Remains of the Day
Sejak pulang dari Museum bertemu dengan Isis, dan mengetahui semua teka-teki dibalik mimpi Yugi akan pesan Atem yang ingin kembali pada sisi kakaknya, Yugi seperti orang kesurupan. Ia tak tidur dan makan sejak itu. Yugi hanya berusaha mencari petunjuk tentang keberadaan jasad Atem yang seharusnya masih bernafas.
Ia membongkar seluruh barang-barang dilotengnya. Jounouchi, Seto, Honda, Anzu, Otogi, dan Ryo ikut membantu. Mereka sudah menghabiskan waktu seharian diloteng itu.
"Yugi… sepertinya percuma…"
"Petunjuk kita hanya album foto dan seragam ini…"
Yugi tak menyalahkan keenam temannya yang sudah putus asa. Tapi ia mengakui kalau dirinya juga putus asa. Yugi hanya bisa menangis. Anzu membantu Yugi menopang tubuhnya. Tapi cowok itu kini hanya bisa menangis sambil bersujud dihadapan teman-temannya sambil memanggil-manggil nama adiknya.
"A, Atem… Atem…"
Semua tidak tega mendenganya.
Sedangkan, Isis, Malik, Rishid, Bakura, Rebecca, serta kedua kakek yang juga turut bersedih hanya bisa terduduk di ruang tamu sambil berusaha mengira-ngira dimana jasad Atem berada.
Setelah lama terdiam, tiba-tiba Rebecca berdiri dan berjalan menuju tempat Yugi dan teman-temannya di loteng.
"Yugi… tenanglah… kami akan terus membantumu…" hibur Anzu
Semua temannya mengangguk.
"Amerika…"
Suara Seto membuat keenam anak yang lain sedikit terkejut.
"Ada apa, Seto?"
"Yugi, kau bilang… dulu keluarga kalian tinggal Amerika'kan…?"
Yugi menghentikan isaknya. "I, iya…"
"Kecelakaan yang terjadi didepan matamu itu terjadi juga di Amerika… kemungkinan jasad Atem ada di rumah sakit tempat pertama kali keluargamu dibawa setelah kejadian itu!"
Kata-kata Seto membuat semua anak diloteng itu merasa masih memiliki harapan.
"Ta, tapi… gimana caranya kita mengecek rumah sakit di Amerika itu… Dan lagi bisa saja ada perpindahan pasien…"
"Honda benar, Amerika sangat jauh dan mereka pasti merahasiakan daftar pasien mereka…" Otogi berusaha tak mengecewakan Yugi. Ia hanya mengatakan kebenaran.
"Tenang…"
Suara lembut Rebecca mengejutkan ketujuh remaja yang mulai putus asa itu.
"Kakekku punya kuasa di beberapa rumah sakit di Amerika… Kupikir Kaiba. Co juga' kan…?"
Seto menyadari hal yang Rebecca sadari ketika berada diruang tamu. Seto dan Rebecca langsung mengeluarkan handphone dari saku mereka.
"Carikan pasien bernama Atem Mutou di seluruh rumah sakit di Amerika… Aku tunggu hasilnya besok Isono…"
"Tolong carikan nama pasien tersebut diseluruh rumah sakit yang kau tahu… gunakan nama kakekku, Profesor Hawkins… Terima kasih, Michael…"
Setelah kedua orang itu 'mengeluarkan' perintah untuk mencari pasien bernama Atem, Yugi mulai bisa tersenyum.
"Aku akan coba cari diinternet dirumahku! Siapa tahu ada berita dari koran-koran lama di website …"
"Otogi benar… kecelakaan itu bisa dibilang tidak wajar… Aku juga akan mencoba cari diinternet dirumah!" tambah Ryo. "Aku ikut…" tambah Jou.
"Benar juga… kecelakaan yang tidak wajar seperti itu biasanya masuk dalam berita, dan bakal berkali-kali diberitakan… kalau kakekmu masih ingat tanggal kejadian kecelakaan itu, siapa tahu kita bisa mencari beritanya di berkas-berkas Museum Domino bagian surat kabar luar negeri…" Honda ikut bersemangat. "Aku akan membantu Honda!" Anzu ikut menyemangati Yugi.
"Mi, minna… terima kasih…" kini Yugi mengeluarkan air mata bahagianya. Ia memiliki teman-teman yang setia bersamanya.
"Aku akan menunggu kabar dari Isono…"
"Aku juga akan kembali ke Amerika bersama kakek untuk membantu temanku, Michael…"
Kedelapan anak itu turun menuju ruang tamu, mengejutkan semua orang dengan rencana-rencana mereka. Jii-chan masih mengingat jelas kapan kecelakaan itu terjadi. Setelah itu semua anak melesat menjalankan rencana pencarian mereka.
"Aku punya teman di FBI… kata Honda ini termasuk kecelakaan tak wajar… siapa tahu hal ini dimasukkan dalam kasus FBI…" Malik ikut melesat… bersama Bakura disampingnya. Anak itu heran melihat Bakura yang ikut naik taxi bersamanya menuju bandara.
"Aku… Cuma penasaran sama jasad pharaoh itu aja kok…" Bakura menyembunyikan wajahnya. Malik tersenyum. Kali ini mereka akan melesat ke Amerika bersama Rebecca dan kakeknya.
Isis dan Rishid kembali ke Mesir untuk menyimpan kembali sennen item yang lain. Sedangkan kedua sennen puzzle, dipegang oleh Yugi.
Yugi sendiri, terus berusaha untuk membantu kekuatan sennen puzzle Atem dengan menambahkan kekuatan darinya. Tapi Isis berpesan, bahwa meski Yugi telah menambahkannya, kekuatan Atem hanya tersisa 3 atau 4 hari saja. Sedangkan ini sudah hari kedua, sejak Isis memberikan sennen puzzle itu ketangan Yugi. Yugi juga terus mencari-cari petunjuk dari foto-foto yang ia punya. Akhirnya Yugi meminta tolong Rebecca untuk menyelidiki sekolahnya dulu, Saint Barbara.
Malamnya Yugi mendapat telepon dari Otogi. Yugi berharap temannya memberi kabar baik…
"Hei, Yug…"
"Otogi! Gimana?"
"Ng… aku masih berusaha… tapi… ini tentang ayahmu…"
"Kenapa dia…?"
"Setiap aku meng-search namanya di internet… semuanya menceritakan… bahwa ia seorang arkeolog… berdarah Jepang-Mesir, dan istrinya dari Amerika… kematian mereka misterius, kasus mereka ditutup dengan alasan tertentu yang tak pernah diberitakan… kedua anaknya diberitakan tewas dan menghilang… kupikir… maksudnya adalah kau dan Atem…"
Yugi terdiam. Ia berpikir.
'Kasusnya ditutup?Aku menghilang?'
Setelah menepon, Otogi kembali pada komputernya.
"Otogi… kenapa kau masih bekerja…? Ini sudah hampir larut…" ayah Otogi mulai mengkhawatirkan anaknya.
"A, Ayah… maaf… aku… masih ada PR… Oh, iya… ibu belum pulang dari rumah sakit, ya…?"
"Yah… ibumu' kan sibuk… dia tak bisa mengurus rumah sakit miliknya itu sendirian dalam waktu singkat… Lain kali kau bantulah dia…"
Otogi tersenyum. Dalam hati ia bersyukur karena masih memiliki kedua orang tuanya yang sama-sama memiliki pekerjaan demi dirinya. Ayahnya masih mengelola toko mainannya. Sedangkan, ibu Otogi adalah pemilik Rumah Sakit terbesar dikota itu. Otogi terdiam memikirkan nasib Yugi. Tapi kemudian ia kembali serius menatap layar komputer miliknya.
Sedangkan Rebecca memberi kabar, bahwa dari sekolah Yugi dulu, ia hanya mendapat berita bahwa Yugi dan Atem memang pernah bersekolah disitu. Dan mereka termasuk murid yang memiliki pengawasan tinggi. Entah untuk melindungi mereka dari apa… atau siapa….
-
Hari ke tiga...
Jounouci, Honda, Anzu, dan Ryo juga tak menemukan apa-apa, kecuali kecelakaan misterius yang kasusnya ditutup tanpa alasan yang jelas. Tampaknya ada yang mau menyembunyikannya dari publik. Semua hasil pencarian di rumah sakit diseluruh Amerika juga nihil…
"Maafkan kami, Yug…"
Semua teman Yugi menunduk lesu sambil berkumpul diruang tamu Yugi setelah seharian tidak tidur membantu Yugi. Yugi maklum. Ia hanya tersenyum.
"Kalian teman-teman yang luar biasa… terima kasih banyak…Tapi… aku tak akan menyerah!"
Semua tersenyum melihat Yugi. Mereka berusaha memulai pencarian itu lagi.
"Aku akan meminta tolong Mokuba… kita sudah mencari diseluruh jaringan internet yang kita bisa buka…"
"Memangnya Mokuba bisa apa…?" tanya Honda… yang berpikir bahwa Mokuba hanya anak kecil biasa.
Seto tersenyum.
"Jangan remehkan dia… dia sudah mendapat sertifikat oleh CIA dan FBI, karena telah membobol jaringan mereka beberapa kali…"
Tentu saja Yugi cs cuma bisa bengong…
Akhirnya mereka semua kembali kerencana mereka masing-masing… kecuali Jounouchi…
"Maaf, Yug… sebenarnya… aku ingin melihat keadaan ayahku dulu… dia… ng…"
"Beliau sakit?"
"I, itu…"
"Pergilah… aku tak mau kau menjadi repot karena aku…"
Jou tersenyum kecil pada Yugi dan memeluknya."Thanks, Yug…"
Yugi kembali kekamarnya. Ia terkejut setengah mati ketika melihat cahaya di sennen puzzle Atem mulai redup. Yugi panik. Ia menelepon Isis, dan…
"Yugi-san, saya tidak mau membuat anda panik … tapi… umur 'jiwa' adik anda hanya tinggal sampai besok… hingga matahari terbenam…"
TBC...
---
Betewe, aku sendiri bingung, Yugi cs harus nyari kabar tentang Atem dimana aja… Jadi aku kira-kirain aja… kalo nyari kabar orang yang udah lama meninggal kira2 bakal dikabarin dimana aja… Paling internet, surat kabar lama… Kalo dalam kasus Yugi, aku tambahin FBI… XD Maap, fic-doang kok… Don't kill me!!!
R&R!!! Kutunggu!!!
Sial! Gara-gara keseringan buat fic serius, mukaku jadi tambah keriput!
Pingin buat komediii!
