura."
Aku menyelipkan rambutku kebelakang telinga, gugup. "Apa kau pikir Sasuke akan menghakimi sikapku nanti?"
Ino mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"
"Uhmm, yah seperti.. Mu-mungkin saja aku kurang sopan pada Karin nanti. Dan Sasuke akan marah-marah karenanya."
Aku bahkan tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulutku.
Ino terperangah, "maksudmu kau kasar padanya?"
Aku mengangguk ragu. Ino mengetuk meja, wajahnya mengambarkan wanita itu sedang berpikir keras. Urat-uratnya bahkan keluar. Aku kagum dengan keperduliannya pada hidupku.
"Ku rasa, jika melihat sikap Sasuke padamu akhir-akhir ini. Mungkin saja ia bisa memaklumi sikapmu. Lagipula Sasuke tidak dalam posisi bisa memarahimu. Tapi aku sarankan tetaplah berperilaku baik. Disana bukan hanya ada kalian bertiga. Tapi ada mertuamu. Jangan sampai membuatnya curiga." Ino memajukan wajahnya hingga hanya berjarak 5 centi dari wajahku, ia menatapku serius. "Pikirkan ini. Ayah Sasuke tahu bahwa hubungan Sasuke dan istrinya sangat baik. Apa jadinya nanti jika ia melihatmu kasar pada istrinya, ia pasti akan berpikir. Apa ada masalah kau dengan istrinya. Ujung-ujungnya Sasuke yang akan jadi pihak penengah, yang pada nyata ia terlibat. Bukan terlibat lagi, tapi pemeran utamanya."
Aku sangat berharap, kali ini saja. Ino salah. Tapi pada nyatanya, ia benar.
Sasuke pemeran utamanya.
Suasananya jauh dari yang aku bayangkan. Sama sekali tak terlihat janggal. Seperti ini sangat natural dan tak terjadi apa-apa diantara mereka.
Sasuke tak lagi menatap Karin penuh cinta, dan juga Karin hanya tertawa sambil memandang wajah ayah. Kupikir Sasuke akan memperlihatkan kekesalannya tapi pada nyatanya ia hanya bersikap biasa saja.
Dan sekarang hanya aku yang merasa aneh dan canggung.
Sampai ayah memecahkan lamunanku. "Sakura? Apa kau kurang sehat?" Ayah menatapku khawatir. Tidak, bukan hanya ayah saja. Tapi mereka berdua menatapku dengan pandangan bertanya.
Aku tersadar, "ah, ya.. Maksudku.. Tidak, hanya ada pekerjaan kantorku yang belum selesai. Aku hanya memikirkan bagaimana lanjutannya lagi."
Ayah mengangguk paham, aku melirik Sasuke disampingku. Ia sedang memotong dagingnya. Sama sekali tak menatapku lagi setelahnya.
"Ah aku baru ingat." Semuanya mengalihkan pandangan kearah ayah. "Sasuke. Kau tahu aku sudah cukup tua. Dan perusahaan butuh pemimpin baru. Kau. Hanya kau yang aku harapkan."
Sasuke terdiam sejenak, kemudian kata-kata yang keluar dari mulutnya sungguh mengejutkan untukku. "Ya. Aku mengerti. Aku akan berhenti dari kepolisian."
Aku menatap Sasuke khawatir, ini tidak seperti Sasuke yang biasanya. Sasuke sangat mencintai pekerjaannya. Dan kini ia akan melepaskan dengan mudah. Kupikir ia akan memberontak.
Ayah tersenyum bangga. "Aku senang mendengar keputusanmu."
Sasuke hanya balas tersenyum tipis. Ada sesuatu dimatanya.
"Lagipula, cita-citaku sudah terwujud. Terimakasih atas waktunya ayah."
Ayah mengangguk. "Aku dan Karin akan pindah ke luar negeri setelah meresmikanmu. Kami ingin menghabiskan waktu disana. Kau tahu aku benar-benar lelah, dan ingin beristirahat. Bukan begitu sayang?"
Karin mengangguk sambil menahan tawanya.
Sasuke tersenyum tipis. "Ayah memang sudah saatnya beristirahat. Mohon jaga ayahku dengan baik ibu." Sasuke menunduk sopan kepada Karin.
Ini benar-benar ganjil. Apa yang telah terjadi antara Karin dan Sasuke?
Sasuke POV
5 jam yang lalu sebelum pertemuan keluarga.
"Kita harus menghentikan semua kegilaan ini." Ucapku tegas.
Karin menatapku tak percaya, sebelum tatapannya meredup. "Kau benar, aku tak bisa lagi melanjutkan ini."
Ini aneh, aku sama sekali tak menyesal sedikitpun. Dan tak ada lagi rasa sakit di dadaku yang ada hanya kelegaan.
Karin mengelus lembut rambutku. "Setelah ini, kau benar-benar akan menjadi keluargaku bukan?" Aku mengangguk. Bagaimanapun aku tetap menghargai Karin. Sebagai ibu tiriku dan wanita yang pernah aku cintai. Aku benar-benar akan melepaskannya.
"Apa kau mencintai ayahku?" entah mengapa aku sangat ingin menanyakan ini.
Karin terdiam sejenak, kemudian tersenyum lembut. Tangan menyentuh wajahku, "daripada mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Fugaku adalah segalanya bagiku. Aku tak mampu menyakiti perasaannya lebih jauh lagi. Tapi kau, akan tetap menjadi pria yang pernah aku cintai. Terimakasih Sasuke. Berkat kau. Aku merasakan bagaimana rasanya menjadi seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta."
Karin. Hidupnya tak mudah. Ia tak pernah merasakan kebahagiaan sejak kecil. Hingga ayahku mengeluarkannya dari kegelapan.
Dan aku dengan mudahnya jatuh cinta padanya. Tanpa memperdulikan perasaan ayahku. Aku sungguh egois bukan?
Aku tak menyesal telah jatuh cinta pada Karin. Karena Karin adalah bagian dari kenanganku dan cinta pertamaku.
Tapi aku menyesal, karena sudah menyakiti ayahku.
Dan Sakura.
Wanitaku.
Jika berkenan, maukah kalian memberikan review.. Aku harap kalian memberikan masukan yang membangun dan membantu aku memperbaiki kesalahan yang ada.
Salam hangat, Lolipop Cherry.
