Gekkan Shoujo Nozaki-kun
©Izumi Tsubaki sensei
Less description, conversation bertebaran bagai ranjau.
—Hubungan: Darah dan Cinta—
[ Chapter 10]
"Tiga puluh detik"
By oishiit
#
#
#
Ayah duduk di kursi sisi kasur, ia menatap Nozaki yang masih sedikit lemah. Di sisi sang anak, duduk menantunya. Memegang sendok, ia menyuapkan bubur untuk suami. Chiyo masih sedikit kikuk dengan kehadiran ayahnya, tidak banyak kata yang terujar dari bibir mungil itu. Nozaki melirik kertas di atas nakas, ia memutar mata, bosan dengan bujukan sang ayah.
"Tidak mudah bagiku untuk menikahinya, haruskah aku menceraikannya secepat itu?" tukas Nozaki. "Sudah, aku tidak ingin makan lagi," ia mendorong tangan Chiyo.
Ayah berdiri, ia meletakkan sebuah pulpen di atas selembar kertas yang Nozaki benci. Pria itu mengancing jasnya, lalu melangkah keluar kamar. Nozaki melempar napas, ia memijat keningnya. Entah kenapa hal ini membuat kepalanya sakit, lebih buruk daripada pekerjaan yang menumpuk. Chiyo membuka suara, "Tidak, apa-apa. Jika tidak hari ini mungkin besok, atau lusa, atau minggu depan, atau minggu berikutnya, dan berikutnya, dan berikutnya. Ayah akan menerimaku, iya 'kan?"
Nozaki menyimpul senyum, ia mulai menguatkan keyakinannya bahwa Chiyo adalah pilihan yang tepat. Sedikit ragu, Nozaki menyelipkan telapak tangannya di belakang leher Chiyo, mengelusnya lembut dan menariknya perlahan. Chiyo membalas pelukannya, satu hal kecil yang membuat Nozaki sudah cukup bahagia.
"Berapa lama kita akan seperti ini?" tanya Chiyo.
"Seperti katamu, tiga puluh detik."
.
.
Hanya satu alasan ia membalas pelukan itu dengan hangat, seorang pria yang masih mengawasinya dari balik dinding. Tangannya bersedekap dengan tubuh tersandar di dinding. Chiyo tidak ingin berakting terkejut, atau pura-pura tak menyadari kehadiran ayah mertuanya. Yang manapun, keduanya sama saja.
"Manis sekali," ujar ayah. Ia tersenyum sinis, memandang dengan tatapan elang. Tajam, waspada, dan penuh curiga.
Chiyo membungkukkan tubuhnya, menahan amarah yang mulai naik ke kepala. Ia ingin sekali memukul pria di hadapannya, tapi ia tidak bisa melakukan itu. Tidak untuk saat ini. "Ayah, apa yang tidak kau sukai dari diriku? Apakah aku tidak cukup baik untuk No... emm, U... Ume—pu...puteramu?"
Lidahnya kelu, ia tidak pernah sekalipun memanggil Nozaki dengan nama kecilnya, atau bahkan dengan sebutan sayang seorang istri kepada suaminya. Seperti hari sebelumnya, dimana ayah menghentak telak perkataanya, kali ini ia tidak lebih yakin pria itu akan menerima perkataanya.
"Angkat kepalamu," pinta ayah. Menantunya menurut, ia bisa melihat sipuan halus dari pipi Chiyo. Tidak yakin, entah sebuah rona malu atau darah yang memenuhi wajahnya. Ia menatap lekat manik ungu yang besar, "ingin tahu apa yang tidak kusukai dari dirimu?"
Nozaki Chiyo menggangguk. Aliran darah memompa jantungnya berdetak lebih cepat.
"Matamu," jawab ayah singkat, membuat bingung gadis di hadapannya. "Matamu, entah kenapa aku membencinya, entah kenapa begitu banyak kebencian di dalamnya. Matamu, aku tidak menyukainya."
Setelah mengatakan itu semua, ia pergi. Chiyo masih terdiam di depan pintu yang tertutup rapat. Pikirannya tidak menerima ini, sesederhana ini ayah membenci dirinya, puterinya sendiri. Ia mengepal tangan, membuka pintu dengan kesal, tubuhnya menghambur ke atas kasur. Membuat kertas-kertas semakin berantakan, membuat pekerjaan Nozaki tak kunjung terselesaikan.
Chiyo duduk bersimpuh di hadapan suaminya, "tatap aku!" serunya. Nozaki tidak mengerti, matanya masih bertanya-tanya dengan sikap sang istri. "Tatap mataku," Chiyo menarik kepala Nozaki dengan kedua telapak mungilnya, "sudah?" tanyanya. "A-apa yang kau lihat? Ba-bagaimana menurutmu tentang mataku? Apa kau bisa melihat sesuatu dari mataku?"
Nozaki menatap lekat kilauan ungu yang dengan cepat membius indra penglihatan juga batinnya. Indah, apalagi yang dipikirkan orang lain ketika menatap netra ungu nan besar juga bercahaya. "Ka-katakan, apa yang kau lihat?"
Nozaki masih diam.
"Ke-kenapa kau menatapku seperti itu? a-apa yang kau lihat? Katakan padaku, Nozaki-kun!"
"Kau yang memintaku untuk menatap matamu," jawab Nozaki, "aku belum menemukan jawabannya. Biarkan aku menatapnya sedikit lebih lama, bagaimana?"
"Berapa lama?"
"Tiga puluh detik. Mungkin."
Chiyo mengangguk, ia melepaskan kedua tautan tangannya dari pipi-pipi tirus Nozaki, membiarkannya saling bergenggam di pangkuan. Ia menatap mata hitam yang masih menatapnya dalam diam, Nozaki tidak juga berujar. Pria itu masih menikmati pesona magis di hadapannya.
Chiyo mengakui ada sedikit ketenangan dari dalam mata Nozaki, dan hal itu membuat jantungnya berirama sedikit lebih cepat. Tangannya mulai berkeringat, ia tidak nyaman dengan kondisi ini. Merasa udara semakin begitu sesak, ia memalingkan wajahnya. "Su-sudah lebih dari tiga puluh detik," keluh Chiyo seraya menutup matanya dengan salah satu telapak tangan.
"Manis," gumam Nozaki. "Wajahmu memerah, manis sekali," ledek Nozaki.
Istri Nozaki itu tidak percaya, kakinya dengan cepat melangkah menuruni kasur. Ia menatap wajahnya lekat-lekat di cermin rias. Samar, namun ia juga bisa menangkap rona itu.
"A-ac-nya pasti kurang dingin, cuacanya sedikit panas. Iya, kan?"
Nozaki masih tertawa, terlebih dengan sikap kikuk yang ditunjukkan Chiyo. Ia mengambil sisir dan melemparkannya ke arah Nozaki, beruntung ia bisa mengelak. "Ja-jangan menggodaku," keluh Chiyo.
"Tidak, tapi kau manis sekali, Chiyo," ujar Nozaki lembut. Ia menghentikan tawanya, "ingin tahu apa yang aku lihat dari matamu?" tanyanya seraya menyimpul senyum.
Chiyo terdiam, ia sedikit takut jika ayah dan anak ini melihat hal yang sama. Nozaki menghampirinya, menggenggam tangan Chiyo dan membawanya tepat di depan cermin. Ia menyentuh kedua pipi tembam istrinya, lalu membiarkan telunjuk panjangnya bermain di pelipis. "Apa yang kau lihat?" tanya Nozaki. Chiyo tidak mengerti, tapi Nozaki membuat semuanya menjadi lebih jelas, menjadi lebih hangat, dan seperti es batu, ia membuat air mata Chiyo mencair.
"Seperti kau yang melihat bayangmu sendiri, aku juga melihat yang sama dari dalam matamu. Aku hanya bisa menatap diriku saat menatap matamu, Chiyo. Sedalam apapun aku menyelam ke dalam matamu, di sana hanya ada aku. Benci, rindu, amarah, kebahagian, ketakutan, cinta, bahkan keraguan dari matamu. Tapi, sejauh itu, aku hanya bisa melihat diriku sendiri. Semua benci, rindu, amarah, kebahagian, ketakutan, cinta, dan bahkan keraguanmu ada hanya untukku. Apa aku sudah bisa menjadi peramal sekarang?"
Nozaki menarik tubuh kecil yang bergetar dengan isak, mendekapnya penuh kasih sayang. "Jangan menangis, jangan menatap siapapun, tatap aku. Hanya aku."
Chiyo tidak mengerti hubungan apa yang mengikat dirinya dengan Nozaki, darah, cinta, janji pernikahan, Chiyo tidak tahu. Ia hanya merasa begitu kuat hubungannya dengan Nozaki hingga ia bisa tiba-tiba lupa dengan kebenciannya, atau tiba-tiba begitu bahagia dan nyaman. Satu hal yang ia mengerti, hubungan apapun itu, semuanya salah. Tidak ada darah yang bisa terikat dalam janji pernikahan, meski cinta jadi talinya. Dan, entah sampai kapan ia akan terjebak dalam lubang yang telah digalinya sendiri.
.
.
.
Tubuh mungil itu masih terpaku di depan cermin. Matahari sudah tak malu menampakkan sinarnya, menembus kaca, membangunkan seorang pria yang masih bersembunyi dalam selimut. Nozaki mengerjap, memutar tubuhnya, menghalau sinar yang menyilaukan mata. Mata hitamnya menatap pada sosok yang masih terdiam menatap dirinya sendiri. Pria tinggi itu menatapnya dalam diam, bertanya-tanya, masihkah istrinya mempertanyakan hal yang sama seperti enam hari yang lalu, hampir satu pekan.
"Sudah berapa lama kau duduk di sana, Chiyo?"
Istrinya tidak menoleh, Nozaki menarik tubuhnya hingga terduduk. "Chiyo?" tegasnya, gadis itu pun menoleh dengan wajah sedikit terkejut. "Nozaki-kun," gumamnya, "Kapan kau terbangun?"
"Baru saja."
"Kau bangun terlalu awal di hari libur, apa ada pekerjaan?" tanya Chiyo, kali ini memecah konsentrasinya, menyisir matahari terbenam. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu bertemu ayah dan ibuku, tapi jika kau harus bekerja aku akan pergi sendiri."
"Setidaknya," keluh Nozaki seraya menghela napas, ia beranjak dari kasur dengan sedikit malas. Jika bukan karena matahari, ia tidak akan membuka matanya. Biasanya Chiyo akan tidur membentengi Nozaki dari sinar matahari, tapi bahkan gadis itu sudah ada di depan cermin, menata dirinya. Nozaki mengaitkan lengannya pada bahu Chiyo, merendahkan kepalanya, lalu mengecup pipi yang dengan cepat merona halus, "ucapkan selamat pagi untukku terlebih dahulu," sambungnya.
Sentuhan, kecupan, dan kata-kata manis mulai tak asing bagi Chiyo. Hatinya selalu saja tergelitik dengan semua hal yang dilakukan Nozaki. Sekecil apapun itu, meski hanya sekedar mengelus kepalanya, Chiyo menyukainya. Rasanya berbeda saat Mikoto mengelus kepalanya, seperti kehangatan dan kelembutan yang lebih besar datang dari tangan Nozaki. meski sepenuhnya ia berasumsi, hubungannya dengan Nozaki sekuat ini karena darah yang terikat.
Chiyo tidak bisa mengelak, tidak ia tidak ingin untuk mengelak, ia menepuk lembut pipi Nozaki, "Selamat pagi," jawabnya. "Kau akan pergi bekerja?"
Nozaki menarik tubuhnya, "Ya," tegasnya. "Aku akan bersiap."
"Ingin kubuatkan sarapan?"
"Tidak... tidak, kau sedang terburu-buru, kan? Tunggu sebentar, aku akan mengantarmu."
.
.
.
Jam dinding bicara, dengan intonasi yang sama, dengan jeda yang sama, menguatkan keheningan yang semakin kental. Sofa panjang itu seolah kaku, karena tak seorang pun bergeser dari duduknya. Kedua pasang mata saling tatap dalam kebisuan, seorang duduk tersandar seraya bersedekap, dan seorang lainnya duduk tegap sempurna. Waktu yang belum menginjak lima menit seolah telah berlalu selama satu jam. Keduanya hanya saling diam dan menatap tajam, mempertahankan ego dan kekuasaan.
"Kau yakin mereka akan baik-baik saja? Aku seolah melihat kilatan petir dari mata ayahmu, Chiyo," ujar Yuu dari balik daun pintu begitu puterinya keluar dari toilet.
"Hn?" tanya Chiyo heran, ia menghampiri ibunya dan ikut menatap aura ketegangan antara menantu dan mertua, "Ah, ya... Aku rasa ayah masih belum bisa menerima Nozaki-kun meski dia telah menyetujui pernikahan kami."
"Chiyo," gumam Ibu. Chiyo menatap mata hijau ibunya, tenang dan damai. Ia rindu. "Tidak baik memanggil suamimu seperti itu. Panggil namanya dengan benar, itu akan membuatnya lebih bahagia."
Pintu dapur terbuka keras, dari baliknya muncul seorang pria yang tengah memijat kepala.
"Ini tidak baik, Yuu!" teriaknya. Kakinya tak berhenti melangkah, pergi dari satu titik ke titik lainya, "Aku rindu pada puteriku, tapi, haruskah ia membawa suaminya juga?"
"Pelankan suaramu," bisik istrinya. "Jangan bersikap seolah kau tidak memberikan restu pada puterimu, suamiku."
"Aku tidak... Ah, Chiyo. Kau di sini?" Hori mulai canggung dan merasa tak enak hati berbicara begitu kasar di hadapan puterinya, istri dari pria yang ia habiskkan waktu bersamanya lima menit lalu.
"Aku akan berpura-pura untuk tidak mendengar apapun," ujar Chiyo. Ia sedikit tertawa kemudian meninggalkan ayah dan ibunya. Chiyo tidak menyangka menyaksikan hal seperti ini begitu menggelitik perutnya, ayahnya begitu sangat mencintai dirinya.
"Berhenti berdebat dan bawa makanannya, ayah, ibu," sela putera sulung keluarga Hori. Kepalanya muncul di daun pintu lalu menghilang menuju ruang tamu. "Yang benar saja, sudah hampir satu bulan dan dia masih mempermasalahkannya."
Sebuah pukulan telak menghancurkan tulang di bahunya, "Siapa yang mempersalahkan apa, dasar anak bodoh!" seru Hori. Ia berjalan mendahului putera sulungnya, mengambil duduk paling nyaman, di sisi Chiyo. Hori berdehem dengan penuh kewibawaan, "Jadi," ia menghentikan kata-katanya, "kau baik-baik saja? Tidakkah pria di sisi kananmu itu melakukan hal buruk, ataukah ia menyiksamu, apakah dia cukup—"
"Ayah," potong Chiyo, ia meletakkan tangan mungilnya di atas tangan Hori. "Aku baik-baik saja. Mungkin seharusnya ayah bertanya pada Nozaki-kun, bukan kepedaku, karena aku lebih banyak menyusahkan dirinya."
"Ah, Chiyo..." guman wanita berambut biru. Ia meletakkan nampan berisi teh dan kudapan di atas meja, "tidak baik memanggil suamimu seperti itu," sambungnya lembut. "Bagaimana kabarmu, Umechan?"
"U...umechan?" tanya Nozaki tergugup. Sementara yang lain mengulang dengan ekspresi yang sama.
"Jadi, Umechan, apa kau baik-baik saja?" ledek Hori. Entah kenapa ada kesombongan dalam dirinya untuk menghina sang mantu. "Umechan," gumamnya seraya menahan tawa.
"Anata," tegur Yuu dengan mata yang mengekor tajam. Tidak, Hori tidak takut, ia bukan golongan suami yang takut pada istrinya, hanya saja ia takut tidak dapat tidur di kamar untuk malam ini. Yuu menatap lekat suami dari puterinya, puteri kesayangannya, "puteriku merawatmu penuh dengan cinta, benarkan?" tanyanya tiba-tiba. Nozaki memang tidak menampakkan rona di wajahnya, tapi simpul senyumnya yang lebar jelas menjawab pertanyaan itu. Meski terjadi hal-hal yang tak ia duga, pada akhirnya Nozaki merasa Chiyo lebih mencintai dirinya.
"Tunggu!" seru ayah kesal, terlebih senyum yang dikembangkan oleh menantunya. Ia bangkit dan menarik Nozaki hingga berdiri tegap, dan dia harus menarik kerah kemeja Nozaki agar bisa berbisik ditelinganya, "kau," ia mulai berbisik, wajahnya sedikit ragu dan tegang. "kau... kau... kau sudah menyentuhnya?" tanyanya kesal. "Puteriku?" tegasnya lagi. nozaki ingin tertawa dengan tingkah ayah mertuanya, andai ia tahu apa yang telah dialaminya setelah pernikahan, atau perjuangannya mendapatkan maaf dari bibir Chiyo.
"Sudah," jawab Nozaki singkat membuat Hori melemaskan genggaman kerah Nozaki. "Sudah kucoba tapi, belum bisa kulakukan," sambungnya dengan sedikit tawa.
"Bagus sekali," Hori menepuk bahu Nozaki seolah bangga, "jangan pernah lakukan itu."
"Itu tidak mungkin!" teriak Nozaki.
Kedua pria yang tadinya hanya saling membatu dan membisu kini begitu aktif bergerak dan berbicara seolah tak ada siapapun di sekitar mereka. Bahkan, mereka tidak peduli pada gadis yang sedang mereka perebutkan. Ia tengah menutup wajahnya karena hal vulgar yang mereka bicarakan dengan lantang.
"Ayah, sampai kapan kau akan mengganggu mereka?" potong Mikoto. "Biarkan mereka mengurus rumah tangganya sendiri, orang luar tidak sebaiknya turut campur."
Hori membisu, memaling pandang pada puteranya yang santai memakan kue, "Mikoto," tegas Hori. "Orang luar? Chiyo adalah puteriku, sekecil apapun itu dia adalah tanggungjawabku. Urusannya menjadi urusanku juga. Berhenti membedakan suatu hubungan hanya karena ikatan darah. Dia adikmu, mengerti!"
Hori hampir tidak pernah serius jika sedang marah, dan kali ini Mikoto mendapatkan amarah sang ayah. Menghela napas, Mikoto meminta maaf dan duduk bersandar di sofa. Ia kesal dengan pernikahan Chiyo. Pikiran dan batinnya terbebani, terlebih hal-hal yang diperdebatkan oleh ayah dan iparnya. Mikoto kesal karena emosinya tak bisa dimuntahkan.
"Aku sedang tidak membicarakan tentang siapa Chiyo, aku hanya memintamu untuk membiarkan mereka dengan urusannya, ayah," bela Mikoto.
"Cukup. Dia puteriku dan puteri ibumu, dia adikmu. Berhenti berdebat, ada apa denganmu? Setelah sekian tahun kenapa kau terusik dengan hal ini?"
"Tapi, bukan itu mak—"
"Mikorin," Chiyo menatap kakaknya. Mikoto membalas tatapan Chiyo dengan kesal, Chiyo juga tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan kakaknya. "Berhenti bermain-main, Chiyo," tukas Mikoto. Ia dengan telak membuat jantung Chiyo seolah berhenti berdegup, dan tanpa menjelaskan ia melangkah pergi dari ruang tamu. Menaiki tangga, kepalanya terpukul oleh sendok.
"Aku tidak akan melakukannya jika hanya ingin bermain-main, dasar Mikorin bodoh!" seru Chiyo. Tangannya mengepal kuat rok yang ia kenakan. "Kau lebih tahu dari siapapun, Mikorin! Kau tahu bagaimana perasaanku yang sesungguhnya, bagaimana setiap detik aku..." Chiyo menahan mulutnya, ia tidak boleh berbicara lebih dari ini. "Mikorin, kau berjanji akan mendukungku," ujar Chiyo. Tak terasa emosinya membuncah, suaranya bergetar dengan isak yang samar.
"Aku menyesal berjanji padamu, Chiyo."
Mikoto membuang pandangnya, memutar tubuh dan kembali menaiki anak tangga. Yuu tidak mengerti dengan apa yang diperdbatkan oleh putera dan puterinya. Ia duduk di sisi Chiyo yang terkulai lemas, "Mikorin," isak Chiyo. Ia menutup wajahnya. Hanya Mikoto kekuatan yang ia punya, hanya Mikoto yang dapat ia percayai, hanya Mikoto dan pria itu menyerah.
"Ada apa dengannya?" keluh Hori. "Chiyo jangan dengarkan apa yang dikatakan kakakmu. Aku akan..."
Saat masih kecil Chiyo akan menangis dan mengeluh kepadanya ketika ia bertengkar dengan Mikoto. Hori akan melontarkan kalimat-kalimat manis, dan berjanji menghukum Mikoto sesuai keinginan Chiyo. Ia ingin melakukannya juga sekarang, tapi, ada pria yang lebih cepat melakukan hal itu. Dia tidak melontarkan kalimat manis, ataupun berjanji macam-macam. Ia hanya mendekap puterinya, mengelus rambutnya dengan lembut, dan sesekali mengecup ubun-ubunnya. Ia tidak memintanya berhenti menangis seperti yang sering dilakukannya,
Hori merasa kehilangan yang begitu nyata. Matanya menangkap manik sang istri, wanita itu pun kehilangan haknya, hanya tangan mungil yang masih menggenggamnya erat. Hori tahu, rasanya begitu berat melepas satu-satunya puteri yang ia miliki. Cepat atau lambat hal itu akan terjadi, dan hal ini hanya terjadi lebih cepat kepada dirinya.
.
.
.
"Hei, Umechan,"' panggil Hori menghentikan langkah kaki menantunya. Dari ruang tengah, tangannya mengangkat kaleng bir, "ingin minum?"
Kening itu sedikit berkedut, bukan tidak suka dengan panggilan yang disematkan oleh ibu mertuanya, tapi, ketika sang ayah memanggilnya dengan senyum kebanggaan, Nozaki merasa kesal. Waktu liburnya seolah hilang lantaran ayah mertuanya tidak pernah absen dari sisi Chiyo.
Ia menyeka air yang menetes dari helai-helai rambutnya, "Ingin membangun hubungan baik denganku?" tanya Nozaki.
"Mungkin," dengusnya. Ia menyodorkan sekaleng bir pada Nozaki, "Mungkin kau sudah tahu jika Chiyo bukan puteri kandungku. Dia puteri dari adik iparku."
"Ya, aku tahu." Nozaki meneguk birnya, "kedua orangtuanya meninggal, jadi kalian yang merawatnya."
Hori masih belum meminum birnya, ia menatap Nozaki dengan bingung. Tidak ada yang seperti itu, hanya ibunda Chiyo yang tiada tidak dengan ayahnya. "Itukah yang ia ceritakan kepadamu?" tanya Hori sedikit sinis. Nozaki tidak mengerti dengan senyum yang menurutnya begitu menjengkelkan. "Ba... baiklah, aku tidak mengerti kenapa Chiyo tidak menceritakan kebenarannya padamu. Tidak kedua orangtua kandungnya yang meninggal, hanya ibunya, adik Yuu, adik iparku. Ia meninggal saat Chiyo berusia lima tahun, dan ayahnya..."
Chiyo tidak pernah sekali pun menyinggung hal ini. "Bagaimana dengan ayah kandungnya?"
"Mungkin tidak ada salahnya menganggap dia sudah tiada, pria itu tidak pernah kembali sejak kelahiran Chiyo, bahkan sebelum ia dilahirkan. Perselingkuhan, kau mengerti Umechan?"
Perselingkuhan, Nozaki mengerti rasanya. Ia menghabiskan kaleng bir keduanya, menghela napas, semua terasa menenangkan tapi juga begitu berat menikam kepalanya. Langit-langit begitu hampa, dan udara begitu kosong, tak berisi. Pikirannya melompat liar, kenapa Chiyo berbohong kepadanya, apa yang ditakuti istrinya, dan bagaimana bisa gadis mungil itu memendam semuanya, sendiri. Dia inginkan sosok ayahnya, jauh sejak ia dilahirkan. Itu sebabnya, ia lebih tertarik dengan ayahnya yang akan datang dari London.
"Chiyo," Nozaki menarik tubuhnya, dan membuka kaleng ketiga, "Apakah dia tahu tentang ayah kandungnya? Maksudku, tidakkah kalian mengarang sesuatu tentang kematian ayahnya."
"Tidak, tidak pernah sekalipun, dan dia tidak pernah menanyakannya. Tidak satu kali pun, tidak bahkan saat ibunya masih hidup."
"Aku senang Chiyo tidak mengenal ayah kandungnya, melainkan dirimu," Nozaki menandaskan kaleng bir keduanya, begitu pun Hori dengan kaleng pertamanya. Nozaki membuka satu kaleng lainnya, meneguknya sedikit, Ditatapnya sang mantu, Hori mengulas senyum yang tak pernah ia bayangkan akan ia lakukan. Ia sedikit tertawa kecil saat menyadari pengamanannya mulai mengendur hanya karena satu pujian. "Mengetahui orang tuamu berselingkuh akan membuatmu marah penuh dengan kebencian," sambung Nozaki.
"Kau pernah diselingkuhi? Atau kau pernah berselingkuh? Katakan, yang mana?"
"Noza... Nozaki-kun!" teriak Chiyo dari tangga atas. Ia berteriak begitu lantang, membuat dua pria yang mulai saling mengendurkan pengamanan menoleh kaget. "Kau!" serunya lagi, "Tidur di kamar Mikorin."
Sosok mungil dengan piyama hijau dan putih itu pun menghilang, menyisakan tawa yang menggema di ruang tengah."Kau sudah ditolak sebelum melakukan apapun, Umechan," ledek Hori. Ia merasa sedikit lebih tenang dengan nyawa puterinya.
"Nama itu," Nozaki kembali menenggak bir yang ia sisakan, "Kau membuatnya terdengar buruk, ayah mertua."
"Umechan... Umechan..." lantur Hori yang mulai kehilangan kesadarannya. Dia tidak begitu tahan dengan minuman beralkohol, satu kaleng sudang membuat sarafnya lumpuh.
.
.
Ruang tengah masih menyisakan atmosfer alkohol yang menyesakkan. Yuu menatap kedua pria yang tertidur berdampingan di sofa. Hori tertidur dengan kepala tersandar pada pangkuan Nozaki, sedang pria jangkung itu menyandar pada sofa, menatap langit-langit dengan mata tertutup. Yuu tidak kuasa untuk menahan tawanya, biasanya ia yang akan ada diposisi Nozaki. Ia dengan cepat mengambil ponsel dan mengabadikan momen yang mungkin tidak akan pernah terjadi untuk kedua kalinya.
Yuu membuka tirai dan jendela, cahaya hangat matahari menyusup dan udara luar membawa pergi kesesakan dalam ruang. Waktu hampir menyentuh angka delapan, dan kedua pria itu masih jadi tontonan dua perempuan di keluarga Hori.
"Aku tidak suka jika dia mabuk," ujar Chiyo. Ia lebih memilih untuk berjemur di bawah terik matahari ataupun berdiam diri di tengah derasnya hujan daripada mengetahui suaminya tengah dibawah pengaruh alkohol.
Yuu melirik puterinya, ia menatap sesuatu dari balik manik ungu itu. Ada sebuah ketakutan yang bersembunyi di sana, namun ada juga kilatan kecil yang kian lama semakin membesar, "Kau menyukainya, Chiyo," ledek sang ibu, ia menoleh ke arah Nozaki, "kau terus menatap wajahnya. Terpesona dengan ketampanannya?"
"Entahlah," jawab Chiyo datar, "aku tidak menyukai perasaan aneh ini."
Yuu berdiri dari duduknya, ia mengacak lembut rambut Chiyo, "Bangunkan suamimu, aku juga harus membangunkan ayahmu."
Hori terbangun dengan tidak sepenuhnya sadar. Ia memeluk istrinya begitu saja, bermanja ria dan meminta untuk diangkat dari perbaringannya. Sebuah adegan yang Chiyo rindukan di saat libur ataupun di akhir pekan. Ia menarik napas panjang, karena setelah ini ia harus bermain dalam adegan yang ia lakoni selama hampir satu bulan. Kakinya melangkah dan berhenti tepat di depan Nozaki yang masih menatap langit-langit begitu lelap.
"Nozaki-kun," panggil Chiyo. Ia juga mengoyak tangan Nozaki, berharap ruhnya dengan cepat kembali ke raga. "Nozaki-kun?" Chiyo masih mencoba membangunkannya, ia mulai sedikit mual karena aroma alkohol yang menyeruak, meski tidak terlalu tajam Chiyo tetap membencinya.
"Sebentar lagi," akhirnya pria itu bersuara. Ia memutar kepalanya, menjatuhkan tubuhnya hingga terbaring di sofa, "Sebentar.." gumamnya.
"Nozaki-kun, kita harus sarapan. Ayah dan Ibu sudah menunggu." Chiyo kembali mengoyah tangan Nozaki. "Cepat ba—A!"
Nozaki menarik tubuh Chiyo, dan Chiyo dengan cepat menarik tubuhnya. Dia masih ingat kejadian malam itu, dan seharusnya Nozaki tidak melupakannya. "Le... lepaskan aku, Nozaki-kun,"
Dengan paksa Nozaki membuka matanya, ia masih menggenggam tangan mungil Chiyo. Kepalanya sedikit berdenyut, ia memijat keningnya, lalu terbangun dengan tangan masih di kening. "Tiga puluh detik saja," pinta Nozaki. Ia memeluk erat pinggang yang tidak lebih besar dari lingkaran yang dibuat tangannya sendiri.
"Tidak," tolak Chiyo, ia menarik tautan lengan Nozaki, "kau selalu lebih dari itu."
"Kalau begitu," Nozaki menatap manik ungu yang hampir sejajar dengan netra hitamnya, "tiga puluh menit, atau tiga puluh jam, atau..."
"Kau mabuk, Nozaki-kun," keluh Chiyo berharap pria di hadapannya ini segera menyadari kondisinya. Ya, Nozaki tahu itu, tapi ia masih bisa mengontrol dirinya. Ia menggeleng, menolak dengan tegas pernyataan sang istri. Sedikit lama Chiyo berpikir, lalu tarikan tangan Nozaki menyadarkannya.
"Tiga puluh detik, tidak lebih dari itu. Aku janji."
Chiyo bisa mencium aroma alkohol dari bahu Nozaki, ia tidak suka, untuk sesaat, tapi tubuh yang disinari matahari begitu hangat, membuatnya enggan melepas kenyamanan yang tengah merengkuhnya. "Aku tahu kau akan mengingkarinya, tidak perlu berjanji. Lakukan sesukamu," ujar Chiyo, dan ia merasa rengkuhan itu semakin kuat namun tidak menyakitkan.
"Selamat pagi, Chiyo. Bolehkan kupinta ciuman selamat pagiku?"
"Tiga puluh detik pun tidak akan kubiarkan, Umechan," geram pria dibelakang Nozaki. Ia mulai berdebat dengan menantu satu-satunya. Pagi itu, di rumah keluarga Hori matahari bersinar terlalu terang hingga cahayanya akan membuat semua orang tersulut apinya.
.
.
.
... To be Continued]
