PENGUMUMAN :::::

Kelanjutan FF innie mungkin Come back atau bahkan mungkin Good bye stage dari Author.

Semua tergantung dari Review dari FF ini nantinya. Kurangnya review dari beberapa FF author, membuat saiia memutuskan untuk memberi pilihan bagi Reader's.

Berminatkah dengan kelanjutan FF innie?

Mohon tinggalkan Review kalian seusai membaca Fict ini. Yang sudah terlanjur mampir di Fict ini, mohon tinggalkan review kalian.

Title :

Love Never Wrong

.

Author :

Meyla Rahma

.

Rated :

T to M

.

Pairing :

HaeHyuk

and Other Couple

.

Genre :

Romance

.

.

WARNING…!

YAOI / Boy Loves / Boy X Boy

Miss typo(s)

Mature Content

.

.

DON'T COPY ANYTHING IN THIS STORY WITHOUT MY PERMISSION!

And .. DON'T BASHING OR FLAME MY FF or ANYTHING IN THIS STORY!

DON'T LIKE, DON'T READ..!

JUST CLICK [X] {close} OKE

.

.

.

Happy Reading. . .

.

.

_ooOOooOOooOOoo_

.

.

"Roma?"

"Italy?"

Kedua pertanyaan itulah yang disuarakan sepasang suami stri yang baru sebulan lalu menikah kepada kakak ipar mereka. Siapa lagi kalau bukan Lee Heechul. Namja cantik yang merupakan istri dari hyung pertama Donghae itu, pagi-pagi buta sudah mengagetkan pasutri yang baru terbangun dari mimpi indah mereka dengan memberikan berita – atau lebih tepatnya perintah – pada keduanya untuk berbulan madu. Ulangi sekali lagi ya, bulan madu. Apa salahnya? Tentu saja ini salah – menurut Donghae. Karna ini merupakan privasi kehidupan rumah tangganya. #plak.

"Nde. Dan kalian akan berangkat siang ini," ujar Heechul – sembari menatap Hankyung disampingnya dengan penuh arti.

"Kau gila, hyung?" Heechul mendelik tajam kearah adik iparnya itu "-mana mungkin aku dan Hyukkie pergi siang ini. Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku?" sambung Donghae – seolah tak takut sama sekali dengan tatapan maut sang ratu iblis. #dirajam petals

"Kau pikir aku pabbo, huh?" desis Heechul "-aku sudah menyuruh Kibum untuk mengurusnya. Bukankah dia tangan kananmu?" ujar Heechul santai. Tak biasanya Heechul membiarkan orang lain mengatainya. Sepertinya moodnya sedang baik hari ini. Beruntunglah kau, Lee Donghae. -_-

"Meskipun begitu, hyung. Aku tak mungkin pergi secepat ini. Tanpa perencanaan pula. Lalu bagai-"

"Kami sudah menyiapkannya, Hae. Penginapan, Tour Guide, dan semua keperluan kalian selama seminggu disana. Hyung juga sudah mengurus passport kalian berdua," potong Hankyung – seolah tak ingin sang dongsaeng menolak hal yang sudah 'mereka' rencanakan.

"Tapi, Hyung ak-,"

"Kami tidak menerima penolakan, Hae," Donghae menatap Hyungnya itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kesal, marah atau apapun bercampur jadi satu. Tapi, ia hanya menatap Hyung tertuanya itu dengan tatapan yang – datar.

"Hae, aku dan Hyungmu sudah memesan semua ini, hanya untuk kau dan Hyukkie. Lagi pula Hyukkie pasti tak keberatan. Iyakan, chagi?" tanya Heechul sambil menatap Hyukkie dengan kitty eyes yang penuh harap.

Hyukkie hanya bisa tersenyum menanggapi padangan kitty eyes yang diluncurkan oleh Heechul. Sebenarnya, ia juga tidak keberatan jika harus berbulan madu di Italy. Toh, dia juga sangat ingin mengunjungi salah satu bangunan bersejarah yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia di negara spaghetti itu. Sekarang masalahnya hanya bagaimana-cara-membujuk-sang-suami-tercinta.

"Hae~" Hyukkie menepuk pelan bahu kekar milik Donghae yang duduk disampingnya

"-aku pikir tak ada salahnya kita menikmati apa yang telah uri hyungdeul siapkan untuk kita. Lagi pula,-" Hyukkie menatap obsidian sendu milik suaminya dengan tatapan berbinar antusias.

"Aku suka Italy,"

"Jeongmal?" tanya Donghae tak percaya.

"Nde, tentu saja. Bagaimana aku tak menyukai negara dimana makanan kesukaanku berasal?" ujar Hyukkie dengan gummy smile termanisnya.

Obsidan namja brunette itu sedikit membulat saat ia baru mengingat makanan kesukaan istrinya. Spaghetti. Tentu saja. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu? Kau memang pabbo, Hae. 'Dan itu fakta. ^_^'

"Jangan bilang kalau kau tak tahu makanan kesukaan Hyukkie, Hae?" tanya Heechul menyelidik.

"A-aniyo. Aku-"

"Sudahlah, Chullie-ah. Yang penting sekarang Donghae sudah setuju. Iya kan, Hae?" potong Hankyung.

"Huufftt~ Nde, baiklah. Lagi pula tak ada alasan bagiku untuk menolaknya. Nae Hyukkie juga sudah setuju," ujar Donghae pasrah – yang disambut senyum kemenangan dari sang kakak ipar.

"Baiklah kalau begitu. Sekarang kalian berkemas. Jadwal take off pesawat kalian jam 1 siang nanti," Heechul mengarahkan pandangannya kearah Hyukkie yang masih memeluk erat bahu kekar Donghae "-dan Hyukkie, mari hyung bantu mengemasi barang-barangmu," ujar Heechul dengan tatapan penuh arti.

Donghae yang merasa ada yang aneh dari tatapan kakak iparnya itu, berusaha mencegah sang istri. Namun, sayang niat itu urung saat,

"Kau mau kemana, Hae?" tanya Hankyung.

"Mau membantu Hyukkie mengemasi barang," sahut Donghae asal.

"Kau disini saja. Temani aku ngobrol. Biarkan Chullie yang membantu Hyukkie mengemasi barang-barang untuk kalian berdua," tutur Hankyung sembari mencekal lengan sang dongsaeng.

Donghae hanya mengangguk malas. Ia berusaha membuang jauh-jauh prasangka buruknya tadi. Ya, walaupun ia masih yakin jika istri kesayangan hyungnya itu, pasti punya sesuatu yang Donghae tidak ketahui.

.

.


.

.

08.30 AM, Roma – Italy

.

.

Kerumunan penumpang yang baru saja tiba dibandara kota Roma, berhamburan keluar melalui jalur yang disediakan. Kebanyakan mereka mencari sanak saudara yang menjemput kedatangan mereka ke kota pasta itu.

"Good morning, Donghae and Hyukjae. I'm Antonio De La Varnia. Tour guide anda selama seminggu kedepan," sapa seorang namja paruh baya yang tadi menghampiri Donghae dan Hyukkie.

"Oh, nice to meet you. Jadi, kau yang diutus my old brother?" tanya Donghae.

"Yes, sir. yang telah mengutus saya untuk menemani perjalanan bulan madu anda selama seminggu disini. I'm sorry, he is your wife?" tanya namja itu sembari menoleh kearah Hyukkie.

"Yeah, he is my pretty wife. He is beautiful, right?" tanya Donghae sambil meraih bahu Hukkie dalam dekapannya.

"Actually, he is very beautiful, sir," jawab tourguide itu sembari tersenyum ramah.

Donghae dan tourguide itu tertawa sementara Hyukkie – yang walaupun sedikit – mengerti pembicaraan dua namja itu, hanya bisa merona malu karna dia dibilang – beautiful.

"Baiklah, sir. Sekarang saya akan membawa anda mengenal lebih jauh negri saya ini," ujar Antonio sembari menenteng barang-barang yang tadi dibawa Donghae dan Hyukkie "- saya yakin anda akan terkesan melihatnya," tambahnya lagi seraya melangkah dan diikuti pasangan suami istri – atau mungkin suami-suami – dibelakangnya.

Ketiganya melangkah kearah sebuah mobil Audi A3 yang telah disiapkan khusus untuk couple tersebut. Tanpa dipersilahkan kedua kali, baik Hyukkie maupun Donghae segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Mobil bewarna putih itu membelah jalanan kota Roma dengan laju yang tak terlalu cepat. Hingga bisa membuat pasangan itu menikmati sejuta keindahan tersendiri yang disuguhkan dibalik kaca mobil mewah itu.

Mobil yang hanya dimiliki kalangan kelas wahid itu beberapa kali berhenti, saat sang penumpang – lebih tepatnya Hyukkie – tertarik pada tempat yang mengusik rasa penasarannya. Sepertinya kata 'terkesan' yang dikatakan Antonio tadi, benar-benar Hyukkie terapkan saat ini. Kerumunan orang dan bangunan-bangunan dengan gaya arsitektur yang unik, membuat namja manis itu merengek pada sang suami agar menemaninya turun dan mengelilingi tempat yang ia maksud.

Bahkan hingga waktu menunjukkan pukul 7 malam – waktu setempat – keduanya masih belum pergi ke penginapan yang sudah tersedia bagi mereka – walau hanya sekedar untuk meletakkan koper mereka.

"Chagi~ Sedari tadi kita keliling terus, apa kau tak lelah?" tanya Donghae lembut sembari mengampit lengan kurus sang istri.

"Ani. Hae, lelah?" tanya Hyukkie balik.

"Bukan begitu. Hanya saja sekarang ini musim gugur, udaranya sedikit dingin. Aku takut kau sakit, chagi," jelas Donghae lembut.

"Aniyo. Aku suka tempat ini, Hae. Walau udaranya dingin, tapi aku kan bersamamu. Jadi, aku tak akan kedinginan," ujar Hyukkie polos.

"Eh? Nae Hyukkie sudah pintar menggombal sekarang, eoh?" goda Donghae.

"Aish, itu kan juga karna kau yang terlalu sering menggombaliku. Jadi jangan salahkan aku, kalau aku ketularan," tutur Hyukkie sambil mengerucutkan bibirnya imut.

CHUP~

Secepat kilat, Donghae mengecup bibir cherry yang mengerucut itu. Hyukkie hanya bisa merona mendapat perlakuan seperti itu.

"Aigo, manis sekali istri ku ini," ujar Donghae sambil mengelus – mengacak – surai blonde sang istri.

"Hae~ kau tak lihat kita ditempat umum. Kau tak malu dilihat orang?" ujar Hyukkie sambil menunduk malu.

"Buat apa malu? Kau kan istri-KU," ujar Donghae sewot.

"Aish, kau ini," tutur Hyukkie kesal sambil menghadiahi cubitan di pinggang suaminya.

"Appo~ chagi," rengek Donghae manja. Sedangkan istri manisnya itu sudah melangkah mendahului dirinya.

Keduanya terus berjalan menikmati udara musim gugur yang sedikit dingin. Untung mereka memakai mantel yang cukup tebal. Hingga keduanya tak merasakan dingin yang keterlaluan. Italy memang jauh berbeda dengan Korea. Selain bahasa dan makanannya, budaya dan kebiasaan orang disini ternyata jauh berbeda dengan Korea. Hal itu terlihat, dari banyaknya orang yang berciuman dipinggir jalan. Hyukkie sampai beberapa kali merona melihat pemandangan antik tersebut. Setidaknya bagi Hyukkie. -_-

Saat ini Hyukkie tengah duduk disebuah bangku. Ia tengah menunggu sang suami – Donghae – yang tadi pamit untuk membeli kopi buat mereka berdua. Namja manis itu tampak sedikit bosan. Hal itu terlihat saat ia beberapa kali mengayunkan kakinya dari atas bangku taman yang lumayan tinggi untuk diduduki itu.

Namun tak berapa lama, seorang namja berbadan tegap mendekati dirinya. Awalnya Hyukkie biasa saja. Karna ia pikir orang itu hanya sekedar orang yang jalan-jalan. Namun ternyata dia salah, saat namja itu datang dan menodongkan benda yang diyakini Hyukkie itu adalah pisau, pada bagian belakang tubuhnya. Seketika itu juga badannya begetar karna takut. Mengingat di sekelilingnya sangat sepi.

"Diam. Dan ikut dengan ku," ujar namja itu dingin.

"A-apa mau mu?" tanya Hyukkie terbata.

"Ikut dengan ku. Jika kau teriak, akan ku tusuk kau dengan pisau ku," ujar namja itu sambil membangunkan Hyukkie dari duduknya.

Hyukkie hanya bisa mengangguk dan berjalan dengan pisau yang ditodongkan pada punggungnya. Namja paruh baya itu menyuruh Hyukkie masuk kedalam sebuah mobil hitam. Dalam mobil itu, mata Hyukkie ditutup dengan kain dan tangannya diborgol kebelakang. Hyukkie sempat memberontak. Namun, suara bentakan namja yang menyanderanya itu membuatnya bergetar takut.

Air mata Hyukkie meleleh dibalik penutup mata yang dikenakan padanya. Ia benar-benar takut saat ini. Ia ingin Donghae berada disisinya sekarang. Sungguh, pikirannya berkecamuk antara takut dan marah. Tapi, ia tak bisa berbuat apa-apa.

Hyukkie dapat merasakan mobil yang ia tumpangi berhenti di suatu tempat setelah beberapa menit melaju. Suara pintu mobil yang terbuka, sedikit mengejutkannya. Ditambah lagi saat sebuah tangan menyeretnya agar keluar dari dalam mobil. Ia hanya bisa menurut saat namja yang menyeretnya itu menuntunnya untuk berjalan dengan mata tertutup dan tangan terborgol.

Namja manis itu lagi-lagi hanya bisa menurut, saat ia dituntun untuk menaiki anak tangga. Sangat banyak anak tangga yang ia naiki. Kaki-kaki jenjangnya sampai terasa pegal karna hal itu. Setelah beberapa saat kemudian, langkah Hyukkie terhenti saat namja yang menyanderanya itu menempatkan posisinya berdiri. Detik berikutnya, Hyukkie bisa merasakan borgol yang mengikat tangannya dilepas. Namun tidak dengan penutup matanya.

"Pada hitungan ketiga, buka penutup mata mu," ujar namja sang penyandera.

Hyukkie hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tak ingin terjadi hal-hal yang sama sekali tak ia inginkan.

"Satu, ,"

"Dua, ,"

"Tiga, ,"

Tepat dalam hitungan ketiga, Hyukkie melepas ikatan penutup mata dibelakang kepalanya. Onyx beningnya masih menetralisir cahaya yang menembus rentina matanya. Ia edarkan pandangannya kesamping kiri dan kanan – guna mengidentifikasi tempat dirinya berada. Satu hal yang tertangkap dalam pemikirannya. Coloseum.

"Silahkan lihat kebawah," perintah namja dibelakangnya dengan suara yang lebih lembut.

Hyukkie hanya bisa menatap namja itu dengan tatapan bingung. Detik berikutnya, ia putuskan untuk menengok kearah bawah yang dimaksudkan tadi. Mengingat ia berada di bagian paling atas dari bangunan yang masuk dalam 7 keajaiban dunia itu. Jadi, ia bisa melihat dengan jelas apa yang berada dibawah sana.

"Ha-hae?" suara nya parau saat memanggil nama suaminya tersebut.

Suami tampannya itu tengah berdiri tepat ditengah-tengah lapangan coloseum yang gelap gulita. Hanya Donghae saja yang tersinari cahaya lampu yang mengarah ke tubuh namja atletis itu.

Namun pada detik berikunya, sebuah cahaya yang berasal dari api merembet menyala pada susunan benda yang Hyukkie ketahui bernama lilin. Susunan lilin itu menyala hingga membingkai beberapa kata. Di sekeliling lilin – lilin itu juga tertabur banyak mawar putih – bunga kesukaan Hyukkie – yang mampu menyuguhkan pandangan eksotis dan begitu berkesan romantis yang mampu membuat namja manis itu menutup mulut dengan kedua tangan putihnya.

Saranghe Lee Hyukjae

Rangkaian kata sederhana itu lah yang membuat Hyukkie menitikkan air matanya. Bukan, dia bukannya tidak suka. Ia sangat suka. Bahkan ia menangis karna terharu karna usaha sang suami yang begitu romantis ini.

"Saranghe Lee Hyukjae," Donghae berteriak lantang "-You're Mine Forever," hingga Hyukkie yang berada di deret paling atas dapat mendengar suaranya dengan jelas.

Kristal bening itu semakin deras mengalir di kedua pipi chubby milik Hyukkie. Tanpa menunggu lama lagi, namja manis itu segera berlari menuruni tangga. Satu hal yang ia ingin lakukan sekarang. Berhambur dalam dekapan sang suami.

GREEP~

Hyukkie langsung menghambur dalam pelukan Donghae. Ia memeluk suami tampannya itu dengan begitu erat. Isakan kecil dari bibir sensualnya mengiringi rasa bahagia yang tengah membuncah dalam diri namja manis itu.

"Sssttt, uljima Hyukkie. Aku melakukan ini bukan untuk membuatmu menangis. Uljima, ne," ucap Donghae lembut sembari mengelus surai blonde istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Kau, , hiks, , jahat, , hiks, , Hae," tutur Hyukkie disela isakannya dalam dekapan Donghae.

"Jahat? Mworago?" tanya Donghae bingung sambil melepas pelukannya.

"Kau, , hiks, , membuatku takut, , hiks, , Hae,"

"Takut?" tanya Donghae lagi.

"Ne," Hyukkie mengusap air matanya kasar "-saat orang tadi membawaku kemari dengan mata tertutup dan tangan yang diborgol. Itu membuatku takut setengah mati. Kau jahat, Hae," Hyukkie mengeluarkan segala rasa dalam benaknya.

"Tapi kau suka kejutan ini, ne?" tanya Donghae sembari menangkup wajah manis sang istri dengan kedua tangannya.

Hyukkie langsung merona merah begitu mendengar pertanyaan suaminya itu. Donghae benar, ia sangat suka dengan kejutan yang diberikan namja brunette itu padanya. Dan ia hanya bisa mengangguk pelan menanggapi pertanyaan itu.

"Nde, a-aku suka, Hae," ujar Hyukkie sambil menundukkan wajahnya yang sudah memerah.

"Hufft~ syukurlah kau menyukainya. Jadi tak percuma aku menyewa coloseum ini, chagi," tutur Donghae sembari memeluk lagi tubuh Hyukkie.

"Eh? Menyewa?" Hyukkie melepas pelukannya dari Donghae "-maksudmu, kau menyewa coloseum ini?"

"Nde, aku menyewanya seharian untuk memprepare semua ini. Bukankah kau menyukai bangunan ini?" ucap Donghae enteng – yang disambut tatapan horror dari sang istri.

"N-ne. Aku memang suka tempat ini, Hae. Tapi, kau kan tak perlu menyewanya seperti ini juga. Berapa yang harus kau bayar untuk semua ini, Hae?" tanya Hyukkie sembari melihat ke sekelilingnya.

"Chagi~" Donghae menyentuh dagu Hyukkie agar bisa menatap onyx bening namja manis itu,

"-berapapun akan ku keluarkan, asal bisa membuatmu bahagia. Uang tak akan menjadi masalah bagiku. Karna kebahagianmu lah yang paling utama," tutur Donghae tulus sambil terus menatap kearah manik bening milik istri tercintanya.

Jika ada warna yang lebih kontras dari merah, maka itulah warna pipi Hyukkie saat ini. Ia benar-benar tersipu mendengar penuturan suami tampannya itu. Walau perkataannya terkesan hanya gombalan biasa. Namun, Hyukkie sama sekali tak menemukan hal lain selain kesungguhan dari pancaran obsidian kecoklatan milik namja brunette di hadapannya.

"Gombal," ucap Hyukkie sambil memukul pelan dada bidang Donghae.

"Bukankah kau suka jika ku gombali, chagi?" goda Donghae.

"Aish, terserah kau saja lah," tutur Hyukkie sambil memperat pelukannya pada sang suami.

Donghae perlahan melepas dekapannya dari sang istri. Ia bisa melihat dengan jelas, wajah namja manis yang sebulan dinikahinya itu memerah sempurna. Ditambah lagi terkena efek pantulan cahaya lampu yang membingkai wajah putih itu hingga terlihat begitu menawan dimata Donghae. Satu hal yang tergambar dalam benak Donghae – cantik.

"Saranghe, Lee Hyukjae," ujar Donghae lembut.

"Na-nado saranghe, Lee Donghae,"

Perlahan Donghae mendekatkan wajahnya hingga ia bisa merasakan terpaan hangat nafas sang istri diwajah tampannya. Deru nafas Hyukkie mendadak jadi tak teratur, saat dirasanya nafas hangat sang suami menyapa wajah manisnya. Detik berikutnya bibir tipis dan bibir sensual itu bertemu dalam satu sentuhan manis yang begitu memabukkan.

Sebuah kecupan penuh cinta yang mengukir semua rasa dan asa yang membingkai kehidupan baru sepasang namja itu. Suhu udara yang rendah dan dingin, membuat sentuhan lembut itu seolah mengalirkan listrik jutaan volt yang membuat keduanya merasakan kehangatan yang menjalar di seluruh raga mereka. Sebuah kecupan yang membingkai jutaan cinta yang tengah mereka rasa.

.

.


.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Saat ini Donghae tengah berbaring diranjang King size dengan remote televisi ditangan kanannya. Ia dan Hyukkie baru saja pulang setengah jam yang lalu. Setelah makan malam di salah satu resto ternama di roma dan menikmati pesta kembang api di salah satu wisma romantis, pasangan suami istri itu memutuskan untuk pulang ke penginapan mereka.

Rasa lelah sungguh mendera kaki-kaki Donghae. Bayangkan saja, seharian dia terus-menerus berkeliling kota, menuruti keinginan istri tercintanya itu. Tapi ia senang, karna ia tahu istri tercintanya itu pasti sangat bahagia hari ini. Sedangkan saat ini Hyukkie masih berada dalam kamar mandi semenjak 15 menit yang lalu.

CKLEKK~

Pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sesosok namja manis bernama Lee Hyukjae dengan hanya memakai baju handuk yang panjang hanya mampu menutupi paha atasnya saja. Hal itu membuat kaki-kaki jenjangnya yang putih, terekspos dengan indahnya. Donghae yang sempat terpana beberapa detik, langsung berdiri dan meraih mantel yang cukup tebal miliknya.

"Hyukkie, kenapa kau hanya memakai baju handuk? Kau kan bisa kedinginan," omel Donghae sembari membalut tubuh sang istri dengan mantelnya.

Hyukkie hanya diam saja, saat sang suami menuntunnya menuju ranjang mereka. Ia hanya mampu dia membisu saat Donghae terus mengomeli dirinya. Ia tahu jika suami tampannya itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Tapi bukan itu yang ia mau. Bukan reaksi ini yang di inginkan olehnya.

"Kenapa kau berpakaian seperti ini? Kau kan bisa sakit, Hyukkie," tutur Donghae dengan nada mulai melembut.

Donghae tersentak kaget saat sang istri tengah bergetar dengan wajah tertunduk dalam. Ia lebih panik lagi, ketika ia mengangkat wajah Hyukkie dan mendapati wajah manis itu sudah teraliri sungai kristal disertai isakan yang mampu membuat hati Donghae tersayat-sayat kala melihatnya.

"Uljima, Hyukkie…, uljima…, kenapa kau menangis? Katakan padaku, apa yang membuatmu menangis? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Donghae bingung.

"H-hae, a-aku…," Hyukkie tidak mampu melanjutkan ucapannya, ia merasa tercekat entah karena apa.

"Ssshhhtt, tidak perlu dipaksakan jika tidak ingin bicara, sekarang ku ambilkan pakaian untukmu, ne?"

"A-ani. A-aku, , hiks, ," Hyukkie menggelengkan kepalanya – menolak apa yang tadi ditawarkan suaminya. Namun ia masih belum mampu mengutarakan apa yang ia inginkan.

"Demi tuhan, Hyukkie. Ku mohon jangan menangis lagi. Jebal~" mohon Donghae sembari menangkup wajah Hyukkie dengan kedua tangannya.

"K-kau, , hiks, , kenapa kau tak mau menyentuhku, Hae?"

Pertanyaan namja manis itu seolah membenturkan kepala Donghae ke beton yang sangat keras hingga membuatnya hilang kesadaran. Ia tahu kemana arah pembicaraan istrinya itu. Ya, dia sangat tahu.

"M-mwo? Mworago?" tanya Donghae – berpura-pura tak mengerti.

"Kau tahu maksudku, Hae. Kita, , hiks, , sudah sebulan menikah. Dan suami istri, , hiks, , harusnya mereka, , hiks,"

Donghae segera meraih tubuh kurus istrinya yang tengah bergetar itu ke dalam dekapannya. Ia paham tentang apa yang dipikirkan istrinya itu. Tapi ia tak menyangka, jika sifatnya selama ini – yang ia anggap demi kebaikan dirinya dan sang istri – justru membuat Hyukkie tertekan memikirkannya. Ia sungguh merasa bersalah. Ia sudah berjanji tak akan lagi membuat namja manis itu menitikkan airmata. Tapi, apa sekarang? Hyukkie menangis. Dan itu karna dirinya.

"Ssshhtt, Chagi. Dengarkan aku. Selama ini, aku hanya tak ingin memaksamu. Aku menikahimu, bukan karna tubuhmu. Melainkan karna aku yakin, jika kau adalah kebahagian yang dicipta tuhan untukku. Aku sudah berjanji akan menjaga dan melindungimu. Jadi, aku tak ingin memaksakan hasrat semata jika kau belum siap untuk melakukannya. Aku mencintaimu Hyukkie. Kau tahu itu, kan?" Donghae mempererat pelukannya saat ia rasa tubuh Hyukkie semakin bergetar begitu mendengar penuturannya.

"N-nde, aku tahu Hae," Hyukkie melepas pelukan suaminya, "-tapi, , aku ingin menjadi milikmu, Hae. Seutuhnya," ia menatap lurus obsidian sendu milik namja brunette dihadapannya.

"K-kau yakin, chagi?" tanya Donghae ragu.

"Nde, Hae. Aku sangat yakin,"

Donghae sama sekali tak menemukan keraguan dari onyx kelam dihadapanya. Hanya ada kilatan percaya yang begitu besar, yang tertuju pada dirinya. Cukup sudah, Donghae tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Hyukkie sudah memintanya sendiri, dia hanya bisa berharap kalau ini tidak akan menyakiti sang istri tercinta.

Dengan perlahan, Donghae membawa wajahnya mendekati wajah sang istri. Refleks karna hal itu, Hyukkie segera memejamkan matanya kala deru nafas suaminya menyapu kulit wajahnya. Sebuah ciuman lembut terbingkai dengan indahnya. Ciuman yang begitu memabukkan, yang mampu membuat Hyukkie linglung dari dunianya.

"Saranghe, Hyukkie. Saranghe~" ucap Donghae lembut dan kembali mengunci bibir sensual sang istri dengan bibir tipisnya.

.

.

Donghae POV

.

.

Perlahan, ku lumat bibir plum penuh milik istriku dengan lembut. Aku benar-benar memberikannya kelembutan karna aku tak ingin menyakitinya. Bagiku, dia bagai boneka dari kaca yang jika terlalu keras bisa membuatnya terluka dan pecah. Maka dari itu, ku lakukan semuanya sesuai naluriku dan penuh kelembutan. Ini pertama baginya. Dan aku ingin hal ini begitu berkesan dalam benaknya.

Kecupan-kecupan lembutku, perlahan berubah menjadi ciuman yang dalam dan menuntut. Beberapa kali aku jilat bibir manis dihadapanku – memintanya untuk memberiku akses untuk masuk. Detik selanjutnya, bibir yang memerah itu terbuka. Taka ku sia-siakan hal itu. Ku julurkan lidah hangat ku masuk kedalam rongga mulutnya. Mengeksplor segala rasa manis yang begitu memabukkan yang khusus tersedia hanya untuk-KU.

"Eeunngghh~"

Satu desahan lolos dari bibir Hyukkie. Sungguh itu mampu membuat diriku hampir hilang kendali. Aku masih tetap pada komitmen awal. Bermain dengan sangat lembut.

"Saranghe~" ucap ku lembut sembari melepas tautan bibir kami.

Dapat kulihat ia tersenyum begitu manis dengan wajah yang memerah dan nafas terengah-engah. Ku balas senyumnya dengan senyumanku yang tulus dari lubuk hati.

"Na-nado, Hae. Saranghe~"

.

.

End Donghae POV

.

.

Entah mengapa, Donghae merasa gemas dengan tingkah polos Hyukkie yang malu-malu. Ia gesekan hidungnya dengan hidung bangir namja manis itu. Kebiasaan namja brunette itu jika gemas adalah mengecupi seluruh bagian wajah Hyukkie sambil menggumamkan kata 'saranghe' terus menerus. Dan itulah yang dilakukan Donghae sekarang.

"H-hae~"

"Ne?" sahut Donghae.

"Jadikan aku milikmu, , , Seutuhnya," ujar Hyukkie lirih sambil meraih tangan Donghae dan membawanya ke dadanya.

GLUPP~

Donghae hanya bisa menelan ludahnya dengan sedikit susah payah. Tanpa banyak berpikir, namja brunette itu kembali membawa Hyukkie kedalam sebuah ciuman dalam dan menuntut. Sepertinya seluruh kesabarannya sudah habis. Dan malam ini, adalah malam yang paling dinantikan namja berwajah mirip ikan itu.

Suara kecipak saliva dan deru nafas yang terengah, meramaikan sesi ciuman panas sepasang insan itu. Saat ini, Donghae sudah berada diatas tubuh Hyukkie. Ia gunakan kedua lututnya sebagai penumpu berat badannya agar tak menindih tubuh indah sang istri yang berada dibawanya. Ciumannya kali ini lebih berkesan ganas dan sangat menuntut. Bahkan jika Hyukkie tak memukuli dada bidangnya – karna kehabisan nafas – mungkin ia tak akan melepaskan ciuman panasnya tersebut.

Saat ciuman mereka terlepas, Hyukkie mengambil kesempatan untuk meraup oksigen sebanyak yang ia bisa. Sementara sang suami beralih menyantap(?) leher jenjang nan mulus yang semenjak tadi menggoda mata nakalnya. Ia kecup, jilat dan terakhir hisap kulit putih susu itu dengan penuh gairah.

"Akkhh, , Hae, , emmpp, ,"

"Jangan tahan desahanmu, chagi. Aku suka suaramu," bisik Donghae lirih di telinga Hyukkie sambil menjilatnya pelan.

Seketika tubuh Hyukkie bergetar hebat, kala Donghae mulai menjilat bahkan menghisap perpotongan leher dan bahu miliknya. Semua sentuhan lembut Donghae pada tubuhnya, seolah melumpuhkan sel-sel yang mengalir dalam darahnya. Semuanya terasa lembut dan memabukkan, hingga ia tak bisa memikirkan apappun – selain Donghae.

"Akkhh, , Ha-hae, ,"

Sebuah kissmark bewarna merah keunguan, tercetak jelas di lekuk leher Hyukkie. Warna itu sangat kontras dengan kulitnya yang bewarna bak susu. Donghae yang melihat itu, langsung tersenyum puas dengan hasil karyanya.

"Kau yakin dengan hal ini, Hyukkie?" Donghae kembali pertanyakan keyakinan sang istri – seolah tak ingin namja manis itu menyesal.

"Nde, Hae. Jadikan aku milikmu. I'm yours tonight, Hae," tutur Hyukkie dengan wajah memerah sambari mengelus lembut pipi kanan Donghae.

Donghae kembali mendekatkan wajahnya dan membawa Hyukkie kedalam ciuaman hangat yang penuh dengan cinta. Cinta mereka berdua.

"Aku akan melakukannya selembut mungkin, chagi. Jika kau tak yakin dan ingin berhenti, beri tahu aku," ujar Donghae sembari membelai sisi wajah Hyukkie.

"Aku tak akan pernah menyesal karna menyerahkan diriku padamu seutuhnya, Hae. saranghe, Lee Donghae," ujar Hyukkie seraya mengangkat kepalanya dan mencium bibir tipis suaminya.

Tak mau buang kesempatan, Donghae segera memperdalam ciuman mereka. Suara kecipak salive kembali menggema dikamar itu. Perlahan, Donghae membawa tangan kanannya mengelus surai halus milik Hyukkie. Sedang tangan yang lain, perlahan ia bawa menuju ikatan baju handuk yang dikenakan sang istri.

SREETT

Ikatan baju mandi yang dikenakan Hyukkie terlepas dalam satu gerakan tangan Donghae. Dan sekarang terekposlah kulit tubuh bagian depan sang istri. Untuk beberapa saat, Donghae terpana dengan kulit mulus bak susu dengan dua tonjolan kecil bewarna pink milik sang istri. Satu kata yang bisa Donghae gambarkan saat ini. Cantik.

"Jangan memandangiku seperti itu, Hae. Aku malu~" ucap Hyukkie sambil menempatkan telapak tangannya untuk menutupi mata sang suami.

"Kenapa harus malu, chagi?" Donghae melepaskan tangan halus yang menutupi pandangan matanya "-Kau tahu, bagiku kau sangat cantik," seulas senyum paling indah ia lukiskan hanya untuk Hyukkie-NYA.

"Aish, mulai lagi deh gombalnya," ujar Hyukkie – pura-pura – kesal.

"Tapi kau suka, kan?" goda Donghae.

"Ani akk- emmp,,"

Belum sempat Hyukkie berkomentar, Donghae kembali mengunci bibirnya dengan ciuman yang dalam dan menuntut. Lagi-lagi Hyukkie langsung limbung jika Donghae sudah memberinya sentuhan pada tubuhnya. Tangan nakal Donghae rupanya sudah tak mau diam. Dengan lembut ia belai perut rata milik sang istri. Seketika itu pula, tubuh Hyukkie menggelijang karna sentuhan lembut yang memabukkan itu.

Dengan pelan, Donghae bawa tangannya menyusuri permukaan bagian depan tubuh sang istri. Telapak tangan Donghae yang sedikit kasar menimbulkan sensasi tersendiri bagi Hyukkie saat bersentuhan dengan kulit lembutnya. Sebuah sensasi yang mampu membuat namja pecinta strawberry itu bagai melayang ke nirwana.

"Akkhh, , Haee, , aahh, , aahhnn, ,"

Desahan-desahan Hyukkie perlahan kian memenuhi ruangan, kala Donghae membawa mulutnya untuk mengulum nipple kanan sang istri. Bahkan tangan kanannya, ia gunakan untuk menekan, memilin bahkan mencubit nipple yang lain. Sontak hal itu membuat Hyukkie mendesah nikmat karna perlakuan sang suami.

Saat sudah merasa bosan dengan nipple sang istri, ia membawa kepalanya turun kebawah. Perlahan ia buka lebar paha yang terlapisi kulit putih tanpa cacat milik pujaan hatinya itu. Tak ia sangka, kejantanan sang istri ternyata sudah menegang. Bahkan sudah terlapisi cairan precum. Donghae menyeringai penuh arti melihatnya.

"Oww, , 'Hyukkie kecil' ternyata sudah bangun, ne?" ujar Donghae dengan nada jail.

"Eh? A-ani," bantah Hyukkie sembari menyilangkan kedua kaki jenjangnya – untuk menutupi bagian pribadinya.

"Ssshhtt, , tak usah malu, chagi. Masa sudah sampai tahap ini, kau masih saja malu pada suamimu yang tampan ini?" ujar Donghae penuh arti.

"Huh? Siapa yang malu ak, , aakkhh,"

Ucapan Hyukkie terhenti, saat tanpa aba-aba Donghae meremas pelan kejantanan sang istri yang sudah mengacung tegang. Satu hal yang ada dalam benak Donghae. 'Ternyata tak lebih besar dari punyaku' ( mana bisa dibanding dgn punyamu yg abnormal itu, bang / -_- /)#plak

"Chagi, kau masih ingat dengan slogan Take Less Do More?" tanya Donghae sembari meremas-remas kejantanan sang istri yang mulai berkedut-kedut.

"Eunngghh~" seolah tak mampu menjawab pertanyaan sang suami, Hyukkie hanya mampu mendesah untuk menanggapinya.

"Sekarang mari kita amalkan, ne,"

"Huh? Aakkkhhh, , ,"

Belum sempat Hyukkie bicara, Donghae sudah memasukkan kejantanan miliknya kedalam mulut. Seolah tak memberi waktu bagi sang istri untuk sekedar menghela nafas, Donghae langsung menaik turunkan kepalanya untuk memberikan kenikmatan pada Hyukkie.

"Aaah,, , Aaahh, , Ooohh, , Haee,"

Desahan Hyukkie semakin kencang saat Donghae mulai memasukkan jari telunjuknya kedalam lubang anal sang istri. Tak ada rasa sakit yang didera Hyukkie. Mungkin itu teralihkan oleh service Donghae pada kejantanannya. Ia hanya merasa sedikit aneh, karna ada yang mengganjal di dalam tubuh bagian bawahnya.

Donghae terus mengulum dan menghisap kuat kejantanan sang istri. Bahkan saat ini ia sudah memasukkan jari tengah dan jari manisnya kedalam lubang anal istri manisnya itu. Hyukkie mungkin sudah mati rasa. Karna saat ini ia benar-benar terlena dengan aktivitas Donghae pada kejantanannya.

"Ak-kkuh, , aaahhnn, , mauuhh , , keluar, , aaahh, , aahhh, , Haee~"

Seolah memberi sinyal bagi sang suami, Hyukkie hanya bisa berucap dengan terbata disela desahannya. Mendengar hal itu, Donghae semakin mempercepat kulumannya bahkan sesekali ia menggesekkan giginya pada kulit kelamin sang istri. Hal itu membuat perut Hyukkie mengencang dan tergelitik dari dalam.

"Ha-haeee, ,, Aaakkkhh, ,"

Benar saja, dalam hitungan detik berikutnya Hyukkie langsung mendapati klimaks pertama di seumur hidupnya. Cairan cintanya mengucur dengan deras. Dan tentu saja, Donghae langsung menelan seluruhnnya tanpa rasa jijik sedikitpun.

"Kau tahu chagi, bahkan rasa spermamu juga terasa manis dalam mulutku," tutur Donghae.

Mendengar itu, wajah Hyukkie kembali terhiasi rona merah yang sangat ketara. Ia sedikit meringis sakit, saat Donghae melepas tiga jarinya yang tadi bersarang dalam lubang anal miliknya. Namun, entah mengapa ia merasa kehilangan saat jemari panjang dan kekar milik suaminya itu tak lagi mengeksplor lubangnya.

"Tenang, chagi. Sekarang, kita mulai permainan intinya," bisik Donghae seduktif ditelinga Hyukkie.

Detik berikutnya, Donghae bangkit dari ranjang dan melepas piyama yang sedari tadi masih rapi dibadannya. Donghae sepertinya tak menyadari sepasang manik kelam yang tengah memperhatikan aktivitasnya. Onyx bening itu terlihat membulat saat melihat dengan jelas otot milik Donghae yang terbentuk sempurna dan kekar. Bahkan wajahnya tiba-tiba memanas, kala ia mengarah kebagian bawah sang suami yang ternyata sudah membesar dan tegang.

"Suka dengan yang kau lihat, Hyukkie?"

Suara berat yang berkesan manly menginterupsi kegiatan mari-memandangi-tubuh-atletis-milik-Donghae yang tengah Hyukkie lakukan. Sontak saja, namja manis itu memalingkan wajahnya yang sudah sangat memerah kearah lain.

"Aish, manis sekali sih istriku ini," ujar Donghae – yang entah sejak kapan sudah menindih tubuh Hyukkie – sembari menggesekan hidung mereka dengan gemas.

Entah karna sengaja atau karna terlalu gemas, Donghae tanpa sadar ikut mengesekan kejantanannya yang mulai menegang dengan kejantanan sang istri yang masih lemas pasca klimaks tadi.

"Aaahhh, ,"

"Euunngghh,"

Keduanya refleks mendesah nikmat karna hal itu. Mungkin karna ingin merasakan sensasi itu lagi, Donghae kembali mengesekkan kejantannya dengan milik Hyukkie. Kali ini dengan intensitas yang lebih cepat dan sedikit kasar hingga membuat desahan keduanya menggema. Tentu saja kejantanan Hyukkie kembali menegang karna tingkah nakal sang suami ini.

"Chagi, bolehkah?" tanya Donghae meminta ijin.

"Jadikan aku milikmu, Hae," jawab Hyukkie dengan sebuah senyum manis diwajahnya yang sudah sangat memerah.

Donghae membawa tangan kiri Hyukkie agar tersampir pada pundak kokoh miliknya. Sedangkan tangan kanan Hyukkie ia genggam dengan erat diwamping kepala namja manis itu. Satu kata yang sederhana namun begitu bermakna, ia bisikan sebelum memulai penyatuan tubuh mereka.

"Saranghe,"

Detik berikutnya, Donghae mengarahkan kejantanannya untuk memasuki lubang anal Hyukkie menggunakan tangan kanannya. Lubang itu telah ia persiapkan sebelumnya. Berharap tak akan membuat Hyukkie terluka saat ia merasuki lubang sempit itu. Baru ujung kejantanan Donghae yang tertanam dalam lubang itu, Hyukkie sudah merasakan panas mengoyak tubuh bagian bawahnya.

Dengan sabar, Donghae menciumi wajah manis sang istri, berharap mampu mengurangi rasa sakit itu walau hanya sedikit. Saat dirasanya Hyukkie mulai tenang, ia kembali merasuki lubang sempit itu dengan perlahan. Lubang anal milik istrinya itu seolah menjepit miliknya denga kuat. Hal itu terjadi karna Hyukkie benar-benar merasakan sakit yang teramat sangat. Bahkan tanpa sadar ia menitikkan airmatanya dari balik matanya yang terpejam erat. Donghae yang melihat itu hanya bisa menatapnya sendu.

'Sesakit itukah, Hyukkie?' batin Donghae miris.

Tak ingin membuat sang istri menderita rasa sakit lebih lama lagi, Donghae segera menghujam kejantanannya menembus dinding ketat itu dengan sekali hentakan keras.

"Aaaakkhhh, , ,"

Jerit pilu Hyukkie menyeruak gendang telinga Donghae, saat kejantanannya tertanam sempurna dalam lubang anal sang istri. Namja brunette itu merasakan perih dipundaknya, saat menyadari Hyukkie telah mencakar bahunya – untuk melampiaskan rasa sakit. Donghae hanya mampu menatap istrinya itu dengan tatapan miris. Sebenarnya ini sungguh tak adil. Hyukkie harus merasakan rasa sakit seperti ini, sementara dirinya tak mampu berbuat apa-apa.

"Hyukkie~"

Merasa ada yang memanggil namanya, Hyukkie membuka matanya yang semula terpejam erat. Seketika itu pula ia mendapati diri sang suami yang tengah menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran.

"Kita hentikan saja, ne?" ujar Donghae – walau ia sedikit tak rela tapi ia tak ingin menyakiti namja manis dihadapannya.

"A-ani, Hae," jawab Hyukkie lirih.

"Aku tak ingin menyakitimu, chagi. Kita sudahi sa-"

"Andwe. Gwenchana, Hae. Aku baik-baik saja. Sungguh," potong Hyukkie sembari menatap Donghae dengan mata berkaca-kaca.

"Arraseo. Jika kau tak kuat, beritahu aku, ne?" titah Donghae.

Hyukkie hanya menganggukkan kepalanya pelan. Detik selanjutnya, ia menyuruh Donghae untuk mulai mengerakkan pinggulnya. Dengan pelan, Donghae mengeluarkan kejantananya hingga bersisa ujungnya saja. Dan dalam sekali hentak ia menghujam liang sempit sang istri.

"AAKKHH~"

Hyukkie memekik antara nikmat dan sakit, saat ujung kejantanan Donghae menghantam tepat dititik kenikmatan milik namja manis itu. Matanya terpejam erat, menahan seluruh gemuruh hasrat yang bergejolak dalam tubuhnya. Donghae juga sama. Sensasi lubang anal Hyukkie yang menjepit dan meremas kuat kejantanannya, membuat dirinya harus ekstra mengatur konsentrasinya agar tak segera klimaks. Bagaimanapun dia adalah seme dalam hubungan ini. Setidaknya itu yang ada dalam benak Donghae.

"aaahhnn, ,, eengghh, , , Haee, , , oohh, , oohh, , nngghhh, ,"

Desis sakit Hyukkie, perlahan terganti dengan desahan-desahan yang menggema dalam kamar mereka. Setiap hentakan Donghae dalam tubuhnya, seakan mampu membuatnya melayang keawan dan melupakan segala hal. Ditambah lagi saat ini Donghae juga tengah memanja pusat terpanas di tubuhnya dengan pijatan bahkan kocokan yang seirama dengan ritme hujaman kejantanan Donghae pada lubangnya.

Suhu udara yang awalnya rendah, mendadak menjadi tinggi karna efek dari aktivitas senggama keduanya. Rasa nikmat dan bahagia karna telah melakukan hal suci sebagai suami istri membuatnya kedua insan itu seakan menembus dunia baru. Dunia yang abstrak dan penuh keabsrudan dimana hanya ada diri mereka dalam dunia yang serba putih itu.

"Aahh, , Haeee, , akkuhh, , mauu, , aahhnn, , nngghh, ,"

"Bersama, , ngghh, , chagi, ,"

Perut keduanya terasa tergelitik oleh jutaan kupu-kupu yang berpedar sayap dalam perut mereka. Tubuh keduanya menegang saat hendak mencapai puncak dari segala kenikmatan yang mendera seluruh tubuh mereka.

"HAEEEE~"

"HYUKKIE~"

Teriakan nama masing-masing seolah menjadi pengiring luapan magma yang mengucur deras dari tubuh keduanya. Sperma Hyukkie mengalir deras membasahi perut dan pahanya juga Donghae. Sementara sperma Donghae menyeruak masuk kedalam tubuh Hyukkie membuat namja manis itu merasa sedikit penuh. Deru nafas kedua namja itu menjadi satu-satunya sumber suara diruang itu.

Tubuh Donghae limbung dan ambruk diatas tubuh sang istri yang tengah menstabilkan kembali nafasnya. Ia tak sepenuhnya menindih tubuh kecil istri manisnya itu, karna ia masih bertumpuh pada kedua lututnya. Ada yang ganjil dalam diri namja brunette itu saat ini. Jika biasanya seseorang yang selesai mengeluarkan cairan ejakulasinya akan merasa lelah dan tak tegang lagi, maka itu tak berlaku pada tubuh Donghae saat ini.

Saat ini tubuhnya masih terbakar oleh hasrat dan nafsu. Bahkan kejantanannya yang masih setia tertanam dalam lubang hangat milik Hyukkie, masih tegang bahkan berkedut-kedut. Bisa dipastikan, bahwa namja ikan itu masih belum puas dengan satu ronde permainan tadi.

"Chagi~ Bisakah kita melanjutkan 'nya' lagi?" tanya Donghae pada Hyukkie yang tengah bernafas terengah-engah dengan mata terpejam.

"Eh?"

"Kita lanjutkan lagi, ne?" tawar Donghae - antusias.

Donghae tengah mengangkat tubuhnya dari atas tubuh sang istri - memprepare ronde kedua mereka. Hingga sebuah tangan yang lembut mengintrupsi aktivitasnya. Ia menautkan alisnya bingung, kala menatap wajah sang istri yang merah padam.

"Waeyo, chagi? Kau lelah? Kalau begitu kita tunda saja," tawar Donghae lembut - walau ia sangat tak rela.

"Ani. Em, Hae bolehkah aku bicara sesuatu?" tanya Hyukkie malu-malu dengan wajah yang memerah bagai tomat.

"Nde, tentu saja boleh chagi. Kau mau bicara apa?" tanya Donghae lembut - sembari mengelus sisi wajah sang istri dengan sebelah tangannya.

"Um, itu. Kali ini, biarkan aku yang 'melayanimu', Hae," ujar Hyukkie pelan - sambil memainkan jemari lentiknya didada bidang sang suami yang sedang berada diatas - menindih tubuhnya.

"Eh? Maksudmu, chagi?" Donghae masih bingung dengan perkataan istrinya yang manis itu.

"Kan tadi Hae sudah 'memanjakan' ku. Jadi, sekarang biar Hyukkie yang 'melayani', Hae," ucap Hyukkie sembari menatap manik sendu sang suami - yang tengah menatapnya bingung - dengan tatapan polosnya.

Hyukkie sepertinya tak menyadari jika tingkahnya barusan, benar-benar membakar nafsu sang suami untuk sesegera mungkin melahap dirinya. Donghae yang mendengar perkataan - atau mungkin permintaan - istri manisnya itu, langsung memasang sebuah seringai penuh arti yang ia pinjam dari Kyuhyun. #plak

"As you Wish, Baby," Ujar Donghae dengan suara menggoda.

Detik selanjutnya, Donghae segera membalik posisinya. Hingga kini ia bersandar disandaran ranjang, sedangkan Hyukkie berada diatasnya. Dan tentunya dengan kejantanannya yang masih setia berliang pada tempatnya(?).

"Woman on Top, okey," bisik Donghae ditelinga Hyukkie sambil menjilat belakang kuping sang istri yang merupakan salah satu bagian sensitif dari istrinya tersebut.

"Eunggh~"

Lenguhan nikmat dari bibir manis Hyukkie, seolah semakin membakar bara nafsu yang bergejolak dalam diri Donghae. Ia memegangi pinggang Hyukkie, ketika istrinya itu mulai mengangkat tubuhnya. Tubuh mulus - walau sudah di 'nodai' Donghae - itu terangkat keatas, hingga menyisakan ujung kejantanan Donghae saja yang masih tertanam dalam lubang anal milik Hyukkie.

"Haeee. . .Aaahh,, , Kammuuhh,, kerrass, , sshh, , eungghh," Hyukkie mendesis nikmat, saat ia menurunkan tubuhnya hingga secara otomatis kejantanan Donghae yang berada dibawahnya menembus masuk ke dalam liang hangat miliknya.

"AKKKHH~"

'Gotcha,' Batin Donghae.

Hyukkie memekik nikmat ketika menemukan titik dimana prostat sumber kenikmatannya berada. Hal ini membuat Donghae antusias untuk membantu sang istri menumbuk titik yang sama dengan ujung kejantanan miliknya. Saat Hyukkie menurunkan badannya kebawah, maka Donghae akan mengarahkan pinggangnya keatas. Hingga kejantanannya memanja daerah sensitif didalam tubuh istri nya itu.

Hyukkie benar-benar lupa dengan segala pemikiran tentang dunia. Otaknya hanya terisi oleh satu nama. Donghae, Donghae dan Donghae. Semua tentang suami yang teramat ia cintai itu lah yang kini memenuhi seluruh bagian di dalam otaknya. Semua kenikmatan yang Donghae berikan padanya, membuatnya seolah melihat dunia yang absurd namun sarat akan - kenikmatan.

Bukan hanya Hyukkie yang merasakan nikmat tiada tara tersebut. Donghae juga. Bayangkan saja, saat ini ia seolah benar-benar tengah merasakan surga dunia. Kejantanannya terasa diremas-remas dengan erat oleh lubang hangat Hyukkie yang berkedut-kedut seolah menghisapnya masuk lebih dalam dan mengeksplor semua kenikmatan yang tersuguh hanya untuknya.

Dan jangan lupakan jika ia saat ini juga tengah menikmati pemandangan paling erotis yang tak pernah ia lihat seumur hidupnya. Hyukkie yang tengah menunggangi kejantanannya dengan peluh yang membanjiri seluruh tubuh mulusnya dimana kissmark yang Donghae torehkan seolah menjadi hiasan dan bagai tanda kepemilikan Lee HyukJae atas nama dirinya. Wajah yang merah padam dengan mata yang terpejam erat menahan semua kenikmatan yang tengah melanda tubuhnya.

Oh ya, jangan lupakan bibir plum yang sedikit terbuka yang terlihat begitu merah dan bengkak karna ulah seorang Lee Donghae yang tak pernah bosan mengecap rasa manisnya. Bahkan sepertinya Hyukkie sudah lupa caranya menelan ludahnya sendiri. Hingga membuat saliva menetes disudut bibir seksinya. Bukankah ini sangat erotis, eoh?

Donghae yang tak ingin berdiam diri menikmati aksi solo sang istri, segera meraih kejantanan Hyukkie yang sedari tadi menusuk-nusuk perut sixpacknya. Dengan pelan tapi pasti ia memijit bahkan mengocok-kocok kejantanan yang terlumasi cairan cinta di hampir seluruh kulit alat kelamin sang istri itu sesuai dengan ritme gerakan Hyukkie yang sedang mengomando (?) diatasnya.

"Aaah, , Ooohh, , Akkhh, , Aaahh, , Haee,,Euunngh,"

"Aaannggh, , Kauuu, unnghh, , sangaatthh, , ketatthh, , chagii, aahh,"

Hyukkie terus-menerus menaik turunkan tubuhnya dengan kedua tangan yang ia tumpukan pada pundak kokoh milik sang suami. Ia benar-benar kelimpungan dengan semua kenikmatan yang ia buat saat ia semakin mempercepat ritme untuk menunggangi kejantanan suaminya. Donghae berusaha sekuat mungkin menahan hasratnya untuk berejakulasi saat dinding rectrum milik Hyukkie semakin menjepit dan meremas kuat kejantanannya.

Desahan seksi yang dikeluarkan Hyukkie benar-benar membuat Donghae kehilangan kendali. Dengan kalap, ia meraih nipple sang istri yang semenjak tadi terpampang dihadapannya. Ia hisap dengan kuat bagai bayi yang kelaparan. Walau ia tahu nipple itu tak mungkin mengeluarkan susu, tapi ia tetap menghisapnya dengan kuat bahkan tak jarang ia menggigitnya dengan gemas.

"Aakkhh, , Jangannghhh diigigitt, , uunhh, Haeee, Aahh, , , Aahhnn," ujar Hyukkie terbata ditengah desahannya kala Donghae mengigit keras nipple kanannya.

"Inii, , Slupprtt, , enakk, , sluprrt, , chagii, ," sahut Donghae sambil terus mengulum nipple Hyukkie.

Ranjang tempat keduanya bersenggama mulai berderit nyaring seiring kuatnya ritme keduanya dalam memadu kasih. Suara desahan dan erangan nikmat serta gesekan kulit yang saling bersentuhan bahkan kecipak saliva Donghae yang masih setia mengulum nipple sang istri, meramaikan suasana kamar mereka malam itu.

"akkuhh, , sudaahhhnn, , taakk tahaannhh, , , Haeee, , ahhnn, , oohhh,"

Tubuh penuh peluh milik Hyukkie bergetar hebat, saat dirasanya hampir mencapai klimaks yang ketiganya. Hal ini otomatis membuat dinding- dinding rectrumnya semakin kuat menjepit kejantanan sang suami yang masih menumbuk prostatnya dengan keras. Donghae yang juga merasakan akan datangnya klimaksnya yang kedua, dengan sesegera mungkin menaik-turunkan pinggul sang istri agar mempercepat klimaks keduanya.

"Akkhh, , HAAEEE~"

"HYUKKIEE~"

Spluurtt~ Spluurrt~

Sperma milik Donghae keluar dengan derasnya memenuhi lubang anal Hyukkie. Bahkan sangking banyaknya, cairan ejakulasinya itu membanjiri selangkangan sang istri dan juga paha dalamnya sendiri. Sedangkan sperma Hyukkie menyembur dengan bebas hingga membasahi perut, dada bahkan sebagian wajah Donghae.

"Ah, mianhe Hae. Aku mengotori badanmu," ujar Hyukkie panik.

Diluar dugaan, Hyukkie dengan polosnya menjilati cairan cintanya sendiri yang tumpah ruah di sebagian wajah sang suami. Bahkan ia juga menjilati dada dan perut Donghae yang terkena muntahan spermanya. Namja manis itu sepertinya tak menyadari, jika saat ini sang suami tercinta tengah melongo menatap dirinya yang sibuk 'membersihkan' tubuh atletis milik suaminya itu.

Kegiatan 'bersih-bersih' yang dilakukan Hyukkie, sepertinya kembali membuat Donghae terbakar nafsu dan horny. Bayangkan saja, ia tengah melihat sesosok makhluk polos yang sedang menjilati dada dan perutnya dengan ekspresi lugu tanpa dosa hingga kembali membuat dirinya merasakan kejantanannya ereksi kembali.

"Chagi~" Donghae memanggil sang istri dengan suara berat yang menggoda.

"Ne?" Hyukkie refleks menyahuti dan menatap namja brunette dihadapannya dengan tatapan polos.

"Sudah mulai nakal, eoh?" tanya Donghae seduktif.

"Huh?"

Hyukkie masih belum 'ngeh' dengan perkataan Donghae. Bahkan, ia tak menyadari jika kejantanan sang suami yang kembali menegang dan berkedut-kedut didalam lubang analnya. Sungguh, polos nian makhluk ini. -_-

"Sebagai hukuman, kita lanjutkan ronde ketiga, arra?"

"Eh?"

Belum sempat Hyukkie merespon perkataan suaminya itu, Donghae sudah menarik tubuhnya hingga ia bangkit dan menungging dengan tangan yang berpegangan pada stand sandaran ranjang. Hyukkie yang masih bingung dengan perilaku Donghae, hanya bisa diam saat suaminya itu mengarahkan letak tubuhnya seperti saat ini.

"Kau mau apa, Hae?" tanya Hyukkie bingung.

"Aku mau memasuki lubangmu dari belakang hingga kau memekik nikmat dan memintaku untuk terus menghujam lubang hangat mu, chagi,"

Dirty talk yang Donghae ucapkan, ternyata berhasil membuat Hyukkie merona hebat dan membuat kejantanannya yang semula layu (?) menjadi bangun dan tegang kembali.

"Lihat, bahkan 'Hyukkie kecil' langsung bangun hanya karna ucapanku barusan. Benar-benar nakal, eoh?" tutur Donghae sambil menyentuh lubang anal sang istri dengan jari telunjuknya.

"Euunngh,, Haeee,," Hyukkie hanya bisa melenguh nikmat saat jemari Donghae menusuk-nusuk lubang sempitnya.

"Aahh, aku sudah tak tahan lagi. Berpeganglah yang erat, Baby. Aku akan bermain sedikit kasar kali ini," jelas Donghae terang-terangan.

Hyukkie hanya bisa meneguk ludahnya dengan susah payah, saat dirasanya kejantanan sang suami sudah bersiap-siap menembus kembali liang sempit miliknya. Mata indahnya terpejam erat, kala benda tumpul yang mampu membawanya menuju kenikmatan setara dengan surga itu mulai masuk kedalam tubuhnya. Setitik air mata mengalir begitu saja, saat dirasanya tubuh yang mulai letih miliknya serasa dibelah menjadi dua.

Ini bukan kali pertama lubang miliknya dirasuki oleh Donghae. Tapi posisi tubuhnya yang tengah menungging seperti saat ini, membuatnya merasakan sakit dan perih yang tadi juga ia rasakan saat suami tampannya itu merasukinya dengan posisi terlentang. Tubuh kecilnya bergetar hebat menahan perih yang seolah mengoyak tubuh bagian bawahnya.

"Chagi, gwenchana?" tanya Donghae khawatir – saat dilihatnya sang istri yang tengah meringis kesakitan.

"Gwencahana, Hae," ucap Hyukkie dengan nafas memburu.

Donghae yang tak mau melihat istri tercintanya itu kesakitan, dengan segera ia berupanya mengalihkan rasa sakit itu dengan memanja kejantanan sang istri yang terabaikan. Ia pijat dan kocok perlahan kejantanan yang mungkin tak lebih besar dari miliknya itu. Ia juga menciumi serta menghisap punggung mulus milik Hyukkie yang sedari tadi tak terjamah olehnya.

"Bergeraklah, Hae," pinta Hyukkie setelah dirasa liangnya mulai terbiasa dengan kehadiran kejantanan Donghae yang tidak bisa dibilang kecil itu.

Sejujurnya, Donghae ragu untuk meneruskan ronde ketiga hubungan intim mereka saat ini. Ia tak tega melihat keadaan Hyukkie yang meringis menahan perih yang dibuat olehnya. Namun, disatu sisi ia tak rela mengakhiri ini. Apalagi, kejantanannya sudah terlanjur tertanam sempurna di liang hangat istrinya itu. Maka, mau tak mau ia mulai mengeluarkan kejantanannya hingga bersisa kepalanya saja dalam lubang Hyukkie. Lalu dengan sekali hentakan keras, ia rasuki lubang sempit yang nikmat itu – menurut Donghae.

"AAKKHHHH~"

Hyukkie memekik keras, saat kejantanan Donghae menyeruak masuk kedalam liang analnya dengan sekali hentakan kuat. Namun, ia tidak hanya memekik karna perih yang tengah menderanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatnya menikmati rasa sakit dan perih yang mengoyak lubangnya. Entahlah, Hyukkie bahkan tak tahu perasaan apa itu. Yang pasti, saat ini ia tak ingin Donghae berhenti menggerakkan pinggulnya guna mengeksplor semua yang ada di dalam lubang analnya.

"Haee~"

"Wae chagi? Apa terasa sakit? Kita hentikan saja, ne?" tutur Donghae panik – saat mendengar Hyukkie memanggilnya dengan suara yang parau.

Hyukkie yang terlalu letih untuk berucap, hanya bisa memundurkan pantatnya kebelakang. Berharap sang suami tahu apa yang ia inginkan.

"Hyuk-hyukkie, apa yang kau, , aahhnn," Hyukkie terus memaju mundurkan pantatnya yang menungging dan tertanami kejantanan besar milik suaminya itu.

"Bergeraklah,, aahhnn,, Hae, , Jangan, eeunggh,, berhenti, nnggh, , , aahh, , aahhnn"

Donghae masih bingung dengan reaksi Hyukkie yang ingin ia terus meng'in out kan kejantanan miliknya keadalam lubang anal istrinya tersebut. Namja brunette itu bisa melihat dengan jelas ekspresi kesakitan diwajah manis milik Hyukkie-Nya itu. Tapi, istri manisnya itu justru memintanya untuk terus mengeksplor lubang sempit yang terus berkedut dan menghisap kuat kejantanannya tersebut.

'Sejak kapan ia jadi masochist seperti ini?' batin Donghae heran.

"Aahhn,, Ooohh,, Kamuhh,, uuhhn,, besarr,, sshh,, Haee,, Ahhhnn,, Ahhh,"

Hyukkie terus-menerus mendesah nikmat, saat Donghae semakin cepat dan kuat menggenjot lubang sempit milik istrinya itu. Bahkan tangan-tangan nakal Donghae juga tak mau diam. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengocok dengan keras kejantanan Hyukkie yang mulai berkedut-kedut. Sedang tangan kirinya ia gunakan untuk memilin bahkan mencubit kasar nipple kanan dan kiri milik Hyukkie secara bergantian. Bahkan, mulutnya juga ia gunakan untuk memberi banyak kissmark dibagian tengkuk, pundak dan punggung putih nan halus milik istri cantiknya itu.

"Haee, , oohh, , Aakkhh, , Haee, , Eenngghh, , Aahh, , Aahhhnn, ,"

Nama Donghae seolah telah menjadi mantra yang terus diucap oleh Hyukkie saat nikmat tengah mendera tubuhnya. Namja manis itu seolah sudah kehilangan akal sehatnya karna buaian kenikmatan yang Donghae berikan padanya. Rasa bahagia karna telah menjadi milik Donghae seutuhnya membuatnya seolah terbang membelah awan hingga membawanya merasakan nikmatnya dunia yang absurd. Dimana hanya ada dirinya dan sang suami tercinta – Donghae.

Donghae sendiri juga merasakan nikmat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Kejantanannya yang tegang dan membesar itu, seolah dijepit, diremas bahkan dihisap dengan kuat oleh lubang hangat milik Hyukkie yang terus berkedut-kedut – seolah memintanya untuk terus menghujamnya dengan keras. Ia bahkan tak pernah membayangkan, jika setelah ini Hyukkie telah menjadi milik-NYA. Dan tentunya – seutuhnya.

"Akkuhhh, , mauu, , hhhnn, , keluaarrr, , eunggh, , Haee,"

"Keluarkan bersama, baby. Oohh, , holy shit,"

Donghae mengumpat saat lubang anal Hyukkie semakin meremas kuat kejantanannya hingga ia tak mampu lagi menahan hasratnya untuk segera menumpahkan cairan ejakulasi yang ketiga kalinya.

"HAAEE~"

"HYUKKIIEE~"

Sperma Hyukkie keluar dengan amat deras, membasahi seprei ranjang tempat mereka bercinta yang sudah tak lagi berbentuk. Seketika itu pula, tubuh letihnya ambruk keatas kasur yang empuk. Demikian pula dengan Donghae. Lelah dan letih efek dari kegiatan bersenggama, membuat keduanya saling tumpang tindih – walau Donghae tak sepenuhnya menindih tubuh kecil sang istri.

Hyukkie merasa perutnya sedikit kembung karna sperma Donghae yang memenuhi lubangnya lebih banyak dibanding klimaks sebelumnya. Namja manis itu sepertinya tak menyadari seulas senyum bahagia yang terlukis indah diwajah tampan milik Lee Donghae. Saat ini, namja brunette itu tengah membanyangkan laju benih cintanya yang kini tengah berkelana jauh kedalam tubuh istri yang sangat ia cintai tersebut.

Donghae beranjak dari posisinya, hingga ia berbaring disebelah Hyukkie. Dengan sangat hati-hati, ia keluarkan kejantananya yang sudah tak lagi menegang dari lubang anal sang istri. Hyukkie mendesis pelan saat benda tumpul yang beberapa saat lalu memanjanya itu, dikeluarkan oleh Donghae. Namja brunette itu membenahi posisi dirinya dan Hyukkie, hingga sang istri berbaring nyaman dalam dekapan hangatnya.

"Gomawo, chagi. Gomawo~" bisik Donghae lirih sembari membelai lembut surai halus milik sang istri dalam dekapannya.

Hyukkie hanya tersenyum lembut sambil menelusupkan kepalanya ke dada bidang namja tampan dihadapannya itu. Tubuhnya benar-benar letih saat ini. Kegiatan yang barusa saja ia lakukan bersama Donghae, sungguh mengurah seluruh tenaganya. Beberapa detik berikutnya, dengkuran halus meluncur dari bibir sensualnya. Ia sudah terbang kealam mimpi.

Donghae yang mendengar suara dengkuran dan terpaan nafas hangat yang teratur kulit didadanya, semakin mendekap erat tubuh yang tengah ia peluk. Rasa bahagia benar-benar terpancar jelas dari wajah tampannya.

"Saranghe, Lee HyukJae," bisik Donghae lembut sembari mengecup puncuk kepala sang istri.

Pandangannya teralih pada salah satu bagian tubuh sang istri. Perlahan, ia bawa jemarinya menuju bagian itu lalu mengelusnya lembut. Seulas senyum terlukis indah diwajahnya, kala ia membayangkan sesuatu yang mungkin akan menambah kebahagiaannya akan tumbuh disana. Sesuatu yang akan melengkapi kehidupan rumah tangganya. Walau itu masih sebuah – kemungkinan.

Namun, apa salahnya jika Donghae berharap. Mengingat ia juga terlahir dari keajaiban yang dicipta tuhan melalui sang umma. Sang umma yang juga sama seperti dirinya. Namja. Kini ia hanya bisa berharap. Berharap tuhan akan memberikan keajaiban yang sama pada rumah tangganya. Sebuah keajaiban yang melengkapi hidupnya, , , kelak.

.

.

.

To Be Continued. . .

Or

The End. . .?

Anneyeong, , ,

Mey_rahma is back, , ,

Mian mey kelamaan up-datenya, , ,

Semua File FF mey ilang kemakan virus, ,

Jadi mau ga mau, Mey harus ngebuat ulang semua chapter yang uda kehapus, , TT_TT

Sesuai janji Mey, sekarang uda di Update NC buat nie FF kesayangan Mey, , ,

Mian kalo nie Chapter kurang memuaskan dang a HOT sama sekali -_-

Maklum, nie NC pertama yg mey buat, ,

Mey mau ngucapin makasi buat :

.

.

aoora | Haehyuk | BooFishy | Beakren | helloimhhs | amandhharu0522 | guest | LEETEUKSEMOX | RieHaeHyuk | DindaYuF | Anonymouss | dinie teukie | myfishychovy | thepaendeo | Guest | ressijewelll | kyukyu | Anchovy | anchofishy | Chwyn | dhianelf4ever| ShillaSarangKyu | Lara Saengie| yayank jewelf | park ji hyun | lovehaehyuk | diitactorlove | AranciaChru | Wika-imut | fitri | HaeHyukLove | kim nhufus fishy | Eka Cloudly | Kang Ji Ae | SaranghaeHaeHyuk | Park Ha | Aiyu Kie | Cho Kyuri Mappanyukki | LolyGothica | SaranghaeHaeHyuk | Lee Haenna | casanova indah

.

.

Sesuai pengumuman diawal chapter nie, ,,

Ini mungkin adalah Good Bye Stage dari Mey, ,

Semua tergantung dari Review dari FF ini nantinya. Jujur, mey uda mulai capek. Ditambah lagi bnyak eonnie-eonnie mey yg merupakan autor 'senior' disini yg mutusin buat hengkang bahkan berhenti jadi Author gara-gara kurangnya review n banyaknya Silent Reader's, ,

Jadi Mey mau bilang,

Bagi reader's yg masih berkenan dengan kelanjutan nie FF entah ampe Hyukk Pregnat alias bunting bahkan ampe lahiran sekalipun, semuanya ada ditangan reader's, ,,

Mey hanya akan melanjutt nie FF, klo Reader's bisa ngapreasiasi apa yang uda dibuat Mey n author lainnya lewat Review, , ,

Mian kalo keputusan Mey mengecewakan, #bow

Akhir kata, ,

Salam HaeHyuk Shipper,

*_*_MEY_RAHMA_*_*