DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO

RATE : T

WARNING : AU, MULTICHAPTER, CANON, OC, ... DON'T LIKE DON'T READ

.

.

.

Sebulan sesudah peristiwa penangkapan Kabuto Yakushi di bar Lust & Luck. Sasuke, Naruto, dan Shikamaru mendapatkan undangan dari pihak Departemen Kepolisian Konoha untuk menghadiri sebuah pertemuan eksklusif tertutup yang diselenggarakan oleh pemerintah kota. Tak langsung disadari jika nantinya mereka akan terseret ke dalam pusaran konflik dua musuh bebuyutan ditambah ... sebuah misteri pembunuhan.

.

.

.


~ Sky God VS Earth Demon ~

Minggu pagi. Hari yang sangat dinanti nomor dua setelah malam minggu. Lepas dari rutinitas sehari-hari, stop memikirkan tugas dan beban profesi, berkumpul mesra dengan orang terkasih. Oh, bagian yang ketiga inilah yang sedang dilakoni oleh keempat remaja tanggung kelas XII dari Sekolah Menengah Atas Konoha.

Sasuke Uchiha beserta kekasih yang sudah hampir satu tahun menemaninya, Sakura Haruno, sedang duduk bersanding saling berhadapan dengan sepasang muda-mudi yang belum lama ini sepakat menjalin hubungan percintaan. Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuuga.

Ya, si pirang bodoh, seperti yang sering Sasuke sebut saat merujuk kepada teman dekatnya itu, telah resmi berpacaran dengan satu-satunya perempuan yang sudah menjadi pengagum rahasianya semenjak masa ospek dua setengah tahun silam. Entah karena alasan apa Naruto mau menerima cinta Hinata yang begitu platonis karena sama sekali tak pernah diungkap secara verbal lewat kata-kata. Bisa jadi karena tulus dari dalam hati, atau bisa pula karena kasihan semata. Tak ada yang tahu persis.

Dan kini disinilah mereka berempat berada. Di sebuah kafe penyedia menu utama ramen paling enak seantero kota. Bahkan mungkin tetap yang paling enak di seluruh prefektur Shinobi yang terdiri dari lima kota utama. Iwa, Kiri, Suna, Kumo, dan ibukotanya tentu saja Konoha. Namanya adalah Ichiraku Ramen. Tanpa cabang dan hanya memiliki satu gerai. Tak heran ramainya bak pembagian bantuan untuk fakir miskin. Terlebih ini hari minggu.

"Sluuuuurrp ... " suara mantap dari sedotan minuman ini sama sekali tak terdengar di tengah hiruk-pikuk para pelanggan ramen di tempat itu. Si pembuat suara, Sasuke, sedari awal hadir hanya melakukan kegiatan ini saja. Meminum sedikit demi sedikit likuid merah kental dari dalam gelas besar yang itu adalah sebuah jus tomat. Dirinya merasa muak dengan inisiatif dari kekasihnya untuk menjalani double-date bersama pasangan kekasih baru yang sedang duduk berdempetan di hadapannya. Yang bahkan tidak pantas disebut sebagai kekasih karena laki-lakinya sedari pertama hanya sibuk meniup-niup kuah ramen yang masih panas mengepul dan perempuannya hanya mampu mencuri-curi pandang tidak jelas.

"Ah ayolah, kalian berdua ini seharusnya lebih akrab sedikit. Bukankah tiga hari yang lalu kalian sudah sepakat untuk menjalin hubungan?" goda Sakura kepada kedua teman satu kelasnya itu. Naruto tak bereaksi apa-apa mendengar ucapan dari si gadis rambut merah jambu. Masih fokus dengan seporsi jumbo ramen spesial babi yang sudah mulai sedikit dingin. Dan si Hyuuga, mukanya langsung merona. Tapi lagi-lagi hanya melirik-lirik tidak jelas.

Melihat kelakuan kedua orang tadi membuat Sasuke gerah dan akhirnya ingin angkat bicara. "Seharusnya tadi kita berkencan sendirian saja. Ini bukan double-date lagi namanya. Ini sama saja kita yang kencan sambil membawa dua manusia pengganggu."

"Sasuke-kun." Sakura menoleh cepat setelah mendengar ucapan cukup pedas karya sang pujaan hati. Ingin rasanya dia mengomeli tapi sekiranya ini bukan waktu yang tepat.

"Maaf ya Hinata-chan atas apa yang dikatakan oleh Sasuke barusan." Sakura yang justru meminta maaf atas perbuatan yang dilakukan oleh orang di sampingnya setelah melihat sendiri bagaimana ekspresi si rambut indigo itu seusai dihadiahi sindiran dari kekasihnya. Syok berat ibarat sehabis dibentak-bentak oleh si guru konseling berjuluk Pitbull di sekolah mereka, yaitu Ibiki.

Dan Naruto, dia nampak akan membalas dengan mulut yang masih penuh mie dan cincangan daging babi. "Bhrisyik khau. Thutyup myuluthmu athau akhyan khubhyuat pherhityungan nhanthi." kalimatnya lumayan sukar dimengerti akibat sumpalan makanan yang belum tertelan dalam mulutnya.

"Na..Naruto-kun, jangan bertengkar." ucap Hinata lirih yang bahkan nyaris tidak terdengar sama sekali jika tidak memfokuskan pendengaran padanya.

Si Uchiha bungsu tidak berniat meladeni gertak sambal dari rekan satu organisasinya dan tetap melanjutkan kegiatan menyedot minuman favoritnya yang sempat tertunda.

Sasuke, Naruto, Hinata, bahkan Sakura hanya sibuk dengan aktifitasnya masing-masing setelahnya. Acara yang seharusnya direncanakan supaya hangat terlebih romantis ini malah menjadi ajang saling sindir dan terutama, tak ada keakraban sama sekali. Semuanya saling sibuk mengurusi diri sendiri.

Hingga pada akhirnya sebuah pertanyaan meluncur dari mulut si gadis berambut pendek sebahu, "Ano, Sasuke-kun. Aku sebenarnya ingin tahu dengan perlombaan yang diikuti olehmu dan Naruto sebulan lalu selama tiga hari itu. Bisa kau ceritakan?"

Jus tomat yang tinggal bersisa sedikit itu tidak lantas dia habiskan. Tenggorokan Sasuke serasa tercekat tiba-tiba. Begitu halnya dengan sang rekan. Sejumput mie yang hampir memasuki rongga mulutnya terpaksa dia tenggelamkan lagi ke dalam lautan kuah ramen.

"Kenapa ... kau tiba-tiba bertanya masalah ini?" tanya Sasuke balik tanpa menengokkan kepala. Hanya bola matanya saja yang bergeser bersamaan.

"Yah, aku kan kekasihmu. Bukankah wajar kalau aku menanyakan kegiatan yang diikuti olehmu waktu itu? Kau hampir tidak pernah bercerita sama sekali selain waktu ketika aku meneleponmu dulu." Sakura memasang wajah setengah cemberut. Berharap akan mempan untuk membuat si lelaki dingin di sampingnya menuruti kemauannya untuk bercerita.

Adik kandung Itachi ini tak lekas merespon. Ia tatap mata Naruto yang kini turut pula menatapnya balik. Seakan-akan kedua remaja seumuran ini sedang bercakap melalui telepati. Hinata pun ikut memperhatikan jalannya pembicaraan karena ini juga menyangkut Naruto.

"Sakura, ... itu hanyalah kompetisi siswa teladan biasa. Hanya itu." akhirnya Sasuke mau menjawab walau ala kadarnya.

Hinata menyelinguk, "Be..Benarkah kau ikut, Naruto-kun?"

"Yap. Benar sekali, Hinata-chan." sahutnya diiringi senyuman yang merekah.

"Tunggu-tunggu." mendadak Sakura menyela. "Lomba siswa teladan kan? Ada yang aneh disini." ujarnya sok misterius.

Lanjutnya, "Jika Sasuke dan Shikamaru turut berpartisipasi, itu masuk akal. Shikamaru walau pemalas betul, namun kecerdasannya jauh di atas rata-rata murid satu angkatan. Namun, Naruto?!" acungnya frontal dibarengi intonasi yang melonjak sehingga mengakibatkan orang yang dicecar sedikit terlonjak kaget dari kursinya.

"Sudah lumayan malas, sering terlambat, dan yang paling pokok adalah bodoh. Apakah sekolah kita kekurangan kandidat sehingga anak yang selalu ranking lima besar dari bawah ini dipilih untuk mewakili?"

Oh, kala itu Sasuke baru bangun tidur sehingga kurang memperhitungkan akan adanya kecurigaan mengenai kehadiran Naruto pada alibi karangannya. Sebuah tamparan kecil pula baginya karena sebagai seorang detektif sekaligus agen intelijen muda yang terbiasa mengorek lubang pada alibi seseorang, dia bahkan tidak mampu membuat sebuah alibi sederhana yang nyaris sempurna.

Naruto mengacungkan jari telunjuknya ke udara, "Ehehe, ta..tapi kan aku pandai beladiri, Sakura-chan." tak ketinggalan sebuah cengiran bodoh melekat di wajahnya.

"Tapi dari yang kutahu sejak kecil, tidak ada lomba siswa teladan yang lebih mengedepankan fisik ketimbang otak. Paham?" kekasih Sasuke ini semakim beringas. Sikapnya persis seorang detektif yang sedang menguliti habis kejanggalan pada seorang tersangka.

Naruto mati kutu. Sasuke bersiap menunggu giliran berikutnya untuk menyusul kawannya itu. Namun untung saja sebuah telepon yang masuk di handphone-nya mampu mengalihkan perhatian Sakura atas topik yang sedang dibahas. Atau paling tidak, hanya sekedar menunda.

"Dari siapa?" tanya Sakura.

"Shikamaru. Sebentar." ia tunda untuk mengangkat telepon dari si rambut nanas guna mencari sudut tempat yang sepi supaya bisa mendengarkan suara dengan baik tanpa intervensi kondisi sekitar yang berisik. Setelah berjalan mencari-cari akhirnya dia putuskan untuk masuk ke sebuah gang yang sepi.

"Halo."

"Hey Sasuke, kau sedang dimana?"

"Ichiraku Ramen, Konoha Pusat. Makan. Bersama Sakura, Naruto, dan Hinata."

"Ohh. O ya, aku ingin mengabarimu sesuatu yang penting."

"Hn?"

"Barusan aku dikirimi e-mail oleh alamat resmi KPD. Isinya mengundang kita untuk hadir dalam pertemuan eksklusif di restoran Soddisfare. Kau tahu kan tempatnya? Tempat makan yang populer untuk kalangan elit dan bonafide itu."

"Ya, aku tahu. Kau tahu alasannya kenapa kita harus ikut? Dan, pertemuan apa itu?"

"Mengenai alasan aku tidak tahu. Tidak tercantum pada isi e-mail. Namun mengenai isi pertemuan, nanti akan dihadiri oleh perwakilan pihak pemerintah dan kepolisian. Tujuan pertemuan tersebut adalah untuk mendiskusikan serta memediasi dua klien penting."

"Kau tahu siapa dua klien itu?"

"Tidak. Kalau tahu sudah pasti ikut kusebut tadi. Baik, kau paham kan? Sampaikan kabar ini pada Naruto. Acara nanti malam pukul delapan. Hoaaahhm ... aku mau melanjutkan tidurku yang tertunda."

Panggilan terputus. Sasuke menghela nafas pendek seraya membayangkan singkat kira-kira apa saja yang akan ditemuinya nanti malam.


.

.

.

.

.


19.55

Restoran Soddisfare, Konoha Utara

Seperti yang sudah diagendakan. Pukul delapan malam, trio Natchfalke diwajibkan untuk datang ke acara pertemuan tertutup yang sengaja diselenggarakan oleh pihak pemerintah. Walaupun sebenarnya itu hanyalah undangan dan sah-sah saja bagi siapapun untuk tidak menghadiri yang namanya undangan, tapi yang ini sedikit berbeda. Harus hadir.

Dan hal itulah yang membuat Shikamaru merasa sangat malas pada malam hari ini. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk mempersiapkan tidur malam yang lelap nan panjang, kini harus dialihkan untuk sebuah acara tatap muka dengan orang-orang asing. Yang mungkin satupun tak ada yang dia kenal.

"Hah, malas sekali rasanya." langsung berkeluh-kesah begitu muncul dari balik pintu mobil.

Di sisi lain, Naruto tampak sumringah. Selalu bersemangat dan menebarkan keceriaan. Rasa-rasanya seperti tak ada habisnya energi yang dia punya. Mirip seperti anak hiperaktif yang belum terlalu parah.

"Wow, restoran yang nampak megah. Aku yakin makanannnya enak-enak. Eh, Soddisfare kalau boleh tahu artinya apa?" menoleh ke Shikamaru dan tak ada reaksi.

"Memuaskan. Itu bahasa Italia. Dasar bodoh." gusar Sasuke yang baru saja keluar dari dalam jok kemudi. Begitu berada di luar, sejauh mata memandang hanya ada tiga kendaraan roda empat yang terparkir di sekitar mereka. Padahal rumah makan ini nyaris tak pernah mengenal kata sepi setiap harinya. Mungkinkah tempat ini sengaja di-booking seluruhnya?

"Ayo masuk." ajak Shikamaru.

Ketiganya pun melangkah bersama. Namun begitu melewati pintu masuk, Naruto tiba-tiba berujar, "Kalian masuk duluan saja. Aku ingin ke toilet sebentar untuk cuci tangan."

Ia lekas melenggang pergi melewati koridor yang berbeda dengan Sasuke dan Shikamaru. Untuk mencari keberadaan toilet. Cukup mudah menemukannya. Saat sedang mencuci tangannya di wastafel, tiba-tiba saja seorang pria tinggi muncul dari dalam bilik toilet. Dan hal itu cukup mengagetkannya.

'Pria itu aneh. Sama-sama anehnya dengan inspektur yang bernama Kakashi. Dasar para penggila masker.' batinnya sembari mematikan keran. Setelah itu dia kembali kepada dua rekannya yang pasti sudah di dalam.

Dari kejauhan Naruto melihat Sasuke dan si nanas sudah mengambil tempat duduk yang bersebelahan. Di depan mereka berdua duduklah seorang pria berpenampilan opsir kepolisian yang memiliki cambang lebat pada dagunya. Dan seorang pria tinggi besar berambut gondrong putih yang sudah tak asing lagi baginya.

Naruto memberi salam perkenalan dengan pose ojigi sederhana kepada polisi asing yang tak dikenalnya itu. Namun untuk yang satunya, tak perlu lagi yang namanya salam formalitas.

"Hahaha, Naruto? Sudah lama aku tidak melihatmu." si pria gondrong yang mengenakan setelan jas warna cokelat keabu-abuan itu justru langsung mengakrabkan diri dengannya.

Ia menggaruk belakang rambutnya diiringi senyuman masam. "Ah, Jiraiya-san. Iya iya, lama kita tak berjumpa. Dan oh, tolong jangan panggil dengan nama asli saya ketika sedang mengemban tugas."

Orang itu berceletuk singkat, "Oke-oke. Emm, Neutron kan?"

Cengiran Naruto makin lebar tidak karuan. "Hehe, itu Newton."

"Hahaha, ya Newton. Maafkan aku. Hahaha."

Setelah itu baru Naruto bisa duduk. Di samping Shikamaru.

Berbagai macam hidangan sudah tersaji dengan rapi lagi teratur di meja yang ada di hadapan mereka berlima. Menu didominasi oleh masakan-masakan khas ala negara spaghetti . Yang paling kentara tentu saja spaghetti. Lalu ada pula pizza yang sudah dikenal lumrah oleh umum. Tak ketinggalan tortellini yang bentuknya mirip cincin namun itu sebenarnya semacam pasta. Disusul beberapa lainnya seperti tiramisu, bruschetta, dan lasagna. Hidangan ala negeri sendiri justru sangat minim. Hanya ada takoyaki ditemani katsudon.

Naruto yang kebetulan sengaja tidak makan apapun enam jam sebelumnya lekas-lekas ingin segera mencicipi makanan-makanan yang tersaji. Namun begitu garpu yang dipegangnya hampir bersentuhan dengan mie spaghetti, aktifitasnya diganggu oleh suara seorang pria.

"Baik. Kita mulai perkenalannya dulu. Namaku adalah Asuma Sarutobi. Seorang komisaris di KPD. Mungkin dari kalian bertiga hanya Sa emm maksudku Simeone seorang yang sudah mengenalku." ucap si pria berjenggot yang barusan memperkenalkan diri bernama Asuma.

Mendengar namanya disebut, Sasuke hanya mengangguk singkat. Namun Shikamaru justru yang bertanya, "Maaf Asuma-san, tadi marga anda Sarutobi ... kan?"

Yang bersangkutan tersenyum ringan kemudian manggut sekali. Sambil menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di antara kedua bibirnya.

"Jangan-jangan anda ... "

Asuma menyambung kalimat Shikamaru yang belum rampung diucapkan, "Ya. Aku adalah putra dari kepala sekolah kalian. Hiruzen Sarutobi adalah ayahku."

Si rambut nanas tercengang. Si rambut durian ternganga. Namun si rambut ayam tetap diam. Mungkin karena dia sudah tahu hal ini sebelumnya.

Dan kini giliran pria yang satunya lagi untuk memperkenalkan diri. Ia berdiri dari tempat duduknya. "Kalian sudah kenal aku kan? Sungguh, keterlaluan sekali jika ada di antara kalian bertiga yang tidak tahu siapa aku." wajahnya cemberut dibuat-buat.

"Jiraiya. Wakil walikota Konoha. Bahkan anak balita saja seharusnya pun tahu." jawab si Uchiha. Lagi-lagi nadanya terdengar sarkastis.

Cemberut di wajah Jiraiya kini berganti dengan senyuman riang.

"Mantan walikota dua periode berturut-turut sebelumnya. Ingin menjabat untuk yang ketiga jika saja peraturan konstitusi kepala daerah melegalkan hal demikian. Dan hanya bisa mendompleng tou-san sebagai wakil saja pada akhirnya." penuturan yang meluncur begitu saja dari mulut Naruto ini kontan saja membuat pria berperawakan besar itu bereaksi.

"Pssst, aku tahu kau itu anak dari Minato sehingga tahu segala mengenai rahasiaku. Tapi tolong nanti saat pertemuan dimulai sebaiknya kau tutup resleting pada mulutmu itu bocah." Jiraiya menyahut dengan wajah panik yang terkesan dibuat-buat. Orang ini memiliki kepribadian yang humoris sepertinya. Membuat ketiga orang yang hadir kontan saja tersenyam-senyum geli. Kecuali orang keempat yaitu Sasuke. Ia justru terlihat seperti sedang memendam sesuatu dalam alam pikirannya.

"Asuma-san." panggilnya. Orang yang namanya barusan disebut langsung menengok.

"Apa anda tahu alasan kenapa kami bertiga wajib hadir malam ini? Karena kupikir ini aneh. Tak ada kasus apapun." Sasuke menumpahkan rasa penasarannya.

Shikamaru membenarkan. "Ya. Aku pun berpikiran sama dengannya. Merepotkan sungguh, kita harus datang ke acara sepele seperti ini tanpa adanya tugas yang mendesak."

Dihisapnya dulu pangkal batangan kaya nikotin dengan penuh khidmat, baru dia jawab setelahnya. "Yah, aku paham dengan pertanyaan kalian. Sebenarnya alasan utama dan satu-satunya kalian supaya hadir adalah agar ... "

Penjelasan yang ingin didengar Sasuke tak dapat dituntaskan. Akibat kehadiran seorang pria berpakaian tuxedo merah necis yang kelihatan berharga mahal. Rambutnya hitam model jabrik cepak, dan yang paling menonjol dari seluruh penampilannya adalah masker putihnya yang menempel erat di depan bibir dan lubang hidung.

"Maaf-maaf kalau saya telat." begitu sampai, orang ini langsung cepat-cepat menundukkan tubuhnya berulangkali sebagai tanda permohonan maaf. "Hari ini orang Leo harus senantiasa waspada di perjalanan. Jadi saya agak telat." ia langsung duduk di sebuah kursi yang tersedia.

Asuma menepuk jidatnya cukup keras seraya berkata, "Tck, aku sampai sekarang masih heran kenapa seorang advokat kondang seperti dirimu ini sangat percaya dengan yang namanya mainan anak muda seperti horoskop itu."

Orang itu sedikit menyergah, "Eh, jangan salah. Salah satu resep sukses saya bergelut di dunia hukum adalah dengan mentaati petuah-petuah zodiak saya setiap harinya."

Naruto mendekatkan kepalanya ke depan wajah Shikamaru sambil berbisik, "Eh Shika, siapa sih dia?"

Balasnya pelan, "Zabuza Momochi. Seorang pengacara terkenal dari Tokyo. Beberapa kali muncul di layar kaca."

Naruto sedikit melongo dan bunyi 'ooh' terdengar menyusul.

"Hey Zabuza, mumpung klienmu belum datang, kenapa tidak kau coba berikan petuah mengenai rasi bintang milikku?" tantangan ini datang dari Jiraiya.

Tentu saja selaku maniak zodiak, istilahnya, orang itu tidak akan menolak. "Oke, tentu-tentu. Milikmu?"

"Scorpio. Kalajengking November."

Dibalas dengan relatif cepat, "Kesehatan sedikit terganggu akibat terlalu banyak minum es. Keuangan cukup tersendat akibat terlalu banyak pengeluaran mendadak. Dan terakhir asmara, ... akan menemukan cinta sejati dalam jangka waktu dekat."

Wakil ayah Naruto dalam pemerintahan itu mendadak melepas tawanya, "Hahahaha, keren-keren. Kesehatan dan keuangan tepat sekali seperti yang sedang terjadi. Hanya saja mengenai asmara, cinta sejatiku hanyalah untuk almarhumah istriku." saat pengucapan kalimat yang terakhir, nampak adanya rasa kerinduan bercampur kesedihan terpancat dari sorot matanya.

"Maaf-maaf Jiraiya-san, bukan maksud saya untuk menyinggung masa lalu anda." Zabuza merasa tidak enak sekali.

Pria berambut putih total itu bergeleng, "Tak apa, tak masalah. Itu sudah lama berlalu. Kini aku ingin menyongsong masa kini dan masa depan saja."

Sang lawyer sedikit menggoda, "Kalau untuk cinta yang bukan sejati alias semu?"

"Mungkin tepat sesuai dengan wejanganmu tadi. Akan menemukan dalam jangka dekat." sepasang alisnya berjingkat naik-turun nakal, disusul tawa meledak, "Hahaha!"

Zabuza mengalihkan pandangan dari si humoris doyan tertawa itu kepada ketiga lelaki muda bersetelan pakaian senada yang sedaritadi hanya menjadi penonton interaksinya dengan si wakil walikota. "Maaf kalau saya tidak menyadari kehadiran kalian bertiga. Ngomong-ngomong, kalian siapa?"

"Natchfalke. Organisasi bentukan pemerintah dan polisi kota ini yang sudah mulai menunjukkan tajinya. Itu mereka." Asuma yang malah menjawab pertanyaan dari Zabuza. Sembari mematikan puntung rokoknya ke permukaan asbak.

"Ohh Natchfalke. Iya-iya, sempat membaca mengenai organisasi berisi trio detektif intelijen muda di surat kabar. Jadi kalian bertiga adalah anggotanya?" pria bermasker ini kembali bertanya cukup antusias.

Sasuke dan Shikamaru menjawabnya melalui anggukan. Hanya Naruto seorang yang menjawab verbal, "Benar tuan."

"Dari kiri ke kanan. Simeone, Steve, dan Newton." komisaris kepolisian Konoha itu menerangkan identitas nama masing-masing personil.

Zabuza mengatupkan kedua telapak tangannya, "Saya sungguh merasa terhormat bisa bertemu dengan kalian bertiga. Masih muda, cerdas, kuat, berani, cekatan, dan yang terpenting berdedikasi tinggi kepada hukum yang berlaku."

Sejurus kemudian datanglah tiga orang pria berpakaian jas hitam-hitam dari arah pintu masuk restoran. Pria paling pendek yang berjalan di tengah memiliki model rambut seperti si pengacara namun pada bagian wajah sebelah kanannya memiliki bekas luka yang terlihat cukup mengerikan. Pria di sebelah kiri memiliki warna rambut hijau tua, bermata kuning gelap, dan penampilan wajahnya sangat mencolok. Seperti sengaja dicat hitam dan putih separuh-separuh. Dan pria terakhir di sebelah kanan yang sangat tinggi lagi-lagi tak kalah menarik perhatian mata. Bergaya rambut mencuat tegak tinggi menantang gravitasi, berkulit biru muda, dan seringaiannya sedikit mengekspos deretan gigi-gigi lancip di balik bibirnya yang tak normal dimiliki oleh kebanyakan manusia.

Pria yang di tengah langsung mengambil tempat untuk duduk. Sedangkan kedua orang yang berjalan bersamanya hanya berdiri mengapit kursinya dengan posisi istirahat di tempat.

"Selamat malam dan selamat datang, ... Obito." sambut Jiraiya tanpa terlihat senang, hangat, ceria, dan sebangsanya. Sikapnya nyaris berbalik drastis dari sebelumnya.

"Yap. Selamat malam Jiraiya." balasnya hangat sembari tersenyum lebar. Kemudian dia mengedarkan pandangan ke arah lima orang sisanya. "Dan selamat malam semuanya."

Naruto kembali membisikkan sesuatu di kuping Shikamaru, "Hey, siapa ketiga orang itu? Klien kah?"

"Ya. Mungkin mereka businessman." sahutnya singkat dengan volume lirih.

Zabuza menoleh ke arah pria yang tadi dipanggil oleh Jiraiya dengan nama Obito itu. "Obito-san, sambil menunggu kedatangan klien saya yang hampir sampai kemari, apakah anda mau mendapatkan saran atau petuah mengenai horoskop?" tawarnya ramah.

Melihat sikap orang itu yang seperti sedang berada dalam mood bagus, pastilah 'ya' menjadi jawabannya. "Silahkan. Aku sangat senang untuk mengetahui ramalan bintangku. Punyaku aquarius."

"Aquarius ya?" tanyanya sekali untuk memastikan. "Kesehatan hari ini cukup bagus karena telah mengeluarkan banyak keringat. Keuangan sedang bagus akibat adanya keberuntungan dalam pemilihan investasi. Namun untuk asmara, buruk. Karena ada seseorang yang ingin menghancurkan hubunganmu." jelasnya antusias sehingga membuat Asuma yang duduk persis di sampingnya merasa makin mual ditambah muak.

Obito bertepuk tangan cukup keras penuh semangat. "Yes, kesehatan dan keuangan dalam genggamanku. Namun untuk masalah asmara aku tak peduli. Berapapun wanita dapat kumiliki dan secantik apapun wanita bisa kukuasai. Good job, Zabuza!" tak lupa dia berikan acungan jempol kepada orang yang barusan memberinya sebuah ramalan bintang.

"Sama-sama." pria bermasker ini menunduk sopan. "Oh, dan Zetsu-san? Mau?"

Dijawabnya dengan sebuah gelengan, "Tidak perlu. Mungkin Kisame butuh."

Rekomendasinya segera ditanggapi oleh Zabuza. "Kisame-san?"

Pria berpostur bak pemain basket NBA itu memasang ekspresi meremehkan seraya berkata, "Cepat jelaskan ramalan tololmu itu padaku dan sebaiknya lekas hubungi klienmu si manusia-manusia idiot itu agar meeting ini bisa segera selesai. Pisces."

Mendapat celaan tak membuat ambisinya untuk mewartakan ramalan zodiak surut. "Sebelumnya saya minta maaf. Namun dari tiga segi, seluruhnya sedang kurang bagus. Kesehatan menurun karena kurang waspada terhadap makanan pembawa penyakit pencernaan. Keuangan sedang terjadi defisit saldo akibat pendapatan yang lebih kecil daripada pengeluaran. Asmara sedang buruk karena banyak sekali pihak mantan yang ingin menjatuhkanmu."

Kisame sontak menggebrak meja, "Bullshit. Jadi kau secara langsung ingin mengatakan jika hari ini aku sedang sial, begitu?!"

Zabuza sedikit panik begitu mengetahui korban ramalannya merasa tersinggung barusan. "Bu..bukan begitu, maksud saya ... "

"Kisame, hentikan aksimu."

Sebuah instruksi sederhana dari Obito langsung membuat laki-laki berpenampilan sangar itu seketika meredam emosinya. "Baik bos."

Suara derap langkah dua pasang kaki manusia terdengar pelan. Dan semakin menggema saat kedua orang manusia berpakaian setelan jas putih-putih untuk si pria dan setelan pakaian kantoran atasan-bawahan panjang warna putih juga untuk si wanitanya mendekati ruang pertemuan. Seperti yang dilakukan oleh tiga orang tadi begitu sampai, kedua orang ini pun sama. Hanya satu yang duduk sedangkan si wanita berpotongan rambut sebahu warna biru yang mengenakan ornamen bros bunga pada puncak kepalanya hanya berdiri di belakang kursi.

"Oh Yahiko, kenapa kau lama sekali? Macet kah di perjalanan?" Jiraiya menanyai si pria bermodel rambut persis Naruto namun berwarna oranye itu dengan sumringah.

Yang ditanyai hanya menjawab dingin ala kadarnya, "Hm. Begitulah."

Asuma kembali menyalakan rokoknya yang kedua sembari berujar, "Lebih baik kita mulai saja pertemuan ini karena kupikir semuanya sudah berkumpul. Baiklah, silahkan cicipi hidangannya terlebih dahulu sambil kita mulai diskusi pelan-pelan."

"Aku tak berminat." ucap pria rambut oranye yang memakai aksesoris pierching pada hidung, dagu, ditambah kedua telinganya. Menatap tajam ke arah Obito yang sedang asyik memilih masakan Italia yang terhidang di hadapannya. "Aku minum saja. Konan."

Wanita yang berdiri di belakangnya langsung sigap dan seakan sudah paham dengan maksud dari si pemberi perintah. Ia ambil sebotol sampanye dari atas meja lalu menuangkan isinya di dalam gelas jenis stem berkaki satu. "Douzo, okashira."*Silahkan, ketua*

"Arigatou."

Melihat keadaan yang sudah mulai memanas membuat Asuma harus lebih hati-hati lagi dalam membawakan acara. "Apakah kalian berdua sudah tahu kenapa diundang kemari?"

Yahiko mengangguk perlahan. Sedangkan Obito menjawab 'ya' dengan mulut yang sedang dijejali oleh lasagna.

"Bagus kalau begitu. Pertama, aku disini selaku orang yang berkapasitas sebagai seorang komisaris kepolisian ingin menekankan pada masalah pokok yang melatarbelakangi pertemuan ini." Asuma menghisap rokoknya sejenak kemudian segera membuang asap nikotin ke udara. "Yaitu mengenai organisasimu, Yahiko, yang tidak pernah mau membayar pajak 'pemutihan' sebesar tiga puluh persen dari total penghasilan bruto selama satu tahun. Tercatat tiga tahun semenjak organisasmu berdiri, kau hanya pernah membayar sekali. Dua tahun terakhir tidak pernah mematuhi aturan dari pemerintah lagi."

Naruto lagi-lagi berbisik kepada rekan di sebelahnya, "Hey, pajak pemutihan itu apa? Aku baru pernah mendengarnya. Dan jumlahnya sampai tiga puluh persen?"

Si Nara kali ini menggeleng pertanda tidak tahu. "Entahlah. Mungkin Sasuke tahu."

"Tidak." kata si rambut ekor ayam lirih tanpa perlu ditanyai lebih dulu.

Jiraiya selaku perwakilan dari pihak pemerintah pun ikut angkat bicara, "Apa yang dikatakan oleh komisaris Asuma benar. Organisasi yang dipimpin oleh Obito telah mentaati regulasi dengan membayar sesuai aturan selama tiga tahun berturut-turut. Jadi pertemuan ini adalah semacam peringatan terakhir bagimu."

Seorang pria kurus berambut merah yang mengenakan pakaian persis dengan Yahiko tiba-tiba saja masuk ke ruang pertemuan dan langsung mengambil posisi tepat di samping wanita bernama Konan. Ia berucap lirih, "Gomen, okashira. Ada urusan sebentar."

Yahiko menoleh ke belakang, mengangguk pertanda memaklumi, kemudian kembali lagi mengurusi topik pembicaraan. "Boku wa kinishinai. Bagiku pajak dengan prosentase sebesar itu sama saja dengan pemerasan. Hampir sepertiga dari total penghasilanku kuberikan hanya untuk pemerintah?!" intonasi bicaranya meninggi yang menandakan dia kecewa. *Aku tidak peduli*

"Tapi itu tetap peraturan. Kau wajib membayar untuk tahun ini sekaligus melunasi yang sudah-sudah. Jatuh tempo adalah akhir tahun yang berarti dua bulan dari sekarang. Jika sampai telat, kami tak segan untuk memperkarakanmu sampai ke meja hijau." sebuah ancaman yang tidak main-main diungkapkan oleh rekan inspektur Kakashi di KPD itu.

"Izinkan saya berbicara disini." Zetsu sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah agar menyamai tinggi kepala Obito yang sedang duduk. "Apakah boleh bos?" meminta izin dulu dengan sopan.

"Tentu-tentu. Silahkan saja. Sesukamu." Obito bersikap acuh karena dia sedang fokus mencicipi hidangan kuliner luar negeri yang beraneka macam ragamnya.

Zetsu kembali berbicara, "Saya selaku tangan kanan dari pemimpin saya ingin menyatakan sikap ketidakrelaan kami atas apa yang telah diperbuat oleh saudara Yahiko dan organisasinya. Ini sungguh tidak adil bagi kami. Kami telah membayar pajak pemutihan sesuai kesepakatan selama tiga tahun sedangkan mereka tidak. Tapi kenapa bisnis mereka tetap berjalan dengan mulus sama seperti kami?"

Kisame ikut menambahkan, "Jadi intinya kita ingin agar pemerintah dan polisi supaya bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi. Aku yakin jika ada yang tidak beres disini. Mereka bermain curang, si brengsek Yahiko dan anteknya. Dan hipokrit-hipokrit seperti kalian yang melindunginya." jari telunjuk kanannya diacungkan kepada Jiraiya yang pertama, lalu berikutnya kepada Asuma.

"Oh ya? Atas dasar bukti apa kau menuduh kami seperti itu, manusia rendahan?" Konan yang pertama membalas dari kubu Yahiko.

Kedua telapak tangan Yahiko menggebrak permukaan meja dengan keras sehingga mengakibatkan gelas yang berdiri di dekatnya tertumpah isinya. "Kalian saja yang bodoh dan tidak punya harga diri. Mau-maunya menjadi anjing pemerintah dengan menuruti semua keinginan mereka. Kenapa tidak mengikuti yang kami perbuat? Kono yona orokana hitobito." sindirannya yang benar-benar tajam mengena barusan membuat pemimpin dari kubu sana spontan menghentikan aktifitas makannya. Garpu yang sedang dipegangnya bergetar mengikuti getaran pada tangannya. Lantas dia tancapkan ujungnya pada sebuah potongan pizza dengan sangat keras. *Sungguh sekumpulan orang yang dungu*

"Bangsat! Kau yang jelas-jelas bersalah dan masih saja membela diri?! Kau masih saja hobi membalikkan mood-ku dalam sekejap. Aku juga akan menuntutmu di pengadilan nanti!" geram Obito sampai meledak-ledak. Ia berdiri dari kursinya seketika. Sikapnya yang ceria tadi kini berbalik tepat seratus delapan puluh derajat.

"Kami akan hadapi. Itulah mengapa tuan Zabuza dihadirkan disini. Beliau adalah pengacara yang akan membela kami nanti." ujar pria yang rambut merah lurusnya sampai menutupi mata sebelah kanan.

"Benar yang dikatakan tuan Nagato. Tuan Yahiko dan kawan-kawan adalah klien saya." sang advokat senior menanggapi.

"Jadi selama ini rumor itu benar." Sasuke bergumam lirih namun tetap dapat didengar oleh Shikamaru. Pemuda nyaris tanpa gairah itu melontarkan pertanyaan terkait isi perkataan si rekan tadi, "Rumor apa?"

Tanpa menyelinguk sedikitpun, si Uchiha bungsu menjawab, "Zabuza adalah pengacara populer tanpa kredibilitas serta integritas. Karirnya selama ini dibangun kebanyakan lewat memenangkan klien-klien kotor yang berduit banyak."

Si nanas hanya manggut-manggut saja seusai mendengar informasi dari Sasuke.

Situasi sudah benar-benar memanas. Perseteruan kedua kubu yang disebut oleh pihak kepolisian sebagai 'klien' semakin sengit. Permasalahan didasari oleh uang. Obito cs sangat tidak dapat menerima fakta jika perlakuan pemerintah serta polisi baik kepadanya maupun Yahiko cs bisa dikatakan sama rasa sama rata. Tanpa mengindahkan apa yang telah diperbuat olehnya maupun oleh pihak Yahiko yang jelas-jelas berbeda.

"Sudah-sudah tenanglah kalian berdua. Kuakui ini juga salah kami selaku pemerintah yang kurang mampu untuk bertindak tegas terhadap Yahiko." Jiraiya berusaha menenangkan situasi agar tidak semakin berlanjut parah. Namun sepertinya itu sia-sia belaka.

"Apa hanya kau saja yang pantas membenciku? Sore wa saisho-girai ni ataisuru watashidesu." gertak Yahiko seraya bangkit berdiri. *Adalah aku yang justru pantas membencimu lebih dulu*

"Warisan aset empat puluh persen bagi anak kandung dan justru enam puluh persen bagi anak angkat. Kau masih ingat, Tobi?!" urat-urat di sekitaran leher maupun dahi sedikit terekspos keluar. Menandakan amarahnya atas masa lalu yang kembali membuncah.

Orang yang dicecar pun tak lantas diam saja di tempat. Ia dengan senang hati melawan. "Jangan salahkan aku jika oyaji lebih memilihku ketimbang dirimu. Bahkan seharusnya aku yang mewarisi organisasi lama kita dan kau kini menjadi bawahanku, Pein!" *ayah*

Mendadak Shikamaru tersentak ke depan sedikit dari kursinya. "Pein?! Dan To..Tobi?"

"Kenapa memangnya Shika?" tanya Naruto singkat.

Sasuke pun merasa penasaran. Kali ini dia menoleh.

"Boku wa ima anata o koroshitaidesu!" tiba-tiba saja Yahiko sudah menodongkan pistolnya ke arah Obito dengan jari telunjuk yang sudah siap sedia untuk menarik pelatuknya. *Aku ingin membunuhmu sekarang juga*

"Ingin rasanya kuledakkan isi tempurung kepalamu, wahai bangsat!" Obito pun tak mau ketinggalan. Ujung pistolnya sudah teracung tanpa keraguan mengarah persis ke kepala pria yang nampak sangat dibencinya itu.

Nagato dan Konan pun mengikuti. Disambut oleh Zetsu dan Kisame. Tiga pistol melawan tiga pistol. Seimbang.

Acara yang sebetulnya adalah sebuah pertemuan jamuan makan malam kini dalam sekejap nyaris berubah menjadi arena medan pertempuran.

Jiraiya panik setengah mati. Berusaha mundur menjauhi meja makan. Asuma tetap tampil tenang. Walau tidak dipungkiri tangan kirinya sedang bergerak mendekati daerah pinggang kiri dimana disitu tergelantung sebuah sarung pistol bersama pistolnya.

"Hentikan. Sekali lagi kubilang, hentikan." putra kepala sekolah Konoha High School 1 ini menatap tajam keenam manusia yang sedang bersiap untuk saling serang satu sama lain. "Satu saja kudengar suara tembakan meletus dan bisa dipastikan yakuza-yakuza seperti kalian akan menjadi buronan utama polisi seantero Jepang. Bahkan tidak ada lagi ijin pelegalan bagi keberadaan kalian."

Sepertinya kondisi perseteruan panas ini tinggal sedikit lagi mencapai klimaksnya. Naruto kembali mengulangi pertanyaannya tadi yang belum sempat dijawab oleh Shikamaru. "Hey, si..siapa sebenarnya Pein dan Tobi itu?"

Ia menelan ludahnya dalam-dalam sebelum menjelaskan jawabannya, "Aku tidak tahu sebelumnya jika kedua laki-laki itu adalah Pein dan Tobi. Pein, adalah seorang ketua dari organisasi yakuza Ryujin. Sedangkan Tobi, dia adalah bos dari kelompok yakuza bernama Tora Akuma."


~ TSUZUKU ~

Ini dia kasus keduanya. Menceritakan mengenai pertikaian sengit berkepanjangan antara dua organisasi yakuza (mafia Jepang) yang nantinya akan berujung pada terjadinya pembunuhan misterius. : )

Peristiwa pembunuhan akan author hadirkan di chapter depan. Bukan di chapter perdana langsung seperti pada kasus pertama kemarin. Barangkali ada yang mau menebak, siapa hayo yang bakal tewas menjadi korban? : D

Sudah sekian saja. Author harap kasus kali ini bisa selesai hingga tuntas tanpa adanya gangguan berarti. Dan yang terpenting, bisa memuaskan readers sekalian di tempatnya masing-masing.

Akhir kata, terimakasih sudah membaca!