"STAY WITH ME"
Disclaimer : Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka. Jungkook milik Taehyung. Taehyung milik saya *eh. I own nothing except the whole story line.
Genre : Romance, Drama-Hurt
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min | Choi Soo Young
Rated : M (Buat Jaga-Jaga)
Warning : Top!Taehyung x Bottom!Jungkook
YAOI, BoyxBoy, Akan ada banyak kisah flashback
Chapter 10
Jeon Jungkook POV
"Mau pesan apa, Kookie?"
Aku membolak-balik buku menu makanan dengan malas. Di depanku duduk dengan tenang Taehyungie dengan kaus putih polos yang di padu padankan dengan blazer berwarna biru muda dan celana bahan hitam yang terlihat sangat pas di tubuhnya. Ia sesekali melemparkan senyumnya ke arahku yang mana ku acuhkan karena aku sedang sedikit kesal padanya.
Sudah satu minggu ini eomma di rawat di rumah sakit. Semenjak insiden di tamparnya eomma oleh Appa di ruang makan, keadaan eomma semakin memburuk saja. Bukan karena tamparannya. Tentu saja tamparan itu tak banyak berpengaruh padanya. Namun dokter mengatakan bahwa pikiranlah yang sangat berpengaruh pada kesehatan eomma. Kanker payudara yang di derita oleh eomma sejak setahun belakangan ini benar-benar menguras pikiran eomma. Dia tidak kunjung membaik setelah 6 kali kemoterapi yang di lakukannya. Aku tahu, Hoseok hyungpun tahu, sebenarnya eomma haruslah di rawat secara intensif di rumah sakit. Namun ide itu di tolak mentah-mentah oleh eomma. Dia lebih memilih rawat jalan, maka dari itu perawatanpun hampir selalu di lakukan di rumah, kecuali saat terapi saja. Hatiku teriris melihat keadaan eomma semenjak kemoterapi pertamanya. Rambut hitamnya yang indah perlahan hilang dari kepalanya, menyisakan kulit yang sudah tak di tumbuhi rambut sehelaipun. Tubuh eomma juga semakin menyusut hari demi hari. Bahkan kaki kuat eomma yang dulunya biasa di gunakan untuk berjalan kaki di pagi hari selama minimal 30 menit sehari saja sudah tak kuat lagi menopang berat badannya. Ia hampir menghabiskan 24 jamnya di atas kasur. Dan yang lebih parahnya lagi,
Kelakuan buruk Appa ke eomma.
Appa sangat mencintai eomma.
Dulu.
Dulu, sebelum ia mengenal wanita jahat itu.
Wanita yang perlahan-lahan merebut Appa dari keluarga kecilnya, dan menyakiti eommaku perlahan-lahan.
Dia adalah Sooyoung noona. Wanita yang umurnya terpaut 7 tahun lebih tua dariku. Dia adalah sekretaris Appa di perusahaan yang Appa miliki.
Mereka bertemu pertama kali sejak Appa mengangkat wanita itu menjadi sekretarisnya, karena sifatnya yang pintar dan cekatan. Namun di balik keputusan Appa itu, diam-diam wanita itu mencoba menarik perhatian Appa. Kemudian perlahan-lahan, ia dan Appaku berselingkuh.
Teganya Appa meninggalkan eomma di saat-saat seperti ini. Di saat eomma sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya.
Bahkan semenjak seminggu yang lalu eomma masuk rumah sakit, Appa hanya sekali menjenguk eomma. Itupun hanya sekitar 10 menit. Tidak kurang tidak lebih. Hanya aku dan Hoseok hyung yang bergantian menjaga eomma, karena tak ada orang lain yang bisa meluangkan waktunya untuk menjaga eommaku.
Termasuk Taehyungie.
Sesaat setelah eomma di rawat dokter, aku langsung mencoba menghubungi Taehyungie berkali-kali. Berkali-kali itu pula ia tidak mengangkat teleponku sama sekali. Baru sehari kemudian dia menelponku balik, dan mengatakan bahwa ia sedang berada di luar kota selama 3 hari untuk memberikan undangan wisuda kelulusan high schoolnya kepada orang tuanya yang tinggal di Daegu. Ia berkata bahwa sekembalinya dari Daegu ia akan segera menemuiku.
Dan ia datang seminggu kemudian.
Jauh lebih lama daripada janji yang ia ucapkan.
Dan disinilah kami berada, di sebuah restaurant cepat saji yang menyajikan menu hamburger berukuran jumbo dengan ekstra daging dan saus spesial yang di rekomendasikan baru saja datang menjenguk eommaku dan langsung mengajakku keluar. Aku bergantian menjaga eomma dengan Hoseok hyung, sementara kami keluar untuk makan siang. Dan jujur saja, ini bukanlah makan siang yang menyenangkan.
"Baby, kenapa diam saja. Kau mau pesan apa? Hamburger jumbo with extra cheese? Atau Hamburger jumbo with special sauce?"
Aku menggelengkan kepalaku dengan tidak bernafsu. "Aku mau yang kecil saja"
Taehyungie menatapku dengan raut bingung. "Tapi disini terkenal dengan menu jumbonya, Kookie"
"Aku tak berselera, hyung" aku meletakkan buku menu itu.
Taehyungie mengangguk perlahan kemudian memanggil waiters untuk mencatat pesanan kami. Ia kembali menawarkanku soda, susu, yogurt, squash, dan entah jenis minuman lainnya. Namun aku menolaknya dan memilih air putih sebagai gantinya. Sungguh, aku sedang tidak berselera. Bahkan sebelum Taehyungie datang ke rumah sakit, aku lupa bahwa aku belum makan apapun selama 2 hari. Membohongi Hoseok hyung dengan mengatakan bahwa aku baru saja mengunyah makanan.
"Jungkookie, kau marah padaku?"
Taehyungie bertanya dengan nada lembut. Ia mencoba meraih tanganku yang ku letakkan di atas meja, namun aku menariknya. Menyembunyikannya diatas pahaku.
Aku belum menjawabnya. Aku tidak marah pada Taehyungie, aku hanya sedikit kesal. Kesal karena bahkan selama 7 hari itu, aku sangat sulit menghubunginya. Bahkan disaat kekhawatiranku akan eomma memuncak, aku tak dapat berkomunikasi padanya. Ia selalu membalas pesanku dalam jangka waktu lama. Berjam-jam. Tidak seperti biasanya yang hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Ia bahkan tak menelponku jika menjelang waktu tidurku, tidak seperti yang biasa ia lakukan. Katakanlah aku kekanakan, tapi mendengarkan deep voicenya yang mengalun indah melalui pesawat telepon belakangan ini sudah menjadi lagu wajib bagiku. Suaranya adalah lullabyku. Dan ketika lullaby itu perlahan-lahan menghilang, aku jadi kesulitan tidur lagi seperti sebelumnya.
"Baby, aku kan sudah mengatakannya. Aku pergi menemui orang tuaku di—"
"Daegu" potongku. "Aku tahu hyung. Kau sudah mengatakannya"
Taehyungie menatap mataku, setidaknya itulah yang kurasakan, karena saat ini aku memalingkan wajahku darinya. Menghadap ke arah jendela, yang menampilkan puluhan orang yang berlalu lalang di jalanan. Aku menghindari tatapannya.
Dalam hati. Jauh di dalam hatiku, aku sangat khawatir dengan ucapan hyungku.
Hoseok hyung berkali-kali mengingatkanku jika Taehyungie sering berada di dekat seorang wanita cantik. Bahkan Hoseok hyung bersumpah, jika Taehyungie berciuman dengan wanita itu. Itu benar-benar membuatku khawatir. Aku takut jika itu memang benar adanya. Jika itu memanglah kenyataan.
Bagaimana jika dia berpaling dariku?
Bagaimana jika dia sudah tak lagi mencintaiku?
Aku meremas blue jins yang ku kenakan. Aku tak ingin Taehyungie pergi dariku dan memilih wanita lain. Mencintai wanita lain. Tapi aku sadar diri jika aku adalah seorang pria juga. Sama seperti dirinya. Bagaimana jika dia merubah orientasi seksualnya dan benar-benar meninggalkanku?
Kepalaku terasa sangat pening. Bagaikan di hujam batu-batu besar tepat diatas ubun-ubunku.
"Lantas kenapa kau bersikap seperti ini, Kookie? Katakan apa salahku"
Aku mencoba menahan kesadaranku. Jangan pingsan Kookie, jangan pingsan disini..
"Kau..." aku mengumpulkan kata-kata yang tersangkut di tenggorokanku. "Kenapa kau susah di hubungi belakangan ini hyung?"
Taehyungie menjawabnya dengan hati-hati. "Karena ada beberapa hal yang harus ku selesaikan di Daegu, Kookie. Belum lagi kesibukanku di sekolah. Kau kan tahu minggu depan aku akan wisuda?"
Aku mengangguk mengiyakan ucapannya.
"Aku tahu kau akan wisuda, hyung. Tapi sebelumnya meskipun kau sesibuk ini, kau selalu menyempatkan diri untuk mengabariku. Mengangkat teleponku atau bahkan sekedar membalas pesanku. Kau bahkan sudah tidak menelponku sebelum tidur seminggu ini. Apalagi kau tahu aku sedang dalam kondisi dimana aku membutuhkan dukungan darimu, hyung. Eommaku semakin kritis"
Aku terisak. Air mata lolos begitu saja dari mataku saat lidahku menyebutkan kata eomma. Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku yang terbuka lebar. Menahan tangisanku dengan menggigit bibirku hingga kurasakan asin dari darah yang keluar dari sana.
"Baby, astaga, maafkan aku"
Detik itu juga Taehyungie meninggalkan kursinya dan bergegas untuk duduk di sebelahku. Ia menarik tubuhku ke dalam pelukannya dan menenggelamkan kepalaku di dadanya. Jemari panjangnya membelai lembut rambutku, membuat tangisanku yang sempat tertahan akhirnya tumpah juga. Aku menyerah jika membicarakan soal eommaku. Aku sangat menyayanginya. Aku sangat takut kehilangannya dan kehilangan kekasihku juga. Aku benar-benar takut mereka meninggalkanku.
"Menangislah, baby. Aku disini"
Taehyungie mengecup pelan puncak kepalaku seraya membelai-belai punggungku. Aku masih terisak, tak peduli dengan keadaan sekitar. Aroma maskulin yang biasanya terpancar dari Taehyungie, kali ini dapat ku hirup dalam-dalam. Air mataku membasahi kaus putihnya, dan aku semakin menyurukkan kepalaku ke dada bidangnya.
"Aku takut kehilangan kalian" bisikku pada akhirnya. Mengutarakan ketakutan terbesarku saat ini.
Bibir Taehyungie mengucapkan kata 'sshh' sembari mengecup-kecup pundakku. "Kau tak akan kehilangan eommamu, baby" ucapnya mencoba menenangkanku. Membuatku semakin menangis membayangkan eomma.
"Bagaimana denganmu? Kau seperti mencoba menghilang dariku. Aku tak mau kau pergi. Aku tak ingin kehilanganmu, hyung. Kau membuatku sangat takut"
Kaus putih itu semakin basah. Sesaat kemudian Taehyungie berucap padaku.
"Jeon Jungkook, hey, dengarkan aku"
Taehyungie menarik kepalaku menjauh dari dadanya. Ia mengangkat wajahku tinggi-tinggi agar sejajar dengan wajahnya. Dengan usapan lembut, ia menghapus bulir-bulir air mata yang masih terpatri di netraku. Aku memejamkan mataku merasakan sentuhannya. Salah satu tengannya menyentuh daguku dan mengangkat wajahku lagi yang masih agak menunduk. Aku memandangnya. Menyelam di kedalaman hazel indahnya. Hazel yang mampu menghipnotisku hanya dengan sekali pandang. Hazel yang menjadi candu untukku. Hazel yang ingin ku lihat selamanya.
"Aku tak akan kemana-mana, Jungkook. Aku akan selalu di sampingmu, apapun yang terjadi"
Janji itu terucap.
Janji yang akan selalu kuingat. Bahkan ketika netra indah itu tak dapat lagi ku lihat...
"Aku pergi dulu, Jungkook. Jaga dirimu baik-baik"
Yoongi hyung mengusap rambutku—ralat, mengacak-acak rambutku dengan tangan mungilnya, membuatku mengumpat dan menjauhkan tangannya sejauh mungkin dari rambutku. Dasar orang itu.
"V ssi, jaga Jungkook dengan benar. I'm watching you"
V terkekeh mendengar ucapan Yoongi hyung. Ia membalas peringatan Yoongi hyung secara serius bak tentara yang mendapatkan komando dari atasannya.
Childish.
Setelah Yoongi hyung keluar dari rumah, aku memusatkan pendengaranku pada kekehan V yang masih terdengar. Beberapa hari belakangan mereka berdua, Yoongi hyung dan V, jadi semakin akrab. Mereka membantu segala keperluanku sejak di rawat hingga sekarang aku di rumah. V bahkan, well, sepertinya patut di acungi jempol karena usahanya memenuhi keinginanku. Aku sudah memerintahnya untuk membeli berbagai jenis hal yang ku mau selama di rumah sakit, dengan catatan jangan sampai ketahuan oleh dokter. Cotton Candy, Ice Cream, Lava Cake, Red Velvet Cake, dan berbagai makanan manis lain praktis sudah ku santap dengan lahap selama disana. Entah mengapa, rasanya nafsu makanku menjadi membaik setelah insiden itu. Mungkin karena pria itu yang selalu menemani dan memenuhi kebutuhanku tanpa kenal waktu.
Hell, aku benci mengakuinya.
Tapi benar, V sudah berusaha meskipun aku masih bersikap dingin dan jutek padanya.
Ini gawat. Bisa-bisa V akan betah menjadi perawatku dan tidak mau melepaskan pekerjaan itu.
Dia bahkan meminta pada ahjumma untuk menginap di rumahku mulai kemarin malam. Ia bersikeras memintanya meskipun aku melarang dan menolaknya habis-habisan. Dan sialnya, kamarnya berada tepat di sebelah kamarku. Dia berujar jika tiba-tiba aku butuh bantuan, aku hanya tinggal memanggil dia. Dia tak tahu apa yang baru saja di ucapkan, karena aku berjanji akan selalu merepotkannya. Tapi sekali lagi, tiap kali aku menyuruhnya melakukan apa yang ku mau, ia selalu melakukannya dengan kekehan khasnya.
Menyebalkan.
"Hey, Kookie. Jangan melamun"
Tangan V menowel pundakku. Aku mengerjapkan mataku dan mendengus padanya.
"Jangan sentuh-sentuh" ucapku. Sekali lagi pria idiot itu malah terkekeh mendengar ucapanku.
"Berhentilah tertawa seperti idiot!" semburku. "Tawamu itu sangat mengganggu telingaku"
V menghentikan kekehannya. Namun masih terdengar jika ia menahan tawanya itu. Sepertinya ia membekap mulutnya sendiri.
Beberapa detik setelahnya baru ia menjawab protesku. "Kurangilah omelanmu itu, Kookie. Kau malah semakin lucu jika sedang mengomeliku"
Tanganku yang memegang tongkat berwarna hitam sontak ku ayunkan ke arah sumber suara. Tepat. Ayunanku sepertinya mengenai perutnya.
"Aww. Sakit, Jungkook! Hentikan! Aww"
Aku mengabaikan rentetan aduhan dari orang itu dan semakin menyodokkan tongkat itu ke perutnya.
"Mangkannya, jangan menggodaku!"
V mengaduh lagi seraya memintaku agar berhenti. Akhirnya akupun menarik tongkatku dari perutnya yang sepertinya agak gembul.
"Apa kau seorang ahjussi? Kenapa perutmu gendut sekali?"
V meringis selama beberapa saat sebelum gantian menyemburku dengan kata-katanya. "Kau kejam sekali. Baru saja tongkat ajaibmu itu menusuk-nusuk perutku dengan ganas dan sekarang kau bilang jika perutku gendut bagaikan ahjussi. Asal kau tahu Tuan Jeon, perutku ini adalah bagian tubuh favoritku. Perutku memanglah tidak memiliki 6 kotak, namun perutku ini cukup empuk untuk di jadikan bantal. Kau tak akan tahu seberapa nyenyak kau akan tidur dengan perutku sebagai alasnya. Perutku ini aset untukku"
Ucapannya dengan nada merengek itu sontak membuatku tertawa. Aku memang tidak dapat melihat ekspresi wajahnya, namun dari suaranya saja ia terdengar cukup lucu.
"Kau tertawa Tuan Jeon. Beraninya kau menertawai perawatmu yang setia ini?"
Aku memegangi perutku yang terasa sakit karena tawaku. Saat ini aku membayangkan jika orang yang sedang mengomel di depanku ini merupakan sosok ahjussi berumur 40 tahunan dengan perut buncit dan kumis lebat. Eww, aku bergidik namun merasa geli sendiri.
"Nah sekarang kau yang tertawa. Tadi saja kau melarangku tertawa, padahal ucapanku tidak lucu" sungutnya. Aku menghentikan tawaku perlahan-lahan.
Aku mengatupkan mulutku. Jadi seperti ini rasanya tertawa. Begitu melegakan. Rasanya kemampuanku untuk tertawa sudah terpendam selama bertahun-tahun. Namun ketika kali ini aku mengeluarkannya, rasanya seperti bebanku sedikit terangkat. Aku merasa lebih ringan.
"Teruslah tertawa, Jungkook. Tawamu sangat enak di dengar"
Kepalaku menggeleng. "Cukup. Jangan berlebihan"
"Jungkook ah, kau suka Black Forest?" V bertanya tiba-tiba.
Black Forest? Siapa juga yang tidak suka kue yang super-duper-enak itu? Aku menganggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.
"Ayo kita buat kue itu! Aku sudah melihat video cara membuatnya dari internet. Bantu aku untuk membuatnya, eoh?"
"Kau kan bekerja disini. Beraninya kau memerintahku" ucapku dengan ketus lagi.
V mendesah kesal. "Ayolah Tuan Jeon. Hentikan sindrom rajamu itu. Ayo kita ke dapur. Aku sudah meminta tolong pada ahjumma untuk membeli bahan-bahannya. Di jamin, ini akan seru!"
Secara tiba-tiba V menarik tangan kananku yang menganggur lalu meletakkannya di dalam saku sweater yang ia kenakan. Aku terkesiap kaget karena tindakannya itu. Namun sebelum aku sempat protes, dia sudah mulai berjalan sembari memegang tanganku yang berada di saku itu agar tidak keluar.
"Jangan banyak protes, Kookie. Ikuti aku saja"
Aku mengikutinya berjalan sembari bersungut-sungut. Serius, tanpa bantuannyapun aku sebenarnya bisa pergi sendiri ke dapur. Tapi idiot itu bersikeras untuk membimbingku berjalan. Ia melontarkan banyak peringatan tentang berbahayanya dapur jika aku berjalan sendiri ke sana. Dasar orang aneh. Memangnya dapur itu ladang ranjau apa, hingga perlu di kategorikan sebagai "berbahaya".
"Nah, ini dia! Ta tarara tata!"
V melepaskan tanganku dari sakunya seraya berucap heboh. Bagaikan menyambut seorang raja saja.
"Pertama-tama, pakai sarung tangan ini"
Orang itu menyerahkan sepasang sarung tangan elastis ke telapak tanganku. V terdengar sangat antusias saat melakukannya, mau tak mau aku sedikit tersenyum, sedikit saja, sembari mengenakan sarung tangan itu.
"Inilah bahan-bahannya, Kookie. Coba kau sentuh satu persatu"
Aku mengerjap saat tanganku menyentuh sesuatu yang bertekstur empuk dan lembut, seperti... mentega?
"Apa ini?" tanyaku.
V menjawabnya dengan tenang. "Itu margarin"
Ia lalu mengarahkan lagi tanganku ke kiri, menyentuh beberapa butir telur yang sudah di siapkan. Lalu ke sampingnya lagi yaitu Dark Chocolate. Kemudian tanganku menyentuh beberapa benda berbentuk bulat mungil dengan tangkai kecil di atasnya.
"Itu cherry" ucap V. "Kau suka cherry, bukan?"
Aku mengernyitkan keningku.
"Darimana kau tahu aku suka cherry?"
V menjawabnya dengan sedikit tergagap. "Emm, semua orang suka cherry bukan?"
Aku hendak menanyakan lagi namun dia sudah terlebih dahulu menempelkan buah cherry itu tepat di depan bibirku.
"Aaa.."
Aku membuka mulutku mengikuti ucapannya dan mengunyah buah mungil itu. Rasa manis menjalar di dalam mulutku ketika gigiku saling berbenturan mengunyahnya. Ini enak.
"Kau suka?"
Aku mengangguk lagi. Tanganku terulur untuk mengambil sebuah lagi dari mangkuk itu namun V menahanku sejenak dan mengambil buah itu dariku.
"Tunggu sebentar. Masih ada dahannya"
Ia mematahkan dahan itu dan menyuapkan lagi buah manis itu ke mulutku. Aku tersenyum saat mengunyahnya. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku memakan buah ini.
"Manis sekali" ujarku.
"Sama sepertimu"
Aku menelan cherry itu tiba-tiba, sehingga membuatku tersedak.
"Apa katamu?"
Masih terbatuk sedikit kala V memberikan segelas air putih padaku. Aku buru-buru meminumnya ketika mataku terasa panas dan hampir kehabisan nafas.
"Hati-hatilah saat mengunyah, Jungkook" ucap V dengan nada khawatir. Ia menepuk-nepuk punggungku dan mengusapnya perlahan.
Aku memberikan gelas yang telah kosong itu padanya dan menarik nafasku perlahan-lahan. Sial, karena buah cherry saja aku nyaris kehabisan nafas.
"Kau bilang apa tadi?" tanyaku lagi. V bergumam tidak jelas mengungkapkan kata 'tidak, 'jangan dengarkan aku', dan 'lupakan' berulang kali. Aku menatap bingung padanya.
"Kau mau black forest kukus atau panggang?"
"Kukus sepertinya boleh juga"
Setelahnya V segera mengolah bahan-bahan tersebut. Dia membuat adonan kue yang terdiri dari telur, gula pasir, baking powder, tepung terigu, maizena, dan cokelat bubuk. Aku yang berdiri di sebelahnya hanya diam saja sembari mendengar celotehannya yang menyebutkan langkah demi langkah selanjutnya. Gaya bicaranya bagaikan seorang chef yang memberikan instruksi kepada muridnya. Sesekali dia berujar 'yeah', 'no', 'sial', dan sejenisnya.
"Kau harus mencampurnya dengan takaran yang benar, Kook. Jangan lupa pisahkan kuning telur dan putih telurnya. Gula pasirnya juga harus pas. Sekitar 150 gram saja. Jangan lebih, jangan kurang. Nanti tak enak"
Aku mengangguk-angguk patuh seraya sesekali mengulurkan telur, atau sendok yang ia butuhkan.
"Kau mundur sedikit, Kookie. Di depanmu ada kompor. Aku akan menyalakannya untuk melelehkan mentega"
Aku mundur 2 langkah sehingga punggungku menempel dengan meja. Aku sedikit heran dengan diriku hari ini. Kenapa aku menuruti begitu saja perintah V? Aku bahkan tak berucap ketus atau memarahinya selama sekitar satu jam ini. Biasanya tiap menit saja aku selalu mengomelinya.
Suara desisan wajan yang beradu dengan mentega memenuhi dapur ini. Aroma lelehan mentega seketika menguar, membuat perutku yang mulai lapar ini sedikit berbunyi. Aku menekan perutku agar V tidak mendengarkan bunyi perutku.
"Jungkook, kau bisa mengambil loyang lingkaran di atas meja itu? Tepat di sebelah cherry tadi"
Aku membalikkan tubuhku dan meraba-raba meja makan yang luas ini. Tanganku menyentuh sebuah benda berbentuk lingkaran, namun dengan ukuran yang tidak terlalu lebar.
"Ini?" tanyaku sembari mengacungkan benda itu. Aku meraba-raba benda itu. Bentuknya terlalu tipis..
"Bukan, Jungkook. Yang sebelahnya" titah V. "Yang kau pegang itu nampan buah"
Aku meletakkan lagi nampan buah itu dan meraba tepat dimana nampan tadi berada. Aku menyentuh permukaan sebuah benda yang cukup dingin. Aku mengangkatnya dan mengetuk-ketuknya dengan kuku jariku. Sepertinya kali ini benar.
"Apa ini loyang?"
V langsung bergumam setuju. "Good job, Kookie. Sekarang bisakah kau mengolesi loyang itu dengan margarin? Margarin dan sendoknya ada tepat di sebelah dark chocolate. Oh ya, jangan lupa beri alas roti, ada di samping sendok"
Aku mengambil alas roti dan margarin itu, kemudian mulai mengolesinya perlahan-lahan. Aku menggunakan instingku dalam menyelesaikan 'tugas'ku ini. Aku mengolesinya ke kiri dan ke kanan. Cukup mudah. Aku tersenyum puas setelah selesai melakukannya.
"Aku sudah selesai V" ujarku seraya mengangkat loyang itu. Menunjukkannya pada V.
"Bagus, Jungkook. Bagus sekali. Sekarang tunggu sebentar, eoh? Aku sedang menyelesaikan ini"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Aku mendengar suara dentingan sendok dan mangkuk. V terdengar seperti sedang mengaduk sesuatu.
"Aku sedang membuat isi dari kuenya, Kook"
"Boleh aku mencobanya?"
V menghentikan kocokannya. Beberapa detik kemudian aku merasakan dinginnya mangkuk yang ia letakkan di kedua tanganku. Ia memindahkan mangkuk adonan itu ke tanganku, sehingga aku memeluk mangkuk itu.
"Kocok dengan perlahan namun bertenaga, Kook"
Aku mengikuti arahannya. Ia menyuruhku mengerahkan tenagaku dalam mengaduk isian itu. Ia beberapa kali menegurku seraya terkekeh karena tenagaku yang kurang mantap saat mengaduknya. Ia berkata perlahan namun bertenaga, bagaimana aku harus mengaduknya coba? Saking kesalnya karena gerakan tanganku yang di nilai masih kurang, aku mengaduk adonan itu dengan sangat kencang. Membuat sedikit adonan cokelat itu terciprat ke wajahku, mengenai pipi, kelopak mata, dan ujung hidungku.
"Aah, wajahku.."
Aku mengerang kesal seraya menghapus cipratan itu. Yang mana malah membuat cokelat itu semakin merata di kulitku. V yang berdiri di sampingku, terbahak-bahak melihatku berantakan sembari menggerutu. Tawanya sebegitu puas menggelegar di dapur ini, bukan kekehan ringan seperti yang sebelum-sebelumnya ia perlihatkan.
"Lihatlah wajahmu, Kook. Kau sangat belepotan!"
Aku mendesah kesal seraya mencoba menjilat-jilat ujung hidungku. Rasanya manis. Sial, wajahku terlumur oleh cokelat.
"Sekarang kau sesuai dengan namamu. Kookie yang manis"
V tertawa lagi dengan sangat menyebalkan. Aku yang sangat kesalpun segera mencolek adonan cokelat itu dan mengusapkannya dengan asal ke sosok di sebelahku ini.
"Yak, Jeon Jungkook! Kau menodai dahiku!"
Aku terkikik mendengarnya. Aku mencolek lagi adonan itu dan mengoleskannya ke arah V, berkali-kali, membuat V tertawa karena usahaku untuk membuatnya terlihat berantakan juga.
"Yak, Jungkook! Hentikan!" V menahanku agar tidak menyerangnya lagi, namun dengan tawa yang lepas. Kami berdua tertawa-tawa bagaikan orang bodoh. Menertawakan sifat kekanakan yang kadang keluar dengan sendirinya.
"Kau mengotori seluruh wajahku! Bahkan rambutku juga kena, Jungkook! Wah, kau benar-benar—"
Aku menjulurkan lidahku mengejeknya. "Salah sendiri menertawakanku!"
Akhirnya kamipun melanjutkan aksi pembuatan black forest kami dengan wajah, dan dalam kasus V—rambut, yang penuh dengan cokelat. Aku masih menjilat-jilat pipiku yang kini terasa manis.
"Pegang dan tahan, Kook. Aku akan menuangkannya ke dalam loyang"
V menuangkan adonan itu pelan-pelan. Aku memegangi sisi kiri dan kanan loyang, menahannya agar tidak miring ataupun terjatuh. Setelah beberapa detik, setelah semua adonannya itu masuk ke salam loyang, V mengangkatnya dan memasukannya ke dalam panci yang sudah ia sediakan. Ia berkata, butuh 20 menit agar kukusannya matang dengan sempurna.
Aku melepaskan sarung tanganku untuk mengusap poniku yang menutupi mataku. Memang sih, tertutup poni ataupun tidak, aku tetap saja tidak bisa melihat. Namun tetap saja poni yang kepanjangan itu sedikit menggangguku.
"Kau mau ke salon untuk potong poni?"
Aku mengangkat kepalaku yang tadi menunduk. V menawari untuk mengantarku ke salon. Aku mau saja sih pergi ke salon, namun aku selalu merasa risih dengan gumaman orang-orang yang membicarakanku. Membicarakan kecacatanku. Aku benci menjadi bahan omongan orang. Akhirnya aku menggelengkan kepalaku.
"Aku tak mau pergi ke salon"
"Kau mau aku membantumu memotongnya?" tawar V lagi. "Aku juga terkadang memotong poniku sendiri"
Aku menyibakkan poniku lagi. "Kau punya poni juga?"
V bergumam mengiyakan. "Aku juga mewarnai rambutku sendiri, kadang-kadang"
"Rambutmu berwarna apa?"
"Brunette"
"Wow" gumamku. Warna itu adalah warna idamanku. Aku selalu ingin punya kesempatan untuk mewarnai rambutku dengan warna itu. Tapi apakah berpengaruh banyak padaku? Toh aku juga tidak bisa melihatnya..
"Kau mau aku mewarnai rambutmu?"
Aku mengedikkan bahuku perlahan. "Entahlah. Aku tak yakin"
"Percaya padaku, Kook. Kau akan terlihat bagus dengan warna itu"
"Kau yakin?"
"Tentu saja"
Aku menimang-nimang sejenak sebelum dengan patuh mengiyakan tawarannya. "Warnai rambutku dengan warna itu"
"Warna yang sama denganku?"
Aku mengangguk sekali.
"Kau yakin?"
Aku mengangguk lagi. "Tapi kau harus merubah warna rambutmu. Aku tak mau sama denganmu"
V mengusap puncak kepalaku, membuat tubuhku sedikit meremang. Ia lalu mengacak-acak surai hitamku seraya tertawa.
"Baiklah Tuan muda Jeon. Aku akan merubah rambutku menjadi merah. Bagaimana, kau setuju?"
Aku tertawa mendengar pilihan warnanya. Merah sungguh warna yang mencolok.
"Kenapa tidak sekalian warna warni saja" tawarku sambil terkekeh. Kekehannya menular padaku. "Biar seperti rainbow cake"
Tiba-tiba saja V menarik kedua pipiku dengan kencang, membuatku mengaduh karena sakit.
"Dasar gembul. Sekarang hanya cake saja yang ada di pikiranmu, eoh?"
Aku menampar tangannya dari pipiku dan menjauhkan wajahku dari tubuhnya. "Sakit, idiot! Kenapa kau menarik pipiku!" aku mengusap-usap pipiku yang terasa panas akibat ulah si idiot V tadi.
Kekehan V terhenti dan tergantikan oleh teriakannya yang tiba-tiba.
"Oh astaga, black forestnya!"
V beranjak dari duduknya dan mendatangi kompor di belakangku. Aku berbalik seraya meraba-raba kursi agar tidak menabrak kompor itu.
"Kelebihan 5 menit! Oh tidak!"
Dengan panik V menyuruhku bergeser karena ia akan meletakkan loyang itu ke atas meja. Ia meletakkan loyang itu dengan terburu-buru, sehingga loyang itu terdengar bergerak dari meja. Dengan instingku, aku menahan loyang itu yang nyaris jatuh dari atas meja. Namun sedetik setelah aku menggeser loyang itu agar lebih ke tengah meja, aku menjerit kesakitan.
Aku mengibas-kibaskan tanganku yang terasa sangat panas dan perih akibat memegang loyang yang baru saja V angkat dari kompor. Bodohnya aku karena tidak mengenakan lagi sarung tangan yang tadi sempat ku lepas. Atau mengenakan sarung tangan tebal yang biasa di sediakan di dapur.
"Aww.. shh.."
"Jungkook!"
V mendatangiku. "Kau menyentuh loyang itu? Kau menyentuh loyang panas itu?"
Aku meringis sembari menggerak-gerakkan jariku. "Aku mengangkatnya"
Sial, jariku terasa sangat perih. Apakah melepuh? Membengkak? Aku mengerang menahan rasa sakitnya.
"Kenapa kau mengangkatnya? Kau bahkan tak mengenakan sarung tangan! Loyang itu masih sangat panas, Jungkook!"
"Karena kau meletakkannya terlalu ke tepi. Loyang itu akan jatuh, jadi aku mengangkatnya!"
Aku meniup-niup jariku. Menyebalkan sekali V. Bukannya membantu, malah mengomeliku.
"Kemarikan tanganmu"
V menarik kedua tanganku ke arahnya. Aku memiringkan tubuhku yang terduduk di meja, mengikuti suaranya. Aku merasakan jika V menunduk di depanku, atau duduk di bawah tepat di depanku.
Lalu tiba-tiba sesuatu yang hangat dan basah menyelimuti ibu jariku. Aku terkesiap kaget sebelum menyadari apa yang sedang ia lakukan. Saat itu juga aku menarik tanganku menjauh darinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku panik. Aku menyentuh ibu jariku yang basah terkena ludahnya.
"Itu akan membantu mengurangi rasa perihnya" ia menarik tanganku lagi, memaksaku kembali duduk. "Duduk dan tenanglah. Aku tidak berniat macam-macam padamu"
"Tapi kau—"
"Sshh.."
Ia mengulum lagi ibu jariku. V menyesapnya selama beberapa saat. Selama itu pula jantungku terasa berhenti berdetak. Tak mau berfungsi. Tubuhku menegang sebagai respon atas apa yang ia lakukan. Pria itu masih dengan tenangnya mengulum dan menyesap ibu jariku. Ia bahkan mengecupnya 3 kali sebelum berpindah ke jari telunjukku.
"Aww, shh.. perih.."
V mengabaikan rengekanku dan terus menyesap jariku. Kini paru-paruku yang kembali macet. Aku kesulitan bernafas. Rasanya pasokan oksigen semakin berkurang di tiap kecupan V di jariku. Aku menelan ludahku dengan susah payah. Demi Tuhan, kenapa aku ini? Kenapa aku merinding dan merasa... nyaman, dengan sentuhan bibir V di jariku?
Sial, apa kataku tadi? Nyaman? Ku rasa otakku mulai korslet.
Setelah mengecup-kecup jari kelingking tangan kananku, ia menarik tangan kiriku dan mulai mengulum ibu jariku lagi. Perlahan-lahan jariku itu masuk ke gua hangatnya, bertemu dan bercampur dengan salivanya. Tanganku tertarik ke bawah. Sepertinya V duduk bersimpu di depanku? Sehingga ia lebih mudah menyesap jemariku.
Lututku terasa lemas.
Aku meringis sedikit saat V menyesap jari tengahku. Jari itu yang terasa paling perih. Tanpa sadar aku meremas tangannya menahan perih.
"Tahan, Kookie"
Aku menurutinya dan menggigit lidahku menahan sesuatu. Sial, kenapa dia lama sekali mengulumnya? Gambaran berbagai bayangan di kepala membayangiku. Gambaran dia yang duduk bersimpu sembari menyesap jariku sedikit banyak membuatku sulit fokus.
"Nah, sudah" V meneltakkan tangan kiriku di atas pahaku. "Sudah tak terlalu perih lagi kan?"
Aku mengerjapkan mataku, mengenyahkan bayangan pria itu dari kepalaku.
Fokus, Jungkook. Fokus..
Aku menggerakkan jemariku perlahan. Rasa perih itu masih ada, namun sudah banyak berkurang. Setidaknya sudah tidak seperih tadi.
"Maafkan aku. Aku ceroboh sehingga melukai tanganmu" V sepertinya sudah berdiri saat mengucapkannya. "Akan ku ambilkan tissue"
V kembali lagi seraya membawa tissue yang langsung ia usapkan ke jariku. Setelah tadi jariku ia kulum satu persatu, kali ini dia membersihkan sisa salivanya. Tubuhku meremang lagi saat tanganku dan tangannya bersentuhan. Tuhan, kenapa aku ini?
"Maaf aku harus mengulum jarimu, Kook. Aku hanya ingin membantumu"
Harusnya aku marah. Seharusnya aku membentaknya atau menamparnya karena sudah berbuat lancang padaku. Atau mungkin seharusnya aku bersikap dingin lagi dan membalas ucapannya dengan penuh sindiran. Seharusnya aku tidak bersikap bersahabat dengannya. Tidak ingin berpikir bahwa ia punya kesempatan untuk merubahku menjadi lebih terbuka. Namun yang ku katakan malah hal sebaliknya.
"Tak apa. Terima kasih, V"
Untuk pertama kalinya setelah 10 tahun, aku mengucapkan kata terima kasih pada seseorang.
"Ini dia pesanannya. Silakan menikmati"
Waiters itu datang dengan membawa pesanan hamburger yang sudah Taehyungie pesan. Pelayan itu terlihat sedikit limbung karena membawa dua buah nampan dengan isi yang penuh. Sialnya, saat ia telah meletakkan nampan milik kami, nampan satunya yang berisi milkshake itu terjatuh dan minuman itu sukses tumpah di pangkuan Taehyungie. Membuat celana bahan dan kaus putih polos yang ia kenakan sukses terkena noda minuman itu.
"Sial!"
"Astaga, Tuan. Maafkan saya"
Waiters itu buru-buru mengambil tissue bersih yang juga ia bawa dan menyerahkannya pada Taehyungie seraya meminta maaf berkali-kali.
"Hyung, astaga. Celana dan kausmu basah sekali"
Aku membantunya mengelap kaus dan celananya dengan tissue itu. Such an useless. Percuma juga, celana dan kausnya sudah terlanjur basah. Noda cokelat kini tercetak dengan jelas.
"Kau tidak kena milkshakenya kan, baby?"
Aku menggelengkan kepalaku. Dengan kesabaran yang patut ku acungi jempol, Taehyungie membiarkan waiters itu pergi tanpa berdebat sepatah katapun dengannya.
"Benar-benar ceroboh. Kenapa pula sih dia harus membawa dua nampan seperti itu?" Dengan bersungut-sungut aku menggosokkan tissue ke kaus milik kekasihku itu.
"Sudahlah tak apa, baby" Taehyungie bangkit berdiri dari sebelahku. "Ku rasa aku harus membersihkannya sebentar di toilet"
"Tunggu disini, baby"
Aku mengangguk mengiyakan. Diapun langsung berjalan menuju toilet pria yang berada tak jauh dari tempat kami duduk.
Aku hendak menyesap soda pesananku saat handphone milik Taehyungie bergetar. Dia meninggalkannya di atas meja dan ada sebuah panggilan masuk. Karena penasaran aku mengambil handphone itu.
Bae Irene
Aku menelan ludah saat membaca nama yang tertera di layar ponsel itu. Bae Irene... siapa Bae Irene? Bae? Apa maksudnya Bae? Apakah itu nama marga atau Bae...
Tanpa pikir panjang akupun mengangkatnya.
"Baby, kau dimana? Aku terbangun dan mendapatimu sudah tak ada di ranjang. Apa kau menemui Park Jimin?"
Jantungku berhenti berdetak.
Aku tak dapat berkata-kata lagi saat mendengar ucapan dari sosok wanita di seberang sana. Suara itu seperti baru saja bangun tidur dan terdengar agak sensual.
Sial.
"Baby? Kau mendengarku? Mari kita bermain lagi. Aku belum puas dengan dua ronde semalam"
Rahangku mengeras. Namun anehnya tubuhku terasa sangat lemas. Lututku bergetar, dan perutku mual. Kata kata seperti 'ranjang', 'bermain', dan 'ronde' berputar-putar, menggema di kepalaku. Telingaku terasa panas. Dan saat itu juga nyeri terbentuk di dadaku. Rasa sakit itu mulanya hanya setitik, namun lama-lama melebar menjadi sebuah lubang di hatiku. Aku meremas dadaku menahan sakit.
"Siapa kau?"
Hanya itu yang terlontar dari mulutku. Suara wanita itu sedikit hilang. Mungkin ia kaget karena bukan Taehyungie yang menjawab panggilannya.
"Apa itu kau Jeon? Jeon Jungkook?"
Suara wanita itu mengalun lagi. Nadanya begitu merendahkan. Begitu mencelaku. Seolah-olah dia mempermainkanku.
"Kau siapanya Taehyungie?"
Wanita itu tertawa. Terkekeh mendengar pertanyaanku. Rasa sakit di dadaku menjalar, membuat mataku memanas.
"Jadi benar ini kau Jeon Jungkook? Oh astaga, aku tidak menyangka bisa berbicara langsung denganmu. Selama ini Taehyung selalu melarangku untuk bertemu denganmu. Dan, oh, apa itu tadi? Taehyungie? Jadi itu panggilan sayangmu padanya? Menggelikan sekali"
Mataku terasa sangat panas. Telingaku juga tak kalah panas. Namun yang lebih panas adalah hatiku.
"Katakan siapa kau sebenarnya" gumamku dengan suara yang nyaris hilang.
Si wanita itu tertawa lagi. "Sesuai yang tertera di layar ponsel Taehyung, tentu saja. Aku Bae Irene. Atau Baby Bae Irene, atau mungkin Bae Irene saja. Aku yakin Taehyung sudah mengganti namaku di ponselnya agar tidak ketahuan olehmu"
Tubuhku menegang. Tidak ketahuan? Aku menggelengkan kepalaku. Bayangan peringatan Hoseok hyung terngiang-ngiang di kepalaku. Tidak.. Ku mohon jangan.. Jangan bilang kalau itu benar.
"Aku Bae Irene, Jungkook. Kekasih Kim Taehyung"
Detik itu juga pertahananku runtuh. Tubuhku terasa di banting dengan sangat keras. Kepalaku terasa pening, lututku terasa lemas, dan aku sangat sangat ingin muntah.
Hatiku terasa sakit. Rasanya sangat sakit. Aku meremas dadaku saat air mataku jatuh satu demi satu. Ponsel Taehyungie masih ku tempelkan di telinga kananku.
Aku masih menggulirkan air mataku kala sosok yang menyakiti hatiku itu berjalan dengan langkah ringan ke arahku. Dia tersenyum lebar sebelum menyadari benda apa yang sedang ku pegang. Tubuhku bergetar, rasanya aku akan ambruk. Dadaku terasa sakit saat melihat Taehyungie membelalakkan matanya. Seolah menegaskan bahwa ia baru saja ketahuan.
"Jungkookie, dengarkan aku!"
Detik itu juga aku melangkah menjauh setapak demi setapak dari hadapan sosok yang sangat ku cintai.
.
.
.
.
.
Review Juseyo :)
PS : Buat yang masih silent reader, ayo dong review :D Review kalian sangat membantu penulisan chapter-chapter selanjutnya.
Follow ig : Summer_plum (double underscores)
