My Psychopath

SPECIAL CHAP: Flashback

.

WARNING: Seluruh chapter ini merupakan FLASHBACK dari para tokoh.

.

.

'Jika Tuhan memberikan waktu untukmu kembali ke masa lalu. Apa yang akan kau lakukan?

Mengatakan pada keluargaku bahwa aku mencintai mereka.'

.

.

Hoseok melangkahkan kaki kecilnya. Mata bulatnya memandang teman-teman sekolahnya yang asik bermain. Namun tidak ada satupun yang mau bermain dengannya.

Kemarin Hoseok tidak sengaja menusuk tikus yang mengganggu teman-temannya dikelas. Dia mencoba melindungi teman-temannya, namun gurunya justru memanggil orangtuanya dan membicarakan sesuatu yang tidak dimengertinya.

Pagi tadi Hoseok melihat para orang tua tidak mengijinkan anak mereka bermain dengan Hoseok. Apa yang salah dengannya? Kenapa orang-orang memandangnya seperti monster?

Tubuhnya terduduk dilantai dengan kaki yang dilipat didepan dadanya dan tangannya yang melingkupi tubuhnya. Kedua sudut bibirnya menukik kebawah, air matanya mengalir dan isakan kecil lolos dari bibirnya.

"Jangan menangis."

Kepalanya mendongak dan mendapati seorang temannya berdiri dihadapannya dengan tersenyum kecil. Hoseok mengusap pipinya yang basah menggunakan punggung tangannya.

"Kau tidak takut padaku?"

Temannya itu hanya mengangkat bahunya acuh, "Ibuku mengatakan aku hanya perlu takut pada Tuhan."

Hoseok tersenyum kecil. Ternyata masih ada satu orang yang mau berteman dengannya. Walaupun sebelumnya mereka tidak dekat, tapi sekarang dia lebih dulu mendekati Hoseok.

"Ayo bangun dan bermain bersama!"

Hoseok mengangguk dan bangkit dari duduknya. Tangan kecilnya mengepak belakang celananya yang sedikit kotor. Mata bulatnya berbinar menatap teman barunya.

"Terimakasih sudah mau menjadi temanku, Yoongi."

.

.

Hoseok berasal dari keluarga kaya raya. Kedua orangtuanya adalah seorang dokter dan itu membuatnya memiliki keinginan untuk menjadi dokter juga.

Namun sejak kasusnya di playgroup, orangtuanya tidak membiarkan Hoseok untuk bermimpi menjadi dokter.

Hoseok kecewa dan marah saat orang tuanya menjatuhkan mimpinya begitu saja, jadi dia membunuh kucing peliharaan ibunya.

Amarahnya selalu mereda setelah melihat darah dan membunuh apapun. Hoseok tertawa keras saat melihat darah mengotori tangan hingga pakaiannya. Ibunya yang barusaja pulang bekerja langsung berteriak histeris melihat keadaannya.

Sejak saat itu hidupnya berubah. Mulai hari itu ayah dan ibunya menitipkannya pada teman mereka yang merupakan seorang psikolog. Awalnya Hoseok marah, namun saat melihat Dokter itu mengajak anaknya juga ke Rumah Sakit, Hoseok menjadi senang. Anak seorang psikolog itu adalah Yoongi, satu-satunya teman yang dimiliki Hoseok.

Hoseok tidak pernah marah saat orangtuanya meninggalkannya dirumah sakit setiap jam sekolahnya sudah selesai. Bahkan terkadang Hoseok dan Yoongi akan pergi ke rumah sakit bersama-sama setelah pulang sekolah.

Mereka berteman dekat sampai diumur mereka yang ke-13 tahun. Saat itu Hoseok mengetahui jika orangtuanya akan pergi ke luar negeri, meninggalkannya sendiri.

"Sampai kapan eomma akan pergi?"

Ibunya mengusap kepalanya sayang dengan senyum keibuan yang terukir diwajahnya.

"Hanya sebentar sayang. Selama eomma dan appa tidak ada disini kau bisa minta bantuan pada orangtua Namjoon atau Ibunya Yoongi ya."

Kepalanya hanya mengangguk kecil. Hoseok tidak memikirkan apapun saat itu, yang dia tau hanya orangtuanya yang harus bekerja ke rumah sakit di luar negeri.

Namun semuanya berbeda, malam itu Hoseok menginap dirumah sakit bersama Yoongi. Temannya itu sudah terlelap dan Hoseok merasa lapar jadi dia memutuskan untuk keluar meminta makanan pada Ibu Yoongi.

Saat Hoseok sudah berada didepan pintu ruangan Ibu Yoongi yang sedikit terbuka, tubuhnya mematung. Hoseok mendengar suara Ibunya dan Ibu Yoongi yang sedang berdebat,

"Bagaimanapun dia anakmu, Jung-ah. Kau tidak bisa meninggalkannya begitu saja."

Hoseok melihat tangan ibunya menggenggam erat tangan Ibu Yoongi, pandangannya terlihat memohon.

"Aku mohon rawat dia disini, aku akan mengirimkanmu uang setiap bulan untuk biaya perawatannya. Kau tau kan, jika kepala Dokter mengetahui aku memiliki anak seorang psikopat maka jabatanku sebagai dokter akan diturunkan. Tolong mengertilah."

"Tapi bagaimanapun dia anakmu. Bagaimana bisa kau mendahulukan jabatanmu dibanding anakmu. Jika Hoseok mendengarnya, dia pasti terluka."

Ibunya terlihat tersenyum kecil, pandangannya berubah menjadi sendu.

"Aku mendapatkan jabatan ini begitu sulit. Aku tidak mau kehilangan jabatan ini. Tolong bantu aku."

Hoseok melihat ibu Yoongi tersenyum lalu mengangguk kecil. Tangannya mengepal kuat hingga buku jarinya memutih, Hoseok benci situasi seperti ini. Kakinya berlari meninggalkan tempat itu. Perasaannya seakan terkoyak dan darahnya terasa mendidih hingga ke ubun-ubun.

Kakinya berhenti berlari saat dirinya sudah berada di taman belakang rumah sakit. Bibirnya tersenyum kecil, kemudian berubah menjadi seringaian tajam. Kepalanya menengadah menatap langit malam tanpa bintang.

Tawa kecil mulai keluar dari bibirnya dan semakin lama menjadi tawa nyaring yang mengerikan memenuhi sepinya malam dengan air mata yang mengalir disudut matanya.

.

.

Tangannya yang menggenggam pisau terkepal kuat. Tangan lainnya mengetuk pintu dihadapannya pelan. Ini masih pukul dua pagi dan rumah sakit sudah cukup sepi karena para pasien dan perawat sedang beristirahat.

Baiklah. Jika itu yang mereka inginkan. Aku akan menunjukkan pada mereka seberapa psikopatnya aku.

Bibirnya terukir seringaian saat pintu didepannya mulai terbuka pelan menunjukkan figur wanita paruh baya didepannya. Sebelum wanita itu menyadari sepenuhnya, pisau yang sedari tadi dibawanya ditancapkan kebagian perut wanita itu.

Hoseok mendorong pisaunya semakin dalam hingga wanita itu memuntahkan darah dan mundur beberapa langkah. Hoseok melangkah masuk dan menutup pintu dibelakangnya dengan kaki.

"Dokter Min, maafkan aku."

Tangannya menarik lepas pisaunya, hingga wanita itu terhuyung dan bersimpuh dilantai. Wanita itu tersenyum kearahnya dengan tangan yang digunakan untuk menutupi luka diperutnya.

"Hoseok-ah, Bibi tau kau bukan anak yang seperti ini. Kau anak baik. Bisa kau panggilkan Dokter Shin sekarang? Bibi membutuhkannya."

Hoseok menggeleng. Rahangnya mengeras dan giginya bergerit.

"Aku memang anak yang seperti ini. Ibu menitipkanku padamu dan memilih jabatannya? Cih! Orang dewasa selalu menyusahkan."

Pisaunya kembali melayang dan menusuknya ke bahu Dokter Min. Wanita itu mengerang dan meringkuk kesakitan namun Hoseok tetap tidak berhenti.

Awalnya ia hanya ingin memberi wanita ini sedikit pelajaran, namun setelah menusuknya tadi Hoseok merasa sangat senang dan tidak bisa menghentikan pisaunya.

Hoseok tersenyum melihat tubuh wanita itu yang terbaring dihadapannya dengan darah yang begitu banyak mengalir dari seluruh bagian tubuhnya.

"Akhirnya emosiku mereda." ucapnya pelan

Tubuhnya berjongkok meneliti wajah Dokter Min yang benar-benar mirip dengan Yoongi. Jarinya memegang bola mata Dokter Min yang membelalak.

"Haruskah aku menyimpan bola matanya sebagai kenang-kenangan?"

Bibirnya kembali tersenyum dan jarinya mulai mencongkel bola mata wanita itu. Sedikit kesusahan namun akhirnya dia berhasil setelah memotong beberapa saraf menggunakan giginya.

Kepalanya menoleh cepat kearah pintu yang berderit pelan. Pintu itu terbuka dan tidak ada siapa-siapa disana. Hoseok menggeram, sepertinya ada yang mengintip kegiatannya tadi.

Hoseok tersenyum miris menatap Yoongi yang sama sekali tidak ingin menyentuh makanannya. Sudah 3 hari sejak Ibunya tewas dan membuat Yoongi mogok makan.

Seorang anak dengan boneka kelinci dalam pelukannya masuk ke kamar mereka. Hoseok kenal dengan anak ini, namun mereka tidak dekat. Hanya Yoongi yang dekat dengan anak itu, Jungkook.

"Yoongi hyung ayo makan denganku. Kookie tidak akan makan jika tidak makan bersamamu." cicitnya pelan

Yoongi menatap anak itu dengan mata yang sembab. Bibirnya tersenyum kecil kemudian mengangguk pelan.

"Kau sudah berapa lama tidak makan?" suara serak Yoongi menyapa setelah 3 hari dipendamnya.

"Aku tidak makan selama hyung tidak makan."

Yoongi menggeleng pelan lalu turun dari ranjangnya. Tangannya mengamit jemari Jungkook dan mulai melangkah keluar. Namun diambang pintu, Yoongi kembali berbalik menatap Hoseok.

"Ayo makan bersama, Hoseok-ah."

Hoseok menatap Yoongi sebentar kemudian beralih menatap Jungkook yang terlihat ketakutan. Sudut bibirnya terangkat, sepertinya dia menemukan siapa yang mengintip kemarin.

Hoseok sangat membenci Jungkook. Apapun yang dilakukan Jungkook membuatnya muak, karena hanya Jungkook. Hanya anak itu yang bisa meluluhkan sikap keras Yoongi.

Semua perawat sudah membujuk Yoongi untuk makan, namun dia hanya menggeleng. Namun saat Jungkook mengajaknya, Yoongi makan tanpa masalah. Begitupun hal lainnya, jika Jungkook yang meminta maka Yoongi akan lakukan.

Bibirnya mencebik melihat Yoongi yang sedang mengusap rambut Jungkook hingga anak itu tertidur. Hoseok merasa iri, Yoongi adalah satu-satunya teman baginya dan Jungkook merebutnya.

"Kenapa kau begitu menyayangi Jungkook?"

Yoongi menoleh kearahnya sebentar lalu kembali memandang Jungkook yang sudah terlelap.

"Ibuku selalu menceritakan tentangnya, dan Ibu selalu bilang agar aku menjaga dan melindungi Jungkook apapun yang terjadi. Jungkook sudah ku anggap sebagai saudaraku sendiri."

Hoseok membenci ini, dia benci melihat pandangan teduh Yoongi saat menatap Jungkook. Dia benci Yoongi yang dekat dan menyayangi orang lain. Hoseok benci Jungkook.

ooOOoo

Jungkook terbangun dari tidurnya saat merasa haus. Tangannya meraba-raba meja nakas disamping ranjangnya.

Huh, Perawat Kim lupa memberikan ku air lagi.

Dengan matanya yang masih setengah mengantuk, Jungkook turun dari ranjang dan berjalan keluar kamarnya.

Kepalanya menoleh kekanan dan kekiri saat menyadari tidak ada satupun perawat yang terlihat.

Sepertinya sudah tengah malam.

Kakinya kembali melangkah melewati koridor yang sedikit gelap dan sepi, hanya suara langkah kakinya yang terdengar. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang, bibirnya mengumpat kecil saat otaknya mulai membayangkan hal horror yang biasa di tontonnya dengan Yoongi.

Jungkook memutuskan untuk pergi ke ruangan Dokter Min untuk meminta air dibanding dengan pergi ke dapur yang berada diarea belakang rumah sakit sendirian.

Tangannya meraih tuas pintu dan mendorongnya pelan. Baru saja pintu itu terbuka sedikit Jungkook mendengar suara tusukkan. Kepalanya sedikit menyembul, menengok ke dalam ruangan Dokter Min.

Pupilnya melebar, mulutnya menganga tak percaya. Tangannya yang masih memegang tuas pintu sedikit bergetar takut.

Jungkook melihat seorang anak lelaki sedang menusuk-nusuk tubuh Dokter Min. Walaupun anak itu membelakanginya, namun Jungkook yakin dia adalah Hoseok, teman Yoongi hyungnya.

Tubuhnya kaku, tidak tau harus bertindak apa selanjutnya. Pupil matanya bergetar dan air matanya menetes saat melihat Dokter Min yang tergeletak dilantai dengan wajah menghadap kearahnya.

Dokter Min menatapnya dengan air mata yang mengalir disudut matanya. Kepalanya menggeleng kecil dan bibirnya mengucapkan kata 'pergi' tanpa suara.

Jungkook mengangguk kecil, dia selalu mengikuti kata-kata Dokter Min yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri. Jungkook melihat Hoseok menyentuh mata Dokter Min kemudian menancapkan kukunya disana seolah ingin mencongkelnya.

Tangannya terlepas pada tuas pintu dan menutup mulutnya yang hampir menjerit saat melihat Hoseok menarik bola mata Dokter Min dan menggigit sarafnya hingga terputus. Pintu sedikit demi sedikit berderit terbuka. Kakinya melangkah mundur lalu dengan cepat berlari berharap Hoseok tidak melihatnya.

Sejak malam itu Jungkook ketakutan setengah mati setiap melihat Hoseok, kejadian itu selalu terngiang di otaknya. Melihat Hoseok yang pura-pura peduli dengan kematian Dokter Min dan memberikan kalimat pendukung pada Yoongi membuat Jungkook marah, namun terlalu takut untuk melawan.

.

.

Jungkook hanya menunduk saat dua orang dewasa didepannya mulai bertanya macam-macam padanya. Mereka adalah detektif. Si wanita mengenalkan diri sebagai Detektif Han dan si pria Detektif Kim.

Mereka bilang sidik jari Jungkook tercetak jelas pada tuas pintu jadi mereka berharap Jungkook menjelaskan apa saja yang dilakukannya pada hari itu. Sekarang mereka bertiga berada dikamarnya untuk membicarakan masalah ini.

"Jangan terlalu merasa terbebani, sayang. Hanya ceritakan apa yang kau ingat saat itu, hm."

Wanita paruh baya itu mengelus rambutnya lembut. Bibirnya mengukir senyum tulus seperti senyuman Dokter Min.

"Walaupun ceritamu tidak bisa dijadikan bukti untuk pengadilan, tapi bisa membantu kita untuk penyelidikan." imbuhnya

Jungkook mengangguk pelan, "A-aku melihatnya. Ma-malam itu."

Suami-istri didepannya terlihat terkejut. Kini mereka memberikan atensi sepenuhnya pada Jungkook. Meminta Jungkook untuk melanjutkan ucapannya.

"Ho-Hoseok. Dia.." ucapnya takut-takut

Jungkook takut jika dia mengatakannya Hoseok akan melakukan sesuatu yang buruk pada Yoongi. Karena bagi Jungkook, Yoongi adalah orang yang paling berarti di hidupnya.

"Hoseok? Anak dokter Jung? Ada apa dengannya?"

Kepalanya mendongak menatap mata Detektif Han yang menatapnya lembut. Jadi mereka mengenal Hoseok? Jungkook meneguk ludahnya. Apa mereka akan percaya pada kata-kata Jungkook?

Kepalanya kembali menunduk, "Hoseok yang membunuh Dokter Min." ucapnya cepat

Detektif Han menakupkan wajah Jungkook dengan kedua tangannya dan menariknya sehingga Jungkook kembali menatap matanya.

"Kau yakin, sayang?"

Jungkook mengangguk kecil, "I-iya."

"Apa saja yang kau lihat saat itu?"

Jungkook meneguk ludahnya sebentar lalu menjelaskan apa saja yang dilihatnya tanpa ada yang tertinggal. Dia hanya berharap dua orang didepannya dapat menghentikan Hoseok bagaimanapun caranya.

Matanya membelalak saat melihat Hoseok berdiri diambang pintu. Bibirnya bergetar takut melihat tatapan tajam Hoseok. Detektif Han dan Detektif Kim mengikuti arah pandangnya dan sama terkejutnya sepertinya.

Detektif Kim mengehela nafas sebentar lalu berjalan mendekati Hoseok. Tangannya mengacak rambut Hoseok pelan.

"Kenapa kau bisa masuk kesini, jagoan?"

Hoseok tidak menjawabnya. Matanya hanya tertuju pada Jungkook yang kini meringkuk diatas tempat tidurnya.

"Hoseok-ah, mau bermain dengan paman?"

Kepalanya menengadah menatap paman Kim yang berdiri didepannya. Bibirnya tersenyum kecil lalu pandangannya kembali kearah Jungkook. Jari telunjuknya menunjuk Jungkook yang ketakutan.

"Aku ingin bermain dengannya."

Jungkook ingin menjerit saat itu juga. Dia benar-benar takut dan tidak tau harus bagaimana. Tangan Detektif Han terulur lalu menarik Jungkook kedalam pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.

"Jungkook sedang tidak ingin bermain sekarang, jadi bermain dengan paman saja ya."

Hoseok mengangguk, tangannya menutup pintu dibelakangnya kemudian menguncinya tanpa disadari oleh siapapun.

Kakinya melangkah kearah sofa dan tersenyum saat melihat pisau buah yang tergeletak di meja dekat sofa.

Tangannya terulur mengambil pisau itu dan menggenggamnya kuat. Matanya melihat satu persatu wajah dihadapannya yang terlihat terkejut.

"Hoseok-ah, bisa kau taruh pisaunya? Itu berbahaya."

Hoseok hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Detektif Kim. Matanya berkilat marah, tangannya menodongkan pisau itu kearah Jungkook.

"Jika kalian menangkapku, aku akan membunuh Jungkook dan ..." sudut bibirnya terangkat, "... Taehyung."

.

.

Setelah kejadian itu, Detektif Kim dan Detektif Han tidak pernah datang ke rumah sakit. Setiap Jungkook melihat Hoseok dia langsung pergi kekamarnya dan meringkuk di ranjangnya. Rasa takut itu tidak menghilang meski sudah satu bulan berlalu.

Malam ini Jungkook meminta Yoongi untuk tidur dikamarnya. Biasanya Yoongi akan tidur dikamar Hoseok karena lelaki itu mengaku tidak bisa tidur sendirian. Namun entah mengapa Jungkook benar-benar ingin Yoongi terus bersamanya seharian ini dan tidak membiarkan Yoongi menjauh darinya.

Satu tangan Yoongi terlentang untuk menjadi bantal kepala Jungkook dan tangan lainnya mengelus rambut Jungkook pelan. Bibirnya berdecak melihat adiknya yang belum juga tertidur.

"Tidurlah, Jeon."

Jungkook memeluk Yoongi semakin erat, entah rasa sangat senang saat Yoongi memilih memanggil marganya dibanding namanya. Matanya sedikit demi sedikit tertutup bersamaan dengan elusan tangan Yoongi yang semakin melambat.

Matanya yang masih terasa berat karena mengantuk harus terbuka paksa saat seseorang mengguncang tubuhnya. Punggung tangannya digunakan untuk mengucek matanya.

"Jungkookie sayang. Kau harus pergi sekarang."

Matanya terbuka lebar saat melihat Detektif Han yang duduk di tepi ranjangnya di tengah malam begini.

"Kenapa aku harus pergi?" tanyanya dengan suara serak

Detektif Han tersenyum kecil. Tangannya menangkupkan pipi gembil Jungkook.

"Jika Taehyung bertemu denganmu, dia pasti langsung menyukaimu. Kau sangat lucu dan wajahmu menggemaskan."

Dahinya mengernyit tidak mengerti, dan siapa lagi Taehyung itu? Ah- Hoseok pernah menyebutkan nama Taehyung sebelumnya.

"Sekarang kau dan Yoongi harus pulang ke rumahmu dulu, oke? Bibi sudah menghubungi orangtuamu tadi dan mereka sudah didepan untuk menjemputmu."

Jungkook semakin bingung, "Orangtuaku? Menjemputku?"

Detektif Han mengangguk, "Ayo bersiap-siap."

Jungkook hanya mengikuti perintah Detektif Han begitupun dengan Yoongi yang hanya menurut. Mereka bertiga berjalan beriringan ke depan rumah sakit dan benar saja, orangtua Jungkook berada disana.

Sebelum mobil mereka berangkat meninggalkan rumah sakit Jungkook samar-samar mendengar pembicaraan orangtuanya karena pendengarannya yang cukup tajam.

"Kalian sungguh akan menangkap anak psikopat itu?"

"Kami tidak menangkapnya untuk menghakimi Hoseok. Kami hanya ingin mengubahnya menjadi anak yang lebih baik, namun karena dia mengancam akan melukai Jungkook jadi kami harus menyelamatkan anak anda lebih dulu."

"Baiklah. Semoga kau baik-baik saja. Walaupun dia hanya anak berumur 13 tahun, tapi dia bisa membunuh siapapun."

"Pasti. Jungkook anak yang cukup penurut, tolong rawat anak itu dengan baik kelak dia akan menjadi anak yang lucu dan manis."

Setelahnya tidak ada pembicaraan apapun, tak berapa lama kemudian orangtuanya masuk ke mobil dan Detektif Han menengok ke arah jendela mobilnya.

"Jungkook-ah, tetaplah sehat. Nanti akan bibi kenalkan pada Taehyung. Kalian sebaya, jadi kau bisa berteman dengannya, call?"

Jungkook mengangguk semangat. Kepalanya sedikit dimajukan untuk mencium pipi Detektif itu. Bibir Detektif Han mengukirkan senyuman dan dengan gemas mengacak rambutnya.

ooOOoo

Taehyung kembali terbangun dari tidurnya untuk kesekian kalinya. Dengan malas Taehyung turun dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar kakaknya.

Tadi, sebelum dia tidur Ibu dan Ayahnya mengatakan akan pergi untuk penyelidikan lagi. Selalu seperti ini, mereka selalu ditinggalkan berdua di rumah sebesar ini.

Tangannya meraih tuas pintu dan mendorongnya dengan malas. Kakinya melangkah mendekati ranjang kakaknya dan merebahkan tubuhnya begitu saja. Setiap Taehyung tidak bisa tidur, kamar kakaknya akan menjadi tujuannya.

Namjoon menggeser tubuhnya sedikit agar Taehyung memiliki ruang lebih banyak. Tanpa membuka matanya pun Namjoon sudah tau siapa yang menempati ruang disebelahnya.

"Eomma dan Appa akan pulang sebentar lagi. Percaya pada hyung."

Taehyung hanya berdehem sebagai jawabannya. Namjoon selalu mengatakan itu setiap orangtua mereka pergi dan Taehyung sudah tau bahwa itu hanya kebohongan karena biasanya orangtua mereka akan datang keesokan harinya.

Taehyung membuka paksa matanya yang masih terasa berat saat mendengar suara tangisan dari ruang tamu. Kepalanya menoleh kesamping dan tidak menemukan Namjoon disana.

Dengan tergesa Taehyung melangkahkan kakinya keluar kamar dan menemukan Paman, Bibi dan Namjoon duduk disofa. Ada yang aneh, mereka bertiga terisak.

"Ada apa ini?"

Bibinya mendekatinya lalu memeluknya erat. Taehyung merasa ada sesuatu yang salah disini.

"Taehyung-ah, Eomma dan Appamu terbunuh saat melakukan penyelidikan."

Tubuhnya mematung. Bibirnya terbuka namun tidak dapat mengucapkan apapun. Matanya terasa panas dan pandangannya mulai mengabur.

Tiba-tiba perkataan ibunya kemarin terngiang ditelinganya.

'Taetae sekarang belajar dengan hyung dulu ya. Eomma dan appa harus pergi. Nanti eomma akan menemani Taetae belajar lagi, call?'

Seharusnya Taehyung tidak membiarkan ibunya pergi kemarin, seharusnya dia menahan ibunya dan merengek agar ibunya tetap disampingnya.

Airmatanya menetes, jadi mulai hari ini tidak akan ada suara lembut ibunya yang membangunkannya untuk pergi ke sekolah, menemaninya belajar, bahkan menyuapinya makan saat Taehyung merajuk.

Tidak akan ada suara keras ayahnya yang berteriak saat tim sepak bola kesukaannya menang, tidak ada yang menggendongnya dan memanggilnya jagoan setiap Taehyung mendapat peringkat satu, tidak ada yang bisa diajaknya bertengkar memperebutkan perhatian ibu.

Air matanya semakin menetes saat melihat kakaknya. Namjoon baru berumur 13 tahun dan setelah ini kakaknya pasti akan memikul beban berat. Kehidupan mereka, sekolah mereka, semua hal yang seharusnya diurus oleh orang dewasa kini akan menjadi beban kakaknya.

Bibirnya mulai terisak kecil, tangannya mengepal kuat. Hanya karena penyelidikan bodoh seperti ini, mereka harus kehilangan orang tua. Taehyung tidak akan memaafkan siapapun yang melakukan hal ini kepada orangtuanya.

Tangannya meremat rambutnya keras. Tubuhnya berjongkok dengan kepala yang menunduk dalam. Isakannya semakin keras dan airmata terus mengalir.

"ARRGGHHH"

Taehyung berteriak keras. Tangannya mengambil apapun yang ada didepannya dan melemparnya ke lantai. Paman dan bibinya bahkan Namjoon berusaha untuk menenangkannya, namun tidak berhasil. Sehingga pamannya harus memanggil Dokter untuk menyuntikkan obat penenang di tubuh Taehyung.

Sejak saat itu, emosi Taehyung menjadi tidak terkendali. Saat dia marah tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya. Tidak ada yang bisa menyalahkan sikap Taehyung, karena siapapun mungkin akan seperti itu bila berada diposisinya.

.

.

Namjoon mengangguk kecil lalu kembali mengusap air matanya. Temannya, Hoseok terus berusaha menenangkannya. Bahkan sejak pemakaman orangtuanya, Hoseok selalu berada disampingnya seolah menjadi benteng untuknya.

Mereka memang berteman sudah cukup lama, karena mereka adalah tetangga. Walau sebelumnya mereka tidak terlalu dekat, namun sekarang mereka cukup akrab.

"Bagaimana, Namjoon-ah?"

Kepalanya menengadah menatap ibu Hoseok yang menatapnya lembut. Orangtua Hoseok menyarankan untuk merawat adiknya di rumah sakit teman mereka, walau temannya baru saja tewas dan orangtuanya juga tewas disana. Namun hanya itu satu-satunya pilihan mereka saat ini.

Namjoon mengangguk kecil, "Tapi apa Taehyung akan baik-baik saja disana?"

"Hoseok sebelumnya pernah dirawat disana. Banyak anak sebaya Taehyung juga dirawat jadi Taehyung akan memiliki banyak teman disana."

Namjoon kembali mengangguk, "Aku akan bicarakan dengan Taehyung nanti."

.

.

Taehyung hanya memandang kosong gedung didepannya. Dua hari yang lalu kakaknya membicarakan akan menitipkannya di rumah sakit selama liburan semester ini dan Taehyung hanya menyetujuinya. Bukan karena Taehyung malas berurusan dengan kakaknya, tapi dia tidak mau membuat masalah dan menjadi beban bagi kakaknya.

Semua perawat bahkan pasien disana menyapanya ramah. Seorang anak berkulit pucat mendekatinya dan tersenyum ramah, bahkan wajahnya terlihat dingin.

"Aku Yoongi. Aku sudah membaca profil mu dan ternyata kau lebih muda dariku, jadi panggil aku hyung, oke?"

Taehyung hanya mengangguk, sejak orang tua mereka meninggal sebulan yang lalu Taehyung enggan bicara pada siapapun. Perasaannya semakin terluka saat dia bicara jadi Taehyung memutuskan untuk diam.

Yoongi mengantarkannya mengelilingi rumah sakit dan menyapa beberapa pasien. Taehyung bahkan tidak menggubris satupun kalimat Yoongi, namun lelaki itu tetap tersenyum dan melanjutkan percakapan sepihaknya.

Ternyata Yoongi adalah anak dari pemilik rumah sakit ini, Dokter yang baru-baru ini tewas. Jadi Yoongi yang masih berumur sebaya kakaknya harus mulai belajar mengurus semua keperluan rumah sakit meski sudah dibantu oleh dokter lainnya.

Saat mereka memasuki kamarnya, Yoongi dengan semangat menceritakan teman sekamarnya yang katanya benar-benar imut. Namun Yoongi tidak mengatakan siapa namanya, katanya agar anak itu yang mengenalkan dirinya sendiri.

Taehyung ingin bertanya dimana anak itu sekarang, namun bibirnya enggan untuk berucap yang membuatnya hanya bersikap acuh.

ooOOoo

Jungkook memeluk boneka kelincinya yang sudah lusuh dengan erat. Orangtuanya kembali bertengkar, dan itu karenanya. Bahkan sampai saat ini Jungkook tidak mengerti apa salah penyakitnya hingga dia diasingkan dari semua orang.

Jungkook melangkah keluar kamarnya membuat orangtuanya menghentikan pertengkaran mereka dan menatapnya diam.

"Aku ingin tinggal dirumah sakit lagi, appa." ucapnya pelan

Ibunya menghela nafas kasar, lalu memandang tajam ayahnya. "Sudah ku katakan seharusnya kita saja yang menjaganya."

"Tidak! Jungkook lebih baik dirumah sakit. Kau seharusnya tau itu."

Jungkook memejamkan matanya erat. Ayahnya tidak pernah ingin Jungkook tinggal di rumah bersama mereka. Namun hatinya sedikit menghangat saat ibunya mengatakan ingin menjaganya, karena ini pertama kalinya dia mendengar kalimat itu. Meski tetap saja ada luka lain yang masih menganga.

Pada akhirnya Jungkook disini lagi. Kakinya melangkah ringan memasuki rumah sakit yang sudah seperti rumahnya sendiri. Bahkan dia sudah menghafal seluruh Dokter, perawat dan pasien yang berada disini.

Kakinya berhenti didepan pintu kamarnya saat melihat seseorang meringkuk di ranjang yang bersebelahan dengan ranjangnya.

Jadi aku punya teman baru ya.

Jungkook melangkah mendekati ranjang teman barunya. Dahinya mengernyit saat menyadari temannya menangis dalam tidur.

"Hei.. Hei.." Tangannya mendorong-dorong bahu temannya pelan.

Mata gelap itu mulai terbuka. Jungkook sedikit terpesona melihatnya. Bulu mata temannya lentik dan matanya indah.

"Kenapa kau menangis?" ucapnya pelan

Lelaki itu hanya menatapnya dalam diam lalu kembali tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuh sampai kepalanya. Bibirnya mendengus pelan, Dasar sombong.

ooOOoo

Yoongi adalah anak yang penurut. Sejak kecil ibunya mengajarkan bagaimana untuk mengerti perasaan orang lain. Mencoba memahami kepribadian dan mencoba masuk kedalam kehidupan orang lain. Itulah yang diajarkan ibunya.

Sejak kecil dia selalu diajak kerumah sakit tempat ibunya bekerja. Rumah sakit ini memang tidak terlalu besar, Ibunya membangun rumah sakit ini dengan susah payah demi orang-orang yang membutuhkan kasih sayang lebih.

Ibunya selalu mengatakan bahwa tidak ada orang yang sakit mental atau psikis, mereka hanya membutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih. Yoongi membenarkan hal itu sejak bertemu dengan Jungkook dan Hoseok.

Mereka berdua dikatakan sakit, namun Yoongi bisa berteman baik dengan keduanya. Bahkan Jungkook benar-benar menggemaskan dimatanya.

Setiap saat Yoongi pergi kerumah sakit, ibunya akan selalu berpesan agar Yoongi memberikan perhatian lebih pada Jungkook. Awalnya Yoongi bingung dengan perintah ibunya, namun sekarang Yoongi mengerti.

"Pembentukan kepribadian, huh?" gumamnya pelan saat membaca profil Jungkook.

Semenjak ibunya tewas, Yoongi harus berusaha mempelajari profil pasien dirumah sakit ini agar bisa melayani mereka sebagaimana ibunya. Yoongi ingin Ibunya bangga padanya di surga sana.

"Jadi eomma memintaku bersikap baik pada Jungkook untuk membentuk kepribadiannya."

Kepalanya mengangguk kecil. Sekarang dia mengerti. Jungkook sebelumnya tidak memiliki kepribadian khusus -seperti wadah kosong- jadi cukup berbahaya saat dia sering melihat hal-hal buruk karena bisa saja itu menjadi kepribadian Jungkook kelak. Sejak saat itu, Yoongi bertekad untuk menjaga Jungkook dengan baik.

Kakinya melangkah kecil melewati lorong rumah sakit. Sesekali bibirnya tersenyum saat warga rumah sakit berpapasan dengannya. Bibirnya bersenandung kecil.

Hari ini Jungkook akan kembali ke rumah sakit, jadi Yoongi bisa bermain bersama dengannya dan juga Taehyung karena Hoseok sudah tidak tinggal dirumah sakit lagi. Entah mengapa, orang tuanya menarik semua layanan perawatan untuk Hoseok.

Matanya memicing saat melihat seseorang yang dikenalnya berada didepan pintu kamar Jungkook. Tangannya terkepal erat saat menyadari itu adalah ayahnya dengan anak kesayangannya. Datang menjenguk Jungkook lagi, heh?

Bibirnya mencebik kesal. Kenapa orang itu harus datang disaat yang tidak tepat begini. Nafasnya berhembus kasar. Langkahnya berbalik kembali menuju ruangan ibunya yang kini menjadi ruangannya.

Dalam hidupnya, Yoongi tidak pernah membenci siapapun karena ibunya selalu mengajarkannya untuk tidak membenci. Namun rasa benci itu mencuat begitu saja pada keluarga baru ayahnya. Mereka bahagia sedangkan Yoongi harus menahan diri setiap kali diejek oleh temannya karena tidak memiliki ayah.

Malam ini moodnya benar-benar buruk setelah melihat Jimin, anak ayahnya merayakan ulang tahun bersama Jungkook dikamarnya. Yoongi marah, bahkan dia masih berduka karena kehilangan Ibunya. Bagaimana bisa ayahnya tertawa seperti itu didepan matanya.

Jungkook menepuk-nepuk pundak Yoongi pelan. Dia tau kemana mata Yoongi menatap, Jungkook tau apa yang paling dibenci Yoongi.

"Aku bisa minta bantuanmu, Jeon?"

Jungkook mengernyit namun pada akhirnya mengangguk kecil, "Tentu hyung."

"Bunuh mereka."

Jungkook mengikuti arah pandang Yoongi yang terkesan dingin, keluarga Jimin. Jungkook kembali menatap Yoongi, hanya ada pandangan terluka disana.

"Kerena mereka orang jahat."

Jungkook mengepalkan tangannya erat. Yoongi adalah orang yang berarti di hidupnya dan Jungkook tidak akan membiarkan siapapun untuk melukai Yoongi.

ooOOoo

Sudah seminggu Taehyung tinggal disini dan tidak pernah sekalipun bicara. Jungkook menggeram kesal, ia memutuskan untuk membuat Taehyung bicara hari ini. Setidaknya satu kata, apapun itu.

Jungkook terus mengikuti kemanapun Taehyung pergi dengan mengucapkan "Hanya JK. Tidak perlu panjang-panjang, hanya ucapkan JK untukku. Sekali saja, Tae."

Taehyung mendengus kesal namun entah mengapa emosinya tidak meluap walaupun Jungkook terus mengganggunya. Matanya menatap Jungkook tajam, namun Jungkook hanya tertawa lebar dan kembali mengulang kalimatnya.

"JK."

Pupil Jungkook melebar. Mulutnya menganga saat akhirnya bisa mendengar suara Taehyung walaupun hanya sepatah kata. Entah, itu cukup membuat Jungkook bahagia selama seharian penuh.

Sejak saat itu, Taehyung mulai bicara sedikit demi sedikit padanya. Bahkan jika Taehyung hanya memanggilnya JK, Jungkook tetap tersenyum bahagia.

Setelah sebulan lamanya Taehyung tinggal disana, kini Taehyung dapat bicara banyak bahkan cukup sering tersenyum dan tertawa. Dokter dan perawat disana mengatakan jika Jungkooklah yang membuat Taehyung menjadi lebih baik dan itu membuat Namjoon benar-benar berterimakasih pada Jungkook.

Hari ini Taehyung sudah diijinkan pulang karena sebentar lagi semester baru akan dimulai. Jungkook menangis sejak pagi bahkan ingin mogok makan jika Taehyung tidak menemaninya.

Jungkook berubah menjadi manja dan menempel pada Taehyung seharian. Kemanapun Taehyung pergi, Jungkook akan mengikutinya.

Saat Taehyung melambaikan tangannya dan melangkah menjauh dari halaman rumah sakit, mood Jungkook tiba-tiba memburuk. Setelah Taehyung pergi, Jungkook hanya meringkuk di ranjang yang sebelumnya menjadi ranjang Taehyung. Entah mengapa hatinya terluka karena itu.

ooOOoo

Hari ini Jungkook tepat berusia sepuluh tahun. Jungkook tidak meminta apapun, ia hanya ingin bersama dengan keluarganya seharian penuh. Kedua orangtuanya menyetujui dan mereka berlibur sekeluarga.

Bahkan bibirnya selalu mengukir senyuman dengan tangan yang memeluk bonekanya erat. Jungkook sangat menyayangi boneka ini, karena ini adalah satu-satunya hadiah ulangtahun yang diberikan oleh orangtuanya saat Jungkook berumur tiga tahun. Boneka ini lebih berarti dari apapun.

Saat mereka kembali pulang karena hari sudah sore, tubuh Jungkook menegang saat melihat figur Hoseok yang selama dua tahun ini tidak dilihatnya kini berdiri didepan pintu rumahnya.

Hoseok tersenyum dan menyapanya ramah namun tubuhnya justru berkeringat. Apa yang diinginkan Hoseok padanya?

Orangtua Jungkook menyambut Hoseok hangat saat lelaki itu mengatakan bahwa dia adalah teman Jungkook. Hoseok bermain dirumahnya hingga larut malam dan disinilah awalnya.

Jungkook yang saat itu pergi mandi dan meninggalkan Hoseok beserta keluarganya di ruang tamu merasa ada yang janggal saat mendengar teriakan keluarganya.

Setelah memakai pakaiannya dan mengambil bonekanya, Jungkook melangkah keluar. Begitu melihat apa yang terjadi didepannya tubuhnya mematung begitu saja.

Hoseok membunuh keluarganya didepan mata Jungkook. Hatinya terasa tersayat saat Hoseok dengan santainya mencongkel mata kedua orang tuanya dan saudaranya.

Kakinya melangkah dengan gontai, bonekanya terlepas dari genggaman tangannya dan jatuh diatas darah keluarganya yang mengalir memenuhi lantai.

Jungkook terduduk diatas lantai yang penuh darah, air matanya mengalir begitu saja. Hoseok tersenyum lalu mendekatinya.

"Kau tau kan apa yang akan terjadi jika kau membuka mulutmu? Jadi jaga mulutmu baik-baik."

Pintu depan terbuka lebar dan menampakkan Jimin dengan wajah memucat disana. Ternyata Jimin juga menyaksikannya.

Hoseok kembali tersenyum kearahnya, "Dan jika temanmu itu juga bicara. Aku akan pastikan dia mati didepan matamu."

Jungkook menggeleng keras. Tidak lagi. Dia tidak mau kehilangan orang yang disayanginya. "Ja-jangan sakiti Jiminnie." ucapnya parau.

"Mulai sekarang jadilah bonekaku, Jeon Jungkook."

Mata Hoseok melirik kearah boneka Jungkook yang menjadi warna merah karena darah. "Jadilah kelinci merahku, Red Rabbit. Lakukan apa yang aku perintahkan dan jika kau menolak, kau tau apa akibatnya kan, JK."

Mata Jungkook membelalak, bagaimana Hoseok tau panggilan khusus Taehyung padanya? Jangan katakan..

Hoseok mengangguk seolah tau isi kepalanya, "Aku mengenal Taehyung dan memata-matai kalian selama ini. Jadi menurutlah."

Setelahnya dengan santai Hoseok menjejalkan tangannya ke dalam saku celananya dan menaruh bola mata itu disana lalu melangkah pergi, meninggalkannya dalam luka dan kesedihan.

Tangannya meraih bonekanya dan menggunakan jarinya yang berlumur darah mulai menggoreskan huruf HSJ di perut bonekanya. Jungkook harus tetap mengingat siapa yang membuat keluarganya seperti ini.

Sejak saat itu Jungkook seratus persen menjadi pasien di rumah sakit, karena polisi mengira Jungkook cukup sakit dan nekad menghabisi keluarganya.

Jungkook hanya diam saat polisi itu mulai bertanya padanya. Sekarang ia tau mengapa Taehyung memilih untuk tidak bicara saat itu. Rasanya sakit bahkan hanya untuk membuka mulutnya.

Jungkook berubah menjadi pribadi yang dingin dan pendiam. Yoongi khawatir, tentu saja. Dia tidak mau kepribadian seperti itu yang menguasai tubuh Jungkook.

Namun semuanya terlambat saat diusia Jungkook yang ke-11 tahun. Jungkook datang padanya dan mengatakan sudah melakukan apa yang Yoongi perintahkan padanya. Awalnya Yoongi tidak mengerti. Tapi saat mendengar bahwa orangtua Jimin meninggal dalam kecelakaan, Yoongi menjadi kalut.

Berkali-kali ia menyalahkan dirinya sendiri. Seharusnya Yoongi tidak pernah bicara seperti itu sebelumnya dan membuat Jungkook menjadi begini. Secara tidak langsung Yoongi mempengaruhi pembentukan kepribadian buruk pada diri Jungkook.

Semenjak itu Yoongi tidak bisa menahan saat Jungkook menusuk dan menebas setiap orang yang menurutnya jahat. Yoongi selalu berusaha menghentikan Jungkook namun selalu berakhir gagal dan melihat tubuh korban yang sudah terkoyak bola matanya.

ooOOoo

Jimin adalah anak yang selalu bersyukur karena memiliki keluarga yang utuh dan harmonis. Dia bukanlah anak yang rewel karena baginya kehadiran kedua orang tuanya dirumah sudah lebih dari cukup.

Jungkook, teman dekatnya juga membuat Jimin lebih merasa bersyukur karena Jimin lebih beruntung dari Jungkook. Maka dari itu, Jimin berusaha untuk menjadi teman yang baik dan selalu ada bagaimapun kondisi Jungkook.

Mereka berteman sejak taman kanak-kanak, saat Jungkook diejek karena diasingkan oleh keluarganya. Jimin tidak tau mengapa, karena baginya Jungkook adalah anak yang baik-baik saja.

Menurut Jimin, Jungkook juga teman yang setia. Setiap Jimin ketakutan, Jungkook akan selalu menenangkan dan melindunginya. Jimin benar-benar merasa bersyukur karena memiliki keluarga yang utuh dan teman yang sebaik Jungkook.

Namun, selama sebelas tahun hidupnya ini adalah pertama kalinya Jimin merasa marah pada hidup. Saat orang tuanya memutuskan untuk meninggalkan Jimin dan pergi keluar negeri untuk waktu yang tidak ditentukkan, Jimin menjadi marah.

Bahkan dia menangis dalam pelukan Jungkook. Jimin masih ingat bagaimana kematian keluarga Jungkook dan temannya itu meminta Jimin untuk menutup mulutnya. Jimin tau Jungkook pasti tertekan dengan perintah dari lelaki itu, lelaki yang membunuh keluarganya.

Kepalanya mendongak memandang Jungkook, "Apa yang akan kau lakukan jika bertemu orang jahat?" pertanyaan yang pernah ditanyakannya saat kecil pada Jungkook.

"Membunuhnya."

"Masih jawaban itu?"

Jungkook hanya mengangguk, "Karena orang jahat telah merebut kebahagiaanku."

Jimin melihat ada luka yang tersirat dalam tatapan Jungkook.

Maka saat orangtuanya tetap memutuskan untuk pergi keluar negeri, Jimin hanya mengangguk setuju dan membiarkan mobil orangtuanya mulai menjauh.

"Kau tidak sedih?"

Jimin menoleh menatap Jungkook yang berdiri disampingnya. "Mereka orang jahat, Kook."

Pupil Jungkook melebar, tangannya meremat kedua sisi bahu Jimin. "Apa yang kau lakukan pada mereka, Jim?"

Jimin hanya mengangkat bahunya ringan lalu melangkah pergi meninggalkan Jungkook.

Jimin tidak tau ini akan jadi menakutkan. Banyak polisi mendatangi rumahnya dan menanyakan macam-macam saat mengetahui orangtuanya tewas dalam kecelakaan karena mobil mereka tiba-tiba meledak.

Polisi mengatakan jika ada yang menumpahkan bensin dalam bagasi mobil dan akan mencari pelakunya.

Jimin ketakutan setengah mati dalam kamarnya. Namun Jungkook datang dan mengatakan bahwa ini bukanlah salahnya.

"Jiminnie dengarkan aku. Aku yang membunuh orangtuamu, bukan kau. Ini salahku, oke?"

Jimin hanya mengangguk, pikirannya sangat mudah berubah. Maka saat polisi menanyakan padanya, apa ada seseorang yang mecurigakan. Tanpa ragu Jimin menunjuk Jungkook sebagai pelakunya.

Sejak saat itu Jimin dan Jungkook tidak memiliki hubungan seperti sebelumnya, karena baginya Jungkook adalah pembunuh.

ooOOoo

Bahkan saat Jungkook menginjak masa SMA, Hoseok tidak melepaskannya. Jungkook tetap menjadi boneka Hoseok dan membunuh siapapun yang diminta oleh tuannya.

Berperan seolah seorang psikopat dan menyembunyikan perasaan terlukanya setiap membunuh seseorang.

Awalnya begitu, namun saat Taehyung datang dan Yoongi mengatakan itu adalah Taehyung yang dulu setelah Namjoon menghubunginya, Jungkook menjadi berbeda.

Dia bahkan merasa tidak keberatan saat membunuh seseorang yang mendekati Taehyung. Baginya, Taehyung adalah miliknya dan tidak ada satupun yang boleh menyentuh miliknya termasuk Jimin.

Jungkook marah pada Jimin yang menjauh darinya sejak kematian orangtua Jimin seolah Jungkook benar-benar pembunuh orangtuanya. Tapi Jungkook tidak bisa membunuh Jimin seperti korbannya walaupun Jimin mendekati Taehyung.

Jungkook hanya menggertak dan memberikan sedikit pelajaran kepada teman lamanya. Jungkook hanya takut kebahagiannya kembali direbut.

ooOOoo

Hoseok tertawa kecil saat membaca pesan Jimin untuk Taehyung. Ternyata Jimin ingin membongkar identitasnya.

"Dasar bocah, dia pikir aku tidak menyadap ponselnya, tsk."

Hoseok tersenyum senang saat mendengar Namjoon yang menghubunginya dan mengatakan tentang Jimin dan Jungkook yang bersimbah darah. Hoseok dengan senang hati bergegas kembali kerumah sakit.

Oh- akhirnya dia bisa menjadi dokter setelah sekian lama ditentang orangtuanya. Kakinya melangkah menuju kamar orangtuanya dan membuka pintunya sedikit.

"Eomma, appa aku akan pergi kerumah sakit sebentar. Tidurlah dengan tenang."

Bibirnya tersenyum kecil lalu kembali menutup pintu kamar orang tuanya. Ini tidak akan menyusahkan hidupnya, karena orangtuanya hanya berbaring kaku dengan pengawet ditubuh mereka.

Malam itu setelah memastikan Taehyung pergi meninggalkan kamar Jungkook, Hoseok mendatanginya. Tangannya memegang ponselnya dan mengangsurkannya pada Jungkook.

Dahi Jungkook mengernyit namun tetap mengambil ponselnya dan membaca apa yang tertera disana. Pesan dari Jimin untuk Taehyung.

"Jimin ingin membongkar identitasku. Jadi menurutmu bagaimana? Haruskah aku yang bermain dengannya?"

Jungkook menggeleng cepat. Tangannya mengepal kuat, "Aku- Biarkan aku yang membunuhnya."

Hoseok mengangguk lalu menggeser sedikit tubuhnya memberikan jalan untuk Jungkook dan mengangsurkan garpu padanya.

Jungkook membenci dirinya yang seperti ini. Bahkan sekarang dia harus berperan sebagai psikopat lagi untuk membunuh Jimin.

Hatinya terasa tersayat saat mulai menusuk tubuh temannya. Tangannya sedikit bergetar saat menancapkan garpunya pada bola mata Jimin. Hoseok selalu minta bola mata korbannya.

Jungkook ingin menangis, namun saat Yoongi datang dan memergoki kegiatannya Jungkook harus kembali berperan. Jika Yoongi tau, ini akan jadi masalah untuknya lagi.

Mata Hoseok terus menatap Jungkook dari kejauhan. Setidaknya Hoseok harus memastikan Jungkook membunuh Jimin. Matanya memicing begitu melihat figur Yoongi yang berjalan terburu memasuki kamar inap Jimin.

Sudut bibirnya terangkat, "Ini akan menyenangkan."

.

.

.

The End.

.

.

Author's Note:

asdfghjkl ini bahkan lebih panjang dari chapter biasanya.

Sebenernya aku pengen cut jadi dua bagian tapi rasanya gak enak kalo isi tbc lagi yekan wkwk

Semoga udh pada ngerti gimana maksud ceritanya ya.

Kemarin ada yang nanya masalah hukuman seumur hidup itu. Awalnya aku ngira hukuman seumur hidup itu maksudnya adalah umur saat melakukan kejahatan, jadi si JK kan umurnya 18 tahun jadi 18tahun dipenjara. Tapi, setelah aku baca lagi ternyata hukuman seumur hidup itu hukuman sampai mati jadi salah presepsi akunya hehehe

Jadi kita anggap aja si JK di hukum 18 tahun penjara ya, kalau seumur hidup gak bisa bikin epilognya dong wkwkwkwk

Intinya disini, si JK, taetae, enchim sama Hoseok itu sakit ya..

Itu aja, jangan lupa reviewnya~

Thanks

Aii-nim

2017.07.04