Disclaimer : demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura

Warning : OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan, tidak di ijinkan untuk mengcopy fic ini tanpa ijin dari author.

Catatan : cerita ini hanya fiksi belaka yang di karang-karang author, tidak bermaksud menyinggung apapun, sedikit menggabungkan iblis dan miko, tidak ada unsur buruk apapun dalam membuat cerita ini, hanya sekedar cerita bergendre supernatural-humor, berharap ini akan lucu, jika tidak lucu maka author kembali gagal membuat cerita humor.

.

.

! Don't Like Don't Read !

.

~ Gadis Kuil Dan Para Pengikutnya ~

.

Chapter 9

[ Iblis Kucing ]

.

.

"Apa kalian sudah dengar? Murid dari kelas 2.4 tiba-tiba tidak masuk."

"Gosipnya dia menjadi salah satu orang yang hilang."

"Benarkah?"

"Iya, kasus beberapa orang yang hilang dan tidak di temukan."

"Bahkan polisi belum bisa menangkap pelakunya."

"Kalian harus hati-hati jika sedang keluar."

Sakura cukup mendengar beberapa berita yang tengah beredar di sekolahnya, kasus orang hilang sudah terjadi pada salah satu murid di sekolahnya, semuanya semakin waspada dan tidak ada yang berani untuk berjalan sendirian.

"Lagi-lagi ada yang hilang." Ucap Temari, khawatir.

"Aku jadi takut untuk keluar." Ucap Tenten.

"Apa kita tidak bisa meminta tolong pada orang-orang di kuil?" Ucap Temari pada Sakura.

Eh? Orang-orang di kuil? Haa..~ sampai sekarang pun aku tidak punya informasi apa-apa tentang orang hilang, bagaimana pun juga para iblis itu berada di bawah kendaliku, mereka tidak akan melawan jika aku tidak memerintahnya.

"Aku rasa ini masih masalah polisi, kuil pun tidak berhak untuk mengusutnya, tapi jika ini ada sangkutannya dengan makhluk halus, aku bisa bertindak." Ucap Sakura.

"Kau benar, apa sih yang di lakukan para polisi itu sampai sekarang tidak ada titik terangnya, semuanya jadi semakin waspada." Cemas Tenten.

Semuanya sibuk bercerita kecuali Ino yang termenung, memikirkan hari minggu pergi bersama pria yang membuatnya jatuh hati.

"Ino melamun lagi." Bisik Temari.

"Dia benar-benar sedang jatuh cinta." Ucap Tenten.

Sakura mengangguk pelan, Ino pun tidak terusik dengan pembicaraan mereka, dia bahkan lupa jika dia pun hampir menjadi korban orang yang hilang.

.

.

Selesai dengan kegiatan sekolah, Sakura tidak langsung pulang, dia memanggil Kiba untuk pergi bersama, mencoba mengamati setiap tempat dimana beberapa orang hilang secara tiba-tiba, tidak ada yang bisa di ketahuinya, menemukan salah satu hantu yang berdiam diri di area itu, Sakura menatap sekitar, meminta Kiba untuk berdiri dekat hantu itu agar dia tidak di anggap aneh jika bicara pada tembok.

"Mereka memberi peringatan padaku, jika aku mengatakan hal ini, aku akan di musnahkan mereka, aku tidak ingin pergi, aku tidak mengganggu siapapun, aku hanya ingin berada dimana aku terakhir hidup." Ucap Hantu berwujud wanita, dia terlihat seperti pegawai kantoran, sebelumnya, dia tertabrak dia area situ dan yang menabraknya kabur begitu saja.

"Dasar bodoh, kau itu sudah mati, sebaiknya kau menghilang saja, cih merepotkan, kau lebih takut mereka?" Ucap Kiba, dia cukup kesal mendengar ucapan hantu itu.

"Kau sendiri makhluk aneh, wajahnya saja yang tampan tapi kelihatan bodoh, duniamu bukan di sini, kau saja yang pergi, aku ingin tetap disini!" Protes hantu itu.

"A-apa! Kau harus tahu aku ini pusaka miko yang memiliki kedudukan dari pada kalian." Ucap Kiba, tidak terima dengan ucapan hantu itu.

"Kiba jangan ribut." Ucap Sakura, beberapa orang melewati mereka dan berbisik jika pria itu terlihat aneh, dia marah pada tembok.

"Aku belum selesai." Ucap Kiba, emosinya cepat terpancing.

"Kita pulang." Ucap Sakura, tidak ingin malu, menarik Kiba menjauh dari area itu, Kiba hanya membuatnya malu.

Ketenangan yang mulai di dapat Sakura setelah mereka pergi, masih memikirkan ucapan hantu tadi, sepertinya memang benar, kemungkinan ada iblis jahat yang cukup kuat sampai-sampai Sakura tidak merasakan kehadiran mereka, kegiatan mereka sangat rapi dan juga tidak membuat seperti kerusakan atau apapun yang mencolok.

"Sakura, kita harus berjaga di beberapa tempat mulai malam ini, aku tidak begitu pandai memikirkan rencana, tapi aku rasa ini akan jauh lebih baik agar bisa memergoki mereka jika mencoba menghilang manusia lagi." Saran Kiba.

"Aku tidak masalah akan hal itu, sebaiknya kita bicarakan hal ini pada mereka, aku harap kasus ini akan segera selesai dan tidak ada lagi orang yang hilang." Ucap Sakura, segera mengambil tindakan, Sakura tidak ingin warga lainnya akan hilang, hal ini secara tidak langsung sudah menjadi kewajibannya sebagai miko di kota ini.

Berjalan pulang dan mulai membicarakan saran Kiba pada iblis lainnya. Semuanya setuju saja, beberapa hari ini mereka jarang bekerja atau melawan iblis jahat apapun, suasana kota terlalu damai namun terkesan aneh, seakan tertutupi akan sesuatu.

.

.

Pukul 01 : 00

Gaara yang masih belum kembali ke kuil utama ikut membantu, masing-masing dari mereka di tempatkan di beberapa tempat yang merupakan area sepi, sampai detik ini masih belum ada hal aneh yang terjadi. Sakura berjaga di area kuil, membaca beberapa mantra, dia berusaha memperkuat kota agar iblis jahat sekecil apapun bisa di rasakannya.

Terdiam sejenak, suasana begitu tenang seperti biasanya, angin berhembus perlahan, mereka semua tidak akan tidur hingga jam 4 pagi, Sakura terus berjaga meskipun dia sedikit mengantuk dan besoknya harus sekolah pagi.

Kelima iblis itu terus mengawasi tempat mereka berjaga, hanya mengamati beberapa hantu yang di lihat mereka, tidak ada hal aneh yang terjadi.

"Jadi kau sudah di sini selama 1000 tahun! Woooow...!" Teriak heboh Naruto, menjaga membuatnya bosan dan menemukan salah hantu berwujud kakek-kakek.

"Begitulah, aku sudah cukup lama berada di kota ini, kau bukan manusia juga yaa? Auramu berbeda." Ucap hantu itu.

"Tentu, aku ini iblis yang di panggil miko." Ucap Naruto.

"Oh, miko yaa, aku hanya sempat melihatnya di kuil, dia begitu cantik yaa." Ucap hantu itu, mengenang dirinya yang masih hidup.

"Benar-benar, tuanku itu sangat cantik, tapi dia sangat galak dan kuat." Ucap Naruto.

"Apa dia masih muda, itu sudah sangat lama sekali saat aku pun masih muda."

"Tunggu, sepertinya miko yang kakek maksud itu nenek Chiyo, yaa di sudah sangat tua sekali, sekarang cucunya yang menjadi miko." Jelas Naruto, hampir salah paham dengan ucapan kakek itu.

"Begitu rupanya, sudah di turunkan."

"Uhm.. apa kakek tidak merasakan ada hal aneh di sekitar sini? Seperti makhluk sepertiku tapi dia jahat." Ucap Naruto, mencoba mengorek informasi dari hantu itu.

"Aku sempat melihat makhluk sepertimu, aura kalian sama, tapi dia berwujud seperti laba-laba raksasa, dia membawa seorang manusia yang di balut dalam benang-benangnya." Jelas kakek itu.

"Apa? Apa kau melihatnya ke mana?"

"Dia tiba-tiba menghilang dan auranya pun tidak terasa sama sekali."

"Terima kasih informasinya." Ucap Naruto. bergegas meninggalkan tempat berjaganya dan berlari ke kuil, terbang di atas langit, dia tidak ingin tersesat seperti orang bodoh jika melewati jalur jalanan.

Sasuke, Gaara, Kiba, dan Sai bisa melihat Naruto yang tiba-tiba kembali ke kuil, sekarang belum saatnya kembali tapi Naruto pergi begitu saja. Kiba melompat dan terbang ke arah Naruto.

"Apa terjadi sesuatu?" Ucap Kiba.

"Aku menemukan sebuah informasi, aku akan mengatakannya pada Sakura." Ucap Naruto bergegas.

Setelah tiba di kuil, Naruto menyampaikan apa yang sudah di dengarnya, ucapan hantu itu lebih jelas dari pada hantu yang di temuinya saat siang tadi, meminta Naruto kembali untuk berjaga.

Tepat jam 4 pagi dan tidak terjadi apapun, Sakura meminta mereka kembali ke kuil, gadis ini pun tidak merasakan pergerakan apapun dari iblis jahat.

Menguap beberapa kali, dia lelah untuk melafalkan mantra dan terjaga hingga pagi, memilih untuk segera tidur, Sakura tidak ingin terlambat saat pagi.

.

.

.

.

.

Beberapa hari berlalu, akhir-akhir ini Sakura sering tertidur di kelas, setiap malamnya dia akan berjaga dengan para iblisnya untuk mencoba menangkap iblis jahat yang sudah berulah, tapi belum membuahkan hasil, Sakura masih tidak merasakan apapun dan juga orang hilang belum terdengar lagi beritanya, memikirkan jika iblis itu bisa menyadari apa yang di lakukan Sakura, mereka seakan mengawasi miko dan kuil.

"Lihatlah, lingkaran bawah matamu semakin menggelap." Tegur Ino.

"Aku tidak apa-apa." Ucap Sakura, masih setia membaringkan kepalanya di atas meja saat jam istirahat.

"Apa kau begadang?" Ucap Temari.

"Aku hanya mengawasi, berpikir jika hilang orang itu adalah perbuatan hantu jahat, tapi sepertinya bukan." Ucap Sakura, putus asa.

"Tugasmu semakin berat saja, maaf jika ucapanku membuatmu kepikiran, aku hanya memperkirakannya saja." Ucap Temari, merasa bersalah.

"Tidak apa-apa, aku pun penasaran." Ucap Sakura, sejujurnya dia sudah mendapat beberapa informasi dan membuatnya semakin ingin menangkap pelakunya, belum lagi dia sama sekali tidak mendapatkan informasi saat aura iblisnya tiba-tiba menghilang, mungkin semuanya berhubungan, Sakura masih harus mendapat informasi lain lagi.

.

.

.

.

.

.

Sebuah ruangan dimana Sakura pernah memanggil Sasuke untuk pertama kalinya, di dalam ruangan itu terdapat banyak buku-buku kuno yang di turunkan leluhurnya, beberapa rak terpajang dan buku-buku tertata rapi, semuanya terlihat bersih, Naruto, Kiba, Sai kadang akan bergantian membersihkan ruangan itu, mencoba mencari sebuah buku yang menjelaskan tentang keanehan yang di dapatnya saat aura Sai tiba-tiba menghilang, Sakura pun tidak mendapat informasi apa-apa, Sai tidak mengatakan sesuatu tentang dirinya yang dalam bahaya.

"Kau membaca apa?" Ucap Sasuke, ruangan ini cukup di sukainya, namun Sakura melarangnya untuk membaca buku kuno yang ada di ruangan ini, salah satunya bisa berakibat fatal pada iblis, beberapa tertuliskan mantra yang tidak di ketahui kegunaannya, bisa saja untuk bunuh diri.

"Aku masih penasaran saat aura Sai tiba-tiba menghilang." Ucap Sakura, melihat setiap catatan yang terdapat di dalam buku kuno itu.

Sasuke menghampiri tuannya dan duduk di sebelahnya, dia tidak akan melihat buku itu, hanya memperhatikan wajah tuannya yang sangat serius.

"Oh iya, kenapa kau bertanya tentang pemanggilan iblis waktu itu?" Ucap Sakura, tidak biasa Sasuke menanyakan hal semacam itu.

"Aku pikir kau memanggil iblis dengan mengetahui seperti apa iblisnya, aku ingin... Kau memanggil seorang iblis serigala, dia adalah kakakku." Ucap Sasuke.

Sakura menghentikan kegiatan membacanya dan menatap Sasuke, tujuan Sasuke untuk menanyakan hal itu hanya agar Sakura bisa memanggil kakaknya dengan menggunakan portal yang di buat Sakura.

"Sayang sekali aku tidak bisa melakukannya dan juga nenek sudah memperingatiku untuk tidak memanggil iblis lagi, aku akan terikat oleh kakakmu juga." Ucap Sakura.

"Aku harap dia masih hidup" Ucap Sasuke, raut wajahnya terlihat murung.

"Bahkan iblis pun memiliki saudara, aku sangat iri padamu." Ucap Sakura, sebagai anak tunggal di keluarga Haruno dan membuat Sakura kesepian.

"Kehidupan manusia jauh lebih baik, kau tidak bisa merasa iri pada kami yang hanya akan segara di bunuh." Ucap Sasuke.

Sakura terdiam, Sasuke pernah menceritakan sedikit tentang klannya yang cukup buruk, tidak ada yang bisa di banggakan selain keturunan elit yang gila akan kekuasaan, hal itu tidak menjamin apa-apa kehidupan seorang iblis akan baik-baik saja.

Menutup buku yang tengah di bacanya, Sakura tidak menemukan catatan apapun di sana.

"Apa semuanya sudah selesai membersihkan? Aku akan membuatkan makan siang." Ucap Sakura, beranjak dari ruangan itu.

"Semuanya sudah selesai membersihkan, tapi sejak tadi aku tidak melihat iblis kucing itu, dia menghilang tiba-tiba." Ucap Sasuke, dia tidak peduli, tapi Sakura perlu tahu keberadaan iblisnya.

"Sai? Apa dia pergi berkeliaran lagi? huff... apa dia perlu aku tegur dengan keras agar tidak seenaknya." Ucap Sakura, Sai selalu membangkang.

.

.

Sementara itu.

Di pusat perkotaan, seorang pria yang terlihat santai, lebih tepatnya terlihat amat sangat senang, kabur dari tugas bersih-bersihnya dan sekarang bersama seorang gadis dengan rambut gold palenya, wajah gadis itu cukup memerah, hari ini pria yang bernama Sai itu terlihat cukup tampan dengan baju kaos dan celana berbahan kainnya, Sakura tidak akan membelikan jins untuk mereka.

Tiba-tiba sebuah tangan menarik tangan Ino dan mendekapnya, gadis ini tidak menyadari jika dia hampir di tabrak oleh kendaraan, tatapannya hanya tertunduk dan terus memikirkan wajah Sai.

"Kau harus hati-hati, nona." Ucap Sai, lagi-lagi senyum manis itu akan terlihat.

Deg. Deg. Deg. Deg.

"Te-te-terima kasih." Ucap Ino, menarik pelan tangannya dari Sai, bukannya tidak suka jika tangannya di genggam tapi jantungnya sudah deg-degan cukup keras.

Sai menatap gadis itu, dia bisa membaca apapun di pikiran gadis itu, hanya ada wajahnya yang di lihatnya di dalam pikiran Ino, cukup membuatnya terhibur, tapi hal itu sudah terbiasa olehnya, setiap gadis yang di temuinya akan seperti itu, memikirkan dirinya dan wajahnya.

"Kita akan kemana?" Ucap Sai, mereka hanya berjalan-jalan dan belum menuju ke tempat manapun.

"Nonton, aku ingin kita pergi nonton bersama." Ucap Ino, di sampai lupa untuk menyusun rencana hari ini.

"Baiklah." Ucap Sai, dia selalu menerima apapun kemana pun dia di ajak.

.

.

Tidak jauh dari area yang di datangi Sai dan Ino, sebuah gedung, di pusat perkotaan, gedung yang di sewa, ada 10 lantai dan beberapa lantai sudah di tempati orang-orang, kecuali pada lantai 10, dia sana akan terlihat seperti area kantor biasa, tapi saat malam tiba, kantor itu akan berubah menjadi sarang iblis jahat.

Suasana masih siang, orang-orang terlihat sibuk hanya sebagai alibi, mereka bukan manusia sungguhan dan area di lantai 10 di pasang semacam kekkai oleh seorang wanita, cantik, tinggi, putih, dan pakaian hitamnya yang terlihat cukup seksi.

"Apa kita perlu bergerak lagi malam ini?" Ucap salah satu dari mereka.

"Tentu saja, kita akan menangkap manusia yang banyak." Ucap wanita itu.

"Tapi, iblis dari miko itu selalu berjaga dan kita tidak bisa melakukan apapun."

"Tenang saja, aku akan mengurus hal itu." Ucap wanita itu dan senyum licik terpampang di wajahnya.

"Baik, Mei-sama." Ucap mereka serempak.

Terumi Mei, seorang iblis jahat, dia cukup kuat, hampir setara dengan para iblis lagenda, selama ini dia menyembunyikan para mengikutinya dengan kekuatan kekkainya yang bisa memanipulasi wujud maupun keadaan iblis, dia bisa menggunakan kekuatan miko yang mirip, para iblisnya pun memiliki kekuatan untuk membuat area mereka sendiri agar tidak ketahuan jika sedang bergerak.

Para manusia itu di culik dan mereka di makan, hanya manusia yang membuat mereka kuat, tidak ada hal lain, makanan manusia tidak berarti apa-apa untuk mereka, para iblis ini di pimpin oleh Mei.

.

.

"Sai tiba-tiba pergi dan tidak menyelesaikan tugasnya." Ucap Naruto, dia cukup kesal dengan tugas Sai di berikan padanya.

"Tenanglah, aku rasa dia pun harus di buat patuh." Ucap Sakura, memastikan agar para iblisnya tetap aman, Sakura penasaran akan hal yang pernah terjadi pada Sai. "Kiba. Apa kau bisa mencium bau Sai?" Tanya Sakura, dia akan mencoba mencari iblis yang suka berkeliaran seenaknya itu.

"Tentu saja, aku bisa menciumnya bahkan dari sini, penciumanku cukup tajam, lagi pula baunya seperti berada di pusat kota." Ucap Sai.

"Baiklah, kita akan pergi mencarinya dan memintanya untuk tidak pergi begitu saja." Ucap Sakura, beranjak ke kamarnya untuk bersiap. "Dan selain Kiba, tidak ada yang boleh keluar dari kuil, Gaara, aku memberi perintah padamu untuk menjaga mereka semua." Lanjut Sakura, ucapannya cukup membuat Sasuke tidak senang, memberi perintah sepenuhnya pada Gaara, dia bukan iblis milik Sakura, sedikit tidak adil, Naruto memilih jalan aman, Gaara pun tidak buruk jika dia yang mengawasi hanya saja sikapnya cukup keras.

.

.

Berjalan-jalan di pusat kota, Kiba masih mencium bau Sai, mereka tiba di salah satu mall dan Kiba menunjuk sebuah bioskop.

"Kucing bodoh itu ada di dalam sana." Ucap Kiba.

"Apa? dia pergi sejauh ini dan untuk apa dia pergi nonton, apa dia sedang kencan?" Ucap Sakura.

"Kencan?" Kiba terlihat bingung.

"Semacam pergi jalan-jalan bersama lawan jenis."

"Aku mengerti, dia memang seperti itu, iblis penggoda yang doyan gadis cantik, mereka akan selalu menggoda, aku kasihan pada gadis itu, dia pasti sudah terpikat dan mau saja mengikuti ucapan kucing licik itu." Ucap Kiba.

"Kita akan memaksanya pulang, ayo masuk." Ucap Sakura, cukup kesal, Sai kabur dari tugasnya dan bersenang-senang atau menipu para gadis lagi. Sakura akan membuatnya lebih patuh dari sebelumnya.

Melirik ke sana dan kemari, mencoba mencari Sai, mereka tidak menemukannya, Kiba masih mengendus dan menunjuk salah satu ruangan, mereka sudah masuk dan filmnya sedang berjalan.

"Haa..~ ini percuma, kita harus menunggu mereka." Ucap Sakura, tidak ada pilihan lain, dia pun tidak berniat untuk nonton.

"Apa yang mereka lakukan di dalam?" Ucap Kiba, dia cukup penasaran.

"Nonton, ada layar lebih besar dari pada tv di rumah di dalamnya." Jelas Sakura.

Okey, hal ini semakin membuat Kiba benar-benar penasaran, dia ingin melihat apa yang di ucapkan Sakura itu, memasang puppy eyesnya untuk meluluhkan hati Sakura.

"Ini sungguh menyebalkan." Batin Sakura.

Pada akhirnya, mereka masuk ke ruangan yang sama dengan Sai, meskipun filmnya sudah di mulai beberapa menit yang lalu, Sakura tidak berniat untuk nonton filmnya, lagi pula itu gendre over romantis yang bukan selera Sakura, di sebelah Sakura sangat antusias menatap layar besar di hadapannya.

"I-ini tv yang sangat besar." Ucap Kiba, takjub.

"Shhhtt..! jangan berisik dan diamlah selama di dalam sini." Bisik Sakura pada Kiba agar dia tidak ribut. Kiba mengangguk tegas, seperti anjing yang patuh pada majikannya, dia menjadi tenang selama di dalam.

Beberapa deret bangku yang tidak jauh dari Sai, iblis itu bisa mencium bau Kiba dan juga bau majikannya, perasaannya jadi tidak enak, dia bisa di sambar petir sekarang juga jika Sakura mengetahuinya ada di sini dan kabur tanpa mengatakan apapun.

"Ke-kenapa tuan ada di sini? Ini gawat, apa aku kabur saja?" Batin Sai.

"Kau tidak apa-apa?" Bisik Ino, merasa ada yang aneh pada Sai, dia tiba-tiba jadi gelisah dan terlihat cemas, sejak tadi Ino hanya fokus memperhatikan Sai dari pada film yang sedang tayang.

"Aku tidak apa-apa." Bisik Sai, berusaha tenang, dia akan kabur sebelum film ini selesai.

"Apa filmnya membosankan?" Bisik Ino, merasa jika dia salah pilih untuk menonton, bertanya pada Sai, dia hanya mengatakan nonton apapun yang di sukai Ino, menghela napas, dia tidak tahu selera film Sai seperti apa.

"Tidak kok."

"Katakan saja, kita bisa keluar sekarang dan ke tempat lain, apa kita bisa makan di suatu tempat, aku akan mentraktirmu, anggap saja ini sebagai pengganti film yang membosankan."

"Aku sedikit tidak enak." Bohong Sai, sejujurnya dia sangat ingin menerima ajakan gadis itu.

"Tidak apa-apa, ayo kita pergi." Ucap Ino, berinisiatif untuk lebih dulu beranjak, menarik lengan Sai untuk keluar, kegiatannya terhenti, Sai menariknya untuk tetap duduk.

"Tunggu, kita harus berhati-hati saat keluar." Ucap Sai dan hanya membuat Ino bingung, dia seperti mengawasi area dimana Sakura dan Kiba duduk, merasa mereka fokus pada layar, Sai menarik Ino untuk berjalan perlahan dan berlari keluar saat sudah di depan pintu keluar. "Aku harap kita bisa ke tempat lain yang cukup jauh dari tempat ini." Lanjut Sai.

"Te-tempat yang jauh?" Ino menjadi semakin bingung, hari ini Sai terlihat aneh dan seakan dia takut terhadap sesuatu, masih memastikan sesuatu.

"Ah, maaf, aku terlalu berlebihan, kita ke tempat yang dimana saja kau suka." Sikapnya jadi berubah saat melihat tatapan Ino, Sai bisa membaca apapun dan gadis itu kebingungan, kembali menjadi pria yang sempurna dan tenang.

"Baiklah, kita makan daging saja, apa kau mau?" Tawar Ino.

"Daging? Oke, kita pergi sekarang." Ucap Sai senang, Ino mengajak untuk makan makanan favoritnya.

Beranjak meninggalkan bioskop, Ino akan mengajak Sai ke restoran yang berada di area lain.

Kembali pada Kiba dan Sakura, mereka keluar 30 menit sebelum film itu habis, saat ini Sakura semakin di buat malu oleh Kiba, dia duduk di lantai seperti anjing yang tengah kena marah oleh majikannya.

"Aku sudah katakan padamu untuk diam." Tegur Sakura, malu dan kesal, mengingat kembali apa yang di lakukan Kiba saat di dalam, dia berteriak 'Hajar saja dia!' saat si tokoh pria tidak melawan si toko antagonis, mereka memperebutkan seorang wanita, teriakannya cukup keras dan membuat penonton lain marah.

"Maafkan aku." Ucap Kiba, merasa sangat bersalah, dia mengabaikan ucapan majikannya, film itu membuatnya ikut emosi.

"Su-sudah, jangan duduk seperti itu." Ucap Sakura, menarik Kiba untuk berdiri, dia menjadi semakin malu, beberapa orang melihat mereka bertingkah aneh, pria yang berjongkok di lantai dan seorang gadis yang memarahinya. "Sekarang kita menunggu saja Sai keluar." Tambah Sakura.

"Baunya menjauh." Ucap Kiba, mengendus bau Sai yang tidak terasa di area itu lagi.

"Apa? Dia pergi?"

"Sejujurnya saat di dalam, hawa dingin mengganggu penciumanku." Ucap Kiba.

"Kau peka juga terhadap pendingin ruangan yaa, kalau begitu dia kemana?"

"Keluar dari bangunan ini, dia ke area lain, apa kita harus mengikutinya?" Ucap Kiba.

"Ini semakin membuatku kesal, aku akan menghukumnya lebih dari ini." Ucap Sakura, berjalan dengan wajah yang menyeramkan bagi penglihatan Kiba.

"Tu-tuan lebih seram saat ini, auranya pun menggelap, kau akan habis Sai."

Cukup jauh, mereka harus naik bus dan lagi Sakura akan mendapat keadaan yang familiar, Kiba mulai mabuk dan harus menahan diri di dalam bus, semuanya belum bisa membaur dengan keadaan itu, mereka benar-benar membenci kendaraan.

Bus berhenti, Kiba memperbaiki perasaannya saat di halte, dia akan merasa mual di dalam bus, Sakura mengelus perlahan punggung Kiba, merasa kasihan, Sasuke juga seperti itu.

"Saat pulang apa kita bisa terbang saja?" Ucap Kiba, dia tidak ingin naik benda bergerak aneh itu lagi.

"Baiklah, aku terserah saja." Ucap Sakura, tidak ingin Kiba mengamuk di dalam bus.

Kembali berjalan dan berhenti di salah satu restoran, Kiba mencium bau daging yang enak, restoran itu berada di seberang jalanan, Sakura mencoba melihat ke sana, melihat sosok yang sangat di kenalnya, Ino, dia berada di sana dan juga Sai, mereka duduk bersama.

"Apa-apaan ini?" Ucap Sakura, tidak percaya jika Ino akan pergi bersama Sai.

"Ada apa?" Ucap Kiba, dia bisa melihat Sai di sana, tapi Sakura tidak juga membiarkannya pergi untuk menarik paksa Sai pulang.

"Aku tidak tahu jika yang sering Ino bicarakan adalah Sai, kenapa mereka bisa bertemu, apa Sai yang menggoda Ino? Dia itu cepat sekali tertipu dengan wajah saja." Ucap Sakura.

"Aku sudah siap untuk menyeretnya pulang." Ucap Kiba.

"Tidak perlu, kita pulang." Ucap Sakura.

"Apa? Tapi kucing sialan itu?"

"Aku tidak bisa pergi ke sana."

"Apa karena ada teman tuan?"

Sakura tidak mengucapkan apapun, beranjak pergi dari sana, dia hanya tidak ingin melukai perasaan Ino, mengganggu hal yang ingin di lakukan Ino, dia akan terlihat seperti orang egois, bahkan tiba-tiba menarik Sai pulang itu adalah yang paling aneh, Ino akan mempertanyakan hal yang tidak masuk akal seperti itu, Sai bukan seseorang yang di anggap keluarga atau bahkan milik Sakura, secara teknis Sai memang milik Sakura, dia adalah iblis yang terikat dengan Sakura, namun bagi Ino itu adalah hal yang konyol dan aneh.

Kiba tidak mengerti dengan jalan pikiran tuannya, mengikuti perintah Sakura, mereka akan pulang, mendatangi area sepi, Kiba mengangkat Sakura ala bridal style dan meloncat terbang ke udara, menghilangkan keberadaannya yang berada di langit, Sakura terdiam, Kiba melihat tatapan aneh dari tuannya, setidaknya dia merasa lebih nyaman saat terbang di langit dari pada harus masuk ke dalam kendaraan.

.

.

Ino menikmati kencannya hari ini, Sai sangat pandai membuat kalimat yang memujinya, ini tidak baik untuk jantung, dia terus tersipu malu, yaah...semua sudah terbaca oleh Sai, dia jadi lebih mudah berbicara manis di hadapan gadis itu, selain makan, Ino meminta Sai untuk menemaninya berbelanja, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, hari sudah malam, sedikit kecewa saat Ino ingin memberikan sebuah gelang khusus laki-laki untuk Sai, dia tidak bisa menerima benda yang seakan terikat, sejak awal dia sudah terikat dengan Sakura dan hanya Sakura yang bisa memberinya benda seperti itu, gelang atau kalung, tapi untuk menyenangkan hati gadis itu, Sai menyimpannya sebagai hadiah meskipun tak di pakai.

"Terima kash untuk hari ini." Ucap Ino, senang.

"Aku juga berterima kasih, berjalan-jalan itu lebih menyenangkan dari pada melakukan tugas bersih-bersih, aku tidak keberatan jika pergi bersama seorang gadis, mereka juga selalu melakukan hal ini padaku." Ucap Sai dan terkekeh.

Ino terdiam, kata 'mereka' yang di ucapkan Sai tidak membuatnya senang.

"Mereka? siapa?" Tanya Ino, penasaran.

"Para gadis, mereka sepertimu, aku senang saat mereka mengajakku jalan-jalan." Ucap Sai, santai.

"Ja-jadi, apa mereka berkencan denganmu juga?"

"Kencan? Apa itu di sebut kencan? Mungkin." Ucap Sai, dia tidak menyadari dengan apa yang sudah di ucapkannya.

"Kau playboy ya!" Ucap Ino, dia jadi sedikit kesal setelah mendengar ucapan enteng seperti itu dari Sai.

"Playboy itu apa?" Ucap Sai polos.

"Eh? Dia tidak tahu playboy, padahal di ajak gadis begitu banyak dan mau saja, dia membuatku kecewa."

Sai bisa membaca pikiran gadis itu, terdiam sejenak, dia sudah salah bicara, mencoba memikirkan ucapan yang lain agar suasana hati gadis ini tidak berubah, dia mulai kesal dan akan marah pada Sai.

"Playboy itu pria yang menyukai banyak gadis, mereka akan memiliki lebih dari satu gadis." Jelas Ino, bibirnya bergetar dia bahkan berhenti untuk menatap Sai, menundukkan wajahnya.

"Aku hanya senang di ajak mereka, tapi bukan berarti aku seperti itu." Ucap Sai, berusaha untuk tidak salah paham.

"Apa mereka semuanya spesial untukmu?"

"Spesial? Hahahah, itu tidak mungkin." Ucap Sai.

"Benarkah? Jadi apa aku termasuk yang spesial untukmu?" Ceplos Ino dan segera menutup mulutnya. "Bu-bukan begitu, aku tidak bermaksud seperti itu, lu-lupakan!" Paniknya, wajahnya mulai merona.

Sai menatap gadis itu, wajahnya merona, ini membuat Sai terlihat senang, gadis yang unik, pikirannya terus di baca Sai, dia sadar jika gadis di hadapannya ini sangat menyukainya, lebih dari sekedar mengajaknya berjalan-jalan.

"Aku tidak pernah menganggap setiap gadis yang mengajakku itu spesial-" Ucapan Sai spontan membuat Ino tenang dan menatap serius ke arahnya. "-Sejujurnya hanya tuankulah yang menjadi manusia spesial, aku sangat menyukainya bahkan sejak awal dia memanggilku, gadis yang cantik dan kuat." Ucap Sai, dia menganggumi tuannya.

Deg.

Ino tidak bisa mengucap apa-apa lagi, Sai mengatakan dengan sangat jelas, meskipun kata 'tuan' itu tidak di pahaminya, tapi sepertinya Sai menyukai gadis lain dan gadis yang mengajaknya pergi tidak berarti apa-apa.

"Apa gadis itu begitu penting untukmu? Tanya Ino, tatapannya menjadi kelam, Sai melihat perubahan sikap Ino.

"Aku mohon, jangan katakan dia penting!"

Suara pikiran yang begitu jelas, Sai tengah menimbang-nimbang, apa yang akan terjadi jika dia mengatakan jika tuannya itu sangat penting, lagi pula Sakura memang penting untuknya, hanya Sakura yang bisa memerintahnya dan dia mendapat tempat tinggal dari Sakura.

"Ah, Dia sangat penting."

Terkejut, mata gadis itu membulat, tanpa sadar, Ino meneteskan air mata, dia tidak ingin mendengar hal itu.

"Kau tidak apa-apa? Kenapa menangis?" Ucap Sai, kebingungan akan perubahan yang drastis ini, wajah Ino tidak senang seperti tadi, dia terlihat sangat sedih dan seakan terpukul.

"Aku tidak apa-apa, sebaiknya aku pulang, dah, sampai di sini saja." Ucap Ino, menghapus air matanya dan berjalan lebih cepat meninggal Sai, sesak, dadanya terasa sesak mendengar ucapan dari pria yang mulai sangat di sukainya.

Sai menatap gadis itu, menghela napas, dia benar-benar salah berucap hal seperti itu, Ino sama sekali tidak menyukai ucapannya, tapi mengakhiri perasaan itu lebih cepat lebih baik, dia pun tidak memiliki perasaan yang sama dengan Ino. Memilih untuk pulang, langkahnya terhenti, dia merasakan aura iblis jahat di sekitar sini dan lagi area iblis jahat itu berada di tempat yang akan di lewati Ino, bergegas berlari mengejar Ino.

.

.

Tersentak kaget, Sakura merasakan aura Sai yang tiba-tiba menghilang lagi, berlari keluar rumah, Kiba, Naruto, Sasuke dan Gaara melihat tingkah Sakura yang tidak biasanya, dia tergesah-gesah keluar.

"Apa yang terjadi?" Ucap Naruto.

"Aku tidak tahu, tapi ada hal yang tidak beres." Ucap Kiba, berdiri dan seperti akan mengikuti Sakura. "Bau Sai tiba-tiba menghilang." Lanjut Kiba.

Mereka terkejut mendengar hal itu, semuanya berlarian mengikuti arah Sakura pergi, kecuali Naruto, dia di minta untuk menjaga area kuil.

"Kenapa aku tidak boleh ikut!" Protes Naruto.

"Karena kau cukup ceroboh dalam bertindak, kuil juga merupakan area yang perlu di lindungi juga." Ucap Sasuke.

"Aku tidak seperti itu! Ya... sudah, aku akan menjaga kuil." Ucap Naruto, pada akhirnya dia memang seperti itu, tidak ingin membuat Sakura ikut susah, Naruto menjadi penjaga kuil.

Mereka masih mengejar Sakura dari atas langit berhenti terbang dan turun tepat di arah Sakura berhenti.

"Kalian kenapa ke sini?" Ucap Sakura.

"Tidak apa-apa, Naruto menjaga kuil." Ucap Kiba.

"Baiklah, Kiba tolong cari bau Sai dimana dia terakhir sebelum menghilang." Ucap Sakura.

"Apa tuan merasakannya?" Ucap Kiba.

"Uhm, aura Sai menghilang." Raut wajah Sakura terlihat sangat cemas, sudah dua kali dia merasakan hal itu, iblisnya menghilang tanpa jejak.

"Begitu juga dengan baunya." Kiba pun penasaran, Sai seakan di telan bumi. "Ikut aku." Ucap Kiba, dia yang memimpin mencari bau Sai.

Berlari cukup jauh hingga tiba di sebuah jalan yang sangat sepi, dia ada orang yang berjalan di sana, sepi dan tak tampak ada iblis jahat.

"Kalian berpencar dan temukan sesuatu yang mencurigakan." Perintah Sakura.

Ketiga iblis itu berpencar begitu juga Sakura, mereka mencari di seluruh area itu, berharap menemukan keberadaan Sai. Sudah sangat terlambat untuk mereka mencari Sai, saat ini dia sedang berada di gedung milik Mei, bahkan tidak bisa bergerak sedikit pun, tubuhnya di ikat dengan benang cakarnya pun tak mempan.

"Iblis yang cukup tampan yaa, aku tidak menyangka akan bertemu dengan makhluk sepertimu." Ucap Mei, menatap Sai, menyentuh pipi iblis yang berusaha berwajah tenang itu, dia tidak bisa melawan begitu banyak iblis kuat yang tiba-tiba muncul dan mengerumuninya, dia bahkan dia ancam dengan menggunakan Ino, gadis itu tidak sadarkan diri, dia seperti di balut sebuah benang dari iblis laba-laba.

"Kau juga begitu cantik, aku tidak menyangka akan bertemu iblis sepertimu, tapi bisakah kau melepaskan gadis itu, dia tidak ada gunanya." Ucap Sai, berhati-hati dalam situasi ini, Sakura bisa saja membunuhnya jika tahu salah satu temannya dalam bahaya, Sai lebih takut pada Sakura dari pada iblis wanita yang tengah menggodanya itu.

"Tidak-tidak, dia juga berguna, sebelum itu, aku menawarkan sesuatu untukmu, bergabunglah denganku, kau termaksud iblis yang kuat, tempat ini lebih nyaman dari sebuah kuil tua." Ucap Mei, dia ingin menjadikan Sai sebagai salah satu senjatanya.

"Bagaimana yaa... bisakah kau lepaskan gadis itu dulu, tenang saja, aku tidak akan lari, lagi pula iblis laba-laba milik sangat kuat, aku salut padanya." Ucap Sai dan tersenyum manis seperti biasanya.

"Kau cukup keras kepala, apa manusia itu penting untukmu? Dia akan ku jadikan makan kita, aku yakin kau pun sudah tidak lama makan manusia bukan? mereka lebih enak loh." Mei terus menggodanya.

"Tidak ada manusia yang penting untukku, lagi pula aku tidak menyukai makan manusia, mereka itu banyak lemak dari pada daging. Aku lebih suka steak." Ucap Sai, masih tenang, tidak berharap banyak jika teman-temannya akan datang menolongnya, yang terpenting adalah dia bisa menyelamatkan Ino.

"Kau benar juga, tapi hanya mereka yang bisa memberikan energi untukku."

"Ayolah, kau sudah cantik dan seksi, tidak perlu makan gadis yang kurusan itu, lepaskan saja dia." Ucap Sai.

"Ahh..~ kau terlalu memuji, baiklah, ini demi dirimu. Lepaskan gadis itu, kita akan mencari mangsa yang lain." Ucap Mei, dia termakan ucapan Sai.

Para iblis milik Mei mengikuti ucapan ratunya, melepaskan gadis itu, sementara Mei sibuk, Sai sudah di lepaskan, iblis itu menempelkan beberapa bulu dari tubuhnya pada Ino, dia ingin Kiba mencium bau miliknya itu.

Mei merasa puas untuk hari ini, dia mendapat hal yang lebih baik dari sebuah mangsa, iblis milik miko.

"Boleh aku bermanja di pangkuanmu?" Ucap Sai, hanya mencoba pura-pura menerima tawaran Mei.

"Tentu saja, kemarilah." Ucap Mei.

Sai berubah menjadi wujud aslinya, Mei jadi jatuh hati akan wujud asli Sai, memangkunya dan mengelus perlahan bulu kucing itu.

"Jangan lupa bawakan aku mangsa lain." Ucap Mei.

Para iblisnya mulai bergerak, Sai terlihat menyamakan diri, berpura-pura pun membuatnya kesusahan, bau Mei seperti bau bangkai busuk, sudah terlalu banyak manusia yang di makannya, dia akan bertahan sementara waktu.

.

.

Sebuah portal terbuka, iblis laba-laba itu menaruh Ino di kursi taman, sebelum pergi, kaki-kakinya di tahan oleh seseorang, terkejut dengan iblis anjing dalam wujud manusia menahannya.

"Mau pergi kemana kau iblis sialan." Ucap Kiba, ucapan yang tenang tapi wajahnya sangat kesal. Kiba menarik Iblis itu keluar dari portal yang bukanya.

"Kekkai!"

Iblis laba-laba itu tidak bergerak, pergerakannya di kunci oleh Sakura.

"Jadi apa dia pelakunya? Dimana kau menyembunyikan Kucing itu!" Teriak Kiba.

Sakura berlari menghampiri Ino, dia sangat khawatir saat melihat gadis yang di bawa iblis itu.

"Syukurlah, dia baik-baik." Ucap Sakura setelah memastikan Ino tidak apa-apa, dia hanya pingsan. "Gaara, tolong bawa pulang dia, kau lebih cepat untuk membawanya." Sakura meminta Gaara untuk menggunakan kekuatannya untuk memindahkan Ino.

Iblis rakun itu mengangguk, memegang lengan Ino dan mereka menghilang cepat kilat, Gaara sudah membawanya dan kembali dengan cepat. Sementara iblis yang di tahan Sakura masih tidak bisa bergerak, kekuatannya lebih lemah dari miko.

"Apa kita cincang saja dia?" Ucap Kiba, dia sudah gatal ingin menghancurkan iblis itu.

"Tenanglah, kita tidak bisa mendapat informasi apa-apa jika kau langsung membunuhnya." Ucap Sasuke.

Sakura melepaskan kekkainya setengah, Iblis itu hanya bisa bergerak pada kepalanya.

"Katakan dimana iblis kucing yang kau bawa." Ucap Kiba.

"Ba-bagaimana kau bisa menyadari keberadaanku." Ucap iblis itu, dia sudah berhati-hati seperti biasanya, tapi baru kali ini di kedapatan.

"Dasar bodoh, apa kau tahu, aku bisa mencium bulu kucing mesum itu dari tubuh gadis itu, aku pikir dia sudah melakukan hal yang aneh-aneh, tapi dia hanya berusaha membuatku menemukanmu, jadi ayo cepat katakan dia dimana kalau tidak kau akan pergi tanpa kaki-kakimu." Ancam Kiba menatap tajam ke arah iblis yang sudah ketakutan itu, dia hanya sendiri dan tidak ada iblis lain yang bersamanya, jika mereka banyak mereka akan kuat.

Zraaass!

Kiba terkejut, sebuah petir segera menyambar kepala iblis itu, menatap ke belakang, dia melihat tatapan marah tuannya.

"Katakan, dimana Sai!" Ucap Sakura, dia terima dengan iblis miliknya di culik begitu saja.

"I-iblis kucing itu memilih bergabung dengan kami, kalian tidak perlu mencarinya!"

Zraaass!

Zraaass!

"Sakura, tenanglah." Ucap Sasuke, Sakura hilang kendali, hanya aura marah yang menyelimutinya.

"Kau berbohong!"

"Aku tidak berbohong, dia bergabung dengan kami dan sebagai balasannya kami harus membebaskan makanan kami." Ucap iblis itu.

Sakura terdiam, makanan yang di maksudkan mereka adalah Ino, Sai mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Ino.

"Kekkai!"

Zraaass!

Satu hantaran petir yang cukup kuat, iblis itu hangus, begitu kekkai di hilangkan tubuhnya menjadi butiran debu dan menghilang perlahan.

Sakura terduduk, dia menjadi lelah, Sasuke menahannya, Kiba melihat raut wajah Sakura, dia tidak terima dengan ucapan iblis jahat itu, bagaimana bisa Sai bergabung dengan mereka.

"Kita harus pulang, kau harus memulihkan tenagamu." Ucap Sasuke.

"Tidak, kita harus mencari Sai." Tegas Sakura.

"Kita akan kalah, jangan keras kepala." Ucap Sasuke, segera mengangkat Sakura ala bridal style, meminta Kiba dan Gaara yang sudah kembali untuk pulang ke kuil, mereka tidak ada persiapan untuk melawan sesuatu yang tidak di ketahui, bahkan dia mudah menyembunyikan aura jahatnya.

.

.

.

.

.

Hari yang cukup aneh, Sakura terlihat tidak bersemangat dan memilih banyak diam, Ino juga begitu, Temari dan Tenten memperhatikan mereka, keduanya seperti orang yang sedang patah hati.

Ino tidak mengingat apapun yang terjadi padanya, dia hanya mengingat ucapan Sai yang sudah menghancurkan perasaannya, sedangkan Sakura masih mencari cara untuk menyelamatkan Sai, tapi Sasuke melarangnya untuk bertindak gegabah, Gaara mengajukan diri untuk kembali ke kuil utama dan akan melaporkan hal aneh yang sedang terjadi di Konoha.

"Aku tidak tahu jika menyukai seseorang itu akan seperti ini jadinya." Ucap Tenten pada Temari, mereka berdua kebingungan untuk menghibur Sakura dan Ino.

"Hanya sebentar, setelah perasaan galau itu menghilang, mereka akan kembali seperti semula." Ucap Temari.

"Bagaimana setelah sepulang sekolah, kita karokean." Ucap Tenten, suasana yang buruk ini harus di perbaiki dengan menghibur diri.

"Aku ada banyak pekerjaan di kuil." Tolak Sakura.

"Aku harus pulang cepat." Tolak Ino.

"Mereka sungguh menyebalkan." Ucap Tenten, ajakannya di tolak mentah-mentah.

"Aku akan menemanimu." Tawar Temari.

"Rencananya aku ingin menghibur mereka." Ucap Tenten, kesal.

"Aku hanya ingin membantumu."

"mereka yang harus di bantu."

Suasananya semakin suram, Sakura dan Ino masih terdiam dan hanyut dalam pikiran masing-masing.

.

.

Sai menatap sekeliling ruangan yang di tempatinya, ada banyak orang, tapi itu bukan manusia, mereka iblis yang menyamar, Mei terlihat seperti seorang ketua yang duduk di kursi bagus, mereka memakai pakaian kantor, selayaknya pekerja.

"Penyamaran yang bagus." Ucap Sai, menatap ke jendela, sudah siang hari, mereka menutup segalanya dengan baik, Mei sangat handal menutupi bau seluruh iblis jahat yang berada di gedung ini, seakan ada kekkai yang melindungi gedung yang di pijakinya, bahkan baunya tidak tercium oleh Kiba.

"Tentu saja, aku ini iblis yang kuat loh." Ucap Mei. "Tapi kemarin membuatku kesal, aku rasa miko itu menemukan iblisku dan menghabisinya." Tatapan Mei menjadi marah, dia tidak bisa merasakan iblis yang mengikutinya seperti miko, tapi dia mendapat informasi di iblis yang melihat hal itu, iblis laba-laba sudah di musnahkan.

Sai tersenyum, iblis lemah tak akan bisa melawan Sakura, dia termasuk miko yang kuat juga.

"Jadi apa yang aku harus lakukan di sini, sangat bosan, aku ingin keluar jalan-jalan." Ucap Sai, dia bosan dengan bau busuk dan aura jahat yang ada di sekitarnya.

"Baik, kita akan keluar bersama, kau suka berjalan-jalan kan." Ucap Mei, mengajak Sai.

"Tentu saja, aku suka di ajak jalan-jalan apalagi dengan seorang wanita cantik sepertimu." Ucap Sai, meraih tangan Mei dan mencium punggung tangannya.

"Ouuh...~ kau manis seperti biasanya, baiklah, kita pergi sekarang."

"Boleh aku meminta daging steak?" Pinta Sai.

"Kau bisa memakan apapun yang ingin kau mau." Ucap Mei.

Mereka beranjak dari ruangan itu, menuju lif, Sai merasakan di lantai bawah tidak ada iblis jahatnya, mereka semua manusia yang bekerja seperti biasanya, bahkan petugas keamanan yang membukakan pintunya adalah manusia, dia bisa mendengar semua ucapan para manusia itu.

"Bos keluar bersama pria tampan."

"Apa dia pacar barunya?"

"Bos Mei itu cantik dan sempurna, dia cocok dengan pria tampan manapun."

"Aku iri dengan bos Mei."

"Pria itu sangat tampan dan manis."

"Hey, kau memiliki begitu banyak pekerja manusia, kenapa tidak kau makan saja mereka?" Ucap Sai setelah mereka masuk keluar di gedung itu.

"Mereka bukan makanan, tapi pegawaiku, kau harus tahu, aku sudah berada di dunia manusia ini sejak lama, aku pun melakukan hal seperti yang manusia lakukan, mencari kertas-kertas yang berharga, untuk makanan kami akan mencari di tempat lain." Ucap Mei dan merangkul manja lengan Sai.

Iblis kucing itu semakin jijik dengan bau menusuk iblis jahat yang berada di sampingnya, berharap Kiba mencium baunya, tapi sepertinya jika berada dekat dengan Mei baunya tertutupi, Kiba tidak bisa merasakan kehadiran Sai.

Sai tidak ingin naik kendaraan dan meminta Mei untuk mendatangi tempat yang dekat saja, dia sudah kelaparan dan tidak ingin memakan manusia. Tidak jauh dari tempat Sai dan Mei berjalan, Ino bisa melihat Sai dan seorang wanita yang terlihat lebih tua darinya dan juga Sai.

"Sai? Apa wanita itu yang spesial untuknya? Sai ternyata menyukai wanita yang lebih tua, dia bahkan terkesan seperti tante-tante."

Perasaannya semakin terluka, wanita itu begitu erat merangkul lengan Sai dan mereka berjalan bersama sambil berbicara santai, Sai akan tampak tersenyum manis menanggapi ucapan wanita di sebelahnya, tidak ada harapan untuknya, berjalan lebih cepat, dia tidak ingin melihat hal itu, wajahnya memanas, Ino menahan diri untuk tidak menangis, cukup banyak orang yang akan melihatnya.

Langkah Sai terhenti, dia merasakan aura Ino, berbalik dan tidak menemukan apapun, bernapas lega, Mei menepati ucapannya, Ino di bebaskan, tapi iblis laba-laba itu menjadi incaran Kiba dan di hancurkan Sakura, sebuah senyum di wajahnya, dia akan menjalankan apapun rencananya.

.

.

Di kuil.

Setelah pulang dari sekolah, Sakura mengurung diri, dia terlihat tidak bersemangat, semuanya iblisnya berkumpul di tempat favoritnya, Gaara belum kembali sejak pagi setelah dia pergi ke kuil utama.

"Sakura menjadi cemas dengan keadaan Sai." Ucap Naruto, dia menyadari perubahan sikap tuannya.

"Cih, aku tidak peduli dengan kucing bodoh, mesum dan sialan itu, dia hanya membuat tuan kita kesusahan, untuk apa dia bergabung dengan iblis jahat, dia sudah terikat dengan miko dan menjadi senjata untuk seorang miko, dia benar-benar tidak tahu malu, aahkk! Ini membuatku semakin kesal, jika aku berhasil menemukannya akan ku patahkan lehernya dan ku cabut bulu-bulu yang selalu di banggakannya itu." Kesal Kiba, dia hanya mengomel-ngomel sepanjang hari.

Sasuke berpikir untuk mencari rencana, tapi tidak ada yang bisa di lakukannya sebelum Gaara kembali, mereka butuh bantuan para tetua, iblis yang satu ini pun sulit di tangani Sakura.

Deg.

Perasaan sesak tiba-tiba menyelimuti ketiganya, berlari keluar ruang tengah dan mencari Sakura, hanya itu yang terpikirkan oleh mereka, membuka pintu kamar Sakura, tuannya terbaring dengan menahan rasa sakit, tangannya terus menggenggam dada kirinya.

"Sakura!" Teriak ketiganya, menghampiri Sakura, memastikan apa yang terjadi pada tuannya.

"Te-tenang saja, aku tidak apa-apa." Ucap Sakura, tubuhnya gemetaran, dia jelas-jelas menahan rasa sakit.

"Apa yang terjadi? Ada apa denganmu?" Ucap Naruto, mereka sangat khawatir melihat keadaan Sakura.

"Kau tidak bisa berbohong, kami pun merasakannya." Ucap Kiba, dada mereka semakin sesak.

"Bukankah ini pernah terjadi?" Ucap Naruto, mengingat kembali peristiwa saat Kiba dalam masalah.

"Iblis yang panggil miko tidak bisa membuat kontrak baru dengan iblis lainnya, hal ini berdampak pada miko itu sendiri, dia akan mendapat kesakitan dari iblisnya yang berubah menjadi iblis jahat." Jelas seseorang.

Ketiganya menoleh dan mendapati Gaara kembali dengan membawa seorang tetua, dia bukan majikan Gaara, Biwako Sarutobi. Tetua ke-3 ini mengambil alih untuk masalah yang sedang di terjadi di Konoha.

"Apa?" Mereka terkejut mendengar penjelasan Biwako.

"Iblis itu harus segera kembali pada tuannya, jika dia menjadi penyebab rasa sakit untuk miko, dia harus dia musnahkan agar kontrak itu menghilang dan menyelamatkan Sakura." Ucap Biwako, ini masalah yang cukup serius.

"Sial, Sai benar-benar keterlaluan." Ucap Kiba, dia sangat marah saat ini.

"Kita harus segera mencarinya." Ucap Naruto, dia pun akan memberi pelajaran pada Sai.

"Kalian harus tenang, dalam situasi seperti kalian tidak boleh bertindak tanpa perintah Sakura, dia akan semakin kesulitan mengendalikan kalian. Aku akan berada di sini dan menjamin apapun, iblis anjing dan rubah, keluarlah, kau juga iblis rakun." Ucap Biwako, meminta semuanya kecuali Sasuke keluar dari kamar Sakura.

"Bagaimana dengan Sasuke?" Ucap Naruto.

"Ada hal yang perlu ku bicarakan dengannya." Ucap Biwako.

Ketiga iblis itu keluar dan pintu di tutup. Biwako tidak mengucapkan apapun, tapi dia seperti meminta Sasuke untuk menyembuhkan Sakura sementara waktu, meredam rasa sakitnya sebelum jauh lebih parah, Sasuke melakukan hal itu, dia tidak tahu jika tetua ini pun menyembunyikan kelebihannya.

"Aku begitu dekat dengan Chiyo, dia sudah mengatakan apapun padaku tentang kalian, terutama kau, iblis serigala." Ucap Biwako dan menghilang rasa penasaran Sasuke.

Sakura menutup matanya, dia tidak sadarkan diri akibat rasa sakit itu, raut wajahnya mulai berubah dia menjadi tenang dan tangan yang memegang dada kirinya terlepas, Sakura tidak merasakan apa-apa lagi.

"Malam ini, kita akan melakukan perlawanan." Ucap Biwako.

Kiba dan Naruto yang menguping mengangguk pasti, mereka ingin cepat-cepat melawan iblis jahat itu dan ingin menghajar Sai.

.

.

TBC

.

.


halo-halo... author kangen buat fic, lama banget akhirnya update juga, author nggak PHP yaa, cuma udah mulai kurang waktu kosong untuk mengetik fic... ficnya di update berurutan yaaa, semoga, update yang ini dulu, berikutnya tomato, haaa...~ butuh waktu lebih dari 24 jam Xd

sebelumnya author ingin berterima kasih banyak bagi reader yang masih setia membaca fic ini, berangsur-angsur menjadi nggak humor lagi... *guling2* author memang payah dalam membuat fic bergendre humor atau komedi.

sekali lagi terima kasih atas reviewnya.

fic ini masih sangat panjang, nyesal buat fic ini, = tapi menikmati setiap pembuatan alurnya. *nggak konsisten*

okey,

See you next chapter. berusaha untuk tetap update di sela kesibukan.