Title : PRIMROSE
Cast :
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyung Soo a.k.a Kyungsoo
Other Cast
Rate : T – M
Genre : Crime, Little Hurt, Romance
.
.
.
.
By; Miss Galaxy
.
.
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
:::::
Come to me now, talk to me..
The only thing I can count on is you..
Close your eyes, hold me, because we have no tomorrow..
We don't have tomorrow, don't hesitate..
Before it's too late now,
Don't push me further and further away..
Us two, right here, right now..
Before it disappears..
Trouble Maker – Now
:::::
Kai menutup pintu mobilnya kasar saat kendaraan beroda empat itu mencapai halaman rumahnya sendiri, kaki panjang lelaki itu kemudian segera melangkah memasuki rumah dengan tergesa–gesa.
"JONGDAE!" Panggilnya murka, sosok yang dipanggilpun muncul tergopoh menemuinya diruang tengah.
Grep!
"Bagaimana..Bagaimana ini bisa terjadi hah?" Tanpa membuang waktu, Kai menarik kasar kerah kemeja pengacaranya tersebut, membuat nafas Jongdae sesak untuk sejenak.
"De–dengarkan aku dulu,"
"Apa yang harus aku dengarkan? Sekarang dimana Kyungsoo?" Kai melepaskan cekalannya kasar, menatap Jongdae dengan tatapan membunuh.
"Apa saja kerjamu disini?" Sinis Kai tajam. "Siapa orang yang berani melakukannya?" Jongdae terbatuk sebentar, setelah dirasa nafasnya normal, lelaki itu segera menatap tuannya.
"Kita memiliki musuh dibalik selimut tuan. Kau tahu pelayan nona Kyungsoo?" Kai menatap lelaki itu dengan mata menyipit, pelayan Kyungsoo?
"Momoi?" Jongdae menggelang.
"Ara." Sahut Jondae yakin. "Dan salah satu pengawal kita sendiri, Hongbin. Mereka berdua yang merencanakan semua ini dan menculik nona Kyungsoo."
Oh!
Kai melonggarkan cekikan dasi yang belum terlepas dari lehernya tersebut semenjak dia terbang meninggalkan kota London menuju Seoul. Perbedaan waktu antara dua Negara itu membuat Kai mencapai Seoul hampir siang hari, dan itu artinya sudah berjalan satu hari semenjak penculikan Kyungsoo kemarin malam. Mata lelaki itu menggelap dengan senyum sinis.
"Mereka ya," Ucapnya santai, melepas jasnya dan memberikannya pada sosok Jongdae yang langsung membututi langkahnya menuju ruang kerja dilantai atas. Jongdae sempat dibuat bingung, tuannya ini kenapa terlihat sangat santai sekali? Apa dia sudah punya rencana?
"Tuan–"
"Panggil Ravi agar datang keruanganku." Jongdae mengedip sekali.
"Baik."
.
.
.
Kyungsoo hanya meringis saat ikatan diseluruh tubuhnya terlepas, itu rasanya perih meskipun melegakan. Lalu seorang lelaki, yang Kyungsoo tahu adalah partner Ara dalam kasus penculikannya itu mengangkat tubuhnya paksa, menyeretnya keluar dari gudang yang gelap nan pengap tersebut.
'Kemana kau akan membawaku?' Kyungsoo hanya bisa menjerit dalam hati. Suaranya menghilang, dan lagi ujung bibirnya terluka hasil perbuatan Ara, Kyungsoo benar–benar menderita. Dia tidak makan ataupun minum –mungkin sehari lamanya, membuat tubuhnya benar–benar lemah.
"Ka–kau jatuh cinta pada… Kai?" Kyungsoo malam itu bertanya pada sosok Ara yang baru saja meneriaki alasan kenapa dia melakukan ini semua. Ara tersenyum sinis, dia lagi–lagi menunduk menatap remeh Kyungsoo.
"Ya! Kenapa? Kau tidak rela jika aku menyukai tuanmu itu?" Kyungsoo diam, tak berkata apapun. Jika benar Ara menyukai Kai, lalu kenapa dia harus melakukan ini padanya? Apa hubungannya ini semua dengan dirinya?
"Lalu kenapa..kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Kenapa katamu?" Ara mendecih. "Tentu saja karna aku tidak suka. Kau itu hanya wanita murahan, tapi tuan Kim sangat menyayangimu. Kau fikir kau ini siapa huh? Dasar pelacur!" Lagi, gadis mantan pelayannya itu berucap. Hal yang membuat Kyungsoo terluka adalah karna kalimatnya yang bagai ujung anak panah, menusuk hatinya dan menyakitinya, tak urung air mata kembali turun dimata Kyungsoo.
"Aku, bukan pelacur."
"Jika bukan pelacur lalu apa? Pekerjaanmu hanya memuaskan nafsu tuan Kai kan? Cih, bagian tubuhmu yang mana yang membuat tuan Kai menyukainya." Ara mencibir, menatap tubuh lemah Kyungsoo yang tertunduk dari atas kebawah dengan senyum melecehkan.
"Tubuhmu saja tidak bagus!" Serunya. Dia lalu kembali mengangkat wajah Kyungsoo dan menemukan wajah si 'nona' sudah basah oleh air mata. Senyum sedih terpancar diwajah Ara.
"Nona jangan menangis," Ejeknya lalu menghempaskan dagu Kyungsoo kasar, ada senyum miring saat sebuah ide terlintas diotaknya.
"Apa tuan Kim menyayangimu karna wajahmu ini ya? Baiklah, bagaimana jika aku membuat wajahmu jadi jelek? Pasti tuan Kim akan membuangmu. Haha!"
Plak!
Plak!
Plak!
Kyungsoo merasakan kedua pipinya panas, ada cairan asin yang menyentuh lidahnya, ujung bibirnya sangat perih. Ara yang melihat itu jadi gemas, dia tertawa dengan terbahak melihat Kyungsoo yang tidak berdaya.
"Kenapa? Mau berteriak memanggil tuanmu? Tenang saja, Kai tidak akan menemukanmu disini." Otak Ara mungkin sudah miring, gadis itu lalu mengambil sebuah silet dari saku celana jinsnya, menatap silet tajam itu dengan senyum merekah. Kyungsoo yang melihat benda tajam ditangan Ara itu mulai panik, dia menggerakkan tubuhnya tak nyaman, wajahnya dia tundukkan dalam–dalam menolak saat gadis didepannya itu mulai membawa silet tajam itu kedepan wajahnya.
Tidak! Kumohon..
"Hei, hentikan." Suara deritan pintu terdengar dan Hongbin muncul menghentikan aksi gila temannya ini.
"Kau terlihat seperti seorang psikopat." Hongbin bergidik geli sementara Ara hanya mendengus. Tentu saja dia tidak serius. Dia kan hanya ingin menggertak Kyungsoo saja agar gadis itu takut.
"Jangan sakiti wajahnya, nanti dia tidak laku jika dijual pada orang itu." Meski Kyungsoo tak menatap wajah penculiknya ini, namun telinganya masih normal mendengar apa yang mereka bicarakan. Dijual? Kyungsoo mengangkat wajah menyedihkannya, bibirnya bergetar hebat.
"A–apa yang akan kalian lakukan padaku?" Tanyanya takut. Hongbin tersenyum kecil, kemudian mendekati Kyungsoo.
"Kau akan kami jual nona." Jawab Hongbin santai tanpa beban. Sontak, mata bulat Kyungsoo membulat lebih lebar lagi. Dia akan dijual?
"Ti–tidak, kumohon jangan lakukan." Kyungsoo mulai bergerak tak nyaman dikursinya. Sementara si dua pelaku sudah terbahak–bahak, Ara bertepuk tangan senang dibuatnya.
"Kau kan pelacur! Jangan sok suci, tubuh hinamu itu pasti sudah ditiduri banyak lelaki kan? Cih." Ara mendecih kemudian mengajak Hongbin pergi dari sana, meninggalkan Kyungsoo yang masih menangis sambil meyakinkan bahwa tak ada lelaki lain yang menjamah tubuhnya selain Kai seorang.
"Jalan yang cepat! Orang yang akan membelimu sudah menunggu tahu!" Hongbin bicara ketus sesekali menyentak tubuh Kyungsoo yang sudah lemas. Saat mereka mencapai sebuah pintu, Hongbin berhenti sejenak kemudian menatap penampilan Kyungsoo dari atas kebawah sebelum berdecak. Lelaki itu kemudian melepas sweaternya dan memakaikannya paksa ketubuh Kyungsoo.
"Setidaknya kau harus terlihat baik didepan tuan barumu." Hongbin nyengir lebar lalu membuka pintu dan membawa Kyungsoo kearah sebuah halaman belakang yang kumuh, banyak pepohonan liar serta bak sampah dengan bau yang menyengat dimana–mana.
"Nah, tuanmu sudah menunggu." Mereka berhenti dan Kyungsoo menunduk dalam–dalam. Tidak mau melihat sekitar, siapapun orang yang akan membelinya, semoga dia mendapat tuan yang beruntung seperti Kai.
Kai,
Kemana lelaki itu? Kenapa dia tidak datang menolongku? Apa aku sudah tidak berarti lagi sehingga dia tidak beriat mencariku? Tanpa sadar Kyungsoo sudah menangis dalam diam. Bukan, dia bukan menangis karna akan dijual pada orang yang entah baik atau tidak, tapi dia menangis karna Kai tak datang menolongnya.
"Kau sudah bawa uangnya?" Itu suara Ara. Lalu terdengar sebuah gumanan sebelum suara benda keras yang dijatuhkan menyentuh lantai terdengar. Ara mengambil koper besar berwarna hitam tersebut, membukanya dan memeriksa apakah uang yang dia minta cukup atau tidak. Seringaian tipis tercipta disudut bibirnya saat bertumpuk–tumpuk won berada disana dalam jumlah luar biasa banyak. Ara menatap Hongbin yang dibalas anggukan lelaki itu, Ara mundur kebelakang dengan koper ditangannya sementara Hongbin maju menyerahkan Kyungsoo pada sipembeli.
Bruk!
Tubuh Kyungsoo terlempar dan dia dapat merasakan sepasang tangan kekar telah menangkap tubuhnya, mendekapnya erat. Membuat Kyungsoo dapat mencium aroma parfum yang lelaki itu gunakan.
Aroma ini,
"Selamat bersenang–senang tuan!" Hongbin lalu berlari menyusul Ara yang sudah kabur lewat pintu belakang. Kini tinggallah Kyungsoo bersama si tuan baru, gadis itu masih belum mau membuka matanya, dia takut. Dia mengenal aroma parfum ini, tapi dia tidak yakin.
"Kyungsoo, kau baik–baik saja?"
Suara itu,
"Buka matamu Kyungsoo." Perlahan, Kyungsoo membuka kelopak matanya dan maniknya bertautan langsung dengan si manik hijau tosca mempesona tersebut. Kyungsoo tak bisa menahan air matanya, dia menangis.
"Chan–chanyeol.." Isaknya kembali dalam dekapan Chanyeol dan akhirnya pingsan disana.
.
.
.
"Bagaimana?" Ravi menyerahkan sebuah map berwarna kuning kehadapan Kai yang langsung membukanya cepat.
"Anak buahku sudah menyelidiki semuanya, sekarang mereka sedang mengikuti mereka." Ravi meliriknya dengan ekor mata. "Apa yang harus aku lakukan?" Bisiknya pelan. Kai mengangkat alisnya, tersenyum kecil.
"Tentu saja melakukan apa yang harus mereka dapatkan," Balasnya tersenyum mengerikan, bahkan Ravi cukup takut untuk melihatnya. Lelaki itu menunduk karna merasa bahwa Anubis tengah bangkit dan berdiri didepannya saat ini.
"Lalu nona Kyungsoo–"
"Ya, aku terlambat satu langkah darinya." Potong Kai cepat dan Ravi cukup paham siapa yang tuannya maksud.
"Siapkan mobil karna aku akan menjemput Kyungsoo kembali." Perintahnya dan tanpa dua kali lagi Ravi mengangguk mengiyakan.
.
.
.
Kyungsoo merasa pusing saat kelopak matanya memaksa untuk terbuka, setelah mengedip untuk beberapa kali, manik beningnya lalu mampu menangkap keadaan sekeliling. Sejenak gadis itu meringis menyentuh keningnya, menggerakkan kepalanya dan berkerut menyadari bahwa dia saat ini tengah berada ditempat yang asing untuknya. Dimana ini? Langit–langit putih, bau obat. Kyungsoo menunduk, menatap tubuhnya yang sudah terbalut pakaian yang wajar. Sebuah piyama panjang yang lembut dan hangat.
"Kau sudah sadar? Syukurlah," Kyungsoo mendengar suara berat itu didekatnya, gadis itu lalu menggerakkan kepalanya kearah sumber suara dan menemukan wajah Chanyeol yang tersenyum manis kearahnya.
"Chan–chan.."
"Ssst. Jangan bicara dulu," Kyungsoo menurut, menutup mulutnya kembali. Namun gadis itu tak menolak saat Chanyeol meraih lembut punggungnya dan mengangkatnya pelan sampai dia terduduk.
"Minumlah." Bisiknya pelan menyodorkan segelas air mineral kedepan bibirnya, dengan pelan gadis itu menyesap sisi gelas itu sampai isi gelas tinggal setengah. Chanyeol kembali membaringkan Kyungsoo, menarik selimut sampai menutupi dadanya.
"Yeol–"
"Kau ada dirumahku, kau sakit Kyungsoo. Dokter sudah memeriksamu dan kau akan membaik." Ucapnya tersenyum meyakinkan, mengatakan hal yang sepertinya ingin Kyungsoo ketahui.
"Tapi..Ara,"
"Mereka sudah pergi dan aku memastikan bahwa mereka tak akan kembali lagi."
"Tidurlah, semuanya akan baik–baik saja." Lanjutnya. Kyungsoo menatap mata hijau yang bersinar cerah itu sesaat, memastikan apakah lelaki itu bisa dipercaya atau tidak. Dan saat Kyungsoo merasa bahwa dia tidak memeiliki siapa–siapa lagi untuk dipercaya saat ini selain Chanyeol, gadis itu lalu menurut dan menutup kedua matanya, kembali tidur. Namun sayup–sayup dia bisa mendengar pintu yang terbuka serta percakapan ringan antara Chanyeol dan seseorang dengan suara lembutnya.
"Dokter,"
"Bagaimana? Dia sudah sadar?"
"Ya."
"Itu bagus, hanya perlu satu kantung infuse lagi dan dia akan jauh lebih baik."
Infuse?
Dengan mata terpejam, Kyungsoo menggerakkan tangannya, menyentuh tangan kanannya sendiri dari bawah selimut dan menemukan tangan kanannya itu berisi jarum dengan selang yang terhubung keatas tiang infuse. Apa yang terjadi padanya? Apa dia sakit dan Chanyeol yang merawatnya dirumahnya sendiri? Kenapa lelaki itu mau repot–repot sekali melakukannya? Kyungsoo terdiam, mencoba mengatur pernafasannya sendiri. Banyak sekali hal yang dia fikirkan, dan itu membuatnya kembali pening. Percakapan antara Chanyeol dan lelaki yang mungkin dokter itu mulai terdengar sayup–sayup ditelinga Kyungsoo, rasa ngantuk menguasai otaknya, lalu Kyungsoo putuskan saja untuk kembali terlelap dan tidur.
.
.
.
"Apa yang terjadi?" Ilhoon yang baru datang itu menatap sekitar rumah dengan alis berkerut. Hei, kenapa rumah yang biasanya selalu ramai oleh pelayan ini terlihat sepi? Ilhoon menatap sekitar dengan bodoh, tak mau terlihat lebih bodoh lagi, lelaki itu segera memasuki ruang tengah dan mendapati beberapa pengawal berada disana.
"Hyuk–"
"Kau darimana saja hah?" Lelaki yang baru saja namanya Ilhoon sebut memekik, menatap sebal kearah temannya itu.
"Aku–"
"Kenapa kau pergi saat keadaan sedang genting?" Potong Hyuk cepat sambil mendengus sebal. Ilhoon mengedip, mendekati temannya yang baru dikenalnya sejak dua bulan yang lalu itu dengan serius.
"Aku kan mengambil ijin untuk mengunjungi tuan–" Ilhoon mengatupkan bibirnya cepat, sementara Hyuk menatapnya curiga.
"Apa?" Tuduhnya. Tukang kebun ganteng itu menggigit lidahnya pelan, lalu matanya berpendar menghindar dari tatapan mata tajam milik Hyuk.
"Ibuku sakit dan aku harus memeriksa keadaannya." Lanjutnya dengan ekspresi biasa.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya, kali ini lebih serius. Hyuk mendengus lagi, lalu menatap temannya itu tajam.
"Nona Kyungsoo diculik kemarin malam."
"Apa?" Ilhoon tak bisa untuk tak melebarkan matanya. Tunggu, nona Kyungsoo diculik? Tapi.. siapa yang berani melakukan itu?
"Tuan Kai–"
"Dia baru datang dari London pagi tadi, dan sekarang sedang pergi mencari nona Kyungsoo."
"Kemana?" Hyuk mengangkat bahu.
"Tidak tahu!" Balasnya cuek lalu pergi dari sana, meninggalkan Ilhoon yang kini mulai risau. Bahkan saking risaunya, tangan lelaki itu bergetar saat dia merogoh saku mantelnya dan mengambil ponsel.
"Tuan.."
.
.
.
Suara peringatan yang muncul dari pengeras suara disudut–sudut bandara itu membuat Ara serta Hongbin segera bergegas pergi, menarik koper besar mereka mengikuti orang–orang yang akan menaiki pesawat penerbangan tujuan Tokyo, Jepang.
"Hongbin," Ara memanggil temannya yang berjalan didepannya itu dengan pelan. Ekor matanya tak berhenti menatap sekitar dengan waspada sambil menggenggam erat tali tas tangan yang melingkar dipundak kanannya. Waspada apakah ada sepasang mata yang menatap kearahnya, siapa tahu seseorang yang diutus tuan Kim sedang mengikutinya saat ini.
"Jangan cemas, kita akan bertemu keluarga kita kembali." Ucap Hongbin mencoba seceria mungkin, lelaki itu lalu berhenti dan menggenggam erat tangan Ara memberi semangat. Membuat gadis itu sempat kaget.
"Jangan fikirkan ini semua, tidak akan ada yang mengejar kita. Percayalah." Ucapnya pelan lalu menarik Ara menaiki pesawat yang akan take off. Sebenarnya jika dia boleh jujur, dia juga sedang berdebar saat ini. Uang didalam tas yang Ara bawa adalah uang haram hasil menculik serta menjual Kyungsoo kepada orang yang sialnya adalah kakak dari tuan yang mereka khianati. Hongbin bukannya tidak tahu siapa Kim Kai itu, nyawa mereka pasti sedang terancam sekarang. Tapi sejauh ini, dia merasa semuanya aman dan baik–baik saja, dia merasa tidak ada yang mengawasi. Lagipula kepergiannya sangat rahasia dengan identitas yang telah dirubah pula.
Hah!
Hongbin menghela nafas lega saat dia dan Ara sudah duduk dengan nyaman disalah satu kursi pesawat yang memanjang kebelakang. Jika sejauh ini mereka masih selamat, maka keduanya masih punya peluang untuk sampai di Jepang dan hidup bahagia bersama keluarga mereka dengan uang hasil pemberian Chanyeol.
"Mau berlibur ya?" Hongbin tersentak dan menoleh pada wanita yang duduk disebelahnya, hanya berjarak sekitar satu meter disisinya.
"Huh?"
"Bersama kekasihmu?" Wanita itu meletakkan majalah fashion yang sebelumnya dia baca kepangkuannya, dagunya menunjuk kearah Ara yang mulai terlelap tanpa disadari dibahu Hongbin. Lelaki itu menatap kesamping dan menghela nafas, membenarkan posisi kepala Ara dibahunya. Mungkin gadis ini terlalu lelah karna tertekan.
"Aku juga akan ke Jepang." Ucap si gadis ceria. "Melakukan misi penting." Ucapnya mengedip, tubunya condong, lalu mengulurkan tangannya.
"Namaku Choa. Kau?" Hongbin mengedip, menerima uluran gadis didepannya dengan kaku.
"Aku Ho–" Hongbin refleks menutup bibirnya lagi.
"Maksudku, namaku Hyungwoon dan ini Chanmi, kekasihku.." Ujarnya. Si gadis bernama Choa lalu mengangguk–ngangguk mengiyakan.
"Selamat bersenang–senang kalau begitu." Ucapnya ceria lalu kembali diposisi semula, menyeringai kecil menatap Hongbin yang diam–diam menghela nafas.
Kau mungkin akan selamat sampai menginjak tanah Jepang, tapi jangan pernah bermain–main dengan seorang Kim Kai.
.
.
.
Kyungsoo kembali membuka matanya dengan perlahan, kelopak mawar itu kemudian mengerjap menyesuaikan pandangannya agar fokus.
"Ah.." Kyungsoo meringis pelan menyentuh keningnya yang masih berdenyut kecil, namun ini lebih baik dari pada tadi. Gadis itu lalu mendudukkan dirinya diatas ranjang, mendapati tangannya telah bebas dari selang infuse. Matanya lalu berpendar kesekitar ruangan, sebuah kamar cukup luas yang serba putih. Apa, dia berada disalah satu kamar dirumah Park Chanyeol? Yeah, itu pasti.
Kyungsoo lalu menurunkan kedua kakinya menginjak lantai keramik putih yang dingin, ujung piyamanya lalu jatuh menyentuh atas lututnya saat gadis itu mencoba berdiri. Keadaannya sudah cukup baik dan dia harus berterimakasih pada kakak Kai tersebut.
Ah..
Bicara soal Kai, apa lelaki itu tidak mengetahui apa yang tengah terjadi padanya? Tapi itu mustahil, Ravi atau Jongdae pasti akan melaporkan ini langsung kepadanya. Hah, lagi pula, kenapa Kyungsoo terlalu berharap akan hal itu? Bagaimana jika seandainya Kai memang mengetahui keadaannya dan malah angkat tangan? Itu bisa terjadi. Otak didalam kepala Kyungsoo mulai berfikir keras. Siapa dirinya sampai Kai mau repot–repot datang menyelamatkannya? Kai bukan kekasihnya dan dia juga sebaliknya, fakta keras bahwa dia hanyalah barang belian lelaki itu kembali membuat Kyungsoo yakin bahwa dia tidak berhak berharap banyak pada lelaki itu. Mungkin Kai sudah melupakannya dan mencari wanita lain untuk bersenang–senang diluar sana.
Kyungsoo meremas ujung piyamanya sendiri, merasa sesak dan sakit. Kaki pendeknya lalu berjalan menuju sepasang jendela besar yang tertutup gorden polos berwarna coklat cerah. Cahaya senja menerobos masuk saat Kyungsoo menyingkap gorden tersebut kesamping, membuat mata bulatnya mampu menatap pemandangan yang ada. Sebuah halaman luas dengan jalanan kecil berbatu. Dalam jangkauan pengelihatannya, Kyungsoo juga bisa melihat benteng beton yang kokoh melindungi rumah ini dalam bentuk pagar tinggi. Ah, rumah ini sama saja seperti rumah Kai, sama–sama seperti penjara. Kyungsoo menghela nafas. Bagaimana nasibnya selanjut ini? Bukan tidak mengerti apa yang terjadi, Kyungsoo tahu apa yang diinginkan Ara dan temannnya itu dengan jalan menculiknya. Ara membencinya dan gadis itu meminta tebusan besar atas dirinya. Kyungsoo menunduk, memikirkan apa yang harus dia gunakan untuk mengganti satu koper penuh berisi uang yang Chanyeol berikan. Atau dia harus kembali terpenjara dengan Chanyeol sebagai tuan baru? Cih, dia bukan pelacur.
Lama termenung disana menatap langit yang berwarna oranye, mata Kyungsoo lalu tertuju pada sebuah sedan Luxury yang tiba–tiba memasuki gerbang dan berhenti dengan tergesa dihalaman depan rumah ini. Kyungsoo mengernyit, seperti pernah melihat mobil ini. Lalu seketika matanya membulat lebar saat mengetahui siapa lelaki yang keluar dengan tergesa dari mobil dan menutup kasar pintu mobil mahal itu.
"Kai.." Kyungsoo berguman pelan, meyakinkan bahwa orang yang berjalan didepan Ravi dengan satu koper besar berwarna hitam itu adalah Kai. Satu tetes air mata tak bisa untuk Kyungsoo tahan, gadis itu menututp mulutnya terharu. Untuk apa Kai disini? Apa dia mau membawanya pulang?
Kyungsoo dengan tergesa berbalik hendak turun dan menemui Kai, namun sebelum dia membalikkan tubuhnya, pintu terbuka terlebih dahulu dan seorang lelaki muda berwajah sangar masuk dengan senyum manisnya. Yah, dia terlihat tidak baik, kaki Kyungsoo lalu mundur dengan waspada.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyungsoo pelan, si lelaki yang ternyata Junhoe itu tersenyum kecil sambil mendekat kearah Kyungsoo, membuat Kyungsoo mundur kembali.
"Menghentikan agar nona tetap berada disini," Ucapnya tenang namun cukup membuat Kyungsoo gugup. Gadis itu mengerti, Chanyeol tak mengiginkannya keluar dari rumah ini dengan mudah setelah satu koper penuh uang yang dia korbankan.
"Biarkan aku pergi," Ucap Kyungsoo pelan, melawan rasa takutnya. Dia ingin pergi dan bertemu Kai.
"Kau tak boleh pergi dari sini,"
"Kenapa?" Junhoe yang masih terlihat remaja itu tersenyum, mengangkat bahunya acuh.
"Karna tuan Park yang menginginkan itu. Memang kau fikir tuan Park tidak melakukan apa–apa untuk menyelamatkanmu?" Junhoe mencibir, menatap remeh kearah Kyungsoo yang tersenyum getir.
"Lalu apa yang harus kulakukan untuk membalas jasanya?"
"Dengan tetap diam ditempatmu."
"Bagaimana jika aku tidak mau?" Junhoe mngernyitkan alisnya keatas, mendesis pelan dan dilihat dari ekpresinya, lelaki itu terlihat kesal.
"Kau harus mau, karna aku akan memaksa." Ucapnya mendekati Kyungsoo lalu mencekal kuat lengan gadis itu berniat menyeretnya pergi. Kyungsoo sontak menjerit, berusaha melepas cekalan lelaki yang hendak membawanya pergi.
"Lepass!" Satu tendangan Kyungsoo berikan tepat diperut lelaki itu, membuat Junhoe memekik sakit sehingga cekalannya pada lengan Kyungsoo terlepas, dan saat Junhoe membungkuk memegangi perutnya, kesempatan itu Kyungsoo gunakan untuk berlari.
"BERHENTI!" Junhoe berteriak keras, suaranya mengaung didalam ruangan membuat nyali Kyungsoo semakin menciut dan tubuh mungil gadis itu mulai bergetar.
"Berhenti atau aku akan berbuat kejam padamu." Ancamnya. Kyungsoo terdiam ditempat, kakinya dengan perlahan mundur sampai tubuhnya menabrak sisi meja dan saat itulah mata Kyungsoo melirik kearas vas bunga keramik yang ada disebelahnya.
Prang!
Vas bunga warna ungu cerah itupun jatuh pecah kelantai saat tangannya dengan sengaja menjatuhkannya, dengan kalap Kyungsoo lalu meraih salah satu pecahan yang cukup besar dan lancip, menempelkan ujung tajam pecahan tersebut keurat nadinya.
"Biarkan aku pergi," Ucapnya pelan, menatap Junhoe yang hanya diam ditempat dengan ekspresi datar.
"Lepas!" Gertakknya, namun Kyungsoo menggelang, dengan perlahan mendekat kearah pintu masih dengan pecahan runcing vas dipergelangan tangannya.
"Biarkan aku pergi atau aku akan bunuh diri dan Chanyeol akan membunuhmu." Kyungsoo kali ini berteriak, mempermainkan Junhoe yang mendesis seperti patung ditempatnya. Melihat lelaki itu hanya diam takut akan ancamannya, dengan cepat Kyungsoo berlari keluar dari pintu dan mencari anak tangga, kakinya dengan terburu menuruni anak tangga hingga mencapai lantai dasar. Sial! Ada beberapa pengawal yang menghalangi pintu.
"Cih!" Junhoe yang berada diujung tinggi anak tangga teratas itu mendecih, memperhatikan Kyungsoo yang mulai menggertak para pengawal. "Merepotkan," Bisiknya malas.
Sementara itu Kyungsoo menggenggam erat pecahan vas bunga ditangannya sampai ujung runcingnya menggores telapak tangan, hingga sebuah luka kecil muncul dan darah perlahan merembes mengotori tangan kanannya.
"Menyingkirlah.." Ucapnya tajam, menudingkan pecahan vas tersebut kewajah para pengawal sebelum membawa benda runcing itu kelehernya sendiri.
"Menyingkir dan biarkan aku lewat sebelum benda ini melukaiku dan Chanyeol akan membunuh kalian." Para pengawal bertubuh kekar itu saling melemparkan pandang satu sama lain, kemudian serentak menatap Kyungsoo, tetap pada posisinya.
"Kenapa diam?"
"Maaf nona, tapi kau tak boleh pergi." Jawab salah satu diantara pengawal tersebut, membuat Kyungsoo merasa frustasi seketika. Kenapa ingin bertemu Kai saja sulit? Dan apa yang sebenarnya Chanyeol inginkan darinya?
"Menyingkir!" Kyungsoo kali ini tak main–main, gadis itu semakin menekan ujung benda tajam itu kelehernya sampai sebuah sayatan kecil tercipta dan tetesan cairan berwarna merah muncul. Saat itulah para pengawal saling berpandangan dengan risau.
"Nona–"
"Menyingkir!" Para pengawal langsung membuka barisan, membiarkan Kyungsoo lewat. Kesempatan itu tentu saja tidak Kyungsoo sia–siakan, dia langsung berlari menuju pintu utama agar para pengawal tak menangkapnya kembali. Dia melewati pintu utama, mencapai halaman depan dimana sosok Kai dan Chanyeol saling berhadap–hadapan, sepertinya kedua lelaki itu terlibat percakapan sengit sementara satu koper terbuka penuh lembaran uang itu tergeletak begitu saja dikaki Chanyeol.
"KAI!" Kyungsoo berteriak begitu melihat lelaki itu ada disana, segera gadis itu hendak berlari mencapai Kai sebelum langkahnya ditahan oleh Chanyeol. Jangan lupakan lelaki bermata hijau yang kini tengah menatap Kyungsoo tajam dengan telapak tangan menggenggam kuat lengan Kyungsoo.
"Mau kemana kau?" Bisiknya kejam, mencengkram erat lengan Kyungsoo, membuat gadis itu meringis dan refleks semakin menggenggam erat pecahan vas bunga yang masih setia melukai tangannya tersebut.
"Yeol..lepas!"
"Lepaskan Kyungsoo bajingan!" Kyungsoo mendongak, mendapati wajah Kai yang mengeras empat meter didepannya. Gadis itu lalu ganti memandang Chanyeol yang menatap lurus wajah adiknya. Seketika Kyungsoo merinding, tatapan mata hijaunya sangat mengerikan. Apa ini sosok Park Chanyeol yang sesungguhnya?
"Chan–"
"Inikah rasa terimakasihmu setelah aku menyelamatkanmu dari penghianat dirumah adikku?" Tanya Chanyeol, kali ini memandang Kyungsoo lekat dengan tatapan tajam. Dan sumpah setelah pertemuan mereka yang hanya berjalan dua kali, baru kali ini dia melihat tatapan Chanyeol yang jauh berbeda. Chanyeol yang waktu itu menatap hangat dan ceria kepadanya kini terlihat seperti hendak menelannya hidup–hidup.
"Ingat Kyungsoo, kau diculik dan menderita dirumah adikku. Apa kau mau kembali masuk kedalam neraka itu?"
Kyungsoo diam, menatap lekat kearah Chanyeol.
"Lagipula, jika kau kembali kerumahnya, kau mau apa? Apa yang akan kau lakukan? Apa hubunganmu dengannya?" Ucapan Chanyeol kali ini sukses membuat Kyungsoo tersentak, gadis itu menegang ditempat, perlahan memutar kepala menatap kearah Kai yang menatapnya tajam penuh arti.
"Aku benar kan?" Chanyeol menyeringai menatap keterpakuan Kyungsoo disisinya. Sementara Kai mulai mengatupkan rahangnya kuat–kuat.
"Jangan mendengarkan bajingan itu Kyungsoo. Kemarilah dan kita akan pulang!" Kai bersuara dengan nada dinginnya, ekor mata elangnya terus menatap Kyungsoo penuh peringatan.
"Pulang? Dan berakhir menjadi budak diranjangnya?"
"Berhenti omong kosong Park Chanyeol!" Ucap Kai keras lalu kali ini menatap penuh kearah Kyungsoo.
"Kyungsoo! Kembali kesini!" Ancamnya dengan nada pelan. Kyungsoo kali ini menatap kedua lelaki yang masih memiliki ikatan darah itu dengan bingung. Apa yang harus dia lakukan? Ancaman Kai membuatnya takut, tapi ucapan Chanyeol ada benarnya juga.
"Biarkan Kyungsoo memilih." Chanyeol melepaskan cekalannya dilengan Kyungsoo, membuat bahu gadis yang sempat menegang itu kembali rileks. "Pikirkan dengan baik! Tinggal bersamaku atau pergi kembali pada adikku." Chanyeol membungkuk lalu berbisik tepat ditelinga Kyungsoo, tersenyum penuh percaya diri karna merasa bahwa kali ini Kyungsoo tak akan menolaknya. Ekor matanya lalu melirik leher Kyungsoo, mengernyit baru menyadari ada luka gores dileher putihnya.
"Aku.." Kyungsoo berucap pelan, menatap Chanyeol yang tengah tersenyum lekat sebelum menatap Kai dengan bimbang. Lelaki tan itu tampak mengepalkan kedua tangannya, matanya mengisyaratkan sesuatu yang sulit untuk Kyungsoo artikan. Namun Kyungsoo memundurkan langkahnya, membuat gerakan kembali masuk kedalam rumah Chanyeol, membuat si pemilik rumah tersenyum penuh kemenangan sementara sosok Kai melebarkan matanya tak percaya.
"Aku.." Bisiknya mundur selangkah lalu berhenti. Melepas pecahan vas runcing dari tangannya hingga jatuh kelantai marmer yang bermozaik.
.
.
.
Baekhyun turun dari sedan hitam yang menjemputnya dari bandara saat kendaraan itu sampai ketempat tujuan. Segera gadis itu berdiri dan mendongak, menatap haru bangunan megah berlantai tiga yang luar biasa mewah didepannya itu. Masih sama seperti dulu, matanya lalu memandang sekitar dengan sayu. Lantai keramik yang sama, cat tembok yang sama. Lalu kolam disisi rumah yang masih sama.
"Nona, barang–barangmu." Ucap si supir tua yang tadi menjemput Baekhyun, dia membantu Baekhyun mengeluarkan kopernya dari dalam bagasi mobil.
"Terimakasih paman, aku bisa membawanya sendiri." Ucap Baekhyun tersenyum manis lalu membungkuk sebagai ucapan terimakasih. Si paman hanya mengangguk dengan senyum kecil sebelum membawa mobilnya pergi dari sana. Baekhyun meregangkan otot–ototnya yang terasa kaku setelah hampir sepuluh jam lamanya perjalanan, lalu matanya memandang rumah penuh sejarah didepannya lama.
Hah!
Selamat datang kembali Baekhyun! Gadis itu berguman dalam hati, memory masa kecilnya saat berlari–lari dan berenang didalam kolam itu kembali muncul diotaknya, seperti Dejavu, gadis itu seperti merasakan masa lalunya yang kembali terulang. Lama dia mematung disana, satu senyuman lebar lalu hadir dibibir tipisnya.
"Baekhyun!" Baekhyun menghentikan aksi mengenang masa lalunya, kepalanya bergerak kearah sumber suara dan menemukan sosok Jongdae muncul dari pintu utama dengan senyum tipis, lelaki itu berjalan santai dengan kedua tangan masuk kedalam saku.
"Jongdae.." Bisiknya ceria lalu dengan cepat berlari kencang untuk memeluk erat temannya itu.
"Selamat datang kembali Baekhyun." Jongdae membalas pelukannya.
"Terimakasih, aku merindukanmu."
"Aku juga." Mereka melepas pelukannya lalu saling menatap dengan senyuman lebar.
"Kau tambah cantik," Puji Jongdae dan Baekhyun tersenyum malu atas pujian itu. Jongdae juga semakin tampan, semakin dewasa dengan rambut–rambut kecil halus disekitar dagunya. Ah, apa isi otak lelaki itu juga masih sama? Tetap cemerlang dan genius?
"Tapi sayang, kau masih tetap pendek, seperti dulu." Ejeknya dengan wajah remeh menjatuhkan martabat Baekhyun yang baru saja disanjung, membuat gadis bermata sipit itu memekik sebal lalu tanpa segan memukul tulang kering Jongdae yang langsung terbahak. Ah, Baekhyun masih sama seperti dulu, tetap lucu dan menyenangkan.
"Ehem!" Suara deheman yang cukup keras menghentikan acara reuni mereka, keduanya lalu menoleh dan mendapati wanita cantik dengan tubuh sintalnya itu tengah cemberut dibelakang mereka. Hei, sejak kapan dia ada disana?
"Jangan terlalu lama mengobrol disana! Kau harus membawanya masuk karna dia masih kelelahan setelah perjalanan jauh Jongdae!" Omelnya yang membuat Jongdae tersenyum tipis.
"Siapa dia?" Bisik Baekhyun pelan, menyadari wajah cemburu gadis itu. Jongdae terkekeh, dia lalu merangkul pundak Baekhyun mendekati gadisnya yang makin cemberut itu.
"Perkenalkan, dia adalah Nyonya Xiumin. istriku!" Serunya bangga dan Baekhyun membulatkan matanya lebar–lebar.
"APA?"
.
.
.
"Jadi, bagaimana dengan New York?" Xiumin tersenyum, meletakkan secangkir teh herbal didepan Baekhyun yang diam–diam mengamatinya sambil tersenyum mengucapkan terimakasih. Well, setelah perdebatan kecil didepan pintu tadi, akhirnya Baekhyun bisa berkenalan secara resmi dengan istri Jongdae ini. Dia adalah wanita ramah sebenarnya, hanya sedikit 'pecemburu' itulah fikir Baekhyun. Tapi selebihnya dia adalah wanita bertubuh montok yang keibuan, tipe Jongdae sekali.
"Tidak buruk. Setiap hari aku hampir puluhan kali mencatat kasus criminal." Baekhyun meraih cangkirnya. "Orang liberalis bebas melakukan apapun tanpa memikirkan hukum." Lanjutnya dan Xiumin mengangguk membenarkan.
"Lalu dimana tuan Kim?" Baekhyun menatap sekitar mencari tuannya itu sebelum menyesap sisi cangkir. Jongdae mengguman, akhirnya dia menceritakan apa yang tengah terjadi dirumah ini.
"Maksudmu sekarang tuan Kim pergi.. mencari Kyungsoo?" Baekhyun menurunkan cangkirnya, meletakkan teh herbal itu kembali keatas meja. Mata sipitnya bergerak gusar.
"Apa ini ada hubungannya dengan Chanyeol?" Tanyanya pelan. Jongdae didepannya hanya mengangguk, sementara Xiumin duduk disebelahnya. Baekhyun meremas kepalan tangannya sendiri gusar, dia tiba–tiba merasa takut.
"Kau tahu, setelah kepergianmu semua menjadi rumit. Kau tahu kan rahasia dirumah ini?" Jongdae menatapnya serius melalui ujung matanya, melirik kearah sekitar takut jika ada pelayan lain dan pembicaraan mereka akan terdengar.
"Ya." Baekhyun mengangguk mengiyakan. Tentu dia tahu, dia besar disini dan Kai sangat mempercayainya, hal wajar jika dia masuk menjadi salah satu orang yang mengetahui 'rahasia' dirumah ini. Berbeda dengan Xiumin yang tahu dan terlibat sejak dia menikah dengan Jongdae, Baekhyun tahu semuanya sejak awal.
"Hubungan persaudaraan mereka akan semakin memburuk setelah ini. Hah!" Jongdae menghela nafas kasar, memejamkan matanya sejenak menekan segala rasa lelahnya. Xiumin yang melihat suaminya nampak kelelahan segera mengusap lengannya lembut, menyesal tadi sempat memarahi suami tampannya itu. Baekhyun sendiri juga berfikir keras. Park Chanyeol! Ya, dia tahu siapa lelaki itu. Bahkan dia juga punya beberapa 'kenangan' tak menyenangkan bersama lelaki itu. Dan sekarang, apakah dia harus kembali untuk berurusan dengan manusia tiang listrik itu? –itu panggilan Baekhyun untuknya dulu. Entah seperti apa rupa lelaki itu seletah hampir delapan tahun lamanya tak pernah bertemu.
"Chanyeol menginginkan Kyungsoo, aku tak tahu apa mau anak itu." Diameter mata sipit Baekhyun melebar. Apa lagi ini? Bukankah Kyungsoo itu milik..
Tuannya?
"Entah akan berakhir seperti apa ini semua." Gumannya meremas erat tangan mungil Xiumin. matanya terbuka lalu menatap lekat Baekhyun.
"Jadi kau paham kan apa alasan kau kembali datang ke sini?" Baekhyun menegang ditempat. Merasa ragu sendiri, jika dia menyimpulkan semuanya dia bisa mengerti apa tujuan kepulangannya.
"Menjaga Kyungsoo dari Chanyeol?" Bisiknya dan Jongdae mengangguk mengiyakan, memperjelas tanggung jawab yang akan dia pegang setelah ini.
.
.
.
"Aku akan kembali pada Kai." Lanjutnya tegas sebelum berlari cepat melewati Chanyeol menuju kearah Kai yang diam–diam menarik sudut bibirnya keatas. Kai dengan senyum kemenangan membuka lebar kedua tangannya, menyambut tubuh Kyungsoo masuk kedalam dekapannya, mengabaikan sosok Chanyeol yang menggeram tidak terima. Sial! Kyungsoo kembali menolaknya untuk yang kedua kalinya.
"Bagus!" Bisik Kai yang kini sibuk mengusap pucuk kepala Kyungsoo yang kecil dengan lembut.
"Pilihan bagus." Lanjutnya. Lelaki itu lalu melepaskan pelukannya, menatap mata Kyungsoo yang berkaca–kaca sedih. Ah, entahlah. Tapi Kyungsoo merasa senang bisa memeluk lelaki itu kembali dan mencium aroma parfumnya yang maskulin.
"Kau baik–baik saja hm? Maaf aku terlambat datang dan membiarkan penghianat itu menyakitimu." Telapak tangan besar lelaki itu lalu menangkup kedua pipi Kyungsoo, ujung ibu jarinya kemudian menyusuri setiap lekuk wajah Kyungsoo dengan pelan sebelum ibu jari tersebut berhenti tepat disudut bibir Kyungsoo yang terluka, mengusapnya sayang membuat Kyungsoo meringis. Kai mendesis pelan bersumpah akan membunuh siapapun yang berani melukai Kyungsoo. Ekor matanya lalu tertuju kearah leher Kyungsoo yang tergores, kemudian turun kearah telapak tangan mungilnya yang berdarah. Segera Kai meraih tangan itu dan menatapnya dengan rahang mengeras.
"Kai.."
"Kau akan baik–baik saja, kita akan pulang." Janjinya. Lelaki itu larut dalam dunianya bersama Kyungsoo, mengabaikan Chanyeol yang sudah panas dan bersiap meledak.
"CUKUP!" Teriaknya marah. Lelaki itu lalu meraih sesuatu dari balik saku jasnya, menudingkannya tepat kearah Kai dan Kyungsoo. Dia muak! Cukup melihat kemesraan menjijikkan kedua manusia itu.
"Berhenti main–main!" Ucapnya mengancam. Melihat Chanyeol mengeluarkan senjata api, Kai tidak tinggal diam. Lelaki itu lalu membawa tubuh Kyungsoo kebelakang tubuhnya, menyuruhnya bersembunyi sementara lelaki itu juga mengambil pistol dari balik saku jasnya dan sama–sama mengacungkan pistol tersebut kearah Chanyeol.
Trek!
Kedua kakak beradik itu sama–sama menarik pelatuk pistol mereka, tatapan keduanya menajam menatap benci satu sama lain, sementara Kyungsoo yang bersembunyi dibelakang tubuh Kai mulai bergetar takut, meremas kuat jas lelaki itu.
"Kai.."
"Kau akan baik–baik saja," Janji Kai, melirik sekilas pada Kyungsoo yang mulai teisak ketakutan dibekalangnya sebelum kembali menatap sang kakak.
"Beraninya kau Park!" Ancam Kai tajam, semakin menarik kuat pelatuknya. Chanyeol juga mendesis, menarik kuat pelatuk pistolnya.
"TIDAK!" Seru Kyungsoo tiba–tiba sebelum suara tembakan terdengar keras dibarengi pekikan kesakitan yang menyayat serta debuman keras menyentuh tanah.
DOOR!
DOOR!
"AHK!"
BRUK!
.
.
.
Lonceng kecil diatas pintu berbunyi kecil saat seseorang mendorong pintunya dan memasuki kafe. Mata hazelnya lalu menatap sekitar kafe, mencari–cari seseorang yang sudah membuat janji dengannya.
"Hei," Matanya lalu tertuju pada seorang pria tua yang melambai tepat dimeja sebelah perapian, Segera lelaki itu mengusap kemejanya sekilas sebelum berjalan dengan mantap mendekati klien barunya tersebut.
"Tuan Do Seung Hyun?"
"Kau pasti Jung Il Hoon?" Si pria bermata hazel mengangguk, menarik kursi mendudukkan diri didepan Seunghyun yang memberi kode padanya untuk duduk. Seunghyun lalu memanggil pelayan, memesan dua cangkir kopi hitam.
"Jadi, anda klien yang mengirim e-mail keperusahaanku?"
"Ya." Seunghyun tersenyum, membuat guratan keriput menghiasi dahinya yang sudah menua termakan usia.
"Apa yang bisa saya bantu?" Ucap Ilhoon serius, tatapannya kemudian tertuju pada berkas yang Seunghyun sodorkan padanya. Lelaki itu lalu meraihnya, membuka map tersebut dan mata hazelnya mulai bergerak meneliti data didepannya.
"Do Kyungsoo?" Ilhoon mengernyitkan alisnya. Menatap riwayat hidup foto gadis didalam map tersebut yang dia yakini adalah putri kliennya ini. Hm, gadis yang manis.
"Dia akan tinggal bersama Kim Kai karna alasan hutang–piutang." Ilhoon menurunkan map yang menutupi wajahnya, lalu menatap Seunghyun serius.
"Jangan bilang kau berniat menjual putrimu pada lelaki itu?"
Kim Kai, Ilhoon yang merupakan seorang agen mata–mata itu cukup paham dengan siapa pria tua ini akan berurusan. Sementara Ilhoon nampak memojokkannya dengan tuduhan tepat, Seunghyun hanya tersenyum tipis mengangguk, membenarkan ucapan Ilhoon.
"Aku punya seorang putri dan aku ingin kau mengawasinya untukku."
"Putri yang akan kau jual untuk bersama Kim Kai?"
"Ya."
"Jika kau sudah menjualnya, kenapa kau masih ingin mengawasinya?"
"Karna bagaimanapun dia tetap putriku." Jawab Seunghyun cepat dengan tegas, ada siratan luka dimatanya yang tua, namun berusaha untuk ditutupi.
"Aku terpaksa, aku punya alasan untuk itu. Tapi selebihnya, aku sangat mencintai putri dan putraku." Bisiknya.
.
.
.
.
TBC!
.
.
.
.
Noh, uda pada tahu'kan siapa tuannya mbak Cabe.
Dan apa?
Ilhoon tukang kebun ganteng itu ternyata cuman nyamar pemirsa, dia itu seorang agen yang diam–diam masuk kedalam rumah Kai untuk mengawasi Kyungsoo atas perintah papanya Kyungsoo. Nah? Lho?*hahaha XDD
Makin ribet yaa -_-
.
Warning thypo!
.
Wehehehehehe! XDD
Long time no see, long time no see *nyanyisamatop* XXD
Bagaimana dengan chapter ini? Semoga memuaskan ya! Dan maaf jika kelanjutannya lama, mohon dimengerti karna Laxy udah masuk Zone–zone sibuk pake bangettt *huhu T.T
Dan mungkin ini chapter terakhir yang bisa Laxy update dibulan ini. Akhir bulan Laxy uda mulai ujian –full dimaret sampe April menjelang UN -_- Pasti yang berada diposisi sama kek Laxy juga merasakan *haha*
So, fanfict ini dihiatuskan dulu ya sampe ujian selesai. Semoga masih ada yang mau menunggu dan masih ada yang minat ^^
Minta do'anya semua biar ujian Laxy lancar dan bisa lulus pmdk ke poltek negeri *hope
.
Arigatou Gosaimaz {}
.
TERIMAKASIH BUAT KALIAN SEMUA YANG SUDAH MEM-FOLLOW, ME-RIVIEW & MEM-FAVORITKAN FANFICT INI ^^
SEE YOU NEXT CHAPTER
AND
SARANGHAE :* :*
