Title : Love Summer Desire
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho and Other Cast, KrisHo Pair.
Rating : T aja
Genre : Romance, Drama, yaoi
Length : Chaptered
Warning! : typo(s), EYD berantakan, author abal-abal, de el el… /deep bow/
.
.
Rae Yoo disini ! *lambailambai *dihajar.
Pasti pada kangen? :3 yaah, mau bagaimana lagi, ini udah januari dan Rae Yoo bentar lagi UN, jadinya susah buat curi-curi waktu. Tapi ini ff pasti Rae Yoo lanjutin kok! ;D
Mohon jangan lempar Rae Yoo pakai pancinya Kyungsoo atau tongkat wushunya Tao yaaa… mian mian mian /bow bow bow/ kan Rae Yoo udah update jadi jangan marah yaa…
Daripada Rae Yoo makin eggak jelas lebih baik silahkan dibaca saja! Mohon maaf kalau ini udah lama update tapi enggak memuaskan.
.
/bow/
.
[Chapter 10]
.
Suho memandang pria berwajah keras itu dengan siratan mata ketakutan. Kakinya melangkah perlahan, mendekati tubuh Kris yang diam seperti patung. Tangan mungil itu menggenggam lengan Kris dengan erat. Hatinya seolah mengatakan hal buruk akan terjadi setelah ini.
"Appa… sudah pulang?" perlahan suatu kalimat keluar dari mulut Kris.
Tuan Wu mengangguk kecil "Tidak akan lama Yi Fan, hanya karena ada masalah pada beberapa perusahaan di Korea saja."
Kris tahu Suho ketakutan di balik punggungnya, Kris tahu itu hanya dengan merasakan jemari Suho yang mencengkram erat tangan kirinya.
"Ah," Kris bergumam dan mengalihkan pandangannya. Suasana menjadi canggung sekarang. Ah, tidak, sebenarnya suasana bukan canggung, tapi mencekam.
"Siapa dia Kris?" tanya Tuan Wu sambil melirik Suho dan membuat pria yang dilirik ini tersentak, tak berani menatap wajah Tuan Wu.
Kris mulanya ingin menjawab tapi ayahnya menyela perkataanya "Biasanya hanya pemuda bernama Chanyeol itu yang ada disini. Siapa dia?"
Suho hendak menjawab dengan senormal mungkin tapi Kris menyelanya lebih dulu.
"Dia kekasihku."
Bodoh!
Tuan Muda Wu Yi Fan ini sungguh bodoh!
Bagaimana bisa dia bicara seperti itu sementara Kris sendiri sebenarnya tahu kalau ayahnya yang dingin itu tidak suka melihatnya pacaran dengan orang lain.
"Apa?"
"Dia pacarku, Appa," ulang Kris dan kini dia melepaskan cengkraman Suho di tangannya, dia menggantinya dengan menggenggam tangan Suho erat-erat dan dia menarik Suho agar kekasihnya ini tidak bersembunyi di balik punggung lebarnya.
"Apa kau tidak ingat dengan perkataan appa?" tanya Tuan Wu, masih dengan aksen mengintimidasi, membuat Suho semakin mendundukkan kepalanya dalam.
Kris diam, tidak menjawab perkataan ayahnya dan terus menatap mata tajam ayahnya seolah menantang. Tuan Wu meletakan kopernya dan menatap Kris dengan tajam. Suho berani bertaruh, dia tidak akan bisa melihat wajah ayah dan anak ini karena terlalu takut.
"Putuskan dia."
Perkataan dari mulut Tuan Wu ini membuat Suho mendongakkan matanya dan mengeratkan tautan tangannya. Tidak, jangan bilang kalau hubungan mereka berdua hanya sampai disini. Suho tidak mau ini semua terjadi. Dia barusaja menemukan seseorang yang bisa mengerti kesendiriannya dan membuatnya percaya akan adanya cinta. Suho tidak bisa menyerah dan menyerahkan Kris pergi begitu saja.
Tapi Suho mendongak menatap Kris dengan mata berkaca-kacanya saat Kris dengan mantap menjawab pernyataan ayahnya sendiri.
"Ani," ucap Kris "Aku tidak akan pernah melepaskannya!"
Merasa anaknya sudah tidak menghormatinya, Tuan Wu meninggikan intonasi suaranya dan Suho kembali menciut.
"Kau berani menentang ayahmu sendiri?" tanya Tuan Wu.
Kris diam sejenak, "Aku tidak tidak bisa untuk yang satu ini, Appa."
"Beraninya kau membantah ayahmu sendiri Wu Yi Fan!" bentak Tuan Wu dan Kris berusaha untuk tidak melepas emosinya sekarang.
"Appa!" ucapan Kris meninggi juga, perasaan antara marah, jengkel dan kecewa terhadap ayahnya bercampur dari dalam hatinya "Appa tidak bisa terus mengaturku!"
Tuan Wu terdiam mendengar sikap membantah Kris.
"Selama ini aku menuruti perintah Appa. Belajar di sekolah dan berusaha menjadi pewaris nama besar Keluarga Wu. Saat kecil Appa menyuruhku untuk tidak memikirkan eomma lagi dan aku percaya pada Appa, saat Appa berkata bahwa tidak ada eomma tidak apa-apa, aku mengerti dan berusaha sekuat tenaga meyakinkan diri sendiri kalau tinggal bersama appa saja tidak masalah," teriak Kris "Tapi Appa, untuk melepaskan dia, aku tidak bisa, aku tidak bisa melepaskan orang yang berharga dalam hidupku untuk yang kedua kalinya!"
Tuan Wu diam bergeming mendapati anaknya yang tengah memberontak.
"Appa akan mencarikan orang yang pantas untukmu," ucap Tuan Wu "Kenapa kau jadi membahas masalah eomma dalam hal semacam ini. Appa akan mencarikan seorang yang pantas untuk Tuan Muda Keluarga Wu dan kau bisa hidup dengan orang pilihan itu dengan bahagia."
Kris menggeleng "Aku tidak akan bahagia selain bersama Suho. Kenapa aku membahas eomma? Appa bertanya kenapa? Apa appa sudah lupa dengan istri sendiri?"
"Hentikan! Hentikan membicarakan eommamu Kris" bentak Tuan Wu lebih keras.
Kris kini menghela nafas berat dan Suho semakin tidak tahan dengan suasana ini, "Kenapa? Kenapa tidak boleh? Kalau Appa bisa menjelaskan dimana eomma sekarang dan kenapa appa meninggalkan eomma aku tidak akan membahas eomma sampai kapanpun."
"Bukankan kau membenci eommamu Kris? kenapa masih ingin membicarakannya?"
"Karena akhir-akhir ini, semakin berfikir, aku sadar kalau sebenarnya aku bukan membenci eomma, tapi aku membenci semua yang ada dalam keluarga konyol ini!"
"Wu Yi Fan!" bentak Tuan Wu tidak tahan.
"Kenapa? Kenapa appa tidak mencarinya? Kenapa appa melepaskan eomma begitu saja? Kenapa tidak berusaha membawa eomma pulang kembali, kenapa appa tidak melakukannya? Appa suaminya kan? Dia eommaku appa, dia yang melahirkanku dan aku sudah tidak melihat wajahnya lagi sejak usia 7 tahun. Dan selama 7 tahun itu aku tidak pernah merasakan bagaimana rasanya memiliki keluarga yang menyenangkan!"
Suho sedikit terkejut melihat sorot mata tajam Tuan Wu.
Bukan, bukan sorot mata kemarahan yang ada, tapi sebuah sorot mata yang…. Aneh, seperti penyesalan, Suho yakin ada sesuatu yang disembunyikan di dalam hati ayah Kris itu.
"Jangan membantah appa atau kau akan appa coret dari daftar nama Keluarga Wu!" ucap Tuan Wu berusaha mengendalikan intonasi suaranya.
"Tidak masalah" ucap Kris "Tidak masalah appa menyoretku dari daftar Keluarga Wu."
Suho membulatkan matanya dan Tuan Wu menatap Kris tidak percaya.
Tangan Kris menggandengen Suho dan bersiap membawa kekasihnya ini keluar rumah "Tidak masalah karena Keluarga Wu tidak pernah ada di dunia ini!"
.
.
Kris menarik Suho dan mendudukkannya di bangku depan mobil jazz hitam milik Kris. pemuda berambut pirang itu tak mengucap apapun, hanya melakukan segala sesuatunya dengan tidak sabaran. Suho tak berani bertanya dan mengucapkan apapun, dia hanya memakai sabuk pengamannya dan duduk dengan gelisah. Sampai mobil itu berjalan dan meninggalkan halaman rumah Kris dan Suho sama sekali tidak tahu tujuan Kris membawanya. Mata Suho memandang langit seoul, matahari tidak nampak walaupun ini musim panas, seolah ditelan awan-awan kelabu sore ini.
Hingga Kris menghentikan mobilnya di suatu tempat yang tak asing bagi Suho.
Sungai Han.
Mereka berdua turun dari mobil dan duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Kris duduk dan memejamkan matanya sementara Suho memandang Kris yang terlihat kacau dan lelah. Lelah karena perasaannya sendiri. Dengan lembut, Suho mengusap bahu Kris, berusaha menyalurkan kekuatan meskipun itu hanya sedikit.
"Kris!"
Suho memulai pembicaraan. Air matanya terkumpul di ujung matanya "Bagaimana sekarang?"
Kris memandang kekasihnya yang mungil itu dan mengusap rambutnya, berusaha mengesankan kalau ini akan berlalu dengan cepat dan akan baik-baik saja.
"Apa aku harus menyerah padamu? Apa aku harus mundur? Eottokhae?" tanya Suho disela isakannya yang sudah keluar.
Kris menggeleng dan menangkupkan kedua tangannya di pipi Suho "Aku tidak akan meyerah dengan ini. Aku tidak akan melepaskanmu, tidak akan. Selamanya tidak akan!" ucap Kris.
Suho mengangguk kecil dan menghapus air matanya saat Kris dengan lembut mengusap kepalanya dan megelus punggungnya dengan telapak Kris yang lebar.
"Aku lelah Junma," ucap Kris "Aku lelah dengan perasaanku sendiri!"
Suho mengenggam tangan Kris dan membiarkan pemuda itu bicara semaunya. Kris berusaha kuat dengan menanggung ini semua sendirian. Keluarganya yang selama ini dia rasakan hanya sebuah fatamorgana yang tak berujung, seperti keluarga adalah hal yang mustahil.
"Sebenarnya ada apa? Kenapa aku tidak tahu semuanya? Kenapa aku bisa membenci eommaku sendiri? Jumna… aku bingung, kenapa semuanya menyembunyikan sesuatu di belakangku? Kenapa appa tak mau menjawab tadi? Kenapa semuanya suka bermain rahasia?"
Suho merasa kasihan melihat nafas Kris yang tidak teratur dan beban pikirannya yang selama ini dia tanggung di pundaknya sendirian. Semua yang membingungkan yang ada dalam hidup Kris, pemuda berbahu lebar ini tidak kuat menanggungnya sendirian lama-lama.
Suho dengan cepat memutar tubuh Kris menghadap ke arahnya, menangkupkan tangannya pada wajah Kris dan menariknya untuk mempertemukan kedua bibir mereka.
Kris bisa merasakannya, bagaimana ciuman ini terasa sangat basah karena Suho menangis di antara ciumannya. Suho sendiri tidak tahu, kenapa dia bisa menangis, padahal Kris yang terluka tapi dia yang menangis, mungkin Suho bisa merasakannya, bagaimana rasanya tidak punya keluarga untuk tempatnya pulang dan bersandar, karena Suho pernah mengalami itu sebelumnya. Keduanya hanya menempelkan bibir dan membuat gejolak di dalam dada Kris perlahan mereda.
"Aku rasa ciuman bisa membuatmu sedikit lebih tenang," ucap Suho saat mereka melepaskan kontak bibir keduanya "Maafkan aku kalau hanya ini yang bisa aku lakukan."
Kris merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya "Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kalau kau tidak ada dalam hidupku, Joon Myun."
Suho tersenyum kecil namun pahit "Aku mencintaimu… aku tidak akan menyerah dengan perasaanku padamu."
Kris balas tersenyum kecil "Terima kasih, sudah mau menyukai orang sepertiku."
.
.
Suho membiarkan Kris tidur di pundaknya untuk waktu yang cukup lama, mengabaikan kenyataan yang menyebutkan bahwa hari sudah semakin petang. Sebenarnya Suho sendiri yang menyuruh Kris tidur, karena dikiranya, dengan tidur sejenak bisa membuat pikiran kekasihnya ini tenang dan sedikit menghilang.
Suho memandang langit yang kemerahan, dia tersenyum. Senja di musim panas memang salah satu yang dia sukai di dunia ini. Bagaimana melihat semburat awan-awan tipis itu tertimpa sinar matahari sore yang menyilaukan mata.
"Kris," Suho menepuk pipi Kris, berharap pemuda itu bangun karena mereka tidak bisa lama-lama disini dan Suho juga sudah mulai merasa lelah dan lapar.
"Eungg," Kris mengangkat kepalanya dari pundak Suho "Apa aku tidur terlalu lama?" tanya Kris.
Belum sempat Suho menjawab Kris sudah menyela "Sepertinya iya."
Suho tersenyum kecil "Tidak apa, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyanya sambil merapihkan rambut Kris yang cukup berantakan dengan kedua belah tangannya.
"Sudah… lebih baik," jawab Kris, tangannya menelusuri wajah Suho dan mengusap pipi lembut kekasihnya itu.
Kris merasakan handphonenya berdering di sakunya, dengan cepat dia mengambil handphone itu dan mengangkat telepon. Sedangkan Suho hanya mengamatinya, tidak terlalu mengerti apa yang Kris bicarakan dengan lawan bicaranya itu.
Setelah Kris menutup sambungannya, Suho baru bertanya.
"Siapa?"
"Sekertaris Lee," jawab Kris "Dia menanyakan keberadaanku."
Suho tidak tahu harus berekspresi seperti apa sekarang, entah ini sesuatu yang buruk, atau sesuatu yang baik, Suho tidak tahu dan tidak mengerti sedikitpun.
"Sebaiknya kita pulang, ini sudah hampir malam, nanti aku akan menjelaskan masalah perbincanganku tadi di telepon padamu saat di mobil," Kris menggandeng tangan Suho dan menarik lelaki mungil itu untuk segera naik ke dalam mobil miliknya.
.
.
"Ayahku tidak ada di rumah," ucap Kris sambil memakaikan sabuk pengaman di tubuh Suho sebelum dia menyalakan mesin mobil.
"Lalu dimana beliau?" tanya Suho.
"Appa sepertinya marah dan butuh waktu sendiri, dia menginap di hotel dan bahkan melarang Sekertaris Lee menganggunya," jelas Kris, tangannya tidak kunjung memasukkan kunci mobil itu ke lubangnya agar benda yang mereka naiki ini menyala.
"Ah," Suho hanya bisa mendesah pelan saat Kris menceritakan hal itu dengan intonasi yang tidak menyenangkan.
"Aku sekarang jadi merasa bersalah pada appa," ucap Kris frustasi.
"Kris?" Suho menepuk pundak Kris, berusaha menenangkan namja yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja itu. Meskipun Suho tahu itu hanya sia-sia karena Kris sampai sekarang masih mengacak rambutnya sendiri.
"Sebenarnya apa yang harus aku lakukan sekarang? kenapa aku bisa jadi seperti ini?" namja berambut pirang caramel itu mengerang tertahan dan Suho hanya bisa melepaskan sabuk pengamannya, beringsut memeluk Kris dan memberikan pijatan lembut di punggung lebar kekasihnya secara beraturan.
"Begitu sakitkah rasanya?" tanya Suho, Kris mulai membalas pelukannya.
Kris diam saja selama beberapa saat, tidak tahu harus menjawab bagaimana "Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana rasanya."
"Ada aku disini, lakukan apapun padaku asal bisa membuatmu merasa lebih baik" pria mungil berkulit putih itu berbisik di telinga Kris. Dia rela kekasihnya ini melakukan apa saja padanya. Asal bisa meringankan bebannya.
Kris mengeratkan pelukannya "Aku mohon jangan pergi!"
"Apanya? Aku tidak akan pergi kemana-mana" jawab Suho menenangkan.
Kris melepaskan pelukannya menarik dagu kekasihnya itu dan memulai ciuman lembut di bibir keduanya. Hanya sebentar, untuk sekedar menenangkan diri dan memberikan kekuatan. Sebelum akhirnya mereka berdua pulang ke rumah besar Keluarga Wu. Sebenarnya Suho tidak yakin apakah Kris bisa berkendara dalam keadaan seperti ini, tapi Suho percaya pada Kris jika kekasihnya ini bisa menjaga perasaannya dengan baik dan bisa mengandalikan diri.
"Kau percaya padaku kan, kalau aku tidak akan melepaskanmu?" ucap Kris di tengah perjalanan sambil salah satu telapaknya menggenggam tangan Suho erat-erat.
Suho menangguk "Aku sudah percaya padamu sejak awal."
"Gomawo."
Suho tersenyum "Aku akan selamanya mencintaimu."
.
.
Kris mengajak Suho masuk ke dalam rumahnya dan Suho melepas jaketnya dengan perlahan. Ekor matanya melihat sesorang berkaca mata dengan kemeja garis-garis abu-abu yang lengannya digulung.
"Annyeong, Sekertaris Lee," sapa Kris, dia melepas jaket hitamnya yang panjang.
"Ah, annyeong, apa Tuan Muda sudah makan? Sebaiknya ajak kekasih anda makan juga," Sekertaris Lee tersenyum dan memperlihatkan berbagai makanan yang tersaji di meja makan.
Suho menghampiri Sekertaris Lee dan menunduk "Annyeong, namaku Kim Joon Myun, tapi anda bisa memanggilku Suho."
Sekertaris Lee mangangguk "Namaku Lee Kwang Soo, aku sebagai sekertaris perusahaan Tuan Wu."
Suho tertunduk malu "Apa… tuan sekertaris tidak menyukaiku?" tanyanya.
Sekertaris Lee tertawa ringan "Kalau aku tidak menyukaimu, maka aku akan langsung mengusirmu lagi. Oh ya, panggil saja aku Sekertaris Lee, jangan panggil tuan."
Suho mengangguk angguk dan membantu Sekertaris Lee menyiapkan makan sementara Kris sedang menuju kamarnya untuk meletakkan jaketnya.
"Sepertinya sekertaris sangat dekat dengan Kris ya?" tanya Suho sambil mencuci beberapa buah apel.
Pria berusia 40 tahunan itu tersenyum "Aku bahkan sudah bekerja disini sebelum Tuan Muda lahir, wajar kalau aku sangat akrab, jika Tuan Wu ke luar negeri, maka aku yang menjagaTuan Muda Kris di Korea."
Suho mengangguk-angguk dan meletakkan sebuah mangkuk salad di meja makan "Sepertinya Kris punya masa lalu yang buruk ya, dia selalu merasa aneh jika berbicara masalah keluarganya."
Sekertaris Lee menghela nafas panjang "Sebenarnya aku kasihan dengan Tuan Muda Wu"
Suho menoleh dan melihat Sekertaris Lee yang melepas kacamatanya "Banyak sekali rahasia yang tidak diketahui oleh Tuan Muda. Menyebabkan salah paham. Tapi bagiamanapun, rahasia itu tetaplah rahasia, Tuan Muda Wu tidak boleh mengetahuinya."
Suho mengernyit "Kenapa tidak boleh?"
"Akan ada saat yang tepat untuk menceritakannya Suho, tidak akan ada rahasia yang selamanya jadi rahasia," jawab Sekertaris Lee "Cepat atau lambat semuanya akan terbuka dengan sendirinya."
Suho hanya diam saja, tak tahu harus bereaksi seperti apa tapi kemudian dia tersentak saat melihat Kris menghampirinya, dia belum berganti baju dan Suho mengubah ekspresinya menjadi tersenyum saat melihat Kris dengan tampang lebih lega.
"Joon Myun-a!" panggil Kris dan Suho hanya menyahutnya dengan kedipan mata.
"Ayo makan!" Sekertaris Lee melempar pandangan ke arah Tuan Muda Wu ini "Tuan Muda pasti lapar, saya sudah membuatkan anda beberapa makanan."
Kris mengangguk dan mendekati Suho serta Sekertaris Lee. Tangannya yang lebar dia gunakan untuk mengelus surai hitam Suho membuat pria mungil itu mendadak malu dengan sendirinya.
"Sekertaris Lee sebaiknya setelah ini tidur saja," ucap Kris saat dia duduk dan mengambil mangkuk berisi nasi "Pasti lelah karena telah mengikuti appa dari pagi."
Sekertaris Lee tersenyum "Sepertinya hari ini saya tidak akan tidur di sini, saya akan menginap di hotel yang sama dengan Tuan Wu untuk memastikan keadaannya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Mungkin satu atau dua jam lagi saya berangkat, setelah beristirahat dan mandi sebentar."
Suho menyumpit sebuah lauk dan Kris menghentikan makannya.
"Sekertaris Lee," ucap Kris lirih membuat pria yang cukup berumur itu menoleh ke arahnya dengan tatapan hangat "Ya?"
"Terima kasih sudah menjaga appa dan sudah merawatku mulai kecil," ucap Kris "Sedangkan aku tidak pernah melakukan apapun pada Sekertaris Lee."
Sekertaris Lee tersenyum kecil dan mengangguk "Tidak masalah, itu sudah kewajiban saya… Tuan Muda hanya harus hidup bahagia dan saya yakin, sebenci apapun Tuan Muda pada orang tua tuan, sebenarnya Tuan dan Nyonya Wu sangat mencintai tuan"
Kris mendongak menatap mata hijau gelap milik Sekertaris Lee "Mencintaiku?"
Senyuman hangat tercetak di bibir pria tua yang terlihat gagah dan tegap itu.
"Mereka mencintai Tuan Muda lebih dari yang Tuan Muda kira selama ini"
.
.
Suho mengikuti Kris menuju kamarnya yang luas seperti biasa, sementara Sekertaris Lee membereskan makan malam dan bersiap untuk beristirahat setelahnya. Sebenarnya Suho ingin membantu pria berambut coklat itu, namun Sekertaris Lee itu sendiri yang melarangnya, beliau berkata lebih baik jika Suho menemani Kris dalam sisa hari ini. Sepertinya Kris butuh seseorang untuk membuatnya rileks malam ini.
Suho menutup pintu dan melihat Kris yang berdiri mematung di depan cermin, sepertinya Sekertaris Lee benar, Kris butuh seseorang untuk membuatnya merasa nyaman hari ini. Dengan perlahan, Suho melangkahkan kakinya lalu memeluk pinggang kekasihnya ini dengan lengannya yang mungil. Membuat Kris sedikit tersenyum dan mengusap lengan yang terbalut kemeja berwarna biru muda itu.
"Kau lelah?" tanya Kris.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, bagaimana keadaanmu?" tanya Suho kembali. Jemari mungilnya meraba perut bidang kekasihnya yang dilapisi baju.
"Aku lelah. Sedikit." jawab Kris.
Suho diam saja, tangannya masih setia melingkar di perut Kris dengan pipi yang sengaja dia tempelkan di punggung lebar Kris.
"Joon…" suara berat itu menyapa telinga Suho membuat Suho mengeratkan pelukannya tanpa sebab.
"Hmm?" Suho menyahut suara Kris dengan gumamam pendek dan manja.
"Bagaimana kalau kita mandi?" tawar pemuda berambut pirang itu, dan Suho sedikit mengernyitkan dahinya mendengar itu.
"Kita?" tanya Suho lagi.
"Iya. Kita berdua. Mau tidak?" kini Kris berbalik melepaskan pelukan kekasihnya itu dan mengelus puncak kepala Suho yang lembut.
Perlahan kepala itu mengangguk menyetujui usulan Kris dan kini pria china itu menyeringai kecil. Tangannya bergerak menggandeng Suho ke kamar mandi yang cukup luas itu.
"Kenapa tiba-tiba ingin mandi denganku?" tanya Suho saat Kris mendudukkannya di sebuah meja yang menyatu dengan dinding di samping washtafel.
"Aku ingin saja. Kau keberatan?" tanya Kris, dia mulai menyisir rambut Suho kebelakang, menyelipkannya di belakang telinga beberapa helai rambut yang sudah panjang.
Suho menggeleng "Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya saja."
Kris tersenyum "Sudah lama aku tidak mandi berdua denganmu"
Suho mencibir "Lama apanya? Terakhir kali juga 3 hari yang lalu! Dasar mesum!" tangan mungil itu mengepal dan memukul bahu Kris membuat pemuda tinggi itu meringis.
Perlahan Suho tersenyum melihat kekasihnya itu ikut tersenyum, Suho merasa dirinya berguna sekarang. Setidaknya jika tidak bisa menghilangkan rasa sakit, dia bisa menguranginya walau hanya sedikit.
Si kecil itu tidak bereaksi apa-apa saat Kris membuka kancing kemejanya, semakin turun ke kancing bawah membuat tubuhnya yang putih dan tanpa cacat itu terlihat jelas. Suho kini mulai merasa nyaman. Dia terbiasa dengan kebiasaan Kris yang suka menggodanya dulu sebelum mandi. Jari tangan yang panjang itu menyingkap kemeja Suho dan membelai punggung telanjangnya perlahan. Mengikuti alur tulang belakang dan berhenti di tengkuk Suho. Memberikan sensasi seperti dialiri listrik statis.
"Kau tidak mau membuka bajuku joon?" tanya Kris saat dia menyadari Suho hanya diam dan menatapnya dalam.
Suho terkekeh "Kau punya tangan Yi Fan!"
Kris mendengus kecil tapi Suho selanjutnya langsung tertawa dan tangannya terulur untuk mencengkram kerah kemeja putih yang dipakai Kris dan membuka kancingnya.
"Arra… arra… jangan banyak bergerak, aku tidak bisa membukanya kalau kau tidak bisa diam!" ucap Suho, entah kenapa Kris suka itu. Suka saat Suho menyentuhnya, jemarinya yang bermain di atas tubuhnya selalu membuat Kris menginginkannya lagi.
Kris mendekatkan wajahnya dan menahan kedua tangan Suho agar tidak bergerak. Membuat punggung telanjang berwarna putih itu membentur dinding kamar mandi yang dingin. Suho menutup mata, mengharapkan sebuh ciuman di bibir seperti biasa akan terjadi. Tapi, lama dia menunggu, Suho hanya bisa merasakan hembusan nafas.
Saat dia membuka matanya pelan-pelan, Suho merengut mendapati Kris hanya mendekatkan wajahnya saja tanpa berniat menciumnya.
"Yi Fan!" teriaknya kesal "Minggir! Kau membuatku berpikiran buruk!"
Kris tertawa cukup keras kini, "Ya! kau memikirkan hal mesum tentangku ya? Aigoo!"
Suho menendang tulang kering kekasihnya, tubuhnya yang masih terbalut celana berwarna abu-abu meloncat turun dan berniat keluar kamar mandi.
"Ya ya! aku belum melepas celanamu! Kau mau kemana?"
"Mandi saja sendiri! Dasar bodoh!"
Kris menarik tangan mungil Suho sebelum pria itu benar-benar marah kepadanya.
"Mian.. mian…" Kris tersenyum dan kembali membelai rambut hitam kekasihnya "Sebaiknya kita segera mandi saja."
Suho menghilangkan cemberutnya. Dia diam saja ketika Kris dengan cepat menarik celananya dan dalam sekejap mereka sudah telanjang disana. Keran yang mengalirkan air hangat itu terus mengucur memenuhi bathtube yang cukup besar untuk berdua. Kris masuk lebih dulu sebelum dia menarik tubuh pria bermarga Kim itu mendekat dan meletakkannya di antara kedua kakinya, bersandar pada dada bidangnya dan kaki Kris memanjang di sebelah tubuh Suho.
Suho memainkan air di sekelilingnya, membuat suara kecipakan halus dan menyiprat wajahnya.
"Joon Myun-a… bicaralah!" Kris mengusap kedua bahu Suho dengan tangannya yang basah.
"Hm?" gumam Suho pendek "Apa yang harus aku bicarakan?"
Kris membasuh tubuh Suho dengan air hangat sampai ke pipinya "Kau tidak mau manja-manja padaku?" tanya Kris.
Suho menangkap tangan Kris yang membasuh tubuhnya "Sedang tidak ingin."
"Kalau aku yang manja padamu?"
Suho tertawa "Jangan lakukan itu, mukamu terlihat menjijikkan. Aku jadi ingin mentertawakanmu."
Kris menyipratkan air ke kepala Suho "Kau kira di dunia ini hanya kau saja yang bisa bertingkah imut? Aku juga pernah aegyo tahu!"
Suho terdiam, membuat riak air dengan kakinya, tapi kemudian dia memejamkan mata karena merasakan ada yang mencium lehernya yang putih. Bibir Kris bergerak mencium di bagian-bagian yang berwarna merah pekat, bekas dihisap dengan kuat pada malam-malam sebelumnya. Dan Suho tak pernah menolaknya, lebih tepatnya Suho tidak punya kekuatan untuk bisa menolak karena dia akan selalu terlarut dengan cumbuan kekasihnya sendiri.
"Sss… Krish…" Suho menggenggam erat tangan Kris. Kris masih terus menggerakkan bibirnya di sekitar tengkuk dan leher Suho, membuat si pemilik menggeliat tidak nyaman. Tapi mau bagaimanapun dia tidak bisa untuk tidak tergoda.
Akhirnya Suho bisa bernafas normal juga saat Kris menghentikan kegiatannya. Kris tersenyum kecil merasakan cengkraman Suho yang belum selesai. Meskipun ciuman di lehernya sudah berakhir.
"Joon Myun-a…." Kris menghembuskan nafasnya di telinga yang kini sudah berubah merah itu.
"Eung?"
"Beberapa hari yang lalu kita tidak jadi melakukan itu karena Chanyeol datang. Kau mau mengulanginya saat ini?" bisik Kris.
Suho diam, memutar ingatannya, menemukan hal yang dimaksud Kris tapi saat dia ingat, mendadak dia membulatkan matanya.
"Mwo?"
"Lagipula kita sudah telanjang sekarang," lanjutnya membuat Suho menggeleng keras.
Tidak-tidak, meskipun Suho ingin membuat Kris merasa nyaman dan melupakan masalahnya sejenak, setidaknya tidak menggunakan cara seperti ini, Suho tidak bisa karena dia sedang tidak ingin melakukannya, lagipula badannya lelah semua.
"Andwaee…" Suho menggeleng.
"Uh, wae? Bukannya waktu itu kau yang memulainya?" tanya Kris.
Suho tetap menggeleng "Aku lelah. Sungguh! Jangan sekarang."
Kris tersenyum kecil dan mengacak rambut Suho yang mulai basah seutuhnya, dan Suho tidak berani menatap Kris, salah-salah dia menatap mata elang itu, dia bakal dimakan.
"Itu hutangku kan? Aku akan membayarnya," Kris merunduk dan mencium bibir kekasihnya sebentar secara singkat.
Suho mengangguk kecil. Kini dia benar-benar menyandarkan tubuhnya pada dada Kris yang kuat, membiarkan saja air mengelilingi tubuh keduanya dan memberikan sensasi nyaman.
"Junma!"
"Ada apa?" Suho mengambil sabun cair dan membuat tangannya berbusa.
"Apa kau pikir, lebih baik aku menanyakannya pada appa?" tanya Kris.
"Apa yang ingin ditanyakan?"
Kris menghela nafas panjang dan menyabuni lengansSuho dengan sabun beraroma teh itu "Semua yang tidak aku ketauhi. Aku ingin tahu."
Suho mengerjap "Tidak apa-apa, tunggu ayahmu sampai tenang dulu, akan bertambah buruk kalau kau langsung bertanya padahal kau dan ayahmu habis bertengkar."
Kris mengangguk-angguk dan merasa sekarang Suho berbalik badan merambatkan tangan mulusnya ke sekujur tubuhnya membuatnya licin.
"Junma."
Kris memanggil Suho lagi tapi kini nadanya terdengar tidak terlalu yakin.
"Wae?"
"Bagaimana kalau aku bertanya pada eommaku?" tanya Kris lagi.
Suho berhenti menggerakkan tangannya "Eomma?"
Kris menunduk "Aku ingin bertemu dengannya, meskipun aku membencinya. Setidaknya bertanya alasan mengapa dia meninggalkanku!"
Suho tersenyum "Itu artinya kau tidak membencinya!"
Kris mendongak menatap Suho yang kini sudah berada sangat dekat dengannya, mengusapkan tangannya yang masih licin karena sabun di punggung telanjangnya.
"Kau hanya tidak menyadari, betapa kau sangat mencintai eommamu sendiri," lanjut Suho "Tidak masalah jika kau bertanya kepada appa atau eommamu Kris, semua ini memang tidak akan bisa selesai kalau kita tidak berbicara."
Kris mengangguk.
"Apa kau tahu keberadaan eommamu sekarang?" tanya Suho tidak yakin.
Kris menggeleng "Tapi mungkin Sekertaris Lee tahu. Aku akan menanyakannya nanti."
"Kau serius mau melakukannya? Menemui eommamu?"
Kris memejamkan mata sebentar.
"Aku tidak mau dibohongi lebih dari ini Junma!"
.
.
Suho dan Kris selesai mandi, mereka sudah mengenakan piama masing-masing. Dan kini Suho duduk di ranjang dengan mengancingkan piama berwarna hijau toska miliknya. Rambutnya sudah kering karena dia tadi sudah menggosoknya dengan handuk sebelum dia berganti baju.
"Ya! appo!"
Suho berteriak ketika Kris dengan santainya mengehempaskan tubuh besarnya di atas ranjang dan dengan kepala dia letakkan di paha kekasihnya itu.
"Mian.."
Suho menarik hidung Kris membuatnya tertawa pelan, kemudian, Suho memandang Kris, tangannya memegang sesuatu. Suho meraih sebuah benda yang disodorkan Kris padanya, sebuah krim wajah berwarna putih, dan itu miliknya.
"Apa?"
Kris menunjuk pipinya sendiri "Pakaikan padaku!"
"Ini milikku, enak saja," desis Suho enggan, dia malah membuka tutupnya dan mengoleskannya pada pipinya sendiri.
"Pelit sekali! Aku juga mau itu!"
Suho mendengus kecil lalu mengoleskan beberapa ke wajah Kris yang ada di pahanya sendiri. Mengusapnya pelan-pelan membuat krim itu teroles merata ke seluruh wajah.
"Pantas saja kau selalu bau mint! Ini juga bau mint!"
Suho menutup kembali lotion wajah itu dan melemparnya ke meja nakas.
"Aku suka mint. Kesannya segar dan menyenangkan."
Kris tersenyum dan mendapati wajah Suho di atasnya juga ikut tersenyum. Perlahan dia menggerakkan tangannya.
"Apa kau sekarang juga bau mint?"
Suho angkat bahu "Sepertinya aku bau teh! Aku mandi dengan sabun beraroma teh tadi"
Suho mendekat mengikuti isyarat tangan Kris sampai dia melebarkan matanya karena Kris mengecup singkat pipinya.
"Kau memiliki aroma sepertiku"
Suho mengulurkan tangannya dan mengancingkan piama abu-abu Kris yang belum terkancing seluruhnya itu, "Mau bagaimana lagi, aku tinggal denganmu dan barusan mandi denganmu, ya sudah pasti bauku sepertimu."
"Junma!"
Suho merapikan rambut pirang Kris dan mengerjapkan matanya.
"Jangan membuatku mesum saat ini Kris, aku sungguh lelah!"
Kris memainkan poni Suho yang memanjang dengan manja "Hanya sebuah ciuman saja!"
Suho menatap Kris dengan tatapan seolah mengatakan 'sudah-aku-duga'. Bukannya tidak mau, tapi Suho sudah terlalu lelah walau hanya mencium sekalipun. Dia ingin tidur sekarang dengan bergelung selimutnya.
"Kalau aku tidak mau?"
"Maka aku akan membuka piamamu sekarang juga dan benar-benar memakanmu sampai pagi!" ancam Kris.
"Aish! Kenapa begitu?" Suho merengek.
Kris senang sekali mengerjai pacarnya ini. Bukan karena dia tidak menyukai Suho, tapi menggoda kekasihnya dengan cara seperti ini selalu membuat Suho terlihat sangat manis.
"Kim Joon Myun, kau tidak punya waktu! Atau aku akan membuatmu tidur kurang malam ini!"
Suho menghela nafas panjang, tidak punya pilihan lain selain menuruti apa kata naga menyebalkan ini. Mudah mengalah memang selalu jadi sifat Suho yang disukai Kris.
Tanpa aba-aba Kris menarik lengan mungil Suho membuatnya menunduk. Dan dia menempelkan bibir keduanya. Tangan Kris masih ada di lengan Suho dan satunya memainkan poni lembut berwarna kehitaman itu.
Suho terlalu lelah untuk sekedar melakukan ciuman penuh passion seperti biasa, akhirnya dia hanya bisa menggerakkan bibirnya sebentar, melumatnya ringan dan singkat.
"Yi faann," Suho melepaskan ciumannya sebelum kris membuatnya lebih dari hanya sekedar ciuman dan merengek manja "Ijinkan aku tidur!"
Kris tertawa, lucu sekali saat dia mengucapkan kata 'Yi Fan'.
Kris kembali duduk dan menghadap Suho yang matanya mulai berat "Tidurlah!"
Suho tidak kuat lagi untuk sekedar bicara yang lain, dia hanya mengangguk dan perlahan membenturkan kepalanya ke dada Kris dan menyamankan tubuhnya.
Kris tersenyum, menarik Suho dengan hati-hati dalam dekapannya. Membiarkan malaikat kecilnya itu tidur di pelukannya yang hangat seperti biasa.
"Selamat tidur…" bisik Suho tepat sebelum matanya terpejam dan tangannya melingkari leher Kris.
Kris tersenyum dan menjatuhkan tubuh keduanya di ranjang dengan perlahan. Meletakkan Suho pada sisi kanan tempat tidur yang cukup luas itu dan memberinya selimut. Menelusuri wajahnya dan menyisir rambut lembutnya itu.
Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Suho sebelum akhirnya Kris turun dari ranjang. Mengambil mantelnya dan keluar kamar.
"Selamat tidur juga… aku mencintaimu."
.
.
Kris melihat Sekertaris Lee tengah merapihkan mantelnya dan mengambil air di dapur Keluarga Wu yang bersih. Tangan kanannya terdapat koper yang kini tengah diletakkan di kursi dekat dengan meja makan. Wajah sekertaris kepercayaan ayahnya itu terlihat letih namun kuat dan tegas. Hidup 20 tahun bersama Keluarga Wu memang membuatnya terbiasa ada di sekitar lingkungan Kris.
Kris mengeratkan mantelnya. Karena menurutnya tidak sopan jika menemui orang yang lebih tua hanya dengan mengguanakan piama saja. Meskipun dia Tuan Muda sekalipun. Tuan Muda yang berkuasa di rumah besar ini.
Perlahan kaki Kris melangkah mendekat.
"Sekertaris Lee." panggil Kris.
"Oh, Tuan Muda, selamat malam… apa anda akan bersiap untuk tidur?" tanya Sekertaris Lee basa-basi.
Kris mengangguk "Yah… setelah ini, aku belum terlalu mengantuk."
"Apa kekasih Tuan Muda sudah tidur duluan?"
"Iya. Dia lelah, sedari tadi Joon Myun tidak mau melakukan hal berat. Aku rasa dia benar-benar lelah karena masalahku."
Sekertaris Lee meletakkan gelas kosongnya ke meja "Saya akan berangkat ke hotel, Tuan Muda tolong menjaga diri."
Kris lagi-lagi mengangguk.
"Sekertaris…"
Pria berahang tegas itu menoleh sebelum keluar dari dapur "Ada apa Tuan Muda?"
Kris menatap Sekertaris Lee dengan pandangan tajam.
"Apa sekertair lee bisa memberitahukan padaku… diamana tempat eommaku berada sekarang?"
..
Terjadi keheningan sebentar sebelum Kris dapat melihat jelas mata Sekertaris Lee yang membesar dan pandangan kagetnya yang jelas terlihat.
"Tuan Muda…"
Kris mengeratkan kepalan tangannya.
"Aku mohon!"
Sekertaris Lee perlahan mengehela nafas dan menunduk sebelum mendongak lagi. Kemudian samar-samar dia mengangguk. Dan Kris menatap Sekertaris Lee tidak percaya.
"Baiklah!"
.
.
Ini masih pagi, sekitar jam 7 pagi. Kris ada di dalam mobilnya, menelusuri jalanan sebuah perumahan sederhana yang cukup jauh dari rumah besarnya. Dia sendirian, hanya ditemani dengan suara desir semilir angin pagi yang dingin dan dengan beberapa burung hantu yang masih betah bersuara. Suho sengaja dia tinggalkan dirumah sendirian karena tak tega membangunkan tubuh mungil itu yang tertidur pulas.
Kris turun dari mobilnya, melihat sebuah rumah yang sangat asing baginya, sekitar 10 meter di depannya. Berwarna coklat dan tampak pohon perisk yang menjulang melewati pagar dari sana. Berikutnya Kris melihat, gerbang rumah itu bergetar dan perlahan terbuka, menimbulkan suara nyaring di tenah keheningan pagi berkabut ini.
Keluarlah seorang wanita yang cukup berumur, dengan langkah sedikit terseok dia membuka bak sampah di samping rumahnya, memasukkan bungkusan besar berwarna hitam kedalamnya. Kris menajamkan matanya seolah berusaha memutar memori masa lalunya. Wanita itu pendek dan bertubuh cukup mungil, lebih pendek dari Suho namun berwajah manis meskipun sudah cukup tua. Dia mengenakan sweater besar berwarna abu-abu dan rambutnya diikat. Sorotan matanya lelah dan menyakitkan, mengundang siapa saja untuk bersimpati padanya. Namun disisi lain sorotan mata itu juga lembut dan hangat, benar-benar seorang ibu.
Tanpa ada apa-apa, wanita itu seolah menyadari kalau ada seseorang yang memperhatikannya, padahal seharusnya dia sudah sadar dari tadi, namun sepertinya pengelihatan wanita itu sudah memburuk. Dengan ragu-ragu dia menoleh kesamping kiri, memandang sosok di depannya yang tinggi dan tegap, berjarak 10 meter dari tempatnya berada tidak membuatnya ketakutan.
Matanya malah membesar, menampilkan iris hitam kecoklatan miliknya. Dia seolah mengenali orang yang ada di depannya ini. Pria tegap dengan tinggi di atas 180 cm dan berambut pirang. Wanita itu hendak berkata tapi dia terlalu terkejut saat dia menyadari namja yang berdiri tidak jauh darinya ini.
Sementara Kris hanya diam. Menahan emosinya. Berusaha mengendalikan tubuh dan perasaannya, dia diam saja dengan dingin mendapati wanita bertubuh agak ringkih itu menatapnya tanpa kedipan.
Perlahan sinar matahari muncul, menyebabkan udara menghangat dan menyinari pagi yang semula cukup gelap itu.
Membuat wajah Kris dan wanita itu tertimpa cahaya matahari, memperjelas pengelihatan siapapun. Dan Kris juga bisa melihat wanita di depannya itu dengan jelas dan yakin, dia sungguh tidak terlalu asing dengan wanita itu.
Sementara disisi lain, wanita yang tengah Kris pandang dan dia juga memandang Kris dengan membuka mulutnya, rahangnya bergetar dan seketika dia berjalan pelan-pelan untuk menggapai sesuatu di depannya, seorang pria yang benar-benar ingin dia sentuh. Dia ingin berkata tapi seolah mulutnya mengkhianati dirinyanya sendiri. Seperti kata-katanya tersangkut di tenggorokkan dan susah keluar.
Tapi, setelah jarak mereka tidak lebih dari 5 meter, wanita itu sukses mengeluarkan bunyi.
Dan yang bisa di dengar hanyalah sebuah nama.
.
"Yi Fan…"
.
.
.
TBC
.
.
Waduh, ini ff enggak kelar2 sih -_- *siapa juga yang buat. Kekekee… ini udah banyak kan? Buat chapter selanjutnya akan Rae Yoo update secepat yang Rae Yoo bisa dan akan selalu Rae Yoo usahain di tengah kepungan soal bimbel dan pr pr yang jadi temen tidur Rae Yoo.
Makasih bagi yang sudah review dengan baik hatinya, Rae Yoo hanya bisa membalasnya lewat doa dari sini. Hehe. Apalagi yang suka mensupport Rae Yoo! Ntar doanya Rae Yoo lebihin :3.
Bagi yang sudah berlumut atau sudah menjadi fosil bahkan sudah menguap karena nunggu ini ff update lama (banget), Rae Yoo minta maaf yaaa…. Ini tuntutan sekolah! /deep bow/
Udah ah, Rae Yoo lagi capek, ngantuk *seret kris ke kamar. Ahaha… ya ampun otak Rae Yoo!
Sekali lagi JEONGMAL KAMSAHAMNIDA ! :*****
.
/kiss bye/
.
SARANGHAE ! .
.
/deep bow/
.
Sung Rae Yoo
