Chapter 10: Little, Little, Little...

Cliff tak lagi bicara. Dia hanya menunduk dan memejamkan mata dengan wajah yang terlihat murung. Jack tidak tahu apa yang ada di pikiran pemuda itu. Dia ingin bertanya, tapi melihat Cliff yang seperti itu, rasanya itu bukan hal yang tepat walaupun Jack merasa penasaran. Carter pun tidak lagi keluar dari Kotak Pengakuan Dosa. Apalagi waktu baginya untuk keluar dari kotak itu masihlah lama.

Gereja jadi nampak sepi. Jack tidak tahan dengan kesunyian ini. Ini terlalu sepi dibanding Perpustakaan. Setidaknya kalau di Perpustakaan dirinya masih memiliki kegiatan dengan membaca. Tapi, di sini, bengong saja yang ada. Memang seperti inilah keadaan gereja pada umumnya. Mana mungkin gereja ribut luar biasa. Hanya saja Jack yang pada dasarnya tidak bisa diam terlalu lama, memutuskan untuk keluar saja sebelum dirinya menjadi gila karena terlalu lama diam. Bisa-bisa dia teriak-teriak tidak jelas.

Setelah berdo'a sebentar yang entah itu do'a yang bermanfaat atau tidak, Jack melangkah keluar dengan langkah tanpa suara. Meninggalkan Cliff yang masih duduk diam di tempatnya.

Begitu keluar, Jack langsung bernafas lega. Diam terlalu lama baginya sangat menyiksa.

"Rick, apa kau ingat dulu kita sering bermain di hutan?" Terdengar suara Karen dari samping gereja.

Jack mengintip ke situ. Dilihatnya Karen dan Rick sedang bercakap-cakap berdua di sana.

"Ya, aku ingat," jawab Rick. "Dulu gereja ini juga masih dalam tahap pembangunan. Waktu itu terasa sangat menyenangkan."

"Hei, bagaimana kalau kita ke hutan lagi seperti dulu. Sudah lama tidak ke sana," ajak Karen.

"Ya, ayo pergi!" sahut Rick semangat.

Kemudian mereka berdua berjalan memasuki hutan di belakang gereja. Jack mencoba mengikuti mereka. Akan tetapi, dia tidak lagi melihat mereka di belakang gereja. Gerakan mereka berdua begitu cepat. Jack sampai sempat terdiam melihatnya.

Karena tidak lagi melihat mereka, Jack memutuskan untuk pulang saja. Namun, langkahnya terhenti saat melihat ada makhluk kecil berdiri di depannya. Makhluk yang bahkan lebih kecil dari Brown. Bertelinga elf dan mengenakan baju merah. Makhluk itu mirip peri.

"Halo, budum," sapa makhluk kecil itu. "Aku Chef, budum. Aku salah satu Peri Harvest, budum. Salam kenal, ya, budum. Bila kau membutuhkan bantuan kami, datang saja ke rumah kami yang ada di sana, budum," ujarnya sambil menunjuk sebuah pondok kecil yang berada di belakang Jack. "Tapi, kami tidak bisa menerima tawaran kerja selama musim semi, budum, karena selama musin ini kami mengadakan Pesta Teh, budum."

Jack masih terdiam memandang peri yang ada di depannya itu. Ini mimpi atau bukan? Dan peri yang bernama Chef itu rasanya dia pernah melihat nama itu di suatu tempat. Jack mencoba mengingat. Setelah beberapa saat mengingat, dia akhirnya ingat kalau Chef merupakan nama salah satu tokoh peri yang dibacanya dalam buku cerita mengenai "7 Kurcaci" yang ada di Perpustakaan. Dia tidak menyangka peri itu benar-benar ada. Dia juga ingat kalau tempat tinggal para peri itu, yang tertulis di buku cerita, sama dengan yang ia lihat sekarang, di belakang gereja. Sepertinya cerita tersebut berdasarkan kisah nyata.

"Ada apa, Jack? Kenapa diam, budum?" tanya Chef.

Jack terkejut. "Dari mana kau tahu namaku?" tanyanya heran karena memperkenalkan diri saja belum.

"Kami ini merupakan pengikut setia Dewi Harvest, budum. Kami tahu tentangmu dari Sang Dewi, budum," jawab Chef.

Rupanya pengikut Dewi Harvest, batin Jack. Pantas saja.

"Hei, kau mau ikut Pesta Teh kami, budum?" tawar Chef.

"Aku boleh ikut?" tanya Jack.

"Tentu saja boleh, budum," jawab Chef. "Sekalian kau kenalan dengan teman-temanku yang lain, budum."

Jack berpikir sebentar. Tidak ada salahnya ikut. Lagipula bisa kenalan dengan makhluk yang merupakan peri ini juga. Biarpun sempat tidak menyangka kalau mereka memang ada.

"Baiklah, aku akan ikut," jawab Jack.

"Kalau begitu, ayo, kita masuk, budum." Chef berjalan duluan masuk ke dalam pondok. Diikuti oleh Jack.

Pintu pondok agak pendek sehigga Jack harus sedikit menunduk saat masuk. Ketika masuk, Jack langsung disambut oleh para peri yang lain walaupun ada juga yang malah kabur ke belakang tempat tidur dan ada yang masih tidur. Isi perabotan rumah Peri Harvest tentu saja berukuran kecil-kecil sesuai ukuran tubuh mereka.

Jack berkenalan dengan para peri yang lain. Ada Timid yang tadi kabur ke belakang tempat tidur, Staid dan Bold yang langsung menawarkan diri untuk membantu Jack di kebun, Nappy yang langsung mengajak Jack bermain, Aqua yang terlihat sedang membersihkan dirinya, dan Hoggy yang masih tidur. Mereka semua terlihat lucu-lucu karena ukuran mereka yang kecil. Tapi, mereka bilang walaupun bertubuh kecil, mereka masih sanggup melakukan pekerjaan di kebun seperti yang dilakukan Jack. Ibaratnya kayak semut yang bisa mengangkat beban yang lebih besar dari tubuh mereka. Namanya juga peri.

Setelah acara kenalan itu, Pesta Teh dimulai. Jack agak kesulitan mengikuti acara itu sebab perabotannya 'kan kecil-kecil, sedangkan tubuhnya berukuran besar sendiri. Rasanya seperti berada di rumah mainan saja yang barang-barangnya berukuran kecil. Tapi, acara itu berlangsung dengan meriah.

-x-x-

Sore hari sekitar jam 4, acara Pesta Teh selesai. Jack pamit pulang. Para Peri Harvest mengantarnya sampai di depan pintu.

"Ini untukmu, Jack," kata Chef, memberikan sebuah bungkusan pada Jack.

Jack menerimanya. "Terima kasih. Tapi, ini apa?" tanyanya.

"Itu Daun Teh Relaksasi yang tadi kita gunakan dalam acara Pesta Teh," jawab Staid yang berdiri di samping Chef. "Kami pikir kau boleh menerimanya karena daun teh tidak bisa ditemukan di sini. Kami masih punya banyak. Apalagi kau mau ikut bergabung ke dalam acara kami. Rasanya Pesta Teh jadi lebih menyenangkan."

"Kalian terlalu berlebihan," ucap Jack.

"Kau bisa ikut lagi ke acara Pesta Teh kami selama musim semi sebelum jam 4. Kami akan merasa senang bila kau mau ikut lagi," kata Bold.

"Kalau begitu akan kuusahakan untuk datang lagi nanti," kata Jack.

Setelah itu Jack pamit dan berjalan pulang. Para Peri Harvest melambai padanya. Menyenangkan juga ikut acara para peri itu. Ditambah lagi dapat daun teh pula. Sampai di rumah nanti dia ingin mencoba membuat teh yang sama dengan yang dibuat Chef tadi.

Sebuah kaleng kemudian bergelinding di depannya. Jack memungutnya dan memperhatikan kaleng tersebut yang merupakan kaleng bekas alias sampah. Dia melihat ke arah datangnya kaleng itu. Terlihat seorang gadis kecil berambut hitam yang dikepang dua dan memakai pakaian merah, sedang bermain dengan barang-barang bekas yang kebanyakan kaleng dan sepatu bekas. Kelihatan jelas kalau dia suka bermain dengan barang bekas itu. Gadis kecil itu terlihat seusia dengan Stu.

Jack menghampirinya. "Hai," sapanya. "Ini milikmu?"

Gadis kecil itu menoleh. "Iya, itu punyaku," jawabnya sambil menerima kaleng yang dibawa Jack. "Terima kasih, Kak."

"Boleh Kakak tahu namamu?" tanya Jack. "Nama Kakak Jack."

"Oh, Kak Jack, ya. Aku sudah dengar dari Kakek. Namaku May. Salam kenal, ya, Kak." Gadis kecil itu memperkenalkan diri sambil tersenyum manis.

"Kau tinggal di mana?"

"Aku tinggal di Yodel Farm bersama Kakek."

Jack ingat jalan ke tempat itu. Tapi, dia belum sempat berkunjung ke sana. "Cuma dengan kakekmu saja?"

"Iya, ibuku pergi sehingga aku tinggal bersama Kakek saja. Aku harap Ibu cepat pulang."

"Memangnya ibumu ke mana?"

"Aku tidak tahu. Setiap kali menanyakannya ke Kakek, Kakek tidak mau menjawab."

Jack jadi berpikir sepertinya ada masalah serius yang sedang terjadi pada keluarga May sehingga kakeknya tidak mau bercerita tentang ibunya May.

"Kau main sendirian?" tanya Jack.

"Begitulah. Habisnya yang lain sibuk bekerja. Jadinya aku main sendiri. Kalau sore, biasanya aku pergi bersama Kakek ke Kolam Air Panas. Biarpun begitu, aku lebih sering bermain sendiri."

Bermain sendirian. Jack jadi teringat kalau dirinya dulu juga sering main sendirian karena orangtuanya sibuk. Saat masuk sekolah saja dia bisa bermain dengan teman. Tapi, baginya itu tidaklah cukup bila tidak pernah menghabiskan waktu dengan orangtua.

"Ada Jack rupanya di sini." Terdengar suara ibu-ibu.

Jack dan May menoleh. Rupanya ada tiga orang ibu-ibu yang datang. Salah satunya adalah Sasha, tapi yang lainnya dia belum kenal. Yang satu adalah wanita berambut hitam panjang dan satunya lagi wanita berambut pendek bergelombang.

"Bibi Sasha, selamat sore," sapa Jack.

"Selamat sore," sapa May juga.

"Selamat Sore juga," balas Sasha.

Wanita yang berambut panjang langsung berjalan menghampiri Jack. "Ini Jack rupanya. Ternyata masih sangat muda. Perkenalkan, aku Manna, istrinya Duke. Kau pasti tahu dia, 'kan? Dia bilang dia bertemu denganmu di Supermarket. Dia sempat kaget saat kau menegurnya waktu itu. Kami tinggal di Aja Winery. Kau bisa membeli wine dan jus anggur buatan kami di sana. Kalau kau mau beli, temui saja aku di dapur. Tapi, aku hanya melayani sampai tengah hari dan hari sabtu kami tutup, tapi kau masih boleh berkunjung. Dan bla...bla...bla..."

Manna tidak berhenti bicara sampai-sampai Jack hanya bisa diam mendengarnya. May pun jadi ikut-ikutan terdiam mendengar ocehan Manna. Sedangkan Sasha dan wanita yang satu lagi yang rupanya adalah ibunya Mary, yang bernama Anna, juga tidak bisa berbuat apa-apa karena mereka sudah tahu seperti apa Manna bila sudah mulai berbicara.

Pada akhirnya Jack jadi ikut acara ngerumpi ibu-ibu itu walaupun cuma sebagai pendengar karena sudah diajak bicara oleh Manna. Setelah jam lima barulah mereka semua bubar. Karena sudah sangat sore dan Jack bisa pulang dengan lewat jalan ke Yodel Ranch, sekalian dia mengantar May pulang. Mereka pun berpisah di Yodel Ranch.

Jack terus berjalan menuju perkebunannya. Sesampainya di sana, dia melihat kalau Brown masih belum keluar juga dari kandangnya. Dihampirinya kandang anjingnya itu dan melihat ke dalam. Brown sedang berbaring sambil memunggungi pintu masuk. Kelihatannya dia masih ngambek.

"Brown, kau masih marah?" tanya Jack.

Brown hanya menoleh sebentar, lalu balik lagi.

"Brown, aku minta maaf... Itu hanya bercanda. Tidak sungguh-sungguh. Mana mungkin 'kan aku tidak memberimu makan. Ayo, keluar. Nanti makananmu akan kuperbanyak."

Brown sama sekali tidak bergerak. Kayaknya ngambeknya sudah terlalu parah.

Jack tidak menyerah. Dia mencoba memikirkan cara untuk membujuk anjing kecilnya itu agar mau keluar. Dia berpikir sebentar dan akhirnya menemukan cara yang kedengarannya cukup aneh dan mustahil untuk membujuk seekor anak anjing.

"Brown, lihat! Ada anjing betina cantik lewat!" seru Jack.

Brown langsung berlari keluar sambil mencari-cari anjing betina yang dimaksud. Ternyata cara Jack berhasil. Jack sendiri tidak menyangka kalau bisa berhasil. Rupanya anjingnya itu genit juga. Dengar ada anjing betina lewat saja, langsung keluar. Jack jadi tertawa sampai memegang perutnya.

Dengan tatapan membunuh dan rasa marah yang kembali membara, Brown melompat dan menggigit lengan Jack untuk yang kedua kali. Jeritan kesakitan kembali terdengar dari Jack's Farm.

"AAAAWWWW! BROWN, LEPAAAAS!"

-x-x-

Poultry Farm...

"Bertengkar lagi, ya?" gumam Popuri sambil membereskan piring yang habis digunakan untuk makan malam yang telah dicuci.

"Kurasa hal ini akan terus terjadi pada tetangga kita," ujar Rick.

"Setidaknya desa ini tidak terlalu sepi lagi, 'kan?" ujar Lillia.

Jeritan Jack terus menggema hingga larut malam.