Pertama-tama, LutfiyaR ingin berterima kasih kepada yang sudah mau mereview, fav, dan follow. Terima kasih banyak, ya! Terutama kepada Natsu72 yang tidak pernah berhenti memberi review!

Cocoa2795-Sekali lagi, maaf ya. Tapi kali ini sudah lebih panjang, kok!

LiliAnade-Kata-kata itulah yang LutfiyaR tunggu! Terima kasih atas dukungannya!

~o~o~o~o~o~

Disclaimer : I do not own Katekyo Hitman Reborn

Undying Flame

Chapter 10 : The Message

~o~o~o~o~o~

"Tsu-kun, bagaimana keadaanmu?"

"Aku baik-baik saja."

"Jagalah kesehatanmu. Kau sudah koma lima kali, tau!"

"Umm..."

Anaknya bergumam gelisah. Nana tersenyum kecil. Suaranya melembut. "Berhati-hatilah, Tsu-kun."

Ada jeda sebentar. "Maafkan aku."

Terdengar suara 'klik' dan pembicaraan pun terputus sebelum Nana bisa membalas. Dia meletakkan gagang telepon sambil menghela nafas.

'Seharusnya akulah yang minta maaf,' batinnya pahit.

~o~o~o~o~o~

'Maaf telah menipumu, Sawada Nana dari dunia lain,' Tsuna membatin sedih.

Tapi, kesedihan itu tidak berlangsung lama. Dia kembali menelpon orang dengan nomer berbeda.

"Ya, ini Gokudera."

"Informasi apa saja yang berhasil kau dapat?"

"Kurasa Sky Arcabaleno itu mengirimkan cincin itu dari dunia kita. Kalau dia mengambilnya dari Markas Vongola, Dunia Mafia pasti kacau sekarang," jawab Gokudera tanpa perlu bertanya siapa yang telah menelponnya.

"Kau benar. Jika dia mencurinya dari Vongola, dia akan langsung masuk berita utama, wajahnya akan dipasang di poster buronan, dan segerombolan mafia tidak akan berhenti mengejarnya."

"Tepat sekali. Jika itu terjadi, aku tidak akan bisa berbicara santai denganmu disini, Juudaime."

Sebegitu pentingnyalah cincin legendaris itu bagi Vongola. Begitu penting sampai mengguncang Italia.

Tapi, kesampingkan dulu cincinnya untuk sementara. Tsuna punya hal yang lebih penting untuk didiskusikan.

"Sky Arcabaleno mengirimkan pesan hari ini."

"Pesan?"

"Ya."

"Apa yang dia katakan, Juudaime?"

Tsuna menatap kertas kecil di genggamannya. Dia tersenyum tipis. "Kurasa dia ada di pihak kita."

Percayalah pada janji yang kau pegang.

Sky Arcabaleno

Di masa lalu, mereka semua telah berjanji untuk menghentikan kekacauan ini bersama-sama. Ini adalah sumpah para Arcabaleno.

Jika si Sky Arcabaleno ini masih mengingat sumpah ini berarti dia bukanlah musuh.

Tsuna menatap keluar jendela. Sesuatu melintas di ingatannya. "Benar juga, kita semua bersumpah di depan Yuni..."

"Kau tadi bilang apa, Juudaime?"

"Ah, tidak, lupakan saja. Ngomong-ngomong, Gokudera, kalungkan cincin itu dan sembunyikan dibalik bajumu. Akan gawat jika sampai ada yang mengenali cincin legendaris Vongola di jarimu."

"Aku mengerti. Ngomong-ngomong, tidakkah kita harus mewaspadai tindakan Reborn?"

"Meskipun Reborn curiga, dia tidak akan mengetahui apapun. Yang dia lawan adalah keluarga Vongola generasi kesepuluh sekaligus anggota Arcabaleno."

Tsuna menyeringai lebar. Gokudera tertawa tertahan.

"Yah, kau benar, Juudaime." Nada suara Gokudera mengecil. "Tapi, kenapa kita tidak memberitaukan hal ini saja kepada dia?"

"Aku..." Tsuna menggigit bibir. "Aku tidak bisa mengatakannya."

"Juudaime..."

Tsuna menghela nafas. Dia benci sekali nada suara yang penuh simpati itu. Tidak ada yang perlu bersimpati kepadanya.

Itu hanya akan membuatnya lebih buruk.

"Karena kau sudah menyelesaikan tugasmu, segeralah kembali, Gokudera. Markas kecil ini terasa begitu luas saat hanya ada aku didalamnya."

"Baik."

Setelah jawaban singkat itu, telponnya ditutup. Tsuna memandang ke sekelilingnya. Ada banyak kertas berserakan di lantai. Sebagian besar kertas itu berisi gambar-gambar rancangan mesin dan denah bangunan yang terlihat rumit.

-Kenapa kita tidak memberitaukan hal ini saja kepada dia?-

Lalu ekspresi macam apa yang akan diberikan jika dia tau muridnya dari dunia lain adalah laki-laki yang sangat menyedihkan?

"Kenapa aku peduli? Muridnya adalah Ienari, bukan aku. Lagipula dia sudah-"

Tidak ada. Pergi. Menghilang. Mati.

Tsuna menggelengkan kepalanya. Dia mengambil pensil dan kembali menekuni kegiatannya. Tidak ada gunanya menangisi masa lalu. Yang perlu dikhawatirkan hanyalah masa depan. Benar, kan, Reborn?

~o~o~o~o~o~

"Ah-choo!"

"Eh? Apa kau flu, Reborn?"

"Aku baik-baik saja. Lanjutkan pekerjaanmu, Baka-Nari!"

Ienari menggerutu kesal. "Padahal aku mengkhawatirkanmu!"

Reborn mengabaikannya. Dia memilih meminum espressonya dengan tenang sambil mengawasi Ienari yang kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya.

Seorang guru privat dengan julukan hitman terkuat bernama Reborn dan murid berbakatnya, Sawada Ienari, yang penuh kharisma.

Reborn mengerutkan dahi. Entah kenapa, rasanya ada yang salah dengan gambaran itu.

~o~o~o~o~o~

Gokudera menatap gagang telpon di tangannya.

-Aku tidak bisa mengatakannya-

Tsuna tidak akan pernah bisa mengatakannya. Gokudera sudah tau hal itu. Malah, dia sudah mengetahuinya sejak awal.

Mereka, para Arcabaleno, telah mengalami berbagai pengalaman yang menyakitkan.

Dikutuk menjadi bayi, kehilangan orang berharga, bertarung di tengah keputusasaan...

Mereka semua menderita, jadi mereka bisa saling memahami. Tsuna tidak menyadarinya karena dia terlalu sibuk menyalahkan diri sendiri.

"Kenapa kau tidak memperhatikan bahwa Reborn hanya mencoba membantu? Kenapa kau tidak memperhatikan bahwa aku hanya ingin membantu?"

Bagaimanapun juga, Gokudera tidak bisa mengatakannya kepada bosnya. Dia bukanlah orang yang tepat karena dia sendiri tidak bisa berbagi rasa sakit itu dengan Arcabaleno yang lain. Dia tidak bisa memahami yang lainnya.

~o~o~o~o~

"Tapi, janji itu... Kalau dipikir-pikir kenapa para Arcabaleno memutuskan untuk bersumpah seperti itu?" Tangan Tsuna yang sejak tadi menggambar, berhenti bergerak. Dahinya mengernyit. "Yuni meminta kami untuk bersatu, tapi sekarang aku ingat bahwa para Arcabaleno generasi sekarang tidak mungkin bisa diajak bekerja sama."

Itu adalah salah satu alasan kenapa mereka tidak segera mengumpulkan para Arcabaleno.

Tsuna menggertakkan gigi. "Yamamoto dan Gokudera, sih, tidak masalah, tapi mengajak yang lainnya bertempur bersama itu tidak mungkin."

Dia tidak ingat wajah para Arcabaleno selain kedua rekan kerjanya, tapi dia tau satu hal. Bahkan dalam mimpinya pun mereka tidak akan pernah bisa bekerja sama dengan baik.

Tsuna memegang kepalanya yang mulai terasa pening. "Apa yang kau pikirkan sebenarnya, Yuni?"

~o~o~o~o~o~

Ada alasan kenapa pertemuan pertama para Arcabaleno menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan.

Pada akhirnya, para Arcabaleno tidak akan pernah saling mengerti.

~o~o~o~o~o~

Please Give Me Your Review!