._._. X ._._.
You For Me..
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pair: Naruto X Sasuke, Neji X Sasuke.
Warn: Hard yaoi/BL, AU, OOC, typo, mengandung unsur kekerasan, dll. Don't like, Don't read
._._. X ._._.
"MMMPPHH... MMMPPH.." Sasuke meraung tertahan, ia ingin berteriak, tapi underpants Neji yang menyumpal mulutnya hanya dapat membuatnya meraung-raung tidak jelas. Air matanya menetes bergantian ketika Neji mencoba menanamkan kesejatiannya di lubang sempit miliknya. "mmpphh.. enmmhh.." Sasuke menggeliat-geliat resah, tubuhnya dihimpit oleh tembok serta badan Neji.
"Ugh.. ahh..." Neji memaju mundurkan pinggulnya, mencoba mencari titik kenikmatan Sasuke dengan buah zakarnya. Sementara itu, kedua tangannya meremas tonjolan di dada Sasuke secara bergantian, sambil memijat-mijat kejatanan si raven yang ikut menegang.
"uummphh.. ennnhh..." Sasuke melenguh tertahan, sakit dan nikmat menyatu dalam dirinya. Ia terisak lirih diperlakukan seperti ini oleh Neji, tapi tubuhnya seakan menginginkan semua sentuhan Neji. "Hhmmpph.. Mmmpphh.." badan Sasuke mengejang, cairan kenikmatannya menyemprot dengan lancar membasahi tembok keramik di depannya.
"Oghh.. Sassukkee..." Nejipun turut ejakulasi, ia semburkan cairan putih kentalnya di dalam tubuh Sasuke. Rasanya, beban yang sedaritadi ditanggungnya lenyap bersamaan dengan keluarnya cairan sperma itu.
"aakhhh..." tubuh Sasuke merosot ke bawah karena lemas, begitu Neji menarik dirinya dalam tubuh Sasuke.
"ohh.. enngh.." diambilnya kain segitiga putih sedaritadi menyumpal mulut Sasuke, ia tersenyum puas memandang wajah si raven yang merona dan nampak kelelahan.
"Kau, tetap luar biasa Sasuke," ujarnya sambil membersihkan peluh di wajah Sasuke dengan celana dalamnya.
"ahh.. breng..sekk.. kauu!" balas Sasuke, yang tersandar lemas di dinding keramik. Neji kembali menyeringai, ia kenakan celananya, lalu membantu Sasuke untuk memakai blazernya yang agak kusut dan basah.
"Ayo!" dicengkalnya lengan Sasuke dengan kasar, ia menyeret paksa tubuh sang Uchiha yang masih terengah itu meninggalkan toilet.
"akh! Ennhh.." Sasuke merintih-rintih, merasakan perih dan ngilu di tubuh bagian bawahnya.
.
.
.
Neji segera menyandarkan tubuh letih Sasuke pada jok mobilnya begitu ia sampai di parkiran. Lalu, ia sendiri turut menyamankan diri di jok belakang tepat di samping Sasuke yang dalam keadaan setengah sadar.
"uhh.. kkhhh.." Sasuke mengeryit, rasa pahit menguasi indra perasanya sesaat setelah Neji menyematkan sebutir pil ke dalam mulut Sasuke. "Apa.. yang.. kau.. masukkan?" tanya Sasuke, yang baru saja dipaksa menelan pil itu. Matanya hitamnya menatap garang ke arah Neji yang sedang tersenyum iblis padanya.
"Itu hanya obat bius, agar membuatmu tetap tenang saat aku membawamu, yah.. walau tanpa pil itu pun, kau akan tetap tertidur karena kelelahan," balas Neji sambil tertawa puas. Sasuke menggeram kesal, ingin sekali ia menonjok rahang Hyuuga di depannya, tapi, ntah kenapa tenaganya seperti terserap habis. Ia mulai mengantuk.
"ughh.."
BLUK
Kepala Sasuke tersungkur lemas di pundak Neji, ia benar-benar hilang kesadaran saat ini. Diangkatnya dagu mungil Sasuke agar pemuda berambut coklat panjang itu dapat melumat bibir merah Sasuke dengan brutal.
"Nikmati tidurmu, 'Nona', karena setelah ini, aku yakin apa yang akan terjadi akan menguras habis tenagamu," bisik Neji sebelum menidurkan Sasuke di jok belakang, sementara ia sendiri pindah ke depan bersiap-siap melajukan mobil Jaguar hitamnya.
._._. X ._._.
BUUK
"Akh!" Naruto melenguh, merasakan perih di sudut bibirnya.
"Apa yang kau lakukan pada Sasuke? Dimana dia?" Itachi, pelaku pemukulan itu mencengkram bagian depan kaos si pirang. Matanya berkilat emosi begitu mengetahui jika adik yang ia cari tidak bersama pemuda Namikaze itu.
"Aku.. tidak tau!"
Bugh!
Satu tonjokkan lagi menghujani pipi tan Naruto. Ngilu sekali rasanya.
"Brengsek, apa kau bosan untuk membuat adikku sakit hati? Apa maumu, hah?" bentak Itachi.
Naruto hanya dapat pasrah menerima pukulan Itachi yang bertubi-tubi itu. "Kalau sampai terjadi sesuatu pada Sasuke, kubunuh kau!" ancam Itachi sebelum berdiri meninggalkan Naruto yang terkapar di lantai.
'Sasuke, apa ini karma buatku?' desis Naruto dalam hati. Ia mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, meski terasa perih.
.
.
.
Begitu keluar dari kamar apartemen Naruto, Itachi segera merogo sesuatu dalam kantong celananya. Sebuah handphone androit keluar bersamaan dengan menyembulnya jari-jari Itachi.
"Pein, aku ingin kau mencari adikku. Yah, dia baru saja melarikan diri dari rumah Naruto. Hm, cepat hubungi aku begitu kau mengetahui keberadaannya," itulah percakapan singkat Itachi dengan assistennya, Pein.
._._. X ._._.
Neji's POV...
Aku memutar setir ke kanan dan ke kiri, mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi bukan hal yang baru bagiku. Dengan kendaraan ini, kutembus jalanan kota yang sedikit lenggang karena banyak dari penggunanya sedang berkutat dengan kesibukkan mereka di kantor. Sesekali, aku mengamati sosok pemuda yang sedang terbaring di jok belakang mobilku melalui kaca spion. Mengamati wajahnya yang sedang tidur membuat gairahku menjalar naik ke ubun-ubun. Uchiha Sasuke, sahabatku dari kecil sekaligus orang yang paling aku sayangi kini sedang bersamaku. Tentu saja aku sangat bahagia. Akhirnya, aku dapat merebut kembali dirinya dari pria brengsek bernama Hatake Kakashi yang aku yakin sedang kelabakan mencarinya. Huh, aku tidak peduli. Biar saja dia kebingungan.
Suna. Yah, akhirnya aku sampai juga di kota ini. Aku tidak sabar membawa Sasuke menuju 'singgahsana' pribadiku. Dimana, semua yang berada di dalamnya adalah surga dunia untukku, juga rekan-rekanku yang lain.
Rumah bergaya kuno dengan halaman yang luas inilah tujuan utamaku, segera aku memarkirkan mobilku usai melewati pagar besi setinggi 3 meter disekitarku. Aku segera, mengangkat tubuh Sasuke begitu aku turun dari mobil. Kugendong dia ke belakang, dan membawanya masuk ke dalam rumah mewah ini.
"Hai semua..." rupanya, kedatanganku membuat beberapa rekanku mengalihkan pandangannya padaku.
"Neji? Akhirnya kau datang juga," salah satu dari kelima kawanku menyambut gembira kedatanganku.
"Yo, Hidan. Lihat, aku bawakan 'oleh-oleh' untuk kalian," ujarku sambil menunjukkan Sasuke yang sedang bersandar di punggungku pada mereka.
"Wah, kau tau saja kalau kami sedang bosan dengan sex slave yang lama," pria lainnya menimpali.
Aku menyeringai tipis, aku menintrupsi rekan-rekanku untuk mengambil alih Sasuke. Mereka menidurkan Sasukeku di atas lantai, mengamati tubuhnya dengan penuh nafsu.
"Oke, aku mau istirahat dulu. Kalian, boleh 'bermain' dulu dengannya," aku menghempaskan tubuhku yang pegal di atas sofa sambil menikmati teguk demi teguk Tequila dalam gelasku.
Aku kembali mengulas senyum melihat lima temanku itu mulai melucuti seragam Sasuke, membuat tubuh putihnya terekspos tanpa pertahanan. Satu persatu dari mereka kini sedang menyiram tubuh Sasuke dengan beberapa jenis minuman keras yang tersedia, membuat Sasukeku nampak mengkilat karena basah. Aku menyeringai senang melihat pertunjukkan di depanku, dimana kawan-kawanku sedang menjilati tubuh telanjang Sasuke dengan lidah cekatan mereka. Membersihkan badan sempurna Sasuke dari Wine yang baru mereka tuangkan.
"unnhh.. ehhhmm.." dari tempat dudukku, kulihat Sasuke mulai terbangun karena geli. Dia terlihat panik dikerumuni beberapa pria yang hendak menyetubuhinya. Tapi, semakin Sasukeku berontak dan melawan, rekan-rekanku itu malah menghajar Sasuke dengan brutal sampai ia lemas tak berdaya. Kasian juga sih, tapi.. sebagai seorang 'Sado Masochist' melihat orang yang aku sukai menderita begitu, malah membuat gairah bercintaku makin tinggi.
"AAARRGGHHH... Oogghhh..." kudengar Sasukeku merintih kesakitan, bagaimana tidak kepala botol Wine yang sudah kosong berusaha ditanamkan dalam lubang sempitnya yang meneteskan darah. Sasori, salah satu temanku, memutar-mutar botol itu, memaju-mundurkn seakan-akan benda miliknya yang berada di lubang sempit Sasuke. Sementara Deidara, dia juga sedang mengulum habis kesejatian Sasuke, mengoral dalam mulutnya. Dan Hidan, ia sibuk memainkan jepitan baju untuk memainkan nipple Sasuke yang menegang dan mengeluarkan darah.
"akh.. hoo.. AARRGGGH..." Sasukeku mengerang, menggeliat dan menangis. Tubuhnya benar-benar dijadikan kelinci percobaan saat ini.
"Ahaha.. bagaimana rasanya? Nikmat tidak rasa urineku?" Hidan tertawa-tawa ketika air kotor itu ia memuntahkan ke wajah dan mulut Sasuke. Sasuke, memucat. Kurasa, ia mulai mual. Tapi aku tetap tidak peduli, karena derita Sasuke adalah kenikmatanku.
.
.
.
Sejam sudah mereka 'mencicipi' tubuh Sasuke secara bergantian, membuat Sasuke lemas dan hampir pingsan. Sekarang ini, mereka mencekoki Sasuke dengan minuman keras. House music yang mereka putar dari tape, menambah tinggi suhu ruangan ini, Sasuke yang mabuk menjadi bulan-bulanan mereka. Mereka memaksa Sasuke menari striptease di hadapan rekan-rekanku itu. Mereka tertawa terbahak-bahak, melihat orang yang aku cintai menjadi budak sex mereka. Dan akupun juga sama. Bahkan, melihat Sasuke di'hajar' habis-habisan seperti itu dapat membuatku ejakulasi. Haa.. nikmat sekali rasanya.
Neji's POV END...
._._. X ._._.
"Emmhh.." tubuh Sasuke terhuyung ke depan, ia kelelahan usai dipaksa orgasme dengan sex toys yang tertancap dalam rectumnya. Neji yang sedaritadi diam mengamati akhirnya berdiri mendekati Sasuke yang menatapnya sayu.
"Kau pasti lelah dan lapar ya?" Neji menyibak poni Sasuke yang lengket. Tak ada respon apapun dari Sasuke, hanya deru nafasnya saja yang terdengar. "Haa.. ini memang waktunya makan malam.." Neji menggendong tubuh ringkih Sasuke, membawanya ke ruang makan. Tak mau ketinggalan, rekan-rekan Nejipun turut mengekor di belakang.
.
.
.
"Ohok.. ohok.." Sasuke tersendak oleh nasi yang baru saja disuapkan Neji dalam mulutnya. Wajar bila hal itu terjadi, karena porsi nasi itu, tidak sebanding dengan rongga mulut Sasuke.
"Hidan, minta air dong!" ujar Neji pada pria berambut perak itu.
"Nih," Hidan segera menyodorkan segelas air seninya, dan memaksa Sasuke meminum habis cairan menjijikkan itu
. "Ugh.." Sasuke mual, ia muntahkan semua isi perutnya.
PLAK
"Brengsek, sudah bagus kau diberi makan dan minum, malah dibuang seperti itu!" Neji menampar pipi kanan Sasuke keras, lalu menarik tonjolan di dadanya dengan keras ke depan.
"Akhh.. hhaa.. sakkiitt.." pekik Sasuke disela isaknya.
"Jilati semua ini!" Neji mendorong badan Sasuke hingga tersungkur jatuh. Dengan kejinya Neji memaksa Sasuke menjilat isi perutnya sendiri.
"Cepat!" Neji menendang punggung dan pantat Sasuke, karena si raven tak kunjung melakukan tugasnya.
"Akuhh.. tiddak mauhh.." tolak Sasuke.
CTAR CTAR
Bersama bunyi cambukan itu, terdengar suara lolong kesakitan Sasuke. Kulit punggungnya terasa perih dan panas saat cemeti itu menghajar tubuhnya. Membuat Sasuke menggelepar kesakitan.
"Boleh juga kau Kimimaro," Neji memandang takjub ke arah pria bermata hijau itu.
"Tentu saja, karena cemeti adalah salah satu alat siksaan yang ampuh bukan?" balasnya sambil memainkan cambuk kulit itu.
.
.
.
"AKHH... ARGGGHH..." Sasuke ambruk, hampir setelah Neji menghajar tubuhnya dengan cambuk itu berpuluh-puluh kali. Perih terasa disekujur badannya yang dipenuhi oleh bekas luka yang melintang panjang di punggungnya, apalagi saat luka itu bersatu dengan peluhnya.
"Bagaimana? Kau menikmati hukumanmu Sasuke?" tanya Neji sambil menjambak rambut raven sang Uchiha bungsu hingga menengadah.
"Ja..hatt.. kau.. brengsekk.. Nejii.." desah Sasuke.
"Hehe.. Yang jahat itu kau Sasuke, kau sudah tau jika aku sudah lama mencintaimu, tapi kau malah bersama dengan pria brengsek itu. Kau dan orang itu selalu memamerkan kemesraan di depanku, itu menyakitkan hatiku Sasuke.." ujarnya. "Dan kau tau, sekarang ini kau hanya untukku, kau milikku, kau adalah budakku, satu-satunya milik Hyuuga Neji..." lanjut pemuda bermata perak keunguan itu, sebelum membenturkan kepala Sasuke berulang kali ke lantai. Tidak tahan dengan rasa sakit dan pusing yang mendera, Sasukepun jatuh pingsan.
"Sasori, bisa aku minta tolong?"
"Apa?" tanya laki-laki berambut merah itu.
"Bisa tolong masukkan, my slave ke kamar mandi, lalu nyalakan shower untuk mengguyur badannya?"
Sasori langsung berdiri, "Hmm.. oke," ia segera memapah Sasuke membawanya ke lantai dua. Berbicara tentang lantai dua, rupanya seorang remaja lagi juga tengah mengamati semua penyiksaan yang dialami Sasuke. Tatapan matanya nampak sendu, seakan-akan ia dapat merasakan semua siksaan itu.
._._. X ._._.
'Adik anda ada di Konoha bersama Hatake Kakashi,' itulah info pertama yang di dapat oleh Itachi sesaat setelah Pein mengabarinya.
"Lalu?"
'Sepertinya, adik anda kembali menghilang, karena Hatake Kakashi sendiri juga tidak tau keberadaannya setelah berpisah di sekolah kemarin pagi, Itachi-sama.'
Itachi mendelik kaget, "Apa? Hilang? Kenapa bisa?" Pein yang sedang berada di seberang sambungan itu membalas, 'Sepertinya, adik anda dibawa kabur oleh putra tunggal Hyuuga Hizashi.'
"Apa? Diculik?"'
'Benar, Kakashi menjelaskan jika pemuda itu memiliki perasaan khusus pada adik anda, tapi karena perasaannya tidak terbalas, ia melakukan tindakan nekat tersebut,' ujar Pein. Itachi memijat keningnya yang mendadak terasa pening, "Lalu, apa kau sudah dapat info dimana keberadaan mereka?"
'Kami sedang berusaha untuk melacaknya, Itachi-sama.'
Sulung Uchiha itu menghela nafas, "Baiklah, aku tunggu informasi selanjutnya," tutup Itachi sebelum melempar handphonenya ke atas sofa.
'Kenapa bisa seperti ini, Sasuke,' gumamnya frustasi.
Tok Tok Tok
"Masuk!"
"Itachi-sama, ada orang yang ingin menemui anda," perempuan itu membungkuk hormat pada Itachi yang sedang duduk bersandar di sofa.
"Siapa?" tanya lelaki berwajah dewasa tersebut.
"Aku.. Itachi-san.."
Itachi yang sedaritadi memejamkan mata langsung terhentak mendengar suara serak yang ia hafal itu. Onyxnya mengecil, "Kau?" geramnya dengan kedua tangan terkepal menahan emosi yang bergumul di dadanya begitu melihat sosok berambut pirang mencolok itu. "Naruto?"
._._. X ._._.
"Hei, bangun.." pemuda berambut merah yang baru saja mematikan shower yang mengguyur tubuh polos Sasuke itu menepuk-nepuk pipi pemuda yang tersandar lemas di dinding keramik kamar mandi. Tubuhnya begitu dingin, wajahnya pucat. Giginya bergemeletuk satu sama lain.
"Hei, sadarlah.." ia menyematkan sehelai handuk untuk membungkus tubuh ringkih Sasuke yang menggigil kedinginan.
"ennh?.." akhirnya Sasukepun membuka matanya, membuat pemuda bermata seagreen itu bersyukur, karena lega. "Siapa kau?" tanya Sasuke sambil memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Aku Gaara, sama-sama kita akan keluar dari sini, jadi bertahanlah," pemuda bertato 'ai' di dahi itu membantu mengeringkan tubuh Sasuke yang masih menatap was-was padanya.
"Ayo, luka-lukamu di tubuhmu itu, harus segera diobati," ia meraih jemari dingin sang Uchiha, membantunya berdiri dan memapahnya untuk tidur di atas matras.
.
.
.
"akh.. au.." Sasuke melenguh kesakitan saat antiseptik itu bersentuhan dengan lukanya.
"Tahan, Sasuke!" perintah Gaara sambil mengoles luka di tubuh yang dulunya halus dan mulus itu dengan hati-hati.
"Ahh.. terima kasih sudah menolongku," ucap Sasuke.
Gaara tersenyum, "Yah, sebagai sesama korban di rumah ini, aku senang dapat mem-"
PROK PROK PROK
"Akrab sekali dua budakku ini," dari balik pintu, menyembul sosok Neji yang sedang bertepuk tangan usai melihat dua pemuda yang hampir seumuran itu tengah bercengkrama. Kaget, panik dan takut, tiga perasaan itu bergumul jadi satu dalam diri Gaara dan Sasuke.
"Neji?" seru kedua pemuda itu.
._._. X ._._.
"ARRGGHH.. OOGGHH..."
"Sakitt.. sakkitt.. AARRGHH.." Baik Gaara maupun Sasuke, kini keduanya hanya dapat mengerang dan menjerit kesakitan saat tetes demi tetes lilin panas itu membakar kulit tubuh mereka. Keduanya menggelepar, tubuhnya berguling ke kanan dan kiri karena kedua tangan dan kakinya sedang diikat oleh tali yang terhubung pada sisi ranjang.
"ough.. Neji! Neji! AAARGGHH..." Gaara memekik, saat Neji mulai menyayat bekas tetesan lilin yang sudah mengeras dengan silet. Ia tetesi lalu kembali menghapusnya. Neji benar-benar gelap mata sekarang ini, tidak peduli pada darah yang sedikit demi sedikit menyeruak dari tubuh sang Sabaku yang juga menjadi kekasih Hyuuga Neji yang sah.
Tak jauh berbeda dengan Gaara, kesejatian Sasuke yang juga sedang terikat membentuk huruf X itu juga sedang disulut oleh lilin, membuat pemiliknya meraung kesakitan.
"ahh.. henttikann.. sakitt-sa.. KKHHH... AKHH.." Sasuke menghentak-hentakkan pinggulnya, saat cairan panas yang menetes dari lilin itu menyetuh kulit kesejatiannya. Panas, perih, ngilu, melebur menjadi satu.
"Hehe, nikmati itu budak!" Hidan memandang puas saat melihat Sasuke menggeliat kesakitan. Diliriknya Neji yang sedang menikmati siksaannya, kemudian berujar, "Neji, kita apakan mereka?" tanyanya.
Pemuda bermata lavender itu menoleh, lalu menyeringai, "Kita masukkan mereka ke sel bawah tanah." Gaara yang sudah lemas terhenyak kaget. Ia tau dan hafal betul tempat seperti apa itu.
"Ti-tidak.. jangan kurung kami disana Neji... kumohon.." Gaara memohon belas kasian Neji.
"Sayangnya, aku tidak dapat mengabulkan keinginanmu itu budakku.." balas Neji menyibukkan dirinya untuk melepaskan ikatan-ikatan di pergelangan tangan dan kaki Gaara, begitupula Hidan. Selesai dengan kedua hal itu, Neji dan Hidan segera menyeret tubuh ringkih Gaara dan Sasuke, menarik kesejatian keduanya kuat-kuat seakan mau lepas.
.
.
.
BLAAMM
Neji dan Hidan segera menghempaskan tubuh dua pemuda itu ke dalam sel sempit berukuran 1 X 1 meter. Di sekitar sel itu sudah dipasangi kabel yang telah terpasang dengan aliran listrik tegangan tinggi yang siap menyengat tubuh mereka kapanpun juga.
"Neji.. please, jangan.. jangan setrum kami.." pinta Gaara pada Neji yang mulai memainkan tuas listrik itu. Sasukepun, menginginkan hal yang sama seperti Gaara. Memohon ampun kepada Neji. Tapi...
Bzzzt Bzzzt "
KYAAA... AAAHH..."
"AARRGHH.. HAAAHH..." Gaara dan Sasuke memekik saat aliran listrik itu menyetrum tubuh mereka. Tak butuh waktu lebih lama, untuk membuat dua pemuda itu terkulai lemas.
"AHAHAHA.. HAHAHAHA..." Neji tertawa bahagia melihat dua orang yang paling ia cintai dalam keadaan tak berdaya seperti itu.
"Rasakan itu, budak-budakku sayang.. rasakan!" tawa Neji menggema di ruang bawah tanah yang pengap dan sempit itu.
._._. X ._._.
Brukk
Naruto duduk berlutut di depan pemuda berambut hitam panjang itu, air matanya jatuh tak dapat dibendung lagi, rasa sesal dan bersalah bercampur menjadi satu dalam dadanya.
"Itachi-san, ijinkan aku ikut mencari Sasuke bersamamu. Kumohon, biarkan aku ikut.." sambil berlutut dan menundukkan kepala, Naruto memohon pada sulung Uchiha itu untuk memahaminya.
"Aku menyesal dengan semua yang aku lakukan pada Sasuke, aku salah dan aku ingin minta maaf padanya. Aku sekarang menyadari jika hidupku tidak berarti tanpanya, aku ingin menemui Sasuke dan meminta maaf, Itachi-san.." disela tangisnya ia memohon. Dengan tulus dan bersungguh-sungguh, ia berharap Itachi mau membawanya mencari Sasuke. "..aku lemah tanpa adanya Sasuke disampingku, kumohon maafkan aku dan ijinkan aku mencarinya..."
Itachi terdiam, ia sedang merenung untuk memperoleh kesungguhan dari pemuda bermata safir itu. Ia membuang nafas berat dan berkata, "Bangun! Aku benci melihat seorang pria menangis!" Narutopun berdiri dari posisi bersimpuhnya. "Berikan aku sedikit waktu memikirkan keinginanmu," lanjutnya.
Naruto menghapus air matanya dan tersenyum lega, setidaknya ada setitik harapan baginya agar ia dapat bertemu dengan Sasuke.
"Terima kasih Itachi-san," ia membungkukkan badannya. "Aku tidak akan mengecewakanmu, sama-sama kita akan mencari Sasuke."
Itachi tak membalas apapun, wajahnya masih tetap datar, meski ia merasa senang karena ada satu lagi orang yang akan menemaninya membantu Sasuke.
._._. X ._._.
Irama house music yang berdentum kencang membuat Gaara tersadar dari pingsannya. Ia memandang sekeliling, lega menyelimuti perasaannya, karena ia tidak lagi berada dalam sel sempit di bawah tanah yang gelap dan pengap tadi.
"AKH.." Gaara tercekat mendengar pekik kesakitan seseorang. Ia mengangkat kepalanya, berusaha menemukan sumber suara itu. Seagreen indah miliknya membulat sempurna begitu melihat sosok pemuda yang sedang menjadi bulan-bulanan rekan-rekan Neji. Yah, Sasuke. Dia berada dalam kerumunan lima remaja yang memaksanya untuk menari erotis mengikuti alunan musik. Tangan-tangan kotor mereka menjamah tubuh polos Sasuke. Gaara juga dapat melihat pemuda raven itu bergetar dan mengejang merasakan vibrator yang bergetar di rectumnya, membuatnya hasrat bercintanya meletup-letup ingin keluar, hanya saja, karet gelang yang terpasang di ujung kesejatian Sasuke, membuat hasrat itu tertahan.
"uhh.. ahhh..." badan Sasuke terhuyung karena lemas dan lelah, namun tangan-tangan kelima orang itu selalu menahan tubuhnya agar tidak jatuh menyentuh tanah. Meski lama kelamaan, tubuh ringkih itu jatuh juga. Sasuke kembali tak sadarkan diri karena tidak sanggup menahan sarinya yang tak dapat keluar.
Sasori tersenyum tipis sebelum melepas karet gelang itu dari Sasuke. Dan detik berikutnya, cairan kental berbau aneh itu menyembur keluar dari tubuh Sasuke, meski tak sederas biasanya. Setidaknya, kini sang Uchiha menjadi lebih rileks dengan hilangnya semua beban tersebut.
"Angkat dia kemari!" komando Neji pada Sasori. Patuh, Sasoripun memapah Sasuke untuk di dudukkan di pangkuan Neji.
Plak Plak Plak
Dengan kasar Neji menampar wajah Sasuke sampai pemuda itu siuman. Dan Gaara yang dalam keadaan terikat di atas kursi hanya dapat menonton saja.
.
.
.
"ennhh?.." Sasuke membuka matanya yang terasa berat. Neji menarik sudut bibirnya ke atas mengetahui jika lelaki yang tersandar lemas di dadanya mulai sadar. Sebelah kelopak mata Neji berkedip memberi isyarat pada Juugo untuk mengambil sesuatu. Mengerti dengan benda yang dimaksud, Juugo bergegas menuju gudang dan kembali lagi selang beberapa saat kemudian.
.
.
.
"JANGAAAANN!" Neji yang hendak mengarahkan jarum tatonya dipundak Sasuke segera menolehkan kepalanya ke belang menatap Gaara. "Hentikan Neji, jangan lakukan itu padanya!" pinta Gaara disela tangisnya, ia tau betul seperti apa rasa sakitnya ketika alat itu menari-nari membuat bentuk huruf kanji di dahinya. Mengetahui jika Neji akan melakukan hal yang sama pada Sasuke, tentu saja ia berontak.
"Oh, sudah sadar rupanya?" Neji tersenyum iblis ke arah Gaara, ia mengayunkan kakinya menghampiri pemuda Sabaku itu. "Sudah siap untuk bergabung dalam permainan rupanya?"
"Neji.. kumohon hentikan semua ini," harapnya. Ia lelah menghadapi siksaan Neji dan rekan-rekannya.
Ditekannya kuat-kuat pundak Gaara lalu berkata, "Harusnya kau tau Gaara, tangis kalian adalah kebahagianku, jerit kesakitan kalian adalah kenikmatan untukku. Kau dan Sasuke adalah budakku, jadi turuti saja kemauan Tuanmu ini," ujar pemuda itu sambil melepaskan ikatan di tubuh Gaara satu persatu.
"Au, akh!" Neji menarik salah satu tonjolan di dada Gaara, membuat pemuda itu merintih kesakitan. Dengan kesakitan di daerah dadanya, Gaarapun mengikuti langkah Neji yang membawanya mendekat dengan Sasuke.
"Kerjai mereka sepuas kalian!" perintah Neji pada Hidan dan kawan-kawan. Dan tak perlu banyak bicara untuk membuat tubuh Sasuke dan Gaara lengket oleh cairan mereka, atau lebam dan ngilu karena pukulan yang mereka daratkan. Mereka terus memyetubuhi keduanya hingga lemas tak berdaya.
'Naru.. Naruto...' desis Sasuke sebelum hitam mengambil alih kesadarannya.
._._. X ._._.
Sasuke membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang halus membelai-belai wajahnya. "Gaara?" gumamnya lemah. Ia merasakan sakit sekujur tubuhnya, ia lelah.
"Makanlah Sasuke, dari kemarin kau belum makan apapun bukan?" Sasuke terhenyak melihat sepotong roti yang berada dalam genggaman Gaara.
Ditatapnya wajah Gaara dengan sendu, "Kau sudah makan?"
"Yah, separo dari roti itu sudah masuk ke perutku. Kau harus mendapatkan energi meski sedikit, karena sepertinya, Neji akan makin menjadi-jadi," Gaara menjelaskan.
Patuh, Sasukepun melahap habis roti tersebut. Ia sendiri baru ingat, seharian kemarin tak ada satu makananpun yang melewati kerongkongannya. Kecuali cairan lava para pria brengsek itu.
"Maaf ya, sepertinya aku tidak dapat membantumu keluar dari tempat ini, meski aku ingin sekali," Gaara mengusap pipi Sasuke yang lebam.
"Tidak apa, jangan terlalu kau pikirkan. Nanti, kalau waktunya tiba, pasti akan ada yang menolong kita," Sasuke mencoba untuk tersenyum. Dalam ingatannya muncul sosok Naruto. Ntah mengapa, jauh dilubuk hatinya, ia menginginkan pria itu yang datang untuk menyelamatkannya.
._._. X ._._.
TBC
._._. X ._._.
Langsung review ya...
