Moshi-moshi, minna! Whaaa...! Author kangen sama readers *ditimpuk* Gomen ne kelamaan update, author kan harus ikut UKK. Ok, silahkan baca, basa-basinya dilanjutkan setelah membaca saja! XD

Vocaloid © Crypton, Yamaha

I Love You 'By The Cake' © Chang Mui Lie

WARNING: GAJE, OOC, TYPO, KEPO, OOT, GA-NYAM, DLL

AUTHOR NOTE:

1. Marga Rin berubah menjadi 'Kagaku' dan marga Lenka berubah menjadi 'Kagashira'

2. Len dan Rinto menjadi saudara di fanfic ini

Good Reading & Good Review! ^^


Lenka POV

Teng...! Teng...! Teng...!

Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Aku segera memasukkan buku-buku dan peralatan tulisku.

"Lenka, pulang bareng, yuk!" ajak Len.

"Iya, arigatou" tolakku halus.

"Tapi kan aku pengen ke toko Rin, bareng-bareng saja. Kan lebih banyak lebih menyenangkan!" kata Len.

"Len-kun, kalau dia tidak mau jangan memaksa! Lagipula, siapa yang mau menerimanya di tokoku? Cih" kata Rin ketus.

Ups, kemarahanku naik.

"Huh, aku juga tak mau ke tokomu yang bersarang laba-laba itu!" balasku tanpa sadar.

Aku langsung berlari sebelum Rin membalasku lebih dari yang tadi. Perkataannya menusuk hatiku ini.

Len POV

Wah, bukannya berjalan lancar, malah jadi begini. Ternyata kalau sepasang sahabat bertengkar, dahsyat juga pertengkarannya. Miku! Semoga kau bisa berunding dengan Lenka diluar.

"Len, ayo pergi sekarang" ajak Rinto.

"Oke!" balasku.

Jujur, aku telah memberitahu kepada Rinto tentang rencana ini. Jadi, aku dan Rinto yang akan mengurus soal Rin sedangkan Miku dan Kaito yang akan mengurus tentang Lenka.

Miku POV

Sesuai rencana Len, aku dan Kaito menunggu diluar gerbang sekolah. Bagaimana pun juga, aku tak mau persahabatan aku, Lenka dan Rin sampai disini, jadi aku harus bisa membujuk Lenka! Ku lihat Lenka yang sudah melangkah keluar dari pintu sekolah.

"Lenka-chan!" panggilku.

"Huh? Ah, Miku-chan" ia segera berlari kecil ke arahku.

"Lenka-chan, ada yang ingin aku dan Kaito-kun bicarakan denganmu. Ayo ikut kami sebentar!" ajakku.

Aku menarik tangannya dan membawanya ke taman.

"Apa yang ingin kau bicarakan, Miku-chan?" tanya Lenka.

"Aku tau mungkin kau akan marah jika aku membicarakan topik ini denganmu. Tapi ini soal kau dan Rin-chan" kataku.

"Ah, aku tak ada apa-apa dengannya, sungguh! Aku pulang duᅳ"

"Matte!" potongku langsung menahan Lenka yang hendak pergi.

Lenka menoleh ke arahku dan menatap bingung.

"Dengarkanlah ceritaku dulu! Dan lagi, aku tau kau berbohong, Lenka-chan!" kataku.

Ia menghela nafas dan kembali duduk. Dan aku pun mulai bercerita.

"Lenka-chan, aku tau kok apa yang kau rasakan. Kalau kau tidak berbaikan dengan Rin-chan lagi, kau pasti tidak akan tahan! Kau duduk bersamanya dan akan sampai naik kelas! Apa kau tidak merasa tidak tahan?" tanyaku.

"Apa maksudmu, Miku-chan?!" tanya Lenka.

"Dengarkanlah Miku, Kagashira-san. Ini semua demi kebaikanmu juga, Menurutmu, apa itu sahabat?" tanya Kaito dengan lembut, tapi baka (#AUTHORdirajam).

"Um... Sahabat adalah tempat dimana kita bisa berbagi rasa?" jawab Lenka tidak yakin.

"Kau tau tidak, ketika kau membutuhkan seseorang untuk mengeluarkanmu dari perangkap, sahabat selalu berada disisimu untuk menolongmu. Juga, ketika sahabat membutuhkanmu ketika kau dan dia sedang bertengkar, sebenarnya dalam hatinya ia terus berteriak memanggil namamu. Hanya saja, kau tidak menyadarinya" kata Kaito.

'Tumben Kaito pintar, dapat dari mana tuh kalimatnya?' pikirku bakamodeon.

"Eh?" Lenka terlihat kaget sekaligus bingung.

"Apakah kau tidak ingat kalau Rin-chan adalah sahabatmu? Sahabat sejak SD" kata Kaito sambil tersenyum.

"Eh? Darimana kau tau?" tanya Lenka.

"Miku memberitahuku" jawab Kaito sambil menunjukku.

Lenka menatapku dan aku tersenyum lebar padanya. Namun, setelah itu raut muka Lenka berubah menjadi murung.

"DeᅳDemo... Apakah Rin-chan benar-benar merasakan hal seperti itu?" tanya Lenka.

"Dia pasti juga merasakan hal yang sama! Kagashira-san, kau tak boleh menyerah. Perbaikilah hubungan persahabatanmu dengan Kagaku-san. Kau tau, jika kau bertengkar dengannya, yang repot mungkin bukan hanya kau dan dia saja, tapi mungkin Kagamine-san juga" kata Kaito.

Lenka POV

Aku mendengarkan ucapan Kaito yang terdengar lembut. Ia berkata tentang persahabatan. Mungkin ia pernah mengalami hal yang sama denganku.

"SoᅳSokka, aku tau sekarang. Yang bersalah bukan dia, tapi aku. Dan juga..." aku menghadap Miku.

"Eh?" Miku dan Kaito penasaran+bingung dengan apa yang ku lakukan.

"Gomennasai, Miku-chan!" kataku.

"Eh?! Nande, Lenka-chan?!" tanya Miku kaget.

"Gomen.. karena saat itu aku memanggilmu dengan sebutan 'negi'.." jawabku.

"Ahh... Kau tau, waktu itu aku hanya bercanda. Dan aku.. juga mau minta maaf. Waktu itu aku bilang padamu dan Rin-chan 'twincest' dan 'yuri' kan? Padahal sebenarnya author yang yuri... (Author: WOI! SAYA KAGAK YURI!) Sebenarnya, waktu itu aku hanya akting. Hehehe..." kata Miku sambil menggaruk kepalanya.

"Oke! Aku akan berusaha meminta maaf pada Rin-chan sekarang! Aku yakin, aku pasti bisa!" kataku bangkit dengan penuh semangat.

"Ganbatte, Lenka-chan!" kata Miku.

"Iya. Arigatou, Miku-chan to Kaito-kun. Oh iya, ngomong-ngomong, Kaito-kun, kau panggil aku dengan nama kecilku saja" kataku sambil tersenyum.

"Baiklah kalau itu maumu.." kata Kaito.

Aku pun segera pergi ke toko kue Rin setelah berunding dengan Miku dan Kaito. Ah, rasanya amarahku dengan Rin sudah hilang. Dan perasaan deg-degan apakah Rin akan menerima perminta maafanku atau tidak muncul di hatiku.

Rin POV

"Huh, Lenka-chan itu tidak perlu dipedulikan" kataku ketus sambil meletakkan gelas-gelas dilemari.

"Tapi... Kau kan sudah bersahabat dengannya sejak dulu. Masa' persahabatan yang sudah sejauh itu mau disudahi.." kata Len.

"I don't care!" kataku.

"Hei, Rin, kau yakin tidak mau berbaikan dengan Lenka?" tanya Rinto.

"Tidak!" jawabku.

"Sekalipun dia meminta maaf padamu, kau yakin tidak akan memaafkannya?" tanya Len.

Aku terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan Rinto. Aku sendiri juga bingung, sih. Lagipula, sekarang aku tidak melihat Lenka berdiri dihadapanku untuk meminta maaf bukan?

"Ya... Itu tergantung bagaimana hatiku menghendaki" jawabku tidak yakin.

"Apakah kau pernah merasakan kehilangan orang yang sangat kau sayangi?" tanya Rinto.

"Huh?" aku menoleh ke arah Rinto dan menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Pernahkah kau merasakan kehilangan orang yang sangat kau sayangi?" ulang Rinto.

Aku masih punya orang tuaku di Hamamatsu, keluargaku yang lain di Fukuoka dan kakakku bekerja di Amerika. Mereka selalu mengirimiku kabar bahwa mereka baik-baik saja, walaupun aku tak tau keadaan yang sebenarnya. Saudaraku masih ada dan ojii-chan dan obaa-san-ku belum meninggal. Ku rasa aku tak pernah merasakan kehilangan seseorang yang ku sayangi. Tapi tentu saja aku tak mau hal itu terjadi!

"Kau tau... Tentang cerita soal saudaraku tadi pagi?" tanya Rinto.

"..." Aku menggeleng pelan.

"Aku lupa namanya, kau ingat, Len?" tanya Rinto.

"Hm... Ku rasa aku juga lupa" jawab Len.

"Huhh... Terserah. Dia adalah satu-satunya anak perempuan di keluarga Kagamine. Tapi karena pertengkaran orang tua kami, okaa-san embawanya pergi dan sampai sekarang aku tak melihatnya" kata Rinto.

"Tapi, tiba-tiba di hari perceraian antara okaa-san to otou-san, okaa-san mengalami kecelakaan sehingga perceraian itu dibatalkan. Sayangnya, ternyata okaa-san meninggal... Tapi, itu berarti kami dan saudara kami itu masih berhubungan sebagai saudara bukan?" ujar Len.

"Bagaimana pun juga, ikatan saudara tak akan pernah lepas atau hilang walaupun orang tua kalian sudah bercerai atau belum.." kataku.

"Di hari itulah, aku dan Len... um... menangis. Aku tak tau keadaan saudara perempuan kami saat itu, tapi yang jelas kami sedih karena harus kehilangan okaa-san dan saudaraku itu.." kata Rinto.

"Hahaha... Dan saat itu ada anak perempuan lain yang menghiburmu dan membuatmu tersenyum lagi. Aku lupa namanya, tapi kau sudah berjanji akan menikahinya bukan?" tanya Len sengaja menggoda Rinto.

Muka Rinto memanas saat itu. Aku tersenyum jahil.

"Ehh...? Rinto punya janji dengan gadis lain ketika kecil? Romantis sekali~" kataku ikut-ikutan menggodanya.

"Akh! Kalian semua diam!" kata Rinto yang langsung menutup mukanya.

"Hehehe... Gomen ne" kataku.

Ternyata Len dan Rinto telah kehilangan 2 orang yang sangat mereka sayangi. Ku rasa, selama hidupku berjalan, hanya Lenka dan Miku yang sering menyemangatiku kapan pun dan dimana pun aku berada.

Lenka sudah ku anggap seperti saudara kandungku sendiri! Aku sangat menyayanginya dan aku yakin Lenka juga berpikiran hal yang sama. Ia adalah bagian dari keluargaku juga, jadi aku tidak mungkin mau kehilangan dirinya. Aku harus meminta maaf padanya!

"Rinto-kun! Aku sadar sekarang, bagaimana pun juga, orang yang dekat dengan kita juga termasuk bagian dari keluarga kita! Aku mengerti sekarang! Arigatou, Rinto-kun, Len-kun!" ucapku sambil melepas celemekku.

"Kau mau kemana, Rin?" tanya Len.

"Aku akan meminta maaf pada Lenka-chan! Ku titipkan tokoku pada kalian dulu, ya!" kataku.

"Eh? Nani?!"

Aku segera pergi meninggalkan toko kue yang ku titipkan sementara pada Rinto dan Len. Aku... mau meminta maaf pada Lenka, walaupun mungkin ia tidak akan memaafkanku. Aku akan berusaha!

Normal POV

"Rin-chan!ᅳLenka-chan!" panggil Rin dan Lenka bersamaan secara tiba-tiba.

Di dekat trotoar, mereka pun bertemu. Mereka berdua saling ngos-ngosan karena berlari-lari.

"Huhh... Lenka-chan! Gomennasai..! Aku ini... seenaknya menuduh.. orang..." kata Rin.

"Aku juga... Gomennasai! Akulah yang bersalah... atas semua ini, Rin-chan.." kata Lenka.

Setelah napas mereka mulai teratur, mereka pun berdiri berhadapan.

"Lenka-chan... Maukah kau bersahabat kembali denganku? Aku sadar kalau ternyata sahabat itu adalah bagian dari keluargaku juga" kata Rin.

"Aku juga, Rin-chan. Rin-chan dan Miku-chan adalah sahabat terbaik dalam hidupku! Aku tak mau kehilangan kalian berdua. Dan sebaiknya, pertengkaran kita sudahi saja.." kata Lenka.

"Jadi, kita kembali bersahabat seperti dulu lagi, ya?" ujar Rin sambil mengulurkan jari kelingkingnya.

Melihat jari kelingking Rin, Lenka teringat akan masa lalunya. Namun, ia biarkan saja pikiran itu pergi dan membalas uluran jari kelingking Rin.

"Hai!" balas Lenka.

"Ehehehe..." Mereka pun tertawa dan tersenyum bersama.

Dan disaat itu, matahari terbenam dengan indahnya di hadapan mereka berdua. Mereka memandanginya bersama. Namun, tiba-tiba Rin teringat sesuatu.

"Ah, Lenka-chan, mau ke tokoku sebentar? Di sana ada Len-kun dan Rinto-kun. Aku menitipkan toko kueku padanya, aku jadi kasihan sama mereka yang ditinggal.. Ayo!" ajak Rin yang tersenyum sambil menarik Lenka.

"Iya!" balas Lenka.

Mereka berdua pun kembali bersahabat dan mendatangi toko kue Rin.

TBC

Gimana? Kayaknya pertengkarannya kurang, deh...

Nah, pas di trotoar bagian mereka berhadapan itu, aku ngerasa kok, Rin dan Lenka kayak yuri, deh.. XD #PLAKKED

Wkwkwk... Habis kayak mau ehem! ehem! Nyatain cinta gitu~

Kalau Lenka dan Rin yuri, Len dan Rinto yaoi aja kali, ya? XD *dilindes*

Haha, ga mungkinlah aku buat cerita kayak gitu

Ok, silahkan review~! XD