Judul : My imagination is my Love
Chapter : 10
Author : Kakashy Kyuuga
Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^
Genre : hurt, romance and fantasy
Pairing : Naruhina
Mataku kembali terarah ke tempat tidur di belakang Khusi-baasan. Pemuda yang terbaring tka berdaya diatasnya. Aku tidak tahu, kenapa aku takut melihatnya. Seperti ada bayangan masalalu yang terus membayangiku.
"Apa karena dia?" tanyaku takut-takut mengalihkan mataku dari sosok itu.
"Dia anak tunggal kami. Namanya Naruto, Uzumaki Naruto. Dia sudah koma sejak dua minggu yang lalu" cerita Minato membuatku terpaku.
Dua minggu yang lalu? Dua minggu yang lalu, sepertinya pernah terjadi sesuatu padaku di dua minggu yang lalu, tapi apa? Aku sendiri tak ingat apa itu?
Aku terdiam, cukup lama aku larut dalam perasaan yang aku sendiri tak tahu apa itu. Seperti ada penggalan memori yang hilang dan kembali.
"Hinata, siapa Kyuubi itu? Apa dia pacarmu?" pertanyaan Minato-jiisan membuyarkan lamunanku.
"He eh?" Tanyaku, atau lebih tepatnya aku kaget mendengar pertanyaan itu.
"Apa dia yang menyebabkanmu ingin bunuh diri?" tambah Khusi-baasan.
"He eh?" aku makin tak mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
"Hidupmu sangat berarti bagi orang lain, bunuh diri bukan jalan keluar yang baik untuk semua masalah, Hinata-chan" aduh! Khusi-baasan, siapa yang ingin bunuh diri sih! Ini pasti perbuatan Sasuke, kenapa mereka begitu membesar-besarkan masalah kemarin! Dan mana mungkin aku jadian sama hasil imajinasiku sendiri!
"Aku hanya keracunan reman, kok baasan, jiisan" aku semakin memelas membayangkan mereka kaget mendengar kenapa aku bisa keracunan.
"Apa? Kamu keracunan ramen?" bibi Khusina terlihat syok, tuh kan apa aku bilang. "Kok bisa, padahal itu makanan favoritnya Naruto!" bibi Khusi terlhat sangat antuasias.
"Aku makan 5 mangkuk ramen jumbo, baasan" aku pasrah mendengar rentetan kekagetan mereka.
"Apa?! Hanya 5 magkuk ramen jumbo?!" bibi Khusi terlihat tak percaya. Apa? Hanya? Khusina baasan bilang itu hanya?! Sementara paman Minato hanya senyum-senyum melihat kami yang saling berbalas kaget-kagetan.
"Baasan, 5 mangkuk jumbo itu bukan sedikit" aku tidak terima diremehkan setelah menghabiskan 5 magkuk ramen jumbo.
"Hahahaa~, bagi Naruto itu tidak ada apa-apanya. Aku sudah sering kali pulang dari ramen ichiraku dengan dompet kosong" kini giliran paman Minato yang bercerita. Mereka begitu menikmati kisah-kisah yang berkaitan dengan anak mereka.
Ku lihat bibi Khusi membalikan badannya menghadap anaknya. "Naru-chan, kamu tahu ada seorang gadis yang hampir memecahkan rekormu. Apa yang akan kau lakukan jika kau bangun nanti? Akan kaasan ajak dia untuk berlomba makan ramen denganmu. Kau harus tetap mempertahankan rekormu itu" bibi Khusi mulai teisak, paman Minato beranjak dari tempat duduknya mendekati istrinya dan memeluknya.
"Naru-chan pasti akan bangun. Kita harus percaya itu" aku terpaku manyaksikan semuanya. Tak terasa mataku mulai berkaca, ku palingkan wajahku dari keluarga kecil itu ke pintu keluar yang sebagian besarnya ditutupi kaca.
Mataku tertahan pada sosok yang sama ku lihat semalam berdiri di depan pintu, wajanya tak jelas terlihat. Sosok itu melihat kedalam ruangan, aku berdiri mendekatinya. Namun dia segera menyadarinya dan kemudian dia berbalik pergi.
Aku penasaran kenapa dia hanya berdiri didepan pintu dan kenapa dia tak masuk saja. Bibi dan paman sanagt baik, mereka bukan tipe orang yang akan mengusir orang yang ingin menjenguk anak mereka. Aku akan bertanya padanya kenapa, aku tak ingin kehilangan dia. Tanpa pamit pada paman dan bibi aku segera berlari keluar dan mengejarnya, kami hanya terpisah dua blok, aku masih bisa melihat bayangannya sebelum dia berbelok ke lorong yang akan membawanya keluar dari RS.
Tahu akan kehilangan jejaknya, aku mempercepat laju lariku ketika melihat dia menghilang dibalik lorong, laju lariku makin cepat saat aku berbelok dan tiba-tiba. BRUK! Tubuhku jatuh terduduk, seprtinya aku baru menabrak seseorang.
"Hinata-sama, anda tidak apa-apa?" aku kaget melihat Neji-niisan menunduk didepanku.
"Kamu kenapa, Hinata?" aku menoreh pada suara yang lain.
"Neji nii-san, Tenten nee-san?" tanyaku begitu menyadari kehadiran mereka.
"Anda mau kemana, Hinata-sama?" pertanyaan Neji nii-san mengingatkanku akan orang tadi, aku segera melihat ke gerbang keluar RS. Disana terlihat sangat ramai dengan orang yang berlalu-lalang keluar masuk.
"Aku kehilangan dia" bisikku pelan. "Ah, aku lapar. Aku ingin mencari makan, apa Neji nii-san membawa makanan untukku?" wah, hebat sekarang aku. Sudah pandai berbohong.
"Sebaiknya kita ke ruangan anda, Hinata-sama" ajak Neji seraya menarikku menuju ruang aku di rawat.
Hinata POV end.
Normal POV
Dari balik gerbang, sosok yang Hinata kejar tadi tengah menintip mereka hingga mereka menghilang didalam rumah sakit.
Di ruang tempat Hinata di rawat.
"Kata Sasuke semalam kamu berjalan sendirian di luar. Apa itu benar, Hinata-sama?" Tanya Neji penuh selidik.
"Hm, semalam aku mendengar ada yang memanggilku, saat keluar aku tak melihat siapa-siapa. Aku terus mencari asal suara itu sampai aku bertemu dengan Sasuke , kemudian Sasuke membawaku ke tempat Naruto" terang Hinata panjang lebar.
"Kau sudah melihat dia?" Tanya Tenten dengan nada khawatir. Hinata tertunduk, tangannya meramas selimut yang menutupi kakinya.
"Sasuke sudah menceritakannya pada kami" tanbah Neji.
"Maaf, aku selalu membuat kalian repot" suara Hinata terdengar lirih.
"HINATA~!" suara pintu dibuka tanpa diketuk di tambah suara cempreng dari seorang gadis pirang berkuncir membuat perempatan hinggap di dahi Neji.
"Kenapa gadis-gadis di zaman ini tak bisa bersikap normal seperti biasanya!" inner Neji.
"Eh, ada Neji senpai dan Tenten senpai" gadis pirang alias Ino itu menyengir melihat reaksi Neji.
"A, ada apa Ino-chan?" Tanya Hinata.
"Rupanya kamu sudah bertemu dengan bibi khusi dan paman Minato, yah?" Tanya Ino sambil mendekati Hinata tanpa peduli dengan tatapan mematikan dari Neji.
"I, iya. Ino-chan, aku sudah bertemu mereka" jawab Hinata.
"Bibi dan Paman Namikaze memintaku membawa mu pada mereka" Neji menatap tajam pada Ino. Tenten tahu maksud tatapan Neji.
"Biarkan saja mereka, mungkin dengan begitu trauma Hinata bisa berkurang" bisik Tenten pelan di kuping Neji.
"Hn, baiklah"
"Bagaimana Hinata, kamu mau khan. Disana ada Sakura-chan juga loh" tambah Ino.
"Pergilah, Hinata. Tak baik mengabaikan undangan orang" Tenten tersenyum bahagia melihat Neji yang mulai mengerti.
"Ba, baiklah" akhirnya Hinata mengiyakan ajakan Ino.
Berteman Ino, Hinata berjalan menuju ruang VIP tempat bibi dan paman Namikaze berada.
"Memang ada hubungan apa Ino-chan dengan Bibi Khusi dan paman Minato?" Tanya Hinata.
"Mereka itu paman dan bibiku, aku dan Naruto adalah sepupu"
"Oh, aku kira Ino-chan itu pacarnya Naruto" Ino tertawa mendengarnya. Lorong yang menuju ruang VIP sudah terlihat, seseorang yang berdiri di depan pintu di salah satu ruang VIP yang mereka tuju menarik perhatian Hinata.
"Ino-chan, ada orang disana!" Hinata menunjuk orang tadi. Ino melihat ke arah yang ditunjuk Hinata. "Tidak ada siapa-siapa disana, Hinata!" Ino tak melihat siapapun di lorong ruang VIP.
"Itu, yang berdiri di depan ruangan Naruto" Hinata semakin mendesak Ino untuk melihat lebih dekat sosok yang sedari tadi melihat kedalam ruangan Naruto
"Hinata! Mataku masih normal, dan aku masih melihat dengan jelas. Tidak ada siapa-siapa di sana" Ino mencoba meyakinkan Hinata dengan penglihatannya.
"Ta_" Ino memotong kata-kata Hinata.
"Kau lucu, Hinata-chan. Jelas-jelas tidak ada siapa-siapa disana" kata Ino begitu mereka hampir mendekati di ruang VIP. Hinata jelas-jelas melihat sosok itu melihat mereka, dan lagi bayangan tiang menjadi penghalang penglihatan Hinata untuk mengetahui siapa sosok itu.
"Itu di_" Hinata terkejut saat dia tak lagi mendapati sosok itu. "Siapa dia?" batin Hinata yang mulai merasa curiga dengan sosok itu.
Hinata langsung disambut dengan pelukan hangat dari Khusina dan senyuman hangat Sakura yang menghentikan acara membaca bukunya.
Khusina mengajak Hinata duduk didekatnya dan mulai mengajaknya dan Ino bercerita, sementara Sakura hanya diam sambil membaca bukunya. Sebenarnya Hinata ingin sekali pingsan berada di ruangan yang menurutnya adalah neraka ini. Dia tak sanggup melihat kondisi Naruto, melihat Naruto membuat dia teringat kembali akan sesuatu yang dia lupakan, keringat dingin membasi wajahnya, wajahnya pun terlihat memucat, tatapannya tak tenang karena posisinya saat ini menatap langsung Naruto yang terbaring di atas tempat tidur.
Dia ingin sekali menangis, tapi dia tidak bisa. Dia tidak ingin membuat orang-orang repot lagi karenanya. Dengan sekuat tenaga dia berusaha bertahan, bertaha bersikap normal seperti biasanya seolah dia baik-baik saja.
Sakura dan Ino menyadari ada yang tak beres dengannya, setiap kali mereka mendapati Hinata melihat Naruto, tangannya selalu diremas hingga memerah. Tapi, entah Khusina menyadarinya atau tidak, dia begitu asyik becerita dengan Hinata yang bak mayat hidup.
Ino menatap cemas pada Sakura, mereka berkomunikasi melalui tatapan.
"Sampai sekarang Naruto tidak pernah memperkenalkan pacarnya padaku" telinga Sakura menegang begitu mendengar cerita Khusina tentang pacar Naruto.
"Dia selalu bilang, dia sedang naksir seorang gadis. Suatu saat nanti dia akan memperkenalkan gadis itu padaku" lanjut Khusina. Sakura mulai terganggu konsentrasi bacaannya.
"Apa dia pernah menyebutkan nama gadis itu, bi?" akhirnya Sakura ikut bergabung.
"Tidak, tapi dia pernah bilang aku juga mengenalinya" jawab Khusina tersnyum nakal pada Ino Sakura dan Hinata.
"Ap-apa maksud bibi?" Ino terggap melihat senyum bibinya.
"Sejauh ini, hanya kalian berdua yang aku kenal sebagai teman Naruto dan hanya kalian berdua yang selalu datang menjenguknya" selidik Khusina membuat Ino dan Sakura menelan ludah mereka.
Hinata hanya tersenyum melihat reaksi berlebihan dari kedua temannya.
"Ja-jangan sembarangan bi, mungkin yang Naruto maksud adalah Shion atau bisa jadi dia adalah Amaru" elak Sakura.
"Shion? Amaru? Siapa mereka? Apa mereka pacar-pacar Naruto? Wah, ternyata anakku keren juga hingga banyak gadis yang tergila-gila padanya. Hehehe" Sakura dan Ino sweetdrop bareng mendengar kenarsisan Khusina.
Setelah mendengar ocehan mereka tentang Naruto, Hinata semakin penasaran dengan Naruto. Seperti apa dia, apa dia orang yang dingin dan tanpa ekspresi seperti Gaara? Atau dia orang yang ceria seperti Kyuubi? Naruto, seperti apa dirimu?
TBC.
