Title : Blood, Sweat & Tears (피땀눈물): SOULMATE.
Cast :
KaiSoo.
And onother EXO couple, Nuest, SVT.
GS/Gender Switch, Fantasy, Vampire!AU.
.
.
.
Happy reading!
Don't read if you not light!
No plagiat! No ctrl c + ctrl v!
.
.
.
"Sudah merasa lebih baik?" Kyungsoo mengangguk, membiarkan telapak tangan dingin milik Kai mengusap kepalanya. Kejadian siang tadi memang cukup mengejutkannya, ini adalah pertama kalinya bagi Kyungsoo melihat mayat dengan mata kepalanya sendiri, itu mengguncang pikirannya namun Kai tentu saja tidak akan membiarkan itu. Dia bahkan tidak meninggalkan gadisnya sedari tadi.
"Tidurlah, ini sudah malam."
"Kau tidak akan pergi kan?"
"Aku akan menjagamu sayang," Gadis itu mendesah lega mendengar penuturan kekasihnya, lantas memeluk bonekanya dan memejamkan matanya mencoba tidur. Tapi seketika dia kembali membuka matanya saat teringat sesuatu.
"Kai, tentang Minhyun," Gadis itu menatap kekasihnya, kemudian memberitahukan masalah yang terjadi diantara keduanya, pembicaraan di taman sekolah serta alasan dia kesal pada Minhyun, semuanya tanpa terkecuali, karna tidak ada yang harus dia tutup-tutupi dari Kai.
"Dia tahu siapa jati dirimu yang sebenarnya, namun dia membohongiku, itu membuatku sangat kesal."
Kai mencerna cerita Kyungsoo, lelaki itu mendengarkan dengan baik tanpa bicara. Sebenarnya dari awal dia juga tahu jika Minhyun mengetahui jati dirinya, namun tidak dia sangka bahwa Minhyun telah bercerita terlalu banyak pada Kyungsoo, mungkin Kai harus bicara empat mata dengan lelaki itu. Sekaligus menekankan padanya bahwa Kyungsoo sudah menjadi miliknya, jadi dia harus tahu diri untuk menjaga jarak.
"Aku mengerti, tapi jangan terlalu memikirkannya. Dia pasti punya alasan untuk membohongimu, jangan terlalu membencinya."
"Aku tidak membencinya, hanya kesal. Bagaimanapun aku benci dibohongi."
"Aku tahu." Kai tersenyum tipis, kemudian menyuruh kekasihnya untuk tidur dan Kyungsoo menurut. Lelaki itu memastikan bahwa Kyungsoo sudah tertidur, memberikannya satu kecupan dan menaikkan selimutnya sebatas dada. Setelahnya lelaki itu akan berdiri didepan jendela kamar Kyungsoo, mengamati sekitar dengan hati-hati.
Meninggalkan cerita Kyungsoo tentang Minhyun, Kai memilih fokus pada satu hal saat ini. Ada hal ganjal yang dia rasakan pada kejadian di restoran tadi siang. Tentang mayat itu serta aroma lain yang dia rasakan saat akan meninggalkan restoran. Kai sudah menceritakan kejadian itu pada keluarganya, dan mereka memiliki pemikiran yang sama bahwa pelaku pembunuhan itu adalah seorang vampire. Opini tentang keluarga lain itu semakin menguat, dan itu artinya masalah baru. Kai harus semakin menjaga Kyungsoo, berjaga-jaga apabila firasatnya benar. Firasat bahwa salah satu dari keluarga lain itu menginginkan Kyungsoo.
.
.
.
Mingyu meringkuk diatas ranjangnya, memandang melalui jendela kaca yang tidak tertutup gorden, dimana cahaya setengah bulan bersinar diantara awan dan bintang malam. Bibirnya pucat dan mengering, terlalu lelah untuk mengeluarkan jerit kesakitan. Tubuh jangkung itu terlihat sangat lemah.
Klek!
Pintu kamarnya terbuka dan seseorang masuk dengan perlahan, Mingyu tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang.
"Hyung, kapan aku bisa keluar?" Pertanyaan lirih itu keluar dari celah bibir Mingyu yang pucat.
"Belum saatnya." Balas lelaki tersebut, dia mendekat dan memeriksa keadaan Mingyu sebentar.
"Masih ada beberapa waktu sampai purnama datang, bersabarlah."
Lelaki diatas ranjang itu tidak membalas, namun dia memahami betul apa yang dimaksud oleh hyungnya tersebut. Ini semua hanya masalah waktu, dia hanya perlu menunggu dan melewati semua ini sampai hari kebebasannya datang.
Ada beberapa hal yang memehuni isi kepala Mingyu, salah satunya adalah Wonwoo, Wonu kesayangannya. Bagaimanakah kabar gadis emo itu? Telah berapa lama waktu berlalu semenjak pesan terakhir yang dia kirim? Hatinya bertanya-tanya, apakah Wonu peduli saat dia tidak datang kesekolah begitu lama? Entahlah, yang jelas saat ini adalah dia sangat merindukan Wonu, merindukan untuk melihat gadis itu.
.
.
.
Kyungsoo duduk dengan gugup dikursinya, meremas kepalan tangannya yang berada diatas pahanya beberapa kali, gerakan itu mendapat perhatian lebih dari Kai yang sedang mengemudi.
"Sayang, ada apa?"
Gadis bermata bulat itu mendongak, menatap kekasihnya dengan ragu.
"A–apa kau serius ingin mengajakku datang kerumahmu?"
"Kenapa tidak? Kau sudah mengenal Ayah dan semua saudaraku, saatnya kau mengenal Ibuku."
"Tapi–"
"Kau gugup ya?" Kyungsoo mengangguk-ngangguk, dahinya berkerut karna keraguan besar sedang melanda dirinya saat ini. Ayolah, dia akan pergi kerumah kekasih vampirenya untuk pertama kali dan bertemu dengan Ibunya. Ada perasaan takut disana, takut apabila Ibu Kai tidak akan menyukainya dan dia tidak diterima disana.
"Kai, bagaimana jika Ibumu tidak menyukaiku?"
"Kyungsoo tenanglah, jangan berfikir bahwa Ibuku tidak akan menyukaimu. Dia sangat ingin bertemu denganmu, asal kau tahu itu." Kai meraih jemari Kyungsoo dengan tangannya, mengecupnya dengan begitu lembut dan menggenggamnya dalam remasan dingin.
"Kau akan mengetahui tentangku, sedikit demi sedikit, dimulai dari sini."
Tak lama, mobil berhenti tepat didepan sebuah rumah besar di tengah hutan. Kai mematikan mesin mobil dan dalam sekejap sudah berada di luar mobil, membukakan pintu mobil untuknya. Kyungsoo tidak ingin merasa heran, namun kemampuan berteleportasi kekasihnya kadang membuatnya tak habis fikir.
"Ini adalah rumahku, selamat datang!"
Rumah keluarga Kai terlihat simple dan sederhana, berisi lebih banyak dinding kaca yang menghadap ke arah hutan. Catnya berwarna vintage dengan sentuhan aetesthic disetiap penataan interiornya. Sangat berbeda jauh dengan bayangannya tentang rumah bak kastil dengan seluruh kegelapan, nyatanya rumah keluarga Kai terlihat sangat normal seperti rumah penduduk pasa umumnya.
Kai membuka pintu dengan lebar, menggandeng kekasihnya untuk masuk, suasana terlihat nyaman dan sepi. Ada sebuah kolam air mancur di tengah ruangan, di kedua sisinya anak tangga melingkar menuju lantai atas.
"Dimana semua orang?"
"Mungkin didapur." Kai mengajaknya ke dapur, dan betapa terkejutnya Kyungsoo mendapati seluruh keluarga Kai terkecuali Chanyeol ada disana, sedang sibuk memasak sesuatu.
"Ibu."
Wanita setengah baya dengan rambut berwarna coklat tua yang sedang memotong wortel itu mendongak, tersenyum lebar melihat Kyungsoo hingga kedua dimplenya terlihat jelas di pipi, sangat cantik dan menawan, penggambaran sempurna untuk Ibu dari tiga lelaki tampan dan dua wanita cantik. Itu dia, Nyonya Lay, Ibu Kai.
"Oh, kalian sudah datang ya?" Itu suara Luhan yang tengah memainkan tomat yang sedang di cuci bersih oleh Wonu.
"Apa yang sedang kalian lakukan didapur?" Kai bertanya dengan heran. Ada apakah gerangan yang membuat keluarganya tergerak memakai dapur?
"Kau akan membawa pacar manusiamu kesini, jadi kami harus menjamunya dengan makanan normal." Kyungsoo merasa tidak enak mendengarnya, karna kedatangannya membuat keluarga Kai harus berkutat di di dapur. Dia lalu kembali menatap Ibu Kai.
"Kau pasti Kyungsoo?" Kyungsoo mengangguk dengan malu.
"Hallo semuanya. Senang bertemu denganmu Bibi."
Lay metelakkan pisaunya dan berjalan mendekat, memeluk Kyungsoo dengan begitu sayang.
"Kau sangat cantik." Pujinya yang membuat Kyungsoo merona.
"Terimakash Bibi."
"Tidak, jangan memanggilku begitu. Kau sekarang adalah bagian dari keluarga kami, anggap aku dan suamiku ini adalah orang tuamu, panggil aku Ibu."
"Um, I–ibu.."
"Bagus sekali." Kyungsoo terkejut begitu Lay memberikannya sebuah kecupan didahi, namun begitu dia tersenyum senang saat Ibu Kai mengatakan bahwa itu kecupan sayang dari Ibu untuk putrinya. Pemikiran buruk Kyungsoo bahwa dia tidak akan diterima tidaklah benar, nyatanya dia diterima dengan tangan terbuka disini, itu membuatnya sangat lega.
"Kai, ajak Kyungsoo berkeliling rumah sampai makanan untuknya selesai." Kai mengangguk, kemudian mengajak kekasihnya pergi dari dapur. Mereka menaiki tangga melingkar menuju kearah kamar Kai berada. Disepanjang dinding saat mereka menaiki tangga, ada banyak figura foto yang terpajang disana. Ada foto kedua orang tua Kai, Luhan bersama Sehun, Wonu, Chanyeol dan Kai, namun yang menarik perhatian lebih dari Kyungsoo adalah figura besar yang ada di ujung tangga, itu adalah foto lengkap Kim Familly, dengan pakain semerah darah yang mencolok dengan latar belakang warna hitam. Kyungsoo menghentikan langkah, menatap kagum pada potret tersebut, tidak ada anggota Kim Familly yang tersenyum di foto tersebut, tapi itu terlihat sangat epic.
"Kalian keluarga yang luar biasa," Puji Kyungsoo. "Aku ingin tahu sejarah keluarga kalian."
"Sejarah?"
"Ya, tentang bagaimana orang tuamu bisa memiliki putra dan putri seperti kalian." Kai yang mendengar itu tersenyum.
"Sayang, sebenarnya diantara kami berlima tidak ada ikatan darah apapun." Kyungsoo menatap kekasihnya dengan dahi berkerut, tidak mengerti.
"Suho dan Lay bukanlah keluarga kandung kami, begitupun dengan aku, Chanyeol, Wonu, Sehun dan Luhan. Suho dan Lay mengadopsi kami."
Jadi, mereka semua bukan saudara sedarah? Pantas saja meski kadar ketampanan dan kecantikan mereka sama, wajah mereka satu sama lain tidaklah mirip. Kyungsoo kadang berfikir seperti itu dan terjawablah sekarang, mereka tidak terikat oleh hubungan darah.
"Lalu bagaimana kalian bisa menjadi bagian Kim Familly?"
"Chanyeol pertama kali ditemukan sebagai saudara tertua, dia adalah anak korban perang yang diselamatkan oleh Ibu. Lalu Sehun, Ayah menemukannya dibuang oleh seseorang dibawah guyuran salju, dan Wonu, dia ditemukan sekarat dan nyaris kehilangan nyawa."
Kyungsoo mengerjap mencerna perkataan kekasihnya, mereka diabdosi dengan keadaan seperti itu? Korban perang, dibuang dibawah guyuran salju dan saat sekarat?
"Bagaimana denganmu?"
"Aku ditemukan setelah Chanyeol. Dulu aku masih sangat kecil saat di abdosi, orang tuaku adalah teman baik Suho dan Lay, mereka mengalami kecelakaan mobil dan meninggal, sementara aku terluka parah." Kai tersenyum kecil jika mengingat hal itu, namun perasaan itu telah lama hilang, bangsa vampire tidak terlalu mengingat atau menyimpan perasaan mereka saat mereka masih menjadi manusia.
"Sama seperti Wonu, aku sekarat dan untuk menyelamatkanku, Suho mengubahku menjadi vampire dan menjadikanku anaknya, menjadi adik untuk Chanyeol."
Jadi, dulunya Kai adalah manusia?
"Apakah dengan menjadikanmu sebagai vampire itu menyelamatkanmu dari sekarat?"
"Tentu sayang," Kai tersenyum, memahami Kyungsoo yang masih membutuhkan banyak penjelasan darinya. Tidak apa, pelan-pelan Kyungsoo akan mengerti semua seluk beluk tentang Kim Familly.
"Bangsa kami memiliki racun yang bisa mengubah manusia menjadi vampire, dengan kata lain seperti kami terlahir kembali."
"Bagaimana dengan Luhan?"
"Ah, Luhan. Dia sudah ditakdirkan menjadi mate Sehun. Dulunya dia juga manusia sama sepertimu." Kai melirik Kyungsoo yang tengah menatapnya dengan serius sebelum tersenyum kecil.
"Mate?"
"Jodoh yang ditakdirkan." Jelas Kai.
"Kemudian Sehun mengubahnya menjadi vampire dan dia menjadi bagian dari keluarga ini, sebagai menantu. Dan sekarang seperti yang kau lihat, kenapa kami selalu bersama-sama atau dekat satu sama lain, karna kami tumbuh besar diasuh oleh orang tua yang sama seperti saudara kandung meski nyatanya kami tidak memiliki hubungan darah apapun."
Kyungsoo mendengarkan dengan baik, hal ini sangat baru untuknya, jadi dia harus mencerna dengan cermat setiap cerita yang Kai katakan. Jadi inilah alasan kenapa Kim Familly selalu bersama saat di kantin? Kemudian jika Luhan dulunya manusia dan diubah menjadi vampire karna dia adalah mate Sehun, apakah dirinya akan demikian jika semisal dia adalah mate Kai? Sungguh, Kyungsoo baru mengetahui tentang hal ini. Seketika otaknya berfikir keras. Apakah dia mate Kai? Jodoh Kai yang ditakdirkan?
"Jika kau berfikir aku akan menjadikanmu vampire karna kau adalah kekasihku, kau salah Kyungsoo. Aku sangat mencintaimu sehingga aku tidak akan pernah melakukan itu." Kyungsoo yang mendengar itu menjadi malu, kedua pipinya merona dengan merah. Kenapa Kai mengatakan hal itu dengan begitu sungguh-sungguh? Satu kecupan dia dapatkan di pipi sebelum Kai mengajaknya masuk ke sebuah pintu bercat warna coklat.
"Ini adalah kamarku."
Kai membuka lebar pintu kamarnya, membiarkan Kyungsoo berjalan masuk. Gadis itu menatap sekeliling dengan begitu kagum. Kamar kekasihnya bersuansa sedikit gelap dengan cat berwarna abu-abu, ukurannya cukup luas, namun hanya ada satu ranjang king size, sebuah lemari besar, satu meja dengan sofa serta sebuah grand piano yang terletak didekat dinding kaca, dimana mata kita akan dimanjakan oleh pemandangan hutan pinus, sangat indah.
"Bagaimana?"
"Yah, kamarmu bagus. Tapi sedikit kosong." Kyungsoo mendekati dinding kaca dengan gorden yang terbuka lebar tersebut, menikmati pemandangan hutan yang hijau.
"Disini indah."
"Dan kau menyukainya?" Kai memeluknya dari belakang, melingkarkan kedua lengannya di perut Kyungsoo dengan erat sementara dagu berada diatas kepalanya.
"Ya, aku suka pemandangan disini."
"Kau bisa tinggal disini jika kau mau."
"Kau bercanda ya? Lalu bagaimana dengan orang tuaku?" Kyungsoo memukul lengan Kai yang berada di perutnya dengan main-main.
"Aku hanya menawarkan sayang, jika kau menginginkan tinggal disini, maka aku akan menerimamu dengan senang hati."
"Akan kufikirkan nanti." Jawab Kyungsoo kemudian setelahnya terdiam, larut dalam keheningan dalam beberapa saat.
"Apa kau suka bermain piano?" Kyungsoo lalu membawa pandangan kearah grand piano tersebut, melepas pelukannya berjalan kearah sana sementara Kai mengikuti, dia duduk dengan dekat disebelah gadisnya. Jemarinya sedikit bermain-main di atas tuts piano tersebut.
"Kau bisa memainkannya?"
"Tentu." Kai meletakkan tangan Kyungsoo diatas tuts piano dan melingkupi jemari mungil itu dengan jemarinya yang panjang dan kokoh, kemudian menekan tuts piano tersebut menghasilkan nada-nada yang simple dan indah.
"Bisa kau nyanyikan lagu A Thousand Years?"
Jemari mungil Kyungsoo kembali bergerak saat Kai mulai memainkan intro dan suara merdu gadis itu mengiringi dengan begitu indah.
Heart beats fast
Colors and promises
How to be brave?
How can I love when I'm afraid to fall
Kai melirik gadisnya dengan senyum tipis, membiarkan Kyungsoo bersandar di bahunya dengan nyaman. Sekitar tiga menit setelahnya lagu berakhir dan Kai menghentikan permainannya, dia meraih tangan Kyungsoo dan mengecupnya sayang, membuat Kyungsoo rasanya akan meleleh ditempat.
"Apa kau ingin jalan-jalan di luar?"
Kyungsoo mengangguk, sepertinya itu tawaran yang sangat menarik. Kai segara bangkit, membuka dinding kaca dengan begitu lebar sebelum berjongkok didepan Kyungsoo.
"Naiklah." Gadis bermata bulat itu menatap Kai ragu, namun akhirnya dia menaiki pungguh kekasihnya yang tegap dan kokoh, melingkarkan lengan di lehernya. Kai bangkit berdiri sambil memegang kaki Kyungsoo dengan begitu kuat, lalu secepat kilat melompati dinding kaca yang terbuka, bergerak naik melewati pinus dengan mudah meski membawa beban di punggungnya. Percayalah, Kyungsoo terasa sangat ringan. Selain karna tubuh Kyungsoo yang mungil, kekuatan Kai sangatlah besar. Kyungsoo mengeratkan pelukannya, cukup shock saat Kai melompat dengan begitu mudah, merayap dengan cepat keatas pohon dan melompati dahan pohon satu persatu. Hal ini masih baru dan tentu mengejutkan untuk Kyungsoo, namun dia percaya kekasihnya itu tidak akan jatuh dan membuatnya terluka.
Kai membawanya menaiki pohon pinus yang paling tinggi, berhenti pada dahan yang kuat.
"Kita sampai." Kai membiarkan Kyungsoo duduk di dahan tersebut, memegang Kyungsoo dengan kuat karna gadis itu merengek ketakutan. Tentu saja, siapa yang tidak takut jika berada di ketinggian hampir seratus meter? Kyungsoo menatap kebawah dan langsung panik karna itu sangatlah tinggi.
"Sayang tenanglah, aku memegangmu, kau tidak akan jatuh." Kai berkata dengan menenangkan, tersenyum karna Kyungsoo yang ketakutan itu sangat menggemaskan, gadis itu tidak melepas pegangannya sedetik pun pada Kai, setelah beberapa saat menguasai rasa takut akhirnya dia merasa cukup tenang.
"Bagaimana?"
"Indah sekali."
Kyungsoo rasanya seperti bermimpi, duduk di dahan tertinggi pohon pinus, menatap langit yang terasa sangat dekat dari atas sini. Dari posisinya itu, Kyungsoo bisa melihat kumpulan awan-awan kelabu yang bergerak menjauh, sebenarnya sinar matahari disini cukup, namun karna kota ini tertutup oleh pinus, cahaya terhalang dan membuat kota selalu terlihat gelap.
"Apa pernah ada seseorang yang kau ajak kesini?"
"Hm, siapa? Kau satu-satunya."
"Lalu bagaimana dengan gadis-gadis yang bersamamu sebelumnya?" Menanyakan hal itu, Kyungsoo jadi teringat dengan cerita Baekhyun tentang murid perempuan yang selalu pindah dan menghilang setelah bersama Kai. Karna ini timing yang bagus, Kyungsoo harus mendapatkan sebuah jawaban.
"Percayalah, kau satu-satunya sayang."
"Lalu bagaimana dengan gadis sebelum aku?" Lelaki tan itu tak lantas menjawab, dia terdiam sejenak sebelum menatap Kyungsoo dengan lekat.
"Kau ingin tahu?" Dan Kyungsoo mengangguk.
"Aku akan mengatakan jujur bahwa aku mendekati mereka hanya untuk kujadikan makanan." Oke, ini tidak terlalu mengejutkan karna Kyungsoo sudah menduga sebenarnya.
"Termasuk Somi?"
"Aku memberinya pelajaran karna dia berani mengganggumu." Sedikit mengejutkan karna Kai melakukan itu untuknya, membuat Kyungsoo merasa sangat dicintai.
"Lalu bagaimana denganku?"
"Bagaimana apanya?" Kai mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Apa aku akan menjadi makananmu juga?" Mendengarnya Kai tertawa, membuat Kyungsoo merengut. Hei, dia sedang serius.
"Kai!"
"Sejujurnya, aku memang mendekatimu untuk darahmu, namun aku jatuh cinta padamu. Dan fikirkan, jika aku masih menginginkan darahmu, bukankah kau sudah menjadi makananku sejak dulu?"
"Bisa jadi kau memperdayaku terlebih dahulu sebelum menghisap darahku." Ucap Kyungsoo dengan mata menyipit, pose curiga yang begitu manis di mata Kai, membuat lelaki itu tidak tahan untuk tidak meraihnya dan memberikan kecupan gemas di seluruh wajahnya.
"Kai, hentikan. Ini menggelikan, kita juga bisa jatuh nanti."
Chup~
Kecupan basah dan dingin itu berhenti di bibirnya, membuat gerakan Kyungsoo terhenti dan gadis itu terdiam merasakan bagaimana perasaan Kai tersampaikan melalui kecupan itu.
"Aku sudah membawamu menemui orang tuaku, apa kau masih berfikir bahwa aku masih menginginkan darahmu hm?"
Kyungsoo terdiam, gadis itu menatap kekasihnya dalam-dalam dan menemukan kesungguhan itu di dalam bola mata hitam pekatnya. Sejujurnya Kyungsoo sangat percaya bahwa lelaki itu tidak akan menyakitinya, apa yang dia katakan tadi hanya untuk menguji dan Kai berhasil. Lihat senyum haru yang kini tercetak di bibir hatinya.
"Aku sangat mencintaimu Kyungsoo. Apa kau tidak mempercayai itu?" Kai bertanya dengan begitu lembut, tangannya dengan penuh kasih sayang mengusap kepala Kyungsoo, membuat gadis itu tersipu malu dan langsung menyembunyikan wajah di dada kekasihnya.
"Aku percaya Kai.."
.
.
.
"Masuklah kedalam terlebih dahulu."
Kyungsoo menginjak tanah setelah turun dari gendongan Kai, berdiri didepan rumah kekasihnya tersebut.
"Kau akan kemana?"
"Masuklah, aku akan mengambil sesuatu untukmu."
"Sesuatu untukku? Apa aku boleh ikut?" Kai menggeleng menolak permintaan Kyungsoo, membuat gadis itu merengut.
"Aku tidak akan lama sayang, kau masuklah dan tunggu aku bersama yang lain. Oke?" Meski penasaran kemana Kai akan pergi, namun gadis itu menurut dengan menganggukkan kepala, membiarkan kekasihnya menghilang dalam sejekap dari pandangannya. Kyungsoo berdecak, membalikkan badan hendak masuk ke dalam rumah namun terhanti saat Chanyeol sudah berdiri didepannya, menghadangnya. Tanpa hawa kehadiran, membuat Kyungsoo reflex mundur kebelakang.
"C–chanyeol? A–apa yang–"
"Kau dan Kai sudah pacaran?" Kyungsoo merasa tidak habis fikir, Chanyeol yang muncul tiba-tiba menanyakan hal yang cukup privasi, seharusnya lelaki itu mengatakan kalimat 'hai, halo' atau apapun itu yang tidak mengejutkan Kyungsoo.
"Um, begitulah."
"Jadi kalian sudah bersama?" Chanyeol melangkah mendekat dan Kyungsoo mundur ke belakang dengan sedikit perasaan cemas. Apa yang Chanyeol inginkan? Bagaimana jika Kai melihat ini?
"Kyungsoo, kau tahu kami bukan manusia sepertimu, apa kau masih ingin bersamanya?"
"Chanyeol, sebenarnya apa yang–"
"Kami vampire dan kau manusia, sewaktu-waktu kami bisa menjadikanmu makanan."
"Yeol–"
"Kau mencintai adikku?"
Kyungsoo terdiam, gadis itu menatap Chanyeol di depannya dengan ekspresi yang sulit. Kenapa Chanyeol harus menanyakan hal ini? Tidakkah apa yang dia lakukan sejauh ini sudah menjadi jawabannya? Haruskah dia mengatakannya dengan jelas?
"Chanyeol, kau menanyakan apakah aku mencintai Kai?" Kyungsoo menghela nafas, menatap Chanyeol dengan begitu lekatnya.
"Jawabannya ya, aku sangat mencintai adikmu itu."
Kyungsoo tidak tahu mendapat keberanian dari mana untuk mengatakan hal ini, namun hatinya merasa sangat lega sekarang. Kyungsoo ingin menuntut jawaban kenapa Chanyeol harus peduli tentang perasaannya pada Kai, namun lelaki tinggi itu terburu pergi setelah mengatakan,
"Itu pilihanmu dan pertahankan pilihan itu."
Tentu saja, dia akan mempertahankan cintanya bersama Kai meski rasanya itu tidak akan mudah.
"Kyungsoo!"
Gadis itu berbalik cepat, menemukan Kai yang berjalan kearahnya dengan sesuatu ditangannya beserta senyuman lebar, dalam beberapa detik dunia Kyungsoo terasa berhenti berputar, ini senyum lebar yang pertama kali dia lihat dari bibir Kai. Kenapa senyum itu begitu menawan?
"Aku memetik ini untukmu." Kai membawa banyak buah beri ditangannya, dia memetiknya langsung dari hutan untuk Kyungsoo.
"Coba ini, buka mulutmu aaa." Kyungsoo membuka mulutnya, menerima suapan beri itu sebelum memekik dengan senang, buah beri hutan ini begitu manis dan segar.
"Enak sekali!"
"Aku memetiknya untukmu," Kai kembali membawa satu beri ke bibir Kyungsoo yang terbuka dengan senang hati, bersyukur karna kekasihnya menyukai buah yang di petiknya di tengah hutan ini. Senyum lebar nampak menghiasi bibir Kyungsoo yang kembali mengunyah berinya. Senyum yang cantik dan Kai menyukai itu.
.
.
.
"Sabtu depan datanglah kembali, kau akan ikut bermain bisbol bersama kami."
"Bisbol?" Kyungsoo memastikan.
"Ya. Beberapa bulan sekali keluarga kami memang pergi bermain bisbol, cuaca sedang bagus. Kau harus datang."
"Akan aku usahakan bu." Bermain bisbol? Kyungsoo jadi penasaran seperti apakah keluarga vampire jika sedang bermain bisbol?
Kyungsoo pergi meninggalkan rumah Kai saat hari menjelang malam dan Kai mengantarnya pulang dengan selamat. Menyenangkan sekali mencicipi masakan rumahan yang Kim Familly buat, cukup enak meski tidak selezat buatan Zizi, tapi Kyungsoo harus bersyukur karna keluarga kekasihnya bahkan mau repot-repot memasuki dapur untuk dirinya.
"Terimakasih untuk hari ini, kau akan mampir?" Kai melirik ke dalam rumah kekasihnya dan menggeleng.
"Mungkin lain kali."
"Jika begitu hati-hati dijalan, hubungi aku saat kau sudah sampai."
"Aku akan datang sebelum kau tidur nanti." Kai terkekeh, lantas melajukan mobilnya meninggalkan rumah kekasihnya. Ah, hari yang menyenangkan.
Kyungsoo berhenti melambai saat mobil Kai sudah tak terlihat, senyuman manis menghiasi bibirnya. Ah, keluarga Kai begitu menerimanya dengan baik dan itu membuatnya bahagia –terkecuali untuk Chanyeol yang masih belum bisa Kyungsoo tebak apakah lelaki itu menyukainya menjadi bagian keluarga mereka atau tidak.
.
.
.
Pagi ini seperti biasanya, Kai akan menggandeng Kyungsoo dan mengantarkan gadisnya menuju kelas, meninggalkan pekikan iri para fansnya yang patah hati. Jika mereka masih sadar dimana batasan mereka, maka Kai tidak akan masalah, tapi jika mereka berani menyentuh Kyungsoo, maka tidak ada harapan hidup lagi untuk mereka.
Keduanya sampai di depan pintu kelas, Kai menatap Kyungsoo dan tersenyum kecil.
"Aku akan datang saat makan siang, oke?" Kyungsoo mengangguk-ngangguk, lantas melambai kecil pada kekasihnya sebelum memasuki kelas. Tinggallah kini Kai yang melangkah santai menuju kelasnya dengan kedua tangan masuk kedalam saku. Saat di lorong, kebetulan sekali dia berpapasan dengan Minhyun. Lelaki itu bejalan berlawanan arah dengannya, memasang wajah dingin dan melirik tajam padanya.
"Tunggu!" Kai berkata sesaat lelaki itu melewatinya. Keduanya menghentikan langkah, namun masih belum mau membalikkan badan. Mendadak suasana lorong itu menjadi dingin, tidak ada satu muridpun yang lewat dan angin berhembus cepat.
"Peringatan pertama untukmu Hwang Minhyun, Kyungsoo adalah milikku." Lelaki itu berkata dengan penuh ancaman, mengatakan kalimat akhirnya dengan begitu mutlak dan possesif, membuat Minhyun tertawa kecil.
"Belum sepenuhnya menjadi milikmu Kim." Balasnya, membalikkan badan menatap remeh pada Kai yang juga berbalik. Keduanya saling bertatapan dalam jarak tak kurang dari dua meter. Mereka tidak mengatakan apapun lagi, namun tatapan keduanya sudah cukup mengartikan segalanya.
Keinginan mempertahankan dan merebut.
"Seharusnya dari awal kau jangan mencampuri urusan orang lain, urusi saja dirimu dan bangsamu itu!"
"Siapa yang mencampuri urusanmu hm? Sedikitpun aku tidak peduli, aku hanya peduli pada Kyungsoo jika kau ingin tahu." Perkataan Minhyun begitu memancing emosi Kai, dalam sekejam mata lelaki itu berdiri didepan Minhyun, menarik kerah kemejanya dengan kasar dan kuat, penuh amarah. Sementara Minhyun nampak santai menghadapinya.
"Seharusnya Kyungsoo tahu bagaimana dirimu yang asli Hwang!" Geram Kai.
"Sayangnya dia tidak tahu Kim."
"Brengsek! Apa kau mau mati?" Kai mengangkat tangan kanannya, bersiap memukul lelaki itu, namun seruan seseorang menghentikan.
"Kim Kai! Hwang Minhyun! Hentikan, apa yang kalian lakukan?" Kepala sekolah mereka, Kim Jongdae muncul dengan tiba-tiba, menatap keduanya dengan tajam.
"Kalian akan membuat keributan huh? Kai lepaskan dia." Perintahnya. Dengan kasar lelaki tan itu melepaskan cengkramannya, menatap tajam pada Minhyun dengan bola matanya yang merah pekat, namun detik berikutnya mata itu berubah lagi menjadi hitam, menggertak.
"Dia yang memulai saem." Minhyun membungkuk kecil pada Jongdae lalu menatap Kai masih dengan tawanya, tawa yang berbeda dengan yang selalu dia tunjukkan pada Kyungsoo.
"Aku permisi." Kemudian lelaki itu pergi, meninggalkan Kai dan Jongdae disana. Kepala sekolah itu menghela nafas, menatap putra sahabatnya yang terlihat menahan marah.
"Ada apa?"
"Dia terlalu mencampuri urusanku." Balasnya dengan mendesis kecil, dia lalu menatap Jongdae.
"Aku permisi, maaf merepotkanmu paman."
Jongdae tidak terkejut lagi begitu lelaki didepannya menghilang dalam sekejap mata, dia sudah terbiasa. Sambil menggeleng-geleng, pria itu membenarkan letak dasinya dan segera berlalu dari sana.
.
.
.
"Aku akan menemani Mom dan Dad ke pesta temannya." Kyungsoo mengatakan itu sambil memasang sebuah anting perak berbentuk segitiga di kedua telinganya, sedikit kehilangan fokus pada lelaki tan yang duduk diatas meja belajarnya.
"Apa boleh aku ikut?"
"Kau tidak memiliki undangannya."
"Aku bisa masuk dalam sekejap kesana."
Kyungsoo selesai memasang antingnya, lalu menatap kekasihnya dengan helaan nafas.
"Maksudmu kau akan berteleportasi? Ayolah, aku bersama Mom dan Dad." Gadis itu tidak habis fikir dibuatnya, ada apa sih dengan Kai? Dia kan hanya mengantar Kris dan Zizi, bukan untuk menemui pria lain, berlebihan sekali sih.
"Aku hanya khawatir kau akan di ganggu pria lain disana."
"Berlebihan sekali, kau cemburu ya?" Kai menaikkan sebelah alisnya. Tentu saja dia cemburu, kekasihnya akan pergi ke pesta dan dia khawatir akan ada lelaki lain yang tertarik padanya. Tidak, Kyungsoo terlihat sangat cantik malam ini.
"Gaunmu terlalu terbuka, aku tidak mau ada pria lain yang melihatnya." Kai bediri dibelakang Kyungsoo, menarik lepas ikatan rambut kekasihnya, membiarkan rambut panjangnya terurai dan menutupi punggungnya yang sedikit terbuka. Kyungsoo menghela nafas, memilih mengalah menghadapi sikap kekasihnya yang tiba-tiba possesif ini.
"Kai, bisa pakaikan kalungku?"
Kyungsoo menyerahkan sebuah kalung perak yang memiliki bentuk sama dengan antingnya, gadis itu lalu menarik rambutnya ke pundak sebelah kiri, membiarkan Kai memasangkan kalung itu ke lehernya.
"Kau cantik sekali," Bisik Kai sambil mengaitkan kalung perak tersebut, mengecup leher kekasihnya sekali dan mendapat pukulan di perut.
"Mesum," Ucap Kyungsoo kesal dengan wajah memerah yang malu. Kai terkekeh, lalu memeluk gadis bermata bulat itu dengan erat.
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," Balas Kyungsoo.
Ayolah, adegan yang terlalu dramatis bukan hanya untuk melepas kepergiannya ke pesta? Kyungsoo tidak tahu kenapa sikap Kai berubah lebih possesif padanya, dia tidak masalah sebenarnya, hanya sedikit terkejut. Tepatnya setelah dia dan Minhyun bicara empat mata, memaafkan lelaki itu dan berbagi pelukan, Kai selalu menjaganya setiap saat.
Pesta teman Kris di adakan di sebuah hotel mewah di tengah kota. Kyungsoo turun dari mobil dan mengikuti kedua orang tuanya memasuki hotel tempat pesta berlangsung, berkenalan dengan beberapa teman Kris dan mendapat pujian bahwa dia sangat cantik malam ini, sama seperti Zizi yang selalu menawan saat datang ke pesta.
'Ya, aku menikmati pestanya. Kue disini enak dan manis.'
Kyungsoo membalas pesan singkat yang Kai kirimkan beberapa menit yang lalu, bahkan dia sempat mengirim foto kue itu agar kekasihnya tersebut pecaya. Setelahnya Kyungsoo memutuskan berkeliling sementara orang tuanya memilih berdansa saat group music memainkan sebuah lagu klasik di tengah ruangan.
Hotel ini sangat besar, menarik minat Kyungsoo untuk melihat-lihat dan memotret tempat yang menurutnya bagus, seperti dinding dengan cat abstrak serta lukisan monalisa di sudut ruangan. Tanpa sadar gadis itu berkeliling cukup jauh dari tempat pesta, namun dia masih menatap sekitar dengan antusias dan tanpa sengaja menabrak seseorang.
Grep!
Orang yang tanpa sengaja dia tabrak memegangnya dengan begitu cepat, pegangan yang erat dan begitu dingin. Kyungsoo mendongak dan seketika jantungnya berdetak cepat. Lelaki didepannya ini–
"Maaf, aku tidak sengaja." Kyungsoo membungkuk kecil kemudian segera pergi dari sana tanpa menatap lelaki tersebut, dia berjalan secepat yang dia bisa ke tempat Kris dan Zizi. Jantungnya berdetak dan dia gelisah memikirkan feelingnya.
Tangan yang dingin, wajah pucat dan bola mata merah.
Kyungsoo terengah kecil saat dirasa posisinya sudah jauh dari lelaki tersebut, menarik nafas berkali-kali untuk menenangkan diri. Kekasihnya adalah seorang vampire dan mereka sudah bersama dalam kurun waktu yang tidak singkat, hal itu membuatnya dengan mudah dapat membedakan apakah seseorang itu manusia atau bukan. Dan lelaki tadi–
Kyungsoo cemas dan segera menemui orang tuanya untuk mengajaknya pulang, tidak menyadari bahwa lelaki yang ditabraknya tadi tengah berdiri di antara lalu lalang orang dengan pandangan datar, menatap focus pada sosok gadis di sebrang sana dengan mata hitamnya yang tajam. Saat dia menatap mata Kyungsoo, maka dengan mudah dia mampu membaca fikirannya.
Dan gadis itu mengetahui siapa jati dirinya.
"Menarik." Lelaki itu menggumam, kemudian berbalik melangkah ke arah kegelapan pesta tersebut dengan seringaian.
Well, Lee Hui menemukan sesuatu dan dia menginginkannya, jadi dia harus mendapatkan itu bagaimanapun caranya.
.
.
.
.
Tbc.
.
.
.
.
HAPPY NINI DAY!
