A/N:

Minna aq update kilat again..^^

Gomen bwt kejutan yg tiada tara (?) n yg menyakitkan hati(?)

Gomen jg qalo chap kmrn bnyk typo, saking semangatny ngetik gak liat2 hurufny(?)

Bwt soal Grimmjow yg jd paman Ulqui aq mw coba sesuatu yg baru.

Hohoho..*ketawa nista*

Baiklah kita mu..

Grimm: Hey tunggu, apa maksud lo author?

Author: ?

Grimm: Kenapa gue jadi pamannya tuh espada*nunjuk ulqui n yg bersangkutan nengok*

Author: Anu..

Ulqui: Ya author. Kenapa aku mesti jadi keponakan dia*nunjuk grimm*

Author: Aduh.. pada protes aja. Ikutin ja napa?

*Grimm n Ulqui death glare ke author, author sweatdrop*

Ikutin gak. Ato gak bakal aku bkinin fic UlquiHime agy*nunjuk ke ulqui* n aku batalin rencanaku bkin fic GrimmNel*nunjuk ke grimm*

Grimm n Ulqui: Mau bkin agy ya? Ok d author jangan marah. Kita turutin d asal bkin ficny*wajah melas*

Author: Ok, ok. Qalo ada maunya baru baik.

Sekedar info. Mank aq da rencana bkin GrimmNel n UlquiHime agy..^^

Chap 10 ini bercerita tentang masa lalu Grimmjow, saat Ulqui yg dibawa ma Aizen. (referensi chap 4). Disini Grimmjow n Nel umurnya 18 tahun jadi tahu kan 10 tahun ke depan mereka umurnya berapa..^^

Disclamer: Tite Kubo always have Bleach n aq pinjem chara2nya

Happy reading n gomen qalo author satu ini mulai bnyk bacot..^^


I Hate Everything About You


Flashback On, Grimmjow's POV

Hari ini aku sedang pergi menuju rumah kakakku, lebih tepatnya saudara jauhku yang umurnya lebih tua dari aku. Aku mengendarai mobilku yang berwarna biru sama seperti warna rambutku menuju rumahnya yang terletak agak jauh ke dalam hutan. Rumahnya memang terpencil karena itulah aku memilih jalan yang agak jauh agar mobil bisa masuk.

Setelah beberapa menit aku sampai di sebuah rumah yang cukup besar yang juga merupakan satu-satunya rumah di dekat sini. Aku keluar dari mobilku.

"Tunggu disini." ujarku pada seseorang yang duduk di bangku depan dan dia hanya mengangguk pelan.

Aku berjalan memasuki rumah itu dan betapa terkejutnya aku melihat saudaraku dan istrinya telah bersimbah darah di lantai.

"Ya ampun." ujarku pelan dan aku mendekati tubuh mereka itu. Tapi aku merasa aneh, hanya ada dua orang saja. Setahuku mereka tinggal bertiga dengan anak mereka. Aku pergi ke lantai 2 dan memeriksa setiap ruangan yang aku tahu dan tidak kutemukan sosok anak mereka. Akupun kembali ke lantai 1 tempat aku menemukan mayat mereka.

"KYAA!" jerit seseorang dan aku lebih terkejut lagi yang menjerit adalah orang yang kusuruh untuk menungguku di dalam mobil.

"Kenapa kamu kesini, Nel?" tanyaku pada orang itu, gadis yang bernama Nel. Nel tidak menjawab pertanyaanku dan hanya terdiam melihat mayat mereka, dan dia jatuh terduduk sambil menangis.

"Ada apa ini?" tanya Nel yang masih terisak. Akupun berjalan mendekatinya dan memeluknya untuk menenangkannya.

"Kubilang kamu tunggu aku saja, jangan keluar." ujarku sambil mengelus rambut hijaunya dengan lembut. "Aku takut kalau-kalau hal ini yang kamu lihat."

Nel hanya tetap menangis dalam pelukanku dan akupun tetap berusaha menenangkannya. Akupun melepaskan pelukanku dan menggenggam tangannya. "Ayo kita pulang." ujarku padanya dan hanya mendapat anggukan pelan dari Nel


Aku dan Nel kembali menuju rumahku untuk makan malam. Begitu kami berdua tiba pelayanku sudah menyiapkan makanan untuk kami dan kamipun segera makan.

Kami berdua hanya makan berdua dalam diam. Aku ataupun Nel sibuk dengan pikiran masing-masing, sampai terdengarlah dering bunyi telepon dari hpku. Dan aku langsung mengangkat telepon itu.

"Ya, ini Grimmjow." ujarku pelan

"Ini Aizen, baguslah kamu yang menerima telepon ini Grimmjow." ujar suara di seberang telepon itu yang merupakan Sousuke Aizen, bosku.

"Ada apa, Aizen-sama?" tanyaku yang berusaha menjaga suaraku pelan agar tidak terdengar oleh Nel

"Aku ingin kamu ke rumahku secepatnya, ada hal penting."

"Baiklah." akupun menutup teleponku. Kutatap Nel yang masih makan tapi tiba-tiba Nel membalas tatapanku

"Dari siapa?" tanya Nel dengan nada mengintrogasi

"Aizen-sama." jawabku dan bisa kulihat perubahan raut wajah Nel yang terlihat kurang menyukainya

"Aku pergi sekarang." ujarku yang langsung bangkit dari bangku dan berjalan perlahan meninggalkan Nel


Aku bergegas menuju rumah Aizen-sama yang memang agak jauh dari rumahku. Aku ini bisa dibilang salah satu anggota mafianya Aizen-sama sejak beberapa bulan yang lalu. Hanya Nel satu-satunya yang mengetahui aku bagian dari Aizen-sama dan aku juga tahu kalau dia tidak menyukainya.

Memang di anggota mafia Aizen-sama hanya akulah yang paling muda tapi aku cukup berbakat dalam hal menggunakan senjata. Aku mengikutinya karena aku bosan dengan hidupku yang lurus-lurus saja. Aku tahu alasanku ini bodoh dan Nel juga pernah memarahiku karena keputusanku tapi dia hanya membiarkannya saja.

Dan sampailah aku di rumah Aizen-sama, rumahnya memang sangat besar. Akupun perlahan memasuki rumah itu dan disambut oleh pelayan di rumah itu.

"Selamat datang, Grimmjow-sama." ujar pelayan itu

"Dimana Aizen-sama?" tanyaku

"Ada di ruangan biasa. Saya antarkan." jawabnya dan dia mengantarku ke ruangan pribadi Aizen-sama, ruangan tempat kami anggota terbaiknya mengadakan rapat.

Tok, tok, tok

Pelayan itu mengetuk pintu ruangan itu dan mempersilahkan diriku untuk masuk setelah Aizen-sama memperbolehkannya.

"Kamu sudah datang, Grimmjow." ujar Aizen-sama

"Iya, Aizen-sama." jawabku sambil menuju kursi yang masih tersedia dan duduk di sebelah Tousen, pria yang pendiam menurutku.

"Kalian semua sudah datang." ujar Aizen-sama. "Yang lain mana?"

"Entahlah, Aizen-sama." ujar Gin, pria berambut perak itu. "Kita saja sudah cukup."

"Cepatlah, Aizen-sama." ujarku sedikit tidak sabar. "Hal penting apa yang ingin kau sampaikan?"

Aizen-sama menatap kami berempat dengan tatapan senang dan dengan sedikit seringai yang terlihat di wajahnya. "Aku berhasil membungkam mulut orang yang mengetahui tentang kita."

Mataku sedikit membesar dan kupasangkan telingaku untuk mendengar perkataan Aizen-sama lebih teliti, memang aku mengetahui saudaraku terbunuh. Aku berpikir mungkinkah Aizen-sama yang menghabisi mereka.

"Oh.. berita yang bagus." ujar Gin yang memperlihatkan senyum rubahnya. "Tapi kenapa kau tidak membiarkan kami yang membunuhnya?"

"Jangan. Itu tidak akan seru." ujar Aizen-sama santai. "Lagipula aku membawa anaknya kemari."

"Anak?" ujar kami berempat hampir bersamaan yang dibalas senyuman oleh Aizen-sama. Aku makin penasaran akan anak yang dibawa Aizen-sama. Jujur aku mulai khawatir kalau hal yang terlintas di pikiranku adalah kenyataan.

Aizen-sama meminta pelayannya untuk memanggil anak itu dan kami berlima mulai membicarakan misi kami selanjutnya. Dan tidak butuh waktu lama pelayan itu sudah datang. Dia membawa seorang anak laki-laki kecil berambut hitam dan berkulit putih pucat.

'Dia.' batinku yang melihat tampilan fisik anak itu, mirip sekali dengan anak saudaraku itu. Hanya saja terakhir kali aku melihatnya saat anak itu berumur 1 tahun dan aku lupa nama anak itu. Yang aku ingat mata anak itu warnanya hijau dan aku penasaran warna mata anak ini.

"Jadi ini anak yang kau maksud, Aizen-sama?" ujar Nnoitora

"Benar sekali." ujar Aizen-sama. "Kemarilah, Ulquiorra."

Betapa terkejutnya diriku ini saat kulihat anak itu berjalan menghampiri Aizen-sama, semuanya sama persis dengan anak saudaraku. Anak berambut hitam, berkulit putih pucat dengan warna mata hijau. Aku hanya berusaha menahan diri agar tidak terlihat mencurigakan di hadapan yang lain. Dan aku benar-benar bisa membuat kesimpulan kalau Aizen-sama yang membunuh saudaraku dan membawa anaknya kemari.

Kulihat anak itu baik-baik, wajahnya berbeda dari anak biasa. Wajahnya menunjukkan ketakutan dan kebencian yang luar biasa. Itu bisa terlihat dari cara anak itu memandang kami berempat. Tajam dan dingin tatapan anak itu.

"Masih kecil tapi tatapannya dingin sekali." ujar Gin

"Sudahlah itu bukan masalah besar kan?" ujar Aizen-sama berusaha mencairkan situasi

"Lalu kenapa kau membawanya kemari?" tanya Tousen yang dari tadi hanya diam saja

"Aku ingin memberitahu kalian anak ini akan sangat berguna." jawab Aizen-sama

"Oh.." kami berempat hanya ber"oh" ria atas jawaban Aizen-sama

"Kalian berempat boleh pulang." ujar Aizen-sama lagi dan kami berempatpun bangkit dari kursi dan berjalan perlahan meninggalkan ruangan itu. Sebelum aku pergi aku melirik sekilas anak itu, wajahnya terlihat tidak menyukai keadaan disini. Aku hanya menghela nafas sebentar dan akhirnya benar-benar pergi dari ruangan itu.


Dalam perjalanan pulang menuju rumah aku masih teringat wajah anak itu. Benar-benar mirip dengan ciri-ciri yang kulihat saat dia berumur 1 tahun. Tidak ada yang berbeda. Aku mengendarai mobilku dalam diam hingga akhirnya sampai rumah. Aku langsung menuju ruang makan untuk melihat apakah Nel masih ada atau tidak.

"Nel-sama sudah pulang saat Anda pergi, Grimmjow-sama." ujar pelayanku saat melihat diriku di ruang makan

"Begitu ya?" gumamku dan akupun segera menuju kamarku untuk beristirahat


Keesokannya aku bangun pagi lebih awal dari biasanya. Aku bersiap-siap dan segera menuju ruang makan untuk sarapan. Karena dari tadi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku aku menghubungi Nel.

"Halo." suara merdu Nel terdengar dari sebrang telepon

"Nel, ini aku." ujarku

"Ada apa Grimmjow telepon pagi-pagi?"

"Bisa kamu ke rumahku secepatnya."

"Memangnya ada apa?"

"Nanti aku ceritakan."

"Baiklah. Sampai jumpa." Nel memutuskan hubungan teleponku dan aku kembali menyantap sarapanku hingga Nel datang

"Grimmjow!" suara Nel terdengar sekali hingga ke ruang amakn padahal aku yakin dia baru berada di ruang tamu. Terdengar langkah kaki yang menuju ke ruang makan ini dan kudapati sosok Nel yang sedang berdiri di depan pintu.

"Masuk aja Nel." ujarku

"Ada masalah apa, Grimmjow?" tanya Nel yang langsung duduk tepat di sebelahku

Aku menghela nafas sejenak, berusaha mengumpulkan kata-kata agar aku bisa menceritakannya dengan benar kepada Nel. Melihat ekspresi wajahku yang berbeda, kudengar Nel tertawa.

"Apa yang lucu, Nel?" tanyaku

"Hehe.. Hanya saja kamu terlihat serius. Aku suka." ujarnya seraya memberikan senyum manisnya padaku

"Kamu kan memang mencintai semua yang ada dalam diriku."

Seketika itu juga wajah Nel langsung memerah, sekarang giliran aku yang tertawa melihatnya. Nel memang manis saat wajahnya memerah begini.

"Grimmjow." ujar Nel manja yang langsung memukul pelan bahuku

"Hehe… Aku bercanda." ujarku menghindari serangannya. "Tapi ada benarnya kan?"

Wajahnya kembali memerah dan aku suka itu. Nel memalingkan wajahnya dariku dan aku menggunakan saat itu untuk menghela nafasku lagi.

"Sebenarnya ada apa?" tanya Nel

"Aku menemukannya." ujarku tegas

"Hah?"

"Aku menemukan anak saudaraku."

"Oh ya? Bagus dong. Sekarang dimana dia?"

"Dia berada di rumah Aizen-sama."

Wajah Nel terlihat bingung atas ucapanku. Dia menatap mata biruku menuntut penjelasan lebih lanjut. Aku juga membalas tatapannya itu.

"Kenapa ada di rumah Aizen?" tanya Nel heran

"Anak itu, Ulquiorra. Dia diambil oleh Aizen-sama." jawabku. "Tadinya kukira anak lain, ternyata memang anak itu."

"Kok kamu tahu?"

"Aku hafal ciri-ciri anak itu."

Lalu kami berduapun terdiam. Hening sekali suasana diantara kami, hanya semilir angin dari jendela saja yang menemani kami berdua. Tiba-tiba suara Nel memecahkan keheningan ini.

"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Nel

"Entah." gumamku

Akupun terdiam lagi. Jujur aku sendiri juga bingung apa yang harus aku lakukan. Aku meminta Nel datang hanya untuk menceritakan semuanya. Tidak terpikir olehku dia akan menanyakan apa tindakanku. Di dalam pikiranku benar-benar kosong, aku tidak tahu harus berbuat apa.

"Aku tahu!" ujar Nel tiba-tiba dengan semangat

"Apa?" tanyaku malas

"Pinjam hpmu."

"Untuk apa?"

"Pinjam saja."

Akupun memberikan hpku pada Nel, kulihat Nel mengecek kontak di hpku dan menelpon seseorang. Aku tidak sempat melihat dia menelpon siapa.

"Selamat pagi, apakah benar ini rumah Sousuke Aizen?" tanya Nel. Mataku terbelalak mendengarnya, jadi Nel menelpon Aizen-sama. Tapi tidak di ponselnya. Aku memang menyimpan juga nomor telepon rumah Aizen-sama dan kudegar saja apa yang Nel ingin katakan.

"Benar. Ada yang bisa dibantu?" tanya suara dari sebrang telepon itu dan kuyakin itu adalah pelayan yang selalu mengantarku ke ruangan Aizen-sama

"Saya Nelliel. Apakah Sousuke Aizen menerima maid baru? Aku ingin bekerja di tempatnya." jawab Nel lantang. "Aku dengar dari Grimmjow katanya Sousuke Aizen mencari seorang maid."

"Kamu tahu dari Grimmjow-sama ya? Sebentar akan saya tanyakan pada Aizen-sama." ujar suara dari sebrang telepon itu. Kulihat Nel hanya tersenyum padaku dan memberikan jempol padaku.

"Serahkan padaku." ujar Nel sambil berbisik padaku

"Halo." terdengar lagi suara dari sebrang sana

"Iya?" tanya Nel

"Benar, Aizen-sama memang sedang membutuhkan maid dan Anda bisa bekerja disini."

"Benarkah? Terima kasih. Kapan saya bisa kesana?"

"Kata Aizen-sama, hari ini."

"Baiklah, sampai jumpa."

Akhirnya selesai juga Nel menelpon. Nel memberikan hpku yang dia pinjam tadi dan tetap tersenyum padaku, seolah berhasil menemukan jalan keluar masalah ini.

"Aku akan membantumu, Grimmjow." ujar Nel

"Membantu?" tanyaku

"Iya. Aku akan bekerja di tempat Aizen dan melihat anak itu."

Aku hanya menghela nafas atas tindakan Nel yang memang suka tiba-tiba dan tidak membicarakan hal itu pada orang lain. Tapi aku lumayan menyukai idenya itu.

"Apa tidak apa-apa?" tanyaku khawatir

"Tenang saja." ujar Nel

"Baiklah, ayo kesana."

"Iya."


Aku mengantar Nel menuju rumah Aizen-sama yang besar itu. Sesampainya disana kami berdua langsung masuk dan disambut oleh pelayan Aizen-sama.

"Selamat datang, Grimmjow-sama." ujar pelayan itu. "Ini pasti Nelliel, yang tadi menelpon ingin bekerja disini."

"Iya. Selamat pagi." ujar Nel sopan

"Kamu bisa mulai bekerja hari ini. Silahkan ke ruang ganti yang berada di ujung sana untuk mengganti baju dengan seragam yang ada. Untuk para maid diharapkan tinggal disini, tentu juga baju dan semuanya sudah berada di kamarmu. Dan kamu tugasnya mengurus Ulquiorra-sama, anak angkat Aizen-sama."

"Baiklah." Nelpun langsung menuju ruangan itu untuk berganti pakaian sesuai petunjuk pelayan itu

"Anak angkat?" tanyaku pada pelayan itu

"Iya. Sejak kemarin, Aizen-sama mengumumkan pada kami semua kalau Ulquiorra-sama adalah anak angkatnya." jawab pelayan itu

"Pantas kemarin Aizen-sama juga memperkenalkannya pada kami."

Lalu kulihat Nel berjalan menghampiri kami. Nel memakai baju maid yang manis sekali, dia makin terlihat cantik menurutku. Rambut hijaunya yang melambai-lambai seiring dia berjalan membuatnya terlihat cantik.

"Kamu bisa menuju lantai 2 ke kamar Ulquiorra-sama. Saya harap kamu bisa mengurus Ulquiorra-sama dengan baik." ujar pelayan itu dan perlahan berjalan meninggalkan kami berdua

"Baik." ujar Nel

Saat kulihat pelayan itu sudah melangkah jauh dari kami, aku mendekati Nel dan berbisikdi telinganya.

"Benar tidak apa-apa?" tanyaku

"Iya. Serahkan saja padaku. Kamu jangan khawatir."

"Baiklah." dengan berat hati aku meninggalkan Nel di rumah Aizen-sama itu dan berlalu dari hadapannya.


Normal POV, still Flashback

Nel segera melangkahkan kakinya menuju kamar anak yang akan dia urus sekarang. Nel mengetuk pintu kamar itu perlahan.

"Ano.. Ulquiorra-sama." ujar Nel sambil mengetuk pintu kamar itu tapi tidak mendapat jawaban dari Ulquiorra. "Saya masuk." Nelpun masuk ke dalam kamar Ulquiorra dan melihat Ulquiorra kecil yang duduk menghadap jendela. Dia memegang kedua lututnya dan membenamkan wajahnya diantara lututnya.

"Siapa?.." tanya Ulquiorra yang masih terisak

"Nama saya Nelliel, cukup panggil Nel saja." ujar Nel. "Mulai hari ini saya akan mengurus Anda, Ulquiorra-sama."

"Oh begitu."

Nel tidak tahan melihat wajah Ulquiorra yang penuh dengan air mata. Tanpa Ulquiorra sadari, Nel langsung memeluk dirinya dan menghapus air mata yang berada di wajahnya. Ulquiorra hanya menatap Nel dengan bingung.

"Jangan menangis ya, Ulquiorra-sama." uajr Nel sambil tersenyum. "Kalau Anda ada masalah dengan senang hati saya akan ada untuk mendengarkan masalah anda."

"Benarkah?"

"Iya."

Ulquiorra tetap saja menangis di pelukan Nel, Nel hanya mengelus pelan rambut Ulquiorra dan menatap mata hijau Ulquiorra.

"Bisakah Anda menceritakan ada masalah apa?" tanya Nel. "Agar Anda lebih tenang."

"Otou-san." desis Ulquiorra

"Aizen-sama?"

"Iya."

"Kenapa dengan Aizen-sama?"

"Dia… setelah membunuh kedua orangtuaku, dia membunuh sahabat baikku."

Nel terkejut mendengarnya. Grimmjow cerita kalau Aizen itu memang pria yang suka sekali membunuh, tapi Nel tidak menyangka kalau Aizen tega-teganya membunuh sahabat baik anak angkatnya itu.

"Tenang Ulquiorra-sama." ujar Nel yang kembali memeluk Ulquiorra. "Anda bisa menangis sepuas Anda hingga air mata Anda kering."

Ulquiorra memang menangis. Tampaknya menerima kenyataan orang yang dia sayangi sudah tewas terlalu berat untuknya. Nel hanya diam saja dan membiarkan Ulquiorra menangis di pelukannya.

'Aizen itu.' batin Nel geram. Dia benar-benar ingin melihat seperti apa majikannya itu. Tiba-tiba pintu kamar Ulquiorra terbuka dan muncullah sosok Aizen.

"Otou-san.." desis Ulquiorra saat melihat Aizen dan melepas pelukan Nel

"A… Aizen-sama salam kenal, saya Nelliel maid baru Anda." ujar Nel memperkenalkan diri pada Aizen

"Baiklah salam kenal Nel dan terima kasih untuk menjaga anakku." ujar Aizen tersenyum atau tepatnya menyeringai

"I.. iya.."

Lalu Aizen pergi meninggalkan kamar Ulquiorra dan setelah itu Ulquiorra terdiam. Wajahnya menatap jendela kamarnya lagi.

"Anda tidak apa-apa, Ulquiorra-sama?" tanya Nel cemas

"Iya." jawab Ulquiorra dingin

"Saya permisi." lalu Nel meninggalkan Ulquiorra sendiri di kamarnya


Semenjak hari itu Nel terus menjaga dan merawat juga mendengar keluh kesah Ulquiorra. Nel memang senang melihat Ulquiorra tersenyum, walau dia lebih sering terlihat sedih. Sudah beberapa bulan berlalu dan hampir 1 tahun berlalu Nel bekerja disana dia bertemu dengan Grimmjow yang berada di rumah Aizen.

"Selamat datang, Grimmjow-sama." ujar pelayan yang menyambut kedatangan Grimmjow

"Iya." ujar Grimmjow dan pandangan matanya teralihkan pada sosok Nel yang sedang mengelap vas-vas antik milik Aizen. Pelayan tadi juga sudah meninggalkan meeka berdua. Grimmjowpun berjalan menghampiri Nel. "Hai Nel."

"Eh?" ujar Nel sedikit kaget. "Grimmjow?"

"Iya. Bagaimana?" tanya Grimmjow to the point

"Tentang anak itu?"

"Iya."

"Aku benar-benar kasihan dengannya. Kamu juga tahu kan?"

"Iya."

Lalu suasana tiba-tiba hening. Mereka berdua larut dengan pikirannya masing-masing. Kemudian Nel menghela nafas dan bicara lagi.

"Grimmjow." ujar Nel

"Iya?" tanya Grimmjow

"Kita tunggu."

"Apanya?"

"Kita tunggu kapan waktu yang tepat bagi Ulquiorra-sama agar dirinya terlepas dari beban ini."

Grimmjow tersenyum mendengar ucapan Nel. Kemudian Grimmjow menatap mata Nel lekat-lekat, memang sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini.

"Sama seperti pikiranku." ujar Grimmjow

"Kuharap Ulquiorra-sama bisa sabar." ujar Nel

"Iya, anak itu. Tiba saat waktunya nanti aku akan menolongnya."

"Janji?"

"Janji."

Nelpun tersenyum mendengar janji Grimmjow dan kemudian dia kembali bekerja, sedangkan Grimmjow menuju ruangan Aizen dan beberapa waktu kemudian dia muncul dan bersiap untuk pulang. Nel hanya tersenyum melihat kekasihnya yang akan meninggalkannya. Tapi dia dan kekasihnya itu sudah mempunyai rencana yang suatu saat akan dijalankan.


Flashback Off


TBC

A/N: Fiuh capeknya..

Gmn mnrt minna?

Disini mank scene GrimmNel y?

Kan masa lalu mrk berdua..^^

Chap dpn bkal kmbl ke scene di chap 9 dmn saat Grimmjow memberitahu Ulqui kalau dia pamannya.

Review sprt biasa y minna..

Biar aq smgt bwt trus update..^^