Bacotan Author: waktu seminggu cepat banget ya datangnya -_-. Saya sampai cengo saat tahu hari jum'at xD.. Soalnya hari biasa saya beli mie ayam *loh* okay.. Cukup basa-basinya, lagian saya jadinya beli mie bakso -_- *eh*

Jahahaha.. Oh.. Saya pernah menyebutkan nama Viola, Rebecca dan Monet 'kan? Bahkan ciri-ciri seperti Bartolomeo(?) *lol* saya akan datangkan mereka xD tapi secara bertahap. *nyengir*

Saya juga akan mendatangkan chara baru yang lain. Dan saya shock sendiri karena fic saya malah jadi semakin panjang =..= *ngupil*

Oke lah.. Gak apa-apa.

Lalu, sudah saya katakan: Perhatikan apa yang saya tulis! Nanti juga mengerti. Suuueerrrr!

Dan saya tetap tidak bisa membenarkan atau menyalahkan tentang komentar readers sekalian. Jahahahaha *gelindingan*

Terus— WOW! Ternyata sampai ada yang membenci saya karena ff ini xD.

Wohohoho.. Tapi saya senang mendengarnya, karena itu artinya saya bisa memainkan emosi reader yang bersangkutan.

Mau saya buat anda lebih membenci saya reader-san? Karena ff ini masih awal cerita saja.

Yang itu artinya ff ini bisa membuat anda makin membenci saya.

Tenang saja, ff saya sudah dikemas dan tahu mau dibawa kemana. Saya hanya suka mempermainkan perasaan para readers. Dan saya selalu senang membuat mereka memicing di depan layar. Jahahaha.

.

.

.

Okay~ selamat membaca chapter selanjutnya~

.

.

.

Luffy

Berlari.

Dan terus berlari!

Tap!

Luffy mulai berlari dari gedung sekolahnya disaksikan seluruh murid Sunny-Go.

Mereka terlihat bingung namun tidak untuk semua teman sekelasnya yang 'mengerti'.

.

Luffy mulai menyeberang jalan seenaknya,

menabrak beberapa pejalan kaki bahkan hampir menabrak seorang bocah yang tengah membeli sekerucut ice cream yang naasnya terjatuh ke tanah begitu saja dan membuat si bocah yang bersangkutan merengek sedih.

Luffy tidak peduli!

Atau— berusaha tidak peduli.

Yang Luffy inginkan hanya segera sampai ke rumahnya, mengurung diri lalu menangis sambil memeluk salah satu bantal di kamarnya.

Prang!

Tanpa sengaja Luffy menjatuhkan kunci gerbangnya ketika akan dikeluarkan dan dengan buru-buru, Luffy pun memasukan kunci tersebut dan menekan beberapa digit pin sebelum akhirnya ia membuka gerbang di depannya tanpa menutupnya kembali.

Bahkan beberapa tetangganya terlihat bingung ketika melihat si raven yang biasanya terlihat santai berubah jadi terburu-buru.

Tidak hanya mereka namun beberapa orang asing yang terlihat sedang berjalan santai pun mulai berhenti hanya untuk melihat keterburuan si raven yang terlihat sangat mencurigakan.

Bahkan beberapa di antara mereka mulai bertanya pada teman di sebelahnya atau— kembali menutup diri dan menjauh dari tempatnya barusan.

.

.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Luffy kembali berlari. Ia mulai membuka pintu utama di depannya secara paksa dan kembali berlari menuju kamarnya.

Tes.

Bahkan beberapa tetes air mata sudah lebih dulu berjatuhan sebelum si raven sampai di kamarnya yang berada di lantai atas.

Kriet!

BRAK!

Pintu kembali di banting. Dan Luffy pun mulai berhenti tepat di depan meja rias yang terletak di sebelah jendela.

Luffy mulai terdiam untuk sesaat, walau sesekali isakan lolos dari bibir dan pita suaranya.

Luffy mulai menatap bayangan dirinya yang terlihat menyedihkan. Kerutan di keningnya makin bertambah dan saat Luffy membuka baju seragamnya sebuah bercak merah besar yang baru dibuat terlihat menodai leher bagian kirinya.

Luffy menggertak kesal. Ia mulai mengacak barang-barang di atas meja rias tersebut dengan sekali sapuan tangan.

Isakan kembali terdengar dan Luffy pun mulai terduduk dengan wajah yang ia sembunyikan diantara kedua tangannya.

Bagaimana ini?

Bagaimana jika Ayah tirinya sampai tahu dengan tanda sialan ini?

Sekilas ingatan tentang tadi sore terlintas kembali di benaknya tentang sang guru olahraga, Sakazuki yang mulai memperlihatkan foto di ponselnya saat sebagian penghuni sekolah Sunny-Go hendak pulang kerumah masing-masing tidak termasuk— seluruh teman sekelasnya yang mulai menatap takut seraya memalingkan wajah mereka tanda menyesal.

Luffy yang mengerti lantas mengikuti guru baru tersebut dari belakang. Sontak saja, Zoro yang melihatnya sampai tersulut emosi walau dihadang tiga orang siswa yang tergabung bersama si pria lumut tersebut ke dalam sebuah club basket.

Zoro masih terus menggeram. Dan Luffy, hanya bisa tersenyum dengan kepala yang ia gelengkan pelan. Kedua guru dan murid tersebut terus melangkahkan kaki mereka sampai akhirnya mereka sampai di area toilet yang sudah kosong. Bahkan Luffy sendiri tidak sadar jika ajakan guru sialan di depannya bermaksud untuk menikmati bibirnya selama satu menit kedepan.

Lalu di akhir acara, Sakazuki mengkissmark leher Luffy dan tanda tersebut adalah bukti jika pria lain telah ikut menandainya.

"Hiks." Luffy makin terisak. Ia tahu dengan apa lagi yang akan Sakazuki minta. Dan ini hanya masalah waktu sampai guru yang adalah mantan penghuni penjara tersebut memintanya untuk menghangatkan ranjang baru.

Kalau sudah seperti ini, Luffy jadi bingung.

Pasalnya Sakazuki berbeda dengan Kid, seorang guru sialan yang seenaknya menidurinya saat mereka bertemu kapan pun dan dimana pun. Bahkan ukuran tubuh dan tenaganya saja pasti berbeda. Walaupun masih kurang dari perawakan Ayah tirinya namun Luffy yakin jika tenaga Sakazuki di atas ranjang pastilah sangat menakutkan.

Perlahan, Luffy mulai berhenti menangis. Ia mulai menghapusi air matanya dan mulai bersandar di sebuah tembok. Pikiran yang sama masih terus menghantuinya.

Bagaimana jika Ayah tirinya tahu?

Terlebih Sakazuki tidak bisa ia minta ini-itu karena sebuah foto yang mengancam dirinya.

Dan jika Luffy membuat Sakazuki marah pasti guru tersebut akan menyebar luaskan foto laknat di ponselnya sampai berakhir di tangan sang Ayah tiri.

Luffy tidak mau jika hal itu sampai harus terjadi. Mengingat saat sang Ayah tiri melukai jari dan bagian bawah matanya saja sudah sangat menakutkan apalagi jika dirinya sampai dibunuh dan mayatnya dibiakan membusuk di tempat antah berantah.

Itu pasti akan sangat menyeramkan!

Luffy mulai menggelengkan kepalanya frustasi karena sekarang, rahasianya bertambah lagi.

Bukan cuma ia harus menutupi hubungan terlampau intim yang ia jalin bersama sang Ayah tiri ke seluruh dunia, tapi ia juga harus bisa menyimpan rahasia tentang seorang pria yang siap menjamah tubuhnya kapan saja dan dimana saja dari Ayah tirinya tersebut.

Dan semoga saja rahasia baru ini bisa aman ia simpan tanpa ada satu orang pun yang curiga padanya.

Ya, semoga saja.

Karena mau sebanyak apapun rahasia yang ia miliki, Luffy akan selalu bisa menyimpannya.

Benar 'kan?

Shishishi

.

Dua hari kemudian.

Law

Di malam yang hening ini, Law hanya bisa terbaring di ranjangnya setelah si raven mengantarnya beberapa jam yang lalu.

Sial!

Sepertinya insomnianya kambuh lagi. Dan kalau sudah seperti ini pasti dua lingkaran hitam akan menghiasi kedua matanya besok pagi.

Law hanya bisa menghela napas bosan ketika ia melihat jika waktu sudah menunjukan pukul 01:16 AM.

Walau pun banyak pesan yang membanjiri ponselnya setiap hari, Law masih saja terlihat tetap bosan.

Terbukti dengan dirinya yang tengah asyik berbaring bagaikan seorang pasien yang siap di operasi.

Ting!

Bahkan pesan baru pun kembali datang disusul pesan baru lainnya yang belum sempat ia baca atau pun balas.

Baby 5

-Nak? Apa kau sudah tidur? Jika belum segeralah tidur. Dan jika sudah, tidurlah yang nyenyak pangeran tampan. semoga kau segera mendapatkan jodohmu-

Untuk yang ini Law tidak mau membalasnya mengingat jika dirinya tidak memberitahu sang Ibu tentang ia yang sudah bertunangan. Berbeda dengan Sai, yang sudah mengetahui jika anak tirinya tersebut sudah bertunangan dengan seseorang walau bukan sekehendak hati mereka.

Sai dapat mengerti.

Shachi

-Pasien banyak sekali. Tanganku lelah dan lelah dan lelah. Cepat sembuh sobat dan aku akan memukulmu karena menterlantarkan kami dengan jadwal operasi yang tiada habisnya.-

Law mulai terkekeh dan dengan sebelah tangannya Law pun mulai membalas.

Me

-Nikmati harimu. Aku masih menikmati jatah liburku.-

Shachi

-Ku do'a kan kau dipecat! Dipecat!-

Dan Law pun kembali terkekeh.

Ting!

Pesan lain kembali masuk ke ponselnya dan kali ini dari sang Ayah tiri.

Sai

-Apa baby 5 masih mengirimmu pesan? Dia menutup dirinya dengan selimut lalu menangis.-

Me

-Maaf. Sepertinya karena aku tidak membalas pesannya yang tadi sore dan barusan.-

Ting!

Shachi

-Bilang saja jika kau menikmati hari liburmu karena ada seorang gadis cantik yang merawatmu.-

Yang benar saja? Law hanya bisa terkekeh dan kembali membalas pesan tersebut.

Me

-Kau hanya cemburu karena tidak diberi jatah libur, Shachi.-

Dan sebuah panggilan masuk pun tiba-tiba datang. Law sampai mengernyit bingung ketika nama 'Robin' tertera di layarnya sebagai pemanggil.

Dan dengan menekan tombol hijau, Law pun menempelkan ponselnya dan menyapa si pemanggil yang adalah tunangannya sendiri.

"Halo Robin? Ada apa kau menghubungiku? Tidak biasanya."

-"Maaf Law. Aku hanya ingin bertanya, apa Luffy ada di rumahmu?"-

Law bangkit dari acara rebahannya ia mulai mendudukan diri dengan sebelah alis terangkat pertanda bingung.

"Tentu saja. Memang kenapa?"

-"Em.. Tidak. Hanya bertanya saja. Sudah dulu ya. Lain kali kita lanjut lagi."-

Nit!

Dan dengan itu panggilan pun diputus secara sepihak. Law tahu, pasti tunangannya itu sedang bersama dengan pria besar yang ia ketahui bernama Franky. Mendengar suara kendaraan yang berlalu lalang, Law dapat berasumsi jika tunangannya dan pria tersebut pasti ada di luar rumah. Bahkan Law dan Robin sudah mulai terbuka dengan perasaan mereka yang dipaksakan. Dengan terang-terangan Law mengijinkan Robin untuk mendekati pria lain dan Robin pun mengijinkan Law melakukan hal yang sama jika dirinya mau.

Mereka saling mengerti dan mulai menjaga rahasia masing-masing agar mereka terlihat seperti pasangan normal lainnya padahal mereka tidak merasakan cinta sedikit pun di dalam hati mereka.

Dan Law, akan terus berpura-pura bersama Robin. Sampai mereka bisa bebas dari kebohongan masing-masing.

.

Hening perlahan mulai terjadi.

Bahkan, Law mulai berpikir sejenak. Dan mungkin karena penasaran dengan telefon Robin barusan akhirnya, Law mulai keluar dari kamarnya menuju ke sebuah pintu kamar milik adik tirinya dan mulai mengintip dari balik lubang kunci hanya untuk melihat jika di atas ranjang terdapat sebuah gundukan yang menandakan jika si pemilik kamar tersebut ada dan sudah tertidur.

Law kembali mengernyit.

Jadi— siapa gerangan yang dilihat tunangannya itu?

Law kembali ke dalam kamarnya dan untuk sesaat ingatan ketika Smoker datang ke rumahnya sekitar seminggu yang lalu terlintas kembali dibenaknya.

...

"Apa? Ditembak? Oleh siapa?" Law mulai bertanya bingung dilihatnya Smoker makin mengusap helai rambutnya dengan pasrah. Bahkan Law baru sadar jika temannya tersebut tidak meghisap dua cerutu seperti biasanya.

Lama dalam suasana hening akhirnya Smoker pun kembali menghela napasnya. Ia juga mulai membenarkan letak duduknya dengan ujung mata yang mulai menatap ke arah Law.

"Aku tidak tahu. Tapi rumah sakit telah mengkonfirmasi jika peluru yang digunakan pelaku adalah jenis senjata dari kelopisianku."

Law menautkan kedua alisnya. Ia terlihat sangat kaget.

"Apa? Ap-apa mereka yakin? Bagaimana bisa?"

"Dengar dulu!" Smoker mulai menyela. Sontak saja, Law makin penasaran dibuatnya. "Minggu lalu, saat beberapa remaja akan memancing di dekat sungai mereka dikagetkan dengan penemuan mayat pria yang dimutilasi secara rapi."

"L-lalu?"

"Dan.. Mayat itu adalah salah satu dari anggota kepolisianku yang hilang di saat penangkapan Eustass. Semua indentitasnya lengkap yang hilang hanya senjata apinya saja. Dan dari laporan yang kudapat dua hari yang lalu, korban ternyata meninggal karena lehernya yang dipatahkan."

"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Law kesal. "Ku kira guru sialan itu sudah mendekam di penjara selama seminggu ini."

"Maaf." Ucap Smoker menyesal. "Aku selalu menutupi kasus yang terjadi agar tidak bocor ke publik."

Hening yang perlahan menyelimuti.

"..."

"Lalu, mayat yang satunya lagi—" Dan kedua mata Law terbelalak untuk yang kedua kalinya. "Aku sendiri yang menemukannya tiga minggu yang lalu. Keadaan mayatnya sudah membusuk ketika ku temukan, bahkan burung merpati yang menunjukan keberadaan mayat itu tiba-tiba saja mati setelah dirinya hinggap di samping mayat korban. Seakan burung itu tidak makan selama berhari-hari dan terus diam menunggu mayat tersebut untuk ditemukan seseorang."

"Lalu identitasnya?"

"Sebenarnya masih belum ditemukan. Mayatnya terlalu sudah dikenali karena keadaan yang sangat menggenaskan. Di tambah dia juga dikebiri lalu rahang dan kelima indranya dirusak dengan sangat brutal. Bahkan seluruh tubuhnya juga dikuliti dengan seluruh organ yang dikeluarkan dari tempatnya. Dan dugaan kami sementara mayat itu adalah milik Rob Lucci yang diduga hilang dari empat sampai lima minggu yang lalu."

"Aku bingung dengan keluarga dan temannya. Apa mereka tidak mencari mayat korban. Atau jangan-jangan dia hidup sendiri?"

"Itulah sebabnya kami selalu memperhatikan orang-orang seperti Rob Lucci. Karena ketika dirinya hilang seperti ini kami bisa langsung mengambil kesimpulan."

"..."

"Sebelumnya.. aku mau minta maaf, Law."

"Minta maaf apa?" Dan Smoker pun mulai menatap Law dengan intens. Ia terlihat ragu namun ia harus mengatakannya.

"Aku curiga pada adik tirimu."

Deg!

Law membelalakan kedua matanya. Ia mulai menatap kesal ke arah Smoker yang sudah bisa membaca reaksi ahli bedah tersebut.

"Apa maksudmu, Smoker? Kenapa kau menuduh Luffy sembarangan. Memangnya kau punya bukti?"

"Dengar dulu, Law!" Smoker kembali menyela namun Law sudah keburu emosi dengan nafas yang terdengar tak beraturan dikeluarkan. Mungkin jika salah satu tangannya tidak terasa sakit, Law akan langsung mencengkram kerah baju Smoker lalu disusul dengan meninju pipi sang kepala polisi sampai bengkak. "Namanya sama dengan si pelaku—

"NAMANYA LUFFY! MONKEY LUFFY! Bukan Lucy apalagi Blood Death Lucy yang sering kau ceritakan padaku, Smoker! Doflamingo mungkin memanggil Luffy dengan sebutan Lucy tapi bagiku, Luffy tetaplah Luffy! Lagi pula Lucy yang kau kenal sudah berkeliaran tiga belas tahun lamanya 'kan? Sekarang bandingkan dengan Luffy! Saat itu dia baru berusia empat atau lima tahun! Memang apa yang bisa dilakukan seorang bocah pada orang dewasa? Membunuhnya seperti yang sering kau katakan? Yang benar saja! Butuh tenaga lima sampai enam bocah untuk menumbangkan seorang pria dewasa dan adik tiriku.. tidak mungkin melakukannya!"

Smoker terdiam.

"Kau tidak mengerti, Law. Adik tirimu itu sangat aneh! Olvia sering menceritakan keanehan anak itu padaku! Bahkan anak itu sudah beberapa kali mengasar— "

"Memangnya keanehan menjadikan landasan bukti atas tuduhanmu itu, eh? Luffy memang aneh. Iya.. Memang aneh. Aku juga mengakuinya. Dia itu pemuda labil yang tidak bisa ditebak. Tapi selain itu, Luffy adalah pemuda yang baik yang selalu memperhatikan teman-temannya."

Smoker menggertak. Ia mulai membentak.

"KAU PUN BARU MENGENALNYA BEBERAPA MINGGU 'KAN?"

"..."

Kini, Law yang mulai terdiam. Ia terlihat memalingkan mukanya dengan raut wajah yang terlihat menyesal. Law akui, dirinya memang belum mengenal pasti karakter adik tirinya tersebut selain dari cerita Zoro padanya. Kalau begini Law jadi malu karena tidak bisa membalas perkataan sang kepala polisi padanya.

Smoker mulai menghela napasnya. Ia sedikit menyesal telah membentak pria di depannya barusan hingga membuat pria tersebut murung dan tidak mau melihat ke arahnya.

Smoker kembali membuka suara.

"Dengar, Law.. Adikmu itu punya—

"Keluar!" Smoker terbelalak. "Aku tidak akan mengatakannya dengan membentak Smoker. Jadi.. keluar!"

Smoker tidak punya pilihan lain. Ia mulai berdiri dari acara duduknya dan mulai berjalan ke arah pintu. Bahkan sebelum Smoker memegang gagang pintu, sang kepala polisi kembali menoleh dan mengucapkan beberapa kata yang langsung membuat kedua mata Law terbelalak untuk yang kesekian kalinya.

...

Law kembali membaringkan tubuhnya di ranjang. Isi kepalanya terus berpikir tentang ucapan yang pernah Smoker katakan. Hal tersebut membuat Law tak yakin secara pasti apa benar yang dikatakan sang kepala polisi itu benar?

Jika mayat dari kedua korban itu— berbeda?

Law menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bahkan gara-gara memikirkan hal ini Law sampai tidak sadar jika waktu sudah terlewat berjam-jam lamanya.

.

.

Pagi harinya, Law terlihat mendudukan diri di depan meja makan ketika si raven tengah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

Wajah dan rambut Law terlihat sangat kacau, oh.. jangan lupakan juga dengan terhiasnya lingkaran hitam di bawah mata sang ahli bedah. Melihatnya membuat, Luffy sedikit terkekeh.

Bahkan Luffy terlihat mulai mendudukan dirinya di depan meja makan seraya menyerahkan Law beberapa onigiri yang terlihat sangat enak.

"Ayo dimakan. Maaf ya. Tidak bisa menemani, Torao. Aku harus sekolah hari ini."

Law hanya tersenyum, ia mulai mengambil onigiri di depannya.

"Tidak masalah. Bukanlah nanti sore kau juga akan pulang."

"...benar juga." Dan Luffy pun mulai melahap daging didepannya.

.

Tak lama kemudian Luffy pun mulai berdiri seraya menarik tasnya dan bersiap berangkat setelah ia membereskan meja makan yang barusan mereka gunakan.

"Maaf tidak bisa mengantarmu." Law terlihat menyesal namun Luffy berusaha untuk tersenyum dan mulai mendudukan dirinya di sofa yang sama dengan Law.

"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa untuk jalan kaki." Teringat oleh Law ketika si raven terlihat lemas berjalan ketika mereka pertama kali bertemu dan Law pun merasa menyesal karena beberapa kali pernah membentak pemuda yang ternyata adalah adik tirinya sendiri.

"Sekali lagi.. aku minta maaf." Luffy hanya menggelengkan kepalanya. Bahkan tanpa sadar tangan kirinya mulai bertumpu di tangan kanan Law. Law yang melihatnya mulai merona merasa ingin membalas tumpuan tangan tersebut jika saja tangan kirinya tidak terluka apalagi dibalut menggunakan gips.

Bukan kah itu akan terlihat romantis?

Benar 'kan—

CUKUP!

Kenapa dirinya jadi memikirkan hal seperti itu? Luffy adalah adik tirinya dan menjadikan si raven sebagai objek fantasi cintanya adalah SALAH besar!

"Torao?" Luffy mulai bertanya khawatir ketika dilihatnya wajah sang kakak tiri makin memerah dengan dua kantong hitam menghiasi kedua matanya. Dan ketika Luffy hendak menyentuh pipi pria didepannya dengan cepat kedua mata Law terbelalak dengan tubuh yang mundur begitu cepat.

Tak lupa, wajahnya pun makin merona merah dengan jantung yang berdebar sangat kencang.

Luffy terlihat makin khawatir namun karena ia melihat Law menjauhinya seakan waspada, Luffy pun mulai mengurungkan niatnya dan kembali menarik tas sekolahnya.

Perlahan Luffy kembali tersenyum.

"Aku berangkat sekarang. Maaf tidak bisa menemani Torao. Mingo pun tidak bisa pulang hari ini dan menjanjikan dua minggu lagi. Lalu, Torao harus beristirahat yang cukup agar tangan Torao segera sembuh." Dan setelah si raven mengatakan hal tersebut pintu pun mulai tertutup dan membuat Law menghela napasnya lega.

Sial!

Kenapa harus seperti ini kejadiannya jika ia berada di dekat si raven. Padahal sebelumnya hal ini terlihat biasa-biasa saja.

Apa mungkin dirinya mulai menyukai adik tirinya sendiri?

Tapi— tidak mungkin!

Law adalah pria normal yang mencintai payudara dan vagina wanita! Tidak mungkin ia langsung berubah haluan hanya karena kedekatan dirinya bersama si raven.

Dan kalau hal seperti ini terus berlangsung, Law akan meragukan orientasi seksualnya di kemudian hari.

.

.

Sore harinya, Law kedatangan dua orang pemuda yang salah satunya tidak ia kenal. Yang satu memiliki surai berwarna pirang panjang yang diikat dan bernama Helmeppo. Lalu, satu lagi adalah seorang pemuda mirip preman dengan tindikan di hidung dan telinganya. Oh.. Jangan lupakan dengan gigi-gigi yang mirip hewan buas itu. Rambutnya yang mirip lumut, dua tatto setengah lingkaran di pelipis kanannya dan gayanya yang sok keren dengan pandangan kesal dan marah yang ditunjukan pada Law.

"Siapa kau?" Law mulai bertanya penasaran. Sebenarnya ini pertanyaan khusus untuk si pemuda preman. Karena Law tahu jika kedatangan si pirang adalah untuk bersih-bersih dirumahnya setelah adik tirinya meminta pada pemuda tersebut tiap beberapa hari sekali dengan imbalan yang sudah disepakati.

Berbeda dengan Helmeppo yang bersikap ramah, si jengger hijau tiba-tiba saja langsung main masuk saja seraya melihat-lihat seluruh isi rumah tersebut. Law yang kesal berusaha mengusir, ia mulai menarik pemuda di depannya dengan segera.

"Kau siapa? Main masuk saja kerumah orang."

Sebuah geraman kesal.

"Aku Bartolomeo! Ketua geng Barto dan pesuruh kesayangan kak Luffy. Menjauhlah cacat! Aku ada keperluan yang harus segera ku selesaikan!" Bartolomeo kembali melangkah namun dengan cepat Law menahannya walau di tangkis si pemuda preman yang langsung membalik arah tangannya dan disusul dengan menarik tangan kanan Law dan melemparnya ke arah kursi terdekat.

BRUK!

Law meringgis sakit berbeda dengan Bartolomeo yang mulai menyeringai dan melangkah ke arah dapur sebelum akhirnya berbelok dan menaiki tangga di depannya. Helmeppo berusaha menolong, ia mulai meminta maaf.

"Maafkan sifat Bartolomeo. Dia memang kasar dan suka berbuat seenaknya."

"Bahkan melemparku?" Tanya Law kesal dan di balas Helmeppo dengan kekehan kecil.

"Dia memang kasar. Tapi anehnya dia lembut pada Luffy bahkan rela menjadi pesuruhnya. Padahal yang ku tahu Zoro hanya meminta sepupunya itu untuk mengawasi, Luffy ketika dirinya tidak ada. Hehehehe." Helmeppo terlihat menggaruk belakang kepalanya, berbeda dengan Law yang mulai terbelalak kaget.

"Dia— sepupunya Zoro?"

Dan Helmeppo pun mulai menganggukan kepalanya dengan pasti.

Tak lama kemudian, Bartolomeo kembali dengan sebuah tas besar di punggungnya. Ia terlihat melangkah keluar dengan tangan melambai pada sebuah kamera CCTV yang ia ketahui sudah mati.

Bartolomeo keluar dari pintu gerbang dan mulai menaiki motornya sebelum akhirnya ia tak terlihat karena kecepatan motornya yang ia tancap di luar batas normal.

Law masih menganga sebelum akhirnya Helmeppo menyimpan tasnya di sebuah sofa dengan tubuh yang ia regangkan.

"Ha~ aku jadi bekerja sendiri lagi. Padahal awalnya kami bertiga. Tapi sudahlah. Mungkin nanti juga kami bisa bersama lagi." Helmeppo mulai tersenyum kecut. Ia terlihat mulai berjalan ke arah dapur dan berbelok seperti Bartolomeo barusan. Bahkan Helmeppo mulai berucap memanggil nama 'Surume' yang ia ketahui menjadi peliharaan adik tirinya tersebut.

Law masih terdiam. Ia masih kesal atas perlakuan pemuda preman tersebut padanya barusan. Awas saja kalau pemuda itu datang lagi ke rumah ini, Law berjanji akan membalas perlakuan pemuda tersebut padanya berkali-kali lipat lebih menyakitkan!

Ya.. jika saja tangan kirinya bisa sembuh lebih cepat.

Semoga saja.

Tapi— omong-omong.. Dimana adik tirinya itu?

"Oh.. Luffy berpesan padaku untuk mengatakan padamu jika Luffy dihukum pak Enel karena mata pelajaran kimianya yang jelek. Dia janji tidak akan pulang terlalu malam."

Hening.

"APA?"

Dan Law pun mulai berpikir yang tidak-tidak apalagi setelah tahu orang yang menghukum adik tirinya adalah seorang guru pria.

.

.

.

Empat hari kemudian.

Franky

Di sebuah lapangan basket di luar gedung sekolah terlihatlah Zoro yang mulai berlari dengan tangan kanan memantulkan sebuah bola orange yang senantiasa ia pertahankan. Dan ketika ia melompat.

Prriitt!

Bola pun masuk dengan sangat mulus sebelum seorang siswa meniup peluitnya.

"Kerja bagus, kapten." Seorang pemuda mulai berteriak tak lupa iapun memukul pelan punggung sang pemuda lumut sampai memicing kesal. Robin yang melihatnya hanya bisa terkekeh sampai Franky datang dan memberinya sekotak jus lemon. Tak lupa Franky pun memakai sebuah jaket tebal, kacamata dan topi sebagai ajang menyembunyikan dirinya dari para anggotanya yang adalah membuat gosip, sekalian untuk menipu semua orang karena dirinya pernah berpura-pura sakit selama empat hari ini.

Robin sedikit terkekeh.

"Fufufufu.. Terimakasih."

"Topi jerami tanding hari ini ya? uhuk!" Franky mulai bertanya dan dibalas Robin dengan anggukan singkat.

"Iya. Lawannya adalah sekolah Mink. Mereka mengadakan pertandingan sebagai bentuk persahabatan antar Sekolah."

"Begitu ya. Uhuk! Aku sakit. Jadi aku kurang tahu beritanya."

"Aku berharap akan kesembuhanmu, Franky."

"Terimakasih, Robin. Oh iya, kenapa pria berambut hijau itu memberi nama timnya dengan topi jerami? Bukan kah itu terlihat memalukan? Maksudku.. Uhuk! Kenapa tidak topi metal atau topi SUPERRR saja?" Robin kembali terkekeh. Ia mulai menyimpan jus lemonnya dan kembali memeprhatikan pertandingan di depannya.

"Entahlah.. Yang ku tahu Zoro memberi nama timnya sesuai benda yang disayangi Luffy dan benda itu adalah sebuah topi jerami tua yang ia dapat di pelelangan."

Sebelah alis yang mulai terangkat.

"Pelelangan kapan?"

"Entahlah. Aku juga belum pernah melihat topi jerami itu. Tapi katanya Luffy pernah memakainya beberapa bulan lalu ke sekolah. Mungkin sama dengan topi yang dipakai pemuda yang mirip Luffy senin malam lalu."

"Dia tidak malu ya?"

"Ku rasa tidak." Dan Franky pun terdiam di tempatnya. Ia terlihat sibuk berpikir dengan kedua mata seakan mencari sesuatu atau lebih tepatnya— seseorang.

Lalu, setelah itu pandangan Franky teralih pada tangan kiri Robin yang memang sudah tidak di perban karena lukanya yang sudah sembuh berminggu-minggu yang lalu.

"Oh iya, bagaimana keadaan tunanganmu itu?"

"Maksudmu, Law? Oh.. Tangannya masih di gips tapi kurasa dalam beberapa minggu lagi tangan kirinya akan sembuh."

"Boleh aku menemuinya."

Robin menoleh bingung.

"Kenapa memang?"

"Hanya ingin kenal saja." Dan Robin pun mulai tersenyum.

"Tentu." Franky ikut tersenyum walau pandangan matanya kini teralih pada seorang pemuda raven yang menjadi bahan pembicaraan mereka sedari tadi.

Si raven terlihat sedang bersama seorang pria yang Franky tahu menjadi guru olah raganya juga. Mereka terlihat tengah berciuman di tempat yang cukup tersembunyi sehingga satu orang pun tidak ada yang menyadari apa yang sebenarnya tengah mereka lakukan.

Namun, ketika si raven menengok ke arah kanan rupanya, Franky terlihat tengah memperhatikan dirinya dan membuat Luffy menyudahi ciuman tersebut secara sepihak dan pergi begitu saja setelah ia berbisik pada pria yang lebih tua.

Franky terlihat memicing jijik, apalagi setelah ia melihat jika sang guru olahraga mulai membenarkan kerah bajunya dan pergi dari tempat tersebut seakan tidak pernah terjadi apa-apa di tempat yang barusan ia masuki.

Franky menautkan kedua alisnya kesal.

"Uhuk! Aku akan menemui, Luffy dulu."

"Eh?"

Franky mulai berjalan meninggalkan Robin. Ia mulai melewati beberapa siswa-siswi yang menonton dan juga beberapa temannya yang menanyakan tentang kesehatannya.

DUK!

Tiba-tiba, bola basket terpantul ke arah lain. Zoro yang melihat bolanya keluar dari lapangan mulai merutuk kesal namun tiba-tiba pandangannya berubah jadi kaget ketika bola tersebut menukik ke arah pemuda yang sangat ia kenal.

"LUFFY!" Zoro mulai berteriak kaget. Ia berusaha mengejar bolanya dan membuat si raven yang akan menjadi korban mendongak hanya untuk melihat sepasang tangan sudah menahan bola tersebut sebelum mengenai dirinya.

Tap!

Luffy mulai menoleh. Dilihatnya Franky tengah berdiri di sebelahnya dengan bola basket di kedua tangannya.

Tak lama kemudian, Zoro datang disusul seorang pemuda pirang besar yang nampak sangat menyesal karena hampir menarget kepala orang dengan bola yang ia lempar.

"Luffy! Kau tidak apa-apa?" Zoro mulai bertanya khawatir, dilihatnya si raven mulai tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.

"Tidak."

"Maafkan aku.. Tadi aku terlalu semangat jadi aku kurang memperhitungkan jarak lemparanku. Sekali lagi aku minta maaf." Si pemuda pirang terus meminta maaf, dan hal itu membuat Luffy terkekeh seraya mendekati pemuda tersebut dengan membawa bola basket yang di tangkap Franky barusan.

"Siapa namamu?" Luffy mulai bertanya lembut.

"B-Bellamy. Kelas 2-3." Jawabnya tegas bercampur gugup.

Luffy sampai terekeh. Ia mulai melempar-lempar bola basket di tangannya dengan pelan sebelum akhirnya memutar bola basket tersebut di atas jarinya.

"Lemparanmu sangat kuat dan hebat. Aku yakin kau akan mencetak banyak angka ketika bertanding nanti."

Bellamy ikut terkekeh. Ia terlihat sangat tersanjung dengan pujian si raven yang adalah kakak kelasnya sendiri. Bahkan Bellamy sampai salah tingkah dan membuat Zoro menghela napasnya dengan bola mata bergulir bosan.

"Hehehe.. Trimakasih.. Aku—

"Tapi jika kau tidak bisa bermain, lebih baik kau tidak masuk ke tim mana pun."

Terbelalak!

Dan Luffy pun mulai menyerahkan bola oranye di tangannya ke arah Bellamy yang masih kaget dengan ucapan si raven barusan.

Zoro pun sama kagetnya walau ia akui mendengar si raven mengatakan hal seperti itu bukanlah hal yang aneh.

"Zoro. Semoga kau menang." Luffy mulai bicara sebelum akhirnya ia berjalan pergi seraya melambaikan tangannya.

Untuk sesaat, Zoro kembali tersenyum dan mencoba tak ambil pusing dengan ucapan si raven yang memang tidak di-per-untuk-an baginya. Ia kembali melangkahkan kakinya ke lapangan berbeda dengan Bellamy yang terlihat kesal dengan ucapan si raven barusan. Bahkan Franky yang sedari tadi ada di depannya masih ikut terdiam dengan pandangan terarah ke pada si pirang.

"Bellamy! Cepat—

"Aku harus ke toilet. Nanti aku kesini lagi."

"...cepatlah! Setengah jam lagi Mink datang,"

"Tentu."

Bellamy beranjak pergi dan hal itu membuat Franky penasaran dan mulai mengikuti si pirang dari belakang.

.

.

Di sebuah lorong kelas yang kosong terlihatlah Luffy yang sedang berjalan diikuti Bellamy di belakangnya.

Pancaran benci masih terlihat di kedua mata Bellamy. Kedua tangannya juga terkepal erat dengan gigi menggertak kesal. Ia terlihat mengikuti secara sembunyi-sembunyi. Tak beda dengan Franky yang sesekali berhenti hanya untuk menyembunyikan tubuh besarnya di sebuah tikungan atau di belakang tanaman buatan yang menjadi hiasan di tiap kelas.

Kaki terus melangkah.

Para pengikut terus mengikuti.

Dan Bellamy makin menggeram kesal pada pemuda didepannya.

Tap!

Tak disangka, tiba-tiba saja Luffy berhenti ketika ia akan berbelok. Dan yang lebih kagetnya lagi, Luffy mulai berbalik dan tersenyum ke arah Bellamy yang ketahuan sedang mengikutinya.

Dan untuk hal ini, Franky mulai berhenti dan memundurkan langkahnya dengan cepat untuk bersembunyi di balik sebuah pintu yang terbuka. Berharap jika tempat persembunyiannya cukup aman dan tidak akan diketahui oleh si raven.

"Ada perlu apa?" Luffy mulai bertanya pelan dan entah kenapa telah membuat urat vena menyebar di pelipis bahkan kepalan tangan pemuda pirang tersebut.

"Aku tidak peduli jika kau adalah seorang kakak kelas yang harus ku hormati seperti Zoro! Kau telah membuatku kesal, sialan! Jadi— terimalah balasannya!" Bellamy siap menyerang. Ia mulai berlari dan membuat Franky memicing penasaran.

Namun—

Tap!

Tangan Bellamy tiba-tiba saja tertahan oleh seorang pemuda preman yang tak lain adalah Bartolomeo. Ia mulai menyeringai ke arah Bellamy dengan tangan yang mencengkram erat pergelangan tangan pemuda pirang tersebut.

Ringgisan sakit dan Bellamy yang mulai menggeram. Dan saat ia akan menggunakan kakinya untuk membalikan keadaan, tiba-tiba—

BUK!

Bellamy pun terjatuh tepat di kaki si raven.

Bahkan dari yang semulanya, Franky memicing penasaran tiba-tiba saja kedua mata Franky berubah menjadi terbelalak kaget dengan kaki yang ia pundurkan beberapa langkah.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah kaki mulai terdengar. Dilihatnya si raven mulai berjalan dan berdiri tepat di depan Franky. Raut wajahnya terlihat sangat gelap ketika ia tahu ada orang yang mengikutinya selain si pirang.

Gluk!

Dan Franky pun mulai meneguk ludah gugup.

"Oh.. Hai.. L-Luffy." Franky mulai menyapa pelan namun tak membuat Luffy merubah tatapannya. Dibelakangnya bahkan terlihat pula Bartolomeo yang masih menyeringai seakan menakut-nakuti. Melihat hal itu, Franky mulai menghela napasnya. Ia mulai berdiri dan berhadapan dengan pemuda di depannya.

"Baiklah. Cukup dengan berbohong. Aku tahu rahasiamu, Lucy."

Sebuah ancaman. Semoga saja hal ini berhasil menakut-nakuti si raven.

"..." Tak ada jawaban. Selain tatapan yang entah kenapa membuat Franky makin waspada.

Luffy mulai membuka suara.

"Lalu, kalau kau tahu kenapa kau masih berdiri di sana? Kau mau membongkar semua rahasiaku? Silakan saja. Aku tidak takut. Oh iya.. bagaimana kalau kita saling membocorkan rahasia. Kau membocorkan rahasiaku dan aku.. akan membocorkan ha-ha-si-a-mu."

Franky menggeram namun ia berusaha untuk tetap tenang walau keringat dingin tiba-tiba saja mengalir di pelipisnya.

"M-emangnya kau tahu rahasiaku?" Franky mulai bertanya waspada.

"Jelas." Dan si raven pun mulai menyunggingkan sebuah kurva senyuman. "Kau adalah pacar Robin padahal Robin sudah bertunangan dengan anakku." Untuk sepersekian detik kedua mata Franky mulai terbelalak kaget ketika si raven mengatakan akhir kalimatnya. Luffy mulai terkekeh ia mulai mendorong dada Franky dengan pelan hingga pemuda besar tersebut mundur dan membuka jalan untuk dirinya. Luffy masih terus berjalan sampai akhirnya kedua kakinya berhenti seiring dengan Luffy yang kembali melanjutkan perkataannya. "Walau itu.. bukan rahasia yang kau sembunyikan." Dan dengan berakhirnya kata-kata tersebut, Luffy pun kembali melangkahkan kakinya diikuti Bartolomeo yang ikut mendorong dada Franky dengan cukup kasar. Franky sampai mundur beberapa langkah. Bahkan di wajahnya telah terlukis ekspresi bingung bahkan takut secara bersamaan.

Si raven masih terlihat santai berjalan. Senyuman juga tak hilang dari bibirnya. Mereka terlihat berbelok dan akhirnya menuruni tangga di sebelah mereka.

Sekarang Franky bingung. Jika si raven mengetahui rahasianya akankah si raven membocorkannya?

Dan.. bagaimana jika seluruh sekolah tahu? Terutama pacarnya, Robin yang sangat ia cintai.

Perlahan Franky mulai bersandar di tembok terdekat. Ia mulai berpikir sebelum akhirnya menggunakan selulernya untuk menghubungi sang kekasih.

-"Di depan perpustakaan? Baiklah, Franky."-

"Terimakasih, Robin."

Nit!

Dan dengan berakhirnya telefon tersebut Franky pun kembali mendesah pasrah.

Sepertinya ia harus mengaku sebelum dirinya ditangkap seperti Eustass Kid dan menjadi narapidana yang mencoreng nama Sekolahnya.

Tapi sebelum itu, Franky harus melakukan sesuatu pada Bellamy yang sekarang sudah tak sadarkan diri dengan bekas tinjuan di pelipis kanannya.

Jika ketahuan orang lain bisa-bisa dirinya yang disalahkan karena telah menghajar seorang adik kelas.

Dan parahnya jika yang mengetahui hal ini adalah Zoro, dirinya bisa disuruh berdiri di lapangan terbuka dan harus adu jotos detik itu juga dengan si pemuda lumut tersebut.

Kalau sudah seperti ini, Franky jadi menyesal membuntuti si raven yang selalu ia curigai itu.

Karena sekali salah strategi, dirinyalah yang bisa disalahkan.

.

.

Tbc.

Hohohoho.. Begitulah enaknya jika punya pesuruh pribadi xD *ditampol*

Jadi.. Hampir semua orang punya rahasia ya :'v saya juga. Dan semua orang juga. *ditabok.

Okay.

Next:

"Kenapa—

"Kita harus bicara, Law. Pembicaraan sesama pria!" Dan Law pun mulai menatap tidak suka ke arah Franky.