[Bagian 1]
Apa itu keajaiban?
Tak pernah ada yang bisa menjelaskan secara spesifik definisi tersebut. Sama halnya dengan kata cinta, bagiku, keajaiban adalah kata yang tak terdefinisi secara resmi dalam kamus kata kumiliki.
Aku tak percaya akan keajaiban, tidak ketika sampai sekarang aku hidup dengan menempa jalan hidupku sampai sekarang. Dan aku kesulitan mempercayai keajaiban semenjak aku selamat dari neraka mengerikan itu.
Aku selama ini hidup dengan menempuh jalanku sendiri bukan? Aku bahkan memanipulasi banyak hal untuk bisa sampai di sini sekarang. Aturan baku yang ku-punya adalah manipulasi para makhluk supernaturalah sebanyak mungkin dan manfaatkanlah mereka lalu bunuh saja mereka. Lalu jika seperti itu apa ada yang berpikir aku memanipulasi orang yang berada di dekatku? Untuk Ophis, Draig dan Asia, tidak! Aku tak memanipulasi mereka, aku menyayangi mereka semua dan aku sudah punya rencanaku sendiri akan masa depanku dengan mereka.
Hilir mudik pejalan kaki yang mana semuanya adalah para iblis terlihat di mataku. Aku kemudian tersenyum ketika mendengar laporan Zetsu padaku kemarin.
Aku tahu ada begitu banyak wakil di Battle Royal yang kekuatannya tak bisa dianggap remeh dan aku tahu itu... Tapi ada diantara mereka semua, 32 wakil, ada beberapa yang masuk dalam daftar yang sangat berpotensi yang nantinya akan menentukan jalan pertarungan di Battle Royal ini. Aku sudah hampir mendapatkan satu informan dari salah satu yang berbahaya di perang ini, Rizevim, yaitu Euclid Lucifuge adik dari Grayfia Lucifuge. Dan aku pasti mendapatkannya karena tawaran milikku tentu tak bisa dia tolak kan? Aku menawarkan tawaran itu tentu setelah laporan dari Zetsu tentangnya sudah kuperiksa dan kupikirkan matang-matang. Sebuah seringai tercipta di wajahku.
Tak pernah kusangka ada iblis yang begitu ingin menjadi manusi karena dia ingin menua dan hidup dengan normal. Keinginan yang sangat naif namun aku bisa menerimanya. Ternyata memasukkan sihir kuno untuk melihat ingatan seseorang bahkan dewa sekalipun tanpa diketahui pada Zetsu sangat berguna sekali ya...
"Dan seperti biasa kau selalu berpikir matang seperti biasanya. Selalu ada rencana B kan kalau kau gagal mendapatkan iblis itu secara sukarela?"
Suara Draig menggema di kepalaku dengan jelas.
"Tentu saja selalu ada rencana cadangan yang siap kulakukan jika ada rencana gagal..." aku menjawab Draig dengan mantap. "Tak seperti masa lalu dimana aku mengalami banyak kegagalan untuk belajar dan menyusun sesuatu ketika masih belajar darimu, kali ini semua rencanaku harus berjalan mulus"
"Yah... Kalau soal taktik dan strategi kau sangat menakutkan untuk sekarang, Naruto... Tak seperti saat kau masih belajar di bawahku..."
"Kau pikir aku sampai disini karena apa?" Aku melihat telapak tanganku sendiri yang kanan yang kuangkat. "Trial and Error. Aku terus mencoba dan mencoba tak peduli resiko apapun kala itu, ditambah dengan pelatihan milikmu yang sangat berat dan berbagai pembelajaran sihir kuno... Haahh... Entah mengapa aku bisa melalui itu semua..."
"Dan belum pernah ada manusia di jaman sekarang yang bisa melalui itu semua kecuali dirimu kurasa..."
Aku tersenyum. "Kau salah..." aku menjawab kemudian. "Kau tak pernah ingat betapa luasnya dunia dimensi ini atau bumi? Kau hanya menemukan satu permata saja yang terkubur diantara lumpur yang ada yang mana kebetulan permata itu ternyata menjadi Host-mu sekarang... Masih banyak lagi permata yang bagus yang ada di dunia ini yang masih terendam dan belum terjamah oleh tangan kotor mereka, para makhluk supernatural menjijikkan itu."
"Hohohoho... Dendam yang masih tersisa di hatimu ini sangat mengerikan ya? Kau lupa kau sudah jadi salah satu dari makhluk menjijikkan yang baru kau sebut? Naga termasuk dalam makhluk supernatural dan mitos serta legenda bukan?" Draig mencibir dengan kata-kata sarkas yang tak bisa kuhindari.
"Cih...!" dengusku kemudian yang disambut tawa terbahak-bahak Draig. Ya, terus saja menertawakan dan menyudutkanku seperti ini naga tua! Jika tubuhmu masih ada, sudah kutendang bokong bersisikmu itu. "Itu tak penting lagi sekarang, yang terpenting adalah bagaimana caranya agar para manusia yaitu Rin dan si setengah iblis, Vali yang sekarang sudah berubah menjadi manusia itu menang, Draig... Selain itu bagaimana caranya agar aku bisa tetap hidup meski mereka menang."
"Kau seakan menantang peraturan dari Kami-sama, Naruto"
"Benarkah? aku tak menentangnya jika Kami-sama tak tahu tentang keinginanku, Draig." dengan pelan sebuah kekehan kecil keluar dari mulutku. "Aku tahu betul Kami-sama pasti sudah tahu apa rencanaku dan kenapa aku tak dihentikan jika begitu? Pertanyaan ini terus mengusik diriku sendiri,Draig. Harusnya aku kena hukuman karena mencari cara yang menentang peraturan mutlak-Nya. Tapi kenapa aku dibiarkan? Aku tak tahu. Aku adalah Saint atau Demon? Aku tak tahu..." aku menggengam tangaku yang terbuka secara perlahan. "Tapi aku tahu masih ada takdir yang harus kupenuhi dan aku akan melakannya lalu hidup dengan tenang bersama Ophis, Asia dan dirimu sebagai satu keluarga utuh..."
Draig terdiam tak lekas membalas ucapanku. Aku tak tahu apa yang dipikirkannya sekarang dan setelah hening beberapa saat dia berkata singkat saja kepadaku.
"Selalu menjadi bocah naif bagaimanapun kuatnya dirimu..."
Dan setelah dia mengatakan itu, dia kemudian diam dan tak berkata apapun lagi, meninggalkanku yang kembali melanjutkan kegiatanku melihat iblis yang hilir mudik berjalan.
Battle Royal bahkan sudah dimulai, kami semua yang ikut di dalam pertempuran yang menentukan nasib setiap ras ini menjadi makhluk semi immortal, sesuatu yang mana kami tak akan bisa dibunuh oleh mereka yang bukan termasuk dalam ranah pertempuran yang ada.
Dan sudah genap dua minggu sesudah pertemuan pertama saja, sudah terjadi kegemparan besar-besaran di dunia supernatural... Sigh... Ini menyebalkan. Dan selama dua minggu setelahnya pertemuan pertama itu, belum ada bentrokan pertama sama sekali. Sepertinya para peserta lain masih mempersiapkan baik-baik rencana mereka dalam menghadapi pertarungan ini ya...
Setiap ras yang mendengar ini menjadi kalang kabut. Mereka bahkan tak bisa menyangka bahwa Kami-sama akan berbuat seperti ini, bahkan malaikat-pun tidak menyangka hal ini.
Mau bagaimana-pun cerdasnya kita, kita tak akan bisa paham selamanya kan dengan jalan pikiran Kami-sama yang Agung?
Beberapa pemimpin yang tak percaya akan hal ini mencoba mengonfirmasi hal ini, tapi pada siapa mereka akan mengonfirmasikan hal ini? Pada para peserta? Para peserta bahkan dilarang memberitahukan detail pertempuran ini pada yang bukan ikut serta. Kami bahkan hanya bisa memberitahu bahwa kami ikut dalam pertempuran gila ini untuk menentukan nasib ras yang ada dan sisanya... Tak ada yang boleh dikatakan. Bahkan walau kami dipaksa sekalipun, kami tak akan bisa bicara karena ini sudah peraturan juga. Namun ada beberapa hal yang bisa diberitahukan juga sih seperti kami menjadi semi-immortal dan hanya bisa dibunuh sesama peserta saja.
"Sudah dimulai ya?..."
Suara lembut Ophis masuk ke pendengaranku yang mana aku menoleh kepadanya dimana dia datang dari celah dimensi. Dia tampil bukan sebagai wujud anak kecil, tapi wujud asli remaja yang dia miliki, berjalan perlahan dan duduk di sampingku mengamati kota dunia bawah Underworld terbesar, Lilith, yang diambil dari nama istri Lucifer dari sebuah gedung tertinggi yang ada di sini.
Gedung ini sangat tinggi, mungkin berisi lantai 90 atau lebih, aku tak tahu pasti. Tapi dari sini aku bisa melihat aktivitas para penduduk bawah yang jika dilihat sekilas mereka semua tak ubahnya seperti para manusia.
Aku setidaknya bersyukur gelaran ini tak diadakan di dunia manusia. Yah setidaknya manusia yang tidak tahu apapun tak harus kalang kabut dan panik berbeda dengan para makhluk supernatural yang kini kalang kabut tak jelas seperti sekarang.
"Yah... Semua sudah dimulai akhirnya..." aku menjawab kepada Ophis yang duduk di sampingku. Seperti biasa, dia menyandarkan kepalanya di pundak. "Bagaimana denganmu, Ophis?"
"Bagaimana apanya?"
"Kau tahu kan maksudku? Bagaimana dengan kalian para pengawas yang ada? Sudah bertemu satu sama lain?"
"Jangan tanya hal yang menyebalkan saat kita berdua, Naruto..." tukas Ophis. "Sangat menyebalkan bertemu dengan naga merah tua yang ternyata memang tua itu juga menyebalkan dan esentrik dengan si naga penghancur yang ternyata justru bertingkah tergila-gila dengan makanan manis... Rasanya aku sendiri yang normal saat kami semua bertemu untuk pertama kali secara damai..."
"Eh... Bukannya itu menarik? Kau kan bertemu dengan sesama penyuka manis juga?" aku tertawa kecil. "Tapi mungkin seru juga jika sampai bertemu dengan naga Great Red itu, aku jadi ingin tahu seperti apa dia..."
"Aku melarangmu bertemu dengannya! Kau akan jadi menyebalkan jika bertemu dengannya, Naru... Kalian berdua mirip dan aku tak mau kalian berbuat kejahilan di waktu yang serius seperti ini!"
"Ha'i... Ha'i Ojou-sama..." aku masih tertawa kecil. Ophis yang melihatku tertawa memberikan tatapan imut dan menggemaskan. Aku mengabaikan tatapan imutnya dan kembali melihat ke depan sana. Di sana, jauh di bagian barat, aku melihat asap tebal baru saja tercipta. "Ow... Bentrokan pertama sudah dimulai ya?"
"Kau bisa melihat siapa yang bertarung disana, Naru?"
Mata nagaku kemudian melihat jauh ke arah ledakan besar di sana. Yah... Dengan mata naga ini aku bisa melihat jarak jauh dengan sangat jelas sekali. Dan ketika melihat siapa yang bertarung, aku langsung mengeluarkan nafas lelah. Kok rasanya anak mesum yang baru jadi iblis itu sial sekali ya? Dan tunggu sebentar, melihat lawannya yang ada di sana, dia terlihat melawan seorang Dwarf atau kurcaci kerdil... Wah... Untungnya dia tidak melawan para peringkat atas yang ada...
"Bocah pion Gremory yang sedang melawan seorang Dwarf... Astaga, kesialan bocah maniak payudara itu terkesan sedikit berlebihan."
"Dia melawan Dwarf yang mana?
"Pengawal pangeran Dwarf, Ariele... Pangeran dan pengawalnya menjadi wakil dalam Battle Royal yang ada kan?"
"Iblis itu akan mati dini..." Ophis berujar dengan mengangkat kepalanya dari bahuku. "Melawan pembuat pusaka para dewa... Dwarf adalah salah satu ras yang tak bisa diremehkan..."
"Entahlah..." Aku kemudian berdiri dan mengulurkan tanganku kepada dewi naga ini... "Kau mau melihatnya bersamaku?"
"Aku tak menolaknya jika harus melihat sesuatu yang menarik jika bersama naga yang tampan bukan?" Ophis tertawa kecil dan aku memutar mata bosan. Dia kemudian menerima uluran tanganku dan aku membantunya berdiri.
"Sebuah godaan yang bagus Ophis"
"Itu bukan godaan, itu kenyataan kok" senyum Ophis. Aku yang melihatnya tersenyum tak kuasa untuk ikut tersenyum juga. Lingkaran distorsi sihir perpindahan tercipta di bawah kaki kami dan kami kemudian pergi dari sana.
Mengamati bentrokan pertama secara resmi akan menyenangkan pastinya.
[Bagian 2]
Serangan listrik itu mengarah dengan sangat cepat ke arah pria kerdil yang membawa sebuah palu godam besar disana yang jika dilihat sekilas itu tak selaras dengan perkiraan bahwa orang kerdil yang akan terkena serangan listrik yang keluar dari tombak Halberd itu mampu mengangkat palu godam itu untuk menahan serangan listrik yang datang mengarah kepadanya.
Pertempuran pertama ini terjadi dalam hutan familiar dimana pria kerdil itu awalnya mencari bahan untuk membuat pusaka baru untuknya dalam menghadapi gelaran pertarungan mematikan yang menentukan nasib ras mereka. Tapi dia tak menyangka jika dia akan bertemu dengan salah satu wakil juga disini. Wakil dari para iblis yang sudah dia ketahui siapa ini berdasarkan dari informasi yang ada.
Hyoudou Issei.
Nama dari remaja yang baru-baru ini menjadi iblis dan dirumorkan sudah bisa menahan serangan pembantai dari pasukan malaikat jatuh Kokabiel. Sebuah pencapaian yang sangat bagus untuknya yang merupakan iblis baru.
Dan pria kerdil yang termasuk dalam ras Dwarf atau kurcaci itu kemudian menngayunkan palu godamnya yang besar dan berwarna silver mengkilap. Mematahkan segala logika yang ada dimana seharusnya pria kerdil yang tingginya tak lebih dari setengah badan orang dewasa itu dengan mudahnya mengayunkan palunya, palu silver yang harusnya menjadi pengantar listrik yang baik dan justru berbahaya jika digunakan untuk menangkis serangan berbasis petir dengan intensitas listrik tinggi seperti itu, tapi sekali lagi itu terbantahkan dimana palu itu justru mementalkan serangan listrik itu ke udara.
Ras Dwarf terkenal di dunia supernatural sebagai penempa senjata pusaka dewa dewi yang ada. Mereka merupakan penempa terbaik yang pernah ada di dunia supernatural dan mereka banyak dicari untuk dipinta atau dipaksa membuatkan senjata oleh para makhluk supernatural.
Hal seperti pemaksaan itulah yang menyebabkan para Dwarf mulai menghilang satu persatu dan sulit ditemui kembali dan itu terjadi karena Raja Dwarf yang memang memerintahkan untuk rasnya bersembunyi dari dunia ini tak tak pernah menampakkan dirinya lagi di dunia supernatural agar rasnya tak mengalami pemaksaan untuk membuat senjata pusaka lagi.
Tapi, hal itu kemudian sedikit berubah ketika pangeran mereka dan wakilnya mendapatkan kesempatan dari Kami-sama untuk ikut gelaran pertarungan yang ada yang mana ini nanti bisa membuat ras mereka kembali berjaya dan hidup tenang tanpa paksaan dari manapun.
Ariele, sang Dwarf tersebut mementalkan serangan listrik yang diarahkan Hyoudou Issei dengan begitu mudahnya tadi. Lalu dengan memutar palu godamnya sebentar di udara, dia mengayunkan palu godamnya ke arah tanah.
Dan gempa terjadi kemudian. Gempa hebat yang memaksa Issei yang berada dalam balutan armor Balance Breaker miliknya harus melompat ke udara.
Bagaimana ceritanya mereka berdua bisa bertarung?
Awalnya sang Dwarf dengan jenggot lebat dan berkelamin laki-laki itu sudah dikatakan tadi berniat mencari bahan untuk membuat pusaka baru bukan? Kebetulan saja dia bertemu dengan Issei yang berada juga secara kebetulan di hutan Familiar untuk mencari Familiar bersama dengan ketua klub ORC beserta anggota mereka.
Tentu saja melihat ada salah satu wakil yang kelihatan lemah harus disingkirkan sebelum dia menjadi menyusahkan bukan nantinya? Dan itulah memang pikiran dari Dwarf ini.
Ariele tak takut dengan para Maou karena sekarang dia makhluk semi-immortal yang mana dia tak bisa dibunuh oleh mereka yang bukan peserta yang ada.
"Buchou, semuanya! Larilah dari sini!" teriak Issei yang masih berada di atas.
"Kami tak akan meninggalkanmu, Issei!" teriak Rias. Dia berada di jarak aman pertarungan mereka yang mana dia bersama yang lainnya memang berada di sini atas permintaan Issei, budaknya.
"Jangan bodoh!" bentak Issei kemudian. "Kalian tak akan bisa melakukan apapun saat ini!"
"Tapi Issei! Kami tak bisa membiarkanmu sendirian menghadapinya! Dia bukan tandinganmu!"
"Karena itu aku minta kalian semua pergi dari sini!" teriak Issei kembali sambil menapak tanah. Dia berdiri di depan hingga hanya punggung miliknya saja yang terlihat oleh rekannya. "Ini adalah pertarungan yang mana kalian tak terlibat di dalamnya! Sudah kukatakan bukan, dia Battle Royal kalian tak akan pernah bisa membunuh mereka yang merupakan peserta" dia menoleh ke belakang. "Karena itu tolong aku dengan menjauh dari sini dan biarkan aku menahannya untuk saat ini"
"Issei..." gumam Rias kemudian.
"Kata-kata yang sangat menyentuh dari seorang mantan manusia..." Ariele ikut bicara kemudian. Dengan menjentikkan jarinya, kubah besar transparan tercipta yang kemudian mengurung Issei di dalamnya beserta dirinya dan kubah transparan itu terus melebar ke belakang memaksa Rias dan budaknya terbang ke belakang. Mereka berteriak memanggil rekan mereka yang kini memandang sekitar kubah tersebut dengan geram.
"Aku tak berniat bermain dengan mereka, iblis kecil yang mengira dirinya itu kuat, iblis muda... Aku hanya berniat bertarung dan membunuhmu di sini sebelum kau menjadi masalah di kemudian hari..." Ariele berujar dengan tenang. Dia kemudian memandang dingin ke arah Issei yang kini memandang tajam kepadanya. Sangat tajam dan marah.
Membunuh dirinya? Jangan bercanda! Issei masih punya impian yang ingin diwujudkan dan dia tak akan mudah terbunuh begitu saja!
"Kau bermulut besar pak tua!" tombak di tangan Issei dia eratkan pegangannya dan membentuk kuda-kuda dengan mengarahkan ujung tombak ke depan. Percikan listrik menguar dari tombaknya.
Inilah Issei yang sedang dalam mode serius!
"Kalau begitu kita buktikan apa benar aku hanya bermulut besar, pemilik sacred gear dengan jiwa Kirin..." tukas Ariele yang juga melakukan kuda-kuda miliknya.
Waktu serasa berhenti, dan dengan satu gerakan pembuka Ariele, si Dwarf tersebut melakukan serangannya sebagai permulaan dengan melemparkan palu godamnya ke arah Issei. Sangat cepat dan Issei menghindari lemparan palu itu dengan menghindar ke samping. Dia berniat akan maju ke depan, namun dia terhenti ketika dia melihat palu godam milik Dwarf itu terhubung dengan sebuah rantai yang menarik palu godam itu untuk mengincarnya dari belakang. Hal itu dihindari Issei dengan melompat memutar ke belakang dan dia kemudian melemparkan tombak listrik miliknya ke arah Dwarf yang sudah memegang kembali palunya itu.
Lemparan tombak dengan elemen listrik itu sangat cepat, jauh lebih cepat dari lesatan peluru. Tapi itu masih dihindari oleh Ariele dengan memukul tombak itu hingga itu terpental ke atas.
Tapi itu merupakan bagian serangan Issei karena ketika tombak itu dipentalkan, di belakangnya sudah mengikuti satu tombak biru yanng terbuat dari petir juga.
Serangan yang membuat sang pengawal Dwarf dari pangeran Dwarf tersebut membulatkan mata dan kemudian serangan itu tepat mengenai dada dari sang Dwarf.
Tapi apakah sang Dwarf terluka?
Jawabanya tentu saja tidak. Malah yang terlihat di sana adalah Dwarf tersebut memakai sebuah armor berwarna emas yang Issei tahu itulah penyebab bagaimana serangannya bisa tidak mempan.
"Hohohoho... Serangan yang bagus. Kau malah jadi kuat dari rumor yang kudengar ya?"
Pertanyaan itu bernada seolah mengejek iblis muda yang kini mengertakkan giginya dari balik helm armornya. "Aku belum selesai, bajingan!" teriak Issei dan melesat maju ke depan. Tombaknya dia tusukkan ke arah Dwarf yang berpakaian armor emas ini.
Issei itu memang hanya baru jadi iblis baru-baru saja, tapi selepas dia datang dari pertemuan pertama Battle Royal dia langsung memberitahu Rias yang mana langsung memberitahu para Maou yang ada dan langsung kalang kabut mendengarnya. Dia bahkan kemudian selama dua minggu ini langsung dilatih oleh Maou sendiri untuk mempersiapkan dirinya dan tentu saja dia menjalani latihan yang sangat-sangat berat tapi itu terbayar lunas saat ini.
Ariele menangkis tusukan tombak Issei dengan palunya, mereka kemudian saling menyerang dengan senjata mereka masing-masing.
Issei menusukkan tomabk dengan cepat sementara Ariele menghadang dengan palunya dan juga sesekali mengayunkan palunya untuk menyerang. Sungguh kecepatan mereka beradu senjata seperti layaknya mereka sudah sangat terbiasa dengan itu.
Tapi masih ada satu kelemahan yang Issei ketahui. menggunakan palu seberat itu pasti ada batasnya dan benar saja, gerakan Ariele semakin melambat dan Issei semakin cepat, dengan satu gerakan tusukan pada celah yang ada, Issei mengirimkan Ariele ke belakang dengan dorongan kuat yang membuat si Dwarf itu berguling di tanah sebelum menghantam salah satu pohon. Dan masih belum cukup dengan itu, Issei kemudian mengalirkan listriknya dalam jumlah sangat besar ke arah tombak di genggaman tangannya dan melemparkannya ke arah Dwarf yang kemudian menangkisnya dengan melemparkan palu miliknya ke arah datangnya tombak itu dan kemudian tabrakan dari dua senjata itu kemudian meledak, menciptakan asap dari debuan yang ada.
"Yare... Yare... Palu godamku ternyata harus hancur ya..." Ariele berujar dengan santai kepada Issei di depannya yang kini kembali membuat tombak halberd dari petir.
"Kali ini kau yang akan mati, pak tua kerdil..." Issei menyiapkan kembali kuda-kudanya.
"Mulutmu tajam juga ternyata bocah..." Ariele berujar santai. "Sayang sekali palu prototype dari senjata pusaka yang ada itu harus hancur ya... Maa, itu tidak masalah karena aku nanti bisa membuatnya lagi, lagipula..." dia menjeda ucapannya dan kemudian sebuah lingkaran sihir tercipta di sampingnya. Dwarf laki-laki itu kemudian memasukkan tangannya ke dalam lingkaran sihir itu dan menarik sebuah busur panah warna emas yang terlihat sangat indah di sana. Busur panah yang merupakan salah satu pusaka yang dia buat yang mana busur ini dia buat dengan bahan terbaik yang ada. "Kita lihat sekarang, apa pemanah bisa menang melawan seorang penombak?" ujarnya.
Dan dengan satu hentakan, Ariele kemudian melompat ke belakang dan menarik busur panahnya. Tiga panah tercipta dan dilesatkan ke arah Issei. Panah itu berwarna silver dan bersinar dan itu kemudian dilepaskan dengan kecepatan melebihi kecepatan sebuah peluru.
Issei yang melihat panah itu datang kemudian mengutuk serapah, dia petarung jarak dekat dan kini harus bertarung dengan seorang petarung yang bertarung dengan jarak jauh? Otaknya berputar mencari cara sembari dia menangkis panah yang datang yang rasanya semakin banyak saja mengarah kepadanya.
"Cih... Ini menyusahkan!" guman Issei. Satu-satunya cara hanyalah menghindari panah panah ini sembari maju ke depan! Dan dengan itu, Issei melesat maju.
'Dia sudah tahu bahwa satu-satunya cara menghadapi pemanah hanya menerjang maju huh?' batin Ariele kemudian. 'tapi bagaimana caramu menhadapi ini huh?!' menarik senar busurnya, sebuah panah tercipta yang kali ini bukan berwarna silver tapi berwarna biru.
"Million Rain!..." teriak Ariele melepaskan satu anak panah yang kemudian meledak dan memunculkan ribuan anak panah lainnya.
Melihat itu, bukannya berhenti, Issei malah makin maju menerjang ribuan anak panah biru itu. Satu tangan dia arahkan ke depan. 'Kirin-sama, bantu aku!' batin Issei. Seakan menjawab balasan dari Host-nya sebuah lingkaran sihir biru muncul di depannya dan menciptakan pelindung seperti sebuah tameng bundar yang memercikkan percikan listrik. Itu membuat panah yang datang terlihat hanya memental seperti penghapus yang dilemparkan ke tembok ketika panah itu beradu dengan temeng listrik milik Issei.
"Pintar, menggunakan tameng untuk menahan panah sambil terus maju,..." tukas Ariele, "Tapi, semua berakhir di sini." Panah berwarna hijau mucuk kembali di busur Dwarf itu dan dia menembakkannya ke atas, "Kau mungkin bisa menahan panah yang datang ke depanmu dengan tameng, tapi bagaimana dengan yang datang dari atas?"
Panah hijau yang dilesatkan oleh Ariele ke atas meledak dan itu memuntahkan ribuan hujan panah yang turun ke bawah bagai air hujan.
Melihat itu membuat Issei panik, dia masih menghadapi serangan panah dari depan, tapi bersamaan dengan itu, panah dari atas mengincar dirinya!
"Bocah bodoh gunakan armor kedua-ku untuk menahan serangan dua arah ini!"
Suara dari Kirin menggema di kepala Issei yang langsung dengan sigap mengerem lajunya dan mengeluarkan percikan listrik hebat. Merubah armor yang dimilikinya menjadi lebih gemuk dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna.
Inilah keistimewaan dari Balance Breaker Rodius milik Issei, armor miliknya tak hanya satu tapi ada tiga yang masing masing punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Armor kedua ini mengorbankan kecepatan yang ada namun lebih menekankan pada pertahanan dan Issei masih berusaha untuk menguasai armor ini. Dia belum bisa membuka armor ketiga karena kemampuannya belum mencukupi.
Hujan panah dari atas itu mengenai Issei di bawah dan meledak, membuat tanah bergemuruh dan asap debu bertebangan. Ketika asap debu hasil dari serangan panah itu menghilang, terlihat Issei masih berada di sana dengan menggenggam tombak. Armor zaman Edo miliknya terlihat menebal dan menutupi seluruh tubuhnya dengan sempurna ditambah percikan listrik yang keluar berwarna sedikit merah yang terlihat menjadikan Issei seperti dewa petir saja.
"Armor dengan pertahanan yang sangat baik sekali. Terakhir kali aku melihatnya adalah saat pangeran bertarung melawan pengguna armor itu sebelummu karena pengguna sacred gear itu memaksa salah satu rakyat kami untuk membuatkannya senjata. Armor dengan ketahanan tinggi yang mengorbankan kecepatan ini memang menyusahkan kami waktu itu karena banyak pusaka kami yang tak mempan membuat armor itu hancur..." puji Ariele kemudian. Namun tanggapan Issei hanya diam dan dia kembali bersedia untuk maju lagi. "Kami saat itu kesulitan menangani pengguna armor itu, tapi kami akhirnya bisa membunuhnya. Dan kau tahu apa yang membunuhnya saat itu?" menarik busur panahnya lagi, sebuah anak panah emas dengan ujung berbentuk seperti mata bor tercipta.
"Sebuah anak panah dengan mata bor emas yang mengerikan inilah yang berhasil membunuhnya dan tepat mengenai jantungnya" seringai tercipta di wajah Ariele
"!"
"...Dan akulah juga pembunuhnya,"
"Bocah, hindari panah itu!"
Baru saja Ariele berniat melepaskan panah itu, dia tiba-tiba menhilangkan panah itu dan kemudian berbalik. "Kurasa ini hari keberuntunganmu, iblis. Pangeranku baru saja memanggilku dan sebagai pengawal yang baik aku harus segera datang menemuinya..."
"Kau berniat lari?!"
"Tentu saja sebenarnya tidak. Malah aku berniat membunuhmu lansung kalau bisa agar pihak iblis kehilangan salah satu wakilnya dan membuat peluang menang mereka makin tipis. Tapi rasanya membunuhmu yang sekarang atau nanti juga percuma..." Ariele menoleh kemudian. "Kau lemah, iblis"
Perkataan itu membuat Issei marah dan dia lansung melemparkan tombaknya dengan sangat cepat mengincar Dwarf sombong itu, tapi belum sempat itu mengenai kepala si kurcaci itu, dia sudah menghilang lebih dahulu dalam lingkaran sihir yang membuat Issei kemudian berteriak marah.
[Bagian 3]
"Sayang sekali tak ada yang terbunuh kali ini..." aku bergumam pelan ketika menyaksikan Dwarf itu pergi dari hadapan Issei.
"Membosankan sekali jika tak ada yang terbunuh..." balas Ophis sambil menguap kecil. Kami berada di tebing yang berada di salah satu bukit di Underworld yang mana kami bisa melihat pertarungan pertama tadi dimulai.
"Oi, oi, kau memang sadis ya? Seharusnya kau senang bukan melihat mereka berdua kembali pulang dengan selamat ke ras-nya masing-masing."
"Kurasa kau yang tak waras yang berkata seperti itu padahal aslinya kau juga berharap salah satu mati kan, Naru?" balas Ophis sambil mencubit pipiku. Aku kemudian hanya tertawa kecil saja mendengarnya.
Yah tak bisa dipungkiri akau juga ingin melihat ada salah satu dulu yang mati. Kukira tadi bahkan aku berniat untuk menyelamatkan bocah mesum itu yang nantinya berguna sebagai pion untukku, tapi ternyata aku tak harus turun tangan ya...
"Tapi, tak kukira Dwarf punya pusaka seperti tadi. Kurasa tadi bahkan masih belum sepenuhnya Dwarf itu mengeluarkan kekuatannya. Busur panah itu bahkan masih tersegel kekuatannya. Aku bisa merasakan itu..."
"Kau menginginkan pusaka tadi?"
Aku menoleh ke arah Ophis dan tersenyum kemudian. "Kurasa tidak..." jawabku. "Jika senjata pengawal saja seperti itu aku malah akan tertarik dengan senjata milik pangeran Dwarf-nya malah... Apa senjata itu lebih kuat dari tombak Gungnir milik Odin atau Master Bolt milik Zeus kita tidak tahu bukan?"
"Kau serakah, Naru..."
"Ahahahaha..." tawaku kemudian sambil menggaruk kepala belakang yang tak gatal. "Kalau tak sedikit serakah aku bukan pengkoleksi namanya. Tujuanku yang kedua di perang ini adalah mengkoleksi semua senjata milik para peserta yang sudah kalah. Menarik bukan?"
"Terserah padamu,... Asal jangan kau taruh senjata itu nanti ke dalam rumah sempitmu..."
"Kalau sempit kenapa kau mau juga tinggal disana dewi naga aneh..." tukasku sambil memutar mata yang tak dibalas jawaban dari Ophis melainkan dengan sebuah usapan wajahnya ke pundakku. Astaga, dia mulai bertingkah manja lagi dan aku hanya bisa diam saja ketika dia melakukan kegiatan mengusap wajahnya di pundakku.
"Tapi... Sepertinya mereka yang lain yang melihat pertarungan pertama ini merasa gemas juga karena tak ada adegan bunuh bunuhan di sini..."
berhenti mengusapkan wajahnya, dewi naga ini kemudian kembali menyandarkan kepalanya di pundak tempat dimana pundakku sudah dia klaim sebagai miliknya sendiri dan dia tak akan berbagi dengan siapapun. "Great Red juga kurasa gemas karena tak ada adegan yang menarik selain pertempuran biasa." Ophis berujar datar. "Lihat, dia di atas tebing sana melambai ke arah kita dengan wajah menyebalkan miliknya."
Aku melihat arah yang ditunjuk oleh Ophis di sebrang bukit tempat kami berada dan melihat seorang pria Yankee atau berpenampilan preman dengan rambut merah dan satu anting di telinga kanannya lengkap dengan jaket kulit dan celana jeans ketat juga sepatu boot melambai ke arah kami dengan cengiran.
Dia Great Red?
Kok sepertinya dia nyeleneh ya?
Aku yang melihat cengiran dan lambaian tangannya membalas melambai juga.
"Yo, lambaian tangan yang penuh semangat anak muda..."
Sebuah suara tiba-tiba saja terdengar di sampingku dan membuatku menoleh dimana aku kemudian melihat Great Red sudah berada di sampingku secara tiba-tiba dengan begitu cepatnya sampai aku tak tahu bagaimana cepatnya dia!
"Kau menganggu-ku, naga bodoh!" dengus Ophis tiba-tiba. "Kenapa kau datang kemari!"
"Ehhh... Aku kemari hanya ingin menyapa saja kok!" balas Great Red dengan sedikit tertawa. "Jadi ini pemuda yang membuatmu menjadi lupa ingin mengusirku? Dia terlihat kuat ya..." Great Red berujar sambil memandangiku dengan seksama seolah mengobservasiku. "Hmmm... Host dari Draig juga dengan aura tubuh seekor naga..., Ophis, imoutou, kau memilih naga yang bagus sebagai pasanganmu!" Great Red mememberikan jempolnya pada Ophis kemudian yang justru entah kenapa Ophis malah jengkel dan sebuah lubang dimensi tiba-tiba muncuk di bawah Great Red yang duduk di sampingku dan dia jatuh ke bawah kemudian sambil berteriak.
"Sudah kubilang aku bukan adikmu, BAKA!"
"Waaaahhhh..."
Lubang dimensi itu tertutup dengan cepat dan aku yang melihat interaksi mereka berdua hanya bisa mengeluarkan keringat tanda bingung.
Benarkah yang tadi itu Great Red? Sekiryushintei yang amat ditakuti dan dikatakan sebagai naga Apocalypse? Sungguh esentrik sekali dia dan super sekali karena bisa membuat Ophis marah dengan mudahnya.
"Kau jahat, Ophis-chan tiba-tiba membuat lubang dimensi seperti itu..."
Great Red tiba-tiba muncul lagi tanpa tanda apapun di sampingku sambil menangis anime.
"Kau menjengkelkan Red..." ujar Ophis dingin dan dia kemudian mendusel ke arahku seperti kucing yang sedang meminta perhatian karena ngambek. Aku yang melihat itu kemudian mengelus kepalanya pelan dan melihat Great Red yang kini nyengir sambil terlihat jahil.
"Naruhodo... Jadi hanya dengan elusan saja bisa menjinakkan imoutou sampai seperti ini... Kekuatan cinta memang sangat mengerikan ya..."
"Anda Great Red?" tanyaku padanya yang disambut anggukan cepat darinya. "Anda aneh..." kataku frontal kemudian.
Bukannya marah dia malah menepuk pundakku dengan satu tangannya dan wajahnya berubah menjadi seakan bijak.
"Anak muda, menjadi orang aneh adalah salah satu ekspresi untuk menjadi berbeda..."
Alisku mengkerut dengan kata-kata bijak aneh darinya. Apalagi saat dia berkata seperti itu entah kenapa aku serasa melihat efek blink-blik di sekitar wajahnya dan itu entah kenapa membuatku kok merasa jadi sebal.
Dengan refleks aku meninju wajahnya dan membuatnya terjengkang ke belakang dan ditambah Ophis membuat lubang dimensi lagi yang membuatnya jatuh ke dalamnya...
"Waaahhhh..."
"Kau benar Ophis, dia menyebalkan..."
"Bukankah sudah kubilang begitu?"
"Ugh... Kau kejam juga anak mudaa..." lenguh lagi Great Red yang lagi-lagi dia muncul di sampingku. Wajahnya terlihat seperti seseorang tanpa dosa.
"Itu karena kau menyebalkan, Great Red-sama. Dan apa-apaan kata-kata bijak menjengkelkan itu?!" tukasku kemudian yang disambut gelak tawa olehnya.
"hahahahaha... Oh, aku hanya sedang mencoba berusaha meniru kata-kata dewa Shiva yang bijak. Tapi ternyata malah gagal total. Mungkin kalau aku berujar dalam wujud nagaku baru terlihat keren." ujar Great Red dengan santai. "Maa... Lupakan itu,. Pertarungan tadi kurang seru ya..."
"aku sependapat dengan anda, Great Red-sa-..."
"Huah! Hentikan omong kosong yang memanggilku dengan sopan itu anak muda! Kau akan jadi iparku jadi panggil aku Aniki!" tukasnya yang justru kurasa membuat Ophis tambah kesal dan itu ditunjukkan dengan mengeratnya genggaman tangannya di tanganku dan entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja aku dan Ophis sudah berpindah ke Paris di atas menara Eiffel... Ah... Ophis benar-benar sebal ya.
"Mattaku, dia benar-benar menyebalkan sekali..." Dengus Ophis kemudian yang membuatku tertawa kecil.
"Yah... Dia esentrik sekali..."
"Dan berbanding terbalik saat dia marah..." balas Ophis kemudian. Dia lalu berdiri dari duduknya karena saat kami berpindah kami masih dalam posisi duduk. "Aku mau makan kue yang manis di sekitar sini, Naru..." ujarnya imut.
Aku yang mendengarnya tersenyum dan berdiri lalu menggandeng tangannya dan berkata. "Kalau begitu kita cari saja sekarang sekalian mengusir rasa sebalmu itu..."
Dan dia mengangguk lalu kami pergi dari sana kemudian tanpa diganggu oleh Sekiryushintei agung yang entah mengapa aku merasa akan bertemu lagi dengannya.
-X-
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Maaf baru update... Habisnya kau baru saja sembuh dari sakit akibat musim hujan yang membuatku K.O.
Chapter sepuluh sudah update dan maaf juga jika kurang memuaskan, aku belum bisa memaksimalkan imajinasiku dulu ya... Jadi ada kemungkinan chapter depan muncul seminggu lagi dari sekarang... But no problem aku akan meneruskan cerita ini terus sambil masih merangkai cerita yang pas.
Satu ras sudah muncul lagi, Dwarf atau Kurcaci! Menarik atau tidak? Maa, aku tak tahu dan Issei Bad Ass gak ya? Juga Great Red yang aneh... Hah... Ini sangat hebat atau tidak aku tak tahu karena aku menulis ini dengan mengalir saja...
Terima kasih untuk dukungannya dan berikan review untuk fic ini dan saran, Flame juga boleh kok.
Oh iya, fic ku yang satunya akan kuhapus dan kuganti dengan fic baru. Aku berkolaborasi dengan author baru Owl 03 yang kebetulan mengajakku untuk colab dan aku menerimanya. Fic ini masih jadi prioritas utamaku dengan jalan cerita yang masih coba kurangkai semaksimal mungkin karena di fic ini nanti bukan hanya pertarungan fisik saja yang akan kusajikan tapi juga pertarungan otak.
Sudah saja kalau aku curhat... Sampai jumpa di chapter depan... Jaa nee...
Note: maaf untuk typo yang menyakitkan mata dan kata-kata yang berat di fic ini
