Author: aurorarosena
Cast: GOT7, BTS, etc.
Pairing: MarkBam; Slight Cast: Taekook, JunHwan, Meanie Couple, JackGyeom
Rate: T - M
Genre: school-life, romance, friendship.
Disclaimer: casts aren't mine, storyline/plot is mine.
Warning: typo(s), indonesian, bahasa amburadul/?, etc.
Please leave this story quickly if you don't like the casts, pairing, and author :)
.
.
.
.
Bambam POV -
"Terima kasih ya, hyung."
"Sama-sama, lain kali mampir lagi ya ke rumahku."
"Ne."
Akhirnya, setelah semalaman menginap di rumah Chanyeol hyung dan melewati masa-masa yang aneh, aku bisa pulang juga. Aku tidak peduli apakah aku akan diterima di rumah ini atau tidak, ini masih rumahku dan Mark hyung.
Aku sampai di depan pintu rumah, hmmm... tidak ada sandal atau sepatu perempuan di sini. Atau mungkin sepatunya ada di dalam? Ya Tuhan, apa yang Mark hyung lakukan dengan yeoja itu? Tolong jangan biarkan aku mengalami masa sesulit ini berlama-lama, umurku masih sembilan belas, aku mau lulus kuliah dengan memori yang bahagia.
"Aku pul-OMO!" jantungku nyaris kumuntahkan ketika Mark hyung berdiri di samping pintu saat begitu aku memasuki rumah. Ia bersandar di tembok seraya melipat kedua tangannya di dada, ia memakai baju turtle-neck berlengan panjang dan juga kaos kaki rajut berwarna hitam. Bocah ini, apa yang dia lakukan di ambang pintu seperti ini? "Ya ampun hyung, kau nyaris membuatku menjatuhka Vernon."
"Bam...Bam...ssshhh...Bamieee..." bibirnya bergetar, bahkan sekujur tubuhnya ikut bergetar ketika ia berbicara.
"Mwo? Hyung, kau tidak apa-apa?"
"Bam...hyung...pu-pusing..."
"Ne?" refleks aku menyentuh kedua pipinya.
Astaga! Suhu tubuhnya panas sekali, apa yeoja itu tidak memberinya makan seharian hingga suamiku terserang demam begini, huh!? "Hyung! Tubuhmu panas sekali!"
"Bam... kepala hyung pusing sekali... sakit semua..." ia mengeluh lagi.
Aku harus segera memindahkan Vernon ke kamar karena tidak mungkin aku mengurus dua orang begini dengan tanganku yang hanya ada dua. Sambil meletakan Vernon di kamar, aku juga mengambil kotak obat yang selalu tersedia di kamar. Buru-buru aku berlari kembali ke lantai satu dan menarik Mark hyung agar dia duduk terlebih dahulu.
"Hyung, kau kehujanan? Aniyo, kemarin tidak hujan. Kau telat makan? Aku kan sudah bilang jangan pernah telat makan! Hasilnya pasti jadi fatal begini." recokus. Biarkan saja, siapa suruh dia foya-foya terus, melupakan waktu makannya dan akhirnya jatuh sakit begini.
"Bamm.. ssszzz... dingin..."
"Iya, ini selimut." aku membalut tubuhnya dengan selimut tebal berbahan bulu domba yang orang tuaku beli di Roma. "Kau sudah makan?" tanyaku, bagus sekali, jawaban yang cukup memuaskan ketika ia menggelengkan kepalanya. Emosiku cukup meluap hebat untuk masalah yang seperti ini. "Bagaimana kau bisa minum obat kalau perutmu kosong, huh?!" aku membentaknya.
Segera aku berlari ke dapur dan membuka pintu kulkasku. Telur, brokoli, apa yang bisa kumasak hanya dengan telur dan brokoli? Apa yeoja itu benar-benar menerlantarkan suamiku seperti ini, huh?
Dengan bahan seadanya, aku membuat sebuah eksperimen baru dengan telur dan brokoli yang tersisa. Aku memasak dengan kecepatan cahaya, yang penting Mark hyung bisa segera makan, dengan begitu dia bisa minum obat dan segera pulih lebih cepat. Tumis sana, oseng sini, goreng sana, rebus sini, garam, merica dan bumbu yang masih ada. Kupakai piring bersih (yang untungnya selalu bersih karena Mark hyung jarang makan di rumah) seadanya, kutiriskan masakan sederhanaku dan kutata dengan baik di atas piring. Langsung kubawa hidangan berantakan ini kepada Mark hyung.
"Makan dulu!" aku menusuk brokoli dengan garpu lalu menyuapinya untuk Mark hyung. Dia tidak banyak berkomentar, dia hanya mengikuti apa yang kuperintahkan dan makan dengan baik. "Mau muntah tidak?"
Mark hyung menggeleng.
"Kalau mau muntah kau harus bilang! Bisa jadi ini gejala-gejala penyakit berat."
Aku khawatir kalau selama ini Mark hyung salah makan. Mungkin makanan di luar memang terlihat mewah dan harganya mahal, tapi itukan tidak menjamin kebersihannya. Aku percaya bahwa masakan rumah adalah makanan tersehat yang bagus untuk gizi.
"Bam... hyung tidak mau makan kuning telurnya, tidak enak..." katanya seraya menggigil.
"Iya, tidak usah. Tapi sekarang hyung minum obat, ya?" aku merobek salah satu kertas obat lalu menjatuhkan pilnya di tanganku. Mark hyung masih belum bisa juga menggerakan tangannya, jadi untuk minum obat pun masih harus kusuapi. "Bisa menelan?"
"Bisa."
"Bagus. Berarti sekarang tinggal istirahat."
"Temani hyung di sini Bam." ia menahan tanganku. Ya... kerasukan roh yang mana dia hari ini? Biasanya kalau aku pulang pasti aku sudah dimaki habis-habisan olehnya, sekarang dia mau aku untuk menemaninya. "Jangan kemana-mana! Di sini saja."
"Iya, tapi aku harus-"
"Biarkan saja! Urus apa-apanya nanti saja, sekarang urus aku dulu hingga sembuh." namja ini, aneh, tapi aku senang melihatnya menjadi seperti ini. Memang masih terlihat raut-raut menyebalkan di wajahnya, tapi setidaknya dia menghargai keberadaanku di rumah ini tanpa adanya kehadiran orang lain.
Aku memundurkan bokongku dan bersandar di sofa, lalu membiarkan Mark hyung tidur di atas pahaku dan menggulung di dalam selimutnya. Ini dia, saat-saat yang paling kurindukan bersama Mark hyung, kupikir aku tidak akan bisa merasakannya lagi. Dan kuharap ini bukanlah yang terakhir.
"Mmm... iniii..." ia mengambil tanganku dan menaruhnya di atas kepalanya sendiri.
"Ini kenapa?"
"Sayang sayang." katanya, suaranya nyaris hilang. Sayang sayang? ...Oh, mungkin maksudnya aku harus mengelus kepalanya. Yasudah, jika itu memang maunya, akan kuelus rambutnya hingga botak. Setelah kuelus rambutnya, ia menjadi lebih tenang dan tidak segelisah tadi walaupun masih menggigil.
Keracunan apa anak ini hingga menjadi super manja? Aniyo, Bam, seharusnya kau tidak berpikiran seperti itu, seharusnya kau senang dengan sikapnya yang kembali seperti ini.
"Hah, baru saja kutinggal semalam sudah sakit seperti ini, apalagi kalau kutinggal bertahun-tahun." aku meledeknya, tidak tahu apakah dia mendengarnya atau tidak, tapi melakukannya terasa sangat menyenangkan. "Hyung."
"Hm?"
"Kukira sudah tidur."
"Apa?"
"Pacarmu kemana?"
"Sudah pulang."
"Kau tidak mengantarnya pulang?"
"Aku kan sakit, Bam."
"Oh. Biasanya selalu siap siaga mengantar sang pacar dari Maroko sampai Australia."
"Diam ah!"
"Hehe, marah." aku mencubit pipinya gemas. Tolong katakan padaku bahwa perasaan Mark hyung terhadap Suji nuna sudah hilang walau hanya satu persen. "Bagaimana kemarin tidurnya? Enak? Enak mana jika dibandingkan tidur denganku?"
"Bam, ih!"
"Sudah pasti enakan tidur sama dia. Ada yang bisa di remas, ya tidak? Hyung? Hey jawab!"
"Diam, ish!"
"Bambam kan hanya punya pantat, dia punya payudara, besar lagi. Dada Bambam kan rata."
"Baaaaaaaaaaam!" si imut ini mulai ngamuk, kakinya saja ia tendang-tendang seperti itu, padahal semenit yang lalu dia mengeluh-ngeluh pusing, kedinginan, minta makan seperti anak kucing. Dasar namja.
...eh aku kan namja juga.
"Kangen Bambam tidak, hm?"
Dia tidak menjawab. Giliran ditanya tentangku saja dia tidak mau jawab. Jahatnya.
"Kalau tidak kangen Bambam pergi lagi, nih."
"Apasih Bam? Tidak lucu." katanya. Mmm... padahal kemarin tertawa saat aku mau pergi, layaknya semua kalimatku adalah lelucon. Sekarang dia bilang tidak ada yang lucu. "Bam," ia berbalik badan hingga menghadap ke arahku.
"Apa hyung?"
"Semalam menginap di mana?"
"Di rumah teman."
"Siapa? Yugyeom?"
"Bukan."
"Siapa?"
Untuk soal yang satu ini, aku juga mungkin tidak ingin menjawab pertanyaannya. Aku takut menyakiti perasaannya jika aku bilang bahwa semalam aku tidur di rumah Chanyeol hyung. Jadi lebih baik aku diam, biarkan saja dia menebak lewat dirinya sendiri.
"Siapa?"
"Teman."
"Namanya siapa?"
"Hyung tidak perlu tahu." jawabku ketus.
"Hyung kan suamimu, Bam. Masa tidak boleh tahu?"
Berikan aku waktu hening sejenak untuk tertawa. Benar, waktu hening untuk tertawa. Aku lupa kapan terakhir kali ia mengaku sebagai suamiku, saking sudah lamanya kami saling tidak mengakui.
"Ya, privasiku."
Ia membenarkan posisi tidurnya dan menatap tepat ke arah mataku. "Siapa, hm? Katakan saja, hyung tidak akan marah."
Tidak akan marah katanya. Firasatku berkata bahwa jika aku mengatakannya, dia akan segera sembuh dari penyakitnya, lari ke kamar dan mengambil ikat pinggang, setelah itu menghajarku sampai aku menjadi dendeng Bambam.
"Yakin?"
"Iya."
"Chanyeol hyung."
Satu... dua... tiga... dia tidak bangun dan mengambil ikat pinggang. Hanya ekspresi dingin dan kosong tertera di wajahnya seakan dia akan membunuhku diam-diam setelah ini. Apakah dia cemburu? Ah, jangan harap Bam, bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali dia cemburu padaku.
"Wae?"
"Ekhm," ia berdehem, tidak tahu apa maksud dari deheman itu, "lain kali jangan menginap-nginap lagi ya." katanya.
YANG MENYURUHKU MENGINAP DI RUMAH ORANG LAIN ITU SIAPA!?
"Ya." kujawab ia sesingkat mungkin.
"Bukan begitu Bam, kan tidak enak, nanti kita merepotkan, apalagi kau bawa Vernon."
"Iya, sudah tahu kok." aku mengangkat kedua alisku. "Sudah, hyung istirahat saja!"
"Kau tidur seranjang dengannya?"
"Tidur!"
"Hyung bertanya."
"Katanya pusing!"
"Jawab dulu pertanyaan hyung!"
"Aniyo, aku tidak seranjang dengannya. Aku di kasur dan dia di sofa! Puas?"
"Hehe, good good."
Kenapa dia ingin tahu sekali soal itu? Aku saja tidak bertanya apa yang Mark hyung dan pacarnya lakukan, padahal aku tahu mereka pasti tidur di satu ranjang yang sama. Ya... aku memang tidak seranjang dengan Chanyeol hyung, tapi kami berciuman. Dan itu nyaris saja membuatku gila.
"Sekarang hyung tidur ya. Nanti kita lihat apakah hyung harus minum obat lagi atau tidak."
"Ne, Bamie."
.
.
.
.
Author POV -
"Semalam Bambam menelfonku."
"Lalu? Apa yang dia katakan?"
"Sepertinya kita tidak akan jadi membunuh Mark hyung."
"Bisa begitu?"
"Katanya Mark sudah sayang lagi padanya."
"Lucu ya, cinta bisa jadi mainan semudah itu."
Bagi anak muda seperti mereka, berkumpul di akhir pekan bersama teman-teman memang sudah menjadi hal yang paling mutlak untuk dilakukan. Di depan North High School, SMA mereka yang tercinta, berjajar mobil sport yang warnanya nyaris seperti mobil mainan, mejikuhibiniu, dan dengan bangga mereka bersandar di cupboardnya masing-masing. Namja zaman kekinian; memiliki mobil sport dengan warna bodynya yang mencolok mata, dengan speaker raksasa di bagasi agar semua orang di sepanjang jalan dapat mendengar musik mereka berdentum-dentum, belum lagi ban yang dihiasi lampu LED warna-warni agar tidak terlihat menyatu dengan aspalnya.
Itu mobil atau diskotik berjalan?
Untung saja di Korea model rambut undercut tidak terlalu dikenal oleh kaum namja.
"Bambam itu sudah terlalu cinta dengan Mark, mau diperlakukan seperti apapun sudah pasti dia terima." kata Taehyung.
"Jadi tawuran ramai-ramainya tidak jadi, nih?" tanya Jackson.
"Hey," Wonwoo menyelip di antara mereka, "lagipula masalahnya tidak akan beres jika kita menggunakan kekerasan."
Jaebum terlihat kecewa, "yah, padahal aku sudah ke gym selama seminggu bertutut-turut untuk melatih tonjokkanku."
"Kau belajar memukul ke gym? Banci macam apa." Jackson tertawa meledek, lalu mengadakan pertarungan privat kecil-kecilan di antara mereka.
"Lagipula pacar kita pasti akan marah jika kita melakukan itu." lanjut Junhoe.
"Yasudah, kalau begitu masalahnya sudah selesai, kan?" Taehyung menahan kakinya di atas plat nomor yang terpasang di bemper mobilnya.
"Tapi, kenapa Mark tiba-tiba jadi begini? Maksudku... segalanya terjadi dalam waktu semalam saja." Wonwoo terheran-heran, begitu juga yang lainnya. Mark benci kepada Bambam dalam waktu semalam, kini Mark tiba-tiba mencintai Bambam lagi hanya dalam waktu semalam.
"Mungkin guna-guna yeoja itu sudah habis, makanya Mark sadar begitu saja." kata Jaebum seraya tertawa.
"Iya, setelah itu Suji nuna akan menambah guna-gunanya lagi dan kau yang akan menjadi sasarannya, hyung." kata Junhoe seraya memandang ke arah Jaebum dengan tatapan nakal.
"Yak! Bocah! Tahu apa kau tentang hal seperti itu, huh?"
"Chill, hyung."
"Hah," Taehyung mendesah lalu berpaling dari mereka semua. Ia membuka pintu mobilnya dan masuk seraya menyalakan mesin mobil."
"Yak! Alien! Kau mau kemana?!" ujar Jackson.
"Aku rindu kekasihku."
"Kekasihmu!? Yak! Kau sudah menghabiskan waktu seminggu untuk pacaran dengannya!"
"Kekasihku yang satu lagi. Mark Tuan."
"Mwoya? Namja ini gila?"
Tanpa memikirkan teman-temannya di luar, Taehyung segera menancap gas dan nyaris saja menabrak mereka semua. Di kepalanya, sudah terpasang navigasi otomatis untuk meluncur ke rumah Mark. Jika di pikir-pikir lagi, Mark adalah sahabat yang menjadi belahan jiwanya sejak mereka masih di SMA, jelas ia merindukan Mark karena sekolah mereka yang sudah terpisah, di tambah lagi kondisinya yang sedikit genting untuk saling bertemu. Tapi untuk saat ini, Taehyung hanya ingin menjabat tangan Mark saja dan menanyakan kabarnya secara langsung.
..
..
Tuan's House
..
..
"Hyung, aku harus belanja. Kau diam di rumah, ya? Di luar anginnya besar sekali."
"Stay with me!" Mark menjawab dengan lemas. Ia bersandar di atas sofa, berbalutkan selimut sambil menggenggam secangkir teh hangat di tangannya.
"Sekalian beli obat, hyung."
"I said, stay with me!"
"Aku juga harus beli popok untuk Vernon."
"Bam," Mark berdecak kesal, "why won't you listen to me? I said stay right here with me and don't go anywhere!"
Ada sedikit perasaan takut di hati Bambam ketika Mark sudah meninggikan intonasinya saat berbicara, padahal Mark hanya meminta agar Bambam diam di rumah dan menemaninya. Sejak Mark sering berlaku kasar, Bambam memiliki trauma di dalam hatinya setiap kali Mark menghentaknya walau hanya sedikit saja. Jadi daripada melawan, Bambam memilih untuk mengurungkan niatnya pergi ke luar dan diam di rumah menemani sang suami.
Drrt! Drrt!
Ponsel Mark bergetar di atas meja. Refleks Bambam memicingkan matanya dan pura-pura tidak memperdulikan panggilan itu. Mark mengangkat panggilan itu dengan rasa yang becampur aduk.
"Ne?"
"YAK MARK TUAN! KAU DI MANA? ADA DI RUMAH?"
"Slowdown, dude, my ears were going to explode."
Bambam diam-diam menguping pembicaraan antarar Mark dan seseorang di dalam telpon itu.
"KAU ADA DI RUMAH?! AKU MAU KE SANA!"
"Pasti mau bertemu Vernon." Mark tertawa.
"Mwoya? Suaramu terdengar tidak baik. Kau sakit?"
"Yes, baby, aku sedang sakit. But Bambam is here so everything will be fine." dengan sengaja, Mark melempar pandangan nakal ke arah Bambam lalu saling tersenyum. "Ah, ya, Taehyung, kau masih di jalan? Boleh minta bantuan tidak?"
"Katakanlah!"
"Could you come by at any market and buy some groceries for us? Bambam must nurse me so he can't go."
"Apa kau baru saja memerintahku?"
"Yes, and don't forget diapers X-sized for your nephew."
"Mwoya? Apa aku babumu, huh?"
"Please." pinta Mark, bahkan ia memelas hingga pantatnya merosot dari sofa.
"Oke! Sebagai gantinya aku mau main dengan Vernon seharian di rumahmu."
"Just do whatever you want, it doesn't matter to me, I'll just go to sleep."
Sudah terlalu lelah berbicara, Mark langsung menggeser icon berwarna merah dan hubungan telfon mereka terputus.
"Taehyung akan datang ke sini dan membawa semua keperluan kita." kata Mark, ia menyeringai lebar.
"Sadis." Bambam menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Hingga saat ini, masih belum ada kejelasan dari Mark tentang hubungannya dengan Suji. Karena Bambam yakin, pasti terjadi sesuatu di antara mereka hingga Mark berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu yang sangat singkat. Tentu saja, Bambam berharap bahwa yeoja itu sudah hilang dari kehidupan mereka.
"Bam, Vernon bawa turun, dong?"
"ANIYO!" bentak Bambam. "Kau sedang sakit, aku tidak mau dia sakit juga. Aku yang repot nanti."
"Please?"
Bambam berjalan ke arah Mark lalu mendekatkan wajah mereka, "sembuh dulu! Baru main." lalu Bambam duduk di samping Mark seraya membaca buku tentang kesehatan anak. Merasa ada kesempatan, Mark menyandarkan kepalanya di bahu Bambam. "Hyung."
"Ne?"
"Apa yang terjadi padamu?"
"Terjadi padaku?"
"Kau tiba-tiba menjadi baik seperti ini. Ada apa dengan yeoja itu?"
"Yeoja siapa sih ah." wajah Mark berkerut. Di dalam benaknya, ia ingin sekali mengganti topik pembicaraan dan kembali ke jalan utama mereka, tapi tentu Bambam tidak akan percaya padanya tanpa adanya penjelasan secara detail. Mark melirik ke mata Bambam dan menapatinya Bambam sudah memasang mata ganas, ia mendesah malas dan menghindari kontak mata. "Putus."
"Apa!?"
"Putus... sudahlah, untuk apa sih dibahas?"
"Mwoya? Putus? Begitu saja?"
"Bam, aku tidak mau membicarakannya."
"Aniyo, aniyo, jelaskan ini padaku! Sekarang!"
"Aku sedang sakit-"
"Aku tidak peduli. Ayo jelaskan!" paksa Bambam. Malas... malas... malas... tapi mau tidak mau Mark harus menjelaskan segalanya, jelas perubahan sikap Mark ini pasti didasari atas terjadinya sesuatu. Karena Mark tidak mungkin kerasukan makhluk halus, kan?
Mark mengerlingkan matanya malas dan berdecak beberapa kali, raut wajahnya terlihat kalau moodnya sedang tidak baik, lebih tepatnya semenjak Bambam menyuruhnya untuk bercerita.
"Dia memintaku untuk cerai denganmu, tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Ya..." Mark bermain dengan ujung selimutnya dan mencoba untuk menata semua kalimat dengan rapi di dalam kepalanya, "...ya karena aku sayang. Dia memintaku agar aku segera menikahinya, tapi kurasa tidak semudah itu."
"Hyung, kau ingat tidak berapa kali kau nyaris membunuhku demi yeoja itu?" tanya Bambam.
"Iya, aku ingat."
"Dan kau sayang padaku?"
"Memang pada dasarnya sayang padamu."
"Lalu?"
"Ya aku kan laki-laki Bam, godaan seperti itu wajar lah." kata Mark dengan kekesalan yang menjadi-jadi. Sementara Bambam hanya tertawa mendengarnya, secara tidak sadar Mark sudah lupa kalau Bambam bagaimana pun adalah seorang namja juga. "Kau juga pasti pernah merasakan hal yang sama, kan? Mengaku saja!"
"Hehe, tapi kan tetap mencoba untuk tetap setia padamu."
Mark menjauhkan kepalanya. "Benar? Kau pernah menyukai seseorang selain aku?"
Bambam menganggukkan kepalanya.
"Siapa?!"
"Bukan siapa-siapa. Sudahlah, bukan saatnya untuk membicarakan itu." Bambam berusaha untuk menghindar.
"Katakan! Sekarang!"
- flashback -
Bambam tiba-tiba terbangun dan tubuhnya terasa sakit, ia menoleh ke samping untuk memastikan apakah Vernon baik-baik saja, ternyata Vernon sudah tertidur dengan sangat pulas, berarti Bambam tidak perlu mengkhawatirkannya. Bambam bangkit dari tempat tidur dan turun untuk mengambil segelas air supaya ada sedikit kesegaran di kepalanya, ia melihat ke arah jam dinding, 02.45, masih terlalu dini untuk melakukan aktivitas.
Dengan sangat hati-hati, Bambam mengambil gelas kaca dari lemari gantung di dapur Chanyeol, setelah itu ia menuangkan air segar dari teko alumunium.
"Haaah..." tenggorokannya merasa lebih lega setelah ada cairan yang lewat di sana. Sekilas ia melihat seseorang dari sana, ternyata hanya Chanyeol yang sedang tertidur di sofa ruang tamu. Sebisa mungkin Bambam tidak membuat suara sama sekali, tapi ia penasaran dengan Chanyeol, jadi ia memutuskan untuk menghampirinya di ruang tamu. "Omo, hyung pasti kedinginan." katanya setelah melihat Chanyeol tertidur tanpa ada helai apapun yang membalutnya.
Ada selimut di bawah sofa, jadi tanpa berpikir panjang lagi Bambam segera melebarkan selimut itu dan menaruhnya di atas tubuh Chanyeol yang tinggi.
"Badan hyung pasti akan sakit-sakit saat bangun nanti, tubuhmu kepanjangan hyung." celotehnya.
Bagaimana bisa Bambam mempercayai kenyataan bahwa ia menaruh hatinya pada Chanyeol, apalagi setelah Chanyeol menciumnya sebelum tidur di dapur tadi, itu malah membuat perasaannya semakin tidak karuan.
Dengan lembut, Bambam meninggalkan sebuah kecupan manis di atas pipi Chanyeol. "Terima kasih, hyung."
- flashback end -
"Kau sungguh menciumnya?"
"Ne."
"Bam, lihat ini, lihat pipiku!" Mark menunjukkan pipi sekaligus jawlines nya yang mulus dan menggoda. "Aku ditampar oleh Suji di pipi yang sebelah sini, rasanya sakit, sumpah. Lalu di waktu yang bersamaan kau mencium pipi Chanyeol."
"Tidak hanya itu," Bambam tertawa, tapi sejujurnya ada rasa sakit yang menjalar di dalam hati kecilnya. Dengan hati-hati, ia menggerakan lidahnya lagi, "malam sebelumnya juga kami berciuman, dan menurutku itu indah sekali."
Mark terdiam.
"Tadinya aku akan meneruskan perasaanku untuknya, tapi hyung tiba-tiba menjadi seperti ini." Bambam menoleh ke arah Mark seraya tersenyum polos. "Tidak jadi deh."
"...kalian? Berciuman?"
"Ne."
"Kenapa?"
"Kau selingkuh dengan Suji nuna. Kenapa?"
Plak! Sebuah jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan egois Mark, rasanya seperti jantung yang ditampar oleh mata pisau.
"Kalau kau menyayangiku, kau seharusnya bertanya kepada dirimu sendiri, kenapa kau melakukan hal itu terhadapku hingga membuatku nyaris menyerah untuk mencintaimu. Sekarang kau bertanya kenapa aku berciuman dengannya. Jawabannya mudah; karena aku pantas mendapatkan rasa sayang semacam itu, bukan? Dan kebetulan saat itu hanya Chanyeol hyung yang tahu bagaimana caranya menyanyangiku."
Tidak tahu apa yang harus Mark katakan jika sudah seperti ini skenarionya. Benar, mungkin Mark mulai harus menyadarinya, mungkin Mark harus bertanya sekali lagi kepada dirinya sendiri, apakah dia mencintai Bambam atau tidak. Baginya, Suji memang seorang yeoja yang memiliki kodrat untuk menjadi seorang pendamping hidup, tapi siapa yang tahu tentang cinta sejati?
"Hyung..." Mark menelan salivanya dengan berat, "...hyung ingin minta maaf kepadamu, tapi tidak tahu bagaimana caranya. Hyung sudah tidak pantas untuk menjadi suamimu."
"Syarat untuk menjadi suamiku tidaklah sulit, selama kau mau memelihara cintamu untukku dengan baik."
"Kalau aku meminta sebuah kesempatan kedua darimu, kau mau memberikannya untukku?" tanya Mark.
Belum juga Bambam sempat menjawab, seseorang sudah menginterupsi dengan mengetuk pintu rumah mereka. Sengaja, Bambam tidak ingin lagi menjawabnya dengan kata-kata, melainkan sebuah senyuman tipis yang meninggalkan banyak teka-teki.
"Itu pasti Taehyung. Kau harus menggantikan uang belanjanya, ya!"
.
.
.
.
"GOO JUNHOEEEEEE!"
Tong! Tong! Tong!
Berkali-kali Yugyeom memukul pagar emas rumah Junhoe dengan sebuah batu besar yang ia temukan di pinggir jalan. Berkali-kali juga ia memanggil nama Junhoe, tapi tidak ada seorang pun yang menyahut.
"GOO JUNHOE! BIARKAN AKU MASUUUUK!"
"Yak! Yugyeom-ah! Apa yang kau lakukan, huh!?" tiba-tiba sosok Junhoe muncul di belakang Yugyeom. "Kau seperti orang gila, tahu tidak?" Junhoe tertawa.
"Kau dari mana, sih?! Aku sudah teriak-teriak dari tadi di sini."
"Mianhae, imut, aku habis membeli sesuatu. Rumahku kosong, jadi aku menggemboknya." jawab Junhoe tenang, ia membukakan gembok pagar rumahnya dan membiarkan Yugyeom masuk terlebih dahulu. "Ada apa, hm?"
"Boleh main di sini? Seharian?"
"Tentu saja boleh, kau bosan di rumah atau apa?"
"Ingin saja main di sini."
Selagi memasuki rumah, Junhoe membiarkan Yugyeom duduk terlebih dahulu, sementara dia sendiri membuatkan minuman dan makanan ringan untuk Yugyeom. Junhoe datang dengan sebuah nampan dan diatasnya terletak dua cangkir teh dan setoples kue.
"Kenapa sih? Badmood, ya? Hm?"
"Aniyo, ingin saja main di sini." jawab Yugyeom ketus. "Jun, boleh tidak aku main PS4 mu?"
"Tentu saja boleh. Mainkan apapun sesuka hatimu."
"Kalau gitu aku akan langsung ke kamarmu!"
Yugyeom berlari gesit ke kamar Junhoe, sementara si pemilik kamar sendiri hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tertawa gemas melihat kelakuan Yugyeom yang imut itu.
Tidak terasa sudah berjam-jam Yugyeom berdiam diri di depan layar TV dan stick PS4 di tangannya, itu membuat Junhoe khawatir karena Yugyeom jadi terlihat seperti orang autis, bahkan ia tidak banyak bicara. Mungkin badmood, mungkin sedang kesal, mungkin sedang sedih, atau mungkin dia marah, atau apapun yang mungkin untuk terjadi kepada Yugyeom.
"Mut, mau makan tidak?"
"Mut?" tanya Yugyeom tanpa menoleh.
"Imut."
"Oh, tidak ah, belum lapar."
"Kalau lapar bilang aku ya, nanti aku delivery makanan."
"Ne." lalu Yugyeom kembali memfokuskan diri ke permainan di PS4. "June-ya!"
"Ne?"
"Bisa tolong ambilkan ponsel di tasku?"
"Ne."
Junhoe bangkit dari kasurnya lalu mengambil tas Yuygeom yang bertengger di meja belajar Junhoe. Herannya, Junhoe tidak dapat menemukan ponsel Yugyeom dengan mudah hingga ia harus mencari hingga ke saku yang terdalam.
Sebelum menemukan sebuah ponsel, Junhoe malah tidak sengaja menemukan sebuah kertas lecak yang bentuknya sudah tidak sempurna lagi, bahkan ada robekan di bagian sisi-sisinya. Tadinya Junhoe tidak ingin menghiraukan kertas itu, tapi ada satu tulisan yang menangkap perhatiannya.
Surat rumah sakit? tanya Junhoe di dalam hati. Ia mengintip sejenak ke arah Yugyeom, dengan harapan bahwa ia tidak akan menangkap Junhoe sedang membaca kertas itu. Diam-diam Junhoe melebarkan kertasnya dan membaca satu persatu kata yang tertulis di atas kertas hancur itu.
...
...
...
Deg.
Yugyeom?
.
.
.
.
- To be continued -
Yeeeee~~~ story nya udah nggak melenceng lagi. Akhirnya gak ada cerita cinta yang rumit lagi, gak ada berantem-beranteman lagi, gak ada galau-galauan lagi, akhirnyaaaaaaaa author bisa kembali ke jalan yang benar/? TAPIIIII bukan berarti konfliknya udah abis yah, buat kalian para JackGyeom shipper ati-ati aje *smirk*/? semoga dengan chapter ini kalian nggak bete lagi sama Mark yah:') TAPI MARK TETEP HARUS DISUNAT DULU, SETUJU NGGAK!? wkwk. Udah ah, cape, mungkin update chapter selanjutnya bakal agak lama. Terima kasih kritik&saran, dukungan dan segala macam yang sudah kalian sampaikan lewat review, author sangat terbantu dengan itu semua *bow* semoga ketemu lagi di chapter selanjutnyaa~~
