Disclamer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama.
Warning: AU, OOC, Shounen-ai
Just Like Moon and Sun
"Kalau kau mau, lakukan saja Eren." ujar Rivaille.
Eren terkejut mendengar ucapan Rivaille. Kenapa harus kekasihnya sendiri yang menyuruh Eren untuk melakukannya? Tidak mungkin ia bisa melakukan hal itu, menembak Rivaille adalah hal yang mustahil untuknya.
"Rivaille..." bisik Eren.
Tangan Eren semakin gemetaran, bahkan pistol dalam genggamannya itu bisa jatuh kapan saja. Jean yang melihat Eren tidak berani menembak Dark merasa kesal, ia tidak bisa menunggu lagi. Ia langsung bangun dan hendak mendekati Eren, setidaknya membuat pemuda itu sadar dengan misi yang sedang mereka emban saat ini.
"Hei, Eren! Kau harus melakukan misimu ini, sial!" teriak Jean yang mencengkram kerah baju Eren dengan kuat.
"Jean?!" Eren terkejut melihat Jean yang ada di hadapannya.
"Kau mau membuat semuanya gagal karena kau, hah?"
"Lepaskan tanganmu dari Eren, Jean." Mikasa tampak kesal dan sudah menyiapkan pistolnya.
Rivaille terdiam dan menatap Eren dengan tatapan datarnya, ia tahu Eren dihadapkan pada pilihan yang sulit. Ia merasa Eren masih terlalu naif, apa yang kau harapkan dari seorang remaja berusia 15 tahun? Mereka hanya ingin akhir yang bahagia tanpa membuat siapapun terluka. Tapi dunia yang sesungguhnya itu kejam dan Rivaille sudah melalui hal itu.
Eren merasa terdesak dengan kata-kata Jean, ia tahu maksud Jean benar. Tapi ia langsung saja mendorong Jean dengan kuat sampai Jean mundur ke belakang. Mata Jean berkilat penuh amarah saat Eren melakukan itu tapi ia lebih terkejut lagi saat melihat Eren berlari meninggalkannya dan menuju ke arah Dark. Eren memeluk pemuda yang lebih pendek darinya itu dengan erat.
Semua terkejut melihat tindakan Eren terutama Rivaille dan Mikasa, Eren memeluk Rivaille dengan erat dan tidak bersuara. Rasanya suara Eren tertahan, ia tidak tahu harus berkata apa dan hanya bisa terdiam. Ia merasa tidak sanggup menghadapi semuanya dan hanya ingin berlari ke pelukan orang yang dicintainya. Apakah salah jika ia menginginkan pemuda berambut hitam ini untuk berada disampingnya?
"Eren?" panggil Rivaille.
"Aku tidak mungkin bisa melakukannya. Kumohon Rivaille, jangan memintaku melakukannya." pinta Eren dengan suaranya yang pelan.
Mikasa benar-benar geram melihatnya, ia sudah menyiapkan pistol miliknya dan mengacungkannya pada Rivaille. Sepertinya kecemburuan telah membutakan Mikasa, padahal ada Eren disana tapi ia tidak peduli dan akan menembak Rivaille. Mikasa mulai memberi tembakan pada Rivaille, Rivaille menyadari hal itu dan dengan pedangnya ia menangkis peluru itu hingga tidak mengenai mereka berdua.
Eren terkejut saat melihat Rivaille menangkis peluru dan menoleh ke belakang, dilihatnya Mikasa dengan raut wajah yang menyeramkan serta mata tajam itu. Mikasa tidak seperti yang biasanya, Mikasa sudah sangat emosi melihat Rivaille.
"Jangan sentuh Eren. Lepaskan dia!" teriak Mikasa.
"Kau tidak lihat ia yang datang sendiri padaku?" ujar Rivaille santai.
Eren tahu bahwa Mikasa tidak suka jika ia dekat-dekat dengan Rivaille, ia tahu itu tapi ia tidak bisa menutupi perasaannya bahwa ia ingin berada di samping Rivaille. Ia ingin berada dalam pelukan seseorang yang mencintainya. Ia teringat ketika Mikasa menyatakan cinta padanya dan memandang Mikasa dengan wajah sendunya.
"Mikasa, maafkan aku." ujar Eren.
"Eren? Kenapa?" tanya Mikasa.
"Aku tahu aku egois, tapi aku hanya ingin bersama dengan Rivaille. Aku mencintainya."
Semuanya terdiam mendengar ucapan Eren, Jean tampak geram dan ia memilih untuk memandang ke arah lain. Annie yang terdiam melihat mereka dan tidak bereaksi apapun, Sasha yang hanya bisa memandang dengan wajah iba dan Armin yang terlihat sangat terkejut hingga melamun seperti tidak percaya dengan kata-kata Eren.
"Aku tidak ingin kau jatuh ke dalam pilihan yang salah, Eren! Kembalilah padaku, kumohon." pinta Mikasa dengan wajah yang terlihat sendu.
"Aku tidak bisa. Aku juga tidak bisa membunuh Rivaille." ujar Eren.
Mikasa benar-benar buta dalam kecemburuan, ia menyiapkan pistolnya lagi dan mengacungkan pistol itu ke arah Rivaille. Armin tampak terkejut melihat reaksi Mikasa yang terkesan nekad, sepertinya Mikasa tidak main-main kali ini. Atau mungkin kecemburuan telah membutakan hati Mikasa hingga sulit membedakan mana yang benar atau salah.
"Kalau begitu biarkan aku yang membunuhnya."
Rivaille menghela napas mendengar ucapan Mikasa, ia merasa gadis itu sangat keras kepala. Ia melepaskan pelukan Eren, Eren terkejut dan sekarang berdiri di belakang Rivaille. Rivaille mengacungkan pedangnya itu dan menatap rendah ke arah Mikasa.
"Baru kali ini aku melihat ada gadis yang keras kepala sepertimu, Mikasa Ackerman." ujar Rivaille menyindir.
"Kau pasti telah mencuci otak Eren dengan kata-kata palsumu itu kan?! Dasar tidak tahu malu!" ujar Mikasa berteriak dan ia kembali memberi tembakan pada Rivaille.
Rivaille langsung saja menangkis peluru itu dan sedikit terkejut melihat Mikasa yang ada di hadapannya, sepertinya Mikasa menggunakan peluru tadi sebagai pengacau perhatian Rivaille. Rivaille berusaha menahan serangan Mikasa yang hendak menusuknya dengan pisau yang entah didapat darimana. Rivaille ingat pemuda bernama Jean yang membawa pisau, mungkin saja Mikasa mendapatkan pisau dari pemuda itu.
Pedang dan pisau itu saling bergesekan, kedua benda tajam yang memiliki kekuatan yang berbeda. Mikasa memang tidak terlalu ahli menggunakan pisau dalam pertarungan seperti ini, ia hanya bermodalkan nekad untuk menyerang Rivaille. Rivaille bisa membaca wajah Mikasa yang terlihat tidak yakin menggunakan pisau itu. Ia menyeringai dan menangkis pisau itu hingga terlepas dari tangan Mikasa lalu ia menendang perut Mikasa hingga gadis itu terjatuh.
"Mikasa?!" teriak Eren.
"Uh... Eren..." gumam Mikasa pelan.
Rivaille menatap Mikasa yang terjatuh dengan wajah datar dan menusuk kaki gadis itu dengan pedangnya. Mikasa meringis kesakitan saat merasakan pedang itu menusuk kakinya. Eren tidak tega juga melihat Mikasa seperti itu. Rivaille menarik pedangnya dan hendak menginjak gadis itu, tapi ia bisa merasakan gerakan keempat orang lainnya yang mengacungkan pistol padanya. Ia hanya tersenyum dan melihat mereka berempat telah menembak. Rivaille menunduk dan memotong peluru-peluru itu, sedangkan Eren juga berguling ke arah lain agar tidak terkena peluru teman-temannya itu dan berdiri ketika merasa dirinya sudah aman.
"Semangat yang bagus. Semangat anak muda memang selalu berapi-api. Aku ingat pernah merasakan gejolak yang sama." ujar Rivaille yang melirik ke arah Mikasa dan dengan santainya ia menginjak jari-jari Mikasa.
"Ugh!" jerit Mikasa.
"Rivaille!" Eren panik melihat Rivaille yang melukai Mikasa.
Tapi Rivaille langsung saja menghentikan kegiatannya itu dan melirik ke arah keempat anggota muda Recon Corps. Jean, Sasha, Armin dan Annie kembali mengacungkan pistol mereka dan bersiap untuk menembak Rivaille. Rivaille mendengus pelan dan ia menyerang mereka berempat sekaligus.
Pertama dari Sasha, Rivaille menusuk bahu gadis itu dengan pedangnya dan memukul tangan Sasha yang memegang pistol hingga pistol itu terjatuh. Armin yang ada di sebelah Sasha berusaha menembak Rivaille tapi sang pencuri handal itu mengetahui gerakan Armin hingga dengan mudahnya ia menendang pistol dari tangan Armin dan menendang punggung Armin hingga pemuda itu terjatuh.
Rivaille mencabut pedangnya dari bahu Sasha dan menatap ke arah Jean juga Annie. Jean mengeluarkan pistolnya dan hendak menembak tapi Rivaille melakukan hal yang sama yaitu memukul tangan Jean hingga pistol itu terjatuh lalu menendang punggung juga perut Jean hingga pemuda itu terjatuh. Annie memutuskan untuk menggunakan serangan dengan tangan kosong karena ia berada dalam jarak dekat dengan Dark. Rivaille tersenyum melihat Annie yang memasang posisi kuda-kuda dengan kedua tangan yang mengepal itu.
Annie berusaha menghajar Rivaille tapi Rivaille bisa menghindar dengan mudah dan hendak menendang Annie, tapi Annie berhasil menahan kaki Rivaille dan menggunakan pistolnya untuk menembak kaki Rivalle. Sayang sekali karena termakan waktu beberapa detik untuk mengeluarkan pistol itu Rivaille berhasil membuat Annie melepaskan tangannya dari pistol itu dengan menusukkan pedang di tangan Annie.
"Ugh!" jerit Annie kesakitan.
Annie melepaskan tangan satunya yang menahan kaki Rivaille, ia lengah karena bertarung dengan jarak dekat. Tapi Rivaille tidak tinggal diam melihat keempat korban yang telah tumbang itu. Ia menggunakan pedangnya dan dengan santainya menusuk kaki mereka semua. Jeritan kesakitan itu terdengar memilukan tapi bagi Rivaille itu adalah pertanda kemenangannya.
Eren yang melihat semua teman-temannya dikalahkan oleh Rivaille merasa gemetaran, ia merasa Rivaille bisa saja membunuh semua teman-temannya dalam waktu singkat. Mikasa berusaha bangkit dan melirik ke arah Eren yang hanya bisa diam dengan wajah terkejut. Mikasa menatap Rivaille dan ia berusaha untuk menembak. Ia hiraukan rasa sakit yang menyerang tangannya itu. Tapi ia tidak bisa mengelak bahwa tangannya sulit digerakkan.
'Sial, bergeraklah!' batin Mikasa.
Rivaille sudah puas menusuk kaki keempat anggota muda Recon Corps itu, ia yakin keempat orang itu tidak akan bisa bergerak untuk sementara waktu. Ia menatap ke arah Mikasa yang berusaha untuk menyerang. Ia salut dengan kegigihan gadis itu, rasanya ia ingin memberinya hadiah mungkin sebuah tiket menuju neraka adalah hal yang bagus untuk gadis itu.
"Kau tidak puas ya?" gumam Rivaille.
"Aku harus... mengalahkanmu... dan membawa Eren." ujar Mikasa.
"Aku tidak akan menyerahkan Eren padamu."
Rivaille berjalan perlahan mendekati Mikasa dan sekarang ia sudah berada di hadapan gadis itu, ia menatap Mikasa lalu ke arah Eren yang ada di belakang Mikasa. Eren menatapnya dengan raut wajah yang ketakutan. Ia menghela napas dan melewati Mikasa begitu saja, ia ingin mendekati Eren.
"Hei! Lawan aku!" teriak Mikasa.
"Hasilnya akan sama, kau akan kalah dariku." gumam Rivaille yang sudah ada di hadapan Eren.
Dengan badan yang masih gemetaran Eren bisa melihat bahwa kekasihnya ada di hadapannya, ia tahu Rivaille melakukan hal itu demi melindungi dirinya tapi melihat semua teman-temannya dilukai secara langsung itu membuatnya merasa bersalah.
Rivaille langsung saja menyimpan pedangnya ke dalam sarungnya dan mengulurkan tangan pada Eren, Eren terdiam dan menatap tangan yang tampak bersih setelah pertarungan tadi. Ia tidak habis pikir bahwa Rivaille jauh lebih kuat jika serius bertarung.
"Ayo Eren."
Belum sempat Eren menjawab ucapan Rivaille itu Eren merasa badannya diangkat. Rivaille langsung menggendongnya ala tuan putri dan membawa Eren pergi dari tempat ini. Mikasa yang melihat hal itu merasa geram, ia ingin mengejarnya tapi kakinya terasa sulit digerakkan karena ditusuk. Ia merasa lemah karena lagi-lagi membiarkan Eren dibawa oleh Rivaille, badannya benar-benar sakit sekarang.
"Cih! Kita tidak bisa menjalankan misi ini!" umpat Jean.
"Ugh, badanku sakit semua." keluh Sasha.
Annie tidak banyak mengeluh tapi ia juga merasakan rasa sakit seperti yang teman-temannya rasakan. Ia tidak menyangka kekuatan Dark jika bertarung bisa sekuat tadi, kekuatannya sedikit berbeda saat ia dan timnya yang dulu melawan Dark. Memang Dark kuat tapi ia tidak menyangka Dark akan menggunakan cara seperti ini untuk menahan gerakan mereka.
"Karena kita semua terluka sulit sekali bagi kita untuk saling mengobati," gumam Armin. "Mungkin kita bisa meminta bantuan seseorang untuk mengobati kita."
"Tapi siapa? Semua orang juga sudah tidur di jam-jam seperti ini." ujar Jean.
"Mungkin ayahku bisa mengobati kita semua." ujar Sasha.
"Rumahmu dari sini tidak terlalu jauh kan?" tanya Jean.
Sasha mengangguk dan melirik ke arah teman-temannya. Yang menjadi pertanyaannya adalah bagaimana cara mereka kesana sekarang? Setidaknya mereka harus menunggu sampai kaki mereka tidak terlalu sakit. Tapi itu akan membuat darah yang mengalir semakin banyak. Sasha terkejut melihat Mikasa yang berusaha bangun.
"Mikasa?! Jangan bangun dulu." ujar Sasha.
"Tapi kita harus mengobati diri dulu." gumam Mikasa yang berusaha berjalan.
Rasa sakit itu menyerang badannya, kakinya terasa lemas sekali. Tapi Mikasa berusaha berjalan untuk mendekati keempat temannya. Ia tidak mengejar Eren karena ia tahu ia tidak bisa bergerak dengan leluasa dan akan tertinggal jauh. Tumben sekali Mikasa berpikir ke depan saat melihat Eren diculik, lebih tepatnya ia merasa tidak memiliki senjata lagi untuk melawan Rivaille.
Perlahan Jean mulai bangun begitu juga dengan Armin lalu disusul oleh Annie dan Sasha. Mereka merasakan rasa sakit yang sama karena Dark menusuk kaki mereka cukup dalam. Agar tidak terasa semakin sakit mereka bergegas ke rumah Sasha untuk berobat.
.
.
.
Tidak lama mereka telah sampai di rumah Sasha, lebih tepatnya mereka menuju rumah sebelahnya yang digunakan sebagai klinik tempat praktek ayahnya. Sasha membuka pintu dan terkejut melihat sosok ibunya yang sedang duduk santai disana.
"Ibu? Tumben ibu belum tidur. Lalu dimana ayah?" tanya Sasha.
"Ayahmu baru saja pergi ke kota sebelah untuk bertugas."
Wanita berambut coklat dengan kacamatanya itu menoleh ke arah Sasha dan tersenyum saja seraya menjawab pertanyaan Sasha, tapi senyumannya itu langsung tergantikan dengan raut khawatir saat melihat anaknya juga keempat orang lainnya terluka. Ia langsung saja bangun dan mendekati Sasha.
"Kamu kenapa? Apa kau terluka dalam misimu?" tanya wanita itu.
Sasha mengangguk dan wanita itu mengajak Sasha masuk, ia memapah anaknya ke ranjang begitu juga dengan keempat orang lainnya. Wanita itu terdiam dan mengamati luka yang didapat mereka berlima. Ia langsung saja menuju lemari dan mengeluarkan peralatan untuk mengobati luka.
"Akan aku obati kalian semua." ujar wanita itu.
"Terima kasih, Miss... Maaf, aku harus memanggilmu siapa?" tanya Armin sopan.
"Panggil saja Hanji." ujar Hanji santai yang mulai mengobati mereka semua.
"Baik. Terima kasih Miss Hanji." ujar Armin.
Hanji mulai mengobati mereka semua dengan cekatan, istri seorang dokter memang hebat. Hanji juga memiliki kemampuan pengobatan yang hebat seperti suaminya dan terkadang menggantikan suaminya sebagai dokter ketika suaminya berada di luar kota. Tidak lama Hanji selesai mengobati mereka semua. Memang banyak sekali perban yang ada di tubuh kelima anak muda ini.
"Sepertinya kalian melawan musuh yang kuat." gumam Hanji.
"Aku pernah bilang bahwa misi kami membunuh Dark." ujar Sasha.
Hanji terkejut mendengar ucapan Sasha dan ia mengangguk pelan, ia kembali menyimpan peralatan itu dan menatap kelima remaja ini. Ia menghela napas dan berusaha tersenyum pada mereka.
"Misi kalian sangat sulit tapi berusahalah. Jika kalian terluka aku akan mengobati kalian," ujar Hanji berusaha tersenyum. "Ah? Bukankah tim kalian harusnya ada enam orang ya? Kalau tidak salah ada Eren kan? Dimana dia?"
Semuanya terkejut mendengar pertanyaan Hanji, Mikasa tampak geram dan menundukkan wajahnya. Ia tidak ingin mendengar nama Eren disebut untuk saat ini, ia merasa sangat khawatir karena tadi membiarkan Eren dibawa lagi oleh Dark. Sasha merasa Mikasa tidak suka dengan pertanyaan itu dan menatap ibunya. Ia mendekatkan wajahnya pada Hanji dan berbisik.
"Ibu, jangan bertanya tentang Eren dulu. Eren telah diculik oleh Dark dan Mikasa kesal karena tidak bisa melawannya." bisik Sasha.
"Begitukah? Baiklah." ujar Hanji yang berbisik juga.
Armin melirik ke arah Mikasa yang masih menundukkan wajahnya itu, Mikasa langsung menghela napas dan melirik ke arah lain. Annie yang ada di sebelah Mikasa tidak terlalu memperhatikan gadis itu meski ia tahu Mikasa tampak kesal saat ini.
"Untuk sementara kita semua bisa istirahat dulu." ujar Armin.
"Benar. Untuk misi kita bisa dilakukan besok." tambah Sasha.
"Bagaimana dengan lusa atau beberapa hari setelah ini? Kita semua perlu masa pemulihan bukan." ujar Annie dengan nada bicaranya yang datar itu.
"Benar juga. Kita harus memperkuat diri kita untuk melawan Dark." ujar Jean.
"Tapi kita tidak tahu kapan Dark akan menyerang kita lagi," Mikasa tampak tidak setuju dengan ucapan itu. "Aku tidak peduli dengan target terakhir yang mungkin diincar oleh Dark. Aku hanya ingin membawa Eren pergi dari pria brengsek itu. Sudah."
Semuanya terdiam mendengar ucapan Mikasa, mereka tahu bahwa Mikasa sangat berambisi untuk menghabisi Dark dan membawa Eren kembali padanya. Kekuatan mereka semua juga masih jauh jika dibandingkan dengan Dark. Kemungkinan untuk mengalahkan Dark juga masih sedikit sulit.
"Kita berusaha membantumu dan inilah hasilnya," ujar Jean. "Kalau kau melawannya sendiri mungkin kau akan tewas."
"Jika aku tewas tapi berhasil membawa Eren pulang denganku, tidak apa." ujar Mikasa.
"Mikasa?!"
Jean, Armin dan Sasha terkejut mendengar ucapan Mikasa itu sedangkan Annie terdiam tapi matanya berkilat tajam. Annie menatap Mikasa dan ia langsung menampar gadis berambut hitam itu. Semuanya terkejut melihat tindakan Annie itu. Mikasa geram dan menatap Annie dengan mata penuh amarah.
"Apa maksudmu menamparku?" tanya Mikasa kesal.
"Sudah kubilang kau harus menenangkan pikiranmu," gumam Annie. "Kau terlalu berambisi untuk menyelamatkan Eren tanpa peduli dengan keselamatan dirimu sendiri. Kau bodoh ya?"
Mikasa terdiam mendengar ucapan Annie, ia sudah berusaha sabar tapi kali ini ia tidak bisa menahannya lagi. Ia sudah kesal dengan semua perbuatan atau ucapannya yang diputarbalikkan oleh Annie, ia menatap gadis berambut pirang itu dengan mata yang tajam.
"Kau tidak pernah mengerti perasaanku jadi jangan ikut campur!"
Mikasa langsung saja berdiri dan ia berniat meninggalkan rumah ini, sebelumnya ia melirik ke arah Hanji dan mengangguk pelan. Hanji terdiam melihat Mikasa.
"Terima kasih sudah merawatku, Miss Hanji. Saya permisi dulu."
Mikasa benar-benar pergi meninggalkan tempat ini dengan langkah yang pelan, setidaknya ia tidak kesulitan berjalan seperti tadi. Hanji juga tidak bisa mencegahnya dan melirik ke arah Annie. Suasana tampak tidak kondusif karena pertengkaran Mikasa dan Annie tadi. Sasha melirik ke arah Annie yang hanya diam.
"Ka-kalau begitu apa kalian mau istirahat disini?" tawar Sasha berusaha mencairkan suasana.
"Tidak usah, aku mau pulang," ujar Annie yang berusaha bangun dan mengangguk pada Sasha juga Hanji lalu pergi meninggalkan mereka.
Tinggalah Sasha, Hanji, Jean dan Armin disini. Armin menghela napas melihat tingkah Mikasa yang tampak tidak sabar itu, ia mengerti maksud Mikasa tapi ia juga sependapat dengan Annie. Ia merasa Mikasa sedang tidak bisa menahan emosinya. Mungkin karena kesal dengan Dark yang lagi-lagi membawa Eren.
"Kami juga akan pulang, Sasha. Terima kasih sudah merawat kami, Miss Hanji." ujar Armin yang tersenyum ke arah Sasha dan Hanji.
"Baik, hati-hati kalian berdua." ujar Hanji.
Armin dan Jean berusaha bangun dan pergi meninggalkan klinik ini. Sasha menghela napas dan melirik ke arah ibunya, Hanji hanya tersenyum saja.
"Sepertinya teman-temanmu itu punya hati yang kuat ya. Kalian tidak menyerah untuk melawan Dark." ujar Hanji.
"Ini demi misi kami." gumam Sasha.
.
.
.
Sedangkan Eren yang kembali dibawa oleh Rivaille hanya bisa terdiam, mereka kembali ke rumah Rivaille. Rivaille menurunkan Eren dalam gendongannya dan menatap Eren dengan tatapan tajam. Eren terdiam ditatap seperti itu, ia yakin Rivaille akan bertanya mengenai kedatangannya tadi.
"Jadi kenapa tadi kamu datang, Eren?" tanya Rivaille.
Benar dugaan Eren, Rivaille bertanya hal itu. Eren menundukkan wajahnya karena tidak berani beradu pandang dengan manik hitam bagai malam itu. Tapi perlahan ia mengangkat wajahnya dan menatap Rivaille, Rivaille masih menatapnya tajam.
"I-itu karena..." gumam Eren pelan dan tidak meneruskan ucapannya.
"Kau khawatir dengan teman-temanmu? Aku berusaha menahan diri karena ada kamu disana."
Eren terkejut mendengar ucapan itu. Menahan diri? Apakah jika ia tidak datang tadi semua teman-temannya akan tewas di tangan Rivaille? Memikirkan hal itu membuat Eren terdiam dan menundukkan wajahnya. Rivaille menghela napas, ia seperti bisa membaca apa yang Eren pikirkan. Ia menepuk pundak Eren dan Eren menatap Rivaille polos.
"Ayo masuk ke dalam." ujar Rivaille yang masuk ke dalam rumah dan Eren mengikutinya layaknya anak anjing yang mengikuti tuannya.
Tapi tidak ada yang berbicara diantara mereka, Eren juga merasa ia tidak bisa menghadapi masalah ini dengan jantan. Ia hanya bisa melarikan diri dan membuat Mikasa beserta teman-temannya terluka. Tapi apakah ia tidak tahu bahwa Rivaille juga terluka ketika melihat Eren akan pergi darinya?
"Aku hanya takut kau menyesal dengan pilihanmu untuk bersama denganku." ujar Rivaille lagi.
"Tidak! Aku tidak menyesal, Rivaille!" teriak Eren.
"Benarkah?"
Rivaille langsung saja memeluk Eren, membuat pemuda yang lebih muda darinya itu terkejut dan wajahnya mulai memerah. Hanya untuk kali ini saja, hanya untuk kali ini saja Rivaille tidak ingin kehilangan orang yang ia cintai. Ia sudah lelah merasakan kehilangan lagi dan lagi, entah apakah ia sanggup bertahan jika ia harus kehilangan Eren.
"Rivaille?" panggil Eren.
"Aku telah merasakan kehilangan lagi dan lagi. Semua orang yang aku cintai telah pergi," pelukan itu semakin erat membuat Eren semakin menempel dengan Rivaille seperti tidak ada jarak. "Dan aku sangat takut jika aku harus kehilanganmu, Eren."
"Aku masih disini, kan?"
"Untuk saat ini. Aku tidak tahu ketika kau berubah pikiran dan memutuskan untuk bergabung lagi dengan teman-temanmu."
"Kau tidak percaya padaku?"
"Aku berusaha untuk percaya padamu. Apapun yang kau pilih kau harus menanggung resikonya, meski pada akhirnya kau tidak akan tahu hasil dari pilihanmu."
Rivaille melepaskan pelukannya itu dan berjalan meninggalkan Eren, ia memilih untuk menuju kamarnya sedangkan Eren terdiam dan duduk di sofa. Ia menatap pistolnya dengan tatapan sendu, ia tahu ia telah memilih untuk bersama dengan Rivaille yang artinya ia harus membuang semuanya. Tapi ada satu sisi di hati Eren yang menginginkan akhir yang bahagia.
Dibunuh atau membunuh, itu bukanlah pilihan yang Eren inginkan. Ia tidak ingin ada yang terluka dan bisa mengakhiri kisahnya dengan bahagia. Bisakah ia berpegang pada harapan itu dan berharap bahwa suatu saat ia akan mendapatkan happy ending?
Kau naif sekali Eren.
Kau tidak bisa memilih semua sekaligus, harus ada satu hal yang rela dikorbankan demi mencapai hal yang diinginkan. Eren menggenggam tangannya erat dan ingatannya tentang kedua orangtuanya, masa kecil hingga pada masa sekarang dan misi ini membuatnya merasa diliputi kegelisahan.
'Kenapa aku harus dihadapkan pada pilihan seperti ini?' batin Eren.
Pagi hari telah tiba dan Eren terkejut saat melihat dirinya tertidur di sofa, masih dengan pakaian lengkap Recon Corps. Ia terkejut saat ada selimut yang menyelimuti tubuhnya, apakah Rivaille yang menyelimutinya? Ia langsung bangun dari sofa dan mencari Rivaille, ia melihat kekasihnya sedang minum kopi dengan santai di teras rumah. Ia menghela napas dan mendekati Rivaille.
"Selamat pagi, Rivaille." sapa Eren.
"Kamu sudah bangun rupanya." gumam Rivaille yang meletakkan cangkir kopinya.
Eren berjalan mendekati kekasihnya dan duduk di sebelahnya, ia memperhatikan wajah Rivaille yang tidak pernah habis pesonanya jika dipandang. Mendadak wajah Eren memerah dan ia menunduk malu, Rivaille melirik ke arah Eren dan tersenyum tipis melihat wajah kekasihnya yang memerah.
"Apa yang kau pikirkan, Eren?" tanya Rivaille.
"Ti-tidak ada." gumam Eren pelan.
Rivaille mendekati Eren dan membelai lembut rambut coklat itu, Eren memejamkan mata karena menikmati sentuhan lembut Rivaille. Tapi pikiran Rivaille seolah-olah melayang ke tempat lain, ia memikirkan bagaimana cara untuk membawa Eren pergi dari kota ini. Ia sudah memutuskan untuk mempertahankan cinta mereka dengan membawa Eren lari lagi.
"Eren, aku mencintaimu." ujar Rivaille yang langsung mencium bibir Eren.
Eren terkejut dan ia menerima ciuman itu, membiarkan Rivaille mendominasi ciuman ini. Tidak ada yang bisa menghentikan cinta mereka, mereka berusaha menyatu layaknya bulan dan matahari yang berusaha menyatu. Matahari dan bulan memang tidak mungkin menyatu tapi bagaimana dengan mereka? Apakah kisah mereka akan berakhir dengan bahagia? Tidak ada yang tahu apa jawabannya.
.
.
.
Mikasa hanya bisa terdiam di rumahnya, hanya ada dia sendiri disini. Tidak ada Eren di sampingnya, tidak ada siapa-siapa. Ia merasa sendiri, seperti waktu itu. Ia tidak ingin kehilangan Eren. Ia rela mengorbankan nyawanya sekalipun demi mendapatkan Eren.
"Eren..." gumam Mikasa.
Ia tidak mengerti kenapa Eren lebih memilih untuk hidup bersama dengan Rivaille yang adalah penjahat, ia sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Eren. Ia tahu Eren ingin terlepas darinya, tapi satu sisi di dalam dirinya tidak menerima hal itu. Ia ingin Eren selalu berada disampingnya, jika saja ia bisa mengunci Eren selamanya ia akan melakukan hal itu.
Sepertinya rasa cinta yang Mikasa rasakan pada Eren sudah melebihi batas. Ia sampai rela melakukan segalanya demi Eren, bahkan ia tidak peduli jika Eren membencinya sekalipun. Asalkan Eren ada disampingnya itu sudah cukup untuk Mikasa, ia tidak menginginkan hal lain lagi. Egois memang, tapi inilah caranya mencintai Eren.
Ia berusaha untuk bangun, memang tangan dan kakinya masih terasa sakit tapi tidak seperti kemarin. Setidaknya sekarang Mikasa sudah bisa berjalan lebih baik dan ia bisa melakukan beberapa aktivitas. Ia mendengar pintu rumah diketuk, ia membuka pintu itu dan terkejut melihat sosok orang yang ada di hadapannya sekarang. Bahkan Mikasa langsung menutup pintu itu tanpa membiarkan sang tamu untuk masuk.
"Kau tidak ingin mendengar pembicaraanku?" tanya orang itu.
"Untuk apa kau kemari, Annie?" tanya Mikasa.
Annie menghela napas mendengar pertanyaan Mikasa, ia berdiri di depan pintu rumah Mikasa dan tidak memaksa untuk masuk. Ia tahu Mikasa pasti kesal dengannya, tapi ia hanya tidak ingin Mikasa bertindak bodoh dan membuat dirinya terbunuh. Sebenarnya tanpa semuanya sadari hanya Annie-lah yang paling menyesal dengan kematian Marco ketika timnya melawan Dark. Ia tidak sanggup melihat rekannya tewas mengenaskan dan ia merasa Mikasa bisa saja berakhir seperti Marco jika terus bersikap keras kepala, ia hanya ingin mencegah hal itu terjadi.
"Aku hanya ingin membuatmu sadar bahwa kau dan Dark, kekuatan kalian berada dalam level yang berbeda." ujar Annie.
"Aku sudah bilang kau tidak mengerti diriku. Jadi jangan sok tahu tentangku!" teriak Mikasa.
"Kami semua khawatir denganmu juga Eren."
"Hoo, ternyata gadis apatis sepertimu bisa memperhatikan orang lain juga? Aku baru sadar."
Annie terdiam mendengar sindiran Mikasa itu. Ia tidak marah, ia tahu Mikasa hanya mengatakan apa yang ingin dikatakan dan ia tidak keberatan dengan hal itu. Ia menatap pintu itu dan hendak pergi.
"Target Dark tersisa satu orang di kota ini, setelah itu ia akan pergi meninggalkan kota dan berulah di kota lain. Kau hanya punya satu kesempatan lagi sebelum Eren menghilang dari hadapanmu untuk selamanya. Apa kau siap mengorbankan semuanya?"
"Tanpa kau beritahu pun aku akan melakukannya."
Annie terdiam dan ia memilih untuk pergi tapi ia melihat Armin yang hendak ke rumah Mikasa, Armin terkejut melihat Annie ada disini. Annie langsung saja pamit tanpa mengucapkan sepatah katapun. Armin memperhatikan punggung Annie yang terus saja menjauh dari pandangannya. Ia mengetuk pintu rumah Mikasa.
"Mikasa, ini Armin." ujar Armin.
Mikasa langsung membuka pintu dan mengajak Armin masuk ke dalam rumah. Armin tidak akan banyak bertanya mengenai kedatangan Annie, ia tahu kedua gadis itu pasti bisa menyelesaikan masalah mereka masing-masing.
"Armin, target Dark di kota kita tinggal satu lagi." ujar Mikasa.
"Iya. Hanya tersisa satu orang itu dan setelah itu Dark akan pergi meninggalkan kota ini." gumam Armin.
"Lalu ia akan membawa Eren?"
"Iya, kurasa begitu."
Mikasa terdiam dan ia mengepalkan tangannya kuat, ia hanya memiliki satu kesempatan lagi untuk menyelamatkan Eren. Ia tidak akan membuang-buang waktu dan membiarkan Dark lari membawa Eren begitu saja.
"Lalu apakah nanti malam kita akan menangkapnya?" tanya Mikasa.
"Aku tidak tahu. Kita semua butuh masa pemulihan." gumam Armin.
"Tapi nanti Dark sudah selesai menghabisi target itu dan membawa Eren pergi! Aku akan mengawasi target itu."
"Mikasa? Kita akan mengawasi bersama dan bertarung dengan Dark bersama."
"Kenapa kau menghalangiku untuk bertarung sendiri dengannya, Armin?"
"Mikasa, aku hanya tidak ingin kau terluka. Eren diculik lalu kalau kau terluka bagaimana? Aku tahu dalam misi ini terluka adalah hal yang wajar. Sudah berapa kali kita terluka karena melawan Dark, tapi kalau kau melakukannya seorang diri tidak ada yang tahu apa yang akan Dark lakukan padamu bukan?"
Mikasa terdiam mendengar ucapan Armin, ia menghela napas dan berusaha menurut dengan temannya itu. Mikasa menatap ke arah Armin dan berusaha tersenyum walau rasanya sulit. Armin tahu Mikasa ingin menyelesaikan misi dan menyelamatkan Eren secepatnya, makanya ia rela jika harus bertarung lagi dengan Dark.
"Aku akan memberitahukan kepada semuanya bahwa nanti malam kita akan kembali mengintai dan mengawasi satu target yang tersisa. Tapi kita tidak tahu apakah Dark akan datang atau tidak." ujar Armin.
"Tidak apa. Lebih baik kita berjaga-jaga bukan?" gumam Mikasa.
Armin tersenyum tipis dan langsung bangun, ia hendak pamit pada Mikasa dan memberitahukan rekan satu timnya untuk bersiap-siap. Sedangkan Mikasa menggenggam ujung bajunya dan ia teringat tentang Eren.
'Eren, aku akan menyelamatkanmu.' batin Mikasa.
Waktu telah menunjukkan pukul 12 tengah malam, kelima anggota muda Recon Corps ini sudah mengawasi rumah terakhir yang diperkirakan adalah target dari Dark. Mikasa sudah mempersiapkan semuanya, ia membawa banyak pistol dan peluru-peluru cadangan. Ia tidak akan segan-segan lagi untuk mengalahkan Dark. Ia tidak peduli jika ia harus terluka lagi, ia harus tahu dimana Eren berada.
"Sudah tengah malam dan ia belum muncul." gumam Jean.
"Apa ia tidak datang?" gumam Sasha yang memakan kentangnya.
"Entah. Tapi masih ada waktu satu jam lagi sebelum kita berhenti mengawasi rumah ini." ujar Armin yang matanya menatap ke beberapa arah.
Annie terus mengawasi rumah ini dengan matanya yang tajam, ia juga sudah mempersiapkan semuanya. Sekilas ia melihat sosok serba hitam yang menapaki kakinya di atap rumah ini, persis dimana mereka mengawasi juga.
"Dia datang." gumam Annie.
"Waktunya untuk beraksi." ujar Jean yang sudah mengeluarkan pistolnya.
Tanpa aba-aba, Mikasa langsung saja melompat turun dari atap rumah dan ia bergegas masuk ke dalam rumah itu. Mikasa ingin sekali berhadapan dengan Dark, mungkin lebih tepatnya untuk bertarung dan bertanya dimana Eren berada. Armin memperhatikan teman-temannya itu.
"Aku akan menemani Mikasa. Kalian bersiap di sini ketika Dark akan keluar." ujar Armin dan ia juga melompat untuk menemani Mikasa.
"Sepertinya tugas kita yang berat ya," Jean mengecek peluru-peluru dalam pistolnya dan ia tersenyum saja. "Sasha, berhentilah makan. Kita akan segera menghadapi Dark."
"Aku tahu." Sasha sudah menyimpan kentangnya dan mengeluarkan pistol miliknya.
Annie terdiam dan ia juga sudah mengeluarkan pistolnya, ia menuju sisi kiri atap yang di sebelahnya terdapat ujung dari cerobong asap. Jean dan Sasha juga sudah bersiap di posisi mereka. Ketika Dark tiba, mereka akan segera menembaknya.
.
.
.
Armin berhasil menyusul Mikasa dan mereka hendak mencari Dark bersama. Tapi aneh sekali karena tidak terdengar jeritan di rumah ini, mereka bingung dimana Dark berada. Mereka bergegas menuju kamar sang pemilik rumah dengan bermodalkan membuka semua pintu yang mereka lihat karena mereka tidak tahu dimana letak kamar itu.
Armin membuka satu pintu dan terkejut melihat Dark sudah membunuh target terakhir. Mulut korban ditutupi dengan lakban sehingga tidak bisa berteriak dan jantungnya tertusuk oleh pedang. Pedang Rivaille masih memperlihatkan darah segar yang masih baru. Mikasa geram dan mengacungkan pistolnya ke arah Rivaille.
"Aku akan membunuhmu dan menyelamatkan Eren!" teriak Mikasa.
"Menyelamatkannya dari apa?" tanya Rivaille. "Ia tidak terancam ketika berada di dekatku, justru sebaliknya. Ia merasa bahagia bisa bersama denganku."
"Omong kosong!"
Mikasa langsung saja menembak dan Rivaille menggunakan tubuh korban itu sebagai tameng untuk melindungi diri lalu ia melempar tubuh itu ke sembarang arah. Ia langsung saja mendekati Mikasa juga Armin, hendak menusuk mereka berdua. Armin mengeluarkan pistolnya dan menembak Rivaille, Rivaille berusaha menghindar tapi pipinya terkena tembakan hingga darah mulai mengalir.
"Cih." decih Rivaille dan ia langsung saja keluar dari tempat ini.
"Urusan kita belum selesai!" Mikasa langsung saja mengejarnya, begitu juga Armin.
Rivaille keluar dari ruangan itu melalui jendela dan ia menyeringai, ia tahu bahwa ketiga anggota muda Recon Corps sedang berjaga dan hendak menembaknya. Sebelum peluru itu mengenainya, Rivaille langsung saja menangkis peluru itu. Bahkan gerakan Rivaille hampir tidak terlihat dan ia tidak terkena peluru itu.
"Bagaimana mungkin bisa terjadi?" gumam Sasha panik.
Jean terlihat geram dan Annie memasang wajah datarnya, Mikasa dan Armin juga sudah bergabung dengan mereka dan bersiap untuk menyerang Rivaille. Rivaille menatap tajam ke arah Mikasa, aura permusuhan terlihat menguar dari mereka berdua.
"Aku tidak ada niat untuk bertarung denganmu, Mikasa Ackerman." ujar Rivaille santai.
"Apa?!" Mikasa tampak terkejut mendengarnya.
"Percuma saja kau terus bertanya padaku dimana Eren, aku tidak akan memberitahukan hal itu padamu."
Mikasa terdiam dan ia mencengkeram pistolnya dengan erat, ia memperlihatkan senyuman yang mengerikan dan menatap Rivaille. Mikasa mengacungkan pistolnya itu dan langsung saja menembak Rivaille.
"Kalau begitu aku akan memaksamu agar mau bertarung denganku." ujar Mikasa.
Rivaille langsung menghindar dengan mudah, tapi ia terkejut saat melihat ada peluru lain yang hampir mengenai matanya. Rivaille menangkisnya dengan mudah dan melihat Annie yang baru saja memberikan tembakan padanya. Annie menatapnya dengan pandangan tajam dan hendak memberikan tembakan lain. Tapi Rivaille langsung melompat menghindarinya dan mendekati Annie, ia menusuk pinggang gadis itu hingga Annie terjatuh.
"ANNIE!" teriak mereka berempat hampir bersamaan.
"Kau yang meminta, Mikasa Ackerman. Maka aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan bertarung denganmu dan teman-temanmu." ujar Rivaille.
Rivaille menyeringai dan menoleh ke arah keempat anggota lainnya, Mikasa langsung memberikan tembakan beruntun dan Rivaille menghindarinya dengan mudah. Bahkan sekarang Rivaille sudah berada di hadapan mereka dan menendang mereka, membuat mereka terjatuh. Rivaille menghunuskan pedangnya ke arah pinggang Mikasa, Mikasa terlihat kesakitan ketika Rivaille menusuknya semakin dalam.
"Apa perlu kubuat kau mati saja agar tidak berisik?" gumam Rivaille.
"Ughh!" jerit Mikasa.
"Mikasa?!"
Jean berusaha bangun dan hendak menembak Rivaille tapi ia terkejut saat Rivaille menatapnya tajam dan hendak menusuknya. Rivaille sangat ahli menggunakan pedang hingga hampir tidak terdeteksi apa serangan berikutnya. Jean menghindar dan ia merasa lega tapi ia terjatuh karena Rivaille kembali menendang kakinya.
Rivaille memusatkan perhatiannya pada Mikasa yang sedang kesakitan itu, seringai terlihat di wajahnya dan ia hendak menusuk mata Mikasa dengan pedangnya. Armin berusaha bangun dan menahan tangan Rivaille, pedang itu hanya berjarak beberapa senti dari mata Mikasa.
"Hentikan!" teriak Armin.
"Kau kira aku akan berhenti?" tanya Rivaille dingin.
"Kalau kau membunuh Mikasa, apa Eren akan bahagia?"
Rivaille terkejut mendengar ucapan Armin, ia langsung saja melepaskan tangan Armin yang menahan tangannya dan menendang punggung pemuda berambut pirang itu. Ia juga tidak jadi menusuk mata Mikasa dengan pedang tapi sebagai gantinya ia menendang wajah Mikasa. Sepertinya Rivaille menjadi semakin brutal karena emosi yang tidak tertahankan, atau ia hanya ingin menumpahkan rasa sadisnya.
Annie tidak bisa bangun untuk membantu teman-temannya, ia berusaha menahan darah yang mengalir dengan tangannya. Sasha merasa badannya gemetaran, Armin berusaha bangun begitu juga dengan Jean.
"Eren itu lebih bahagia bersama denganku, maka ia harus ikut denganku. Ia adalah seseorang yang berharga untukku dan aku tidak akan menyerahkannya padamu." ujar Rivaille dingin pada Mikasa.
"Ia juga seseorang yang berharga untukku." ujar Mikasa tidak mau kalah.
Jean sudah bangun dan ia mengeluarkan pisaunya, ia hendak menusuk Rivaille dengan pisaunya. Rivaille mengetahui pergerakan Jean dan ia langsung menoleh lalu menusuk perut Jean dengan pedangnya. Mereka semua terkejut melihat Jean yang terluka dan terjatuh.
"JEAN!" jerit Armin.
Tim muda Recon Corps mengalami kekalahan lagi dalam melawan Dark hingga target terakhir, Rivaille sangat kuat dalam pertarungan. Ternyata memang benar misi untuk membunuh Dark itu sangat sulit dilaksanakan. Hanya orang-orang yang rela mati dalam tugas yang bisa melakukannya, atau setidaknya berjuang untuk selamat dari kekejaman Rivaille.
Rivaille menatap pedangnya yang berlumuran darah dan ia tersenyum tipis lalu menatap Mikasa. Manik hitam itu seolah mengejek Mikasa yang tidak berdaya dalam menghadapinya, ia tahu gadis itu tidak akan menang melawannya. Tapi karena Mikasa keras kepala, maka ia mengabulkan keinginan Mikasa untuk bertarung dengannya dan inilah hasil pertarungan mereka.
"Aku tidak ada urusan lagi dengan kalian." ujar Rivaille yang langsung pergi meninggalkan mereka.
"KEMBALIKAN EREN!" jerit Mikasa.
Tapi Rivaille tidak memperdulikan Mikasa dan sudah meninggalkan mereka semua. Sasha memperhatikan teman-temannya yang terluka, ia berusaha bangun dan mendekati Annie yang sedang menahan darah yang keluar. Ia mengeluarkan perban dan menatap gadis berambut pirang itu.
"Aku akan menolongmu." ujar Sasha.
Armin melirik ke arah Mikasa dan Jean, ia tidak menyangka kedua temannya seperti ini. Apalagi Mikasa yang terluka cukup parah. Sepertinya Dark tidak peduli mau lawannya laki-laki atau perempuan jika menghalanginya akan disiksa atau dibunuh. Armin bersyukur Rivaille tidak membunuh Mikasa, sepertinya Rivaille masih sadar bahwa Mikasa adalah keluarga Eren.
'Tapi apakah Eren tahu bahwa Mikasa sampai seperti ini?' batin Armin.
.
.
.
Rivaille sudah pulang ke rumahnya dan ia melihat Eren yang tampak panik. Eren langsung berlari mendekatinya tapi menatapnya dengan heran. Wajar saja, Rivaille telah melakukan pekerjaan kotornya itu.
"Kau..." gumam Eren.
"Kenapa? Aku hanya melakukan pekerjaanku saja." ujar Rivaille yang memperlihatkan kantung berisi perhiasan juga koin-koin emas.
Eren terdiam melihatnya dan kekasihnya itu berjalan masuk lalu duduk di sofa. Eren tahu bahwa sesuatu telah terjadi antara Rivaille dan teman-temannya, ia menundukkan saja wajahnya. Ia menggenggam kedua tangannya dengan erat, ia tahu hasil yang didapat oleh teman-temannya.
"Setelah ini kita akan ke kota berikutnya." ujar Rivaille tiba-tiba.
"Eh? Kota berikutnya?" tanya Eren.
"Semua targetku di kota ini telah habis, untuk apa berlama-lama disini."
"Lalu rumah ini?"
"Ini juga bukan rumahku yang sesugguhnya. Aku melihat pemiliknya telah tewas dan kujadikan rumah ini sebagai tempat tinggalku selama di kota ini."
Suasana tampak hening, tidak ada yang berbicara lagi. Eren melirik ke arah Rivaille dan melihat kekasihnya sedang meletakkan kantung itu lalu merebahkan dirinya di sofa. Eren mendekati Rivaille dan berada disampingnya.
"Aku ikut denganmu, kan?" tanya Eren memastikan.
"Memang kau akan ikut denganku. Apa kau ingin tetap berada disini?" tanya Rivaille.
"Itu..."
"Apa kau ingin kembali dengan teman-temanmu lalu meninggalkanku sendiri?"
"Tidak! Aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri, Rivaille. Aku mencintaimu dan akan mengikuti kemana pun kau pergi."
Eren langsung saja menggenggam tangan Rivaile dan memejamkan matanya, ia merasa tangan Rivaille hangat dan ia tidak ingin kehilangan kehangatan yang selalu ada disampingnya. Rivalle terdiam melihat Eren dan bangun untuk mencium kening pemuda berambut coklat itu. Ia bisa melihat wajah sang kekasih yang memerah.
"Rivaille..." gumam Eren dengan wajahnya yang memerah.
"Aku merasa sudah mengumpulkan semuanya dan uang yang aku miliki sudah banyak. Setidaknya sudah cukup untuk menghidupi kita berdua." ujar Rivaille yang memperlihatkan senyuman pada Eren.
Wajah Eren semakin memerah mendengarnya, ia tidak menyangka Rivaille akan berbuat sejauh itu untuk dirinya. Ia mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rivaille. Dunia mereka baru saja akan dimulai, kehidupan bahagia mereka baru akan dimulai. Eren sudah berjanji tidak akan melarikan diri dan menghadapi semuanya, meski pada akhirnya ia harus meninggalkan semuanya.
'Aku rela asalkan bersama dengan Rivaille.' batin Eren.
To be Continued
A/N: Hai semuanya, akhirnya jumpa lagi denganku di chapter 10...^^
Terima kasih untuk Guest, elfri, Novula, Azure'czar, Kim Arlein 17, Nacchan Sakura, SeraphelArchangelaClaudia, sessho ryu, Kunougi Haruka, Earl Louisia vi Duivel, LiLairizato, LinLinOrange, Hasegawa Nanaho yang sudah review di chapter sebelumnya maupun silent reader yang telah membaca fic ini hingga chapter 10. Aku senang jika kalian tetap mengikuti fic ini. Kalian semua adalah yang memberiku semangat hingga aku bisa membuat fic dengan chapter sepanjang ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya...^^
