Halo~~, tenyata chap ini ada lemonnya. Sumpah gue sendiri ga ngerencanain lemon loh. Jadi ini warning ya, mudah-mudahan ketagihan *plakk*
Happy reading.
.
.
.
"Ohok… Ugh… Hoeeekkkk…"
Begitulah, ini sudah yang ke empat kalinya Sasuke muntah di pesawat selama perjalanan pulang dari Paris. Sebenarnya sejak pagi dan di taksi menuju bandara tadi, Sasuke sudah terlihat lesu dan bahkan ia mengeluarkan keringat dingin. Begitupun, Sasuke hanya menganggap dirinya masuk angin dan minum obat pereda pusing dan mual saja.
Itachi meringis tidak tega melihat adiknya yang mulai pucat karena kebanyakan muntah. Ia memijat tengkuk adiknya sambil terus menggosokkan minyak angin aroma therapy ke kening Sasuke.
"Beginilah akibatnya jika kau keras kepala… Aku sudah menyuruhmu ke dokter beberapa hari lalu kan?" Itachi sedikit menggerutu.
Tentu Sasuke sebal mendengarnya. Ia langsung menyikut Itachi bahkan menginjak kakinya. Beruntung Itachi tidak spontan berteriak hanya sedikit mengaduh walaupun sebenarnya rasanya sakit sekali.
"Kalau tak mau membantu, tak usah bantu. Diam saja dengan tenang tidak perlu meledekku…" Sungut Sasuke.
Sang kakak menarik nafas panjang. Belakangan ini Sasuke lebih sensitive dari biasanya. Hal-hal sepele pun bisa jadi masalah. Dia jadi lebih peka. Mudah senang, mudah marah, mudah sedih bahkan yang membuat Itachi heran adalah Sasuke terkesan sedikit lebih manja.
"Aku tidak meledekmu, Sasuke – mengapa kau keras kepala sekali… kau terlalu banyak makan di tempat yang iklimnya sama sekali tidak cocok untukmu, lihatlah sekarang kau benar-benar sakit…"
"Berisik Itachi, belakangan ini kau begitu cerewet. Sudah kubilang, aku tidak apa-apa..."
Sang kakak yang amat menyayangi adiknya ini akhirnya hanya bisa tersenyum tipis sambil membelai kepala Sasuke dengan lembut. Lalu mencium keningnya dengan sayang sambil mengusap mulut Sasuke dengan tissue basah dan membuang kertas muntah bekas pakai Sasuke.
"Maaf, tapi aku mengkhawatirkanmu karena aku menyayangimu, Otouto..."
Mendengar kata-kata lembut kakaknya, Sasuke hanya mengerutkan bibirnya dengan manis-menurut Itachi-dan memalingkan mukanya tak mau membalas tatapan Itachi. Ia selalu dan dipastikan akan kalah jika perdebatan yang dimulainya selalu dilawan oleh kata-kata lembut dan penuh sayang dari Itachi.
"Ugh - "
Tak sempat mengambil kertas muntah lagi, Sasuke memuntahkan isi perutnya ke baju dan celana Itachi. Kali ini, Sasuke baru menyadari kesalahannya. Seandainya ia menuruti nasihat kakaknya, pasti kejadian ini tak kan terjadi. Ia tak sengaja melakukan hal paling bodoh dan memalukan didepan kakaknya-kepada kakaknya.
"Nii-san... Ma-maaf..."
Itachi tersenyum dengan sedikit dipaksakan. Bukannya Itachi jijik, tapi setelah ini ia akan kerepotan karena tentu ia harus ganti baju. Beruntung ia memakai jas yang cukup tebal dan yang ketumpahan muntah Sasuke hanya jasnya dan sebagian kecil dari celananya.
Setelah mengelap sebagian muntahan Sasuke, ia berdiri dan berjalan menuju toilet pesawat. Sasuke hanya memandang langkah kakaknya hingga hilang saat Itachi masuk dan menutup pintu toilet. Kali ini ia benar-benar merasa bersalah dan mencoba mengevaluasi apa saja yang sudah terjadi padanya - perubahan pada dirinya.
.
.
.
Setelah beberapa lama Itachi di kamar mandi, akhirnya ia kembali. melihat adiknya hanya menunduk, ia menepuk kepala adiknya dengan sayang sebelum akhirnya ia duduk kembali disamping Sasuke. Yang di tepuk kepalanya masih menunduk tanpa mengucap sepatah kata pun. sepertinya si bungsu Uchiha ini benar-benar menyesali 'perbuatan' nya pada si sulung,
"Aku tak apa, Sasuke..." Ujar Itachi lembut berusaha menenangkan adiknya.
Sasuke masih diam.
"Aku jadi ingat saat kau pertama kali hamil dulu..." Lanjut Itachi sambil melirik adiknya berharap kata-katanya yang mengandung sedikit ledekan bisa menarik perhatian Sasuke.
Sasuke hanya memalingkan mukanya dengan sedikit rona merah di pipinya mendengar ledekan Itachi.
"Aku juga- sempat berfikir begitu..." Bisik Sasuke.
Itachi mendengus ringan dan kembali mengusap rambut depan adiknya. Sepertinya kali ini Sasuke tak mempan di ledek. Mungkin karena rasa bersalahnya itu atau mungkin memang mood nya sedang kurang bagus akibat banyak kehilangan cairan akibat muntah tadi.
"Pasti akan sangat menyenangkan kalau itu benar adanya..."
Kali ini Sasuke yang mendengus berat dan menggeleng pelan.
"Sepertinya tidak mungkin karena tanda-tanda sebelumnya tidak seperti ini... Aku baru sekarang mengalami muntah dan justru nafsu makanku bertambah... Sementara sebelumnya kan aku lebih banyak muntah dan sulit sekali makanan untuk masuk ke perutku..."
Sang kakak membuat ekspresi sedikit berfikir. 'Benar juga' pikirnya. Kehamilan Sasuke sebelumnya justru ia lebih sering muntah dan kehilangan nafsu makan hingga membuatnya panik dan khawatir setengah mati. Itachi sedikit mengerutkan alisnya kecewa. Tampaknya kesabaran Itachi untuk mendengar berita Sasuke positif hamil itu benar-benar sedang di uji.
.
.
.
Singkatnya, Sasuke dan Itachi kembali tiba di Konoha - sebuah desa yang ada di pinggiran negara Jepang dengan disambut meriah oleh paman dan ibunya. Bahkan kedatangan mereka juga di liput oleh beberapa stasiun televisi atas keberhasilan mereka dalam memasarkan produk pamannya. Begitulah -
Kali ini, giliran ibu dan pamannya yang heran melihat nafsu makan Sasuke yang sedikit menggila. Ketika makan malam di sebuah restoran, dan Sasuke memesan makanan porsi besar, sang ibu dan paman hanya melongo melihat Sasuke yang makan seolah tidak akan pernah kenyang itu. Itachi menaikkan sebelah alisnya menyadari bahwa adiknya sama sekali tidak belajar dari pengalamannya.
"Tak perlu aneh, Haha-ue… Paman Madara… Dia memang sudah seperti itu sejak tiga hari kami tiba di Paris…" Kata Itachi.
Sasuke tak mempedulikan kakaknya yang sedang 'menegurnya' secara amat samar. Dia sudah kebal dengan sindiran dan ledekan Itachi. Si bungsu ini hanya lapar dan jika tidak makan, kepalanya langsung terasa pusing.
"Sasuke - kau akan sembelit…" Mikoto memperingati.
"Itu juga sudah, Haha-ue… sembelit di tengah malam…"
Dan si manis ini tetap tenang menyantap makanannya. Hingga akhirnya anggota keluarganya yang lain hanya memijat kepala mereka masing-masing melihat polah Sasuke yang tidak biasa. Sudahlah, asal si pantat ayam ini senang itu sudah cukup.
.
.
.
Sesi makan malam sekaligus perayaan kecil antar keluarga tersebut selesai dan ketiganya kembali ke rumah.
"Nii-san … Bisa tolong kau belikan aku buah? Sepertinya tenggorokanku kering dan aku ingin yang segar-segar…" Pinta Sasuke.
Itachi melongo. Sangat tidak biasa Sasuke bisa 'memerintahnya' sedemikian lancarnya. Oke, bukan memerintah, tapi meminta tolong. Sasuke tidak pernah seperti itu. Sama sekali tidak pernah, bahkan jika ditawarkan sesuatu pun, Sasuke akan menolak terlebih dahulu demi menjaga gengsinya.
"Ah, biar asistenku saja yang membelikannya, Sasuke - kau ingin buah apa?" Sela Madara sebelum sempat Itachi menjawab Sasuke.
Tiba-tiba saja Sasuke mendelik tajam ke arah pamannya. Mikoto mengedipkan matanya beberapa kali. Ia juga merasa aneh dengan sikap Sasuke.
"Aku mau Itachi yang membelikannya… Paman dengar kan tadi aku menyuruh Itachi?"
Itachi menarik nafas panjang.
"Sasuke, kau baru saja makan malam, sekarang kau minta buah, aku tak mau menolongmu jika kau sakit perut tengah malam seperti waktu itu…"
"Aku ingin buah mangga dan pear, Itachi - dan aku ingin yang segar…" Potong Sasuke tanpa mempedulikan peringatan kakaknya.
Mikoto dan Madara masih terbengong melihat kedua kakak beradik didepan mata mereka. Bahkan sang ibu pun kebingungan. Baiklah, ini benar-benar aneh. Mungkin sang ibu sudah waktunya untuk menghubungi paranormal untuk melakukan pengusiran arwah jahat di diri anak bungsunya. Mungkin saja, si manis ini kerasukan setan orang bule ketika di Paris kemarin kan?
Itachi akhirnya mengangguk dan mengambil kunci mobil.
"Baiklah, Sasuke - aku akan melakukan apapun untuk adik tersayangku…" Jawab Itachi pasrah sambil mencium kening adiknya sebelum akhirnya ia keluar dan berangkat.
Sasuke mendengus lega karena merasa senang keinginannya dipenuhi oleh Itachi. ia tahu persis kakaknya itu tak kan pernah sanggup menolak dirinya - dalam hal apapun. Dan entah tiba-tiba saja, Sasuke begitu ingin 'mengerjai' kakaknya. Sebenarnya tidak bermaksud mengerjai juga. Tapi, ia ingin Itachi melayaninya. Entahlah.
"Sasuke, mengapa kau bersikap begitu pada kakakmu, nak?" Tanya Mikoto lembut.
"Karena aku ingin…" Jawab Sasuke singkat.
"Kau tak tahu, kakakmu itu lelah, dia lebih lelah dibandingkan dirimu…" Nasihat Mikoto.
"Kenapa Kaa-san membela Itachi?" Sasuke balik bertanya dengan nada sedikit kesal.
"Aku tak membela Itachi, Sasuke - hanya saja kau bersikap sangat tidak biasanya…"
Sasuke terdiam. Begitulah, sebenarnya Sasuke sendiri merasa ada yang aneh di dalam dirinya. Begitupun, Sasuke tak ingin memikirkannya. Ia merasa nyaman dengan keadaannya yang sekarang. Ia tahu ia berubah, tapi ia tak mau tahu. Ia tak mau mengakui perubahan dirinya pada keluarganya. Ia masih ingin seperti ini beberapa waktu lagi.
"Sudahlah, Kaa-san - aku sedang tak ingin berdebat… Aku akan ke kamar… Suruh Itachi langsung ke kamar saja…" Jawab Sasuke sekaligus mengelak dari pertanyaan ibunya.
Mikoto menggelengkan kepalanya pelan dan mengangkat bahunya saat dilihatnya pangeran kecilnya sudah meleos naik ke lantai atas menuju kamarnya.
"Dia seperti dirimu saat hamil Itachi, Mikoto…" Tiba-tiba Madara mendengus geli.
Dan tentu wanita cantik yang sudah melahirkan dua orang Uchiha yang tampan dan manis ini tersentak kaget mendengar ucapan kakak iparnya tersebut. Ia baru sadar bahwa perilaku Sasuke yang aneh itu memang mencurigakan dan dia sendiri seperti melihat 'de ja vu'. Sejenak, Mikoto terpana namun akhirnya menggeleng.
"Tak mungkin, Sasuke belum siap hamil… Bahkan kehamilannya yang pertama pun mengalami kegagalan…" Bantah Mikoto.
Madara mendekati Mikoto dan duduk disampingnya dan membelai rambut adik iparnya dengan lembut.
"Kalaupun nanti Sasuke hamil lagi, semoga bisa menjadi lebih baik…"
Wanita berambut panjang tersebut hanya menarik nafas berat dan mengangguk pelan. Pasrah. Ia tahu betul karakter anak bungsunya. Tapi, ia tetap menaruh kepercayaan penuh pada putra sulungnya. Jauh di lubuk hati Mikoto pun, ia memang menginginkan lagi kehamilan Sasuke. Memang terdengar aneh, tapi Mikoto dan Madara jauh lebih memilih Sasuke yang 'hamil' ketimbang Sasuke yang menikah atau Itachi yang menikah. Mereka yang sudah mengetahui kelainan Sasuke ini justru malah menaruh harapan pada Sasuke dalam hal memperpanjang keturunan.
.
.
.
Sesuai dengan 'perintah' sang tuan besar, Itachi langsung ke kamar Sasuke setelah mendapat instruksi dari ibunya yang sebelumnya diberikan amanat oleh pangeran bungsunya. Dengan membawa dua kantong plastic berisi mangga dan pear segar. Bahkan masih berembun karena baru saja keluar dari lemari es di swalayan tadi.
"Ini tuanku - pesanan anda sudah datang…" ledek Itachi sambil membungkukkan badan di depan Sasuke yang sedang berbaring di tempat tidur.
Sasuke cemberut mendengar ledekan kakaknya. Ia malu dan ingin marah sebenarnya, tapi ia tidak tega karena Itachi sudah 'mematuhi' nya. Dan Itachi hanya tersenyum sambil mengetukkan dua jarinya di kening Sasuke lalu menciumnya.
"Aku akan berganti baju dulu, lalu menyuapimu - tak apa, ini penawaran khusus dariku untukmu…" Lanjut Itachi.
"Hn…"
Uchiha muda itu hanya memalingkan mukanya menyembunyikan rona merah di mukanya. Menunggu Itachi mengganti bajunya, Sasuke memilih buah yang akan dimakan terlebih dahulu. Sesekali Itachi melirik adiknya ke belakang. Manis sekali – pikirnya. Itachi rela sekalipun Sasuke memperbudaknya sedemikian hina rupa nya. Adik bungsunya ini adalah segalanya bagi Itachi.
Dan sesuai janjinya, Itachi mengupas dan menyuapi Sasuke dengan sabar dan tulus. Tak bosan Itachi memandang wajah manis Sasuke. Ya, ia rindu adiknya. Selama di Paris kemarin, Itachi terlalu sibuk dan banyak waktunya yang terbuang demi pekerjaan. Walaupun Sasuke tidak protes, tapi Itachi sadar bahwa ia hanya punya sedikit waktu untuk adiknya. Tak masalah sekalipun sekarang Itachi merasa rasa rindunya ini sepihak. Pada intinya, Itachi kangen.
"Sasuke…" Panggil Itachi.
Sasuke menoleh ke arah wajah kakaknya dan dilihat olehnya sepotong kecil buah pear di gigit oleh Itachi. Sepertinya itu potongan terakhir karena dilihatnya Itachi sudah menaruh pisaunya ke meja pinggir tempat tidur.
Selanjutnya, Itachi menempelkan telunjuknya ke bibir Sasuke lalu mengarahkannya ke bibirnya sendiri - ke arah potongan buah pear yang ada di bibirnya. Jelas, Sasuke mengerti maksud kakaknya. Ia langsung merona padam. Ia ingin sekali menolak karena itu memalukan. Tapi, lagi-lagi ia mengingat betapa Itachi sudah dan selalu menuruti semua keinginannya, akhirnya ia hanya mendecak kecil dan mendekatkan mukanya ke muka Itachi.
Satu gigit dan sisanya di tarik masuk untuk Itachi sendiri. Mereka masih mengunyah buah tersebut dengan posisi wajah yang begitu dekat dan bibir yang hampir bersentuhan. Dan tak lama kemudian, Itachi yang sudah lebih dulu menyelesaikan kunyahannya langsung menjilat bibir Sasuke. Menyuruhnya secara tidak langsung untuk segera menyelesaikannya.
Sasuke menahan nafasnya saat Itachi memberikan kode 'manis' tersebut, namun ia tetap menyambut undangan kakaknya dengan mengecup pelan bibir Itachi. Agak terkejut, Itachi tersenyum tipis dan balik mengecup bibir Sasuke, namun kali ini disertai pagutan lembut. Jari Itachi membelai pipi lembut adiknya dengan sayang sambil terus memagut bibir luar Sasuke.
Itachi menggodanya. Sasuke tahu. Sang kakak sedang memancing Sasuke agar dirinya lebih agresif. Itu disadarinya karena Itachi tak juga menggunakan lidahnya untuk menginvasi mulutnya. Hanya pagutan-pagutan kecil yang mengundang saja yang dilakukan Itachi.
"Nii-san…"
"Mmhmm?"
Sasuke menaruh tangannya di dada Itachi dan meremas pelan piyama kakaknya. Itu cara Sasuke untuk meminta perhatian lebih dari Itachi. Namun, ciuman mereka masih belum naik satu level pun, masih mengecup dan memagut lembut. Sasuke mulai frustrasi menginginkan sensasi 'basah' dalam ciuman mereka seperti biasanya mereka mengawali sesi bercinta.
Dan Itachi hanya menyeringai tipis saat dirasakannya Sasuke menyapa bibirnya dengan lidahnya. Sasuke terperangkap dengan polosnya. Itu sangat menyenangkan si sulung yang usil ini. Dengan senang hati, Itachi merekahkan bibirnya dan sedikit menjulurkan lidahnya menjabat lidah Sasuke yang sudah menunggu diluar dengan gerakan sopan namun sensual.
Mendapat sambutan dari kakaknya dengan masih belum sadar bahwa ia sukses masuk jebakan Itachi, Sasuke malah merangkul tengkuk Itachi dan menarik tubuh sang kakak agar menindihnya. Itachi mendengus geli menanggapi reaksi adiknya yang begitu spontan. Manis sekali.
Ciuman mereka akhirnya beranjak satu tingkat menjadi ciuman panas dan basah. Lidah yang saling bergumul dan bibir yang saling memagut erat. Sementara tangan Itachi merayap ke dalam piyama Sasuke, meraba tubuh halus dan kenyal adiknya. Sesekali mencubit lembut kulit mulus tersebut membuat adik manisnya ini tersentak dan merintih lemah.
Itachi menyelipkan kakinya di antara kedua kaki Sasuke. Menekan lembut pahanya di penis Sasuke yang masih tertutup piyama. Ah, lagi-lagi Itachi menggodanya. Mungkinkah Itachi sedang bosan atau ia memang sengaja ingin menjahili adiknya? Apapun itu, yang jelas semua reaksi yang diharapkan Itachi memang terjadi begitu saja. Ia merasakan adiknya menggesek pelan kejantanannya di pahanya yang menempel disitu. Namun, Itachi tetap tak bergeming. Hanya menempelkan dan menekan lembut pahanya disana.
Untuk menambah rasa frustrasi adik kesayangannya ini, ciuman Itachi turun ke lehernya dengan jari yang mulai memilin puting susu Sasuke. Si bungsu yang malang ini terengah dan tubuhnya tersentak-sentak kecil. Itachi benar-benar menggodanya. Bahkan hingga tahap ini pun tidak ada tanda-tanda Itachi membuka piyamanya. Itachi hanya melesakkan tangannya ke dalam piyama Sasuke.
Sasuke merasa bahwa celananya terasa lengket. Gesekan yang dilakukannya berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama membuat pre-cum Sasuke meleleh cukup banyak. Kini ia benar-benar merasa tersiksa. Ia menyelipkan jarinya ke celana Itachi bermaksud menurunkannya. Namun, ditahan oleh Itachi.
"Sejak kapan kau mulai berani mendahului kakakmu, hm?" Desah Itachi berat.
Dan tangan Itachi kini menelusup ke dalam celana Sasuke, menggenggam batang yang menegang di dalam sana. Licin sekali. Itachi mengocoknya perlahan dengan gerakan yang sangat membuat frustrasi. Sasuke berusaha melebarkan kakinya dan menggerakkan pinggulnya seirama dengan kocokan tangan Itachi, namun, Itachi malah mengendurkan genggamannya membuat Sasuke hampir gila.
"Nii-san…"
Sasuke tidak tahan, entah kali ini ia hanya merasa tidak tahan. Rasanya sangat tidak biasa. Dengan sedikit inisiatif, Sasuke pun menurunkan celananya dengan tidak sabar. Itachi menaikkan alisnya sebentar melihat reaksi spontan Sasuke. Adiknya benar-benar mudah sekali masuk ke dalam perangkapnya. Sebagai reinforcement, Itachi kembali menggenggam penis Sasuke dengan lebih erat dan mengocoknya lebih cepat.
"Ah… Nii-san… Hhhnn…" Rintih Sasuke tertahan.
Namun, tiba-tiba Itachi menghentikan serangannya dan menyeringai tipis di depan wajah Sasuke. Dan yang berada di bawah Itachi ini hanya balik menatap wajahnya dengan perasaan yang berkecamuk. Sasuke gelisah dan merasa sangat tidak nyaman.
"Lanjutkan, Sasuke - siapkan dirimu sendiri, aku akan memperhatikanmu disini…"
Ingin rasanya Sasuke menendang Itachi hingga keluar jendela mendengar perintah itu. Ia kesal tapi ia sudah kepalang tanggung terangsang. Ia tak mungkin menghentikannya, rasanya sudah sesak sekali dan ingin segera dikeluarkan. Ia mendengus kesal sambil melebarkan kakinya di depan Itachi yang sedang melumuri penisnya sendiri dengan pelumas.
"Sekali-sekali aku ingin melihat adikku menyentuh dirinya sendiri, dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya…"
Mengerti sudah sekarang Sasuke semua rencana kakaknya sejak awal. Dan itu membuat Sasuke kesal luar biasa namun juga frustrasi. Dan Itachi yang sudah selesai melumuri penisnya dengan pelumas, kini ia juga menumpahkan pelumas itu di penis Sasuke seolah memberi isyarat pada adiknya agar segera menyentuh dirinya sendiri.
Sensasi licin dari pelumas tersebut semakin menyulut birahi Sasuke dan instingnya langsung menuntun tangan Sasuke untuk langsung menggenggam penisnya sendiri lalu mengocoknya.
"I—Ini memalukan… Kuso Aniki…" Gerutu Sasuke dibalik rintihannya.
Itachi menggeleng dan tersenyum sambil melebarkan bongkahan pantat Sasuke.
"Tak perlu malu, Sasuke - Ah, jangan lupa, kau harus mempersiapkan dirimu sendiri sebelum aku memasukimu…"
"Khh… Menyebalkan…"
Sementara Sasuke masih berusaha mengusir rasa malu karena di saksikan dengan intens oleh kakaknya, Itachi malah asyik menikmati pemandangan indah di depannya ini. Lubang Sasuke yang berkerut sedang berkedut nikmat seiring dengan kocokan tangan Sasuke. Air liur Itachi menumpuk di pinggir bibirnya. Ia sendiri mengurut dan memerah penisnya yang sudah menegang dan licin sambil terus memperhatikan gerakan tangan Sasuke dan tubuh adiknya yang sedikit menggelinjang.
"Ahhh – Nii-sann… Aauh…"
Dan desahan Sasuke adalah bonus yang amat manis untuk telinganya.
"Pintar - "
Kemudian, jari Sasuke mulai merayap ke lubang di bawah skrotumnya dan memasukkannya perlahan. Kocokan di penisnya berhenti sebentar dan si bungsu ini terlihat sedang menarik nafas panjang berusaha menyesuaikan dirinya. Itachi tersenyum puas. sepanjang perjalanan bercinta dengan adiknya, inilah kali kedua Itachi melihat sang adik menyentuh dirinya sendiri setelah sebelumnya ia memergoki adiknya secara tidak sengaja. Itu cerita lama dan tentu saja yang kali ini bersifat lebih erotis dan menggoda.
Penis Itachi sudah nyaris meledak saat melihat jari ketiga Sasuke sudah meregangkan otot anus bagian luarnya. Desahan adiknya semakin keras dan penuh rasa frustrasi ingin segera dimasukkan benda yang lebih besar dari tiga jarinya tersebut.
Dengan sayang, Itachi mencium kening Sasuke sambil menyingkirkan tangan Sasuke yang masih 'berjuang' dibawah sana dan memposisikan penisnya di lubang anus Sasuke. Secara halus mengisyaratkan bahwa ia sudah puas dengan 'kepatuhan' Sasuke dan kini waktunya untuk Sasuke menerima 'hadiah' darinya.
"Buka matamu, Sasuke - aku ingin kita bercinta sambil memandang satu sama lain…"
Perlahan, lagi-lagi dengan kepatuhan yang mungkin tak disadari Sasuke sendiri, ia membuka matanya dan menolehkan wajahnya ke arah Itachi. Sang kakak selalu tampan, tak pernah ada cacat sedikitpun. Sasuke bahagia bisa mempunyai 'Nii-san' yang sempurna seperti Itachi.
"Aaahhhh… Oh… Nii-san… Ohhh..."
Sasuke melenguh tak tertahan dan matanya terbuka semakin lebar saat meraskaan penis Itachi langsung melesak masuk seluruhnya. Mungkin Itachi merasa persiapan yang dilakukan Sasuke sendiri sebelumnya sudah cukup dan penisnya sendiri sudah tidak tahan ingin ditelan oleh lubang panas adiknya.
"Sakit, Sasuke?" Tanya Itachi sambil terengah.
"Mhnmmm… Ah… Nii- Ahh…"
Tak ada jawaban pasti dari Sasuke maka dianggap 'tidak' oleh Itachi. Adiknya memang seperti itu. Dan tak ingin berlama-lama lagi, Itachi menggerakkan pinggulnya maju mundur berirama dengan tempo yang cepat sementara tangannya mengocok penis Sasuke juga dengan tempo yang cepat.
"Nii-san… Ahh… Mmm… Ugh…"
"Tahan sedikit, Sasuke …"
Dan Sasuke tersentak dan menghentakkan kakinya ke kasur saat dirasakan kepala penis Itachi menyodok titik kenikmatannya. Orgasme langsung mendekatinya dan perutnya berkontraksi hebat. Lenguhannya mulai berganti dengan rengekan dan isakan meminta Itachi terus menghantam kelenjar prostatnya di dalam sana.
"Aku- tak tahan, Itachi… Ohh… Aku… Aaahhh…"
Lubang bagian dalam maupun luar Sasuke memerah penis Itachi dengan ritmis, menghisap dan mendorong penis Itachi berirama. Sasuke menarik tengkuk kakaknya dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Itachi. Anak manis ini sudah tak tahan lagi dan akan meraih puncak kenikmatannya.
"Nii-san… Nii-san… Nii-saannn… Mnh.. Aaaarrgghh…"
Jeritan barusan menandakan Sasuke sudah mencapai puncak kenikmatannya karena teriakan itu dibarengi oleh cairan hangat yang muncrat dari batang tegang yang sedang digenggam Itachi di bawah sana. Perut dan dada Sasuke juga menjadi licin namun juga lengket. Tentu seperti biasa, penis Itachi langsung dicengkeram kuat oleh lubang Sasuke setiap adiknya ini mengalami klimaks.
"Sasuke… Ahhhh…"
Itachi memejamkan matanya dan menikmati sensasi cairan kenikmatannya menembak keluar dari penisnya ke ruang sempit di dalam lubang Sasuke. Rangkulan Sasuke melemas dan ia terkulai di kasur. Wajahnya begitu rileks walaupun nafasnya masih terengah dan tubuhnya basah oleh keringat. Itachi memandang adiknya yang begitu manis dan seksi dibawahnya. Perlahan, penisnya yang melemas terdorong keluar dari lubang sempit adiknya. Lagi-lagi Itachi menikmati sensasi cairannya sendiri yang meleleh keluar dari lubang adiknya dan melumuri penisnya yang masih menempel di kulit luar anus Sasuke.
"Manis sekali, Sasuke - " Bisiknya sambil membelai pipi Sasuke lembut.
Namun, belaian Itachi berhenti saat melihat Sasuke mengernyitkan alisnya seperti menahan sakit. Ia menepuk halus pipi adiknya.
"Sasuke… Kau kenapa? Buka matamu…"
Sasuke hanya menggeleng namun matanya masih terpejam kuat. Terlihat jelas sekali Sasuke sedang menahan sakit. Ditambah dengan tangannya yang mulai naik ke atas perutnya dan sedikit meremas kulit perut bawahnya.
"Pe—perutku…" Sasuke mulai mengerang.
Itachi spontan panik dan langsung mengangkat tubuhnya dari Sasuke dan mengambil tissue untuk segera membersihkan adiknya. Sasuke memiringkan badannya dan meringkuk sambil terus memegang perut bawahnya.
"Perutmu kenapa, Sasuke? Apa yang kau rasakan?"
Itachi mengangkat piyama Sasuke dan menggosokkan gel hangat ke perut Sasuke. Ia menahan tangan Sasuke agar tidak terus meremas kulit perutnya. Sesekali tangan satunya memijat pinggang belakang Sasuke untuk mengurangi rasa sakitnya.
"Perutku tidak nyaman… Mulas dan terasa begitu kencang… Mungkin kram…" Keluh Sasuke lebih jelas.
"Tarik nafas panjang, Sasuke - rileks… Aku akan mengusap perutmu pelan-pelan…"
"Justru kalau di usap malah terasa semakin kencang… Ini aneh, Nii-san…"
Itachi memandang adiknya dengan iba. Belakangan ini Sasuke memang sudah benar-benar aneh. Kepulangannya ke Jepang sama sekali tidak menunjukkan perubahan ke arah yang lebih baik malah semakin memburuk. Itachi khawatir.
"Besok kita ke dokter, Sasuke - Aku tak mau mendengar penolakan apapun darimu lagi…" Tegas Itachi sambil terus mengusap perut dan mengurut pinggang Sasuke.
Sasuke hanya mengerutkan bibirnya tidak senang. Tapi, ia sepertinya memang harus menyerah. Ia harus ke dokter. Ia juga khawatir. Ini memang aneh.
"Hn…"
.
.
.
Esok paginya, Itachi terbangun karena lagi-lagi mendengar isakan pelan dari adiknya. Ia membuka matanya dan melihat Sasuke terduduk di depan pintu kamar mandi sambil memegang perutnya.
Tentu saja adik manjanya ini sedang menangis.
Menangis.
Sasuke menangis itu adalah hal yang hampir tidak mungkin kecuali ia sedang berada dalam sakit yang luar biasa atau kesal yang membumbung. Kalau hanya sekedar sedih, Sasuke akan menjaga baik-baik gengsinya untuk tidak sampai mengeluarkan airmata.
Ini aneh dan Itachi benar-benar kehilangan akal sehatnya untuk menahan dirinya agar tidak panik.
"Kenapa, Sasuke?" Tanya Itachi.
Spontan ia lompat dari tempat tidurnya dan menghampiri Sasuke.
"Ini ulahmu… Kuso Aniki… Kau terlalu keras… Kau terlalu kasar semalam…" Isaknya sambil memukul dada Itachi.
"Ulahku? Memangnya apa yang terjadi padamu, Sasuke?"
"Menyebalkan… Aku benci padamu… Kau akan kubunuh…" Tangis Sasuke semakin keras.
Itachi meringis dan hanya bisa memeluk adiknya. Sasuke sedang merajuk. Tapi, sampai menangis itu tidak mungkin. Kadar kemanjaan Sasuke jika merajuk itu tidak sampai menangis.
Mata Itachi berhenti pada celana dalam yang ada di samping Sasuke yang terduduk. Ya, Itachi baru sadar bahwa Sasuke memang tidak memakai celana padahal semalam ia sempat memakaikan celana pada Sasuke ketika pangeran kecilnya ini sudah terlelap.
Ia pun mengambilnya bermaksud memakaikannya lagi.
"Pakai celanamu du - "
Wajah Itachi pucat dan ia tak sempat menyelesaikan kata-katanya melihat ada bercak darah di celana Sasuke. Tidak banyak tapi tetap nyata dan jelas bahwa itu bercak merah dan itu adalah darah - walaupun hanya beberapa tetes - mungkin.
Tak ingin membuang waktu, Itachi langsung menggendong Sasuke ke tempat tidur, sementara ia ganti baju dengan terburu-buru lalu memakaikan celana piyama Sasuke. Celana dalam tadi sengaja tidak dipakaikan - mungkin untuk barang bukti - bukan saatnya bercanda, Itachi benar-benar panik dan langsung menyambar kunci mobil lalu menggendong Sasuke yang masih menangis tadi ke bawah.
"Itachi - Selamat pa- " Mikoto menyapa putra sulungnya yang sedang panik menggendong adiknya.
"Selamat pagi dan aku pergi dulu…" Pamit Itachi.
Mikoto yang ikut-ikutan panik langsung menghampiri kedua anaknya. Madara yang juga baru turun dari lantai atas mempercepat langkahnya melihat episode ganjil yang ada di ruang tamunya.
"Sasuke kenapa, Itachi?" Tanya Mikoto dan Madara. Kali ini bersamaan.
"Dan aku harus ke rumah sakit sekarang…" Hanya itu yang menjadi jawaban Itachi.
Seperti biasanya, kepanikan Itachi jika menyangkut si bungsu memang sudah tak bisa disembuhkan. Telinganya tertutup, otaknya buntu. Ia hanya mengandalkan matanya untuk tak melepas pandangannya pada Sasuke dan instingnya yang menggerakkan motorik Itachi secara spontan untuk menolong adiknya.
Hanya itu.
Meninggalkan Madara dan Mikoto yang masih berteriak-teriak memanggilnya. Itachi mengendarai mobilnya menjauh dari rumah besar tersebut menuju rumah sakit.
"Nii-san… Pinggangku sakit… Perutku tidak nyaman… Ini semua gara-gara kau…" Sasuke terus merengek.
Dan Itachi benar-benar merasa bersalah kali ini. Ya, kemungkinan besar memang karena dirinya. Itachi berfikir keras tentang kejadian semalam apakah benar ia terlalu bernafsu dan memaksakan Sasuke. Apakah ia benar terlalu kasar dan terburu-buru hingga membuat adiknya terluka.
"Maaf, Sasuke - tenanglah, aku akan bertanggung-jawab dan selalu di sampingmu…" Jawab Itachi.
.
.
.
TBC.
IYA BEGITU DEH GUE SEBENERNYA GA NYANGKA JUGA KUDU ADA LEMON DI CHAP INI… *LOL*
DEDEK KENAPA ITU, BANG? MUDAH-MUDAHAN GA MACET YA PERJALANAN KE RUMAH SAKIT NYAAAA…. *KESIAN LIAT DEDEK KESAKITAN*
Betewe, kalo Mikoto kudu nikah sama Mada-chan gimana ya? Kok gue kesian liat Mada-chan jones melulu? Gue sayang Mada-chan makanya gue pengen Mada-chan nikah sama cewek lembut kayak Mikoto… *apaan*
Abang bakal tanggung jawab katanya… Hngngnghhh suami gue emang begitu orangnya *digaplok fans Itachi* - dedek Sasuke seneng banget ih punya abang kayak Itachi… *ngiri*
Oia, makasih ya buat yang udah ngikutin fic ini sampe sejauh ini *belom jauh kali baru 9 chap* - udah setia juga ngasih review. Gue emang author yang SENENG BANGET dikasih review. Author lain juga lho, mereka bakal seneng banget kalo fic nya di review. Maaf kalo gue kagak bisa bales satu-satu review kalian ke PM. Mungkin gue berkomunikasi lewat Author note kayak gini aja yaa…. Muach :-*
Nah gitu aja, semoga ga bosen ya ngeliat kemesraan Itachi dan Sasuke yang sebenernya SUMPAH BIKIN NGIRI - emang kalian ga ngiri apa ngeliat mereka? Kok gue iri? *malah curhat*
Thanks for reading.
Please leave your review.
Regards.
