"Aku minta nomor ponsel mu."

"..." Hinata berkedip. Apa... Ia tidak salah dengar, Naruto Namikaze orang yang dingin, jutek, dan... Cuek, minta nomor ponselnya?

"Bakpao?"

"Ha-hai? U-untuk apa nomor ponsel ku?"

Naruto berdecak. "Tentunya bukan untuk menagih hutang, kan?" Ia mengucapkannya sedikit jengkel. Entah kenapa... Naruto jadi salah tingkah.

Kembali, manik lavender dengan bulu mata lentik milik sang gadis berkedip. Pipinya menggembung. "A-aku tidak punya hutang pada Namikaze-san."

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Love Is Feeling © RiuDarkBlue

Warning: AU, OOC (cool Naruto), typo sana-sini, asem, garing, maaf jika ide pasaran, alur kecepetan, yang nggak suka harap tekan back. Saya tekankan kembali! Bahwa ini adalah inspirasi saya! Nggak ngejiplak siapapun kecuali karakternya!

"Percakapan."

'Bicara dalam hati.'

Naruto Namikaze x Hinata Hyuuga

DLDR

.

.

.

Tuh, kan! Terlalu polos!

"Biar nanti aku mengajak mu latihan, mudah menghubungi."

Senyum Hinata mengembang, saat mendengar alasan logis pemuda yang meminta nomor ponselnya. "Kenapa tidak bilang dari tadi." Ia mengambil ponsel silver yang sudah disodorkan Naruto.

"..."

"Ini." Ucapnya setelah selesai mengetikkan nomor ponselnya.

"Hn." Gumaman tidak jelas itu sebenarnya penuh makna. Dalam kata lain ia sedang menyembunyikan senyuman tertahannya. Entah kenapa Naruto selalu saja ingin tersenyum saat dekat dengan gadis 'bakpao'.

'Kenapa dengan perasaan ku?'

"Oh, ya. A-aku duluan ya? Jaa..." Hinata berlalu meninggalkan Naruto yang sedang menenangkan detak jantungnya.

Hening.

Hanya suara angin yang berhembus dari jendela terbuka dari belakang tubuh Naruto.

"Ck, aku benar-benar sudah gila?" Umpatnya seraya mengacak surai pirangnya.

Siapa yang tidak akan merasa gila, jika ia tidak punya perasaan. Dan sekalinya ia merasakan perasaan kebingungan.

.

.

.

Jujur saja, bibir tipisnya masih saja melengkung sejak ia turun dari mobil. Perutnya seperti ada yang menggelitik, sehingga ia—Naruto–selalu saja merasa geli. Tangan tannya memegang permukaan baju bagian dada kirinya untuk merasakan jantung yang berpacu dua kali lebih cepat.

'Kuso, kenapa dengan ku? Si Bakpao selalu saja membawa dampak buruk pada jantung ku.'

"Kau kenapa Naru-chan?"

"Astaga. Kaa-chan sedang apa?" Seketika fantasy tentang gadis Hyuuga yang Naruto bayangkan sirna. Digantikan dengan ekspresi kaget, tepatnya saat ia melihat wajah Kushina hanya berjarak 10 cm dari wajahnya.

Kushina memundurkan wajahnya. "Tidak. Hanya mengecek keadaan mu saja." Itu memang tujuannya. Sebenarnya ia sangat khawatir, melihat putranya yang nampak seperti orang... Bodoh, berdiri di pintu utama dengan alis mengernyit, dan kadang tersenyum, juga tangannya yang mencengkram dada kirinya. Kushina hanya khawatir penyakit Naruto akan kambuh.

"Lho, aku kenapa?"

Kushina berdecak. "Kau ini... Tadi, Naru-chan aneh, kadang tersenyum, mengernyitkan alis, dan memegang dada kiri. Apa kambuh?"

"Bukan." Naruto menggeleng.

"Lalu?"

"Ada deh."

Dan_

Cup.

Ia malah mengecup pipi sang Ibu.

"Tadaima."

Wanita cantik itu tersenyum. "Okaeri."

Naruto melangkah menuju ruang makan. Ia membuka lemari es lalu mengambil orange jus favoritnya. "Tou-chan belum pulang?" Naruto menoleh ke arah sang Ibu yang sedang memakan cookies yang baru dibuatnya.

"Belum. Lagi pula masih 2 jam lebih lagi untuk pulang."

Naruto menganguk. "Hn. Aku ke kamar dulu."

"Ya."

"..."

"Aku tidak yakin dia baik-baik saja." Manik violetnya menatap punggung Naruto yang menaiki tangga.

.

.

.

"Karena besok tidak ada tugas, lebih baik aku latihan saja." Hinata mengambil ponsel yang ia taruh di ranjang. Jemarinya mengklik salah satu aplikasi yang menyimpan lirik lagu duetnya bersama Naruto.

Gadis bersurai indigo itu tengkurap di ranjang. Alisnya mengernyit. "Lagunya... Romantis?"

Pikirannya nenerawang. "Kenapa romantis? Ku kira lagunya akan yang galau." Ia terkikik geli, iya... Awalnya Hinata tidak percaya dengan lagu yang bisa dikatakan romantis yang akan dinyanyikannya. Mengingat ekspresi datar Naruto.

"Nanti... Ekspresi Namikaze-san akan seperti apa ya?"

"Ekspresinya harus seperti jatuh cinta." Kepala indigonya mengangguk. " Ya. Jatuh cinta." Wajahnya tanpa sadar memanas.

"Aaa... Entah kenapa aku jadi malu." Tangan putihnya menutup wajah memerahnya. "Ja-jatuh cinta pada Namikaze-san ya...?" Untuk menghilangkan rasa malunya, Hinata lebih memilih berguling-guling di atas ranjang.

"Tapi i-inikan akting. Umm... Hanya akting." Ia menghentikan acara bergulingnya. Sekarang, tubuh mungilnya terlentang.

Drrrttt... Drrrttt...

"Eh?" Ia kembali keposisi awal—tengkurap–tangannya mengambil ponsel berwarna putih.

"Pesan? Tapi... Dari siapa?"

From: +81-520-xxx-xx

To: Me

Ini nomor ponsel ku.

Singkat, padat, dan... Tidak jelas. Alis Hinata mengernyit. "Siapapun akan tahu jika pesan di kirim dengan nomor ponsel. Ta-tapi... 'Ku' itu siapa?"

From: Me

To: +81-645-xxx-xx

Maaf, tapi ini siapa?

Send

"Mungkin orang iseng."

.

.

.

From: Me

To: Bakpao

Maaf, tapi ini siapa?

Pemuda yang mendapatkan pesan hanya menghela nafas.

To: Bakpao

From: Me

Naruto Namikaze. Dasar! Bakpao pelupa.

Send

Manik sapphirenya tak henti-henti menatap ponsel digenggaman. Bukannya menunjukan akan adanya tanda pesan masuk, ia malah melihat jam digital dengan angka 20.43.

Naruto berdecak. "Apa ia sudah tidur?" Kepalanya menggeleng. "Tidak mungkin."

Padahal ini sudah lewat 3 menit saat ia mengirim pesan pada Hinata, tapi tak kunjung ada balasan juga. Tapi, saat ia mengirim pesan pertama langsung di balas, nah! Ini! "Apa dia takut pada ku?"

"Kuso!" Ia mengacak surai pirangnya. Naruto akui, sebulan saling kenal dengan gadis Hyuuga itu sangat tidak berkesan dengan baik. Mulai dari Naruto yang selalu menggodanya bahkan sampai memberikan julukan Bakpao.

"Ck. Maunya apa sih?" Dengan tak sabaran ia menekan tombol call.

Bakpao calling.

Tut... Tut... Tut...

"Mo-moshi-moshi." Suara Hinata terdengar gugup.

"Kenapa tidak kau balas pesan ku, hah?

"Namikaze-san?"

"Hn?" Naruto tersenyum tipis membayangkan ekspresi kaget Hinata. Aaa... Pasti lucu.

'Apa yang ku pikirkan!' Kepalanya menggeleng.

"Aku ta-tadi dari kamar mandi, dan tahunya ponsel ku be-berbunyi."

"Hn." Entah apa yang ia rasakan, tapi... Naruto merasa lega, mendengar jawaban jujur dari bibir mungil Hinata.

"Ma-mau apa?"

Naruto berdecak. "Tsch, terserah ku lah." Entah kenapa ia ingin berlama-lama mendengar suara lembut si gadis Bakpao.

"Umm..."

"..."

"..."

"Kau masih disana?"

"Ha-hai."

"Besok kita latihan."

"Hai. Tapi diman_"

Klik.

Kembali ia tersenyum tipis, saat memikirkan ekspresi gadis berpipi tembam yang ia putuskan begitu saja teleponnya. "Pasti pipinya menggembung." Alisnya mengernyit. "Kuso! Kenapa aku memikirkannya. Dia itu merepotkan."

Tapi, dalam pikirannya yang terdalam Naruto selalu memikirkan Hinata. "Ah... Kau menyebalkan." Ia berbaring di kasur king sizenya. "Kenapa kau selalu menghantui ku, Bakpao? Dan kenapa dengan jantung dan perasaan hangat ini? Ini sangat merepotkan... Tapi ini sangat lebih baik dari pada alexithymia."

Sebelah lengannya ia gunakan untuk menutup sapphire birunya. "Aku ingin punya perasaan. Apa... Itu sulit?"

.

.

.

.

"Bagaimana? Kau sudah dapat lagunya Pig?"

Ino menghela nafas. "Belum... Sai-kun malah cuek-cuek saja..." Gadis berambut pirang yang duduk di samping Hinata menenggelamkan wajah cantiknya pada lipatan tangan.

Seperti biasa, pagi ini Hinata dan ke tiga sahabatnya; Ino, Sakura, dan Tenten. Berkumpul di bangku Hinata. Mumpung teman sebangku si indigo belum datang.

Sakura yang selalu nampak ceria juga memasang wajah menyedihkan. "Huwaaa..." Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Aku juga sama Pig! Sasuke-kun itu memang tampan. Tapi sifat cueknya itu lho..."

Ino yang masih membenamkan wajahnya mengangguk. "Apa lagi Sai-kun, ia hanya bisa tersenyum aneh."

"Masih mending kalian. Nah, aku?" Sakura yang menutup wajahnya kini membuka tangannya dan menoleh ke arah Tenten. Begitupun dengan Ino yang langsung mendudukan tubuhnya dengan tegak, dan memandang Tenten yang bermuka masam dengan antusias. Nah, kalau Hinata, dia hanya menatap Tenten dengan berkedip polos.

"Memang kenapa Tenten-chan?" Ino yang tadinya lesu sekarang jadi antusias.

Sakura mengerling jahil. "Aaa... Pasti Tenten-chan akan menyanyikan lagu romantis dengan Lee."

"Pfffttt... Apa benar?" Gadis berambut pirang itu membekap mulutnya yang akan mengeluarkan tawa.

"Eh–romantis?" Sekarang Hinata yang buka suara.

Tenten menghela nafas. "Jangan menyimpulkan seenaknya." Tiga kepala dengan warna merah muda, pirang pucat, dan indigo itu mengangguk. "Dia... Menyarankan lagu L'arc-en-Ciel – Finale."

Hening.

"Pfffttt..." Tawa Ino dan Sakura pecah. Di susul dengan tawa renyah Hinata seraya menutup mulutnya. Tenten? Jangan ditanya, ia sekarang sedang kesal, sudah ia duga, ini reaksi yang akan diberikan sahabatnya.

"Diamlah kalian!" Tenten merajuk, ia membuang muka ke arah jendela.

"Ma-maaf... Ma-maaf..." Sambil meyeka air matanya, Hinata meminta maaf.

"Pfffttt... Maafkan kami Tenten-chan." Sebenarnya Ino masih ingin tertawa, terbukti dari tangannya yang masih memegang perutnya.

"Apa benar Lee mengajak mu menyanyikan lagu itu?" Sakura sebenarnya sudah tahu Lee itu konyol. Tapi, masa iya Lee menyuruh Tenten menyanyikan lagu L'arc-en-Ciel – Finale yang notabene salah satu lagu film horor.

Tenten mengangguk lesu. "Iya, dia sama saja mempermalukan ku."

"Oke.. Oke... Ternyata ada yang lebih baik dari kita Forhead."

Kepala merah muda Sakura mengangguk. "Bagaimana dengan Hinata-chan?"

"E–eh?"

"Ya, ya, ya? Bagaimana Hinata-chan?" Ino menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan yang di sangga dengan siku di meja.

'Itu pose kalau Ino-chan kepo.' Batin Hinata.

"Iya, bagaimana Hinata-chan?" Rupanya, Tenten yang juga sudah selesai acara merajuknya, mengajukan pertanyaan yang sama dengan Ino dan Sakura.

Gadis Hyuuga yang dipandangi ke tiga sahabatnya hanya menelan ludah susah payah. "A-ano e-eto, lagunya sudah dapat."

"Kyyyaaa lagu ap_?"

"Urusai Pig!" Dengan sigap, Sakura menutup mulut Ino.

"Lepas! Forhead!" Dilepaskanlah bekapan pada mulutnya.

"Lagu apa Hinata-chan?

"Lagunya rahasia."

Dan seperti biasa_

"Yahhh..." Ino, Sakura, dan Tenten tambah berwajah menyedihkan.

"Kyyyaaa Naruto-kun!"

"Sasuke-kun, tampannya~"

"Shika-kun..."

"Kami-sama! Itu Kiba-kun?!"

"Sai-kun aishiteru..."

"Rupanya obat kita sudah datang!"

"Ah! Kau benar Pig!"

"Ternyata disini hanya aku saja yang nggak beruntung? Oh... Kami-sama setelah ini aku harus sebangku lagi dengan Lee..." Tenten mengusap kasar wajahnya.

Hinata yang melihat Tenten nampak sangat frustasi, tersenyum miris. "Ya-yang sabar Tenten-chan."

"Arigatou Hinata-chan." Gadis berambut cepol dua itu tersenyum ke arah Hinata. Ia kembali menoleh, melihat Ino dan Sakura dengan tatapan malas. "Makan tuh! Sasuke-kun dan Sai-kun kalian!" Setelah mengatakan itu, Tenten beranjak dari duduknya.

"Ih, dia marah." Meski mengatakan itu, manik aquamarine Ino terus saja menatap ke arah pintu kelas. Dimana, X5 sedang dikerubungi para fans ganas mereka.

"Umm..." Gumam Sakura. "Ayo ke bangku Pig!" Ia beranjak dari duduknya.

"Hu'um, jaa... Hinata-chan." Ino beranjak dari duduknya. Kepalanya kembali menoleh ke arah Hinata. "Lagi pula 'Pangeran Hinata-chan' sudah tiba." Ia menatap Naruto yang berjalan ke arahnya.

"I-Ino-chan!" Teriak gadis yang pipinya merona. Ino dan Sakura sendiri sudah duduk dibangkunya masing-masing.

"Pagi-pagi sudah ngerumpi."

"Eh?" Kepala indigo Hinata menoleh ke arah kiri, tepatnya bangku sebelah yang tadi diisi Ino. Ia berkedip, disana sudah ada penghuninya. "Namikaze-san?"

Naruto menoleh. "Hn?" Mereka bertatapan.

Entah kenapa, melihat Naruto ia jadi kesal sendiri. Hinata ingat kejadian kemarin, saat ia menerima panggilan dari nomor asing, yang tak lain pemuda disebelahnya. Saat Hinata angkat, ia malah langsung dimarahi. Dan Hinata sempat tersenyum saat Naruto bilang besok–hari ini–akan latihan, pas ia tanya dimana sambungannya diputuskan, dasar tidak sopan! Dan... Apa katanya tadi? What? Ngerumpi? Karena kesal, Hinata menggembungkan pipinya. "A-aku bukan ngerumpi."

Selalu saja ia dapat efek saat melihat pipi menggembung Hinata, yaitu suatu tarikan di kedua sudut bibirnya–tersenyum tipis– "Kalau begitu kau tadi bergosip."

'Kenapa dengan perasaan ku?' Selain efek tersenyum, yang Naruto rasakan juga hatinya yang menghangat.

"Eh? Itu sama saja. A-aku tidak bergosip."

Naruto mengangguk. "Kau sedang membicarakan orang lain?" Wajahnya mendekat, dan Hinata tidak menyadarinya.

Si gadis terdiam. Membicarakan orang lain? Ah, ya! Tadi ia dan ke tiga sahabatnya membicarakan Lee, Sasuke, Sai, dan bahkan Naruto juga. "Hai."

"Itu sama saja dengan bergosip. Ck, Bakpao Baka."

"Ta-tapi aku_" Perkataannya terhenti, saat Hinata menyadari jarak wajahnya dan Naruto. 5 cm!

"Aku apa?"

"Na-Namikaze-san a-ano_" Hinata tambah gelagapan. Untung sekarang kelas ribut, jika tidak ini akan jadi trending topik.

"Ano?" Pemuda pirang semakin mendekatkan wajahnya. Ia menempelkan pipinya yang memiliki tiga garis pada pipi putih tembab yang memerah milik Hinata. Naruto jadi menyukai hal ini–jika saja ia normal–bermula dari kemarin ia menempelkan pipinya pada si Bakpao, rasanya hangat karena pipi Hinata yang memanas. "Pipi mu hangat, aku jadi ingin terus menyentuhnya." Hangat, hati Naruto juga menghangat.

'Perasaan apa ini?'

"A-ano Na-Namikaze-san ja-jangan begini." Pipi Hinata kembali merona, dan Naruto semakin nyaman menempelkan pipinya.

"Kenapa?"

"A-ano_"

'Hangat.'

"Baik." Ia menjauhkan wajahnya. "Ke taman belakang, nanti kita latihan."

"Ha-hai."

.

.

"Mau kemana Kitsune?" Tanya Kiba saat Naruto beranjak dari duduknya.

"Taman belakang."

Sai tersenyum aneh. "Kencan ya?"

"Bu_"

"Ya ampun Kitsune kita sudah besar." Kiba mengusap kepala Naruto, bagaikan seorang Bapak yang bangga terhadap keberhasilan anaknya.

"Tsch, apa yang kau lakukan, hah?" Tangan Naruto terangkat, menepis tangan Kiba kasar.

"Jangan salah tingkah gitu dong." Sai masih tersenyum palsu.

"Senyum mu itu menjijikan Sai!"

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian Zombie." Shikamaru hanya menguap malas melihat tingkah kekanakan sahabatnya.

"Ah, terima kasih Shika."

"Ck, lemot." Sepertinya Sasuke juga mulai kesal dengan tingkah Sai. Yang selalu menganggap ledekan sebagai pujian.

"Boleh aku ikut kencan ya?" Pemuda bersurai coklat dihadapan Naruto memberikan tatapan memelas.

Sontak Naruto yang melihatnya memasang muka jijik. "Apa-apaan kau ini Kiba?! Aku mau latihan bukannya kencan."

"Bagus kalau begitu!" Sai menaruh minat pada pernyataan Naruto.

Alis Naruto bertautan. "Bagus apanya?"

Tanpa mengindahkan pertanyaan Naruto, Sai menoleh ke arah Kiba lengkap dengan senyum palsunya. "Setelah Naruto dan Hinata-san latihan, bagaimana kalau kita kencan dengan Hinata-san?"

Sapphire biru milik Naruto menatap tajam Sai. "Mana bisa!"

"Ya bisalah!" Kiba menatap Naruto dengan seringai remeh.

Sasuke dan Shikamaru hanya menghela nafas melihat tingkah ke tiga sahabatnya.

"Kau!" Ia menggeram. Ada perasaan aneh dalam hatinya saat Hinata disebut-sebut Kiba dan Sai.

"Apa?!"

"Tsch. Merepotkan!" Dengan langkah lebar, Naruto meninggalkan kelas yang sudah kosong.

"Apa dia... Tsundere?" Sai menatap punggung Naruto yang menghilang di balik pintu.

"Jika dia normal pastinya tsundere." Shikamaru berdiri dengan wajah mengantuk. "Ayo ke kantin."

"Hn."

"Ayo."

"Kantin? Bukankah disana banyak fans kita yang ganas."

Kepala nanas Shikamaru menoleh. "Jika begitu kau saja yang dijadikan umpan Inu-chan."

"Sialan kau Nanas!"

.

.

Lagi–entah untuk yang ke berapa kalinya, bibir mungilnya mengerucut. Manik lavender Hinata melirik jam tangan di pergelangan kirinya. "Telat 5 menit." Ia menghela nafas. Selalu saja begini, padahal Naruto dulu yang buat janji dengannya.

"Memang kenapa kalau telat 5 menit?"

'Kuso! Untung efek sakitnya tidak seperti kemarin.' Naruto menggeleng, untuk menghilangkan sakit kepala agar tak sesakit kemarin.

Deg!

Dengan gerakan patah-patah, Hinata menoleh. "Aaa... Bu-bukan apa-apa..."

"Hn." Naruto duduk di bangku sebelah Hinata. "Ayo mulai. "

"Hu'um.

Naruto merogoh ponsel di saku celananya. Ia menekan aplikasi musik untuk memutar instrumental lagu yang kemarin malam ia download.

Sejenak Naruto menarik nafas.

.

Hidup hari demi hari, melawan dalam dunia ini- ketika sesuatu menjadi lebih berat

.

Hinata berkedip. 'Suaranya... Merdu sekali.' Memang suara Naruto sangat enak di dengar, tegas, baritone, dan lembut saat bernyanyi. Ia menarik nafas.

.

Ketika kau merasa seperti kau lah satu-satunya yang sendiri diantara orang yang tak terhitung banyaknya.

.

Naruto menoleh. Ia tersenyum tipis mendengar suara Hinata yang lembut dan enak di dengar.

.

Ketika aku melihat matamu. Menatapku dengan cinta. Aku merasa istimewa

.

Hinata juga menoleh. Mereka bertatapan, sapphire dan lavender bertemu.

.

Ketika kau genggam tanganku dalam kehangatanmu yang malu-malu, semua luka dalam diriku sembuh

.

Entah sadar atau tidak, keduanya tersenyum. Untuk yang pertama kalinya mereka melempar senyum dalam satu bulan saling kenal. Dan mereka menyanyikan reff lagu bersama.

.

When we're together, when we're together

...

"Bagus, pertahankan suara mu." Itu kata pertama yang Naruto ucapkan setelah mereka selesai bernyanyi.

"Hu'um..."

"..."

"..."

"..."

"Namikaze-san?"

"Hn?"

"Kenapa memilih lagu ini?"

Naruto terdiam. Ia sedang berpikir, Naruto juga tidak tahu kenapa memilih lagu ini. "Lalu menurut mu kita harus bernyanyi lagu anak-anak, hah?"

"Eh, maksud ku bukan be-begitu." Dalam hati Hinata menghela nafas. Jika sudah menggunakan nada sembur begini, pasti Namikaze-san akan menyebalkan. Pikirnya.

"Lalu?" Sebelah alisnya terangkat.

"A-ah tidak jadi." Hinata juga sebenarnya tidak menemukan lagu yang pas.

"Dasar Bakpao, selain tembam, gagap, dan pelupa, kau juga aneh."

"Apa?" Hinata menoleh. Ingin sekali ia juga bilang pada pemuda disampingnya, "Selain mirip Kitsune, Namikaze-san juga menyebalkan dan egois!" Tapi mana mungkin itu Hinata ucapkan.

"Tentu, itu ciri khas mu." Naruto menoleh lalu ia tersenyum tipis.

Sapphire dan lavender bertemu.

'Dia... Bilang ciri khas?' Pipi tembam gadis indigo dihadapan Naruto menggembung. "Ma-mana bisa itu ciri khas."

"Tentu saja bisa. Satu lagi."

"Sa-satu lagi?"

Kepala pirang Naruto mengangguk. "Kau juga tidak punya uang."

"Ma-maksudnya?"

"Ikat rambut saja sampai tidak ke beli." Ia tersenyum tipis.

Manik lavender Hinata membulat. "Namikaze-san, kembalikan i-ikat rambut ku!"

"Tidak bisa." Hati Naruto makin menghangat, jangan lupakan jantungnya yang berdetak dua kali lipat. 'Perasaan apa ini?'

"Ke-kemana ikat rambut ku?"

"Aku buang."

'Dia benar-benar menyebalkan!' Pipi Hinata makin menggembung. Ia beranjak dari duduknya.

Sedangkan Naruto yang melihatnya hanya tersenyum tipis. Ingin sekali ia mencubit pipi putih yang menggembung itu.

"Itaii!" Pekikan itu berasal Naruto. Yang ternyata kakinya diinjak Hinata karena kesal.

"Apa yang kau lakukan, hah?" Sambil sesekali meringis, Naruto memegang kaki kanannya yang di injak si gadis 'bakpao', ia sempat terdiam, mana mungkin kaki dan tubuh mungil Hinata memiliki tenaga monster seperti ini.

"I-itu balasan dari ku." Setelah mengatakan itu, Hinata melengos. Padahal ia sangat takut tadi saat menginjak kaki Naruto. 'Kami-sama, lindungi aku...' Sambil berlari dari taman belakang menuju kelas, Hinata berdo'a dalam hati.

"Awas kau Bakpao." Ia meringis. "Kuso, tenaganya besar juga."

.

.

.

.

To Be Continued

A/N

Sempet nge-lag otak saya waktu ngetik chapter ini –,–.. Jadi gomen kalo gaje T_T.. Maklum aja ya... Kalo banyak typo.. Ngetik langsung publish T_T

Itu-itu*nunjuk-nunjuk lirik lagu NaruHina* udah ada sepenggal liriknya... Apa udah ada yang ke tebak saya mau kasih mereka lagu apa?

Ah, ya... Satu lagi buat teman-teman, saya boleh minta tolong nggak?*emoticon memelas* tolong yang tahu lagu K-pop duet atau lagu bahasa inggris yang nadanya slow kasih tahu judulnya sama saya ya...:)... Bingung nih! SasuSaku, SaiIno, ShikaTema, ama KibaTama mau nyanyi apaan:(... Abis di Hp saya kebanyakan lagu duetnya galau:(... Jadi saya minta tolong ya:)...

Mungkin Love Is Feeling akan sedikit panjang dari yang saya perkirakan sebelumnya, saya kira fanfic ini akan tamat di chapter 10 atau 11 ehhh nyatanya?*ekspresi kaget* gomen ya, kalo kepanjangan takut readernya bosen sih:)...

Satu lagi, *garuk-garuk belakang kepala* rahasia saya kebongkar sama Kak Hyuuzu:D... Saya emang masih sekolah, baru aja masuk SMA, apa kelihatan masih labil?#plak and.. Saya nih cewek, lho? Kenapa? Ya iyalah takdir saya jadi cewek:D... (Saya lagi gaje).. Jadi panggil saja saya Riu, Dark, Blue, atau apalah itu... Asal jangan Kakak ya... Apa disini ada yang sama masih SMA? Gomen ya sebelumnya:(..

Makasih sama yang udah fav, follow, review, and silent reader... Saatnya balas review:

Rasyah Asyara: lagunya ayo tebak:) saya kasih liriknya tuh sebagian:)... Wahhh Kpopers juga ya? Senengnya sayaaaa

Indra223: makasih Indra-san:)... Iya saya akan tetap semangat demi kalian semua:)!

ArmyNHL: iya akhirnya saya up juga;)... Makasih... Yoshhh semangatttt:)

fmhrm: hihihi.. Makasih:)))

Hyuuzu Avery: iya emang beneran kak kurang panjang:)).. Masama:) makasih juga udah baca+review, *ketawa garing* iya saya masih sekolah baru SMA malahan:D, kakak masih sekolah? Makasih kak udah ngingetin, nggak sempet ke edit bagian itunya:).. Kalau Oppa Korea saya juga suka wkwkwk:D. Itu udah sepenggal lagunya, bukan punya Baekhyun ma Suzy kok:).. Nggak papa kak panjang juga:).. With Love RiuDarkBlue

HimeNara-kun: iya atuh sini mbak no ponselnya:D wkwkwk

ryuuki Kuroichi: iya ini saya udah lanjut:))

TOMBHIB12: iya ini saya udah lanjut;))

Cecep713: makasih udah hadir Cecep-san;)

Rico273: iya akhirnya saya up juga:D

lily-hyuna: ini saya dah lanjut:)

dindra510: iya ini saya udah lanjut:))

Deandra: masama:), makasih juga udah baca+review.. Iya nanti saya banyakin deh moment NaruHinanya:).. Narunya emang jaim–,–.. Pengennya sih Naru meluk saya#plak

Guest: ini sekarang saya udah next:D

Hamura159: sebenernya yang nyanyi tuh banyak:).. Tapi saya nggak tahu siapa aja nama muridnya:)... Kalo sekelas pada nyanyi.. Nggak kebayang panjangnyaaaaa:D.. Bisa di bilang begitu:).. Bye too

uje: semoga Naru nelepon uje-san:D

rueurue: yoshhh semangat:D

rikarika: ini malah nggak kencan:(.. Aminnn:).. Do'ain aja semoga Shion nggak muncul:).. Wkwkwk.. Hempaskan kemana;)?

Guest: iya saya udah lanjut:)

Isabella: wah gemes ya?:).. Iya nanti saya banyakin deh:).. Apa ini sudah banyak?.. Masama makasih juga udah baca+review:

nawaha: makasih nawaha-chan:).. Iya nati saya lebih lebih lebih banyakin lagi:) saya nggak akan lupa sama sahabatnya kok:).. Lumayan apa lagi Kiba sama Sai:D.. Modusnya Naru tuh biar di peluk XD.. Saya terima salam peluk ciumnya, saya juga malahan sama peluk cium:)... Saya nggak janji^^v.. Yoshhhh ganbatte

Guest: makasih makasih makasih:).. Masama makasih juga udah baca+review;).. Nggak papa saya seneng kok meski baru review pertama kali;) yoshhh semangat

megahinata: iya;) di beri tuh ama Hime:D.. Iya pantengin aja ya;)*promosi*.. Yoshhh semangat

salsal hime: masama, makasih juga udah baca+review:) iya Naru minta no Hina:).. Saya juga seneng malahan saya cemburu:(.. Mau follow gimana ya?:),

XLR8: iya ini saya udah lanjut:).. Iya Naru nanti akan sembuh kok.. Punya, saya punya:D

ayaa: makasih:))))...

guest: ada saya punya tapi belum diisi cerita:(

Hina-Hime XD: makasih:)) aminnn:D.. Makasih dah nunggu:).. Iya saya jaga kesehatan:) yoshhh ganbatte:)) Saya terima salam peluk ciumnya, saya juga malahan sama peluk cium:)

Hina-Hime XD: makasih udah mau nunggu:D.. Iya saya jaga kesehatan:).. Yoshhh ganbatte:) Saya terima salam peluk ciumnya, saya juga malahan sama peluk cium:)

Arigatou minna-san.

~Peluk cium RiuDarkBlue~

.

.

.

25 April 2017