Sweetest Miracle
.
Chapter 10 : Siluet
Genre : Romance, Fantasy
Main Cast : Naruto U., Shion
.
.
.
.
.
.
"Dulu, aku pernah membaca sebuah buku sejarah pemberian ibu. Buku itu menceritakan tentang kejayaan bangsa vampire. Tentang kehebatan tetua di masa lalu. Lalu menceritakan tentang perang panjang pertumpahan darah antara vampire dan manusia." Ujar Sakura mencoba mengingat kembali memorinya.
"Di dalam buku itu juga, dituliskan bagaimana saat-saat tetua pada jaman itu semakin kehilangan umur mereka. Di saat yang sama, bangsa vampire dan manusia memutuskan gencatan senjata yang dipelopori oleh pemimpin-pemimpin fraksi beserta beberapa pemuda di jaman itu. Ide untuk berdamai dengan manusia sangat gencar dibicarakan oleh beberapa pemuda keturunan bangsawan fraksi, seperti Uzumaki Naruto." Lanjut Sakura lagi.
Shikamaru mencoba merilekskan punggungnya dengan bersandar pada kursi kerjanya yang empuk. Kedua matanya terpejam mengingat kembali dongeng masa kecil yang sangat populer tersebut. Pria berambut nanas itu mengambil nafas sejenak, lalu ikut menceritakan apa yang pernah ia ketahui tentang masa lalu menurut desas-desus yang beredar pada masa kecilnya.
"Kesepakatan damai akhirnya terealisasi. Mengusaikan perang dingin penuh darah antara bangsa vampire dan pasukan Vatican. Uzumaki Naruto berhasil menjadi pahlawan yang menghentikan perang tak berujung itu berkat kegigihannya mengutarakan pendapat rasional dalam setiap rapat gencatan senjata. Akan tetapi, tidak lama berselang, para tetua dan berbagai pemimpin fraksi mati dan menghilang secara misterius..." Ujar Shikamaru yang entah mengapa dapat merasakan hawa kengerian di masa lalu.
Rintik hujan dan suhu ruangan yang menjadi dingin membuat suasana pembicaraan di antara mereka terasa semakin mencekam. Kisah-kisah masa lalu yang penuh dengan perang ideologi beserta pertumpahan darah dikorek dalam pertemuan mereka. Baik Shikamaru maupun Sakura mencoba membuka tabir kelam atas tragedi pembunuhan berbagai pemimpin fraksi bangsawan.
"Shikamaru, apa kau memikirkan hal yang sama seperti yang sedang kupikirkan..."
Sembari terus memegangi dagu, Sakura memandang intens ke arah Shikamaru. Wanita muda itu merasa semua ini mulai tersambung satu per satu.
"Aku tidak bisa mengatakan secara pasti. Tapi, bila menurut desas-desus yang sempat beredar di masa lalu..." Kalimat Shikamaru agak menggantung mengutarakan analisanya.
"Bila rumor serta dongeng masa lalu itu benar, apakah itu berarti dia adalah seorang pengkhianat yang tega menghabisi para tetua...?" Tanya Sakura sangat ingin memastikan kebenaran yang terasa samar.
"Sudah kukatakan, aku tidak bisa begitu saja menyimpulkan sesuatu tanpa bukti-bukti yang jelas. Namun, jika kita menyimpulkan bahwa dia adalah pelaku atas menghilangnya hampir seluruh fraksi bangsawan di masa lalu, semua ini mulai masuk akal." Jawab Shikamaru yang berpikir bahwa kasus yang sempat menjadi misteri sepanjang sejarah, mulai mengerucut dengan menyisakan sosok wanita tersebut sebagai seseorang tersangka.
"Kita bahkan tidak tahu bagaimana bisa dia membunuh begitu banyak tokoh bangsawan yang punya pengaruh penting dalam sejarah perdamaian tersebut. Dan justru karena itu, dia disebut sebagai iblis yang merebut banyak nyawa dari berbagai fraksi. Momok legenda yang hampir terlupakan di masa kini karena keberadaannya yang bagaikan hantu di balik selimut." Sebut Sakura dengan tatapan mata ngeri, menyadari bahwa dirinya tidak dapat mengetahui seberapa kuat wanita misterius dalam legenda tersebut.
.
.
.
.
.
.
Sweetest Miracle
.
.
.
.
.
.
Tetesan air dari langit di malam yang dingin semakin ramai mengguyur kota. Dari rintik-rintik gerimis kian menjadi deras. Membuat rambut serta bahu Shion terbasahi oleh guyuran bulir air yang dingin. Melirik waktu pada jam di tangannya, Shion menyadari hari semakin petang. Sendirian di taman menunggu lama sang kekasih. Lambat laun rasa khawatir kian membuncah dari bilik hati. Ia tak ingin ada sesuatu yang terjadi pada sang pujaan hati.
"Shion!"
lama kemudian terdengar suara seorang pemuda memanggil namanya. Sebuah suara yang sangat ia kenal. Suara pemuda yang sedang dicari-carinya.
"Naruto-kun!"
Meski tubuh mungil Shion bergetar kedinginan, entah mengapa bibirnya tersenyum mendapati sosok Naruto berlari kecil ke arahnya. Rasa khawatir pun seakan sirna ketika dapat melihat kembali sang pujaan hati.
"Kita harus segera pergi dari sini!" Ucap pemuda berambut kuning tersebut setibanya di depan Shion.
"Ehh...?"
Shion agak terkejut serta bingung ketika Naruto meraih dan menggandeng tangannya. Mengajaknya untuk segera berlari menjauh dari taman ini.
"Naruto-kun, apa yang terjadi...?" Ia bertanya kebingungan mengapa Naruto memperlihatkan ekspresi wajah panik.
"Aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Untuk sementara, kita harus lari dari sini!" Jawab Naruto sembari terus menyeret Shion untuk lekas pergi.
Di tengah guyuran hujan, mereka berdua berlari di sepanjang jalanan Kota Konoha yang sepi senyap. Hanya ada beberapa mobil sedan yang terlihat melintas. Lampu-lampu kota mulai menyala, meski tidak semuanya berfungsi dengan baik. Banyak lampu kota di pinggir jalan yang berketap-ketip. Kesunyian dan minim penerangan membuat suasana agaknya sedikit mengerikan. Berada di tengah-tengah sana mungkin malah serasa berada di kota berhantu.
"Shion, cepatlah!" Ujar Naruto dengan alis mengernyit, menoleh ke arah kekasihnya di belakang.
Setelah mereka berkelok ke sebuah gang kecil nan gelap di pinggir jalan, Shion merasa kelelahan. Bagaimanapun juga, langkah kaki Shion tidak mampu mengimbangi kecepatan langkah kaki Naruto. Bahkan gadis itu sudah hampir pada batasnya.
"T-Tunggu, Naruto-kun!" Ujar Shion sembari menarik tangannya secara paksa dari genggaman Naruto.
Akhirnya langkah kaki mereka berdua terhenti. Baik gadis itu maupun Naruto terengah-engah mengambil nafas. Tubuh Shion membungkuk dengan kedua tangan yang bersanggah pada lututnya. Berulang kali menarik nafas dalam-dalam setelah berlari begitu jauh dari taman.
"Shion, ayolah. Kita tidak bisa beristirahat di sini." Kata Naruto membujuk gadis berambut pirang itu untuk kembali mengikutinya.
Tangan kanan Naruto mencoba meraih lengan Shion. Tetapi baru saja menyentuh kulit lengannya, Shion menampik dengan kasar.
"Shion... Ada apa? Kenapa kau tidak mau ikut denganku? Di sini sangat berbahaya..." Naruto terheran sekaligus bertanya-tanya mengapa kekasihnya kasar menampik tangan kanannya.
Tetapi Shion hanya diam sembari memeluk lengan yang sempat ingin Naruto genggam tadi. Ia masih mencoba mengatur gejolak nafas di samping mulai menggigil oleh sebab suhu yang dingin. Air mengucur jatuh melalui ujung poni rambutnya yang sudah basah. Keringat dan air hujan bercampur di antara wajah lelahnya.
"M-Mengapa kita berlari seperti ini? Sebenarnya apa yang sudah terjadi tadi?" Setelah beberapa saat, Shion akhirnya membuka suara.
"Oh ayolah, aku tak punya waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi di sana. Bila kita terus-menerus berada di sini, nyawa kita bisa terancam!" Naruto menjawab dengan memperlihatkan wajah khawatir dan panik.
"Ti-Tidak apa-apa... Aku... Aku pasti akan melindungimu, Naruto-kun." Ujar gadis pirang tersebut bersama nafas yang masih tersenggal-senggal.
"Shion, apa yang kau katakan...? Kau tidak mungkin bisa." Naruto kini kebingungan melihat Shion yang terasa cukup aneh.
"Tidak bisa...? Kenapa tidak bisa...? Apa Naruto-kun lupa siapa aku ini...?" Tanya Shion sembari tersenyum kecil. Sebuah senyum yang mencurigakan.
"Aku... Aku tidak mengerti. Sebenarnya kau ini kenapa? Apa yang terjadi padamu, Shion?!" Naruto mengernyitkan kedua alisnya. Pemuda itu benar-benar kebingungan dengan sikap kekasihnya.
"Apa Naruto-kun lupa siapakah aku ini?" Shion berbalik tanya. Masih dengan senyum kecil yang terasa mencurigakan.
". . . . ."
"Tolonglah jangan bercanda di saat seperti ini! Kau hanyalah manusia biasa, mana mungkin bisa melindungi kita berdua?! Sudah, hentikan omong kosong ini. Aku sedang serius!" Ujar Naruto dengan nada tinggi karena sedikit kesal terhadap gadis tersebut.
"Aku pun juga sedang serius!" Teriak Shion dengan lantang.
"Sebenarnya ada apa sampai menyeretku berlarian ke sana kemari...? Apa ada vampire yang jahat di taman itu...? Jika memang ada, bukankah mereka juga sama sepertimu?!"
Shion menghujani Naruto dengan berbagai pertanyaan yang justru semakin membingungkan bagi pemuda itu. Membuat Naruto sejenak hening menatap kekasihnya.
"Tolong jangan samakan aku dengan mereka..." Ucap Naruto dengan nada memohon.
"Kenapa kau tidak suka disamakan dengan mereka?" Shion kembali melempar sebuah pertanyaan.
"Bagaimana mungkin aku sama seperti para vampire jahat itu?! Aku bahkan tidak pernah menyakiti manusia sekalipun juga!" Ucap Naruto mencoba meyakinkan.
"Tidak pernah menyakiti manusia...? Jadi, kau menyebut dirimu sendiri sebagai vampire yang baik, begitu?"
"Tentu saja, bukan?!"
Mereka berdua terus berdebat di tengah gang yang gelap ini. Akan tetapi, entah mengapa setelah mendengar jawaban Naruto, Shion menundukkan kepalanya. Gadis itu terdiam hening setelah beradu argumen dengan kekasihnya.
"Shion... Ada apa...?" Naruto mencoba bertanya kepadanya.
Setelah lama terdiam, Shion mendongakkan kepala dan menatap Naruto intens. Kedua alisnya mengernyit melirik sosok pemuda berambut kuning di sana.
"Sejak tadi jawabanmu selalu salah. Naruto-kun pasti akan mengataiku gadis yang aneh bila ada yang bertanya siapakah aku ini. Naruto-kun tak pernah memanggil namaku semudah itu. Naruto-kun juga tak pernah mau mengaku sebagai vampire yang baik hati. Ketika bersamamu, aku merasakan sesuatu yang sangat dingin. Dinginnya melebihi tetesan air hujan ini. Aku juga merasakan sesuatu yang sangat gelap. Jauh lebih gelap dari jalanan gang sempit ini. Siapa kau sebenarnya..."
Shion sudah merasa ada yang aneh pada sosok pemuda di hadapannya itu. Memang wajah, rambut, serta kaus yang dikenakannya sama persis dengan kekasihnya. Akan tetapi, hatinya berkata bahwa dia bukanlah Naruto. Ikatan yang telah terjalin dari hati ke hati tak bisa dibohongi begitu saja.
Sedangkan pemuda berambut kuning yang berdiri tidak jauh darinya terdiam. Sepertinya sudah tidak ada yang bisa ia tutupi lagi. kaus yang ia kenakan basah kuyup terguyur hujan. Awan di langit sana bergerak menghalangi sinar rembulan yang tengah bersinar. Membuat sebagian wajahnya tertutupi oleh gelap. Namun Shion masih dapat melihat dengan jelas pergerakan bibir pemuda tersebut.
Naruto melempar sebuah senyum mengerikan ke arah kekasihnya...
.
.
.
.
.
.
Suara gemuruh saling bersahutan di atas langit sana. Suasana malam yang terguyur hujan deras semakin membuat segalanya menjadi mencekam. Itulah apa yang Sakura dan Shikamaru rasakan saat ini. Berdua, mereka mencoba mencoba mengorek kisah-kisah masa lalu. Hingga berbagai kesimpulan memenuhi seluruh isi kepala mereka.
"Apa kau tahu bagaimana asal-usul wanita ini, Shikamaru...?" Tanya Sakura penasaran. Dari fraksi bangsawan mana wanita yang sedang mereka bicarakan. Sehingga mampu melakukan berbagai pembunuhan dan penculikan yang sangat terencana tanpa meninggalkan jejak.
"Aku hafal benar setiap nama dan wajah dari semua riwayat keluarga seluruh bangsawan. Tapi wanita ini sama sekali tidak ada dalam ingatanku." Jawab Shikamaru sangat yakin.
"Tunggu... Maksudmu, dia bukanlah bagian dari fraksi bangsawan manapun?" Sakura kembali bertanya untuk memastikan apa yang baru saja Shikamaru katakan.
"Aku sama sekali tidak meragukan hal itu. Dia bukanlah bagian dari seluruh nama bangsawan yang pernah tercatat."
"Kau pasti bercanda..."
Sakura begitu terkejut mendengar penuturan Shikamaru. Seolah masih tidak percaya dengan hasil analisa atasannya, Sakura terus memandangi mimik wajah Shikamaru. Akan tetapi Shikamaru sama sekali tidak sedang bercanda. Semua benar adanya.
Menyimpulkan bahwa wanita tersebut bukanlah bagian dari salah satu fraksi-fraksi manapun. Alias benar-benar vampire biasa. Membuat Sakura diam mematung. Tidak mungkin vampire biasa mampu membunuh ratusan vampire berstatus bangsawan yang jauh lebih kuat darinya.
"Tapi, jika itu benar... Bagaimana caranya?! Maksudku... Vampire dengan garis keturunan bangsawan sangatlah kuat..." Sakura bertanya kebingungan.
". . . . ."
"Assassination... Setidaknya itu yang dapat kupikirkan. Pembunuhan yang telah dipersiapkan dan direncanakan secara matang-matang. Lalu mungkin, pengalaman juga termasuk. Semakin banyak dia melakukannya, semakin banyak dia mendapat pengalaman tentang cara-cara membunuh lawannya." Jawab Shikamaru menarik kesimpulan berdasarkan logika yang paling masuk akal.
"Itu mengerikan... Membunuh sesamanya sendiri... Dia benar-benar menjadi sebuah kisah gelap masa lalu." Gumam Sakura merasakan kengerian yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Bisa jadi pada saat itu, dia menjadi seorang agen ganda bagi pihak Vatican. Bisa juga ada pengkhianat lain di antara fraksi bangsawan yang menentang wacana gencatan senjata dan kesepakatan perdamaian." Ungkap Shikamaru mengutarakan semua kemungkinan yang dapat ia pikirkan.
"Pengkhianat lain, menentang kesepakatan perdamaian? Apa jangan-jangan yang kau maksud adalah..."
Akhirnya pemikiran mereka berdua selaras. Menuju kepada sebuah nama yang paling mendekati kriteria sang tokoh pembelot di masa lalu. Seorang vampire bergaris keturunan bangsawan yang juga ada pada saat perjanjian perdamaian perang antara umat manusia dan bangsa vampire. Satu-satunya sosok yang sangat menentang adanya perjanjian suci tersebut.
"Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apa tujuan wanita itu muncul kembali dan datang kemari." Gumam Shikamaru sembari memegangi kepalanya yang pusing oleh sebab kerja otak yang terlalu dipaksa untuk terus berpikir demi memecahkan masalah ini.
"Kita tidak akan tahu sebelum memastikannya sendiri. Aku harus memberitahu Naruto tentang hal ini." Kata Sakura seraya meraih ponsel dari saku seragamnya. Jarinya menekan tombol-tombol pada ponsel tersebut untuk mencari nama Naruto pada daftar kontaknya.
". . . . . ."
"Tidak tersambung..."
Sakura agak heran, tak biasanya panggilan keluarnya tidak tersambung pada ponsel Naruto. Lalu ia mencoba menelpon pemuda berambut kuning itu lagi. Menunggu lama sembari menggigit kukunya.
Namun hasilnya nihil. Teleponnya sama sekali tidak mau tersambung. Dan entah mengapa hal itu membuatnya mulai merasakan firasat yang buruk. Sakura dilanda kekhawatiran yang sama sekali tidak ia ketahui secara pasti penyebabnya. Mendapati panggilan ponselnya tidak mau tersambung ke ponsel Naruto, Sakura beralih menelpon Sasuke. Hanya butuh waktu sebentar sebelum Sasuke mengangkat panggilan darinya.
"Hallo, ada apa?" Tanya Sasuke melalui telepon.
"Sasuke, apa kau tahu di mana Naruto berada saat ini?" Sakura balik melempar pertanyaan kepada salah seorang sahabat dekat pemuda berambut kuning tersebut.
"Aku tidak tahu. Ada apa memangnya?"
"Ada hal penting yang bagaimanapun harus kusampaikan padanya. Tapi sedari tadi aku tidak bisa menghubunginya. Panggilanku sama sekali tidak tersambung."
"Begitu. Sayangnya aku sama sekali tidak melihatnya hari ini. Si bodoh itu memang menyebalkan, tapi tidak biasanya ponsel miliknya tak bisa dihubungi."
"Itulah yang membuatku resah. Seharian ini pun aku juga sama sekali tidak melihatnya. Ada hal mendesak yang harus kuberitahukan padanya. Tapi aku tidak tahu di mana dan apa yang sedang dia lakukan."
"Kau sempat mengatakan padaku, bahwa dia sudah memiliki seorang kekasih. Mungkin Naruto sedang berada di suatu tempat bersama kekasihnya. Kebetulan hari ini hari minggu, bukan?"
"Mungkin kau benar... Aku sama sekali tidak kepikiran tentang itu. Firasat buruk ini sangat menggangguku."
"Firasat buruk...?"
"Maaf bila ini sangat mengganggumu tapi, Sasuke, bisakah kau kemari...? Aku dan Shikamaru ingin membicarakan hal ini denganmu juga. Ini benar-benar sangat penting dan mendesak. Kuharap kau punya waktu."
"Begitu, kah...? Baiklah, aku mengerti. Lagipula aku juga sedang senggang hari ini. Tunggu sebentar, aku akan segera ke sana sekarang."
"Itu sangat membantu. Terima kasih, Sasuke."
TUT-TUT-TUT-TUTT...
Panggilan pun berakhir. Sakura bersyukur Sasuke dapat dihubungi dan mau repot-repot kemari demi membahas hal yang baru ia bahas bersama Shikamaru. Namun bagaimanapun juga, firasat buruk di hatinya benar-benar sangat mengganggu. Khawatir serta rasa gelisah merangkap melingkupi pikirannya yang tidak bisa tenang.
Hujan di luar semakin lama semakin lebat. Sakura dan Shikamaru dapat menengok bagaimana kota ini sedang tertutupi oleh tetesan deras air hujan. Dari jendela, terlihat ada beberapa wilayah yang mengalami pemadaman lampu. Mungkin karena konsleting atau semacamnya. Sehingga Kota Konoha terlihat lebih gelap dari biasanya. Akan tetapi semua kejadian ini malah semakin membuat mereka berdua merasakan ada kecekaman yang tak bisa tertembus oleh makna logika.
Semua ini, tanpa diragukan lagi, berawal dari munculnya kembali sosok legenda iblis pembunuh dari masa lalu...
.
.
.
To Be Continue...
