Aku geram waktu kepalaku bergerak sendiri dan mencari dimana dirimu.

Aku bosan karena mataku tidak bisa dialihkan ke orang lain.

Aku sebal kalau tanganku sudah mencoret-coret halaman belakang buku hanya untuk namamu.

Aku kesal jika kakiku selalu melangkah ke tempatmu berada.

Aku jengkel kalau otakku tidak bisa berhenti memikirkan tentangmu.

Aku rasa semua itu tidak penting.

Kau membuatku menggigil dan panas.

Kau membuatku sakit kepala.

Kau membuatku sesak napas.

Kau membuatku merasakan yang aneh-aneh.

Aku marah.

Aku dendam.

Aku harap kau, yang bernama Uchiha Sasuke, tidak pernah dilahirkan ke dunia ini.

.

.

.

Absorbed

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto

Warn: AU/Typo/OOC/Bahasa yang lebay/Mengarah ke reverse harem/Humor yang mungkin tidak cocok ke semua lapisan masyarakat.

SasoSaku a.k.a Flaming cherry blossom

.

.

.

.

.

.

Uchiha Sasuke berbaring malas-malasan di kamarnya. Untuk sejenak lupa dulu tentang dirinya yang enerjik, tangkas, gesit dan cekatan seperti kuli bangunan.

Yah, saat ini dia berhenti begerak dan melakukan sesuatu yang melankolis, membaca surat cinta.

Sasuke hanya pernah dua kali membaca surat cinta. Yang pertama dulu waktu SD, kertasnya berwarna pink dan wangi bukan main. Isinya sangat menggelikan dan tidak realistis, hampir-hampir seperti cerpen. 'Lalu kita akan memiliki bayi dan hidup bahagia selamanya.' Kurang lebih seperti itu bagian akhirnya. Dia ingat langsung mensterilkan indra pengelihatan dengan obat tetes mata milik ayahnya setelah membaca surat yang mengancam kesehatan itu.

Sesudahnya, Sasuke tidak mau lagi membaca yang namanya surat cinta. Kaya makanan dua hari yang lalu, jamuran—eh, basi.

"Kau membuatku merasakan yang aneh-aneh."

Tapi ada pengecualian, yang satu ini karena dia tidak tahu.

Katanya dulu, Haruno Sakura suka padanya.

Maksudnya ayolah, semua perempuan menyukainya. Tapi toh itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan dan jujur dia tidak terlalu peduli. Tapi dari rasa suka itu kemungkinan dimulai sampai detik ini dia menggaruki perut di kamar, dia tidak pernah mengerti, dan tidak pernah ada perkembangan apa-apa tentang hubungannya dengan Sakura.

Curangnya, semua orang tahu, tetapi diam saja. Semua orang termasuk Sakuranya sendiri. Kalau kata-kata si baka Naruto sih tidak pernah di ambil hati.

Tiba-tiba beberapa bulan kemudian dia membaca sepucuk surat yang ditinggalkan begitu saja di kamar Chouji.

Surat cintanya Sakura. Ternyata Naruto benar.

Huruf perhuruf dia baca, dan menyimpulkan, itu bukan surat cinta. Surat cinta tidak pernah membuatnya geer, surat cinta tidak pernah membuatnya merasa sangat tampan, sangat berharga, surat cinta tidak pernah membuatnya merasa punya pengaruh di hidup oranglain, surat cinta tidak pernah membuatnya merasakan yang aneh-aneh. Makanya, itu lebih dari sekedar surat cinta. Setidaknya untuk seorang Uchiha Sasuke.

'Yang menulis ini pasti menyukaimu sampai 200%.'

Sasuke memukul perut kakaknya setelah mendengar itu. Satu karena malu, dua karena sang kakak mengelap bekas upil di bajunya.

Kertas itu berwarna putih kusam, tidak wangi, dan ditulis dengan tangan, tidak ada yang spesial. Namun cukup untuk mengganggu pikiran. Pertamakali dia membacanya biasa saja, kedua kali pun sama, sampai itu menjadi kebiasaan sebelum tidur atau waktu senggang, barulah dia bingung.

Dia tidak menyukai fakta kalau orang yang menulis surat itu sudah berhenti menyukainya.

Hei, kalau ada orang yang berhenti menyukaimu, menyerah dengan perasaan mereka karena sesuatu yang tidak jelas sebabnya. Apa kau akan sedih?

Kalau Sasuke agak sedih, tapi tentu sampai di punggung monyet tumbuh sayap pun dia tidak akan mengaku. Sampai bekicot punya kaki dan menjuarai marathon pun dia tidak akan mengakui, untuk sekilas dalam kepala ia tengah mencari cara agar Sakura bisa suka padanya lagi.

Supaya apa? entah lah. Tapi Sasuke suka membaca surat itu, dia merasa terancam dan geli, ini mungkin yang ke puluh berapa sampai kertasnya lecek. Dia senang kalau Sakura menyukainya.

"Bukannya ini bodoh." kata-kata itu diucapkannya tanpa ekspresi. Menentang opini di dalam hati sendiri. Iya, apalagi jika teringat dia pernah foto-foto di ponsel Sakura, itu rasanya kaya percaya biji jeruk kalau tertelan bisa tumbuh di perut. Bodoh.

Helaan napas panjang dihembuskan laki-laki bermata hitam pekat. Hh, mungkin yang seperti ini harus ditanyakan, mungkin dia harus bicara pada seseorang.

Sasuke menggelindingkan badan, setelah dekat pintu baru dia berdiri. Menuju suatu tempat yang tabu untuk dikunjungi kalau tidak ada masalah genting; kamar Uchiha Itachi. Tinggal turun tangga saja sampai, gua kakaknya pasti sudah kelihatan.

Dengan perasaan gengsi dia mengetuk, tapi tidak ada jawaban. Dia terus mengetuk dan mengetuk sampai lama, kemudian berhenti saat jarinya ngilu. Ah udah buka aja.

Jgrek.

"Tachi-nii—"

Tangan Sasuke serasa menempel di handle pintu dan tidak bisa dicopot, kala kedua matanya mendapati sajian ngeri yang tidak pantas untuk ditonton.

'Girls, jika sudah selesai menguaskan cat putih, timpah dengan top coat. Biarkan mengering ya.'

Suara perempuan dari laptop Uchiha Itachi memenuhi ruangan, sedangkan sang empu berada di lantai. Di samping kiri dan kanannya banyak botol-botol kecil cat kuku beraneka warna.

Laki-laki itu meniru setiap instruksi dari video online yang ditontonnya, dengan telaten menguaskan cat kuku bening ke tangan kiri dan meniup-niupnya agar cepat kering. Sangking seriusnya tidak sadar ada seseorang yang masuk.

'Kalau sudah mengering, siapkan warna-warna lain seperti pink, hijau, dan kuning neon, lalu sapukan ke atas kuku menggunakan spons kecil.'

"Kau ini sedang melakukan apa!"

Itachi tersentak, hampir menjatuhkan kuas yang menjadi satu dengan tutup botol cat kuku ke lantai. Ia langsung menghadapkan wajahnya ke sumber suara, adiknya berdiri mematung didepan pintu dengan mata dan mulut yang terbuka lebar.

"Eh-eh ini tidak seperti—"

"Sakit jiwa kau Itachi." Sasuke tidak sanggup berdiri lebih lama, dia langsung ngacir keluar tanpa peduli teriakan ngenes saudara kandungnya.

"DEK! TUNGGU KAKAK BISA JELASIN!

'Terakhir, bentuk segitiga kecil-kecil yang banyak dengan warna hitam. Daan~ crystal nail arts udah selesai! gimana, imut dan mudah kan?' perempuan berpenampilan trendi di video tutorial tampak memamerkan hasil karyanya dengan centil kearah kamera.

"DEDEK SASUKEEE!"

.

.

.

.

.

.

.

"Dei? "

Tangan Sasori terpeleset, hampir salah menusuk udang mentah yang licin ke tusukan bambu. Bagaimana kalau tangannya berdarah? Terus nggak berhenti-berhenti? Lalu ternyata selama ini dia penderita hemofilia? Dokter bilang nyawanya tinggal empat bulan—udah udah, lebay udah.

"Woho~ aku tidak tahu sekarang kau laku keras. Un, curang sekali Sasori." Perempuan pirang yang ternyata laki-laki langsung ikut duduk di rerumputan, berbaur mengakrabkan diri seolah-olah itu kumpulan reuni anak SD. Heh, dia belum tahu ini acara sakral pemanggilan roh nenek moyang. Hanya saja lebih modren dan terstandar.

"Kalian…saling kenal?" Ino mengarahkan telunjuknya bergantian.

Laki-laki berpakaian serba hitam dan merah itu berkedip nakal, kemudian meremat jari-jari Sasori lembut. "Sebenarnya kami…"

"Setan kampret babi hutan! enyah kau dari muka bumi ini!" Sasori menarik tangannya jijik dan mendorong yang dipanggilinya Dei itu menjauh.

"Bercanda loh, serius sekali." Untuk memunculkan aura jantannya lagi, Dei sengaja memberatkan suara. Yang menurut Sakura nggak jantan samasekali, malah mirip tukang tahu yang sering lewat-lewat di depan rumah.

Si laki-laki berambut pirang yang kelihatannya baru mendarat di bumi tidak bisa menahan hasratnya, begitu banyak seafood tengah di bakar di depan mata. Juga aroma segar yang menyatu dengan bumbu, sudah menumpang ngekost di hidungnya. "Eh, ngapain nih pake bulu-bulu segala? titisan dewa kalkun?" dengan ligat tangannya menilap satu tusuk udang yang hampir matang.

Pok!

Sebuah pukulan pedas yang mendarat di punggung tangan menghentikan aksi bejat Dei .

Sasori menyeringai untuk perbuatannya, memang dia bisa di bodoh-bodohi? Lagi pula yang di kepalanya bulu ayam, bukan kalkun. "Heh, siapa bilang kau boleh makan, sembarangan."

"Alah, pelit kau." Dei mengembalikan udangnya ke dekat api, cemberut. Mata birunya kini diarahkan ke dua gadis lain yang sibuk membumbui ikan gurame. Nah ini baru sumber mata pencaharian (?).

"Oke-oke, tidak akan kumakan, tapi kenalkan aku dengan mereka." Ada satu yang sedaritadi menarik perhatiannya. "terutama yang ini, cantik juga. Siapa namamu?" tanyanya pada gadis itu, gadis yang memiliki rambut sewarna permen kapas, lucu, unik sekali.

Sakura menunjuk diri sendiri "Aku?"

TING

(Efek cahaya menyilaukan)

'Akh…' Dei terkesima. Ternyata, gadis itu punya jidat yang lebar dan mengkilap. Itu jidat apa kap mobil.

"Iya." Dei menyibakkan rambut risih yang menutupi matanya. Kalau di tambah tulisan 'Karena anda begitu berharga' jadilah iklan shampo.

"Sakura. Haruno Sakura."

"Aih, namanya juga cantik, lalu—hummf" Di saat Dei hendak menanyakan nama gadis yang satunya, satu tusuk cumi berbumbu di paksa masuk ke mulutnya.

"Kalau sudah selesai makan, sana cari lagi pick mu. Lalu pergi yang jauh." Sasori tidak suka kalau Deidara, atau Dei itu sudah memulai aksi gombalnya. Perutnya langsung mual, jangan sampai selera makannya hilang.

"Kasarnya~, jangan begitu padaku, un." Deidara merasa hina dina, ia mengusap-usap lengan atasnya seakan kedinginan. Menghidupkan pose protagonis yang selalu di tindas dan hanya bisa menangis.

Asam lambung laki-laki bermata coklat itu serasa naik "Ya kau juga kan—"

Sasori lupa kalau di tangan kanannya ada bambu yang ujungnya gosong, baru saja dia angkat karena api terlalu besar, bambu itu tidak sengaja dilayangkan ke tangan Deidara, yang lengan bajunya sudah digulung sebelumnya.

"Ah!..panas, idiot!"

"Kau itu yang idiot."

"Udah dia juga yang salah."

"Terus mau apa? Ha?!"

"Minta maaflah begitu saja tidak tahu!"

Ino dan Sakura satu kali lagi bertukar pandang. Kok jadi Tom and jerry begini, tadi baik-baik saja.

Sakura jarang sih melihat Sasori marah atau berdebat dengan orang lain, tapi itu dia lupakan sejenak. Dia lebih memperhatikan tangan Dei yang menunjukkan tanda-tanda melepuh, walau perempua—oh laki-laki itu berusaha tidak terganggu karenanya.

"Dasar alay!"

"Dasar beruk—eh "

Deidara terkisap saat lengannya di tarik pelan kearah gadis berambut merah jambu, perlahan-lahan air mineral yang sejuk dari botol plastik di tuang ke luka bakarnya.

"Apa sakit?" Pandangan Sakura tertuju ke warna biru yang cerah. Terserahlah mau laki-laki atau perempuan, kalau terluka harus cepat di tangani.

"Sakit sakit.."

Deidara tidak tahu kalau kegombalannya bisa memicu kegelisahan dalam hati. Gadis yang baru saja dikenalnya, dengan tanpa rasa canggung mengelap dan meniupi tangannya.

'…astaga.' Laki-laki itu merasa demam setelah di tatap oleh emerald yang begitu cantik, wajahnya memerah tanpa bisa di kendalikan, ditambah lagi dadanya serasa di tekan-tekan. Kapan…

Kapan terakhir kali dia berdebar seperti ini? tunggu ini debaran atau komplikasi penyakit sih.

"Kau itu benar-benar manis ya," Deidara tersenyum lalu mencubit sebelah pipi Sakura gemas. Dia mulai lagi, tapi kali ini jujur.

'Hoekkk…' mata Sasori menyipit, ia memamerkan deretan gigi di rahang bawah. Apa-apaan si alay itu, semua perempuan dari semua kalangan digoda, anak kecil, remaja, ibu-bu, bahkan nenek-nenek pun pernah. Menjijikkan.

"Ah! kalian berdua, datanglah ke konserku ya. Kereeen~ sekali pokonya!. Ini sisa tiket, gratis." Deidara mengeluarkan dua lembar kertas panjang warna-warni berukuran sedang.

Melihat itu, pupil Sasori mengecil seiring iris coklatnya melebar "Dei, Jangan." ditahannya tangan deidara yang hendak menyerahkan tiket.

"Lho, apa Sasori tidak memberi tahu kalian?" Deidara merasa agak tersinggung. Kalau orang lain diberinya tiket gratis pasti sudah lompat-lompat.

"Memberi tahu apa?" tanya Ino sambil mengupas kulit udang.

"Kalau d—UHUK!"

Tendangan kuat dari arah belakang membuat Deidara hampir tersedak cumi-cumi "Sakit bodoh!" ia mengusap-usap punggung malangnya. Ingatkan dia untuk beli suplemen anti tulang keropos nanti.

"Sudah kubilang jangan, kau ini!" kesabaran Sasori hampir habis. Mereka tadinya adalah telur mata sapi, kuning di dalam putih di luar, semenjak Dei datang, suasana tidak sama lagi. Dei mengaduk atmosfir dan merubahnya menjadi telur dadar.

Deidara menatap Sasori sengit "Tsk, nggak asik. Pergilah aku dari sini un." Sebelum benar-benar melanjutkan pencarian pick gitarnya, ia mengambil tiga tusuk cumi bakar, lumayan buat ganjal perut.

"Ah, jangan lupa datang ya! Chuu~ "

Kedua gadis berambut pirang dan marah jambu berusaha menghindar dari kiss bye Deidara yang berterbangan. Bulu kuduk mereka berdiri.

Ino mengernyitkan dahi "An un an un. Bahasa apa sih dia?"

"Entah, mana cuminya dihabisin lagi."

Sakura membaca kata demi kata di lembaran tiket gratis yang baru saja ia terima, sama persis seperti yang ia temukan di meja Sasori, bedanya itu pamflet dan ini tiket aslinya. Oh, berarti kalau dia pergi nanti, itu adalah konsernya laki-laki yang barusan? Siapa namanya? Dei?.

Sedikit lengah karena membayangkan Dei itu jangan-jangan bermain kecrekan, tiket yang berada dalam jepitan jari Sakura di rampas dalam sekejap mata oleh Sasori, begitu pula milik Ino. Laki-laki itu menyobek kertas tiket konser menjadi potongan-potongan kecil.

"Eh eh, kok di robek!" Sakura berusaha merebutnya kembali, tapi Sasori menjauhkan tangannya.

"Kalian berdua pokoknya tidak boleh datang ke acara si gila itu." Biar kedengarannya sedang mengancam Sasori masih cinta lingkungan, bekas sobekan itu langsung di masukkannya ke plastik sampah.

"Huugh," Ino meluruskan kaki dan merenggangkan otot-otot "siapa juga yang mau datang. Buang-buang waktu."

Tapi tidak demi kian dengan Haruno merah jambu. Dia tidak menganggap pergi ke sana buang-buang waktu, dia sudah lama ingin pergi dan tidak ada yang boleh menghalangi.

"Kenapa?" Sakura mengerutkan dahinya tidak percaya.

"Kubilang tidak boleh ya tidak boleh." Nada bicara Sasori mulai tidak mengenakkan.

"Kalau cuma sebentaar pun, juga tidak boleh?"

"Kau tertarik?" bukannya menjawab Sasori malah balik bertanya.

Dispensasi yang di minta Sakura membuat laki-laki bertampang model popok bayi itu membuat wajah yang sama seperti suaranya, menjengkelkan. Sasori tidak pernah sabar apalagi suka kalau ada yang mengajaknya beradu argumen. Ia memang jarang memberi gagasan atau perintah, tapi sekalinya serius dia mau di patuhi.

"Iya, kita datang bersama saja!, ajak pacarmu sekalian. Aku…ingin berkenalan dengannya—"

"Nggak. Sampai kiamat juga aku melarangmu datang. Camkan itu."

Ih.

Sakura menaikkan sebelah sudut bibir ke atas. Ini… ini adalah kali pertamanya gadis itu merasakan yang namanya illfeel ke Sasori. Kenapa sih? Keracunan tinta cumi-cumi? Alergi udang?. Hoh, apa kerasukan arwah nenek moyang suku pedalaman amazon?.

"Kok jadi ngatur-ngatur..."

Sakura benci ini, kenapa Sasori berubah jadi Gaara?. Masih mending dulu Gaara punya ikatan dengannya, punya status yang setidaknya bisa di jadikan alasan. Ini? Memangnya Sasori punya hak apa melarang-larangnya pergi?.

"Ini demi kebaikanmu," Sasori menahan Sakura yang bersiap duduk menjauh darinya "Janji ya, hapus keinginan sia-siamu itu. Jangan datang kesana, oke?"

"…"

"Oke? hei, lihat aku!" Bahu Sakura di guncangnya. Semaksimal mungkin berusaha mempertemukan mata mereka. "Oke?" ulangnya lagi. Manusia yang satu itu agak susah di buat paham.

"…Iya-iya."

Dengan sangat terpaksa Sakura menyerah, dan menyingkirkan telapak tangan Sasori di pipinya. Tetapi karena terus berwajah masam, kedua pipinya kemudian di tarik Laki-laki itu untuk membuat senyuman paksa. Yang mengakibatkan wajah Sakura jadi melar seperti habis kena gigit monyet. (emang di gigit monyet bisa melar? #jangan percaya.)

"Hadu aduh, sinetron dari TV mana nyasar kemari." Serasa panas dengan adegan cheesy di depan mata, Ino mengipas-kipas lehernya dengan koran yang sedari tadi digunakan untuk membesarkan api bakaran seafood.

Kata-kata Ino membuat bibir Sakura mengerucut "Ngg, tapi satu pertanyaanku."

"Apa?" Sasori melahap habis udang terakhir dalam tusukan bambu miliknya.

"Yang tadi itu bukan waria?".

Krik…krik…krik…krik

"Iya, dia memang baru aja operasi, biasalah ganti kelamin."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

'Sudah berapa lama bapak berjualan ramen berformalin?'

'Ya kira-kira tujuh tahun. Yang mati sampai saat ini baru dua orang, jadi saya lanjut jualan. He he he'

(Teuchi - pedagang mie ramen oplosan. Nama tidak di samarkan)

Klik!

TV flat berwarna hitam di ruang tamu kediaman Haruno dimatikan sang anak tunggal yang baru saja selesai menyirami tanaman. Makin hari acaranya makin tidak jelas. Apalagi kemarin ada FTV berjudul 'Tukang bubur naik gunung' ceritanya apa coba, cuma tukang bubur jualan bubur pakai kupluk di daerah pegunungan, udah.

Sesungguhnya bukan TV yang tidak jelas, itu berawal dari perasaannya yang merambat ke hal lain. Sakura gusar, hatinya tidak tenang. Semua hal jadi kelihatan 'cacat'. Saat ini sambil berjalan menuju kamar ia terus memikirkan tentang konser Ice cream baby. Tiketnya? Ada. Dari seminggu yang lalu juga sudah ada, karena telah dipesan jauh-jauh hari.

Kenapa? Kenapa dia tidak boleh datang?

"Sepertinya aku harus…menghentikan semua ini."

Selain itu, dia juga kepikiran untuk berhenti mengikuti Sasori kemana-mana. Berhenti yang benar-benar. Tidak akan ikut campur lagi dengan urusan apapun tentang Sasori. Selamanya. Walaupun webnya mulai terkenal.

"Hhh…"

Sakura akui banyak hal-hal menyenangkan yang dia alami. Sasori seperti roller coaster, yang bisa membuat hidupnya naik dan turun. Tapi itulah masalahnya. Apa ini sudah melewati batas atau belum Sakura tidak tahu. Kalau dipikir status mereka teman saja bukan.

Benalu, kadang Sakura merasa jadi itu, atau ekstrak tanaman yang kurang bermanfaat.

Jika dia ingin berubah, bukan berarti hanya lewat postingan web tentang kesehariannya Sasori saja kan? Ada ribuan hal lain yang belum di cobanya.

Setelah membuka pintu kamar, Sakura langsung mencampakkan tubuh ke tempat tidur dan memeluk boneka bebeknya erat-erat.

Yang sebenarnya terjadi adalah dia terlalu banyak mempertimbangkan; apa boleh atau tidak menyukai Sasori. Kemarin sampai kepalanya berat dan susah digerakkan. Rasa sukanya ini berbeda dari yang sudah-sudah, lebih rumit.

Sakura merasa disusahkan. Dia merasa bersalah dan cemas, tetapi juga bahagia dan terkadang tertawa sampai air liur menetes. Itu rasa suka macam apa? efeknya seperti minum obat antidepresan. Maka itu sebelum bertambah parah dia ingin berhenti. Akar yang dalam lebih susah dicabut daripada yang baru tumbuh bukan?.

Belum lama berguling-guling Sakura kemudian bangkit lagi dan mengambil seprei baru di lemari. Sepreinya yang sekarang sudah tidak layak pakai lagi, kusam dan apek. Harus cepat di ganti.

"Aa..."

Saat menarik sarung bantal, ponsel touch screen putihnya muncul. Dari tadi di cari-cari ternyata di situ. Untuk sejenak Sakura menghentikan kegiatan ganti seprei dan naik lagi ke tempat tidurnya yang tidak berbalut apa-apa. Segumpal ide muncul. Jarinya sibuk mengscroll nama-nama kontak yang tidak terlalu banyak.

"S..s..s..Sasori,..ah ini dia."

Nomor Sasori selalu ada di daftar kontaknya, tapi tidak pernah di apa-apakan. Nomor itu diberikan padanya belum lama ini, Sasori minta di hubungi kalau-kalau dirinya tidak sengaja melihat UFO terbang melintas. Alasan anti mainstream untuk memberikan nomor ke oranglain.

Dan sekarang, Sakura akan menghubunginya, tapi jelas bukan karena UFO.

"Moshi-moshi, ngg…Sasori?" ragu-ragu Sakura bicara. Boneka bebeknya di peluk semakin erat.

'Noharu? Tidak biasanya meneleponku. Ada apa?'

Suara Sasori yang terdengar agak berbeda membuat telapak tangan Sakura basah, dia gugup, sedikit gemetar malah.

"Uu, jangan panggil namaku begitu kenapa."

Di seberang Sana Sasori terkekeh 'Oke-oke, ada apa Sakura?'

Deg.

Gadis itu melempar ponselnya ke atas bantal. Gawat. Salah, salah, maunya jangan minta di panggil 'Sakura' tadi, jadi makin gugup kan. Siapa sangka benar-benar dituruti.

Sakura menghirup oksigen banyak-banyak dan menempelkan ponselnya ke telinga lagi "A-aku mau tanya sesuatu."

'Hmn,' Sasori bergumam, tapi itu seperti kode untuk menyuruh Sakura langsung saja bertanya.

"Pacarmu itu...apa dia cantik?"

'Cantik.' Jawab laki-laki itu cepat, seperti tidak berpikir lagi.

Memori dalam kepala Sakura langsung memunculkan sosok perempuan berambut panjang yang pernah di peluk Sasori di taman. Wajahnya tidak pernah lihat memang, tapi setidaknya perempuan itu pasti cantik. Ha, ternyata ada ya yang mau sama Sasori. Sakura tertawa putus-putus, Sasori kan nggak jelek-jelek amat. Remeh.

"Baik?" Debaran gugupnya sudah hilang, tapi entah kenapa dia jadi sedih. Sedih sekali.

'Baik.'

"Apa dia orang yang menyenangkan?"

'Lumayan.'

"Apa dia sama gilanya sepertimu?"

'Hampir.'

"Boleh aku bertemu dengannya?"

'Nanti kau terkejut.'

Apa?

Alis Sakura hampir menyatu. Kenapa dia harus terkejut?

"Maksudnya?"

Pertanyaan terakhir Sakura tidak di jawab. Lima belas detik dia menunggu, tidak ada lagi suara Sasori, tetapi di seberang sana berisik, seperti ada belasan orang bercakap-cakap, juga alunan beberapa potongan lagu yang berganti-ganti. Sasori mungkin sedang tidak berada di rumah.

"Kedengarannya ramai sekali, apa aku mengganggu?" sekali lagi gadis itu bertanya.

'Sudah dulu ya Sakura, aku ada urusan. Maaf.'

Tut tut tut.

Sambungan mereka terputus.

Oh.

Sakura menjatuhkan tangannya ke tempat tidur, lemas. Bibir atas dan bawahnya terus menyatu. Ponsel putihnya terpental walau tidak bermaksud melempar dengan tenaga. Dia kecewa dan sedih, tapi sudahlah memang begitu adanya. Mau marah pun tidak berguna. Yah, setidaknya dia sudah dapat jawaban.

Apapun yang terjadi dia harus pergi. Titik.

"Sakura, selangnya kenapa tidak di kembalikan ke tempatnya semula, berantakan kan. Cepat gulung sana."

Haruno Kizashi muncul ke pintu kamar berwarna putih yang tidak di kunci. Pakaian kantornya masih lengkap karena begitu pulang langsung menegur kerjaan tidak beres anak perempuannya, jadi belum sempat ganti.

"Tou-san, besok malam aku mau pergi ke ulang tahun temanku boleh? Ngg dengan Ino perginya"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

04.58 PM

Pintu besar dressing room luas yang terletak di bagian belakang Konoha International Dome terbuka lebar. Dikatakan luas karena bukan tempat yang hanya dikhususkan untuk ganti baju, tetapi juga bisa untuk beristirahat dan melakukan hal lain.

Cahaya dari lampu-lampu kecil yang terangnya tidak usah diragukan lagi adalah penanda adanya kegiatan yang berlangsung tanpa henti. Di dalam dressing room itu ada banyak orang berlalu lalang, ada pula yang hanya duduk saja. Menyiapkan diri, fitting beberapa kostum dari sponsor, atau mengulang-ulang urutan chord dalam lagu di gitar tanpa dicolokkan ke amplifier.

"Thanks ya Sasori, Nagato baru bisa datang jam setengah sembilan." Laki-laki berambut oranye yang sibuk memasang anting ke lubang tindik kelima di telinga kirinya, datang dan menepuk bahu seseorang yang duduk di atas sofa berbentuk huruf L.

"Cuma sebentar, lagian mumpung kalian ada disini juga kan." Bukan tanpa kerjaan, Sasori saat ini tengah mengatur senar bass, mengikuti suara dari software tunner di netbook merahnya.

Bermain bass adalah satu dari ratusan kesenangan Sasori yang tidak banyak diketahui oranglain. Sudah lama sejak terakhir kali, tapi dia masih ingat caranya, masih mahir malah.

"Aa, apa yang kemarin meneleponmu di studio datang nanti? Hoo, Dei benar, kau bukan jomblo lagi." Laki-laki yang mengenakan t-shirt biru gelap dengan tulisan kanji Yahiko besar-besar di punggung itu, mengeluarkan aksesoris telinga lain dari kotak beludru hitam, kali ini untuk telinga kanan. Ikut duduk di sofa karena susah pakai piercing sambil berdiri.

"Gila aja aku suruh dia datang."

Kunci-kunci tunning bass berwarna putih diputar Sasori satu persatu untuk mendapatkan suara yang pas. Mungkin ada anak tuyul yang seenak jidat merubah setelan bassnya, kemarin sudah bagus padahal.

"Iya sih," Yahiko terus memakai piercing-piercing sampai wajahnya penuh, berubah dari imut hello kitty ke garang 'CARI MASALAH LO SAMA GUE?'. "Eh, tali sepatumu tuh, ikat."

Iris coklat Sasori langsung diarahkan ke kaki. Benar, tali sneakers nike nya tidak menyimpul, aneh. Seingatnya sudah diikat kuat. Setelah mendecak bibir, Sasori menaruh bassnya sebentar, kemudian mengambil kedua ujung tali dan mulai mengikatnya lagi.

Ada apa ya. Sejak pagi, semua yang sudah dia kerjakan banyak yang berakhir tidak benar dan membuat dirinya terus mengulang. Human error kah?.

Atau apa?

Sasori memegangi dada, lalu mengecek denyut nadi. Rasanya tidak enak. Bukan gejala sakit. Seperti cemas, khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia saja sulit menelan ludah, ada yang mengganjal.

Semoga itu berakhir, dan tetap menjadi prasangka buruk saja.

.

.

.

.

.

.

Pilihan baju terbaik dengan detil renda, hampir-hampir menyerupai dress. Boots pendek yang cute dan tidak akan lecet kalau dipakai, ransel ringan berukuran kecil, wangi lembut dari parfum baru, dan bubuhan make-up tipis, tipis sekali hampir tidak terlihat, agar wajah kelihatan segar dan chic. Plus malam minggu. Sakura tampak bersinar, seperti akan pergi berkencan.

Senang sekali rasanya bisa semandiri ini. Beli tiket sendiri, pergi sendiri, rasanya lucu. Sakura belum pernah lakukan, dan ternyata seru, mendebarkan juga sih. Walau sedihnya dia harus berbohong untuk mendapatkan izin.

Ia berkelit dari rasa bersalah itu. Yang penting adalah sekarang dan nanti. Yang sudah terjadi biarkan saja. Satu kali saja nonton konser tidak apa kan?. Baginya, ini adalah sebuah pencapaian, sebuah achievement besar sepanjang hidup.

Sekarang pukul delapan lewat lima belas. Malam semakin dingin. Sakura sampai dengan ajaibnya. Konoha Dome cukup jauh dari rumah, syukurlah shinkansen begitu cepat. Kalau dibandingkan dengan milik negara kincir angin, sampainya mungkin setelah acara bubar.

Gate sudah terbuka entah sejak kapan, asumsi Sakura bahwa dia telat sepertinya benar. Segera setelah tiketnya ditukar, melakukan pemeriksaan barang, dan diperbolehkan masuk kedalam venue, terasa banyak sekali orang. Ramai dan penuh. Tapi gelap. Gelap sekali, hanya ada cahaya dari layar ponsel oranglain, dan tidak ada tempat duduk. Aneh. Seperti bioskop tapi bukan.

Sakura merasa sendirian karena gelap, tetapi banyak suara orang berbisik sebagai jawaban itu tidak benar. Ia terus berjalan, tidak tahu sampai mana, tempatnya lebar sekali, dan terus saja menabrak bahu oranglain. Walaupun ada AC sejuknya tidak terasa, tetap saja pengap, hawa dingin sesekali saja mampir di permukaan kulit. Peluh-peluh bermunculan dari kening gadis musim semi.

Semakin lama semakin sempit, Sakura tidak lagi menabrak bahu orang melainkan mulai terhimpit, dari depan belakang kiri dan kanan. Jadi setelah tarikan napas ke tiga diputuskannya untuk sedikit mundur. Ke tempat yang sedikit lega.

Ah, lautan manusia. Apa pergi kesini adalah sebuah kesalahan?.

GDEBUM!

Suara pukulan bass drum yang begitu keras tiba-tiba mengagetkan Sakura. Mungkin dia yang terlalu dekat sound system, atau memang beginilah konser?. Sakura norak tapi maklum saja. Ini usahanya yang paling bagus. Bagaimanapun itu, tempat masih gelap gulita.

Selang beberapa puluh detik sesudah drum berbunyi, muncul susulan suara tawa berbisik yang membuat bulu kuduk berdiri. Mengingatkan bunyi yang ada di awal-awal filem horor. Tawa itu menyebar ke seluruh penjuru. Sakura ingat belum sempat searching tentang band inidi internet, dia sibuk, tidak sampai seminggu lagi ujian semester dimulai.

Karena ada yang janggal, auranya tidak mengatakan konser ini kawaii tralala trilili seperti yang diiklankan di phamplet.

Sakura merogoh sobekan tiket konser dari dalam tas dan hendak meneranginya dengan layar ponsel, sesaat kemudian itu sepertinya tidak perlu, lampu-lampu menyala. Dengan mudahnya Sakura dapat membaca tulisan kertas sobekan.

'I Scream, Baby!'

'Konoha Live nation tour'

"Hah? Apa benar begini bacaannya?" Sakura kehabisan ide, dia tidak tahu apa arti scream, kosa kata bahasa inggrisnya tak pernah diupdate. Tetapi bukankah dia punya translator?. Cepat-cepat Sakura mengetik kata scream di kamus bahasa inggris yang terinstall di ponsel.

[Scream Kb. pekikan, jeritan, teriakan.]

"Ma-maksudnya apa..." sambil memegangi ponselnya secara horizontal, tangan gadis itu bergetar.

Lampu terang meredup dan berganti, menjadi warna biru, hijau, dan ungu muda. Beberapa detik kemudian berganti lagi menjadi lampu putih ruangan. Hanya sebentar, tapi akhirnya Sakura bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar.

Bahwa dirinya berdiri di dekat panggung, agak kesamping, dan semua orang yang sedari tadi hanya mengeluarkan sedikit suara, adalah laki-laki. Hampir selurunya.

Dan mereka semua memakai baju serba hitam, dari ujung kaki ke kepala. Kalau diperhatikan secara detil, rata-rata memiliki tindik lebih dari tiga diwajah dan lengan-lengan mereka penuh tatto.

Astaga.

Denyut nadi Sakura terpacu hingga dua kali lipat. Tegukan ludah terus dilakukan tanpa sadar.

Lampu sorot besar menerangi panggung, musik pengiring dimainkan, satu persatu anggota band yang mulai dipertanyakan genrenya muncul.

"Minna..." seakan menjadi pentolan diantara lainnya, seorang laki-laki berambut pirang dengan wajah tidak asing mulai bicara di mikrofon.

"READY TO SCREAM?!" suara lantang yang begitu tiba-tiba membangunkan euforia seisi Dome Konoha. Akhirnya yang dinanti-nanti datang juga.

Teriakan itu membuat Sakura reflek menutup kedua telinga, sekujur tubuhnya lemas. Kakinya bisa roboh kapan saja.

"Kaa-san, Tou-san, apa...apa yang kulakukan." Sakura merinding, ketakutan setengah mati. Bibirnya tidak bisa menutup. Kalau tadi keringat muncul karena panas, maka sekarang karena dia tidak tahu harus berbuat apa.

"YAAAAA!" para audiens menjawab bersama-sama, menciptakan gabungan suara yang tak kalah keras dan berisik.

Dengan senyuman miring, Deidara—si laki-laki berambut pirang—menarik napas sangat panjang lalu mengeluarkan suara emasnya lagi.

"EEERRRAAAAAAAWWHH!"

.

.

.

.

.

.

Alunan lagu-lagu beraliran metalcore—percampuran antara extreme metal dan hardcore punk—tidak terasa sudah dimainkan dua puluh menit. Ini belum apa-apa, masih panjang lagi waktu yang tersisa.

Orang-orang tampak tidak punya masalah ketika menyaksikan Sasori—yang notabene orang tidak terkenal—bermain bersama grup idola mereka. Mungkin karena Sasori tidak coba menyombongkan skill dan berdiri sama posisinya dengan member lain. Bermain benar-benar seperti halnya bassist pengganti. Tidak banyak tingkah.

Terserahlah, Sasori cukup puas. Bisa memetik senar bass di depan sepuluh ribu orang lebih, semuanya kooperatif, serentak headbang bersama. Walau tidak mungkin dia dapat bagian solo, karena pukul sembilan nanti Nagato, bassist asli I Scream Baby akan mengambil alih tempatnya. Tak apa, Sasori senang bisa bermain di panggung besar bersama teman-teman yang wajahnya kadang susah diingat, sangking lama tidak berjumpa.

Ngomong-ngomong, malam ini Sasori merasa ekstra super ganteng. T-shirt puntung (tidak berlengan) yang memperlihatkan setengah tubuh bagian samping, ripped jeans, sneakers berinsole yang membuatnya sedikit lebih tinggi, tatanan rambut dari stylist, dan sedikit aksesoris pemanis seperti gelang paku dan cincin berukir. Benar-benar seperti anak band sungguhan. Dia berani jamin, air liur dari orang-orang yang pernah mengatainya imut dan mungil pasti akan menetes. Ha, sekali sekali narsis tidak apa lah.

Sasori senyum-senyum sendiri, terlalu bahagia sampai lama menyadari sneakersnya agak longgar. Ah, lagi-lagi simpul talinya lepas, menyusahkan saja. Tidak mungkin diikat sekarang kan? sudah, yang penting hati-hati jangan sampai terinjak.

Karena sempat melihat kebawah, matanya pun terarah ke penonton yang berdiri di samping panggung. Saat itulah perasaan tidak enaknya tadi sore seakan kembali. Mengambil alih atensinya lagi.

Pandangannya bertemu dan terkunci ke satu diantara ribuan orang yang datang malam ini. Ke seorang perempuan yang sangat familiar dan seharusnya tidak berada disana, berdesak-desakan bersama para laki-laki dengan kisaran umur 15-30 tahun.

Tidak tidak, apa ini ilusi?.

Sasori menggelengkan kepala, mulai berhenti memainkan bassnya, tidak lagi bantu menciptakan harmoni dan ritme. Dia melupakan tugasnya sebagai penyeimbang alur musik dan berjalan mundur, semakin lama semakin ke belakang kemudian menghilang dibalik tirai.

Kalau bola matanya bisa copot dan menggelinding karena dibuka terlalu lebar, mungkin sekarang dia sudah buta.

'Tsk. Nagato, maaf.'

.

.

.

.

.

.

Lemas sekali, Sakura terhuyung-huyung. Seperti tidak mempunyai tenaga untuk berjalan ke pintu keluar. Oh bahkan tidak tahu dimana itu. Untuk sekedar menengok kebelakang ngeri, terlalu banyak orang, dia tidak mau mati terinjak.

Kepalanya pusing berlama-lama berada di tempat ramai, luar biasa gaduh begitu. Bahu, lengan, punggung, semuanya terasa sakit karena terus berbenturan dengan badan orang lain. Tahu lah, mereka lompat sini lompat sana, teriak-teriak, tenggelam dalam hingar bingar. Diam pun juga kena sikut, bingung rasanya. Harus berapa lama lagi menunggu sampai konser ini selesai.

"Aa! cewek, lihat, lihat!"

Debaran jantung Sakura meningkat. Untuk menambah kesialan, seorang laki-laki muda berambut keperakan akhirnya sadar dirinya 'berbeda' dari penonton lain.

"Dasar attention seeker." Cela seorang teman dari laki-laki itu.

"Eh, cantik ya."

"Seleranya boleh juga untuk bisa datang kesini."

"Dengan pakaian seperti itu?"

"Makanya kubilang dia CAPER, tahu?"

"Tapi 'itu' nya kecil. Aku tak suka TV layar datar"

Sakura terus bungkam, tidak mau menanggapi kata-kata mereka, sesat, semua itu sesat. Kalau tidak tahu apa-apa sebaiknya jangan banyak komentar.

Dia terus menoleh kekanan dan kekiri, sial tidak ada celah untuk kabur. Bagaimana ini.

"Nggak apa-apalah," Laki-laki lainnya yang memakai jaket kulit memegangi punggung Sakura "Kamu lagi ngapain disini? nyasar? Pulang nanti sama siapa? Sama aku mau ya? Ya ya ya?"

Walau minim cahaya, tetapi Sakura bisa melihat mata laki-laki itu tidak jernih, seperti kemerah merahan, mulutnya juga bau, apa dia baru minum minuman beralkohol?.

Pandangan Sakura terasa kabur, berkaca-kaca. Harus jawab apa? Dia mau diapakan?. Benar, seharusnya tidak usah datang saja.

Tidak lama, ada tangan orang lain dari belakang yang meraba-raba lengan atasnya, ingin Sakura tepis tetapi rabaan itu malah berubah menjadi cengkeraman kuat, yang mampu menariknya keluar dari himpitan orang-orang, ke tempat yang sedikit lebih lenggang.

Sakura menjernihkan mata, figur itu, warna rambut itu...

Akasuna Sasori yang punya.

Cengkeraman laki-laki berambut merah berpindah dari lengan ke telapak tangan. Dia menggenggam kuat gadis itu, membawanya untuk terus menjauh, sejauh jauhnya dari tempat yang bisa dibilang tak pantas untuk dikunjungi perempuan. Terlebih yang semacam Sakura ini.

Setelah masuk kedalam pintu tangga emergency, mereka berhenti. Diam sebentar untuk sama-sama mengambil napas. Iris coklat memandang intens emerald hijau.

Masih tersengal, Sakura tidak berpikir macam-macam selain menghamburkan diri kedalam dekapan Sasori. Dia masih gemetaran, syukurlah...syukurlah ini semua berakhir.

Tetapi Sasori tidak memberikan balasan, malah berusaha menyingkirkan Sakura dari tubuhnya. Hampir seluruh badannya basah karena keringat, saat ini pelukan bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Lagipula..

"Kau sudah melanggar janjimu."

Mendengar suara itu, Sakura seakan tersengat listrik bervoltase kecil.

Kedua tangan Sasori memegang kuat bahu kecilnya, begitu kuat hingga mau tidak mau ringisan keluar. Tulang selangkanya ditekan-tekan penuh tenaga. Rematan disekitar bahu yang membingungkan. Sakura tidak mengerti sampai tubuhnya diguncang satu kali, kemudian instingnya dipaksa mengartikan sesuatu yang tersirat dari tatapan laki-laki itu.

Marah, kecewa, dan...terkhianati.

Ekspresi dingin yang belum pernah dia lihat, mata tajam yang penuh serabut otot sehingga tampak memerah, suara gigi yang bergesekan, napas yang memburu. Semua itu menghantarkan arus listrik lagi kesekujur tubuh Sakura, dengan voltase lebih besar.

Ada hal lain yang ditahan laki-laki itu. Sesuatu yang menakutkan dan Sakura tidak bisa memperkirakan sampai kapan bisa ditahan.

Akankah, hari dimana Akasuna Sasori kehilangan kesabaran lalu memukulnya datang?

Apakah hari itu adalah hari ini?

.

.

.

TBC

.

.

.

Wekekekekekekekeke.

fyuh.

Akasuna Sakurai : Ehh jangan dicoba, beeh sayang kan, sayang uangnya sayang rambutnya. Hahaha. Nggak pernah, abisnya banyak kucing pup di rumput sekeliling rumah aku, kan bahaya O.O. berarti harus cari rumput di tempat lain. Aku di sumatewa utawaa, di medan hohoho. Kamu dimanah? Ih nanti kaya kopi darat eyyy.

Gynna Yuhi : Pembersih kaca? Wadeh -_- . Gapapa, ayo kerahkan isi kepalamu untuk meriview yang lebih gaje lagi yeeay. Haha yg gk jelas itu paling asik dibaca kan xD.

TheRedsLFC : Terimakasih :'D

zeedezly. clalucindtha: sebentar lagi gemas gemasnya kamu bakalan ilang (O.O)b

NadiaAo-Chan : Iya sih agak membingungkan sebenernya. Kamu harus bersabar hmph!.

Eysha CherryBlossom : Oh iyayayayya rambutnya ekstra klimis kan hahahaha, jangan dibayangin yg itu dong, itukan Om Gaara. Ini dek Gaara. Heheheheheheh.

Mrs Sasori : Suna mansion..ti-tidaakk. Eh itu dimana. Krik krik#abaikan. Yg bagian nangkep ikan itu tadinya buat tambahan eh lucu ya hehehe.

Mayu Tachibana : Bisa tauu, kamu latihan setiap hari supaya jadi absurd. Terus waktu org2 disekitar kamu bilang 'Itu kenapa dia, jadi beda gitu, iya jadi aneh bla bla' nah berarti udah sukses. Yeeay XD. Ja-jadi kamu parah sakitnya :'( kalo gitu minum promagnya dibanyakin.*lho#sesat

Hikari Niel : Pernah juga makan tanah yang itu? Astaga. HEBAT. Makasih udah dikasih saran :') *tampung. Niel, kamu jangan banyak2 makan rumput, sisain mamah ya. Jadi anak yang berbakti kepada orangtua, walaupun mamah yang ini hanyalah simpanan papa. Huaaaa.

imspecially3 : Kamu telah dikenakan sanksi akibat pemaksaan update kilat* cubit. Hahaha, semoga nggak kecewa ya, aku akan berusaha terus hmp.

monalisauchiha : Bukan buka-eh boleh juga tuh. SasoDei. Muehehehe. Terus Sakuranya sama siapa -_-

Ditha Hime nyann : puk puk puk *elus-elus. Gapapah kok cobain aja, asalkan senang dan bahagia, apapun bisa dilakukan HAHAHA. *capslock kepencet. Nanti kasi tau ya udah ngapain aja~.

00 : Penjelasannya….suatu saat nanti muehehehehe.

Mizuhashi Misha : Iya kan, bagusan sama Gaara aja :'( . Kamu benar! *kasih hadiah parcel

Orchidflen : Oke deh pake bingitz.

panda9 : Hm kalo yg di mix ya yg kaya sekarang ini, yaudah gini aja terus kali ya ngapain pusing2 hahaha. #enjoy my life *apaan. Iya, itu Deeiii huahuahua.

ReginaIsMe16 : *Sedot ingus, ya ampun cerintanya mengharukan banget, kamu sih pake ganti2 browser. Ya udah deh gapapah *ikut ngais rumput biar bersih. ITU AKU HARUS JUMPA. Siapa temen kamu ituuu, dia bisa jadi sumber inspirasi fic ini kaan. Makasih :* :*

langitbiru2711 : Jadi kamu baru disini? Songong banget ya*Ala kakak ospek, becanda ding, gapapa, makasi ya, semoga dapet bacaan yg bagus2 hehe.

cangcimeng : WADEH. Banyak amat kamu review *kasih minuman isotonik pengganti ion. Makasih makasih makasih, apalagi masukan tentang 'di' iya aku emang suka bingung tapi gak nyoba buat benerin, dasar pemalas. Aku semangaaat. Makasih ya kacang kuaci permen :D aku beli deh semua dangangan kamu.

Guest : Psst, ini bakalan berubah jadi dark lho, tapi gak tahu kapan. Makasih ya hehehe. Aku tuh suka nyariin fic humor dan romance tapi nggak ada yang pas (kaya yang persis pengen aku baca) jadi akhirnya bikin ini deh. Hohoho.

Nada-chan : Heiii, seneng deh kalo lucu, makasih ya :*

Maaf maaf. itu barusan lebay dan fiktif. banget. (konsernya) jangan dipercaya, author boleh mengarang sendiri.

chap ini agak beda yaa, tapi memang harus ada karena kalau nggak ceritanya jadi muter-muter terus. Daaan chapter depan bakalan ada badai petir wuuh.

Eh eh eh waktu ngetik chap ini, aku dilema. terus unsur komedi dalam kepingan darahku kaya ngilang begitu aja o.o, apa yang kuketik, nggak ada lucu-lucunya, kadang kalo baca ulang kan aku suka ikut ketawa, nah ini enggak. sampe aku mikir udah makan apa kok jadi garing.

apa genre humornya diapus aja tapi nanti gak seru lagi. sumpah ada niatan discon tapi..masih penasaran gimana endingnya. masa penasaran sama fic buatan sendiri. ya entahlah.

ternyata bikin orang happy dan ketawa itu susah ya, maklumlah newbie nulis beginian T.T.

Ngg satu lagi, apa disini ada silent reader?

ini ada beberapa pilihan nama makanan (kaya punyaku): Margarin, Sate kambing, Kangkung tumis, Ayam tiren, soto madura, Kentang mentah, Saus cabe, Ramen dingin.

nah kamu kalau lagi bingung nyari nama pake aja itu, terus review yah

HAHAHAHA.

-_-v

becanda. tapi kalau mau boleh juga.*lho

PS. aku nonton pilem india di tv, judulnya navya. agak ngebosenin tp itu yg jd si navya, matanya persis kaya Sasori uoh#abaikan