PERLU DIPERHATIKAN: Bakal ada adegan hasil copas dari ffku yg lainnya. Adegan murni tulisanku sendiri. Jadi pembaca dilarang keras untuk melakukan tuduhan plagiat – lagi.

.

.

.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Berkunjung ke perusahaan untuk melakukan inspeksi bukanlah rutinitas harian seorang Kim Mingyu. Ia hanya melakukannya satu kali dalam seminggu. Well, itu juga sebenarnya tidak perlu. Mengingat bahwa saat ini ia adalah seorang presdir. Pemilik perusahaan. Ia bisa datang kapanpun dan sejarang apapun ia mau. Bahkan jika itu adalah hanya satu kali dalam enam bulan sekalipun. Ia memiliki seorang manajer eksekutif. Shim Yoosang. Seorang pimpinan tertinggi di bawahnya yang bertanggung jawab untuk selalu mengawasi perusahaan. Segala yang terjadi, berada di tangannya. Ia adalah tangan kanan Mingyu. Ia adalah pengganti Lee Seunghyun, seseorang yang memiliki wewenang atas pemecatan Wonwoo ketika memcahkan banyak barang pecah belah dan menumpahkan makanan Eropa dan minuman mahal waktu itu. Pria itu telah menjadi pemimpin tertinggi di anak perusahaan–lain–milik ayah Mingyu.

Ya, seperti yang telah dijanjikan Kim Minjun. Bahwa ia akan menghadiahkan Singleton Hotel & Resort pada Mingyu jika ia berhasil lulus tahun ini dengan nilai memuaskan. Tidak perlu mendapatkan ranking. Itu adalah nilai plus. Tapi Mingyu mendapatkan nilai plus itu. Dari dua ratus siswa dalam satu angkatannya ia termasuk ke dalam lima puluh besar. Lebih spesifik ia mendapatkan ranking sebelas. Untuk ukuran seorang Kim Mingyu yang harus membagi fokus pada pendidikan akademik, mengatur strategi dalam berjudi, dan menjadi seorang kepala keluarga, itu bukanlah hal yang mudah.

Tapi berterimakasihlah pada Jeon Wonwoo, sang istri tercinta yang tidak pernah berhenti mendukung Mingyu di balik punggung kokohnya. Bukan sekedar dukungan secara verbal. Wonwoo memberikan sesuatu yang konkrit dan benar-benar nyata. Ia pria konservatif yang pernah berorientasi bahwa dalam hidupnya hanyalah sekolah, kuliah, bekerja, menikah, lalu mati. Pendidikan adalah segala-galanya baginya hingga ia bersedia untuk bekerja menjadi seorang pelayan hotel tidak hanya untuk memenuhi permintaan Jung Chaeyeon yang meminta cincin seharga enam juta won sebagai cincin tunangannya. Namun juga untuk membiayai pendidikan yang akan ia lanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Jadi intinya, ia menyukai kegiatan belajar. Ia menyukai kegiatan membaca. Dan kegiatan apapun yang berhubungan dengan itu. Sehingga kredibilitas keilmuan Jeon Wonwoo tidak bisa diragukan lagi. Jadi ia mendukung Mingyu dengan cara memberikan pengajaran sepenuh hati. Kau salah jika berpikir bahwa di dalam tempat persembunyian The Subshell ia hanya berdiam diri ketika telah menyelesaikan pekerjaan rumah tangga-nya. Atau hanya melulu melatih kemampuan dalam memainkan permainan judi. Dan pergi ke kediaman Zhou Tzuyu untuk belajar memasak sebanyak tiga kali dalam seminggu. Tidak, ia tidak demikian. Selama berada dalam masa kehamilan bahkan setelah melahirkan putrinya ia selalu menjadi–salah satu–guru akademik Mingyu hampir setiap kali mereka memiliki waktu untuk dihabiskan bersama. Ia terlibat dalam memberikan banyak jasa untuk membantu Mingyu mendapatkan hadiah dari ayahnya.

Dan di sinilah Mingyu melangkahkan kaki-kaki panjangnya sekarang. Tempat dimana terjadi pertemuan pertama ia dengan Wonwoo. Tempat permulaan sejarah cinta keduanya dimulai. Lobi hotel.

Meskipun ia baru saja menjadi pemilik perusahaan ini selama satu bulan lebih seluruh pekerja di sini telah familiar dengannya. Tentu. Ia adalah putra mahkota dari pemilik sebelumnya. Satu-satunya anak laki-laki dari pasangan Kim Minjun dan Yoo Soyoung. Siapa yang tidak akan kenal? Terutama dulu ia sering datang berkunjung kemari untuk menemui Bona, sang kakak tercinta yang sedang magang dari kampusnya. Ataupun kepentingan Mingyu yang lainnya. Terutama–lagi–di kalangan para pekerja wanita. Ia sangat terkenal dengan ketampanannya yang luar biasa dan berhasil membuat ratusan pekerja itu jatuh cinta.

Mingyu tidak sendirian. Kim Yeon-gyu, sang putri tercinta yang baru menatap indahnya dunia selama empat bulan, berada dalam gendongannya di dada. Mingyu juga membawa sebuah tas jinjing khusus di tangan kanan. Tas itu berisi popok, mainan, beberapa botol asi dan perlengkapan bayi lainnya. Itu bukan asi milik Wonwoo, omong-omong. Ia membelinya dari rumah sakit. Rowoon memang mengatakan bahwa asi milik Wonwoo akan bertahan hingga bayinya berusia lima bulan. Tapi kenyataan berkata lain. Sejak satu bulan yang lalu Wonwoo telah berhenti menyusui. Air susu miliknya telah surut dan payudaranya menyusut. Ia telah memiliki dada yang rata seperti semula sekarang.

Mingyu yang untuk pertama kali datang dengan membawa seorang bayi bersamanya, berhasil menjadi pusat perhatian beberapa pekerja.

Ia menghampiri Seulgi yang hanya bisa ia lihat bagian punggung dan sisi profil belakangnya. Wanita itu adalah seorang kepala pelayan yang tengah mengawasi dengan serius pergerakan para bell boy dan pelayan yang berlalu lalang melakukan kegiatannya masing-masing. Seperti halnya Tzuyu, Seulgi adalah seseorang yang melankolis. Sedikit saja ia melihat kesalahan, ia akan segera menegur dan meminta untuk memperbaikinya hingga menjadi sesuatu yang sempurna. Mingyu tidak salah menaikkan jabatannya dari pelayan biasa ke posisinya yang sekarang.

"Selamat siang nona Kang." Mingyu menyapa dengan senyum yang pas.

Seulgi menoleh. Spontan membalas dengan senyum lebar. Dan merotasikan tubuh secara utuh ketika melihat siapa yang datang. Ia membungkuk hormat. "Selamat datang tuan." Tatapnya segera beralih pada sesuatu yang begitu mencolok pada Mingyu. "Wah... lucunya... Ini pasti adalah putri anda yang dibicarakan itu?"

Bayi itu memiliki bentuk mata, hidung, bibir, dan wajah, yang mirip dengan Mingyu. Ia juga memiliki warna kulit sedikit gelap. Entah itu buff, peruvian, atau tan. Apapun itu. Segala yang ada pada Kim Yeongyu adalah apa yang Mingyu miliki. Tidak ada sedikitpun kemiripan dengan Wonwoo. Sama sekali. Kalau nyonya Yoo bilang sih ia seperti melihat Mingyu kembali menyusut menjadi bayi. Hanya saja dalam versi bayi perempuan.

Jika dilihat dari segi fisik, Yeongyu memang terlihat seperti hanya anak Mingyu saja. Bukan anak Wonwoo. Padahal selama ini yang memberikan cinta dan kasih sayang paling besar adalah Wonwoo. Bahkan yang telah mempertaruhkan nyawa demi kehadiran Yeongyu adalah Wonwoo. Apakah penyebab fisik Yeongyu seperti itu adalah karena Wonwoo sangat mencintai Mingyu? Entahlah.

Tapi Wonwoo sebenarnya tidak mempermasalahkan itu. Bagaimanapun kondisi Yeongyu, Wonwoo akan selalu mencintainya. Lagipula putrinya itu terlahir dengan sempurna. Memiliki wajah dan warna kulit yang begitu mirip dengan milik Mingyu, artinya ia akan memiliki visual yang luar biasa seperti sang ayah. Jadi, apa yang harus disesalkan?

Seulgi mendekatkan wajah pada bayi itu dan menggenggam tangan mungilnya. "Siapa namamu sayang?" Ia bertanya ramah.

"Kim Yeongyu." Mingyu yang menjawab. Karena Yeongyu hanya membalas dengan senyuman manis yang membuat siapapun akan merasa gemas melihatnya.

"Nama yang indah."

Dan ucapan terima kasih terucap dari bibir Mingyu.

Sesuai dengan keinginan Wonwoo, Mingyu yang memikirkan dan memberikan nama.

Yeongyu berarti bintang yang indah. Ia adalah bintang yang akan menerangi Mingyu di hari-harinya.

Ya... ya... Yeongyu anak appa.

"Di mana ibunya? Kami sudah penasaran siapa seseorang yang beruntung yang anda nikahi? Ia pasti adalah orang yang luar biasa sehingga bisa membuat anda jatuh cinta?"

Mingyu tersenyum tipis pada kebenaran yang tidak Seulgi ketahui. Benar bahwa Mingyu mencintai Wonwoo. Tapi kenyataannya bukan itu alasan pernikahan mereka. Mingyu baru bisa mencintainya beberapa minggu setelah keduanya terikat dengan janji suci itu. Dan baru benar-benar menyadari perasaannya ketika mengetahui ia hampir kehilangan Yeongyu.

"Ia akan datang setelah aku selesai rapat."

Ya, tujuan Mingyu datang kemari hari ini adalah untuk mengadakan sebuah rapat besar bersama para pimpinan perusahaan besar lainnya. Ia telah mengubah banyak sistem di dalam perusahaan sejak pertama kali menjadi pemilik. Tapi ia tidak melakukannya begitu saja. Ia telah melakukan banyak pertimbangan, diskusi dalam rapat kecil, dan melakukan segalanya dengan bijaksana. Tidak ada sesuatu yang buruk terjadi. Ia hanya memiliki cara yang sedikit berbeda dengan Kim Minjun dalam menangani perusahaan. Dan semuanya tetap berada dalam kendali.

Dan ini merupakan rapat besarnya yang pertama. Sebagai tuan rumah, ia yang akan menjadi pembicara utama dan telah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk berkonfrontasi dengan para master yang telah memiliki ilmu dan pengalaman luar biasa, jauh di atas Mingyu. Ia akan berusaha untuk membawa diri dengan baik.

"Kalau begitu selagi anda melakukan rapat, bolehkah nona kecil ini bersama saya? Sekalian menanti kehadiran nyonya... um... maaf tuan, siapa istri anda?" Lowkey, ada perasaan patah hati ketika Seulgi bertanya demikian. Istri anda, itu artinya Mingyu mutlak sudah menjadi milik orang lain.

"Jeon." Mingyu menjawab singkat.

"Ah, baiklah. Nyonya Jeon."

Sekali lagi Mingyu tersenyum tipis pada frasa Seulgi yang menunjukkan bahwa ia tidak mengetahui kebenaran di balik panggilan nyonya Jeon itu.

"Tentu. Aku tidak akan membuat putriku mendistraksi pandangan semua peserta rapat. Jadi tolong jaga ia dengan baik." Di akhir kalimat, Mingyu menyerahkan sang putri ke dalam dekapan Kang Seulgi. Wanita itu juga mengambil alih tas perlengkapan bayi itu.

Yeongyu menatap wajah rupawan Mingyu. Ia sadar telah terpisah dengan sentuhan sang ayah. Tapi ia tidak menangis. Ia bisa beradaptasi dengan baik dengan siapapun yang memeluknya. Terutama Seulgi memiliki sentuhan yang lembut layaknya seorang ibu. Ketika Yeongyu bersama Seulgi anak itu merasa seakan ia sedang bersama Wonwoo.

Mingyu mengecup puncak kepala sang putri. Lalu mengusapnya lembut. "Jadilah anak manis bersama nona Kang, oke? Untuk saat ini anggap saja kalau ia adalah ibumu."

Sebagian darah naik dan berkumpul di kedua pipi Seulgi. Ia merona mendengar itu. Kalimat Mingyu membuatnya jadi berpikir macam-macam. Ia jadi membayangkan kalau ia benar-benar menjadi ibu dari anak-anak Mingyu. Terlebih saat ini wanita itu masih melajang. Ia bisa membuat mata kepala dan hatinya tertuju hanya pada Mingyu seorang.

Tapi...

Ah, tidak, tidak. Sadarlah Kang Seulgi. Pria tampan ini telah menjadi pasangan hidup orang lain.

Setengah logika di kepala wanita itu melempar sarkasme habis-habisan pada setengah bagian lain kepalanya yang jatuh cinta pada Kim Mingyu.

Ah, sudahlah. Bisa berada dalam ruang lingkup yang sama dan memandang wajah Mingyu dari jarak dekat saja sudah membuatnya bahagia. Tidak perlu mengharapkan sesuatu yang terlalu sempurna seperti yang ia bayangkan. Itu terlalu berlebihan.

"Appa akan segera kembali." Bohong. Mingyu akan menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk melaksanakan rapat itu. Dan berjam-jam itu pula ia tidak akan menemui putrinya.

Seulgi mengucap salam dan berlalu dari hadapan Mingyu setelah Mingyu membalasnya. Mingyu melihatnya berjalan menghampiri Wendy di meja resepsionis. Seulgi menyadari Wendy sudah menatap penuh harap sejak awal. Ia juga ingin menyentuh dan bermain bersama Yeongyu. Dan Mingyu bisa melihat wanita Kanada itu begitu senang ketika Seulgi menyerahkan bayi itu padanya.

Mingyu merasa lega. Ia harap putrinya bisa selalu menebarkan kebahagiaan pada orang-orang yang berada di sekelilingnya seperti itu di masa yang akan datang.

Tangan Mingyu sibuk memperbaiki rambut klimis belah pinggir yang memamerkan keningnya ketika menyeret langkah mengeliminasi spasi dengan lift. Ia baru saja mencukur rambutnya hingga sangat pendek di hari sebelumnya. Wonwoo juga memiliki potongan rambut yang sama.

Ia menekan tombol dengan angka empat belas di dalam lift. Ia sendirian. Melihat refleksi diri dalam cermin pada lift, sedikit memperbaiki posisi dasi charcoal dan merapikan jas charleston-nya. Tak henti-hentinya memuji keindahan yang ada pada dirinya.

Ia sangat tampan. Dan gagah. Seperti biasanya.

Ia telah siap untuk membuktikan diri bahwa ia memang benar-benar pantas berada di posisi ini. Menjadi seorang presdir Kim.

Ia telah siap untuk show time.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Sebaiknya kita mulai untuk berbicara soal pekerjaan lebih serius. Nah, just kidding. Mingyu sangat serius tentu saja masalah pekerjaannya. Mungkin memanfaatkan pekerjaannya untuk kepentingan pribadi tidak terdengar seperti sesuatu yang dilakukan profesional. Tapi secara keseluruhan, ia sangat bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Atas operasionalisasi. Peranannya sangatlah krusial untuk ukuran sebuah perusahaan rintisan teristimewa. Operasi, penciptaan budaya perusahaan, sumber daya manusia, perekrutan tenaga kerja, pemutusan relasi, dan tanggung jawab tinggi lainnya. Sejauh ini ia selalu menjalankan mandat dengan baik.

Ia juga mendelegasikan tugas kepemimpinan pada Shim Yoosang selaku Chief Revenue Officer atau CRO. Ia percaya pada orang-orang yang merupakan kaki-tangannya tapi terkadang ia merasa lebih nyaman untuk mengerjakan hal-hal yang menurutnya penting dengan tangannya sendiri. Tentu ia mengerti bahwa ia tidak bisa terlihat egois dari sisi lain. Ia peduli akan hal itu.

Kaki-kaki panjang manajer eksekutif Mingyu itu membuat dirinya terlihat mencolok terlebih karena ia adalah satu-satunya manusia yang berdiri di dalam ruangan. Akan jadi penghinaan besar jika ia tidak menjadi pusat perhatian, mengingat ia yang kini sedang berbicara di depan mereka yang menghadiri rapat.

Rapat besar yang dihadiri para petinggi dari beberapa perusahaan membutuhkan ruangan besar. Dan seperti itulah meeting room Singleton Hotel & Resort. Luas dan berkelas. Dengan lantai berlapis permadani hickory, kapasitas tiga puluh kursi, tiga d-light motorized screen, speaker besar di setiap sudut ruangan seperti home theatre, dan satu layar sentuh transparan. Benar-benar representasi sempurna dari deskripsi spohisticated urban city.

Sebuah rapat tidak harus selalu mencakup lebih dari seratus partisipan untuk bisa dikatakan skala besar. Yang menentukan adalah jenis dan konten rapat itu sendiri.

Yoosang berdiri di antara dua layar yang menampilkan grafik hasil sorotan cahaya proyektor.

"Kami membuka sesi tanya-jawab terakhir. Atau barangkali saran untuk strategi penaikan kembali profit?" Sang CRO berbicara pada para investor, relasi, dan sponsor yang hadir di sana. Hanya cukup memfokuskan pandangan pada satu arah karena jangka pandang ekor matanya dapat menangkap lebih dari dinding yang membatasi ruangan itu.

Ia mempersilahkan seorang pria representatif dari Jones Inc. untuk berbicara begitu ia mengangkat tangan.

"Dalam kasus infrastruktur apakah implementasi desentralisasi pada Singleton Hotel & Resort akan merealisasikan influens? Bukankah likuiditas tidak harus selalu mengusung konsep seperti hukum rimba?"

Singkat, padat. Dan komplikatif. Cukup relevan sebagai topik penutup.

Itu bukanlah jenis pertanyaan yang dapat dijawab dengan mudah oleh pebisnis biasa. Karena implikasi sesungguhnya dari pertanyaan itu memiliki konteks berbeda. Beberapa perwakilan dari perusahaan yang baru mengenal Mingyu bahkan sangat meragukan CEO kelewat muda berwajah rupawan itu akan bisa menjelaskannya. Karena semua orang tahu bahwa ia hanyalah seorang lulusan dari SMU Banister. Sebuah sekolah buangan yang terkenal akan murid-murid buangan paling berbahaya akan kenakalan dan prestasi terburuk dari sekolah lainnya. Dan setelah itu Mingyu hanya berakselerasi di jenjang pendidikan yang lebih tinggi pada jurusan bisnis secara homeschooling selama satu bulan lebih.

Empat puluh persen dari semua orang yang hadir di dalam pertemuan itu tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan yang terakhir kali diajukan. Karena empat puluh persen itu hanyalah perwakilan biasa. Bukan pimpinan besar.

Mingyu menyemat senyum santai. Sesantai ia menjawab.

"Begini," Ia mengedarkan pandangan pada seluruh audiens karena pertanyaan dari satu orang barusan mewakili kepentingan semua pihak. Mingyu tidak merasa perlu untuk repot-repot mencondongkan tubuh untuk mendekatkan bibir pada microphone kecil di hadapannya. Mic dengan harga di atas satu juta won itu begitu sensitif sehingga dapat menangkap suara sekecil apapun. "Anda semua tentu tidak mengantisipasi factoring. Akan terlihat perbedaan signifikan ketika inflasi terjadi. Kita ambil trade credit sebagai sample. Semua itu konstan..." dan bla... bla... bla... mengalir uraian panjang soal berbagai tetek bengek permasalahan infrastruktur, formalitas birokrasi perusahaan dan berbagai hal lainnya tentang bisnis ini.

Di luar dugaan. Ia bisa menjawab dengan baik. Maksudnya, kau ternyata tidak main-main dengan pemilik gelar Master di bidang bisnis dan politik. Ia bahkan telah berhasil meraih gelar master itu hanya dalam waktu satu bulan. Ya, ia baru saja lulus sekolah dua bulan yang lalu.

Kurikulum pada perguruan tinggi umumnya membuat mahasiswa menjalani pendidikan selama empat tahun untuk meraih gelar sarjana. Dan ditambah dua tahun untuk meraih gelar master. Karena mahasiswa hanya menghabiskan proses kegiatan belajar-mengajar selama kurang lebih lima belas jam dalam satu minggu.

Tapi Mingyu hanya membutuhkan waktu selama satu bulan untuk mendapatkan gelar master itu. Satu bulan yang benar-benar penuh, padat, melelahkan, dan penuh perjuangan. Ia tinggal di rumah kedua orang tuanya, meninggalkan kelompoknya. Karena tidak mungkin jika ia harus membawa dosennya masuk ke dalam tempat persembunyian.

Ia mendatangkan seorang dosen dari universitas swasta internasional Cheeseparing, dan membuatnya menyelesaikan kurikulum yang seharusnya dilakukan selama dua belas semester, menjadi satu bulan.

Ia memulai pelajaran jam tujuh pagi dan selesai pada jam sembilan malam. Setiap hari Senin hingga Sabtu. Lihat? Bahkan ia memiliki jam belajar lebih banyak dibandingkan anak sekolah. Dan ia bahkan masih harus menghabiskan setengah hari Minggu-nya untuk mengerjakan tugas. Mengorbankan waktu berharga yang seharusnya dihabiskan bersama kerabat terdekat.

Tapi semua itu terbayar sudah. Ia mendapatkan ijazah dengan nilai yang memuaskan dan gelar master meskipun tidak memiliki predikat cumlaude–itu terlalu sulit untuk bisa menjadi sesempurna itu–ia hanyalah seorang manusia biasa yang memaksakan diri untuk menyelesaikan pendidikan lebih cepat. Dan ia akan mengikuti upacara wisuda bersama-sama dengan seniornya satu tahun yang akan datang.

Dan esensi dari itu semua ia akhirnya bisa mendapatkan hadiah utamanya. Perusahaan itu. Seperti yang pernah dikatakan sebelumnya bahwa Kim Minjun tidak akan menyerahkan sebuah tanggung jawab besar pada sembarang orang. Pemilik sebuah perusahaan haruslah seseorang yang berkompeten dan berpendidikan tinggi. Dan sekarang Mingyu telah menjadi orang yang tepat untuk menerima itu.

Dan yang paling penting sekarang ia bisa kembali tinggal bersama anggota The Subshell dan menghabiskan waktu bersama seperti sebagaimana biasanya.

Kembali ke pertemuan rapat, kurang lebih seperti itulah sebagian kecil isi pertemuan itu. Ada banyak pertanyaan seputar perusahaan yang diajukan pada Mingyu. Dan setelahnya ia selaku CEO yang menempati tempat duduk utama itu akan menanggapi dengan penjelasan memuaskan selama kurang lebih lima menit.

"Untuk selanjutnya nona Lee Kaeun selaku sekretaris tuan Kim akan membacakan konklusi dari pertemuan hari ini. Silahkan nona." Yoosang kembali mempersilahkan. Tak lupa ia membuat gesture agar wanita yang baru disebut namanya itu mulai bicara.

Kaeun yang duduk tidak jauh dari sang presdir itu melumasi tenggorokan sebelum menjelaskan. "Baiklah, konklusi untuk hari ini. Persentase penurunan income dibandingkan bulan sebelumnya. Kata bersaing sebenarnya kurang tepat untuk mendeskripsikan perusahaan kami. Karena bersama perusahaan lainnya kami berpacu dengan kecepatan yang sama untuk tujuan yang sama. Katakan kami tidak kompetitif. Tapi kami memang tidak pernah menekan pedal gas ketika peserta lain bahkan belum memakai sabuk pengaman."

Seluruh peserta rapat benar-benar memperhatikan wanita itu dengan baik.

"Lalu rencana pembangunan cabang di Gwangju atau Chungnam. Kemudian memulai sebuah kerjasama baru dengan para investor dari Jones Inc., Johnams Group, dan Nonesuch Company; relasi dari bank Wells Fargo, rumah sakit internasional Hover, perguruan tinggi swasta internasional Cheeseparing, dan Harrison Bennett Entertainment; dan sponsor dari LG, Hyundai, dan VISA, yang telah hadir di sini."

Ia mengambil tarikan nafas untuk melanjutkan penjelasan.

"Dan T.O.P, Tablo, dan Zhoumi sebagai opsi artis yang akan membintangi iklan perusahaan kami dengan kontrak selama satu tahun. Juga tentang membagi laba kepada masing-masing perusahaan yang menaruh saham."

Ia sedikit mengangguk pada audiens sebagai tanda akhir pembacaan.

Mingyu memperhatikan dengan seksama kata perkata yang keluar dari mulut sekretarisnya tentu saja. lagipula dia tetap seorang bos yang harus memastikan pekerjaan bawahannya dilakukan dengan baik.

Tapi masalah lainnya adalah masalah pribadi. Hal-hal personal seperti pertanyaan: Oh! Nona Lee melakukan gerakan alis itu lagi! Bagaimana sebuah alis bisa terlihat begitu indah? Dan ia seharusnya berhenti menggigit bibir bawahnya karena nervous. Lihat, sekarang bibirnya merah dan terlihat–apa istilahnya? Plum? Ya. Plum. Jadi Mingyu selalu profesional dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Tapi di bawah itu ia punya sedikit gambaran-gambaran sensual tentang apa yang ia ingin lakukan pada bibir merah sekretarisnya.

Ya, jiwa playboy yang telah mendarah daging.

"Terima kasih nona Lee." Lamunan dan konsentrasi Mingyu tersibak suara mengalun Shim Yoosang yang juga terdengar gagah di saat bersamaan.

Yoosang dan Kaeun saling melempar senyum formal. Pria itu lalu kembali sedikit mengedarkan bola mata. "Rapat berikutnya akan dilaksanakan minggu depan pada pukul satu siang untuk perihal pengikatan kontrak dan kota yang akan dijadikan sebagai lokasi untuk membangun cabang sebagai aset baru penanaman saham."

Sematan senyum serupa ia lemparkan pada sang pimpinan utama yang dibalas setara. "Terima kasih kepada tuan Kim Mingyu selaku Chief Executive Officer atas strateginya yang luar biasa pada pemasaran, pendanaan, penjualan, dan public relation. Telah menjadi pembicara selama tiga puluh menit dan menjawab semua pertanyaan dari peserta rapat dengan detail dan memuaskan. Dan terima kasih kepada seluruh perwakilan pimpinan besar dari perusahaan-perusahaan yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri dan berdiskusi bersama dalam rapat ini. Semoga kita dapat segera menyelesaikan konflik dari follow-up yang telah ditentukan."

Seperti halnya Kaeun, Yoosang juga membutuhkan tarikan nafas lainnya untuk melanjutkan kalimat panjang. "Kami, segenap kru dari Singleton Hotel & Resort juga berterimakasih atas perhatian dan kerjasama anda sekalian. Saya cukupkan pertemuan sampai di sini. Selamat sore, dan sampai jumpa minggu depan."

Tanpa diminta, riuh tepuk tangan terdengar membahana di dalam ruang rapat yang dihadiri lebih dari dua puluh partisipan itu. Mingyu menenggak habis segelas air mineral di atas meja. Menjadi pembicara utama telah menguapkan lebih banyak cairan tubuhnya dari normalnya kadar yang biasa ia keluarkan. Dia harus lebih banyak minum air mineral mengingat hal terakhir yang dibutuhkan perusahaannya adalah ia yang dehidrasi atau terkena sakit ginjal karena terlalu kelelahan bekerja di depan komputer. Duduk berjam-jam tanpa pergerakan juga dapat membuat tubuhmu lelah.

Satu-persatu pria dan wanita berpakaian perlente meninggalkan ruangan setelah melakukan jabat tangan dengan Mingyu dan seluruh jajaran direksi perusahaan berbadan hukum yang memiliki banyak perusahaan di bawahnya itu. Jadi Mingyu berusaha melakukan yang terbaik untuk selalu menampakkan senyum profesionalnya seperti boneka Ken? Tidak, tentu ia tidak merasa sangat mirip atau bagaimana dengan boneka pria pasangan Barbie itu. Tapi ia terkadang merasa seperti Ken, merasa harus menahan senyum menawan setiap saat. Senyum terprogram.

Terkadang ia berharap untuk lebih terlihat seperti Penguin of Madagascar. Terlihat lucu dan menggemaskan.

Dan berbicara soal lucu dan menggemaskan, kembali ke bibir sekretarisnya yang merah dan plum. Entahlah, itu tidak ada hubungannya tapi Mingyu baru saja memaksa kerja otaknya. Meskipun ia tidak seharusnya membayangkan sesuatu yang iya-iya dengan bibir itu.

Mingyu menjadi sosok terakhir yang meninggalkan ruangan, diikuti sang sekretaris yang berjalan beriringan dengan iPad di tangan. Menggunakan lift menuju lantai dimana ruangan kantor Mingyu berada.

Bicara dari sisi Kaeun. Sesuatu juga terjadi pada wanita itu. Ada spark kecil. Suatu perasaan yang tidak ia perhatikan sebelumnya bisa ia rasakan terhadap bosnya ini. Sejak pintu lift menutup dan meyakini hanya ada mereka berdua–dan kamera CCTV yang mengawasi setiap detail gerak-gerik mereka tentu saja, ia tidak bisa berhenti menatap Mingyu yang bahkan tidak memutar fleksor leher untuk menoleh padanya sedikitpun di sampingnya.

Itu adalah sebuah tatapan kagum

Yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh. Entah saraf refleks Kaeun yang tidak bekerja atau ia memang tidak keberatan ditatap balik seperti itu? Sungguh, ia merasa tidak perlu. Ia tidak merasa menjadi maling yang ketahuan mencuri-curi tatap lagipula. Ia sadar ia melakukannya terang-terangan.

"Ada sesuatu yang ingin kau sampaikan, nona Lee?" Suara Mingyu kelewat profesional tentu saja untuk seseorang yang memikirkan bibir sekretarisnya sambil menjelaskan tentang profit perusahaan kepada koleganya.

Di sisi lain. Bukannya langsung menjawab, Kaeun malah terus menatap mata sang lawan bicara. Alhasil ada sekitar sepuluh detik penuh pertarungan tatap-tatapan di antara keduanya. Sampai akhirnya Mingyu mengernyit. Mengalah karena tidak melihat ada keuntungan yang bisa dihasilkan dari pertarungan kecil ini.

"Hei. Kenapa kau menatapku seperti itu? Ada yang salah denganku?" Suara Mingyu tidak keluar seperti seseorang yang khawatir jika benar-benar ada yang salah dengannya. Lebih terkesan seperti menantang untuk menunjukkan apa yang bisa salah soal dirinya?

"Atau... ada sesuatu di wajahku?" Mingyu menangkup kedua pipinya sendiri. Kim Doyeon–adik pertama Mingyu–akan segera mencari toilet untuk memuntahkan isi perut jika melihat itu–terutama jika mengingat rambut-rambut yang tumbuh di sekitar bibir dan dagu Mingyu. Namun orang lain normalnya termasuk Kaeun tentu menganggap itu adalah hal menggemaskan. Terlalu menggemaskan untuk ukuran seorang pemimpin perusahaan besar yang luar biasa berwibawa ketika sedang memimpin rapat.

Ya, ada sesuatu di wajah tampan luar biasa sempurna (Kaeun tidak bisa berpikir lebih lagi tentang ini, penggambaran visualnya sudah sangat maksimal) bosnya itu. Tepatnya pada iris mata cokelat gelapnya. Kaeun melihat refleksi wajahnya di sana.

Sedikit yang ia tahu, Mingyu mungkin tidak setiap saat menatap dirinya. Tapi bosnya itu menatapnya sekali, lalu sekali lagi. Dan kemudian sibuk membayangkan dirinya di sela-sela hal penting lain–bisa jadi hal penting lain itu adalah Jeon Wonwoo, istri tercinta si bos atau pekerjaan si bos itu sendiri–yang seharusnya dipikirkan sinapsis otaknya.

Satu dentingan yang menandakan mereka sampai, menyadarkan keduanya. Pintu lift terbuka.

Mingyu menarik kedua sudut bibir yang membentuk ukiran memabukkan. Ia menepuk bahu sang sekretaris. "Kau bisa mengungkapkannya di ruanganku."

Hanya memerlukan beberapa langkah lebar, mereka sampai. Mingyu mendudukkan diri di atas singgasana. Kaeun berdiri di hadapannya setelah menutup pintu dan menyusul langkah.

Mingyu mengangkat sebelah alis. "Jadi?"

Kaeun bepikir soal dignitas dirinya dan berpikir untuk tidak mengatakan apa-apa. Tapi apa salahnya mem-boosting self esteem bosnya ini sampai meroket? Ia kembali membasahi tenggorokan setelah tegukan terakhirnya sebelum membacakan konklusi di ruang rapat tadi.

"Penampilan anda sungguh menawan tuan Kim. Ini adalah perdana bagi saya untuk menyaksikan secara langsung anda yang memimpin rapat sebesar itu. Tanggung jawab anda adalah yang terbesar. Saya juga sudah menerka bahwa tidak sesederhana itu anda menjalankannya. Tapi anda bisa membuat semuanya terkendali. Anda ternyata terlalu intelek hingga ada beberapa baris kalimat yang sejujurnya tidak begitu saya pahami. Entah karena saya yang masih harus banyak belajar, atau–"

"Kau benar," Kalimat Mingyu menginterupsi. Membuat Kaeun tersadar bahwa ia baru saja menunjukkan betapa banyak hal mengganjal dalam keterdiamannya di dalam lift tadi. "Kau memang perlu banyak belajar. Itulah sebabnya kau harus berada di sisiku."

Serahkan padaku untuk memberikan pujian pada seorang narsistik macam manusia satu ini, ujar Kaeun secara internal.

Tapi seberapa narsispun Mingyu, Kaeun yang tadinya hanya sekedar mengagumi, sekarang jadi benar-benar menginginkan pria di hadapannya itu.

Seutuhnya.

"Dan terima kasih." Mingyu tiba-tiba sedikit melunak ekspresinya. Bukan wajah tampan nan angkuh dan berwibawa seperti biasanya. "Kau adalah orang pertama yang memberikan jenis pujian seperti itu padaku. Aku merasa sangat tersanjung. Kau itu istimewa." Mingyu sama sekali tidak terganggu soal itu. The whole you're the special one for me, biasanya membuat manusia normal merasa harus bersikap malu-malu untuk mengatakannya. Tapi Mingyu sama sekali tidak terlihat awkward soal hal tersebut.

Benar-benar playboy brengsek pro sialan.

Lupakan Jeon Wonwoo, sang istri yang pasti akan dibakar api cemburu jika melihat cara Mingyu yang terlalu berlebihan memperlakukan Kaeun. Pria bermata rubah itu tidak sedang berada di sini lagipula. Mingyu bebas melakukan apapun tanpa pengawasan istrinya. Dan lupakan tentang Wonwoo yang telah berjuang keras selama ini untuk mengandung dan melahirkan anak Mingyu. Saat ini ada sosok wanita cantik di depan mata. Mingyu tidak akan melewatkan ini.

"Kau adalah orang yang menempati kursi di dekatku ketika aku mengadakan rapat. Jadi aku bisa memperhatikanmu dengan mudah. Dan seperti halnya aku, kau juga memberikan penampilan terbaikmu petang ini. Bahkan aku sedikit terkejut. Caramu berbicara itu lebih dari apa yang aku ekspektasikan. Untuk ukuran seseorang dengan pengalaman pertama sebagai seorang sekretaris, kau benar-benar impresif." Tanpa sadar Mingyu membuka forum evaluasi pribadi. "Kinerjamu selama kau menjalankan tugas di sini membuktikan bahwa wanita memang adalah pemilik sifat multi-tasking terbaik. Yang mampu memfokuskan diri tidak hanya pada satu hal saja."

Beberapa baris kalimat panjang itu membuat Kaeun merona. "Terima kasih tuan. Anda juga merupakan salah satu orang yang berjasa dalam membimbing saya pada posisi ini."

"Terima kasih juga atas kerjasamamu. Kuharap selanjutnya kita akan berkembang lagi menjadi lebih baik dan membantu memajukan perusahaan ini dengan baik."

Kaeun hanya membalas dengan jawaban pelan dan mengangguk hormat.

"Aku sempat meninggalkan berkas-berkas berita acara yang harus kutandatangani tadi. Tolong bawa kemari bersamaan dengan terhidangnya secangkir kopi buatanmu. Kau tahu? Tangan cantikmu adalah pembuat kopi ternikmat yang pernah aku cicipi."

Untuk yang kesekian kalinya dalam satu hari, Mingyu telah berhasil membuat wajah para wanita di perusahaannya merona karena kalimatnya.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

"Halo."

Mingyu menjawab panggilan di tengah kesibukan mencoretkan tinta di atas permukaan kertas-kertas. Menandatangani berkas-berkas yang menumpuk di atas meja.

"Jemput aku." Orang di seberang menjawab to the point. Tidak ada manis-manisnya sama sekali. Bagaimana Mingyu akan merindukan sosok itu kalau begini?

"Aku sangat sibuk. Kau bisa pergi sendiri."

"Aku malas. Di luar pasti panas sekali. Dan tidak ada mobil. Hoshi membawanya ke kediaman Woozi."

"Naik bus atau taksi bisa kan?"

"Tidak mau."

Sifat Wonwoo yang terkadang menyebalkan membuat Mingyu semakin ingin menghabiskan waktu lebih banyak bersama Kaeun saja. Sekretarisnya itu cantik, seksi, fresh, dan menyenangkan. Sayangnya wanita itu harus melakukan pekerjaan di dalam ruangannya sendiri.

Tapi Mingyu adalah seorang Presiden Direktur. Ia bisa melakukan apapun yang ia kehendaki bukan? Bagaimana jika ia meminta Kaeun untuk menemaninya seharian di dalam ruangan kantornya selama Wonwoo tidak ada? Bukankah itu adalah ide yang bagus?

"Pakai Uber."

"Apa bedanya?"

"Ya sudah. Aku akan mengirim seorang supir untuk menjemputmu kemari."

"Aku tidak mau menunggu terlalu lama."

"Apa bedanya dengan aku yang menjemputmu?"

Mingyu masih mencoba untuk bersabar menghadapi Wonwoo. Setelah memberi tanda tangan masih ada berkas laporan data pemeriksaan setiap kamar dan pengunjung yang harus ia periksa. Ia tidak mau konsentrasinya buyar begitu saja hanya karena perdebatan kecilnya bersama istrinya.

"Kau akan menjemputku atau tidak?"

"Tidak."

"Ya sudah. Aku tidak akan datang ke sana."

Mingyu membanting kasar bolpoinnya ke meja.

"Kau tidak bisa berbuat seenaknya seperti itu."

"Tentu saja aku bisa."

"Kau tidak khawatir dengan bongbong?" Ia mengangkat sebelah alis, mengatakan kelemahan terbesar Wonwoo.

"Aku percaya ia akan aman bersamamu."

Sial.

Tidak berhasil, terima kasih banyak. Wonwoo terlalu mencintai Mingyu. Dan salah satu arti cinta dalam kamus Wonwoo adalah rasa saling percaya. Sehingga ia juga terlampau mempercayai Mingyu.

"Ia tidak sedang bersamaku sekarang."

"Lalu bersama siapa?"

Sekarang barulah Mingyu bisa mendengar nada kekhawatiran dalam kalimat tanya Wonwoo.

"Kang Seulgi dan Son Seungwan." Mingyu menjawab malas.

"Ya ampun. Bagaimana bisa kau meninggalkannya bersama para penggosip itu? Nanti kalau mereka mengajarinya bergosip bagaimana?"

Wonwoo mengenal kedua wanita itu. Terutama Seulgi. Wonwoo dan Seulgi pernah menjadi pelayan biasa dan bekerja bersama-sama. Tapi sebenarnya bagi Wonwoo, Seulgi tidak begitu menyenangkan. Wanita itu terlalu perfeksionis dan seringkali menyalahkan segala situasi pada Wonwoo bahkan atas kesalahan-kesalahan kecil. Terutama ketika Wonwoo memecahkan banyak piring dan gelas. Seulgi akan terus mengomel tiada henti hingga membuat Wonwoo sakit kepala. Keduanya tidak saling menyukai.

"Biarkan saja. Bongbong kan adalah perempuan. Itu adalah hal natural." Mingyu menjawab santai. Berbanding terbalik dengan perasaan cemas luar biasa Wonwoo.

"Cepat ambil kembali anakku atau aku benar-benar tidak akan datang."

"Kau ini kenapa sih?"

"Aku tidak akan pergi kemanapun. Apapun yang akan terjadi pada anakku nanti akan menjadi tanggung jawabmu."

"Tapi aku sudah mengatakan pada semua orang kalau aku akan mengenalkanmu." Pekerjaan Mingyu yang menumpuk sudah cukup membuatnya sakit kepala. Dan Wonwoo menambahnya dengan membuatnya menjadi frustrasi.

"Kalau aku tidak mau?"

"Tidak ada jatah." Ia sudah putus asa. Itu adalah senjata terampuhnya.

Jika sudah begini, Wonwoo tidak akan bisa menolak.

"Fuck you."

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

"Jeon Wonwoo."

Seulgi refleks menyapa. Tidak terlalu ramah. Hanya menunjukkan bahwa ia terkejut bisa kembali bertemu dengan mitra lamanya setelah satu tahun berlalu.

"Hai nona Kang. Hai nona Son." Wonwoo memberikan sapaan formal. Tidak lupa ia juga menyapa dua resepsionis lainnya yang duduk agak berjauhan.

Wonwoo bisa menghampiri kedua wanita itu barusan karena melihat Yeongyu di sana, omong-omong. Bayi itu didudukkan di atas meja resepsionis dengan memainkan boneka karet di tangan. Sesekali memasukkan benda berbentuk tokoh Disney itu ke dalam mulut dan melumurinya dengan liur. Sementara Seulgi selalu memegangi tubuh mungil itu dengan hati-hati. Yeongyu terlalu asik dan sibuk dengan mainannya sehingga ia mengabaikan kedatangan Wonwoo. Meskipun ia telah melihat ibunya itu.

"Kau tampan sekali," ujar Wendy. Ia tidak semenyebalkan Seulgi. Tapi tetap saja Wonwoo juga tidak begitu menyukainya. Karena wanita itu sama-sama penggosip yang ia yakini sering membicarakan Wonwoo juga di belakangnya.

"Terima kasih."

"Kau terlihat sangat berbeda."

Wonwoo dengan menggunakan jas dan gaya rambut sama dengan Mingyu, membuatnya terlihat sangat tampan dan berkelas. Jika dilihat dari merk pakaiannya, Wonwoo tampak seperti orang berada. Kalau hanya pelayan biasa sih tidak akan mampu untuk membeli jas itu. Itu adalah salah satu hal yang membuat kedua wanita di hadapannya menatap heran.

"Apakah setelah kau dipecat dari sini kau mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di luar sana?"

"Apa sekarang kau telah menjadi orang yang sukses dan cukup mampu untuk menginap di sini?"

Mereka mengajukan pertanyaan secara bergantian. Dan pertanyaan Seulgi benar-benar sarkastik dan menyinggung perasaan Wonwoo.

"Bagaimana dengan hubunganmu dengan Jung Chaeyeon? Apakah kalian sudah bertunangan?"

"Kenapa kau hanya senyum-senyum seperti itu?"

Tentu saja. Wonwoo hanya sedang tertawa secara mental karena kedua wanita yang belum mengetahui kebenaran tentang Wonwoo itu terlihat bodoh di mata Wonwoo.

"Aku datang kemari untuk sebuah urusan penting."

"Siapa yang akan kau temui untuk saat ini?"

"Mingyu."

"Berani sekali kau memanggil tuan Kim Mingyu seperti itu. Memangnya kau siapa? Teman dekatnya? Apakah kalian sedekat itu?"

"Atau kau ingin meminta sesuatu padanya dengan memohon sampai kau bersujud di kakinya?"

Keduanya lalu tertawa seperti seorang penyihir jahat yang menertawakan keberhasilannya mencelakai sang korban.

Mereka masih mengingat dengan baik kejadian itu. Kejadian yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri di lokasi dan berakhir menjadi berita terpanas di seluruh penjuru perusahaan itu. Sekarang bahwa salah satu dari mereka mengungkit luka lama itu kembali di hadapan Wonwoo hal itu benar-benar melukai perasaan Wonwoo. Ia tahu saat itu harga dirinya menghilang entah ke mana. Tapi bukan berarti orang-orang bisa menjadikannya bahan lelucon seperti ini.

"Kalian..." Wonwoo berusaha menahan emosi buruknya. Ia tidak pernah mengeluarkan tantrum semudah Mingyu. Tapi jika ingin, ia bisa melakukannya lebih buruk dari yang Mingyu lakukan.

Tapi mereka adalah wanita. Ia tidak akan membuang energinya dengan percuma hanya untuk berurusan dengan makhluk-makhluk Tuhan paling lemah ini.

"Kau ini lucu sekali Jeon Wonwoo. Kau pikir kami tidak tahu latar belakangmu?"

"Kau bukan berasal dari kalangan yang akan tuan Kim Mingyu jadikan sebagai teman."

"Tapi aku pikir ia bisa saja membawa Wonwoo ke rumahnya."

"Benarkah? Untuk apa?" Wendy membuat ekspresi wajahnya terlihat antusias ketika bertanya demikian.

"Untuk dijadikan sebagai pelayan atau tukang kebun."

Dan mereka kembali tertawa bersama.

Wonwoo merasa dadanya sesak. Ia membutuhkan oksigen lebih banyak sehingga nafasnya memburu dengan cepat.

"Berikan padaku." Ia mencoba meraih Yeongyu. Ia tidak sudi jika anaknya berada di sekitar manusia-manusia jahat seperti dua nenek sihir di depannya itu. Tapi sebelum ia berhasil merebutnya, Wendy langsung mendekap tubuh Yeongyu dan melangkah mundur lebih dalam di belakang pembatas ruangan lobi dan resepsionis itu sehingga Wonwoo tidak bisa menyentuhnya.

"Hei. Apa yang kau lakukan? Kau berniat untuk menculik putri tuan Kim dan meminta tebusan?"

"Kubilang berikan padaku."

"Sebaiknya kau pergi dari sini atau aku akan memanggil keamanan."

"Ada ribut-ribut apa ini?" tanya Mingyu yang terlihat bingung ketika tahu-tahu sudah berada di sana tanpa hawa kehadiran manusia.

"Tuan." Seulgi dan Wendy buru-buru menunduk memberi hormat.

"Tuan. Apakah anda ingat dengan mantan pelayan di sini yang pernah bersujud pada anda?"

"Ia berusaha untuk menculik nona kecil. Tentu saja saya tidak akan memberikannya."

"Apa kau bilang?" ujar Wonwoo tidak terima.

Mingyu tertawa kecil. "Kenapa kau melarang anakku untuk kembali ke dekapan ibunya sendiri?"

"Apa?"

"Maksud tuan–"

"Wonwoo adalah istriku yang dibicarakan itu. Ia yang telah mengandung dan melahirkan Yeongyu."

Detik itu kedua wanita itu membeku.

"Jadi... nyonya Jeon yang dimaksud adalah... Jeon Wonwoo?"

Dahi Wonwoo mengernyit hebat. "Nyonya?"

"Ya. Maksudku, tuan Jeon." Mingyu meralat. Seharusnya ia mengatakan itu sejak awal. Sehingga tidak perlu terjadi keributan dan membuat Wonwoo membuang-buang waktu.

"Kalian bisa memanggilnya tuan Jeon sekarang."

"Astaga. Tuan. Kami benar-benar tidak tahu. Tolong maafkan kami karena telah lancang."

"Maafkan kami tuan Jeon."

Keduanya membungkuk hingga membentuk angle sebanyak sembilan puluh derajat. Wajah keduanya merah padam. Mereka berada pada puncak rasa malu tertingginya. Dan jika mereka benar-benar berada di atas puncak secara literal, mereka pasti sudah melompat ke dalam jurang sejak tadi.

"Permintaan maaf diterima." Wonwoo menjawab sedingin es di kutub utara. Ia sudah terlanjur kesal. Dan ia sengaja tidak mengaku sebagai istri bos mereka sejak tadi karena ia yakin mereka tidak akan percaya. Dan hanya akan menertawakannya seperti apa yang mereka lakukan sebelumnya.

Mereka hanya perlu mendengar langsung dari mulut Mingyu agar benar-benar percaya. Dan benar saja kan?

Tapi di luar masalah seputar kepercayaan, Seulgi dan Wendy memiliki tanda tanya besar di kepala mereka. Bagaimana bisa Mingyu menikahi Wonwoo yang hanya seorang mantan pelayan yang telah dipecat karena ketidakbecusannya dalam pekerjaan? Apakah kedua pria itu memang sudah menjalin hubungan secara diam-diam sejak lama semenjak keduanya bertemu di dalam hotel ini? Dan tanda tanya lainnya.

Sudahlah. Penggosip seperti mereka pasti akan segera tahu jawabannya? Dan langsung menyebarkan ke seisi perusahaan. Serahkan pada mereka untuk urusan penyebaran berita kilat semacam ini.

Lagipula Mingyu memang berniat akan menceritakan semuanya. Pada Kaeun. Dan Kaeun sudah pasti akan menginformasikannya pada Seulgi. Dan jika Seulgi sudah mengetahui sesuatu maka tidak akan ada rahasia yang aman.

"Jadi bagaimana kau sampai ke sini?" tanya Mingyu.

"Dengan Younghee." Wonwoo menjawab singkat. Sebenarnya itu adalah motor sport kesayangan Wonwoo. Tapi karena ia membelinya menggunakan uang pemberian Mingyu, jadi ia pikir Mingyu juga yang harus memberi nama. Sehingga sekarang mereka memanggilnya Younghee.

"Tidak panas?" Mingyu tersenyum meledek.

"Tutup mulutmu." Sebenarnya Wonwoo masih tidak terima dengan dirinya yang kalah berargumen tadi. Ia ingin sekali melanjutkan perdebatan tidak bermutu mereka jika tidak mendengar suara tangis Yeongyu.

Yeongyu seringkali menangis tanpa sebab. Dan sepertinya tangisannya kali ini juga tidak memiliki alasan yang jelas. Ia melempar mainannya dengan kuat sehingga berhasil mengenai wajah Mingyu.

"Ya ampun tuan apakah anda baik-baik saja?" Seulgi menyentuh wajah Mingyu ketika berujar khawatir seperti itu. Mingyu tersenyum bahagia mendapat sentuhan dari tangan mulus berjemari lentik itu. Sungguh, telapak tangan Wonwoo tidak selembut ini.

Wonwoo mendelik tidak suka ke arah mereka.

Dasar pecicilan.

"Tidak perlu khawatir nona Kang. Aku tidak apa-apa. Putriku yang tidak baik-baik saja."

"Nona kecil, apa yang terjadi padamu?" Wendy berusaha menenangkan bayi di dalam dekapannya.

Tapi ia tidak berhenti menangis.

"Wendy, berikan pada tuan Jeon." Seulgi berbisik keras.

Wendy yang baru menyadari itu segera menyerahkan Yeongyu pada Wonwoo dengan tangan bergetar. Residu rasa malu yang masih mendera.

"Jangan menangis sayang. Eomma di sini. Tenanglah. Semuanya baik-baik saja." Wonwoo menyapu air mata yang mengalir di pipi bayinya. Kemudian menciumi bekas jejak air mata di kedua pipi gembil itu bergantian. Ia tidak tega. Hatinya sakit melihat bayinya menangis seperti ini.

Mingyu memungut mainan yang terjatuh. Ia menekan benda itu di depan wajah Yeongyu hingga menimbulkan bunyi khas mainan karet. Mencoba membantu menghentikan tangis bayinya.

Dengan tangisan yang semakin keras, Yeongyu mengangkat tangan. Berusaha merebut benda itu dari tangan sang ayah.

Mingyu hendak memberikannya,

"Itu sudah terjatuh! Banyak kuman di dalamnya! Kau ingin anakmu sakit, hah?! Cepat ganti dengan yang baru!" Semua orang terkejut melihat Wonwoo membentak Mingyu. Bahkan beberapa pelayan dan bell boy yang kebetulan lewat sekalian mencuri-curi lihat hal janggal tentang kebersamaan Mingyu dan Wonwoo itu juga berhasil dibuat terkejut.

Tidak ada yang berani berteriak di wajah seorang presdir Kim Mingyu yang terhormat seperti itu.

Tapi Mingyu dengan kesabarannya meminta maaf pada Wonwoo dan segera mengambil mainan lain di dalam tas yang terletak di atas meja resepsionis. Lalu menyerahkan itu pada Yeongyu. Ia tidak benar-benar ingin meminta maaf, sebenarnya. Hanya saja ia tidak memiliki gairah untuk menciptakan scene di dalam perusahaan yang ia kelola ini dan dicap sebagai suami yang buruk.

Ya, Jeon Wonwoo adalah pengecualian.

Dari deretan tokoh manusia yang harus tunduk pada Mingyu.

Perlahan tangis bayi itu mereda. Tidak lama ia kembali asik dengan mainannya. Ia memukul-mukulkan benda itu ke dada Wonwoo hingga menimbulkan bunyi mainan dan membuatnya tertawa.

Wonwoo tersenyum lega. "Anak pintar." Ia mengecup puncak kepala Yeongyu. "Anak appa memang pintar."

"Ia anakmu juga Wonwoo."

Seulgi dan Wendy merasa iri melihat keluarga kecil itu memamerkan kebahagiaan.

Dan mereka juga tidak akan pernah melupakan kejadian memalukan yang menimpa mereka.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Wonwoo telah berjanji untuk tidak mengganggu Mingyu selama suaminya itu sibuk berkutat dengan pekerjaannya.

Jadi ia membawa Yeongyu berjalan-jalan di sekitar hotel. Tapi karena ia pikir sangat membosankan, ia memasuki daerah resort. Lingkungan dengan atmosfer serupa dengan lingkungan perumahan modern. Ia melewati kolam renang, lapangan golf, dan berbagai spot lainnya di sana.

Ia menghabiskan waktu cukup lama hingga merasa lelah dan pegal di bagian punggung. Ia berjalan kembali ke dalam hotel dan memasuki lift menuju lantai dimana kantor Mingyu berada. Ia pikir pekerjaan Mingyu pasti akan selesai sebentar lagi sehingga ia yakin ia tidak akan mengganggunya jika mendekatinya sekarang?

Dan ketika membuka pintu ruangan, ia tidak menyambung langkah.

Ia terdiam mematung mendapati sesuatu yang ia tidak menyangka akan melihatnya.

Ia melihat suaminya bercumbu dengan sang sekretaris.

Kim Mingyu. Berciuman. Dengan Lee Kaeun.

Mingyu seperti orang kesetanan. Melakukan ciuman panas dengan penuh bara gairah. Dengan jas dan rompi yang sudah terlempar entah kemana. Dasi yang cekikannya melonggar. Dua kancing teratas terbuka. Dan rambut berantakan.

Wonwoo tidak bisa melihat ini.

Wonwoo tidak bisa menerima pemandangan menyakitkan ini.

Dengan bentuk hati yang telah hancur menjadi serpihan tak kasat mata, ia mengambil langkah lebar meninggalkan tempat itu tanpa sepatah katapun.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Kaeun telah pergi meninggalkan Mingyu

Sekarang Mingyu terkejut melihat penampilan dirinya yang ternyata sudah tak karuan.

"Ya ampun. Wonwoo tidak bisa melihat kondisiku seperti ini." Ia buru-buru merapikan kembali dirinya hingga tertata seperti semula.

Ia melihat cermin dan tidak ada bekas lipstik di wajahnya. Kaeun memakai ultra matte liquid fucsia sehingga tidak meninggalkan jejak apapun di sana. Dan tidak ada sesuatu yang perlu Mingyu hapus di wajahnya.

Ia melihat jam dan berpikir bahwa Wonwoo sudah pergi begitu lama. Ia mendial nomor Wonwoo. Bermaksud mengajaknya pulang. Atau mungkin berjalan-jalan di luar? Apapun itu. Yang penting keluar dari dalam perusahaan ini. Dan menghirup udara segar bersama-sama.

Wonwoo tidak menjawab panggilan. Dan Mingyu tidak menyerah untuk menghubunginya.

Masih dengan posisi tangan kiri memegangi telepon genggam yang permukaan layarnya menempel pada telinga kiri, ia berjalan cepat. Menuruni lantai menggunakan lift menuju lantai dasar. Setidaknya Wonwoo telah mengatakan ke mana ia akan pergi sebelum keduanya berpisah tadi. Jadi Mingyu tahu ke mana ia harus mencari.

Ia hendak menghampiri Wendy di mejanya untuk mengetahui mungkin saja ia melihat ke mana Wonwoo pergi?

"Mingyu."

Tapi seseorang memanggil namanya.

Ia membalik badan. Melihat Jun berdiri di dekatnya.

"Kenapa kau tidak mengabariku kalau kau akan datang?" Mingyu bertanya heran.

"Kita harus bicara."

Mingyu yang melihat keseriusan di raut wajah Jun, menurunkan tangan. Memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jas. Melupakan Wonwoo seketika.

Jun pasti akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting. Mungkin sesuatu yang menyangkut kelangsungan kelompoknya?

Mingyu tidak tahu apa itu. Tapi yang jelas ia akan sangat tidak siap untuk menerima kabar buruk. Dan ini terlalu tiba-tiba.

Ia harap seburuk apapun itu, itu adalah sesuatu yang ia akan mampu untuk menghadapi dan menyelesaikannya.

Ia membawa Jun berbelok ke sebuah pintu kaca besar di sebelah kiri. Itu adalah pintu yang membawa mereka masuk ke dalam sebuah restoran makanan cepat saji, salah satu perusahaan sponsor yang bekerjasama dengan perusahaan Mingyu.

Ia mengambil tempat duduk tepat di samping jendela yang menyuguhkan warna-warni pemandangan gelanggang renang kecil. Menempati meja untuk dua orang. Indera penciuman keduanya yang masih berfungsi dengan sangat baik bisa menangkap semerbak aroma ayam goreng tepung dan olahan ayam lainnya yang dibumbui dengan berbagai macam rasa.

"Kau ingin minum apa?" tanya Mingyu.

"Sparkling wine." Jun menjawab tanpa gairah. Membuat Mingyu semakin curiga.

"Selamat datang di DD Chicken, Wen Junhui. Tempat bebas alkohol dan minuman keras lainnya. Termasuk anggur yang kau inginkan." Mingyu berkata sinis dengan penuh penekanan. "Kalau kau menginginkan anggur, seharusnya kita berbelok ke pintu sebelah kanan tadi untuk memasuki bar. Ada ratusan jenis minuman beralkohol di sana."

"Kau yang langsung membawaku kemari tanpa meminta pendapatku."

"Ya sudah. Mau pindah?" Ia tidak mengelak tentang Jun yang secara tidak langsung menyalahkannya. Ia hanya ingin menghindari perdebatan tidak bermutu. Sudah cukup perdebatannya dengan Wonwoo di dalam telepon tadi. Tidak perlu ditambah-tambah lagi.

"Tidak perlu. Sudah terlanjur di sini. Lanjutkan saja."

"Baiklah. Kau mau minum apa?" Mingyu mengajukan pertanyaan yang sama untuk yang kedua kalinya.

"Cola."

Mingyu memanggil pelayan. Memesankan satu cola khas restoran ini untuk Jun dan segelas teh buah untuknya sendiri.

"Kau adalah orang yang baik," ujar Jun dengan nada matter of fact setelah pelayan berlalu dari hadapan keduanya untuk membuatkan pesanan.

Mingyu terkekeh ritmis. "Aku tahu itu." Sejenak ia memang bisa tertawa. Tapi tetap saja ia tidak merasakan ketenangan dalam dirinya. Ada sesuatu yang besar, ia semakin yakin.

"Aku sedang serius Kim Mingyu." Jun menatap tajam mata sang lawan bicara yang duduk di hadapannya itu.

Melihat itu, Mingyu menelan ludah. "Baiklah, baiklah. Jadi kenapa tiba-tiba kau berkata seperti itu? Kalau kau ada maunya, kau tidak perlu begitu. Kau biasanya langsung mengatakan apa yang kau mau tanpa harus menjilat terlebih dahulu."

Jun memicingkan mata, membuat wajahnya terlihat creepy. "Kau menuduhku menjilatmu?"

Mingyu mencoba untuk menyembunyikan rasa takutnya dari tatapan itu. Jun dalam mode serius benar-benar menakutkan. "Lalu apa lagi memangnya?"

"Itu adalah awal pembicaraan. Asal kau tahu saja, aku tidak memiliki maksud apapun di luar itu."

Mingyu melakukan inspirasi lalu menghembuskan karbondioksida perlahan. "Oke, aku akan mendengarkan."

Sang pemimpin kelompok memajukan badan, tidak lagi menyandarkan punggungnya pada kepala kursi. Sejak awal ia tidak bisa terlihat rileks. Ia menciptakan aura ketegangan berwarna ungu gelap di sekitar mereka. "Bisakah kau menggantikan posisiku sebagai pemimpin The Subshell?"

Mingyu menautkan sepasang alis. "Kau ini bicara apa?" Sungguh, itu terdengar sangat konyol. Ia harap Jun hanya sedang menjahilinya dan sebentar lagi akan meneriakkan ucapan selamat ulang tahun padanya.

Tapi itu tidak mungkin. Ulang tahun Mingyu sudah berlalu satu bulan yang lalu.

Jun melipat kedua tangan di atas meja. "Apa kau tidak merasa kalau dilihat dari sifatmu kau lebih layak untuk dijadikan seorang pemimpin?"

Mingyu menggaruk tengkuk. "Benarkah? Aku tidak tahu itu? Dan memang aku tidak merasa?"

"Ya. Kau orang baik dan kau pantas."

"Sebenarnya kau ini kenapa? Kau membuatku takut."

"Aku bukan hantu. Jadi tidak ada yang perlu kau takutkan."

"Dengar, Jun. Kau menjaga kami semua dengan baik. Kita semua saling menjaga. Dan kau memiliki caramu sendiri untuk melindungi kami."

"Jadi jawabanmu?"

Mingyu menghembuskan nafas lelah. Ia menggeleng pelan. "Tidak bisa. Sampai kapanpun tidak akan ada yang bisa menggantikanmu."

Jun meraih tangan Mingyu yang menganggur di atas meja. Ia menariknya dan menggenggamnya.

"Hei. Apa yang kau lakukan?" Mingyu mencoba melepaskan sentuhan itu karena merasa risih.

Namun Jun menggenggam tangan berkulit jauh lebih gelap darinya itu semakin erat seakan tidak ingin melepaskan. "Tolonglah, Mingyu."

"Lepaskan dulu! Kau mau nanti semua pengunjung yang melihat ini mengira kita adalah sepasang kekasih?"

"Jangan memerintahku."

Jun lebih mempererat lagi genggamannya karena merasa kesal. Jadi lebih seperti cengkeraman kasar. Membuat Mingyu meringis. Ia ingin melepasnya. Namun di luar dugaan, Jun lebih kuat darinya.

Pesanan datang dan hal itu akhirnya berhasil membuat Jun melepas genggaman tangannya.

"Terima kasih nona," ujar Mingyu pada pelayan cantik itu. Seorang pelayan yang tidak sengaja melihat adegan barusan dan salah paham.

Sekali lagi terima kasih nona. Karena telah mengantarkan pesanan kami. Dan membuat ia melepaskan tanganku.

Siap-siap saja setelah ini akan tersebar gosip panas tentang si bos yang berkencan dengan pria lain.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Gelapnya langit tengah malam pusat kota seperti jubah yang menutupi langit cerah di baliknya. Musim semi yang hangat, malam yang selalu dingin. Tidak ada hujan, bintang dengan bebas menyebar di seisi angkasa. Bertaburan. Berkelap-kelip cahaya. Seakan menggoda Joshua yang berdiri di bawahnya memandangi mereka. Di taman Yeosohwa yang sepi, sendirian. Tatapannya pada langit hitam itu mengawang jauh hingga memenetrasi berlapis-lapis atmosfer yang tidak jatuh di belakang retina.

Tanggal dua belas. Malam kedua bagi bulan purnama pada bulan Mei ini. Bulatan terang itu mengiluminati, menjadi hal indah lainnya yang menemani Joshua di tempat kaki-kaki panjangnya berpijak. Lampu-lampu taman yang berdiri di sekitarnya menambah adisi cahaya yang membuat langit kelam tidak menutupi sosok Joshua seutuhnya.

Lalu seorang pria dengan gagah menghampirinya. Ia hanya bisa melihat punggung, tapi ia yakin itu adalah Joshua. Sosok yang telah lama tidak ia rindukan. Sosok yang telah lama ia lenyapkan dari dalam pikiran.

"Ada apa kau memanggilku kemari?"

Joshua membalik badan untuk melihat si pemilik suara berat itu. Joshua tersenyum lebar hingga matanya ikut tersenyum. Ia bisa melihat sosok yang terkadang bisa ia benci. Terkadang juga ia rindukan. Ia begitu labil. Terombang-ambing dan tidak bisa berhenti di atas pendiriannya.

Pria itu juga bisa melihat tubuh Joshua. Secara keseluruhan sekarang. Ia bisa menangkap perbedaan signifikan dan terlalu mencolok pada fisik Joshua.

"Joshua." Dokyeom spontan menggumam. Tidak bermaksud menunjukkan keterkejutan.

"Kau datang." Ujar Joshua terlihat lega.

"Siapa yang melakukan itu padamu?" kalimat tanya Dokyeom terdengar menuntut. Joshua tidak benci dituntut. Ia akan memenuhi tuntutan itu selagi ia mampu melakukannya.

Ia tersenyum polos, "Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."

"Perutmu itu."

Yang Dokyeom maksud adalah perut Joshua yang membuncit. Itu adalah bulatan yang besar. Sangat besar, hingga sepertinya tidak akan bertumbuh lebih dan lebih lagi dari ukurannya yang sekarang. Mantel tebal yang menghangatkannya bahkan tidak mampu untuk menutupinya.

"Ah, ini. Aku juga awalnya tidak mengerti." Joshua selalu terlihat rileks setiap kali ia berbicara. Ya, setidaknya untuk saat ini seperti itu. Sepertinya ia benar-benar merindukan Dokyeom. "Aku tidak tahu nama penyakit ini. Tapi Minghao bilang aku tidak sakit."

Dokyeom memperhatikan kata-perkata yang Joshua ucapkan.

"Minghao, Seungkwan, Vernon, dan Dino mengajarkanku banyak hal." Perlahan ia membawa kakinya melangkah maju. Mendekati Dokyeom. Semakin, dan semakin dekat. Ia memegang perutnya. Mengelusnya lembut. Menghargai sesuatu yang lebih rapuh darinya yang hidup di dalam tubuhnya itu. "Aku merasa ada benda asing di dalam perutku. Benda itu tumbuh semakin besar. Aku bisa merasakan benda itu bergerak-gerak. Aku takut. Aku takut benda itu terus membesar dan akan memecahkan perutku. Tapi mereka bilang itu tidak akan terjadi. Mereka bilang benda ini akan segera keluar dari dalam tubuhku dan aku akan mendapatkan tubuh normalku kembali."

Dokyeom tidak satu langkahpun memundurkan tubuh. Hingga ia bisa merasakan perut Joshua bersinggungan dengan perutnya. Perut itu sama kerasnya dengan perut miliknya. Apakah mungkin itu adalah bagian kepala? Tidak, tidak mungkin. Bagian kepala pasti sudah berada di dekat gerbang jalan keluar.

"Aku menunggu. Terus menunggu. Dan benda ini malah terus tumbuh semakin besar. Akhirnya aku bertanya apa yang terjadi padaku? Kenapa bisa begini? Dan mereka bilang penyebabnya adalah dirimu. Aku tidak mengerti apa hubungannya? Lalu mereka bilang hal ini terjadi karena aku melakukan hubungan seks denganmu."

Dokyeom terkejut, lagi. Ia tidak menyangka bahwa hubungannya dengan Joshua selama ini akhirnya berhasil menumbuhkan sesosok buah hati.

Ini adalah yang ia inginkan. Seorang anak, darah dagingnya sendiri. Tapi sayangnya saat ini ia tidak menginginkan Joshua untuk menjadi perantara kelahiran anaknya.

"Aku bertanya apa yang harus kulakukan? Dan mereka bilang aku harus menjaga pergerakan tubuhku. Dan aku tidak boleh berlari. Dan ketika aku melompat kegirangan saat mendengar kabar gembira, mereka menegurku untuk melakukan itu." senyum di wajah Joshua memudar. Dan menghilang sepenuhnya. "Benda ini sangat berat. Aku tidak bisa bergerak dengan bebas dalam waktu yang lama. Benda ini membuatku cepat lelah."

Mungkin ada sedikit perasaan dendam dalam diri Dokyeom karena Joshua pernah mencampakkannya. Tapi mendengar keluhan dan penuturan polos Joshua, tidak bisa dipungkiri, tidak ada yang bisa menghentikannya dari perasaan iba yang bersembunyi di balik perasaan dendam itu.

"Aku pernah mendengar Wonwoo bercerita bahwa ia hamil. Aku hanya menyampaikan informasi itu pada Minghao tapi aku tidak tahu hamil itu apa? Lalu Minghao bilang itu adalah apa yang terjadi padaku sekarang. Aku bertanya apa maksudnya? Ia bilang benda yang tumbuh dalam perutku ini adalah bayi. Dari situ aku baru mengerti dari mana datangnya anak. Ia bilang aku adalah ibu dari bayi ini. Dan kau adalah ayahnya."

"Apakah kau pernah bertanya pada mereka bagaimana benda itu akan keluar dari dalam perutmu?" intonasi Dokyeom tidak kalah dinginnya dengan angin yang berembus, menyibak pelan rambut hitam dan lembut Joshua.

"Tidak."

"Apakah mereka pernah mengatakan sesuatu tentang itu padamu?"

"Tidak. Mereka tidak pernah bilang apa-apa tentang bagaimana benda ini akan keluar dari dalam perutku. Aku juga tidak tahu bagaimana benda ini akan melakukannya?"

"Ia tidak akan keluar sendiri. Kau yang akan melakukannya."

"Aku? Bagaimana bisa?" sekarang giliran Joshua yang merasa terkejut. Terkejut yang ia ekspresikan dengan sangat lemah dan lembut, seperti biasanya.

Sementara wajah Dokyeom mengeras, "Mereka benar-benar tidak bilang padamu? Kau benar-benar tidak tahu apa yang akan kau hadapi sebentar lagi? Kau akan menghadapi sesuatu antara hidup dan mati, kau tahu?"

"Apakah seberbahaya itu?"

Dokyeom tersenyum sarkastik, "Lihat? Kau itu manusia sakit jiwa. Tidak waras. Bisa-bisanya kau hamil. Kau tidak tahu apa yang terjadi pada dirimu. Kau tidak tahu cara menjaga janin dalam tubuhmu. Tapi mereka membiarkanmu menghadapinya. Kau tidak tahu bagaimana cara melahirkan. Kau juga tidak akan tahu bagaimana cara membesarkan anak. Bagaimana bisa kau hanya diam saja?!"

"Memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?" Joshua lebih terlihat pasrah. Terkadang Dokyeom benci dengan salah satu sifat Joshua yang satu ini. Ia terkadang pasrah di saat yang tidak dibutuhkan.

Dokyeom dikalahkan perasaan kesalnya. Ia tidak bisa menahannya lebih lama. Ia menunjuk-nunjuk dada Joshua yang tampak sedikit berisi dan terasa lunak. Joshua sedikit meringis dibuatnya. Itu terasa sakit baginya. "Kau sangat lemah. Biasanya kau akan menangis atau setidaknya melakukan sedikit pemberontakan. Kau tidak melakukannya?" Joshua malah terkadang tidak melakukan apa yang biasa ia lakukan di saat dibutuhkan.

"Aku hanya menangis ketika aku merasa lapar tapi aku tidak bisa memakan apapun. Aku ingin makan tapi semua makanan membuatku ingin muntah. Aku menangis ketika aku tidak bisa tidur dengan nyaman. Hanya itu. Aku tidak mengeluarkan air mataku untuk hal lainnya."

"Apakah mereka mengatakan sesuatu padamu tentang kapan benda itu akan keluar dari tubuhmu?"

"Dokter yang bilang. Baru saja tadi. Katanya benda ini akan keluar dari dalam perutku dalam waktu tiga hari. Tapi aku tidak tahu tiga hari itu seberapa lama?"

Rasanya Dokyeom ingin menjatuhkan diri ke tanah saja sekarang. "Astaga. Tiga hari kau bilang?"

"Ada yang salah dengan itu?"

Dokyeom menggeleng cepat untuk menyadarkan pikiran. Matanya mengerjap. "Apa tujuanmu menceritakan semua ini padaku?"

"Aku pikir kau berhak tahu soal keberadaan anakmu."

"Lalu kau akan meminta sesuatu dariku?" Terlalu buruk. Dokyeom meyakini bahwa ia bukanlah dirinya yang dulu. Yang begitu memuja Joshua hingga pemuda itu berhasil membuatnya meninggalkan logika di belakang kepala hanya demi memikirkan kisah asmara yang mendominasi seluruh isi otak. Yang menawarkan sangtuari dan segala hal yang Joshua ekspektasi. Ya, sekali lagi, Dokyeom bukanlah dirinya yang dulu.

"Tidak." Joshua kembali mengelus perutnya yang sudah semakin turun. Kontraksi pun sudah mulai terasa. Namun ia senantiasa dengan sabar menahan rasa sakit itu. Janin itu benar-benar sudah siap untuk lahir ke dunia dan menatap kejamnya kehidupan kedua orang tuanya. "Aku punya The Eight Shades. Aku tidak perlu meminta apapun darimu."

Dokyeom tidak mengerti apa yang ada di dalam pikiran Joshua saat ini. Juga tidak bisa menerkanya dengan mudah.

"Tapi ada satu hal yang kumau." Joshua melanjutkan kalimat. Dan ia kembali mendekat. Mendekatkan tubuh, juga wajah.

Dokyeom yang langsung tersadar dengan Joshua yang akan mencium bibirnya, segera menghindar. "Tidak. Kau sendiri yang telah mencampakkanku sepuluh bulan yang lalu. Dan sekarang aku sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi padamu. Aku sudah memiliki seseorang yang benar-benar bisa membahagiakanku."

Joshua tahu itu. Minghao mengatakan padanya bahwa Dokyeom menjalin hubungan istimewa dengan Hoshi sekarang. Dan ia pikir ia bisa memaksakan diri untuk menerimanya. Tapi ketika mendengar langsung dari mulut Dokyeom, rasanya begitu sakit. Beribu kali lipat lebih sakit dibandingkan rasa sakit yang mendera bagian bawah perutnya saat ini.

"Kumohon Dokyeom. Sekali ini saja. Berikan aku ciuman terakhir. Aku janji, ini benar-benar yang terakhir. Aku tidak akan meminta apapun lagi. Dan aku tidak akan menemuimu lagi." Joshua memelas. Wajahnya benar-benar terlihat menyedihkan. Dan jujur saja, Dokyeom tetap merasa kasihan melihat itu.

Jadi pada akhirnya ia mengabulkan. Karena Joshua telah berjanji untuk tidak lagi menampakkan diri di hadapannya setelah ini. Itu adalah tawaran menggiurkan yang tidak akan ia tolak.

Dokyeom memejamkan mata. Membiarkan kelopaknya memagari iris cokelat gelap di permukaannya. Membiarkan bibir tipisnya disentuh bibir tipis lain yang sudah lama ia lupakan rasa manis dan sensasinya. Hingga spasi di antara keduanya benar-benar terhapus. Dokyeom menelan ludah. Joshua mencipta friksi dengan menggerakkan bibir, namun Dokyeom tidak sedikitpun melakukan gerakan untuk membalas. Ia hanya membiarkan itu menjadi sebuah sentuhan hambar tanpa adanya afeksi di dalamnya. Afeksi itu ia simpan untuk diberikan cukup hanya pada Hoshi saja.

Buliran bening milik Joshua mengalir di pipinya. Terjatuh membasahi dada Dokyeom yang sedikit terbuka. Dada dingin itu bisa merasakan sesuatu yang hangat menetes padanya.

Ini adalah perpisahan terakhir. Perpisahan yang sesungguhnya benar-benar berpisah. Joshua merasa ini begitu berat, tapi ia terpaksa harus menerimanya.

Dokyeom sudah tidak mencintainya.

Dokyeom sudah tidak menginginkannya.

Jadi untuk apa mereka melanjutkan ini? Janin di dalam kandungan Joshua bukanlah alasan baginya untuk tetap bisa bersama-sama dengan Dokyeom. Bagaimanapun, mereka tetaplah harus berpisah.

Sentuhan terlepas, dua pasang mata yang kembali membuka mendapati Hoshi yang sudah berdiri di dekat sebuah pohon besar. Entah sejak kapan. Ia menatap sepasang manusia beberapa langkah di hadapannya dengan tatapan sakit tak terkira. Ia juga ingin menangis, tapi ia tidak bisa.

"Hoshi." Dokyeom tidak bisa berkata-kata. Ini adalah sebuah petaka.

"Hoshi. Aku minta maaf." Suara Joshua terdengar begitu pelan hingga angin saja bisa ia jadikan sebagai saingan. Entah bagaimana ia merasa bersalah. Sementara setiap kali ia merangkul mesra lengan kekar Seungcheol, ia tidak pernah merasa bersalah pada Jeonghan.

Hoshi mengukir senyum getir, "Tidak, tidak apa-apa. Kau tidak perlu meminta maaf." Dan dengan dramatis melangkah pergi. Berlalu dari jangka pandang dua manusia lainnya.

"Kau–" Dokyeom menatap Joshua geram. Menakuti yang ditatap.

Tangan kanannya melayang, menampar wajah Joshua begitu keras.

Joshua meringis ketika memegangi pipi kirinya yang sakit dan memerah. Ia tidak menyangka Dokyeom akan sangat tega untuk melakukannya sejauh ini.

Masa bodoh. Dokyeom sudah tidak peduli lagi. Ia benar-benar marah sekarang. Ia sangat menyesali Joshua yang telah berhasil membuatnya bersedia disentuhnya. Dan kenapa Hoshi harus melihatnya?

"Kau benar-benar pengganggu!" Dokyeom mengabsolutkan kemarahan dengan mendorong tubuh Joshua sekuat tenaga hingga punggung ringkih Joshua membentur pohon besar di belakangnya.

Joshua kembali merintih. Ia tidak sampai terjatuh. Tapi ia memegangi perut yang kontraksinya semakin terasa.

Dan Dokyeom kukuh pada ketidak-acuhannya.

Joshua menatapnya tak percaya. Dan Dokyeom memberikan tatapan nyalang sebagai sesuatu yang ia berikan untuk terakhir kali dalam perpisahannya dengan Joshua.

Dan ia pergi. Meninggalkan Joshua sendiri. Sendiri menanggung rasa sakit yang ia rasakan di berbagai sudut titik di dalam dirinya. Entah itu perut, kepala, jiwa, hati, bahkan darah yang berdesir hingga pembuluh nadi.

Kemudian sifat sensitif dan berlebihan seperti wanita pada dirinya kembali muncul. Ia melanjutkan tangis. Ia terisak dengan pilu. Tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangisi keadaannya yang begitu menyedihkan. Dan menghapus segala kenangan indahnya bersama Dokyeom di masa lalu yang terlalu mengabadi dalam ingatannya.

Kenapa kau harus meninggalkanku dengan cara seperti ini...?

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Flashback

"Joshua. Ia hamil." Jeonghan akhirnya mengatakan sesuatu yang jelas. Kejelasan yang membuat mata Seungcheol yang sudah bundar itu membola. "Bagaimana kau akan menjelaskan ini semua padaku?" nada Jeonghan semakin tinggi.

Seungcheol sempat terdiam sejenak.

Sebelum ia menurunkan tangan. Dan memberikan tatapan intens pada Jeonghan dan berujar mantap.

"Kurasa aku tidak perlu menjelaskan apapun lagi."

Dan sedetik kemudian indera pendengaran keduanya menangkap suara friksi pisau itu jatuh beradu dengan lantai putih.

Jeonghan merasa ada seseorang membakar batu bara di matanya saat ini. Panas. Panas yang benar-benar menciptakan perih.

Seungcheol bisa melihat kekasihnya itu terengah. Tidak berkedip. Menahan sekuat tenaga agar air mata tidak mengalir di wajah merahnya.

"Jadi semuanya sudah jelas?" Jeonghan berucap tidak percaya.

"Ya. Kau tahu betul aku sangat mencintaimu." Seungcheol menjawab mantap. Lebih mantap dari sebelumnya.

Jeonghan menautkan sepasang alis, "Maksudmu?"

Ekspresi wajah Seungcheol melunak, "Seberapa banyakpun Joshua memintaku untuk menyentuhnya, aku tidak pernah bersedia."

Jeonghan tidak menanggapi. Ia masih tidak mengerti dengan perkataan sang pria terkasih.

"Aku setia padamu. Yang mata hatiku lihat hanyalah dirimu. Tidak ada yang lain. Kau adalah satu-satunya dalam hidupku."

Air mata yang sejak tadi Jeonghan tahan, akhirnya menetes keluar. Setetes. Dua tetes. Hingga berubah menjadi sungai air mata. Seungcheol telah berhasil–tidak bermaksud–membolak-balikkan perasaannya.

"Aku bersumpah. Yoon Jeonghan. Demi bumi dan langit. Aku tidak pernah menyentuh Joshua. Jika ia hamil, anaknya bukanlah milikku. Aku bisa memastikan itu. Aku akan melakukan tes DNA pada anak itu kalau kau mau."

Dan detik itu Jeonghan menyerbu tubuh Seungcheol. Menyerangnya dengan sebuah pelukan erat. Seungcheol membalas pelukan. Jeonghan mendekapnya lebih erat, seolah tak ingin melepaskan. Ia tidak akan pernah lagi merelakan orang lain menyentuh kekasihnya. Seungcheol-nya. Miliknya.

"Kau percaya padaku?" Seungcheol berbisik lembut. Jeonghan mengangguk di bahu Seungcheol sebagai jawaban.

"Lalu siapa yang telah melakukan itu padanya?" Jeonghan bertanya ketika pelukan itu terlepas.

Seungcheol membantu sang kekasih menyeka air matanya, "Menurutmu siapa lagi?"

"Kita harus memberitahu Minghao sebelum terjadi salah paham." Ujar Jeonghan. "Menurutmu kenapa Minghao langsung mengatakan bahwa kau yang telah menghamili Joshua? Apa kau pikir Joshua yang telah mengakuinya sendiri?"

"Tidak. Orang seperti dia tidak akan mengerti masalah seperti itu. Kupikir Minghao sendiri yang langsung menarik konklusi begitu saja."

Flashback end

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Pernah satu kali ketiga anggota lama The Subshell melakukan penerbangan ke Nevada untuk mengunjungi pusat perjudian terbesar dunia. Las Vegas. Kota yang tidak pernah tidur. Kota yang selalu menyala. Kota penuh dosa.

Ketiganya menginap di salah satu hotel terbesar yang menyediakan fasilitas casino terbaik di kota itu. Di sana mereka dipertemukan dengan sekelompok penjudi wanita. Mereka berjumlah empat anggota.

Jika Seoul memiliki The Subshell sebagai penjudi paling tangguh maka Las Vegas memiliki Pussy Cats. The Subshell versi Las Vegas. Tapi meskipun The Subshell kalah jumlah, mereka tidak kalah tanding. Seperti halnya ketika bertarung melawan The Eight Shades, ketika The Subshell melawan Pussy Cats, tidak ada yang pernah tahu siapa pemenangnya?

Belasan bulan berlalu, kucing-kucing nakal itu kembali datang untuk menantang mereka. Seorang wanita berdarah asli Amerika dengan mata biru dan rambut pirang yang merupakan pemimpin mereka menghubungi langsung dari Las Vegas. Melakukan skype bersama Mingyu yang saat itu berada sendirian di dalam markas.

Jun tidak ada. Pria oriental itu benar-benar meninggalkan The Subshell dengan keputusan secara sepihak. Tanpa persetujuan. Tanpa berpamitan. Ia meninggalkan keempat anggotanya begitu saja. Dan lebih buruk dari itu, ia hanya mengatakannya pada Mingyu. Karena ia telah menyerahkan kepemimpinannya padanya.

Bagus. Sekarang selain memimpin keluarga dan perusahaan, beban dan tanggung jawab berat Mingyu bertambah dengan memimpin sebuah kelompok judi yang menjadi incaran para penjudi lainnya.

Ia jadi penasaran. Apakah ada yang bisa lebih buruk dari ini semua? Ia bertanya sarkastik dalam otak.

Sekarang keputusan apapun tentang kelompok ini berada di tangannya. Ini bukanlah hal yang mudah. Ada banyak hal yang harus ia pertimbangkan.

Ia ingin mendiskusikan hal ini terlebih dahulu bersama sisa anggotanya. Tapi ia hanya sendirian sekarang. Sementara wanita itu meminta jawaban saat itu juga.

Mingyu sudah mencoba untuk menghubungi ketiganya. Tapi sialnya di saat-saat dibutuhkan seperti ini tidak ada satupun dari mereka yang menjawab panggilan.

Ia kembali berpikir.

Taruhan kali ini adalah delapan ratus juta dollar. Itu adalah taruhan terbesar yang akan ia lakukan seumur hidupnya, sepanjang ia pernah mengenal gelapnya dunia perjudian.

Jika ia menerima dan mendapatkan kemenangan, kelompoknya akan mendapatkan keuntungan besar. Jika ia menolak, ia memang akan kehilangan kesempatan itu. Meskipun itu bukanlah masalah. Tapi harga diri The Subshell berada di atas segala-galanya.

Wonwoo sebenarnya sudah memutuskan untuk berhenti berjudi sejak ia melahirkan Yeongyu. Karena sang putri adalah prioritas utama. Jadi lupakan tentang Wonwoo. Mingyu tidak akan memikirkannya lagi. Meskipun ia merasa jengkel karena Wonwoo tiba-tiba menghilang bersama Yeongyu tanpa sebab dan tidak memberi kabar sedikitpun hingga saat ini. Tidak apa-apa. Wonwoo adalah orang yang kuat. Ia pandai berkelahi dan sudah bisa mengoperasikan senjata dengan baik. Jadi ia bisa menjaga diri dan juga putrinya dengan baik. Begitulah Mingyu meyakini.

Sekarang tinggal Dokyeom dan Hoshi.

Ini sudah lewat tengah malam tapi keduanya belum juga kembali. Mungkin keduanya sedang berkencan? Bermesraan di tengah dunia malam atau akan menginap di hotel? Atau apalah? Mingyu pikir mereka berdua juga terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sehingga tidak ingin ada yang mengganggu dan juga tidak mengabari.

Great.

Tapi setidaknya Mingyu yakin mereka akan segera kembali.

Padahal saat ini Dokyeom sendiri saja tidak tahu ke mana perginya Hoshi? Ia masih mencari. Dan Hoshi sendiri di luar sana tidak tahu ke mana ia akan pergi?

Sekarang tinggal Mingyu sendiri.

Ia sebenarnya baru saja akan mendaftarkan diri untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi untuk meraih gelar profesor. Jika ia menerima tantangan Pussy Cats maka ia harus menunda cita-citanya karena ia harus benar-benar memfokuskan diri pada latihan permainan judi. Sehingga ia bisa memenangkan taruhannya. Jika The Subshell kalah, separuh isi brankas besar di markasnya akan lenyap. Dan ia juga tidak mungkin menggunakan uang profit dari perusahaannya hanya demi kepentingan pibadi. Itu terdengar sangat tidak profesional.

Tapi ia harus menanamkan optimisme dalam diri. Bahwa kelompoknya pasti akan memenangkan ini.

"Aku sudah memutuskan."

"Jadi, keputusanmu?"

Mingyu menarik nafas dalam-dalam.

Dan bayangan Jun muncul sekelebatan dalam ingatannya ketika menutup mata.

Ia melihat Jun menyeringai padanya.

Seringaian mempesona yang benar-benar sialan.

Mingyu bisa sedikit tersenyum dengan hanya membayangkan itu.

Jun.

Pergilah dengan tenang.

Dan lihat saja.

Kami semua di sini.

Akan membuatmu bangga.

Ia membuka mata.

Membulatkan tekad.

"Challenge accepted."

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Beberapa hari berlalu, seperti halnya pemakaman Joshua yang telah menjadi kisah lalu.

Beberapa yang mengantarkan kepergian Joshua ketika dedaunan merah jambu cherry blossom beterbangan di antaranya Dokyeom, Seungcheol, Jeonghan, Mingyu, dan keempat anggota The Eight Shades.

Itu adalah siang musim semi penuh haru.

Tidak ada dari kedelapan manusia itu yang tidak mengeluarkan air mata. Terutama Dokyeom dan Seungcheol yang menguras cairan lebih banyak dari kelenjar air matanya dari yang orang lain lakukan.

Seungcheol ingat ketika pertama kali pandang miliknya dan Joshua bertabrakan di pelelangan. Sejak saat itu ia yakin bahwa dirinya harus membeli Joshua untuk menyelamatkannya dari para pria tambun hidung belang yang hanya ingin memuaskan nafsunya. Ia bahkan sampai mengorbankan seluruh tabungan ditambah berhutang pada The Subshell hanya untuk mendapatkan Joshua. Pria lemah dan sakit jiwa yang berakhir terus menempelinya dan memaksanya untuk menyentuhnya. Itu memang membuat risih Seungcheol yang telah memiliki Jeonghan. Tapi Joshua adalah sosok indah replika Raguel yang bisa ia nikmati keindahannya. Sampai akhirnya ia memberikannya pada Dokyeom. Lalu Joshua datang kembali padanya. Kemudian pergi lagi untuk bergabung dengan The Eight Shades. Seungcheol berharap Joshua tidak akan pernah kembali. Karena ia harus memikirkan Jeonghan. Dan benar saja, sekarang Joshua benar-benar tidak akan pernah kembali. Seungcheol bahkan belum melunasi seluruh hutangnya. Tapi seseorang yang telah membuatnya rela memiliki hutang selama bertahun-tahun itu, telah pergi untuk selamanya.

Dokyeom ingat ketika pertama kali akan mengambil Joshua dari tangan Seungcheol. Pemuda itu bertanya sedih pada Seungcheol tentang ia yang ingin membuangnya. Dan Dokyeom mendengar itu. Ia mendengar suara Joshua yang mengalun lembut untuk pertama kali. Ia juga melihat bagaimana Joshua yang awalnya menolak, pada akhirnya patuh dan ikut dengannya. Ia berjuang melakukan apa saja demi melihat kebahagiaan Joshua. Ia membawanya pergi. Menghiburnya. Bahkan bersedia memuaskan hasrat seksualnya. Hingga akhirnya ia bisa melihat kebahagiaan itu. Joshua menerimanya sebagai kekasih. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama. Menciptakan kenangan indah. Melakukan hubungan seks dengan perasaan cinta. Hingga pada satu titik Joshua kembali melihat Seungcheol dan meninggalkan Dokyeom. Kemudian datang kembali hanya untuk memberi kabar tentang anak mereka. Dan yang paling Dokyeom sesali adalah ia harus melakukan kekerasan fisik padanya di saat-saat terakhirnya.

Jeonghan ingat ketika pertama kali menyaksikan kegilaan sang kekasih yang bersikeras membeli Joshua seharga seratus juta di pelelangan. Sejak saat itu ia tahu bahwa pemuda itu akan menjadi seorang pengganggu nantinya. Ia meminta Seungceol mengeluarkan Joshua dari rumahnya. Akhirnya Seungcheol memberikannya pada Dokyeom dan Jeonghan merasa hidupnya kembali tenang. Sampai akhirnya Joshua kembali dan mengacaukan lagi kehidupan bahagia Jeonghan bersama sang kekasih. Seungcheol sering meninggalkan Jeonghan berdua dengan Joshua. Di malam hari ia selalu melakukannya karena harus bekerja di klub malam sampai pagi. Jeonghan harus meninggalkan pekerjaan sebagai pengawas kamera cctv karena diminta untuk menjaga Joshua di malam hari. Joshua selalu mengganggu Jeonghan. Memainkan rambut panjangnya. Menanyakan banyak hal padanya. Mengikutinya kemanapun ia pergi. Dan yang paling menyebalkan adalah ketika Seungcheol berada di rumah, Joshua selalu menempel padanya. Tapi di dalam hati Jeonghan yang paling dasar, ia menganggap bahwa Joshua itu lucu. Selalu memintanya untuk dibacakan cerita sebelum pergi tidur. Jeonghan sendiri akan menyukai cerita yang ia bacakan dari buku cerita dan mereka akan tertawa bersama. Dan siang hari sesungguhnya akan terasa sepi tanpa kehadiran Joshua. Tapi semua kesenangan itu tidak akan pernah Jeonghan dapatkan lagi.

Mengajarkan permainan judi pada Joshua adalah hal yang paling Minghao, Seungkwan, Vernon, dan Dino hindari. Manusia tidak normal seperti Joshua sangat sulit untuk menerima pelajaran yang mengharuskannya untuk berhitung, mengingat angka, dan mengingat hal lainnya. Keempat anggota lama The Eight Shades harus berjuang keras melatih Joshua hingga mereka tertekan. Joshua sangat menyebalkan. Tapi ia juga adalah sosok yang menyenangkan. Yang memberikan banyak warna di tengah suramnya kehidupan mereka. Sesekali ia bersekongkol dengan Seungkwan dan Dino untuk menjahili Vernon. Dan ada kalanya ia berada di pihak Vernon dan Seungkwan untuk berbuat usil pada Dino. Dan Minghao hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu. Tapi sebenarnya ia merasa lega karena kehadiran Joshua ternyata bisa menghadirkan juga kebahagiaan yang ia bawa bersamanya.

Kemudian Mingyu? Ia tidak ingat memiliki momen tertentu bersama Joshua. Ia hanya menjadi saksi atas wajah antusias Dokyeom setiap kali menceritakan betapa menyenangkannya bisa mengenal dan menghabiskan waktu bersama Joshua. Yah, ia rasa hanya itu. Dan sekarang bahwa ia mendengar kabar duka. Ia juga bisa memahami betapa terpukulnya Dokyeom. Meskipun Dokyeom tampak bahagia bersama Hoshi. Dan terlihat seperti sudah melupakan Joshua. Namun tidak ada kata melupakan yang benar-benar melupakan.

Wonwoo dan Hoshi tidak datang. Karena hingga saat ini keduanya bahkan belum kembali ke tempat tinggalnya. Mingyu dan Dokyeom sampai menyerah. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu ketidakpastian yang menyakitkan.

Minghao meletakkan kalung salib milik Joshua di atas pusara. Kemudian semua orang berdoa dalam diam. Mereka memeluk berbagai macam keyakinan. Mereka memiliki cara yang berbeda dalam berdoa. Tapi mereka memiliki tujuan yang sama. Mengirim doa untuk Joshua dan bayinya, dan mengharapkan yang terbaik bagi keduanya.

Dan kepergian Joshua mungkin memang adalah yang terbaik untuk semua orang.

Dokyeom menatap kuburan Joshua dan kuburan anaknya di samping Joshua secara bergantian. Membuatnya semakin sakit jika menatap dua hal berharga itu terlalu lama.

Semuanya terjadi begitu cepat.

Ia tidak akan mengampuni siapapun yang telah membunuh Joshua.

Tidak akan pernah.

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Beberapa kisah yang dipaparkan saksi mata membuat polisi membawa Dokyeom untuk melakukan sebuah investigasi.

Saat ini mungkin ia juga hanyalah seorang saksi. Tapi sesuatu bisa saja mengubahnya menjadi seorang tersangka.

Ia telah melepas sepatu, menyerahkan senjata, dan melakukan pemeriksaan sidik jari sebelum akhirnya dibawa ke dalam ruang interogasi.

Polisi yang yang bertugas menginterogasi ditemani dua polisi lainnya yang bertugas sebagai pengawal.

Dokyeom tidak dungu. Ia pikir jika polisi mengatakan bahwa posisinya hanya sebagai saksi, para polisi itu tidak akan melakukannya hingga sejauh ini.

Tapi ya sudahlah. Toh ia tidak merasa bersalah. Jadi tidak perlu merasa takut. Ia hanya perlu menjawab pertanyaan apa adanya. Dan semua akan selesai. Ia akan kembali dibebaskan, sehingga ia sendiri bisa ikut mencaritahu siapa pelaku pembunuhan Joshua.

"Ada di mana kau tanggal dua belas Mei ketika tengah malam?"

"Aku? Aku memenuhi Panggilan Joshua untuk menemuinya di taman Yeosohwa."

"Itu adalah tempat dan waktu kematian Hong Jisoo."

"Ada tapak sepatu di bagian depan pakaiannya. Ia menerima tendangan di bagian dada." Polisi lainnya menimpali. Mereka bisa mengajukan pertanyaan dan pernyataan pada Dokyeom secara bergantian.

"Sebelum mendiang dikebumikan, kami melakukan otopsi dan visum. Dan mendapatkan sidik jari telapak tangan kanan di pipi kirinya. Dan kulitnya memerah. Ia ditampar. Lalu kami menemukan sebuah peluru bersarang di otaknya. Jenis peluru itu adalah SVD 550."

Biasanya pembedahan pada proses otopsi mencakup penyayatan pada bagian tubuh. Tapi karena polisi menemukan lubang di kening Joshua, mereka hanya melakukan penyayatan pada bagian kepala.

Pemotongan dilakukan dari satu telinga ke telinga lain. Tengkorak Joshua digergaji dan diambil. Mereka kemudian mengangkat perlahan otak yang terlihat jelas. Organ lunak itu diperiksa, dan benar saja. Seperti yang telah diyakini. Ada sebuah peluru di dalam otak Joshua.

Setelah mengeluarkan peluru itu, otak Joshua kembali disimpan di dalam kepalanya. Mereka menutupnya kembali dengan tengkorak yang telah digergaji, dan menjahit kepalanya kembali sehingga Joshua kembali seperti semula.

Mereka melakukan otopsi itu setelah terlebih dahulu mengeluarkan bayinya, tentu saja. Dan sayang sekali. Bayi laki-laki yang telah memiliki seluruh organ dan anggota tubuh yang lengkap dan sempurna itu juga sudah tidak memiliki nyawa lagi. Makhluk mungil tak berdosa itu tidak pernah memiliki kesempatan untuk bernafas di dunia ini. Padahal hanya tinggal sedikit lagi. Tapi ia ternyata harus ikut bersama sang ibu.

"Sidik jari di pipi korban cocok dengan milikmu."

"Tapak sepatu di pakaian korban cocok dengan milikmu."

"Peluru yang bersarang di dalam otak korban cocok dengan milikmu."

"Kalian ingin mengatakan bahwa aku adalah pelakunya?" tanya Dokyeom tidak terima.

"Itu sudah sangat jelas. Semuanya sudah terbukti."

"Masalah sidik jari memang adalah harga mati. Dan aku mengaku, aku memang menamparnya. Tapi tapak sepatu? Bukankah manusia di seluruh dunia bisa memakai sepatu yang sama? Semarah apapun aku pada Joshua, aku tidak pernah sampai menendang dadanya seumur hidupku!"

"Lalu memang siapa lagi? Dengan beberapa bukti lainnya yang sudah jelas, kenapa kami harus menjadikan orang lain sebagai tersangka?"

Benar kan? Dokyeom menjadi tersangka.

"Dan untuk peluru. Ini adalah jenis peluru yang tidak bisa orang lain dapatkan. Kita harus pergi ke Battle Creek di Michigan, untuk mendapatkannya secara langsung. Tidak diperjualbelikan secara sembarangan. Hanya satu orang yang bisa memilikinya di sini. Kau."

"Kalau aku yang melakukannya, kenapa tidak sekalian saja sejak awal aku tidak mengakui bahwa aku menemui Joshua di sana saat itu?"

"Tentu saja. Kau mengakuinya sebagian agar kau tidak terlihat mencurigakan."

"Tapi hanya karena aku menemuinya di sana dan menampar wajahnya, bukan berarti aku juga yang telah melakukan kekerasan fisik lainnya padanya kan?"

"Kau sudah terlanjur menyakitinya sehingga kau berpikir kenapa tidak sekalian saja menghabisinya dan menghilangkan nyawanya? Kalaupun kami berpikir orang lain yang melakukan sisa tindak kekerasan, kenapa kami harus menjadikan orang lain sebagai tersangka sementara kami sudah memiliki banyak bukti kuat bahwa kau yang melakukannya?"

Polisi-polisi itu tidak berhenti menyudutkan Dokyeom. Mereka tahu mereka tidak akan bisa membuat ia mengaku. Tapi mereka juga tahu bahwa ia tidak akan bisa memberikan lagi jawaban atau pembelaan yang masuk akal.

"Tapi aku bahkan tidak pernah memikirkan sesuatu tentang membunuhnya!"

"Kau akan ditahan sampai hari pengadilan."

"Apa?!"

"Bawa ia. Masukkan ke dalam sel nomor sembilan puluh lima." Polisi itu memberi perintah pada polisi bawahannya. Dan yang diperintah itu begitu saja patuh. Mereka mengunci sepasang pergelangan tangan Dokyeom dengan borgol. Dan membawanya bangkit. Kemudian menariknya untuk keluar dari sana dan akan mengurungnya di balik jeruji besi di ruangan lain.

"Tidak! Aku tidak membunuh Joshua! Seseorang pasti telah mengatur semua ini!"

"Diam!"

"Jelaskan saja seluruh pembelaanmu di pengadilan."

"Kami harap kau tidak akan salah memilih pengacara."

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

Mingyu baru saja kembali dari kantor polisi untuk menemui Dokyeom. Dan ia langsung merebahkan tubuh lelahnya di atas sofa empuk yang terasa keras ketika ia merasa tertekan.

Ini adalah malam lainnya dimana markas begitu sepi.

Ini adalah malam lainnya dimana ia hanya sendiri.

Tempat ini jadi terasa dingin tanpa kehadiran manusia lain selain dirinya.

Hoshi. Kau di mana?

Wonwoo. Kau di mana?

Dokyeom. Tunggu aku. Aku akan segera membebaskanmu.

Terakhir kali ia bertemu dengan Dokyeom, ia berjanji padanya. Untuk membayar pengacara terbaik yang bisa membela dan melepaskan Dokyeom di pengadiilan sehingga ia dibebaskan dari hukuman. Dokyeom tidak bersalah. Mereka harus menunjukkan kebenaran pada dunia.

Ia kembali teringat pada Jun.

Seandainya Jun di sini, ia pasti tahu yang terbaik yang harus ia lakukan.

Wonwoo dan Hoshi menghilang entah ke mana, dan entah sampai kapan.

Dokyeom mendekam di dalam sel penjara.

Jun meninggalkan mereka semua dengan alasan yang ia rahasiakan.

Jika semua orang pergi seperti ini, apa yang harus kukatakan pada Pussy Cats?

Jun. Lihatlah semua kekacauan ini.

Apakah kau akan kembali dan menolongku menyelesaikan semuanya?

Atau setidaknya membantu untuk membangunkanku dari mimpi buruk ini?

-oO-Stealing Our Thunder-Oo-

.

Bersambung

.

Q: Mingyu ngga serius ngasih nama anaknya bongbong kan?

A: Enggak lah. Itu cuma nama panggilan aja kok xD

.

Q: Mamanya Mingyu dapet telepon dari siapa?! Berbahaya kah?

A: Biasa, dari rekan bisnis. Enggak kok gak berbahaya xD

.

S: Aku langsung research dan liat kalau Xuanyi WJSN lahir tanggal 26 Januari.

R: Di chapter kemaren aku juga udah mention tanggalnya kok. Rowoon yg bilang pas debaynya baru lahir xD

.

Q: Anaknya perempuan kan? Kok Rowoon bilang 'putra pertama' sih?

A: Lebih general. Kalo bilang putri pertama, anak kedua-nya kan tar belom tentu cewek lagi xD

.

S: Kok aku ikut ngeden ya.

R: Sama sih xD

.

S: Aku mikirin bapaknya Mingyu mulu, gedeg tingkat dewa.

R: Aku juga belom tau kapan ayah Mingyu bisa luluh xD

.

Q: Perguruan tinggi khusus bahasa asing? STBA kah?

A: Bukan xD

.

Q: Operasi apa kak?

A: Ya... ada lah pokonya xD

.

S: Denyut nadi normal dewasa itu bervariasi, cuma rerata 70-100an kalo ga salah. 55 udah masuk bradikardi.

R: Pria dewasa 55-75. Wanita dewasa 60-80. 100 itu bayi dan anak-anak. Mungkin kita beda referensi? Mungkin kita harus observasi lagi?

.

S: Perubahan Mingyu terlalu drastis dari chap sebelumnya.

R: di chap chap sebelumnya Mingyu udah nunjukin perhatiannya perlahan. Dan aku bikin skip time sebulan. Dalam waktu sebulan itu ada banyak hal yang terjadi. Termasuk perubahan perasaan Mingyu ke Wonu. Mingyu yg kepaksa tinggal bareng sama Wonu yg terus berjuang, siapa sih yg bakal tahan? Gak mungkin hal itu gak bikin Mingyu jatuh cinta dan rasa sayangnya tumbuh semakin besar xD

.

S: Nanti pasti kangen sifat tsundere nya si Ming.

R: Suatu saat mungkin bakal muncul sifat yg lebih parah dari itu *smirk*

.

Q: Konfliknya sekarang ke Joshua ya?

A: Mungkin iya, lebih berat ke masalah dia buat saat ini.

.

Q: Gak akan ada pihak ketiga kaaan selain bapak mertua?

A: Ummm gimana ya? xD

.

S: 3 pertanyaan awal itu dari gue semua wkwk dibales satu satu kk.

R: Empat malah xD

.

S: MINGYU MALAH MAKIN CINTAAAAAA tapi sejak kapan?

R: Sejak negara api menyerang #bhaks. Gak dhink xD sejak ngeliat perjuangannya Wonu yg berusaha ngedapetin hati dia.

.

S: Baru kali ini gue baca ff Meanie Tzuyu sama Wonu akur, biasanya cem air sama minyak. Pasti karena dirimu suka Tzuyu, gue bener kan?

R: Ini pertanyaan cukup dijawab ya atau enggak. Tapi aku malah jadi pengen cerita xD awalnya gegara Mingyu suka dipasangin sama Tzuyu. Aku jadi suka sama Tzuyu. Aku suka bgt Twice sejak awal. Dan aku jadi ganti bias jadi dia. Aku MinTzu shipper yg bener-bener ngeship mereka. Agak gaib sih, soalnya gada momen, ehe. Biarlah. Biarkan shipper ini bahagia dengan imajinasinya :'] aku seneng kalo ada Tzuyu di ff Meanie sebagai orang ketiga meskipun dia dijelek-jelekin ama penulis dan dihujat abis-abisan ama pembaca. Yg penting ada MinTzu nya wkwkwk dan tentang Tzuyu yg akur ama Wonu di sini, not really. Ceritanya mereka gak akur kok. Liat aja dari kata-kata Tzuyu yg menusuk. Juga Wonu yg balesin terus menerus. Cuma, mereka gak punya hubungan yg buruk. Dan oh iya, segala kekayaan ortunya Tzuyu yg aku sebutin di chap kemaren itu real. Ortu dia seakan nyaris jadi manusia terkaya di Taiwan xD

.

Q: Kenapa mesti Yugyeom sih, kan gue jadi cemburu.

A: Karena Tzuyu ama Yugyeom seagensi jadi biar lebih kerasa feel nya aja buat diri aku sendiri wkwkwk. Yg penting Mingyu ama Tzuyu udah putus. Jadi siapapun yg jadi pasangan Tzuyu, yg penting Meanie udah hidup dengan tenang berdua xD

.

Q: Bicarain kontraksi, tau banget kak rasanya, pernah ngalamin?

A: Enggak xD Cuma tiap kali dapet, perutku selalu kram. Aku sering ngeluh rasanya kek mules mau lahiran. Tapi kata yg udah berpengalaman, sakitnya lebih dari itu. Lah. Dikasih kram gini aja aku udah ngerasa menderita bgt, gimana dengan kontraksi mau melahirkan yg katanya jauh lebih sakit itu?

.

S: I'm still hoping for SeokSoo.

R: Please don't. Hubungan mereka udah gak ada harapan lagi :']

.

S: Bayinya punya Seokmin meybi... ini jebakan batman lagi meybi...

R: Pinter. Ini pembaca udah belajar dari pengalaman ya xD

.

S: Kenapa Josh jadi kena gangguan mental dan hamil pulaaa :[[ agak kesian dia ditinggal banyak laki :[

R: Well, sebenernya dia punya kesempatan buat bisa dapetin DK sebagai pendamping hidup. Tapi dia sendiri yg menyianyiakannya. Jadi ya... udah xD

.

D: Semoga author masih mau ngelanjutin ff ini yaaa.

F: Masih kok, tenang aja xD aku bakal berusaha buat terus lanjutin ff ini ampe tamat.

.

A: Haru? Dipanggilnya Ruru. Walopun Ruru aslinya cowo tapi tetep imut imut kaya cewe kok,,, dalam bahasa Korea artinya hari, tapi kalo di bahasa Jepang artinya musim semi. Tapi 26 Januari itu masih musim dingin ya? Hah bingung sendiri jadinya,,,

R: Yaps. Musim dingin bertahan ampe awal Maret gitu kan kalo gak salah. Ya udah kalo gitu namanya Tsubaki aja *tetiba Jepang xD

.

S: Nista bet ngebayangin mas Wonu ngejen ngejen di kamar bersalin :'] tapi udah biasa.

R: Jangankan di bagian itu. Dari awal aja aku udah nistain Wonu dengan bikin dia punya cewek yg minta dia beliin cincin mahal xD

.

D: Jaga kesehatan biar bisa lanjutin Meanie dengan mulus, semulus pipi Boo Seungkwan :']

R: Bayangin pipi Seungkwan mulus, tetiba aku jadi pengen cium Seungkwan masa. Aku emang gemes bgt ama dia lagian xD

.

S: Adem panas aku tuh baca part waktu Wonu melahirkan :"]

R: Aku aja pas ngetiknya berasa gimanaaa gitu xD

.

S: Aku males banget thor bikin akun eh waktu mau nyoba ternyata gampang :[[

R: Ya emang gampang. Aku aja punya enam akun ffn wkwkwk.

.

S: Mungkin kamu ngiranya emang kuroenji jadinya pas muncul kurorenji kamu ga pilih itu.

R: Engga. Aku searchnya di fanfictionnet search. Bukan di google. Makanya ga muncul sama sekali xD

.

D: Coba baca Shine. Itu yang aku maksud gaya penulisan yang mirip ini.

F: Udah aku baca. Dan kamu bener. Style nulis dia mirip sama aku. Cuma beda dikit wkwkwk.

.

D: Coba Wonu sama Seungcheol aja.

F: Meh.

.

S: Gak ada peliharaannya, sayangggggg.

R: Kan udah mati. Udah dikubur di Anyang wkwkwk.

.

Chapter 9 reviews: 81

Chapter 10 words: 81x200=16200

81?! You guys rock! xD

Sayangnya chap ini harus aku potong di sini dan totalnya cuma 12k words :[ tapi aku ga mau ingkar janji jadi aku bakal gantiin sisa words nya buat tambahan di chap depan ya :]

.

Berikut daftar nama yg disaranin sama pembaca:

Hana

Hanwoo *why would I name Meanie's baby with Korean beef? xD

Haru

Laurent *tetiba western xD

Nakyung

Jeonsa

Seonhee

Sewon

Yeongyu

Ahreum

Binie *such a nickname

Minah

Minsoo

Minwoo *I told you none of Korean parents name their daughters this :']

Miso *kuah kedelai Jepang xD

Misoon *ini sangat jadul sih sebenernya :']

Bongbong -_-

Bonghee *terlalu jadul xD

Wooyu *susu? xD

Yoora

Younghee

Eunwoo

Ruru

Gyuri

Gyuwon

Hyeongji

.

Wah banyak juga ya. Makasih banyak loh buat sarannya. Tapi maaf aku cuma bisa pilih satu xD dan yg aku pilih gak jelek kan?

Terus aku tegasin sekali lagi kalo ada nemu bagian yg sama dalam chap ini dengan ff lain, ff lain itu adalah murni tulisan aku. Jadi awas aja kalo nuduh plagiat. Bakal langsung aku apus komennya *yg nuduh plagiat semoga anon jadi bisa kuhapus. Tapi kalo pake akun ya gimana... :']

Btw Joshua mati. Dia gak bakal ditinggal siapapun lagi. Gak bakal gangguin hubungan orang lain lagi. Karena dia gak akan pernah muncul lagi di sini.

Makasih buat yg udah ninggalin jejak di chap sebelumnya:

Kwon Luna | LittleOoh | WooMina

Beanie | memegyu | Taringnya Mingyu

Seonbaenim | TheTealDetail | csyjkmjw

Pims13 | neneseonjangnim | Males login

17karat | adellares | daebaektaeluv

Piggypowerz | kimssijeonnim | s00nbaenim

Meanielifeee | sherinagumay28 | nonu

Silent Noise | heolgyu | 123456789

Rosequartz | Dirtynwet Wonwoo | bighit7

Nosebleed | Alda Trand | bettylafea

Redlane Ache | DeadfulMental0214 | bornona

Ami | Byun Chanbi | zyelkim

So-sotaAlarms | Guest

Special thanks to:

SHEVANNY DISPATCH | hikaru na yuuhi | Anon

Itsathenazi | aigyuu | MAXCHO

Kyunie | Dodio347 | Sari411

Beanienim | ria | meaniekrr

Akasuna no Yumi | syupit | Himeure

Jeon Yeowoo | seseseeseoh12 | Seulinjeonwonu

Vreixy | bbysbrth | KimSparkles

Nanabbui | pandagame | Oswmunz

Niken | Guest

Oke, karena lama aku ga muncul, jadi banyak juga yg pengen aku sampein. Banyaaakkk bgt.

Awalnya pas baru beres operasi aku pikir ini sakitnya gak bakal ilang. Tapi berkat doa dari orang orang sekitar, juga dari kalian, skrg aku udah sembuuuhhh. Aku jadi gak nyesel menyampaikan hal ini di cuap cuap chap kemaren, karena jadi makin banyak yg doain aku xD makasih banyak ya :*

Sesungguhnya aku punya akun ao3 tapi aku gak ngepost cerita di sana. Cuma jadi pembaca ff Svt ama Pristin aja. Aku juga punya akun aff alias asianfanfics. Aku ngepost ff ff ku dalam bahasa Inggris di sana. Ada yg punya juga? Ayo kita temenan xD dan aku juga punya akun wattpad. Tapi aku gak ngepost ff di sana. Cuma bikin reading list novel sama ff straight aja. CheolSoo juga sih. Soalnya kalo JeongCheol di ffn juga banyak. Pokonya kalo di ffn masih ada ff yg aku cari, aku gak bakal nyari dimanapun lagi. Ffn dan wattpad, dua duanya punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Tapi aku lebih nyaman di ffn. Filternya lebih enak. Dan ngeliat jumlah pembaca yg masih loyal sama ffn, aku jadi makin betah di sini.

Aku baru aja ngapusin ff di akun ini. Lebih dari 10 ff. Aku suka gitu sih kalo ngerasa gak pede ama ff itu atau ffnya gak lanjut mulu. gak peduli jumlah fav, follow, review, chapter, sama wordsnya udah sebanyak apa. Pokonya kalo gak aku lanjut ya aku hapus. Kadang aku gitu sih orangnya, gegabah, ehe. Aku harap aku gak bakal hapus TSUC cuma karena ff ini gak lanjut.

Apa kalian mikir bahwa di mv Adore U pas bagian chorus awal itu suara Jeonghan dicover sama Seungkwan? Kalo iya, then your life is a lie lol. Kenapa? Karena pas terakhir aku denger lagu itu, aku baru ngeh. Itu bukan suara Seungkwan loh. Itu suara Bumzu! Well, gada yg pernah bilang gitu sih. Tapi aku yakin itu bener bener suara Bumzu :'] nah di bagian chorus lainnya baru deh Seungkwan.

Aku lagi suka bgt sama Wanna One. Aku cinta Jaehwan /kecupbasah/ dan aku ngeship 2park atau chamwink. Ada yg sama? Ehe. Tapi tenang aja. Aku masih tetep stay sama Svt kok.

Btw aku pikir kalo di dunia tulisan, maksudku novel dan ff, kalian harus manggil penulis dengan penname. Ternyata gak juga. Di fandom ff sebelah, aku dipanggil kak anna atau kak ann. Real name. Udah lama sih. Udah sejak dua taun yg lalu. Kalian boleh manggil aku kek gitu kalo lebih ngerasa nyaman dengan panggilan itu :]

Satu lagi. Aku tau yg ini super telat bgt tapi tetep pengen ngucapin, selamat taun baruuu. Gong xi gong xi gong xin nian kuai le. Yeah since I'm Chinese so I celebrated it *sebenernya bahasa cinaku adalah yg terburuk meski belajar sejak kecil wkwkwk kalian yg juga chinese apa masih ada yg belom lancar chinese nya? xD dan aku mau curhat lagi #helehudahkebanyakan. Aku lahir taun anjing dan skrg udah taun anjing lagi. This is my year! But why angpao nya dikit sekali T-T *literally curhat ini mah.

Pardon my typographical errors in the story and get you disturbed /stiker biksu di line dengan keyword pray/ yah namanya juga manusia tempatnya salah :'] kesempurnaan mah hanya milik Allah :'] maaf juga kalo bacotan aku malah keliatan jadi lebih panjang dibanding ff nya xD

Sampai jumpa di chap depan, kapanpun itu. Jangan lupa tinggalin jejak di chap ini :*